Anda di halaman 1dari 7

ANNELIDA DAN ECHINODERMATA

Oleh :

Nama : Edi Robiyanto


NIM : B1A017112
Rombongan : V
Kelompok : 2
Asisten : Ulfa Fitri Anah

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Echinodermata berasal dari bahasa Yunani yaitu echinos yang berarti duri
dan
derma yang berarti kulit, lebih dikenal dengan hewan berkulit duri. Echinodermata
biasanya muncul di perairan intertidal terutama pada ekosistem terumbu karang
(Tahe et al., 2013). Echinodermata berhubungan erat dengan chordata dan telah
menjadi sistemmodel yang sangat berharga untuk biologi perkembangan selama
lebih dari seratus lima puluh tahun. Echinoderms adalah organisme laut yang
eksklusif, namun mereka memiliki banyak habitat yang beragam, mulai dari
intertidal sampai laut dalam (Reich et al., 2015).
Echinodermata merupakan salah satu komponen penting dalam hal
keanekaragaman fauna di daerah terumbu karang. Hal ini karena terumbu karang
berperan sebagai tempat berlindung dan mencari makan bagi fauna Echinodermata.
Secara ekologi fauna Echinodermata berperan sangat penting dalam ekosistem
terumbu karang, terutama dalam rantai makanan (food chains), karena biota
tersebut
umumnya sebagai pemakan detritus dan predator (Suwartimah et al., 2017).
Keanekaragaman fauna banyak ditemukan di ekosistem pesisir. Salah satu Filum
yang memiliki daya tarik tersendiri di lingkungan pesisir yaitu Echinodermata.
Echinodermata adalah peghuni perairan dangkal, umumnya terdapat di terumbu
karang dan padang lamun. Hewan ini memiliki kemampuan autotomi serta
regenerasi
bagian tubuh yang hilang, putus, atau rusak. Semua hewan yang termasuk phylum
ini
memiliki bentuk tubuh yang radial simetris dan kebanyakan mempunyai
endoskeleton dari zat kapur seperti tonjolan berupa duri (Jasin, 1984).
Vermes (cacing) terbagi atas tiga kelompok phylum, yakni: Platyhelminthes,
Nemathelmnthes dan Annelida. Phylum Platyhelminthes ini terbagi atas 9.000
spesies. Pemberian nama pada organisme ini adalah sangat tepat sesuai dengan
jumlah kelompok besar hewan ini pada umumnya hampir menyerupai pita. Hewan
ini berbentuk simetris bilateral dengan sisi kiri dan kanan, permukaan dorsal dan
ventral, dan juga posterior dan anterior (Kimball, 2000).
B. Tujuan

Tujuan praktikum acara praktikum Annelida dan Echinodermata kali ini,


antara lain:
1. Praktikan mengenal beberapa anggota Phylum Annelida dan Echinodermata.
2. Praktikan mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan
klasifikasi anggota Phylum Annelida dan Echinodermata.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Echinodermata memiliki ciri yang khas yakni bersifat simetri radial dengan
penguat tubuh dari zat-zat kapur dengan tonjolan duri-duri. Kelompok organisme ini
semuanya hidup di laut. Pergerakan dari Echinodermata termasuk lambat, gerakannya
diatur oleh tekanan hidrostatis atau system vaskuler air. System saraf terdiri dari cincin
oral dan tali-tali saraf radial. Sistem ekskresi pada Echinodermata tidak ada sehingga
fungsi ekskresi dilakukan melalui penonjolan kulit (brank/papula). Bentuk tubuh,
struktur anatomi dalam fisiologi Echinodermata sangat khas. Bentuk tubuh simetri radial
5 penjuru (pentaradial), meskipun Echinodermata termasuk divisi Bilateria. Sebenarnya
pada waktu larva mempunyai bentuk tubuh simetri bilateral dan hidup sebagai plankton,
tetapi pada akhir stadium larva mengalami metamorfosa menjadi simetri radial (Jasin,
1992). Menurut Sumrall (2017), kerangka dari Echinodermata yang memiliki simetri
tubuh pentaradial dapat dibagi menjadi kerangka aksial, yang berasosiasi dengan
peristom (bukaan mulut) dan sistem ambulakral, dan kerangka ekstraksial yang
merupakan sisa dari dinding tubuh. Kerangka aksial dibangun dari beberapa lempengan
yang berbeda. Bukaan peristomial dibatasi oleh beberapa kombinasi dari lempengan oral
dan lempeng oral yang diposisikan secara inter radial.
Echinodermata tidak mempunyai kepala; tubuh tersusun dalam sumbu
oral-aboral. Tubuh tertutup epidermis tipis yang menyelubungi rangka mesodermal.
Rangka di dalam dan terdiri atas ossicle atau pelat-pelat kapur yang dapat digerakkan
atau tidak dapat digerakkan. Bentuk dan letak ossicle tiap jenis adalah khas. Rongga
tubuh luas dan dilapisi peritoneum bersilia dalam perkembangannya sebagian rongga
tubuh menjadi sistem pembuluh air, suatu organ yang tidak terdapat pada
Avertebrata lain (Jasin, 1992).
Hewan ini memiliki kerangka dalam yang terdiri dari lempeng-lempeng kapur.
Lempeng-lempeng kapur ini bersendi satu dengan yang lainnya dan terdapat di dalam
kulit. Hewan ini juga umumnya mempunyai duri-duri kecil. Sistem ambulakral yang
dimilikinya sebenarnya merupakan sistem saluran air. Sistem saluran air ini terdiri atas
Madreporit yang merupakan lubang tempat masuknya air dari luar tubuh, saluran batu,
saluran cincin, saluran radial yang meluas ke seluruh tubuh, saluran lateral, ampula dan
kaki tabung. Sistem ambulakral ini berfungsi untuk bergerak, bernafas atau membuka
mangsa. Pada hewan ini air laut masuk melalui lempeng dorsal yang berlubang-lubang
kecil (madreporit) menuju ke pembuluh batu. Kemudian dilanjutkan ke saluran cincin
yang mempunyai cabang ke lima tangannya atau disebut saluran radial selanjutnya ke
saluran lateral. Pada setiap cabang terdapat deretan kaki tabung dan berpasangan dengan
semacam gelembung berotot atau disebut juga ampula. Dari saluran lateral, air masuk ke
ampula. Saluran ini berkahir di ampula (Kimball, 2000). Reproduksi seksual anggota
filum Echinodermata umumnya melibatkan individu jantan dan betina yang terpisah dan
membebaskan gametnya ke dalam air laut. Hewan dewasa yang radial tersebut
berkembang melalui metamorfosis dari larva bilateral. Embriologi awal Echinodermata
secara jelas mensejajarkan mereka dengan deuterostoma (Kastawi 2005).
Diantara 7000 atau lebih anggota filum Echinodermata semuanya adalah hewan
laut, dibagi menjadi enam kelas, yaitu: Asteroidea (bintang laut), Ophiuroidea (bintang
mengular), Echinoidea (bulu babi dan sand dollar), Crinoidea (lili laut dan bintang bulu),
dan Holothuroidea (timun laut). Kelompok hewan Ophiuroidea ini dianggap sebagai
kelompok Echinodermata terbesar. Hewannya rentan lingkungan dan hidup di tempat
terlindung atau air tenang, di perairan pantai pada kubangan pasut dan di balik batu atau
memendam pada dasar lunak. Bentuk tubuh seperti uang logam (coin), bundar dan pipih
dan lengan-lengan menjulur sekeliling tubuh dan mulut di bawah. Lengan ramping dan
mudah bergerak-gerak cepat memungkinkan hewan ini berjalan cepat dan bahkan
berenang dalam air. Karena kelenturan lengannya yang tinggi dan kemampuannya untuk
bergerak, kaki-tabungnya umumnya tidak digunakan untuk berjalan dan dikurangi
fungsinya menjadi alat perasa dan pernapasan (Rohmimohtarto, 2007).
Bulu babi merupakan salah satu hewan dari kelas Echinoidea. Bulu babi
memiliki bentuk dasar tubuh segilima. Mempunyai lima pasang garis kaki tabung dan
duri panjang yang dapat digerakkan. Kaki tabung dan duri memungkinkan binatang ini
merangkak di permukaan karang dan juga dapat digunakan untuk berjalan di pasir.
Cangkang luarnya tipis dan tersusun dari lempengan-lempengan yang berhubungan satu
sama lain. Hewan ini tidak mempunyai lengan (Brotowidjojo, 1989).
Lili laut atau Crinoidea adalah salah satu anggota filum Echinodermata. Bentuk
tubuh dan penampilannya menyerupai tanaman lili atau pakis. Bagi orang awam lili laut
mungkin dianggap sebagai flora laut, apalagi bagian tangannya mempunyai corak warna
yang beraneka ragam, hijau, kuning, merah, hitam atau kombinasi dari dua atau lebih
warna. Secara umum Crinoidea dapat digolongkan dalam dua kelompok besar yaitu
Comatulida atau lili laut yang hidup bebas dan bisa berpindah tempat, dan "stalked
crinoid" atau lili laut bertangkai. Kelompok lili laut yang disebutkan belakangan ini,
hidupnya di dasar laut dan tidak bisa berpindah tempat (Jasin, 1992).
Anggota kelas Holothuroidea dikenal dengan nama popular ‘teripang’ atau
‘timun laut’. Seperti Echinoidea, tubuh anggota kelas ini tidak berlengan, mulut dan
anus berada di kutub yang berlawanan, serta mempunyai daerah ambulakral dan
interambulakral yang tersusun berselang-seling secara meridional mengelilingi sumbu
polar tubuhnya. Berbeda dengan hewan Echinodermata lainnya, sumbu polar
Holothuroidea panjangm sehingga badannya pun memanjang, walau ada juga jenis-jenis
yang sperti cacing ataupun bertubuh membulat. Salah datu akibat bentuk memanjang,
teripang bersitirahat pada tiga jalur ambulakral yang sama, sehingga di bagian tersebut
(ventral) podia berkembang baik, sedangkan di sisi dorsal podia mengalami reduksi
(Oemarjati, 1990).
Phylum Annelida (bahasa latin, Annelus = cincin kecil-kecil dan Oidos =
bentuk) karena bentuk Phylum Annelida menyerupai sejumlah besar cincin kecil yang di
untai (Jasin, 1989). Phylum Annelida memiliki ciri khas yaitu bentuk simetri bilateral,
tubuh terbagi atas ruas-ruas yang sama panjang antara sumbu anterior yang disebut
prostomium dan posteriornya disebut pigidium yang terdapat anus. Bagian ruas tubuh
yang sama disebut dengan istilah metamere, somite atau segment. Phylum Annelida
dapat ditemukan di laut, air payau, air tawar dan beberapa di darat (Sugiarti &
Suwignyo, 2005).
Phylum Annelida memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
yang lain. Cacing ini sudah mempunyai rongga sejati disebut triplobastik selomata dan
tubuh simetri bilateral. Bentuk tubuhnya bersegmen-segmen dilapisi oleh kutikula,
tersusun oleh gelang kecil yang dibatasi dengan sekat berbentuk seperti cincin atau
gelang. Annelida ini mempunyai sistem pencernaan sempurna yaitu mulut, faring,
esofagus, tembolok, usus halus, dan anus. Selain itu, juga mempunyai sistem ekskresi
berupa nefridia. Respirasinya melalui permukaan tubuh atau insang. Pada tiap-tiap
segmen terdapat organ ekskresi, sistem saraf, dan sistem reproduksi (Mandila &
Hidayati, 2013).
Phylum ini dibagi menjadi beberapa kelas yaitu Polychaeta, Oligochaeta, dan
Hirudinea. Classi Polychaeta tiap segmen dilengkapi dengan parapodia, yaitu semacam
kaki yang terdapat pada sisi kanan dan kiri tubuhnya. Kepala dapat terlihat jelas dan
bermata. Habitat berada di laut, Cacing ini, alat kelamin cacing jantan dan betina sudah
dapat dibedakan, larvanya bersilia, dan dapat bergerak bebas yang disebut dengan
trokopor. Bentuk cacing Oligochaeta berkebalikan dari cacing Polychaeta, yaitu
mempunyai sedikit seta/rambut, tidak mempunyai mata dan parapodia. Misalnya,
cacing tanah (Pheretima sp.) berada di Asia. Cacing tanah mempunyai peranan
penting dalam menyuburkan tanah. Classis hirudinea tidak mempunyai rambut,
parapodia, dan seta. Contoh nya lintah (Hirudinaria javanica) atau pacet (Haemadippza
zeylania), Tempat hidup hewan ini ada yang berada di air tawar, air laut, dan di darat.
lintah merupakan hewan pengisap darah, pada tubuhnya terdapat alat pengisap di kedua
ujungnya yang digunakan untuk menempel pada tubuh inangnya (Rusyana, 2011).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat–alat yang digunakan pada praktikum acara Annelida dan


Echinodermata adalah baki preparat, pinset, kaca pembesar, mikroskop cahaya,
mikroskop stereo, sarung tangan karet (gloves), masker, dan alat tulis..
Bahan–bahan yang digunakan pada praktikum acara Annelida dan
Echinodermata adalah beberapa spesimen hewan Annelida dan Echinodermata.

B. Metode

Metode yang dilakukan pada praktikum acara Annelida dan Echinodermata


antara lain:
1. Karakter pada spesimen diamati, digambar dan dideskripsikan berdasarkan
ciriciri morfologi.
2. Spesimen diidentifikasi dengan kunci identifikasi.
3. Kunci identifikasi sederhana dibuat berdasarkan karakter spesimen yang
diamati.
4. Laporan sementara dibuat dari hasil praktikum
DAFTAR REFERENSI

Brotowidjoyo, D., 1989. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.


Jasin, M. 1989. Sistematik Hewan (Invertebrata dan Avertebrata). Surabaya: Sinar
Wijaya.
Jasin, M., 1984. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata. Surabaya : Sinar
Wijaya.
Jasin, M., 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya.
Kastawi, H. Y., 2005. Zoologi Avertebrata. Malang: Universitas Negeri Malang.
Kimball, J. W., 2000. Biologi Edisi kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Mandila, S. P., & Hidayati N., 2013. Identifikasi Asam Amino pada Cacing Sutra
(Tubifex sp.) yang diekstrak dengan Pelarut Asam Asetat dan Asam Laktat.
Journal of Chemistry, 2(1), pp. 103-108.
Oemarjati. 1990. Taksonomi Avertebrata. Jakarta: UI Press.
Reich, A., Dunn, C., Akasaka, K & Wessel, G. 2015. Phylogenomic Analyses of
Echinodermata Support the Sister Groups of Asterozoa and Echinozoa. Journal
PLoS One,10(3), pp. 1-11.
Rohmintoharto, K., 2007. Biologi Laut. Jakarta: Djambatan.
Rusyana, A., 2011. Zoologi Invertebrata. Bandung: ALFABETA.
Sugiarti & Suwignyo. 2005. Avertebrata Air I. Bogor: Penebar Swadaya.
Sumrall, C. D., 2017. New insights concerning homology of the oral region and
ambulacral system plating of pentaradial echinoderms. Journal of Paleontology.
91(4), pp. 604-617.
Suwartimah, K., Wati, D. S., Endrawati, H., & Hartati, R., 2017. Komposisi
Echinodermata Di Rataan Litoral Terumbu Karang Pantai Krakal, Gunung
Kidul,Yogyakarta. Oseanografi Marina, 6(1), pp. 53-60.
Tahe, O. S., Langoy, M. D., Katili, D. Y., & Papu, A., 2013. Keanekaragaman
Echinodermata di Pantai Tanamon Kecamatan Sinonsayang Sulawesi Utara.
Jurnal Bios Logos, 3(2), pp. 65-72.