Anda di halaman 1dari 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Adsorpsi
Fenomena tertariknya partikel ke suatu permukaan material di kenal sebagai
adsorpsi, senyawa yang diserap adalah adsorbat, material yang menyerap adsorbat
disebut sebagai adsorben, dan kebalikan dari proses adsorpsi adalah desorpsi (Atkin
and Paula, 2006). Mengenai performa dari material adsorben yang digunakan terdapat
dua model pendekatan isoterm adsorpsi yaitu isoterm adsorpsi Langmuir dan isoterm
adsorpsi freundlich. model isoterm adsorpsi Langmuir menjelaskan adanya interaksi
antara adsorben dengan adsorbat terjadi secara monolayer tanpa terjadinya interaksi
antar molekul adsorbat. Pada model isoterm adsorpsi Langmuir menyatakan bahwa
material yang digunakan sebagai adsorben memiliki permukaan yang homogen.
Sedangkan model isoterm adsorpsi freundlich menjelaskan bahwa interaksi antara
adsorben dengan molekul adsorbat terjadi secara multilayer sehingga terbentuk
molekul yang berlapis-lapis karena adanya interaksi antar molekul adsorbat. Pada
model isoterm adsorpsi freundlich menjelaskan bahwa proses adsorpsi terjadi pada
material adsorben yang memiliki permukaan heterogen (Foo and Hameed., 2010).

2.2. Biosorben
Adsorben yang terbuat dari material biomassa disebut sebagai biosorben.
Biosorpsi merupakan salah satu metode penyerapan logam berat dengan
menggunakan biomassa dari alam seperti kulit buah kelengkeng, kulit durian, biji
durian (Lestari et al., 2015). Pada biosorpsi terdapat beberapa metode yang biasa
digunakan pada penyerapan logam berat diantara nya metode kolom dan metode
batch (Kurniawati et al., 2016).
Beberapa peneliti menggunakan limbah alam sebagai biomassa, adapun salah
satu contohnya yang telah dilakukan oleh Ratri puspita menggunakan akar enceng
gondok sebagai biomassa untuk menyerap logam Zn. Biosorpsi banyak digunakan
karena metode ini efektif, biomassa yang digunkan mudah didapatkan dan lebih
murah dari metode yang lain, sebelum metode biosorpsi telah ada beberapa metode
yang digunakan untuk penyerapan logam diantaranya yaitu fitrasi presipikasi
elektrokimia, reverse osmosisi dan elektrokimia (Al-Homaidon et al., 2015).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh irsan et al (2013) biji lengkeng
dapat digunakan sebagai biomassa untuk menyerap logam Zn dan biosorpsi
menggunakan lengkeng juga pernah diteliti oleh Kurniawati et al (2015).
Kulit dan biji lengkeng terdapat senyawa bioaktif yang mampu menyerap
logam Pb (II) dan Cu (II) dengan menggunakan metode kolom. Kapasitas
penyerapan logam Cu pada biji dan kulit lengkeng 3,734 mg/g dan 7,513 mg/g,
sedangkan pada logam Pb pada biji dan kulit lengkeng mampu menyerap sebesar
3,32 mg/g dan 4,1 mg/g. Dari penelitian sebelumnya dapat diketahui bahwa biji dan
kulit lengkeng bisa digunakan sebagai biosorben pada parameter pH, pengaruh
waktu pengadukan, konsentrasi dan kecepatan pengadukan (Suciandica dkk., 2019).
Biji dan kulit lengkeng memiliki nilai optimum pada kapasitas adsorpsi terjadi pada
pH 3, konsentrasi awal 300 mg/L, dosis biosorben 0,25 g dan waktu kontak 15
menit. Pada perhitungan Langmuir dan freundlich memiliki nilai R2 0,5408 dan
08976. Dari hasil ini menunjukkan bahwa model freudlich lebih baik dari pada
Langmuir untuk mengadsorpsi (Florenly et al., 2015).

2.3. Zat Warna


2.3.1. Zat Warna Malachite Green

Malachite green merupakan salah satu kelompok zat warna sintetik kationik
yang memiliki rumus molekul C23N2H25Cl dengan struktur ditunjukan pada gambar 1.
Bobot molekulnya sebesar 364,91 gram/mol dan titik lelehnya 159oC. Zat warna
malachite green larut sepenuhnya dalam pelarut air dan alkohol dan zat warna ini
cenderung stabil terhadap agen pengoksidasi kuat, asam kuat, cahaya yang sensitif
dan mudah terbakar. Ketika zat warna ini dilarutkan dalam air maka akan
menghasilkan larutan yang berwarna hijau dengaan nilai panjang gelombang
maksimum 617 nm. Pemanfaatan zat warna Malachite green banyak diaplikasikan
dalam pewarnaan kertas, kulit dan pada industri tekstil. Malachite green memiliki
sifat yang berbahaya dan cenderung dapat terakumulasi dalam sel organisme hidup,
sehingga dapat masuk kedalam rantai makanan (Kumar and Kumar., 2015)

Gambar 1. Struktur zat warna malachite green


Zat warna malachite green yang yang tercampur diperairan mengakibatkan
masalah yang besar bagi lingkungan karena zat warna malachite green sangat sulit
didegradasi. Zat warna ini juga dapat mengurangi cahaya yang masuk ke dalam
perairan. Malachite green bersifat berbahaya bagi kesehatan tubuh karena memiliki
sifat karsinogenik, genotoksik, mutagenik dan teratogenik (Ahmad and Kumar.,
2010).

2.3.2. Zat Warna Congo Red


Zat warna Congo red memiliki rumus molekul C32H22N6Na2O6S2. Zat warna
congo red memiliki nama IUPAC natrium benzidindiazo-bis-1-naftilamin-4-sulfonat.
Zat warna congo red memilki berat molekul 696,67 g/mol (O’neil., 2001). Dalam air,
congo red membentuk koloid berwarna merah. Kelarutan congo red sangat baik pada
pelarut organik, seperti etanol. Warna merah yang dihasilkan zat warna congo red
dapat diamati melalui alat spektrofotometer. Spektra zat warna congo red
menunjukkan karakteristik pada puncak sekitar 498 nm. Dalam larutan zat warna
congo red dapat digunakan sebagai indikator pH 3,0-5,2. Zat wrna Congo red
cenderung membentuk agregat dalam larutan organik maupun air. Sehingga agregat
ini memberikan ukuran dan bentuk yang bervariasi (Tapalad et al.,2008).
Zat warna senyawa azo dan turunannya merupakan gugus benzena yang
sangat sulit didegradasi karena memiliki struktur aromatic, oleh sebab itu zat warna
ini sulit dibiodegradasi, zat warna terbentuk karena adanya ikatan kovalen yang kuat
antara atom C dari zat warna dengan atom O, N atau S dari gugus hidroksi, amina
atau tiol dari polimer (Christina et al., 2007).

2.4. Karakterisasi

2.4.1 Fourier Transform Infra Red (FTIR)


FTIR (Fourier transform infrared spectroscopy) merupakan analisis yang dapat
digunakan untuk memberikan informasi struktur molekular dari senyawa anorganik
dan organik. FTIR merupakan serangkaian pita serapan yang spesifik untuk masing-
masing molekul. Dasar teknik ini adalah FTIR yang terkait dengan transisi antara
keadaan energi getaran terkuantisasi, pada saat keadaan FTIR penyerapan terjadi saat
inilah foton ditransferkan ke dalam molekul dan dieksitasi pada kondisi energi yang
lebih tinggi sehingga dapat menghasilkan getaran ikatan molekul yang
mengakibatkan berbagai bilangan gelombang (frekuensi) pada wilayah IR setiap
spektrum cahaya (Chen et al., 2015).
Spektrofotometer FTIR berfungsi untuk menentukan jenis gugus fungsi yang
terdapat pada suatu biomaterial. Gugus fungsi ini berperan untuk mengikat ion logam
yang dipengaruhi oleh banyak dan jenisnya, afinastas terhadap ion logam, interaksi
yang terjadi dan struktur kimia yag terdapat pada biosorben (Bhernama., 2017).

Gambar 2. FTIR biosorben biji lengkeng (Suciandica dkk., 2019).


Hasil yang didapatkan dari uji dengan menggunakan FTIR diperoleh beberapa
gugus fungsi yang terdapat didalam biomassa yang dapat menyerap ion logam dari
hasil yang didapatkan garis yang berwarna hitam merupakan hasil dari pengujian
terhadap biji kelengkeng murni, warna biru biji lengkeng telah diadsorpsi dan warna
merah yang telah diontakkan dengan hasil optimum. Dapat dilihat puncak–puncak
yang dihasilkan mengalami pergesaran panjang gelombang pada beberapa puncak
tertentu. Pucak – puncak gelombang yang dihasilkan dapat dilihat beberapa gugus
fungsi yang dihasilkan diantaranya 3200-3600 cm-1 (O–H), 2850–2970 cm-1 (C–H),
2100–2260 cm-1 (C≡C), 1610–1680 cm-1 (C=C), 1300–1370 (NO2), 675–995 cm-1 (C–
H). Hasil yang didapat dilihat terjadi pergeseran banjang gelombang digugus O-H
yaitu 3289 cm-1 dari murni menjadi 3283,85 cm -1 setelah diaktivasi, setelah
dikontakkan dengan ion logam Zn+2 mengalami pergeseran 3286,05 cm-1 (Lestari, et
al., 2015).
Hasil penelitian didapatkan bahwa biji kelengkeng dapat digunakan sebagai
biomassa yang dapat penyerap limbah logam berat terutama pada ion logam Zn (II)
dengan didapatkanya npenyerapan optimum sebesar 11,8475 mg/g pada pH 5, 3, 181
mg/g pada konsentrasi 200 ppm, dan 6,517 pada ukuran 106 µm serta 4,321 pada
waktu kontak selama 60 menit dengan kecapatan 150 rpm dapat penyerap ion logam
sebesar 4,088 mg/g dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa biji lengkeng bisa
digunakan sebagai biosorben untuk menyerap ion logam Zn+2 (Suciandica dkk.,
2019).

2.4.2. Brunauer Emmet Teller (BET) Surface area.


BET terdapat tiga jenis persamaan yang berfungsi untuk memperluas adsorpsi
multikomponen, diantaranya lapisan teradsorpsi memiliki karakter pada campuran
cair mengalami penguapan kondensasi, pada campuran gas lapisan teradsorpsi
merupakan termodinamika statistik dan diasumsikan bahwa campuran gas merupakan
cairan yang tidak larut. BET memiliki teori untuk mengadsorpsi pada permukaan
yang padat berbanding lurus dengan material homogen. Teori BET ini sering
diterapkan untuk menghitung luas permukaan yang lebih spesifik pada media yang
berpori (Chen et al., 2017).

Menurut Gursoy dan Karaman (2017) Analisa BET biasa dilakukan untuk
mengukur luas permukaan spesifik dari suatu material. Analisis ini didasarkan pada
perhitungan jumlah adsorpsi gas terhadap tekanan uap relatif gas inert pada berbagai
kondisi. Gas yang biasa digunakan sebagai molekul adsorpsi gas adalah gas nitrogen
karena sifatnya yang inert. Sebelum melakukan analisis permukaan pada BET,
sampel uji harus didegradasi terlebih dahuu untuk menghilangkan kadar air.
Hubungan antara jumlah senyawa gas teradsorpsi (adsorbat) dan tekanan
kesetimbangan gas (adsorptif) pada suhu konstan dikenal sebagai isoterm adsorpsi.
Setiap titik yang diukur menggambarkan keadaan kesetimbangan dari proses adsorpsi
meliputi kuantitas molar dan volume standar yang diadsorpsi pada permukaan
adsorben sebagai fungsi tekanan gas pada suhu konstan. Untuk isotherm adsorpsi
nitrogen biasa menggunakan tekanan relative (P/P0), yang mana didefinisikan sebagai
tekanan uap yang diukur (P) dibagi dengan tekanan uap saturasi (P0) nitrogen cair
pada suhu yang digunakan yaitu 77K. Selain adsorpsi isotherm, desorpsi isotherm
juga menggabrkan kesetimbangan dari gas yang diserap di permukaan yang tertutup
dari suatu adsorben sebagai fungsi dari tekanan gas pada temperatur konstan (Moller
and Adrij., 2017).

2.4.3. Scanning Electron Microscopy (SEM)


SEM (Scanning Electron Microscopy) telah digunakan sebagai metode yang
efisien untuk menganalisis senyawa anorganik dan senyawa organik. Cara kerja SEM
menghasilkan analisis kualitatif dan semi-kuantitatif dengan bantuan adanya Energy
Dispersive X-ray Spectroscopy (EDS) yang dapat memberikan informasi komposisi
dari material yang diinginkan. SEM (Scanning Electron Microscopy) bekerja pada
jangkauan yang tinggi, mulai 300.000 sampai 1.000.000 untuk menghasilkan
gambaran yang tepat (Mohammed and Abdullah., 2018). Salah satu contoh hasil
SEM (Scanning Electron Microscopy) dari sampel lengkeng (Dimocarpus longan
Lour) dapat dilihat pada gambar 4.
Gambar 4. SEM kulit lengkeng (Chi et al., 2017)
Gambar 4 menunjukkan salah satu sampel dari kulit lengkeng dari penelitian
Chi et al (2017) yang telah dicuci dan dikeringkan dengan ukuran partikel dalam
kisaran 600-2000µm dengan volume dan diamter pori sekitar 0,001694 cm 3/g dan
224,5Å

2.4.4. X-Ray Diffraction (XRD)


XRD (X-Ray Diffraction) merupakan analisis yang dapat digunakan untuk
mencatat difraksi dari suatu sampel polikristal yang menggunakan alat difraktometer.
Analisis XRD (X-Ray Diffraction) menggunakan sampel serbuk yang permukaannya
yang lebih dahulu diratakan dalam suatu wadah sampel dan juga mempunyai
ketebalan yang cukup agar mampu diserap alur sinar-X yang menuju keatasnya.
Puncak-puncak difraksi yang dihasilkan oleh alat pencacah pada umumnya
menggunakan pencacah sintilasi dan Geiger. Pada alat monitor mampu diputar
mengelilingi sampel dan dapat diatur pada sudut 2 terhadap alur datang. Alat
monitor dijajarkan agar sumbunya selalu melewati dan bersudut tepat pada sumbu
putaran sampel. Intensitas sinar-X yang difraksi sebagai fungsi sudut 2 (Munasir
dkk., 2012).
XRD (X-Ray Diffraction) adalah teknik non-destruktif yang digunakan untuk
menganalisis struktur bahan kristalin atau semi-kristalin, namun XRD juga dapat
digunakan untuk mempelajari bahan non kristalin.
Gambar 5. Hasil XRD biosorben serbuk kulit pisang (Karel dkk., 2016).
Hasil penelitian ini menunjukkan suhu pemanasan mempengaruhi pelebaran
puncak setengah difraksi. Pelebaran puncak hasil XRD memberikan informasi bahwa
material serbuk kulit pisang bersifat semikristalin (Karel dkk., 2016).