Anda di halaman 1dari 8

MAMALIA

Oleh :

Nama : Salsabila Nur Fatika


NIM : B1A017047
Rombongan : III
Kelompok : 6
Asisten : Ristra Sefty Anggriani

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kingdom animalia memiliki beberapa tingkatan untuk membagi hewan-


hewan
yang terdapat di muka bumi ini. Tingkatan tertinggi pada kingdom animalia
tersebut
adalah mamalia. Pada umumnya, semua jenis mamalia memiliki rambut yang
menutupi tubuhnya. Jumlah rambut tersebut berbeda-beda antara spesies yang satu
dengan yang lain. Ada spesies yang seluruh tubuhnya ditutupi oleh rambut dan ada
pula spesies yang hanya memiliki rambut di tempat-tempat tertentu pada bagian
tubuhnya. Mamalia merupakan hewan yang bersifat homoioterm atau sering disebut
hewan berdarah panas. Hal ini dikarenakan kemampuannya untuk menyesuaikan
diri dengan lingkungan sekitar (Campbell, 2008).
Mamalia merupakan salah satu kelas dari kingdom animalia yang memiliki
sejarah evolusi hampir sempurna dibandingkan dengan kelas yang yang lain.
Mammalia adalah organisme yang memiliki kelenjar susu (glandula mammae) yang
dapat menghasilkan susu dan memiliki daun telinga untuk membantu pendengaran.
Mammalia juga mempunyai rambut yang menutupi seluruh bagian tubuhnya
(Radiopoetra, 1996). Indonesia menempati tujuh negara yang memiliki kekayaan
biodiversity terbesar di dunia. Indonesia menempati urutan pertama dalam
keanekaragaman spesies mamalia yaitu, sebanyak 436 jenis mamalia yang
diantaranya 51% merupakan mamalia endemic. Mamalia besar merupakan satwa
yang memiliki derajat paling tinggi di dunia,sedangkan kemampuan hidup mamalia
besar sangat rentan terhadap ketersediaan pakan dan gangguan habitat ( Anggrita et
al., 2017).
Karakter khas yang menjadi turunan mamalia adalah kelenjar susu
(mammary
gland), yang menghasilkan susu untuk anak. Semua induk betina mamalia
menyusui
bayinya. Susu merupakan makanan seimbang yang kaya lemak, gula, protein,
mineral
dan vitamin. Karakteristik mamalia yang lain yaitu rambut dan lapisan lemak di
bawah kulit membantu tubuh mempertahankan panas. Sebagian besar mamalia
melahirkan keturunannya, tapi ada beberapa mamalia yang tergolong ke dalam
monotremata yang bertelur. Kelahiran juga terjadi pada banyak spesies non-
mamalia, seperti pada ikan guppy dan hiu martil, karena melahirkan bukan
dianggap sebagai ciri khusus mamalia. Demikian juga dengan sifat endotermik yang
juga dimiliki oleh burung (Campbell, 2008).

B. Tujuan

Tujuan praktikum acara praktikum Mamalia kali ini, antara lain:


1. Praktikan mengenal beberapa anggota Classis Mamalia.
2. Praktikan mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan
klasifikasi anggota Classis Mamalia.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Mamalia merupakan kelompok tertinggi derajatnya dalam dunia hewan. Hampir


semua tubuh tertutup dengan kulit yang berambut banyak atau sedikit dan berdarah
panas (homoiotherm). Sebutan mamalia berdasarkan adanya kelenjar mamae pada
hewan betina untuk menyusui anaknya yang masih muda. Mamalia hidup diberbagai
habitat mulai dari kutub hingga ekuator, dari dasar laut sampai hutan lebat dan gurun
pasir. Banyak yang hidup secara nocturnal dan banyak juga hidup secara diurnal.
Spesies tertentu sebagai hewan buas yang diburu, spesies lainnya jinak. Beberapa
pemakan daging dan buah-buahan, dan beberapa sebagai sumber penyakit (Payne,
2000). Mamalia kecil adalah kelompok mamalia yang paling beragam namun informasi
paling sedikit diketahui dibandingkan dengan mamalia yang lebih besar. Ada celah besar
pengetahuan tentang distribusi dan kelimpahan dan status konservasi mamalia kecil di
negara ini dan itu sangat penting bahwa kurangnya pengetahuan tentang mamalia kecil
ini diatasi. (Kumaran et al.,2016).
Sebagian besar tubuh mamalia memiliki bagian utama yaitu caput
(kepala), truncus (badan), cauda (ekor) dan extrimitas liberae (alat gerak), pada bagian
caput terdapat auriculae (telinga), porus acusticus externa, organon visus, nares (lubang
hidung), fibrisae dan rima oris. Auricularae telah berkembang dengan sempurna
memiliki daun telinga yang membantu untuk proses pendengaran. Organon visusnya
terdapat palpebra superior (pelupuk mata atas) dan inferior (pelupuk mata bawah),
selain itu juga terdapat plica semilunaris yang terletak di sudut mata sebelah medial.
Rima oris dibatasi oleh labium superius, serta terdapat palantum durum (langit-langit
keras) dan palantum molle (langit-langit lunak). Rima oris pada Rattus norvegicus
terdapat insisivus (gigi seri) yang termodifikasi sebagai hewan pengerat (Radiopoetra,
1996).
Adapun ciri-ciri khusus dari kelas mamalia adalah tubuhnya biasanya diliputi
bulu atau rambut yang lepas secara periodik, kulitnya banyak mengandung kelenjar,
yaitu kelenjar sebaceus, keringat, bau dan susu. Cranium atau tempurung kepala
memiliki occipitale condyle, tulang lehernya biasanya terdiri atas 7 ruas, ekor biasanya
panjang dan dapat digerak-gerakkan. Memiliki empat anggota atau kaki (kecuali anjing
laut dan singa laut tidak memiliki kaki belakang, masing-masing kaki memiliki kurang
lebih 5 jari yang bermacam-macam yang disesuaikan dengan keperluan berjalan, lari,
memanjat, membuat lubang, berenang atau meloncat, jari-jari berkait tanduk atau
berkuku atau berteracak dengan bantalan-bantalan daging. Jantung sempurna terbagi
atas empat ruangan (dua auricular, dua ventricular), pernapasannya hanya dengan
paruparu. Laring mempunyai tali suara, memiliki vesica urinaria dan hasil ekskresi
berupa
cairan urine (Radiopoetra, 1996).
Ordo rodentia termasuk golongan binatang yang terkecil diantara mamalia yang
lain, sehingga mareka merupakan pemangsa bagi banyak yang aktif pada malam hari
(nocturnal). Tikus dan mencit merupakan bianatang yang sangat langka dijumpai dan
hanya dapat ditemukan pada malam hari. Hewan ini sangatlah lincah karena badannya
yang sangat kecil (Alikodra, 2002). Famili muridae dominan di sebagian kawasan di
dunia, di mana family ini memiliki 730 jenis dalam 150 genera dan 5 subfamili. Sekitar
150 jenis diantaranya dapat ditemukan di Indonesia. Sedangkan famili sciuridae
memiliki karakteristik mata besar, telinga bervariasi, ekor biasanya pendek dan
berambut, bersifat diurnal dan herbivors. Contoh: Lariscus insignis (Carters, 1978).
Ordo rodentia merupakan kelompok mamalia utama (42%) yang dapat berkembang pada
berbagai lingkungan di seluruh dunia dengan jumlah yang tercatat lebih dari 2.050
spesies. Tikus dapat hidup berdampingan dengan manusia, memiliki hubungan yang
bersifat parasitisme dan mutualisme dengan makhluk hidup (Nasir et al., 2017).
Ordo Carnivora merupakan hewan pemakan daging yang hidup terrestrial,
kakinya berjari 5, kadang-kadang 4 dan bercakar. Taringnya kuat dan tajam,
gerahamnya runcing, hewan ini beradaptasi radial, di seluruh dunia kecuali pulau-pulau
tertentu yang terletak di tengah samudera. Famili prionodontidae berbulu panjang,
berekor panjang, kaki pendek, bercakar dan berkerabat dekat dengan felidae. Famili
felidae juga merupakan bangsa karnivora. Daun telinga kebanyakan berbentuk segitiga
dan tegak. Taring jelas dan besar karena semua anggotanya adalah pemakan daging
(Suyanto, 2002).
Ordo Chiroptera, merupakan mammalia yang dapat terbang dengan kedua kaki
ndepan yang berkembang menjadi sayap. Hanya sedikit hewan yang sangat tergantung
pada terbang dan bergerak seperti kelelawar. Kelelawar merupakan golongan binatang
menyusui yang paling primitif. Ketika kelelawar terbang, mereka mengeluarkan suara-
suara tinggi. Suara-suara ini terlalu tinggi untuk dapat ditangkap oleh telinga manusia.
Gema suara ini dipantulkan kembali ke kembali ke kelelawar dengan penerbangannya.
Kelelawar dapat mengetahui apakah gema itu datang dari rintangan atau dari tempat jauh
dan dapat mengubah arahnya untuk dapat menghindari dari benturan rintangan.
Kelelawar memiliki peranan yang penting dalam ekosistem antara lain sebagai
pengontrol serangga, penyerbukan bunga dan penyebar biji-bijian serta penghasil
guanum yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk (Jenkins, 2002).
Ordo primata merupakan mamalia dengan ibu jari berhadapan dan yang memiiki
anggota gerak panjang, mata yang menghadap kedepan, korteks serebal yang
berkembang biak, omninivore contohnya manusia (Homo sapiens ) dan kera ekor
panjang (Macaca fascicularis) serta orang utan (Pongo pygmeus). Orang utan
merupakan primata yang hanya bisa ditemukan di kalimantan dan hutan sumatra. Saat
ini orang utan hanya tersisa sedikit jumlahnya dan terancam punah akibat adanya
pemburuan liar, pembakaran hutan. Manusia memiliki tipe gigi heterodont (Eisberg,
2008)
Marsupialia betina memiliki kantung (marsupium) di bagian ventral, embrio lahir
prematur dan berkembang lebih lanjut di dalam kantung. Contoh Dendrolagus sp
(kanguru), Phalanger sp (kuskus), Phascolarctus sp (koala), Didelphia marsupialia
(opossum). Mamalia Ordo Cetacean adalah hewan yang hidup di laut. Contohnya adalah
paus dan lumba-lumba. Walaupun mamalia laut tidak menyusui anaknya karena tidak
mempunyai kelenjar susu, namun termasuk dalam mamalia dikarenakan memenuhi ciri
mamalia lainnya seperti adanya kelenjar susu, paru-paru, dan berkembang biak dengan
melahirkan. Ordo artiodactyla adalah mamalia berjari genap contohnya kijang, kerbau,
banteng, sapi, kambing, jerapah, dan unta. Ordo perisodactyla adalah mamalia berkuku
ganjil contohnya kuda, dan keledai. Ordo Pholidota memiliki sisik, tidak memiliki gigi,
memakan semut dan anai-anai, contohnya trenggiling. Sirenia (umumnya disebut sapi
laut) adalah ordo mamalia herbivora yang hidup di perairan seperti rawa-rawa, sungai,
muara, dan laut. Di dalam ordo ini terdapat empat spesies yang belum punah, yaitu
dugong (satu spesies) dan lembu laut (tiga spesies). Di dalam ordo Sirenia juga terdapat
spesies sapi laut steller yang sudah punah semenjak abad ke-18 dan sejumlah taksa yang
ditemukan dalam bentuk fosil. Ordo ini berevolusi pada masa Eosen sekitar 50 juta
tahun yang lalu (Jenkins, 2002).
Mamalia theria melahirkan hidup muda tanpa telur dikupas. Ini dimungkinkan
berkat protein utama yang disebut syncytins, yang memungkinkan pertukaran antara ibu
dan anak-anaknya melalui plasenta; bahkan yang rudimental seperti marsupial. Studi
genetik telah menyarankan asal virus syncytins melalui proses endogenisasi. Anggota
subclass Prototheria bertelur seperti kebanyakan vertebrata non-mamalia. Namun,
mereka memberi makan bayi mereka dengan sekresi kelenjar susu seperti semua
mamalia lainnya. Mereka kekurangan puting, tetapi kulit di atas kelenjar susu mereka
memancarkan susu untuk bayi mereka. Hanya ada tiga yang masih hidup kelompok
spesies langka Prototheria. Ini adalah platypus Australia dan 2 moncong (berduri
trenggiling) spesies Australia dan New Guinea. Infraclass tertua mamalia therian adalah
Metatheria, Atau marsupial. Anak mereka lahir sangat dewasa dan tidak bisa hidup
tanpa pengembangan lebih lanjut dalam kantong ibu. Kata marsupial berasal dari
marsupium, kata Latin untuk tas. Marsupial termasuk kanguru, koala, oposum, dan
banyak hewan lain yang sejenis. Kebanyakan dari mereka adalah asli hanya untuk
Australia dan New Guinea. Sebagian besar spesies mamalia, termasuk manusia, berada
di Infraclass Eutheria. Mereka juga disebut sebagai plasenta mamalia. Ibu Eutherian
membawa anak-anak mereka yang belum lahir dalam rahim di mana mereka dipelihara
dan dilindungi sampai stadium lanjut tercapai (Nowak & Pardiso, 1983).

III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat–alat yang digunakan pada praktikum acara Mamalia adalah baki


preparat, pinset, kaca pembesar, mikroskop cahaya, mikroskop stereo, sarung
tangan karet (gloves), masker, dan alat tulis..
Bahan–bahan yang digunakan pada praktikum acara Mamalia adalah
beberapa spesimen hewan Mamalia.

B. Metode

Metode yang dilakukan pada praktikum acara Aves antara lain:


1. Karakter pada spesimen diamati, digambar dan dideskripsikan berdasarkan
ciri-ciri morfologi.
2. Spesimen diidentifikasi dengan kunci identifikasi.
3. Kunci identifikasi sederhana dibuat berdasarkan karakter spesimen yang
diamati.
4. Laporan sementara dibuat dari hasil praktikum.
DAFTAR REFERENSI

Alikodra, S., 2002. Pengelolaan Satwa Liar Jilid 1. Bogor: Yayasan Penerbitan Fakultas
IPB.
Anggrita, Nasihim, L., & Nendrayana, Y., 2017. Keanekaragaman Jenis Dan
Karakteristik Habitat Mamalia Besar Di Kawasan Hutan Bukit Bahohor Desa
Citapen Kecamatan Hantara Kabupaten Kuningan. Wanaraksa, 11(1), pp. 21-29.
Campbell, N. A., Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A., Minorsky,
P. V & Robert B. J. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Carters, V. W., 1978. Mammalia Darat Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Eisberg, J., 2008. The Evolution of The Reproductive Unit in The Class
Mamalia. Journal of Zoological, 1(9), pp. 75-77.
Jenkins, B., 2002. Learning Mammalia. Bogor: Kehutanan IPB.
Kumaran, J. V., Khan, F. A. A., Azhar, I., WeeChen, E., Ali, M. R. M., Ahmad, A &
Yusoff, A. M., 2016. Diversitu and Conversation Status of Small Mammals in
Kelantan, Malaysia. Songklanakarin J. Sci. Technol, 38(2), pp. 213-220.
Nasir, M., Amira, Y & Mahmud, A. H. 2017. Keanekaragaman Jenis Mamalia Kecil
(Famili Muridae) pada Tiga Habitat yang Berbeda di Lhokseumawe Provinsi
Aceh. Jurnal Bioleuser, 1(1), pp. 1-6.
Nowak, R. M., & Pardiso, J. L., 1983. Walkers Mamals of the World. London: The Jhons
Hopkins University Press Baltimore and London.
Payne, J., 2000. Mamalia di Kalimantan, Sabah, Serawak dan Brunai Darussalam.
Jakarta: Prima Central.
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Jakarta: Erlangga.
Suyanto, A., 2002. Mammalia di Taman Nasional Gunung Halimun Jawa Barat.
Bpgor: Biodiversity Conservation Project Bogor University Press.