Anda di halaman 1dari 11

UJI SENSIVITAS BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK

Nama : Edi Robiyanto


NIM : B1A017112
Rombongan : I
Kelompok : 3
Asisten : Abdi Rahman Nursyamsi

LAPORAN PRAKTIKUM BAKTERIOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

Antibiotik adalah zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang


mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh
mikroorganisme (Haryanto et al., 2016). Menurut Indang et al. (2013) antibiotik
adalah semua senyawa kimia yang dihasilkan oleh organisme hidup atau yang
diperoleh melalui sintesis yang memiliki indeks kemoterapi tinggi, dan manifestasi
aktivitasnya terjadi pada dosis yang sangat rendah. Serta secara spesifik melalui
inhibisi proses vital tertentu pada virus, mikroorganisme, atau berbagai organisme
bersel banyak. Menurut Bbosa et al. (2014), terdapat bakteri penghasil antibiotik
diantaranya yaitu Bacillus licheniformis penghasil antibiotok Basitrasin, Bacillus
polymyxa penghasil Polimiksin, Streptomyces noursei penghasil antibiotik Nistatin,
Streptomyces erytherus penghasil Eritromisin, Pseudomonas fluorescens penghasil
antibiotik Puromicin, Streptomyces auerofaciens penghasil antibiotik Tetrasiklin,
Streptomyces venezuelae penghasil antibiotik Kloramfenikol, Streptomyces
kanamyoetious penghasil antibiotik Kanamisin, Streptomyces mediterranei penghasil
antibiotik Rimfamisin, Streptomyces orientalis penghasil antibiotik Vankomisin,
Penicillum chrysogenum penghasil antibiotik Penisilin, Streptomyces fradiae
penghasil antibiotik Neomisin dan Fosfomisin, Streptomyces griseus penghasil
antibiotik Streptomisin, Streptomyces mediterranei penghasil antibiotik Rifampin
atau Rifamisin, Penicillum griseofulvin penghasil antibiotik Griseofulvin.
Menurut Erlindawati et al. (2015), antibiotik salah satu contoh produk
metabolit sekunder yang dihasilkan suatu organisme tertentu dalam jumlah sedikit
dan bersifat merusak atau menghambat mikroorganisme lain. Menurut Pelczar &
Chan (2005), ada beberapa faktor yang mempengaruhi kerja antibiotik. Konsentrasi
atau intensitas antibiotik (semakin tinggi akan semakin efektif membunuh bakteri,
namun terkadang bisa menimbulkan resistensi). Jumlah mikroorganisme (jumlah
mikroba yang banyak akan membuat antibiotic perlu waktu lama untuk
membunuhnya). Suhu (semakin tinggi suhu maka akan meningkatkan efektivitas kerja
antibiotic karena pada dasarnya kerja antibiotik merupakan reaksi kimia yang sangat
bergantung pada suhu optimum). Spesies mikroorganisme (tiap spesies
mikroorganisme menunjukkan sensitivitas yang berbeda-beda terhadap senyawa
antibitik tertentu). Adanya bahan organik yang akan menghambat kerja antibiotik
melalui tiga cara,
yaitu antibiotik akan bergabung dengan bahan organic membentuk senyawa yang
bersifat netral bagi mikroba, atau membentuk endapan yang tidak bias berikatan
dengan komponen sel mikroba, atau bahan organik menjadi barrier bagi antibiotik
yang akan melakukan kontak dengan sel mikroba. pH (beberapa antibiotik sangat
dipengaruhi oleh pH, sebagian ada yang bekerja pada pH asam dan beberapa yang
lain ada yang bekerja pada pH basa, walaupun banyak juga yang bekerja pada pH
netral).
Antibiotik memiliki cara kerja yang berbeda-beda dalam membunuh atau
menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Klasifikasi berbagai antibiotik dibuat
berdasarkan mekanisme kerja tersebut, yaitu : (1) Antibiotik yang menghambat
sintesis dinding sel bakteri. Contohnya adalah penicilin, cephalosporin, carbapenem,
monobactam dan vancomycin. (2) Antibiotik yang bekerja dengan merusak
membrane sel mikroorganisme. Antibitoik golongan ini merusak permeabilitas
membran sel
sehingga terjadi kebocoran bahan-bahan dari intrasel. Contohnya adalah polymyxin.
(3) Antibiotik yang menghambat sintesis protein mikroorganisme dengan
mempengaruhi subunit ribosom 30S dan 50S. Antibiotik ini menyebabkan terjadinya
hambatan dalam sintesis protein secara reversibel. Contohnya adalah chloramphenicol
yang bersifat bakterisidal terhadap mikroorganisme lainnya, serta macrolide,
tetracycline dan clindamycine yang bersifat bakteriostatik. (4) Antibiotik yang
mengikat subunit ribosom 30S. Antibiotik ini menghambat sintesis protein dan
mengakibatkan kematian sel. Contohnya adalah aminoglycoside yang bersifat
bakterisidal. (5) Antibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba.
Contohnya adalah rifampicin yang menghambat sintesis RNA polimerase dan
kuinolon yang menghambat topoisomerase. Keduanya bersifat bakterisidal. (6)
Antibiotik yang menghambat enzim yang berperan dalam metabolisme folat.
Contohnya adalah trimethoprime dan sulfonamide. Keduanya bersifat bakteriostatik
(Amin, 2014).
Mekanisme kerja antimikroba dengan menargetkan fungsi bakteri yang
penting, seperti sintesis dinding sel (β-laktam dan glikopeptida), sintesis protein
(aminoglikosida, tetrasiklin, makrolida, lincosamides, kloramfenikol, mupirocin dan
asam fusidic), sintesis asam nukleat (kuinolon), sintesis RNA (rifampin ), dan jalur
metabolisme seperti metabolisme asam folat (sulfonamid dan trimetoprim).
Penggunaan antimikroba yang berlebihan menimbulkan resistensi baik oleh
kemunculannya mutasi titik atau dengan akuisisi gen resistensi asing, yang mengarah
pada perubahan target antimikroba dan degradasi antimikroba atau pengurangan
internal sel konsentrasi antimikroba (Akanbi et al., 2017).
Metode Kirby-Bauer atau kertas cakram memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan dari metode ini adalah mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan
khusus dan relatif murah, sedangkan kelemahannya adalah ukuran zona bening yang
terbentuk tergantung oleh kondisi inkubasi, inokulum, predifusi dan preinkubasi serta
ketebalan medium. Apabila keempat faktor tersebut tidak sesuai maka hasil dari
metode kertas cakram relatif sulit untuk diintepretasikan. Selain itu, metode kertas
cakram ini tidak dapat diaplikasikan pada mikroorganisme yang pertumbuhannya
lambat dan mikroorganisme yang bersifat anaerob obligat (Hastowo, 1992).
Menurut Soleha (2015), metode dilusi seperti metode MIC memiliki kelebihan
dan kekurangan. Kelebihan dari metode ini adalah memungkinkan penentuan
sensitivitas antibiotik secara kualitatif dan kuantitatif dilakukan bersama-sama. MIC
dapat membantu dalam penentuan tingkat resistensi dan dapat menjadi petunjuk
penggunaan antibiotik. Kekurangan metode ini adalah tidak efisien karena
pengerjaannya yang rumit, memerlukan banyak alat dan bahan serta dalam
pengerjaannya memerlukan konsentrasi antibiotik yang bervariasi.
Menurut Soleha (2015), resistant adalah kemampuan dari bakteri atau
mikroorganisme lain untuk menahan efek antibiotik. Resistensi antibiotik terjadi
ketika bakteri dapat merubah diri sedemikian rupa hingga dapat mengurangi
efektivitas dari suatu obat, bahan kimia ataupun zat lain yang sebelumnya
dimaksudkan untuk menyembuhkan atau mencegah penyakit infeksi. Akibatnya
bakteri tersebut tetap dapat bertahan hidup & bereproduksi sehingga makin
membahayakan. Menurut Humaida (2014) faktor-faktor yang mendukung terjadinya
resitensi adalah penggunaan antibiotik yang terlalu sering dan penggunaan antibiotik
yang irrasional
Tujuan praktikum uji sensivitas bakteri terhadap antibiotik adalah mahasiswa
mampu melakukan uji sensivitas senyawa antibiotik secara kualitatif dan kuantitatif.
II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan pada praktikum uji sensivitas bakteri terhadap


antibiotik adalah cawan petri, tabung reaksi, rak tabung, cotton bud steril, pipet,
pinset, penggaris, kertas label, spidol, inkubator, kamera, dan alat tulis
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum uji sensivitas bakteri
terhadap antibiotik adalah isolat cair Escherichia coli, Staphylococcus aureus,
akuades, medium Nutrient Agar (NA) dan Nutrient Broth (NB), kertas cakram,
Tetrasiklin, Eritromisin, Streptomisin, dan Kloramfenicol dengan konsentrasi
masing-masing 64,128, 256, 512 μg/ml.

B. Metode

1. Kirby-Bauer
Cotton bud dicelupkan dalam biakan bakteri S. aureus kemudian
diulaskan pada seleruh permukaan medium NA pada cawan secara merata.
Kertas cakram yang telah diberi larutan antibiotik dengan konsentrasi
tertentu diletakan ditengan medium. Kertas cakram ditekan dengan
menggunakan pinset supaya menempel semua dipermukaan agar. Inkubasi
pada suhu 370 C selama 1 x 24 jam. Diameter zona hambat dihitung
kemudian dibandingkan dengan tabel sensitivitas antibiotik.
2. Minimum Inhibitory Concentration (MIC)
Secara aseptis sebanyak 0,5 ml isolat cair S. aureus ditambahkan
kedalam tabung yang berisi medium Nutrient Broth. Setelah itu, sebanyak 4
ml antibiotik Tetrasiklin, Eritromisin, Streptomisin, dan Kloramfenicol
kedalam medium tersebut sesuai dengan konsentrasinya masing-masing
(64,128, 256, 512 μg/ml). Kemudian, dinkubasi selama 2 x 24 jam pada
suhu 37oC. Setelah diinkubasi, dilihat interpretasinya dengan mengamati
tingkat kekeruhan pada setiap konsentrasi antibotik. Jika terdapat
kekeruhan, maka antibiotik tersebut tidak mampu menghambat bakteri yang
disuspensikan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Uji Sensitivitas Bakteri terhadap Antibiotik


Rombongan 1
MIC(μg/ml) Kirby-Bauer(mm)
Kel
Isolat Kloram Strepto Eritro Tetra Kloram Strepto Eritro Tetra
.
fenikol micin misin siklin fenikol micin misin siklin
1 E. coli - 64 512 64 31 33 27,5 40,5
2 E. coli 512 256 - 64 31,5 35 35 39
3 S. aureus 256 256 256 64 30 31 34,5 41
4 S. aureus 512 256 256 64 32,5 47,5 25 42,5
5 E. coli - 64 512 64 31,5 40 25 37,5
6 S.aureus 512 512 512 64 29,5 30,5 26 43,5
Perhitungan Kirby-Bauer Kelompok 3
1. Kloramfenicol
d1=30 mm d2 = 30mm
d=(30+30)/2= 30 mm (interpretasi sensitive)
2. Tetrasilkin
d1= 42 mm d2 = 40mm
d= (42+40)/2= 41 mm (interpretasi sensitive)
3. Streptomisin
d1= 30 mm d2 = 32mm
d= (30+32)/2= 31 mm (interpretasi sensitive)
4. Eritromisin
d1=36 mm d2 = 33mm
d=(36+33)/2= 34,5 mm (interpretasi sensitive)

Berdasarkan tabel dan gambar diatas, hasil menunjukkan bahwa semua


antibiotic yang digunakan dalam praktikum ini bersifat susceptible terhadap isolat S.
aureus. Diameter zona hambat terbesar adalah 41 mm pada antibiotik Tetrasiklin,
sedangkan diameter zona hambat terkecil yaitu 30 mm pada antibiotik
Kloramfenicol. Secara keseluruhan, S. aureus sensitif terhadap antibiotik karena
petumbuhannya mampu dihambat oleh Tetrasiklin, Eritromisin, Streptomisin, dan
Kloramfenicol. Hasil ini sesuai dengan pernyataan Pelczar & Chan (2005), yang
menyatakan
bahwa bakteri Gram positif (S. aureus) membentuk zona jernih lebih luas
dibandingkan dengan bakteri Gram negatif (E. coli). Hal tersebut juga diperkuat
dengan pernyataan Madigan & Martinko (2006), yang menjelaskan bahwa S. aureus
merupakan bakteri flora normal yang juga merupakan patogen oportunis, lemah
terhadap banyak jenis antibiotik, kecuali pada kasus MRSA (methicilin-resistant
Staphylococcus aureus) yaitu suatu strain dari S. aureus yang kebal terhadap
Metisilin
akibat mutasi sehingga resisten terhadap daya kerja Metisilin.
Tingginya konsentrasi dari antimikroba ditentukan oleh difusi dari cakram
dan
pertumbuhan organisme uji dihambat penyebarannya sepanjang difusi antimikroba
(terbentuk zona jernih di sekitar cakram), sehingga bakteri tersebut merupakan
bakteri
yang sensitif terhadap mikroba. Ukuran zona jernih tergantung kepada kecepatan
difusi antimikroba, derajat sensitivitas mikrooganisme, dan kecepatam pertumbuhan
bakteri. Biasanya, zona hambat cakram antimikroba pada metode difusi berbanding
terbalik dengan MIC. Semakin luas zona hambat, maka semakin kecil konsentrasi
daya hambat minimum MIC (Soleha, 2015).

Gambar 3.1 Hasil Uji Sensivitas Antibiotik Metode Kirby-Bauer Kelompok


3 Rombongan 1 dengan isolat S. aureus
Keterangan : T: Tetrasiklin, E: Eritromisin, S: Streptomisin, dan K:
Kloramfenicol

Dasar penentuan antimikroba secara in vitro adalah MIC (Minimum


Inhibitory
Concentration). MIC adalah konsetrasi terendah bakteri yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri dengan hasil yang dilihat dari pertumbuhan koloni pada agar
atau
kekeruhan pada pembiakan cair (Soleha, 2015). Hasil tersebut terlihat dari tabel
diatas, dimana tingkat jernih medium NB pada antibiotik Eritromisin konsetrasi 256
μg/ml. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Katzung (2014), bahwa Eritromisin
merupakan antibiotik yang memiliki spektrum cukup luas terhadap bakteri Gram
positif (Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes dan Streptococcus
pneumoniae) dan Gram negative (Haemophilus influenzae, Pasteurella multocida,
Brucella, dan Rickettsia) maupun mikoplasma (Chlamydia), namun tidak memiliki
aktivitas terhadap virus, ragi ataupun jamur. Antibiotik yang dikelompokkan ke
dalam golongan Makrolida yang bersifat bakteriostatik atau bakteriosidal, tergantung
dari jenis bakteri dan kadarnya dalam darah (Rahman, 2011). Sintesis protein
mikroba berlangsung di ribosom dengan bantuan mRNA dan tRNA. Ribosom bakteri
terdiri atas dua subunit yang berdasarkan konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai
ribosom 30S dan 50S. Supaya berfungsi pada sintesis protein, kedua komponen ini
akan bersatu pada pangkal rantai mRNA menjadi ribosom 70S. Mekanisme
antibiotik ini adalah dengan menghambat reaksi transfer antara donor dengan aseptor
atau menghambat translokasi t-RNA peptidil dari situs aseptor ke situs donor yang
menyebabkan sintesis protein terhenti (Usmiati, 2012).

Gambar 3.2 Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik Metode MIC Kelompok 3


Rombongan 1 dengan isolat S. Aureus Terhadap Antibiotik
Eritromicin
Hasil dari uji sensitivitas terhadap Tetrasiklin menunjukkan jernih pada
konsetrasi 64 μg/ml. Tetrasiklin adalah salah satu antibiotik yang digunakan untuk
mengobati infeksi bakteri yang terjadi pada kulit, usus, saluran pernapasan, saluran
kemih, kelamin, kelenjar getah bening, dan bagian lain dalam tubuh. Meskipun
antibotik tetrasiklin memiliki spektrum luas yang berarti dapat membasmi banyak
jenis bakteri, namun penggunaannya menurun karena mulai banyaknya bakteri yang
resisten. Untuk mengurangi perkembangan resistensi bakteri dan menjaga efektifitas
antibotik ini, maka sebaiknya hanya digunakan pada penyakit yang memang terbukti
secara jelas bahwa penyebabnya adalah bakteri yang rentan terhadap obat ini (Kalil
et al., 2014).

Gambar 3.3 Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik Metode MIC Kelompok 3


Rombongan 1 dengan isolat S. Aureus Terhadap Antibiotik
Tetrasiklin
Hasil dari uji sensitivitas terhadap Streptomisin menunjukkan jernih pada
konsetrasi 256 μg/ml. Streptomycin adalah obat golongan antibiotik aminoglikosida
yang berfungsi untuk mengatasi sejumlah infeksi bakteri, salah satunya tuberkulosis.
Obat ini bekerja dengan membunuh atau mencegah pertumbuhan bakteri penyebab
infeksi. Selain tuberkulosis, kondisi-kondisi yang juga dapat diobati dengan
streptomycin adalah Tularemia, Pes atau sampar (plague), Endokarditis bakteri,
Brucellosis, Meningitis, Pneumonia, dan Infeksi saluran kemih (Suwandi, 2003).

Gambar 3.4 Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik Metode MIC Kelompok 3


Rombongan 1 dengan isolat S. Aureus Terhadap Antibiotik
Streptomisin
Hasil dari uji sensitivitas terhadap Kloramfenikol menunjukkan jernih pada
konsetrasi 256 μg/ml. Kloramfenicol adalah salah satu obat golongan antibiotik yang
digunakan untuk mengobati infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri. Misalnya
meningtis karena bakteri, abses otak, infeksi bakteri anaerobik, gangren, antraks,
ehrlichiosis, penyakit granuloma inguinal, plak, listeriosis, psittacosis, Q-fever,
gastroenteritis parah, melioidosis parah, infeksi sistemik, infeksi mata (seperti
konjungtivitis dan infeksi okular), infeksi telinga (seperti otitis eksterna), dan kondisi
lainnya. Kloramfenicol umumnya digunakan untuk kasus infeksi bakteri yang berat,
khususnya jika kondisi tersebut tidak mereda dengan pengobatan lainnya. Obat ini
bekerja dengan cara membunuh bakteri yang menjangkit di dalam tubuh dan
mencegahnya tumbuh kembali (Suwandi, 2003).
Gambar 3.5 Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik Metode MIC Kelompok 3
Rombongan 1 dengan isolat S. Aureus Terhadap Antibiotik
Kloramfenicol

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa:


1. Uji sensitivitas senyawa antibiotik secara kualitatif menggunakan metode
Kirby-Bauer dan isolat yang digunakan adalah Staphylococcus aureus.
Hasil yang didapatkan susceptible dengan diameter zona hambat 30 mm
(Kloramfenikol), 41 mm (Tetrasiklin), 34,5 mm (Eritromisin), dan 31 mm
(Streptomisin).
2. Uji sensitivitas senyawa antibiotik secara kuantitatif menggunakan
metode
Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Hasil menunjukkan bahwa
pada konsentrasi antibiotik Tetrasiklin, yaitu 64 μg/ml, dapat
menghambat S. aureus.
B. Saran

Sebaiknya, antibiotik yang digunakan dalam praktikum, lebih


disesuaikan lagi dengan isolat uji yang akan diuji senstivitasnya terhadap
antibiotik tersebut. Sehingga, hasil yang didapat lebih terlihat nyata dan
maksimal.
DAFTAR REFERENSI

Akanbi, O. E., Njom, H. A., Fri, J., Otigbu, A. C. & Clarke, A. M. 2017.
Antimicrobial Susceptibility of Staphylococcus aureus Isolated from
Recreational Waters and Beach Sand in Eastern Cape Province of South
Africa. Int. J. Environ. Res. Public Health, 14(9), pp. 1-15.
Erlindawati, P. A. & Afghani, J., 2015. Identifikasi dan Uji Aktivitas Antibakteri dari
Tiga Isolat Tanah Gambut Kalimantan Barat. JKK, 4(1), pp.12-16.
Haryanto, A., Priambodo, A. & Lestari, E. S., 2016. Kuantitas Penggunaan
Antibiotik pada Pasien Bedah Ortopedi Rsup Dr. Kariadi Semarang. Jurnal
Kedokteran Diponegoro, 5(3), pp. 188-198.
Hastowo, S., 1992. Mikrobiologi. Jakarta: Rajawali Press.
Humaida, R., 2014. Strategy to handle Resistance of Antibiotics. Journal Majority,
3(7), pp. 113-120.
Indang, N., Guili, M. M. & Alwi, M., 2013. Uji Resistensi dan Sensitivitas Bakteri
Salmonella thypi Pada Orang Yang Sudah Pernah Menderita Demam Tifoid
Terhadap Antibiotik. Biocelebes, 7(1), pp. 27-34.
Kalil, A.C., Schooneveld, T.C.V., Fey, P.D., & Rupp, M.E. 2014. Association
Between Vancomycin Minimum Inhibitory Concentration and Mortality
Among Patients With Staphylococcus aureus Bloodstream Infections A
Systematic Review and Meta-analysis. JAMA, 312(15), pp.1552-1564.
Katzung, B.G., 2014. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: Penerbit EGC.
Madigan, M. T. & Martinko, J.M. 2006. Brock Biology of Microorganisms 11th
Edition. New Jersey: Pearson Education.
Pelczar, M. J. & Chan, E. C. S., 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press.
Rahman, I. R., 2011. Uji Stabilitas Fisik dan Daya Antibakteri Suspense Eritromisin
dengan Suspending Agen Gummi Arabici. Pharmacon, 12(2), pp.44-49.
Soleha, T. U. 2015. Uji Kepekaan terhadap Antibiotik. J Kedokteran UNILA, 5(9),
pp.118-123.
Soleha, T. U., 2015. Uji kepekaan Terhadap Antibiotik. Jurnal Unila, 5(9), pp. 120-
123.
Suwandi, U., 2003. Perkembangan Antibiotik. Cermin Dunia Kedokteran No. 83.
Jakarta : Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma.
Usmiati, S., 2012. Daging Tahan Simpan dan Bakteriosin. Warta Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, 34(2), pp.12-14.