Anda di halaman 1dari 85

Daftar Isi

1. Daftar Isi.
2. Kata Pengantar.
3. Bab I : Pendahuluan. 2
a. LandasanPemikiran 2
b. SejarahSingkat 4
c. Visi 5
d. Misi 5
e. Tujuan 6
f. Sasaran 6
4. Bab II : Rangkuman Evaluasi Diri 8
5. Bab III : Analisis Perkembangan Lingkungan Strategis 27
6. Bab IV : Analisis SWOT 37
7. Bab V : Rencana Strategis 42
a. Rangkuman Renstra 2010-2015 42
b. Renstra 2015-2020 46
8. Bab VI : Strategi Pembiayaan. 74
9. Bab VII : Sistem Penjaminan Mutu dan Akreditasi 76
10. Bab VIII : Sistem Monitoring dan Evaluasi 78
11. Bab IX : Penutup 80

Daftar Pustaka.

i
KATA PENGANTAR

Memasuki usianya yang ke 64, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) dihadapkan
pada peluang dan sekaligus tantangan global dengan lingkungan dan tatanan yang terus berubah
secara cepat. Globalisasi termasuk dalam bidang pendidikan tinggi, merupakan phenomena yang
tidak dapat dihindari. Di dalam masyarakat masa depan, ilmu pengetahuan dan teknologi
diyakini akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi, kemajuan bangsa dan
kesejahteraan masyarakat. Penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi
merupakan peluang serta tantangan yang memerlukan tanggapan cepat dan Strategis.

Rencana Strategis (Renstra) ini merupakan kesinambungan dari Rencana Strategis


(Renstra) ISTN 2010-2015, sekaligus merupakan turunan dari Rencana Induk Pengembangan
(RIP) 2007-2017 yang telah disyahkan oleh Senat Institut. Renstra ini memuat kegiatan-kegiatan
riil dan logis untuk mengatasi permasalahan yang terpetakan dari hasil analisis SWOT, yang
menggambaran Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Tantangan, serta sejumlah kegiatan yang
dimaksudkan untuk membangun Institut yang menyangkut peningkatan dan pengembangan mutu
dan kuantitas yang mampu dilaksanakan dengan sumberdaya yang ada dalam mencapai target
sasaran hingga 2020, yang dilengkapi strategi pencapaian pada setiap setiap tahunnya.

Renstra ini merupakan bagian dari pedoman kerja pada setiap unit kerja yang ada di
lingkungan Institut, oleh karena itu program di dalam Renstra ini juga merupakan akumulasi dari
program yang beberapa hal atau seluruhnya tidak tercapai selama kurun waktu 2015, yang
selanjutnya kondisi tersebut merupakan baseline dalam penetapan program untuk tahun
berikutnya sampai 2020. Penyusunan program di dalam Renstra ini mengacu kepada isu-isu
strategis yang berkembang pada Renstra ini disusun, yang secara garis besar menyangkut tujuh
standar yaitu: (1) Visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi pencapaian (2) Tata pamong,
kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu, (3) Mahasiswa dan lulusan, (4)
Sumber daya manusia, (5) Kurikulum, pembelajaran dan suasana akademik, (6) Pembiayaan,
sarana dan prasarana, serta Sistem Informasi, dan (7) Penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, dan kerja sama.

Secara umum standar ini selaras dengan Standar Nasional Pendidikan dan Standar yang
ditetapkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Dengan tersusunnya Renstra ini, maka arah pengembangan Institut, Fakultas, Program
Studi, Lembaga dan semua unit kerja yang berada di lingkungan Institut, terintegrasi dalam
Renstra ini. Oleh karena itu, dengan tersusunnya Renstra 2015-2020 ini diharapkan dapat
menjadi arah dalam pembangunan dan pengembangan ISTN tahun 2015-2020 yang lebih
berkualitas. Mudah-mudahan Renstra ini menjadi komitmen bersama bagi segenap civitas
akademika sehingga dapat mengangkat derajat dan peran ISTN dalam berkontribusi pada
pembangunan Bangsa dan Negara yang kita cintai ini.

ii
Teriring rasa syukur yang teramat dalam pada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas tersusunnya
Naskah Renstra 2015-2020 ini, terima kasih kepada semua anggota Senat Institut, pimpinan
Institut dan semua pemangku kepentingan yang telah memberikan masukan hingga
ditetapkannya naskah ini.

Semoga Allah SWT selalu meridloi seluruh upaya kita, untuk mewujudkan ISTN sebagai
Perguruan Tinggi yang berdaya saing tinggi, Sehat, Sustain, Unggul dan Sejahtera. Aamiin.

Jakarta, Desember 2014

Rektor ISTN

Prof. Ir. Agus Priyono, PhD

iii
Keputusan
Senat Institut Sains dan Teknologi Nasional
Nomor: 51/01.1-A/XII/2014
Tentang
Rencana Strategis
Institut Sains dan Teknologi Nasional Tahun 2015-2020

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa,


Senat Institut Sains dan Teknologi Nasional, di Jakarta:

Menimbang: a. bahwa Rencana strategis (Renstra) adalah merupakan rencana jangka


panjang yang bersifat menyeluruh, memberikan rumusan ke arah mana
institusi akan diarahkan, dan bagaimana sumberdaya dialokasikan untuk
mencapai tujuan selama jangka waktu tertentu dalam berbagai
kemungkinan keadaan lingkungan;
b. bahwa Renstra juga merupakan suatu proses pemilihan tujuan-tujuan
institusi, penentuan strategi, kebijaksanaan, program-program strategi
yang diperlukan untuk tujuan-tujuan tersebut;
c. bahwa Renstra adalah upaya untuk memberikan landasan dan arah bagi
program kerja yang secara umum menjadi indikator capaian kerja untuk
periode lima tahun mendatang
d. bahwa keberadaan Renstra dalam suatu Institusi mempunyai peran
pentingnya antara lain memberikan kerangka dasar dalam mana semua
bentuk perencanaan lainnya yang harus diambil, dan akan
mempermudah pemahaman bentuk-bentuk perencanaan lainnya;
e. bahwa Keberadaan Renstra merupakan salah satu dokumen pokok/utama
yang harus ada pada saat mengajukan permohonan ijin mendirikan
perguruan tinggi, mengajukan ijin pembukaan program studi,
mengajukan proposal hibah kompetisi kepada Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi ataupun instansi lainnya, serta mengajukan
Akreditasi Perguruan Tinggi dan/atau Program Studi;
f. bahwa keberadaan Renstra Institut dimaksudkan untuk menjamin
kesinambungan kegiatan/program menuju pencapaian tujuan serta
keberlanjutan Institut, dan menyiapkan suatu kerangka kerja yang
konsekuen dan berurutan bagi pertumbuhan dan pengembangan Institut;
g. bahwa Renstra Institut yang ada adalah Renstra 2010-2015 yang
keberadaannya akan segera berakhir, maka perlu disusun Renstra
Institut 2015-2020, dan menetapkannya dalam keputusan Senat.

Mengingat: 1. Undang-Undang nomor: 20 tahun 2003, tentang Sistem


Pendidikan Nasional;
2. Undang-Undang nomor: 14 tahun 2005, tentang Guru dan
Dosen;
3. Undang-Undang nomor: 12 tahun 2012, tentang Pendidikan
Tinggi;
4. Peraturan Pemerintah nomor 66 Tahun 2010, tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah nomor: 17 tahun 2010
tentang Pengelolaan Pendidikan;

1
5. Peraturan Pemerintah nomor: 32 Tahun 2013, tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah nomor: 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan;
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 4 Tahun
2014, tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan
Pengelolaan Perguruan Tinggi
7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia nomor 49 Tahun 2014, Tentang Standar Nasional
Pendidikan Tinggi
8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia nonor 50 Tahun 2014 tentang Sistem Penjaminan
Mutu Pendidikan Tinggi
9. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia nomor 83 Tahun 2013 tentang Sertifikasi
Kompetensi
10. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi nomor: 17 Tahun 2013 Tentang Jabatan
Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya;
11. Statuta Institut Sains dan Teknologi Nasional Tahun 2011;
12. Keputusan Pengurus Yayasan Perguruan “Cikini” No:
A.03/078/IX/2011, tanggal 1 September 2011, tentang
pengangkatan Rektor;

Memperhatikan : Hasil Rapat Kerja Senat Institut Sains dan Teknologi Nasional
tanggal 14-15 Nopember 2014

MEMUTUSKAN

Menetapkan : Rencana Strategis (Renstra) Institut Sains dan Teknologi Nasional


2015-2020, yang bunyi ketetapannya sebagai berikut:

Bab I
Pendahuluan
Pasal 1

(1) Landasan Pemikiran


Penyelenggaraan pendidikan tinggi merupakan sebuah ikhtiar mulia untuk
menyiapkan generasi muda agar memiliki akhlak mulia, kompetensi akademik dan
intelektual yang unggul serta membantu mereka tumbuh dan berkembang menjadi
pribadi yang handal dan berdaya saing tinggi di masa depan. Dengan posisi strategis
ini, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) sebagai perguruan tinggi
diharapkan senantiasa mengembangkan diri, menjaga relevansinya bagi kebutuhan
pembangunan nasional, dan meningkatkan kontribusinya bagi kehidupan sosial
secara umum. Dengan demikian, ISTN dituntut agar menyusun berbagai strategi,
program dan kegiatan guna pencapaian tujuan tersebut. Pada puncaknya, ISTN
diharapkan dapat mewujudkan cita-cita dan amanat nasional, yakni Indonesia yang
cerdas, adil, makmur, dan sejahtera. Hal ini selaras dengan tujuan penyelenggaraa

2
ISTN, yaitu: menghasilkan ilmuwan dan ahli di bidang Sains dan Teknologi yang
berperikemanusiaan, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, profesional, kreatif
dan inovatif, berkemampuan manajerial, mandiri, berdaya saing tinggi, berjiwa
kewirausahaan, menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan ikut serta mewujudkan
masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar RI 1945.
Enam puluh empat tahun perjalanan ISTN mengemban mandat dan cita-cita
pendidikan nasional, telah menghadapkan ISTN pada tantangan yang beragam dam
kompleks. Sejak awal berdirinya hingga saat ini, ISTN tetap konsisten
mengembangkan dan menyelenggarakan pendidikan tinggi bidang Sains dan
Teknologi.
Seiring dengan berjalannya waktu, bersamaan dengan dinamika perubahan
paradigma kehidupan yang semakin dinamis, kompleks dan didukung keterbukaan
komunikasi yang mendunia, tantangan yang dihadapi ISTN untuk tetap pada posisi
dan perannya di masyarakat nasional dan global, yang menuntut kepeloporan dalam
perubahan-perubahan yang cerdas dan inovatif. Untuk menjawab tantangan tersebut
diperlukan pandangan yang visioner, didukung kemampuan merumuskan langkah-
langkah strategis. Langkah strategis tersebut dikehendaki menjadi keyakinan
bersama oleh semua pihak yang akan terlibat dalam pelaksanaan menuju pencapaian
visi jangka panjang. Selanjutnya rencana strategis dibuat dengan cermat dan tepat.
Pada awal pertumbuhannya, ISTN dihadapkan pada persoalan dan tantangan skala
nasional, namun kini, era global telah membawa ISTN ke dalam kompetisi dan
kemitraan internasional. Dengan kata lain, bila pada masa sebelumnya ISTN
dihadapkan pada persoalan di dalam skala nasional kini telah berkembang dan
tumbuh dalam spektrum yang melebar ke tingkat global.
ISTN memandang setiap persoalan dan tantangan yang dihadapi, baik dalam skala
nasional maupun internasional, sebagai sumber energi dan motivasi untuk tumbuh
dan berkembang menjadi perguruan tinggi yang sehat dalam segi tata kelola, unggul
dalam segi kompetensi, sekaligus mendorong terciptanya kesejahteraan publik dalam
segi peran dan kontribusi sosialnya. Perubahan lingkup persoalan dan tantangan yang
dihadapi, tentu saja memberikan konsekuensi bagi ISTN; yakni bahwa ISTN tidak
saja diharapkan untuk berperan aktif dan memberikan kontribusinya pada skala
nasional tetapi juga pada skala internasional.
Menghadapi kondisi tersebut ISTN perlu mempersiapkan diri secara mantap dengan
membuat Rencana Strategi (Renstra) untuk mempersiapkan tantangan masa depan.
Rencana strategis merupakan dokumen perencanaan lima tahunan ISTN yang berisi
visi, misi, nilai-nilai, tujuan dan strategi pengembangan yang disusun sesuai dengan
sistematika tertentu, serta berpedoman pada sistem perencanaan dan penganggaran,
serta sumber pendanaan dengan mempertimbangkan aspek aspek internal dan
eksternal yang mempengaruhi dan mungkin akan mempengaruhi keberhasilan
mencapai tujuan yang ditetapkan. Walau Renstra bersifat umum, namun diharapkan
sebagai dasar pijakan dalam penyusunan rencana-rencana strategi pada tingkat
Fakultas, lembaga, Program Studi dan unit kerja lainnya di lingkungan Institut.
Tujuan penyusunan Renstra ini adalah untuk menakar dan memanfaatkan kekuatan
yang ada, sehingga mampu memanfaatkan dan meraih peluang dalam situasi

3
persaingan global. Rencana strategi ini dimaksudkan: (1) Sebagai dasar
pengembangan Institut, Fakultas, Lembaga, Program Studi dan seluruh unit kerja di
lingkungan Institut; (2) Sebagai cermin eksistensi ISTN; (3) Merupakan dasar
evaluasi yang dihadapi untuk pembuatan atau penyempurnaan rencana strategi
selanjutnya; (4) Sebagai skenario realistik yang disusun berdasarkan pengalaman,
kondisi saat ini serta analisis situasi terhadap semua sumber daya dalam proyeksi
lima tahun mendatang, sehingga dapat diimplementasikan untuk menyusun langkah
pengembangan menuju Institut yang handal dan berdaya saing tinggi dalam
menghasilkan lulusan dengan pribadi yang luhur dan tangguh.

(2) Sejarah Singkat


Institut Sains dan Teknologi Nasional yang disingkat ISTN didirikan pada tanggal 5
Desember 1950 dalam bentuk Akademi Teknik Nasional yang disingkat ATN,
diprakarsai oleh Prof. Dr. Ir. R Roosseno dan kawan-kawan, antara lain Ir. Oerip
Djojosantoso dan Ir. Pramoedji. Sebagai Perguruan Tinggi Swasta dalam Bidang
Teknik satu-satunya di Jakarta pada masa itu, ATN bertujuan meningkatkan
kemampuan pengetahuan, wawasan dan kualitas para teknisi menengah Indonesia
supaya dapat mengambil alih kepemimpinan bidang teknik dari para teknisi Belanda.
Sebagai Badan Penyelenggara ATN pada waktu itu adalah Yayasan Akademi Teknik
Nasional, yang dalam perjalanannya kemudian mengintergrasikan pada Yayasan
Perguruan Cikini. Pada saat didirikan ATN mempunyai jurusan Teknik Sipil, Teknik
Mesin dan Teknik Elektro, yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan jumlah
peserta dan setelah melalui tahapan perkembangannya, pemerintah memberikan
kepercayaan penuh kepada ATN dengan memberikan status “Disamakan” seperti
Perguruan Tinggi Negeri, melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia No: 72270/Kab. ATN tanggal 22 Nopember 1955,
dan kepada para lulusannya diberikan gelar “Bachelor of Engineering” yang
disingkat B.E. Dengan semakin banyaknya jumlah lulusan ATN, dan tuntutan
kebutuhan masyarakat akan Sarjana Teknik yang berkualitas, sekaligus untuk
memberi kesempatan bagi para lulusan ATN dalam memperluas pengetahuan mereka
sampai tingkat sarjana, maka pada tanggal 17 Oktober 1964, ATN mengembangkan
dirinya dengan mendirikan Perguruan Tinggi Teknik Nasional yang disingkat PTTN,
yang selanjutnya ATN berubah bentuk menjadi Akademi Teknik Nasional/Perguruan
Tinggi Teknik Nasional yang disingkat ATN/PTTN. Kemudian setelah melewati
pembahasan dan diskusi yang dilakukan, baik intern ATN/PTTN maupun dengan
pemerintah, maka pada tanggal 1 September 1965 nama ATN/PTTN mengalami
perubahan menjadi Akademi Teknik Nasional/Sekolah Tinggi Teknik Nasional yang
disingkat ATN/STTN, dengan program Sarjana Muda (BE) dengan status
“Disamakan”, dan program Sarjana dengan status “Terdaftar”.
Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta kebutuhan pembangunan
pada masa itu, setelah melalui masa evaluasi aktif dari pemerintah, melalui Surat
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No: 013/0/1980 tanggal 29 Januari
1980, ATN diintegrasikan ke dalam STTN, sehingga resmi dengan nama Sekolah
Tinggi Teknik Nasional (STTN). Dalam keputusan itu STTN menyelenggarakan

4
jenjang Sarjana Muda dengan status “Disamakan” dan jenjang Sarjana dengan status
“Diakui”. Pada tahun akademik 1982/1983 STTN membuka Program Studi
Matematika dan Program Studi Fisika, dengan Ijin Operasional No: 01/S/Tahun 1983
tertanggal 7 Juli 1983, kemudian tahun akademik 1983/1984 membuka lagi Program
Studi Arsitektur dan Program Studi Farmasi. Tiga tahun kemudian berdirilah
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam bersamaan dengan perubahan
bentuk dan nama lembaga dari Sekolah Tinggi Teknik Nasional (STTN) menjadi
Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) sesuai dengan Surat Keputusan
Mendikbud No: 0331/0/1985 dan No: 0333/0/1985 tertanggal 27 Juli 1985. Surat
keputusan tersebut disampaikannya bersamaan dengan dengan upacara Wisuda
Sarjana dan Sarjana Muda, pada tanggal 1 Agustus 1985 yang dihadiri oleh
koordinator Kopertis Wilayah III. Pada saat itu Prof. dr. H. Buzra Zahir menyatakan
bahwa STTN telah berubah bentuk dan nama menjadi Institut Sains Teknologi
Nasional yang disingkat ISTN. Program Studi Matematika, Fisika dan Farmasi
berada di bawah naungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, sesuai
dengan perubahan kelembagaan dari bentuk Sekolah Tinggi menjadi Institut,
sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Mendikbud No: 0331/0/1985 dan No:
0333/0/1985 tertanggal 27 Juli 1985. FMIPA-ISTN pada tahun akademik 2000/2001
telah membuka program baru, yaitu program Profesi Apoteker di Jurusan Farmasi
melalui surat Persetujuan Koordinator Kopertis Wilayah III DKI Jakarta No:
948/K.O/IV/2001 tentang Kurikulum operasional Jenjang Pendidikan Program
Profesi Apoteker.
Selanjutnya pada tahun 1998 dan 1999 secara berturut-turut menyelenggarakan
pendidikan Sekolah Pascasarjana, yaitu Magister Teknik Mesin, Magister Teknik
Elektro, dan Magister Teknik Industri, yang penyelenggaraannya dilaksanakan di
kampus Duren Tiga. Kemudian pada tahun 2004 dibuka Program Studi Sistem
Informasi dan Teknik Informatika yang diintergrasikan pada Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, serta Program Studi Arsitektur Lanskap yang
diintegrasikan pada Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.

(3) Visi
Visi Institut Sains dan Teknologi Nasional adalah “Menjadi Institusi Pendidikan
Tinggi Yang Unggul dan Berdaya Saing Tinggi dalam Bidang Sains dan Teknologi,
Berbasis Riset dan Inovasi, di Era Global pada 2025”

(4) Misi
Misi Institut Sains dan Teknologi Nasional adalah:
1) Meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi bidang sains dan
teknologi berbasis riset dan inovasi dalam rangka meningkatkan daya saing
bangsa;
2) Meningkatkan kualitas riset dan inovasi serta melakukan publikasi sebagai upaya
pengembangan sains dan teknologi dengan mengedepankan tata nilai, etika,
norma dan budaya;
3) Meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat sebagai upaya penerapan
dan pengembangan sains dan teknologi berbasis riset unggulan serta inovasi;

5
4) Meningkatkan kualitas tata kelola, profesionalitas, kapabilitas, akuntabilitas dan
kemandirian penyelenggaraan perguruan tinggi.

(5) Tujuan
Tujuan Institut Sains dan Teknologi Nasional adalah:
1) Menghasilkan sumber daya manusia yang cerdas, berakhlak mulia, beretika,
kompeten dan berdaya saing tinggi serta mampu mengembangkan sains dan
teknologi, baik di tingkat nasional maupun internasional berdasarkan moral
agama.
2) Menghasilkan penelitian unggulan dan inovasi yang mendorong pengembangan
sains dan teknologi, dalam skala nasional maupun internasional;
3) Menghasilkan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka membantu
memberdayakan mereka agar mampu menyelesaikan masalah secara cerdas,
mandiri dan berkelanjutan;
4) Mewujudkan kemandirian Institusi yang adaptif, kreatif, proaktif dan berkualitas
terhadap tuntutan perkembangan zaman yang berdampak terhadap kemandirian
dan daya saing bangsa.

(6) Sasaran
Sasaran Institut Sains dan Teknologi Nasional adalah:
1) Meningkatnya kualitas akademik lulusan yang tercermin pada ketepatan
penyelesaian studi, indeks prestasi komulatif dan lama masa tunggu kerja;
2) Terserapnya semua lulusan di dunia kerja dan industri;
3) Termanfaatkannya hasil penelitian ISTN di Masyarakat;
4) Meningkatnya jumlah penelitian yang dihasilkan ISTN;
5) Diperolehnya paten dan Hak Kekayaan Intelektual lainnya oleh para Sivitas
Akademika dan tenaga kependidikan ISTN;
6) Meningkatnya jumlah karya ilmiah yang diterbitkan pada jurnal terakreditasi
tingkat nasional dan internasional;
7) Meningkatnya jumlah kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan
ISTN;
8) Meningkatnya kepercayaan stakeholder terhadap ISTN;
9) Meningkatnya jumlah peminat pada semua program studi;
10) Meningkatnya kualitas sistem informasi manajemen di ISTN;
11) Meningkatnya kesejahteraan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan;
12) Terselenggaranya sistem tata kelola yang kredibel, akuntabel, transparan,
bertanggung jawab dan adil;
13) Tercapainya peningkatan kualitas dan kuantitas sarana-prasarana pendidikan;
14) Tercapainya rasio jumlah tenaga pendidik dan mahasiswa pada semua program
Studi;
15) Meningkatnya kualitas pengelolaan dan pelaksanaan pelaporan PDPT pada setiap
semesternya.

6
(7) Posisi Renstra
Posisi Renstra Institut Sains dan Teknologi Nasional 2015-2020 dengan program
tahunan merupakan satu kesatuan yang utuh sebagaimana ditunjukkan pada gambar-1.

Kondisi Cara mencapai Kondisi


Saat ini Kondisi yang Diharapkan
diharapkan

ISU VISI MISI


STRATEGIS

Analisis Arah
SWOT Pengembangan
ISTN 2015
RENSTRA
ISTN
2015-2020

Strategi
Pengembangan
ISTN TUJUAN
2015-2020
• Strategi
Pendanaan

• Sistem
Penjaminan Mutu PROGRAM- SASARAN Rencana
SUB Kerja dan
PROGRAM Anggaran
• Sistem Monitoring
Tahunan
INDIKATOR
KINERJA DAN
TARGET

Gambar-1: Posisi Renstra ISTN 2015-2020 dan Rencana Kerja dengan


Rencana Anggaran Tahunan

7
BAB II
RANGKUMAN EVALUASI DIRI
Pasal 2

(1) Pengantar Evaluasi Diri


Situasi perguruan tinggi saat ini tidak terlepas dari dinamika kompetisi antar
perguruan tinggi, globalisasi dan lapangan kerja yang menuntut sumber daya manusia yang
berkualitas dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi, sehingga
lulusan perguruan tinggi dapat diterima di dunia kerja. Namun dalam situasi seperti
sekarang ini, akibat situasi krisis ekonomi yang belum berakhir, dan pertumbuhan
perguruan tinggi di Indonesia yang semakin banyak, dan adanya perguruan tinggi asing
yang telah beroperasi di Indonesia, serta adanya perubahan paradigma pendidikan tinggi,
maka dibutuhkan sejumlah agenda untuk melakukan langkah langkah strategis guna
memperkuat beroperasinya perguruan tinggi, sehingga tetap mampu bersaing dengan
perguruan tinggi lain. Untuk maksud tersebut, maka sebelum menetapkan langkah langkah
strategis tersebut dilakukan langkah awal, yaitu melakukan evaluasi diri terhadap institusi,
yang selanjutnya dirumuskan dalam bentuk laporan evaluasi diri.

Rangkuman ini merupakan rangkuman hasil evaluasi diri tingkat Institut, oleh tim
yang dibentuk berdasar keputusan Rektor No: 95/01.1-A/I/2014, dilakukan terhadap semua
kinerja Institut, yang didukung dengan data dan dokumen serta informasi yang
mencerminkan kinerja Institut. Unit-unit tersebut adalah seluruh unit kerja yang ada di
lingkungan Institut, meliputi Biro Akademik, Biro Kemahasiswaan, Biro Keuangan, Biro
Pengembangan Sumber Daya, Perpustakaan, Sekertariat Institut, Lembaga Penelitian dan
Pengabdian kepada Masyarakat, Badan Penjaminan Mutu serta Fakultas dan Program
Studi yang ada di lingkungan Institut. Selain menghimpun data dan informasi dari semua
unit kerja, juga dihimpun data dan informasi dari Mahasiswa, tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan yang tidak menduduki posisi struktural, yang dimanfaatkan untuk
melengkapi informasi dan data yang diperoleh dari jajaran struktural, yang selanjutnya
dihimpun dan diolah oleh tim yang telah dibentuk.

Selanjutnya dengan menggunakan metode analisis SWOT, hasil pengumpulan data


dan informasi tersebut dipakai untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang dan
tantangan yang dihadapi Institut ke depan, kemudian hasil analisis ini dipakai untuk
menetapkan kebijakan pengembangan Institut, dirumuskan dalam bentuk rencana strategis
maupun rencana operasional dalam program kerja tahunan.

(2) Hasil-hasil evaluasi diri meliputi:

1. Memasuki usia yang ke-64 pada tahun 2014, saat ini ISTN bersaing dengan lebih
dari 3.000 perguruan tinggi di seluruh indonesia, yang terdiri sekitar 83 PTN dan
sekitar 2.933 PTS yang tersebar ke seluruh wilayah di Indonesia. Berdasarkan
bentuknya, perguruan tinggi di Indonesia terdiri atas 460 Universitas, 1.306 Sekolah
Tinggi, 162 Politeknik, 54 Institut dan 1.034 akademi. Keberadaan perguruan tinggi
dengan berbagai macam bentuknya telah menyebar ke 33 provinsi dan 300

8
kota/kabupaten seluruh Indonesia. Lima kota yang paling banyak perguruan
tingginya adalah Medan (157 PT), Bandung (130 PT), Makasar (112 PT), Jakarta
Selatan (104 PT), dan Jakarta Timur (94 PT). Sebagai perguruan tinggi swasta di
Jakarta, ISTN saat ini bersaing diantara 328 PTS di seluruh wilayah Jakarta, dan
belum termasuk Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) serta Perguruan Tinggi Asing
(PTA) yang telah masuk ke Indonesia. Dengan demikian, maka situasi ”kompetisi”
antar perguruan tinggi semakin ketat. Misalnya dari aspek input Mahasiswa baru,
rata-rata per tahun jumlah anak kelas III SMA dan SMK sebagai calon Mahasiswa
nampaknya tidak sebanding dengan jumlah perguruan tinggi, baik di tingkat nasional
maupun di tingkat lokal Jakarta. Dari berbagai sumber data, bahwa rata-rata jumlah
siswa-siswi SMA dan SMK kelas tiga adalah sekitar 1.705.000 orang, apabila dibagi
jumlah perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia, yaitu lebih dari 3000
perguruan tinggi, maka tiap perguruan tinggi akan memperoleh Mahasiswa baru tiap
tahun dengan rerata sekitar 500 orang. Dan apabila diambil pada skala lokal Jakarta,
dengan jumlah murid SMA/SMK kelas tiga sekitar 104.500 orang, apabila dibagi
dengan jumlah perguruan tinggi yang ada, maka tiap perguruan tinggi akan
memperoleh Mahasiswa baru dengan rerata sekitar 325 orang. Angka ini akan
berkurang karena adanya sejumlah lulusan SMA/SMK yang tidak bisa melanjutkan
ke perguruan tinggi dengan berbagai alasan, dan jumlahnya diperkirakan di 20 %.
Hal ini nampaknya relevan dengan jumlah Mahasiswa baru reguler yang diterima
ISTN paling tidak dalam lima tahun terakhir, yang cenderung belum maksimal.
Kondisi ini merupakan kondisi yang kurang menguntungkan untuk perguruan tinggi
swasta seperti ISTN, yang setiap tahun menetapkan target penerimaan Mahasiswa
baru sampai 800 orang. Akibat target yang belum tercapai ini, maka jumlah total
Mahasiswa mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan era tahun 1990-
2000. Pada sisi lain, proses pendidikan di ISTN berjalan normal, dan setiap semester
dapat menyelenggarakan wisuda lulusan dengan jumlah rata-rata 250 orang lulusan.
Kondisi ini tentunya kurang menguntungkan, karena sebagai suatu perguruan tinggi
swasta yang seluruh biaya operasionalnya bersumber pada penerimaan uang kuliah
(tuition fee) yang berasal dari Mahasiswa. Berdasarkan perhitungan, Break Even
Point operasional ISTN akan tercapai bila jumlah student-body sekitar 4.500 orang.
Dengan jumlah Mahasiswa baru yang diterima belum mencapai target, sedangkan
jumlah lulusan relatif stabil maka produktivitas lulusan ISTN tidak menurun, tetapi
besarnya student-body ISTN cenderung berkurang sehingga keberadaannya di bawah
tingkat Break Even Pointnya. Kondisi ini harus mendapat perhatian serius, karena
apabila tidak segera dilakukan upaya perbaikan, dikhawatirkan akan semakin
memperburuk kondisi ISTN. Dengan kemampuan beroperasi dalam keadaan yang
"dasar" saja, maka biaya perawatan sarana dan peralatan/laboratorium serta biaya
pengembangan sangat minimal. Apabila hal ini tidak segera dilakukan peningkatan
dan perbaikan, maka secara perlahan dan pasti semua sarana pendidikan akan rusak
atau tak dapat digunakan lagi, yang mengakibatkan proses pendidikan akan sulit
berlangsung. Sehubungan dengan hal itu, maka segera dilakukan upaya memperbaiki
keadaan dengan melakukan evaluasi diri terhadap faktor internal dan eksternal, dan
selanjutnya melakukan langkah-langkah perbaikan secara bertahap dan simultan,

9
meliputi semua aspek yang berhubungan langsung maupun tak langsung yang
diharapkan dapat mempercepat peningkatan jumlah Mahasiswa baru yang masuk,
dan selanjutnya jumlah student body meningkat.
Langkah kongkrit yang telah dilakukan untuk meningkatkan jumlah peminat
sekaligus student body, diantaranya adalah: (1) Mengoptimalkan Direktorat
Pemasaran dan Komunikasi Publik; (2) Melakukan kegiatan pengenalan langsung
kepada calon Mahasiswa, antara lain dengan melakukan presentasi pada sejumlah
SMA dan SMK di kawasan DKI, Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok (Jabodetabek)
dan beberapa kota di luar Jawa; (2) Menyelenggarakan pameran pendidikan di
beberapa tempat, yaitu dengan menampilkan berbagai produk yang telah dihasilkan
ISTN; (3) Memasang iklan pada berbagai media cetak lokal maupun nasional; (4)
Memberikan beasiswa kepada sejumlah lulusan SMA/SMK yang berpotensi
akademik baik tetapi terkendala secara ekonomi pada semua Program Studi; (5)
Memberikan beasiswa penuh pada Program Studi Matematika, Fisika, dan Teknik
Industri; (6) Melakukan kerjasama dengan sejumlah instansi pemerintah dan swasta;
(7) Melakukan kerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi DKI; dan (8)
Melakukan kerjasama dengan beberapa kepala SMA/SMK di wilayah Jabodetabek.
Upaya lain untuk menambah student body juga dilakukan dengan memberikan
kesempatan kepada para karyawan dari berbagai Instansi/perusahaan yang
mempunyai latar belakang pendidikan program Diploma Tiga (D3)/Politeknik dari
berbagai perguruan tinggi untuk melanjutkan ke jenjang S1 pada salah satu Program
Studi yang di ISTN, dengan ketentuan Program Studinya harus sama atau relevan
dengan Program Studi yang ada di ISTN. Oleh karena itu, disamping menerima
Mahasiswa baru dari lulusan SMA/SMK, juga menerima Mahasiswa melanjutkan/
transfer dari mereka yang telah mempunyai latar belakang pendidikan program
Diploma Tiga (D3)/Politeknik dengan Program Studi yang relevan pada Program
Studi yang ada di ISTN. Upaya ofensif ini akan terus dilakukan dengan mengemas
informasi tentang semua Program Studi yang ada di ISTN sehingga dapat
meningkatkan citra positif, yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan jumlah
peminat masuk ke semua Program Studi yang ada di ISTN.
Permasalahan yang dihadapi dalam bidang pemasaran dan komunikasi publik saat ini
antara lain adalah: (1) Belum maksimalnya sosialisasi langsung kepada para siswa-
siswi kelas 3 SMA/SMK pada sejumlah SMA/SMK yang ada di wilayah Jakarta dan
sekitarnya; (2) Terbatasnya dana untuk kegiatan pemasaran dan komunikasi publik;
(3) Belum ”sepahamnya” pemahaman ”belanja dan investasi” dalam bidang
marketing; (4) Belum optimalnya internal marketing di kalangan sivitas akademika;
(5) Belum adanya instrumen marketing secara lengkap; (6) Belum
terimplementasinya perluasan skema penerimaan Mahasiswa baru; (7) Belum
tertibnya administrasi akademik dalam bidang penerimaan Mahasiswa baru; (8)
Belum maksimalnya layanan proses penyetaraan Mahasiswa transfer/pindahan.

2. Sebagai perguruan tinggi swasta, ISTN berupaya menjadi pusat unggulan dan
institusi yang cerdas. Sebagai perguruan tinggi bidang sains dan teknologi, ISTN
selalu berupaya meningkatkan kualitas sivitas akademikanya, antara lain dengan

10
menyelenggarakan kegiatan penelitian, berupaya mengembangkan ilmu
pengetahuan, rekayasa teknologi, kebijakan publik, dan berbagai inovasi yang
berguna bagi bangsa dan Negara. Oleh karena itu, ISTN selalu berupaya bekerja
dalam lingkungan akademik yang sehat dan ditopang oleh kejujuran ilmiah. Sebagai
salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas kegiatan ilmiah telah diupayakan
langkah pencerahan bagi para Dosen dalam menulis artikel ilmiah, menulis buka
ajar, menyusun proposal penelitian, menulis karya ilmiah, menyusun proposal
kegiatan pengabdian kepada masyarakat, menyelenggarakan kegiatan pengabdian
kepada masyarakat, serta kiat mencari dan menelusuri pustaka ilmiah melalui
internet. Untuk memperluas skema pendanaan dalam kegiatan penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat, juga telah dilakukaan sosialisasi berbagai jenis
peluang yang ada untuk memperluas skema pendanaan, antara lain melalui
Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Ditjen Dikti.
Untuk menyalurkan hasil karya tulis ilmiah para Dosen telah diterbitkan pada Jurnal
ilmiah, baik yang diterbitkan di tingkat Institut maupun Program Studi, walaupun
belum semua Program Studi mempunyai jurnal sendiri. Selain dari pada itu, ada
sejumlah Jurnal ilmiah dari perguruan tinggi lain yang merupakan mitra dari Dosen-
Dosen ISTN untuk menerbitkan karya ilmiahnya.
Dalam bidang penelusuran pustaka ilmiah melalui internet juga telah diadakan
fasilitasnya, sehingga layanan informasi dan penelusuran pustaka melalui internet
sudah bisa dilakukan, namun kondisinya masih membutuhkan penguatan
infrastruktur, yang selanjutnya masih membutuhkan kelengkapan sarana dan
prasarana teknologi informasi dan komunikasi.

3. Sebagai suatu perguruan tinggi bidang sains dan teknologi yang sudah cukup
berpengalaman, secara teknis pelaksanaan proses belajar-mengajar saat ini tetap
berjalan cukup baik. Perkuliahan, praktikum dan ujian-ujian berjalan lancar dan
sesuai dengan jadwal kalender akademik. Produktivitas akademik juga cukup baik,
sehingga jumlah lulusannya setiap tahun relatif banya. Secara keseluruhan jumlah
lulusan yang dihasilkan telah lebih dari 30.000 orang dan alumninya yang telah
berkarya di berbagai sektor dan bidang, baik swasta maupun pemerintah, yang
tersebar di walayah nusantara, bahkan manca negara. Para lulusan umumnya
mempunyai masa studi relatif tepat waktu, antara 4-6 tahun, dengan masa tunggu
kerja antara 3-6 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa proses pendidikan di ISTN
berjalan cukup baik dan menghasilkan lulusan yang cukup baik, karena umumnya
lulusan dapat langsung terserap di dunia kerja. Namun demikian ada sejumlah
masalah yang perlu dicermati, yaitu: (1) Tracer study masih menjadi masalah
tersendiri, karena keberadaan semua alumni setiap angkatan hingga tahun 2014
belum terdata secara baik; dan (2) Belum mempunyai Program Studi yang bisa
diunggulkan secara global.

4. Sumber daya yang dimiliki juga cukup memadai, selain mempunyai lahan kampus
yang cukup luas, yaitu sekitar 12 ha, juga mempunyai sarana bangunan gedung dan
peralatan pendidikan yang relatif lengkap, walaupun kondisinya sudah relatif lama,

11
namun didukung tenaga pengajar tetap untuk setiap Program Studi yang cukup,
dengan latar pendidikan rata-rata S2, bahkan dengan kepangkatan akademik yang
memadai. Masalah yang dihadapi saat ini adalah dalam hal: (1) Perawatan dan
perbaikan aset keseluruhan sering terkendala dengan terbatasnya tenaga maupun
dana; (2) Kondisi peralatan pembelajaran yang relatif lama; (3) Kondisi peralatan
laboratorium yang relatif lama; (4) Terkendalanya pengadaan peralatan laboratorium
dan pembelajaran; (5) Kaderisasi dan pembinaan tenaga pendidik pada masing-
masing Program Studi belum berlangsung; (6) Kaderisasi dan pembinaan tenaga
kependidikan sesuai kompetensi (administrasi, laboran, teknisi, pustakawan, auditor,
programer, akutansi, sekurity, toolman, operator) belum berjalan.

5. Sebagai bentuk upaya meningkatkan mutu pendidikan, telah dilakukan pelaksanaan


penjaminan mutu akademik, dengan dibentuknya unit Badan Penjaminan Mutu
Internal (BPMI) yang langsung dibawah Rektor. Sejumlah kebijakan, pedoman,
panduan, peraturan yang berhubungan dengan pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu
di lingkungan Institut telah dibuat, dan dilengkapi dengan sejumlah Prosedur Operasi
Standar (POS). Selain itu, telah dilakukan beberapa kali lokakarya dalam
pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal, serta rapat koordinasi dalam bidang
Sistem Penjaminan Mutu Internal. Namun demikian, untuk dapat melaksanakan
sistem penjaminan mutu secara baik dan benar, masih harus dilakukan
penyempurnaannya, antara lain berbagai bentuk kegiatan dan sosialisasi internal
dengan maksud: (1) Berfungsinya sistem penjaminan mutu yang efektif, efisien dan
produktif, (2) Berfungsinya kebijakan dan sasaran mutu penyelenggaraan pendidikan
tinggi, (3) Berfungsinya sistem rekaman data yang diolah menjadi informasi untuk
memungkinkan pelacakan kembali data dan informasi yang diperlukan serta
memberikan peringatan dini kepada pihak yang melakukan tindakan perbaikan; (4)
Terbangunnya sistem dan budaya mutu di kalangan sivitas akademika Institut; (5)
Terselenggaranya monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaan pendidikan di
lingkungan Institut.

6. Dari hasil evaluasi diri terhadap kapasitas institusi ini, proses pembelajaran dan mutu
layanan telah diidentifikasi permasalahan yang dihadapi ISTN yaitu: (1) Kondisi
bangunan yang relatif lama yang membutuhkan peremajaan, perawatan dan penataan
lansekap, (2) Masih lemahnya pelaksanaan manajemen keuangan dan manajemen
sumberdaya, (3) Masih terbatasnya fasilitas dan sarana pembelajaran modern, (4)
Masih terbatasnya SDM yang menguasai implementasi KBK, (5) Keberadaan sarana
laboratorium yang sudah cukup lama, sehingga akurasinya tidak maksimal (6) Masih
terbatasnya sarana prasarana teknologi informasi dan komunikasi, (7) Belum
optimalnya kaderisasi tenaga pendidik dan kependidikan, (8) Suasana akademik yang
harus ditingkatkan, (9) Belum mempunyai Program Studi yang diunggulkan secara
nasional, (10) Masih rendahnya produktivitas dalam kegiatan penelitian, dan (11)
Belum berjalannya sistem penjaminan mutu secara efektif.

12
7. Dari hasil evaluasi diri terhadap peningkatan mutu, relevansi dan efisiensi Program
Studi diidentifikasi permasalahan yaitu dengan telah tersusunnya kurikulum 2012
pada semua Program Studi, didapat sejumlah masalah antara lain: (1) Masih
dibutuhkan langkah sosialisasi ke semua stakeholder, serta diperlukannya langkah
strategis lebih lanjut untuk memantapkan pelaksanaan KBK, (2) Terbatasnya jumlah
Dosen yang berwawasan SCL, (3) Terbatasnya sarana prasarana pendukung SCL,
meliputi media pembelajaran dan kepustakaan.

8. Dalam hal tata kelola organisasi telah terbentuk dan mampu berfungsi khususnya
dalam pendistribusian pekerjaan ke dalam unit dan staf yang telah ditunjuk sesuai
tugas pokok dan fungsinya, sehingga semua roda organisasi berputar secara sinergi
dan kompak menurut ”firing order” yang telah ditetapkan. Namun dengan adanya
paradigma baru pengelolaan perguruan tinggi, dalam implementasinya banyak
simpul yang sering kali timbul kendala akibat kurang pahamnya pejabat yang
ditunjuk karena adanya perkembangan organisasi. Selain itu masalah pengarsipan
dan pelaporan masih memerlukan perhatian, sehingga bila terjadi penggantian
pejabat struktural tidak akan terjadi stagnasi, dimana pejabat yang baru tidak perlu
lama dalam melakakukan penyesuaian dan mempelajari keberadaan unitnya.
Dengan demikian permasalahan utama yang ditemui dalam hal organisasi dan tata
kerja adalah: (1) Fungsi-fungsi manajemen berupa perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, pengendalian/pengawasan/pembinaan dan evaluasi untuk mencapai
tujuan dan sasaran belum berjalan secara optimal; (2) Pemahaman tentang Tugas
Pokok dan Fungsi dari pejabat struktural dan unit kerja perlu ditingkatkan dan
dikembangkan; (3) Sistem informasi manajemen, termasuk pencatatan dan pelaporan
dalam penyelenggaraan aktivitas, baik secara akademik maupun administrasi belum
terselenggara dengan optimal; (4) Belum sempurnanya pelaksanaan Sistem Tata
Kelola dan Organisasi sebagai tindak lanjut diberlakukannya STATUTA 2011 yang
memerlukan penjabaran dalam implementasinya; (5) Masih lemahnya pelaksanaan
manajemen sumberdaya; dan (6) Belum berjalannya sistem penjaminan mutu secara
efektif.

9. Akreditasi merupakan salah satu bentuk penilaian (evaluasi) mutu dan kelayakan
institusi perguruan tinggi atau Program Studi yang dilakukan oleh organisasi atau
badan mandiri di luar perguruan tinggi. Bentuk penilaian mutu eksternal yang lain
adalah penilaian yang berkaitan dengan akuntabilitas, pemberian izin, pemberian
lisensi oleh badan tertentu.
Berbeda dari bentuk penilaian mutu lainnya, akreditasi dilakukan oleh pakar sejawat
dan mereka yang memahami hakikat pengelolaan perguruan tinggi sebagai Tim atau
Kelompok Asesor. Keputusan mengenai mutu didasarkan pada penilaian terhadap
berbagai bukti yang terkait dengan standar yang ditetapkan dan berdasarkan nalar
dan pertimbangan para pakar sejawat (judgments of informed experts). Akreditasi
merupakan suatu proses dan hasil. Sebagai proses, akreditasi merupakan suatu upaya

13
BAN-PT untuk menilai dan menentukan status mutu institusi perguruan tinggi atau
Program Studi berdasarkan standar mutu yang telah ditetapkan. Sebagai hasil,
akreditasi merupakan status mutu perguruan tinggi yang diumumkan kepada
masyarakat. Dengan demikian, tujuan dan manfaat akreditasi institusi perguruan
tinggi dan Program Studi adalah: (1) Memberikan jaminan bahwa institusi perguruan
tinggi atau program yang terakreditasi telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan
oleh BAN-PT, sehingga mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat dari
penyelenggaraan perguruan tinggi yang tidak memenuhi standar; (2) Mendorong
perguruan tinggi atau Program Studi untuk terus menerus melakukan perbaikan dan
mempertahankan mutu yang tinggi.
Dalam hal akreditasi Program Studi dan Institusi, secara umum masing-masing
Program Studi di lingkungan Institut telah terakreditasi yang kondisinya ditunjukkan
pada tabel-1.

Tabel-1: Perkembangan Status Akreditasi Program Studi dan Institusi


Program Peringkat Akreditasi
No Program Keterangan Catatan
Studi Sebelumnya Saat ini
1 Teknik Magister - - - C SK BAN-PT No: Berlaku sampai
Mesin 005/BAN-PT/Ak- 24-06-2015
VIII/S2/VI/
2010
Sarjana A B B B SK BAN-PT No: Berlaku sampai dengan
372/SK/BAN- 20 September 2019
PT/Akred/S/IX/
2014
Diploma A B B B SK BAN-PT No: Berlaku sampai dengan
278/SK/BAN- 15 Agustus 2019
PT/Akred/Dipl-
III/VIII/2014, tgl
16 Agustus 2014
2 Teknik Magister - - - C SK BAN-PT No: Berlaku s.d 16-09-2014,
Elektro 011/BAN-PT/Ak- sudah mengajukan
VIII/S2/IX/ Reakreditasi sesuai tanda
2009 terima dari BAN-PT
No:252/217/304/2014
sedang menunggu
visitasi
Sarjana B A B SK BAN-PT No: Berlaku s.d 16-09-2014,
028/BAN-PT/Ak- sudah mengajukan
XII/S1/IX/2009 Reakreditasi sesuai tanda
terima dari BAN-PT
No:252/217/304/2014
sedang menunggu
visitasi
Diploma B B C B SK BAN-PT Berlaku sampai dengan
No:151/SK/BAN- 27 Mei 2019,
PT/Akred/Dpl-
III/V/2014, tgl 28
Mei 2014, berlaku

14
5 tahun
3 Teknik Magister - - - C SK BAN-PT 12-07-2017
Industri No: 008/BAN-
PT/Ak-
VIII/S2/VII/2012
Sarjana - - - C SK BAN-PT Sudah mengajukan
No: 011/BAN- Reakreditasi, sedang
PT/Ak- menunggu visitasi, tanda
XII/S1/V/2009 terima tanggal 19-6-2014

Program Peringkat Akreditasi


No Program Keterangan Catatan
Studi Sebelumnya Saat ini
4 Teknik Sarjana B A B B SK BAN-PT Berlaku sampai dengan
Sipil No: 006/BAN- 30-04-2014
PT/Ak-
XII/S1/IV/2009
Diploma B B C C Sudah divisitasi, tinggal
menunggu hasil
Akreditasi
5 Arsitektur Sarjana B A B B SK BAN-PT Berlaku sampai
No:005/BAN- 4-06-2015
PT/Ak-
XIII/S1/VI/2010
6 Arsitektur Sarjana - - - C SK BAN-PT Berlaku sampai dengan
Lanskap No:145/SK/BAN 22 Mei 2019
PT/Akred/S/V/20
14, tanggal 23
Mei 2014
7 Farmasi Sarjana B B B B SK BAN-PT Berlaku sampai
No:005/BAN- 4-06-2015
PT/Ak-III/S1/VI/
2010
8 Matemati Sarjana C C C C SK BAN-PT Berlaku sampai
ka No:004/BAN- 27-05-2015
PT/Ak-
XIII/S1/V/2010
9 Fisika Sarjana B C C C SK BAN-PT Sudah divisitasi, tinggal
No:006/BAN- menunggu hasil
PT/Ak- Akreditasi
XII/S1/IV/2009
10 Sistem Sarjana - - C C SK BAN-PT Berlaku sampai dengan
Informasi No:280/SK/BAN 15 Agustus 2019
PT/Akred/S/VIII/
2014, tanggal 16
Agustus 2014
11 Teknik Sarjana - - C C SK BAN-PT Berlaku sampai dengan
Informati No:280/SK/BAN 15 Agustus 2019
ka PT/Akred/S/VIII/
2014, tanggal 16
Agustus 2014
12 Apoteker Profesi - - - C Sesuai surat Telah divisitasi tanggal
edaran Dirjend. 12-14 Oktober 2014, dan

15
Pendidikan saat ini sedang
Tinggi menunggu hasil
No:160/E/AK/20 Akreditasi
13, tgl 1-3- 2013
13 Institusi Institusi - - - - Terakreditasi Sudah mengajukan
sesuai surat Akreditasi, sedang
edaran Dikti menunggu visitasi, tanda
terima tanggal 21-7-2014

10. Dalam hal lulusan, berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan terhadap lulusan
dalam kurun waktu lima tahun tahun terakhir, rata-rata Indeks Prestasi komulatif
lulusan adalah 2,92, yang distribusinya dikelompokan IPK (2,0-2,5), IPK (2,5–3,0)
dan IPK > 3,0 yang secara keseluruhan ditunjukkan pada tabel-2. Kondisi ini
dirasakan belumlah maksimal, karena masih banyak lulusan yang mempunyai IPK
kurang dari 3, sehingga beberapa diantara mereka tersisih secara administrasi apabila
dipersyaratkan seorang pelamar kerja harus mempunyai IPK minimal 3. Namun
beruntung karena ada banyak perusahaan mensyaratkan IPK di bawah 3, yaitu
hingga 2,5. Oleh karena itu, upaya meningkatkan IPK lulusan pada tahun mendatang
merupakan program prioritas bagi ISTN.

Tabel-2: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan

11. Kesiapan lulusan untuk memasuki dunia kerja cukup baik dan dapat dengan relatif
mudah mendapatkan pekerjaan, karena waktu tunggu kerja lulusan untuk
mendapatkan pekerjaan rata-rata adalah kurang dari 6 bulan, dengan bekal
pengetahuan dan kemampuan lulusan seperti IPK lulusan yang memenuhi
persyaratan rata-rata 2,92 merupakan bekal yang cukup baik untuk memasuki dunia
kerja/industri yang kompetitif. Namun demikian apabila dilihat secara keseluruhan,
yaitu ada sekelompok lulusan yang mempunyai masa tunggu kerja < 6 bulan, ada
sekelompok lulusan yang mempunyai masa tunggu kerja (6-9) bulan, dan ada
sekelompok lulusan yang mempunyai masa tunggu kerja < 12 bulan.

12. Keaktifan Mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran pada periode 5 tahun
terakhir relatif baik, yaitu dengan lama studi rata-rata 5 tahun, sedangkan batas masa
studi yang dialokasikan untuk Mahasiswa program S1 adalah antara 8 sampai 14
semester atau 4 sampai 7 tahun. Lama studi juga dipengaruhi oleh lama penyelesaian

16
tugas akhir, yang menurut kurikulum masing masing Program Studi diprogramkan
selesai dalam 1 (satu) semester. Namun karena berbagai faktor, maka beberapa
diantaranya menyelesaikan lebih dari satu semester. Dalam 5 tahun terakhir masa
penyelesaian tugas akhir mempunyai kecenderungan lebih cepat, yaitu sekitar 1,2
semester atau kurang lebih 7-8 bulan.

13. Tracer study dalam 5 (lima) tahun terakhir pada tingkat Program Studi menunjukkan
profil yang tidak terlalu jauh berbeda. Pada Program Studi Teknik Sipil (SP-1)
menunjukkan IPK rata rata adalah 2,96, yang dikelompokkan antara IPK (2,0-2,5),
IPK (2,5-3,0) dan IPK (>3,0), yang secara kesluruhan ditunjukkan pada tabel-3.
Kondisi ini belum maksimal dan masih harus ditingkatkan supaya lebih meningkat
lagi, karena masih banyak lulusan yang IPK berada dibawah 3,0. Walaupun terlihat
bahwa ada kecenderungan kenaikan rata-rata IPK dalam lima tahun terakhir.
Sedangkan masa tunggu kerjanya bervariasi antara kurang dari 6 bulan, antara 6-9
bulan, dan kurang dari 12 bulan. Sedangkan lama penyelesaian tugas akhirnya
berkisar antara kurang dari satu semester, antara (1-2) semester, dan antara (2-3)
semester, adapun masa studinya bervariasi antara kurang dari 4,5 tahun, antara (4,5-
5) tahun, dan antara (5-7) tahun.

Tabel-3: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan Teknik Sipil S1

Pada Program Studi Arsitektur (AR-1) menunjukkan IPK rata rata lulusan adalah
2,82, yang dikelompokkan antara IPK (2,0-2,5), IPK (2,5-3,0) dan IPK (>3,0), yang
secara kesluruhan ditunjukkan pada tabel-4. Kondisi ini belum juga belum maksimal
dan masih harus ditingkatkan supaya lebih meningkat lagi, karena masih banyak
lulusan dengan IPK berada dibawah 3,0. Sebagaimana pada Program Studi SP-1,
pada Program Studi AR-1 juga terlihat ada kecenderungan kenaikan rata rata IPK
dalam lima tahun terakhir. Sedangkan masa tunggu kerjanya bervariasi antara kurang
dari 6 bulan, antara 6-9 bulan, dan kurang dari 12 bulan. Sedangkan lama
penyelesaian tugas akhirnya berkisar antara kurang dari satu semester, antara (1-2)
semester, dan antara (2-3) semester, adapun masa studinya bervariasi antara kurang
dari 4,5 tahun, antara (4,5-5) tahun, dan antara (5-7) tahun. Dalam hal masa studi,
masa studi lulusan masih dominan antara 5-7 tahun, oleh karena itu program

17
pengembangannya harus mampu mengakselerasi penyelesaian studi menjadi kurang
dari lima tahun.

Tabel-4: Indeks Prestasi komulatif rata-rata lulusan Arsitektur

Sedangkan pada Program Studi Mesin (MS-1) menunjukkan IPK rata rata lulusan
adalah 2,86, yang dikelompokkan antara IPK (2,0-2,5), IPK (2,5-3,0) dan IPK (>3,0),
yang secara keseluruhan ditunjukkan pada tabel-5. Walaupun kondisinya relatif lebih
baik dibandingkan SP-1 dan AR-1, namun juga belum maksimal dan masih harus
ditingkatkan supaya lebih meningkat lagi, karena masih banyak lulusan yang IPKnya
berada di bawah 3,0. Masa tunggu kerjanya juga bervariasi antara kurang dari 6
bulan, antara 6-9 bulan, dan kurang dari 12 bulan. Sedangkan lama penyelesaian
tugas akhirnya berkisar antara kurang dari satu semester, antara (1-2) semester, dan
antara (2-3) semester, adapun masa studinya bervariasi antara kurang dari 4,5 tahun,
antara (4,5-5) tahun, dan antara (5-7) tahun.

Tabel-5: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan Teknik Mesin S1

Pada Program Studi Teknik Elektro (EL-1) menunjukkan IPK rata rata lulusan adalah
3,0, yang dikelompokkan antara IPK (2,0-2,5), IPK (2,5-3,0) dan IPK (>3,0), yang
secara keseluruhan ditunjukkan pada tabel-6. Kondisi ini masih harus ditingkatkan
supaya lebih meningkat lagi, karena masih banyak lulusan yang IPKnya berada di
bawah 3,0. Walaupun terlihat ada kecenderungan kenaikan rata rata IPK dalam lima
tahun terakhir. Sedangkan masa tunggu kerjanya bervariasi antara kurang dari 6
bulan, antara 6-9 bulan, dan kurang dari 12 bulan. Sedangkan lama penyelesaian
tugas akhirnya berkisar antara kurang dari satu semester, antara (1-2) semester, dan

18
antara (2-3) semester, adapun masa studinya bervariasi antara kurang dari 4,5 tahun,
antara (4,5-5) tahun, dan antara (5-7) tahun.

Tabel-6: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan prodi Elektro S1

Pada Program Studi Farmasi (FA-1) menunjukkan IPK rata rata lulusan adalah 2,7,
yang dikelompokkan antara IPK (2,0-2,5), IPK (2,5-3,0) dan IPK (>3,0), yang secara
keseluruhan ditunjukkan pada tabel-7. Kondisi ini juga belum maksimal karena
masih ada banyak lulusan yang IPKnya berada di bawah 3,0, oleh karena masih harus
dilakukan langkah pengembangan untuk meningkatkan indeks prestasi komulatif
lulusan, walaupun sudah ada kecenderungan kenaikan rata rata IPK dalam lima tahun
terakhir. Sedangkan masa tunggu kerjanya bervariasi antara kurang dari 6 bulan,
antara 6-9 bulan, dan kurang dari 12 bulan, dengan lama penyelesaian tugas akhirnya
berkisar antara kurang dari satu semester, antara (1-2) semester, dan antara (2-3)
semester, adapun masa studinya bervariasi antara kurang dari 4,5 tahun, antara (4,5-
5) tahun, dan antara (5-7) tahun.

Tabel-7: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan prodi Farmasi

Pada Program Studi Matematika (MA-1) menunjukkan IPK rata rata lulusan adalah
3,4 yang dikelompokkan antara IPK (2,0-2,5), IPK (2,5-3,0) dan IPK (>3,0), yang
secara keseluruhan ditunjukkan pada tabel-8. Kondisi ini sangat memuaskan, karena
Indeks Prestasi rata-rata sudah diatas 3, walupun jumlah lulusannya masih sangat
sedikit. Hal ini disebabkan karena jumlah student body secara keseluruhan masih
relatif sedikit. Adapun masa tunggu kerjanya relatif singkat, yaitu kurang dari 6

19
bulan, dengan lama penyelesaian tugas akhirnya adalah satu semester, adapun masa
studinya kurang dari 4,5 tahun.

Tabel-8: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan prodi Matematika

Pada Program Studi Fisika (FI-1) menunjukkan IPK rata rata lulusan adalah 3,2 yang
dikelompokkan antara IPK (2,0-2,5), IPK (2,5-3,0) dan IPK (>3,0), yang secara
keseluruhan ditunjukkan pada tabel-9. Kondisi ini sangat memuaskan, karena Indeks
Prestasi rata-rata sudah di atas 3, walaupun jumlah lulusannya masih sangat sedikit.
Hal ini disebabkan karena jumlah student body secara keseluruhan masih relatif
sedikit. Adapun masa tunggu kerjanya relatif singkat, yaitu kurang dari 6 bulan,
dengan lama penyelesaian tugas akhirnya adalah satu semester, adapun masa
studinya kurang dari 4,5 tahun.

Tabel-9: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan prodi Fisika

Pada Program Studi Teknik Sipil program D3 (SP-D3) menunjukkan IPK rata rata
lulusan adalah 2,9 yang dikelompokkan antara IPK (2,0-2,5), IPK (2,5-3,0) dan IPK
(>3,0), yang secara keseluruhan ditunjukkan pada tabel-10. Secara proses akademik
telah berjalan cukup baik, namun karena jumlah Mahasiswanya relatif sedikit, maka
jumlah lulusannya juga sangat sedikit, walaupun jumlah peminat terhadap lulusannya
masih cukup banyak, yang ditandai dengan masa tunggu kerjanya relatif singkat,

20
yaitu kurang dari 3 bulan, dengan lama penyelesaian tugas akhirnya adalah satu
semester, adapun masa studinya kurang dari 3,5 tahun.

Tabel-10: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan prodi Teknik Sipil D3

Pada Program Studi Teknik Mesin program D3 (MS-D3) menunjukkan IPK rata rata
lulusan adalah 2,9 yang dikelompokkan antara IPK (2,0-2,5), IPK (2,5-3,0) dan IPK
(>3,0), yang secara keseluruhan ditunjukkan pada tabel-11. Kondisi ini juga belum
maksimal karena masih ada banyak lulusan yang IPKnya berada di bawah 3, oleh
karena itu masih harus dilakukan langkah pengembangan untuk meningkatkan indeks
prestasi komulatif lulusan, selain harus meningkatkan pemasaran dan marketing
sehingga jumlah Mahasiswa terus meningkat. Sedangkan masa tunggu kerjanya
bervariasi antara antara 3-6 bulan, dengan lama penyelesaian tugas akhirnya berkisar
antara (1-2) semester, adapun masa studinya bervariasi antara kurang dari 4 tahun.

Tabel-11: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan prodi Teknik Mesin D3

Pada Program Studi Teknik Elektro program D3 (EL-D3) menunjukkan IPK rata rata
lulusan adalah 3,02 yang dikelompokkan antara IPK (2,0-2,5), IPK (2,5-3,0) dan IPK
(>3,0), yang secara keseluruhan ditunjukkan pada tabel-12. Kondisi ini cukup
maksimal, namun masih harus ditingkatkan sehingga IPK lulusan bisa dipertahankan
terus diatas 3. Selain itu, jumlah student body harus tetap diupayakan sehingga
jumlahnya terus meningkat dengan meningkatkan pemasaran dan marketing sehingga

21
jumlah Mahasiswa terus meningkat. Sedangkan masa tunggu kerjanya bervariasi
antara antara 3-6 bulan, dengan lama penyelesaian tugas akhirnya berkisar antara (1-
2) semester, adapun masa studinya bervariasi antara kurang dari 4 tahun.

Tabel-12: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan prodi Teknik Elektro D3

Pada Program Studi Teknik Industri(TI-1) menunjukkan IPK rata rata lulusan adalah
3,22, yang dikelompokkan antara IPK (2,0-2,5), IPK (2,5-3,0) dan IPK (>3,0), yang
secara keseluruhan ditunjukkan pada tabel-13. Kondisi ini cukup maksimal karena
lulusan yang IPKnya berada di atas 3,0, namun harus terus melakukan langkah
pengembangan untuk mempertahankan indeks prestasi komulatif lulusan tetap diatas
3,0. Sedangkan masa tunggu kerjanya bervariasi antara kurang dari 6 bulan, dan
antara 6-9 bulan, dengan lama penyelesaian tugas akhirnya berkisar antara antara (1-
2) semester, adapun masa studinya antara (4,5-5) tahun.

Tabel-13: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan prodi Teknik Industri

Pada Program Studi Sistim Informasi (SI-1) menunjukkan IPK rata rata lulusan
adalah 3,3 yang secara keseluruhan ditunjukkan pada tabel-14. Kondisi ini cukup
maksimal karena lulusan yang IPKnya berada di atas 3,0, namun harus terus
melakukan langkah pengembangan untuk mempertahankan indeks prestasi komulatif
lulusan tetap diatas 3,0. Selain itu, jumlah student body harus tetap diupayakan
sehingga jumlahnya terus meningkat dengan meningkatkan pemasaran dan marketing
sehingga jumlah Mahasiswa terus meningkat. Sedangkan masa tunggu kerjanya

22
bervariasi antara kurang dari 6 bulan, dan antara 6-9 bulan, dengan lama
penyelesaian tugas akhirnya berkisar antara antara (1-2) semester, adapun masa
studinya antara (4,5-5) tahun.

Tabel-14: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan prodi Sistim Informasi

Pada Program Studi Teknik Informatika (TIF-1) menunjukkan IPK rata rata lulusan
adalah 3,5 yang secara keseluruhan ditunjukkan pada tabel-15. Kondisi ini cukup
maksimal karena lulusan yang IPKnya berada di atas 3,0, namun harus terus
melakukan langkah pengembangan untuk mempertahankan indeks prestasi komulatif
lulusan tetap diatas 3,0. Selain itu, jumlah student body harus tetap diupayakan
sehingga jumlahnya terus meningkat dengan meningkatkan pemasaran dan marketing
sehingga jumlah Mahasiswa terus meningkat. Sedangkan masa tunggu kerjanya
bervariasi antara kurang dari 6 bulan, dan antara 6-9 bulan, dengan lama
penyelesaian tugas akhirnya berkisar antara antara (1-2) semester, adapun masa
studinya antara (4,5-5) tahun.

Tabel-15: Indeks Prestasi Komulatif rata-rata lulusan prodi Teknik Informatika

14. Analisis lebih lanjut dari semua Program Studi menunjukkan bahwa lulusan yang
cepat bekerja (masa tunggu kerja kurang dari 6 bulan) adalah yang mempunyai IPK
rata rata di atas 2,75, dan mempunyai kemampuan bahasa Inggris cukup baik (dengan
nilai mata kuliah bahasa Inggris A atau B), walaupun hingga semester genap belum
dilakukan test TOEFL secara melembaga. Disamping itu, secara umum lulusan ISTN

23
dari semua Program Studi mempunyai standard gaji pertama yang relatif baik yaitu
antara (2-2,5) juta. Mekanisme atau sistem yang dibuat khusus bagi pelacakan
lulusan belum terstruktur, meskipun dari fakta yang ada diketahui banyak lulusan
yang sudah menempati beberapa posisi dalam pekerjaannya, baik di pemerintahan,
swasta maupun mandiri. Oleh karena itu, hal ini perlu penanganan yang lebih serius,
karena keberadaan, peran dan fungsi alumni merupakan kekuatan tersendiri yang
perlu didayagunakan untuk kemajuan dan pengembangan ISTN.
Upaya pelacakan alumni telah dilakukan melalui www.ini-istn.org dan “milis”
istn@ac.id, serta berbagai kegiatan dalam bentuk reuni akbar, temu kangen, back to
campus, reuni angkatan, sarasehan, dan halal bil’halal seluruh civitas academika dan
alumni. Upaya pelacakan melalui media tersebut dilakukan dengan cara wawancara,
kuisioner dan angket yang sekaligus dimanfaatkan sebagai tracer study dan umpan
balik bagi Institut. Berdasar hasil pelacakan tersebut, maka pada umumnya mereka
bekerja sesuai dengan kompetensinya. Sebagian besar lulusan menyatakan
memperoleh training mengenai lingkungan kerja, produksi, manajemen, membuat
dan presentasi laporan, serta menyatakan cukup mudah menyesuaikan diri dengan
lingkungan kerja dan berinteraksi dengan sesama rekan kerja maupun pimpinan.
Instansi tempat mereka bekerja cukup bervariasi, ada yang di perusahaan swasta,
BUMN, Perbankan, Konsultan, Pegawai Negeri Sipil, Dosen, Peneliti, Perusahaan
asing, wirausaha, bahkan ada yang sebagai Politisi (anggota DPR atau DPRD),
Birokrasi, dan Artis. Lokasi tempat mereka bekerjapun sangat beragam, dan tersebar
di seluruh Indonesia (dari Sabang sampai Merauke) bahkan hingga manca negara.
Variasi bidang kerja dari para lulusan sangat dimungkinkan, karena pada masing
masing Program Studi diberikan mata kuliah Pengembangan Kepribadian yang terdiri
dari Etika, Kewirausahaan/Technopreunership, Leadership, Agama, Bahasa Inggris,
Bahasa Indonesia dan Kewarganegaraan. Disamping itu, kepada para lulusan juga
diberikan pelatihan mengenai penyusunan anggaran dan estimasi biaya, pelatihan soft
skills, dan pelatihan presentasi.
Disamping memasuki dunia kerja, ada juga lulusan ISTN yang meneruskan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu menempuh jenjang S2 maupun S3,
baik di dalam maupun di luar negeri. Permasalahan utama yang ditemukan dalam
pelacakan lulusan adalah kurangnya penguasaan keterampilan teknis, penguasaan
teknologi baru, kurangnya soft skill, keterampilan manajemen, kewirausahaan, dan
bahasa Inggris.

15. Dalam penyelenggaraan Sekolah Pascasarjana Magister Teknik Mesin, Teknik


Elektro, dan Teknik Industri, eksistensinya cukup baik. Berbagai kerja sama telah
dilakukan, antara lain dengan hampir semua Politeknik Negeri yang ada di Sumatera
yang mengirimkan tenaga pendidiknya untuk menempuh studi lanjut program
Magister di ISTN. Kerjasama lain yang juga dilakukan adalah dengan berbagai
instansi pemerintah dan swasta yang mengirimkan stafnya untuk menempuh studi
lanjut pada program Magister di ISTN. Oleh karena itu, dalam hal masa tunggu kerja,
maka para lulusan Magister Teknik ISTN tidak mengalami masalah, karena mereka
sudah mempunyai pekerjaan sebelum lulus Magister Teknik. Dalam hal indeks

24
prestasi, lulusan program Magister Teknik ISTN umumnya mempunyai Indeks
Prestasi diatas 3,0. Oleh karena itu, para lulusan yang berstatus sebagai tenaga
pendidik umumnya langsung mengikuti seleki sertifikasi dosen, dan umumnya lulus
program sertifikasi.
16. Dalam hal penyelenggaraan program Profesi Apoteker, jumlah peminatnya
cenderung meningkat setiap semesternya. Penerimaan mahasiswa baru dilakukan
setiap semester, dan peminatnya terus meningkat. Mereka berasal dari berbagai
wilayah, yaitu selain Jakarta dan sekitarnya, juga berasal dari Lampung, Makasar,
Medan, Kalimantan, Papua, dan berbagai kota di Jawa. Proses pendidikan
berlangsung dua semester, semester diselenggarakan dalam bentuk tatap muka
perkuliahan, dan semester kedua dalam bentuk praktek kerja lapangan di Industri,
Apotek dan Rumah Sakit. Untuk menyelenggarakan praktek kerja lapangan, Fakultas
telah berhasil membangun kerja sama dengan berbagai Rumah Sakit, Apotek dan
Industri Obat di Jakarta dan sekitarnya. Lulusan program profesi Apoteker
mempunyai masa tunggu kerja kurang dari tiga bulan, dan mereka bekerja di Apotek,
Industri Obat, konsultan, dan Apotek.

17. Keberadaan Mahasiswa ISTN secara keseluruhan berasal dari seluruh propinsi di
Indonesia walaupun distribusinya belum merata. Apabila dilihat dari distribusi
jumlah Mahasiswa berdasarkan asal provinsi, pada maka Jakarta dan Jawa Barat
merupakan provinsi yang mengirimkan Mahasiswa baru cukup banyak, sedangkan
dari provinsi lain di Indonesia diharapkan mulai tahun 2014 dapat ”mengirimkan”
lebih banyak. Oleh karena itu upaya peningkatan intensitas dan kualitas promosi
tentang ISTN harus lebih ofensif dan ekspansi ke berbagai provinsi yang ada di
Indonesia.
Berdasarkan hasil umpan balik yang didapat dari bagian penerimaan Mahasiswa
baru, diperoleh informasi bahwa calon Mahasiswa baru masuk ke ISTN umumnya
mengenal ISTN dari kerabat, keluarga, kakak kelas, kunjungan ke sekolah, teman
serta informasi dari media cetak.
Oleh karena itu, kegiatan soft marketing harus ditingkatkan pada tahun 2014, dalam
bentuk: (1) Program internal marketing sehingga semua anggota sivitas akademika
mampu menyuarakan secara positif keberadaan ISTN; (2) Peran dan eksistensi
lulusan di masyarakat dan dunia kerja harus dimaksimalkan supaya dapat menjadi
pertimbangan calon Mahasiswa baru; (3) Publikasi ilmiah dari hasil kegiatan
penelitian dan pengabdian masyarakat dalam rangka memecahkan isue sosial
masyarakat harus ditingkatkan, sehingga mampu meningkatkan image yang kuat di
masyarakat.
Upaya lain untuk meningkatkan minat calon Mahasiswa memilih Program Studi di
ISTN antara lain dengan memberikan stimulan dalam bentuk keringanan biaya
dan/atau bea siswa. Bantuan stimulan tersebut didapat dari berbagai sumber seperti,
Kopertis wilayah III, Dikti, Dinas Pendidikan Provinsi DKI, Yayasan Toyota-Astra,
Yayasan Supersemar, Yayasan Beasiswa Jakarta, Alumni dan sumbangan pribadi
dari para donatur yang peduli pada bidang pendidikan.

25
Dari bidang keMahasiswaan ini terdapat sejumlah masalah yang perlu dicermati
untuk segera dicarikan alternatif solusinya sehingga pada tahun mendatang dapat
diminimalkan, antara lain adalah (1) Jumlah dan kualitas lulusan ISTN belum
memberikan ”ikon” yang berdampak terhadap meningkatnya daya tarik calon
Mahasiswa baru; (2) Jumlah peminat pada masing-masing Program Studi belum
maksimal sehingga angka keketatan seleksi rendah; (3) Kerjasama dengan pimpinan
SMA/SMK dalam upaya meningkatkan student body atau program penerimaan
Mahasiswa baru perlu ditingkatkan, (4) Masih kurangnya jumlah publikasi ilmiah,
populer dan umum dalam bidang sains dan teknologi sebagai upaya sosial marketing,
dan (5) Belum optimalnya kegiatan internal marketing.

26
BAB III
ANALISIS PERKEMBANGAN LINGKUNGAN STRATEGIS
PASAL 3

Di dalam naskah Renstra ISTN 2015-2020 diupayakan memberikan guideline


berdasarkan hasil analisis evaluasi diri yang mengacu pada perkembangan lingkungan
strategis yang dihadapi ISTN. Beberapa perkembangan lingkungan strategis yang dihadapi
ISTN dalam lima tahun ke depan antara lain adalah:

1. Peningkatan Kualitas
Isu ini terkait dengan (a) Makin banyaknya jumlah perguruan tinggi yang mempunyai
program studi sejenis dengan ISTN, yang berimplikasi terhadap ketatnya persaingan
dalam merekrut dan menseleksi calon Mahasiswa baru; (b) Beragamnya latar
belakang Mahasiswa baru yang membutuhkan perlakuan dan penanganan lebih
cermat sehingga mampu memotivasi Mahasiswa agar mampu tekun belajar sehingga
dapat lulus tepat waktu dengan mutu yang baik; (c) Sistem dan pelaksanaan, serta
penggunaan hasil dari monitoring dan evaluasi kinerja tenaga pendidik masih
terbatas, (d) Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang harus dikembangkan
selaras dengan Kerangka Kualifikasi Nasional (KKNI) dan memerlukan berbagai
perbaikan dengan Sistem Penjaminan Mutu Internal dan perlunya evaluasi kinerja
lulusan, (e) Masa studi mahasiswa yang cenderung belum tepat waktu; (f) Rendahnya
relevansi antara kegiatan pendidikan dengan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, (g) Rendahnya kinerja laboratorium akibat jumlah maupun kualitas
peralatan yang terbatas, serta rendahnya optimalisasi sarana dan prasarana yang ada,
(h) Jumlah perolehan publikasi ilmiah dan tulisan dalam bentuk buku masih sangat
rendah dan terutama pada tuntutan untuk dapat memberikan mutu lulusan yang tinggi
sesuai dengan misi Institut; (i) Persaingan kerja alumni yang semakin ketat terutama
pada era global, bukan hanya dengan lulusan dalam negeri, tetapi juga dengan tenaga
kerja asing; (j) Jumlah perolehan paten, publikasi ilmiah dan tulisan dalam bentuk
buku masih sangat rendah dan terutama pada tuntutan untuk dapat memberikan mutu
lulusan yang tinggi sesuai dengan Visi Institut.

2. Perkembangan Metode Pembelajaran


Perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat cepat telah mengubah paradigma
sistem dan metode pembelajaran. Mahasiswa sebagai pembelajar dituntut untuk
menguasai materi pembelajaran yang diukur dengan kompetensi. Di sisi lain
pergeseran paradigma sistem pembelajaran juga muncul pada transfer ilmu
pengetahuan yang pada mulanya lebih menekankan pada proses mengajar (teaching),
berbasis pada isi (content base), pada proses ini pengajaran cenderung pasif. Saat ini
pendidikan mulai bergeser pada proses belajar (learning), berbasis pada masalah
(case base), bersifat kontekstual sehingga mahasiswa dituntut untuk lebih aktif
mempelajari dan mengembangkan materi pelajaran dengan mengoptimalkan sumber-
sumber belajar. Pergeseran paradigma sistem pembelajaran melahirkan telah metode
baru yang berbasis teknologi informasi.

27
Pembelajaran modern harus mampu menyerap informasi dari beragam sumber,
memahami, mensintesakannya, dan lalu meraciknya menjadi satu pengetahuan baru
yang powerful. Kecakapan dalam melakukan sintesa ini tampaknya menjadi kian
penting terutama ketika banjir informasi kian deras mengalir melalui beragam media:
televisi, media cetak, dan dunia online.
Pendekatan pendidikan berbasis capaian produk secara eksplisit dan terukur
menetapkan capaian yang harus diraih lulusan setelah menyelesaikan pendidikan di
perguruan tinggi dan sangat berbeda dengan pendekatan pendidikan konvensional
berbasis input dan proses. Rumusan capaian (outcomes exit) merupakan turunan dari
visi dari komunitas akademik dan profesi tentang tantangan dan peluang yang akan
dihadapi lulusan, serta keterampilan, pengetahuan dan sikap apa yang selayaknya
dimiliki lulusan agar mereka dapat berperan secara efektif dan bertanggung jawab
dalam masyarakat sesuai dengan bidang pekerjaan dan profesinya. Berdasarkan
rumusan capaian tersebut kerangka kurikulum pendidikan suatu program studi
beserta rencana implementasinya dapat dikembangkan, dengan memperhatikan
atmosfir lingkungan pembelajaran, ketersediaan sumber daya manusia, serta sarana
dan prasarana pendukung ideal yang harus disiapkan.

3. Kesehatan Organisasi
Isu tentang keharusan kesehatan organisasi yang didasarkan pada: (a) melembaganya
dengan baik prosedur penentuan kebijakan, pengelolaan dan pelaksanaan program
yang telah disusun; (b) Belum optimalnya pemahaman tugas pokok dan fungsi dari
dari semua pejabat struktural; (c) Pelaksanaan program sering kurang konsisten
dengan Renstra dan rencana operasi yang telah disusun, karena sering mengikuti
perkembangan dan prioritas sesaat, (d) Sistem penjaminan mutu belum berfungsi
secara optimal, dan hasil evaluasi Program Studi oleh BAN PT belum memuaskan,
(e) Ketersediaan sistem database belum memadai sehingga kesulitan untuk
mendapatkan data yang akurat dan mutakhir, yang berdampak terhadap terlambatnya
laporan evaluasi Program Studi berbasis evaluasi diri (EPSBED) atau Pusat Data
Perguruan Tinggi (PDPT); (f) Belum optimalnya pengelolaan administrasi sehingga
berpengaruh terhadap mutu layanan kepada stakeholder; dan (g) Hal-hal lain yang
berpotensi dapat menurunkan kepercayaan masyarakat dan semua stakeholder.

4. Pengelolaan Sumber Daya


Isu ini sangat erat berhubungan dengan: (a) Sistem dan pelaksanan, serta penggunaan
hasil dari monitoring dan evaluasi kinerja Dosen yang masih belum berjalan dengan
optimal; (b) Tuntutan untuk sesalu meningkatkan kesejahteraan, baik finansial
maupun non finasial; (c) Belum optimalnya pelaksanaan kaderisasi tenaga pendidik
dan kependidikan; (d) Belum optimalnya penataan pengelolaan asset; (e) Belum
berjalannya peremajaan sarana dan prasarana pendidikan; (f) Belum optimalnya
penggunaan fasilitas TIK; dan (g) Perlunya peningkatan capacity building bagi
semua tenaga pendidik dan kependidikan.

5. Peningkatan Daya Saing


Isu ini sangat relevan dengan visi ISTN yang akan membawa sebagai institusi
pendidikan tinggi bidang Sains dan Teknologi yang handal dan berdaya saing tinggi

28
di era global. Hal ini juga terkait dengan makin dan terus meningkatnya jumlah
Perguruan Tinggi yang bekerjasama dengan Perguruan Tinggi Asing, juga makin
marak persaingan tenaga kerja asing baik di dalam maupun di luar negeri. Sementara
itu kemampuan ISTN untuk melakukan optimalisasi dalam kerjasama internasional
masih sangat terbatas. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dicetuskan dalam
Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-9 taghun 2003 di Bali, pada saat itu, para
pemimpin ASEAN menyepakati Bali Concord II yang memuat tiga pilar untuk
mencapai visi ASEAN 2020, yaitu Ekonomi, Sosial-Budaya, dan Politik-Keamanan.
Dalam soal Ekonomi, upaya pencapaian visi ASEAN diwujudkan dalam bentuk
MEA, kerja sama ini merupakan komitmen untuk menjadikan ASEAN, antara lain,
sebagai pasar tunggal dan basis produksi serta kawasan dengan pembangunan
ekonomi yang merata. Pada 2007, pemimpin ASEAN menyepakati percepatan waktu
implementasi MEA dari 2020 menjadi 2015. Untuk mewujudkannya, dirumuskan
cetak biru MEA yang dibagi dalam empat tahap, dari 2008 hingga 31 Desember
2015. Riset terbaru dari ILO menyebutkan pembukaan pasar tenaga kerja
mendatangkan manfaat yang besar. Selain dapat menciptakan jutaan lapangan kerja
baru, skema ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan 600 juta orang yang hidup di
Asia Tenggara. Pada 2015 mendatang, ILO merinci bahwa permintaan tenaga kerja
profesional akan naik 41% atau sekitar 14 juta. Sementara permintaan akan tenaga
kerja kelas menengah akan naik 22% atau 38 juta, sementara tenaga kerja level
rendah meningkat 24% atau 12 juta. Namun laporan ini memprediksi bahwa banyak
perusahaan yang akan menemukan pegawainya kurang terampil atau bahkan salah
penempatan kerja karena kurangnya pelatihan dan pendidikan profesi.

6. Penguatan Peran Perguruan Tinggi Melalui Sinergi, Kolaborasi, dan Kemitraan


Salah satu upaya untuk meningkatkan pengakuan dari pihak lain, baik dalam dan luar
negeri, terhadap reputasi ISTN adalah dengan penguatan jejaring nasional dan
internasional yang efektif. Proses proses yang dilakukan ISTN diarahkan pada
sinergi, kolaborasi dan kemitraan strategis dengan berbagai pihak dan capaian yang
telah diraih selama ini, merupakan potensi yang sangat berharga untuk dikembangkan
lima tahun ke depan. Persaingan global di bidang pendidikan ke depan tidak
mengenal batas-batas wilayah suatu negara, sehingga penyelenggara pendidikan
tinggi di Indonesia bisa saja dilakukan oleh perguruan tinggi yang berbasis di negara-
negara maju yang umumnya telah berpengalaman mengelola pendidikan tinggi
sebagai industri jasa. Persaingan untuk mendapatkan Mahasiswa terbaik dan staf
pengajar lokal berkualitas terkait peningkatan mutu pembelajaran dan riset pun akan
semakin ketat. Selain itu, globalisasi juga memungkinkan mobilisasi sumber daya
manusia yang berkualitas, termasuk tenaga pendidik dari berbagai perguruan tinggi
asing. untuk berkompetisi meraih peluang kerja di Indonesia yang berakibat pada
semakin ketatnya persaingan dunia akademis di masa mendatang.

7. Pendanaan, Akuntabilitas dan Transparansi


Isu tentang pendanaan, berawal dari: (a) Kebutuhan dana yang lebih besar sebagai
akibat tuntutan perkembangan IPTEK yang menuntut peningkatan sarana dan

29
prasarana pendidikan, khususnya laboratorium; (b) Potensi adanya ketidak
harmonisan akibat kurangnya akuntabiltas dan trasnparansi dalam pengelolaan dana
antar unit; (c) Adanya potensi penggalangan dana dengan memanfaatkan fasilitas
yang ada dan menyediakan jasa usaha.

8. Dinamika regulasi penyelenggaraan perguruan tinggi

1) Peraturan Presiden No: 8 tahun 2012, tentang Kerangka Kualifikasi Nasional


Indonesia;
Peraturan Presiden No: 8 tahun 2012 tentang KKNI dan Penerapan KKNI di
Perguruan Tinggi akan berlaku secara penuh paling lambat pada tahun 2016
bersamaan dengan telah dimulainya AFTA tahun 2015. Bagi perguruan tinggi
Indonesia secara umum, peraturan KKNI dan kesepakatan AFTA (Perdagangan
bebas kawasan ASEAN) menjadi tantangan, peluang dan sekaligus ancaman
yang dapat ditafsirkan dari berbagai dimensi dan ragam implikasi. Bagi
Perguruan Tinggi yang sudah mapan dalam penyelenggaraan pendidikan yang
berorientasi Mutu, maka KKNI bukan menjadi masalah yang terlalu sulit untuk
dihadapi, AFTA bukan ancaman yang perlu dicemaskan; sebaliknya KKNI dan
AFTA bisa menjadi peluang untuk pengembangan perguruan tinggi secara lebih
leluasa, misalnya dengan membuka program internasional. Tetapi bagi satuan
pendidikan yang belum mapan dalam implementasi sistem pendidikan yang
berorientasi Mutu, karena berbagai alasan, maka diberlakukannya KKNI dan
AFTA akan dirasakan sebagai tantangan berat dan bahkan ancaman yang
menyulitkan. Namun apapun situasinya, siap atau tidak siap, pada akhirnya
KKNI dan AFTA tetap akan diberlakukan. Dalam menghadapi realita itu,
semua perguruan tinggi di Indonesia tentu tidak menginginkan mengalami
nasib tragis, dilibas oleh perguruan tinggi asing.
Berkenaan dengan itu, maka perguruan tinggi melakukan paling tidak tiga hal,
yaitu: (1) Melakukan pengelolaan mutu pendidikan tinggi secara lebih serius
berdasarkan KKNI dan SPMI, (2) Melakukan penyesuaian capaian
pembelajaran untuk prodi sejenis di tingkat nasional maupun internasional
sesuai dengan konsep KKNI, (3) Melakukan penyetaraan capaian pembelajaran
dengan penjenjangan kualifikasi dunia kerja, sehingga kurikulum dan program
pendidikan dipandang mampu menjawab kebutuhan pengguna lulusan dan
dunia industri.
Hal lain yang perlu dicermati adalah Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan
Tinggi No: 526/E.E3/MI/2014, tanggal 17 Juni 2014, perihal Penjelasan tentang
Standar Nasional Pendidikan Tinggi untuk Program Pascasarjana. Di dalam
surat edaran tersebut disampaikan bahwa jumlah sks program Magister dan
program Doktor masing-masing sebesar 72 sks, karena menyesuaikan dengan
Capaian Pembelajaran (CP). Salah satu komponen CP untuk program Magister
yaitu kemampuan menulis karya ilmiah dalam jurnal nasional Terakreditasi dan
pengakuan yang bertaraf internasional. Sejalan dengan itu, maka pada tahun

30
2014/2015 ISTN harus memprogram aktivitas peninjauan kurikulum untuk
program Magister.

2) Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan No: 83 Tahun 2013 tentang


Sertifikat Kompetensi;
Standar diartikan sebagai "ukuran" yang disepakati, sedangkan Kompetensi
didefinisikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup
atas pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan
atau tugas sesuai dengan standar performa yang ditetapkan. Sedangkan Standar
kompetensi merupakan kesepakatan-kesepakatan tentang kompetensi yang
diperlukan pada suatu bidang pekerjaan oleh seluruh "stakeholder" di
bidangnya. Standar Kompetensi adalah perumusan tentang kemampuan yang
harus dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan yang
didasari atas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan unjuk
kerja yang dipersyaratkan. Sedangkan Sertifikasi kompetensi adalah proses
pemberian sertifikasi kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan obyektif
melalui uji kompetensi yang mengacu pada standar kompetensi kerja baik yang
bersifat nasional maupun internasional. Misalnya seseorang memiliki sertifikasi
kompetensi ahli K3 maka yang bersangkutan akan mendapatkan bukti
pengakuan tertulis atas kompetensi yang dikuasainya.
Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 83
tahun 2013 tentang Sertifikat Kompetensi, Pasal 1 menyebutkan:
(1) Sertifikat kompetensi merupakan pengakuan kompetensi kerja atas
prestasi lulusan yang sesuai dengan keahlian dalam cabang ilmunya
dan/atau memiliki prestasi di luar Program Studinya.
(2) Sertifikat kompetensi diterbitkan oleh perguruan tinggi bekerja sama
dengan organisasi profesi, lembaga pelatihan, atau lembaga sertifikasi
yang terakreditasi.
(3) Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterbitkan
oleh perguruan tinggi yang memiliki Program Studi yang sesuai dengan
bidang ilmu dari kompetensi yang akan disertifikasi.
(4) Uji kompetensi dilakukan oleh perguruan tinggi bekerja sama dengan
organisasi profesi, lembaga pelatihan, atau lembaga sertifikasi.

Sedangkan pada Pasal 2 menyebutkan bahwa:


(1) Program Studi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (3) harus
terakreditasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 harus memiliki
izin yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi setelah
melalui proses seleksi sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
Peraturan ini efektif berlaku terhitung 16 Juli 2013, oleh karena itu ISTN harus
segera melakukan langkah-langkah antisipatif dan implementatif terhadap
pemberlakukan dari Peraturan Mendikbud tersebut.

31
3) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No: 49
Tahun 2014, tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
Beberapa point yang terkandung dalam Peraturan ini antara lain,
(1) Standar Nasional Pendidikan Tinggi, adalah satuan standar yang meliputi
Standar Nasional Pendidikan, ditambah dengan Standar Nasional
Penelitian, dan Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat.
(2) Standar Nasional Pendidikan, adalah kriteria minimal tentang
pembelajaran pada jenjang pendidikan tinggi di perguruan tinggi di
seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(3) Standar Nasional Penelitian adalah kriteria minimal tentang sistem
penelitian pada perguruan tinggi yang berlaku di seluruh wilayah hukum
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(4) Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat adalah kriteria minimal
tentang sistem pengabdian kepada masyarakat pada perguruan tinggi yang
berlaku di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(5) Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, yang selanjutnya disingkat
KKNI, adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat
menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang
pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam
rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur
pekerjaan di berbagai sektor.
(6) Standar kompetensi lulusan merupakan kriteria minimal tentang
kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran
lulusan.
(7) Standar kompetensi lulusan yang dinyatakan dalam rumusan capaian
pembelajaran lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) digunakan
sebagai acuan utama pengembangan standar isi pembelajaran, standar
proses pembelajaran, standar penilaian pembelajaran, standar Dosen dan
tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana pembelajaran, standar
pengelolaan pembelajaran, dan standar pembiayaan pembelajaran.
Rumusan capaian pembelajaran lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) wajib:
a. mengacu pada deskripsi capaian pembelajaran lulusan KKNI; dan
b. memiliki kesetaraan dengan jenjang kualifikasi pada KKNI.
Peraturan Mendikbud ini diundangkan pada tanggal 11 Juni 2014,
pengelolaan dan penyelenggaraan perguruan tinggi wajib menyesuaikan
dengan ketentuan peraturan menteri ini paling lambat 2 (dua) tahun
setelah peraturan ini diundangkan;

4) Undang-Undang Republik Indonesia No: 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran,


Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mulai berlaku 31
Desember 2015 mendatang, sektor industri konstruksi Indonesia masih punya
banyak pekerjaan rumah. Satu di antaranya adalah membenahi kompetensi,

32
keahlian dan kelaikan pekerja konstruksi kita agar diakui dan dapat berpraktik
di seluruh negara MEA. Hingga Mei 2014, Indonesia baru memiliki 170 tenaga
konstruksi (124 insinyur dan 46 arsitek) dengan kompetensi dan keahlian sesuai
standard mutual recognition arrangements (MRA) dan bersertifikai ASEAN
Chartered Professional Engineer (ACPE) dan ASEAN Architects (AA).
Sementara insinyur di seluruh MEA yang sudah berstandard MRA dan
bersertifikasi ACPE dan AA sebanyak 787 orang yang didominasi Singapura,
dan Malaysia. Kepala Badan Pembina Konstruksi (BP Konstruksi), Hediyanto
W Husaini, mengatakan, pekerjaan rumah yang tak kalah pentingnya adalah
meningkatkan daya saing para insinyur. Kompetensi dan keahlian mereka harus
sesuai dengan standard MRA. “MRA” merupakan pengaturan saling pengakuan
bahwa setiap negara anggota mengakui pendidikan atau pengalaman yang
dimiliki, persyaratan yang sesuai izin atau sertifikasi yang diberikan oleh
negara anggota ASEAN, "tutur Hediyanto dalam paparan Kesiapan Konstruksi
Indonesia Menghadapi Pasar Tunggal ASEAN 2015, Kamis (5/6/2014).
Ketentuan pengakuan tersebut, menyangkut enam kriteria MRA yakni
pendidikan, ujian, registrasi, dan pemberian lisensi, pengalaman pendidikan
profesional lanjutan, dan kode etik (professional conduct). Untuk itu mulai
sekarang, kami menghimbau tenaga konstruksi Indonesia untuk segera
melengkapi dokumentasi pengalaman pekerjaan dan SKA (sertifikat keahlian)".
Sejalan dengan itu, maka keinsinyuran merupakan kegiatan penggunaan ilmu
pengetahuan dan teknologi untuk memajukan peradaban dan meningkatkan
kesejahteraan umat manusia sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Untuk itu, maka upaya
memajukan peradaban dan meningkatkan kesejahteraan umat manusia dicapai
melalui penyelenggaraan keinsinyuran yang andal dan profesional yang mampu
meningkatkan nilai tambah, daya guna dan hasil guna, memberikan
pelindungan kepada masyarakat, serta mewujudkan pembangunan
berkelanjutan yang berwawasan lingkungan; Dengan demikian, maka
ketahanan nasional dalam tatanan global, penyelenggaraan keinsinyuran
memerlukan peningkatan penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi melalui pendidikan, pengembangan keprofesian berkelanjutan
dan riset, percepatan penambahan jumlah insinyur yang sejajar dengan negara
teknologi maju, peningkatan minat pada pendidikan teknik, dan peningkatan
mutu insinyur professional.
Lingkup pengaturan Keinsinyuran yang diatur dalam Undang-Undang ini
meliputi: (a) Cakupan Keinsinyuran; (b) Standar Keinsinyuran; (c) Program
Profesi Insinyur; (d) Registrasi Insinyur; (e) Insinyur Asing; (f) Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan; (g) Hak dan Kewajiban; (i) Kelembagaan Insinyur;
(j) Organisasi Profesi Insinyur; dan (k) Pembinaan Keinsinyuran.
Terkait dengan berlakunya Undang-Undang ini, maka ISTN sebagai perguruan
tinggi yang menghasilkan Insinyur, wajib melakukan langkah-langkah
antisipasi dan penyesuaian terhadap berlakunya Undang-Undang tersebut.

33
5) Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Republik Indonesia nomor 46 Tahun 2013, tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No: 17
Tahun 2013 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya.
Peraturan ini sebagai pengganti dari Keputusan Menteri Negara Koordinator
Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara No:
38/KEP/MK.WASPAN/8/1999 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka
Kreditnya, yang berlaku sejak tanggal diundangkan, yaitu 4 Februari 2014.
Di dalam Peraturan tersebut, dijelaskan bahwa Jabatan fungsional Dosen yang
selanjutnya disebut jabatan Akademik Dosen adalah kedudukan yang
menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seseorang Dosen
dslam suatu satuan pendidikan tinggi yang dslam pelaksanaannya didasarkan
pada keahlian tertentu serta bersifat mandiri. Jenjang pangkat, golongan ruang
setiap jenjang jabatan Akademik Dosen dari yang paling rendah sampai dengan
yang paling tinggi, yaitu:
(1) Asisten Ahli, Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b.
(2) Lektor, terdiri dari:
a. Penata, golongan ruang III/c; dan
b. Penata Tingkat I, golongan ruang III/d.
(3) Lektor Kepala, terdiri dari:
a. Pembina, golongan ruang IV/a;
b. Pembina Tingkat I, golongan ruang IV/b; dan
c. Pembina Utama Muda, golongan ruang IV/c.
(4) Profesor, terdiri dari:
a. Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/d; dan.
b. Pembina Utama, golongan ruang IV/e.

Dengan diundangkannya Peraturan ini, maka ISTN harus melakukan


penyesuaian dalam melakukan pembinaan terhadap tenaga pendidiknya.

6) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No: 50


Tahun 2014, tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi;
Isu ini terkait dengan (a) Makin banyaknya jumlah perguruan tinggi yang
mempunyai program sejenis dengan ISTN, yang berimplikasi terhadap ketatnya
persaingan dalam merekrut dan menseleksi calon Mahasiswa baru; (b)
Beragamnya latar belakang Mahasiswa baru yang membutuhkan perlakuan dan
penanganan lebih cermat sehingga mampu memotivasi Mahasiswa agar mampu
tekun belajar sehingga dapat lulus tepat waktu dengan mutu yang baik; (c)
Sistem dan pelaksanaan, serta penggunaan hasil dari monitoring dan evaluasi
kinerja tenaga pendidik masih terbatas, (c) Pelaksanaan Kurikulum Berbasis
Kompetensi yang harus dikembangkan selaras dengan Kerangka Kualifikasi
Nasional (KKNI) dan memerlukan berbagai perbaikan dengan Sistem
Penjaminan Mutu Internal dan perlunya evaluasi kinerja lulusan, (d) Rendahnya
relevansi antara kegiatan pendidikan dengan penelitian dan pengabdian kepada

34
masyarakat, (e) Rendahnya kinerja laboratorium akibat jumlah maupun kualitas
peralatan yang terbatas, serta rendahnya optimalisasi sarana dan prasarana yang
ada, (f) Jumlah perolehan publikasi ilmiah dan tulisan dalam bentuk buku masih
sangat rendah dan terutama pada tuntutan untuk dapat memberikan mutu
lulusan yang tinggi sesuai dengan misi Institut; (g) Persaingan kerja alumni
yang semakin ketat terutama pada era global, bukan hanya dengan lulusan
dalam negeri, tetapi juga dengan tenaga kerja asing.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No:
50 Tahun 2014, diatur bahwa Implementasi Sistem Penjaminan Mutu di
Perguruan Tinggi diarahkan pada terbentuknya SPMI dan SPME.
SPMI dimaksudkan untuk membangun budaya mutu di lingkungan
perguruan tinggi, sedangkan SPME dipersiapkan untuk menghadapi
Akreditasi Program Studi maupun Institusi.
Pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal merupakan bagian tak terpisahkan
dari penyelenggaraan dan pelakasanaan pendidikan tinggi di ISTN. Penerapan
prinsip Plan, Do, Check, Action (PDCA) melekat dalam penyusunan program
kerja dan kegiatan setiap unit kerja yang adadi lingkungan Institut. Sejalan dengan
itu, audit internal mempunyai peran penting dalam unit kerja bidang
akademik, administrasi, pengelolaan dan pimpinan, sehingga memperbaiki
kesehatan organisasi, mutu kinerja dan efisiensi pengelolaan institusi. Selain
hal ini akan memberikan citra positif, juga menjadi salah satu bentuk
transparansi dan akuntabilitas pengelolaan ISTN kepada seluruh stakeholders.
Sistem Penjaminan mutu yang terintegrasi dalam setiap kegiatan unit kerja
perlu didukung oleh pengelolaan pangkalan data yang baik dan peningkatan
mutu kinerja berkelanjutan. Implementasi Sistem Penjaminan Mutu tidak hanya
akan berdampak pada perbaikan proses layanan internal, namun juga perlu
diorientasikan pada kepuasan pelanggan.

7) Keberadaan Perguruan Tinggi Asing (PTA) untuk beroperasi dalam bentuk


Commercial Presence (kehadiran fisik) di Indonesia diijinkan dengan berbagai
persyaratan tertentu. Diantara persyaratan tersebut adalah meliputi akreditasi,
daerah, jenis dan Program Studi, kewajiban untuk kerjasama dengan perguruan
tinggi lokal, kewajiban merekrut Dosen lokal, harus bersifat nirbala dan
keharusan untuk mengembangkan ilmu yang mendukung kepentingan nasional.
Keberadaan PTA tersebut diposisikan statusnya sebagai Perguruan Tinggi
Swasta Asing (PTSA). PTSA tersebut dijadikan partner bagi PTN dan PTS
dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Oleh
karena itu, keberadaan PTSA tersebut diharapkan tidak menyebabkan
terpinggirkannya PTS. Sejalan dengan itu, maka ISTN harus senantiasa
meningkatkan kualitas pengelolaan dan pembelajarannya dari waktu ke waktu.

8) Undang-Undang No: 12 tahun 2012, pasal 72, mengamanatkan perguruan


tinggi atau penyelenggara perguruan tinggi untuk memberikan beasiswa,
bantuan atau pembebasan biaya pendidikan atau studinya kepada Mahasiswa

35
yang terkendala secara ekonomi. Konsekuensi dari pasal ini, maka ISTN harus
berupaya membuka akses kepada calon Mahasiswa yang mempunyai potensi
akademik baik, namun terkendala secara ekonomi. Untuk itu, maka ISTN harus
mampu membangun jejaring dengan semua pemangku kepentingan sehingga
mempunyai sumber pemasukan dana di luar tuition fee. Kerja sama dengan
berbagai instansi pemerintah maupun swasta harus ditingkatkan.

36
BAB IV
RANGKUMAN ANALISIS SWOT
PASAL 4

(1) Pengantar Analisis SWOT


Analisis SWOT merupakan metode yang dipakai untuk memberikan panduan bagi
pimpinan dan staf dalam menganalisis efektifitas penyelenggaran proses pendidikan di
lingkungan Institut, sehingga dapat diperoleh suatu rumusan yang menggambarkan
“existing conditions” yang selanjutnya akan dijadikan baseline untuk menentukan program
dalam penyusunan rencana opersional tahun mendatang. Dengan analisis SWOT juga
merupakan instrumen perencanaan strategis yang menggunakan kerangka kerja Kekuatan
dan Kelemahan serta Kesempatan dan Ancaman, dengan makna secara garis besar adalah:
(1) Strength (Kekuatan), adalah Faktor Internal yang cenderung memiliki efek positif
(atau menjadi enabler untuk) mencapai tujuan ISTN, (2) Weakness (Kelemahan), yaitu
Faktor Internal yang mungkin memiliki efek negatif (atau menjadi penghalang untuk)
mencapai tujuan ISTN; (3) Opportunity (Peluang), yaitu Faktor Eksternal yang cenderung
memiliki efek positif pada pencapaian atau tujuan ISTN, atau tujuan yang sebelumnya
tidak dipertimbangkan; dan (4) Threat (Ancaman), yaitu Faktor Eksternal atau kondisi
yang cenderung memiliki efek negatif pada pencapaian tujuan ISTN, atau membuat tujuan
berlebihan atau sulit dicapai. Memperhatikan kondisi internal dan perkembangan eksternal,
dapat diidentifikasi potensi dan kelemahan yang dimiliki ISTN dalam bentuk hasil analisis
SWOT, berupa kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dihadapi ISTN pada saat
ini, adalah sebagai berikut:

1. Kekuatan
a. Secara institusi ISTN telah dikembangkan selaras dengan prinsip-prinsip Good
University Governance. Pemberlakuan STATUTA 2011 yang dilengkapi
dengan penjabarannya menunjukkan kepedulian ISTN untuk mengembangkan
struktur dan fungsi organisasi yang efisien, transparan, akuntabel, bertanggung
jawab, dan fairness.
b. Adanya sistem penyelenggaraan yang memungkinkan setiap komponen dan
unit untuk menyusun, melaksanakan dan memonitor program-program ISTN
secara bersama-sama. Indikasi kekuatan ditunjukkan oleh keberadaan
STATUTA 2011, Rencana Induk Pengembangan (RIP), RENSTRA Institusi
dan RENSTRA unit, RENOP yang berbasis siklus PDCA. Sistem ini ditunjang
berbagai aktivitas seperti monitoring dan evaluasi proses belajar mengajar,
penyiapan sistem informasi, dan sistem penjaminan mutu berbasis Teknologi
Informasi dan Komunikasi.
c. Komitmen pimpinan terhadap berbagai bidang pengembangan sangat tinggi.
Berbagai kebijakan telah dirumuskan untuk menjadi dasar bagi penyusunan
program 5 tahun ke depan. Program disusun dengan mengedepankan prioritas
pada pengembangan Institusi dan Manajemen yang didasarkan pada komitmen
pimpinan untuk mengembangkan Instutusi yang sehat dan manajemen yang

37
bersih dan transparan sebagai bagian mutlak menuju Good University
Governance;
d. Otonomi Pengelolaan, Secara kelembagaan ISTN berada di bawah Badan
Penyelenggara Yayasan Perguruan “Cikini”, namun operasi penyelenggaraan-
nya ISTN diberikan kewenangan penuh untuk menyelenggarakan proses belajar
mengajar secara otonom. Namun demikian, prisip-prinsip efisiensi,
transparansi, fairness dan akuntabilitas diperlihatkan melalui upaya ISTN untuk
mengelola semua aset secara benar dan berhasil guna.
e. Tenaga pendidik dengan kualifikasi dan potensi besar untuk dikembangkan
lebih lanjut. Indikasi kekuatan tenaga pendidik diperlihatkan oleh besarnya
jumlah Dosen yang memiliki kualifikasi S2 dan S3 dengan kepangkatan
akademik Lektor ke atas. Jumlah ini dapat bertambah apabila program
kaderisasi dapat berjalan secara baik. Potensi kualifikasi pendidikan ini
merupakan modal berharga untuk pengembangan kemampuan staf pengajar.
f. Reputasi baik di tingkat nasional, kekuatan ini diperlihatkan dengan cukup
banyaknya alumni yang telah menduduki posisi strategis di berbagai instansi,
baik pemerintah maupun swasta yang tersebar di seluruh nusantara, bahkan
manca negara. Disamping itu, setiap tahun terdapat Mahasiswa baru yang
berasal dari berbagai daerah dan provinsi yang ada di nusantara meskipun
konsentrasi Mahasiswa baru masih didominasi dari Jakarta. Pemanfaatan
kekuatan ini secara maksimal akan memberikan kontribusi positif untuk
menghasilkan image yang baik.
g. Kualitas proses pendidikan yang tinggi, yang diindikasi dengan hasil akreditasi,
bahwa semua Program Studi telah dan sedang proses reakreditasi kepada BAN-
PT. Pada sisi lain, tingginya kualitas proses belajar-mengajar ditunjukkan
dengan nilai Indeks Prestasi Semester rata-rata mendekati 2.75 pada semester
genap 2012/2013, rendahnya angka Drop-Out, adanya peran badan penjaminan
mutu, adanya pencerahan yang intensif dalam pengembangan metode
pembelajaran, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) rata-rata lulusan yang relatif
tinggi di atas 2,75.
h. Komitmen dalam menjamin dan mengembangkan mutu yang tinggi, Komitmen
ini diindikasikan oleh beberapa hal, yakni adanya Unit Penjaminan Mutu di
tingkat Institut dan Fakultas, adanya Monitoring dan Evaluasi dalam
mengembangkan mutu.
i. Fasilitas fisik dan informasi yang relatif lengkap, Kelengkapan fisik ditandai
dengan kelengkapan fasilitas lahan yang luas, gedung, peralatan laboratorium
dan fasilitas non-akademik. Kelengkapan fasilitas informasi berhubungan
dengan perpustakaan, bandwith untuk Mahasiswa, hardware IT, hotspot, dan
tersedianya LAN yang dikenal dengan ISTN-PRIMA. Khusus untuk informasi
manajemen, ISTN telah menjalankan Sistem Informasi yang dikenal dengan
ISTN-prima.
j. Pelaksanaan Manajemen Administrasi Internal baik dalam pencatatan,
perekaman dan pendistribusian yang semakin membaik;

38
k. Pelayanan kepada Mahasiswa meningkat, termasuk dalam penyaluran dana
keMahasiswaan serta pemenuhan kagiatan-kegiatan kelembagaan. Demikian
juga dengan pelayanan akademik sudah terpadu. Sentralisasi pelayanan nilai
dan aturan-aturannya sudah didasarkan kepada Prosedur Operasional Standar
(POS);
l. Mutu lulusan meningkat dan masa tunggu lulusan semakin baik;
m. Komunikasi dan kerjasama dengan pihak luar baik dalam aspek akademik, riset
dan pengabdian kepada masyarakat semakin meningkat, termasuk dengan
lembaga-lembaga sertifikasi profesi dan industri;
n. Telah mempunyai jaringan kerja sama dengan Perguruan Tinggi luar negeri di
Malaysia dan Jerman;

2. Kelemahan
a. Pengembangan Institusi saat ini sulit dilakukan karena sumber pendanaannya
masih bergantung pada tuition fee Mahasiswa, belum mempunyai sumber dana
lain selain tuition fee Mahasiswa. Oleh karena itu, upaya penggalangan dan
pencarian sumber-sumber lain di luar tuition fee harus selalu dilakukan untuk
dapat mengakselerasi pengembangan ISTN.
b. Belum terintegrasinya sistem informasi manajemen keuangan, sistem informasi
manajemen SDM, sistem informasi manajemen akademik dan sistem informasi
manajemen aset, Komputerisasi pengolahan data manajemen masih
berlangsung secara parsial. Akibatnya informasi yang dibutuhkan oleh
stakeholder internal belum tersedia secara komprehensif.
c. Jumlah tenaga kependidikan relatif banyak, tetapi umumnya belum memiliki
kompetensi sesuai kebutuhan, problem pada proses rekruitmen sebelumnya
menyebabkan jumlah tenaga kependidikan relatif banyak. Sebagian besar dari
jumlah ini berijazah pendidikan menengah. Kemajuan ilmu administrasi dan
manajemen serta sistem layanan berbasis TIK menyebabkan kompetensi
sebagian besar staf ini tidak kompeten.
d. Sebagian besar tenaga pendidik masih mengutamakan pengajaran, Minimnya
jumlah serta kualitas publikasi ilmiah dan kerjasama menunjukkan bahwa
tenaga pendidik masih fokus pada pengajaran. Kondisi ini menyebabkan ISTN
sebagai pusat pengembangan ilmu kurang berjalan secara cepat. Tinjauan
kembali program-program akademik yang meliputi riset dan diseminasinya,
termasuk pada Mahasiswa, perlu dilakukan.
e. Kondisi gedung dan peralatan sudah lama, demikian pula dengan peralatan
laboratorium dan bengkel yang sudah cukup lama;

3. Peluang:
a. Kewenangan yang diberikan oleh Yayasan kepada ISTN untuk
menyelenggarakan pendidikan secara mandiri merupakan bentuk otonomi
akademik yang sekaligus merupakan peluang besar untuk mengembangkan
ISTN. Dengan telah ditetapkannya STATUTA 2011, maka ISTN mempunyai

39
kesempatan sekaligus peluang untuk meningkatkan mutu layanannya kepada
semua stakeholder dengan mendayagunakan semua potensi dan aset yang ada;
b. Dengan kewenangan yang dimiliki ISTN, memberikan kesempatan untuk
menjalin kerjasama dengan berbagai instansi maupun institusi untuk
membangun kolaborasi saling menguntungkan;
c. Dengan kondisi perekonomian nasional saat ini, memungkinkan
dikembangkannya sumber daya manusia yang menguasai iptek. Disamping itu,
dengan kondisi berbagai daerah yang banyak mengalami bencana, maka
pembangunan sejumlah infrastruktur akan membutuhkan banyak SDM yang
menguasai bidang iptek, dan ISTN sebagai perguruan tinggi yang bergerak di
bidang iptek akan sangat berperan dalam menghasilkan SDM tersebut;
d. Menjalin kerjasama pendidikan dengan instansi lain, bertambahnya
kompleksitas yang dihadapi dunia kerja, menuntut peningkatan kompetensi staf
mulai level pelaksana sampai ke level pimpinan. Peningkatan ini dapat
dilakukan dengan rekruitmen baru atau dengan pengembangan kemampuan staf
yang sudah ada. Beberapa institusi memilih cara pengembangan untuk alasan
efisiensi. Salah satu cara yang ditempuh adalah menjalin kerjasama dengan
perguruan tinggi. Hal ini memberikan peluang pada ISTN untuk
mengembangkan program pendidikannya, dan melakukan kerjasama dengan
berbagai instansi.
e. Menjalin kerjasama riset dan mengembangkan IPTEK yang spesifik, Kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan ISTN untuk
mengakses informasi tentang perkembangan IPTEK sebanyak-banyaknya dan
mempublikasikan IPTEK ISTN seluas-luasnya. Proses serah terima informasi
ini akan membuka kesempatan bagi ISTN untuk menjalin kerjasama riset
dengan berbagai institusi, baik nasional maupun internasional. Pada sisi lain,
informasi yang diperoleh akan sangat bermanfaat bagi ISTN untuk menentukan
posisi dan arah pengembangan IPTEK yang tajam, sehingga kompetensi lulusan
memiliki kompetensi yang unik.
f. Pengembangan ISTN sebagai impact kerjasama dengan Perguruan Tinggi lain,
baik dalam maupun luar negeri. Beberapa peluang diantaranya dengan adanya
keikut sertaan ISTN dalam seminar-seminar yang dilaksanakan oleh mitra dari
lembaga-lembaga dan istitusi pendidikan lain, baik dalam maupun luar negeri.
Selain itu juga peluang pengembangan Mahasiswa untuk memiliki kompetensi
yang lebih baik lagi di masa depan.
g. Peningkatan kualitas aset dapat dimanfaatkan dan menghasilkan revenue.
Komunikasi dengan Pemprov DKI dan beberapa lembaga kemasyarakatan,
memberikan peluang untuk penataan dan pengembangan asset danau dan taman
sekitarnya bagi kepentingan ISTN dan masyarakat yang lebih luas;
h. Peningkatan mutu dan kompetensi tenaga Pendidik dan Kependidikan melalui
kerjasama dengan pihak luar. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dan
akademik, tenaga pendidik ISTN beberapa kali diberikan peluang untuk
menjadi penilai bagi tugas akhir Mahasiswa di luar negri seperti di Politeknik
Port Dickson dan lain-lain.

40
4. Ancaman:

a. Pertumbuhan Perguruan Tinggi lain, yaitu tersediannya banyak peluang


masyarakat untuk membuka dan mengembangkan perguruan tinggi telah
mendorong pertumbuhan perguruan tinggi, baik dari segi jumlah, jenis maupun
kualitas. ISTN yang bergerak dalam pendidikan IPTEK sebetulnya menempati
posisi yang strategis. Namun demikian, beberapa pendidikan IPTEK di
perguruan tinggi di Indonesia juga sudah berkembang. Pertumbuhan ini perlu
diwaspadai oleh ISTN, karena dapat berubah menjadi ancaman bila tidak
ditanggapi dengan baik.
b. Liberalisasi pendidikan, masuknya jasa pendidikan sebagai bagian dari
perjanjian WTO menjadikan pendidikan tinggi sebagai jasa komersial. Keadaan
ini akan mendorong liberilisasi pendidikan. Ancaman ini harus diwaspadai
ISTN dengan cara membuat sistem penjaminan mutu yang baik, sehingga ISTN
tetap berorientasi pada pengembangan ilmu yang dikehendaki stakesholder.
c. Standarisasi Industri, Dunia industri telah menerapkan standar ISO, oleh karena
itu ISTN harus mampu menyesuaikan dan mengantisipasi kurikulumnya yang
adaptif dengan kebutuhan dunia industri.
d. Pemberlakuan PDPT, juga memberikan tantangan agar kita mampu membenahi
jaringan sistem informasi yang tepadu dan aman, termasuk di dalamnya
pelaporan EPSBED agar tepat waktu;
e. Rencana pemberlakuan Kurikulum berbasis KKNI, memberikan tantangan agar
ISTN mampu terus mengembangkan kurikulum yang sustainable.

41
BAB V
RENCANA STRATEGIS
PASAL 5

(1) Rangkuman Renstra 2010-2015

Rencana Strategis ISTN 2010-2015 dilandasi dengan asumsi-asumsi bahwa: (1)


Jumlah dan pertumbuhan penduduk usia masuk perguruan tinggi dalam periode lima
tahun ke depan masih cenderung tinggi, sementara itu daya tampung perguruan tinggi
bidang sains dan teknologi masih sangat kompetitif; (2) Pertumbuhan ekonomi
nasional akan meningkat yang berdampak terhadap sarjana bidang sains dan
teknologi; (3) Perkembangan kompetisi global yang berdampak terhadap tuntutan
untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan semakin tinggi sejalan dengan
perkembangan ipteks dan tuntutan masyarakat; (4) Rehabilitasi kampus dan fasilitas
pendidikan menjadi pendorong peningkatan citra ISTN secara internal dan eksternal;
(5) Ketersediaan infra struktur Teknologi Informasi dan Komunikasi yang ada di
kampus memungkinkan peningkatan dan perluasan akses ke berbagai instansi dan
stakesholder sebagai mitra kerja; (6) Peran ISTN dalam pemberdayaan masyarakat
semakin dibutuhkan; (7) Optimalisasi potensi Mahasiswa memerlukan pembinaan
yang terarah dan berkelanjutan; (8) Peningkatan layanan, kinerja, dan produk ISTN
memerlukan sumber daya manusia yang handal sesuai dengan tuntutan profesi; (9)
Perluasan jejaring dan kemitraan dengan lembaga lokal, nasional, dan internasional
diperlukan untuk meningkatkan kualitas, akuntabilitas, dan pembangunan citra ISTN.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, maka dirumuskan kebijakan program
pengembangan ISTN dalam Rencana Strategis (Renstra) 2010-2015, adalah: (1)
Peningkatan Kualitas dan Relevansi Pendidikan: terselenggaranya pembelajaran
berbasis kompetensi dan penelitian dasar, terlaksananya restrukturisasi program
untuk memantapkan ISTN sebagai institusi pendidikan berbasis IPTEKS,
Meningkatnya jumlah Mahasiswa baru tiap Program Studi; (2) Pengembangan mutu
Mahasiswa baru: Terselenggaranya sistem seleksi Mahasiswa baru yang berkualitas,
Meningkatnya jumlah peminat tiap Program Studi dan jenjang, Bertambahnya skema
beasiswa untuk Mahasiswa, Tersedianya anggaran pemasaran sebesar 10 % dari total
anggaran Institut; (3) Pengembangan mutu proses pembelajaran: meningkatnya
kualitas dan relevansi Program Studi pada D-3, S-1, S-2 dan Profesi serta
terwujudnya paradigma pendidikan yang berorientasi pada pembelajaran oleh
Mahasiswa (student based learning), Terselenggaranya sistem penjaminan mutu pada
semua Program Studi dan Jenjang, Meningkatnya pemanfaatan Teknologi Informasi
dan Komunikasi dalam proses pembelajaran, Meningkatnya pemanfaatan Teknologi
Informasi dan Komunikasi dalam proses administrasi pendidikan, Tertibnya
pelaksanaan EPSBED, Terselenggaranya sistem evaluasi berkala terhadap Program
Studi, Terselenggaranya pertemuan ilmiah tingkat Program Studi, Fakultas, regional
dan nasional, Terselenggaranya pengembangan dalam penerapan teknologi

42
pendidikan, Meningkatnya kualitas layanan laboratorium; (4) Pengembangan mutu
lulusan: Terselenggaranya ”tracer study” sebagai dasar peningkatan kualitas lulusan
dan perubahan pasar kerja lulusan; Terselenggaranya program pendampingan para
lulusan; Terselenggaranya program pengayaan Mahasiswa berbakat;
Terselenggaranya pusat pengembangan sumberdaya manusia untuk membantu
Mahasiswa dalam meningkatkan kualitas diri dan membantu penyelesaian masalah
pribadi dalam kehidupan keMahasiswaannya, Terselenggaranya fasilitas sertifikasi
kompetensi; (5) Pengembangan iklim akademik: meningkatkan kualitas iklim
akademik dalam proses pembelajaran pada semua Program Studi dan jenjang,
menyelenggarakan penyediaan magang kerja paroh waktu bagi Mahasiswa,
Terselenggaranya penyediaan beasiswa prestasi untuk para Mahasiswa berpotensi
akademik tinggi dari keluarga kurang mampu, Terselenggaranya program
kemahasiswaan dalam pembinaan akademik, pengembangan sikap mental
cendekiawan, pengembangan softskills serta pelatihan kepemimpinan dan
kewirausahaan; (6) Pengembangan kesejahteraan Mahasiswa: Terselenggaranya
peningkatan fasilitas dan program kemahasiswaan (kepresidenan Mahasiswa, unit
kegiatan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa, kelompok minat, klub, dsb.),
Terselenggaranya pembinaan olah raga, kesenian dan minat khusus,
Terselenggaranya pusat pelayanan kesehatan Mahasiswa, Terselenggaranya sistem
asuransi Mahasiswa, Terselenggaranya program kewirausahaan Mahasiswa,
Terselenggaranya sistem informasi keMahasiswaan; (7) Peningkatan Kualitas dan
Relevansi Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Pengembangan
knowledge utilization, Terselenggaranya technology center dan Pusat Dokumentasi
hasil karya ilmiah, Berkembangnya kerjasama penelitian dengan pemda, industri,
dan dunia usaha, Terselenggaranya program penelitian inovatif dan berkembangnya
Sentra Haki, Peningkatan mutu dan relevansi penelitian, Tersedianya dana penelitian
sebesar 5 % dari total anggaran Institut, Peningkatan Relevansi Pemanfaatan
IPTEKS bagi Masyarakat, Terselenggaranya kegiatan pengabdian masyarakat
sebagai penerapan IPTEKS yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat,
Terlaksananya reorientasi kegiatan penelitian sebagai wahana untuk penerapan
sumber daya IPTEKS, Terselenggaranya kegiatan pembinaan dan pemberdayaan
untuk Usaha Kecil dan Mengengah (UKM), Terselenggaranya program kemitraan
dan pembinaan untuk pemberdayaan masyarakat UKM, Terselenggaranya pelayanan
masyarakat yang mampu menjadi katalisator bagi pengembangan masyarakat madani
(civil society) dalam masyarakat yang lebih luas, Terselenggaranya kegiatan
penerapan IPTEKS yang berorientasi pada keunggulan masyarakat industri; (8)
Pengembangan Softskill: Pengembangan berkelanjutan khasanah budaya sebagai
perwujudan peningkatan daya saing lulusan, Tumbuhnya nilai-nilai budaya akademik
dan terwujudnya ISTN sebagai institusi pendidikan yang menghasilkan lulusannya
dengan penguasaan hardskills dan softskills, Terselenggaranya kegiatan penanaman
budaya kerja dan softskill yang terintergrasi dalam proses pembelajaran, Peningkatan
mutu kehidupan kampus sebagai basis pengembangan knowledge based enterprised,
Meningkatnya semangat knowledge based enterprised di kalangan sivitas akademika
ISTN, Meningkatnya semangat kewirausahaan dalam manajemen ISTN,

43
Meningkatnya wawasan global di kalangan sivitas akademika, Meningkatnya
profesionalisme di kalangan sivitas akademika untuk mencapai keunggulan global;
(9) Pengembangan Pengelolaan Institut yang Efektif, Efisien dan Produktif:
Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan, Terselenggaranya fungsi dan tugas
semua unsur-unsur organisasi Institut untuk melaksanakan good ISTN governance,
Terselenggaranya sistem akuntansi dan manajemen keuangan yang transparan dan
akuntabel pada setiap unit; Terselenggaranya sistem manajemen akademik yang
efisien dan efektif serta penerapan total quality assurance system pada semua unit
kegiatan akademik dan unit pendukung; Terselenggaranya sistem informasi
manajemen yang menjamin terlaksananya perencanaan dan manajemen keuangan,
Akademik, SDM, sarana prasarana secara efektif dan efisien; Terselenggaranya
pelayanan perpustakaan secara efektif dan meningkatnya mutu pelayanan kepada
mahsiswa, Dosen, dan masyarakat akademik secara berkelanjutan yang didukung
dengan meningkatnya alokasi anggaran perpustakaan sampai mencapai minimal
sebesar 1 persen dari anggaran belanja Institut, Terselenggaranya jaringan Teknologi
Informasi dan Komunikasi pada seluruh sistem perpustakaan ISTN yang mencakup
pengembangan pusat manajemen pengetahuan (center for knowledge management)
dan upaya mewujudkan jaringan perpustakaan regional; Tersedianya perpustakaan
pusat yang representatif dan tersedianya cost-effective untuk memelihara dan
mengembangkan sumber dan pelayanan perpustakaan; Berlangsungnya kaderisasi
tenaga pendidik dan kependidikan melalui proses seleksi dan rekruitmen,
Terselenggaranya tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional dan bermutu,
regenerasi yang berkesinambungan, serta reward and Apresiasi yang memotivasi
kinerja; Terselenggaranya sistem penerimaan, pengangkatan, pembinaan dan
promosi tenaga pendidik dan kependidikan yang mendukung eksistensi ISTN sebagai
institusi pendidikan bidang sains dan teknologi; Meningkatnya kuantitas Dosen
sesuai dengan kebutuhan kompetensi dan rasio Dosen-Mahasiswa; Meningkatnya
kualifikasi tenaga pendidik berpendidikan S3 mencapai 30 %; Terselenggaranya
program pendidikan teknis fungsional untuk meningkatkan kualitas staf
pendukung/karyawan sesuai dengan kebutuhan bidang tugas, sebagai bagian dari
usaha meningkatkan dan menjamin mutu akademis; Terselenggaranya bantuan biaya
untuk kegiatan ilmiah bagi para tenaga pendidik untuk tingkat nasional dan
internasional; Diberlakukannya sistem evaluasi berbasis kinerja bagi staf tenaga
pendidik dan kependidikan, serta perbaikan sistem kesejahteraan yang berbasis
kinerja; Terselenggaranya program asuransi kesehatan plus bagi pendidik dan
kependidikan senior sebagai apresiasi ISTN terhadap pengabdian dan sumbangsih
mereka; Terselenggaranya program beasiswa untuk pelatihan dan studi lanjut;
Tersusunnya peraturan ISTN tentang pengadaan, pengangkatan, promosi dan
pemberhentian pegawai, Restrukrisasi peraturan ISTN tentang sistem penggajian dan
asuransi; Meningkatnya citra ISTN sebagai institusi tinggi bidang sains dan
teknologi yang menghasilkan para pemimpin, manajer, pelaksana, wirausaha dan
pemikir (inisiator dan inovator) yang handal, berdaya juang tinggi, berwawasan
global, dan berjiwa nasional; Maningkatnya citra ISTN sebagai institusi tinggi
bidang sains dan teknologi yang menghasilkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni

44
yang sesuaidengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan jaman, serta memiliki
jaringan kerjasama yang luas; Maningkatnya citra ISTN sebagai kampus dengan
sivitas akademika yang berintegritas tinggi, berbudaya, bermutu akademik tinggi,
kreatif, inovatif, berwawasan global, dan berjiwa nasional, Maningkatnya citra ISTN
sebagai kampus dengan infrastruktur dan fasiltas yang lengkap, mengikuti
perkembangan teknologi, kondusif bagi kegiatan belajar dan pengembangan diri,
Tersedianya dana 2% dari total anggaran utk penjaminan mutu; (10) Penyediaan
sarana prasarana yang mendukung Mutu Pendidikan: Mengembangkan sarana dan
prasarana fisik kampus, meliputi: rehabilitasi gedung dan ruang kelas, ruang
pelayanan, laboratorium dan lansekap, pembangunan kantin dan klinik,
pembangunan srudent center, rehabilitasi perpustakaan pusat, rehabilitasi aula,
pembangunan fasilitas olah raga, pembangunan gedung untuk toko/bursa,
pembukaan kantor cabang salah Bank Pemerintah, Mengembangkan perencanaan,
pengadaan, pengoperasian, pemeliharaan dan pemanfaatan fasilitas fisik secara
optimal, meliputi: Meningkatnya kualitas perencanaan dan pengembangan tata ruang
kampus, erselenggaranya lingkungan kampus yang aman, tertib, teduh, dan asri,
Meningkatnya kewibawaan Kampus ISTN sebagai institusi pendidikan,
pembelajaran, pelatihan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat yang kondusif
dan ramah dengan masyarakat sekitar; Terselenggaranya ketentraman, kenyamanan
dan keamanan kampus, melalui penataan aset, Terpenuhinya kebutuhan akomodasi
Mahasiswa, dengan maksud menjaring Mahasiswa dari luar jakarta; Terlaksananya
pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur sesuai kebutuhan; Terselenggaranya
operasional dan perawatan sarana dan prasarana; Pengembangan Sarana-prasarana
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), mengembangkan akses Teknologi
Informasi dan Komunikasi yang sesuai dengan kemajuan teknologi bagi kalangan
sivitas akademika, meliputi: Tersusunnya arsitektur sistem pelayanan teknologi
informasi dan komunikasi diseluruh ISTN, Terselenggaranya sistem jaringan LAN
beserta perangkat komputer yang diperlukan, Meningkatnya kapasitas kelembagaan
pusat pelayanan teknologi informasi dan komunikasi, Terselenggaranya
pembangunan sistem telekomunikasi kampus dengan menggunakan teknologi pita
lebar (broadband technology) yang mampu memenuhi kebutuhan telekomunikasi
pada masa 20 tahun ke depan; Tersedianya perangkat keras penyelenggaraan sistem
informasi akademik, kepegawaian, keuangan, alumni, serta gedung dan ruang; (11)
Pengembangan Kemandirian Organisasi dan Jaringan Kerja sama: Optimalisasi
pemanfaatan sumber daya IPTEKS yang dimiliki ISTN; Meningkatnya kerjasama
dengan dunia usaha/industri dalam pengembangan Program Studi dan sumber daya;
Bekembangnya unit-unit usaha yang sehat dan mampu menjadi salah satu sumber
keuangan ISTN; Meningkatnya penerimaan dari pengembangan usaha secara
bertahap hingga mencapai 60 % dari penerimaan total ISTN; Tersedianya Dana
Abadi di pendanaan ISTN; Peningkatan kapasitas jaringan kerjasama di tingkat
nasional; Meningkatnya kerjasama dengan mitra kerja pusat dan daerah;
Meningkatnya kemantapan kerjasama dengan para mitra kerja; Terselenggaranya
fungsi INI-ISTN sebagai pendukung hubungan yang efektif antara Alma Mater dan
alumni serta terselenggaranya wadah Keluarga Sivitas Akademika ISTN;

45
Tersusunnya data base alumni dan terhimpunnya dana alumni untuk beasiswa
Mahasiswa berprestasi namun kurang mampu secara ekonomi; Peningkatan kapasitas
jaringan kerjasama untuk meningkatkan ISTN ke posisi global; Terselenggaranya
jaringan kerjasama internasional dalam peningkatan mutu dan relevansi program
pendidikan, penelitian, pelayanan masyarakat serta gerakan budaya;
Terselenggaranya kerjasama program kembaran akademik (twinning program)
dalam kesetaraan; Terwujudnya pengakuan kesetaraan matakuliah dan lulusan ISTN
dengan matakuliah dan lulusan universitas internasional; Terselenggaranya
kerjasama program pertukaran antar universitas; Terselenggaranya jaringan
kerjasama yang solid dengan industri, pemerintah dan lembaga donor dalam bidang
pendidikan, penelitian, pengembangan dan pelatihan.

(2) Renstra 2015-2020


2.1 Kebijakan Strategis
2.1.1. Perluasan Akses dan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pembinaan
Kemahasiswaan
Perluasan akses dan peningkatan mutu pendidikan dan pembinaan
kemahasiswaan meliputi 3 fokus kebijakan, yaitu:
1) Peningkatan program pendidikan dan mutu layanan
(1) Perluasan akses dan mutu calon Mahasiswa (program sarjana,
magister, profesi maupun program diploma), melalui:
a. Meningkatkan mutu input (calon Mahasiswa) pada berbagai
skema seleksi masuk Institut dengan promosi intensif untuk
meningkatkan competitive rate atau tingkat selektivitas calon
Mahasiswa;
b. Mengintegrasikan perencanaan danpengelolaan administrasi
proses pendidikan multistrata termasuk proses seleksi masuk
Institut guna untuk meningkatkan efisiensi penggunaan
fasilitas pendidikan;
c. Memfasilitasi tenaga pendidik bersertifikat dengan berbagai
program pengembangan dalam upaya peningkatan mutu dan
keterampilan dalam proses belajar mengajar;
d. Memutakhirkan mutu bahan ajar dan metode pembelajaran
efektif dalam upaya pemenuhan capaian pembelajaran
(learning outcomes) berbasis KKNI;
e. Mendekatkan Mahasiswa dengan wahana penerapan keilmuan
dan dunia kerja dengan upaya mengembangkan cakupan
kerjasama dengan institusi mitra dalam kegiatan praktek kerja,
dan kegiatan penelitian.
(2) Peningkatan efisiensi dan mutu layanan pendidikan, dengan
upaya:
a. Mengintegrasikan proses layanan pendidikan akademik,
profesi, dan vokasi dimulai dari proses seleksi masuk untuk
meningkatkan efisiensi.

46
b. Meningkatkan mutu serta jumlah fasilitas dan infrastruktur
pendidikan untuk mendukung proses belajar yang efektif.
c. Mendorong optimalisasi kapasitas organisasi pelaksana
program pendidikan untuk peningkatan kualitas kegiatan
akademik.
d. Mendorong dan memfasilitasi peningkatan status akreditasi
Program Studi dan Institusi di tingkat nasional dan
internasional.
(3) Pemutakhiran course content dan metode pembelajaran, dengan
upaya:
a. Memfasilitasi program-program pendidikan akademik, profesi,
dan vokasi melalui kegiatan ‘teaching clinic’ untuk menyusun
capaian pembelajaran (learning outcomes) dalam rancangan
kurikulum berbasis KKNI;
b. Memfasilitasi tenaga pendidik dengan pelatihan pemutakhiran
metode pembelajaran selaras dengan implementasi kurikulum
berbasis kompetensi dan KKNI.

(4) Pemantapan implementasi KKNI, melalui


a. Mengkaji kebijakan dan evaluasi implementasi klasterisasi
kurikulum program pendidikan akademik, profesi, dan vokasi.
b. Memutakhirkan dan penyempurnaan implementasi kurikulum
program pendidikan akademik dan profesi agar selaras dengan
tingkatan lulusan menurut KKNI.
c. Memutakhirkan kurikulum program vokasi dengan mengacu
pada KKNI dalam upaya memperkuat kompetensi lulusan
dengan capaian pembelajaran yang adaptif dengan kebutuhan
dunia kerja yang kompetitif.
d. Memperkuat kompetensi Dosen dalam penyelenggaraan
pendidikan dan pembelajaran vokasional

(5) Pengembangan program pendidikan yang adaptif, dengan upaya:


a. Meningkatkan pembinaan multi sosial budaya Mahasiswa,
pengembangan unit-unit kegiatan Mahasiswa dan berbagai
kegiatan ekstrakurikuler maupun ko-kurikuler yang dapat
meningkatkan khususnya kemampuan soft skill dan jiwa
kewirausahaan.
b. Mengintegrasikan secara terprogramkegiatan peningkatkan
kompetensi tambahan di bidang kewirausahaan dan
kepemimpinan agar lulusan lebih siap dipasar kerja dan
mampu mandiri.

47
2) Peningkatan sumber dan media pendidikan
(1) Peningkatan peran profesional tenaga pendidik dalam
keanggotaan organisasi profesi, dengan cara:
a. Mendorong dan memfasilitasi penyelenggaraan seminar,
lokakarya dan kegiatan lainnya bekerjasama dengan organisasi
profesi.
b. Mendorong Dosen untuk ikut serta dalam seminar-seminar
nasional dan internasional yang diselenggarakan oleh
organisasi profesi.
c. Mendorong Dosen untuk berperan aktif dalam kepengurusan
organisasi profesi nasional dan internasional.
d. Peningkatan kompetensi Dosen dalam menulis dan komunikasi
untuk publikasi ilmiah dan populer.

(2) Peningkatan mutu layanan dan koleksi perpustakaan melalui:


a. Meningkatkan mutu layanan perpustakaan berbasis TIK;
b. Menambah jumlah dan jenis pustaka terbaru baik buku, jurnal
ilmiah, jurnal on line, dan pemeliharaan koleksi yang sudah
ada;
c. Meningkatkan sistem dan kenyamanan perpustakaan, akses
internet serta intranet yang handal agar sivitas akademika
menjadi lebih mudah mendapatkan sumber dan media
pendidikan;

(3) Pengembangan sumber pembelajaran dari hasil penelitian dengan


cara:
a. Mendorong dan memfasilitasi Dosen untuk selalu
memutakhirkan sumber pembelajaran;
b. Mengintegrasikan secara terprogram kegiatan peningkatkan
kompetensi tambahan di bidang kewirausahaan dan
kepemimpinan agar lulusan lebih siap di pasar kerja dan
mampu mandiri.

3) Peningkatan sumber dan media pendidikan


(1) Peningkatan peran profesional Dosen dalam keanggotaan
organisasi profesi, dengan cara:
a. Mendorong dan memfasilitasi penyelenggaraan seminar,
lokakarya dan kegiatan lainnya bekerjasama dengan organisasi
profesi.
b. Mendorong Dosen untuk ikut serta dalam seminar-seminar
nasional dan internasional yang diselenggarakan oleh
organisasi profesi.
c. Mendorong Dosen untuk berperan aktif dalam kepengurusan
organisasi profesi nasional dan internasional.

48
d. Peningkatan kompetensi Dosen dalam menulis dan komunikasi
untuk publikasi ilmiah dan populer.

(2) Peningkatan mutu layanan dan koleksi perpustakaan melalui:


a. Meningkatkan mutu layanan perpustakaan berbasis TIK;
b. Menambah jumlah dan jenis pustaka terbaru baik buku, jurnal
ilmiah, jurnal on line, dan pemeliharaan koleksi yang sudah
ada.
c. Meningkatkan sistem dan kenyamanan perpustakaan, akses
internet serta intranet yang handal agar sivitas akademika
menjadi lebih mudah mendapatkan sumber dan media
pendidikan.
(3) Pengembangan sumber pembelajaran darihasil penelitian dengan
cara:
a. Mendorong dan memfasilitasi Dosen untuk selalu
memutakhirkan sumber pembelajaran;
b. Mendorong Dosen untuk menghasilkan IPTEKS dan
memasukkannya dalam sumber pembelajaran agar Mahasiswa
mendapatkan sumber informasi yang mutakhir langsung dari
Dosen.
4) Peningkatan mutu pembinaan kemahasiswaan dan alumni
(1) Pembinaan kemahasiswaan, soft skill, kepemimpinan, dan
kewirausahaan dengan cara:
a. Meningkatkan mutu dan jumlah kegiatan lembaga
keMahasiswaan dengan tutorial yang lebih intensif.
b. Memperbanyak kegiatan-kegiatan pelatihan yang bersifat
meningkatkan softskill, kepemimpinan, peranan Mahasiswa,
dan kewirausahaan.
c. Memfasilitasi perintisan usaha pembangkitan pendapatan oleh
Mahasiswa.
(2) Pengembangan student center, sport center, dan asrama
Mahasiswa:
a. Meningkatkan fasilitas penunjang student center.
b. Membangun fasilitas olahraga dan sarana Mahasiswa
c. Membangun sarana dan prasarana untuk meningkatkan
kapasitas asrama Mahasiswa.
(3) Pengembangan language center dan interaksi lintas budaya:
a. Meningkatkan fasilitas laboratorium bahasa dan tata kelola
penyelenggaraannya;
b. Mendorong peningkatan kemampuan penguasaan bahasa asing
Mahasiswa;
c. Meningkatkan mutu kegiatan yang terkait dengan interaksi
lintas budaya Mahasiswa;

49
(4) Pembinaan karir lulusan dan hubungan dengan alumni:
a. Meningkatkan akses dan interaksi dengan pengguna yang akan
menyerap lulusan;
b. Mendorong peran positif alumni untuk meningkatkan peran
Institut dalam pembangunan nasional;
c. Mendorong lulusan untuk bekerja di bidang aplikasi sains dan
teknologi;

2.1.2. Peningkatan Mutu Penelitian


Pengembangan mutu penelitian meliputi tiga fokus kebijakan, sebagai
berikut:
1) Peningkatan mutu penelitian unggulan nasional
(1) Pembinaan penelitian unggulan dan prioritas nasional
a. Mengembangkan mutu penelitian yang diarahkan pada
peningkatan kemampuan Dosen, peneliti, dan Mahasiswa
untuk melakukan kegiatan penelitian, termasuk menguasai dan
mengembangkan metodologi penelitian,
b. Mengembangkan kualitas sumber daya penelitian diarahkan
pada peningkatan dana penelitian untuk meningkatkan jumlah
dan kualitas penelitian serta peningkatan kualitas sarana dan
prasarana penelitian yang memenuhi standar internasional,
c. Meningkatkan kualitas materi dan hasil penelitian yang relevan
dengan kebutuhan untuk pengembangan ilmu itu sendiri, untuk
pendidikan, untuk kepentingan usaha, serta masyarakat.
2) Peningkatan fasilitas sumberdaya dan kelembagaan penelitian
(1) Penyediaan hibah penelitian unggulan dan penelitian berbasis
keilmuan, dengan:
a. Memapankan implementasi fokus riset unggulan sesuai
Rencana Induk Penelitian (RIP)
b. Meningkatkan penelitian kolaboratif unit kerja (Fakultas/pusat
dan Program Studi) melalui pembentukan model riset lintas
unit kerja yang efektif;
c. Meningkatkan peran serta Dosen muda untuk menjamin
keberlanjutan reputasiriset dan keilmuan Institut;
d. Meningkatkan sumber dana hibah penelitian dapat dilakukan
baik melalui kemitraan dengan industri strategis terkait dengan
pendekatan konsep link and match yang saling
menguntungkan;
(2) Pengembangan pusat unggulan kompetensi nasional
a. Mengakselerasi terbentuknya pusat unggulan penelitian
berbasis kelompok ilmu;
b. Meningkatkan peran pusat unggulan sebagai referensi nasional
untuk penguatan kebijakan publik

50
c. Mengembangkan kerjasama penelitian dengan departemen
teknis/instansi pemerintah terkait serta instansi swasta;
(3) Peningkatan kemampuan dan mutu laboratorium terpadu dan
advanced research facilities:
a. Mengembangkan konsep “twinning laboratories” dikaitkan
dengan “access dan benefit sharing” dalam pemanfaatan
excess capacity;
b. Memperkuat jejaring internal laboratorium terakreditasi ISO-
17025 menuju system “resource sharing” yang efektif;
c. Memperkuat tautan teaching dengan industrial laboratories;
d. Memfasilitasi pendaftaran dan proses standardisasi dan
akreditasi laboratorium.
(4) Pengembangan peran kelembagaan pusat penelitian, dengan cara:
a. Mengembangkan kegiatan penelitian yang bersifat
multidisiplin, interdisiplin, dan transdisiplin;
b. Mengembangkan sistem evaluasi kelembagaan penelitian
dikaitkan dengan perubahan orientasi dan prioritas penelitian
serta dikaitkan dengan efisiensi penyelenggaraan penelitian;
c. Memperkuat peran dan performa kelembagaan penelitian
berbasis kelompok ilmu;
d. Meningkatkan kerjasama riset Pusat Penelitian dengan
lembaga/pusat penelitian di regional dan internasional.
3) Peningkatan publikasi, perlindungan, dan daya guna hasil penelitian,
melalui:
(1) Peningkatan diseminasi dan publikasi pada jurnal nasional dan
internasional
a. Meningkatkan atmosfir publikasi nasional dan internasional;
b. Memberikan insentif publikasi nasional dan internasional
terakreditasi;
c. Menyediakan unit pendampingan proses publikasi bagi
Mahasiswa;
d. Meningkatkan kualitas penerbitan jurnal ilmiah agar
terakreditasi;
(2) Pengelolaan hasil penelitian, paten dan HKI serta pembinaan
khusus:
a. Memperkuat pengelolaan hasil penelitian untuk pendidikan
dan pengabdian kepada masyarakat.
b. Memperkuat peran intermediasi inovasi berbasis paten serta
pemberlakuan regulasi internal pembagian manfaat melalui
royalty system;
c. Mempromosikan produk dan pemikiran unggulan ISTN
melalui percepatan penetrasi adopsi IPTEK oleh pengguna
secara luas khususnya terkait masalah lingkungan, sains dan
teknologi.

51
d. Memperkuat promosi inovasi melalui fasilitasi penyusunan
“business plan”, “business gathering”, “innovation expo” dll.
(3) Pengembangan galeri inovasi sebagai etalase dan wahana
interaksi para pihak, dengan:
a. Memapankan mini galeri inovasi melalui pengayaan muatan
dan konten interaktif;
b. Menyusun dan pemapanan master plan galeri inovasi serta
rencana pembangunannya;
c. Memperkuat jejaring alumni dan mitra untuk mendukung
pengembangan galeri inovasi;

2.1.3. Peningkatan Mutu Pengabdian Kepada Masyarakat


1) Peningkatan layanan pembinaan masyarakat produktif:
(1) Pengembangan peran kelembagaan dan kegiatan pemberdayaan
masyarakat:
a. Mengintegrasikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat
sebagai bagian dari kurikulum;
b. Mendorong keterlibatan sivitas akademika dalam kegiatan
yang bersentuhan langsung dengan masyarakat;
c. Meningkatkan mutu kualitas praktek kerja lapangan
Mahasiswa yang terintegrasi dalam kurikulum;
(2) Pemanfaatan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi inovatif
bagi masyarakat:
a. Mendorong sivitas akademika untuk memperbanyak produksi
teknologi tepat guna
b. Menerapkan sistem insentif yang lebih baik untuk Dosen yang
menghasilkan & melaksanakan pengabdian kepada masyarakat
c. Meningkatkan peran sivitas akademika dalam perumusan
kebijakan industri dan bidang terkait;
d. Mendorong kerjasama dengan pemprov untuk
mengoptimalkan potensi daerah;
e. Mendorong kontribusi dalam perumusan kebijakan
pengembangan industri dan lingkungan;

2.1.4. Peningkatan Kapasitas Sumberdaya dan Jejaring Kerjasama


Peningkatan kapasitas dan jejaring kerjasama meliputi dua aspek
kebijakan yang berhubungan dengan kapasitas Institusi, Tenaga Pendidik
dan Kependidikan, aset tangible maupun intangible dan jejaring
kerjasama baik dalam maupun luar negeri.
Fokus kebijakan peningkatan kapasitas dan jejaring kerjasama diuraikan
sebagai berikut:

52
1) Peningkatan kapasitas dan sarana fisik
(1) Peningkatan kapaistas sumberdaya tenaga pendidik, melalui:
a. Memantapkan jenjang pendidikan Dosen di dalam maupun
luar negeri;
b. Meningkatkan keterlibatan tenaga pendidik dalam kegiatan
internasional summer courses, internship, training dan
workshop.
(2) Penerapan knowledge management system dan e-learning dengan:
a. Memfasilitasi unit dan tenaga pendidik untuk mengunggah
berbagai dokumen yang berhubungan dengan ilmu
pengetahuan ke web ISTN, terutama dokumen ilmu
pengetahuan yang menurut sifatnya dapat dipublikasikan
kepada masyarakat.
b. Memfasilitasi dan menerapkan system insentif kepada tenaga
pendidik untuk mengembangkan metode pengajaran e-learning
yang lebih optimal, efisien dan efektif untuk mencapai
learning outcome.
c. Memperkuat kemampuan unit kerja terkait, baik tenaga
pendidik maupun kependidikan, fasilitas dan infrastruktur agar
dapat memfasilitasi penerapan knowledge management system
dan e-learning.
(3) Peningktan kapasitas sumberdaya tenaga kependidikan, melalui:
a. Memantapkan jenjang karir tenaga kependidikan;
b. Meningkatkan komptensi tenaga kependidikan melalui
pelatihan, mentoring, coaching, rotasi, dan peningkatan
kapasitas lainnya;

(4) Peningkatan sarana prasarana untuk pelaksanaan akademik dan


manajemen, melalui:
a. Menyediakan sarana prasarana untuk menciptakan kondisi
kampus yang kondusif bagi kegiatan belajar mengajar dan
interaksi sosial sivitas akademika.
b. Menyediakan fasilitas laboratorium akademik dengan kuantitas
dan kekinian yang memadai.
c. Menyediakan fasilitas bagi Dosen (ruang, furniture, dan
fasilitas pendukungnya)
d. Menjamin ketersediaan suplai air dan listrik untuk kegiatan
pendidikan dan riset.

2) Peningkatan jejaring kerjasama dan produktivitas kepakaran


(1) Peningkatan jejaring kerjasama kepakaran tenaga kependidikan,
dengan cara:

53
a. Meningkatkan keterlibatan tenaga pendidik dan kependidikan
dalam berbagai kegiatan training pengembangan diri danteknik
komunikasi yang efektif.
b. Meningkatkan kemampuan SDM melalui pelatihan knowledge
management secara terintegrasi.
c. Meningkatkan keterlibatan Mahasiswa dalam berbagai
kompetisi terkait dengan leadership dan entrepreuneurship.
d. Memperkuat kerjasama profesional di tingkat nasional dan
internasional yang dapat mendorong peningkatan kompetensi
dan daya serap lulusan.
e. Meningkatkan kerjasama kemitraan dengan swasta/pengguna
lulusan dalam perumusan kompetensi, proses pembelajaran,
praktek kerja, danpenyerapan lulusan.
f. Menyediakan layanan inkubasi bisnis bagi lulusan yang telah
terjun ke dunia usaha agar usahanya mandiri, berkembang, dan
berdayasaing.
g. Meningkatkan program “guest scientists” dengan cara
mendatangkan ilmuwan luar negeri dalam rangka kerjasama
pendidikan dan riset.
h. Memperkuat citra ISTN sebagai acuan untuk pengembangan
sains dan teknologi pada taraf nasional.

(2) Penguatan satuan usaha komersial berbasis inovasi dan keilmuan


bidang teknologi, melalui:
a. Mengembangkan bisnis berbasis teknologi dan kepakaran,
pemanfaatan asset lahan, dan kemitraan.
b. Meningkatkan peran komite pengembangan dan kajian bisnis.
c. Memperkuat peran inkubator bisnis/pusat kewirausahaan untuk
pengembangan usaha para alumni.

(3) Penguatan satuan usaha akademik dan penunjang berbasis


pemanfaatan kepakaran dan aset, melalui:
a. Mengembangkan jiwa kewirausahaan dan profesionalisme
sivitas akademika diwujudkan melalui upaya pengembangan
usaha akademik untuk melayani kebutuhan masyarakat.
b. Meningkatkan kinerja usaha dan pengembangan usaha
penunjang.

2.1.5. Peningkatan Kesejahteraan Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan


dan Mahasiswa
1) Peningkatan pendanaan dan remunerasi
(1) Peningkatan pemasukan dana di luar tuition fee untuk
kesejahteraan, dengan:

54
a. Meningkatkan jejaring kerjasama profesional untuk
memberikan tambahan pendapatan secara langsung kepada
Dosen dan secara tidak langsung kepada tenaga kependidikan.
b. Meningkatkan kontribusi dari biro pengembangan usaha,
akademis, dan penunjang sehingga dapat digunakan untuk
meningkatkan kesejahteraan Mahasiswa, Dosen dan tenaga
kependidikan.
c. Mengoptimalkan pendanaan RAPB yang dapat dipergunakan
untuk peningkatan kesejahteraan Mahasiswa, Dosen dan
tenaga kependidikan.

(2) Pengelolaan dan peningkatan dana abadi, melalui:


a. Meningkatkan sumber dana abadi yang berasal dari
masyarakat, sponsor perusahaan/lembaga swasta di tingkat
nasional dan internasional yang tidak mengikat.
b. Menginvestasikan keuangan jangka pendek dalam pengelolaan
dana abadi.

(3) Peningkatan mutu layanan penggajian, tunjangan dan insentif


berbasis kinerja (remunerasi), dengan cara:
a. Meningkatkan standar insentif pendidikan, penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat yang diarahkan pada unit biaya
atau kemampuan dalam membangun relasi dan jaringan
kerjasama.
b. Mengembangkan sistem insentif berbasis kinerja bagi tenaga
pendidik dan tenaga kependidikan.
c. Mengembangkan sistem reward dalam kerjasama profesional
diarahkan pada penghargaan profesi individual dan
institusional.

(4) Pemberian beasiswa dan bantuan biaya pendidikan Dosen, tenaga


kependidikan dan Mahasiswa,
a. Memperluas sumber dana beasiswa bagi Dosen, tenaga
kependidikan dan Mahasiswa;
b. Meningkatkan tata kelola dalam seleksi dan penyaluran
beasiswa

2) Peningkatan sistem jaminan dan layanan sosial, melalui:


(1) Peningkatan sistem jaminan kesehatan, dengan:
a. Mengembangkan sistem jaminan kesehatan bagi tenaga
pendidik dan kependidikan;
b. Mengembangkan poliklinik dan pelayanan kesehatan bagi
tenaga pendidik dan kependidikan;

55
(2) Peningkatan layanan sosial dan aksesibiltas kenyamanan kerja,
melalui:
a. Mengembangkan layanan sosial bagi tenaga pendidik,
kependidikan, dan Mahasiswa;
b. Mendorong penyediaan bantuan uang muka perumahan,
rekreasi, family gathering dan tunjangan hari raya.
c. Meningkatkan kenyamanan lingkungan kerja.

2.1.6. Penguatan dan Dinamisasi Sistem Manajemen


Penguatan dan dinamisasi sistem manajemen meliputi 2 fokus kebijakan
yang berhubungan dengan organisasi dan tatakelola, pengelolaan
sumberdaya dan sistem manajemen pada pengelolaan teknologi informasi
dan komunikasi (TIK). Fokus kebijakanpenguatan dan dinamisasi sistem
manajemen diuraikan sebagai berikut:

1) Dinamisasi organisasi dan tata kelola


(1) Peningkatan efektifitas organisasi dan sinergitas tata kelola,
melalui:
a. Mengawal dan evaluasi aturan perilaku (perbaikan manual
mutu, penerbitan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan).
b. Memantapkan sistem audit.
c. Meningkatkan koordinasi pelaksanaan fungsi organisasi
(2) Pengembangan sistem penjaminan mutu dan kebijakan terstruktur
a. Mendorong unit kerja untuk mengimplementasikan sistem
penjaminan mutu yang telah ditetapkan.
b. Melakukan upaya perbaikan secara terus menerus terhadap
indikator-indikator kinerja sesuai dengan renstra;
2) Penguatan dan dinamisasi pengelolaan sumberdaya
(1) Penguatan peran dan fungsi perencanaan dan pengembangan,
melalui:
a. Meningkatkan penerapan manajemen berbasis kinerja.
b. Menguatkan implementasi perencanaan strategis
c. Meningatkan kualitas pengukuran kinerja.
(2) Penguatan sistem dan pengelolaan pendanaan, melalui:
a. Menyempurnakan sistem akuntansi.
b. Meningkatkan kualitas pelaporan keuangan,
c. Menyempurnakan sistem pengendalian internal.
(3) Penguatan sistem dan pengelolaan Sumber Daya Manusia,
melalui:
a. Me-redesign man power planning
b. Mengimplementasikan manpower plan-ning untuk perekrutan
tenaga pendidik dan kependidikan;
c. Meningkatkan efektifitas promosi kepangkatan

56
(4) Penguatan sistem dan layanan fasilitas dan properti, melalui:
a. Meningkatkan pelayanan dan pengadaan yang transparan dan
cepat tanggap (quick response) berbasis tugas pokok dan
fungsi serta dukungan layanan sistem informasi.
b. Memperkuat kapasitas sumber daya pengelola fasilitas dan
properti.
c. Memperkuat sinergi dengan aturan-aturan tata kelola
organisasi dan stakeholder;
(5) Penguatan sistem dan layanan kehumasan, pemasaran dan
komunikasi publik, melalui:
a. Meningkatkan efektifitas promosi untuk program akademik,
profesi dan vokasi
b. Meningkatkan intensitas cakupan penyebaran materi promosi,
road show ke berbagai daerah dan sekolah serta publikasi di
media massa.

3) Dinamisasi sistem dan teknologi informasi dan komunikasi


(1) Peningkatan kapasitas infrastruktur jaringan dan layanan
teknologi informasi dan komunikasi, melalui:
a. Meningkatkan dan memperkuat kapasitas infrastruktur
jaringan dan layanan TIK.
b. Meningkatkan kerjasama profesional baik di tingkat nasional
maupun internasional dengan industri, penyedia jasa layanan
dan industri/pengguna lulusan;
c. Memperkuat kemampuan teknis kepada tenaga kependidikan
operasional rutin di setiap unit kerja.
d. Membina dan menyetarakan standar kompetensi minimal yang
harus dikuasai oleh tenaga teknis untuk mendukung
ketersediaan, kehandalan, dan fungsi layanan TIK.
(2) Penguatan Sistem Informasi Manajemen terintegrasi, melalui:
a. Memperkuat tatakelola data dan system informasi yang
mencakup institusi dan unit-unit kerja terkait.
b. Memuktahirkan kebutuhan TIK unit kerja.
c. Meningkatkan interoperabilitas dan peran unit kerja dalam
pemutakhiran data dan pemanfaatan layanan TIK dan sistem
informasi.

57
Kebijakan strategis pengembangan ISTN 2015-2020 terangkum dalam bangunan Pilar
strategis sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar-2.

Menjadi Institusi Pendidikan Tinggi Yang Unggul dan


Berdaya Saing Tinggi dalam Bidang Sains dan Teknologi,
Berbasis Riset dan Inovasi, di Era Global pada 2025

Gambar-2: Bangunan Pilar strategis untuk mencapai Visi ISTN

2.2. Program ISTN 2015-2020


Program ISTN tahun 2015-2020 merupakan serangkaian aktivitas yang
penyelenggaraannya dilakukan pada tiap tingkat dan unit kerja di lingkungan
ISTN. Masing-masing program/sub-program saling terkait satu sama lainnya
untuk mendukung tercapainya visi ISTN 2015-2020.
Program ISTN tahun 2015-2020 terbagi ke dalam enam pilar strategis, meliputi:
1) Perluasan Akses dan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Kemahasiswaan,
terdiri atas:
(1) Peningkatan program dan mutu layanan pendidikan,
(2) Peningkatan sumber dan media pendidikan, dan
(3) Peningkatan mutu pembinaan kemahasiswaan dan alumni;
2) Peningkatan Mutu Penelitian, terdiri atas:
(1) Peningkatan mutu penelitian unggulan nasional,
(2) Peningkatan fasilitas sumberdaya dan kelembagaan penelitian, dan
(3) Peningkatan publikasi, perlindungan, dan dayaguna hasil penelitian;
58
3) Peningkatan Mutu Pengabdian Kepada Masyarakat, terdiri atas:
(1) Peningkatan layanan pembinaan masyarakat produktif, dan
(2) Peningkatan layanan mutu pengabdian kepada masyarakat bidang
sains dan teknologi;
4) Peningkatan Kapasitas dan Jejaring Kerjasama, terdiri atas:
(1) Peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dan sarana fisik,
(2) Peningkatan kualitas tampilan fisik kampus,
(3) Peningkatan kualitas infrastruktur layanan kampus,
(4) Peningkatan jejaring kerjasama dan produktivitas kepakaran;
5) Peningkatan Kesejahteraan Dosen, Tenaga Kependidikan, dan Mahasiswa,
terdiri atas:
(1) Peningkatanpendanaan dan layanan renumerasi, dan
(2) Peningkatan sistem jaminan dan layanan sosial;
6) Penguatan dan Dinamisasi Sistem Manajemen, terdiri atas:
(1) Dinamisasi organisasi dan tatakelola,
(2) Penguatan dan dinamisasi pengelolaan sumberdaya, dan
(3) Dinamisasi sistem dan teknologi informasi dan komunikasi.

Berdasarkan enam pilar tersebut, maka sub-program yang dicanangkan antara


lain adalah sebagai ditunjukkan pada tabel-16:

Tabel-16: Rincian sub-program


Target Pencapaian Ket.
Kode Program Satuan
2015 2016 2017 2018 2019 2020

1. Menjadikan ISTN sebagai pusat aktivitas akademik di tingkat nasional maupun global
1.1 Sebagai pusat informasi ilmiah di bidang
Sains dan Teknologi dapat
menginfomasikan kegiatan
- Lokal 3 3 3 3 3 3 18
Kegiatan
- Kopertis Wil III Per 1 2 3 3 3 3 15
- Jawa Fakultas 1 3 3 3 3 13
- Nasional 1 3 3 3 10
-Regional 1 2 3 6
- Global/Inetrnasional 1 1 2
Total 4 6 10 13 16 16 65
1.2 Sebagai pusat ajang pertemuan ilmiah
bidang sains dan Teknologi
- Lokal Kegiatan 3 3 3 3 3 3 18
- Kopertis Wil III Per 1 2 3 3 3 3 15
Fakultas
- Jawa 1 3 3 3 3 13
- Nasional 1 3 3 3 10
-Regional 1 2 3 6
- Global/internasional 1 2 3
Total 4 6 10 13 16 16 65
1.3 Sebagai rujukan organisasi profesi bidang
sains dan teknologi.
- Lokal Kegiatan 3 3 3 3 3 3 18

59
- Kopertis Wil III Per 1 2 3 3 3 3 15
- Jabar Fakultas 1 3 3 3 3 13
- Nasional 1 3 3 3 10
-Regional 1 2 3 6
- Global 1 1 2
Total 3 6 10 13 16 16 65
2. Meningkatkan mutu suasana dan layanan Akademik, melalui
2.1 Peningkatan mutu budaya akademik,
sehingga tenaga pendidik dan Mahasiswa Kegiatan
mempunyai kepekaan tinggi dan Per 2 3 4 4 5 5
sekaligus peduli terhadap fenomena- Fakultas
fenomena yang ada di luar kampus
2.2 Peningkatan mutu tenaga pendidik. Keg/dan
/smt
1 1 1 1 1 1
2.3 Peningkatan kemampuan mengajar tenaga keg/PS/se
pendidik mt
1 1 1 1 1 1

2.4 Peningkatan kemampuan penalaran Keg/unit


Mahasiswa /semt
1 2 2 2 2 2

2.5 Peningkatan kualitas lulusan yang keg/ps/s 2 2


excellent (IPK >3,67-4) mt
1 2 2 2

Pening
katan
Peningkatan rasio Dosen : Mahasiswa %/Fakul mhs
2.6 25 50 75 100 100 100
mencapai ketentuan yang berlaku.(1:20 ) tas baru dan
jumlah
dosen
Peningkatan standar mutu calon
2.7 Mahasiswa baru Keg/Fak 1 1 1 1 1 1

Pemutakhirkan dan penyempurnaan


implementasi kurikulum program Kegiatan
pendidikan akademik dan profesi agar 2 2 2 2 2 2
2.8 /PS/
selaras dengan tingkatan lulusan menurut Semt
KKNI
Peningkatan layanan oleh tenaga pendidik Kegiatan 2 2 2 2 2 2
2.9 dan kependidikan kepada Mahasiswa /Fak/
semt
Peningkatan lulusan yang berjiwa Kegiatan 1 1 1 1 1 1
2.10 /PS/semt
entrepreneurship
Peningkatan sistem pendidikan ke arah
2.11 wira usaha Keg/semt 1 1 1 1 1 1

Peningkatan mutu tenaga pendidik untuk


dapat menguasai mata kuliah yang terkait Keg/PS
2.12 / semt
1 1 1 1 1 1
dengan entrepreneurship
Peningkatan profesionalisme Mahasiswa Keg/PS
2.13 dan lulusan / semt
1 1 1 1 1 1
3. Peningkatan Kualitas dan Relevansi Pendidikan, terselenggaranya pembelajaran berbasis KKNI dan penelitian
dasar
3.1 Terselenggaranya program Program
Studi yang sesuai Standar Nasional % /PS 50 60 80 100 100 100
Pendidikan

60
3.2 Terlaksananya restrukturisasi program Kgtn/P
untuk memantapkan ISTN sebagai S/ 1 1 1 1 1 1
institusi pendidikan berbasis IPTEKS semt
3.3 Meningkatkan jumlah peminat tiap
Program Studi % / PS 20 20 20 20 20 20

3.4 Tercapainya jumlah dan komposisi


Mahasiswa secara optimal baik dari %/PS/a
sisi jenjang pendidikan maupun sal 10 10 10 10 10 10
daerah
daerah asal
3.5 Terlaksananya Penyelenggaraan SPMI SPM SPMI SPMI SPMI SPMI
SPME I SPME SPME SPM SPME
Sistem Penjaminan Mutu secara SPM ISO ISO (3 E ISO
berkelanjutan E (21uni) unit) ISO (5 unit)
ISO (4
(1 unit)
unit)

4. Pengembangan mutu Mahasiswa baru


Terselenggaranya sistem seleksi Angk 1:1.
4.1 Mahasiswa baru yang berkualitas keketatan
1:1
5
1:1.75 1:2 1:2 1:2

Terselenggaranya sistem penjaringan


4.2 calon Mahasiswa berbakat (% dari total % 1 2 4 4 5 5
yang diterima)
Meningkatnya jumlah peminat tiap %
4.3 Program Studi dan jenjang Prodi
20 20 20 20 20 20

Bertambahnya skema bea siswa untuk


4.4 Mahasiswa Instansi 2 3 4 5 8 10

Tersedianya anggaran pemasaran sebesar


4.5 10 % dari total anggaran Institut % 1 2 3 5 5 5

5. Pengembangan mutu proses pembelajaran


5.1 Meningkatnya kualitas dan relevansi
2,75-3 3- 3,25-3,5 3,25-3,5 3,25- 3,25-3,5
Program Studi pada program IPK 3,25 3,5
Diploma, Sarjana, Magister dan
tepat 70 75 75 80
Profesi serta terwujudnya paradigma waktu 70 80
pendidikan yang berorientasi pada (%)
pembelajaran yang berpusat pada <6 3 3 3
MTK(b 3 3
Mahasiswa (student centered ulan)
learning).
5.2 Terselenggaranya sistem penjaminan % unit
mutu pada semua unit kerja 20 30 45 60 75 100
kerja
5.3 Meningkatnya pemanfaatan Teknologi
Informasi dan Komunikasi dalam % dosen 75 100 100 100 100 100
proses pembelajaran
5.4 Meningkatnya pemanfaatan Teknologi
Informasi dan Komunikasi dalam % unit
kerja
75 80 85 90 95 100
proses administrasi pendidikan
5.5 Tertibnya pelaksanaan laporan % 90 100 100 100 100 100

61
EPSBED/PDPT
5.6 Terselenggaranya sistem monitoring %
dan evaluasi secara berkala terhadap unit 80 90 100 100 100 100
Program Studi kerja

5.7 Terselenggaranya pertemuan ilmiah


tingkat Program Studi, Fakultas, Kegiatan
(lokal, nasional, Regional, / tahun 2 2 2 2 2 2
International)
5.8 Terselenggaranya pengembangan
Sumber daya manusia dalam Keg/prod
i/fak 1 1 1 1 1 1
penerapan teknologi pendidikan
5.9 Meningkatnya kualitas layanan Yandikliti
laboratorium (teaching dan riset ) (%)
60 65 70 75 80 85%

5.10 Memutakhirkan mutu bahan ajar dan


metode pembelajaran efektif dalam 80
upaya pemenuhan capaian Semua 75% 85% 90% 95% 100%
%
prodi
pembelajaran (learning outcomes)
berbasis KKNI
5.11 Memantapkan pemberlakuan Sem Sem
Semu
Semua ua Semua Semua ua
kurikulum berbasis KKNI prodi prod prodi prodi prod
a
prodi
i i
6. Pengembangan mutu lulusan
6.1 Terselenggaranya ”tracer study”
sebagai dasar peningkatan kualitas Persia
pan Pilih ka. TS TS TS TS Tracer
lulusan dan perubahan pasar kerja Institusi Angkata
perenc n/ prodi 2010 2011 2012 2013 Study
anaan
lulusan
6.2 Terselenggaranya program 1
1 1 Keg/ 1
pendampingan para lulusan Fakultas
1
Keg/ Keg/
1
smt Keg/
Pembuat
keg/smt Keg/ smt an surat
dan prodi smt di smt di di smt di
di inst. di prodi lamaran
fak fak prod prodi
i
6.3 Terselenggaranya program pengayaan 2 2 2 2 2
2 Seminar
dan pembekalan kepada lulusan Fakultas keg/smt Keg/ Keg/ Keg/ Keg/
Keg/ smt /lokakar
dan prodi di smt di smt di smt di smt di
sebelum masuk dunia kerja Fakultas prodi prodi
di prodi
prodi prodi
ya

6.4 Terselenggaranya PPSDM untuk


Evaluas Adm,
membantu Mahasiswa dalam Senat, i SDM. BimK
meningkatkan kualitas diri dan BimKos BimKos os BimKos bimbingan
Fakultas kelemb Ruan institut institut institu institut konseling
penyelesaian masalah pribadi dalam dan prodi agaan, gan t
(senat) (inst)
kehidupan kemahasiswaannya
6.5 kerjasama
Terselenggaranya ”Career Center” 1/smt 1/smt instansi,
untuk membantu para lulusan Institut/Fa 1/smt di di 1/smt di 1/smt di di 1/smt di pelatihan
kultas institut institu institut institut institu institut nasional/i
mendapatkan pekerjaan yang tepat t t nternasio
nal
6.6 Infrastru Mulai Infrastr Mulai Pelatihan
Keg. Keg.
Terselenggaranya fasilitas pelatihan institut ktur lab. pelati uktur pelatihan
Pelati Pelatih
B.inggris
B han B. lab. B B. china dan china

62
kemampuan bahasa asing inggris inggri china han an
s
6.7 Terselenggaranya fasilitas sertifikasi 4 >4 >6 >6 Lembaga
kompetensi Prodi 2 MOU >4 MOU
MOU MOU MOU MOU sertifikasi

7. Pengembangan kegiatan ekstra kulikuler dan kesejahteraan Mahasiswa


7.1 Terselenggaranya peningkatan Sekert
fasilitas dan program kemahasiswaan perenca ariat Kemaha
Masing- naan dan Revisi siswaan,
(Kepresidenan Mahasiswa, Unit masing infrastru pemb AD/A
1
1 kelompo
1 kgita
Kegiatan Mahasiswa, Himpunan unit ktur entuk RT
kegiatan n per
kgitan k ilmu,
Mahasiswa, kelompok ilmu, minat dan Institusi, keg. an KM per minat
/smter smte
mhs, Fak, kemaha kelom ISTN smter dan
bakat, klub, dsb.) prodi siswaan pok (mhs)
r
bakat,
(insti) ilmu klub dll
(fak)
7.2 1 1
Orkes
Terselenggaranya pembinaan Inst, fak
1 keg/ keg/ 1 keg/ 1 keg/ keg/ 1 keg/
dan
Smt Smt Smt Smt Smt Smt
olahraga, kesenian dan minat khusus. Prodi
(Inst) (Inst (fak) (prodi) (I,F, (I,F,P)
minat
khusus
) P
7.3 terbentuk layana
Terselenggaranya pusat pelayanan Senat, nya layanan layanan layanan n layanan
lembaga kesehat kesehat kesehatan keseh kesehat
kesehatan Mahasiswa institut kesehatan an mhs an mhs mhs atan an mhs
(senat) mhs
7.4 KT
Terselenggaranya sistem asuransi MOU KTM
KTM KTM M KTM
Mahasiswa institut dgn asurans
asuransi asuransi asuran asuransi
asuransi i
si
7.5 Terselenggaranya program 1 1 1
1
1 1
Pelatihan
kewirausahaan Mahasiswa institut kegiat kegi kegiat
kegiatan
kegi kegiat
wirausaha
an atan an atan an

8. Peningkatan Kualitas dan Relevansi Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat


8.1 Pengembangan knowledge utilization
8.1.a Terselenggaranya technology center
dan Pusat Dokumentasi hasil karya kegiatan 1 1 1 1 1 1
ilmiah
8.1.b Berkembangnya kerjasama penelitian
dengan pemda, industri, dan dunia kegiatan 2 2 2 2 2 2
usaha
8.1.c Terselenggaranya program penelitian
inovatif dan berkembangnya Sentra kegiatan 2 2 2 2 2 2
HaKI

8.2 Peningkatan mutu dan relevansi penelitian


8.2.a Berkembangnya penelitian yang kgtan
berorientasi pada pemanfaatan sumber per
daya IPTEKS untuk peningkatan prodi 1 3 3 4 4 4
kesejahteraan masyarakat dan per
smter
perkembangan ilmu pengetahuan
8.2.b Meningkatnya mutu penelitian secara kgtan
berkelanjutan melalui program hibah per 1 2 3 3 4 4
prodi
penelitian unggulan

63
8.2.c Terhimpunnya sumber dana penelitian
dari berbagai skema. Skema 2 4 4 4 4 4

8.2.d Tersedianya dana penelitian sebesar 5


% dari total anggaran Institut % 5 5 5 5 5 5

8.3 Peningkatan Relevansi Pemanfaatan IPTEKS bagi Masyarakat


8.3.a Terselenggaranya kegiatan
pengabdian masyarakat sebagai kgtan
penerapan IPTEKS yang berorientasi per 1 2 3 3 3 3
prodi
pada kebutuhan masyarakat
8.3.b Terlaksananya reorientasi kegiatan kgtan
penelitian sebagai wahana untuk per 1 2 3 3 3 3
penerapan sumber daya IPTEKS prodi

8.4 Pemberdayaan Masyarakat


8.4.a Terselenggaranya kegiatan pembinaan kgtan
per
dan pemberdayaan untuk Usaha Kecil prodi 1 2 3 4 4 4
dan Mengengah (UKM) Per
smste
8.4.b Terselenggaranya program kemitraan kgtan
per
dan pembinaan untuk pemberdayaan prodi 2 2 4 4 4 4
masyarakat UKM Per
smste
8.4.c Terselenggaranya pelayanan
kgtan
masyarakat yang mampu menjadi per
katalisator bagi pengembangan prodi 1 2 2 2 2 2
masyarakat madani (civil society) Per
smste
dalam masyarakat yang lebih luas
8.4.d Terselenggaranya kegiatan penerapan kgtan
per
IPTEKS yang berorientasi pada prodi 2 2 2 2 2 2
keunggulan masyarakat industri Per
smste

9. Pengembangan Softskill

9.1 Pengembangan berkelanjutan khasanah budaya sebagai perwujudan peningkatan daya saing lulusan
9.1.a Tumbuhnya nilai-nilai tinggi budaya
akademik dan terwujudnya ISTN
sebagai institusi pendidikan yang Kegiata
menghasilkan lulusannya dengan n per 2 2 2 2 2 2 institusi
penguasaan hardskills dan softskills tahun
berbasis wedha wiyata wirasakti dan
budaya e-istn
9.1.b Terbentuknya Pusat Pengembangan Kegiata
Softskills n per 2 2 2 2 2 2 institusi
tahun
9.1.c Terselenggaranya kegiatan penanaman
budaya kerja dan softskill yang Kegiata
terintergrasi dalam proses n per 2 2 2 2 2 2 institusi
tahun
pembelajaran

64
9.2 Peningkatan mutu kehidupan kampus sebagai basis pengembangan knowledge based enterprised
9.2.a Meningkatnya semangat knowledge Semua
based enterprised dikalangan sivitas 75 80 85 90 95 100
prodi
akademika ISTN (%)

9.2.b Meningkatnya semangat Semua


kewirausahaan dalam manajemen prodi 75 80 85 90 95 100
ISTN (%)

9.2.c Meningkatnya wawasan global di Semua


75 80 85 90 95 100
prodi
kalangan sivitas akademika (%)
9.2.d Meningkatnya profesionalisme Semua
dikalangan sivitas akademika untuk 75 80 85 90 95 100
prodi
mencapai keunggulan global (%)

10. Pengembangan Pengelolaan Institut yang Efektif, Efisien dan Produktif


10.1 Terselenggaranya fungsi dan tugas
semua unsur-unsur organisasi Institut % unit
untuk melaksanakan good ISTN kerja
50 60 70 80 90 100
governance
10.2 Terselenggaranya sistem akuntansi
dan manajemen keuangan yang % unit
transparan dan akuntabel pada setiap kerja
70 75 80 85 90 100
unit
10.3 Terselenggaranya sistem manajemen
akademik yang efisien dan efektif
serta penerapan total quality assurance % unit
kerja
70 75 80 85 90 100
system pada semua unit kegiatan
akademik dan unit pendukung
10.4 Terselenggaranya otonomi perguruan
tinggi dengan prinsip Sentralisasi %
70 75 80 85 90 100
Administrasi Desentralisasi akademik institut
dan Riset.

11. Pengembangan Sistem Informasi


11.1 Terselenggaranya system informasi manajemen yang menjamin terlaksananya perencanaan dan
manajemen keuangan, Akademik, SDM, sarana prasarana secara efektif dan efisien
11.1a Sistem Akuntansi dan Sistem
Informasi Kepegawaian ISTN % 70 75 80 85 90 100

11.1b Sistem Informasi Akademik dan


Sistem Informasi Gedung/Ruang % 70 75 80 85 90 100

11.1c Sistem Informasi Penerimaan


Mahasiswa Baru % 70 75 80 85 90 100

11.1d Sistem Informasi Kehumasan dan


Pemasaran % 50 75 80 85 90 100

11.1e Sistem Informasi Sumber daya % 50 75 80 85 90 100

65
IPTEKS
11.1f Sistem Informasi Kebutuhan dan
Penempatan kerja % 50 75 80 85 90 100

11.1g Sistem Informasi Kemahasiswaan dan


Alumni % 50 75 80 85 90 100

11.1h Pengembangan Sistem Informasi


untuk mendukung terselenggaranya % 50 75 80 85 90 100
distance learning
11.1i Pengembangan unit dan kelompok
yang mengembangkan Sistem % 50 75 80 85 90 100
Informasi Manajemen berbasis TIK
11.2 Sistem informasi perpustakaan ISTN
11.2.a Terselenggaranya pelayanan
perpustakaan secara efektif dan
meningkatnya mutu pelayanan kepada % 50 75 80 85 90 100
mahsiswa, Dosen, dan masyarakat
akademik secara berkelanjutan
11.2b Meningkatnya alokasi anggaran
perpustakaan sampai mencapai
minimal sebesar 1 persen dari % 1 1 1 1 1 1
anggaran belanja Institut
11.2c TerselenggaranyaTeknologi Informasi
dan Komunikasi pada seluruh sistem
perpustakaan ISTN yang mencakup
pengembangan pusat manajemen % 50 75 80 85 90 100
pengetahuan (center for knowledge
management) dan upaya mewujudkan
jaringan perpustakaan regional
11.2d Tersedianya perpustakaan pusat yang
representatif dan tersedianya cost-
effective untuk memelihara dan % 50 75 80 85 90 100
mengembangkan sumber dan
pelayanan perpustakaan
12. Pengembangan Sumberdaya Manusia
12.1 Berlangsungnya kaderisasi tenaga
Orang
pendidik dan kependidikan melalui Per 2 2 2 2 2 2
proses seleksi dan rekruitmen prodi

12.2 Peningkatan dan pengembangan


tenaga pendidik dan kependidikan
yang profesional dan bermutu,
regenerasi yang berkesinambungan,
serta reward and Apresiasi yang
memotivasi kinerja
5/th 7/th 8/th 9/th 10/th 10/th
- Tenaga Pendidik
Reward dan apresiasi: sertifikat nasional 5/th 8/th 13/th 15/th 15/th 15/th
Publikasi jurnal 2/th 3/th 4/th 5/th 5/th 5/th

66
Nasional 2/th 3/th 4/th 4/th 5/th 5/th
Internasional Seda baik baik exc exc exc
Paten ng
Loyalitas Tim 15/th 20/th 25/th 30/th 40/th
- Tenaga Kependidikan 10/th Sedang baik exc exc exc
Seda
Reward dan apresiasi: sertifikat Institut
ng
Loyalitas Tim

12.3 Terselenggaranya system penerimaan,


pengangkatan, pembinaan dan
promosi tenaga pendidik dan 2 org 2 org 2 org
2 org per
2 org 2 org
per per per per per
kependidikan yang mendukung prodi prodi prodi
prodi
prodi prodi
eksistensi ISTN sebagai institusi
pendidikan bidang sains dan teknologi
12.4 Meningkatnya kuantitas Dosen sesuai
dengan kebutuhan kompetensi dan min. min. min. min. min.
min. 1/22
1/30 1/28 1/25 1/20 1/20
rasio Dosen-Mahasiswa
12.5 Meningkatnya kualifikasi tenaga
pendidik dengan target pada tahun
2017 tenaga pendidik ISTN yang 5% 7,5% 10% 15% 20% 30%
berpendidikan S3 mencapai 30 %.
12.6 Terselenggaranya program pendidikan
teknis fungsional untuk meningkatkan Jml yang
mengamb
kualitas staf pendukung/karyawan (%) il
sesuai dengan kebutuhan bidang Institut progrqm
50 60 70 80 90 100 dari total
tugas, sebagai bagian dari usaha yang
meningkatkan dan menjamin mutu memenuh
i syarat
akademis
12.7 Terselenggaranya bantuan biaya untuk
kegiatan ilmiah bagi para tenaga
pendidik untuk tingkat nasional dan Per Fak
internasional, sebagai pembawa materi
- Nasional : biaya utk orang/th 4 5 6 7 8 8
- Internasional: biaya utk orang/th 1 2 3 4 5 5

12.8 Diberlakukannya system evaluasi Per


berbasis kinerja bagi staf tenaga
pendidik dan kependidikan, serta
perbaikan system kesejahteraan yang
berbasis kinerja
- Tenaga Pendidik
Jabatan fungsional dan tunjangan (Δ orang) Prodi
Asisten Ahli 5 3 2 2 2 2 Sistem
Lektor 2 - 5 3 2 2 tunjangan
Lektor Kepala 2 - 2 - 2 3 fungsiona
Guru Besar 1 - 1 - - 1 l dan
Prestasi kinerja pegawai dan tunjangan/renumerasi       renumera
ISTN
si/tunjang
an kinerja
- Tenaga Kependidikan ? ? ? ? ? mengacu
?
Jabatan fungsional dan tunjangan (Δ orang) Prodi
system
      PTN/PN
Prestasi kinerja pegawai dan tunjangan/renumerasi ISTN
S

12.9 Terselenggaranya program asuransi (%)


Institut
100 100 100 100 100 100
kesehatan plus bagi pendidik dan
67
kependidikan senior sebagai apresiasi
ISTN terhadap pengabdian dan
sumbangsih mereka
Terselenggaranya program beasiswa Org/
12.10 untuk pelatihan dan studi lanjut Prodi/ 2 2 2 2 2 2
thn
Tersusunnya peraturan ISTN tentang
12.11 pengadaan, pengangkatan, promosi (%)
Institut
100 100 100 100 100 100
dan pemberhentian pegawai
Restrukrisasi peraturan ISTN tentang
(%)
12.12 system penggajian dan asuransi Institut
100 100 100 100 100 100

13. Peningkatan Citra


13.1 Meningkatnya citra ISTN sebagai
institusi tinggi bidang sains dan
teknologi yang menghasilkan para
Kegiatan
pemimpin, manajer, pelaksana, per dosen
wirausaha dan pemikir (inisiator dan per
1 1 1 1 1 1
inovator) yang handal, berdaya juang fakultas
tinggi, berwawasan global, dan
berjiwa nasional
13.2 Meningkatnya citra ISTN sebagai
institusi tinggi bidang sains dan
teknologi yang menghasilkan ilmu Kegiatan
pengetahuan, teknologi, dan seni yang dosen 1 3 3 3 3 3
sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan Mhs
dan perkembangan jaman, serta
memiliki jaringan kerjasama yang luas
13.3 Meningkatnya citra ISTN sebagai
kampus dengan sivitas akademika
yang berintegritas tinggi, berbudaya, Kegiatan
bermutu akademik tinggi, kreatif, dosen 1 3 3 3 3 3
dan Mhs
inovatif, berwawasan global, dan
berjiwa nasional
13.4 Meningkatnya citra ISTN sebagai
kampus dengan infrastruktur dan
fasiltas yang lengkap, mengikuti
perkembangan teknologi, kondusif unit 1 1 1 1 1 1
bagi kegiatan belajar dan
pengembangan diri
14. Penyediaan Sarana Prasarana Yang mendukung Mutu Pendidikan
14.1 Pengembangan Sarana Prasarana Fisik
14.1.a Mengembangkan sarana dan prasarana fisik kampus
a Didanai
Rehabilitasi gedung dan ruang kelas, Unit dari
ruang/ 3 3 3
3
3 3 tution
ruang pelayanan, laboratorium dan lab fee

68
lansekap
b % Didanai
Rehabilitasi gedung rektorat, dengan dari luar
tahapan %tase rehabilitasi penyele 40 70 90 100 - - tution
saian fee
c Rehabilitasi infrastruktur fasilitas
layanan umum seperti Toilet, 15
% 30 25 20 10 -
Perpakiran, Wifi, dan lansekap
d Didanai
Pembangunan gedung Fakultas baru dari luar
dan Program Studi unit - - 1 1 1 1 tution
fee
e Pembangunan kantin -
1 1
Didanai
Klinik dari luar
unit 1 1 1 - tution
Apotek - fee
1
- 1 - - - - Didanai
Pembangunan student center dari
F unit tution
fee
G Rehabilitasi perpustakaan pusat unit 1 1 1 1 1 1
Didanai
%
Rehabilitasi Auditorium Roosseno dari luar
H penyeles 30 60 80 90 100 - tution
aian
fee
I Didanai
Pembangunan fasilitas olah raga dari luar
unit 1 1 1 1 1 tution
fee
J Didanai
Pembangunan gedung untuk dari luar
toko/bursa unit - 1 - - - - tution
fee
k Didanai
Pembukaan kantor cabang salah satu dari luar
Bank Pemerintah unit 1 1 - - - - tution
fee
l Peningkatan fasilitas kendaraan dinasunit 2 2 2 1 1 1
14.1.b Mengembangkan perencanaan, pengadaan, pengoperasian, pemeliharaan, dan pemanfaatan
fasilitas fisik secara optimal
a Meningkatnya kualitas perencanaan
dan pengembangan tata ruang kampus % 10 30 46 60 80 100

b Terselenggaranya lingkungan kampus


yang aman, tertib, teduh, dan asri % 40 50 70 85 100 -

c Meningkatnya kewibawaan Kampus


ISTN sebagai institusi pendidikan,
pembelajaran, pelatihan, penelitian,
pengabdian kepada masyarakat yang % 40 65 90 100 - -
kondusif dan ramah dengan
masyarakat sekitar
d Terselenggaranya ketentraman,
kenyamanan dan keamanan kampus, % 40 75 90 100 - -
melalui penataan aset

69
e Terpenuhinya kebutuhan akomodasi
Mahasiswa, dengan maksud menjaring % - - 50 70 90 100
Mahasiswa dari luar jakarta
f Terlaksananya pembangunan dan
rehabilitasi infrastruktur sesuai % 20 30 60 90 100 -
kebutuhan
g Terselenggaranya operasional dan
perawatan sarana dan prasarana % 30 60 80 100 - -

14.2. Pengembangan Sarana-prasarana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK),


mengembangkan akses Teknologi Informasi dan Komunikasi yang sesuai dengan kemajuan
teknologi bagi kalangan sivitas akademika
a Tersusunnya arsitektur sistem
pelayanan teknologi informasi dan % 40 70 100 - - -
komunikasi di seluruh ISTN
b Terselenggaranya sistem layanan data
berbasis Web dan perangkat komputer % 50 80 100 - - -
yang diperlukan
c Meningkatnya kapasitas kelembagaan
pusat pelayanan teknologi informasi % 40 75 90 100 - -
dan komunikasi
d Terselenggaranya pembangunan
sistem telekomunikasi kampus
menggunakan broadband technology
yang mampu memenuhi kebutuhan % 30 50 70 85 100 -
telekomunikasi dimasa 20 tahun ke
depan
e Meningkatnya kapasitas jaringan
internet global dari 1.5 Mbps pada
2014 dan mencapai standard akses % 30 50 100 - - -
Asia paling lambat pada 2020
f Tersedianya perangkat keras
penyelenggaraan sistem informasi
akademik, kepegawaian, keuangan, % 50 70 100 - - -
alumni, serta gedung dan ruang
15. Pengembangan Kemandirian Organisasi dan Jaringan Kerja sama
15.1 Pengembangan usaha dimaksudkan untuk meningkatkan sumber pemasukan dana di luar
tuition fee
a Optimalisasi pemanfaatan sumber
daya IPTEKS yang dimiliki ISTN
(percentase dari pendapatan total % 10 12 15 20 25 30
ISTN)
b Meningkatnya kerjasama dengan
dunia usaha/industri dalam
pengembangan Program Studi dan MOU 10 15 20 25 30 40
sumber daya

70
C Bekembangnya unit-unit usaha yang
sehat dan mampu menjadi salah satu UNIT 2 4 6 8 10 12
sumber keuangan ISTN
D Meningkatnya penerimaan dari
pengembangan usaha secara bertahap
hingga mencapai 60 % dari % 10 20 30 40 50 60
penerimaan total ISTN
e Tersedianya dana abadi di pendanaan
ISTN(percentasedari total pendapatan) % 5 5 5 5 5 5

15.2 Peningkatan kapasitas jaringan kerjasama di tingkat nasional


a Meningkatnya kerjasama dengan
mitra kerja pusat dan daerah 1 2 3 4 6 8
MOU
b Meningkatnya kemantapan kerjasama
dengan para mitra kerja kegiatan 2 4 6 8 10 12

c Terselenggaranya fungsi INI-ISTN


sebagai pendukung hubungan yang
efektif antara Almamater dan alumni kegiatan 4 8 10 15 20 22
serta terselenggaranya wadah
Keluarga Sivitas Akademika ISTN
d Tersusunnya database alumni
(percentace dari jumlah alumni) % 20 30 40 50 60 80

e Terhimpunnya dana alumni untuk


beasiswa Mahasiswa berprestasi
namun kurang mampu secara ekonomi % 1 2 3 4 5 6
(percentase dari total pendapatan)
15.3 Peningkatan kapasitas jaringan kerjasama untuk meningkatkan ISTN ke posisi global
a Terselenggaranya jaringan kerjasama
internasional dalam peningkatan mutu
dan relevansi program pendidikan, kegiatan 2 3 4 6 8 10
penelitian, pelayanan masyarakat
serta gerakan budaya
b Terselenggaranya kerjasama program
kembaran akademik (twinning MOU 1 1 2 2 3 4
program) dalam kesetaraan
c Terwujudnya pengakuan kesetaraan
matakuliah dan lulusan ISTN dengan
matakuliah dan lulusan universitas sertifikat 1 2 3 4 5 6
internasional
d Terwujudnya keanggotaan ISTN
dalam asosiasi internasional asosiasi 1 2 3 4 5 6

e Terselenggaranya kerjasama program


pertukaran antar perguruan tinggi. kegiatan 1 2 3 3 5 6

f Terselenggaranya jaringan kerjasama kegiatan 2 4 6 8 10 12

71
yang solid dengan industri,
pemerintah dan lembaga donor dalam
bidang pendidikan, penelitian,
pengembangan dan pelatihan
16. Mengembangkan Fakultas dan Sarana Fisiknya
16.1 Mengembangkan satu Fakultas
unggulan dengan kualitas terbaik di Fakultas Total 3
1 1 1 1 2 3 Fak.
tingkat nasional
16.2 Memprioroitaskan pengembangan
Program Studi soft and hard
engineering, dengan tetap semua
Prodi 1 1 1 1 1 1 Prodi
memperhatikan pengembangan
program bidang sains
16.3 Mengembangkan Program Magister
yang sudah ada dan membuka ProgMag. 1 2 Prodi
1 1 1 2 2 baru
program Magister Teknik yang baru
16.4 Mendirikan Program sertifikasi Prog. 6 Prog.
Profesi dan kompetensi seiring dengan Sertf. 1 1 1 1 1 1 Sertf.
penerapan KKNI Prof. Prof.

16.5 Mengembangkan dan memperluas


sarana fisik untuk menunjang proses Semua
Fak 1 1 1 1 1 1 Fak.
pembelajaran.
16.6 Membuka Program Studi baru pada
Penyu
Fakultas tertentu sesuai permintaan Penyusu Impleme Impleme
Fak. sunan
nan FS ntasi ntasi 1 1 2 Prodi
pengguna lulusan FS

16.7 Pengembangan Fakultas MIPA menjadi Penyu Imple Imple Penge


Fakultas Farmasi dan Fakultas Sains dan Pemant Pemant
Institut sunan mentas mentas mbang
apan apan
Teknologi Informasi FS i i an

17. Meningkatkan Intensifikasi eksplorasi sumberdaya sebagai pemegang informasi


17.1 Memudahkan akses kebutuhan
informasi pendidikan secara cepat Inst. 1 1nst.
bagi civitas akademika berupa dan 1 1 1 1 1 1 dan 5
perpustakaan elektronik, jurnal Fak. Fak.
elektronik, dll
17.2 Pengembangan pengajaran berbasis Semua
teknologi informasi Fakultas 1 1 1 1 1 1 fakultas
17.3 Pengembangan informasi elektronik
antar perguruan tinggi PT 2 2 2 2 2 2 12 PT

Keterkaitan kontribusi program untuk masing-masing pilar strategis pengembangan ISTN


tahun 2015-2020 terhadap Renstra untuk mewujudkan Visi ISTN ditunjukkan pada
Gambar-3.

72
Menghasilkan lulusan
Peningkatan Program dan Mutu Pendidikan pendidikan tinggi yang
unggul dan mampu
Peningkatan Sumber Daya Pendidikan mengembangkan dan
menerapkan IPTEKS,
berdaya saing tinggi
Peningkatan Mutu Pembinaan Mahasiswa dan dan (Wedha Wiyata
Alumni Wirasakti)

Peningkatan Mutu Penelitian

Menghasilkan
Peningkatan Sumber Daya Penelitian
inovasi IPTEKS,
yang ramah
Peningkatan Publikasi Ilmiah dan Hasil lingkungan untuk
Penelitian mendukung
pembangunan
nasional

Peningkatan mutu layanan pengabdian


kepada masyarakat
Menjadikan ISTN siap
Menjadi
memberikan layanan Institusi
Peningkatan layanan Advokasi untuk bidang kepada masyarakat
sains dan teknologi Pendidikan
yang mengedepankan Tinggi yang
inovasi Iptek dan unggul dan
berkarakter berdaya
saing tinggi
kewirausahan dengan
dalam bidang
Peningkatan Kapasitas Sumberdaya manusia tetap sains dan
dan sarana fisik mempertahankan nilai teknologi,
nilai budaya bangsa berbasis
Peningkatan Jejaring Kerjasama Riset dan
Inovasi di Era
global pada
2025
Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Menjadikan sistem
manajemen ISTN yang
Peningkatan produktifitas kepakaran efektif, efisien,
transparan, akuntabel,
dan siap berkompetisi
secara nasional dan
global.
Pemantapan Tatakelola

Penguatan Pengelolaan Sumberdaya

Penguatan Sistem dan Teknologi komunikasi


dan Informasi

Gambar-3: Struktur Program untuk mencapai Visi ISTN

73
Bab VI
Strategis Pembiayaan
Pasal 6

Dalam pelaksanaan penyusunan anggaran pada setiap tahun akademik mengikuti dua
prinsip, yaitu pertama participatory budgeting yaitu setiap unit kerja menyusun rencana
kinerja, rencana kerja dan anggarannya secara mandiri kemudian dikonsolidasi di tingkat
Institut. Kedua adalah involvement yaitu setiap unit kerja dalam penyusunan rencana
kinerja, rencana kerja dan anggaran melibatkan segenap komponen dalam unit kerja yang
bersangkutan. Dengan demikian diharapkan bahwa kegiatan yang direncanakan akan
menjadi milik bersama dan didukung oleh semua pihak sehingga hasilnya dapat lebih
optimal sesuai dengan yang diharapkan.

Dalam penyusunan Rencana Operasional dan anggarannya yang diturunkan dari


Renstra 2015-2020, ditetapkan acuan penyusunan rencana pembiayaan dalam bentuk
Standar Biaya Institut yang merupakan batasan satuan biaya dalam bentuk standar biaya
Institut yang merupakan batasan satuan biaya paling tinggi yang dapat digunakan oleh unit
kerja di lingkungan ISTN. Penetapan Pagu anggaran di tingkat Institut digunakan untuk
kegiatan-kegiatan bersifat rutin yang berfungsi sebagai batas maksimum nilai anggaran
yang diperkenankan yang selanjutnya digunakan sebagai dasar penyusunan rencana
kegaiatan tahunan dan anggarannya. Penetapan pagu ini bertujuan untuk mengefisienkan
pemanfaatan sumber dana yang tersedia untuk menunjang tugas pokok dan fungsi serta
memberikan prioritas terhadap kegiatan pengembangan.

Dalam penjabaran Renstra ke dalam Rencana Operasional dan Rencana Anggaran


setiap tahunnya ISTN berpedoman kepada continuous quality improvement baik untuk
kegiatan rutin maupun pengembangan. Kegiatan rutin dikendalikan dengan berpedoman
pada mutu dan volume standar pelayanan yang menjadi komitmen setiap unit kerja.
Kegiatan Pengembangan dikendalikan dengan berpedoman pada pendelegasian tugas
pencapaian target kinerja pengembangan yang merupakan turunan Rencana operasi unit
yang bersangkutan. Untuk mendanai program-program dalam rangka pencapaian Rencana
Operasional dan Anggaran pada setiap tahun akademik diperlukan rencana penerimaan
yang cermat, terdiri dari penerimaan yang berasal dari “tuition fee”, dana masyarakat, dan
dana hibah.

Sumber penerimaan yang berasal dari “tuition fee” yang direncanakan mengacu
kepada proyeksi target indikatif yang menjadi dasar penyusunan rencana operasi setiap
tahun anggaran, disamping itu sumber penerimaan dari sumber lainnya diharapkan
diperoleh dana hibah maupun kerjasama dari instansi pemerintah maupun swasta.

Oleh karena itu, secara keseluruhan sumber-sumber penerimaan diproyeksikan


sebagai berikut:

74
Penerimaan dana dari “tuition fee” diasumsikan diperoleh dari:
1) Program Mahasiswa “Existing” tahun berjalan untuk program D3, S1, S2, dan
Profesi kampus Srengseng, Duren Tiga, dan Cikini.
2) Mahasiswa baru tahun berjalan untuk program D3, S1, S2, dan Profesi, kampus
Srengseng, Duren Tiga, dan Cikini.
3) Mahasiswa Melanjutkan dan pindahan tahun berjalan pada kampus Srengseng,
Duren Tiga dan Cikini
(2) Penerimaan Pendidikan Program Non-gelar, Pelatihan, Jasa Akademik, dan
Profesional.
(3) Penerimaan Hibah/Donasi/Sumbangan.
(4) Penerimaan Kontrak Kerjasama pendidikan
(5) Penerimaan dari kerjasama dengan mitra industri dalam memanfaatkan hasil riset.
(6) Penerimaan dari pemanfaatan “Excess Capacity” masing-masing unit kerja di
lingkungan Institut.
(7) Penerimaan Hasil Usaha dari unit-unit usaha,
(8) Optimalisasi pemanfaatan aset lancar dan aset tetap Institut yang kurang produktif
(idle) untuk meningkatkan pendapatan,
(9) Kontribusi dari alumni dan stakeholder yaitu bantuan/sumbangan pendanaan, barang
maupun jasa, kesempatan magang bagi Mahasiswa di perusahaan Alumni, (termasuk
stakeholders internal seperti laboratorium, pusat penelitian dan pengabdian kepada
masyarakt, dan unit-unit pelaksana teknis lainnya)
(10) Investasi Yayasan

Seluruh rencana penerimaan dana yang diperoleh dari “tuition fee” maupun dari
masyarakat dalam setiap tahun akademik dialokasikan ke dalam: (a) Alokasi Belanja
Pendidikan, (b) Alokasi Belanja Penelitian, (c) Alokasi Belanja Pengabdian kepada
Masyarakat, dan (d) Alokasi Belanja Sumberdaya Pendukung Tri Dharma .
Di dalam alokasi belanja di atas dibedakan adanya jenis kegiatan sebagai berikut:
(1) Kegiatan Dasar, yaitu baik kegiatan maupun alokasi dananya merupakan kewajiban
yang harus di laksanakan oleh Institut seperti gaji, insentif, pajak, cicilan utang dan
sebagainya termasuk kegiatan yang merupakan komitmen Institut yang terkait
perjanjian atau kontrak dengan fihak eksternal serta kegiatan dengan sasaran yang
sangat signifikan dalam mendukung tercapainya tujuan,misi dan visi ISTN.
(2) Kegiatan Pendukung meliputi pengeluaran yang bersifat kewajiban rutin namun
alokasi dananya masih diupayakan penghematan seperti belanja operasional dan
perawatan, belanja pendukung pelaksanaan pembelajaran termasuk didalamnya
kegiatan penjaminan mutu. Alokasi biaya ini berpedoman pada Standar Pelayanan
Minimal dan Standar Analisa Belanja sesuai dengan jenis pelayanan dasar yang harus
diselenggarakan oleh masing-masing unit kerja
(3) Kegiatan Pengembangan merupakan bagian dari program untuk mencapai sasaran
kinerja pengembangan sesuai Renstra dan difokuskan pada aktivitas-aktivitas yang
akan memberikan tambahan nilai bagi ISTN dalam rangka continuous improvement.

75
Bab VII
Sistem Penjaminan Mutu dan Akreditasi
Pasal 7

1. Sistem Penjamian Mutu


Sistem penjaminan mutu meliputi kebijakan mutu, instrumen penjaminan mutu
(pernyataan mutu, manual mutu, standar mutu), pelaksanaan penjaminan mutu, serta
monitoring dan evaluasi kinerja. Sistem penjaminan mutu pendidikan bertujuan agar
ISTN dapat memenuhi bahkan melampaui Standar Nasional Pendidikan. Proses
sistem penjaminan mutu mencakup proses perencanaan, penerapan, pengendalian dan
pengembangan standar mutu Institut secara konsisten dan berkelanjutan sehingga
pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal memperoleh kepuasan.
Sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen terhadap peningkatan mutu dalam
seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan, mengembangkan perangkat implementasi
sistem penjaminan mutu meliputi:

(1) Manual Sistem Penjaminan Mutu Internal


Manual Mutu menjelaskan secara keseluruhan sistem penjaminan mutu internal
yang berlaku di ISTN. Manual SPMI merupakan panduan untuk menetapkan,
memenuhi, mengendalikan, dan mengembangkan/meningkatkan standar; dan
pedoman atau petunjuk bagi stakeholder internal yang harus menjalankan
mekanisme penjaminan mutu.
(2) Standar Mutu dan Sasaran Mutu
Standar mutu ditetapkan sebagai tolok ukur penilaian untuk menentukan dan
mencerminkan mutu penyelenggaraan akademik di Institut. Oleh karena itu,
sistem penjaminan mutu internal berpedoman pada standar mutu yang
ditetapkan dengan mengikuti prosedur operasional standar penetapan standar.
Standar mutu ditetapkan untuk masing-masing strata pendidikan dengan
mengadopsi atau memodifikasi dari Standar Nasional Pendidikan, Badan
Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dan standar tambahan yang
berlaku secara nasional. Standar mutu selanjutnya diturunkan menjadi sasaran
mutu. Sasaran mutu ditetapkan sendiri oleh unit untuk periode waktu tertentu
dengan mempertimbangkan capaian yang ada dibandingkan dengan standar
mutu.
(3) Prosedur Operasional Standar
Pencapaian standar mutu harus didukung oleh Prosedur Operasional Standar
(POS).

76
2. Sistem Audit Internal
Sejalan dengan perkembangan pengelolaan Institut yang semakin kompleks
diperlukan sistem yang dapat
melakukan pengendalian terhadap kinerja manajemen, yang mencakup
pengembangan dan pelaksanaan audit baik akademik maupun non akademik yaitu
bidang pendidikan, penelitian, pemberdayaan masyarakat, keuangan, manajemen dan
semua aktifitas yang menunjang dalam pencapaian visi dan misi Institut.
Audit internal dilakukan untuk mengukur kepatuhan dan perbaikan prosedur
operasional program dan
pengelolaan unit kerja sesuai ketentuan dan upayaupayapencapaian tujuan Institut.
Audit intrenal dilaksanakan oleh auditor berdasarkan POS yang telah ditetapkan
dengan menggunakan kriteria/rujukan kebijakan dan peraturan yang berlaku serta
kebijakan, manual, standar dan borang mutu yang telah dibuat oleh Institut untuk
memastikan kepatuhan, implementasi serta pengembangan mutu yang berkelanjutan.
Audit internal dilaksanakan terhadap seluruh unit kerja di Institut baik dalam aspek
akademik maupun non akademik yang diselenggarakan setiap tahun untuk digunakan
oleh pimpinan dalam menetapkan kebijakan organisasi di Institut secara keseluruhan.
Hasil audit internal disampaikan kepada auditi (unit kerja yang diaudit) sebagai
bahan untuk melakukan perbaikan

3. Akreditasi Nasional dan Internasional


Salah satu asesmen eksternal yang digunakan sebagai tolok ukur penjaminan mutu
Institut adalah status akreditasi. Institut terus mendorong institusi, Program Studi, dan
pusat penelitian, laboratorium, dan unit-unit kerja untuk mengajukan akreditasi
kepada akreditor yang kredibel di tingkat nasional dan/atau internasional agar
mendapatkan nilai yang baik. Akreditasi dilakukan secara berkala sesuai dengan
masa berlaku, masa kadaluarsa, dan/atau usulan akreditasi baru. Akreditasi mengacu
kepada akreditasi yang dilakukan oleh BAN-PT dan akreditasi internasional melalui
lembaga-lambaga/akreditor internasional yang kredibel dan relevan, diantaranya
serial standar mutu berdasarkan International Standard Organization (ISO), selain
itu tetap mempertimbangkan untuk memperoleh peringkat perguruan tinggi tingkat
dunia yang memadai, seperti Webometric, THES-QS, dan lain-lain.

77
Bab VIII
Sistem Monitoring dan Evaluasi
Pasal 8

Kegiatan monitoring dan evaluasi merupakan salah satu bentuk sistem penjaminan
mutu internal yang diselenggarakan oleh Institut. Kegiatan monevin diharapkan dilakukan
oleh Institut sebagai kebutuhan, bukan hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban.
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara terprogram dengan prosedur yang jelas dan
didukung oleh sumber daya yang kompeten.

Kegiatan monevin merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban Institut dalam


menjamin bahwa program-program yang telah direncanakan telah dilaksanakan sesuai
dengan aturan dan mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Melalui kegiatan monitoring
ini juga, persoalan dan kendala yang dihadapi dalam implementasi dapat ditengarai,
diantisipasi dan ditanggulangi.

Kegiatan monitoring dan evaluasi ini dimaksudkan untuk memantau efektivitas


pelaksanaan program yang telah ditetapkan dalam Renstra. Secara khusus, kegiatan
monitoring dan evaluasi dimaksudkan untuk: (1) Mengevaluasi desain, implementasi, hasil
dan dampak pelaksanaan program; (2) Mengidentifikasi hambatan-hambatan yang
ditemukan selama pelaksanaan program dan penyelesaian yang telah dan akan dilakukan;
(3) Melakukan penyesuaian (berupa: penajaman atau perbaikan aktivitas, efisiensi
sumberdaya, penyesuaian target indikator, dll) rencana kegiatan mendatang berdasarkan
hasil evaluasi dan identifikasi yang telah dilakukan.

Dalam konteks pelaksanaan program yang tertuang di dalam Renstra, kegiatan


Monitoring dan Evaluasi diartikan sebagai kegiatan memantau dan melakukan evaluasi
berbagai aspek dan tahapan penyelenggaraan Program yang meliputi:

(1) Perencanaan
(2) Pelaksanaan
(3) Permasalahan dan Upaya pemecahan
(4) Hasil Yang Dicapai
(5) Pelaporan, meliputi: Laporan pelaksanaan kegiatan dan Laporan pertanggung
jawaban keuangan;
(6) Dampak program

Indikator keberhasilan Renstra dapat dilihat dari kesesuaian proses dengan apa yang
direncanakan, kesesuaian dalam pencapaian tujuan, penggunaan dan pemanfaatan
sumberdaya yang efektif dan efisien, serta kemampuan dalam memberikan jaminan
terhadap kesesuaian proses dan pencapaian tujuan melalui satu mekanisme kendali yang
harmonis dan melekat utuh dalam sistem. Strategi monitoring dan evaluasi kinerja
merupakan bagian yang esensial dan tak terpisahkan dari Renstra ISTN 2015-2020.
Monitoring meliputi kegiatan untuk mengamati, meninjau dan mempelajari kembali serta

78
mengawasi secara berkesinambungan atau berkala terhadap pelaksanaan program/kegiatan
yang sedang berjalan. Kegiatan monitoring dilakukan untuk menemukenali permasalahan,
mencari alternatif pemecahan dan menyarankan langkah-langkah penyelesaian sebagai
koreksi dini agar pelaksanaan kegiatan berjalan secara efisien, efektif dan tepat waktu.
Selain itu kegiatan monitoring untuk mengetahuikesesuian antar rencana yang telah
ditetapkan dalam Renstra ISTN 2010-2015 dengan hasil yang dicapai.

Evaluasi Kinerja adalah usaha untuk mengukur dan memberi nilai secara obyektif
atas pencapaian hasilhasil pelaksanaan program/kegiatan yang telah direncanakan dalam
Renstra ISTN 2010-2015 dandijabarkan dalam rencana tahunan, serta dilakukan secara
sistematis dan obyektif dengan menggunakan metode evaluasi yang relevan.

Strategi monitoring dan evaluasi kinerja diutamakan pada peningkatan mutu


akademik dan system manajemen, pada: (i) Unit Pelaksana Akademik (Fakultas, Program
Studi, Perpustakaan dan Lembaga) dalam aspek pengawasan mutu (quality control)
pelaksanaan program akademik; (ii) Unit Penjaminan Mutu Pendidikan (quality
assurance), yakni: Fakultas, sekolah pascasarjana, dan Program Studi; (iii) Unit
Penjaminan Mutu Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M); (iv) Unit
Pelaksana Administrasi (Direktorat dan Biro) dan Unit Penunjang.

79
Bab IX
Penutup
Pasal 9
(1) Rencana Strategis 2015-2020 merupakan dasar untuk penyusunan Rencana
Operasional semua unit kerja di Institut Sains dan Teknologi Nasional.
(2) Dalam hal terjadi perubahan lingkungan Strategis yang tidak terduga, sehingga
kebijakan dan program yang telah dirumuskan menghadapi kendala untuk
dilaksanakan, maka Rektor dapat melakukan perubahan dengan persetujuan Senat
dan Yayasan.
(3) Hal-hal lain yang belum diatur dalam keputusan ini akan diatur dalam ketetapan
tersendiri.
(4) Keputusan ini akan diubah dan diperbaiki kembali apabila terdapat kekeliruan di
dalam penetapannya.
.

Ditetapkan : di Jakarta,
Pada tanggal : 14 Nopember 2014

Senat Institut Sains dan Teknologi Nasional

Ketua Senat Sekretaris Senat

Prof. Ir. Agus Priyono, PhD Ir. Margono Sugeng, MSc

80
Daftar Pustaka
1. Undang-Undang nomor: 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2. Undang-Undang nomor: 14 tahun 2005, tentang Guru dan Dosen;
3. Undang-Undang nomor: 12 tahun 2012, tentang Pendidikan Tinggi;
4. Peraturan Pemerintah nomor 66 Tahun 2010, tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah nomor: 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan;
5. Peraturan Pemerintah nomor: 32 Tahun 2013, tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah nomor: 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
6. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor:
17 Tahun 2013 Tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya;
7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No: 49 Tahun
2014, tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
8. Peraturan Presiden No: 8 tahun 2012, tentang Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia;
9. Undang-Undang Republik Indonesia No: 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran
10. Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan No: 83 Tahun 2013 tentang Sertifikat
Kompetensi;
11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No: 50 Tahun
2014, tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi;
12. Kompas, Juni 2014: Merekonstruksi Posisi Perguruan Tinggi
13. Kompas, 14 juli 2014, Indonesia butuh 175.000 Sarjana Teknik

81