Anda di halaman 1dari 7

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Kemajuan dalam dunia genetika semakin banyak mempengaruhi

berbagai aspek-aspek kehidupan. Konsep dan pemahaman masa kini

tentang kesehatan dan penyakit mulai berubah karena sejak kemajuan

penelitian genom dan genetik. Dengan kemajuan ini, penelitian genetika

tidak lagi hanya berfokus penyakit dengan gangguan single gene seperti

penyakit phenylketonuria, achondroplasia, fragile X syndrome, Duchenne

muscular dystrophy, dan penyakit Huntington. Penyakit-penyakit kronis

seperti kanker payudara dan infark miokard ternyata juga diawali oleh

kerusakan gen pada sel-sel penyusun jaringannya (Petrucelli, et al., 2013;

Erdmann, et al., 2010).

Asosiasi studi genom mengungkapkan banyak hubungan antara

kondisi gen manusia dengan banyak penyakit. Hal tersebut menyebabkan

adanya peningkatan potensi pendekatan-pendekatan baru untuk tindakan

pencegahan dan pengobatan. Kemajuan ini mempengaruhi sebagian besar

populasi (Lea et al., 2011).

Adanya kemajuan dalam potensi pendekatan dalam pencegahan dan

pengobatan suatu penyakit mempengaruhi kebutuhan terhadap literasi

genetik yang meningkat pada masyarakat. (Acra et al., 2008). Sebelum

memahami konseptualisasi literasi genetik, literasi kesehatan perlu

dipahami terlebih dahulu. Menurut Jones et al. (2011) literasi kesehatan

adalah hal yang mendasari seseorang dapat memperoleh, memproses, dan

1
memahami dasar informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan

untuk kesehatan mereka sehingga berpengaruh pada perilaku dalam

menjalani pengobatan. Tingkat literasi kesehatan penting untuk diketahui

pada suatu populasi karena orang-orang yang memiliki literasi kesehatan

yang rendah akan sangat mungkin memiliki permasalahan kesehatan yang

kompleks.

Sebuah data terbaru yang dirilis National Assessment of Adult

Literacy (NAAL) menunjukkan hanya ada 36% masyarakat Amerika yang

memiliki dasar literasi kesehatan yang baik. Hal ini menjadi cukup

memprihatinkan karena seseorang dengan literasi kesehatan yang rendah

akan cenderung memiliki morbiditas dan mortalitas penyakit tertentu yang

lebih besar (Goltz, et al., 2016).

Penelitian yang dilakukan di Belgrade, Serbia menunjukkan hasil

41% responden memiliki tingkat literasi kesehatan yang kurang (Jovic-

vranes, et al., 2009), sedangkan menurut hasil sebuah survei nasional di

Taiwan pada tahun 2003 diperoleh hasil bahwa 30,3% penduduk tidak

memiliki tingkat literasi kesehatan yang memadai (Lee et al., 2010).

Literasi kesehatan juga menjadi hal yang kurang familiar di

Indonesia. Menurut Prof. Peter Wu Shou Chang, secretary general &

exchange board Asian Literacy Association, pemahaman yang baik

masyarakat mengenai literasi kesehatan di Indonesia hanya berkisar 17,4%

(Himawan, 2015).

Literasi genetik disebut sebagai pengetahuan dan kemampuan

menelaah prinsip-prinsip genetika (Bowling et al., 2008). Konsep literasi

2
genetik juga dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang cukup dan

pemahaman tentang prinsip-prinsip genetik. Pengetahuan ini berguna

untuk membuat keputusan yang menopang kesejahteraan individu dan

partisipasi efektif pada keputusan sosial tentang masalah genetik (Goltz et

al., 2016).

Survei terhadap tingkat literasi genetik di negara maju seperti

Amerika Serikat sudah pernah dilakukan. Hasilnya, 57,6% responden

familiar dengan istilah genetik, akan tetapi pada pertanyaan yang menguji

pengetahuan genetik yang lebih lanjut, hanya 22,2% responden yang bisa

menjawab dengan benar (Abrams, et al., 2015). Pada negara Indonesia,

penelitian yang menggambarkan kondisi literasi genetik pada masyarakat

masih sangat kurang. Penulis bahkan belum menemukan referensi tentang

survei literasi genetik di Indonesia.

Masyarakat semakin perlu untuk memiliki literasi genetik yang baik.

Tanpa adanya literasi genetik yang baik akan memberikan dampak

munculnya penyakit kompleks yang merupakan masalah bagi individu

ataupun komunitas. Sebanyak 9 dari 10 penyebab utama kematian di

Amerika Serikat adalah permasalahan genetik, termasuk penyakit jantung,

kanker dan diabetes (Lea et al., 2011).

Dengan adanya literasi genetik yang baik, seseorang dimungkinkan

untuk pengambilan keputusan dengan baik termasuk dalam pengambilan

sikap terhadap isu-isu genetik. Literasi genetik juga memungkinkan

seseorang untuk memahami isu-isu genetik dan memiliki akses yang lebih

mudah pada pelayanan dan teknologi berbasis genetik (Goltz, et al., 2016).

3
Salah satu kemajuan dari teknologi genetik saat ini adalah terapi gen.

Terapi gen dapat kita definisikan secara luas sebagai perlakuan transfer

materi genetik yang bertujuan untuk menyembuhkan penyakit atau

minimal memperbaiki kondisi klinis dari seorang pasien. Konsepnya

didasarkan pada kemampuan virus untuk menyelipkan materi genetiknya

ke sel-sel lain termasuk sel manusia. Dengan diselipkannya materi genetik

yang baru kepada sel tertentu diharapkan akan terjadi perubahan terhadap

kondisi dari sel-sel tersebut (Patil, et al., 2012).

Terapi gen menjadi harapan baru dalam dunia medis terutama untuk

penyakit-penyakit yang dengan prognosis buruk dan sulit disembuhkan.

Uji klinis yang membuktikan terapi gen bisa memberi hasil yang baik pada

terapi kanker (Tani, et al., 2011). Pendekatan terapi gen kepada pasien-

pasien kanker otak, paru, payudara, pankreas, hati, prostat, dan ovarium

sudah mulai dilakukan. Selain itu, pemanfaatan terapi gen pada pasien

Parkinson menunjukkan peningkatan kondisi sebanyak 23% (Patil, et al.,

2012).

Penelitian mengenai hubungan tingkat literasi genetik dengan sikap

pemanfaatan terapi khususnya pada mahasiswa kedokteran umum di

Indonesia belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, peneliti ingin

mengetahui hubungan tingkat literasi genetik dengan sikap pemanfaatan

terapi gen pada mahasiswa kedokteran umum di Indonesia.

4
B. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah

1. Apakah ada hubungan tingkat literasi genetik dengan sikap

pemanfaatan terapi gen pada mahasiswa kesehatan di Indonesia

C. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut

1. Tujuan

a. Tujuan Umum

Untuk menentukan adakah hubungan tingkat literasi genetik

dengan sikap pemanfaatan terapi gen pada mahasiswa kedokteran

umum di Indonesia.

b. Tujuan Khusus

1) Mengetahui tingkat literasi genetik pada mahasiswa


kedokteran umum di Indonesia.
2) Mengetahui sikap pemanfaatan terapi pada mahasiswa
kedokteran umum di Indonesia.

2. Manfaat

1) Manfaat Teoritis

Dari penelitian ini, peneliti bisa berkontribusi bagi ilmu

pengetahuan mengenai hubungan tingkat literasi genetik dengan

sikap pemanfaatan terapi gen pada mahasiswa kedokteran di

Indonesia yang dapat terdeskripsikan dengan jelas dan disajikan

sesuai dengan fakta yang ada di lapangan sehingga bisa digunakan

untuk penelitian-penelitian ke depan.

5
2) Manfaat praktis

Mendukung penelitian serupa di Indonesia mengenai

hubungan tingkat literasi genetik dengan sikap pemanfaatan terapi

gen.

D. Keaslian Penelitian

Nama, tahun Judul Penelitian Metode Perbedaan


Penelitian
Bowling, et al., Genetic Literacy of Penelitian Objek
2008 Undergraduate Non– bersifat deskriptif penelitian,
Science Majors and pendekatan variabel
the Impact of kuantitatif. penelitian.
Introductory Biology
and Genetics Courses
(Literasi Genetik pada
Sarjana Prodi Non-
Sains dan Dampak dari
Pengenalan Biologi
serta Materi Genetik)
Cebesoy, et al., Relationships among Metode Objek
2016 Turkish Pre-Service Observasional penelitian,
Teachers’ Genetics variabel
Literacy Levels and penelitian.
Their Attitudes
Towards Issues in
Genetics Literacy

6
Citation: Patil P.M., et al. (2012) Review Article on Gene Therapy. International Journal of

Genetics, ISSN: 0975-2862 & E-ISSN: 0975- 9158, Volume 4, Issue 1, pp.-74-79.

Tani et al West Indian Med J 2011; 60 (2): 189