Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PADA KEBAKARAN

Disusun Oleh:
NAMA : AZAZUN AHMMAD ZAIN

UNIVERSITAS DARUL ULUM LAMONGAN


UNISDA
2019
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
tentang pencegahan dan penanggulangan pada kebakaran.
Selanjutnya shalawat dan salam penulis sampaikan ke hadapan Nabi
Muhammad SAW, yang telah memberi tauladan kepada umat manusia dalam
membedakan antara yang hak dan yang bathil, untuk mencapai jalan yang benar.
Dalam penulisan makalah ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin
dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang penulis miliki. Namun penulis
menyadari bahwa hasil penulisan ini masih jauh dari kesempurnaan baik di dalam isi
maupun teknik penuliannya. oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis
mengharapkan adnya kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan penulisan
skripsi dimasa yang akan datang.

Sukodadi, Januari 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul............................................................................................................i
Kata Pengantar
Daftar Isi.....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...............................................................................................1
B. Rumusan Masalah..........................................................................................2
C. Tujuan............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kebakaran.....................................................................................4
B. Konsep Dasar Terjadinya Api........................................................................4
C. Penyebab Kebakaran .....................................................................................7
D. Klasifikasi Kebakaran....................................................................................7
E. Klasifikasi Bahaya Kebakaran.......................................................................9
F. Kerugian Akibat Kebakaran...........................................................................11
G. Sarana Proteksi Aktif......................................................................................13
H. Penanggulangan dan Pencegahan Bahaya Kebakaran...................................20
I. Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Tentang Kebakaran...................21
J. Cara atau Metode Memadamkan Api............................................................24
BAB III PENUTUP
A. Simpulan........................................................................................................26
B. Saran...............................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................27

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kebakaran merupakan suatu bencana yang merugikan bagi banyak pihak
yang dapat mengakibatkan kerugian materil dan berpotensi terhadap kematian
yang cukup besar sehingga memerlukan perhatian akan keselamatan masyarakat.
Namun sampai saat ini penanganan terhadap kebakaran di Indonesia masih
memiliki berbagai kendala yang mengakibatkan kejadian kebakaran sering
berakibat fatal dan berulang.
Adanya peningkatan jumlah kejadian kebakaran di wilayah kota
Surabaya rata-rata 250 kejadian kebakaran per tahun disebabkan oleh beberapa
hal (Perda Surabaya, 2004), yaitu rendahnya pemahaman dan kesadaran
masyarakat akan bahaya kebakaran, masih kurangnya kesiapan masyarakat
untuk menghadapi dan menanggulangi bahaya kebakaran, rendahnya sistem
proteksi kebakaran yang dimiliki gedung dan bangunan, sistem penanganan
kebakaran belum terwujud dan terintegrasi, yaitu akselerasi kecepatan unit
pemadam kebakaran tiba di lokasi bencana dikarenakan jauhnya pos PMK
dengan lokasi bencana dan kemacetan lalulintas.
Pengetahuan tentang upaya penanggulangan bahaya kebakaran sejak dini
sangat penting karena untuk mengetahui adanya potensi bahaya kebakaran di
semua tempat, kebakaran merupakan peristiwa berkobarnya api yang tidak
dikehendaki dan selalu membawa kerugian. Dengan demikian usaha pencegahan
harus dilakukan oleh setiap individu dan unit kerja agar jumlah peristiwa
kebakaran, penyebab kebakaran dan jumlah kecelakaan dapat dikurangi sekecil
mungkin melalui perencanaan yang baik. Dengan mengidentifikasi potensi
penyebab kebakaran di lingkungan tempat kerjanya dan melakukan upaya
pemadaman kebakaran dini. Kebakaran terjadi akibat bertemunya 3 unsur yaitu
bahan yang dapat terbakar, suhu penyalaan/titik nyala dan zat pembakar (O2
atau udara). Untuk mencegah terjadinya kebakaran adalah dengan mencegah
bertemunyan salah satu dari dua unsur lainnya.

1
Saat ini, masalah kebakaran bukan saja merupakan masalah pribadi, akan
tetapi sudah merupakan masalah nasional, apalagi kalau kita melihat data
timbulnya kebakaran akhir-akhir ini yang selain disebabkan oleh karena
peledakan kompor, listrik, dan kelengahan-kelengahan lainnya, juga dapat
merupakan usaha subversi yang sangat membahayakan keamanan sosial dan
politik, juga sangat berpengaruh terhadap kestabilan ekonomi yang yang pada
akhirnya akan merusak dan menghambat pelaksanaan pembangunan nasional.
Kerugian akibat musibah kebakaran di Jakarta saja selama 2013 dikutip dari
Kompas.com tercatat 124 miliar, sedangkan di kota Bandung 27,2 miliar, di
Jambi mencapai 4 miliar, dan masih banyak lagi daerah-daerah yang mengalami
musibah kebakaran dengan kerugian besar.
Oleh karena itu, untuk mengurangi kasus kebakaran perlu adanya
pengetahuan oleh setiap individu dan masyarakat tentang kebakaran dan
bagaimana cara mencega, menghadapi dan menanggulangi adanya kebakaran.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan kebakaran?
2. Bagaimana konsep dasar terjadinya api?
3. Apa penyebab kebakaran?
4. Bagaimana klasifikasi kebakaran?
5. Bagaimana klasifikasi bahaya kebakaran?
6. Apa Kerugian akibat kebakaran?
7. Apa saja Sarana Proteksi Aktif?
8. Bagaimana Cara Menanggulangi dan Mencegah Bahaya Kebakaran?
9. Apa saja Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Tentang Kebakaran?
10. Apa saja Penyakit Akibat Kebakaran?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi kebakaran
2. Untuk mengetahui konsep dasar terjadinya api
3. Untuk mengetahui penyebab kebakaran
4. Untuk mengetahui klasifikasi kebakaran

2
5. Untuk mengetahui klasifikasi bahaya kebakaran
6. Untuk mengetahui kerugian-kerugian akibat kebakaran
7. Untuk mengetahui sarana proteksi aktif kebakaran
8. Untuk mengetahui cara menanggulangi dan mencegah bahaya kebakaran
9. Untuk mengetahu undang-undang dan peraturan pemerintah tentang
kebakaran
10. Untuk mengetahui penyakit-penyakit akibat kebakaran

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KEBAKARAN
a. Kebakaran adalah api yang tidak terkendali, yang berarti diluar kemampuan
dan keinginan manusia. Api tidak terjadi begitu saja tetapi merupakan suatu
proses kimiawi antara uap bahan bakar dengan oksigen dan bantuan panas.
Teori ini dikenal sebagai segitiga api (fire triangle) (respository.usu.ac.id).
Menurut teori ini, kebakaran terjadi karena adanya 3 faktor yang menjadi
unsur api, yaitu: bahan bakar (fuel), sumber panas (heat), dan oksigen.
Kebakaran dapat terjadi jika ketiga unsur api tersebut saling bereaksi satu
dengan lainnya. Tanpa adanya salah satu unsur tersebut, api tidak dapat
menyala. Teori ini dikembangkan oleh W.H Haessler (1974). Menururt
beliau, kebakaran disebabkan oleh empat faktor, yaitu, bahan bakar, bahan
pengoksidasi, suhu, dan reaksi berantai. Ke empat unsur ini disebut Bidang
Empat Api atau istilah lainnya ialah The Tetahedron of Fire (Zaini, 1998).
b. Kebakaran adalah suatu nyala api, baik kecil atau besar pada tempat yang
tidak kita kehendaki, merugikan, pada umumnya sukar dikendalikan (Perda
DKI, 1992).
c. Kebakaran adalah suatu nyala api atau bencana yang tidak dikehendaki
bersama, karena dapat menimbulkan bencana bagi masyarakat (Departemen
penerangan RI, 1978).

B. KONSEP DASAR TERJADINYA API (The Fire Ttriangle)


1. Definisi Api
Api adalah “Suatu massa zat gas yang timbul karena adanya reaksi
eksotermis dan dapat menghasilkan panas, nyala, cahaya, asap, dan bara.”
Suatu reaksi kimia yang diikuti radiasi cahaya dan panas. Reaksi kimia disini
mengandung pengertian adanya proses yang sedang berlangsung secara
kimiawi. (Dinas Kebakaran DKI Jakarta, 1994).
Untuk menimbulkan api awalnya diperlukan 3 (tiga) unsur :
a. Benda / bahan bakar (fuel) : harus menjadi uap terlebih dahulu

4
b. Panas (heat/energy) : harus cukup untuk menentukan titik nyala
c. Oksigen : sebagai oksidator
Sebelum terbakar, bahan bakar harus membentuk uap terlebih dahulu dan
bercampur dengan oksigen. Panas harus memberikan panas yang cukup agar
bisa terbakar. Jadi sesungguhnya yang terbakar adalah uap bahan bakar
(Zaini, 1998).

2. Teori Dasar Api


Teori dasar api menurut Dinas Kebakaran DKI Jakarta, (1994) terdiri dari
segitiga api atau dikenal dengan nama The Fire Triangle of Combustion
yaitu:
a. Panas (Heat/energy)
1) Api terbuka (Open Flame)
2) Sinar matahari (Sun Light)
3) Energi mekanik
a) Gesekan (Friction) antara dua benda n
b) Bantuan dua buah benda
b. Kompersi (Compression)
1) Pemampatan udara dan gas
2) Pemimpitan benda-benda padat seperti timbunan sampah
c. Listrik (Elektrik)
1) Beban lebih pada kabel listrik
2) Peralatan listrik (keompor setrika dan las listrik)
d. Proses kimia
1) Kapur sirih dengan air
2) Asam sulfat dengan air
e. Panas Berpindah (Heat Transfer)
1) Radiasi (Radiation)
Panas berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cara
memancarkan melalui udara kesemua arah
2) Konduksi (Conduction)

5
Panas berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cara menjalar
malalui badan (logam) kesemua arah
3) Konveksi (Convection)
Panas berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cara
mangalir malalui atau pada udara atau cairan kesemua arah.
4) Direct Burning (Direct Flame Contect)
Panas berpida dari satu tempat ke tempat lain dengan cara langsung
terkena lidah api atau dikarenakan lompatan api bara atau nyala.
f. Oksigen- zat asam
Kandungan di udara berdasarkan penyelidikan yaitu mengandung :
1) 20% kadar oksigen
2) 79% kadar nitrogen (N2)
3) 1% campuran dari Neon, Xenon, Argon, Krypton, Hydrogen, dan zat
air
g. Benda / bahan (fuel)
1) Titik nyala (Flash Point)
2) Suhu penyalaan (Auto Ignition Temperature)
3) Daerah yang bisa terbakar (Flammable Range)

Berdasarkan bentuknya benda yang dapat terbakar di bagi menjadi tiga


(3) golongan yaitu :
a. Benda padat
b. Benda cair
c. Benda gas
Berrdasarkan suhu penyalaan benda menurut Dinas Kebakaran DKI
Jakarta, (1994) dapat dibagi menjadi dua (2) kelompok besar yaitu :
a. Benda yang mudah terbakar yaitu benda yang memunyai suhu
penyalaan rendah
b. Benda yang sukar terbakar yaitu benda yang mempunyai suhu
penyalaan tinggi

6
C. PENYEBAB KEBAKARAN
Kebakaran disebabkan oleh berbagai faktor, secara umum dikelompokkan
sebagai berikut:
a. Faktor Manusia
Manusia sebagai salah satu faktor penyebab kebakaran antara lain: manusia
yang kurang peduli terhadap keselamatan dan bahaya kebakaran,
menempatkan barang atau menyusun barang yang mungkin terbakar tanpa
menghiraukan norma – norma pencegahan kebakaran, pemakaian tenaga
listrik melebihi kapasitas yang telah ditentukan, kurang memiliki rasa
tanggung jawab dan disiplin, dan adanya unsur- unsur kesengajaan.
b. Faktor Teknis
Kebakaran juga dapat disebabkan oleh faktor teknis khususnya kondisi tidak
aman dan membahayakan yang meliputi:
1. Proses fisik/mekanis
Faktor penting yang menjadi peranan dalam proses ini adalah timbulnya
panas akibat kenaikan suhu atau timbulnya bunga api, misalnya
pekerjaan perbaikan dengan menggunakan mesin las atau kondisi
instalasi listrik yang sudah tua atau tidak memenuhi standar.
2. Proses kimia
Kebakaran dapat terjadi ketika pengangkutan bahan - bahan kimia
berbahaya, penyimpanan dan penanganan tanpa memerhatikan petunjuk -
petunjuk yang ada.
c. Faktor Alam
Salah satu faktor penyebab adanya kebakaran dan peledakan akibat faktor
alam adalah petir dan gunung meletus yang dapat menyebabkan kebakaran
hutan yang luas dan juga perumahan – perumahan yang dilalui oleh lahar
panas dan lain-lain
(Anonim, 2010).

D. KLASIFIKASI KEBAKARAN
a. Menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per-
04/MEN/1980, tanggal 14 April 1980 tentang syarat – syarat pemasangan

7
dan pemeliharaaan Alat Pemadam Api Ringan, kebakaran dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:

Tabel 2.1. Klasifikasi Kebakaran di Indonesia


Kelas Jenis Contoh
Kelas A Bahan Padat Kebakaran dengan bahan bakar padat
bukan logam
Kelas B Bahan Cair dan Kebakaran dengan bahan bakar cair atau
Gas gas mudah terbakar
Kelas C Listrik Kebakaran instalasi listrik bertegangan
Kelas D Bahan Logam Kebakaran dengan bahan bakar logam

b. Menurut peraturan daerah DKI tahun 1971 yang di maksud dengan


klasifikasi kebakaran yaitu :
a. Kelas A
Yang termasuk dalam kelas ini adalah kebakaran pada bahan yang
mudah terbakar biasa, misalnya: kertas, kayu, maupun plastik. Cara
mengatasinya yaitu bisa dengan menggunakan air untuk menurunkan
suhunya sampai di bawah titik penyulutan, serbuk kering untuk
mematikan proses pembakaran atau menggunakan halogen untuk
memutuskan reaksi berantai kebakaran.
b. Kelas B
Kebakaran pada kelas ini adalah yang melibatkan bahan seperti cairan
combustible dengan cairan flammable, seperi bensin, minyak tanah, dan
bahan serupa lainnya. Cara mengatasi dengan bahan foam.
c. Kelas C
Kebakaran yag di sebabkan ole listrik yang bertegangan untuk
mengatasinya yaitu dengan menggunakan bahan pemadam kebakaran
non kodusif agar terhindar dari sengatan listrik.
d. Kelas D
Kebakaran pada bahan logam yang mudah terbakar seperti titanium,
alumumium, magnesium, dan kalium. Cara mengatasinya yaitu powder
khusus kelas ini.

8
E. KLASIFIKASI BAHAYA KEBAKARAN
Menurut Perda DKI Jakarta, (2008) terdiri dari:
1. Bahaya Kebakaran Ringan
Ancaman bahaya kebakaran yang mempunyai nilai dan kemudahan terbakar
rendah, apabila kebakaran melepaskan panas rendah, sehingga penjalaran api
lambat. Yang dimaksud bahaya kebakaran ringan ialah hunian:
a. Tempat ibadah
b. Perkantoran
c. Pendidikan
d. Ruang makan
e. Ruang rawat inap
f. Penginapan
g. Hotel
h. Museum
i. Penjara
j. Perumahan
2. Bahaya Kebakaran Sedang
a. Bahaya Kebakaran Sedang I
Ancaman bahaya kebakaran mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar
sedang, penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak
lebih dari 2,5 (dua setengah) meter dan apabila terjadi kebakaran
melepaskan panas sedang, sehingga penjalaran api sedang. Yang
dimaksud bahaya kebakaran Sedang I ialah bangunan: tempat penjualan
dan penampungan susu, restoran, pabrik gelas/kaca, pabrik asbestos,
pabrik balok beton, pabrik es, pabrik kaca/cermin, pabrik garam,
restoran/kafe, penyepuhan, pabrik pengalengan ikan, daging, buah-
buahan dan tempat pembuatan perhiasan.
b. Bahaya Kebakaran Sedang II
Ancaman bahaya kebakaran yang mempunyai jumlah dan kemudahan
terbakar sedang, penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi
tidak lebih dari 4 (empat) meter dan apabila terjadi kebakaran
melepaskan panas sedang, sehingga penjalaran api sedang.

9
Yang dimaksud dengan bangunan gedung yang diklasifikasikan dalam
bahaya kebakaran Sedang II antara lain: penggilingan produk biji-bijian,
pabrik roti/kue, pabrik minuman, pabrik permen, pabrik
destilasi/penyulingan minyak atsiri, pabrik makanan ternak, pabrik
pengolahan bahan kulit, pabrik mesin, pabrik batrai, pabrik bir, pabrik
susu kental manis, konveksi, pabrik bohlam dan neon, pabrik pabrik
film/fotografi, pabrik kertas ampelas, laundry dan dry cleaning,
penggilingan dan pemanggangan kopi, tempat parkir mobil dan motor,
bengkel mobil, pabrik mobil dan motor, pabrik the, toko bir/anggur dan
aspirtus, perdagangan retail, pelabuhan, kantor pos tempat penerbitan
dan percetakan, pabrik ban, pabrik rokok, pabrik perakitan kayu, teater
dan auditorium, tempat hiburan/diskotik, karaoke, sauna, dank klab
malam.
c. Bahaya Kebakaran Sedang III
Ancaman bahaya kebakaran yang mempunyai jumlah dan kemudahan
terbakar agak tinggi, menimbulkan panas agak tinggi serta penjalaran api
agak cepat apabila terjadi kebakaran.
Yang dimaksud dengan bangunan gedung yang diklasifikasikan dalam
bahaya kebakaran Sedang III antara lain: pabrik yang membuat barang
dari karet, parik yang membuat barang dari plastic, pabrik karung, pabrik
pesawat terbang, pabrik peleburan metal. Pabrik sabun, pabrik gula,
pabrik lilin, pabrik pakaian, toko dengan pramuniaga lebih dari 50 orang,
pabrik tepung terigu, pabrik kertas, pabrik semir sepatu, pabrik sepatu,
pabrik karpet, pabrik minyak ikan, pabrik dan perakitan elektronik,
pabrik kayu lapis dan papan partikel, tempat penggergajian kayu.
3. Bahaya Kebakaran Berat
a. Bahaya Kebakaran Berat I
Ancaman bahaya kebakaran yang mempunyai jumlah dan kemudahan
terbakar tinggi, menimbulkan panas tinggi serta penjalaran api cepat
apabila terjadi kebakaran.
Yang dimaksud dengan bangunan gendung yang diklasifikasikan dalam
bahaya kebakaran Berat I antara lain: bangunanbawah tanah/bismen,

10
subway, hangar pesawat terbang, pabrik korek api gas, pabrik pengelasa,
pabrik foam plastic, pabrik foam karet, pabrik resin dan terpentin, kilang
minyak, pabrik wool kayu, tempat yang menggunakan fluida hidrolik
yang mudah terbakar, pabrik pengecoran logam, pabrik yang
menggunakan bahan baku yang mempunyai titik nyala 37,9oC (100oF),
pabrik tekstil, pabrik benang, pabrik yang menggunakan bahan peapis
dengan foam plastic (Upholstering with plastic foams).
b. Bahaya Kebakaran Berat II
Ancaman bahaya kebakaran yang mempunyai jumlah dan kemudahan ter
Bakar sangat tinggi, menimbulkan panas sangat tinggi serta penjalaran
api sangat cepat apabila terjadi kebakaran. Yang dimaksud dengan
bangunan gedung yang diklasifikasikan dalam bahaya kebakaran Berat II
antara lain: pabrik selulosa nitrat, pabrik yang menggunakan dan/atau
menyimpan bahan berbahaya.

F. KERUGIAN AKIBAT KEBAKARAN


Kebakaran menimbulkan kerugian baik terhadap manusia, aset, maupun
produktivitas.
(usu.ac.id)
1. Kerugian Materi
Dampak kebakaran juga menimbulkan kerugian materi yang sangat besar.
Angka kerugian ini adalah kerugian langsung yaitu nilai aset atau bangunan
yang terbakar. Disamping itu, kerugian tidak langsung justru jauh lebih
tinggi, misalnya gangguan produksi, biaya pemulihan kebakaran, biaya
sosial dan lainnya.

11
2. Kerugian Jiwa
Kebakaran dapat menimbulkan korban jiwa baik yang terbakar secara
langsung maupun sebagai dampak dari suatu kebakaran. Berdasarkan data –
data di DKI, korban kebakaran yang meninggal dunia rata – rata 25 orang
per tahun. Namun data di USA jauh lebih tinggi yaitu mencapai rata – rata
3000 orang setiap tahun.
3. Menurunnya Produktivitas
Kebakaran juga memengaruhi produktivitas nasional maupun keluarga. Jika
terjadi kebakaran proses produksi akan terganggu bahkan dapat terhenti
secara total. Nilai kerugiannya akan sangat besar yang diperkirakan 5 – 50
kali kerugian langsung.
4. Gangguan Bisnis
Menurunnya produktivitas dan kerusakan aset akibat kebakaran
mengakibatkan gangguan bisnis sangat luas.
5 Kerugian Sosial
Kebakaran dapat mengakibatkan sekelompok masyarakat korban kebakaran
akan kehilangan segala harta bendanya, menghancurkan kehidupannya dan
mengakibatkan keluarga menderita. Kegiatan sosial juga mengalami
hambatan yang berakibat turunnya kesejahteraan masyarakat.
Menurut Depnaker UNDP ILO, (1987) menyebutkan kerugian akibat
kebakaran dan segala akibat yang ditimbulkan disebabkan adanya
ketimpangan sebagai berikut:
a. Tidak adanya sarana deteksi/ alarm
b. Sistim deteksi/alarm tidak berfungsi
c. Alat pemadam Api tidak sesuai / tidak memadai
d. Alat pemadam Api tidak berfungsi
e. Sarana evakuasi tidak tersedia
f. Dan banyak faktor lain seperti manajemen K3, program inpeksi, dan
pemeliharaan.

12
G. SARANA PROTEKSI AKTIF
Sistim perlindungan terhadap kebakaran yang di laksanakan dengan
mempergunakan peralatan yang dapat bekerja secara omatis maupun manual,
digunakan oleh mpenghuni atau petugas pemadam kebakaran dalam
melaksanakan operasi pemadaman , selain itu sistim itu digunakan dalam
melaksanakan penangguangan awal kebakaran (Perda DKI Jakarta, 2008). Saran
yang terdapat pada bangunan gedung yang digunakan untuk menyelamatkan
jiwa dari kebakaran dan bencana lain (Perda DKI Jakarta,2008).
Sesuai dengan peratuan yang berlaku (Kep.Men PU No.10/KPTS/2000), setiap
bangunan gedung harus melaksanakan peraturan pengamanan terhadap bahaya
kebakaran mulai dari perencanaan pelaksanaan pembangunan sampai taha
pemanfaatan sehingga bangunan gedung senantiasa aman dan berkualitas sesuai
dengan fungsinya. Salah satu dari pelaksanaan pengamanan ini adalah
melengkapi gedung dengan sarana proteksi akif kebakaran, yang terdiri dari:
(upn.ac.id)
1. Sarana pendeteksi dan peringatan kebakaran
a. Detektor dan alarm kebakaran
Berdasarkan SNI 0-3985-2000 Alarnm kebakaran adalah
komponen dari sistem yang memberikan isyarat /tanda setelah kebakaran
terdeteksi.
Komponen dari sistem deteksi dan alarm kebakaran yang berfungsi
untuk mengontrol bekerjanya sistem, menerima dan menunjukan adanya
isyarat kebakaran, mengaktifkan alarm kebakaran, meanjutkan ke
fasilitas lain terkait, dan lain-lain. Panel kontrol dapat terdiri dari satu
panel saja dapat pula terdiri dari beberapa panel kontrol.
Titik panggil manual adalah alat yang di operasikan secara
manual guna memberi isyarat adanya kebakaran. Untuk kepentingan
standar ini , detektor kebakaran otomaik diklasifikasikan sesuai dengan
jenisnya sepeti tersebut di bawah ini :
a) Detektor panas/Heat Detector yaitu alat yang mendeteksi temperatur
tinggi atau laju kenaikan temperatur yang tidak normal.

13
b) Detektor asap/Smoke Detector yaitu aat yang mendeteksi peartikel
yang terlihat atau yang tidak terlihat dari satu pembakaran. Sebaiknya
jangan meletakkan detektor asap di dapur atau garasi, karena asap
dapur atau mobil bisa menyebabkan alarm palsu. Alarm palsu adalah
peringatan bahaya tetapi tidak ada kebakaran (Zaini, 1998).
c) Detektor nyala api/Flame Detector yaitu alat yang mendeteksi sinar
infa merah, ultra violet, ata radiasi yang terlihat yang di timbulkan
oleh suatu kebakaran. Khusus Flame Detector perlu dilindungi
dengan sinar yang bukan berasal dari api, karena sangat peka (Zaini,
1998).
b. Jalan petugas
Diperlukan bagi petugas yang datang menggunakan kendaraan pemadam
kebakaran, kadang harus mondar-mandir/keluar masuk mengambil air,
sehingga perlu jalan yang memadai, keras dan lebar, juga untuk
keperluan evakuasi. Untuk itu diperlukan fasilitas:
1) Daun intu dapat dibuka keluar
2) Pintu dapat dibuka dari dalam tanpa kunci
3) Lebar pintu dapat dilewati 40 orang/menit
4) Bangunan beton strukturnya harus mampu terbakar minimal 7 jam.
2. Sarana pemadam kebakaran
a. Perlengkapan dan alat pemadam kebakaran sederhana
1) Air, bahan alam yang melimpah, murah dan tidak ada akibat ikutan
(side effect), sehingga air paling banyak dipakai untuk memadamkan
kebakaran. Persedian air dilakukan dengan cadangan bak-bak iar
dekat daerah bahaya, alat yang diperlukan berupa ember atau
slang/pipa karet/plastik.
2) Pasir, bahan yang dapat menutup benda terbakar sehingga udara tidak
masuk sehingga api padam. Caranya dengan menimbunkan pada
benda yang terbakar menggunakan sekop atau ember
3) Karung goni, kain katun, atau selimut basah sangat efektif untuk
menutup kebakaran dini pada api kompor atau kebakaran di rumah
tangga, luasnya minimal 2 kali luas potensi api.

14
4) Tangga, gantol dan lain-lain sejenis, dipergunakan untuk alat bantu
penyelamatan dan pemadaman kebakaran.
b. Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
APAR atau istilah lainnya Portable Fire Extinguisher adalah alat
pemadam kebakaran yang dapat dibawa dan mampu dipakai oleh satu
orang (Zaini, 1998). Tabung APAR harus diisi ulang sesuai dengan jenis
dan konstruksinya. Berdasarkan Peratuan Mentri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi No: PER.04/mMEN/1980, Alat pemadam api ringan ialah
alat yang ringan serta mudah di layani oleh satu rang memadamkan api
pada mulai terjadi kebakaran.
Kebakaran dapat di golongan:
1) Kebakaran bahan padat kecuali logam (Golongan A);
2) Kebakaran bahan cair atau gas yang mudh terbakar (Golongan B);
3) Kebakaran instalasi listrik bertegangan (Golongan C);
4) Kebakarang logam (Golngan D).
Jenis alat pemdam api ringan tediri :
a) Jenis cairan
b) Jenis busa
c) Jenis tepung kering
d) Jenis gas (hydrcarbon berhalogen dan sebagainya)
Jenis APAR berdasarkan beratnya, yaitu :
1. APAR dengan berat kurang dari 25 kg
2. APAR dengan berat lebih dari 25 kg (biasanya dilengkapi dengan roda)

15
Konstruksi APAR sebagai berikut :

Gambar 1. APAR
i. Karakteristik APAR :
1) APAR jenis tertentu bukan merupakan pemadam untuk segala
jenis kebakaran, oleh karena itu sebelum menggunakan APAR
perlu diidentifikasi jenis bahan terbakar.

16
2) APAR hanya ideal dioperasikan pada situasi tanpa angin kuat,
APAR kimiawi ideal dioperasikan pada suhu kamar
3) Waktu ideal: 3 detik operasi, 10 detik berhenti, waktu maksimum
terus menerus 8 detik.
4) Bila telah dipakai harus diisi ulang
5) Harus diperiksa secara periodik, minimal 2 tahun sekali

ii. Petunjuk Pemilihan APAR


Pilih yang Zat kimia kering (Dry CO2 Halo Air Zat kimia basah (Wet
sesuai Chemical) n Chemical)
Multi Sodium Purpl Carbo Halo Water Pump Loaded
propos bikarbon eK n n Tank Stream
e at dioxid 1211
e
Serba NaHCO3 CO2 Air Tanki& Busa
guna bertekana Pompa Bertekana
n n
A Ya Tidak Tidak Tidak Tida Ya Ya Ya
k
B Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Ya
C Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak
Keteranga Bekerja dengan cepat Bahan ini Murah, sesuai untuk Sesuai
n disarankan tersedia pada tidak bahan bangunan, untuk lab.
gudang bahan bakar meninggalkan rumah, gedung, Dan
minyak dan gas, mobil bekas. Sesuai sekolah, perkantoran tempat
serta bahan mudah terbakar alat elektronik dsb. bahan
lainya dan gudang kimia
bahan
pemakaian
Petunjuk Lepas pena kunci, Lepas pena Lepas Pegang Lepas
Pemakain genggam handel dan kunci, pena moncon pena
arahkan moncong di bawah genggam kunci, g. kunci,
api handel genggam Dipomp genggam
& arahkan handel a, guyur handel
moncong ke & guyur bahan & guyur
sumber api bahan terbakar bahan
bakar bakar

17
c. Alat Pemadam Kebakaran Besar
Alat-alat ini ada yang dilayani secara manual ada pula yang bekerja secara
otomatis.
1) Hidran Kebakaran
Instalasi Hidran kebakaran adalah suatu sistem pemadam kebakaran tetap
yang menggunakan media pemadaman air bertekanan yang di alirkan
melalui pipa-pipa dan selang kebakaran. Sistim ini terdiri dari persediaan air,
pompa perpipaan, kopling, outlet dan inlet serta selang dan nozzle (SNI 225-
1987).
Sedangkan berdasarkan jenis dan penempatanya, hidran menurut SNI 225-
1987 terdiri dari:
a) Hidran gedung
Hidran gedung tediri dari dua persyaratan yaitu:
iii. Persyaratan teknis
 Diameter selang maksimal 1,5 inci
 Minimal debit air 380 liter/menit
 Tekanan air maksimal ,5 kg/cm2
 Diameter pipa (kopling) 2,5 inci

iv. Persyaratan umum


 Letak kotak hidran dalam gedung mudah dilihat
 Letak kotak hidran dalam gedung mudah dicapai, tidak terhalang
 Kotak hidran mudah di buka
 Panjang selang maksimal 30m
 Selang dalam kndisi baik (tidak membelit bila di tarik)
 Pipa pemancar (nozzel) terasang pada selang
 Pipa hidran bercat merah
 Kotak hidran di beri tulisan “hydrant” berwarna putih
b) Hidran halaman
i. Persyaratan teknis

18
 Debit hidran 950 liter / menit
 Tekanan maksimal 7kg/cm dan tekanan minimum 4,5kg/cm
 Diameter selang 2,5 inci
ii. Persyaratan umum
 Pilar hidran di pasang pada ketinggian 50cm dari permukaan
tangga
 Jarak pilar hidran di pagar 1 m
 Hidran haaman mudah terihat, mudah dicapai, tidak terhalang
oleh benda- benda lain
 Pilar hidran harus di cat merah
 Selang hidraan dalam keadaan baik

Gambar 2. Perangkat Hidran

2) Sistem penyembur api (Sprinkler System)


Kombinasi antara sistem isyarat alat pemadam kebakaran. Merupakan alat
pemercik air otomatis (Springkler), Springkler adalah alat pemancar air
untuk pemadam kenbakaran yang mempunyai tudung berbentuk deflrktor
pada ujung mulut pancarnya, sehingga air dapat memacar ke semua arah
secara merata (KepMen PU No.10/KPTS/2000).

19
Gambar 3. Sprinkler System

H. PENANGGULANGAN DAN PENCEGAHAN BAHAYA KEBAKARAN


Dalam upaya prosedur tanggap darurat secara garis bsar meliputi rencana /
rencana dalam menghadapi keadaan darurat, pendidikan dan latihan
penangulagan keadaan darurat, pendidikan dan latihan penanggulangan keadaan
darurat seperti proses evakuasi atau pemindahan dan penutupan (Jusuf,1999).
Penceghahan kebakaran dan cara penagulangan korban kebakran tergantung
lima (5) prinsip pokok (Suma’mur,1996) sebagai berikut :
a) Pencegahan kecelakaan sebagai akibat kecelakaan atas keadaan panik
b) Pembuatan bangunan tahan api
c) Pengawasan yang teratur dan berkala
d) Penemuan kebakaran pada tingat awal dan pemadamannya
e) Pengendalian kerusakan untuk membatasi kersakan sebagai akibat kebakaran
Sedangkan menurut Suprapto, (1995) ketentan dan persyaratan terknis dalam
proteksi kebakaran pada bangunan mliputi :
a) Melakukan pemeriksaan dan pengecekan kondisi dan keadaan sarana dan
peralatan sistem proteksi kebakaran
b) Melengkapi sarana dan peralatan proteksi ddidasari atas analisi resiko
bahaya dan stadart serta ketentuan yang berlaku
c) Standar dan ketentuan teknis proteksi kebakaran harus diterapkan dan
disebarluaskan

20
d) Setiap gedung harus dilengkapi dengan sarana pengamanan terhadap
kebakaran secara lengkap dan memenuhi sandart dan ketentuan teknis yang
berlaku.
e) Perlu dilakkukan pemeriksaan dan pemeliharaan secara berkala untuk
menjamin agar sarana dan peralatan proteksi kebakaran dalam kondisi siap
pakai.
1. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran
a) Tempatkan APAR selalu pada tempat yang sudah ditentukan, mudah
dijangkau dan mudah dilihat, tidak terlindung benda/perabot seperti
lemari, rak buku dsb. Beri tanda segitiga warna merah panjang sisi 35
cm.
b) Siagakan APAR selalu siap pakai.
c) Bila terjadi kebakaran kecil: bertindaklah dengan tenang, identifikasi
bahan terbakar dan tentukan APAR yang dipakai.
d) Bila terjadi kebakaran besar: bertindaklah dengan tenang, beritahu orang
lain untuk pengosongan lokasi, nyalakan alarm, hubungi petugas
pemadam kebakaran.
e) Upayakan latihan secara periodik untuk dapat bertindak secara tepat dan
tenang.
2. Pencegahan Secara Umum Agar Tidak Terjadi Kebakaran
a) Alat-alat elektrik adalah penyebab utama kebakaran di rumah tangga.
b) Belilah alat pemadam kebakaran yang praktis, jika mungkin, dan
letakkan dekat kompor atau di dalam dapur serta ajarkanlah semua orang
di rumah anda bagaimana menggunakannya sewaktu-waktu dibutuhkan.
c) Jangan pernah meninggalkan masakan yang belum matang di atas api,
jika anda tidak bisa mengawasinya secara langsung karena harus ke
ruangan lain. Lebih baik matikan kompor.  Hal ini terutama pada
makanan yang digoreng, karena minyak goreng cepat menyebabkan
kebakaran jika dibiarkan panas. Jika terjadi kebakaran karena minyak
goreng terlalu panas, jangan disiram dengan air karena berbahaya dan api
malah semakin menjadi-jadi; tetapi tutuplah wajan dengan penutup yang
aman untuk mencegah oksigen.

21
d) Tidak melakukan aktifitas lain pada saat memasak.
e) Saat ini sudah banyak  orang memasang detektor asap (smoke detector)
di rumahnya , terutama di setiap ruangan tertutup dan di setiap lantai.
Cek setiap bulan, ganti battery-nya minimal sekali pertahun dan gantilah
detektor setiap 5 tahun sekali.
f) Simpan benda-benda yang mudah terbakar seperti spray pengharum
ruangan, cat dan lainnya jauh dari sumber api. Jangan sampai lupa: Gas,
Bensin dan Propane harus disimpan di luar ruangan, jangan di dalam
rumah.
g) Buatlah rencana evakuasi jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran dan
latihlah semua anggota keluarga.
h) Buatlah tempat berkumpul  yang diketahui semua keluarga jika sewaktu-
waktu terjadi kebakaran dan semua orang harus keluar rumah. Misalnya
di rumah tetangga anda.
i) Buatlah daftar barang berharga anda, dengan foto dan video jika
mungkin dan taruh di luar rumah di tempat yang aman (misalnya jika
anda mampu menyewa safety box  di bank, taruhlah bersama benda dan
kertas berharga lainnya). Ini akan membantu jika anda akan mengklaim
asuransinya.
3. Tindakan Ketika Kebakaran Terjadi
a) Jika anda rasa kebakaran masih bisa diatasi karena baru terjadi atau
belum menjalar, gunakan alat pemadam kebakaran dan arahkan ke
bagian bawah api, bukan di atasnya karena itulah akarnya. Hal ini akan
percuma jika kebakaran sudah terjadi beberapa lama.
b) Tutup ruangan yang terjadi kebakaran agar tidak menjalar ke ruang
lainnya.
c) Sebelum memasuki ruang lainnya, sentuh bagian atas pintu karena jika
terasa panas berarti ruang itu sudah terbakar.
d) Dengan cepat tetapi tanpa membuat keributan, keluarkan seluruh anggota
keluarga. Keributan akan membuat panik dan semua orang tidak bisa
menyelamatkan diri dengan baik.

22
e) Jika kebakaran terjadi di malam hari, tutupi tubuh anda dengan selimut
segera dibanding mencari baju luar.
f) Carilah jalan keluar lalu pergilah ke tempat berkumpul dan teleponlah
pemadam kebakaran.
4. Tindakan Pasca Api Kebakaran Padam
a) Jangan masuk ke rumah yang telah rusak oleh api. Strukturnya mungkin
lemah dan akan cepat roboh. Ini berbahaya bagi keselamatan anda
sendiri.
b) Kontak pemerintah setempat agar mereka bisa mengontak anda dan
memberi bantuan yang diperlukan (jika ada).
c) Kontak perusahaan asuransi anda dan  jika anda membeli barang-barang
pengganti yang telah terbakar, simpanlah semua tanda terima agar
mendapat ganti rugi.
I. UNDANG-UNDANG DAN PERATURAN TENTANG KEBAKARAN
1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 75, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3317);
2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247;
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4844);
4. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723);

23
5. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4828);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 83, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4532);
8. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja
Kementerian Negara Republik Indonesia;
10. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang
Kabinet Indonesia Bersatu;
11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 Tahun 2006
Tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;
12. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2008 tentang
Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum;
13. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 25/PRT/M/2008 Tahun 2008
Tentang Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi
Kebakaran;
14. Perda DKI No.(1).03 Tahun 1992
15. Perda DKI No.(1).08 Tahun 2008
16. Perda Kabupaten Serang No.03 Tahun 2010
17. Perda Kabupaten Depok No.10 Tahun 2010
18. Perda Kota Bekasi No.01 Tahun 2011
19. Perda Kotamadya Pekanbaru Tingkat II No.20 Tahun 1998

24
20. Undang-Undang No.1 Tahun 1960, Pasal 188 Kitab UU Hukum Pidana

J. CARA /METODE MEMADAMKAN API


Pemadaman api pada perinsipnya adalah menghilangkan salah satu atau lebih
dari ke-3 faktor tersebut dengan melakukan salah satu / lebih cara-cara sebagai
berikut:
1. Cooling
Menghilangkan factor panas dengan mendinginkan api sampai pada titik uap
api / panas tidak lagi diproduksi.
2. Smothering
Menghilangkan faktor panas dengan memisahkan udara oksigen hingga
mematikan pembakaran.
3. Starving
Menyingkirkan bahan bakar / bahan yang mudah terbakar sampai pada titik
dimana tidak terdapat apapun yang dapat terbakar.
4. Breaking chain reaction
Mencegah reaksi nyala api dengan menyingkirkan rangkaian reaksi kimia di
daerah nyala api. Dengan demikian proses pembakaran akan terhenti.

Sedangkan menurut Soedharto (1985), Teknik Dasar Pemadaman Kebakaran


ada tiga macam :
1. Urai
Adalah pemadaman kebakaran dengan cara menyingkirkan/menguraikan
bahan-bahan yang terbakar. Contohnya pada kejadian kebakaran sebuah
rumah, agar cepat padam maka sebagian bangunannya (dinding, kayu, dll)
dirusak atau dirobohkan. Hal itu dilakukan agar api tidak sempat berkobar
lebih besar, dan jangan sampai menjalar ke tempat lain.
2. Pendinginan
Adalah pemadaman kebakaran dengan cara menurunkan kadar panas. Dalam
hal ini air adalah bahan pemadam yang pokok. Contohnya penyemprotan air
pada kebakaran rumah. Hal ini biasanya dilakukan bersama-sama dengan
cara yang pertama tadi.
3. Isolasi

25
Adalah pemadaman kebakaran dengan cara mencegah reaksi udara. Cara ini
disebut juga dengan lokalisasi, yaitu membatasi atau menutup benda-benda
yang terbakar agar tidak berhubungan dengan udara bebas. Contohnya,
pemadam kebakaran minyak dengan menggunakan bahan pemadam yang
disebut busa.

26
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Kebakaran adalah suatu nyala api, baik kecil atau besar pada tempat yang
tidak kita kehendaki, merugikan, pada umumnya sukar dikendalikan.
Kebakaran merupakan suatu bencana yang merugikan bagi banyak pihak
yang dapat mengakibatkan kerugian materil dan berpotensi terhadap
kematian yang cukup besar sehingga memerlukan perhatian akan
keselamatan masyarakat. Adanya kasus kebakaran yang terus meningkat
menyebabkan pemerintah mengeluarkan undang-undang dan peraturan
pemerintah yang berkaitan dengan kebakaran. Oleh karena itu, pengetahuan
tentang kebakaran dan upaya penanggulangan bahaya kebakaran sejak dini
sangat penting agar masyarakat mengetahui adanya potensi bahaya
kebakaran di semua tempat, antara lain, di rumah, tempat kerja, tempat
ibadah, tempat-tempat umum dan lain-lain. Sehingga, kasus kebakaran di
Indonesia bisa diminimalisir.

3.2 SARAN
Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami materi
dan persoalan kebakaran dan menambah wawasan pengetahuan mengenai
kebakaran dan bagaimana upaya untuk menanggulangi dan mencegah
kebakaran sehingga kasus kebakaran dapat diminimalisir. Selain itu, dengan
adanya makalah ini diharapkan dapat dilakukan penelitian dan penulisan
lebih lanjut mengenai pengkajian ini

27
DAFTAR PUSTAKA

Soedharto, Gatot. 1984. Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran. Jakarta:


Grafindo Utama
Soedharto, Gatot. 1985. Mencegah Kerusakan Lingkungan dari Bahaya Kebakaran.
Jakarta: PT. Intemasa
Zaini, Mochamad. 1998. Panduan Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran. Jakarta:
Abdi Tandur
______, 2009. Kebakaran. Jakarta. Universitas Pembangunan Nasional
______,2010. Resiko K3 dan Kebakaran . Sumatra. Universitas Sumatra Utara
Hargiyarto, Putut, 2003. Pencegahan dan dan Pemadaman Kebakaran. Yogyakarta.
Universitas Negeri Yogyakarta.
Redaksi. 1978. Usaha Mencegah Bahaya Kebakaran. Proyek Pusat Publikasi
Pemerintah Departemen Penerangan RI.

28