Anda di halaman 1dari 4

Tragedi Rohingya: Gagalnya Negara Melindungi Hak-Hak Manusia

Pengantar

Beberapa hari ini kita disuguhi berbagai fakta mengerikan atas penderitaan etnis muslim Rohingya
dalam kekerasan terbaru di Rakhine yang membuat pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi
menjadi sorotan masyarakat internasional. Seperti yang dilansir Media Australia, The Sydney Morning
Herald(2/9/2017), mengusik kelayakan pejuang demokrasi dan penerima hadiah nobel perdamaian
untuk mengembalikan predikat tersebut karena dianggap melakukan pengkhianatan dari esensi nobel
perdamaian dengan membiarkan tragedi Rohingya terjadi “di depan matanya”.

Dalam catatan berbagai media, muslim Rohingya sering digambarkan sebagai etnis yang paling sering
mengalami persekusi di dunia. Mereka ditolak di negaranya sendiri, tidak diterima oleh Negara tetangga,
miskin, tak punya kewarganegaraan dan beberapa akhir ini dipaksa meninggalkan Myanmar.

Tun Khin pegiat Rohingya di Inggris mengatakan bahwa orang-orang Rohingya menjadi korban kejahatan
massal yang dilakukan oleh aparat keamanan Myanmar. Operasi keamanan digelar setelah serangan
oleh kelompok militant ARSA(Arakan Rohinya Salvation Army) terhadap pos polisi di dekat Maungdau
pada awal Oktober 2016 menewaskan 9 orang polisi. Tapi orang-orang Rohingya mengatakan aparat
menjadikan semua komunitas Rohingya sebagai sasaran tanpa pandang bulu.

Dunia internasional pun merespon dengan berbagai ragam upaya yang bisa menghentikan kebiadaan
yang dilakukan oleh pihak militer, penduduk local , tokoh agama dengan dukungan pemerintah
Myanmar. Sudah tidak terhitung ‘ikhtiar’ berbagai pemimpin Negara, kelompok maupun aktifis – aktifis
kemanusiaan yang masih ‘bening’ hati nya mengindra tragedi terbaru di Rakhine. Apresiasi yang
mendalam atas bantuan yang diberikan paling tidak memberikan sedikit ruang bagi muslim Rohingya
yang sudah terlanjur kehilangan jiwa dan harta mereka dengan pembakaran rumah secara massal,
pembunuhan dan penyiksaan, kekurangan pangan, hilangnya kehormatan perempuan dll.

Akar permasalahan tragedy Rohingya

Muncul banyak analisa dari berbagai kalangan atas penderitaan muslim Rohingya. Beberapa aspek yang
mendominasi adalah: Aspek agama, hubungan agama di Myanmar adalah masalah yang sangat
kompleks. Dalam sejarahnya warga muslim Rohingya dikonfrontasikan dengan rasa takut mendalam
terhadap Islam di masyarakat dan negara yang mayoritas beragama Budha. Pada faktanya memang
diskriminasi terjadi atas etnik Rohingya . Sedangkan ada pandangan mayoritas Budha dengan Myanmar
yang dikelilingi Negara mayoritas islam, menganggap Islam sebagai ancaman terhadap gaya hidup dan
kepercayaan Budha dan menjadi jalan islamisasi Myanmar. Aspek Ekonomi dan Politik, Rakhine adalah
salah satu Negara bagian yang warganya paling miskin walaupun kaya SDA. Dugaan kuat wilayah yang
sebagian ditinggali etnik Rohingya ini kaya akan gas, minyak dan tinggi kandungan emasnya.Warga
Rohingya dianggap menjadi beban ekonomi jika mereka bersaing mendapat pekerjaan dan kesempatan
untuk berbisnis yang sampai dengan sekarang sebagian besar dikuasai kelompok elit Burma.
Siapa yang bisa membantu Muslim Rohingya?

Tidak mudah untuk menjawab persoalan Rohingya, bahkan sekelas pemimpin Myanmar yang
jawabannya mengambang. ”Saya tidak mengatakan tidak ada masalah…namun akan lebih baik jika
berbagai pihak focus untuk mengatasi masalah, bukan membesar-besarkan masalah sehingga sepertinya
masalah yang ada lebih buruk dari kenyataan yang terjadi(di lapangan),” kata aung San Suu Kyi kepada
TV Singapura, Channel NewsAsia,02/12/2017.

Tidak mudah juga bagi Suu Kyi yang sudah popular di kalangan rakyat Myanmar dan anggota parlemen
untuk membela muslim Rohingya. Ada dugaan sikap diam Suu Kyi karena adanya agenda politik
pemimpin oposisi Myanmar yang ingin mencalonkan diri sebagai presiden. Bisa jadi Suu Kyi takut tidak
terpilih sebagai presiden. Pada sidang parlemen Suu Kyi pasca lawatannya dari eropa, menyerukan
untuk membuat undang-undang yang menghargai hak-hak minoritas. Namun seruannya juga tidak tegas
apakah etnik Rohingya termasuk di dalamnya. Jika etnik Rohingya termasuk di dalamnya, maka UU
tahun 1982 produk junta militer harus direvisi (karena UU tersebut tidak mengakui etnis Rohingya
sebagai warga Negara). Hal ini akan sulit dilakukan karena partai yang mengusung Suu Kyi belum
menjadi mayoritas di parlemen. Agaknya penderitaan yang disandang etnik rohingya masih akan
berkepanjangan.

Gagalnya pihak berwenang Myanmar untuk membantu muslim Rohingya melakukan evakuasi ke lokasi
yang lebih aman menambah rentetan persoalan baru yang ‘memaksa’ negeri-negeri lain angkat bicara
dan berupaya menyelamatkan muslim Rohingya. Namun bertindak lebih bagi etnik Rohingya ibarat api
jauh dari panggang. Pemberlakuan Hukum Internasional di bawah PBB pun yang saat ini dipercaya
sebagai cara terbaik dalam mengatur hubungan Internasional dan menyelesaikan konflik internasional
tidak banyak membuahkan hasil. Bahkan upaya PBB sendiri dalam laporannya yang dikeluarkan februari
2017 menyimpulkan bahwa pasukan Myanmar telah melakukan kejahatan kemanusiaan dan menjurus
pada pembersihan etnis Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh sejak oktober 2016. Dilanjutkan
dengan keputusan PBB membentuk tim pencari fakta untuk menyelidiki dugaan kejahatan kemanusiaan
dan tertolak oleh Pemerintah Myanmar . China (negara yang banyak menginveskan dananya untuk
Myanmar) dalam hal ini sebagai bagian dari tim PBB juga menolak pada bulan juni dan maret
sebelumnya ketika PBB mengusulkan investigasi adanya eknik cleansing di Myanmar(the new york
times, the washington post, the elevennews). Konflik pun berlanjut sampai dengan sekarang. ASEAN
yang digadang-gadang bisa membantu menyelesaikan konflik pun tidak banyak banyak memberikan
tekanan yang berarti bagi Myanmar. Salah satu penghalang adanya kesepakatan yang ‘wajib dipatuhi’
bagi anggota ASEAN adalah tidak mencampuri urusan dalam negeri bangasa lain. Ini berarti upaya
mediasi internasional dan regional pun pupus sudah.

Islam Memberikan alternative Solusi ???

Dalam surat Al-Isra:70,” Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka
di daratan dan lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan
kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”.
Pandangan ini menjadikan hak manusia memiliki keistimewaan. Kesempurnaan hak tersebut meliputi
ekonomi, politik, masyarakat dan pemikiran merupakan hak umum pada setiap orang baik muslim
maupun non muslim tanpa membedakan warna, jenis dan bahasa. Hal tersebut tidak bisa diganti karena
merupakan ajaran Tuhan semesta alam.(Sumbangan Peradaban islam pada Dunia)

Rasulullah SAW telah menetapkan dalam khutbah wada’nya, beliau bersabda ,” Sesungguhnya darahmu,
hartamu sekalian haram sebagaimana diharamkan pada hari ini, bulan ini, di negeri ini, sampai hari
pertemuan dengan Tuhan kalian semua.(H.R Al-Bukhari)

Juga dalam sabda beliau yang mengagungkan urusan jiwa manusia secara umum, sehingga
memeliharanya merupakan hak tertinggi yaitu hak untuk hidup. Beliau bersabda saat ditanya tentang
dosa-dosa besar, ‘menyekutukan Allah…dan membunuh jiwa(H.R al Bukhari).”kalimat jiwa ini
menunjukkan arti umum meliputi seluruh jiwa yang dibunuh tanpa alasan yang dibenarkan.

Islam juga mengharamkan setiap perbuatan yang mengurangi hak kehidupan, baik berupa terror, hinaan
dan pukulan. Hisyam bin hakim berkata, aku mendengar Rasul bersabda,’ sesungguhnya Allah menyiksa
orang2 yang menyiksa manusia sewaktu di dunia.(H.R Muslim)

Manusia dimuliakan dengan sifatnya yang umum, karena itu dibuat ketetapan tentang haramnya darah
tertumpah, kehormatan dan harta benda juga hak hidup yang terampas. Lalu disusul dengan
menguatnya hak persamaan antara seluruh manusia, antara individu dan masyarakat, antara ras dan
kelompo-kelompok, para hakim dan orang2 yang dihakimi, para wakil dan rakyat. Tidak ada diskriminasi
dalam penegakan syariat Islam, keutamaan di antara manusia di ukur dengan ketaqwaan kepada Allah.
Sebagaimana sabda beliau,’Wahai manusia, tuhan kamu satu, bapak kamu satu, kalian berasal dari
adam, sedang adam berasal dari tanah, orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling
bertaqwa. Tidaklah orang arab itu lebih mulia dari orang ajam kecuali ketaqwaannya”(H.R Ahmad)

Begitu juga pemenuhan hak manusia dalam peradaban islam bisa dilihat tatkala memperlakukan
masyarakat sipil dan tawanan saat perang. Sebab biasanya dalam kondisi peperangan, jiwa bergelora
untuk membalas dendam dan bertindak sesuka hati. Islam satu-satunya agama yang memiliki
penghargaan terhadap kemanusiaan dan menetapkan kasih sayang meski dalam kondisi perang. Karena
itu, ketika berperang, rasulullah mengingatkan, “ jangan kalian membunuh anank-anak, perempuan dan
orang tua”.(H.R Muslim)

Meletakkan hak kemanusiaan adalah karakteristik syariat Islam yang tidak dapat disamakan dengan
aturan-aturan buatan manusia, tidak pula perjanjian-perjanjian yang berhubungan dengan hak manusia.
Islam menunaikan hak secara penuh. Tujuannya adalah agar setiap manusia bisa mendapatkan
kehidupan yang terjaga di atas sistem Negara sesuai dengan jaminannya.Ini terbukti dengan adanya
Peradaban islam yang pernah menorehkan keagungannya.

Gagalnya Negara saat ini dalam melindungi hak-hak manusia sangat memungkinkan berubah jika
pandangan yang menyeluruh dan mendasar tentang manusia dikembalikan lagi pada kedudukan yang
tepat. Termasuk pengelolaan umat dalam kerakusan sistem ekonomi dan politik kapitalis yang
menjadikan umat terdzalimi bahkan binasa. Tragedy Rohingya adalah kejahatan kemanusian yang luar
biasa. Jika dibiarkan tanpa berusaha menghentikannya, dikhawatirkan, kita semua mendapat
hukumanNya. Saatnya alternative islam sebagai Solusi dalam setiap aspek kehidupan kita suarakan.
Wallahu ‘alam bis shawab.(*Ummu jiddan)