Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH AKUPRESUR TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN OTOT

DAN ACTIVITIES OF DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN STROKE


NON HEMORAGIK DI UNIT STROKE RSUD A. WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA

Ns. Theresia Tutik Ismiati, M.Kep1, Maria Astrid M.Kep.,Ns.,Sp.KMB, Dr. Ir. Wilhelmus Hary
S.,MM.,IAI, Risma Yuniarlina RS, SKp., MS.

Jurusan Keperawatan, STIKES Dirgahayu Samarinda


Jl. Pasundan Nomor 21 Kelurahan Jawa Kecamatan Samarinda Ulu
Kota Samarinda Kalimantan Timur Kode Pos 75122

email: theresialegowo88@gmail.com

______________________________________________________________________________

Abstrak

Stroke merupakan penyakit yang disebabkan adanya gangguan suplai darah keotak. WHO (World Health
Organization) menyampaikan 15 juta orang menderita stroke di seluruh dunia setiap tahun. Sebanyak 5
juta orang mengalami kematian dan 5 juta orang mengalami kecacatan yang menetap. Yayasan Stroke
Indonesia (Yastroki) mencatat bahwa Indonesia menduduki urutan pertama di Asia dengan penderita
stroke terbanyak dan menjadi penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Stroke berdampak pada
disfungsi ekstremitas berupa penurunan kekuatan otot yang akan berdampak pada penurunan kemampuan
Activities of daily living (ADL). Terdapat beberapa terapi yang telah dilakukan untuk mengatasi
kelemahan otot dan keterbatasan ADL seperti latihan rentanggerak, pemberian posisi, dan akupresur yang
merupakan salah satu bentuk terapi yang dapat dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekstremitas.
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh intervensi akupresur terhadap kekuatan otot ekstremitas dan
Activities Of Daily Living (ADL) pada Pasien Stroke. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif
menggunakan metode kuasi eksperimen pre-post test design melibatkan 113 responden kedalam 2
kelompok yaitu kelompok intervensi 88 responden dan kelompok kontrol 25 responden. Hasil penelitian
didapatkan responden laki-laki (51,3%), usia 45-59 tahun (58,4%), dan mengalami serangan pertama
(85%). Setelah intervensi 7 hari pada masing-masing responden, didapatkan perbedaan yang signifikan
peningkatan kekuatanotot dan ADL sebelum dengan sesudah intervensi: kekuatan otot ekstremitas kanan
(p=0,000); kekuatan ekstremitas kiri (p=0.000); dan ADL (p=0.000). Karakteristik responden yang
berpengaruh terhadap kekuatan otot dan ADL adalah usia dan frekuensi stroke (p<0.05), sedangkan tidak
ada pengaruh jenis kelamin (p>0.05). Simpulan penelitian ini bahwa akupresur merupakan terapi yang
efektif terhadap peningkatan kekuatan otot dan ADL pasien stroke. Penelitian ini merekomendasi
akupresur sebagai terapi komplementer untuk meningkatkan kekuatan otot dan ADL pasien stroke.

Kata kunci: akupresur, kekuatanotot, Activities of daily living (ADL)

Abstract

Stroke is a disease caused by the interruption of blood supply to the brain. WHO (World Health
Organization) stated 15 million people world wide suffer a stroke each year. As many as 5 million people
are death sand 5 million people have permanent disability. Stroke Foundation of Indonesia (Yastroki)
noted that Indonesia ranks first in Asia with the majority of stroke patients and become leading causes of
death in Indonesia. Stroke affects extremity dysfunction such decreased muscle strength which will
contribute to the decline ability of Activities of daily living (ADL). There are several the rapies that have
been done to over come muscle weakness and limitations of the ADL such as range of movement
exercises, positioning, and acupressure is one form of therapy that can be done to restore extremity
function. This study aims to determine the effect of acupressure intervention on limb muscle strength and
Activities Of Daily Living (ADL) In Stroke Patients. Quantitative Study of quasi-experiment pre-post test
design involved 113 respondents into two groups: the intervention group with 88 respondents and the
control group with 25 respondents.The result showed male respondents (51.3%), aged 45-59 years
(58.4%), and the first attack (85%). After the intervention of 7 day sine ach ofthe respondents, found
significant differences increase muscle strength and ADL before the after intervention: right limbmuscle
strength(p =0.000); left limbstrength (p =0.000); and ADL (p =0.000). Respondent characteristics that
influence muscle strength and ADL were age and frequency of stroke (P <0.05), where as no influence of
gender (p> 0.05). The conclusions of this study that acupressureis an effective therapy on increase
muscle strength and ADL of stroke patients. This research recommended acupressure as a
complementary therapy to improve muscle strength andADLof stroke patients.

Keywords: acupressure, muscle strength, Activitiesofdaily living(ADL)

1
PENDAHULUAN sebanyak 57,9% (Riskesdas, 2013).

Stroke adalah istilah yang digunakan untuk Berdasarkan data rekam medis RSUD A.

menggambarkan perubahan neurologis yang Wahab Sjahranie Samarinda, jumlah pasien

disebabkan oleh adanya gangguan suplai stroke yang dirawat dari bulan Januari –

darah ke bagian dari otak. Dua jenis stroke Desember 2014 berjumlah 1.195 orang

yang utama adalah iskemik dan hemoragik. dengan rata-rata tingkat kemandirian pasien

Stroke iskemik disebabkan oleh adanya stroke yang dirawat masuk dalam kategori

penyumbatan akibat gumpalan aliran darah partly sampai wholly compensatori dalam

baik itu sumbatan karena thrombosis hal pemenuhan bantuan aktivitas (Rekam

(penggumpalan darah yang menyebabkan medis RSUD A. Wahab Sjahranie

sumbatan di pembuluh darah) atau embolik Samarinda, 2014). Stroke merupakan

(pecahan gumpalan darah/udara/benda asing penyebab utama dari kecacatan pada orang

yang berada dalam pembuluh darah dewasa dan merupakan diagnosis utama

sehingga dapat menyumbat pembuluh darah teratas dalam perawatan jangka panjang.

otak). Lebih dari empat juta penderita stroke yang

Data statistik dunia WHO (World Health bertahan hidup dengan tingkat kecacatan

Organization) menunjukkan 15 juta orang yang bervariasi di Amerika Serikat. Sejalan

menderita stroke diseluruh dunia setiap dengan tingginya tingkat kematian pada

tahun. Sebanyak 5 juta orang mengalami stroke, penyakit ini juga menyebabkan

kematian dan 5 juta orang mengalami angka kesakitan atau morbiditas yang

kecacatan yang menetap (WHO, 2011). Di signifikan pada orang-orang yang bisa

Amerika Serikat sekitar 550.000 orang bertahan dengan penyakit stroke (Black &

mengalami stroke dan menjadi penyebab Hawks, 2014). Keparahan paresis paska

sekitar 150.000 kematian setiap tahunnya. stroke merupakan salah satu hal yang

Ketika stroke yang kedua kalinya dipertimbangkan memiliki kaitan dengan

dimasukkan dalam kondisi tersebut, angka kapabilitas fungsional, pemulangan dan

kejadian tersebut meningkat menjadi mortalitas (Glinsky, Harvey & Es, 2007).

700.000 per tahun hanya untuk di Amerika Stroke secara jelas dapat berdampak pada

Serikat sendiri. Yayasan Stroke Indonesia disfungsi ekstremitas yang merupakan

(Yastroki) mencatat bahwa Indonesia gangguan fungsional yang paling umum

menduduki urutan pertama di Asia dengan terjadi yaitu sebanyak 88% penderita stroke

penderita stroke terbanyak dan menjadi berupa kehilangan kontrol ekstremitas yang

penyakit penyebab kematian tertinggi di dapat menurunkan kekuatan otot yang akan

Indonesia (Yastroki, 2012). Berdasarkan berdampak pada penurunan kemampuan

data hasil Riset Kesehatan Dasar Activities of daily living (ADL). Beberapa

(Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan hasil terapi yang telah dilakukan untuk mengatasi

prevalensi stroke terlihat meningkat seiring kelemahan otot dan keterbatasan ADL

peningkatan umur responden. Prevalensi seperti latihan rentang gerak, pemberian

stroke sama banyaknya pada laki-laki dan posisi, dan akupresur merupakan salah satu

perempuan. Prevalensi stroke di Indonesia bentuk terapi yang dapat dilakukan untuk

telah terdiagnosis oleh tenaga kesehatan mengembalikan fungsi ekstremitas.


Akupresur merupakan suatu metode

2
pengobatan dengan memberikan penekanan 2 Jenis kelamin
Laki-laki 58 (51.3)
pada titik meridian pada aliran qi tubuh
Perempuan 55 (48.7)
(energi vital dan merupakan unsur dasar dari
3 Frekuensi stroke
seluruh bentuk pergerakan dan perubahan Serangan ke-2 dst 17 (-15)
Serangan pertama 96 (-85)
seluruh fenomena di alam semesta). Dengan
4 Kekuatan otot kanan
memperbaiki aliran qi, fungsi ekstremitas
1 1 (0,9)
dan kemampuan melakukan aktivitas sehari- 2 10 (8,8)
hari pada pasien paska stroke dapat 3 35 (31)
4 20 (17,7)
membaik. 5 47 (41,6)
5 Kekuatan otot kiri
METODE PENELITIAN 1 0 0
Penelitian ini merupakan penelitian 2 9 (8)
3 21 (18,6)
kuantitatif, menggunakan metoda quasi
4 17 (15)
eksperiment dengan pendekatan pretest, 5 66 (58,4)
posttest wih control group design untuk 6 ADL
Mandiri (>60-100) 0 0
mengetahui pengaruh akupresur terhadap Ketergantungan
sedang (40-60) 34 (30,1)
kekuatan otot dan Activities of daily living
Ketergantungan berat
(ADL). Pada desain ini terdapat dua (>20 - <40) 79 (69,9)
Ketergantungan
kelompok yaitu kelompok intervensi yang penuh (0-20) 0 0
akan diberikan tindakan akupresur dan
kelompok kontrol yang mendapatkan Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa
perawatan rutin. Kelompok intervensi diberi karakteristik responden dalam penelitian ini
perlakuan perawatan rutin dan akupresur adalah 66 (58,4%) responden dalam rentang
dan kelompok kontrol hanya diberi usia 45-59 tahun, 58 (51,3%) responden
perlakuan perawatan rutin. Peneliti berjenis kelamin laki-laki, dan sebanyak 96
melakukan analisis uji pengaruh, uji beda (85%) responden mengalami serangan
berpasangan dan uji beda independen untuk stroke untuk yang pertama kali, kekuatan
mengidentifikasi pengaruh akupresur otot kanan dengan nilai 3 sebanyak 35
terhadap kekuatan otot dan kemampuan responden (31%) dari 66 responden,
ADL pada pasien stroke yang dirawat di kekuatan otot kiri dengan nilai 3 sebanyak
RSUD A.Wahab Sjahranie Samarinda. 21 responden (18,6%) dari 47 responden dan
kemampuan ADL dalam rentang
HASIL
ketergantungan berat (>20 - <40) sebanyak
Data diolah dengan uji univariat, bivariat,
79 responden (69,9%) dari 113 responden.
dan multivariat.
2) Analisis Bivariat
1) Analisis Univariat
Tabel 2.
Tabel 1 Hasil Uji Beda Sebelum dan Sesudah
Distribusi Karakteristik Responden Intervensi
No Karakteristik n %
No Variabel pvalue
1 Usia
1 Kekuatan otot kanan 0.000
45-59 th 66 (58,4)
2 Kekuatan otot kiri 0.000
60-74 th 39 (34,5)
3 ADL 0.000
75-90 th 7 (6,2)
>90 1 (9)

3
Berdasarkan Tabel 2, didapatkan nilai p < independen (akupresur, usia, jenis
0.005 pada ketiga variabel. Ini menunjukkan kelamin dan frekuensi stroke)
bahwa secara statistik ada peningkatan memberikan kontribusi terhadap
kekuatan otot kiri dan kanan dan ADL yang variabel dependen sebesar 45,1%,
signifikan sebelum intervensi dengan sesudah sisanya 54,9% dijelaskan oleh
intervensi. variabel di luar model atau variabel
3) Analisis Multivariat yang tidak diteliti.
Tabel 3
Tabel 4
Uji Pseudo R-Square Antar Kelompok
Intervensi Uji Parameters Estimates pada
kekuatan otot kanan

Variabel Dependen Cox and Snell Variabel Hasil Parameters Estimates


Independen Estimate Nilai p
Kekuatan otot kanan 0,276 Koefisien 2 -7,078 0,001
Kekuatan otot kiri 0,158 Koefisien 3 -5,117 0,006
ADL 0,451 Koefisien 4 -3,152 0,070
Berdasarkan Tabel 3, besarnya Intervensi 2,380 0,002
kontribusi variabel independen terhadap Jenis kelamin -0,205 0,778
Usia -1,933 0,000
variabel dependen dijelaskan sebagai Frekuensi
1,431 0,067
berikut: stroke
Berdasarkan Tabel 4, pengaruh
1. Pada variabel kekuatan otot kanan
variabel independen terhadap variabel
didapatkan nilai Cox and Snell
dependen kekuatan otot kanan
sebesar 0,276, secara statistik
didapatkan nilai p = 0,002 pada variabel
disimpulkan bahwa variabel
intervensi dan nilai p = 0,000 pada
independen (akupresur, usia, jenis
variabel usia (p = <0,05), sedangkan
kelamin dan frekuensi stroke)
variabel jenis kelamin dan frekuensi
memberikan kontribusi terhadap
stroke nilai p = >0,05. Secara statistik
variabel dependen sebesar 27,6%,
disimpulkan bahwa akupresur dan usia
sisanya 72,4% dijelaskan oleh
secara signifikan mempengaruhi
variabel di luar model atau variabel
peningkatan kekuatan otot ekstremitas
yang tidak diteliti.
kanan pada pasien stroke, sementara
2. Pada variabel kekuatan otot kiri
jenis kelamin dan frekuensi stroke tidak
didapatkan nilai Cox and Snell
memberikan pengaruh signifikan
sebesar 0,158, secara statistik
terhadap peningkatan kekuatan otot
disimpulkan bahwa variabel
ekstremitas kanan pasien stroke yang
independen (akupresur, usia, jenis
diberikan intervensi akupresur.
kelamin dan frekuensi stroke)
Tabel 5
memberikan kontribusi terhadap
Uji Parameters Estimates pada
variabel dependen sebesar 15,8%, kekuatan otot kiri
sisanya 84,2% dijelaskan oleh Variabel Hasil Parameters Estimates
variabel di luar model atau variabel Dependen Estimate Nilai p
Koefisien 3 -7,021 0,010
yang tidak diteliti. Koefisien 4 -5,743 0,029
3. Pada variabel ADL didapatkan nilai Intervensi 1,875 0,039
Jenis kelamin -2,229 0,061
Cox and Snell sebesar 0,451, secara Usia -0,906 0,113
statistik disimpulkan bahwa variabel Frekuensi stroke 1,566 0,094

4
Berdasarkan Tabel 5, pengaruh Tabel 7
variabel independen terhadap variabel Uji Parallel Lines
dependen kekuatan otot kiri didapatkan
Variabel
Peringkat Nilai p
nilai p = 0,039 (p=<0,05) pada variabel Independen
intervensi. Pada variabel jenis kelamin, Kekuatan otot kanan II 0,000
Kekuatan otot kiri III 0,000
usia dan frekuensi stroke nilai p= >0,05.
ADL I 0,162
Secara statistik disimpulkan bahwa
hanya akupresur yang memberikan Berdasarkan table 7, besarnya
pengaruh secara signifikan terhadap pengaruh variabel independen
peningkatan kekuatan otot ekstremitas (akupresur, usia, jenis kelamin, dan
kiri pada pasien stroke, sementara jenis frekuensi stroke) secara simultan
kelamin, usia dan frekuensi stroke tidak terhadap variabel dependen (kekuatan
memberikan pengaruh signifikan otot ekstremitas kanan dan kiri dan
terhadap peningkatan kekuatan otot ADL) didapatkan nilai p tertinggi
ekstremitas kiri pasien stroke yang adalah ADL. Secara statistik
diberikan intervensi akupresur. disimpulkan bahwa akupresur, usia,
Tabel 6 jenis kelamin, dan frekuensi stroke
Uji Parameters Estimates pada ADL secara simultan paling besar
Hasil Parameters mempengaruhi peningkatan ADL
Variabel
Estimates
Dependen pasien stroke yang diberikan intervensi
Estimate Nilai p
Koefisien 1 4,150 0,028 akupresur.
Koefisien 2 6,830 0,001
Intervensi -3,306 0,000 PEMBAHASAN
Jenis kelamin 1,072 0,160
Usia 2,666 0,000 Pengaruh Akupresur Terhadap
Frekuensi stroke -2,167 0,007 Kekuatan Otot dan ADL
Berdasarkan Tabel 6 pengaruh
Pengaruh akupresur terhadap
variabel independen terhadap variabel
peningkatan kekuatan otot dan Activities Of
dependen ADL didapatkan nilai p =
Daily Living (ADL) dianalisis berdasarkan
0,000 (p = <0,05) pada variabel
uji regresi logistic ordinal. Hasil uji regresi
intervensi, nilai p = 0,000 (p = <0,05)
logistic ordinal secara statistic menunjukkan
pada variabel usia dan nilai P = 0,007 (p
bahwa intervensi akupresur mempengaruhi
= <0,05), pada variabel frekuensi
kekuatan otot dan ADL secara bermakna.
stroke, sedangkan variabel jenis
Pengaruh akupresur terhadap kekuatan otot
kelamin nilai p = >0,05. Secara statistik
ditunjukkan dengan nilai parameter estimate
disimpulkan bahwa akupresur, usia dan
2,380 untuk kekuatan otot kanan dengan
frekuensi stroke secara signifikan
nilai p=0,002 (<0,05) dan odds rasio 16,86.
mempengaruhi peningkatan ADL pada
Nilai parameter estimate untuk kekuatan
pasien stroke, sementara jenis kelamin
otot kiri adalah 1,875 dengan nilai p = 0,039
tidak memberikan pengaruh signifikan
(<0,05) dan odds rasio 6,5. Pengaruh
terhadap peningkatan ADL pasien
akupresur terhadap ADL ditunjukkan
stroke yang diberikan intervensi
dengan nilai parameter estimate -3,303
akupresur.

5
dengan nilai p = 0,000 (<0,05) dan odds kamar mandi dengan bantuan minimal tanpa
rasio 4,2. bantuan alat dimana sebelum intervensi
Peningkatan kekuatan otot terlihat klien mengeluh sangat sulit berpindah
pada nilai kekuatan otot responden yang tempat, menggerakkan tangan dan kaki saja
diukur menggunakan skala Medical terasa berat. Temuan ini sejalan dengan hasil
Research Council Scale. Pada awal penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
pengukuran, sebelum dilakukan intervensi Kang & Soek (2009) pada 56 pasien pasca
akupresur, mayoritas responden memiliki stroke di Korea. Pada kelompok intervensi
tingkat kekuatan otot 3 yaitu sebanyak 56 yang dilakukan akupresur terjadi
responden dari 113 responden, 37 responden peningkatan rentang gerak dimana hasil
memiliki tingkat kekuatan otot 3 dan 1 penelitian ini mendukung pemberian
responden memiliki nilai kekuatan otot 1. akupresur dimana penekanan pada titik
Setelah dilakukan intervensi akupresur meridian dapat memperbaiki aliran qi dan
selama 7 hari pada masing-masing darah dalam tubuh sehingga dapat
responden, tingkat kekuatan otot meningkat merelaksasi otot tubuh dan merangsang
yaitu sebanyak 91 responden memiliki nilai perbaikan alamiah pada abnormalitas
kekuatan otot 5 (normal) dan tidak ada skeletal dan kemampuan gerak meningkat.
responden yang memiliki tingkat kekuatan Selain itu pemberian terapi akupresur akan
otot 1. mengharmonisasikan aliran qi dan darah
Pengaruh akupresur terhadap sehingga merelaksasikan spasme dan
peningkatan kemampuan ADL diukur meredakan nyeri pada sendi karena
dengan menggunakan Barthel index. menstimulasi pelepasan endorphine.
Sebelum intervensi akupresur, mayoritas Peningkatan kekuatan otot pasien
responden memiliki tingkat kemampuan mempengaruhi peningkatan kemampuan
ADL 3 (tingkat ketergantungan berat) yaitu ADL klien. Orem menekankan bahwa
sebanyak 79 responden dari 113 responden kebutuhan self-care individu dapat dipenuhi
dan tidak ada responden yang memiliki oleh perawat, individu atau keduanya.
tingkat kemampuan ADL 1 (mandiri). Sistim keperawatan dirancang oleh perawat
Setelah dilakukan akupresur, tingkat berdasarkan kebutuhan self-care dan
kemampuan ADL responden meningkat kemampuan individu dalam memenuhi ‘self-
yaitu sebanyak 93 responden memiliki care’nya. Keperawatan mengambil peran
tingkat kemampuan ADL mandiri. penting dalam membantu individu yang
Peningkatan kekuatan otot dan mengalami defisit/penurunan kemampuan
kemampuan ADL setelah diberikan dalam perawatan diri. Perawat berperan
intervensi akupresur terlihat dari meningkatkan kemampuan pasien stroke
kemampuan responden dalam keterlibatan dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri.
klien dalam aktivitas pemenuhan kebutuhan Perawatan diri pasien bukan hanya menjadi
dasar contohnya dalam kemampuan tanggung jawab perawat, tetapi juga menjadi
berpakaian, setelah intervensi klien dapat tanggung jawab pasien. Perawat berperan
berpakaian sendiri dengan bantuan minimal sebagai fasilitator dalam memandirikan
dari orang lain, dalam kemampuan toileting pasien stroke yang mengalami defisit
beberapa klien dapat melakukannya di perawatan diri supaya pasien dapat

6
menggunakan dirinya seoptimal mungkin Association (2012) yang menyatakan bahwa
dalam usaha perawatan dirinya. Hasil akhir pasien yang mengalami serangan stroke
dari teori Orem adalah kemandirian pasien pada usia tua akan mengalami keterbatasan
dalam perawatan dirinya. Pada tahap awal, fungsional lebih parah dan membutuhkan
perawat lebih mengambil peran, tetapi waktu lebih lama untuk perbaikan fungsi
semakin lama perawat akan memandirikan dibandingkan pada usia pertengahan. Proses
pasien sehingga peran perawat menjadi penuaan dikaitkan dengan resiko yang lebih
minimal dan peran pasien menjadi lebih besar terhadap kematian sel. Penurunan
dominan. Teori self-care dari Orem sesuai mitosis menyebabkan kecepatan jumlah sel
untuk diaplikasikan pada rehabilitasi pasien yang rusak tidak seimbang dengan jumlah
pasca stroke. sel yang baru. Keadaan ini menyebabkan
Hal ini ditegaskan oleh McEwen tubuh lebih banyak kehilangan sel, daripada
(2007) bahwa teori self-care dari Orem jumlah sel yang baru sebagai pengganti.
direkomendasikan pada layanan program Kehilangan sel-sel tubuh, menyebabkan
rehabilitasi individu dengan penurunan penurunan kekuatan dan efisiensi fungsi
kekuatan dan fungsi fisik. Tujuan aplikasi tubuh, terkait dengan perubahan otot
teori ini adalah meningkatkan kemandirian (Hurlock, 2011).
dan kualitas hidup individu, peran perawat Berdasarkan hasil uji regresi pada
adalah mengompensasi keterbatasan variabel jenis kelamin didapatkan nilai p =
aktivitas pasien dan mengoptimalkan 0,778 pada kekuatan otot kanan, p=0,061,
kemandirian yang masih dimiliki pasien. dan p=0,160 pada ADL. Secara statistik
Pengaruh Variabel Independen Secara disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang
Parsial
signifikan antara jenis kelamin terhadap
Berdasarkan hasil uji regresi,
kekuatan otot dan ADL. Hasil penelitian ini
didapatkan nilai p = 0,000 pada variabel
kurang sesuai dengan jurnal Cerebral
usia. Secara statistik disimpulkan bahwa ada
Ischemic Stroke: is Gender Important
pengaruh yang signifikan antara usia
(3013) yang menyatakan bahwa pemulihan
terhadap kekuatan otot dan ADL. Usia
pasca stroke dipengaruhi jenis kelamin
merupakan faktor resiko yang tidak dapat
dimana laki-laki dan perempuan memiliki
dimodifikasi namun merupakan faktor
anti koagulan yang sama namun pada
resiko yang penting untuk terjadinya stroke.
perempuan memiliki 0,2 resiko lebih tinggi
Dilaporkan bahwa stroke iskemik yang
mengalami stroke iskemik daripada laki-
menginjak usia lansia akan mengalami
laki. Hal ini mempengaruhi respon terhadap
keterbatasan fungsional yang lebih parah
terapi pasca stroke dimana perempuan
dibandingkan dengan pasien stroke yang
memiliki hasil fungsional yang lebih buruk
lebih muda (AHA, 2010).
dibandingkan laki-laki. Penelitian yang
Pada penelitian ini, mayoritas usia
dilakukan CL Gibson (2013) juga
responden berada pada usia pertengahan
menemukan bahwa wanita memiliki tingkat
(middle age) sehingga tujuan penelitian
pemulihan pasca stroke yang buruk
yaitu peningkatan kekuatan otot dan
dibandngkan laki-laki. Perempuan memiliki
kemampuan ADL dapat dicapai. Hal ini
kecenderungan mengalami keterbatasan
sesuai dengan pernyataan American Stroke
fisik berupa kelemahan dan rentang gerak

7
yang lebih parah dibandingkan dengan laki- variabel di luar model atau variabel yang
laki dan menunjukkan tingkat pemulihan tidak diteliti. Pada variabel kekuatan otot
yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. kiri secara statistik menunjukkan bahwa
Turzo & McCullough (2008) mendukung akupresur, usia, jenis kelamin dan frekuensi
pernyataan ini dengan mengemukakan stroke mempunyai pengaruh 15,8%
bahwa jenis kelamin perempuan lebih sedangkan sisanya (84,2%) dijelaskan oleh
banyak mengalami tingkat pemulihan yang variabel di luar model atau variabel yang
lebih rendah setelah terserang stroke yaitu tidak diteliti. Pada variabel ADL secara
hanya sekitar 22,7% perempuan yang pulih statistik menunjukkan bahwa akupresur,
total dalam 6 bulan dibandingkan dengan usia, jenis kelamin, dan frekuensi stroke
laki-laki yang dapat pulih secara total mempunyai pengaruh 45,1 % sedangkan
sebanyak 26,7% dalam 6 bulan sejak sisanya (54,9%) dijelaskan oleh variabel
serangan stroke. yang tidak diteliti .Berdasarkan nilai Cox
Berdasarkan hasil uji regresi pada and Snell tersebut diketahui bahwa masih
variabel frekuensi stroke di didapatkan nilai terdapat lebih dari 60% faktor predictor lain
p=0,067 pada kekuatan otot kanan, p=0,094 yang mempengaruhi kekuatan otot dan ADL
pada kekuatan otot kiri dan p=0,007 pada pasien stroke. Peneliti menganalisis
ADL. Secara statistik disimpulkan bahwa beberapa faktor yang tidak diteliti namun
ada pengaruh yang signifikan antara mempengaruhi kekuatan otot dan ADL
frekuensi stroke terhadap ADL. Pasien pasien stroke antara lain tipe stroke dan
dengan serangan stroke yang berulang Admission time.
menandakan adanya kerusakan system Tipe atau jenis stroke merupakan
neurologis yang lebih luas dibandingkan faktor predictor yang mempengaruhi
dengan orang yang baru terserang stroke tingkat pemulihan pasca stroke yaitu
yang pertama. Pada saat pemulihan orang peningkatan kekuatan otot dan ADL. Stroke
dengan serangan stroke berulang nonhemoragik memiliki tingkat pemulihan
membutuhkan waktu dan latihan yang lebih yang lebih cepat jika dibandingkan dengan
lama (AHA, 2007). stroke hemoragik. Dilihat dari insiden
Pengaruh Intervensi dan Karakteristik bahwa stroke nonhemoragik lebih tinggi dari
Responden Secara Simultan
pada stroke hemoragik, namun tingkat
Pengaruh intervensi akupresur, usia,
mortalitas lebih banyak pada stroke
jenis kelamin, frekuensi stroke secara
hemoragik (AHA, 2007). Hemiparese terjadi
simultan terhadap kekuatan otot dan ADL
sebanyak 74% setelah mengalami stroke
dapat diketahui dari hasil Pseudo R-Squarr
iskemik dan hanya 26% setelah mengalami
dengan melihat nilai Cox and Snell pada uji
stroke hemoragik. Lebih lanjut, penelitian
regresi logistik ordinal. Hasil uji regresi
Siddique et al (2009) menunjukkan bahwa
logistik ordinal pada variabel kekuatan otot
hemiparese terjadi lebih banyak pada pasien
kanan secara statistik menunjukkan bahwa
dengan stroke iskemik dibandingkan dengan
akupresur, usia, jenis kelamindan frekuensi
stroke hemoragik. Pasien dengan stroke
stroke mempunyai pengaruh terhadap
iskemik mengalami hemiparese sebanyak
kekuatan otot kanan sebesar 27,6%
64,8% sedangkan pasien dengan stroke
sedangkan sisanya (72,4%) dijelaskan oleh

8
hemoragik mengalami hemiparese hanya http://www.strokeassociation.org/idc/g
roups/stroke
17,85%.
American Heart Association. (2007b). Heart
Berdasarkan uji statistik dapat disease and stroke statistic - 2008
disimpulkan bahwa akupresur memberikan update: A report from the american
heart association statistic committee
pengaruh terhadap peningkatan kekuatan and stroke statistic subcommitte.
otot dan kemampuan ADL pasien stroke Circulation: Journal of the American
Heart Association, 117(4), e25-146.
setelah diberikan intervensi. Peningkatan
Bernhard, J., Chan, J., Nicola I, & Collier, J.
kemampuan terlihat dari keterlibatan klien M. (2007). Little therapy, little
dalam aktivitas pemenuhan kebutuhan dasar physical activity: Rehabilitation within
the first 14 day of organized stroke
contohnya dalam kemampuan berpakaian, unit care. J Rehabil Med, 39, 43-48.
setelah intervensi klien dapat berpakaian Bhakta, B. B., Cozens, A. J., Chamberlain,
sendiri dengan bantuan minimal dari orang M.A., & Bamford, J. M. (2000).
Impact of botulinum toxin type A on
lain, dalam kemampuan toileting beberapa disability and career burden due to
klien dapat melakukannya di kamar mandi arm spasticity after stroke: A
randomized double blind controlled
dengan bantuan minimal tanpa bantuan alat trial. J Neurol Neurosurg Psychiatry,
dimana sebelum intervensi klien mengeluh 69, 217–221
sangat sulit berpindah tempat, Black, J. M., & Hawk, J. H. (2014). Medical
surgical nursing: clinical management
menggerakkan tangan dan kaki saja terasa for positive outcomes (Vol 2, 8th Ed.).
berat. St.Louis, Missouri: Saunders Elsevier.

SIMPULAN Borisova, Y. & Bohannon, R. W. (2009).


Positioning to prevent or reduce
Berdasarkan uji statistik diketahui bahwa shoulder range of motion impairments
ada perbedaan kekuatan otot dan ADL yang after stroke: A meta-analysis. Clinical
Rehabilitation, 23(8), 681-690.
bermakna setelah dilakukan akupresur
Braun, M. B., & Smonson, S. (2008).
selama 7 hari pada masing-masing Introduction to massage therapy (2nd
responden dengan nilai p = 0,000 (nilai Ed.). Philadephia: Lippincott Williams
& Wilkins.
p<0,05) dan peningkatan kekuatan otot dan
Dromerick, A. W., Catherine, E. L.,
kemampuan ADL dipengaruhi oleh usia Birkenmeier, R., Hahn, M. G., MS,
Sahrmann, S. A., Edwards, D. F.
(p=0,000) dan frekuensi stroke (p=0,007).
(2006). Relationships between upper-
limb functional limitation and self-
REFERENSI reported disability 3 months after
Alamsyah (2010). Cara lebih mudah stroke. Journal of Rehabilitation
menemukan titik terapi acupoint, Research and Development, 43, 3,
Petunjuk praktis akupunktur. Jakarta : 401–408.
AsmaNadia Publishing House. Dupler, Douglas. (2005). Gale Encyclopedia
Alternative Medicine Info. (2009). of Alternative Medicine. Acupressure.
Acupressure. February 2, 2015. http://www.encyclopedia.com/topic/A
http://www. about-acupressure.com/ cupressure.aspx. February 15, 2011.
acupressure/description East-West Nursing Research Institute.
(2001). East-west nursing mediation.
American Heart Association. (2010). Heart Seoul: Hyun Moon Sa.
disease and stroke statistic – 2010
update. Dallas Texas : American Heart Ginsberg, L. (2008). Lecture notes:
Association. Neurologi (Indah R Wardhani,
Penerjemah). Jakarta: Penerbit
American Heart Association. (2007a). Let’s Erlangga.
talk about complication after stroke.
Mei 2, 2011. Chang KK et al. (20110. Effect of
Acupressure in Treating Urodynamic
Stress Incontinence: A Randomized

9
Controled Trial. Am J Chin Med Institute of Health Metrics and Evaluation.
2011;39;1139-1159 (2013). Asian population life
expectancy. Havard University.
Christensen, P. J., & Kenney, J. W. (2009).
Proses keperawatan, Aplikasi model Joanne, M. W., Catherine, E. L., Shirley, A.
konseptual (Terj. dari Nursing process: S., Dorothy, F. E., Alexander, W. D.
Application of conceptual models. (4th (2007). Sensorimotor impairments and
Ed.). Jakarta: Penerbit Buku reaching performance in subjects with
Kedokteran EGC. poststroke hemiparesis during the first
few months of recovery. Physical
Christenseen, B., & Kockrow, E (2005).
Therapy, 87,6, 751-765.
Acute coronary syndrome and stroke.
St. Louis, Missouri: Mosby Elsevier. J. Wasay. (2014). Epidemoligy of stroke:
hypertension, lifestyle and Fast food.
Claire L. Gibson. (2013). Cerebral Iscemic
St. Louis, Missouri: Mosby, Elsevier.
Stroke: is Gender Important?. Journal
of Cerebral Blood Flow & Metabolism Kang, H. S., Sok, S. R., Kang, J. S. (2009).
Effects of meridian acupressure for
Current Nursing (2011). Nursing Theories,
stroke patient in Korea. Journal of
Martha Roger's Science of Unitary
Clinical Nursing, 18, 2145-2151.
Human Beings. Febriary 1, 2015.
http://currentnursing.com/nursing_ Lee JS. (2011). Acupressure for Treating
theory/unitary_human_ beings.html Neurological Disorder. South Korea:
Kyung He University.
Dahlan, M. Sopiyodin. (2008). Seri
Evidence based medicine, Langkah- Lewis, S. L., Heitkemper, M. M., Bucher,
langkah membuat proposal penelitian L., et al. (2007). Medical surgical
bidang kedokteran dan kesehatan. nursing: Assesment and management
Jakarta: CV. Sagung Seto. of clinical Problems (Vol. 2, 7th Ed).
St.Louis: Mosby Elsevier.
Damush, T. M., Plue, L., Bakas, T., Schmid,
A., & Williams, L. S. (2007). Barriers Narendra, Fagun, Bhatt. (2013). A
and facilitators to exercise among Comparative Study of Effectiveness of
stroke survivors. Rehabilitation Balance Training with and Without
Nursing, 32(6), 253-60, 262. Visual Cues on Activities of Daily
Living in Stroke Patients. India:
Glinsky, J., Harvey, L. & Es, P. V. (2007).
Institute of Medical Sciences.
Efficacy of electrical stimulation to
increase muscle strength in people National Stroke Foundation (2009).
with neurological conditions: A National stroke audit acute services
systematic review. Physiotherapy organizational survey report 2009.
Research International, 12 (3), 175– North American Nursing Diagnosis
194. Association. (2009). Nursing
Hamilton Nancy & Lutlgens Kathryn. diagnoses: definitions and
(2012). musculoskeletal system. (Vol. classification. USA: Jhon Wiley &
6, 7th Ed). St.Louis: Mosby Elsevier. Sons Inc.
Heart Disease and Stroke Statistic (2006). Patrea Putranto, Yulieta Sihombing. (2009).
Update: A report from the american Hubungan Umur, jenis kelamin dan
Heart association statistic committee hipertensi dengan kejadian stroke.
and stroke statistic committe. Jakarta.
Circulation: Journal of the American Polit, D. F., & Hungler, B. P. (2004).
Heart Association, 113, 85 – 115. Nursing research : principles and
Hill, M. D. & Buchan, A. M. (2005). methods (6th Ed.). Philadelphia:
Thrombolysis for acute ischemic Lipincott Williams & Wilkins.
stroke: Results of the Canadian
Salisbury, Meredith M. (2011). Stroke in
alteplase for stroke effectiveness study. Young. Candidian Journal of
Canadian alteplase for stroke Neurological Sciences, 38 (3) 404-
effectiveness study (CASES) 410.
investigators. CMAJ, 172:1307.
Shin, B. C. & Lee, M. S. (2007). Effects of
Ira Trionggo & Abdul Ghofar. (2013). aromatherapy acupressure on
Panduan Sehat Sembuhkan Penyakit hemiplegic shoulder pain and motor
dengan Pijat dan Herbal. Yogyakarta: power in stroke patients: A pilot study.
Indoliterasi. The Journal Of Alternative And

10
Complementary Medicine, 13 (2),
247–251.
Susilo Putro. (2014). Akupressure dan
Reflexologi. Yayasan Wanita Katolik
RI, Jakarta.
Tomey & Alligood. (2006). Nursing
theorists and their work (6th Ed.). St.
Louis, Missouri: Mosby, Elsevier.
Wu et al. (2010). Responsiveness and
Validity of Two Outcome Measures of
Instrumental Activities od Daily Living
in Stroke. Taiwan: Taiwan University.
Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki).
(2010). Golden period/periode emas.
February 28, 2015.
http://www.cegahstroke.com/golden-
period.php

11