Anda di halaman 1dari 22

hubungan sosial

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Peserta didik adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, ia membutuhkan orang lain
untuk dapat tumbuh kembang menjadi manusia yang utuh. Dalam perkembangannya,
pendapat dan sikap peserta didik dapat berubah karena interaksi dan saling berpengaruh antar
sesama peserta didik maupun dengan proses sosialisasi. Dengan mempelajari perkembangan
hubungan sosial diharapkan dapat memahami pengertian dan proses sosialisasi peserta didik.
Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki
kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari
berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.
Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirasakan sejak usia enam bulan, disaat
itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak
mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang
mendengar suara keras) dan kasih sayang.
Dari hal-hal yang diuraikan di atas maka kami ingin membuat makalahdengan
judul “Perkembangan Hubungan Sosial”

B.     Rumusan Masalah
Apakah yang dimaksud dengan perkembangan hubungan sosial ?
Apa saja karakteristik perkembangan sosial remaja ?
Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial ?
Apakah pengaruh perkembangan sosial terhadap tingkah laku ?
Apa yang dimaksud interaksi serta jenis-jenis interaksi ?
Bagaimana pola interaksi remaja dengan orang tua ?
Apa yang dimaksud perbedaan individual dalam perkembangan sosial ?
Apa upaya pengembangan hubungan sosial remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan
pendidikan ?
C.    Tujuan
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan perkembangan hubungan sosial.
Untuk mengetahui karakteristik perkembangan sosial remaja.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial.
Untuk mengetahui pengaruh perkembangan sosial terhadap tingkah laku.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud interaksi serta jenis-jenis interaksi.
Untuk mengetahui pola interaksi remaja dengan orang tua.
Untuk mengetahui maksud dari perbedaan individual dalam perkembangan sosial
Untuk mengetahui upaya pengembangan hubungan sosial remaja dan implikasinya dalam
penyelenggaraan pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Perkembangan Hubungan Sosial


Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangannya itu pada dasarnya merupakan
kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini
faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan
proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang secara aktif melakukan
proses sosialisasi. Manusia sebagai makhluk sosial, senantiasa berhubungan dengan sesama
manusia. Bersosisalisasi merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan
sosial, bagaimana seharusnya seseorang hidup di dalam kelompoknya, baik dalam kelompok
kecil maupun kelompok masyarakat luas.
Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antarmanusia yang saling
membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana dan terbatas, yang
didasari oleh kebutuhan sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan
manusia menjadi semakin kompleks dan tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi
amat kompleks.  Jadi, pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat
hubungan antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
Belajar hidup bersosialisasi memerlukan sekurangnya tiga proses berikut.
1.      Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial.
Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang perilaku yang dapat
diterima dalam kelompok tersebut.
2.      Memainkan peran sosial yang dapat diterima.
Agar dapat diterima dalam kelompok selain dapat menyesuaikan perilaku dengan standar
kelompok, seseorang juga dituntut  untuk memainkan peran sosial dalam bentuk pola-pola
kebiasaan yang telah disetujui dan ditentukan oleh para anggota kelompok.
3.      Perkembangan sikap sosial.
Untuk dapat bergaul dalam masyarakat, seseorang juga harus menyukai orang atau terlibat
dalam aktivitas sosial tertentu. Jika anak dapat melakukannya dengan baik, maka ia dapat
melakukan penyesuaian sosial yang baik dan diterima sebagai anggota kelompok.

4.      Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja


Remaja pada tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa.
Pada jenjang ini, kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial dan
pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungannya, remaja
telah mulai memperlihatkan dan mengenal berbagai norma pergaulan, yang berbeda dengan
norma yang berlaku sebelumnya di dalam keluarganya. Remaja menghadapi berbagai
lingkungan, bukan saja bergaul dengan berbagai kelompok umur. Dengan demikian, remaja
mulai memahami norma pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak,
kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis
dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, karena di samping harus memperhatikan
norma pergaulan sesama remaja, juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk
memilih teman hidup.
Karakteristik perkembangan sosial remaja sebagai berikut:
1.      Berkembangnya Kesadaran akan Kesunyian dan Dorongan akan Pergaulan
Kesadaran akan kesunyian menyebabkan remaja berusaha mencari kompensasi dengan
mencari hubungan denga orang lain atau berusaha mencari pergaulan.
Langeveld (Simanjuntak dan Pasaribu, 1984 : 152) berpendapat bahwa kemiskinan akan
hubungan atau perasaan kesunyian remaja disertai kesadaran sosial psikologis yang
menimbulkan dorongan yang kuat akan pentingnya pergaulan untuk menemukan suatu
bentuk sendiri.

2.      Adanya Upaya Memilih Nilai-nilai Sosial.


       Terdapat dua kemungkinan yang ditempuh oleh remaja ketika berhadapan  dengan nilai-
nilai sosial tertentu yaitu menyesuaika diri dengan nilai-nilai tersebut atau tetap pada
pendirian dengan segala akibatnya, namun ada kemungkinan seseorang tidak akan menuntut
norma-norma sosial yang demikian mutlak, tetapi tidak pula menolak seluruhnya.
3.      Meningkatkan Ketertarikan pada Lawan Jenis.
       Dalam konteks ini masa remaja seringkali disebut juga sebagai masa biseksual (Sunarto:
1998) mengistilahkan bahwa dunia remaja telah menjadi dunia erotis artinya keinginan
membangun hubungan sosial dengan jenis kelamin lain dipandang sebagai sudut yang
berpangkal pada kesadaran akan kesunyian.
4.      Mulai Cenderung Memilih Karier Tertentu.
       Kuhlen mengatakan bahwa ketika sudah memasuki masa remaja akhir, mulai  tampak
kecendurangan untuk memilih karier tertentu meskipun dalam pemilihan karier tersebut
masih mengalami kesulitan (Simanjuntak dan Pasaribu, 1984)

B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial


Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor , yaitu:
1.      Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai
aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Proses pendidikan yang
bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola
pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih
luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga. Jadi, pada dasarnya keluarga merekayasa
perilaku kehidupan anak.

2.      Kematangan
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangkan
dalam proses sosialisai, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan
kematangan intelektual dan emosional, juga kematangan berbahasa.  Kematangan fisik juga
diperlukan sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
3.      Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga
dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang
independen, namun akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu, “ia
anak siapa”. Dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya akan
memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.
4.      Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses
pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberi warna kehidupan sosial anak di dalam
masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Penanaman norma perilaku
yang benar secara sengaja diberikan peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan
(sekolah). Etika pergaulan dan pendidikan moral diajarkan secara terprogram dengan tujuan
untuk membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
5.      Kapasitas Mental: Emosi dan Intelegensi
Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar,
memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan
berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi,
kemampuan berrbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat
menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.

C.     Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku


Pada perkembangan sosial, para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan orang lain.
Pemikiran itu akan terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah ke penilaian diri dan
kritik serta hasil pergaulannya dengan orang lain yang sangat mungkin dapat merubah
tingkah lakunya.
Pemikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap
kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk orang tuanya. Misalnya, tata cara, adat
istiadat, yang berlaku di keluarga sering terasa terjadi pertentangan dengan sikap kritis yang
tampak pada perilakunya.
Selain itu, pengaruh egosentris masih sering terlibat dalam pikiran remaja:
Cita-cita dan idealisme yang terlalu baik, terlalu menitikberatkan pikiran sendiri, tanpa
memikirkan akibat lebih lanjut dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin
tidak berhasil menyelesaikan persoalan.
Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri belum disertai pendapat orang lain dalam
penilaiannya. Pandangan dan penilaian diri dianggap sama dengan pandangan orang lain
mengenai dirinya.
D.    Pengertian Interaksi dan Jenis-Jenis Interaksi Sosial
Salah satu pakar teori interaksi Thibaut dan Kelley (1976) mendefinisikan interaksi sebagai
peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih orang bersama,
mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain. Chaplin (1979) juga mendefinisikan bahwa
interaksi merupakan hubungan sosial antara beberapa individu yang mana individuindividu
itu saling memengaruhi satu sama lain secara serempak.
Homas (Shaw, 1985:71) mendefinisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu
aktivitas atau sentimen yang dilakukan seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran
(reward) atau hukuman (punishment) dengan menggunakan suatu aktivitas atau sentimen
oleh individu lain yang menjadi pasangannya. Sedangkan Shaw (1976:447) mendefinisikan
bahwa interaksi  adalah suatu pertukaran antar pribadi yang masing-masing orang
menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka, dan masing-masing
perilaku mempengaruhi satu sama lain. Jadi interaksi adalah hubungan timbal-balik antara
dua orang atau lebih dan masingmasing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran
secara aktif.
Shaw (1976 :10) membedakan interaksi menjadi tiga jenis, yaitu:
1.      Interaksi Verbal
Terjadi apabila dua orang atau lebih melakukan kontak satu sama lain dengan menggunakan
alat-alat artikulasi. Prosesnya terjadi dalam bentuk saling tukar percakapan satu sama lain.
2.      Interaksi Fisik
Terjadi ketika dua orang atau lebih melakukan kontak dengan menggunakan bahasa-bahasa
tubuh, seperti ekspresi wajah, posisi tubuh, gerak-gerik tubuh, dan kontak mata.
3.      Interaksi Emosional
Terjadi ketika individu melakukan kontak satu sama lain dengan melakukan curahan
perasaan. Misalnya, mengeluarkan air mata sebagai tanda sedih, haru, atau bahkan terlalu
bahagia.
Nichole(1984 : 27-28) membedakan jenis interaksi berdasarkan banyaknya individu yang
terlibat dalam proses tersebut serta pola interaksi yang terjadi. Ada dua jenis interaksi yaitu:
1.      Interaksi dyadic
Terjadi manakala hanya ada dua orang yang terlibat di dalamnya atau lebih dari dua orang
tetapi arah interaksinya hanya terjadi dua arah. Contoh : interaksi antara percakapan dua
orang lewat telepon, interaksi antara guru murid dalam kelas jika guru menggunakan metode
ceramah atau tanya jawab satu arah tanpa menciptakan dialog antar murid.
2.      Interaksi Tryadic
Terjadi manakala individu yang terlibat di dalamnya lebih dari dua orang dan pola interaksi
menyebar kesemua individu yang terlibat. Misal, Interaksi antara ayah, ibu, dan anak.
Interaksinya terjadi pada mereka semua.

E.     Pola Interaksi Remaja dengan Orang Tua


Interaksi remaja dengan orang tua memiliki keunikan tersendiri, sesuai dengan tahap
perkembangannya. Jersild dan Brook (1998) mengatakan bahwa “interaksi antara remaja
dengan orang tua dapat digambarkan sebagai drama tiga tindakan (three-act-drama)”. Drama
tindakan pertama (the first act drama) menyatakan bahwa interaksi antar remaja dengan orang
tua berlangsung sesuai dengan interaksi yang berlangsung antara masa anak-anak  dengan
orang tua. Mereka masih bergantung dan dipengaruhi dengan orang tua. Tapi, pada masa ini
mereka sudah mulai menyadari akan keberadaannya sebagai pribadi yang memiliki kekhasan
dari masa-masa sebelumnya.
Drama tindakan kedua (the second act drama) menyatakan bahwa pada masa ini remaja mulai
berjuang untuk membebaskan dirinya dari ketergantungan terhadap orang tua. Sehingga
ketika mereka berinteraksi dengan orang tua, mereka mulai meninggalkan kemanjaan dirinya
dan belajar untuk lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Oleh sebab itu, pada masa
ini remaja sering mengalami konflik atau selisih pergolakan ketika berinteraksi dengan orang
tua. Jersild dan Brook menyebut masa ini dengan “perjuangan untuk emansipasi”.
Dan pada drama tindakan ketiga (the third act drama), pada masa ini remaja berus
berinteraksi secara lancar dengan orang-orang dewasa. Meskipun kadang mereka masih
sering menemui hambatan yang datang dari orang tua karena sikap orang tua yang belum bisa
melepas anak remajanya secara penuh. Sehingga, mereka seringkali menentang gagasan-
gagasan dan sikap orang tuanya. Ada dua aspek dalam konteks interaksi antara remaja
dengan orang tua yaitu aspek  objektif dan subjektif (Fontana, 1981). Aspek objektif adalah
keadaan nyata dari peristiwa yang terjadi ketika interaksi antara remaja dengan orang tua
berlangsung. Sedangkan aspek subjektif adalah keadaan nyata yang dipersepsi oleh remaja
pada saat interaksi berlangsung.
Fontana juga menambahkan bahwa tidak jarang remaja lebih menggunakan aspek subjektif
dalam berinteraksi dengan orang tua. Oleh sebab itu, perlu memperhatikan bagaimana
persepsi remaja tentang interaksinya dengan orang lain dan bukan hanya interaksi nyatanya
saja (real interaction). Chaplin (1979) menyatakan bahwa interaksi yang terjadi dalam
lingkungan keluarga akan muncul dengan kualitas yang berbeda-beda. Dan kualitas ini
mengacu pada derajat relative kebaikan dan keunggulan suatu hal. Suatu interaksi dikatakan
berkualitas jika mampu memberikan kebebasan dan kesempatan bagi tiap individu untuk
mengembangkan diri dengan segala kemungkinan yang dimilikinya. Dapat disimpulkan,
interaksi antara remaja dengan orang tua adalah hubungan timbl balik secara aktif antara
keduanya yang terwujud dalam kualitas hubungan yang memungkinkan remaja untuk
mengembangkan potensi dirinya.

F.      Perbedaan Individual dalam Perkembangan Sosial


Pada dasarnaya bergual dengan sesama manusia (sosialisasi)  dilakukan oleh setiap orang,
baik secara individual maupun kelompok. Dilihat dari berbagai aspek, terdapat perbedaan
individual manusia, yang hal itu nampak juga dalam perkembangan sosialnya.
Sesuai dengan teori komprehensip tentang perkembangan sosial yang dikembangkan oleh
Erickson, maka di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya setiap manusia menempuh langkah
yang berlainan satu sama lain. Dalam teori Erickson dinyatakan bahwa manusia (anak) hidup
dalam kesatuan budaya yang utuh, dan alam, serta kehidupan masyarakat menyediakan
segala kebutuhan manusia. Namun sesuai dengan minat, kemampuan , dan latar belakang
kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial yang beranekaragam.

Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan


Pendidikan
            Remaja yang dalam masa mencari dan ingin menentukan jati dirinya memiliki sikap
yang terlalu tinggi menilai dirinya atau sebaliknya. Mereka belummemahami benar tentang
norma-norma social yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat. Keduanya dapat
menimbulkan hubungan social yang kuarang serasi, karena mereka sukar untuk menerima
norma sesuai dengan kondisi dalam kelompok atau masyarakat. Sikap menentang dan sikap
canggung dalam pergaulan akan merugikan kedua belah pihak. Oleh karena itu, diperlukan
adanya upaya pengembangan hubungan social remaja yang diawali dari lingkungan keluarga,
sekolah serta lingkungan masyarakat.
1.      Lingkungan Keluarga
Orang tua hendaknya mengakui kedewasaan remaja dengan jalan memberikan kebebasan
terbimbing untuk mengambil keputusan dan tanggung jawab sendiri. Iklim kehidupan
keluarga yang memberikan kesempatan secara maksimal terhadp pertumbuhan dan
perkembangan anak akan dapat membantu anak memiliki kebebasan psikologis untuk
mengungkapkan perasaannya.  Dengan cara demikian, remaja akan merasa bahwa dirinya
dihargai, diterima, dicintai, dan  dihormati sebagai manusia oleh orang tua dan anggota
keluarga lainnya.
Dalam konteks bimbingan orang tua terhadap remaja, Hoffman (1989) mengemukakan tiga
jenis pola asuh orang tua yaitu :
1.      Pola asuh bina kasih (induction)
Yaitu pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik anaknya dengan senantiasa
memberikan penjelasan yang masuk akal terhadap setiap keputusan dan perlakuan yang
diambil oleh anaknya.
2.      Pola asuh unjuk kuasa (power assertion)
Yaitu pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik anaknya dengan senantiasa
memaksakan kehendaknya untuk dipatuhi oleh anak meskipun anak tidak  dapat
menerimanya.
3.      Pola asuh lepas kasih (love withdrawal)
Yaitu pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik anaknya dengan cara menarik
sementara cinta kasihnya ketika anak tidak menjalankan apa yang dikehendaki orang tuanya,
tetapi jika anak sudah mau melaksanakan apa yang dihendaki orang tuanya maka cinta
kasihnya itu dikembalikan seperti sediakala. Dalam konteks pengembangan kepribadian
remaja, termasuk didalamnya pengembangan hubungan sosial, pola asuh yang disarankan
oleh Hoffman (1989) untuk diterpakan adalah pola asuh bina kasih (induction). Artinya,
setiap keputusan yang diambil oleh orang tua tentang anak remajanya atau setiap perlakuan
yang diberikan orang tua terhadap anak remajanya harus senantiasa disertai dengan
penjelasan atau alasan yang rasional. Dengan cara demikian, remaja akan dapat
mengembangkan pemikirannya untuk kemudian mengambil keputusan mengikuti atau tidak
terhadap keputusan atau perlakuan orang tuanya
2.      Lingkungan Sekolah
Di dalam mengembankan hubungan social remaja, guru juga harus mampu mengembangkan
proses pendidikan yang bersifat demokratis, guru harus berupaya agar pelajaran yang
diberikan selalu cukup menarik minat anak, sebab tidak jarang anak menganggap pelajaran
yang diberikan oleh guru kepadanya tidak bermanfaat. Tugas guru tidak hanya semata-mata
mengajar tetapi juga mendidik. Artinya, selain menyampaikan pelajaran sebagai upaya
mentransfer pengetahuan kepada peserta didik, juga harus membina para peserta didik
menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab. Dengan demikian, perkembangan
hubungan sosial remaja akan dapat berkembang secara maksimal.
3.      Lingkungan Masyarakat
Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberika rangsang kepada
mereka kearah perilaku yang bermanfaat.
Perlu sering diadakan kegiatan kerja bakti , bakti karya untuk dapat mempelajari remaja
bersosialisasi sesamanya dan masyarakat .

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A.           Simpulan

Berdasarkan uraian bab sebelumnya penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai


berikut.

1. pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antarmanusia


sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
2. Karakteristik perkembangan sosial remaja sebagai berikut:
Berkembangnya Kesadaran akan Kesunyian dan Dorongan akan Pergaulan Kesadaran akan
kesunyian menyebabkan remaja berusaha mencari kompensasi dengan mencari hubungan
denga orang lain atau berusaha mencari pergaulan.
3.Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku
Pada perkembangan sosial, para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan orang lain.
Pemikiran itu akan terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah ke penilaian diri dan
kritik serta hasil pergaulannya dengan orang lain yang sangat mungkin dapat merubah
tingkah lakunya.

4.Pengertian Interaksi
interaksi sebagai peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih
orang bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain.
Hubungan Sosial
 Herry Stw  Bimbingan dan Konseling  Januari 5, 2013 10 Minutes

1. Pengertian Hubungan Sosial


Menurut Alisyahbana (dalam Ali dan Asrori. 2006).
Hubungan sosial adalah cara- cara individu bereaksi terhadap
orang- orang di sekitarnya dan bagaimana pengaruh
hubungan itu terhadap dirinya. Hubungan sosial ini juga
menyangkut penyesuaian diri terhadap lingkungan, seperti
makan dan minum sendiri, mentaati peraturan, membangun
komitmen bersama dalam kelompok atau organisasinya, dan
sejenisnya.
Hal senada dinyatakan oleh Soekanto (2007) hubungan
sosial, adalah hubungan timbal balik yang saling
mempengaruhi dan mengandung kesadaran untuk saling
menolong. Hubungan sosial terjadi karena ada interaksi
sosial yang melibatkan emosi atau perasaan. Hubungan sosial
ini mula- mula dimulai dari rumah sendiri kemudian
berkembang lebih luas lagi ke lingkungan sekolah, dan
dilanjutkan kepada lingkungan yang lebih luas lagi, yaitu
tempat berkumpulnya teman sebaya. Namun demikian yang
sering terjadi adalah bahwa hubungan sosial anak dimulai
dari rumah, temen sebaya baru kemudian teman sekolah.
Kesulitan anak dalam hubungan sosial biasanya dikarenakan
pola asuh orang tua di rumah berupa unjuk rasa sehingga
mengakibatkan anak merasa takut dan hal ini berakibat
kepada anak seperti anak tidak mampu mengambil inisiatif,
tidak berani mengambil keputusan, tidak berani memutuskan
pilihan teman yang dianggap sesuai. Kemungkinan anak
dengan pola asuh seperti ini akan menimbulkan anak juga
susah beradaptasi dengan situsi yang nantinya akan
menimbulkan konflik pada diri anak sendiri.dari hal tersebut
dapat diketahui bahwa pada peletak dasar hubungan sosial
adalah dirumah yaitu pola asuh orang tua. Dalam psikologi
remaja (Sunarto, 1998). Bahwa hal ini masih dapat
diperbaiki, pola asuh yang seperti ini masih dapat diperbaiki
oleh orang tua sendiri
Hubungan sosial yang terjadi dalam diri remaja lebih banyak
menekankan pada hubungan terhadap kelompok sebaya.
Karena remaja lebih banyak berada diluar rumah bersama
dengan teman-teman sebaya sebagai kelompoknya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Horrocks dan Benimoff (dalam
Hurlock 2000) menjelaskan pengaruh teman sebaya sebagai
berikut:
Kelompok sebaya merupakan dunia nyata kawula muda, yang
menyiapkan panggung dimana ia dapat menguji diri sendiri
dan orang lain. Di dalam kelompok sebaya ia merumuskan
dan memperbaiki konsep dirinya, di sinilah ia dinilai oleh
orang lain yang sejajar dengan dirinya dan yang tidak dapat
memaksakan sanksi-sanksi dunia dewasa yang justru ingin
dihindari. Kelompok sebaya memberikan sebuah dunia
tempat kawula muda dapat melakukan sosialisasi dalam
suasana di mana nilai-nilai yang berlaku bukanlah nilai-nilai
yang ditetapkan oleh orang dewasa melainkan oleh teman-
teman seusianya. Jadi, di dalam masyrakat sebaya inilah
remaja memperoleh dukungan untuk memperjuangkan
emansipasi dan di situ pulalah ia dapat menemukan dunia
yang memungkinkannya bertindak sebagai pemimpin apabila
ia mampu melakukannya. Kecuali itu, kelompok sebaya
merupakan hiburan utama bagi anak-anak belasan tahun.
Berdasarkan alasan tersebut kelihatanlah kepentingan vital
masa remaja bagi remaja bahwa kelompok sebaya terdiri dari
angota-anggota tertentu dari teman-temannya yang dapat
menerimanya dan yang kepadanya ia sendiri bergantung.
Remaja lebih mudah melakukan hubungan sosial dengan
teman sebayanya. Karena di dalam kelompok tersebut remaja
merasa tidak dikendalikan oleh nilai-nilai yang dibuat oleh
orang dewasa. Nilai-nilai yang berada di dalam kelompok
tersebut adalah nilai-nilai yang sesuai dengan kondisinya.
Dengan begitu remaja lebih mudah melakukan hubungan
sosial dengan kelompok sebanyanya.
Ketika siswa sulit berhubungan sosial, maka siswa akan
mengalami kendala dalam kehidupan sosialnya. Hal ini
senada dengan pendapat Tohirin (1987: 127) masalah siswa
yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya,
diantaranya:
a. Kesulitan dalam persahabatan,
b. Kesulitan mencari teman,
c. Merasa Terasing dalam aktifitas kelompok,
d. Kesulitan dalam memperoleh penyesuain dalam kegiatan
kelompok,
e. Kesulitan mewujudkan hubungan yang harmonis dalam
keluarga,
f. Kesulitan dalam menghadapi situasi sosial yang baru.
Dengan demikian dapat dimaknai bahwa kemampuan sosial
siswa sangat penting dalam membantu siswa bersosialisasi
dan berinteraksi dengan lingkungan.
2. Kriteria Hubungan Sosial
Hubungan sosial memeliki beberapa kriteria hal ini senada
diungkapkan Walgito (2010: 82), bahwa baik tidaknya
hubungan sosial anatara individu yang satu dengan yang lain
dapat dilihat dari beberapa segi yaitu:
a. Frekuensi hubungan
Frekuensi hubungan adalah sering atau tidaknya anak atau
individu tersebut bergaul. Makin sering individu bergaul
maka pada umumnya individu itu makin baik dalam segi
hubungan sosialnya. Jika individu itu mengisolasi diri maka
individu itu kurang baik dalam hubungan sosialnya. Walau
namun pada frekuensi ini masih sulit seseorang
mengukurnya karena akan menentukan batasan jumlah
dikatakan baiak, cukup, dan kurang.
b. Intensitas hubungan
Intensitas ini adalah dalam tidaknya anak dalam bergaul atau
intim-tidaknya nanak dalam bergaul. Makin anak mendalam
seseorang dalam bergaul dalam hubungan sosialnya maka
semakin baik pula kemampuan hubungan sosial anak. Teman
yang intim berarti memiliki intensitas yang mendalam, teman
yang akrab berarti hubungan sosialnya lebih baik namun
dalam hal ini juga tidak bisa dijadikan tolak ukur yang pasti.
c. Popularitas hubungan
Poplaritas hubungan ini adalah banyak tidaknya teman
bergaul hal ini dapat dijadikan dalam mengetahui dasar
pakah seseorang memiliki hubungan sosial yang baik atu
tidak orang yang memiliki teman bergaul banyak maka ia
memiliki hubungan sosial yang baik.
3. Faktor- faktor yang mempengaruhi hubungan sosial
Dalam Asrori (2006 :92) proses sosialisasi individu itu terjadi
dalam 3 lingkungan utama yaitu lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Dalam
lingkungan keluarga bagaimana individu dapat berhubungan
dengan keluarga dan sudara-saudaranya dalam pematangan
emosi proses ini juga akan berpengaruh pada hubungan
sosialnya dimasa yang akan datang, dalam lingkungan
sekolah bagaimana individu dapat menjalin hubungan sosial
yang baik dengan teman sebayanya dengan kondisi teman
yang beragam dari kultur, warna dan tingkatan sosial. Dalam
lingkungan masyarakat bagaimana anak dihadapkan dengan
situasi dan maslah dalam kemasyarakatan. Dalam
perkembanganya anak juga memahami sendiri proses
penyesuaian diri dengan lingkungannya. Baik di lingkungan
keluarga, sekolah, maupun di lingkungan masyarakat.
Perkembangan ini sangat berpengaruh bagaimana individu
dapat menyesuaiakan diri dengan lingkunganya.
a. Lingkungan keluarga
Dalam lingkungan keluarga ada beberapa faktor yang sangat
dibutuhkan oleh anak dalam proses perkembangan sosialnya,
yaitu kebutuhan akan rasa aman dan kebebasan untuk
menyatakan diri. Kebutuhan akan rasa aman ini sangat
penting bagi anak, anak akan merasa kebutuhan dilindungi
terhadap orang tua tercukupi. Perlindungan emosional ini
menjauhkan ketegangan, membantu menyelesaikan masalah
yang sedang dihadapi, dan menstabilkan emosi anak. Dengan
kata lain perkembangan sosial anak dilingkungan keluarga
akan baik jika didukung dengan lingkungan keluarga yang
kondusif. Iklim keluarga kondusif adalah; a.)ketika
karakteristik internal keluarga berbeda dengan keluarga yang
lainnya; b.) ketika ketika karakteristik indivudu tersebut
mempengaruhi perilaku individu dalam keluarga itu
termasuk pada remaja; c.) unsur kepemimpinan dan
keteladanan kepala keluarga, sikap, dan harapan individu
terhadap keluarga tersebut.
Remaja hidup dalam suatu kelompok individu yang disebut
keluarga, maka hal ini adalah salah satu aspek penting yang
dapat mempengaruhi perilaku remaja adalah interaksi
anggota keluarga. Gander (dalam Walgito, 2010: 95)
mengemukakan penelitianya pada tahun 1983 bahwa
interaksi antara anggota keluarga yang tidak harmonis
merupakan suatu korelat yang potensial menjadi penghambat
perkembangan sosial remaja.
b. Lingkungan sekolah
Kehadiran lingkungan sekolah merupakan perluasan
lingkungan sosial individu atau bahkan menjadi sebuah
lingkungan yang menantang atau bahkan mencemaskan bagi
diri remaja. Guru dan teman sebayanya membentuk
lingkungan norma bagi dirinya. Selama tidak ada
pertentangan maka selama itu pula remaja akan tidak akan
mengalami kesulitan . jika pertentangan terjadi maka remaja
akan mencari teman yang dapat menerima dirinya dalam
penyesuaian diri.
Ada empat tahap proses penyesuaian diri yang harus
dilakukan anak selama membangun hubungan sosialnya,
yaitu sebagai berikut.
1. anak dituntut untuk dapat menghormati dan menghargai
hak orang lain.
2. anak didik untuk menaati aturan dan menyesuaiakn diri
dengan norma-norma kelompok.
3. anak dituntut untuk dewasa dalam melakukan interaksi
sosial berdasar asas saling memberi dan menerima
4. anak dituntut untuk memahami orang lain.
Keempat proses ini dilakukan dengan tahap sederhana ke
proses yang semakin komplek dan menuntut respon yang
kompleks pula. Pada proses ini sangat mungkin terjadi anak
menghadapi konflik yang berakibat pada terhambatnya
perkembangan sosial mereka.
Menurut Barrow & Wood (dalam Psikologi Remaja 2010 :97).
Sebagaimana dilingkungan keluarga lingkungan sekolah juga
membutuhkan lingkungan yang kondusif pula. Kondusif
tidaknya iklim yang ada di sekolah bagi perkembangan
hubungan sosial siswa tersimpul dari interaksi antara guru
dan siswa, siswa dengan siswa, keteladanan perilaku guru,
etos kerja dan kualitas guru sehingga dapat menjadi model
bagi siswa secara favourable dapat mempengaruhi
perkrmbangan hubungan sosial remaja, meskipun disadari
bahwa sekolah bukanlah satu- satunya faktor penentu.
c. Lingkungan Masyarakat
Menurut Walgito (2010: 97). Salah satu masalah yang
dihadapi remaja pada proses sosialisasinya adalahbahwa
tidak jarang masyarakat tidak bersikap konsisiten
pada remaja.di satu sisi mereka dikatatakan dewasa namun
kenyataannya di sisi lain remaja tidak diberikan kesempatan
untuk melakukan perah penuh sebagai orang dewasa. Untuk
menghadapi masalah-masalah penting dan menentukan
remaja masih sering dianggap sebagai anak kecil, sehingga
menimbulkan kejengkelan dan kekecewaan pada diri remaja.
Seperti lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah yang
dituntut untuk perkembangan sosial remaja, lingkungan
masyarakat juga dituntut kondusif.
Siagian (1985), Remaja tengah mengarungi perjalanan masa
mencari jati diri sehingga faktor keteladanan sistem nilai dan
norma dalam masyarakat juga menjadi sesuatu yang sangat
penting. Masa remaja adalah asa untuk menentukan identitas
dan menentukan arah, tapi masa yang sulit ini akan menjadi
semakin sulit dengan adanya kontradiksi dari masayarakat.
Kurangnya keteladanan sosial akan mempengaruhi
hubungan sosial remaja. Hal ini diperkuat oleh Wirosarjdono
(1991). Yang mengatakan bahwa “bentuk – bentuk perilaku
sosial yang ada merupakan hasil tiruan dan adaptasi dari
pengaruh kenyataan sosial yang ada”. Dengan demikian iklim
masyarakat mendapat urutan penting dalam variasi
perkembangan hubungan sosial remaja.
Menurut Ali dan Ansori dalam psikologi remaja (2006 :98),
Remaja sering kali ingin melepaskan diri dari orang tuanya
merasa lebih nyaman dengan dengan teman sebayanya.
Dalam mencari jati diri melalui lingkunganya, remaja
cenderung berupaya menemukan tokoh identifikasi dari
lingkungan jenis kelamin yang sama tetapi yang memiliki
usia sedikit lebih tua. Jika telah menemukan tokoh
identifikasinya seorang remaja cenderung lebih mengikuiti
tokoh tersebut daripada orang tuanya. Kelompok teman
sebaya memiliki peran penting dalam kehidupan remaja.
Remaja sangat ingin dipandang dan dihargai oleh anggota
kelompoknya, baik di sekolah maupun diluar sekolah.
Penderitaan akan dirasakan lebih mendalam dari pada tidak
dihargai dalam keluarga. Kohesi kelompok dan solidaritas
kelompok sangat besar pada remaja. Oleh sebab itu tidak
heran jika remaja bertingkah laku sperti anggota
kelompoknya.
Masa remaja adalah masa yang sangat potensial ke arah
positif dan negatif. Maka intervensi edukatif dalam bentuk
pendidikan diperlukan, bimbingan, maupun pendampingan
sangat diperlukan remaja untuk dapat diarahkan agar
perkembangan remaja itu ke arah yang positif. Kerja sama
yang baik antara orang tua, lingkungan sekolah dan
masyarakat sangat diperlukan agar tercapai perkembangan
remaja yang positif dan produktif. Dalam konteks proses
belajar, gejala negatif yang tampak adalah kurang mandiri
dalam belajar yang mengakibatkan gangguan metntal saat
memasuki perguruan tinggi (Soewandi, 1993: 186). Seperti
ketidaktahanan dalam belajar saat menghadapi ujian. (Lutfi,
1992: 2) membolos, menyontek, dan mencari bocoran soal
ujian. Di sini dapat kita lihat penting sekali meningkatkan
hubungan sosial pada siswa agar dalam proses
pendidikananya dan proses kehidupan dalam masyarakat
berjalan baik.
4. Pengaruh Hubungan Sosial terhadap tingkah laku
Menurut Boweby ( dalam psikologi Remaja 2006 : 86)
Perkembangan anak semakin berkembang ketika anak mulai
memasuki masa prasekolah, kira- kira usia 18 bulan. Pada
usia ini dikenal dengan kesadaran diri atau lebih dikenal
kesadaran akan dirinya dan kepemilikannya. Pada usia ini
keinginan anak untuk mengeksplorasi lingkunganya semakin
besar sehingga tidak jarang menimbulkan masalah yang
berkaitan dengan kedisiplinan. Anak- anak mulai dihadapkan
dengan orang-orang yang mendukungnya dan juga orang-
orang yang menghalangi keinginannya. Pada masa ini sampai
ahir masa sekolah ditandai dengan meluasnya lingkungan
sosialnya.
Selain dengan anggota keluarganya anak-anak pada usia ini
mulai mendekatkan diri dengan orang- orang lain di
lingkungan sosialnya. Meluasnya lingkungan sosial anak
menyebabkan anak memperoleh pengaruh di luar
pengawasan orang tuanya. Anak semakin luas berhubungan
dengan teman-temanya serta berhubungan dengan guru-guru
yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap proses
emansipasi dan sekaligus individuasi. Dalam proses ini,
teman-teman sebaya mempunyai peranan yang sangat besar.
Dalam konteks ini, Piaget (dalam Walgito, 2006: 87)
mengatakan bahwa permulaan kerja sama dan konformisme
sosial pada saat anak mencapai usia 7-10 tahun dan mencapai
puncak kurva pada saat anak berada antara umur 9-15 tahun.
Ini dapat diartikan bahwa konformisme akan bertambah
seiring dengan bertambahnya usia dari anak-anak sampai
remaja bahkan sampai pada masa penurunan kembali.
Penurunan ini disebabkan pada masa remaja sudah semikn
barkembang keinginan mencari dan menemukan jati dirinya
sehingga konformisme semakin berbenturan dengan upaya
mencapai kemandirian atau individu.
5. Karakteristik Perkembangan Hubungan Sosial
Erikson mengemukakan bahwa kehidupan sosial remaja
ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan
emosional. Mereka dapat mengalami sikap hubungn sosial
yang tertutup dan terbuka seiring dengan permasalahan
pribadi yang dialaminya, hal ini biasa disebut dengan krisis
identitas diri. Proses mencari identitas diri ini merupakan hal
yang kompleks, pada pencarian jati diri ini akan didapat
konsep diri pada remaja dan hal ini tidak hanya bagaimana
keberadaan diri remaja namun juga bagaimana orang lain
menilai tentang dirinya.hal ini sesuai dengan tahap
perkembangan remaja menurut Erikson pada tahap ke enam
yaitu masa remaja adalah masa menemukan jati diri dan
teman akrab.
Menurut Ali dan Ansori (2006), karakteristik yang menonjol
dalam perkembangan hubungan sosial remaja adalah:
a. Berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan
pergaulan;
b. Adanya upaya memilih nilai-nilai sosial;
c. Meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis;
d. Mulai tampak kecenderungannya untuk memilih karier
tertentu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, hubungan sosial remaja
ditandai dengan:
1. remaja mulai melakukan pergaulan dengan orang lain
2. mulai berteman dengan anak-anak seusianya dan mulai
membentuk kelompok-kelompok.
3. remaja juga mulai menyadari dan memilih nilai-nilai dan
norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat
4. remaja mulai mencari nilai-nilai yang dapat menjadi
pegangannya. Karena itu orang dewasa dan orang tua harus
menunjukkan konsistensinya dalam memegang dan
menerapkan nilai-nilai yang berlaku.
Karakteristik hubungan sosial remaja terlihat ketika ada
ketertarikan dengan lawan jenis dan terlihat dari
kecenderungan remaja untuk memilih karir tertentu agar
pilihan karir remaja tepat maka perlu diberikan informasi
dan pengertian agar dapat menerima kekurangan dan
kelebihan yang dimiliki
Hoffman (1989) mengemukakan bahwa ada tiga pola dalam
menumbuh kembangkan potensi hubungan sosial remaja,
yaitu:
a. pola asuh bina kasih (induction), yaitu pola asuh yang
dilakukan orang tua atau orang dewasa lainnya dalam
mendidik anak dan remaja melalui pemberian penjelasan
yang rasional terhadap segala sikap dan keputusan yang akan
diterapkan terhadapnya.
b. pola asuh lepas kasih (love withdrawal), yaitu pola asuh
yang dilakukan orang tua atau orang dewasa lainnya dalam
mendidik anak remaja melalui penarikan atau pengurangan
kasih sayangnya bila anak tersebut tidak mematuhi
kehendaknya, kemudian memberikannya kembali ketika
anak sudah mematuhinya.
c. pola asuh unjuk kuasa (power assertion), yaitu pola asuh
yang dilakukan orang tua atau orang dewasa lainnya dalam
mendidik anak remaja melalui paksaan kehendak, sekalipun
anak kurang biasa menerimanya.
Berdasarkan hal tersebut agar potensi hubungan sosial
remaja berkembang dengan baik maka pola asuh yang tepat
adalah dengan pola asuh bina kasih (induction). Hal ini dapat
dilihat bahwa dalam pola asuh tersebut ada komunikasi
antara orang tua dan anak dalam memberikan perintah,
sehingga anak tidak merasa bingung dan tertekan dan
berontak terhadap perintah orang tua.
6. Mengembangkan Keterampilan Sosial pada Remaja
Sebagai makhluk sosial, remaja dituntut untuk dapat
beradaptasi dan hidup dalam lingkungan masyarakat sesuai
dengan tahap perkembanganya, hal ini senada dengan Buhler
(dalam Makmun, 2003) pada usia SLTA adalah (13-16) mulai
mengetahui bahwa adanya kenyataan yang berbeda dengan
sudut pandangnya kemudian pada usia (16-18) adalah
berperilaku sesuai dengan tuntunan masyarakat dan
kemampuan yang dimilikinya. Remaja dituntut dapat hidup
dengan masyarakat sesuai dengan norma dan aturan yang
berlaku dalam masyarakat. Masa remaja adalah masa terjadi
interaksi yang lebih luas mulai dari lingkungan keluarga
teman- teman dan lingkungan sosial tempat remaja berada,
dalam hal ini keterampian sosial remaja sangat dibutuhkan.
Ketidakmampuan remaja dalam menguasai keterampilan
sosial akan menyebabkan remaja sulit untuk menyesuaikan
diri dengan lingkungannya sehingga dapat menyebabkan rasa
rendah diri, tidak percaya diri, terisolir, dikucilkan dari
lingkungan pergaulan, susah beradaptasi dan cenderung
berperilaku normatif.
Keterampilan sosial merupakan usaha individu dalam
mengatasi permasalahan sosial yang dialami oleh individu.
Keterampilan-keterampilan sosial tersebut seperti
kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan
orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain,
mendengarkan pendapat atau keluhan orang lain, member
atau menerima, member atau menerima kritik, dan bertindak
sesuai dengan norma yang berlaku.