Anda di halaman 1dari 8

PRAKTIKUM SISTEM VIDEO

PERCOBAAN KETIGA

“PATTERN GENERATOR”

1. Tujuan
1.1 Mengenal pola-pola dasar pada Pattern Generator.
1.2 Mengukur video komposit dan tegangan standart pada masing-masing
pola.
1.3 Mengukur gelombang termodulasi pada modulator video (RF).
1.4 Mengukur IF video.

2. Peralatan yang Digunakan


1 Pattern Generator sinyal TV
1 Oscilloscope 40 MHz dan passive probe
1 Power Supply
1 Kabel penghubung BNC - BNC
1 Kabel penghubung BNC – COAX (RF)

3. Diagram Rangkaian

4. Dasar Teori
Sumber pola gambar (pattern generator) sangat pada teknik video
(televisi) untuk maksud pengaturan atau pencarian kesalahan. Ada berbagai
macam pola gambar dengan berbagai macam keperluannya. Dari begitu
banyak pola gambar yang ada, ada beberapa pola gambar yang umum
digunakan kegunaannya tidak amat spesifik.
Macam-macam Pola Gambar dan Kegunaannya yakni :
a. Bintik-bintik (Dot)
Untuk memeriksa dan mengatur konvergensi statis di tengah layar
dengan kecerahan yang rendah. Hal ini harus dikerjakan sesuai petunjuk
pembuat pesawat televisi.
b. Kotak-kotak (crosshach)
Pola kotak-kotak dengan garis horisontal dan garis vertikal dengan
warna latar belakang hitam dan warna garis putih.
1. Untuk memeriksa dan mengatur konvergensi dinamik horisontal dan
vertikal dan konvergensi sudut.
2. Dengan linieritas pembelokan (defleksi) horisontal dan vertikal yang
benar, garis putih horisontal harus berbentuk segi empat sama sisi. Jika
tidak, maka pesawat dapat diperiksa kebenaran tanggapan
amplitudonya. Garis putih vertikal seharusnya lebarnya 200 ns. Jika
garis ini tidak tajam dan terlihat lebih rendah intensitasnya dibanding
garis horisontalnya, dimungkinkan tanggapan amplitudo penerima tidak
cukup. Jika garis vertikal terlihat ganda, rangkaian penerima mungkin
bergetar.
3. Untuk pemeriksaan pengoreksi pin-cushion pesawat penerima. Dengan
konvergensi yang benar, segi empat di sudut layar harus kira-kira sama
dengan segi empat di tengah layar pada jarak penglihatan normal.
c. Putih (white)
Pola ini berisi sinyal 100% putih (tanpa informasi warna) dengan
burst bergantian.
1. Gambar untuk kecerahan yang konstan pada seluruh layar (tida ada
hum, dll.)
2. Tabung gambar warna untuk pengaturan putih yang baik (white-D).
3. Pembatasan dari arus tembakan pada tabung gambar warna.
4. Untuk recorder video pola ini sangat ideal untuk pengaturan arus
penulisan (rekam) luminansi. Pola ini dapat pula untuk mengatur
demodulator FM (pengaturan level putih).
d. Balok Warna (color)
Balok warna (color bar) terdiri dari 8 balok warna vertikal standart
dan sebuah balok referensi horisontal. Balok 8 warna disusun dalam urutan
penyusutan luminan. Dari kiri ke kanan balok warna itu adalah putih D,
kuning, cyan, hijau, magenta, merah, biru, dan hitam. Pola ini digunakan
untuk menset kontrol operasi pesawat penerima pada posisi yang benar.
Balok horisontal (level putih) pada bagian bawah pola ini digunakan
sebagai standart saat mengatur amplitudo sinyal beda warna dengan
hubungan dengan sinyal luminan dalam tabung gambar. Sinyal dapat
digunakan untuk pengaturan ulang amplitudo sinyal dari rangkaian
demodulator dan matrik, sebagai keluarannya dapat dibandingkan dengan
balok referensi. Selain kegunaan di atas, pola ini dapat digunakan untuk
memeriksa penampilan warna secara keseluruhan. Jadi dapat pula
digunakan pemeriksaan dan pengaturan pada penerima atau VCR :
1. Pemeriksaan pengunci burst.
2. Pemeriksaan AGC warna dan pemati warna.
3. Pemeriksaan rangkaian reaktansi dari regenerator subcarrier.
4. Pemeriksaan sinkronisasi dari regenerator subcarrier.
5. Pemeriksaan rangkaian pengenal (identification) PAL.

e. Sinyal Sinkronisasi
Sinyal sinkronisasi adalah suatu sinyal yang selalu diberikan secara
periodik dan tetap, berfungsi untuk mengemudikan jalannya scaning raster
disetiap pesawat televisi sehingga pembentukan sinyal video menjadi
gambar akan tetap dan tepat susunannya sama dengan posisi semula di
bidang raste kamera (produksi gambar), maka dari itu sinyal sinkronisasi
selalu disertakan bersama dengan sinyal video kemanapun dikirimnya.
Untuk pembentukan raster dengan sistem scanning ini maka
diperlukan dua macam sinkronisasi yaitu:
1. Sinyal sinkronisasi horizontal yaitu untuk scanning horizontal yang
diberikan pada setiap retrace horizontal.
2. Sinyal sinkronisasi vertikal yaitu untuk scanning vertikal yang
diberikan pada setiap retrace vertikal.
Sinyal video yang dilengkapi dengan sinyal-sinyal sinkronisasi
disebut dengan sinyal video komplit (Composite Video Signa/CVSl),
sedangkan untuk sinyal video berwarna disebut Color Composite Video
Signal (CCVS). Karena pada sinyal video tersebut telah ditambahkan
sinyal-sinyal informasi warna, yaitu sinyal Burst dan sinyal Color Sub
Carrier.

5. Prosedur Percobaan

1. Set-up peralatan seperti pada gambar di bawah ini.

2. Hubungkan Patern Generator dengan catu daya, kemudian hidupkan


instrumen.
3. Saklar output pada Pattern Generator RF dihubungkan ke Port RF Antena
pada televisi dan amati bentuk setiap pola.
4. Tentukan Frekuensi yang akan digunakan UHF/VHF.
5. Cek frekuensi keluaran pada RF port Pattern Generator.
6. Masukan parameter frekuensi tersebut ke pencarian manual pada menu
Televisi.
7. Hubungkan Port Composite pada Pattern generator ke Channel Input
Oscilloscope.
8. Amati dan gambar sinyal sinkronisasi dan pengosongan horisontal,
pengosongan vertikal, serambi depan dan belakang, dan informasi gambar
masing-masing pola.
9. Saklar output RF Pattern Generator letakkan pada Oscilloscope dan amati
bentuk gelombang untuk setiap pola dan ukur frekuensinya.

6. Data Hasil Percobaan


 Hasil Sinyal difotokan dari masing-masing pola yang ada.
 Catat Frekuensi, Volt/div, time/div dari masing-masing pattern
(menggunakan output port Composite).
 Catat Frekuensi, Volt/div, time/div dari masing-masing pattern
(menggunakan output port RF).

7. Analisa Percobaan
NO OUT PORT COMPOSITE OUT PORT RF
1.

ALIGNMENT V/div = 2 V
V = 3□ x 2 V = 6V

T/ div = 2,5 µs
T = 1 x 2,5 µs = 2,5 µs
2.

CONVERGENCE V/div = 1,42 V


V = 2,8□ x 1,42 V = 6V

T/ div = 2,5 µs
T = 1 x 2,5 µs = 2,5 µs

3.

COLOR V/div = 1,52 V


V = □ x 21,52 V = 6V

T/ div = 2,5 µs
T = 1 x 2,5 µs = 2,5 µs
4.

CHROMINANCE
5.

BLUE
V/div = 1,42 V
V = 2,8□ x 2 V = 6V

T/ div = 2,5 µs
T = 1 x 2,5 µs = 2,5 µs

6.

RED V/div = 1,42 V


V = 2,8□ x 2 V = 6V

T/ div = 2,5 µs
T = 1 x 2,5 µs = 2,5 µs

7.

GREEN V/div = 1,42 V


V = 2,8□ x 2 V = 6V

T/ div = 2,5 µs
T = 1 x 2,5 µs = 2,5 µs

8.

LUMINANCE

8. Kesimpulan Percobaan
9. Referensi