Anda di halaman 1dari 8

BAB 5

PEMBAHASAN

5.1 Gambaran durasi pemberian ASI pada balita usia 24-60 bulan di desa

Kramat

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa riwayat durasi

pemberian ASI di desa Kramat wilayah kerja puskesmas Bangkalan lebih dari

setengahnya ≤ 12 bulan sebanyak 62 orang (69,9%).

Rendahnya durasi pemberian ASI dikarenakan sebagian besar pendidikan

ibu adalah SD, ibu tidak mengetahui pentingnya pemberian ASI pada bayi

selama 2 tahun. Dilapangan kebanyakan bayi yang baru lahir tidak langsung

diberikan ASI tetapi diberi susu botol dengan alasan ASI belum keluar. Apabila

ASI sudah keluar ibu memberikan ASI tapi terlebih dahulu ASI yang keluar

pertama sekali dibuang tidak langsung diberikan kepada bayi dengan alasan

pengeluaran yang pertama masih kotor. Apabila pengeluaran ASI sedikit ibu

langsung menggantikan ASI dengan pemberian susu botol. Sehingga durasi

pemberian ASI bisa terhenti dan digantikan dengan susu formula.

Pekerjaan ibu yang kurang dari setengahnya merupakan tani juga menjadi

salah satu penyebab ibu memberikan ASI kurang dari 12 bulan. Hal ini

dikarenakan kesibukan ibu untuk bekerja di sawah sehingga ibu merasa

kerepotan untuk bisa memberikan ASI secara penuh terhadap bayinya selama 24

bulan. Ibu merasa bahwa meskipun bayinya mendapatkan ASI tidak sampai 24

bulan setidaknya bayinya sudah pernah mendapatkan ASI.

67
68

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Setiawan, et al (2018) yang

menyatakan bahwa pendidikan formal ibu mempengaruhi tingkat pengetahuan

gizi dimana makin tinggi tingkat pendidikan ibu maka semakin tinggi pula

tingkat pengetahuan ibu untuk menyerap informasi pengetahuan praktis dalam

lingkungannya melalui media massa yang berhubungan dengan pemberian ASI

dan pertumbuhan anak.

Sedangkan balita yang memiliki riwayat durasi pemberian ASI lebih dari

12 bulan sebanyak 28 orang (30,1%). Hal ini dikarenakan pekerjaan ibu yang

sebagian besar adalah sebagai ibu rumah tangga. Ibu yang tidak bekerja memiliki

waktu yang lebih banyak untuk memberikan ASI pada bayinya kapanpun sesuai

dengan keinginan bayi, ibu hanya perlu membagi waktu antara mengurus anak

dan juga melakukan perkerjaan rumah tangga. Selain waktu luang bersama anak

yang lebih banyak, ibu juga mendapatkan dukungan yang penuh dari suami dan

keluarga untuk bisa memberikan ASI pada bayinya hingga berusia 2 tahun,

dengan begitu bayi mendapatkan gizi baik yang terkandung di dalam ASI.

Pengetahuan ibu tentang ASI sangat baik, ibu memahami manfaat pemberian

ASI yang tidak hanya baik untuk bayi tetapi juga sangat baik bagi ibu, dengan

pengetahuan ibu yang baik, ibu semakin yakin untuk memberikan ASI pada

bayinya hingga usia 2 tahun.

Menurut Astutik (2014) ASI merupakan cairan nutrisi yang unik,

spesifik, dan kompleks dengan komponen imunologis dan komponen pemacu

pertumbuhan. ASI mengandung sebagian besar air sebanyak 87,5%, oleh karena

itu bayi yang mendapat cukup ASI, tidak perlu mendapat tambahan air walaupun

berada di tempat suhu udara panas.


69

5.2 Gambaran riwayat IMD pada balita usia 24-60 bulan di desa Kramat

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa riwayat IMD di desa

Kramat wilayah kerja puskesmas Bangkalan lebih dari setengahnya memiliki

riwayat IMD sebanyak 52 orang (55,9%). Hal ini dikarenakan jumlah anak ibu

kurang dari setengahnya memiliki 2 anak, dengan pengalaman melahirkan

sebelumnya dimana ibu melahirkan di tenaga kesehatan yang sudah menerapkan

IMD sehingga ibu sudah tidak asing lagi dengan IMD dan tidak ragu lagi untuk

menerapkan IMD pada anak berikutnya. IMD memiliki banyak manfaat bagi ibu

dan bayinya salah satunya adalah membantu bayi dalam belajar menyusu pada

ibunya.

Usia ibu yang sebagian besar adalah usia 20-25 tahun juga menjadi salah

satu ibu mau menerapkan IMD pada bayinya. Usia 20-25 tahun merupakan usia

dimana ibu memiliki kemauan dan rasa penasaran yang besar untuk bisa

memberikan sesuatu yang terbaik bagi bayinya. Dengan rasa ingin tahu yang

besar, ibu akan mencari tahu informasi yang lebih banyak tentang IMD, terlebih

di zaman yang modern ini semua informasi dapat diakses dengan mudah oleh

setiap orang melalui meida sosial. Pengetahuan ibu akan semakin bertambah

setelah ibu mencari infromasi tentang IMD, selain informasi dari media sosial,

selama masa kehamilan ibu juga mendapatkan banyak informasi tentang IMD

dari bidan mengenai pengertian IMD, manfaat serta waktu pelaksanaan IMD.

Setelah mendapatkan informasi yang jelas tentang IMD ibu merasa sangat yakin

untuk bisa menerapkan IMD pada bayinya.

Inisiasi Menyusui Dini dalam istilah asing sering di sebut early inisiation

breast freeding adalah memberi kesempatan pada bayi baru lahir untuk menyusu
70

sendiri pada ibu dalam satu jam pertama kelahirannya. Ketika bayi sehat di

letakkan di atas perut atau dada ibu segera setelah lahir dan terjadi kontak kulit

(skin to skin contac) merupakanpertunjukan yang menakjubkan, bayi akan

bereaksi oleh karena rangsangan sentuhan ibu, dia akan bergerak di atas perut ibu

dan menjangkau payudara. IMD bermanfaat bagi ibu dan bayi baik secara

fisiologis maupun psikologis (Roesli, 2008).

5.3 Gambaran stunting pada balita usia 24-60 bulan di desa Kramat

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa jumlah anak stunting

di desa Kramat wilayah kerja Puskesmas Bangkalan kurang dari setengahnya

stunting sebanyak 43 orang (46,2%).

Pendidikan ibu yang sebagian besar adalah hanya tamat SD menyebabkan

kurangnya pengetahuan ibu tentang stunting. Ibu memberikan makanan pada

anaknya tidak pernah melihat kandungan gizi di dalam makanan tersebut, yang

ibu ketahui bahwa jika anaknya mau makan makanan yang diberikan maka ibu

akan memberikannya meskipun ibu tidak mengetahui apakah dari makanan

tersebut gizi anaknya akan terpenuhi atau tidak. Beberapa anak mengalami susah

makan dan memilih hanya makan makanan ringan yang tidak kaya akan gizi,

dengan ketidaktahuan ibu maka ibu membiarkan anaknya makan makanan ringan

saja tanpa berusaha memberikan makanan yang bervariasi sehingga anaknya bisa

kembali makan. Saat anak mengalami kurang gizi ibu juga tidak mengetahuinya

sehingga jika dibirakan terus menerus, maka anak akan mengalami stunting.

Pendapatan keluarga yang sebagian besar berada dibawah UMR sangat

berpengaruh pada stunting. Orang tua dengan pendapatan keluarga yang

memadai akan memiliki kemampuan untuk menyediakan semua kebutuhan


71

primer dan sekunder anak. Keluarga dengan status ekonomi yang baik juga

memiliki akses pelayanan kesehatan yang lebih baik. Anak pada keluarga dengan

status ekonomi rendah cenderung mengkonsumsi makanan dalam segi kuantitas,

kualitas, serta variasi yang kurang. Status ekonomi yang tinggi membuat

seseorang memilih dan membeli makanan yang bergizi dan bervariasi.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hapsari (2018) yang

menyatakan bahwa pendapatan keluarga yang baik dapat menunjang tumbuh

kembang anak. Karena orang tua menyediakan semua kebutuhan anak-anaknya.

5.4 Hubungan durasi pemberian ASI dengan kejadian stunting pada balita usia

24-60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bangkalan

Berdasarkan hasil uji statistik Rank Spearman dengan menggunakan

SPSS didapatkan nilai probability (p) lebih kecil dari pada alpha (α) (0,012 <

0,05), dengan demikian Ho ditolak H1 diterima yang artinya ada hubungan

yang signifikan antara durasi pemberian ASI dan dengan kejadian stunting.

ASI merupakan salah satu sumber gizi yang baik bagi bayi, semua

kebutuhan gizi yang dibutuhkan oleh bayi sudah tersedia dalam ASI. Jika bayi

tidak mendapatkan ASI dan kurangnya juga asupan gizi dari makanan dapat

menghambat pertumbuhan dan perkembangan bayi yang dapat berakibat pada

stunting. Bayi yang mendapatkan ASI lebih dari 12 bulan maka akan

mendapatkan gizi baik yang terkandung di dalam ASI, kebutuhan anak setelah

usia 6 bulan tentunya tidak hanya dari ASI tetapi juga dari MP ASI yang

diberikan oleh orang tuanya, dengan pemilihan MP ASI yang tepat dan

mengandung gizi yang seimbang, maka kebutuhan gizi anak akan terpenuhi dan

anak tidak akan mengalami kurang gizi yang akhirnya menjadi stunting.
72

Menurut Akombi, et al (2017) durasi menyusui ditemukan berhubungan

secara signifikan dengan stunting dan stunting berat. Anak-anak yang disusui

selama kurang dari 12 bulan lebih mungkin mengalami stunting dan sangat

terhambat dibandingkan mereka yang disusui selama lebih dari 12 bulan

Berdasarkan hasil penenlitian didapatkan bahwa dari 93 balita terdapat 35

(53,8%) balita stunting yang mendapatkan pemberian ASI ≤ 12 bulan.

Stunting merupakan gagal tumbuh anak yang bisa disebabkan oleh

banyak faktor salah satunya karena durasi pemberian ASI yang kurang dari

semestinya. Bayi seharusnya mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan

kemudian di lanjutkan sampai usia 24 bulan di selingi dengan makanan

pendamping ASI. Jika bayi mendapatkan ASI kurang dari 24 bulan dan asupan

gizi dari makanan pendamping juga kurang sangat berpengaruh pada status gizi

anak, sehingga status gizi anak bisa menjadi kurang atau bahkan mengalami

stunting.

Beberapa bayi yang mendapatkan ASI kurang dari 12 bulan dan tidak

mengalami stunting, karena tidak hanya dari ASI anak mendapatkan gizi yang

baik, tetapi dari pola asuh dari orang tuanya, salah satunya saat memberikan

makanan pada anaknya. Jika anak mendaptkan cukup gizi dari makanan yang

diperolehnya, maka kebutuhan gizi yang dibutuhkan anak akan terpenuhi

meskipun saat bayi anak tersebut mendapatkan ASI kurang dari 12 bulan,

sehingga anak tidak mengalami kekurangan gizi yang berakibat pada stunting.

Menurut Maryunani (2016) ASI memiliki kandungan gizi yang baik yang

bermanfaat untuk memnuhi kebutuhan gizi anak. Akan tetapi seiring dengan
73

bertambahnya usia bayi, selain ASI bayi juga harus mendapatkan MP ASI yang

kaya akan kandungan gizi untuk bisa menjaga status gizi anak tetap normal.

5.5 Hubungan riwayat inisiasi menyusui dini dengan kejadian stunting pada

balita usia 24-60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bangkalan

Berdasarkan hasil uji statistik Rank Spearman dengan menggunakan SPSS

didapatkan nilai probability (p) lebih kecil dari pada alpha (α) (0,00 < 0,05),

dengan demikian Ho ditolak H1 diterima yang artinya ada hubungan yang

signifikan antara IMD dan dengan kejadian stunting.

IMD merupakan langkah awal bayi untuk bisa mendapatkan ASI yang terbaik

yaitu kolostrum. Air susu ibu yang keluar pada hari pertama kelahiran

mengandung kolostrum. Kolostrum kaya akan antibodi dan zat penting untuk

pertumbuhan usus dan ketahanan terhadap infeksi yang sangat dibutuhkan bayi

demi kelangsungan hidupnya. Penelitian yang menganalisis hubungan pemberian

ASI dengan status gizi di Naerobi Kenya menyimpulkan bahwa terdapat

hubungan yang bermakna antara penundaan pemberian IMD dengan kejadian

stunting pada anak usia 0-24 bulan.

Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa dari 93 balita terdapat

13 (25%) balita yang mendapatkan IMD tetapi tetap mengalami stunting. Hal ini

dikarenakan stunting dapat disebabkan oleh banyak faktor tidak hanya satu

penyebab saja kemudian anak bisa menjadi stunting. Bayi yang saat lahir

mendapatkan IMD belum tentu juga mendapatkan ASI dan makanan

pendamping ASI yang dapat memenuhi kebutuhan gizinya. Beberpaa bayi yang

mendapatkan perlakuan IMD tidak mendapatkan ASI secara penuh dikarenakan

banyak faktor seperti ASI yang tidak kunjung keluar sehingga ibu beralih
74

memberikan susu formula kepada bayinya. Selain itu asupan makanan yang tidak

beragam dan tidak kaya akan gizi juga bisa memicu terjadinya stunting pada

anak.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh hapsari (2018) yang

menyatakan bahwa stunting tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja akan

tetapi banyak fakrot seperti pendapatan keluarga, pengetahuan ibu tentang gizi,

tinggi badan orang tua, dan tingkat pendidikan.