Anda di halaman 1dari 73

PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

LAPORAN
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai subsistem dari sistem birokrasi yang lebih besar LKPP dituntut untuk
mengikuti proses reformasi birokrasi yang saat ini menjadi salah satu agenda
penting Pemerintah. Sejalan dengan agenda reformasi birokrasi nasional, reformasi
birokrasi yang sedang dan akan terus dilakukan di LKPP merupakan proses untuk
menata ulang, mengubah, memperbaiki dan menyempurnakan birokrasi LKPP agar
menjadi lebih baik, yaitu menjadi lebih profesional, efisien, efektif dan produktif.

Pelaksanaan reformasi birokrasi di LKPP menjadi sangat penting dan relevan bukan
hanya karena reformasi birokrasi telah menjadi kebijakan dan program nasional
yang harus diikuti oleh seluruh komponen atau institusi birokrasi di Indonesia,
melainkan juga mengingat peran dan fungsi LKPP dalam merumuskan kebijakan di
bidang pengadaan barang/jasa Pemerintah sangat berkaitan dengan proses
reformasi itu sendiri terutama reformasi dalam tata kelola belanja
Pemerintah/keuangan negara. Dalam hal ini LKPP memiliki peran untuk mendorong
peningkatan efisiensi dan efektifitas belanja Pemerintah sehingga diperoleh
barang/jasa publik yang bermutu dan sesuai dengan standar yang ditentukan. Hasil
yang diharapkan adalah meningkatnya kualitas pelayanan publik yang diberikan oleh
birokrasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan kesejahteraan
masyarakat.

Sebagai lembaga yang masih relatif baru, praktek birokrasi yang ada di LKPP masih
dalam tahap pembentukan landasan sistem birokrasi sesuai dengan tuntutan tugas
dan fungsinya, yang tidak terlepas dari reformasi birokrasi yang sedang diterapkan

1
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

di Indonesia. Sebagai lembaga baru yang lahir pada era reformasi, maka dalam
proses pendiriannya LKPP sudah mulai menerapkan prinsip yang sesuai dengan
semangat reformasi itu sendiri, terutama dalam hal tata kelola Pemerintahan yang
baik. Salah satu contohnya adalah dalam proses rekrutmen dan seleksi
pejabat/pegawai eselon 2 sampai dengan staf. LKPP berhasil menerapkan sistem
rekrutmen yang dilandasi prinsip-prinsip transparansi, persaingan dan kompetisi
secara terbuka, non-diskriminatif, serta berbasis kompetensi, dalam prosesnya juga
melibatkan konsultan SDM yang independen.

Keberhasilan penerapan tata kelola Pemerintahan yang baik di LKPP terlihat dari
hasil penilaian atas laporan keuangan LKPP. Pada tahun 2011 sebagai tahun
pertama audit yang dilakukan oleh BPK, LKPP mendapat predikat Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan tahun 2010 demikian pula di tahun
2012 LKPP juga mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas
laporan keuangan tahun 2011. Hal tersebut merupakan salah satu keberhasilan
yang patut dibanggakan. Namun dengan pencapaian tersebut bukan berarti LKPP
tidak menghadapi kendala atau masalah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
Reformasi birokrasi diharapkan dapat mengatasi kendala dan permasalahan yang
dihadapi. Fokus reformasi birokrasi di LKPP dalam hal ini lebih dititikberatkan pada
upaya untuk memperbaiki, dan menyempurnakan birokrasi LKPP agar menjadi lebih
profesional, efisien, efektif dan produktif.

B. Dasar Hukum

Pelaksanaan reformasi birokrasi di LKPP berdasarkan pada :


1. Peraturan Presiden RI Nomor 106 Tahun 2007 tentang Lembaga Kebijakan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
2. Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Desain Reformasi
Birokrasi;
3. Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Nomor PER.001/Kep.LKPP/05/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah

2
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

diubah dengan Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa


Pemerintah Nomor 2 Tahun 2014;
4. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Nomor 20 Tahun 2010 tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2010-2014;
5. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Nomor 7-15 Tahun 2011 tentang :
a) Pedoman Pengajuan Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi
Kementerian/Lembaga;
b) Pedoman Penilaian Dokumen Usulan dan Road Map Pelaksanaan
Reformasi Birokrasi Kementerian/Lembaga;
c) Pedoman Penyusunan Road Map Reformasi Birokrasi
Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah;
d) Pedoman Pelaksanaan Program Manajemen Perubahan;
e) Kriteria dan Ukuran Keberhasilan Reformasi Birokrasi;
f) Pedoman Penataan Tata Laksana (Business Process);
g) Pedoman Pelaksanaan Quick Wins;
h) Pedoman Pelaksanaan Program Manajemen Pengetahuan (Knowledge
Management); dan
i) Mekanisme Persetujuan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan Tunjangan
Kinerja Bagi Kementerian/Lembaga.
6. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Penilaian Mandiri Pelaksanaan
Reformasi Birokrasi;
7. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Nomor 31 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan
Reformasi Birokrasi (PMPRB) Secara Online; dan
8. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Nomor 53 Tahun 2012 tentang Pedoman Penjaminan Kualitas (Quality
Assurance) dan Pedoman Monitoring dan Evaluasi Reformasi Birokrasi.

3
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

C. Tujuan

Tujuan reformasi birokrasi di LKPP secara umum adalah membangun dan


membentuk profil dan perilaku aparatur yang profesional dengan karakteristik
sebagai berikut : (1) berintegritas, yaitu bertindak konsisten sesuai dengan kebijakan
dan kode etik organisasi, memiliki pemahaman dan keinginan untuk menyesuaikan
diri dengan kebijakan dan etika tersebut; (2) memiliki produktivitas tinggi dan
bertanggungjawab, yaitu hasil optimal yang dicapai oleh aparatur dari serangkaian
program kegiatan yang inovatif, efektif dan efisien dalam mengelola sumber daya
yang ada serta ditunjang oleh dedikasi dan etos kerja yang tinggi; (3) memiliki
kemampuan untuk memberikan pelayanan prima, yaitu kepuasan yang dirasakan
oleh publik sebagai dampak dari hasil kerja birokrasi yang profesional, berdedikasi
dan memiliki standar nilai moral yang tinggi dalam menjalankan tugasnya sebagai
abdi negara dan abdi masyarakat, utamanya dalam memberikan pelayanan yang
prima kepada publik dengan sepenuh hati dan tanggung jawab; (4) adaptif, yaitu
kemampuan untuk memahami dan beradaptasi terhadap sesuatu/lingkungan yang
dinamis serta untuk bekerja sama secara efektif dalam situasi yang beragam, baik
individual maupun kelompok; (5) bebas dan bersih dari KKN; (6) netral, yaitu tidak
berpihak pada satu kelompok atau golongan tertentu; (7) sejahtera; (8) berdedikasi;
yaitu mengabdikan diri pada lembaga tempat bekerja yaitu LKPP; serta (9)
memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik aparatur negara.

Tujuan reformasi birokrasi di LKPP secara umum untuk membangun dan


membentuk profil dan perilaku aparatur LKPP yang memiliki integritas, produktifitas
tinggi, tanggung jawab, dan kemampuan untuk memberikan pelayanan prima.
Selain itu juga untuk membangun birokrasi yang bersih, efektif, efisien, transparan
dan akuntabel dalam melayani masyarakat.

D. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pelaksanaan kegiatan reformasi birokrasi LKPP meliputi 8 (delapan)


area perubahan, yaitu :

4
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

(i) Manajemen Perubahan (Pola Pikir dan Budaya Kerja);


(ii) Penataan Peraturan Perundang-Undangan;
(iii) Penataan dan Penguatan Organisasi;
(iv) Penataan Tata Laksana;
(v) Penataan Manajemen Sumber Daya Manusia;
(vi) Penguatan Pengawasan;
(vii) Penguatan Akuntabilitas Kinerja;
(viii) Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik;
(ix) Monitoring Evaluasi dan Pelaporan; dan
(x) Quick Wins.

5
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

BAB II
PROGRAM/KEGIATAN

Secara ringkas berikut program, kegiatan, dan rencana pelaksanaan reformasi


birokrasi LKPP yang ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Program, Kegiatan, dan Rencana Pelaksanaan Reformasi Birokrasi


No. PROGRAM DAN KEGIATAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA
REFORMASI BIROKRASI PELAKSANAAN
(TAHUN)
A. MANAJEMEN PERUBAHAN
1. Pembentukan Tim Manajemen Penyusunan Tim Manajemen 2011
Perubahan Lembaga Perubahan
Penyusunan tugas-tugas Tim 2011
Manajemen Perubahan
Pembentukan Tim Manajemen 2011
Perubahan
Tim Manajemen Perubahan 2011
melaksanakan tugas
2. Penyusunan strategi Pemetaan (mapping) terhadap para 2011
manajemen perubahan dan pemangku kepentingan dan melakukan
strategi komunikasi K/L dan asesmen terhadap pengaruh
Pemda perubahan terhadap masing-masing
pemangku kepentingan
Asesmen kesiapan perubahan, 2011
termasuk didalamnya identifikasi
penolakan terhadap perubahan
Asesmen terhadap tingkat 2011
partisipasi/dukungan para pemangku
kepentingan dan kebutuhan akan
komunikasi untuk manajemen
perubahan, termasuk
mengidentifikasikan penolakan
terhadap perubahan.
Asesmen terhadap organisasi, 2012
termasuk struktur, peran (roles) dan
tanggung jawabnya (responsibilities)
Asesmen terhadap 2012
kemampuan/kapabilitas dan skills
organisasi untuk melaksanakan
perubahan
Penyusunan strategi manajemen 2012
perubahan, rencana dan aktivitas
manajeman perubahan
Penyusunan strategi dan rencana 2012
komunikasi
3. Sosialisasi dan Internalisasi Melakukan sosialisasi manajemen 2011-2012
manajemen perubahan dalam perubahan
rangka reformasi birokrasi Mengimplementasikan strategi, 2012-2014
rencana dan aktivitas manajemen

6
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN KEGIATAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA


REFORMASI BIROKRASI PELAKSANAAN
(TAHUN)
perubahan, termasuk tetap melakukan
asesmen secara berkelanjutan
terhadap pengaruh perubahan pada
masing-masing kelompok pemangku
kepentingan
Mengimplementasikan strategi, 2012-2014
rencana dan aktivitas komunikasi agar
para pemangku kepentingan secara
aktif terlibat (engaged), merasa
memiliki proses perubahan dan
mendorong perilaku dan pola pikir baru
yang diharapkan dari proses
perubahan serta mengurangi
penolakan terhadap perubahan
Mengimplementasikan struktur 2012-2014
organisasi yang baru, termasuk peran
dan tanggung jawabnya yang baru
untuk mendukung perubahan
Mengimplementasikan strategi, 2012-2014
rencana dan aktivitas pelatihan untuk
membekali para staf menjalani periode
transisi dengan baik dan mengurangi
penolakan
Mengintegrasikan strategi manajemen 2012-2014
perubahan dan strategi komunikasi
dengan program dan kegiatan
reformasi birokrasi sesuai roadmap
reformasi birokrasi
Memberikan pengetahuan dan 2012-2014
ketrampilan melalui asistensi dan
fasilitas yang diperlukan untuk
membentuk ketrampilan, nilai-nilai,
perilaku dan pola pikir baru (termasuk
budaya kerja atau budaya organisasi
yang baru) yang diharapkan
Mengimplementasikan manfaat yang 2012-2014
telah dirumuskan agar perubahan
dapat dirasakan secara positif oleh
pemangku kepentingan
B. PENATAAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
1 Penataan berbagai peraturan Mengidentifikasi semua peraturan 2010-2011
perundang-undangan yang perundang-undangan yang diterbitkan
dikeluarkan/diterbitkan oleh oleh LKPP
LKPP Menyusun peta peraturan perundang- 2010-2012
undangan yang ada di LKPP dalam
rangka harmonisasi dengan peraturan
perundang-undangan lain yang
dikeluarkan oleh
Kementerian/Lembaga dan regulasi
internasional
Melakukan regulasi dan deregulasi baik 2010-2014
bersifat internal maupun internal
C. PENATAAN DAN PENGUATAN ORGANISASI
1. Restrukturisasi/penataan Menyusun tugas dan fungsi unit kerja 2010
tugas dan fungsi unit kerja sesuai dengan kebutuhan

7
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN KEGIATAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA


REFORMASI BIROKRASI PELAKSANAAN
(TAHUN)
pada Lembaga
2. Penguatan unit kerja yang Mengusulkan struktur organisasi baru 2011
menangani organisasi, kepada Kemenpan dan RB
tatalaksana, pelayanan publik, Menetapkan Struktur Organisasi yang 2011
kepegawaian dan Diklat baru
D. PENATAAAN TATALAKSANA
1. Penyusunan SOP Melakukan berbagai proses 2010-2011
penyelengaraan tugas dan penyelenggaraan Pemerintahan
fungsi Menyusun peta proses 2010-2011
penyelenggaraan pemerintahan
Melakukan analisis business process 2010-2011
Melakukan identifikasi berbagai proses 2010-2011
penyelenggaraan pemerintah yang
akan dilakukan dalam Business
Process dan Standar Operasional
Prosedur
Menyusun Business Process dan 2010-2011
Standar Operasional Prosedur
Melaksanakan Business Process dan 2010-2014
Standar Operasional Prosedur
Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan 2012-2014
SOP
2. Pembangunan atau Menyusun rencana pembangunan dan 2010
pengembangan e-Government pengembangan e-Government
Elektronisasi berbagai dokumen 2011
penyelenggaraan pemerintah
Menggunakan intranet untuk distribusi 2011-2014
dokumen elektronik , korespondensi
internal antar unit kerja (jabatan), file
management, database pegawai,
manajemen kinerja e-mail, dll)
Mengembangkan portal yang mampu 2010-2014
memberikan berbagai informasi kepada
pengguna; melaksanakan e-
procurement; memberikan links kepada
portal lain; pencarian informasi;
helpdesk, dll
E. PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR
1. Penataan sistem rekrutmen Melakukan identifikasi berbagai 2010-2014
pegawai permasalahan dalam pelaksanaan
rekruitmen pegawai
Melakukan need assessment sesuai 2010-2014
dengan kebutuhan kompetensi
Menyusun rencana perubahan sistem 2011-2014
rekrutmen yang terbuka, transparan,
akuntabel dan berbasis kompetensi
untuk menjaring calon-calon pegawai
yang berkualitas
Menerapkan sistem rekrutmen yang 2010-2014
terbuka, transparan, akuntabel dan
berbasis kompetensi untuk menjaring
calon-calon pegawai yang berkualitas
2. Analisis Jabatan Menyusun rencana pelaksanaan 2010-2011
analisis jabatan

8
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN KEGIATAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA


REFORMASI BIROKRASI PELAKSANAAN
(TAHUN)
Melaksanakan analisis jabatan 2010-2014
Menetapkan hasil analisis jabatan 2010-2011
Menerapkan hasil analisis jabatan 2010-2014
3. Evaluasi Jabatan Menyusun rencana pelaksanaan 2011-2014
evaluasi jabatan di lingkungan
kementerian/lembaga
Melaksanan evaluasi jabatan 2011-2014
Merumuskan job grading 2011-2014
Memvalidasi hasil job grading dengan 2011-2014
Kementerian PAN dan RB dan BKN
Menetapkan hasil evaluasi jabatan 2011-2014
Menerapkan hasil evaluasi jabatan 2011-2014
4. Penyusunan Standar Membuat rencana penyusunan standar 2010-2012
Kompetensi Jabatan kompetensi jabatan di lingkungan
Lembaga
Melaksanakan penyusunan Standar 2010-2012
Kompetensi Jabatan
Menetapkan Standar Kompetensi 2010-2012
Jabatan
Menerapkan Standar Kompetensi 2010-2014
Jabatan
5. Asesmen individu berdasarkan Membuat rencana untuk melakukan 2010-2014
kompetensi asessmen terhadap seluruh pegawai
Melaksanakan asesmen terhadap 2010-2014
seluruh pegawai
6. Penerapan sistem penilaian Membuat rencana untuk menerapkan 2011-2014
kinerja individu sistem penilaian kinerja individu
Menyusun instrumen penilaian kinerja 2011-2014
individu yang terukur dan
mencerminkan pencapaian kinerja
Menerapkan instrumen penilaian 2012-2014
kinerja individu yang terukur dan
mencerminkan pencapaian kinerja
dalam melaksanakan penyelenggaraan
tugas pokok dan fungsi.
7. Pembangunan Membuat rencana untuk 2010-2014
/pengembangan database membangun/mengembangkan
pegawai database pegawai
Melaksanakan 2010-2014
pembangunan/pengembangan
database pegawai
8. Pengembangan pendidikan Membuat rencana pengembangan 2010-2014
dan pelatihan pegawai sistem pendidikan dan pelatihan
berbasis kompetensi berbasis kompetensi untuk pegawai
terutama dalam pengelolaan kebijakan
dan pelayanan publik
Melaksanakan pengembangan sistem 2010-2014
pendidikan dan pelatihan berbasis
kompetensi untuk pegawai terutama
dalam pengelolaan kebijakan dan
pelayanan publik
Menerapkan sistem pendidikan dan 2010-2014
pelatihan berbasis kompetensi untuk
pegawai di lingkungan Lembaga

9
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN KEGIATAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA


REFORMASI BIROKRASI PELAKSANAAN
(TAHUN)
terutama dalam pengelolaan kebijakan
dan pelayanan publik
F. PENGUATAN PENGAWASAN
1 Penerapan sistem Membuat rencana penerapan SPIP 2010
Pengendalian Intern (Penelitian, kajian, benchmarking,
Pemerintah (SPIP) di LKPP sosialisasi, diklat, diagnostic
asessment)
Membangun SPIP (Pedoman Umum, 2011
Pedoman Teknis, Tim Satgas, Perka)
Menerapkan SPIP 2012-2014
2 Peningkatan Peran Aparat Membuat rencana peningkatan peran 2011
Pengawasan Intern APIP sebagai Quality Assurance dan
Pemerintah (APIP) sebagai Consulting
Quality Assurance dan Membangun peningkatan peran APIP 2012
Consulting sebagai Quality Assurance dan
Consulting
Menerapkan peran APIP sebagai 2012-2014
Quality Assurance dan Consulting
G. PENGUATAN AKUNTABILITAS KINERJA
1. Penguatan Akuntabilitas Membuat rencana penguatan sistem 2010-2014
Kinerja Instansi Pemerintah akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah
Membangun penguatan sistem 2010-2014
akuntabillitas kinerja instansi
pemerintah
Menerapkan penguatan sistem 2010-2014
akuntabillitas kinerja instansi
pemerintah
2. Pengembangan sistem Membuat rencana pengembangan 2011
manajemen kinerja organisasi sistem manajemen kinerja organisasi
Mengembangkan sistem manajemen 2011-2012
kinerja organisasi
Menerapkan sistem manajemen kinerja 2012-2014
organisasi
3. Penyusunan Indikator Kinerja Mengidentifikasi indikator-indikator 2010
Utama (IKU) di LKPP kunci keberhasilan
Menyusun indikator-indikator kinerja 2010
utama
Menerapkan IKU 2010-2014
H. PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK
1. Penerapan standar pelayanan Membuat rencana penyusunan standar 2010-2011
pada unit kerja LKPP pelayanan pada unit kerja
Menyusun standar pelayanan unit kerja 2010-2012
Menetapkan standar pelayanan unit 2010-2012
kerja
Menerapkan standar pelayanan unit 2010-2014
kerja
2. Partisipasi masyarakat dalam Membuat rencana kerjasama 2010
penyelenggaran pelayanan pemerintah dan masyarakat dalam
publik penyelenggaraan pelayanan publik
Menerapkan kerjasama pemerintah 2010-2014
dan masyarakat dalam
penyelenggaraan publik

10
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN KEGIATAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA


REFORMASI BIROKRASI PELAKSANAAN
(TAHUN)
I MONITORING DAN EVALUASI
1. Monitoring Membuat rencana monitoring 2011
pelaksanaan reformasi birokrasi
internal
Membuat rancangan desain monitoring 2011
pelaksanaan reformasi birokrasi
internal
Menerapkan rancangan desain 2012-2014
monitoring pelaksanaan reformasi
birokrasi internal
Menyusun laporan monitoring 2012-2014
Melakukan upaya perbaikan 2012-2014
berkelanjutan
2. Evaluasi (dilakukan setiap Membuat rencana evaluasi 2011
tahun sekali) pelaksanaan reformasi birokrasi
internal
Membuat rancangan desain evaluasi 2011
pelaksanaan reformasi birokrasi
internal
Menerapkan rancangan desain 2012-2014
evaluasi pelaksanaan reformasi
birokrasi internal
Menyusun laporan evaluasi 2012-2014
Melakukan upaya perbaikan 2012-2014
berkelanjutan
3. Evaluasi menyeluruh Membuat rencana evaluasi menyeluruh 2011
(dilakukan pada semester pelaksanaan reformasi birokrasi
kedua 2014) internal
Membuat rancangan desain evaluasi 2011
menyeluruh pelaksanaan reformasi
birokrasi internal
Menerapakan rancangan desain 2012-2014
evaluasi menyeluruh pelaksanaan
reformasi birokrasi internal
Menyusun laporan evaluasi 2012-2014
menyeluruh
Melakukan upaya perbaikan 2012-2014
berkelanjutan
J QUICK WINS I (PELAKSANAAN UJIAN SERTIFIKASI PBJP BERBASIS KOMPUTER DI
DAERAH)
1 Penyusunan pedoman, Membuat sistem (aplikasi dan 2011
standar, dan manual sertifikasi prosedur) ujian berbasis komputer di
profesi pengadaan daerah
barang/jasa pemerintah
berbasis komputer
2 Penyusunan sistem informasi Mengidentifikasi lokasi yang akan 2011
manajemen sertifikasi berbasis dijadikan uji coba (pilot project) ujian
komputer, yang menyediakan sertifikasi berbasis komputer
data base dan informasi mulai
dari data peserta, tingkat
kelulusan, sampai dengan
penyelenggaraan ujian
3 Pembuatan bank soal ujian Menetapkan 5 (lima) lokasi/provinsi 2011
sertifikasi profesi pengadaan yang akan dijadikan uji coba ujian

11
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN KEGIATAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA


REFORMASI BIROKRASI PELAKSANAAN
(TAHUN)
barang/jasa pemerintah berbasis komputer
4 Penyusunan pedoman Melaksanakan uji coba ujian sertifikasi 2011
pengendalian mutu dan berbasis komputer di 5 lokasi/provinsi
evaluasi penyelenggaraan masing-masing sebanyak 2 kali
sertifikasi profesi pengadaan
barang/jasa pemerintah
5 Pelaksanaan ujian berbasis Evaluasi uji coba dan penyempurnaan 2012
komputer di Jakarta 8 kali sistem
dalam seminggu, uji coba di 5
Pengadaan sarana prasarana ujian 2012
wilayah sejumlah 10 kali di berbasis komputer di daerah (laptop,
tahun 2011 dan di 33 provinsi
access point, wireless USB)
sebanyak 64 kali di tahun Mengidentifikasi dan pemilihan tempat 2012
2012 ujian berbasis komputer di 32 provinsi
Pelaksanaan ujian berbasis komputer 2012-2014
di 33 provinsi
Penyampaian Laporan 2012-2014
K QUICK WINS II (PENGEMBANGAN SISTEM LAYANAN BIMTEK DAN ADVOKASI
PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH YANG TERINTEGRASI)
1 Pengembangan Sistem Persiapan dan kaji ulang KAK kegiatan 2011
Layanan Bimbingan Teknis dan pendampingan pada saat seleksi
dan Advokasi pengadaan Pelaksanaan pekerjaan Konsultan IT 2012
barang/jasa pemerintah yang Pelaksanaan pekerjaan Konsultan 2012
terintegrasi Kodefikasi
Penyampaian Laporan 2012

Selain itu disusun juga strategi komunikasi serta strategi pelatihan pada dimensi
kesiapan untuk mengelola perubahan dalam rangka Manajemen Perubahan LKPP
sebagaimana terdapat pada Tabel 2 dan Tabel 3.

Tabel 2. Strategi Komunikasi LKPP


DIMENSI KESIAPAN UNTUK
NO STRATEGI KOMUNIKASI
MENGELOLA PERUBAHAN
1 Visi Perubahan  Harus ada program sosialisasi untuk pegawai dan
pemangku kepentingan tekait visi LKPP, dan cara
di mana visi tersebut berhubungan dengan proses
reformasi birokrasi;
 Menyusun bahan komunikasi mengenai visi LKPP
dan kegiatan saat ini yang sedang dilakukan untuk
mencapai visi;
 Menyusun bahan komunikasi mengenai visi LKPP
dan bagaimana kegiatan dan sasaran dari proses
reformasi birokrasi akan memberikan kontribusi
terhadap visi.
2 Kesiapan Pribadi untuk  Komunikasi internal untuk memberdayakan
Mengelola Perubahan pegawai dan mempertahankan pandangan yang
positif tentang organisasi.
3 Budaya dan Nilai  Bahan komunikasi harus mampu mencermati
pentingnya nilai-nilai pada kinerja organisasi dan
dalam hubungannya dengan pemangku

12
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

DIMENSI KESIAPAN UNTUK


NO STRATEGI KOMUNIKASI
MENGELOLA PERUBAHAN
kepentingan;
 Upaya yang signifikan harus dilakukan terkait
komunikasi internal sehingga semua pegawai dapat
memahami dan menghargai pentingnya budaya
dan nilai, dan upaya yang sedang dilakukan untuk
memperkuat budaya dan nilai.
4 Kapasitas Kepemimpinan dan  Proses komunikasi internal harus memberikan
Dukungan kesempatan kepada pegawai untuk
mengekspresikan reaksi mereka terhadap
perubahan organisasi;
 Pimpinan dapat menggunakan alat komunikasi
internal dalam organisasi untuk
mengkomunikasikan perubahan yang sedang
dilakukan.
5 Struktur Organisasi dan  Alat/media komunikasi harus digunakan untuk
Pengaturan memberdayakan pegawai untuk menyampaikan
tentang pengaturan organisasi yang tidak berjalan
dengan efektif;
 Alat/media komunikasi harus digunakan untuk
menginformasikan pegawai mengenai inisiatif
pengembangan yang sedang diambil guna
meningkatkan fungsi organisasi.
6 Potensi Resistensi  Memberdayakan pegawai melalui informasi
sehingga dapat mengurangi ketidakpastian dan
kesalahan informasi;
 Mempublikasikan komitmen pimpinan untuk
mengurangi resistensi;
 Mengumpulkan dan mempublikasikan komentar
dan reaksi terhadap perubahan. Beri kesempatan
pegawai bersuara.
7 Sistem Komunikasi  Pengembangan akan rencana komunikasi yang
komprehensif termasuk menyertakan kebijakan
sistem komunikasi, pelatihan dan pemberdayaan
pegawai;
 Meningkatkan komunikasi antarunit kerja;
 Meningkatkan komunikasi eksternal untuk masing-
masing unit kerja dalam rangka meningkatkan
relevansi dan daya tanggap;
 Konsep perlu dikembangkan atas prosedur
komunikasi dalam mengelola perubahan.
8 Pengelolaan Dampak Pemangku  Brosur mengenai perubahan manajemen bagi
Kepentingan pemangku kepentingan;
 Berita triwulan untuk menyampaikan dan
memperbaharui informasi perubahan bagi
pemangku kepentingan;
 Template konsolidasi bagi keterlibatan pemangku
kepentingan
 Forum yang berkesinambungan diadakan untuk
menyampaikan aspirasi pemangku kepentingan.
9 Kesadaran akan Reformasi  Program komunikasi internal terkait reformasi
Birokrasi birokrasi akan mencakup informasi tentang
kebijakan, rencana, jadwal, capaian, tanggung
jawab;
 Brosur pertanyaan dan jawaban mengenai
partisipasi LKPP dalam reformasi birokrasi.

13
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

DIMENSI KESIAPAN UNTUK


NO STRATEGI KOMUNIKASI
MENGELOLA PERUBAHAN
10 Pengelolaan Perubahan  Brosur harus dikembangkan untuk
Kehidupan mempublikasikan akses ke layanan dukungan
psikologis bagi pegawai;
 Sistem komunikasi pribadi yang bersifat rahasia
harus ditetapkan dalam rangka menciptakan cara di
mana pegawai yang berada dalam kesulitan dapat
secara pribadi dan rahasia memperoleh bantuan.

Tabel 3. Strategi Pelatihan Pada Dimensi Kesiapan Untuk Mengelola Perubahan


DIMENSI KESIAPAN
NO UNTUK MENGELOLA STRATEGI PELATIHAN
PERUBAHAN
1 Visi Perubahan  Lokakarya harus dilakukan atas dasar visi dan misi LKPP
sehingga semua pegawai dapat menanamkan makna visi
organisasi;
 Unit kerja eselon I harus melaksanakan lokakarya sendiri
sesuai dengan visi mereka, artinya, implikasinya terhadap
tanggung jawab unit kerja eselon I dan hubungannya
dengan tujuan, visi dan tujuan dari proses reformasi
birokrasi.
2 Kesiapan Pribadi untuk  Sosialiasi secara intensif mengenai perubahan organisasi
Mengelola Perubahan agar setiap pribadi dapat mengenal dan siap mengikuti
perubahan;
 Pelatihan diperlukan untuk membangun kapasitas pegawai
secara pribadi untuk mengelola perubahan yang terjadi
dalam organisasi;
 Pegawai harus dilatih dalam mengembangkan kapasitas
untuk beradaptasi dan mengelola perubahan di lingkungan
kerja.
3 Budaya dan Nilai  Lokakarya pelatihan harus dilakukan bagi para pimpinan
untuk memungkinkan mereka membangun dan memelihara
budaya kerja yang sesuai dalam organisasi. Lokakarya ini
harus melatih pimpinan melaksanakan pertemuan singkat
(30 menit) dengan pegawai setiap minggu untuk
memperkuat nilai-nilai dan etika kerja yang sangat penting
untuk organisasi;
 Semua pelatihan dalam mengelola perubahan harus
mencakup komponen budaya dan nilai. Isi dari pelatihan ini
harus praktis, dan harus berusaha untuk memperkuat
perilaku positif dan hubungan di lingkungan kerja.
4 Kapasitas Kepemimpinan  Pelatihan kepemimpinan umum dan pelatihan manajemen
dan Dukungan perubahan diperlukan. Pelatihan ini harus mencakup
tujuannya: memimpin dengan contoh, menyediakan
dukungan selama proses perubahan; perencanaan untuk
perubahan, perencanaan dan pengelolaan partisipasi
pegawai dalam proses perubahan; komunikasi yang efektif;
 Pimpinan sendiri juga harus dilatih dalam beradaptasi
terhadap perubahan.
 Pelatihan dalam bentuk lokakarya dan seminar harus
memiliki proses tindak lanjut guna penguatan perilaku positif
dalam proses perubahan.

14
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

DIMENSI KESIAPAN
NO UNTUK MENGELOLA STRATEGI PELATIHAN
PERUBAHAN
5 Struktur Organisasi dan  Pelatihan manajemen harus membahas aspek struktural
Pengaturan dari organisasi yang merupakan dasar penting dalam
mendukung perubahan dalam unit masing-masing;
 Pimpinan harus membangun kapasitas dalam
penyempurnaan proses organisasi sehingga dapat
beradaptasi dengan perubahan dan mempertahankan
kinerja di unit kerja masing-masing;
 Dalam pelatihan pegawai untuk membangun kapasitas
pribadi dalam mengelola perubahan, maka diperlukan
pemberdayaan pegawai untuk mencermati pengaturan
organisasi yang tidak jelas, mengganggu atau tidak pada
tempatnya.
6 Potensi Resistensi  Melatih pimpinan untuk mengidentifikasi dan mengelola
resistensi terhadap perubahan;
 Melatih semua pegawai untuk mengelola perubahan di
tingkat individu dan pribadi;
 Melatih semua pegawai untuk menyesuaikan dan merespon
setiap perilaku resisten yang terjadi di lingkungan kerja
mereka.
7 Sistem Komunikasi  Pelatihan untuk pegawai di unit kerja yang bertanggung
jawab terhadap komunikasi (Humas) dalam rangka
membangun visi yang komprehensif dan rencana untuk
mengkomunikasikan mengenai pengelolaan perubahan;
 Pelatihan bagi pimpinan dalam bidang komunikasi untuk
mengelola perubahan- termasuk manajemen pemangku
kepentingan;
 Pelatihan pegawai untuk komunikasi antarpribadi;
 Pelatihan untuk membangun sistem komunikasi di LKPP
yang efektif.
8 Pengelolaan Dampak  Pelatihan pimpinan mengenai manajemen pemangku
Pemangku Kepentingan kepentingan dan keterlibatan dalam proses perubahan;
 Pelatihan pegawai mengenai hubungan dan keterlibatan
pemangku kepentingan;
 Lokakarya bagi para pemangku kepentingan mengenai
pemahaman dan keterlibatan mereka dengan LKPP.
9 Kesadaran akan  Sosialisasi dan pelatihan pegawai serta pimpinan
Reformasi Birokrasi mengenai reformasi birokrasi;
 Lokakarya tentang rencana dan program unit kerja terkait
reformasi birokrasi;
 Pelatihan bagi champions manajemen perubahan mengenai
reformasi birokrasi.
10 Pengelolaan Perubahan  Pimpinan harus dilatih dalam melakukan dan menggunakan
Kehidupan survei secara periodik untuk memantau kepuasan dan
kesehatan psikologis pegawai;
 Pimpinan harus berada pada baris pertama dalam
konseling dan dukungan dan karena itu harus dilatih untuk
melakukan tanggung jawab tersebut.

15
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

BAB III

PELAKSANAAN

A. Pelaksanaan Program/Kegiatan

Pelaksanaan Reformasi Birokrasi LKPP meliputi pelaksanaan terhadap delapan


area perubahan yang berlangsung mulai tahun 2011 sampai dengan tahun 2014.
Berdasarkan Road Map RB Tahun 2010-2014, hasil yang dicapai dari pelaksanaan
reformasi birokrasi LKPP dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Pelaksanaan Reformasi Birokrasi LKPP


No. PROGRAM DAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA CAPAIAN
KEGIATAN RB PELAKSANAAN
(TAHUN)
A. MANAJEMEN PERUBAHAN
1. Pembentukan Tim Penyusunan Tim 2011 - Surat Keputusan
Manajemen Perubahan Manajemen Perubahan Kepala LKPP Nomor 7
LKPP Penyusunan tugas-tugas 2011 Tahun 2012 tentang
Tim Manajemen Perubahan Tim Pelaksanaan
Pembentukan Tim 2011 Reformasi Birokrasi
Manajemen Perubahan LKPP
Tim Manajemen Perubahan 2011 - Surat Keputusan
melaksanakan tugas Kepala LKPP Nomor
113 Tahun 2012
tentang Tim
Manajemen Perubahan
Reformasi Birokrasi
LKPP
- Surat Keputusan
Kepala LKPP Nomor
53 Tahun 2014 tentang
Tim Reformasi
Birokrasi dan Tim
Manajemen Perubahan
LKPP

2. Penyusunan strategi Pemetaan (mapping) 2011 Buku Strategi Manajemen


manajemen perubahan dan terhadap para pemangku Perubahan dan Strategi
strategi kepentingan dan melakukan Komunikasi
asesmen terhadap pengaruh
perubahan terhadap
masing-masing pemangku
kepentingan
Asesmen kesiapan 2011
perubahan, termasuk
didalamnya identifikasi
penolakan terhadap
perubahan
Asesmen terhadap tingkat 2011
partisipasi/dukungan para
pemangku kepentingan dan
kebutuhan akan komunikasi

16
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA CAPAIAN


KEGIATAN RB PELAKSANAAN
(TAHUN)
untuk manajemen
perubahan, termasuk
mengidentifikasikan
penolakan terhadap
perubahan.
Asesmen terhadap 2012
organisasi, termasuk
struktur, peran (roles) dan
tanggung jawabnya
(responsibilities)
Asesmen terhadap 2012
kemampuan/kapabilitas dan
skills organisasi untuk
melaksanakan perubahan
Penyusunan strategi 2012
manajemen perubahan,
rencana dan aktivitas
manajeman perubahan
Penyusunan strategi dan 2012
rencana komunikasi
3. Sosialisasi dan Internalisasi Melakukan sosialisasi 2011-2012 - Sosialisasi dan
manajemen perubahan manajemen perubahan internalisasi
dalam rangka reformasi manajemen
birokrasi perubahan melalui
Workshop pada
tanggal 31 Oktober – 1
November 2011
- Buku Saku Reformasi
Birokrasi

Mengimplementasikan 2012-2014 Monitoring dan evaluasi


strategi, rencana dan pelaksanaan reformasi
aktivitas manajemen birokrasi tiap tahun
perubahan, termasuk tetap
melakukan asesmen secara
berkelanjutan terhadap
pengaruh perubahan pada
masing-masing kelompok
pemangku kepentingan
Mengimplementasikan 2012-2014
strategi, rencana dan
aktivitas komunikasi agar
para pemangku kepentingan
secara aktif terlibat
(engaged), merasa memiliki
proses perubahan dan
mendorong perilaku dan
pola pikir baru yang
diharapkan dari proses
perubahan serta
mengurangi penolakan
terhadap perubahan
Mengimplementasikan 2012-2014 - Peraturan Kepala LKPP
struktur organisasi yang No.9 Tahun 2013 tentang
baru, termasuk peran dan Organisasi dan Tata
tanggung jawabnya yang Kerja LKPP
baru untuk mendukung - Peraturan Kepala LKPP
perubahan No.17 Tahun 2013
Mengimplementasikan 2012-2014 tentang Penyusunan
strategi, rencana dan Uraian Jabatan Struktural
aktivitas pelatihan untuk di LKPP

17
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA CAPAIAN


KEGIATAN RB PELAKSANAAN
(TAHUN)
membekali para staf
menjalani periode transisi - Peraturan Kepala LKPP
dengan baik dan No. 2 Tahun 2014
mengurangi penolakan tentang Perubahan Atas
Peraturan Kepala LKPP
Nomor 9 Tahun 2013
Tentang Organisasi Dan
Tata Kerja LKPP
- Peraturan Kepala LKPP
No. 5 Tahun 2014
tentang Uraian Jabatan
Fungsional Umum (Non
Struktural) di LKPP
Mengintegrasikan strategi 2012-2014 Buku Saku Reformasi
manajemen perubahan dan Birokrasi
strategi komunikasi dengan
program dan kegiatan
reformasi birokrasi sesuai
roadmap reformasi birokrasi
Memberikan pengetahuan 2012-2014 Dilakukan melalui
dan ketrampilan melalui penyusunan buku
asistensi dan fasilitas yang Strategi Manajemen
diperlukan untuk Perubahan dan Strategi
membentuk ketrampilan, Komunikasi serta kode
nilai-nilai, perilaku dan pola etik pegawai LKPP
pikir baru (termasuk budaya
kerja atau budaya organisasi
yang baru) yang diharapkan
Mengimplementasikan 2012-2014 Dilakukan melalui
manfaat yang telah kegiatan bimbingan
dirumuskan agar perubahan teknis, sosialisasi, rapat
dapat dirasakan secara koordinasi secara
positif oleh pemangku berkesinambungan
kepentingan
B. PENATAAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
1 Penataan berbagai Mengidentifikasi semua 2010-2013 Peraturan Kepala LKPP
peraturan perundang- peraturan perundang- telah dikeluarkan
undangan yang undangan yang diterbitkan sebanyak 16 dokumen,
dikeluarkan/diterbitkan oleh oleh LKPP Surat Edaran sebanyak 2
LKPP dokumen, Nota
Kesepahaman sebanyak
4 dokumen
Menyusun peta peraturan 2010-2013 1. Rencana penyusunan
perundang-undangan yang masterplan dan
ada di LKPP dalam rangka roadmap strategi
harmonisasi dengan pengadaan barang/jasa
peraturan perundang- pemerintah (fokus
undangan lain yang koordinasi dengan cara
dikeluarkan oleh interdepth dengan
Kementerian/Lembaga dan instansi lain)
regulasi internasional 2. Harmonisasi dengan
peraturan internasional
antara lain World Bank,
ADB, JICA (Donor)
3. Observer dalam forum
GPA WTO (pada tahun
2012)
Melakukan regulasi dan 2010-2014 Persentase tingkat
deregulasi baik bersifat kepatuhan pelaksanaan
internal maupun eksternal pengadaan barang/jasa
pemerintah sesuai

18
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA CAPAIAN


KEGIATAN RB PELAKSANAAN
(TAHUN)
peraturan pengadaan
barang/jasa (Dokumen
Compliance Performance
Indicator/CPI pada tahun
2012)
C. PENATAAN DAN PENGUATAN ORGANISASI
1. Restrukturisasi/penataan Menyusun tugas dan fungsi 2010
tugas dan fungsi unit kerja unit kerja sesuai dengan
di LKPP kebutuhan
2. Penguatan unit kerja yang Mengusulkan struktur 2011 - Naskah akademis
menangani organisasi, organisasi baru kepada reorganisasi LKPP
tatalaksana, pelayanan Kemenpan dan RB - Surat persetujuan
publik, kepegawaian dan reorganisasi LKPP oleh
diklat Menpan-RB No.
B/1929/M.PAN-
RB/05/2013
Menetapkan Struktur 2011 Peraturan Kepala LKPP
Organisasi yang baru No. 2 Tahun 2014
tentang Perubahan Atas
Peraturan Kepala LKPP
Nomor 9 Tahun 2013
Tentang Organisasi Dan
Tata Kerja LKPP

D. PENATAAAN TATALAKSANA
1. Penyusunan SOP Melakukan berbagai proses 2010-2011
penyelengaraan tugas dan penyelenggaraan
fungsi Pemerintahan
Menyusun peta proses 2010-2011 - Identifikasi kebutuhan
penyelenggaraan
pemerintahan
- SOP
Melakukan analisis business 2010-2011 Revisi dokumen SOP
process
Melakukan identifikasi 2010-2011 Identifikasi kebutuhan
berbagai proses SOP
penyelenggaraan
pemerintah yang akan
dilakukan dalam Business
Process dan Standar
Operasional Prosedur
Menyusun Business 2010-2011 - Dokumen SOP 2011,
Process dan Standar 2012, 2013
Operasional Prosedur
Melaksanakan Business 2010-2014
- Peraturan Kepala LKPP
No. 4 Tahun 2014
Process dan Standar
tentang Perubahan
Operasional Prosedur
Atas Peraturan Kepala
Lembaga Kebijakan
Pengadaan
Barang/Jasa
Pemerintah Nomor 1
Tahun 2012 Tentang
Standard Operating
Procedures Di
Lembaga Kebijakan
Pengadaan
Barang/Jasa
Pemerintah
Monitoring dan Evaluasi 2012-2014 Laporan Monitoring dan
Pelaksanaan SOP Evaluasi SOP Tahun
2012 dan 2013

19
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA CAPAIAN


KEGIATAN RB PELAKSANAAN
(TAHUN)
2. Pembangunan atau Menyusun rencana 2010-2014 - Blue print e-Government
pengembangan e- pembangunan dan - Aplikasi yang telah
Government pengembangan e- dibangun dan
government dikembangkan tahun
Elektronisasi berbagai 2011 2010-2013: SiRUP,
dokumen penyelenggaraan SPSE v4 alpha dan,v3.5,
pemerintah Apendo v3.1 dan v4.1,
Menggunakan intranet untuk 2011-2014 Smart Report, Smart
distribusi dokumen Report Regional, Inaproc
elektronik , korespondensi Service Bus, Portal
internal antar unit kerja Pengadaan Nasional,
(jabatan), file management, CRM, ADP v2, e-SDP, e-
database pegawai, Kontrak, e-Pengadaan
manajemen kinerja e-mail, langsung, Vendor
dll) Management Sistem v1,
Mengembangkan portal 2010-2014 Insiasi interkoneksi
yang mampu memberikan dengan Ditjen Pajak, e-
berbagai informasi kepada Katalog dan e-
pengguna; melaksanakan e- Purchasing untuk 9
procurement; memberikan komoditas, monev online,
links kepada portal lain; SPAM Kodok, Sistem
pencarian informasi; Informasi Jabatan
helpdesk, dll Fungsional, Call
Center/helpdesk, e-mail
resmi LKPP.
- Upaya peningkatan
infrastruktur untuk e-
Government :
1) Penyiapan teknologi
Clustering
2) Penyusunan
Dokumen DSP
3) Pengembangan
Tools Monitoring
LPSE
4) Persiapan Cloud
LPSE dengan
bekerjasama
dengan BP3TI untuk
pemanfaatan NIX

1. Capaian tahun 2012


bidang pelayanan TI
Internal:
- Perubahan desain
dan tatakelola
website LKPP
dengan alamat
http://www.lkpp.go.id
- Perancangan dan
pembangunan
template portal
internet LKPP yang
berisi forum diskusi
internal, manajemen
dokumentasi, dan
kajian
pengintegrasian
aplikasi pengelolaan
aset, monitoring
anggaran, tata

20
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA CAPAIAN


KEGIATAN RB PELAKSANAAN
(TAHUN)
persuratan (SIB) ke
portal internet
- Pengembangan
aplikasi pengelolaan
kepegawaian
(SIMPEG) yang
berbasis web dan
pengembangan
aplikasi penerimaan
pegawai secara
online(e-recruitment)
- Operasionalisasi
dukungan layanan
permasalahan TI
2. Capaian tahun 2013
bidang pelayanan TI
Internal:
- Pengembangan
portal intranet
dengan penambahan
fitur dan
pengintegrasian data
dan aplikasi:
SIMPEG, SI
Pengelolaan Aset,
RPA, Monev
Kegiatan, SI
Perpustakaan, SI
Alur Kerja, Agenda
Kegiatan dan
Dukungan Layanan
TI
- Pengelolaan
infrastruktur
perangkat keras
dalam
pengembangan
sistem informasi
untuk seluruh unit
kerja internal.
- Standarisasi
pengembangan
sistem informasi dari
tiap unit kerja
internal.
- Pengembangan
aplikasi penerimaan
pegawai secara
online (e-recruitment)
yang sesuai dengan
proses bisnis yang
telah ditetapkan.
3. Sertifikat yang
diperoleh: SO 27001
dan 9000,
terbentuknya 600
LPSE, Standarisasi
LPSE sebanyak 80
LPSE serta
penyusunan SOP

21
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA CAPAIAN


KEGIATAN RB PELAKSANAAN
(TAHUN)
LPSE
E. PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR
1. Penataan sistem rekrutmen Melakukan identifikasi 2010-2014 Perka LKPP No. 10
pegawai berbagai permasalahan Tahun 2011 tentang
dalam pelaksanaan Pedoman Ujian
rekruitmen pegawai Penyaringan CPNS di
Lingkungan LKPP,
pelaksanaan rekrutmen
CPNS dan PNS yang
transparan dan akuntabel
melalui sistem
pendaftaran online dan
asesmen kompetensi
Melakukan need 2010-2014
assessment sesuai dengan
kebutuhan kompetensi
Menyusun rencana 2011-2014 Sistem rekrutmen
perubahan sistem rekrutmen terbuka, transparan dan
yang terbuka, transparan, akuntabel dengan
akuntabel dan berbasis registrasi online dan tes
kompetensi untuk menjaring CAT BKN
calon-calon pegawai yang
berkualitas
Menerapkan sistem 2010-2014
rekrutmen yang terbuka,
transparan, akuntabel, dan
berbasis kompetensi untuk
menjaring calon-calon
pegawai yang berkualitas
2. Analisis Jabatan Menyusun rencana 2010-2011 Telah disusun uraian
pelaksanaan analisis jabatan struktural dengan
jabatan Peraturan Kepala LKPP
Melaksanakan analisis 2010-2014 No.17 Tahun 2013 dan
jabatan Peraturan Kepala LKPP
Menetapkan hasil analisis 2010-2011 No. 5 Tahun 2014
jabatan tentang Uraian Jabatan
Menerapkan hasil analisis 2010-2014 Fungsional Umum ( Non
jabatan Struktural) di LKPP
3. Evaluasi Jabatan Menyusun rencana 2011-2014 Evaluasi Jabatan baru
pelaksanaan evaluasi akan disusun tahun 2015.
jabatan di lingkungan
kementerian/lembaga
Melaksanan evaluasi 2011-2014
jabatan
Merumuskan job grading 2011-2014
Memvalidasi hasil job 2011-2014
grading dengan
Kementerian PAN dan RB
dan BKN
Menetapkan hasil evaluasi 2011-2014
jabatan
Menerapkan hasil evaluasi 2011-2014
jabatan
4. Penyusunan standar Membuat rencana 2010-2012 Tahun 2010 telah disusun
kompetensi jabatan penyusunan standar Standar Kompetensi
kompetensi jabatan di Jabatan Eselon II dan III.
lingkungan
Kementerian/Lembaga
Melaksanakan penyusunan 2010-2012
standar kompetensi jabatan
Menetapkan standar 2010-2012

22
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA CAPAIAN


KEGIATAN RB PELAKSANAAN
(TAHUN)
kompetensi jabatan
Menerapkan standar 2010-2014
kompetensi Jabatan
5. Asesmen individu Membuat rencana untuk 2010-2014 Peta profil kompetensi
berdasarkan kompetensi melakukan asessmen individu LKPP
terhadap seluruh pegawai
Melaksanakan asesmen 2010-2014 Laporan Asesmen
terhadap seluruh pegawai
6. Penerapan sistem Membuat rencana untuk 2011-2014 - Draft Peraturan
penilaian kinerja individu menerapkan sistem Kepala LKPP tentang
penilaian kinerja individu Penilaian Kinerja
Menyusun instrumen 2011-2014 berdasarkan
penilaian kinerja invidu yang Peraturan Pemerintah
terukur dan mencerminkan No.46 Tahun 2011
pencapaian kinerja
Menerapkan instrumen 2012-2014
- Sistem Penilaian
Kinerja dilakukan
penilaian kinerja individu
melalui SKP
yang terukur dan
mencerminkan pencapaian
kinerja dalam melaksanakan
penyelenggaraan tugas
pokok dan fungsi.
7. Pembangunan Membuat rencana untuk 2010-2014 Aplikasi Sistem Informasi
/pengembangan database membangun Kepegawaian (SIMPEG)
pegawai /mengembangkan database yang terintegrasi
pegawai
Melaksanakan 2010-2014
pembangunan/
pengembangan database
pegawai
8. Pengembangan pendidikan Membuat rencana 2010-2014 - Analisis Kebutuhan
dan pelatihan pegawai pengembangan sistem Diklat Tahun 2011
berbasis kompetensi pendidikan dan pelatihan
berbasis kompetensi untuk
- Diklat dilaksanakan
berdasarkan training
pegawai terutama dalam
need analysis dan
pengelolaan kebijakan dan
kebutuhan organisasi
pelayanan publik
Melaksanakan 2010-2014 - Diklat Teknis
pengembangan sistem (DiklatPBJP, Diklat ITC,
pendidikan dan pelatihan Diklat Bahasa Inggris)
berbasis kompetensi untuk - Diklat Jabatan (Diklat
pegawai terutama dalam PIM I, II, III CPNS)
pengelolaan kebijakan dan - Sertifikat
pelayanan publik - Laporan
Menerapkan sistem 2010-2014
pendidikan dan pelatihan
berbasis kompetensi untuk
pegawai di lingkungan K/L
terutama dalam pengelolaan
kebijakan dan pelayanan
publik
F. PENGUATAN PENGAWASAN
1 Penerapan sistem Membuat rencana 2010 - Peraturan Kepala LKPP,
Pengendalian Intern penerapan SPIP (Penelitian, Tim Satgas, Pedoman
Pemerintah (SPIP) di LKPP kajian, benchmarking, Teknis
sosialisasi, diklat, diagnostic - Evaluasi dengan pola
asessment) pengembangan
Membangun SPIP 2011 - SPIP sudah diterapkan di
(Pedoman Umum, Pedoman BUK dan rencana tahun
Teknis, Tim Satgas, Perka) 2014 akan diterapkan di
Menerapkan SPIP 2012-2014 seluruh unit kerja LKPP

23
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA CAPAIAN


KEGIATAN RB PELAKSANAAN
(TAHUN)
2 Peningkatan Peran Aparat Membuat rencana 2011 - Masih menunggu revisi
Pengawasan Intern peningkatan peran APIP Perpres 106 dalam
Pemerintah (APIP) sebagai sebagai Quality Assurance pembentukan Inspektorat
Quality Assurance dan dan Consulting - Audit internal
Consulting - Peringatan di milis
- Proses Audit oleh BPK di
awal tahun 2014 dan
pada bulan Mei akan
didapatkan hasil opini
laporan keuangan
Membangun peningkatan 2012 Dibentuk Tim Satuan
peran APIP sebagai Quality Tugas SPIP dengan
Assurance dan Consulting Surat Keputusan Kepala
LKPP No. 51 Tahun 2013
yang diubah menjadi
Surat Keputusan Kepala
LKPP No.110 tahun 2013
Menerapkan peran APIP 2012-2014 Masih menunggu revisi
sebagai Quality Assurance Perpres 106
dan Consulting
G. PENGUATAN AKUNTABILITAS KINERJA
1. Penguatan Akuntabilitas Membuat rencana 2010-2014 Road Map Penguatan
Kinerja Instansi Pemerintah penguatan sistem Akuntabilitas
akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah
Membangun penguatan 2010-2014 - Review IKU
sistem akuntabillitas kinerja - Pedoman evaluasi
instansi pemerintah program
- e-Performance
- Penyamaan persepsi
evaluator
Menerapkan penguatan 2010-2014 - Monitoring pencapaian
sistem akuntabillitas kinerja
instansi pemerintah
- LAKIP Tahun 2010,
2011, 2012
2. Pengembangan sistem Membuat rencana 2011 - SKP
manajemen kinerja pengembangan sistem - Penetapan kinerja
organisasi manajemen kinerja - Monitoring dan feedback
organisasi - Pedoman pengumpulan
Mengembangkan sistem 2011-2012 data kinerja
manajemen kinerja - Kerangka logic program
organisasi - Pedoman evaluasi
Menerapkan sistem 2012-2014 program
manajemen kinerja
organisasi
3. Penyusunan Indikator Mengidentifikasi indikator- 2010 IKU LKPP dan IKU
Kinerja Utama (IKU) di indikator kunci keberhasilan Eselon I sudah di revisi
LKPP dan ditetapkan
Menyusun indikator-indikator 2010
kinerja utama
Menerapkan IKU 2010-2014 - e-Performance
- SKP

H. PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK


1. Penerapan standar Membuat rencana 2010-2011 - Standar pelayanan e-
pelayanan pada unit kerja penyusunan standar Procurement (ditetapkan
di LKPP pelayanan pada unit kerja Deputi)
Menyusun standar 2010-2012 - Peraturan Kepala LKPP
pelayanan unit kerja tentang PPID
- Keputusan Kepala LKPP
tentang klasifikasi PPID

24
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA CAPAIAN


KEGIATAN RB PELAKSANAAN
(TAHUN)
- Pedoman pengelolaan
informasi publik
- Pedoman TUK (Dit.
Pelatihan)
Menetapkan standar 2010-2012 Belum ada standar
pelayanan unit kerja pelayanan menyeluruh
Menerapkan standar 2010-2014 LKPP
pelayanan unit kerja
2. Partisipasi masyarakat Membuat rencana 2010 - MoU dengan LLP dan
dalam penyelenggaran kerjasama pemerintah dan Badiklat terkait
pelayanan publik masyarakat dalam pelaksanaan pelatihan
penyelenggaraan pelayanan PBJ di remote area
publik - MoU penyelenggaran
Menerapkan kerjasama 2010-2014 TOT
pemerintah dan masyarakat - MoU dengan Trisakti
dalam penyelenggaraan terkait permohonan
publik beasiswa
- Fasilitasi ujian sertifikasi
I MONITORING DAN EVALUASI
1. Monitoring Membuat rencana 2011 - Pelaksanaan PMPRB
monitoring pelaksanaan Online
reformasi birokrasi internal - Survei IKM
Membuat rancangan desain 2011 - Survei Stakeholder RB
monitoring pelaksanaan
reformasi birokrasi internal
Menerapkan rancangan 2012-2014
desain monitoring
pelaksanaan reformasi
birokrasi internal
Menyusun laporan 2012-2014 Monitoring dan evaluasi
monitoring pelaksanaan reformasi
Melakukan upaya perbaikan 2012-2014 birokrasi LKPP
berkelanjutan
2. Evaluasi (dilakukan setiap Membuat rencana evaluasi 2011
tahun sekali) pelaksanaan reformasi
birokrasi internal
Membuat rancangan desain 2011
evaluasi pelaksanaan
reformasi birokrasi internal
Menerapkan rancangan 2012-2014 Telah dilakukan Survei
desain evaluasi Kepuasan Pegawai
pelaksanaan reformasi
birokrasi internal
Menyusun laporan evaluasi 2012-2014 Laporan Evaluasi
Kepuasan Pegawai
Melakukan upaya perbaikan 2012-2014 Survei Kepuasan
berkelanjutan Pegawai dengan
substansi yang berbeda
3. Evaluasi menyeluruh Membuat rencana evaluasi 2011
(dilakukan pada semester menyeluruh pelaksanaan
kedua 2014) reformasi birokrasi internal
Membuat rancangan desain 2011
evaluasi menyeluruh
pelaksanaan reformasi
birokrasi internal
Menerapkan rancangan 2012-2014 Akan dilakukan pada
desain evaluasi menyeluruh bulan Juni 2014
pelaksanaan reformasi
birokrasi internal
Menyusun laporan evaluasi 2012-2014
menyeluruh

25
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

No. PROGRAM DAN RINCIAN KEGIATAN RENCANA CAPAIAN


KEGIATAN RB PELAKSANAAN
(TAHUN)
Melakukan upaya perbaikan 2012-2014
berkelanjutan

J QUICK WINS I (PELAKSANAAN UJIAN SERTIFIKASI PBJP BERBASIS KOMPUTER DI DAERAH)


1 Penyusunan pedoman, Membuat sistem (aplikasi 2011-2014 1. Penurunan
standar, dan manual dan prosedur) ujian berbasis penggunaan kertas
sertifikasi profesi komputer di daerah dalam
pengadaan barang/jasa penyelenggaraan ujian
pemerintah berbasis 2. Tahun 2012 sudah
komputer dilakukan 44
2 Penyusunan sistem Mengidentifikasi lokasi yang 2011 penyelenggaraan
informasi manajemen akan dijadikan uji coba (pilot dengan biaya dari
sertifikasi berbasis project) ujian sertifikasi instansi yang
komputer, yang berbasis komputer bersangkutan
menyediakan data base sedangkan pada tahun
dan informasi mulai dari 2013 sudah dilakukan
data peserta, tingkat 87 penyelenggaraan
kelulusan, sampai dengan dengan biaya dari
penyelenggaraan ujian instansi yang
bersangkutan
3 Pembuatan bank soal ujian Menetapkan 5 (lima) 2011 Selesai pada tahun 2012
sertifikasi profesi lokasi/provinsi yang akan
pengadaan barang/jasa dijadikan uji coba ujian
pemerintah berbasis komputer
4 Penyusunan pedoman Melaksanakan uji coba ujian 2011 - Selesai pada tahun 2012
pengendalian mutu dan sertifikasi berbasis komputer - Laporan uji coba
evaluasi penyelenggaraan di 5 lokasi/provinsi masing-
sertifikasi profesi masing sebanyak 2 kali
pengadaan barang/jasa
pemerintah
5 Pelaksanaan ujian berbasis Evaluasi uji coba dan 2012 Laporan Uji coba
komputer di Jakarta 8 kali penyempurnaan sistem
dalam seminggu, uji coba Pengadaan sarana 2012 Tidak memakai wireless,
di 5 wilayah sejumlah 10 prasarana ujian berbasis hanya jaringan di tahun
kali di tahun 2011 dan di 33 komputer di daerah (laptop, 2012
provinsi sebanyak 64 kali di access point, wireles USB)
tahun 2012 Mengidentifikasi dan 2012
pemilihan tempat ujian
berbasis komputer di 32
provinsi
Pelaksanaan ujian berbasis 2012-2014 Telah dilakukan di 33
komputer di 33 provinsi provinsi
Penyampaian Laporan 2012-2014 - Laporan kegiatan
- Laporan triwulan
K QUICK WINS II (PENGEMBANGAN SISTEM LAYANAN BIMTEK DAN ADVOKASI PBJP YANG
TERINTEGRASI)
1 Pengembangan Sistem Persiapan dan kaji ulang 2011 - Sistem selesai pada
Layanan Bimbingan Teknis KAK kegiatan dan tahun 2012
dan Advokasi pengadaan pendampingan pada saat - Kendala dengan sistem
barang/jasa pemerintah seleksi lain ex. Call center
yang terintegrasi - Aplikasi sudah tersedia
- Konsultasi dan surat
melalu email di portal
LKPP
Pelaksanaan pekerjaan 2012 Konsultan penambahan
Konsultan IT fitur
Pelaksanaan pekerjaan 2012
Konsultan Kodefikasi
Penyampaian Laporan 2012 - Monitoring kualitas
pemberian layanan
- Laporan triwulan

26
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

LKPP sebagai lembaga yang dibentuk dalam rangka reformasi di bidang pengelolaan
keuangan negara dalam perjalanannya perlu melakukan perubahan dengan tujuan
mencapai amanat yang diemban lembaga. Dalam rangka pelaksanaan manajemen
perubahan LKPP telah menyusun rencana dan strategi sebagai dukungan dalam
pelaksanaan reformasi birokrasi yaitu :

1. Menyusun Agenda Pelaksanaan Manajemen Perubahan LKPP


Agenda pelaksanaan manajemen perubahan disusun berdasarkan pada pedoman
penyusunan road map dan konsolidasi rencana aksi reformasi birokrasi LKPP yang
dirinci sebagai berikut :

Tabel 5. Agenda Pelaksanaan Manajemen Perubahan LKPP


NO PROGRAM DAN TAHAPAN KERJA TAHUN
KEGIATAN
Penyusunan Tim Manajemen Perubahan 2011
Pembentukan Tim
Penyusunan tugas-tugas Tim Manajemen Perubahan 2011
1. Manajemen Perubahan
Pembentukan Tim Manajemen Perubahan 2011
Lembaga
Tim Manajemen Perubahan melaksanakan tugas 2011
Pemetaan (mapping) terhadap para pemangku
kepentingan dan melakukan asesmen terhadap
2011
pengaruh perubahan terhadap masing-masing
pemangku kepentingan
Asesmen kesiapan perubahan, termasuk didalamnya
2011
identifikasi penolakan terhadap perubahan
Penyusunan strategi Asesmen terhadap tingkat partisipasi/dukungan para
manajemen perubahan pemangku kepentingan dan kebutuhan akan
2011
2. dan strategi komunikasi komunikasi untuk manajemen perubahan, termasuk
LKPP mengidentifikasikan penolakan terhadap perubahan.
Asesmen terhadap organisasi, termasuk struktur, peran
2012
(roles) dan tanggung jawabnya (responsibilities)
Asesmen terhadap kemampuan/kapabilitas dan skills
2012
organisasi untuk melaksanakan perubahan
Penyusunan strategi manajemen perubahan, rencana
2012
dan aktivitas manajeman perubahan
Penyusunan strategi dan rencana komunikasi 2012
Sosialisasi dan Melakukan sosialisasi manajemen perubahan 2011-2012
3. Internalisasi manajemen Mengimplementasikan strategi, rencana dan aktivitas
2012-2014
perubahan dalam rangka manajemen perubahan, termasuk tetap melakukan

27
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

NO PROGRAM DAN TAHAPAN KERJA TAHUN


KEGIATAN
reformasi birokrasi asesmen secara berkelanjutan terhadap pengaruh
perubahan pada masing-masing kelompok pemangku
kepentingan
Mengimplementasikan strategi, rencana dan aktivitas 2012
komunikasi agar para pemangku kepentingan secara
aktif terlibat (engaged), merasa memiliki proses
perubahan dan mendorong perilaku dan pola pikir baru
yang diharapkan dari proses perubahan serta
mengurangi penolakan terhadap perubahan
Mengimplementasikan struktur organisasi yang baru, 2012
termasuk peran dan tanggung jawabnya yang baru
untuk mendukung perubahan
Mengimplementasikan strategi, rencana dan aktivitas 2012
pelatihan untuk membekali para staf menjalani periode
transisi dengan baik dan mengurangi penolakan
Mengintegrasikan strategi manajemen perubahan dan 2012
strategi komunikasi dengan program dan kegiatan
reformasi birokrasi sesuai roadmap reformasi birokrasi
Memberikan pengetahuan dan ketrampilan melalui 2012
asistensi dan fasilitas yang diperlukan untuk
membentuk ketrampilan, nilai-nilai, perilaku dan pola
pikir baru (termasuk budaya kerja atau budaya
organisasi yang baru) yang diharapkan
Mengimplementasikan manfaat yang telah dirumuskan 2012
agar perubahan dapat dirasakan secara positif oleh
pemangku kepentingan

2. Melakukan Asesmen Kesiapan Organisasi LKPP

Workshop penilaian kesiapan organisasi dalam mengelola perubahan yang


dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober – 1 November 2011 dibantu oleh konsultan.
Peserta workshop ini diikuti oleh 67 orang Pegawai Negeri Sipil LKPP atau 51.5%
dari keseluruhan jumlah pegawai yaitu 136 orang. Workshop kesiapan organisasi
dalam mengelola perubahan diukur dari 10 dimensi kesiapan sebagai berikut :

28
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

Tabel 6. Dimensi Kesiapan untuk Mengelola Perubahan

Dari 10 dimensi penilaian kesiapan perubahan LKPP didapatkan hasil sebagai


berikut :

Tabel 7. Hasil Penilaian Kesiapan Dalam Mengelola Perubahan Di LKPP


RINGKASAN TINGKAT KESIAPAN DALAM MENGELOLA PERUBAHAN
AREA PENILAIAN STATUS KEY FEATURES OF READINESS
KESIAPAN
ATTRIBUT POSITIF ATTRIBUT NEGATIF
1. Visi untuk Cukup  Keleluasaan yang positif  Visi LKPP tidak dikomunikasikan
perubahan Tinggi mengubah sekitar visi dengan baik kepada staf
LKPP  Perlunya menyelaraskan visi
 Positif tentang reformasi LKPP agar lebih terkonsolidasi,
birokrasi bermakna dan efektif
 Percaya perubahan adalah  Semua direktorat belum memiliki
hal yang baik visi mereka sendiri
2. Kesiapan pribadi Tinggi  Kondusif dalam mendukung  Beberapa staf tidak merasa
untuk mengelola perubahan lingkungan, cukup diberdayakan,
perubahan  Persepsi dan sikap yang  Beberapa staf merasa tidak
positif terhadap perubahan, mampu mengantisipasi terhadap
 Staf bekerja untuk perubahan,

29
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

RINGKASAN TINGKAT KESIAPAN DALAM MENGELOLA PERUBAHAN


AREA PENILAIAN STATUS KEY FEATURES OF READINESS
KESIAPAN
ATTRIBUT POSITIF ATTRIBUT NEGATIF
mencapai yang terbaik,  Beberapa staf merasa pesimis
 Staf berkomitmen tinggi. terhadap perubahan
3. Budaya dan nilai Tinggi  Menghormati nilai-nilai  Partisipasi dalam pengambilan
organisasi sebagai keputusan rendah,
panduan perilaku,  Sebagian staf belum mengetahui
 Saling mempercayai antar dan memahami arti nilai
staf, organisasi,
 Memiliki komitmen dan  Implementasi nilai-nilai organisasi
akuntabilitas dalam dalam perilaku masih rendah.
memenuhi tanggung jawab,
 Saling mendukung antar
staf.
4. Kapasitas Moderate  Adanya bimbingan dari  Pemimpin belum menjadi teladan
kepemimpinan dan pimpinan, yang baik.
dukungan  Umumnya komunikasi  Pimpinan kurang melibatkan staf
efektif terkait rencana perubahan,
 Tersedianya dukungan dari  Pimpinan kurang memberikan
pimpinan untuk beradaptasi motivasi,
dengan perubahan.  Pimpinan kurang berupaya untuk
memahami reaksi staf terhadap
perubahan.
5. Struktur organisasi Moderate  Adanya rencana dan  Belum terdapat kejelasan aturan
dan pengaturan strategi dimasing masing untuk membantu mengatasi
masing unit kerja masalah yang dihadapi oleh staf
 Staf memahami dan  Tidak cukup tersedia Sumber
mengikuti rencana serta Daya Manusia
strategi unit kerja  Pelaksanaan kinerja staf belum
 Tanggung Jawab Staf telah direncanakan, dikelola dan dinilai
terdefinisikan dan secara efektif
dipahami.
6. Potensi resistensi Moderate  Staf melihat perubahan  Adanya ketidak pastian terhadap
sebagai hal yang konstruktif dampak perubahan
 Pengalaman masa lalu  Adanya kekhawatiran bahwa
membuat staf siap banyak perubahan yang terjadi
menghadapi perubahan terlalu cepat
 Staf mudah beradaptasi  Adanya ketidak yakinan akan
terhadap perubahan keberhasilan perubahan

7. Sistem komunikasi Rendah  Teknologi dan infrastruktur  Belum adanya sistem intranet
komunikasi telah tersedia dalam organisasi
 Pertemuan periodik dalam  Belum tersedianya fasilitas dan
rangka sosialisasi rencana sistem yang efektif untuk
kegiatan unit kerja memperoleh informasi yang
akurat
 Situs web LKPP belum
dimanfaatkan lebih efektif sebagai
sarana komunikasi
 Belum tersedianya informasi yang
terkini
8. Dampak pemangku Cukup  Adanya harapan terhadap  Tidak cukupnya sumber daya dan
kepentingan Tinggi para pemangku waktu untuk melibatkan para
kepentingan untuk dapat pemangku kepentingan secara
membantu perubahan efektif
 Perubahan organisasi akan  Belum tersedianya sarana untuk
mempengaruhi para menyampaikan permasalahan,
pemangku kepentingan ide-ide serta aspirasi dari
secara positif pemangku kepentingan
 Perubahan akan  Masih belum terdapat hubungan
memberikan manfaat bagi yang efektif dengan semua

30
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

RINGKASAN TINGKAT KESIAPAN DALAM MENGELOLA PERUBAHAN


AREA PENILAIAN STATUS KEY FEATURES OF READINESS
KESIAPAN
ATTRIBUT POSITIF ATTRIBUT NEGATIF
para pemangku pemangku kepentingan
kepentingan

9. Kesadaran akan Moderate  Staf menyadari tantangan  Belum diketahui dan dipahaminya
reformasi birokrasi yang dihadapi pelayanan peraturan perundangan tentang
public reformasi birokrasi
 Staf mendukung tujuan  Kurang adanya kesadaran untuk
reformasi birokrasi dalam mengetahui keberhasilan
pelayanan publik lembaga lain diluar LKPP dalam
 Staf mengetahui visi dan melaksanakan reformasi birokrasi
tujuan reformasi birokrasi
dalam rangka pelayanan
publik

10. Pengelolaan Cukup  Hubungan antar personal  Tidak terdapat perubahan yang
perubahan Tinggi yang positif cukup besar dalam kehidupan
kehidupan  Kapasitas staf untuk staf
mengelola perubahan  Tantangan kehidupan pribadi staf
pribadi cukup baik sangat mempengaruhi
 Staf mampu mengelola produktivitas dan perilaku staf
tantangan dalam kehidupan  Tidak ada perubahan positif
dalam diri staf dari pengalaman
dan hubungan di tempat kerja

Hasil asesmen menunjukan aspek kesiapan pribadi untuk mengelola perubahan


serta pemahaman dan aplikasi budaya serta nilai organisasi oleh staf status
kesiapannya tinggi, hal ini merupakan faktor pendukung yang sangat berarti dalam
melaksanakan perubahan. Aspek yang memerlukan perhatian khusus adalah sistem
komunikasi dengan status kesiapan rendah.

Untuk mengevaluasi capaian reformasi birokrasi yang telah dilakukan oleh LKPP,
maka dilaksanakan Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB)
LKPP Secara Online. Pelaksanaan PMPRB Secara Online dilaksanakan oleh Eselon
I, II, III, IV, dan staf PNS LKPP (137 pegawai) melalui website PMPRB online
Kementerian PAN dan RB (pmprb.menpan.go.id). Tujuan dari pelaksanaan kegiatan
ini adalah untuk menilai pelaksanaan reformasi birokrasi di LKPP secara mandiri.
Pelaksanaan reformasi birokrasi dilakukan pada 8 area perubahan yaitu
Akuntabilitas, Organisasi, Peraturan Perundang-undangan, Tata Laksana,
Pelayanan Publik, Mindset/Culture Set, SDM Aparatur, dan Pengawasan.

Penilaian PMPRB terdiri dari dua komponen, yaitu Komponen Pengungkit dan
Komponen Hasil. Komponen Pengungkit adalah seluruh aspek internal organisasi

31
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

instansi Pemerintah yang melakukan berbagai upaya manajemen untuk


menghasilkan berbagai layanan publik bagi masyarakat/pengguna layanan, SDM
Aparaturnya, dan bagi komunitas lokal, nasional dan internasional, serta
mewujudkan kinerja yang menjadi tujuannya. Komponen Pengungkit terdiri dari 5
kriteria, yaitu Kepemimpinan, Perencanaan Strategis, Sumber Daya Manusia
Aparatur, Kemitraan Dan Sumber Daya, dan Proses. Komponen Hasil merupakan
output atau outcome yang dihasilkan Komponen Pengungkit, yang tidak hanya
dirasakan oleh pihak eksternal tetapi juga pihak internal organisasi. Komponen
Hasil terbagi ke dalam empat kriteria, yaitu : 1) Hasil Pada Masyarakat/Pengguna
Layanan; 2) Hasil Pada Sumber Daya Manusia Aparatur; 3) Hasil Pada Komunitas
Lokal, Nasional, dan Internasional; serta 4) Hasil Kinerja Utama. Penilaian dilakukan
terhadap Unit Eselon I LKPP, yaitu Sekretariat Utama dan Kedeputian.

Hasil PMPRB secara online pada tahun 2013, LKPP mendapatkan nilai sebesar
73,26, dengan rincian penilaian komponen pengungkit sebagaimana disajikan pada
Tabel 8 berikut :

Tabel 8. Hasil Survei Internal PMPRB LKPP Pada Komponen Pengungkit


Tahun 2013
Bobot
Aspek yang Dinilai
Nilai
Kriteria 1 : Kepemimpinan 14.49
SK 1.1 Menentukan arah bagi instansi untuk pencapaian misi, visi dan 3.69
nilai
SK 1.2 Mendorong penyempurnaan manajemen dan memimpin 3.55
perubahan
SK 1.3 Memberi motivasi, inspirasi dan mendukung pegawai serta 3.67
menjadi panutan (role model)
SK 1.4 Mengelola hubungan dengan pemangku kepentingan 3.58
Kriteria 2 : Perencanaan Strategis 14.54
SK 2.1 Mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan kebutuhan 3.77
pemangku kepentingan saat ini dan yang akan datang
SK 2.2 Mengembangkan, mereviu, dan memperbaharui Renstra 3.58
dengan memperhatikan kebutuhan pemangku kepentungan
dan ketersediaan sumber daya
SK 2.3 Melaksanakan Renstra 3.61
SK 2.4 Merencanakan, melaksanakan dan mereviu reformasi dan 3.58
modernisasi
Kriteria 3 : Sumber Daya Manusia Aparatur 10.75

32
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

Bobot
Aspek yang Dinilai
Nilai
SK 3.1 Merencanakan, mengelola dan meningkatkan kualitas SDM 3.67
aparatur secara transparan dan akuntabel sesuai dengan
Renstra dan Road Map Reformasi Birokrasi instansi
SK 3.2 Mengidentifikasi, mengembangkan dan menggunakan 3.46
kompetensi pegawai serta menyelaraskan tujuan individu dan
instansi
SK 3.3 Melibatkan pegawai dengan dialog terbuka dan dengan 3.62
pemberdayaan
Kriteria 4 : Kemitraan Sumber Daya 22.07
SK 4.1 Pengembangan dan pelaksanaan hubungan kemitraan utama 3.60
SK 4.2 Pengembangan dan pelaksanaan kemitraan dengan 3.66
masyarakat
SK 4.3 Pengelolaan keuangan 3.97
SK 4.4 Pengelolaan informasi dan pengetahuan 3.52
SK 4.5 Pengelolaan teknologi 3.56
SK 4.6 Pengelolaan fasilitas 3.76
Kriteria 5 : Proses 11.06
SK 5.1 Mengidentifikasi, merancang, menerapkan dan memperbaiki 3.69
proses bisnis/tata laksana secara berkelanjutan
SK 5.2 Mengembangkan dan menyediakan pelayanan yang 3.82
berorientasi pada kebutuhan masyarakat/pengguna layanan
SK 5.3 Inovasi proses yang melibatkan masyarakat/pengguna layanan 3.55
Nilai Survei Internal : Pengungkit (skala 100) 73.26

Salah satu kriteria penilaian pada Komponen Hasil adalah Hasil Pada
Masyarakat/Pengguna Layanan yang merupakan output atau outcome yang dapat
langsung atau tidak langsung dirasakan oleh masyarakat/pengguna layanan
(stakeholder) instansi Pemerintah. Oleh karena itu LKPP melaksanakan: (1) survei
terhadap stakeholder LKPP; (2) Survei Indeks Kepuasan Masyarakat; dan (3).
Survei Kepuasan Pegawai.

Dalam rangka menilai output atau outcome yang dirasakan oleh


masyarakat/pengguna layanan (stakeholder) instansi Pemerintah, LKPP melaksanakan
survei terhadap tiga stakeholder LKPP yaitu unit Layanan Pengadaan Secara
Elektronik (LPSE), Unit Layanan Pengadaan (ULP), dan Badan Pendidikan dan
Pelatihan (Badiklat) di 16 kabupaten/kota dan 20 Kementerian/Lembaga. Sampel
survei adalah para pelaku di LPSE, ULP, dan Badiklat masing-masing sebanyak 5
(lima) orang responden. Kuesioner survei berupa pendekatan terhadap delapan area

33
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

perubahan dan diolah menggunakan SPSS dengan membandingkan hasil dari 104
responden K/L dengan 393 responden dari daerah (provinsi/kabupaten/kota). Hasil
survei menunjukkan bahwa stakeholder merasa program reformasi birokrasi yang
dilakukan oleh LKPP pada 8 (delapan) area perubahan reformasi birokrasi sudah cukup
baik. Hal ini dapat dilihat dari sebaran nilai hasil survei PMPRB LKPP tahun 2013
sebagaimana disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Sebaran Nilai Hasil Survei Stakeholder PMPRB LKPP Tahun 2013

99.49 Akuntabilitas Sangat


Baik
Akuntabilitas
100.00
87.02 94.91
Organisasi Baik
Pengawasan
80.00 Organisasi
60.00 Peraturan Baik
Perundang-
40.00 undangan
85.24 83.21 Tata Laksana Cukup
20.00
Peraturan
SDM Aparatur - perundang-
undangan Pelayanan Baik
Publik

Mindset/Culture Baik
86.77 Set
Perubahan 61.07
Tata Laksana
Mindset SDM Aparatur Baik

86.01
Pelayanan Pengawasan Baik
Publik

Hasil survei juga menunjukkan bahwa area tata laksana masih memerlukan perbaikan
dalam hal sosialisasi SOP pelayanan LKPP kepada para pemangku kepentingan
(Stakeholder). Stakeholder masih mengeluhkan kurang cepatnya balasan/tanggapan
dari LKPP terkait konsultasi terutama melalui telepon atau e-mail.

Untuk mengetahui kualitas kinerja pelayanan publik diperlukan adanya penilaian


terhadap kinerja pelayanan yang berbasis pada pendapat masyarakat, salah satunya
melalui Survei Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM). Kegiatan survei kepuasan
masyarakat perlu dilaksanakan secara berkesinambungan, dengan maksud agar dapat
diketahui perkembangan nilai IKM unit pelayanan publik dari tahun ke tahun.

34
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

LKPP telah melaksanakan survei IKM pada tahun 2012 terhadap 9 (sembilan) unit
pelayanan LKPP dengan nilai IKM sebesar 77,68. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pendapat masyarakat terhadap pelayanan publik bidang pengadaan barang/jasa
dikategorikan Baik.

Survei IKM Tahun 2013 merupakan survei kedua, hal ini menunjukkan komitmen LKPP
untuk mewujudkan pelayanan prima berdasarkan kepuasan masyarakat. Selanjutnya
diharapkan akan diketahui perkembangan kinerja pelayanan unit pelayanan internal
LKPP maupun instansi pelaksana fungsi pengadaan di luar LKPP dalam memberikan
pelayanan langsung kepada masyarakat. Selain itu dapat dijadikan sebagai bahan
evaluasi terhadap unsur pelayanan yang masih memerlukan perbaikan dan sekaligus
berfungsi sebagai pendorong bagi unit pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas
pelayanan. Hasil pelaksanaan survei IKM pada tahun 2013 dilakukan di 12 (dua belas)
unit pelayanan internal LKPP dengan perolehan hasil survei sebagaimana disajikan
pada Tabel 9 berikut :

Tabel 9. Nilai IKM Pada Unit Pelayanan Internal LKPP Tahun 2013
Mutu Kinerja Unit
No Unit Pelayanan Nilai IKM
Pelayanan Pelayanan
1 Layanan Ujian Sertifikasi Pengadaan Barang/Jasa
78,65 B Baik
Pemerintah Berbasis Komputer
2 Layanan Ujian Sertifikasi Pengadaan Barang/Jasa
80,37 B Baik
Pemerintah Reguler/Non Reguler
3 Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) 76,79 B Baik
4 Layanan Bimbingan Teknis dan Advokasi
76,27 B Baik
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Wilayah I)
5 Layanan Rekomendasi Sanggah dan Pengaduan
77,54 B Baik
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Wilayah II)
6 Layanan Rekomendasi Penanganan
Permasalahan Hukum Pengadaan Barang/Jasa 77,20 B Baik
Pemerintah
7 Layanan Informasi Pelatihan 77,56 B Baik
8 Layanan Konsultasi Pembentukan ULP 76,65 B Baik
9 Layanan Pemanfaatan RUP 78,30 B Baik
10 Layanan Pemanfaatan e-monev 77,69 B Baik
11 Layanan Pemanfaatan e-katalog 75,50 B Baik
12 Layanan Informasi LKPP 78,41 B Baik
Rata-Rata Nilai IKM Unit Pelayanan Internal LKPP 77,58 B Baik

Nilai IKM pada unit pelayanan internal LKPP pada tahun 2013 adalah sebesar 77,58
dengan mutu pelayanan “B” dan kinerja unit pelayanan “Baik”. Nilai ini menurun

35
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

sebesar 0,10 (0,12%) dari nilai IKM tahun 2012 (77,68). Hal ini dikarenakan jumlah unit
pelayanan publik yang dinilai bertambah menjadi 12 (dua belas) unit pelayanan
dibandingkan pada tahun 2012 sebanyak 9 (sembilan) unit pelayanan. Perbandingan
kinerja berdasarkan nilai IKM pada unit pelayanan internal LKPP pada tahun 2012-
2013, sebagaimana disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10. Perbandingan Kinerja IKM Pada Unit Pelayanan Internal LKPPTahun
2012-2013
Nilai IKM
No Unit Pelayanan Tahun Keterangan
2012 2013
1 Layanan Ujian Sertifikasi Pengadaan Barang/Jasa
79,81 78,65 (-)
Pemerintah Berbasis Komputer
2 Layanan Ujian Sertifikasi Pengadaan Barang/Jasa
81,09 80,37 (-)
Pemerintah Reguler/Non Reguler
3 Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) 76,90 76,79 (-)
4 Layanan Bimbingan Teknis dan Advokasi Pengadaan
77,92 76,27 (-)
Barang/Jasa Pemerintah (Wilayah I)
5 Layanan Rekomendasi Sanggah dan Pengaduan
78,43 77,54 (-)
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Wilayah II)
6 Layanan Rekomendasi Penanganan Permasalahan
77,24 77,20 (-)
Hukum Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
7 Layanan Informasi Pelatihan 76,64 77,56 (+)
8 Layanan Konsultasi Pembentukan ULP 72,68 76,65 (+)
9 Layanan Pemanfaatan RUP - 78,30
10 Layanan Pemanfaatan e-Monev - 77,69
11 Layanan Pemanfaatan e-Katalog - 75,50
12 Layanan Informasi LKPP 80,43 78,41 (-)

Pada Tabel 10 diatas dapat diketahui bahwa dari 12 (dua belas) unit pelayanan internal
LKPP yang dinilai kinerjanya pada tahun 2013, terdapat 2 (dua) unit pelayanan
mengalami peningkatan nilai IKM dibandingkan tahun 2012, yaitu Unit Layanan
Informasi Pelatihan dan Unit Layanan Konsultasi Pembentukan ULP. Sedangkan 7
(tujuh) unit pelayanan mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2012 dengan
nilai penurunan tidak terlalu signifikan yaitu sebesar 0,04 – 2,02 poin. Penurunan nilai
IKM ini memerlukan perhatian yang mendalam bagi pelaksana pelayanan publik di
LKPP agar dapat diperbaiki di masa yang akan datang.

36
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

Tingkat Kepuasan Pegawai Terhadap Layanan Perkantoran

Sesuai dengan Perpres Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi
Birokrasi 2010-2025 maupun Road Map Reformasi Birokrasi Nasional 2010-2014
terdapat 8 (delapan) area perubahan yang selanjutnya harus diimplementasikan
melalui 9 (sembilan) program. Salah satu dari program Reformasi Birokrasi ini adalah
Manajemen Perubahan. Manajemen Perubahan atau Change Management adalah
suatu proses yang sistematis dengan menerapkan pengetahuan, sarana dan sumber
daya yang diperlukan organisasi untuk bergerak dari kondisi sekarang menuju kondisi
yang diinginkan, yaitu menuju ke arah kinerja yang lebih baik dan untuk mengelola
kinerja organisasi yang akan terkena dampak dari proses perubahan tersebut.

Pemangku kepentingan utama dalam manajemen perubahan adalah Pegawai LKPP.


Persepsi pegawai terhadap organisasi merupakan elemen penting untuk membangun
kinerja organisasi. Semua kebijakan, program dan kegiatan dapat berjalan dengan
baik bila persepsi pegawai terhadap organisasi juga diperhatikan dan dikelola secara
serius dan baik. Salah satu cara untuk mengetahui persepsi pegawai terhadap kinerja
organisasi dapat melalui Survei Kepuasan Pegawai (SKP). Hasil survei akan menjadi
salah satu acuan utama dalam perumusan strategi manajemen perubahan sehingga
proses reformasi birokrasi melalui manajemen perubahan dalam lingkungan organisasi
LKPP dapat berlangsung sebagaimana yang diharapkan.

Tujuan pelaksanaan SKP LKPP tahun 2013 adalah :


1) Untuk mengindentifikasi tingkat kepuasan pegawai terhadap pelayanan internal
LKPP; dan
2) Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan pegawai atas
pelayanan internal LKPP.

SKP LKPP tahun 2013 dilaksanakan untuk menilai pelayanan internal LKPP yang
terdiri dari 8 (delapan) unsur, yaitu :
1) Lingkungan Kerja;
2) Pelayanan Umum;

37
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

3) Pelayanan Keuangan;
4) Pelayanan Tata Usaha;
5) Pelayanan Hukum;
6) Pelayanan Kepegawaian;
7) Pelayanan Informasi; dan
8) Pelayanan Perencanaan dan Tata Laksana.

Hasil pengukuran SKP atas pelayanan internal, secara umum pegawai LKPP menilai
Cukup Puas dengan skor 394.6 pada skala 600 atau 65.6 persen pada skala 100.
Unsur pelayanan internal LKPP dengan skor tertinggi sampai skor terendah adalah
Pelayanan Keuangan, Pelayanan Hukum, Pelayanan Tata Usaha, Pelayanan
Perencanaan Tata Laksana, Pelayanan Lingkungan Kerja, Pelayanan Kepegawaian,
Pelayanan Umum dan Pelayanan Informasi. Skor dan kriteria pelayanan internal LKPP
sebagaimana disajikan pada Gambar 2 dan Tabel 11.
Tabel 11. Kinerja Pelayanan Internal Tahun 2013

Gambar 2. Skor Unsur Layanan Gambar 3. Frekuensi (%) Tingkat


Internal LKPP Tahun 2013
Kepuasan atas Layanan
STP Internal LKPP
SP TP
425.2 2%
393.5 381.7 407 412.3
391.3 400.8 7% 7% KP
344.2
22%

P
28%
CP
34%
PTU

PP
LK
PU
PK

PH

PTL
PI

38
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

Penilaian skala Likert terhadap unsur pelayanan internal LKPP menunjukkan pegawai
LKPP yang merasa Sangat Tidak Puas (2.5%), Tidak Puas (6.7%), Kurang Puas
(21.6%), Cukup Puas (33.7%), Puas (28,3%), dan Sangat Puas (6.9%). Pegawai LKPP
yang cenderung belum puas atas unsur pelayanan internal sebesar 30.9 persen,
sedangkan sisanya sebesar 69.1 persen cenderung puas (lihat Gambar 3).

Reformasi birokrasi yang dilakukan LKPP berpengaruh terhadap tingkat kehadiran PNS
LKPP, dengan data sebagaimana tercantum pada Tabel 12 berikut :

Tabel 12. Ketidakhadiran PNS LKPP Tahun 2012 -2013


JUMLAH PNS PADA RERATA KETIDAKHADIRAN RANGE (KOMULATIF)
KETERANGAN TAHUN (ORANG) (HARI) (HARI)
2012 2013 2012 2013 2012 2013
Sakit 75 (55%) 76 (51%) 4 4 1-33 1-21

Izin 85 (62%) 102 (68%) 3 2 1-9 1-5

Alpa* 30 (22%) 14 (9%) 7 2 1-19 1-6

DiklatLuar 130 (95%) 59 (42%) 22 11 2-74 1-57


Kantor
*) Tercatat tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah, belum ada konfirmasi/klarifikasi

Dapat dilihat dari tabel di atas pada tahun 2013 terjadi penurunan ketidakhadiran
dengan alasan izin dan alpa, demikian pula apabila dikomulatifkan secara
keseluruhan terjadi penurunan ketidakhadiran PNS. Rata-rata kehadiran PNS terjadi
kenaikan dari 1.675 jam/tahun menjadi 1.939 jam/tahun.

B. Anggaran Reformasi Birokrasi

Jumlah anggaran yang telah disediakan dalam DIPA LKPP selama tahun 2012-2013
total sebesar Rp 60.299.939.000 (enam puluh milyar dua ratus sembilan puluh
sembilan juta sembilan ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah) dengan rincian sebagai
berikut :

39
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

Tabel 13. Anggaran Reformasi Birokrasi LKPP Tahun 2012 - 2013


ANGGARAN TAHUN (Rp)
No. PROGRAM DAN OUTPUT
KEGIATAN 2012 2013
A. MANAJEMEN PERUBAHAN
1. Pembentukan Tim Terbentuknya Tim
Manajemen Perubahan Manajemen Perubahan
LKPP LKPP

2. Penyusunan strategi Tersedianya dokumen Rp 2.400.000 Rp 210.000


manajemen perubahan strategi manajemen Anggaran Anggaran
dan strategi komunikasi perubahan dan strategi Manajemen Manajemen
LKPP komunikasi LKPP Perubahan Perubahan

3. Sosialisasi dan Terselenggaranya


Internalisasi manajemen sosialisasi dan
perubahan dalam rangka internalisasi
reformasi birokrasi manajemen perubahan
dalam rangka RB

B. PENATAAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN


Rp 191.320.000
Teridentifikasinya
Anggaran
peraturan perundang-
Penyusunan
undangan yang
Peraturan
dikeluarkan/diterbitkan
Perundang-
oleh LKPP
undangan
Rp 297.212.000
Anggaran
Rp 140.150.000
Negoisasi
Anggaran Kajian
kerjasama ekonomi
harmonisasi
Tersedianya peta internasional di
sistem pengadaan
peraturan perundang- bidang pengadaan
barang/jasa
undangan yang tidak barang/jasa
Penataan berbagai
harmonis atau tidak pemerintah
peraturan perundang-
sinkron di lingkungan Rp 464.351.000
1. undangan yang
LKPP Anggaran
dikeluarkan/diterbitkan
harmonisasi sistem
oleh LKPP
pengadaan
barang/jasa
pemerintah
Rp 179.163.000
Anggaran
Workshop hasil
Terlaksananya regulasi Rp 1.752.500.000 survei nasional CPI
dan deregulasi Anggaran
peraturan perundang- Dokumen laporan
undangan hasil survei CPI

40
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

ANGGARAN TAHUN (Rp)


No. PROGRAM DAN OUTPUT
KEGIATAN 2012 2013

C. PENATAAN DAN PENGUATAN ORGANISASI


Tesedianya peta tugas
Restrukturisasi/penataan dan fungsi unit kerja
1. tugas dan fungsi unit pada Lembaga yang
kerja pada LKPP tepat fungsi dan tepat
ukuran (right sizing)
Rp 330.100.000 Rp 188.850.000
Anggaran Anggaran
Terbentuknya unit kerja Dokumen Dokumen
yang menangani fungsi Pembentukan Pembentukan
Penguatan unit kerja
organisasi, tata Struktur Struktur
yang menangani
laksana, kepegawaian Organisasi Organisasi
2. organisasi, tatalaksana,
dan diklat yang mampu
pelayanan publik,
mendukung
kepegawaian dan diklat
tercapainya tujuan dan
sasaran RB

D. PENATAAAN TATA LAKSANA

Tersedianya dokumen
Penyusunan SOP
SOP penyelenggaran Rp 201.037.000 Rp 180.315.000
1. penyelengaraan tugas
tugas dan fungsi yang Anggaran SOP Anggaran SOP
dan fungsi
disahkan

Rp 1.015.600.000
Anggaran
Pengembangan Rp 21.002.406.000
aplikasi e- anggaran
Tendering pengembangan
Rp 1.320.490.000 sistem e-
Anggaran Procurement
Pengembangan nasional
aplikasi e-
Purchasing
Rp 1.132.800.000
Pembangunan atau Tersedianya e-
Anggaran
2. pengembangan e- Government pada
Pengembangan Rp 922.000.000
Government LKPP
Portal Inaproc anggaran
pemeliharaan dan
Rp 605.950.000
pengelolaan
Anggaran
layanan informasi
Pengembangan
dan TIK LKPP
sistem otoritas
digital
Rp 703.998.000
Anggaran
pengembangan
sistem pelaporan
e-Procurement

41
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

ANGGARAN TAHUN (Rp)


No. PROGRAM DAN OUTPUT
KEGIATAN 2012 2013
Rp 1.248.700.000
Anggaran
pengelolaan dan
pengembangan
SIB
Rp 140.000.000
Anggaran
Pengembangan
Kearsipan Digital
E. PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR
Terbangunnya sistem
rekrutmen yang
Penataan sistem
1. terbuka, transparan
rekrutmen pegawai Rp 80.520.000
dan berbasis
kompetensi Anggaran
Penyelenggaraan
Tersedianya uraian Asesmen Individu
2. Analisis Jabatan
jabatan Berdasarkan
Rp 214.302.000 Kompetensi
Anggaran
Tersedianya dokumen Penyelenggaraan Rp 52.697.000
Penyusunan standar
4. standar kompetensi Asesmen Individu Anggaran
kompetensi jabatan
jabatan Berdasarkan Penyusunan
Kompetensi Standar Penilaian
Prestasi Kerja
Rp 562.504.000 Pegawai
Asesmen individu Tersedianya peta profil Anggaran
5.
berdasarkan kompetensi kompetensi individu Rekruitmen CPNS Rp 710.642.000
Anggaran
Rp 280.800.000 Rekruitmen CPNS
Tersedianya indikator Anggaran
Penerapan sistem
6. kinerja individu yang penyusunan Rp 300.000
penilaian kinerja individu
terukur dokumen Standar Anggaran
Pembangunan Tersedianya data Kompetensi penyusunan
7. /pengembangan pegawai yang mutakhir Jabatan dokumen Analisis
database pegawai dan akurat Jabatan
Rp 1.214.224.000
Terbangunnya sistem Anggaran PNS Rp 1.400.215.000
dan proses pendidikan yang mengikuti Anggaran PNS
Pengembangan Diklat yang mengikuti
dan pelatihan pegawai
pendidikan dan pelatihan Diklat
8. berbasis kompetensi
pegawai berbasis
dalam pengelolaan
kompetensi
kebijakan dan
pelayanan publik

F. PENGUATAN PENGAWASAN
Rp 288.429.000 Rp 584.655.000
Penerapan sistem Terjadinya peningkatan Anggaran Laporan Anggaran Laporan
Pengendalian Intern ketaatan, efesiensi dan Penyelenggaraan penyelenggaraan
1
Pemerintah (SPIP) pada efektivitas pelaksanaan Sistem sistem
LKPP tugas dan fungsi Pengendalian pengendalian
Intern Pemerintah intern pemerintah

42
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

ANGGARAN TAHUN (Rp)


No. PROGRAM DAN OUTPUT
KEGIATAN 2012 2013

Rp 300.000.000 Rp 187.270.000
APIP yang lebih Anggaran Anggaran Laporan
berperan dalam Penatausahaan Penatausahaan
Peningkatan Peran
melakukan penguatan Keuangan dan Keuangan dan
Aparat Pengawasan
Sistem Pengendalian Perbendaharaan Perbendaharaan
Intern Pemerintah (APIP)
2 Intern, Quality Rp 300.000.000
sebagai Quality Rp 185.770.000
Assurance dan Anggaran
Assurance dan Anggaran Laporan
konsultasi atas tersedianya
Consulting Unit Akuntansi
pelayanan Laporan UAPA Keuangan dan Unit
kepemerintahan. dan SAKPA/B Akuntansi
G. PENGUATAN AKUNTABILITAS KINERJA

Rp 44.340.000
Anggaran LAKIP

Rp 754.935.000
Penguatan Akuntabilitas Terjadinya peningkatan
Rp 1.300.000 Anggaran dokumen
1. Kinerja Instansi kualitas laporan
Anggaran Laporan monitoring dan
Pemerintah akuntabilitas kinerja
Tahunan evaluasi kinerja

Rp 231.730.000
Anggaran Laporan
Triwulan
Rp 65.640.000 Rp 72.100.000
Anggaran evaluasi Anggaran
akuntabilitas penyusunan
dokumen
manajemen kinerja
Rp 105.125.000 Rp 224.394.000
Anggaran Anggaran
Diseminasi/Bimtek pengukuran Indeks
Terbangunnnya sistem SAKIP Kepuasan
Pengembangan sistem yang mampu Masyarakat dan
2. manajemen kinerja mendorong evaluasi pelayanan
organisasi tercapainya kinerja publik
organisasi yang terukur Rp 117.708.000
Anggaran
penyusunan dan
penyempurnaan
model logika
informasi kinerja
(logic model).
Kerangka logic dan
pedoman evaluasi
Rp 95.500.000
Anggaran evaluasi -
Penyusunan Indikator Tersusunnya Indikator
kinerja utama
3. Kinerja Utama (IKU) Kinerja Utama (IKU)
pada LKPP pada Lembaga

43
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

ANGGARAN TAHUN (Rp)


No. PROGRAM DAN OUTPUT
KEGIATAN 2012 2013
H. PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK

Terimplementasinya
Penerapan standar
penggunaan standar
1. pelayanan pada unit
pelayanan dalam
kerja Lembaga
pelayanan publik

Terjadinya peningkatan
Partisipasi masyarakat partisipasi masyarakat
2. dalam penyelenggaran dalam
pelayanan publik penyelenggaraan
pelayanan publik

I MONITORING DAN EVALUASI

Tersedianya laporan
1. Monitoring
monitoring
Rp 494.003.000
Evaluasi (dilakukan Tersedianya laporan Monitoring dan
2. Evaluasi
setiap tahun sekali) evaluasi tahunan
Pelaksanaan
Reformasi
Evaluasi menyeluruh Birokrasi LKPP
Tersedianya laporan
3. (dilakukan pada
evaluasi lima tahunan
semester kedua 2014)

QUICK WINS I (PELAKSANAAN UJIAN SERTIFIKASI PBJP BERBASIS KOMPUTER DI


J
DAERAH)
Penyusunan pedoman, Rp 9.468.020.000 Rp 7.003.855.000
standar, dan manual Anggaran Anggaran
sertifikasi profesi pengembangan pengembangan
1.
pengadaan barang/jasa sistem dan sistem dan
pemerintah berbasis penyelenggaraan penyelenggaraan
komputer sertifikasi keahlian sertifikasi keahlian
Penyusunan sistem
informasi manajemen Terlaksananya ujian
sertifikasi berbasis sertifikasi profesi
komputer, yang pengadaan
menyediakan data base barang/jasa
2.
dan informasi mulai dari pemerintah berbasis
data peserta, tingkat komputer di 33 propinsi
kelulusan, sampai
dengan penyelenggaraan
ujian
Pembuatan bank soal
ujian sertifikasi profesi
3.
pengadaan barang/jasa
pemerintah

44
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

ANGGARAN TAHUN (Rp)


No. PROGRAM DAN OUTPUT
KEGIATAN 2012 2013
Penyusunan pedoman
pengendalian mutu dan
evaluasi
4. penyelenggaraan
sertifikasi profesi
pengadaan barang/jasa
pemerintah
Pelaksanaan ujian
berbasis komputer di
Jakarta 8 kali dalam
seminggu, uji coba di 5
5. wilayah sejumlah 10 kali
di tahun 2011 dan di 33
provinsi sebanyak 64 kali
di Tahun 2012.

QUICK WINS II (PENGEMBANGAN SISTEM LAYANAN BIMTEK DAN ADVOKASI


K
PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH YANG TERINTEGRASI)
Rp 340.260.000
Anggaran
Pengembangan
Rp 1.364.090.000 sistem pelayanan
Pengembangan Sistem Terintegrasinya sistem advokasi
Anggaran pihak
Layanan Bimbingan layanan Bimbingan
yang mendapatkan Rp 652.100.000
Teknis dan Advokasi Teknis dan Advokasi
1. pendampingan Anggaran
pengadaan barang/jasa pengadaan
pengadaan pengembangan
pemerintah yang barang/jasa
barang/jasa sistem pelayanan
terintegrasi pemerintah
pemerintah advokasi/sistem
pelayanan
advokasi berbasis
web

45
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

BAB IV
HAMBATAN DAN PENYELESAIAN MASALAH

Dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi LKPP tahun 2013 ditemui beberapa


hambatan/masalah di 8 area perubahan sebagaimana tersebut di bawah ini :

1. Area Manajemen Perubahan

Hasil asesmen aspek yang memerlukan perhatian khusus adalah sistem komunikasi
dengan status kesiapan rendah, yang berarti komunikasi merupakan salah satu
hambatan untuk mencapai kondisi LKPP yang lebih baik. Hambatan komunikasi
dapat bersifat atasan-bawahan (bersifat vertikal), hubungan sesama anggota yang
kedudukannya setingkat (bersifat horisontal). Komunikasi antara atasan dan
bawahan sering menimbulkan masalah. Keputusannya sendiri mungkin baik (dalam
arti dapat diterima oleh bawahan) tetapi karena terjadi salah informasi
(miscommunication), bawahan menolak keputusan pimpinan. Dalam kasus seperti
itu perubahan yang dilakukan akan menyangkut sistem saluran komunikasi yang
digunakan.

Masalah yang sering timbul berkaitan dengan hubungan sesama pegawai pada
umumnya menyangkut masalah komunikasi (kurang lancar atau macetnya
komunikasi antar pegawai), dan juga menyangkut masalah kepentingan masing-
masing pegawai. Persoalan seperti itu sering menimbulkan konflik antar pegawai
sehingga perlu dilakukan perubahan, misalnya dalam hal jalur komunikasi atau
bahkan struktur organisasi yang digunakan. Untuk memperbaiki komunikasi
diantara pegawai LKPP maka dilakukan berbagai strategi sehingga dapat terbangun
komunikasi yang lebih baik di lingkup pegawai LKPP. Sehubungan dengan hal
tersebut dalam rangka reformasi birokrasi LKPP telah menerapkan strategi
komunikasi yang dipergunakan sesuai dengan delapan area perubahan,
sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 14 berikut :

46
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

Tabel 14. Penerapan Strategi Komunikasi Pada 8 Area Perubahan


PROGRAM DAN KEGIATAN STRATEGI
NO. SASARAN KOMUNIKATOR
REFORMASI BIROKRASI KOMUNIKASI
A MANAJEMEN PERUBAHAN
1 Pembentukkan Tim Manajemen 1. Rapat Pimpinan Seluruh Tim Reformasi
Perubahan 2. Rapat rutin Pegawai Birokrasi
3. Coffee morning LKPP
2 Penyusunan Strategi Manajemen 4. Seminar Tim Pimpinan LKPP
Perubahan dan Strategi 5. Website Manajemen
Komunikasi LKPP Perubahan
dan
Rerformasi
Birokasi
3 Sosialisasi dan Internalisasi Seluruh Tim Reformasi
manajemen perubahan dalam Pegawai Birokrasi
rangka reformasi birokrasi LKPP

B PENATAAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN


1 Penataan berbagai peraturan 1.Sosialisasi draft Seluruh Pimpinan LKPP
perundang-undangan yang peraturan untuk Pegawai
dikeluarkan/diterbitkan oleh LKPP mendapatkan LKPP
masukan/saran/koreksi
2.Rapat pembahasan
internal maupun
eksternal
3.Nota Dinas
4.Sosialisasi peraturan
perundangan
5.Website
6.Buletin/Jurnal
C. PENATAAN PENGUATAN ORGANISASI
1. Restrukturisasi/penataan tugas 1.Rapat Pimpinan Seluruh Pimpinan LKPP
dan fungsi unit kerja pada LKPP 2.Rapat rutin Pegawai
3.Nota Dinas LKPP
4.Website
5.Sosialisasi
2. Penguatan unit kerja yang 1. Rapat Pimpinan Seluruh Pimpinan LKPP
menangani organisasi, 2.Rapat rutin Pegawai
tatalaksana, pelayanan publik, 3.Nota Dinas LKPP
kepegawaian dan Diklat 4.Website
5.Sosialisasi
D. PENATAAN TATA LAKSANA
1. Penyusunan SOP 1. Rapat Pimpinan Seluruh Unit Pimpinan LKPP
penyelengaraan tugas dan fungsi 2.Rapat rutin Kerja LKPP
3.Nota Dinas
4.Website
5.Sosialisasi

47
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

PROGRAM DAN KEGIATAN STRATEGI


NO. SASARAN KOMUNIKATOR
REFORMASI BIROKRASI KOMUNIKASI
2. Pembangunan atau 1. Rapat Pimpinan Seluruh Unit Pimpinan LKPP
pengembangan e-Government 2. Rapat rutin Kerja LKPP
3. Nota Dinas
4. Website
5. Sosialisasi
6. Rapat Kerja
7. Simposium
8. Jurnal
E. PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR
1. Penataan Sistem rekrutmen 1. Rapat Pimpinan Baguian Pimpinan LKPP
pegawai 2. Nota Dinas Kepegawaian
3. Website LKPP
2. Analisis Jabatan 1.Rapat pembahasan Seluruh Pimpinan LKPP
2.Nota Dinas Pegawai
3.Sosialisasi LKPP
3. Evaluasi Jabatan 1.Rapat Pimpinan Seluruh Pimpinan LKPP
2.Nota Dinas Pegawai
3.Website LKPP
4. Penyusunan Standar Kompetensi 1. Rapat Pembahasan Seluruh Pimpinan LKPP
Jabatan 2. Rapat rutin Pegawai
3. Nota Dinas LKPP
4. Sosialisasi
5. Asesmen Individu berdasarkan 1. Rapat Pimpinan Seluruh Pimpinan LKPP
kompetensi 2. Nota Dinas Pegawai
3. Website LKPP
6. Penerapan Sistem penilaian 1. Rapat Pimpinan Seluruh Pimpinan LKPP
kinerja individu 2. Nota Dinas Pegawai
3. Website LKPP
7. Pembangunan/pengembangan 1. Nota Dinas Bagian Pimpinan LKPP
basis data pegawai 2. Website Kepegawaian
3. Sistem Informasi LKPP
Bersama
8. Pengembangan pendidikan dan 1. Rapat Pimpinan Seluruh Pimpinan LKPP
pelatihan pegawai berbasis 2. Nota Dinas Pegawai
kompetensi 3. Website LKPP
F. PENGUATAN PENGAWASAN
1. Penerapan sistem Pengendalian 1. Konsultasi Seluruh Unit Pimpinan LKPP
Intern Pemerintah (SPIP) LKPP 2. Monitoring dan evaluasi Kerja LKPP
berkala
3. Rapat
4. Nota dinas
5. Edaran
6. Website
2. Peningkatan Peran Aparat 1. Rapat Pimpinan Seluruh Unit Pimpinan LKPP
Pengawasan Intern Pemerintah 2. Rapat rutin Kerja LKPP
(APIP) sebagai Quality Assurance 3. Nota Dinas
dan Consulting 4. Website
5. Sosialisasi
G. PENGUATAN AKUNTABILITAS KINERJA
1. Penguatan Akuntabilitas Kinerja 1. Konsultasi Seluruh Unit Pimpinan LKPP
Instansi Pemerintah 2. Monitoring dan evaluasi Kerja LKPP
berkala
3. Rapat rutin
4. Nota dinas
5. Edaran
2. Pengembangan sistem 1. Monitoring dan evaluasi Seluruh Unit Pimpinan LKPP

48
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

PROGRAM DAN KEGIATAN STRATEGI


NO. SASARAN KOMUNIKATOR
REFORMASI BIROKRASI KOMUNIKASI
manajemen kinerja organisasi berkala Kerja LKPP
2. Rapat rutin
3. Nota dinas
4. Edaran
5. Rapat Kerja
3. Penyusunan Indikator Kinerja 1. Rapat Pimpinan Seluruh Unit Pimpinan LKPP
Utama (IKU) LKPP 2. Rapat rutin Kerja LKPP
3. Nota Dinas
4. Website
5. Sosialisasi
H. PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK
1. Penerapan standar pelayanan 1. Rapat rutin Seluruh Unit Pimpinan LKPP
pada unit kerja LKPP 2. Nota Dinas Kerja LKPP
3. Website
4. Sosialisasi
5. Workshop
2. Partisipasi masyarakat dalam 1. Bimbingan Teknis Seluruh Pimpinan LKPP
penyelenggaraan pelayanan 2. Pendampingan Pemangku
publik 3. Nota Kerja sama Kepentingan
4. Website LKPP

2. Area Penataan Peraturan Perundang-undangan


Salah satu permasalahan yang dihadapi terkait dengan peraturan pengadaan
barang/jasa Pemerintah antara lain: belum ada kebijakan yang mendukung
tersusunnya RUU pengadaan; peraturan yang ada saat ini dinilai masih memiliki
kelemahan yang perlu diperbaiki, misalnya belum ada ketentuan mengenai sanksi;
masih adanya multitafsir terhadap beberapa ketentuan/pasal; peraturan
internasional yang berbeda sehingga tidak dapat menyesuaikan dengan peraturan
pengadaan barang/jasa pemerintah di Indonesia. Permasalahan lain yang dihadapi
terkait dengan penataan peraturan perundang-undangan pengadaan barang/jasa
Pemerintah adalah masih adanya duplikasi atau tumpang tindih, disharmonisasi dan
pertentangan peraturan yang dapat menimbulkan masalah dalam pelaksanaan
peraturan di lapangan. Contohnya masih ada ketentuan yang belum selaras dengan
UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, UU No. 20 Tahun 2008 tentang
Usaha Mikro Kecil dan Menengah dan UU No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah.

Untuk mengatasi masalah tersebut LKPP berupaya untuk meningkatkan strategi


koordinasi dengan instansi terkait, meningkatkan partisipasi stakeholder/masyarakat
dalam rangka harmonisasi peraturan pengadaan barang/jasa dengan peraturan lain.

49
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

Bentuk nyata dari koordinasi antara lain melalui rapat-rapat dinas, mengikutsertakan
personil dari instansi terkait sebagai anggota tim kegiatan. Selain koordinasi LKPP
berupaya meningkatkan sosialisasi dengan sasaran pemangku kepentingan serta
melaksanakan kajian pengadaan untuk mendapatkan masukan dalam rangka
perbaikan substansi pengadaan.

3. Area Penataan dan Penguatan Organisasi


Lingkup tugas dan fungsi LKPP sangat luas dan beragam, tidak hanya terkait
dengan perumusan kebijakan pengadaan barang/jasa Pemerintah tetapi juga terkait
dengan pengembangan electronic procurement, sumberdaya manusia pengadaan
serta pemberian advokasi dan bantuan hukum terkait dengan pengadaan. Sebagai
organisasi yang beroperasi pada lingkungan yang dinamis tentunya LKPP harus
melakukan perubahan seiring dengan tuntutan lingkungan internal dan eksternal.
Oleh karena itu perlu dilakukan telaahan terhadap tugas dan fungsi serta struktur
organisasi LKPP saat ini.

Berdasarkan hasil evaluasi kinerja organisasi dan hasil diagnosis organisasi,


diperoleh beberapa kesimpulan antara lain :
a. Visi dan Misi. Belum diketahui dengan pasti apakah seluruh pegawai LKPP
sudah memahami dan menghayati visi misi LKPP;
b. Kepemimpinan. Peran pemimpin belum memberikan hasil yang optimal terkait
dengan aspek penyampaian informasi maupun pengambilan keputusan;
c. Struktur organisasi. Masih terjadi kesenjangan struktur organisasi dalam
mencapai visi, misi, keserasian pembagian tugas serta tujuan dan sasaran
strategis.

Belum tercapainya mencapai visi dan misi lembaga antara lain dikarenakan : belum
tersedianya unit kerja yang mempunyai tugas dan fungsi sebagai pengawas internal;
serta belum tercantumnya fungsi penetapan kebijakan serta kewenangan
mengembangkan, merumuskan kebijakan pengadaan barang/jasa.

50
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

Ketiga faktor tersebut merupakan hambatan yang harus segera diperbaiki agar
tujuan reformasi birokrasi di LKPP dapat tercapai. Upaya yang dilakukan untuk
mengatasi hal tersebut LKPP melakukan sosialisasi dan internalisasi visi dan misi
lembaga kepada seluruh pegawai, diharapkan dengan memahami visi dan misi
lembaga maka seluruh tindakan dan kinerja pegawai akan mempercepat
pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Dalam rangka mengoptimalisasikan
unsur kepemimpinan dalam hal penyampaian informasi maupun pengambilan
keputusan oleh pimpinan kepada bawahan dilakukan melalui rapat dinas, coffee
morning dan pertemuan informal. Untuk mengatasi kesenjangan yang diakibatkan
belum memadainya struktur organisasi LKPP telah mengusulkan reorganisasi
kepada Menteri PAN dan RB untuk revisi Peraturan Presiden Nomor 106 tahun 2007
tentang LKPP dalam rangka mengakomodir pembentukan Inspektorat dan fungsi
penetapan serta kewenangan LKPP.

4. Area Penataan Tata Laksana


Saat ini dokumen standar pelayanan LKPP secara khusus belum disusun, namun
dalam melaksanakan pelayanan publik LKPP telah mengacu pada tahapan layanan
sebagaimana tercantum dalam dokumen SOP (Standar Operasional Prosedur) dan
Peraturan Kepala yang mengatur tentang layanan publik misalnya Perka No. 2 dan 3
Tahun 2010 tentang LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik). Dalam rangka
meningkatkan ketatalaksanaan LKPP berupaya untuk menggunakan semaksimal
mungkin teknologi informasi. Aplikasi untuk keperluan internal yang telah dibangun
saat ini antara lain Sistem Informasi Kepegawaian ( SIMPEG); Sistem Informasi
Monitoring Perencanaan Anggaran dan Keuangan (SIMPAK); Sistem Informasi
Perlengkapan dan Kerumahtanggaan (SIPAKRT). Aplikasi yang dipergunakan untuk
keperluan eksternal telah dikembangkan yaitu untuk Layanan Pengadaan Secara
Elektronik (LPSE), Sistem Aplikasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP), sistem
monitoring dan evaluasi secara online (monev online), Sistem katalog elektronik (e-
katalog), Sistem Informasi Jabatan Fungsional (SiJabfung), Sistem Pelatihan
(Simpel), Inaproc, Whistleblowing System (WBS). Namun sampai saat ini masih
ditemukan hambatan berupa belum optimalnya penggunaan portal internet antara
lain dikarenakan jaringan tidak berfungsi dengan baik serta keengganan pegawai

51
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

untuk menggunakan aplikasi. Upaya yang telah dilakukan LKPP melakukan


pelatihan penggunaan aplikasi, mewajibkan penggunaan aplikasi, sosialisasi dan
pendampingan penggunaan sistem informasi yang terintegrasi untuk seluruh
pengguna. Untuk didaerah terpencil keterbatasan jaringan pun merupakan kendala
yang tidak dapat dihindari, untuk mengatasi hal tersebut maka masih dilakukan
pelayanan dengan manual antara lain sarana surat dan telepon.

Adapun hambatan/masalah yang ditemui terkait Standar Operasional Prosedur


(SOP) antara lain SOP direvisi secara berulang dikarenakan peraturan yang
berubah, serta adanya ketidaksamaan persepsi pegawai dalam mendefinisikan
kegiatan. Untuk mengatasi hal tersebut maka dilakukan pembahasan berulang kali
dengan unit kerja terkait sebelum SOP disahkan.

5. Area Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur


Sebagai faktor yang sangat penting dalam organisasi, SDM LKPP secara kuantitas
belum mencukupi sesuai kebutuhan organisasi, masih banyak terjadi rangkap tugas.
Kuantitas Sumber Daya Manusia sampai saat ini merupakan kendala dalam
melaksanakan tugas dan fungsi LKPP. Upaya yang dilakukan LKPP untuk
memenuhi kebutuhan SDM mengusulkan kebutuhan SDM kepada Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi untuk mendapatkan
formasi pegawai serta melakukan rekrutmen pegawai non PNS.

Masalah lain yang dihadapi tidak adanya feedback dari hasil asesmen kompetensi
yang dilakukan Bagian Kepegawaian. Masih terdapat pegawai yang belum
memahami konsep dan bagaimana melaksanakan sistem penilaian sehingga perlu
sosialisasi lebih lanjut terkait sistem penilaian kinerja. Pengusulan pelaksanaan
pendidikan dan pelatihan masih didominasi berdasarkan kebutuhan yang bersifat
segera.

Sehubungan dengan ketidakhadiran pegawai khususnya yang tanpa keterangan dan


dalam rangka mendapatkan informasi yang akurat Bagian Kepegawaian selalu
meminta klarifikasi alasan ketidakhadiran, hal ini dilakukan karena dimungkinkan

52
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

pegawai yang bersangkutan lupa melakukan pencatatan kehadiran pada mesin


kehadiran (finger print). Setiap bulan dilakukan rekapitulasi kehadiran seluruh
pegawai yang dikelompokan per eselon II sebagai bahan pembinaan oleh atasan.

6. Area Penguatan Pengawasan


Keberhasilan pada area penguatan pengawasan strategis ini diukur melalui indikator
berupa Opini BPK atas laporan keuangan, hasil penilaian selama tahun 2011 sampai
dengan 2013 sebagaimana tabel berikut :

Tabel 15. Target dan Capaian Opini BPK atas Laporan Keuangan
Indikator Target Realisasi % Capaian
Satuan
Kinerja 2010 2011 2012 2010 2011 2012 2010 2011 2012
Opini BPK atas -- WTP WTP WTP WTP WTP WTP 100,0 100,0 100,0
Laporan
Keuangan

Meskipun laporan keuangan LKPP tahun 2010, 2011 dan 2012 mendapatkan
predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), sistem pengawasan di LKPP saat ini
masih belum ideal, salah satunya dikarenakan LKPP belum memiliki unit kerja yang
bertugas dan berfungsi sebagai pengawas internal untuk menjalankan fungsi check
and balance. Upaya yang dilakukan LKPP yaitu dengan membentuk tim ad hoc yang
berfungsi sebagai tim Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), serta
mengusulkan pembentukan inspektorat kepada Menteri PAN dan RB. Dalam
rangka menjaga kualitas pengawasan yang lebih akuntabel maka penyelenggaraan
kegiatan harus selalu melaksanakan SOP secara konsisten, merevisi SOP yang out
of date, serta melaksanakan rekomendasi atas temuan BPK.

7. Area Penguatan Akuntabilitas Kinerja


Transparansi dan akuntabilitas sangat terkait dengan ketersediaan indikator kinerja
yang jelas, hal ini dituangkan pada Indikator Kinerja Utama (Key Performance
Indicators – KPI) LKPP. Indikator Kinerja Utama LKPP telah disusun dan

53
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

dirumuskan serta dijadikan sebagai acuan dan komitmen dalam bentuk kontrak kerja
oleh para pejabat khususnya eselon I dan eselon II. Namun demikian pengukuran
kinerja belum didukung oleh mekanisme pengumpulan data kinerja yang memadai.
Evaluasi akuntabilitas LKPP dilaksanakan terhadap 5 (lima) komponen besar
manajemen kinerja, yang meliputi: Perencanaan Kinerja, Pengukuran Kinerja,
Pelaporan Kinerja, Pengelolaan Anggaran/Kegiatan, dan Capaian Sasaran/Kinerja
Organisasi, dengan rincian nilai setiap komponen pada tahun 2010-2013
sebagaimana disajikan pada Tabel 16 :

Tabel 16. Rincian Nilai Kinerja Akuntabilitas LKPP Tahun 2010-2013


Bobot
Aspek yang Dinilai 2010 2011 2012 2013
Nilai
Perencanaan Kinerja 35 8,25 18,14 18,17 20,70
Pengukuran Kinerja 20 10,67 11,24 11,24 11,44
Pelaporan Kinerja 15 6,38 8,38 8,57 8,76
Evaluasi Kinerja 10 0,25 4,86 5,24 6,06
Capaian Kinerja 20 8,8 9,87 12,63 11,14
NILAI HASIL EVALUASI 34,34 52,49 55,85 58,10
TINGKAT AKUNTABILITAS KINERJA C CC CC CC

Dari penilaian evaluasi akuntabilitas kinerja LKPP, diketahui bahwa kelemahan utama
pelaksanaan manajemen kinerja terletak pada komponen perencanaan, pengukuran
dan pelaporan kinerja.

Terhadap permasalahan tersebut, beberapa upaya yang telah dilakukan LKPP sebagai
langkah perbaikan antara lain :
1. Mereviu kembali sasaran strategis dan indikator kinerja utama yang berorientasi
hasil;
2. Menyusun rencana aksi dalam bentuk kegiatan yang berorientasi hasil,
memonitoring dan memanfaatkan rencana aksi tersebut;
3. Menyelaraskan dokumen Renstra dengan dokumen perencanaan Lembaga dan
RPJMN;
4. Menyusun indikator kinerja tujuan strategis;

54
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

5. Melakukan evaluasi secara berkala terhadap Renstra dan indikator kinerja; dan
6. Memanfaatkan hasil evaluasi untuk pengukuran kinerja pegawai dan mengukur
keberhasilan organisasi.

8. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik


LKPP sebagai instansi pemerintah salah satu fungsi yang harus dilaksanakan
adalah memberikan pelayanan pada pemangku kepentingan, namun pelayanan
yang diberikan sampai saat ini belum sepenuhnya memenuhi keinginan pemangku
kepentingan. Hambatan/masalah yang ditemui pada area ini, LKPP sampai saat ini
belum menyusun standar pelayanan sesuai dengan ketentuan. Untuk mengatasi hal
tersebut dan dalam rangka meningkatkan pelayanan publik LKPP telah menyusun
dan memberikan pelayanan kepada para pemangku kepentingan dengan
menerbitkan berbagai peraturan dalam rangka meningkatkan pelayanan publik
antara lain Standar pelayanan e-Procurement (ditetapkan Deputi), Peraturan Kepala
LKPP tentang Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID), Keputusan
Kepala LKPP tentang klasifikasi PPID, Pedoman pengelolaan informasi publik serta
Pedoman Tempat Uji Kompetensi, serta melakukan kerja sama yang diikat dengan
MoU antara lain dengan dengan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan serta Badan
Diklat terkait pelaksanaan pelatihan pengadaan barang/jasa di remote area.

9. Monitoring Dan Evaluasi


Monitoring dan evaluasi di delapan area perubahan dilakukan bersamaan dengan
evaluasi dan monitoring pelaksanaan kegiatan/kinerja dari unit kerja terkait.
Hambatan yang dihadapi dalam monitoring dan evaluasi antara lain dokumentasi di
unit kerja belum tertata dengan baik, dan kualitas pelaporan belum mendalam, serta
belum membahas akar permasalahan. Langkah yang dilakukan untuk mengatasi
hal tersebut diantaranya dengan menyusun pedoman pelaporan, sosialisasi dengan
mengundang narasumber.

55
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

10. Quick Wins I (Pelaksanaan Ujian Sertifikasi PBJP Berbasis Komputer di


Daerah)
Dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat/ pemangku kepentingan
(public trust building), LKPP melakukan peningkatan kualitas pelayanan yang
diberikan kepada pemangku kepentingan, antara lain dengan menyelenggarakan
ujian sertifikasi profesi pengadaan barang/jasa Pemerintah berbasis komputer
menggantikan ujian berbasis kertas. Ujian berbasis komputer dapat mempersingkat
waktu menjadi hanya 15 hari kerja, atau terjadi penghematan 31 hari. Adapun
hambatan/masalah yang ditemui pada pelaksanaan ujian berbasis komputer di
daerah adalah: infrastruktur laboratorium komputer yang di beberapa provinsi masih
dibawah standar spesifikasi yang ditetapkan LKPP; mengubah mindset yang semula
penggunaan kertas menjadi berbasis komputer; dan kurangnya promosi terhadap
pelaksanaan ujian berbasis komputer. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal
tersebut diantaranya dengan dengan sosialisasi dan kebijakan untuk mendorong
pelaksanaan sertifikasi dengan metode ujian berbasis komputer/laptop baik di
Jakarta maupun daerah serta pelaksanaan ujian berbasis komputer di bebarapa
daerah dibiayai dari anggaran LKPP.

11. Quick Wins II (Pengembangan Sistem Layanan Bimtek dan Advokasi


Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Yang Terintegrasi)
Tahun 2013, Direktorat Advokasi dan Penyelesaian Sanggah Wilayah I memberikan
layanan advokasi PBJP sebanyak 9.737 rekomendasi yang terdiri dari tatap muka,
surat dan email. Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada para pemangku
kepentingan terkait pemberian bimbingan teknis dan advokasi dikembangkan
aplikasi bimbingan teknis dan advokasi berbasis web yang terintegrasi. Namun
dalam pelaksanaannya masih ditemui hambatan berupa: penggunaan chatting sulit
dilakukan dikarenakan keterbatasan waktu, keterlambatan dalam menjawab email,
dashboard pengaduan tidak berfungsi dengan baik, sistem jaringan terkadang tidak
berfungsi. Untuk mengatasi hal tersebut ditempuh upaya dengan memperbanyak
kuantitas modem serta melakukan pengintegrasian sistem.

56
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

Kendala yang dihadapi dalam layanan advokasi pengadaan barang/jasa pemerintah


yaitu :
 Terbatasnya staf pelaksana yang bertugas untuk menjawab konsultasi dan
update database tanya jawab;
 Belum ada keserasian jawaban/rekomendasi/saran yang diberikan untuk
permasalahan yang sama;
 Banyak pertanyaan yang tidak substansial atau berada di luar lingkup
Perpres 54 Tahun 2010 j.o. Perpres 70 Tahun 2012 atau di luar wewenang
LKPP, sehingga LKPP tidak dapat memberikan rekomendasi yang sesuai
terkait hal tersebut.

Langkah-langkah yang telah dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut


antara lain :
 Menyempurnakan sistem database (Quick Win System) untuk konsultasi
pertanyaan pada website resmi LKPP dengan mencantumkan informasi
dan peraturan yang terkait kasus/ permasalahan yang dihadapi para pihak
secara up to date;
 Perlu dibentuk tim khusus yang bertugas untuk menjawab konsultasi tanya
jawab serta meng-update tanya jawab per wilayah, sehingga masing-
masing PIC wilayah bertanggungjawab terhadap kegiatan advokasi (tatap
muka, surat dan e-mail) di wilayahnya, tidak hanya fokus pada database
Direktorat Advokasi dan Penyelesaian Sanggah Wilayah I dan II, tapi juga
seluruh surat yang keluar dari Deputi Hukum dan Penyelesaian Sanggah.

57
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

BAB V
EVALUASI

A. Manajemen Perubahan

Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design
Reformasi Birokrasi 2010-2025 maupun Road Map Reformasi Birokrasi Nasional
2010-2014 terdapat 8 (delapan) area perubahan yang selanjutnya harus
diimplementasikan melalui 9 (sembilan) program. Salah satu dari program Reformasi
Birokrasi ini adalah Manajemen Perubahan. Manajemen Perubahan atau Change
Management adalah suatu proses yang sistematis dengan menerapkan
pengetahuan, sarana dan sumber daya yang diperlukan organisasi untuk bergeser
dari kondisi sekarang menuju kondisi yang diinginkan, yaitu menuju ke arah kinerja
yang lebih baik dan untuk mengelola kinerja organisasi yang akan terkena dampak
dari proses perubahan tersebut. Salah satu pemangku kepentingan utama adalah
Pegawai LKPP. Persepsi pegawai terhadap organisasi merupakan elemen penting
untuk membangun kinerja organisasi. Semua kebijakan, program dan kegiatan
dapat berjalan dengan baik bila persepsi pegawai terhadap organisasi juga
diperhatikan dan dikelola secara serius dan baik. SDM dan Visi merupakan
komponen penting dari proses manajemen perubahan, dan mempunyai peran
sangat penting untuk keberhasilan transformasi organisasi. Berdasarkan hasil self
assessment yang dilakukan oleh pegawai LKPP, tercatat 89% dari pegawai memiliki
pendapat positif terhadap visi LKPP dan tentang kemungkinan-kemungkinan yang
mungkin muncul sebagai hasil dari proses reformasi birokrasi. Hampir seluruh
pegawai memiliki persepsi positif terhadap perubahan secara umum, dan hampir
semua pegawai setuju dengan visi LKPP, dan mereka percaya bahwa visi ini akan
memberikan manfaat yang besar pada reformasi birokrasi yang dilakukan LKPP.
Namun masih terdapat pegawai (11%) yang belum memahami visi LKPP dan
mereka belum memahami tentang bagaimana proses reformasi birokrasi terkait
dengan visi organisasi, dan mereka belum yakin upaya apa yang akan dicapai
dalam proses reformasi. Kondisi ini harus dikelola karena walaupun persentase

58
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

cukup kecil namun akan dapat mengganggu proses perubahan yang dilakukan oleh
LKPP. Upaya yang dilakukan untuk mengelola hal tersebut dilakukan melalui
program sosialisasi baik berupa tatap muka ataupun melalui dokumen reformasi
birokrasi. Diharapkan dengan adanya pemahaman terhadap keterkaitan visi
lembaga dengan reformasi birokrasi yang sedang dilaksanakan LKPP, maka akan
terjadi perubahan budaya kerja yang signifikan pada seluruh pegawai LKPP,
sehingga memberikan dampak nyata yaitu terwujudnya pelaksanaan kinerja
organisasi LKPP yang akuntabel serta terwujudnya pelayanan publik yang cepat,
lebih baik dan lebih akurat.

B. Penataan Peraturan Perundang-Undangan

Dalam rangka harmonisasi peraturan pengadaan dengan peraturan lain telah


dilakukan proses harmonisasi antara Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 dan
perubahannya dengan Guidelines for procurement under Japanese ODA Loans
khususnya Schedule 4 Procurement Procedure untuk 7 proyek yang akan didanai
JICA yaitu: Railway Double Tracking on Java South Line Project (IV) (Kroya-Kutoarjo
Phase II), Jabodetabek Railway Capacity Enhancement Phase I, Rural Settlement
Infrastructure and Kabupaten Strategic Area Development ((RISE) II), Metropolitan
Sanitation Management Investment Program Engineering Services for Sewerage
System Development in DKI Jakarta, Urgent Disaster Reduction Project for Mount
Merapi and Lower Progo River Area II, Countermeasure for Sediment in Wonogiri
Multipurpose Dam Reservoir (II), and Professional Human Resource Development
(IV). Dokumen tersebut mencakup juga proses harmonisasi Standar Dokumen
Pengadaan Elektronik untuk Pekerjaan Konstruksi dan Barang dengan metode
pascakualifikasi antara aturan pengadaan Indonesia dan Bank Dunia. Dalam rangka
mengharmonisasikan perbedaan peraturan pengadaan barang/jasa Pemerintah
dengan peraturan internasional yang berbeda dilakukan proses negosiasi, antara
lain kerjasama perdagangan internasional yaitu antara Indonesia – EFTA
Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA) dan Indonesia – Korea
Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA), baik EFTA maupun
Indonesia saling bertukar pendapat mengenai aturan pengadaan dan kebijakan

59
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

terkini tentang pengadaan di masing-masing negara serta melihat kemungkinan-


kemungkinan kesepakatan yang mungkin dicapai tanpa melemahkan posisi
Indonesia yang sampai saat ini belum membuka akses pasar. Selain itu untuk
mendapatkan masukan terkait peraturan perundangan di bidang pengadaan
barang/jasa Pemerintah dilaksanakan sosialisasi, bimbingan teknis dan kajian.
Melalui sosialisasi, bimbingan teknis diperoleh masukan terkait permasalahan dan
subtansi pengadaan, yang dipergunakan untuk memperbaiki peraturan kebijakan
pengadaan sehingga lebih dapat dilaksanakan. Terkait dengan kajian yang
dilakukan LKPP, menghasilkan satu sistem yang disebut dengan dashboard iklim
usaha yang diperuntukkan bagi penyedia barang/jasa pemerintah untuk
meningkatkan kapasitas melalui vendor coaching. Manfaat lain dari sistem tersebut
adalah pemberian rating bagi penyedia barang/jasa pemerintah melalui vendor
rating dan pembuatan database yang disebut vendor directory. Sedangkan kajian
analisa dampak terhadap peraturan pengadaan barang/jasa pemerintah mencakup
beberapa fokus kajian seperti analisa dampak peraturan pengadaan barang/jasa
pemerintah terhadap keikutsertaan perusahaan asing, terhadap pengadaan yang
berkelanjutan (benchmarking pelaksaan pengadaan yang berkelanjutan bagi
Indonesia), terhadap sistem e-procurement (vendor management system dan
vendor rating), dan terhadap partisipasi usaha kecil dalam pengadaan barang/jasa
pemerintah. Hasil kajiannya antara lain adalah informasi mengenai keikutsertaan
perusahaan asing dalam bidang jasa konsultansi dan pekerjaan konstruksi,
mendapatkan acuan bagi implementasi pengadaan yang berkelanjutan di Indonesia,
menghasilkan business process bagi implementasi Vendor Management System,
menghasilkan desain awal dan kriteria untuk penilaian vendor rating, dan
mengetahui karakteristik pengadaan barang/jasa pemerintah di DKI Jakarta.

Dalam rangka harmonisasi peraturan terkait Kerjasama Pemerintah dengan Swasta


(KPS) telah dilaksanakan kajian pada tahun 2012. Dalam kajian tersebut
menghasilkan rekomendasi sektor potensial yaitu sektor pengelolaan persampahan
(infrastruktur) dan pelayanan rumah sakit (non infrastruktur). Untuk mendukung
penyusunan draft SDB tersebut, di tahun 2013 dilaksanakan kegiatan Kajian
Kerjasama Pemerintah Swasta dalam Pengelolaan Sampah. Kajian tersebut

60
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

dimaksudkan untuk memperdalam mengenai praktek KPS di bidang Pengelolaan


Sampah, yang kemudian akan ditindaklajuti dengan penyusunan Standard Bidding
Document (SBD) pemilihan mitra dalam rangka Kerjasama Pemerintah dengan
Swasta (KPS) untuk sektor infrastruktur pengelolaan sampah.

Dalam pelaksanaan penyusunan SBD KPS pengelolaan sampah ditemui hambatan


bahwa potensi kegiatan kerjasama pengelolaan sampah sangat luas, baik dari sisi
cakupan kegiatan maupun dari sisi skala wilayah. Dari sisi cakupan kegiatan, KPS
bisa dilakukan secara parsial pada kegiatan pengumpulan, pemilahan,
pengangkutan, pengolahan, pemanfaatan dan pengolahan akhir, atau secara
lengkap mulai dari kegiatan pengumpulan sampai dengan pengolahan akhir.
Sementara dari sisi skala wilayah, pengelolaan persampahan dapat dilakukan pada
skala lingkungan, kecamatan atau kota kecil, dan skala kota besar atau skala
regional. Luasnya potensi kegiatan KPS tersebut mengakibatkan banyaknya varian
bentuk kerjasama yang mungkin dilakukan. Setiap lingkup kerjasama dan penentuan
teknologi yang digunakan akan membutuhkan kualifikasi investor dan kualifkasi
teknis yang berbeda. Permasalahan lain terkait kewenangan penanganan KPS
pengelolaan sampah yang masih tersebar di beberapa Kementerian, Lembaga,
Pemerintah Daerah. Instansi yang memiliki kewenangan tersebut belum memiliki
koordinasi yang baik sehingga sulit dilakukan integrasi dan harmonisasi kebijakan
KPS pengelolaan sampah. Berdasarkan kondisi tersebut, penyusunan SBD ini baru
memberikan gambaran KPS pada lingkup pengelolaan sampah di Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) dan belum mengarahkan secara teknis dan terperinci
tentang kualifikasi investor dan kriteria teknis teknologi yang tepat guna dalam
rangka KPS pengelolaan sampah. Masih diperlukan kegiatan lanjutan untuk
menyempurnakan Model Dokumen Pengadaan (Standard Bidding Document) Badan
Usaha dalam rangka KPS Persampahan yang mulai dirancang pada tahun 2014
yaitu dengan fokus pada lingkup kegiatan Pengolahan Akhir Sampah di Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) Kota dalam skala menengah dan skala besar.

Pelaksanaan penyusunan SBD kerjasama operasional antara pemerintah dengan


badan usaha untuk penyediaan alat kesehatan di Rumah Sakit juga menghadapi

61
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

kendala bahwa potensi kerjasama yang teridentifikasi pada sektor pelayanan Rumah
Sakit sangat luas dan memiliki variasi yang banyak. Hal ini memerlukan penelitian
lebih lanjut untuk mengenali secara teknis dan terperinci masing-masing karakteristik
dan kriteria yang penting dipertimbangkan dalam penyusunan SBD sesuai lingkup
kerjasama. Selain itu, sulit didapatkannya data valid yang dapat diandalkan
mengenai kebutuhan peralatan kesehatan secara nasional, kemampuan pemerintah
dalam menyediakan sarana dan prasarana kesehatan, serta kapasitas
suplier/investor alat kesehatan. Berdasarkan kondisi tersebut, SBD penyediaan alat
kesehatan di Rumah Sakit baru disusun berdasarkan satu contoh alat spesifik yang
paling potensial untuk dikerjasamakan di Rumah Sakit dan belum didapatkan
gambaran kualifikasi teknis dan keuangan secara rinci.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh LKPP dalam harmonisasi/tidak terjadi
tumpang tindih/ tidak terjadi multitafsir peraturan pengadaan barang adalah dengan
melakukan pendampingan penyusunan regulasi PBJ di Perguruan Tinggi dan
BUMN. Adapun BUMN yang telah didampingi dalam menyusun regulasi/pedoman
pengadaan barang/jasanya di tahun 2013 adalah :
1. PT.BPD Bank Jatim – telah selesai 100%
2. PDAM Kabupaten Bogor (Pedoman KPS) – telah selesai 100%
3. PDAM Kota Bandung - telah selesai 100%.

Adapun proses pendampingan penyusunan regulasi pengadaan barang/jasa yang


masih berlangsung diantaranya adalah :
1. Perum Peruri
2. PDAM Kab. Bogor (Pedoman PBJ Umum).

C. Area Penataan dan Penguatan Organisasi

Berdasarkan hasil evaluasi kinerja, struktur organisasi LKPP mempunyai peran yang
cukup tinggi dalam mencapai tujuan organisasi, dengan nilai capaian indikator
penilaian sebesar 71.25%. Struktur organisasi dinilai dalam kesesuaiannya dengan:
Visi MIsi (25.80%); keserasian pembagaian tugas (23,15%); tujuan dan sasaran

62
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

strategis (22.31%%). Dari ketiga sub indikator tersebut capaian terendah adalah
kesesuaian struktur organisasi dengan tujuan dan sasaran strategis. Tujuan dan
sasaran strategis merupakan faktor yang sangat penting dalam mencapai visi misi
organisasi. Jika tujuan dan sasaran strategis belum dapat dicapai dengan maksimal
berarti visi dan misi yang ditetapkan belum dapat tercapai.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja organisasi adalah dengan melakukan
penyesuaian struktur organisasi dengan beban kerja organisasi, sehingga mampu
memberikan hasil terbaik untuk mencapai tujuan, sasaran straregis serta visi dan
misi organisasi. Kebutuhan penambahan tugas dan fungsi tersebut dilakukan
dengan merevisi tugas dan fungsi unit kerja yang ada dan/atau menambah tugas
dan fungsi baru dengan membentuk unit kerja baru. Mencermati struktur organisasi
LKPP saat ini dan membandingkan dengan kebutuhan organisasi dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya maka permasalahan yang dihadapi LKPP pada
saat ini terkait dengan tugas fungsi yaitu belum tersedia unit kerja yang mempuyai
tugas dan fungsi sebagai pengawas internal.

Sebagai lembaga yang mempunyai tugas sebagai lembaga kebijakan pengadaan


yang andal yaitu lembaga yang memiliki kualitas, kapabilitas atau kemampuan, serta
otoritas untuk mengembangkan dan menghasilkan berbagai kebijakan pengadaan
barang/jasa yang kredibel di Indonesia, LKPP secara internal dituntut untuk menjadi
lembaga yang kredibel, tranparan dan akuntabel. Salah satu cara yang dilakukan
untuk menjadi lembaga yang kredibel, tranparan dan akuntabel adalah perlunya
fungsi pengawasan internal di LKPP. Pengawasan internal pada dasarnya melekat
pada pemangku jabatan sesuai dengan tanggung jawab dan kewenangannya,
namun demikian masih diperlukan suatu pengawasan internal yang mempunyai
kemandirian dalam mengawasi pelaksanaan kinerja LKPP, dan bertanggung jawab
langsung kepada Kepala LKPP. Adanya keinginan untuk membentuk pengawasan
internal yang mandiri menunjukan adanya kemauan yang kuat dari jajaran pimpinan
LKPP untuk menjadi organisasi yang sehat dan selalu menuju iklim kerja yang lebih
baik. Disamping itu LKPP mempunyai target menjadi Lembaga Pemerintah dalam
pengelolaan keuangannya adalah Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), dengan

63
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

demikian perlu adanya pengawasan internal yang dapat memberikan pembinaan


maupun bimbingan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi. Untuk
mengoptimalkan pengawasan kinerja LKPP maka strategi perubahan yang
diusulkan adalah membentuk unit kerja pengawas internal (Inspektorat) setingkat
eselon II. Adapun sasaran yang hendak dicapai adalah terlaksananya pengawasan
yang mandiri mulai dari perencanaan kegiatan, mengawal rencana tindak lanjut
sampai evaluasi pelaporan, dengan obyek pengawasan administrasi, pengelolaan
keuangan serta kinerja aparatur. Upaya yang telah dilakukan adalah dengan
menyampaikan usulan reorganisasi LKPP kepada Menteri PAN dan RB, dan pada
prinsipnya telah disetujui oleh Menteri Pan dan RB melalui surat Nomor :
B/1929/M.PAN-RB/05/2013, saat ini masih menunggu tindak lanjut perubahan
Peraturan Presiden Nomor 106 Tahun 2007 tentang LKPP.

D. Area Penataan Tata Laksana


Dalam rangka meningkatkan ketatalaksanaan LKPP berupaya untuk menggunakan
semaksimal mungkin teknologi informasi. Pencapaian penggunaan teknologi
informasi untuk keperluan internal di LKPP antara lain: aplikasi Sistem Informasi
Kepegawaian( SIMPEG); Sistem Informasi Monitoring Perencanaan Anggaran dan
Keuangan (SIMPAK); Sistem Informasi Perlengkapan dan Kerumahtanggaan
(SIPAKRT). Pencapaian penggunaan teknologi informasi dalam pengadaan
barang/jasa antara lain: Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), Sistem
Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP), sistem monitoring dan evaluasi
secara online (monev online), sistem katalog elektronik (e-katalog). Fungsi utama
aplikasi tersebut antara lain adalah :
1. Dapat membantu pelaksanaan tugas supaya lebih cepat, efektif dan efisien;
2. Meningkatkan kualitas pelaksanaan program kerja atau kegiatan;
3. Mempermudah Pimpinan dalam monitoring dan evaluasi pelaksanaan tugas-tugas
oleh pegawai; dan
4. Mampu mewujudkan tertib administrasi dan tertib pengarsipan guna mendukung
pelaksanaan tugas-tugas ketatalaksanaan.

64
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

LKPP sampai dengan tahun 2013 telah memfasilitasi pembentukan 602 LPSE,
dengan instansi yang terfasilitasi sejumlah 731 instansi. Pada tahun 2013 jumlah
paket yang dilelang telah mencapai 132.160 paket dengan nilai kontrak sebesar Rp
250 triliun. Penggunakaan aplikasi untuk pengadaan barang/jasa menjamin adanya
transparansi dan akuntabilitas dalam mekanisme pengadaan barang dan jasa bagi
seluruh masyarakat, bahkan pemerintah telah mencanangkan tekad tersebut melalui
Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2013 yang berisi antara lain mewajibkan
Kementerian/Lembaga/Dearah menayangkan pengadaan barang dan jasa melalui
LPSE sejumlah 100 %. Untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik
dikembangkan pula Sistem Aplikasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP). Sistem
ini memungkinkan transparansi dan partisipasi yang luas bagi pelaku usaha dan
masyarakat sesuai dengan kapasitas dan peran masing-masing pihak. Instansi
pemerintah yang telah menayangkan rencana umum pengadaan sebanyak 432
instansi (68,68%) dari 629 instansi. Permasalahan yang dihadapi adalah belum
seluruh Kementerian/Lembaga/Daerah (K/L/D) mendapatkan informasi yang lengkap
tentang aplikasi ini, Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) belum disahkan
sehingga daerah belum menginput dalam SiRUP. Upaya yang dilakukan melakukan
sosialisasi pada K/L/D yang belum menggunakan aplikasi tersebut. Sebagai salah
satu fungsi manajemen maka kegiatan monitoring dan evaluasi merupakan kegiatan
yang wajib dilakukan untuk mendapatkan masukan demi perbaikan kegiatan yang
akan datang. LKPP saat ini telah mengembangkan aplikasi sistem monitoring dan
evaluasi pengadaan barang/jasa secara online (monev online), sehingga proses
monitoring dan evaluasi dapat dilakukan dengan lebih mudah, efisien, cepat, dan
data serta informasi yang didapat lebih akurat. Instansi pemerintah yang telah
memanfaatkan monev online sebanyak 190 instansi. Permasalahan yang dihadapi
dari penggunaan aplikasi ini belum seluruh K/L/D yang memanfaatkan aplikasi
tersebut, hal ini dikarenakan sistem monev tersebut belum terintegrasi sepenuhnya
dengan sistem yang dikembangkan oleh Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan
dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), sehingga personil harus menginput dua
kali data/informasi yang sama, hal ini menimbulkan keengganan. Untuk mengatsi hal
tersebut LKPP telah melakukan koordinasi dengan UKP4 dan disepakati untuk untuk
mengembangkan aplikasi yang terintegrasi sehingga personil hanya memerlukan

65
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

satu kali input. Aplikasi tersebut saat ini dalam proses pengembangan. Selain itu
dilakukan pula sosialisasi pada seluruh K/L/D untuk menggunakan aplikasi monev
online. Faktor yang sangat berpengaruh pada penggunaan aplikasi-aplikasi tersebut
adalah adanya komitmen dari pimpinan K/L/D, adanya dukungan para pimpinan
akan mempercepat pemanfaatan dari aplikasi tersebut. Salah satu aplikasi yang
dikembangkan LKPP saat ini adalah Sistem katalog elektronik (e-katalog) dalam
pengadaan barang/jasa, sistem ini akan mempercepat proses pengadaan
barang/jasa dan memungkinkan pembelian langsung melalui website e-katalog
LKPP, barang yang telah tercantum dalam katalog dapat langsung dipesan oleh
pengguna tanpa melalui proses lelang. Dengan cara ini biaya transaksi/administrasi
jauh lebih murah dan proses penyerapan anggaran juga lebih cepat. Harga yang
tercantum di katalog dijamin lebih murah dibandingkan derngan harga di pasaran.
Jumlah barang dalam e-katalog saat ini sebanyak 5.700 jenis dari 9 kategori (obat,
alat kesehatan, Polypropylene sheet, mesin pertanian, hot-mix, ready-mix,
kendaraan, internet servise provider, peralatan berat). Perluasan sistem ini terus
berlanjut dan saat ini dalam proses prioritas obat dan alat kesehatan, khususnya
dalam rangka mendukung program BPJS kesehatan. Permasalahan yang dihadapi
dalam pelaksanaan e-katalog adalah kurangnya data/informasi terkait harga yang
wajar dan jumlah kebutuhan pemerintah terhadap barang/jasa dari jenis barang/jasa
akan dimasukkan dalam katalog. Perlu adanya dukungan dari instansi terkait untuk
membantu memberikan data/informasi yang diperlukan dalam rangka mempercepat
proses penayangan dalam katalog. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal
tersebut adalah meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait serta aktif mencari
data/informasi dari berbagai pihak. Dari uraian di atas maka pengembangan aplikasi
di LKPP sudah cukup banyak namun secara umum kendala yang ada adalah belum
memadainya komitmen pimpinan K/L/D untuk memanfaatkan aplikasi tersebut.

Terkait dengan pelaksanaan kegiatan maka hal yang penting dilakukan adalah
melakukan penilaian atau evaluasi (monitoring evaluasi) kesesuaian antara
pelaksanaan kegiatan dengan SOP. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui
keefektivitasan SOP dalam mendukung pelaksanaan kegiatan. Bilamana
berdasarkan hasil evaluasi tersebut menunjukan ketidakefektifan, maka perlu

66
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

ditinjau kembali alur pelaksanaan kegiatan tersebut yang berarti SOP tersebut perlu
direvisi atau disusun SOP baru. LKPP telah melakukan evaluasi SOP internal pada
tahun 2012 dan tahun 2013 dilakukan terhadap 210 kegiatan. Monitoring evaluasi
SOP yang dilakukan mencakup 4 (empat) aspek yaitu: (1) kelengkapan proses; (2)
peralatan; (3) waktu; dan (4) output. Kategori penilaian hasil monitoring evaluasi
SOP dikelompokkan dalam 5 (lima) kategori yaitu: sangat kurang, kurang, cukup,
baik, dan sangat baik. Sebagai tindak lanjut dari hasil monitoring tersebut maka
perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap SOP dengan kategori kurang/sangat
kurang untuk direvisi/dihapus/disusun SOP baru.

E. Area Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur

Permasalahan utama SDM di LKPP adalah jumlah SDM PNS yang tidak memadai
dengan kebutuhan organisasi sehingga sangat mempengaruhi capaian output kegiatan,
Sampai dengan tahun 2013 Jumlah PNS LKPP baru dapat terpenuhi sebanyak 36,8
persen (150 orang) dari total kebutuhan sebanyak 408 PNS. Untuk mengatasi hal
tersebut LKPP sampai dengan tahun 2014 masih menggunakan pegawai non PNS.
Untuk mengetahui kesesuaian antara pemangku jabatan dan standar kompetensi
jabatan, antara lain dengan melakukan asesmen individu berdasarkan kompetensi
yang dibutuhkan dalam jabatan. Hal ini bertujuan untuk memperoleh peta profil
individu/pegawai LKPP, yang kemudian dapat digunakan untuk berbagai keperluan
dalam pengembangan SDM. Pada tahun 2013 dilaksanakan 1 (satu) kali asesmen
individu berdasarkan kompetensi untuk jabatan eselon IV terhadap 11 (sebelas) PNS.
Dalam rangka peningkatan kompetensi pegawai, LKPP telah melakukan feedback dari
hasil asesmen kompetensi yang dilakukan Bagian Kepegawaian.

Dalam rangka meningkatkan kompetensi pegawai dilakukan melalui pendidikan dan


pelatihan. Setiap PNS memiliki kewajiban untuk meningkatkan kemampuannya melalui
sistem pendidikan dan pelatihan untuk mencapai level kompetensi pegawai yang
dipersyaratkan sesuai jabatannya. Pengusulan pelaksanaan diklat masih didominasi
berdasarkan kebutuhan yang bersifat segera, dalam pelaksanaannya diklat dilakukan
berdasarkan kebutuhan namun tetap memperhatikan training need analysis. Mulai

67
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

tahun 2010 sampai dengan saat ini PNS LKPP diikutsertakan diklat antara lain : diklat
Pimpinan, diklat Prajabatan, diklat teknis dalam negeri, dan diklat teknis di luar negeri.
Sampai saat ini terdapat pegawai yang belum memahami konsep dan bagaimana
melaksanakan sistem penilaian sehingga masih perlu dilakukan sosialisasi pengenalan
sistem penilaian kinerja, diharapkan dengan meningkatnya pemahaman terhadap
sistem penilaian kinerja akan meningkatkan kinerja pegawai yang selanjutnya
berdampak pada peningkatan kinerja organisasi.

Permasalahan SDM lainnya adalah terkait ketidakhadiran pegawai, hal ini merupakan
salah satu informasi yang dapat dipergunakan oleh atasan untuk mengetahui kondisi
dari pegawai yang bersangkutan. Selanjutnya dilakukan pembinaan sebagai salah satu
pelaksanaan fungsi pengawasan.

F. Area Penguatan Pengawasan

LKPP memperoleh Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) dalam tiga tahun berturut-turut yaitu tahun 2010, 2011, dan 2012. Hal
tersebut merupakan hasil dari komitmen LKPP untuk menghasilkan pelaporan
berkualitas yang dilaksanakan secara tertib, bertanggungjawab, transparan, sesuai
peraturan perundang-undangan, dan efektivitas sistem pengendalian intern.

G. Peningkatan akuntabilitas kinerja

Perbaikan governance dan sistem manajemen merupakan agenda penting dalam


reformasi pemerintahan yang sedang dijalankan oleh pemerintah. Sistem manajemen
pemerintahan yang berfokus pada peningkatan akuntabilitas dan sekaligus peningkatan
kinerja yang berorientasi pada hasil (outcome) dikenal sebagai Sistem Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah (Sistem AKIP).

Penilaian atas pelaksanaan kinerja ditetapkan berdasarkan sasaran strategis yang


akan dicapai, selanjutnya sasaran strategis tersebut diukur dengan mengaplikasikan
Indikator Kinerja Utama Lembaga. Lebih lanjut penilaian atas pelaksanaan kinerja

68
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

Lembaga merupakan akumulasi dari capaian yang diperoleh unit kerja eselon I,
sehingga capaian kinerja eselon I akan sangat mempengaruhi capaian lembaga.
Kualitas LAKIP Eselon I belum memadai serta masih terdapat rumusan Indikator
Kinerja Utama yang tidak memenuhi kriteria SMART, hal tersebut merupakan salah
satu faktor yang menyebabkan hasil penilaian kinerja akuntabilitas LKPP belum sesuai
dengan target yaitu B setara dengan nilai diatas 65 - 75. Hasil penilaian kinerja
akuntabilitas LKPP dari tahun 2010 hingga tahun 2013 menunjukkan peningkatan dari
nilai sebesar 34,34 dengan predikat C, pada tahun 2010 menjadi 58,10 dengan
predikat CC pada tahun 2013, dengan rincian nilai setiap tahunnya sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Nilai Kinerja Akuntabilitas LKPP Tahun 2010-2013

Nilai Kinerja Akuntabilitas LKPP Tahun 2010-2013


58.10
55.85
52.49
60

50
34.34
40

30

20

10

0
2010 2011 2012 2013

H. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik

Sampai saat ini LKPP belum memiliki standar pelayanan secara menyeluruh, namun
dalam memberikan pelayanan kepada pemangku kepentingan LKPP telah berupaya
untuk memberikan pelayanan secara maksimal. Dalam rangka meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat, LKPP telah menyusun beberapa pedoman antara lain
Standar pelayanan e-Procurement (ditetapkan Deputi), Peraturan Kepala LKPP tentang
PPID, Keputusan Kepala LKPP tentang klasifikasi PPID, Pedoman pengelolaan
informasi public serta Pedoman Tempat Uji Kompetensi. Disamping itu LKPP telah
melakukan kerja sama yang diikat dengan MoU antara lain dengan dengan LLP dan
Badiklat terkait pelaksanaan pelatihan PBJ di remote area.

69
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

Untuk mengetahui kualitas kinerja pelayanan publik diperlukan adanya penilaian


terhadap kinerja pelayanan yang berbasis pada pendapat masyarakat, salah satunya
melalui Survei Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM). Kegiatan survei kepuasan
masyarakat dilaksanakan secara berkesinambungan, dengan maksud agar dapat
diketahui perkembangan nilai IKM unit pelayanan publik dari tahun ke tahun.

LKPP telah melaksanakan survei IKM pada tahun 2012 terhadap 9 (sembilan) unit
pelayanan internal LKPP dengan nilai IKM masing-masing sebesar 77,68. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa pendapat masyarakat terhadap pelayanan publik bidang
pengadaan barang/jasa dikategorikan Baik.

Survei IKM Tahun 2013 merupakan survei kedua dengan nilai 77,58, hal ini
menunjukkan komitmen LKPP untuk mewujudkan pelayanan prima berdasarkan
kepuasan masyarakat dan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi terhadap unsur
pelayanan yang masih memerlukan perbaikan dan sekaligus berfungsi sebagai
pendorong bagi unit pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

Dalam pemberian pelayanan kepada publik, LKPP memperoleh penghargaan dari


Ombudsman Republik Indonesia terhadap kepatuhan lembaga dalam melaksanakan
Undang-undang Nomor 25 tentang Pelayanan Publik, penilaian pelayanan publik di
LKPP mendapat nilai konversi 910 dari total 1000 ranking 4 (empat) zona hijau.

I. Area Quick Wins I (Pelaksanaan Ujian Sertifikasi PBJP Berbasis Komputer


di Daerah)

Ujian berbasis komputer dapat mempersingkat waktu menjadi hanya 15 hari kerja,
atau terjadi penghematan 31 hari. Adapun hambatan/masalah yang ditemui pada
pelaksanaan ujian berbasis komputer di daerah adalah : sarana dan prasarana
kurang memadai; mengubah mindset yang semula penggunaan kertas menjadi
berbasis komputer; dan kurangnya promosi terhadap pelaksanaan ujian berbasis
komputer. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut di antaranya
dengan sosialisasi dan kebijakan untuk mendorong pelaksanaan sertifikasi dengan

70
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

metode ujian berbasis komputer/laptop baik di Jakarta maupun daerah. Manfaat dari
pelaksanaan ujian berbasis komputer tidak hanya dari sisi kecepatan waktu
evaluasi, di mana hasil ujian langsung diketahui saat selesai ujian, dan dapat
mengurangi kecurangan dalam pelaksanaan ujian.

J. Area Quick Wins II (Pengembangan Sistem Layanan Bimtek dan


Advokasi Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Yang Terintegrasi)

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada para pemangku kepentingan salah


satu prioritas layanan LKPP adalah layanan bimbingan teknis dan advokasi
pengadaan barang/jasa Pemerintah yang terintegrasi. Namun dalam
pelaksanaannya masih ditemui hambatan berupa : penggunaan chatting sulit
dilakukan dikarenakan keterbatasan waktu, keterlambatan dalam menjawab e-mail,
dashboard pengaduan tidak berfungsi dengan baik, serta sistem jaringan terkadang
tidak berfungsi. Untuk mengatasi hal tersebut ditempuh upaya dengan
memperbanyak kuantitas modem serta melakukan pengintegrasian sistem.

Berdasarkan data, trend advokasi PBJP melalui tatap muka, surat, dan e-mail
cenderung mengalami penurunan. Salah satu faktor penyebab turunnya trend
advokasi PBJP dikarenakan telah terbentuknya aplikasi bimbingan teknis dan
advokasi berbasis web yang cukup mudah dan cepat pengoperasiannya sehingga
proses pemberian bimbingan teknis dan advokasi PBJP bisa segera dilakukan
dengan cara pemangku kepentingan dapat mencari langsung solusi permasalahan
melalui database yang telah tersedia. Pelayanan ini sangat menguntungkan bagi
pemangku kepentingan dan pihak LKPP, karena dapat menghemat waktu dan
menghilangkan jarak geografis. Saat ini LKPP masih menyempurnakan sistem
database (Quick Win System) untuk konsultasi pertanyaan pada website resmi
LKPP dengan mencantumkan informasi dan peraturan yang terkait kasus/
permasalahan yang dihadapi para pihak secara up to date.

71
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

Dampak Reformasi Birokrasi

Dampak yang diperoleh dari reformasi birokrasi yang dilaksanakan LKPP dapat
dibagi dua, yaitu dampak terhadap lingkungan eksternal dan dampak internal.

Dampak terhadap lingkungan eksternal : 1) LKPP sebagai lembaga yang diberi


amanat untuk menyusun kebijakan dalam pengadaan barang/jasa Pemerintah
melalui pelaksanaan reformasi birokrasi memberikan dampak terciptanya dunia
pengadaan yang akuntabel, tidak diskriminatif, bersaing, efektif, transparan dan
terbuka, serta efisien; dan 2) terwujudnya pengadaan barang/jasa yang jelas,
kondusif dan komprehensif, dunia usaha di Indonesia lebih berkembang,
mendukung kesempatan usaha dan melindungi dunia usaha dalam negeri.

Dampak internal : 1) terwujudnya pegawai LKPP yang kompeten; 2) meningkatnya


kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan keuangan di LKPP; dan 3)
meningkatnya kepercayaan publik terhadap kinerja LKPP.

72
PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI LKPP 2014

BAB VI
PENUTUP

Hasil dari pelaksanaan Reformasi Birokrasi LKPP tahun 2010-2014 ini untuk
menyusun rekomendasi bagi pelaksanaan reformasi birokrasi yang akan
dilaksanakan pada periode 2015-2019.

Demikian laporan ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Dibuat di Jakarta
Pada tanggal Februari 2014
Kepala Lembaga Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah

Agus Rahardjo

73