Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN

TAKSONOMI VERTEBRATA
IDENTIFIKASI FOSIL SANGIRAN

DISUSUN OLEH
MUHAMAD RIDWAN
(21801061091)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bangsa Indonesia terkenal sebagai suatu bangsa yang memiliki
kekayaan seni budaya yang bernilai seni tinggi. Warisan budaya nasional itu
ada yang berupa bangunan atau monumen, kesenian, naskah-naskah kuno, dan
jenis-jenis budaya lainnya (Sumarsih,1985).
Salah satu kekayaan seni budaya yang bernilai seni tinggi adalah situs.
Situs yang tersebar hampir di semua pulau besar di Indonesia. Situs Sangiran
merupakan salah satu situs bersejarah yang terletak di Desa Krikilan,
Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen. Situs sangiran menyimpan koleksi
benda-benda peninggalan kehidupan pada masa prasejarah (Dwiyantoro,
2012)

Gambar 1 : Peta Distribusi Situs-situs Plestosen di Jawa


Situs Sangiran telah ditetapkan sebagai warisan dunia (World
Heritage) oleh UNESCO dengan nama Sangiran the Early Man Site. Alasan
penetapan Situs Sangiran sebagai warisan dunia adalah Situs Sangiran
merupakan salah satu situs kunci untuk pemahaman evolusi manusia yang
tergambar melalui fosil-fosil (manusia dan binatang) dan alat-alat paleolitik
yang ditemukan di Sangiran. Situs Sangiran memberikan gambaran evolusi
Homo sapiens yang dimulai sejak Kala Plestosen Bawah hingga saat ini
(Hidayat, 2015).
Penelitian tentang asal usul manusia di Indonesia telah dimulai sejak
Eugene Dubois menemukan fosil atap tengkorak dan tulang paha kiri
Pithecantropus erectus (Homo erectus erectus) pada pada endapan vulkanik
jajaran Pegunungan Kendeng di Trinil tahun 1891 (Widianto, 2006).
Hingga kini penelitian mengenai hal tersebut telah banyak mengalami
kemajuan. Berdasarkan bukti paleoantropologi, populasi makhluk manusia
yang pertama kali mendiami kawasan Indonesia adalah Homo erectus. Mereka
bermigrasi dari Afrika sampai di Kepulauan Indonesia pada Kala Plestosen
Bawah sekitar 1,7 Juta tahun yang lalu (Sémah, 2000).
Manusia jenis tersebut diperkirakan berevolusi menjadi bentuk yang
progresif, yaitu Pithecanthropus (Homo erectus) soloensis atau Solo Man,
tetapi kemudian mengalami kepunahan pada Kala Plestosen akhir sekitar
40.000 BP bersamaan dengan kurun awal kemunculan Homo sapiens
(Bellwood, 1975).
Situs Sangiran dengan berbagai koleksi yang terdapat di dalamnya
berpotensi untuk dijadikan sebagai sumber belajar Biologi khususnya pada
materi Taksonomi Vertebrata. Keberadaan Situs Sangiran dapat menjadikan
materi Taksonomi Vertebrata yang bersifat teoritis menjadi kontekstual karena
di dalam Situs Sangiran terdapat bukti-bukti konkret peninggalan sejarah
berupa temuan fosil dalam jumlah yang sangat banyak seperti fosil Hominid
purba, fosil fauna dan flora, serta artefak batu.. Pemanfaatan Situs Sangiran
sebagai sumber belajar materi taksonomi vertebrata penting diketahui oleh
mahasiswa calon ilmuan Biologi agar dapat memgembangkan menjadi
penelitian berbasis fauna yang memiliki sumsum tulang belakang.

1.2 Tujuan Praktikum


Dari latar belakang yang telah dijelaskan, maka tujuannya sebaga
berikut :
1. Menganalisis persepsi mahasiswa calon saintis muda pada program studi
Biologi MIPA Universitas Islam Malang tentang pemanfaatan Situs
Sangiran sebagai sumber belajar Taksonomi Invertebrata.
2. Mengidentifikasi fosil-fosil fauna yang ditemukan di Sangiran secara
morfologi fosil, periode fosil,
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

.1 Sejarah Berdirinya Museum Sangiran


Ketika G.H.R Von Koeningswold melakukan penelitian di Sangiran
sekitartahun 1930, ia banyak dibantu oleh seorang pemuda bernama Toto
Marsono, yang kemudian menjadi Kepala Desa Krikilan. Dibawah
koordinasinya, penduduk mengumpulkan fragmen fosil yang waktu itu
dikenal sebagai balung buto. Balung buto sendiri berarti tulang raksasa yang
mereka temukan menyerupai manusia, namun memiliki ukuran yang sangat
besar.
Fosil-fosil itu lalu dihimpun oleh Totok Marsono di rumahnya.
Apabila G.H.R Von Koeningswold datang ke Sangiran, ia akan memilah fosil-
fosil tersebut dan memberikan imbalan kepada para penemunya. Setelah Von
Koeningswold kembali ke Eropa, Totok Marsono tetap menggali fosil-fosil di
Sangiran.
Penduduk asli Sangiran ini menghimpun para pemuda mencari benda-
benda purbakala dan ditukar dengan sejumlah uang dari Von Koeningswold.
Totok Marsono banyak belajar bagaimana cara-cara menggali dan
memperlakukan benda-benda bersejarah itu agar tidak rusak. Semua hasil
penemuan itu dirawat, dicatat, dan diatur rapi di rumah Totok Marsono. Bukan
hanya fosil manusia purba saja yang ditemukan di Sangiran, tetapi juga fosil-
fosil binatang purba seperti gajah, badak, babi, kudanil, buaya, dan lain-lain.
Baru pada tahun 1974 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
membuatkangedung untuk menyimpan fosil dengan lebih baik. Tahun 1983
Pemerintah Pusat menghimpun semua koleksi yang ada di sekitar Sangiran,
termasuk milik Toto Marsono untuk disimpan di museum yang baru di Desa
Krikilan. Museum inilah yang ada sekarang ini. Namun, keadaan Museum
Sangiran zaman dahulu tidak semegah pada saat ini. Museum Sangiran
sebelumnya hanyalah rumah joglo sederhana yang kini telah berubah menjadi
museum internasional yang megah.
Museum Sangiran akhirnya diresmikan pada tanggal 15 Desesmber
2011oleh Wakil Mentri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan Prof.
Dr.Windu Nuryati, PHD sebagai museum yang betaraf internasional.

2.2 Pengertian Fosil


Fosil = Jejak / sisa kehidupan baik langsung / tidak langsung
terawetkan dalam lapisan kulit bumi, terjadi secara alami dan mempunyai
umur geologi.
Fosil (bahasa Latin: fossa yang berarti "menggali keluar dari dalam
tanah") adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi batu
atau mineral. Untuk menjadi fosil, sisa-sisa hewan atau tanaman ini harus
segera tertutup sedimen. Oleh para pakar dibedakan beberapa macam fosil.
Ada fosil batu biasa, fosil yang terbentuk dalam batu ambar, fosil ter, seperti
yang terbentuk di sumur ter La Brea di Kalifornia.
Hewan atau tumbuhan yang dikira sudah punah tetapi ternyata masih
ada disebut fosil hidup. Fosil yang paling umum adalah kerangka yang tersisa
seperti cangkang, gigi dan tulang. Fosil jaringan lunak sangat jarang
ditemukan.Ilmu yang mempelajari fosil adalah paleontologi, yang juga
merupakan cabang ilmu yang direngkuh arkeologi.
Secara singkat definisi dari fosil harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
1. Sisa-sisa organisme.
2. Terawetkan secara alamiah.
3. Pada umumnya padat/kompak/keras.
4. Berumur lebih dari 11.000 tahun.
Fosil dalam “Paleontologi” terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :
 Fosil Makro/besar (Macrofossil) dapat dilihat dengan mata biasa
(megaskopis)
 Fosil Mikro/kecil (Microfossil) hanya dapat dilihat dengan bantuan
alat mikroskop (mikroskopis)

2.3 Proses Pembentukan Fosil


Fosilisasi adalah semua proses yang melibatkan penimbunan hewan
atau tumbuhan dalam sedimen, yang terakumulasi & mengalami pengawetan
seluruh maupun sebagian tubuhnya serta pada jejak-jejaknya.
Fossilisasi dapat terjadi melalui beberapa proses yaitu:
1. Penggantian (replacement), penggantian mineral pada bagian yang
keras dari organisme seperti cangkang. Misalnya cangkang suatu
organisme yang semula terdiri dari kalsium karbonat (CaCO3)
digantikan oleh silica.
2. Petrifaction, bagian lunak dari batang tumbuhan diganti oleh
presipitasi mineral yang terlarut dalam air sedimen.
3. Karbonisasi, daun atau material tumbuhan yang jatuh ke dalam lumpur
rawa, terhindar dari oksidasi. Dan pada saat diagenesa, material itu
diubah menjadi cetakan karbon dengan tidak mengubah bentuk
asalnya.
4. Pencetakan, pada saat diagenesa, sisa binatang atau tumbuhan terlarut,
sehingga terjadilah rongga, seperti cetakan (mold) yang bentuk dan
besarnya sesuai atau sama dengan benda salinya. Apabila rongga ini
terisi oleh mineral maka terbentuklah hasil cetakan (cast) binatang atau
tumbuhan tersebut.
2.4 Syarat Terbentuknya Fosil
Syarat Terbentuknya Fosil :
1 Mempunyai bagian yang keras
2 Segera terhindar dari proses-proses kimia (oksidasi & reduksi)
3 Tidak menjadi mangsa binatang lain
4 Terendapkan pada batuan yang berbutir halus >>> agar tidak larut
5 Terawetkan dalam batuan sedimen
6 Terawetkan dalam waktu geologi (minimal 500.000 tahun)

2.5 Jenis-jenis Fosil


Fosil dibedakan menjadi 2 jenis antara lain:
1 Type pertama = Organisme itu sendiri
Tipe pertama ini adalah binatangnya itu sendiri yang
terawetkan/tersimpan. Dapat beruba tulangnya, daun-nya, cangkangnya,
dan hampir semua yang tersimpan ini adalah bagian dari tubuhnya yang
“keras”.
Dapat juga berupa binatangnya yang secara lengkap (utuh) tersipan.
misalnya Fosil Mammoth yang terawetkan karena es, ataupun serangga
yang terjebak dalam amber (getah tumbuhan).
Petrified wood atau fosil kayu dan juga mammoths yang terbekukan,
and juga mungkin anda pernah lihat dalam filem berupa binatang serangga
yang tersimpan dalam amber atau getah tumbuhan. Semua ini biasa saja
berupa asli binatang yang tersimpan
2 Type kedua = sisa-sisa aktifitasnya
Secara mudah pembentukan fosil ini dapat melalui beberapa jalan,
antara lain seperti yang terlihat dibawah ini. Fosil sisa aktifitasnya sering
juga disebut dengan Trace Fosil (Fosil jejak), karena yang terlihat
hanyalah sisa-sisa aktifitasnya. Jadi ada kemungkinan fosil itu bukan
bagian dari tubuh binatang atau tumbuhan itu sendiri
Penyimpanan atau pengawetan fosil cangkang ini dapat berupa
cetakan. Namun cetakan tersebut dapat pula berupa cetakan bagian dalam
(internal mould) dicirikan bentuk permukaan yang halus, atau external
mould dengan ciri permukaan yang kasar. Keduanya bukan binatangnya
yang tersiman, tetapi hanyalah cetakan dari binatang atau organisme itu .

2.6 Fosil Indek


Fosil indek adalah fosil yang digunakan sebagai penunjuk waktu geologi.
Fosil ini meliputi 2 keadaan, yaitu :
 Fosil yang mempunyai kisaran yang panjang
Fosil terdapat pada beberapa batuan yang berasal dari beberapa jaman
geologi yang berurutan.
 Fosil dengan kisaran yang pendek
Fosil yang hanya terdapat pada batuan yang berasal dari satu jaman
geologi tertentu saja, atau bahkan hanya berasal dari sebagian jaman
tertentu

(Contoh Fosil Indek)


2.7 Kegunaan Fosil
Kegunaan fosil dalam kaitannya dengan ilmu geologi yaitu :
1 Mementukan umur relatif batuan
Fosil dapat digunakan untuk menentukan umur relatif suatu batuan yang
terdapat/terkandung dalam fosil. Batuan yang berasal dari suatu jaman tertentu
mengandung kumpulan fosil yang tertentu, yang lain dari fosil yang
terkandung dalam batuan yang berasal dari jaman geologi yang lain.
2. Menentukan korelasi batuan antara tempat yang satu dengan tempat lain.
Dengan diketahui fosil yang diketemukan, maka dapat disimpulkan bahwa
beberapa daerah yang disitu ditemukan fosil yang sama, maka lapisan batuan
pada daerah tersebut terbentuk pada masa yang sama.
3. Mengetahui evolusi makhluk hidup
Para ahli paleontologi, setelah meneliti isi fosil dari lapisan batuan batuan
yang berbeda-beda umurnya berkesimpulan bahwa batuan yang lebih tua
mengandung fosil yang lebih sedikit, bentuknya lebih primitip. Semakin muda
umur batuannya, isi fosilnya semakin banyak dan strukturnya semakin
canggih. Dari sini kemudian para ahli tersebut berkesimpulan bahwa
organisme yang pernah ada di bumi kita ini mengalami perkembangan, mulai
dari sederhana menunju ke bentuk yang lebih kompleks dalam waktu yang
sangat lama. Hal ini yang kemudian dikembangkan oleh ahli biologi sebagai
teori evolusi organisme.
4. Menentukan keadaan lingkungan dan ekologi yang ada ketika batuan yang
mengandung fosil terbentuk.
http://geologikita.blogspot.com/2008/12/kegunaan-fosil.html
2.8 Cara Pengamatan Fosil
Teknik pengamatan fosil dibagi menjadi 2, antara lain :
1. Pengamatan Lapangan
A. Fosil Makro
Karena fosil makro mempunyai ukuran yang besar, maka dalam
pengamatannya tergantung dari kekerasan batuan tempat fosil makro
tersebut berada. Penyajian fosil makro relatif lebih muda dibandingkan
fosil mikro karena dalam penyajiannya dilakukan secara mudah dengan
pengambilan fosil yang terekam lalu dibersihkan, setelah itu dapat
langsung dideskripsi secara megaskopis beserta batuan tempat fosil
tersebut berada.
Apabila kesulitan dalam deskripsi di lapangan, maka dilakukan
dokumentasi yang baik, meliputi: sampel fosil, tempat pengambilan,
nomor sampel. Seteah itu, dibawa di laboratorium untuk dianalisis lebih
lanjut
2. Pengamatan Laboratorium
Pengamatan di laboratorium dilakukan untuk analisa fosil secara
detail yang tidak dapat dilakukan di lapangan. Pengamatan di laboratorium ini
terutama adalah dari fosil-fosil mikro dengan bantuan alat mikroskop.

2.8 Fosil yang Terdapat di Museum Sangiran


Fosil yang berada di Museum Sangiran saat ini semua berasal dari
sekitar situs Sangiran. Fosil-fosil tersebut berupa fosil manusia, fosil hewan,
fosil tumbuhan, batu batuan, sedimentani, dan juga peralatan dapur yang dulu
pernah dibuat dan digunakan oleh manusia purba yang pernah bermukim di
sangiran. Koleksi yang terdapat di Museum Sangiran diantaranya adalah
a. Fosil manusia
 Pithecanthropus mojokertensis ( Pithecantropus robustus )
Fosil Pithecanthropus Mojokertensis ditemukan olehVon
Koenigswald di desa Perning, LembahBengawan Solo Mojokerto, Jawa
Timur pada lapisan Pleistosen Bawah. Temuan tersebut berupa
fosilanak-anak berusia sekitar 5 tahun. Makhluk inidiperkirakan hidup
sekitar 2,5 sampai 2,25 juta tahunyang lalu
 Meganthropus paleojavanicus
Fosil Meganthropus Paleojavanicus ditemukan oleh Von
Koenigswald di Sangiran, lembah Bengawan Solo pada tahun 1936-
1941. Fosil ini berasal darilapisan Pleistosen Bawah
 Pithecanthropus erectus,
Fosil jenis ini ditemukan oleh Eugene Dubois di desaTrinil, Ngawi,
Jawa Timur, pada tahun 1890 berasaldari lapisan Plestosen Tengah.
 Homo soloensis
,Fosil Homo soloensis ditemukan di Ngandong,Blora, di Sangiran
dan Sambung Macan, Sragen, olehTer Haar, Oppenoorth, dan Von
Koenigswald padatahun 1931-1933 dari lapisan Pleistosen Atas. Homo
Soloensis diperkirakan hidup sekitar 900.000 sampai 300.000 tahun
yang lalu.
 Homo Neanderthal Eropa,-
 Homo Neanderthal Asia,-
 Homo sapiens, dll

b. Fosil binatang bertulang belakang,


 Gigi Elephas namadicus (gajah)
 Rahang atas Elephas namadicus (gajah)
 Tulang hasta Stegodon trigonocephalus (gajah)
 Tulang rusuk (casta) Stegodon Trigonocephalus (gajah)
 Mastodon sp (gajah)
 Tengkorak Bubalus palaeokarabau (kerbau)
 Felis palaeojavanica (harimau)
 Sus sp (babi)
 Rhinocerus sondaicus (badak)
 Bovidae (sapi, banteng) dan
 Cervus sp (rusa dan domba), dll
c. Fosil binatang air
 Tengkorak buaya (Crocodilus Sp.)
Ditemukan pada tanggal 17 Desember 1994 oleh Sunardi di Dukuh
Blimbing, Desa Ngebung, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.
Ditemukan di lapisan tanah formasi pucangan.
 Kura-kura (Chlonia Sp.)
 Ruas tulang belakang ikan
Ditemukan pada tanggal 20 November 1975 oleh Suwarno di Desa
Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Ditemukan
dilapisan tanah formasi pucangan.
 Hippopotamus sp (kuda nil)
 Mollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda )
 Chelonia sp (kura-kura) dan
 Foraminifera
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum lapangan taksonomi vertebrata ini dilaksanakan pada
tanggal 14 Desember 2019 pukul 08.00-10.00 WIB di Museum Purbakala
Sangiran Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
 Alat tulis dan buku catatan
 Lembar kerja laporan
 Kamera hp/digital

3.2.2 Bahan
 Pajangan spesimen fosil-fosil

3.3 Cara Kerja

Disiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk mengamati fosil-fosil

Diamati nama fosil, bentuk fosil, ukuran fosil, umur fosil, dan lain-lain

Dicatat di lembar kerja laporan pengamatan fosil sesuai yang ditemukan

Difoto hasil temuan fosil-fosil yang dilihat dengan kamera hp/digital

Ditulis dalam sebuah laporan kunjungan Sangiran beserta daftar


pustaka
4.2 Pembahasan
4.2.1 Gajah purba (Stegodon trigonocephalus)
 Gigi Elephas namadicus (gajah)
Ditemukan di situs cagar budaya sangiran pada tanggal 12 Desember
1975. Ditemukan pada lapisan tanah pasir bercampur kerikil berwarnacokelat di
formasi kabuh.
 Rahang atas Elephas namadicus (gajah)
Rahang ini dilengkapi sebagian gading. Fosil ini ditemukan oleh Atmodi
Dukuh Ngrejo, Desa Samomorubuh, Kecamatan Plupuh, KabupatenSragen pada
tanggal 24 April 1980. Ditemukan pada lapisan Grenz bank (antara formasi
pucangan dan kabuh)
 Tulang hasta Stegodon trigonocephalus (gajah)
Ditemukan di kawasan cagar sangiran pada tanggal 23 November 1975 di
tanah lapisan lempung. Warna fosil abu-abu. Ditemukan di formasi lapisan tanah
kabuh bawah.
 Tulang rusuk (casta) Stegodon Trigonocephalus (gajah)
Ditemukan oleh Supardi tanggal 3 Desember 1991 di Dukuh Bukuran,Desa
Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen pada lapisan lempung. Warna
abu-abu dari endapan pucangan atas
4.2.2. Tengkorak Bubalus palaeokarabau (kerbau)
Ditemukan oleh Tardi Pada tanggal 20 November 1992 di
DukuhTanjung, Desa Dayu Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten
Karanganyar pada lapisan tanah Warna coklat kekuning-kunginan yang
bercampur pasir ditemukan formasi kabuh berdasarkan penanggalan
geologi berumur 700.000-500 tahun
4.2.3 Kura-kura (Chlonia Sp.)
Ditemukan pada tanggal 1 Februari 1990 oleh Hari Purnomo di
Dukuh Pablengan, Desa Krikilan , Kecamatan Kalijambe, Kabupaten
Sragen. Dirtemukan di lapisan tanah formasi pucangan.
4.3 Klasifikasi
4.3.1. Gajah purba (Stegodon trigonocephalus)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Classis : Mammalia
Ordo : Proboscidea
Familia : Stegodontidae
Genus : Stegodon
Species : Stegodon trigonocephalus
(Martin, 1887).
4.3.2. Badak (Rhinocerus sondaicus)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Classis : Mammalia
Ordo : Perissodactyla
Familia : Rhinocerotidae
Genus : Rhinocerus sondaicus
Species : Rhinocerus sondaicus
(Myers, 2020).
4.3.3. Babi purba (Sus sp.)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Classis : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Familia : Suidae
Genus : Sus
Species : Sus sp.
(Myers, 2020).
4.3.4 Kerbau purba (Bubalus paleokarabau)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Classis : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Familia : Bovidae
Genus : Bubalus
Species : Bubalus paleokarabau
(Myers, 2020).
4.3.5. Kura-kura purba (Geochelone atlas)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Classis : Reptilia
Ordo : Testudines
Familia : Testudinidae
Genus : Geochelone
Species : Geochelone atlas
(Myers, 2020).
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

Bellwood, Peter. 1975. Man’s Conquest of the Pacific, Auckland: Collins


Publisher.
Dwiyantoro, S. (2012). Museum Sangiran: Historisitas dan Relevansinya sebagai
Sumber Pembelajaran Sejarah. Skripsi tidak diterbitkan. Semarang: Program Studi
Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember
Hidayat, M. (2015). Strategi Pengelolaan Situs Sangiran sebagai Warisan Dunia.
Jurnal Manusia Purba Sangiran. (Online),
(sangiranmuseum.com/wpcontent/.../001-P-Dayat.pdf), Diunduh pada 9 Desember
2015.
Martin, 1887 in GBIF Secretariat (2019). GBIF Backbone Taxonomy. Checklist
dataset https://doi.org/10.15468/39omei accessed via GBIF.org on 2020-01-10
Myers, P., R. Espinosa, C. S. Parr, T. Jones, G. S. Hammond, and T. A. Dewey.
2020. The Animal Diversity Web (online). Accessed at
https://animaldiversity.org.
(Sémah, 2000).
(Sumarsih,1985).
Widianto, 2006. “Dari Pithecanthropus ke Homo erectus : Situs, Stratigrafi dan
Pertanggalan Temuan Fosil Manusia di Indonesia”, Berkala Arkeologi Tahun
XXVI Edisi No. 2 / November, pp. 114-129, Yogyakarta: Balai Arkeologi

Martyas N, N, Sejarah Museum Purbakala Sangiran Politeknik


Keuangan Negara
https://www.academia.edu/35508932/X_Sejarah_Museum_Purbakala_Sangiran.
Diunduh pada tanggal 27 Desember 2019

Rizki, Faisal. PENGAMATAN DAN ANALISA MAKRO DAN


MIKRO FOSIL
https://www.academia.edu/8661566/PENGAMATAN_DAN_ANALISA_MAKRO_DAN_MIK
RO_FOSIL

Pradana, Reza. 2012. PENGERTIAN FOSIL


https://id.scribd.com/doc/98989271/PENGERTIAN-FOSIL
LAMPIRAN