Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN HIV / AIDS PADA ANAK

DENGAN DERMATITIS
Dosen Pengampu : Sri Widiyati, SKM, MKes

Disusun oleh :
Kelompok 7
1. Nur Idatun Khofifatun Nafilah (P1337420618013)
2. Emanuelin Petri Purbandaru (P1337420618016)
3. Nana Rosiana (P1337420618021)
4. Arini Ayu Meillina (P1337420618066)
5. Cecilia Yanasari Sinaga (P1337420618046)
6. Septia Dwi Arima Riza (P1337420618028)
7. Tri Wibowo (P1337420618061)

JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN SEMARANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik
dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Asuhan
Keperawatan HIV/AIDS pada Anak dengan Dermatitis ini guna memenuhi tugas mata kuliah
Keperawatan HIV/AIDS yang diampu oleh Ibu Sri Widiyati, SKM, MKes.

Harapan kami semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi pembaca.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh kerena itu, kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini, sehingga kami dapat
memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini dengan harapan kedepannya dapat lebih baik.

Semarang, 15 Februari 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................................................................i
BAB I pendahuluan...................................................................................................................................1
Latar Belakang.......................................................................................................................................1
Rumusan Masalah..................................................................................................................................2
Tujuan....................................................................................................................................................3
BAB II Pembahasan...................................................................................................................................4
Definisi HIV/AIDS................................................................................................................................4
Dermatitis Atopik...................................................................................................................................4
Etiologi...................................................................................................................................................6
Manifestasi Klinis..................................................................................................................................7
Patofisiologi Dermatitis Atopik.............................................................................................................8
Penatalalsanaan Dermatitis Atopik........................................................................................................8
Komplikasi Dermatitis Atopik...............................................................................................................8
Prognosis dermatitis atopik....................................................................................................................9
Pemeriksaan Penunjang Dermatitis Atopik...........................................................................................9
Asuhan Keperawatan HIV/AIDS pada Anak dengan Dermatitis Atopik...........................................10
BAB III Penutup .....................................................................................................................................15
Kesimpulan..........................................................................................................................................15
Saran.....................................................................................................................................................15
Daftar Pustaka..........................................................................................................................................iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infeksi HIV/AIDS ( Human immuno Deficiency Virus / Acquired Immune
Deficiency Syndrom ) pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1981 pada
orang dewasa homoseksual, sedangkan pada anak tahun 1983. Enam tahun kemudian
(1989), AIDS sudah termasuk penyakit yang mengancam anak di Amerika. Di seluruh
dunia, AIDS menyebabkan kematian pada lebih dari 8000 orang setiap hari saat ini,
yang berarti 1 orang setiap 10 detik, karena itu infeksi HIV dianggap sebagai penyebab
kematian tertinggi akibat satu jenis agen infeksius.
AIDS pada anak pertama kali dilaporkan oleh Oleske, Rubbinstein dan Amman
pada tahun 1983 di Amerika Serikat. Sejak itu laporan jumlah AIDS pada anak di
Amerika makin lama makin meningkat. Pada bulan Desember di Amerika dilaporkan
1995 maupun pada anak yang berumur kurang dari 13 tahun menderita HIV dan pada
bulan Maret 1993 terdapat 4480 kasus. Jumlah ini merupakan 1,5 % dan seluruh jumlah
kasus AIDS yang dilaporkan di Amerika. Di Eropa sampai tahun 1988 terdapat 356
anak dengan AIDS. Kasus infeksi HIV terbanyak pada orang dewasa maupun pada anak-
anak tertinggi didunia adalah di Afrika.
Sejak dimulainya epidemi HIV/ AIDS, telah mematikan lebih dan 25 juta orang,
lebih dan 14 juta anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya karena AIDS.
Setiap tahun juga diperkirakan 3 juta orang meninggal karena AIDS, 500 000 diantaranya
adalah anak usia dibawah 15 tahun. Setiap tahun pula terjadi infeksi baru pada 5 juta
orang terutama di negara terbelakang atau berkembang, dengan angka transmisi sebesar
ini maka dari 37,8 juta orang pengidap infeksi HIV/AIDS pada tahun 2005, terdapat 2,1
juta anak- anak dibawah 15 tahun (WHO,1999).

Dermatitis berasal dari kata derm/o- (kulit) dan –itis (radang/inflmasi), sehingga
dermatitis dapat diterjemahkan sebagai suatu keadaan dimana kulit mengalami inflamasi.
Klasifikasi dermatitis saat ini masih beragam. Hal tersebut diakibatkan oleh penentuan
etiologi dalam dermatitis belum cukup jelas. Berdasarkan sumber agen penyebab

1
dermatitis dibagi menjadi dua yaitu dermatitis eksogen dan dermatitis endogen. Namun
makalah ini akan menjelaskan beberapa jenis dermatitis diantaranya dermatitis kontak,
dermatitis seboroik dan dermatitis atopik. Dermatitis kontak merupakan inflamasi non
infeksi kulit yang diakibatkan oleh senyawa yang mengalami kontak dengan kulit tersebut.
Ciri umum dari dermatitis kontak ini adalah adanya eritema (kemerahan), edema
(bengkak), papul (tonjolan padat diameter < 5mm), vesikel (tonjolan berisi cairan
diameter < 5mm), crust/krusta.
Beberapa ahli menggunakan kata ekzema untuk menjelaskan inflamasi yang
dicetuskan dari dalam pada kulit. Prevalensi dari semua bentuk ekzema adalah 4,66%,
termasuk dermatitis atopik 0,69%, eczema numular 0,17%, dan dermatitis seboroik 2,32%
yang menyerang 2% hingga 5% dari penduduk.Seborrhea biasa disebut dengan Dermatitis
seboroik (DS) atau Seborrheic eczema merupakan penyakit yang umum, kronik, dan
merupakan inflamasi superfisial dari kulit, ditandai oleh pruritus, berminyak, bercak
merah dengan berbagai ukuran dan bentuk yang menutup daerah inflamasi pada kulit
kepala, muka, dan telinga. Daerah lain yang jarang terkena, seperti daerah presternal dada.
Beberapa tahun ini telah didapatkan data bahwa sekurang–kurangnya 50% pasien HIV
terkena dematitis seboroik. Ketombe berhubungan juga dermatitis seboroik, tetapi tidak
separah dermatitis seboroik. Ada juga yang menganggap dermatitis seboroik sama dengan
ketombe

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari HIV / AIDS?
2. Apa yang dimaksud dengan Dermatitis Atopik pada anak ?
3. Bagaimana etiologi?
4. Bagaimana Manifestasi klinis dari dermatitis atopik?
5. Bagaimana patofisiologi dari dermatitis atopik pada anak ?
6. Apa saja penatalaksanaan medis yang bisa dilakukan pada dermatitis atopik?
7. Apakah komplikasi yang dapat terjadi pada dermatitis atopik?
8. Bagaimanakah prognosis pasien dengan dermatitis atopik?
9. Bagaimanakah pemeriksaan penunjang dermatitis atopik?
10. Bagaimana Asuhan Keperawatan HIV/AIDS pada anak dengan dermatitis atopik ?

2
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari HIV / AIDS.
2. Untuk mengetahui apa itu dermatitis atopik pada anak.
3. Untuk mengetahui etiologi
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis dermatitis atopik
5. Untuk mengetahui patofisiologi dari dermatitis atopik pada anak.
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan dermatitis atopik
7. Untuk mengetahui komplikasi dermatitis atopik
8. Untuk mengetahui prognosis dermatitos atopik
9. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dermatitis atopik
10. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan HIV/AIDS yang bisa diberikan pada anak
yang menderita dermatitis atopic

3
BAB II

PEMBAHASAN
A. Definisi HIV/AIDS
Virus Human immunodeficiency virus (HIV) adalah retrovirus yang termasuk
dalam family lentivirus. Retrovirus mempunyai kemampuan menggunakan RNA dan
DNA penjamu untuk membentuk virus DNA dan dikenali selama periode inkubasi yang
panjang, utamanya menyebabkan munculnya tanda dan gejala AIDS. (Nursalam &
Kurniati, 2008).
Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) merupakan salah satu penyakit
yang disebabkan oleh HIV, ditandai dengan adanya kegagalan progresif system imun.
Kerusakan progresif pada system kekebalan tubuh menyebabkan orang dengan
HIV/AIDS (ODHA) sangat rentan terserang berbagai penyakit. Serangan penyakit yang
biasanya tidak terlalu berbahaya lama kelamaan akan menyababkan pasien sakit parah
bahkan meninggal (Rendi & Margareth, 2012).
Insiden infeksi HIV saat ini pada bayi adalah 612 per 100.000, dan hamper 2000
kasus baru infeksi HIV dilaporkan pada tahun 2008 diantara remaja berusia 13 hingga 19
tahun.
Bayi terutama terinfeksi melalui ibu mereka, sedangkan remaja, terutama tertular
infeksi HIV melalui aktivitas seksual atau penggunaan obat IV.

B. Dermatitis Atopik
Dermatitis atopik merupakan gangguan kronis dengan karakteristik kambuhan
dan remiten, yang ditandai dengan gatal dan inflamasi ekstrem, kemerahan, dan kulit
yang membengkak. Dermatitis aktopik adalah gangguan radang kulit yang ditandai
dengan eritema, edema, gatal berat, eksudasi, pengerasan kulit dan sisik. Pada stadium
akut, ada vesikula (spongiosis) lateraepidermal. Tampak ada kecenderungan yang
ditentukan secara genetic. Selanjutnya bayi dengan dermatitis aktopik cenderung akan
mengalami rhinitis alergika dan asma. Gatal kronis yang berkaitan dengan dermatitis

4
atopic menyebabkan distress psikologis yang sangat besar, dan citra diri anak dapat
terpengaruhi. Kesulitan tidur dapat terjadi karena gatal tersebut.
Kenaikan kadar IgE pada dermatitis atopik mungkin akibat defisiensi IgE
spesifik-isotip fungsi sel-T “supresor”. Gangguan imunitas seluler pada beberapa
penderita dengan dermatitis atopik ditunjukkan oleh (1) tidak adanya reaksi
hipersensitivitas lambat pada uji kulit intradermal dengan antigen tertentu, (2)
ketidakmampuan untuk disensitisasi dengan sensitizer kontak yang kuat, (3) respons
proliferative limfosit terhadap mitogen seperti fitohemaglutinin menghilang dan (4)
defek, sifat fagositik dan kemotaksis monosit dan neutrophil, yang bervariasi.
Kulit dermatitis atopik hiper-reaktif berbeda dengan kulit normal dalam
responsnya terhadap berbagai rangsangan fisik dan farmakologis. Misalnya, pukulan
mekanik ringan dan 1 menit menimbulkan garis putih dengan area pucat di sekelilingnya.
Fenomena (“dermografisme putih”) ini tidak ditemukan pada kulit normal, yang menjadi
merah. Kulit yang terlibat mempunyai angka pendinginan dan pemanasan abnormal
dalam responsnya terhadap suhu, terutama di bagian-bagian yang dapat difleksikan.
Respons paradoks terjadi pada suntikan berbagai agen farmakologis, seperti histamin,
asetilkolin (pemucatan bukannya eritema) dan ester asam nikotinat. Respons adrenergic
dari limfosit dan granulosit yang menurun pada dermatitis atopic, memberi kesan bahwa
ketidakseimbangan autonomy mungkin merupakan dasar kelainan pada kulit. Kelainan
reaktivitas kulit mempunyai pasangan hiper-reaktivitas jalan nafas asma. Pada kedua
gangguan, hiper-reaktivitas demikian agaknya intrinsic pada penyakit yang
memungkinkan. Sebagian berhubungan dengan respons imun fase lambat. Disamping
sifat-sifat genetic dan atopiknya, eksem juga ditandai dengan kelainan metabolisme asam
lemak esensial local, aktivitas fosfodiesterase terganggu, disregulasi sistem otonom kulit,
infeksi kulit sekunder (staphylococcus aureus, molluscum) hiperiritabilitas kulit, dan
eksaserbasi oleh stress.
Dermatitis atopik (ekzema atopik atau infantil) merupakan respons inflamatorik
kronis atau rekuren yang umumnya berkaitan dengan penyakit atopik lain, misalnya asma
bronkial dan rinitis alergik. Dermatitis atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan
residif, disertai gatal, yang berhubungan dengan atopi, yaitu sekelompok penyakit pada

5
individu yang mempunyai riwayat kepekaan dalam keluarganya, misal: asma bronkial,
rinitis alergika, konjungtivitis alergika. (Djuanda,2002)
Dermatitis Atopik (DA) adalah inflamasi kulit dengan etiologi yang belum
diketahui, berhubungan dengan keadaan atopi, timbul pada masa bayi atau anak serta
dapat berlanjut pada usia dewasa dengan tanda khas berupa rasa gatal dan predileksi lesi
sesuai umur penderita. (Kariosentono, 2006)
Dermatitis ini biasanya menyerang bayi dan anak-anak usia 1 bulan sampai 1
tahun, umumnya yang memiliki riwayat kuat mengalami penyakit atopik di keluarganya.
Biasanya dermatitis ini akan menjadi parah dan mereda berulang-ulang sebelum akhirnya
sembuh saat masa remaja. Akan tetapi dermatitis ini bisa bertahan sampai dengan pasien
dewasa. Dermatitis atopik menyerang 9 dari 1000 orang.

C. Etiologi
1. Tidak diketahui.
Penyebab DA belum diketahui, terdapat 2 teori yang menjelaskan etiologi DA.
Teori pertama menyatakan DA merupakan akibat defisiensi imunologik yang
didasarkan pada kadar Imunoglobulin E (Ig E) yang meningkat dan indikasi sel T
yang berfungsi kurang baik. Sedangkan teori kedua menyatakan adanya blokade
reseptor beta adrenegik pada kulit. Namun, kedua teori tersebut tidak adekuat untuk
menjelaskan semua aspek penyakit DA (Mulyono, 1986).
Selama beberapa dekade terakhir ini telah banyak upaya untuk mencari penyebab
dari kondisi tersebut namun belum ada penyebab absolut yang diketahui. Hal ini
disebabkan karena penyakit ini sangat kompleks dan melibatkan berbagai mekanisme,
meliputi genetik, lingkungan, dan imunologi. Komponen genetik berpengaruh secara
kuat pada dermatitis atopic, sebagai contoh, apabila salah satu dari orang tua memiliki
kondisi atopik, kemungkinan anak memiliki kondisi atopik sebesar 60%, sedangkan
apabila dua orang tua memiliki kondisi atopik, kemungkinan anak memiliki kondisi
atopik sebesar 80%. Selain itu, diketahui juga bahwa riwayat atopik pada ayah akan
lebih berpengaruh. Kebanyakan pasien dengan dermatitis atopik mengalami
peningkatan kadar serum eosinofil dan IgE. Fakta tersebut mendukung kenyataan
bahwa besar kemungkinan anak dengan dermatitis atopik dapat mengalami rhinitis

6
alergi atau asma. Nampak bahwa hampir setiap imunosit, termasuk sel langerhans,
monosit, makrofag, limfosit, selmast, dan keratinosit, menunjukkan abnormalitas
pada dermatitis atopik. Penyebab dermatitis atopik tidak diketahui dengan pasti,
diduga disebabkan oleh berbagai factor yang saling berkaitan (multifaktorial). Faktor
intrinsik berupa predisposisi genetik, kelainan fisiologi dan biokimia kulit, disfungsi
imunologis, interaksi psikosomatik dan disregulasi/ ketidakseimbangan sistem saraf
otonom, sedangkan faktor ekstrinsik meliputi bahan yang bersifat iritan dan
kontaktan, allergen hirup, makanan, mikroorganisme, perubahan temperatur, dan
trauma.
2. Faktor yang memperparah: respon terhadap keringat, stres psikologis, suhu dan
kelembapan ekstrem.
3. Alergi makanan (telur, kacang, susu, dan gandum) pada sekitar 10% dari kasus yang
menyerang anak-anak.
4. Predisposisi genetik yang diperburuk dengan alergi makanan, infeksi, zat kimia yang
mengiritasi, suhu dan kelembapan, serta emosi.
5. Penyebab sekunder : iritasi yang terlihat mengubah struktur epidermal, sehingga
menyebabkan peningkatan aktivitas imunoglobulin (Ig) E.

D. Manifestasi Klinis
1. Area eritematosa di kulit yang sangat kering : lesi di dahi, pipi, dan permukaan
ekstensor di lengan dan kaki atas, lesi di titik fleksi (antekubital fossa, area popliteal,
dan leher).
2. Pruritus dan parut dengan edema, kerak, dan sisik.
3. Lesi atopik kronis yang menyebabkan kulit kering dan bersisik, disertai dermatografia
putih, pemucatan dan likenifikasi.
4. Kondisi sekunder : infeksi virus, fungus, atau bakteri dan gangguan okular.
5. Pembengkakan dan hiperpigmentasi di kelopak mata atas, disertai lipatan ganda yang
muncul di bawah kelopak mata bawah.
6. Katarak atopik (jarang terjadi, biasanya hanya pada orang yang berusia 20 sampai 40
tahun).

7
7. Pasien yang juga terpapar herpes zoster akan mengalami gejala erupsi variseliform
kaposi (ekzema herpetikum), yaitu infeksi virus kutaneus berat yang berpotensi
menyebar.
E. Patofisiologi Dermatitis Atopik
Reaksi kulit terjadi sebagai respons terhadap allergen yang spesifik, biasanya
makanan (khususnya telur, gandum, susu, dan kacang), pemicu lingkungan (misalnya
kapang, tungau debu, dan epidermis sisik kucing), atau faktor lain, seperti suhu
lingkungan sekitar yang tinggi atau rendah, keringat, cakaran, iritan kulit, atau stress.
Ketika anak kontak dengan antigen pemicu, sel penampil antigen menstimulasi
interleukin untuk memulai proses inflamasi. Kulit mulai terasa pruritus dan anak mulai
menggaruk. Sensasi gatal dating terlebih dahulu dan selanjutnya ruam menjadi nyata.
Garukan menyebabkan ruam menjadi nyata.

F. Penatalalsanaan Dermatitis Atopik


1. Eliminasi alergen.
2. Hindari iritan (sabun, pembersih, dan zat kimia lainnya), perubahan suhu ekstrem dan
faktor lain yang mempercepat.
3. Pengolesan salep kortikosteroid topikal, terutama setelah mandi, biasanya
meringankan inflamasi.
4. Pengolesan krim pelembab membantu kulit tetap lembab.
5. Terapi kortikosteroid sistemik bisa dibutuhkan selama masa pemburukan yang
ekstrem.
6. Terapi terlemah dan sinar ultraviolet B digunakan untuk menambah ketebalan stratum
korneum.
7. Antibiotik tepat untuk mengatasi lesi yang berkerak dan basah.

G. Komplikasi Dermatitis Atopik


Selama awal masa bayi dan kanak-kanak, biasa didapati infeksi sekunder dari lesi
dermatitis atopik dengan agen bakteri dan virus. Stafilokokus dan streptokokus
hermolitikus menrupakan agen bakteri yang paling sering ditemukan dari lesi yang

8
terinfeksi. Herpes simpleks (erupsi variseliform kaposi) juga merupakan keprihatinan
yang utama. Bayi dan anak dengan eksem tidak boleh terpapar pada orang dewasa
dengan infeksi herpes simpleks ("nyeri dingin"). Infeksi dengan virus-virus kutil biasa
dan molluskum kontagiosum dapat pula terjadi. Kadang-kadang keratokonus ditemukan
pada anak dengan dermatitis atopik, mungkin berhubungan dengan penggosokan kelopak
mata yang yang kronis. Katarak terjadi pada 5-10% orang dewasa dengan dermatitis
atopik berat, tetapi jarang ditemukan selama masa kanak-kanak.

H. Prognosis dermatitis atopik


Prognosis lebih buruk bila kedua orang tuanya menderita dermatitis atopik. Ada
kecenderungan perbaikan masa spontan pada masa anak dan sering ada yang kambuh
pada masa dewasa.Sebagian kasus menetap pada usia diatas 30 tahun.
Faktor yang berhubungan dengan prognosis kurang baik pada dermatitis atopik
adalah :
1) Dermatitis atopik luas pada anak
2) Menderita rhinitis alergik dan asma bronkial
3) Riwayat dermatitis atopik pada orang tua atau saudara kandung
4) Awitan dermatitis atopik pada usia muda
5) Anak tunggal
6) Kadar IgE serum sangat tinggi

I. Pemeriksaan Penunjang Dermatitis Atopik


1. Laboratorium
a. Darah : Hb, leukosit, hitung jenis, trombosit, elektrolit, protein total, albumin,
globulin.
b. Urine : pemeriksaan histopatologi
2. Penunjang (Pemeriksaan Histopatologi)
Pemeriksaan ini tidak memberi gambaran khas untuk diagnostik karena
gambaran histopatologiknya dapat juga terlihat pada dermatitis oleh sebab lain. Pada
dermatitis akut perubahan pada dermatitis berupa edema interseluler (spongiosis),

9
terbentuknya vesikel atau bula, dan pada dermis terdapat dilatasi vaskuler disertai
edema dan infiltrasi perivaskuler sel-sel mononuclear. Dermatitis sub akut
menyerupai bentuk akut dengan terdapatnya akantosis dan kadang-kadang
parakeratosis. Pada dermatitis kronik akan terlihat akantosis, hiperkeratosis,
parakeratosis, spongiosis ringan, tidak tampak adanya vesikel dan pada dermis
dijumpai infiltrasi perivaskuler, pertambahan kapiler dan fibrosis. Gambaran tersebut
merupakan dermatitis secara umum dan sangat sukar untuk membedakan gambaran
histopatologik antara dermatitis kontak alergik dan dermatitis kontak iritan.
Pemeriksaan ultrastruktur menunjukkan 2-3 jam setelah paparan antigen seperti
dinitroklorbenzen (DNCB) topikal dan injeksi ferritin intrakutan, tampak sejumlah
besar sel langerhans di epidermis. Saat itu antigen terlihat di membran sel dan di
organella sel Langerhans. Limfosit mendekatinya dan sel Langerhans menunjukkan
aktivitas metabolik. Berikutnya sel langerhans yang membawa antigen akan tampak
didermis dan setelah 4-6 jam tampak rusak dan jumlahnya di epidermis berkurang.
Pada saat yang sama migrasinya ke kelenjar getah bening setempat meningkat.
Namun demikian penelitian terakhir mengenai gambaran histologi, imunositokimia
dan mikroskop elektron dari tahap seluler awal pada pasien yang diinduksi alergen
dan bahan iritan belum berhasil menunjukkan perbedaan dalam pola peradangannya.

J. Asuhan Keperawatan HIV/AIDS pada Anak dengan Dermatitis Atopik


1. Pengkajian
a) Riwayat Kesehatan
1) Bergoyang atau menggaruk.
2) Kulit kering
3) Tanda garukan yang diketahui oleh orang tua.
4) Tidur yang terganggu.
5) Iritabilitas.

10
b) Pemeriksaan Fisik
1) Bergoyang atau menggaruk yang aktif.
2) Kulit yang kering, bersisik, atau mudah pecah, hipertrofi, atau
likenifikasi.
3) Lesi kering atau papula atau vesikel yang sensitive.
4) Distribusi ruam pada anak yang berusia kurang dari 2 tahun :
wajah, kulit kepala, pergelangan tangan, dan permukaan lengan
atau tungkai ekstensor; pada anak yang lebih besar : paling lazim
di area fleksor, tetapi dapat terjadi dimanapun di kulit.
5) Eritema atau kehangatan (infeksi bakteri sekunder).
6) Area hiperpigmentasi atau hipopigmentasi.
7) Gejala rhinitis alergi.
8) Mengi (dengan asma terkait).
c) Uji Laboratorium dan Diagnostik
1) Kadar immunoglobulin (Ig) serum dapat mengalami peningkatan
pada anak yang mengalami dermatitis atopik.
2) Uji alergi tusuk kulit : dapat menentukan allergen makanan atau
lingkungan yang sensitive bagi anak.

2. Diagnosa Keperawatan
a) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan imunologi :
hipersensitivitas

11
3. Intervensi Keperawatan
a. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan imunologi :
hipersensitivitas

1 NOC : Tissue intergrity: skin and mucous membranes


)
2 Tujuan : pasien mampu mencapai integritas kulit dan mukosa
) membran secara adekuat
- Outcomes
a) Meningkatkan kenyamanan pada verbalisasi kulit
b) Berkurangnya kulit yang terkelupas dan pembersihan kerak
c) Berkurangnya kemerah-merahan
d) Berkurangnya nyeri pada kulit yang tergores
e) Penyembuhan pada bagian yang rusak
f) Kulit utuh
- NIC
a) Skin care : topical treatments
b) Skin surveillance
- Intervensi :
a) Sekurang-kurangnya mandi satu kali dalam sehari selama 15
sampai 20 menit. Setelah itu memakai pelembab yang tepat atau
sesuai dengan yang dianjurkan.
Rasional : Merendam secara penuh sel kulit mati. Pemakaian
pelembab 2 sampai 4 menit setelah mandi merupakan
hal penting dalam mencegah hidrasi pada lapisan kulit
terluar

b) Gunakan air hangat –tidak panas.


Rasiona : Air panas menyebabkan vasodilatasi yang
l dapat meningkatkan pruritus.

12
c) Gunakan sabun yang cair (Dove atau Basis) atau sabun untuk
kulit yang sensitif (Neutrogena, Moisturel, Aveeno, Oilatum,
Purpose) hindari gelembung busa.
Rasional : Penggunaan sabun batangan dapat mengatasi
masalah pada kulit. Sabun cair kurang
mengandung unsur basa dan kurang mengeringkan
kulit.
d) Oleskan pelembab atau sesuai yang ditentukan dua sampai tiga
kali dalam sehari.
Rasional : Salep dan krim yang mengandung air dapat
memberikan kelembaban pada kulit. Pelembab
khusus yang dipilih disesuaikan dengan selera
pasien dan apakah bahannya dapat menyebabkan
iritasi pada kulit.
e) Jelaskan gejala gatal-gatal yang berkaitan dengan penyebabnya
(Contohnya kekeringan pada kulit) dan prinsip dari terapi pilihan
(hidrasi) dan siklus gatal-goresan-gatal.
Rasional : Memahami proses psikologis prinsip-prinsip
gatal dan meningkatkan kerjasama dalam
pengobatan
f) Kerja dan tidur di lingkungan dengan suhu yang konstan.
Pengaturan suhu udara di dalam rumah, secara khusus di dalam
kamar tidur mungkin dapat bermanfaat.
Rasional : Suhu yang ekstrim mengakibatkan tambahan
frekuensi pruritus untuk vasolidasi dan
meningkatkan aliran darah pada kulit. Selain
memberikan lingkungan yang sejuk, AC
dapat menurunkan paparan aeroallergen.
g) Perhatikan jari kuku agar tetap pendek, halus dan bersih
Rasional : Kuku yang selalu dipotong mencegah kerusakan
dan infeksi pada kulit.
h) Penggunaan antihistamin dapat mengurangi rasa gatal sampai
tingkat tertentu

13
Rasional : Histamine adalah perantara gatal yang paling
umum diketahui. antihistamin dapat membantu
menenangkan.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

14
Dermatitis adalah peradangan kulit epidermis dan dermis sebagai respon terhadap
pengaruh faktor eksogen atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berubah
efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, dan keluhan gatal).
Dermatitis atopik merupakan gangguan kronis dengan karakteristik kambuhan dan
remiten, yang ditandai dengan gatal dan inflamasi ekstrem, kemerahan, dan kulit yang
membengkak. Dermatitis aktopik adalah gangguan radang kulit yang ditandai dengan
eritema, edema, gatal berat, eksudasi, pengerasan kulit dan sisik. Pada stadium akut, ada
vesikula (spongiosis) lateraepidermal. Tampak ada kecenderungan yang ditentukan
secara genetic. Selanjutnya bayi dengan dermatitis aktopik cenderung akan mengalami
rhinitis alergika dan asma.
Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar (eksogen), misalnya bahan kimia (contoh:
detergen, asam, basa, oli, semen), fisik (sinar dan suhu), mikroorganisme (contohnya :
bakteri, jamur) dapat pula dari dalam (endogen), misalnya dermatitis atopik.

B. SARAN
Dalam penulisan ini tentunya banyak kurang dan tentunya ada lebihnya juga, untuk
itu penulis atau penyusun mengharapkan kritik dan saran kepada para pembaca.

Dengan adanya makalah ini penulis mengaharapkan agar para pembaca bisa
memahami apa yang sudah dijelaskan sehingga dapat bermanfaat bagi semuanya dan
agar lebih dapat mengaplikasikan dalam merawat pasien dan mampu dalam pembuatan
asuhan keperawatan yang tepat yang banyak melibatkan orang terdekat klien, mulai dari
keluarga, kerabat sampai teman pasien.

15
DAFTAR PUSTAKA

Kyle, Terri, & Carman, Susan. 2015. Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC
Lalani, Amina & Schneeweiss, Suzan. 2013. Kegawatdaruratan Pediatri. Jakarta : EGC
Williams & Wilkins, 2011. Nursing : Memahami Berbagai Macam Penyakit. Penerjemah
Paramita. Jakarta Barat : PT Indeks.

iii