Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Materi Pustaka

1. Literasi Genetik

a. Definisi Literasi Genetika

Literasi sains adalah pengetahuan mengenai fakta dan konsep

dasar tentang sains dan bagaimana sains bekerja [CITATION Mai99 \l

1057 ]. Menurut The National Center for Education Statistics, literasi

sains merupakan pengetahuan dan pemahaman tentang konsep-konsep

ilmiah dan proses yang diperlukan untuk pengambilan keputusan

pribadi, berpartisipasi dalam urusan sosial dan kebudayaan, dan

produktivitas ekonomi [ CITATION Hea16 \l 1057 ].

Literasi genetik merupakan bagian dari literasi sains untuk

menguatkan isu dan tantangan yang dihadapi pada bidang genetik dan

bioteknologi [ CITATION Jen04 \l 1057 ] . Literasi genetik merupakan

pengetahuan yang cukup dan kemampuan menelaah prinsip genetik

yang dapat memmbuat seseorang secara personal bisa menjadi lebih

paham dan berpastisipasi aktif pada isu genetik (Bowling et al., 2008).

Literasi genetik juga didefinisikan sebagai pengetahuan serta

pemahaman tentang prinsip-prinsip genetik. Tujuannya adalah untuk

membuat keputusan yang menopang kesejahteraan individu dan

partisipasi efektif pada keputusan sosial tentang masalah genetik

(Abrams et al., 2015).

1
b. Tingkatan Literasi Genetik

Menurut Rogers EM (2003), tingkatan pengetahuan diawali

dengan pertanyaan “Apakah itu?” (familiaritas), kemudian

“Bagaimana caranya bekerja?”, dan diakhiri dengan “Mengapa

mereka bisa dapat bekerja?” Teori Rogers EM tentang hierarki

pengetahuan yang dapat diaplikasikan untuk tiga dimensi dalam

genetik literasi. Tiga dimensi genetik literasi adalah familiaritas,

kemampuan penggunaan informasi, dan pengetahuan yang faktual.

Ketiga subdimensi ini berurutan dan tidak terpisahkan satu dengan

yang lainnya. Familiaritas akan terminologi-terminologi genetika akan

mengawali terbentuknya skil dalam menggunakan informasi genetika.

Setelah terbentuknya kemampuan yang baik, pengetahuan yang

faktual akan dapat terbentuk dari seseorang (Lea, et al., 2011).

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Literasi Genetika

1) Lama Belajar

Lama belajar dalam sebuah institusi juga menentukan tingkat

literasi sains seorang mahasiswa. Ada perbedaan statistik yang

bermakna pada rata-rata nilai literasi sains antara mahasiswa tahun

angkatan pertama dan tahun keempat (Altun-Yalçin, et al., 2011).

Literasi genetik yang merupakan bagian dari literasi sains juga

memiliki hubungan dengan lama belajar mahasiswa di kampus.

Sebuah studi mencoba membandingkan tingkat literasi genetik

mahasiswa kesehatan junior dan mahasiswa kesehatan senior. Dari

penelitian tersebut didapatkan hasil kelompok yang terdukasi

2
dengan baik memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan

kelompok kontrol [ CITATION Lei16 \l 1057 ].

2) Ketertarikan Mahasiswa terhadap Genetika

Salah satu faktor yang dapat menjadi masalah dalam

peningkatan literasi genetika adalah kurangnya ketertarikan kepada

genetika. Ada korelasi yang signifikan antara ketertarikan dan

sikap seseorang terhadap performa akademik mereka (Peter James,

2014;Thompson, 2011).

Ketertarikan terhadap materi membuat seseorang termotivasi.

Motivasi dalam belajar terbukti memiliki peran yang besar terhadap

tingkat intelegensia yang berperan dalam performa akademik

(Duckworth, et al., 2011).

3) Stigma

Pada sebuah penelitian yang dilakukan pada 21 negara,

didapatkan bahwa pelajaran sains, terutama materi yang dalam

seperti genetika mendapatkan stigmatisasi. Banyak pelajar

menganggap bahwa pelajaran genetika tidak memiliki nilai yang

berarti pada pelajar (Jenkins, 2006). Sebuah studi merilis data

bahwa genetika menjadi salah satu topik yang membutuhkan

mahasiswa berjuang dengan kesulitan konseptual yang serius

(Duncan dan Reiser, 2007).

4) Sumber Belajar

Untuk membuat seseorang memiliki literasi genetik yang

baik, sumber belajar harus memiliki kualitas yang baik. Tenaga

3
pengajar sebagai salah satu sumber belajar mahasiswa harus

memiliki literasi genetik yang baik pula. Oleh karena itu,

diperlukan persiapan pendidikan yang baik dan sesuai dari tenaga

pengajar untuk meningkatkan tingkat literasi genetik seseorang

[ CITATION Ümr12 \l 1057 ].

5) Latar Belakang Pendidikan Mahasiswa

Latar belakang pendidikan yang ditempuh oleh mahasiswa

mempengaruhi tingkat literasi genetik. Sebuah studi yang

dilakukan untuk mengukur pemahaman genetika pada mahasiswa

psikologi yang tidak pernah mendapatkan materi kuliah genetika

atau kuliah biologi lainnya. Hasilnya menunjukkan adanya

korelasi yang tinggi (korelasi pearson 0,68) dari mata pelajaran

kuliah sehari-hari terhadap kemampuan literasi genetika

mahasiswa (Bowling, et al., 2008).

2. Sikap

Menurut Notoatmodjo (2005) sikap adalah respon tertutup

seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu. Respon tersebut sudah

melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak

senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya).

Ada beberapa batasan tentang sikap yang dikutip oleh Notoatmodjo

(2003). Menurut Campbell (1950), batasan tentang sikap berupa tingkah

laku seseorang. Hal itu merupakan gejala dari konsistensi reseptor

dengan nilai objek sosialnya. Dapat disimpulkan bahwa manifestasi dari

sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya ditafsirkan terlebih

4
dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap masih berupa reaksi tertutup,

bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap

merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek di lingkungan

tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.

Menurut Azwar (1988), terdiri dari 3 komponen berdasarkan

strukturnya, yaitu :

a. Komponen kognitif berupa keyakinan seseorang (behavior belief dan

group belief)

b. Komponen afektif yang menyangkut aspek emosional,

c. Komponen konatif yang merupakan aspek kecenderungan bertindak

sesuai dengan sikapnya.

Menurut Notoadmojo (2005), sikap juga memiliki tingkatan

berdasarkan intensitasnya, yaitu :

a. Menerima (receiving)

Menerima dapat didefinisikan saat seseorang atau subjek mau

menerima stimulus yang diberikan (objek).

b. Menanggapi (responding)

Menanggapi diartikan sebagai tindakan memberikan jawaban

atau tanggapan terhadap pertanyaan dari objek yang dihadapi.

c. Menghargai (valuting)

Menghargai dapat diartikan bahwa subjek, atau seseorang

memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus dalam

5
arti membahasnya dengan orang lain dan bahkan mengajak atau

mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons.

d. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakini

merupakan sikap yang paling tinggi tingkatannya. Seseorang yang

telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia

harus berani untuk mengambil risiko jika ada orang lain yang

mencemoohkan atau adanya risiko lain.

Faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut Azwar (2007),

antara lain :

a. Pengalaman pribadi

Sikap dapat dipengaruhi oleh hal-hal yang telah atau sedang kita

alami. Hal-hal tersebut dapat membentuk dan mempengaruhi

penghayatan seseorang terhadap stimulus sosial.

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Sikap orang yang dianggap penting memiliki pengaruh dalam

menentukan sikap seseorang. Adanya keinginan untuk berafiliasi dan

keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggapnya

penting dapat mempengaruhi pembetukan sikap tersebut..

c. Pengaruh kebudayaan

Ada nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, aturan-aturan, dan norma-

norma yang melingkupi suatu kelompok masyarakat dalam sebuah

kebudayaan. Nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, aturan-aturan, dan

6
norma-norma mempengaruhi sikap dan tindakan individu dalam

masyarakat tersebut.

d. Media massa

Proses penyampaian informasi kepada masyarakat diperankan oleh

media massa. Media massa memberikan berisi sugesti yang dapat

mempengaruhi penilaian seseorang terhadap suatu objek dan

pembentukan opini.

e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama

Lembaga pendidikan dan lembaga agama ini berperan dalam

penanaman konsep moral dan individu, sehingga dapat mempengaruhi

proses pengambilan sikap dari individu tersebut dengan

mempertimbangkan baik-buruk atau boleh-tidak boleh.

f. Pengaruh faktor emosional

Sikap merupakan bentuk pernyataan yang didasari oleh emosi yang

berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk

mekanisme pertahanan ego.

3. Terapi Genetik

Terapi gen dapat kita definisikan secara luas sebagai perlakuan

transfer materi genetik yang bertujuan untuk menyembuhkan penyakit atau

minimal memperbaiki kondisi klinis dari seorang pasien. Konsepnya

didasarkan pada kemampuan virus untuk menyelipkan materi genetiknya

ke sel-sel lain termasuk sel manusia. Dengan diselipkannya materi genetik

yang baru kepada sel tertentu diharapkan akan terjadi perubahan terhadap

kondisi dari sel-sel tersebut (Patil, et al., 2012).

7
Untuk memperbaiki kerusakan genetik yang ada, ada beberapa

mekanisme yang digunakan.

a. Pertama, gen normal diselipkan di lokasi nonpesifik untuk

menggantikan gen yang nonfungsional,

b. gen abnormal bisa ditukar dengan rekombinasi gen homolog normal,

c. gen abnormal dapat diperbaiki melalui mutasi balik selektif, dan

d. peraturan (tingkat gen yang dinyalakan atau dimatikan) dari gen

tertentu (Misra, 2013).

Ada dua jenis terapi gen berdasarkan jenis sel yang digunakan yaitu,

germ line therapy dan somatic line therapy. Germ line therapy adalah

terapi gen yang memodifikasi gen fungsional dari sel-sel germinal

manusia yaitu sel sperma dan ovum [CITATION Mat07 \l 1057 ]. Oleh karena

itu, perubahan yang terjadi dapat diwariskan ke generasi selanjutnya.

Secara teoritis, pendekatan ini tentu sangat efektif untuk penyakit yang

diturunkan secara genetik, ada banyak masalah yang teknis yang kompleks

dan permasalahan etik yang membuat germ line therapy ini dapat

dicobakan ke manusia.

Somatic line therapy merupakan terapi gen yang memindahkan gen

terapeutik ke sel somatik pasien. Setiap modifikasi dan efek hanya akan

dibatasi pada pasien individual saja dan tidak akan diwarisi oleh keturunan

pasien atau generasi selanjutnya[CITATION Ban96 \l 1057 ].

Pemindahan gen untuk menggantikan ke dalam sel-sel pasien

membutuhkan sebuah media yang akan membawa dan mentransfer gen

yang disebut vektor. Vektor-vektor yang lazim digunakan dapat berupa

8
vektor virus maupun vektor nonvirus [ CITATION San13 \l 1057 ]. Vektor

virus yang digunakan adalah virus yang paling tidak berbahaya. Beberapa

jenis virus yang digunakan dalam terapi gen yaitu Adenovirus, Retrovirus,

Adeno-associated viruses, dan Herpes Simplex Virus [CITATION Roc02 \l

1057 ]

Metode nonviral merupakan metode transfeksi non-virus yang paling

sederhana yaitu dengan injeksi DNA langsung. Sudah ada percobaan

penyuntikan plasmid DNA telanjang yang sukses memindahkan DNA ke

dalam sel-selm manusia Transfer gen seperti elektroporasi (pembentukan

listrik. Bidang diinduksi pori-pori di membran plasma), sonoporation

(Frekuensi ultrasonik untuk mengganggu membran sel), agnetofeksi

(penggunaan partikel magnetik yang dikomplekskan dengan DNA),

senjata gen (tunas DNA dilapisi partikel emas ke dalam sel dengan

menggunakan tekanan tinggi) dan gen yang dimediasi reseptor transfer

sedang dieksplorasi [ CITATION San13 \l 1057 ].

Terapi gen mungkin memiliki risiko yang tak terduga, para

ilmuwan pertama kali mengembangkan eksperimen yaitu protokol yang

memiliki panduan yang ketat. Setelah mendapat persetujuan dari FDA,

organisasi tersebut terus memantau percobaannya. Dalam proses uji klinis,

peneliti diminta melaporkan efek samping yang berbahaya. Risiko terapi

gen tidak harus jauh lebih besar daripada manfaat potensial. Terapi gen

memberi pertimbangan etis bagi orang untuk dipertimbangkan [CITATION

Fle90 \l 1057 ].

9
Beberapa orang khawatir tentang apakah terapi gen benar dan bisa

digunakan secara etis. Beberapa pertimbangan etis untuk terapi gen

meliputi, memutuskan apa yang normal dan apa itu cacat, menentukan

apakah cacat adalah penyakit dan apakah harus disembuhkan;

memutuskan apakah mencari penyembuhan menghancurkan hidup orang-

orang yang memiliki kecacatan; memutuskan apakah terapi gen somatik

lebih atau kurang etis dari pada terapi gen kuman. Banyak orang merasa

bahwa karena terapi gen menggunakan gen yang berubah dan virus yang

berpotensi berbahaya, perawatan tersebut harus diuji lebih luas [ CITATION

San13 \l 1057 ].

10
B. Kerangka Teori Penelitian

Latar Belakang
Pendidikan
Tenaga Pengajar
Mahasiswa

Ketertarikan dan Tingkat Literasi


Motivasi genetik Stigma
Mahasiswa mahasiswa

Pengaruh media
Pengaruh pribadi
massa

Sikap
Pengaruh orang
pemanfaatan Lembaga Agama
lain
terapi genetik

Pengaruh
Kebudayaan Emosional

11
C. Kerangka Konsep Penelitian

Sikap Pemanfaatan
Tingkat Literasi Genetik
Terapi Gen

D. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara

tingkat literasi genetik dan sikap pemanfaatan terapi gen pada

mahasiswa kedokteran di Indonesia.

12
Sanjukta Misra. Human Gene Therapy : A Brief Overview of the
*

Genetic Revolution. 2013. Vol 61. 127-133/

13