Anda di halaman 1dari 17

METODE PELAKSANAAN

Pekerjaan : Pembangunan Poskesdes dan Pagar Meusale


Kecamatan Indrapuri (Otsus)
Lokasi : Kecamatan Indrapuri
Kabupaten : Aceh Besar
Tahun Anggaran : 2016

I. RUANG LINGKUP PEKERJAAN

A. PEKERJAAN PERSIAPAN

B. PEMBANGUNAN POSKESDES
1) Pek. Struktur Bangunan Bawah/Pondasi
2) Pek. Struktur Bangunan Atas
3) Pek. Pasangan Dinding
4) Pek. Penutup Lantai
5) Pek. Kusen & Jendela
6) Pek. Penutup Atap
7) Pek. Plafond
8) Pek. Instalasi Listrik
9) Pek. Instalasi Air Bersih & Air Kotor
10) Pek. Pengecatan
C. PEKERJAAN PAGAR KELILING
D. PEKERJAAN LAIN-LAIN

II. METODE PELAKSANAAN

A. PEKERJAAN PERSIAPAN

Sebelum memulai pekerjaan konstruksi dilakukan terlebih dahulu pekerjaan persiapan


yang harus dilaksanakan sebagai pekerjaan yang akan mendukung pekerjaan konstruksi. Adapun
pekerjaan persiapan atau pekerjaan pendahuluan dengan mendatangkan personil inti untuk
dilapangan yaitu; Site manager, structure engineer, quantity engineer, pengawas lapangan,
surveyor, adm & keuangan, drafman dan mereka bertugas menurut keahlian masing-masing.
Mendatangkan tenaga kerja sesuai kebutuhan dilapangan berupa; kepala tukang, tukang, pekerja,
mandor beserta peralatan tukang dan mereka bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing
antara lain sebelum mereka melaksanakan pekerjaan terlebih daluhu menyiapkan tempat tinggal
dan lainnya.

1) Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank


Sebelum memulai konstruksi pekerjaan terlebih dahulu melakukan pengukuran
awal/mutual chek 0% peil bench mark agar mendapat hasil yang akurat. Pengukuran dilakukan
dengan menggunakan alat ukur yang telah dikalibrasi terlebih dahulu serta surveyor yang
berpengalaman dan dibantu oleh dua orang asisten untuk menentukan batas dan tanda-tanda
bangunan dengan menggunakan referensi BM yang sudah ada, Penentuan Elevasi bangunan
ditandai dengan beberapa patok-patok yang terbuat dari kayu. Pekerjaan pengukuran yang
dilakukan pada proyek ini sbb :
a. Pengukuran jarak dengan EDM
1. Melakukan centering optis diatas titik yang akan diukur jaraknya dan ukur tinggi alat.
2. Pasang retmini pada dudukan, kemudian pasang batrai lalu centering optis pada
reflector sehingga prisma reflector benar-benar diatas target dan ukur tinggi reflector.
3. Bidikan EDM ke reflector atau theodolit ke target, kunci seluruh sekrupnya.
4. Hidupkan power On.
5. Jika bidikan sudah tepat pada reflector, maka akan ada tanda asterisk (*) menyala pada
diskplay EDM. Jika tanda (*) belum menyala, atur dengan menggunakan sekrup
penyetel halus sehingga tanda (*) menyala.
6. Tekan tombol MEAS yang tampak pada diskplay adalah jarak miring, lalu diawasi dan
dicatat hasil pengamatan sampai 5 kali, kemudian dimatikan power.
7. Untuk sudut zenith dengan cara membidikkan teropong ke target.
Menghitung Zenith sebenarnya :
Zu + (tg – ta)
Z = PA
D
Menghitung jarak datar dengan rumus :
L = do sin Z cos Z + D sin Z
D = Konstanta target
D = Jarak miring rata-rata
b. Pengukuran Waterpass :
Pengukuran ini bersifat datar memanjang
1. Untuk menentukan beda tinggi atau beda titik – titik yang letaknya berurutan dan
memanjang.
2. Untuk menentukan beda tinggi antara 2 titik yang berjauhan letaknya Pekerjaan ini
terdiri dari:
- Pengukuran dengan menggunakan alat ukur seperti Theodolite, waterpass, bak
ukur dan alat ukur lainnya, pengukuran dilaksanakan oleh seorang surveyor yang
berpengalaman dan dibantu oleh dua orang asisten untuk menentukan batas dan
tanda – tanda bangunan dengan menggunakan referensi BM yang sudah ada,
pengukuran meliputi antara lain Topograpi, Penentuan Elevasi bangunan ditandai
dengan beberapa patok-patok yang terbuat dari kayu.
Pasangan bowplank
Sebelum memulai konstruksi pekerjaan terlebih dahulu mengerjakan dan memasang
bowplank antara lain :
a. Tenaga kerja yang digunakan
- Pekerja, Tukang, Mandor

b. Peralatan yang digunakan


- Gergaji, siku, palu, penggaris dan meteran panjang
c. Bahan yang diperlukan
- Balok 6/7, Papan
d. Metode kerja
Mengukur dengan meteran dan memotong dengan gergaji patok – patok kayu 5/7 yang
dipancang kedalam tanah berjarak 2 meter untuk setiap patok yang ditempatkan pada
sekeliling atau disepanjang bangunan yang berjarak +1 meter dari as bangunan, lalu pada
bagian sekeliling atas patok dipakukan papan untuk penempatan benang yang diikat pada
paku diatas papan guna mendapatkan siku bangunan dan ukuran konstruksi bangunan
menggunakan alat siku.

2) Administrasi dan Dokumentasi


Sebelum dimulainya pekerjaan fisik pelaksana terlebih dahulu mempersiapkan
administrasi pekerjaan seperti daftar laporan pekerjaan awal yang akan disampaikan
kepada direksi, foto sebelum pelaksanaan pekerjaan dan mempersiapkan foto sedang
dilaksanakannya pekerjaan serta selesainya pekerjaan termasuk segala berita acara serta
serah terima pekerjaan dilapangan.

3) Papan Nama Proyek


Papan NAma Proyek dibuat dari papan dengan ukuran 200 x 100 cm. didirikan tegak
diata kayu 5/7 cm setinggi 240 cm diletakkan pada tempat yang mudah dilihat umum.
Papan nama proyek memuat :
- Nama Proyek
- Pemilik Proyek
- Lokasi Proyek
- Jumlah biaya (kontrak)
- Nama Konsultan Perencana
- Nama konsultan Pengawas
- Nama Pelaksanan (Kontraktor)
- Proyek dimulai tanggal, bulan, tahun.

B. PEMBANGUNAN POSKESDES

1) Pekerjaan Struktur Bangunan Bawah/Pondasi

1.1 Galian Tanah Pondasi


Galian pondasi baru boleh dilaksanakan setelah bouwplank dengan penandaan sumbu ke
sumbu selesai diperiksa dan disutujui Direksi. Bentuk galian dilaksanakan sesuai dengan ukuran
yang tertera dalam gambar. Galian-galian untuk septictank, saluran air hujan, saluran air kotor
dan air bersih dilaksanakan dengan ukuran yang ditetapkan dalam gambar kerja dan gambar
detail. Untuk kondisi tanah yang mudah longsor Kontraktor akan memasang turap kayu
pengaman yang cukup kuat. Turap didalam bangunan akan dibongkar setelah pondasi selesai.
Galian-galian untuk septictank, saluran air hujan, saluran air kotor dan air bersih dilaksanakan
dengan ukuran yang ditetapkan dalam gambar kerja dan gambar detail. Untuk kondisi tanah yang
mudah longsor Kontraktor akan memasang turap kayu pengaman yang cukup kuat. Turap
didalam bangunan akan dibongkar setelah pondasi selesai.
Galian tanah pondasi akan dikerjakan sesuai gambar bestek atau dengan mengikuti
petunjuk direksi antara lain :
a. Tenaga kerja yang digunakan : Tukang gali, Pekerja, Mandor
b. Peralatan : Cangkul, Sekop, dan Peralatan tukang Lainnya.
c. Metode Kerja
Tukang gali menggali tanah untuk pondasi bangunan dengan cangkul dan sekop dengan
kedalaman yang telah ditentukan dalam gambar bestek dan hasil galian tersebut akan
digunakan sebagai pondasi beton.
Bila galian pondasi pada kedalaman rencana diragukan terhadap daya dukungnya, maka
kontraktor akan segera melaporkan secara tertulis kepada redaksi untuk
dipertimbangkan. Bila ternyata penggalian melebihi kedalaman yang telah ditentukan
dalam gambar, maka Kontraktor
1.2 Urugan Bekas Galian
Urugan kembali tanah bekas galian akan dilaksanakan setelah pekerjaan konstruksi pada
galian selesai dikerjakan antara lain :
a. Tenaga kerja yang digunakan : Pekerja, Mandor
b. Peralatan yang digunakan : Cangkul, Sekop.
c. Metode Kerja
Urugan kembali tanah bekas galian akan dikerjakan oleh para pekerja dengan
menggunakan peralatan seperti cangkul dan sekop pada saat bangunan konstruksi selesai
dikerjakan, seluruh tumpukan bekas galian akan diurug kembali dengan tanah bekas
galian oleh para pekerja dimana kekosongan yang terdapat pada pinggiran konstruksi
pondasi yang telah dikerjakan.

1.3 Pasir Alas Pondasi


Pasir diangkut dengan menggunakan dump truck dari quari kelokasi pekerjaan dan
menuangkan dimana dekat dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan sebatas tidak mehalangan
kegiatan pekerjaan tersebut antara lain :
a. Tenaga kerja yang digunakan : Pekerja, Mandor
b. Peralatan yang digunakan : Cangkul, Sekop.
c. Bahan yang digunakan : Pasir timbun
d. Metode Kerja
Para pekerja melangsir pasir dari penumpukan dengan menggunakan cangkul dan sekop
dalam kereta sorong lalu membawa dari lokasi penumpukan kelokasi kerja serta
menuangkan kedalam lubang pondasi dan diratakan serta dipadatkan sesuai ketebalan
dengan menggunakan alat pemadat.

1.4 Pasangan Batu Kosong


Pekerjaan pasangan batu kosong terdiri dari :
a. Tenaga kerja yang digunakan : Pekerja, Mandor
b. Peralatan yang digunakan : Cangkul, Sekop, Kereta sorong dan Timba Cor
c. Bahan yang digunakan : Pasir timbun, Sement Portland, Batu Gunung
d. Metode Kerja
Para pekerja mengangkut material batu pecah dan pasir urug dengan menggunakan
kereta sorong dari penumpukan material oleh dump truck kearea kerja dan meletakkan
disekitar galian, para pekerja akan memberikan batu dan pasir urug kepada tukang untuk
melakukan pemasangan batu dengan bahan pengikat pasir urug dikerjakan sesuai spek
atau dengan petunjuk direksi.

1.5 Pasangan Batu Kosong


Untuk pondasi dilaksanakan dengan ukuran sesuai gambar kerja dan gambar detail.
Pemasangan batu kali antara lain sebagai berikut :
a. Tenaga kerja yang digunakan : Pekerja, Tukang, Mandor
b. Peralatan yang digunakan : Sendok Sement, Sarung Tangan, Cangkul, Sekop,
Kereta sorong, Molen dan air
c. Bahan yang digunakan : Batu Gunung, semen pc, pasir pasang dan air.
d. Metode Kerja
Pekerja mengaduk campuran semen dan pasir bersama-sama dengan menggunakan
cangkul dan sekop atau molen, setelah dirasa cukup lalu pekerja mengangkut adukan
semen berserta batu dengan kereta sorong ketempat yang akan dikerjakan oleh tukang,
tukang akan memasang batu diatas aanstamping dengan campuran semen sebagai
perekat. Seluruh pekerjaan ini akan dikerjakan sesuai dalam gambar bestek atau dengan
petunjuk direksi.

1.6 Beton Cor Lantai Kerja t = 10 cm


Pekerjaan lantai kerja akan dilaksanakan setelah dilakukan penggalian pondasi antara
lain:
a. Tenaga kerja yang digunakan : Pekerja, Tukang, Mandor, dan Kepala Tukang
b. Peralatan yang digunakan : Kereta sorong, Molen, Timba Cor
c. Bahan yang digunakan : Pasir beton, Kerikil Beton, Semen Pc, Air
d. Metode Kerja
Para pekerja mengangkut material pasir beton, kerikil beton, semen Pc dan dengan
menggunakan kereta sorong dari penumpukan material oleh dump truck kearea kerja dan
meletakkan disekitar alat pengaduk beton dan mengambil air sebagai pencampur adukan
beton, para pekerja akan melakukan pengadukan beton dengan spek yang telah ditetapkan
lalu menghidupkan molen serta mengisi material tersebut kedalam tabung pengaduk,
setelah adukan dirasa cukup, adukan tersebut diangkut kelokasi galian pondasi dan
menuangkan serta tukang meratakan dengan raskam sesuai ketebalan.

2) Pekerjaan Struktur Bangunan Atas

2.1 Lingkup Pekerjaan


1. Kolom Teras Beton K.175 Uk. 15x40 cm
2. Kolom Praktis Beton K.175 Uk. 13x13 cm
3. Balok Latei K. 175 Uk. 13x15 cm
4. Ring Balok K. 175 uk. 15x20 cm
5. Plat Kanopy beton K. 175 tebal : 8 cm
6. Plat Meja Dapur t : 8 cm

2.2 Persyaratan Bahan


1. Portland Cement
a. Digunakan Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400
menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI
8 tahun 1972).
b. Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak
diperkenankan pemakaiannya sebagai bahan campuran.
c. Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab
agar semen tidak cepat mengeras.
d. Tempat penyimpanan semen harus ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m.
setiap semen baru yang masuk harus dipisahkan dari semen yang telah ada agar
pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
2. Air
Air yang digunakan dalam campuran, dalam perawatan, atau pemakaian lainnya adalah
air yang bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam, basa,
gula atau organik
3. Pasir Beton
Pasir beton harus berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis,
lumpur dan sejenisnya serta memenuhi komposisi. Butir serta kekerasan sesuai dengan
syarat-syarat yang tercantum dalam SK SNI T-15.1919.30.
4. Kerikil Beton
a. Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan
kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam SK SNI T-15.1919.03.
b. Penimbunan kerikil dengan pasir harus dipisahkan agar kedua jenis material tersebut
tidak tercampur untuk menjamin adukan beton dengan komposisi material yang tepat.
5. Bekisting
a. Rencana (design) seluruh cetakan menjadi tanggung jawab kontraktor sepenuhnya.
b. Bahan bekesting yang dipakai kayu III yang cukup kering dan keras serta untuk
penggunaannya harus mendapat persetujuan.
c. Cetakan harus sesuai dengan bentuk, ukuran batas-batas bidang dari hasil beton yang
diinginkan oleh pihak perencana.
d. Cetakan harus sedemikian rupa, kokoh dan kaku untuk menghasilkan muka Benton
yang rata dan tahan terhadap getaran dan kejutan gaya yang diterima tanpa berubah
bentuk.
e. Celah-celah antara papan harus rapat agar pada waktu pengecoran air tidak merembes
keluar. Sebelum pengecoran bagian dalam bekisting harus bersih dari kotoran.
f. Permukaan cetakan dapat diberi minyak yang biasa diperdagangkan (form oil) untuk
mencegah letaknya beton pada cetakan.
g. Permukaan cetakan harus dibasahi dengan rata. Hal ini dilakukan untuk menghindari
terjadinya penyerapan air beton oleh permukaan cetakan yang dapat menyebabkan
menurunnya daya lekat besi dan beton tersebut.
6. Besi Beton
a. Besi baton yang digunakan adalah baja ulir dengan mutu U42 (tegangan Leleh
karakteristik minimum 4200kg/cm2).
b. Daya lekat baja tulangan harus dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan
bahan lainnya.
c. Besi beton harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan
diudara terbuka dalam jangka waktu panjang.
d. Membengkok dan meluruskan tulangan harus dilakukan dalam keadaan batang dingin.
Tulangan harus dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan harus diminta
persetujuan Direksi terlebih dahulu.
e. Jika pemborong tidak berhasil memperoleh diameter besi sesuai dengan yang
ditetapkan dalam gambar, maka dapat dilakukan penukaran dengan diameter yang
terdekat dengan catatan harus ada persetujuan Direksi
f. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh kurang
dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas).
g. Biaya tambahan yang diakibakan oleh penukaran diameter besi menjadi tanggung
jawab pemborong.

2.3 Metode Pelaksanaan


1. Beton
a. Beton harus dibentuk dari campuran semen, agregat, air dalam suatu pertandingan
yang tepat sehingga didapat kekuatan tekan karakteristik (sesuai dengan kekuatan
design).
b. Kontraktor harus menyediakan peralatan dan perlengkapan yang mempunyai
ketelitian cukup untuk menetapkan dan mengawasi jumlah dari masing-masing bahan
pembentuk beton. Perlengkapan-perlengkapan tersebut dan cara pengerjaannya selalu
harus mendapat persetujuan dari Direksi Lapangan.
c. Bahan-bahan pembentuk beton harus dicampur dan diadukkan dalam mesin pengaduk
beton, yaitu “Batch Mixer” atau Portable Continious Mixer selama sedikitnya 1,5 menit
sesudah semuanya bahan dan air dicampur sekaligus dalam mixer. Mesin pengaduk
tidak boleh dibebani melebihi dari kapasitas yang telah ditetapkan.
d. Waktu pengadukan ditambah bila mesin pengaduk berkapasitas lebih besar 1,5 m³.
Direksi Lapangan berwenang untuk menambah waktu pengadukan jika pemasukan
bahan dan cara pengadukan gagal untuk mendapatkan hasil adaukan dengan susunan
kekentalan dan warna yang merata/seragam. Beton harus seragam dalam komposisi
dan konsisten dari adukan ke adukan. Air harus diatuang lebih dahulu dan selama
pekerjaan mencampur Pengadukan yang berlebihan (lamanya) yang membutuhkan
penambahan air untuk mendapatkan konsisten beton yang dikehendaki tidak
dibenarkan.
e. Pengangkutan adukan dengan truck pengaduk (truck mixer) dari tempat pengadukan
(Batching Plant) ke tempat pengecoran harus diatur sedemikian rupa sehingga waktu.
f. Antara pengadukan dan pengecoran tidak lebih dari 1 jam dan tidak terjadi perbedaan
waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah di cor dengan yang akan di
cor.
g. Adukan beton tidak boleh dituang bila waktu sejak dicampurnya air pada semen dan
agregat telah mencapai 1 jam dan waktu ini dapat berkurang lagi jika Direksi Lapangan
mengaggap perlu berdasarkan kondisi tertentu.
h. Beton harus dicor sedemikian rupa sehingga menghindari terjadinya pemisahan
material (segregagation) dan perubahan letak tulangan. Cara penuangan dengan alat-
alat pembantu seperti talang, pipa, chute dsb, harus mendapat persetujuan Direksi
Lapangan.
i. Alat-alat penuang seperti talang, pipa, chute, dsb harus selalu bersih dan bebas dari
lapisan-lapisan beton yang mengeras.
j. Adukan beton tidak boleh dijatuhkan secara bebas dari ketinggian lebih dari 2 m.
selama dapat dilaksanakan sebaiknya digunakan pipa yang berisi penuh, aduk dengan
pangkalnya yang terbenam dalam adukan yang baru dituang.
k. Penggetaran tidak boleh dilaksanakan pada beton yang telah mengalami initial set atau
yang telah mengeras dimana beton akan menjadi plastis karena getaran.
l. Semua pengecoran bagian dasar kontruksi menyentuh tanah harus diberi lantai kerja
setebal 5 cm agar menjadi duduknya
m. Tulangan dengan baik dan untuk menghindar penyerapan air semen oleh tanah.
n. Bila pengecoran beton harus berhenti sementara sedan beton sudah menjadi keras,
dan tidak berubah bentuk, harus dibersihkan dari lapisan air semen (laitance)
partikel-partikel yang terlepas sampai suatu kedalaman yang cukup sampai tercapai
beton yang padat. Segera setelah pemberhentian pengecoran ini maka adukan yang
melekat pada tulangan dan cetakan harus dibersihkan.
o. Pelaksanaan penulangan dan penggentaran beton adalah sangat penting. Hasil beton
yang berongga-rongga dan terjadi pemotongan beton-beton tidak akan diterima.
p. Pada daerah pembensian yang penuh (padat) harus digetarkan dengan penggetar
berfrekwensi tinggi agar dijamin pengisian beton dan pemadatan yang baik.
q. Penggetaran beton harus dilaksanakan oleh tenaga kerja yang mengerti dan terlatih.
r. Suhu beton waktu di cor tidak boleh dari 320C, (ACI 1971) bila suhu dari yang ditaruk
berada antara 170 C dan 320 C, beton harus diaduk ditempat pekerjaan untuk
kemudian langsung di cor.
s. Bila beton di cor pada waktu iklim sedemikian sehingga suhu beton melebihi 320 C,
kontraktor harus mengambil langkah-langkah yang efektif, misalnya mendinginkan
agregat, mengecor pada waktu malam hari.
t. Semua anker-anker, baut-baut, pipa-pipa, dan sebagainnya yang diperlukan tertanam
dalam beton harus terikat dengan baik pada cetakan sebelum beton di cor.
u. Benda-benda tersebut di atas harus dalam keadaan bersih dari karat dan kotoran lain
pada waktu beton di cor.
v. Baut-baut anker harus dipasang dalam posis yang akurat dan diikat pada tempat
dengan menggunakan template.
w. Semua pekerjaan beton harus dirawat dengan baik cara yang disetujui oleh Direksi
Lapangan. Segera setelah beton di cor dan difinis, maka permukaan-permukaan yang
tidak tertutup oleh cetakan harus dijaga kehilangan kelembabannya dengan menjadi
agar tetap basah secara terus menerus selama 7 (tujuh) hari.
2. Pengecoran
a. Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Direksi. Selama
pengecoran berlangsung pekerja dilarang berdiri dan berjalan-jalan diatas
penulangan. Untuk dapat sampai ketempat-tempat yang sulit dicapai harus digunakan
papan-papan berkaki yang tidak membebani tulangan. Kaki-kaki tersebut harus sudah
dapat dicabut pada saat beton dicor.
b. Apabila pengecoran beton harus dihentikan, maka tempat penghentiannya harus
disetujui oleh Direksi. Untuk melanjutkan bagian pekerjaan yang diputus tersebut,
bagian permukaan yang mengeras harus dibersihkan dan dibuat kasar kemudian
diberi additive yang memperlambat proses pengerasan. Kecuali pada pengecoran,
adukan tidak boleh dicurahkan dari ketinggian yang lebih tinggi 1,5 cm.
3. Perawatan Beton
c. Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan lembaban untuk paling
sedikit 14 (empat belas) hari.
d. Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup beton.
e. Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan tidak
mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada permukaan beton, dan
lain-lain yang tidak memenuhi syarat, harus dibongkar kembali sebagian atau
seluruhnya menurut perintah Direksi.

3) PEKERJAAN DINDING

3.1 Lingkup Pekerjaan


1. Pasangan Bata 1 : 2
2. Pasangan Bata 1 : 4
3. Plesteran Bata 1 : 2
4. Plesteran Bata 1 : 4
5. Plesteran Camprot
Pekerjaan ini berupa dinding pasangan bata, pemasangan dinding bata merah setebal 1
Bata dan ½ bata dilakukan untuk seluruh pembatas ruangan. Untuk pekerjaan plesteran
dilakukan pada seluruh pasangan bata beton bertulang.

3.2 Persyaratan Bahan


1. Batu Bata
Bata merah yang digunakan harus Bata Merah kelas I berkualitas baik, didatangkan sesuai
dengan contoh yang telah disetujui oleh direksi, demikian juga material lainnya seperti
pasir pasang,
2. Pasir
Harus terdiri dari butir – butir yang tajam dank eras, butir – butir harus bersifat kekal,
artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
Kadar Lumpur tidak boleh melebihi 5 % berat.
3. Semen PC
Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton ialah jenis semen portland yang memenuhi
ketentuan dalam AASHTO M85. Menggunakan hanya satu merk dan yang disetujui Direksi
teknik.

3.3 Metode Pelaksanaan


1. Pasangan Bata 1 : 2
Pasangan bata dengan perbandingan 1 Pc : 2 Ps dikerjakan oleh tukang sesuai campuran,
dikerjakan pada awal pemasangan bata dari atas sloof dengan ketinggian sesuai petunjuk
dalam spek, sebelum dipasang para pekerja merendam batu bata dengan air.
Semen + pasir Pc : 2 Ps lalu dimasukkan kedalam timba. Adukan semen+pasir dan batu
bata yang telah direndam dengan air diangkut menggunakan kereta sorong untuk
diberikan kepada tukang pasang bata. Tukang memasang batu bata dengan menggunakan
peralatan sendok semen, sebelum dipasang, tukang akan mengukur tegak lurus dengan
menggunakan lot lalu memasang benang agar tidak terjadi kemiringan sewaktu
pemasangan.
2. Pasangan Bata 1 : 4
Tukang memberi benang antara tiang A ke Tiang B, benang ini sebagai pegangan AS
tukang dalam mengerjakan pasangan bata. Pekerja bertugas mencapur agregat dengan
bantuan mandor sebagai pengawas supaya campuran tidak melebihi 1 Pc : 4 Ps. Adukan
yang sudah siap dibawa dibantu dengan kereta sorong. Tukang memasang bata merah
dengan tebal ½ bata dan dibantu adukan semen sebagai pemadat dinding bata.
3. Plesteran Bata 1 : 2
Plesteran 1 Pc : 2 Ps akan dikerjakan oleh tukang pada bagian ikatan bata bagian bawah
dengan batas ketinggian yang telah ditetapkan atau dengan petunjuk direksi. Para pekerja
mengaduk campuran 1 bagian semen dan 2 bagian pasir serta air lalu dimasukkan
kedalam timba cor dan diserahkan kepada tukang plaster. Untuk pekerjaan plaster
dinding bata, untuk mendapatkan permukaan dinding bata yang rata, tegak lurus, tukang
harus menggunakan rol panjang sesuai ukuran serta peralatan raskam.
4. Plesteran Bata 1 : 4
a. Dinding yang sudah dipasangi bata disiram terlebih dahulu.
b. Tukang memberi jarak ketebalan 15 cm ditandai dengan benang nilong.
c. Pekerjaa bertugas mengaduk campuran plesteran
d. Tukang memelester dinding bata dengan menggunakan raskam dan dibantu roll
alumunium sebagai perata plesteran.
5. Plesteran Camprot
a. Plester dinding yang telah dipilih untuk dibuat tekstur kamprot, untuk dapat
menghasilkan tekstur kamprot yang maksimal pastikan bahwa dinding terplester
dengan rata dan sempurna.
b. Ayak pasir yang akan dipakai, cuci dan pastikan sudah tidak ada batu kecil atau kerikil-
kerikil didalamnya.
c. Siapkan saringan dari kawat ayam atau kain dan diberi bingkai dari kayu.
d. Lakukan pengadukan semen dan pasir dengan perbandingan 1 : 3.
e. Lakukan teknik kamprot, jika menggunakan kain sebagai saringan sebaiknya
menggunakan roskam untuk mengaduk dan menempel adukan. Tempelkan adukan ke
dinding yang sudah diplester memakai roskam, gosok memutar. Untuk teknik kamprot
dengan saringan dari kain, tunggu hingga dinding kamprotan setengah kering sebelum
menggosok dengan gerakan memutar menggunakan roskam dan kain. Untuk teknik
kamprot dengan menggunakan saringan kawat adalah dengan cara melempar keras-
keras adukan ke dinding plester melewati saringan dan jarak lemparan tersebut
sekitar 30 cm. Selain 2 teknik kamprot ini, bisa juga menggunakan semprotan
kompresor melewati ukuran nozle tertentu untuk menempelkan adukan pada dinding.
Cara ini lebih cepat, tapi perlu investasi alat yang lebih mahal dan rumit untuk
pemakaiannya.

4) PEKERJAAN PENUTUP LANTAI

4.1 Lingkup Pekerjaan


1. Pasir Urug Dibawah Lantai
2. Beton Cor Lantai t = 5 cm + Acian
3. Pas. Keramik lantai ruangan uk. 40x40 cm
4. Pas. Keramik lantai Teras & Tangga uk. 40x40 cm
5. Pas. Keramik meja beton uk. 40x40 cm
6. Pas. Keramik dinding dapur t ; 120 cm uk. 40x40 cm
7. Pas. Keramik dinding R. layanan t ; 160 cm uk. 40x40 cm

4.2 Persyaratan Bahan


1. Portland Cement
Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton ialah jenis semen portland yang memenuhi
ketentuan dalam AASHTO M85. Menggunakan hanya satu merk dan yang disetujui Direksi
teknik.
2. Agregat halus seperti yang dipersyaratkan dalam pekerjaan beton
3. Agregat kasar seperti yang dipersyaratkan dalam pekerjaan beton.
4. Air seperti yang dipersyaratkan dalam pekerjaan beton.
5. Keramik Seperti yang dipersyaratkan dalam pekerjaan beton.

4.3 Metode Pelaksanaan


1. Beton Cor Lantai t = 5 cm + Acian
a. Adukan beton tidak boleh dituang bila waktu sejak dicampurnya air pada semen dan
agregat telah mencapai 1 jam dan waktu ini dapat berkurang lagi jika Direksi Lapangan
menganggap perlu berdasarkan kondisi tertentu.
b. Beton harus dicor sedemikian rupa sehingga menghindari terjadinya pemisahan
material (segregagation) dan perubahan letak tulangan. Pengecoran lantai kerja
setebal 5 cm.
2. Pas. Keramik lantai ruangan uk. 40x40 cm
a. Sebelum memulai pekerjaan keramik, direksi harus memastikan lantai kerja sudah ter-
cor.
b. Benang nilon dipatok sesuai ukuran keramik.
c. Tukang Keramik Harus Mengikuti Garis Benang Sebagai Pedoman dalam
melaksanakan pekerjaan.
d. Keramik yang sudah dipasang pada lantai atau dinding, diketok dengan palu khusus
secara perlahan-lahan, ini dilakukan supaya keramik yang dipasang melekat pada
pasir.
3. Pas. Keramik dinding dapur t ; 120 cm uk. 40x40 cm
a. Rendam keramik yang akan dipasang kurang lebih 15-30 menit sebelum digunakan.
b. Tempelkan adukan semen dan pasir pada dinding yang akan dipasang keramik.
c. Ketika hendak diletakkan pada dinding, beri kembali sedikit air pada bagian
belakangnya.
d. Berikan adukan semen pada bagian belakang keramik.
e. Letakkan keramik pada posisinya lalu tekan/pukul dengan palu karet agar
permukaannya sejajar dengan tali atau keramik disebelahnya.
f. Paku penahan agar keramik tidak turun posisinya
g. Setelah itu berikan spacer atau patokan besar nat keramik.
h. Permukaan Keramik dilap dengan Kuas
i. Biarkan untuk beberapa waktu,agar adukan semen mengering dan keramik diam pada
tempatnya ketika paku tahanan dicabut.

5) PEKERJAAN KUSEN DAN JENDELA

5.1 Lingkup Pekerjaan


1. Pengad. kusen, daun pintu/Jendela UPVC type PJ1+ Acsesories
2. Pengad. kusen, daun pintu UPVC type P1+ Acsesories
3. Pengad. kusen, daun pintu UPVC type P2+ Acsesories
4. Pengad. kusen, daun pintu UPVC type P3+ Acsesories
5. Pengad. kusen, daun Jendela UPVC type J1 + Acsesories
6. Pengad. kusen, daun Jendela UPVC type J2 + Acsesories
7. Pengad. kusen, daun Jendela UPVC type J3 + Acsesories
8. Pengad. Ventilasi UPVC type V1 + Acsesories
9. Pengad. Ventilasi beton type V2 uk. 25x40cm + Acsesories
5.2 Persyaratan Bahan
1. Semua material harus memenuhi ukuran, standard dan mudah didapat dipasaran, kecuali
bila ditentukan lain.
2. Kosen Pintu UPVC harus memenuhi ukuran, standard Pabrik
3. Kosen Jendela UPVC harus memenuhi ukuran, standard Pabrik
4. Kaca standart pabrik asahi t=5 mm
5.3 Metode Pelaksanaan
1. Tentukan dan perhatikan tempat yang akan dipasang kosen sesuai dengan bentuk /
model.
2. Stell kosen atas pasangan batu bata atau balok beton, kemudian diperkuat dengan baut /
angkur.
3. Cor kolom atau balok praktis pada pinggir kosen.
4. Setelah 7 hari sokongan dapat dibuka kembali karena beton sudah menyatu dengan
kosen.
5. Kusen, daun pintu dan jendela UPVC dipasang setelah semua pasangan bata dan
pengecatan selesai dipasang pada tempatnya.

6) PEKERJAAN PENUTUP ATAP

6.1 Lingkup Pekerjaan


1. Rangka Kuda-kuda Baja Ringan Smartruss
2. Atap Seng Metal Bjls 0,30 mm setara Multyroof
3. Rabung Seng Metal Bjls 0,30 mm
4. Talang Patahan Atap
5. Papan Lisplank Kayu Klas II uk. 2,5/30 cm

6.2 Persyaratan Bahan


1. Rangka Kuda Kuda, Gording/ Baja Ringan Setara Smarttrus C75 Standar Pabrik
2. Papan Lisplank Kayu Klas I/II PKKI 1961 NI-5
3. Baut, plat Besi dan Paku Standar Pabrik
4. Seng Genteng Metal 0.30 mm
5. Rabung Seng Metal 0.30 mm

6.3 Metode Pelaksanaan


1. Rangka Kuda-Kuda
a. Sebelum memulai pekerjaan ini harus diperhatikan tempat peletakkan, lebar
bentangan, derajat kemiringan dan lain - lain yang diperlukan agar sesuai dengan kuda
– kuda yang direncanakan.
b. Sesuai dengan gambar rencana pilih ukuran baja ringan C75 yang pasti kemudian
dipotong – potong sesuai dengan ukuran yang telah direncanakan.
c. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan, sambungan dan merakit kuda – kuda
dilaksanakan dibawah atau pada permukaan tanah.
d. Apabila perakitan dibawah sudah sempurna dinaikan ke atas pada tumpuan yang
telah ditentukan.
e. Setelah semua rangka kuda – kuda naik keatas barulah diperkuat pada perletakan.
Jarak bentangan kuda kuda maksimal 120 cm, selanjutnya dipasang ikatan angin
antara satu rangka kuda – kuda dengan kuda – kuda lainnya.
f. Lesplank kayu dibuat sejajar dengan permukaan lantai atau diselang dengan air/
Waterphas.
2. Penutup Atap
a. Setelah pemasangan kuda-kuda selesai baru dimulai pemasangan atap seng.
b. Pemasangan atap dilaksanakan mulai dari atas ke bawah. Bila seng lebih pada bagian
atas dipotong dengan menggunakan gunting seng.
c. Pemasangan atap dan pemakuan harus mengikuti standard atau pedoman yang sudah
dikeluarkan oleh pabrik.
d. Selesai pemasangan atap dilaksanakan pemasangan rabung seng Metal.

7) PEKERJAAN PLAFOND

7.1 Lingkup Pekerjaan


1. Plafond PVC t : 8 mm dan Rangka furing
2. Plafond PVC t : 8 mm dan Rangka furing (selasar)
3. List Profil PVC

7.2 Persyaratan Bahan


1. Bahan plafond adalah hasil produksi pabrik dengan kualitas baik dan harus mempunyai
kualitas dagang.
2. Material Plafond yang didatangkan ke lokasi pekerjaan tidakk boleh dalam keadaan
cacat/rusak.
3. Ukuran material plafond PVC ukuran panel yaitu 20 cm x 400 cm – 500 cm dan tebal 8
mm.
4. Ukuran material plafond Kalsiboard ukuran panel yaitu 120 cm x 240 cm dan tebal 8 mm.

7.3 Metode Pelaksanaan


1. Pemasangan plafond PVC/Kasiboard dilakukan langsung pada rangka plafond.
2. Cara pemasangan harus mengikuti persyaratan atau anjuran yang disyaratkan oleh
pabrikasi dan petunjuk yang terdapat didalam gambar rencana.
3. Cara pemotongan dan penyekrupan dilakukan sesuai dengan petunjuk dan tatacara yang
disyaratkan oleh pabrikasi dan petunjuk yang terdapat didalam gambar rencana.
4. Hasil Pemasangan Plafond harus menghasilakn permukaan akhir yang rata dan tidak
melendut.
5. Harus ada koordinasi yang baik antara pekerjaan plafond dengan pekerjaan instalasi
listrik, instalasi AC, Instalasi Air Bersih dan Instalasi Air Kotor sehingga plafond yang
telah dipasang tidak dibongkar kembali.
6. Plafond yang telah selesai dipasang kalau terpaksa dibongkar karena alasan-alasan yang
disetujui oleh direksi dan pengawas tidak boleh dipotong sebarangan tetapi harus
dibongkar perlembar standarnya pada posisi penjangkarannya pada rangka plafond.
7. Pada sudut ruangan dipasang list plafond yang ditempatkan pada posisi dinding,
Pemasangan List Plafond harus rata, licin dan sama besarnya, jika kasar harus digosok
licon supaya tampak rapi dan bagus.

8) PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK

8.1 Lingkup Pekerjaan


1. Pengadaan dan pemasangan dan penyambungan instalasi kabel utama dari panel
distribusi menuju ke ruang panel di setiap lantai, lengkap dengan seluruh instalasinya
termasuk armature, saklar, dan stop kontak.
2. Pengadaan, pemasangan dan penyambungan berbagai type dan ukuran kabel tegangan
rendah sesuai dengan gambar rencana.
3. Pengadaan, pemasangan dan penyambungan panel-panel tegangan rendah dan panel
kapasitor sesuai dengan gambar rencana.
4. Pekerjaan instalasi penerangan dan stop kontak, meliputi:
5. Pengadaan dan pemasangan berbagai jenis armatur lampu dan jenis lampu sesuai
gambar rencana.

8.2 Persyaratan Bahan

No. Bahan Jenis Spesifikasi


1. Kabel NYA, NYM Standar Pabrik
2. Lampu Hemat Energi Philip/Osram/Hannock Standar Pabrik
3. Saklar Panasonic Standar Pabrik
4. Stop Kontak Panasonic Standar Pabrik
5. Fitting Panasonic Standar Pabrik
6. Pipa - Standar Pabrik
7. Box Skering - Standar Pabrik

8.3 Metode Pelaksanaan


a) Semua hantaran (kabel) yang ditarik dalam pipa / cabelduct harus diusahakan tidak
tampak dari luar (tertanam).
b) Pemasangan pipa harus dilaksanakan sebelum pengecoran. Pemasangan sparing-sparing
listrik yang melintas di plat, balok, kolom beton harus dipasang terlebih dahulu sebelum
pengecoran, kabel diusahakan dimasukan bersamaan dengan pemasangan sparing.
c) Pipa yang dipasang pada dinding dilaksanakan sebelum pekerjaan plesteran
dan acian dikerjakan.
d) Penempatan sambungan/percabangan harus ditempatkan di daerah yang mudah dicapai
untuk perbaikan (perawatan).
e) Sambungan harus menggunakan klem / isolasi kabel supaya terlindung dengan baik
sehingga tidak tersentuh atau menggunakan lasdop dan ditempatkan pada Te Dos.
f) Lekukan/belokan pipa harus beradius > 3 kali diameter pipa dan harus rata (untuk
memudahkan penarikan kabel).
g) Jaringan arde harus dipasang tersendiri / terpisah dengan arde penangkal petir.
– tidak boleh ada sambungan dihubungkan dengan elektroda pentanahan
– ditanam sampai minimal mencapai air tanah
h) Pada hantaran di atas langit-langit, harus diklem pada bagian bawah plat / balok atau
pada balok kayu rangka langit-langit.
i) Untuk hantaran/tarikan kabel yang menyusur dinding bata/beton pada shaft harus
diklem atau dengan papan dan kabeltrey bila jaringan terlalu rumit (banyak).
j) Stop kontak dan saklar. Pemasangan stop kontak setinggi > 40 cm dari lantai, saklar
dipasang setinggi 150 cm dari lantai (bila tidak ditentukan spesifikasinya). Pemasangan
stop kontak dan saklar harus rata dengan dinding.
k) Box / kotak Panel bodynya harus diarde, untuk menghindari adanya arus.

9) PEKERJAAN KAMAR MANDI DAN SANITASI AIR

9.1 Lingkup Pekerjaan


1. Pas. Keramik km/wc uk. 20x20 cm
2. Pas. Keramik dinding km/wc t ; 200 cm uk. 20x25 c
3. Bak cuci piring stainless steel + Acsesories
4. Pengd. Wastapel + Acsesories
5. Klosed Jongkok + Acsesories

8.2 Persyaratan Bahan


1. Semua material harus memenuhi ukuran, standard dan mudah didapat dipasaran, kecuali
bila ditentukan lain.
2. Semua peralatan dalam keadaan lengkap dengan segala perlengkapannya, sesuai
dengan yang telah disediakan oleh pabrik untuk masing-masing type yang dipilih.
3. Barang yang dipakai adalah dari produk yang telah disyaratkan dalam uraian dan syarat-
syarat dalam buku ini, kecuali ditentukan lain.

8.3 Metode Pelaksanaan


1. Pelaksana harus meminta ijin kepada Pengawas tentang cara, waktu dan letak
pemasangan perlengkapan kamar mandi dan Iain-lain. Pemasangan harus kuat, rapi dan
bersih.
2. Penyambungan pipa harus dilakukan menurut instruksi dari pabrik dan disetujui oleh
pengawas.
3. Pelaksana harus memotong pipa bilamana diperlukan dengan menggunakan alat
pemotong pipa.
4. Perlengkapan pipa seperti valve dan lainnya harus ditempatkan sesuai dengan gambar
atau petunjuk pengawas.
5. Kloset yang dipasang adalah yang telah diseleksi dengan baik, tidak terdapat gompak
retak dan cacat lainnya.
6. Kloset hams terpasang kokoh dan ketinggian sesuai dengan gambar, waterpass. Semua
noda-noda, harus dibersihkan, sambungan-sambungan pipa tidak boleh ada kebocoran.

Aceh Besar, 29 April 2016


CV. PUTRA MULKI

MUMFAZZEN
Direktur