Anda di halaman 1dari 15

STRATEGI BIMBINGAN DAN KONSELING

TUGAS MATA KULIAH

BIMBINGAN DAN KONSELING

Dengan Dosen Pembimbing

Devi Pematasari, M.Pd

Oleh :

Kelompok 3

1. Heldya Noyulistiani 170404030011


2. Abdul Haris Nasution 170404030009
3. Kondradus Andri Juru 170404030012

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Strategi Bimbingan dan
Konseling ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas  semester 6 pada Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling Selain itu,
makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang jenis-jenis layanan dan
ragam pendekatan bimbingan dan konseling  bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Devi Permatasari, M.Pd selaku Dosen
Pendidikan Ekonomi Mata Kuliah Mata Bimbingan dan Konseling yang telah
memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan kami sesuai
dengan bidang studi yang kami tekuni. kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan
makalah ini. Saya menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna.

Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi
kesempurnaan makalah ini.

Malang, 14 Maret 2020

Penulis

[ii]
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.......................................................................................................i

KATA PENGANTAR.......................................................................................................ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1

A. Latar Belakang.........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah....................................................................................................2
C. Tujuan Penulisan......................................................................................................2
D. Manfaat Penulisan....................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN....................................................................................................3

A. Strategi dalam Bimbingan dan Konseling...............................................................3


B. Layanan Dasar.........................................................................................................3
C. Layanan Responsif...................................................................................................4
D. Layanan Peencanaan Individual..............................................................................5
E. Dukungan Sistem.....................................................................................................6
F. Pendekatan Krisis.....................................................................................................8
G. Pendekatan Remidial...............................................................................................9
H. Pendekatan Preventif...............................................................................................9
I. Pendekatan Perkembangan....................................................................................10

BAB III PENUTUP..........................................................................................................11

A. Kesimpulan............................................................................................................11
B. Saran .....................................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................12

[iii]
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik
secara perorangan maupun berkelompok, agar mampu mandiri dan berkembang
secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan
bimbingan karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan
norma-norma yang berlaku. Dalam pelaksanaan program bimbingan dan
konseling, prinsip-prinsip bimbingan harus diterjemahkan kedalam program-program
sebagai pedoman pelaksanaan di sekolah.
Di dalam membuat program tersebut, kerjasama konselor dengan personel lain
di sekolah merupakan suatu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Kerjasama ini akan
menjamin tersusunnya program bimbingan dan konseling yang komprehensif,
memenuhi sasaran, serta realistik. Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan
konseling di Sekolah atau madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak
adanya landasan hukum (perundang-undangan) atau ketentuan dari atas, namun yang
lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya
disebut konseling, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-
tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan
moral-spiritual). Program bimbingan dan konseling mengandung empat komponen
pelayanan, yaitu pelayanan dasar bimbingan, pelayanan responsif, perencanaan
individual, dan dukungan sistem.
Tidak hanya pelayanan saja, untuk mengantisipasi dan mengikuti
perkembangan dunia, Bimbingan dan Konseling di sekolah merupakan suatu hal yang
tidak dapat ditawar keberadaannya. Pesatnya kemajuan jaman menuntut manusianya
untuk siap mengisi jaman tersebut. Manusia sebagai individu yang berperan mengisi
aktivitas jaman akan selalu terbentur dengan masalah-masalah yang dihadapinya
dalam kehidupan.
Siswa sebagai anak didik yang juga merupakan bahagian dari individu yang
dikatakan berperan mengisi zaman tentu tidak akan terlepas dari kondisi ini. Pada
siswa yang dipersiapkan untuk menjadi generasi penerus diharapkan dapat dan
memperoleh perkembangan individu yang optimal. Perkembangan disini tentunya
melalui sekolah. Berbicara mengenai sekolah maka perangkat membentuk individu
melalui pendidikan merupakan suatu sistem. Disamping memperoleh ilmu
[1]
pengetahuan siswa juga diharapkan dapat berkembang lebih jauh sesuai dengan
kapasitas individu yang dimilikinya. Disinilah peran guru Bimbingan Konseling,
dengan mendampingi si anak untuk memperoleh dan meraih harapan dan cita-citanya,
diharapkan anak dapat tergali dan berkembang lebih baik kemampuan yang ada pada
dirinya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat kami rumusan masalah dari makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Apa Jenis-jenis layanan bimbingan dan konseling?
2. Apa Ragam pendekatan bimbingan dan konseling?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan pembahasan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Jenis-jenis layanan bimbingan dan konseling.
2. Untuk mengetahui Ragam pendekatan bimbingan dan konseling.
D. Manfaat Penulisan
Agar pembaca dapat mengetahui pembahasan materi mengenai Jenis-jenis
layanan dan Ragam pendekatan bimbingan dan konseling.

[2]
BAB II

PEMBAHASAN

A. Strategi dalam Bimbingan dan Konseling


Strategi berasal dari Bahasa Yunani yaitu strategos yang merupakan
gabungan dari kata stratos (militer) dengan ago (memimpin). Sebagai kata
kerja, strategos  berarti merencanakan (to plan). Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia istilah strategi memiliki pengertian bahwa ilmu dan seni menggunakan
semua sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang
dan damai. Menurut Mintberg dan Waters (1983) bahwa makna strategi adalah pola
umum tentang keputusan atau tindakan. Sedangkan menurut Hardy, Langley dan Rose
dalam Sudjana (1986) mengemukakan bahwa yang dimaksud strategi adalah suatu
rencana atau kehendak yang mendahului dan mengendalikan kegiatan. Jadi strategi
bimbingan dan konseling adalah suatu pola yang direncanakan dan ditetapkan secara
sengaja untuk mencapai kegiatan belajar mengajar serta dalam hal membantu dan
membimbing peserta didik secara maksimal.
B. Layanan Dasar
Pelayanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh
konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau
kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku
jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas–tugas perkembangan (yang dituangkan
sebagai standar kompotensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan
kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya.
Pelayanan ini bertujuan untuk membantu semua konseli agar memperoleh
perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh
keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka
dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan pelayanan ini
dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu konseli agar:
a. Memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya
(pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama).
b. Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung
jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan
lingkungannya.
c. Mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya.

[3]
d. Mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus perilaku yang dikembangkan 
menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat
dengan upaya membantu konseli dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya
(sebagai standar kompetensi kemandirian). Materi pelayanan dasar dirumuskan dan
dikemas atas dasar standar kompetensi kemandirian antara lain mencakup
pengembangan: self-esteem, motivasi berprestasi, keterampilan pengambilan
keputusan, keterampilan pemecahan masalah, keterampilan hubungan antar pribadi
atau berkomunikasi, penyadaran keragaman budaya, dan perilaku bertanggung jawab.
Hal-hal yang terkait dengan perkembangan karir (terutama di tingkat SLTP/SLTA)
mencakup pengembangan: fungsi agama bagi kehidupan, pemantapan pilihan
program studi, keterampilan kerja profesional, kesiapan pribadi (fisik-psikis,
jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, perkembangan dunia kerja, iklim
kehidupan dunia kerja, cara melamar pekerjaan, kasus-kasus kriminalitas, bahayanya
perkelahian masal (tawuran), dan dampak pergaulan bebas.
C. Layanan Reponsif
Pelayanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada konseli yang
menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera,
sebab jika tidak segera dibantu dapat menimbulkan gangguan dalam proses
pencapaian tugas-tugas perkembangan. Konseling indiviaual, konseling krisis,
konsultasi dengan orangtua, guru, dan alih tangan kepada ahli lain adalah ragam
bantuan yang dapat dilakukan dalam pelayanan responsive.
Tujuan pelayanan responsif adalah membantu konseli agar mampu memenuhi
kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu konseli
yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangan.
Indikator dari kegagalan itu berupa ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri atau
perilaku bermasalah. Tujuan pelayanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya
untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi konseli yang muncul
segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan
atau masalah pengembangan pendidikan.
Fokus peleyanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan
konseli. Masalah atau kebutuhan konseli berkaitan dengan keinginana untuk
memahami sesuatu hal karena dipandang penting bagi perkembangan dirinya secara
positif. Kebutuhan ini seperti kebutuhan untuk memperoleh informasi antara lain
[4]
tentang pilihan karir dan program studi, sumber- sumber belajar, bahaya obat
terlarang, minuman keras, narkotika, pergaulan bebas.
Masalah lainnya adalah yang berkaitan dengan berbagai hal yang dirasakan
mengganggu kenyamanan hidup atau menghambat perkembangan diri konseli, karena
tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai tugas-tugas perkembangan.
Masalah konseli pada umumnya tidak mudah diketahui secara langsung tetapi dapat
dipahami melalui gejala-gejala perilaku yang ditampilkannya.
Masalah (gejala perilaku bermasalah) yang mungkin dialami konseli
diantaranya: merasa cemas tentang masa depan, merasa rendah diri, berperilaku
impulsif (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan-nya
secara matang), membolos dari Sekolah/Madrasah, malas belajar, kurang memiliki
kebiasaan belajar yang positif, kurang bisa bergaul, prestasi belajar rendah, malas
beribadah, masalah pergaulan bebas (free sex), masalah tawuran, manajemen stress,
dan masalah dalam keluarga. Untuk memahami kebutuhan dan masalah konseli dapat
ditempuh dengan cara asesmen dan analisis perkembangan konseli, dengan
menggunakan berbagai teknik, misalnya inventori tugas-tugas perkembangan (ITP),
angket konseli, wawancara, observasi,sosiometri, daftar hadir konseli, leger, psikotes
dan daftar masalah konseli atau alat ungkap masalah (AUM).
D. Layanan Perencanaan Individual
Perencanaan individual diartikan sebagai bantuan kepada konseli agar mampu
merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa
depan berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta
pemahaman akan peluang kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pemahaman
konseli secara mendalam dengan segala karakteris-tiknya, penafsiran hasil asesmen,
dan penyediaan informasi yang akurat sesuai dengan peluang dan potensi yang
dimiliki konseli amat diperlukan sehingga konseli mampu memilih dan mengambil
keputusan yang tepat di dalam mengem-bangkan potensinya secara optimal, termasuk
keber-bakatan dan kebutuhan khusus konseli. Kegiatan orientasi, informasi, konseling
individual, rujukan, kola-borasi, dan advokasi diperlukan di dalam implementasi
pelayanan ini.
Perencanaan individual bertujuan untuk membantu konseli agar:
1) Memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya,

[5]
2) Mampu merumuskan tujuan, perencanaan atau pengelolaan terhadap
perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir,
dan
3) Dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang
telah dirumuskannya.
Tujuan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya
memfasilitasi konseli untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana
pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri. Isi layanan
perencanaan individual adalah hal-hal yang menjadi kebutuhan konseli untuk
memahami secara khusus tentang perkembangan dirinya sendiri. Dengan demikian
meskipun perencanaan individual ditujukan untuk memandu seluruh konseli,
pelayanan yang diberikan lebih bersifat individual karena didasarkan atas
perencanaan, tujuan dan keputusan yang ditentukan oleh masing-masing konseli.
Melalui pelayanan perencanaan individual, konseli diharapkan dapat:
1) Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan lanjutan, merencanakan karir, dan
mengembangkan kemampuan sosial-pribadi, yang didasarkan atas pengetahuan akan
dirinya, informasi tentang Sekolah/Madrasah, dunia kerja, dan masyarakatnya.
2) Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya.
3) Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya.
4) Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya.

E. Dukungan Sistem
Dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen,
tata kerja, infra struktur (misalnya teknologi informasi dan komunikasi), dan
pengembangan kemampuan profesional konselor secara berkelanjutan, yang secara
tidak langsung memberikan bantuan kepada konseli atau memfasilitasi kelancaran
perkembangan konseli. Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang
bertujuan untuk memantapkan, memelihara, serta meningkatkan program bimbingan.
Program ini memberikan dukungan kepada konselor dalam memperlancar
penyelenggaraan pelayaan di atas. Sedangkan bagi personil pendidik lainnya adalah
untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah/madrasah.
Dukungan sistem ini meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1. Pengembangan Jejaring (networking)
Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan konselor yang meliputi:

[6]
1) Konsultasi dengan guru-guru,
2) Melaksanakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat,
3) Berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan di
sekolah/madrasah,
4) Bekerjasama dengan personel sekolah/madrasah lainnya dalam rangka
menciptakan lingkungan sekolah/madrasah yang kondusif bagi perkembangan
konseli,
5) Melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan
bimbingan dan konseling, dan
6) Melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan ahli lain yang terkait dengan
pelayana bimbingan dan konseling.
2. Kegiatan Manajemen
Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara
dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan
yang meliputi:
1) Pengembangan program,
2) Pengembangan staf,
3) Pemanfaatan sumber daya, dan
4) Pengembangan penataan kebijakan.
5) Pengembangan Profesionalitas
Konselor secara terus menerus berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan
keterampilannya melalui: in-service training, aktif dalam organisasi profesi, aktif
dalam kegiatan-kegiatan ilmiah; seperti seminar dan workshop (lokakarya), atau
melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (Pascasarjana).
6) Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi
Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf
Sekolah/Madrasah lainnya, dan pihak institusi di luar Sekolah/ Madrasah (pemerintah,
dan swasta) untuk memper-oleh informasi, dan umpan balik tentang pelayanan
bantuan yang telah diberikannya kepada para konseli, menciptakan lingkungan
Sekolah/Madrasah yang kondusif bagi perkembangan konseli, melakukan referal,
serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling. Dengan kata lain
strategi ini berkaitan dengan upaya Sekolah/ Madrasah untuk menjalin kerjasama
dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu
pelayanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak: instansi
[7]
pemerintah, instansi swasta, organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan
dan Konseling Indonesia), para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti
psikolog, psikiater, dokter, dan orang tua konseli, MGBK (Musyawarah Guru
Bimbingan dan Konseling), dan Depnaker (dalam rangka analisis bursa
kerja/lapangan pekerjaan).
7) Manajemen Program
Suatu program pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan terselenggara,
dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu,
dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah.
3. Riset dan Pengembangan
Kegiatan riset dan pengembangan merupakan aktifitas konselor yang berhubungan
dengan pengembangan professional secara berkelanjutan, meliputi:
1) Merancang, melaksanakan dan memanfaatkan penelitian dalam bimbingan dan
konseling untuk meningkatkan kualitas layanan bimbingan dan konseling, sebagai
sumber data bagi kepentingan kebijakan sekolah dan implementasi proses
pembelajaran, serta pengembangan program bagi peningkatan unjuk kerja
professional konselor,
2) Merancang, melaksanakan dan mengevaluasi aktivitas pengembangan diri
konselor professional sesuai dengan standar kompetensi konselor,
3) Mengembangkan kesadaran komitmen terhadap etika professional,
4) Berperan aktif di dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling.
F. Pendekatan Krisis
Pendekatan krisis disebut juga pendekatan kuratif merupakan upaya
bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisis atau masalah.
Bimbingan ini bertujuan mengatasi krisis atau masalah – masalah yang dialami
individu. Dalam pendekatan krisis pembimbing menunggu individu yang datang.
Selanjutnya, mereka memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang dirasakan
individu.
Terkait dengan pendekatan krisis ini, Suryana dan Suryadi (2012) mengusulkan untuk
strategi yang digunakan dalam pendekatan krisis. Strategi yang digunakan dalam
pendekatan ini adalah teknik-teknik yang secara “pasti” dapat mengatasi krisis itu.
Contoh: Seorang peserta didik datang mengadu kepada guru sambil menangis karena
didorong temannya sehingga tersungkur ke lantai. Guru yang menggunakan
pendekatan krisis akan meminta peserta didik tersebut untuk membicarakan
[8]
penyelesaian masalahnya dengan teman yang mendorongnya ke lantai. Bahkan
mungkin guru tersebut memanggil teman peserta didik tersebut untuk datang ke ruang
guru untuk membicarakan penyelesaian masalah tersebut sampai tuntas.
G. Pendekatan Remidial
Pendekatan remedial merupakan pendekatan bimbingan yang diarahkan kepada
individu yang mengalami kelemahan atau kekurangan. Tujuan bimbingan ini adalah
untuk membantu memperbaiki kekurangan/kelemahan yang dialami individu. Dalam
pendekatan ini, pembimbing memfokuskan tujuannya pada kelemahan – kelemahan
individu dan selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya.
Pendekatan remedial banyak dipengaruhi aleh aliran psikologi behavioristic.
Psikologi behavioristic menekankan perilaku individu di sini dan saat ini. Saat ini,
perilaku dipengaruhi oleh suasana lingkungan pada saat ini pula. Oleh sebab itu,
untuk memperbaiki perilaku individu perlu ditata lingkungan yang mendukung
perbaikan perilaku tersebut.
Terkait dengan pendekatan krisis ini, Suryana dan Suryadi (2012)
mengusulkan untuk strategi yang digunakan dalam pendekatan remedial. Strategi
yang digunakan, seperti mengajarkan kepada peserta didik keterampilan tertentu
seperti keterampilan belajar (membaca, merangkum, menyimak, dll), keterampilan
sosial dan sejenisnya yang belum dimiliki peserta didik sebelumnya. Dalam contoh
kasus diatas, dengan menggunakan pendekatan remedial, guru dapat mengambil
tindakan mengajarkan keterampilan berdamai sehingga peserta didik tadi memiliki
keterampilan untuk mengatasi masalah – masalah hubungan antarpribadi
(interpersonal). Keterampilan berdamai adalah keterampilan yang selama ini belum
dimiliki kedua peserta didik tersebut dan merupakan kelemahan yang bisa
memunculkan masalah itu.
H. Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif merupakan pendekatan yang diarahkan pada antisipasi
masalah – masalah umum individu, mencegah jangan sampai masalah tersebut
menimpa individu. Pembimbing memberikan beberapa upaya, seperti informasi dan
keterampilan untuk mencegah masalah tersebut.
Suryana dan Suryadi (2012) mengatakan bahwa dalam pendekatan ini, guru mencoba
mengantisipasi masalah-masalah generik dan mencegah terjadinya masalah itu.
Masalah-masalah yang dimaksud seperti putus sekolah, berkelahi, kenakalan,
merokok, membolos, menyontek, mengutil, bermain game on line/internet dan
[9]
sejenisnya yang secara potensial masalah itu dapat terjadi pada peserta didik secara
umum. Model preventif ini, didasarkan pada pemikiran bahwa jika guru dapat
mendidik peserta didik untuk menyadaribahaya dariberbagaikegiatan dan menguasai
metode untuk menghindari terjadinya masalah itu, maka guru akan dapat mencegah
peserta didik dari perbuatan-perbuatan yang membahayakan tersebut.
Suryana dan Suryadi (200) juga mengusulkan strategi dalam pendekatan ini. Strategi
yang dapat digunakan dalam pendekatan ini yaitu termasuk mengajar dan
memberikan informasi. Dalam contoh kasus di atas, jika guru menggunakan
pendekatan preventif dia akan mengajari peserta didik nya secara klasikal untuk
bersikap toleran dan memahamiorang lain sehingga dapat mencegah munculnya
perilaku agresif, tanpa menunggu munculnya krisis terlebih dahulu
I. Pendekatan Perkembangan
Pendekatan perkembangan menekankan pada pengembangan potensi dan
kekuatan yang ada pada individu secara optimal. Setiap individu memiliki potensi dan
kekuatan – kekuatan tertentu melalui penerapan berbagai teknik bimbingan potensi,
kemudian kekuatan – kekuatan tersebut dikembangkan. Dalam pendekatan ini,
layanan bimbingan diberikan kepada semua individu, bukan hanya pada individu
yang menghadapi masalah. Bimbingan perkembangan dapat dilaksanakan secara
individual, kelompok, bahkan klasikal melalui layanan pemberian informasi, diskusi,
proses kelompok, serta penyaluran bakat dan minat.
Suryana dan Suryadi (2012) mengusulkan bahwa strategi yang dapat
digunakan dalam pendekatan ini seperti mengajar, tukar informasi, bermain peran,
melatih, tutorial, dan konseling. Dalam contoh tersebut, jika guru menggunakan
pendekatan perkembangan, guru tersebut sebaiknya menangani peserta didik tadi
sejak tahun-tahun pertama masuk sekolah, mengajari dan menyediakan pengalaman
belajar bagi murid itu yang dapat mengembangkan keterampilan hubungan antarpri
badiyang diperlukan untuk melakukan interaksi yang efektif dengan orang lain. Oleh
karena itu, dalam pendekatan perkembangan, keterampilan dan pengalaman belajar
yang menjadi kebutuhan peserta didik akan dirumuskan ke dalam suatu kurikulum
bimbingan atau dirumuskan sebagai layanan dasar umum.

[10]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat kami simpulkan bahwa dalam komponen
Bimbingan dan Konseling mengandung empat komponen pelayanan yaitu, Pelayanan
dasar, Pelayanan responsif, Pelayanan perencanaan individual dan Dukungan sistem.
Selain jenis-jenis pelayanan agar mempermudah proses bimbingan dan konseling juga
ada berbagai macam pendekatan yang bisa dilakukan yaitu, Pendekatan Krisis,
Pendekatan Remidial, Pendekatan Preventif dan Pendekatan Perkembangan. Pada
dasarnya tujuan adanya strategi bimbingan dan konseling ini adalah membantu para
konselor dalam proses pengerjaan dalam hal pendekatan kepada klien sehingga
masalah klien mudah untuk diselesaikan secara damai.
B. Saran
Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat menambah pengetahuan
tentang komponen dan strategi bimbingan dan konseling serta menjadi sumber
referensi bagi pembacanya. Mengingat sangat penting pengetahuan tentang
bimbingan dan konseling, sudah seharusnya seorang calon guru memahami
permasalahan-permasalahan yang mungkin bisa terjadi di sekolah serta dapat mencari
solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi oleh siswa ataupun pendidik.

[11]
DAFTAR PUSTAKA

Setyowati, Dini. 2017. Makalah Bimbingan Dan Konseling, (Online),


(http://dinisetyawati26071997.blogspot.com/2017/12/makalah-bimbingan-dan-
konseling.html), diakses 14 Maret 2020.

Bloger, 2017. Strategi Bimbingan dan Konseling, (Online),


(http://bimbingandankonseling12.blogspot.com/2017/05/strategi-bimbingan-dan-
konseling.html), diakses 14 Maret 2020.

[12]