Anda di halaman 1dari 14

MEMAKAN HARTA SECARA BATIL

(Perspektif Surat An-Nisa: 29 dan At-Taubah: 34)

Taufiq
Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe
Jl. Medan Banda Aceh Km. 275, No. 1 Bukit Rata – Alue Awe, Lhokseumawe
e-mail: taufiqmahmud1979@gmail.com

Abstract: The Quran mentions the term treasure in some letters with various derevasion. The mention of the
word treasure is accompanied by the procedure of acquisition or utilization. One of them is the
prohibition of consuming treasure in a vanity way. As many as 36 times a word that means vanity is
mentioned in the Quran, including An- Nisa: 29 and At- Taubah: 34. Using a thematic
interpretation approach, explores some of the ethical messages contained in these two verses. Forbidden
treasures managed by vile. Indications of vanity include the emergence of disillusionment with the
parties and be classified as zalim.

Kata kunci: consumption, treasure and vanity.

PENDAHULUAN minum, pendidikan, organisasi, dan ilmu


pengetahuan dan teknologi, berdasarkan
P ada dasarnya, syariat
mengandung ketentuan-ketentuan
Islam

tentang amaliah atau perbuatan manusia.


pada prinsip boleh (jaiz) selama tidak ada
larangan yang tegas dari Allah dan Rasul-
Nya, termasuk di dalamnya berkenaan
Perbuatan manusia secara garis besar ada
dengan harta. Berkaitan dengan hal ini
dua, yaitu perbuatan yang menyangkut
(muamalah), Nabi Muhammad saw
hubungan manusia dengan Allah Swt.
mengatakan: “Kalian lebih mengetahui
yang disebut ibadah dan hubungan
urusan duniamu”. (HR. Muslim, no. 2363)
manusia dengan sesamanya dalam
Banyak orang yang mengukur
pergaulan hidup bermasyarakat yang
disebut muamalah. nilai dan martabat seseorang dengan
Ibadah wajib berpedoman pada jumlah kekayaannya harta yang dimiliki.
sumber ajaran Alqur’an dan al-Sunnah, Apabila seseorang tersebut kaya maka
yaitu harus ada contoh (tata cara dan dianggap mulia, sebaliknya dianggap
praktek) dari Nabi Muhammad saw. rendah dan hina. Pada hakekatnya cara
Konsep ibadah ini berdasarkan kepada yang digunakan dalam memperoleh
mamnu’ (dilarang atau haram). Ibadah ini
harta akan berpengaruh terhadap fungsi
antara lain meliputi Zakat, Puasa, Shalat
dan Haji. Sedangkan masalah muamalah harta. Orang yang memperoleh harta
(hubungan sesama manusia dan dengan mencuri, memfungsikannya
hubungan dengan lingkungan), masalah- kebanyakan untuk kesenangan semata,
masalah dunia, seperti makan dan
246 ║ Jurnal Ilmiah Syari‘ah, Volume 17, Nomor 2, Juli-Desember 2018

seperti mabuk, bermain wanita, judi dan makna mal di dalam al-Quran dapat
lain-lain. Sebaliknya, orang yang mencari berarti harta yang hina (Q.S. [68]: 10-14,
harta dengan cara yang halal, biasanya Q.S. [23]: 55-56, Q.S. [26]: 88-89, dan lain-
memfungsikan hartanya untuk hal-hal lain), harta yang sangat dicintai (Q.S. [89]:
bermanfaat (Rahmat Syafi’i, 2004: 31). 20, dan lain-lain), harta yang
menyebabkan manusia berwatak jelek
STUDI LITERATUR (Q.S. [74]: 12, Q.S. [104]: 2, Q.S. [90]: 6, dll),
Harta dalam bahasa Arab disebut harta yang dimiliki tidak berguna
“‫”المال‬ yang berasal dari kata maala- diakhirat (Q.S. [111]: 2, Q.S. [92]: 11, dan
yamiilu-mailan yang berarti condong, lain-lain), harta yang disesali karena tidak
cenderung, dan miring. Menurut berguna (Q.S. [69]: 28), harta yang
etimologi harta merupakan sesuatu yang berkembang (Q.S. [17]: 6, Q.S. [71]: 12, dan
di butuhkan dan diperoleh manusia, baik lain-lain), harta sebagai cobaan (Q.S. [2]:
berupa benda yang tampak seperti emas, 155), harta yang dibangga-banggakan
perak, binatang, tumbuh-tumbuhan (Q.S. [34]: 35, Q.S. [9]: 69), harta yang
maupun (yang tidak tampak), yakni membuat manusia menjauhkan diri dari
manfaat seperti kendaraan, pakaian, dan Allah (Q.S. [34] 37), harta yang tidak
tempat tinggal. diperlakukan dengan tidak benar (Q.S.
Menurut istilah fikih harta [11]: 87), dan harta yang menyesatkan
mempunyai sinonim makna dengan (Q.S. [10]: 88).
benda, yaitu segala sesuatu yang mungkin Dari jumlah dan beragam makna
dimiliki seseorang dan dapat diambil harta dalam Alquran, membuktikan
manfaatnya dengan jalan biasa (Ahmad betapa besarnya perhatian Islam terhadap
Azhar Basyir, 2009: 41). harta. Meskipun harta mempunyai sifat
Kata mal dalam Alquran disebutkan yang saling bertolak belakang. Kadang-
86 kali pada 79 ayat dalam 38 surah, dan kadang dapat menyelamatkan
ini tergolong jumlah yang cukup banyak pemiliknya, namun tak sedikit pula
menghiasi sepertiga surah-surah Alquran. mencelakakan.
Dari 86 kata mal itu terdapat 25 kata Oleh sebab itu, Islam telah mengatur
berbentuk mufrad dengan berbagai lafal, bagaimana caranya seorang muslim dapat
selanjutnya 61 kali dalam bentuk isim memanfaatkan harta yang dimilikinya itu
jama’ (amwal) dan jumlah ini belum agar berguna bagi kehidupan dunia dan
termasuk kata-kata yang semakna dengan akhirat. Belumlah lengkap jika harta itu
mal seperti rizq, mata’, qintar dan kanz hanya dinikmati untuk kepentingan
(perbendaharaan). duniawi dan sama sekali tidak
Yahya bin Jusoh (Azhari Akmal berpengaruh pada kehidupan akhirat,
Tarigan, 2012: 91), mengklasifikasikan keduanya harus mendapat porsi yang
Memakan Harta Secara Bati (Persepektif Surat An- Nisa: 29 dan At-Taubah: 34) ║247

seimbang. Islam memandang harta surah Al-Kahfi: 46 dan Ali Imran: 14.
sebagai jalan yang mempermudah Quraish Shihab menjelaskan, bahwa
manusia untuk menuju kesejahteraan penamaan keduanya sebagai hiasan
(zinah) jauh lebih tepat dari dari pada
(Abdullah Fatah Idris, 1989: 6).
menamainya qimah (sesuatu yang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berharga atau bernilai). Karena
bersabda: kepemilikan harta dan kehadiran anak
tidak dapat menjadikan menjadikan
ُ:ُ‫لَث‬ ُْ ‫ُ َما ِلي!ُ َما ِلي إِنَّ َما ُُلَ ُهُُ ِم‬:ُ ‫ل ُ ْالعَ ْب ُد‬
ُ َ ‫ن ُ َما ِل ُِه ُث‬ ُُ ‫يَقُو‬ seseorang berharga atau mulia.
ُ‫طى ُفَاُْقتَنَى‬ َ ‫س ُفَأ َ ْبلَى ُُأ َ ُْو ُأ َ ْع‬
َُ ‫ل ُفَأ َ ْفنَى أ َ ُْو ُلَ ِب‬
َُ ‫َما ُأ َ َك‬ Kemuliaan dan penghargaan hanya
.‫اس‬ُ ِ َّ‫ار ُُك ُهُُ ِللن‬
ُِ َ ‫كُفَ ُه َُوُذَا ِهبُُ َوت‬ َُ ‫َو َماُ ِس َوىُذَ ِل‬ diperoleh melalui iman dan amal saleh
(M. Quraish Shihab, 2002: 70). Bila
“Seorang hamba berkata: “Hartaku! merujuk kepada pengertian harta yang
Hartaku!” Sesungguhnya yang menjadi didefinisikan oleh kalangan Syafi’iyah,
Malikiyah dan Hanabilah, unsur qimah
(harta) miliknya tidak lain hanya tiga: (1)
menjadi syarat sesuatu dianggap sebagai
Apa yang dia makan hingga habis, (2) Apa
harta. dank arena qimah akan dijadikan
yang dipakai hingga lusuh dan (3) Apa standar bila terjadi ganti rugi.
yang dia sedekahkan maka ia disimpan
sebagai pahala untuk akhirat. Apa jua
METODE PENELITIAN
selain itu (bukanlah hartanya kerana) dia
akan pergi (mati) dan meninggalkannya Penelitian ini menggunakan metode
kepada manusia. (Muslim dalam penelitian kepustakaan (library research).
Shahihnya, hadis No: 2959). Dengan cara menelaah beberapa tafsir
Dalam surat al-Kahfi ayat 46, kata untuk memahami makna surat an-Nisa:
harta disejajarkan dengan anak-anak dan 29 dan at-Taubah: 34. Sedangkan al-Quran
dianggap sebagai perhiasan dunia. menjadi sumber utama dalam penelitian
Terbukti dalam kehidupan, manusia ini. Untuk memahami makna memakan
begitu bangga dengan harta dan
harta yang batil dalam al-Quran maka
keturunan yang dimiliki, sehingga
memberikan kehidupan serta martabat digunakan pendekatan tafsir maudhui’
yang terhormat bagi yang memilikinya. atau tematik. Penggunaan pendekatan
Alquran pun mencatat beragam kisah metode tersebut karena yang ditelaah
yang berkenaan dengan orang-orang yang dalam penelitian ini hanya fokus pada
dicoba dengan harta dan anak. tema memakan harta secara batil.
Harta sangatlah penting dalam
menopang kehidupan bahkan menjadi
terhormat dengannya, sehingga Alquran
menempatkannya demikian juga dengan
anak sebagai perhiasan atau sesuatu yang
dianggap baik dan indah (zinah) Alquran
248 ║ Jurnal Ilmiah Syari‘ah, Volume 17, Nomor 2, Juli-Desember 2018

PEMBAHASAN bagaimana melindungi hak dan


kekayaan orang lain agar tidak
1. Larangan Memakan Harta Secara Batil dilanggar dan dirampas. Termasuk
dalam Al-Quran kegiatan konsumsi harus menghindari
Islam tidak membatasi mencari prilaku zalim dan batil (Abdul Karim
harta dengan cara apapun, selama tidak Al-Khatib, 1976: 151-152).
melanggar prinsip-prinsip yang telah Kata batil (Ahmad Warson
ditentukan syara’. Karena hukum asal Munawwir, 1997: 92) memiliki kata
dalam bermu’amalah adalah mubah. dasar bathil yang bermakna fasadُ atau
ُُُُُُُُُُُُُُُُُُُُ rusak, sia-sia, tidak berguna, bohong.
ْ َ ‫األ‬
ُُ ‫ص‬
Kaidah menetapkanُ ‫ل ُفِي‬ Al baathil sendiri berarti sesuatu yang
batil, yang salah, yang palsu, yang
ُ‫اإل َبا َح ُة‬
ِ ُ ‫ت‬ُِ َ‫ ْال ُم َعا َمل‬dan ‫ل ِفي‬ ْ َ ‫األ‬
ُُ ‫ص‬ tidak berharga, yang sia-sia dan
‫الصحة‬
ْ ُّ ‫ ْالعُقُودِوال‬bahwa kaidah ini
‫ش ُر ْوط‬ syaitan.
memberikan jalan bagi manusia untuk Ar-Raghib al-Asfahani (Abi al-
melakukan berbagai improvisasi dan Qasim al-Husain bin Muhammad ar-
inovasi melalui sistem, teknik dan Raghib Al-Asfahani, 1961: 50-51)
mediasi dalam melakukan menjelaskan, al baathil bermakna
perdagangan. Namun, Islam lawan dari kebenaran yaitu segala
mempunyai prinsip-prinsip tentang sesuatu yang tidak mengandung apa-
pengembangan sistem bisnis yaitu apa didalamnya ketika diteliti atau
harus terbebas dari unsur dharar diperiksa atau sesuatu yang tidak ada
(bahaya), jahalah (ketidakjelasan) dan manfaatnya baik di dunia maupun
zulum (merugikan atau tidak adil diakhirat. Shihab menyebutkan bahwa
terhadap salah satu pihak). Begitu makna bathil yaitu segala perkara yang
halnya dalam bisnis dengan sistem diharamkan Allah SWT atau tidak ada
pemberian bonus harus adil, tidak haknya. Dalam artian pelanggaran
menzalimi dan tidak hanya terhadap ketentuan agama atau
menguntungkan orang yang di atas. persyaratan yang disepakati. Dalam
Dalam artian seluruh rangkaian bisnis konteks ini dikaitkan dengan sabda
juga harus terbebas dari unsur Nabi SAW: “kaum muslimin sesuai
MAGHRIB, singkatan dari lima unsur. dengan (harus menepati) syarat-syarat
1, Maysir (judi), 2, Aniaya (zulum), 3. yang mereka sepakati, selama tidak
Gharar (penipuan), 4 Haram,5, Riba menghalalkan yang haram atau
(bunga), 6. Iktinaz atau Ihtikar dan 7. mengharamkan yang halal”.
Bathil. Kata al-bathil dalam Alquran
Begitu bernilainya harta bagi terdapat 36 kali dengan berbagai
kehidupan manusia, Alquran juga derivasinya. Bathala disebut satu kali
memberikan memberikan batasan- dalam surah al- ‘Araf ayat 11, tubthilu
batasan umum dalam bermuamalah, dua kali dalam surah al-Baqarah ayat
salah satunya larangan memakan harta 264 dan surah Muhammad ayat 33.
secara batil. Dan ini menjadi bukti Yubthilu satu kali dalam surah al-Anfal
bahwa Islam memiliki konsep etika ayat 8 dan sayubthiluhu satu kali dalam
Memakan Harta Secara Bati (Persepektif Surat An- Nisa: 29 dan At-Taubah: 34) ║249

surah Yunus ayat 81. Dibanding bentuk ayat tersebut diturunkan. Apakah
kata lainnya, kata bathilun disebut sesudah atau sebelum pengharaman
paling banyak yaitu 24 kali dalam Al- riba. Jika turun sebelum
Quran. Bathilan disebut dua kali dan pengharaman riba maka ayat ini
mubthilun disebut lima kali berfungsi sebagai peringatan awal
(Muhammad Fuad Abdul Baqi, 1981: tentang pelarangan riba, jika turun
123-124). setelah pengharaman riba, maka
Wahbah Az-Zuhaili dalam ayat ini berfungsi sebagai penjelasan
kitabnya Tafsir al Wajiz wa Mu’jam terhadap sebagai salah satu larangan
Ma’aniy al Qur’an al ‘Aziz, menjelaskan mengambil harta manusia secara
bahwa kata bathil dalam Alquran yang batil.
berhubungan dengan memakan harta Surat an-Nisa ayat 29 tersebut
manusia secara batil ada di 4 tempat, merupakan larangan tegas mengenai
yaitu: Al-Baqarah ayat 188, an-Nisa memakan harta orang lain atau
ayat 29 dan 161, dan at-Taubah ayat 34. hartanya sendiri dengan jalan bathil.
Dalam makalah ini akan dibahas 2 ayat Memakan harta sendiri dengan jalan
dari 4 ayat yang berhubungan dengan batil adalah membelanjakan
memakan harta manusia dengan batil, hartanya pada jalan maksiat.
yaitu an-Nisa ayat 29 dan at-Taubah Memakan harta orang lain dengan
ayat 34. cara batil ada berbagai caranya,
a. Surat an-Nisa ayat 29. seperti pendapat Suddi,
memakannya dengan jalan riba, judi,
menipu, menganiaya. Termasuk juga
ُ‫ل تَأ ْ ُُكلُوا أ َ ُْم َوالَ ُُك ُْم بَ ْي َن ُُك ْم‬ُ َ ‫يَاأَيُّ َها الَّذِينَُ آ َمُنُوا‬ dalam jalan yang batal ini segala jual
ُ‫ن ُت َ َراض‬ ُْ ‫ع‬
َُ ُ‫ارة‬ َُ ‫ن تَ ُكونَُ ِت َج‬ ُْ َ ‫ل أ‬ ُ َّ ِ‫ل إ‬ ِ َ‫بِ ْالب‬
ُِ ‫اط‬ beli yang dilarang syara’ (Syekh. H.
َ ُ‫ل ت َ ْقتُلُوا أ َ ْنف‬
Abdul Halim Hasan Binjai, 2006:
‫ّللاَ َُكانَُ ِب ُك ُْم‬ َُّ ‫ن‬ َُّ ‫س ُك ُْم ِإ‬ ُ َ ‫ِم ْن ُك ُْم َو‬
258).
ُ‫َر ِحيم‬ Wahbah Az-Zuhaili (Az-
Zuhaili Wahbah, 1997: 84)
“Hai orang-orang yang beriman, menafsirkan ayat tersebut dengan
Jangan kamu memakan harta-harta kalimat janganlah kalian ambil harta
saudaramu dengan cara yang batil,
orang lain dengan cara haram dalam
kecuali harta itu diperoleh dengan
jual beli, (jangan pula) dengan riba,
jalan dagang yang ada saling
judi, merampas dan penipuan. Akan
kerelaan dari antara kamu. Dan
tetapi dibolehkan bagi kalian untuk
jangan kamu membunuh diri-diri
mengambil harta milik selainmu
kamu, karena sesungguhnya Allah
dengan cara dagang yang lahir dari
Maha Pengasih kepadamu”.
keridhaan dan keikhlasan hati antara
dua pihak dan dalam koridor syari’.
Berkenaan dengan asbabun
Tijarah adalah usaha memperoleh
nuzulnya, Sayyid Qutub (Sayyid
untung lewat jual beli. Taradhi
Qutb, 2004: 239) menyebutkan tidak
(saling rela) adalah kesepakatan
bisa dipastikan secara tegas kapan
250 ║ Jurnal Ilmiah Syari‘ah, Volume 17, Nomor 2, Juli-Desember 2018

yang sama-sama muncul antar Al-Lusi (Syihabuddin Sayyid


kedua pihak pelaku transaksi, jual Mahmud Al-Lusi, n.d: 302)
beli tanpa ada unsur penipuan. menafsirkan harta batil tersebut
Al Maraghi (Mustafa Al- yang didapatkan dengan unsur
Maraghi, 2004) menjelaskan makna menzalimi, yaitu dengan riba dan
kata al-bathil dalam ayat tersebut lotre. Al-Tabari (At-Thabari, 2001:
berasal dari kata-kata al-bathlu dan 83) menjelaskan bahwa makna
buthlan yang bermakna sia-sia dan memakan harta dengan batil dalam
kerugian. Sedangkan menurut syara’ surat an-Nisa tersebut yaitu
adalah mengambil harta tanpa janganlah diantara kalian memakan
imbalan yang benar dan layak serta harta orang lain dengan jalan yang
tidak ada keridhaan dari pihak yang diharamkan, seperti riba, lotre dan
diambil. Atau menghabiskan harta sebagainya dari harta yang
dengan cara yang tidak benar dan diharamkan Allah dari padanya.
tidak bermanfaat. Termasuk katagori Sedangkan Ibnu Abdul As-Salam
al-bathil: mengundi nasib, al-ghasy, (Izuddin Ibnu Abdul As-Salam, 1996:
khida’, riba dan ghabn. Begitu juga 96) menafsirkannya dengan cara
menghabiskan harta pada lotre, riba, ghasab, dengan zalim atau
tempat yang haram, dan akad yang rusak.
menghabiskannya pada tempat yang Dari beberapa definisi bathil
tidak bisa diterima oleh logika sehat. yang dijelaskan oleh para mufassirin
Menurut al-Biqa’iy (Burhan al- di atas baik oleh Wahbah Az Zuhaili,
Din Abi al-Hasan Ibraim ibn Umar al Maghri dan lain-lainnya terhadap
Al-Biqa’iy, 2006: 368) al-batil berarti penafsiran ayat an-Nisa 29, tidak
segala sesuatu yang dari berbagai menunjukkan perbedaan signifikan,
seginya tidak diperkenankan Allah, contoh definisi yang diberikan oleh
baik aspek esensinya atau sifatnya. Wahbah Az Zuhaili lebih pada
Sedangkan al-Razi (Fakhr al-Din menunjukkan cara memperoleh
Muhammad ibn Umar ibn al-Husayn harta, sedangkan definisi yang
al-Tamimiy Al-Razi, 1990: 57) diberikan al Maghari fokus pada
membaginya ke dalam dua makna, cara menggunakan. Yang
pertama, sesungguhnya segala kesemuanya menyebutkan bahwa
sesuatu yang tidak dihalalkan oleh prilaku memakan harta secara batil
hukum syara’, kedua, mengambil ialah prilaku yang mendatangkan
sesuatu milik orang lain tanpa kezaliman bagi orang lain. Di
pengganti. antaranya dalam bentuk riba, lotre
Baidhawi (Abdullah bin Umar (maisir), ghasab (mencuri), khianat dan
bin Muhammad al-Asy Syirazi sebagainya.
Baidhawi, n.d: 276) memberikan Dikaji dari munasabah dengan
penafsiran mengenai surat an-Nisa ayat sebelumnya (an-Nisa ayat 28)
ayat 29, yaitu mendapatkan harta tidak ada kaitannya. Namun, Ibnu
yang tidak diperbolehkan syariat ‘Asyur berpandanga bahwa terdapat
seperti ghasab, riba dan lotre. pada ayat-ayat sebelumnya yang
Memakan Harta Secara Bati (Persepektif Surat An- Nisa: 29 dan At-Taubah: 34) ║251

berkenaan dengan hukum-hukum berkata kepadanya, “Apa yang


waris, nikah dan mengandung menjadikan kamu menempati
beberapa perintah untuk tempat ini?” Ia menjawab, “Aku
menunaikan menunaikan harta berada di Syam, lalu aku berselisih
kepada yang berhak. dengan Mu’awiyah tentang ayat,
b. Surah At-Taubah ayat 34 “Dan orang-orang yang menyimpan
emas dan perak serta tidak
menginfakkannya di jalan Allah…”
ُ‫ار‬ ُْ ُ َُ‫ن ُ َُك ِثيرا ُ ِمن‬
ُِ َ‫األحب‬ َُّ ‫يَا ُأَيُّ َها ُالَّذِينَُ ُآ َمنُوا ُ ِإ‬ Mu’awiyah berkata, “Ayat ini turun
ُ‫ل‬
ُِ ‫اط‬ِ َُ‫اس ُبِ ُْالب‬ َُ ‫ان ُلَيَأ ْ ُكلُونَُ ُأ َ ْم َوا‬
ُ ِ َّ‫ل ُالُن‬ ُِ َ‫الر ْهب‬
ُّ ‫َو‬ berkenaan Ahli Kitab”, sedangkan
َّ aku berkata, “Ayat ini turun
َُُ‫ّللا ُ َو ُالذِينَُ َُُي ْكنزون‬َُِّ ُ ‫ل‬ ُِ ‫س ِبي‬
َ ُ‫ن‬ ُْ ‫صدُّونَُ ُ َع‬ ُ ‫َو َي‬ berkenaan dengan kita dan mereka.”
َُِّ ُ ‫ل‬
ُ‫ّللا‬ ُِ ‫س ِبي‬َُ ُ‫ض ُةَُ َول ُيُ ْن ِفقُونَ َهاُفُِي‬ َّ ‫َبُ َو ْال ِف‬
َُ ‫الذَّه‬ Itulah masalah yang terjadi antara
ُ‫فَ َبش ِْر ُه ُْمُ ِب َعذَابُُأ َ ِليم‬ aku dengannya.” Ia pun menuliskan
surat kepada Utsman radhiyallahu
“Hai orang-orang yang beriman, 'anhu mengeluhkan tentang aku,
sesungguhnya sebagian besar dari maka Utsman mengirim surat
orang-orang alim Yahudi dan rahib- kepadaku yang isinya, “Datanglah
rahib Nasrani benar-benar memakan ke Madinah”, maka aku pun datang,
harta orang dengan jalan yang batil, lalu banyak orang yang
dan mereka menghalang-halangi mengerumuniku seakan-akan
(manusia) dari jalan Allah. Dan mereka belum pernah melihatku
orang-orang yang menyimpan emas sebelumnya, kemudian aku
dan perak dan tidak menafkahkannya terangkan hal itu kepada Utsman,
pada jalan Allah, maka lalu ia berkata kepadaku, “Jika
beritahukanlah kepada mereka (bahwa engkau mau, engkau menjauh,
mereka akan mendapat) siksa yang namun engkau dekat.” Itulah yang
pedih”
menjadikan aku menempati tempat
ini, dan jika sekiranya mereka
Penulis tidak menemukan
memerintahkan aku sebagai
secara rinci asbabun nuzul ayat 34
penduduk Habasyah, maka aku
surat at-Taubah ini, namun ada
akan mendengar dan taat.” Hadist
sebuah hadist yang berkenaan
ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
dengan persoalan penimbunan emas
Para mufassir di antaranya
dan perak yang sebagian mufassir
Ibnu Katsir (Ibnu Katsir, 2004: 420)
mengkaitkan dengan ayat ini. Yaitu
menjelaskan bahwa maksud al-bathil
hadis yang bersumber dari Zaid bin
dalam ayat ini adalah prilaku
Wahb, berkenaan dengan orang-
mayoritas tokoh agama Yahudi dan
orang yang menimbun emas. Zaid
Nasrani menjual agama untuk
berkata, “Saya melewati Rabdzah,
memperoleh dunia, dengan
dan ternyata bertemu dengan Abu
menggunakan posisi dan jabatan
Dzar radhiyallahu 'anhu, aku pun
agama mereka sebagai justifikasi
252 ║ Jurnal Ilmiah Syari‘ah, Volume 17, Nomor 2, Juli-Desember 2018

untuk memperoleh harta masyarakat Perilaku memakan harta orang


(umatnya) menurut nafsu mereka, dengan jalan batil yang mereka
seperti mengwajibkan hadiah dan lakukan dengan cara mengambil
pajak. harta itu dengan cara menyuap
Selanjutnya Ibnu Katsir untuk mengubah aneka hukum dan
menjelaskan bahwa mereka yang syariat, dan meyakinkan orang lain
disebutkan dalam ayat tersebut bahwa dirinya merupakan orang-
merupakan pemimpin manusia orang yang pandai dan terampil
golongan ketiga, karena dalam menafsirkan ayat serta
sesungguhnya manusia merupakan menjelaskan kandungan ayat-ayat
beban bagi para ulama, semua Allah. “memakan” diungkapkan
hamba Allah, dan orang-orang yang dengan “mengambil”. Padahal yang
memiliki harta. Apabila keadaan dicela hanyalah mengambil harta
mereka rusak, maka keadaan secar batil, karena memakan
manusia pun rusak pula, seperti apa merupakan tujuan utama dari
yang dikatakan oleh Ibnu Mubarrak mengambil.
dalam bait syairnya: Asy-Sya’rawi (Asy-Sya’rawi,
“Tiada yang merusak agama kecuali 1999: 754) mengemukakan bahwa
para raja, orang-orang alim dan para salah satu aspek kemukjizatan al-
rahib (su’)”. Quran adalah uraian ayat ini di
Yusuf al-Qardhawi (Yusuf Al- mana Allah swt. menguraikan
Qardhawi, 2014: 80) menjelaskan tentang emas dan perak, dua jenis
bahwa yang dimaksudkan dengan barang tambang yang dijadikan
“memakan” dalam ayat tersebut Allah sebagi dasar penetapan nilai
adalah menerima, mengambil dan uang dan alat tukar dalam
menguasai. hal ini diungkapkan perdagangan, kendati ada barang
dengan “memakan” sebagai kiasan. tambang lainnya yang lebih mahal
Ayat ini memberikan pesan dan berharga. Tetapi, demikianlah
kepada orang-orang yang beriman keadaannya hingga kini diseluruh
agar tidak berprilaku sebagaimana dunia kedua barang tambang itu
orang-orang alim Yahudi dan rahib- masih tetap menjadi dasar bagi
rahib Nasrani, yang mengambil dan perdagangan dan nilai uang setiap
menggunakan harta orang lain negara.
dengan jalan batil, antara lain Keterkaitan ayat 34 surat at -
dengan menerima sogok, Taubah (munasabah) dengan
memanipulasi ajaran untuk sebelumnya, maka ayat 34 surat at-
memperoleh keuntungan materi. Taubah ini tidak memiliki munasabah
Mereka menampakkan diri sebagai dengan sebelumnya. Pada ayat 33 at-
agamawan yang dekat dengan Taubah sebelumnya berkenaan
Tuhan dan seolah-olah dengan prilaku orang-orang Yahudi
mementingkan akhirat tetapi dan Nasrani yang menjadikan
hakekat mereka tidak demikian. pendeta dan rahibnya sebagai Tuhan
mereka. Dan tidak mempercayai
Memakan Harta Secara Bati (Persepektif Surat An- Nisa: 29 dan At-Taubah: 34) ║253

para rasul sebagai utusan Allah. Kedua bentuk prilaku tersebut


Sedangkan ayat 34 tersebut bisa digolongkan kepada prilaku batil dan
dipahami bahwa harta yang mendatangkan kezaliman kepada
termasuk dalam golongan batil tidak orang lain. Karena seharusnya harta
hanya harta yang sudah jelas tersebut dapat diproduktifkan dan
diketahui bahwa jalan yang mendatangkan kemaslahatan justru
ditempuh dengan sesuatu cara yang ditahan tanpa keperluan yang
zalim, namun harta yang didapatkan diperbolehkan oleh syara’.
secara halal saja dapat berubah Sebagaimana kaidah fiqiyah
status menjadi batil, apabila tidak menyebutkan:
dimanfaatkan sesuai dengan ُ‫أألصل ُفىى ُالمنافع ُالحل ُوفى ُالمضار‬
ketentuan syara’ seperti menahan
ُ ‫التحريم‬
tidak diproduktifkan.
2. Pesan Etika Ekonomi dalam An-Nisa: “Pada dasarnya semua yang bermanfaat
29 dan at-Taubah: 34 boleh dilakukan dan semua yang
mendatangkan bahaya haram
Memahami makna ayat (An-Nisa
ayat 29 dan at-Taubah ayat 34) bahwa dilakukan”.
Sikap keridhaan para pihak
katagori prilaku batil adalah yang
membuat orang lain tidak ridha karena merupakan salah satu asas pokok
hak-hak kebendaannya terzalimi. dalam muamalah yang disebut dengan
Dalam surat an-Nisa 29 dengan jelas mabda’ ar-radhaiyyah. Oleh karena itu
transaksi barulah sah apabila didasari
Allah mengaitkan perkara perbuatan
batil dengan sikap ridha dalam oleh kerihaan kedua belah pihak (A
perdagangan (tijarah). Begitu juga Djazuli, 2006: 130). Sebuah kaidah
dengan at-Taubah ayat 34, prilaku para fiqhiyah menyebutkan:
pendeta Nasrani dan rahib Yahudi yang
berprilaku batil dengan membebankan ‫األصل فى العقد رض المتعاقدين ونتيجته‬
para pengikutnya pajak dan hadiah ‫ماإلتزماه بل تعا قد‬
atas nama agama. Begitu juga dengan
prilaku penimbunan, adanya “Hukum asal dari transaksi adalah
keengganan untuk melakukan investasi keridhaan kedua belah pihak yang
dengan cara-cara yang dibenarkan. Dan berakad, hasilnya adalah berlaku sahnya
bila dikaitkan dengan persoalan yang diakadkan”.
ekonomi modern kedua konten ayat ini Rasulullah saw. Bersabda:
adalah bahagian dari etika bisnis. ُِ ‫لَّ ِب ِطي‬
ُ‫ب نَ ْفسُ ِم ْن ُه‬ ُُّ ‫لَ يَ ِح‬
ُُ ‫ل َما‬
ُ ِ‫ل ْام ِرئُ ُم ْس ِلمُ إ‬ ُ
Beberapa referensi menyebutkan
،‫(رواه أحمد والدارقطني والبيهقي‬
ada perbedaan makna dalam bahasa
arab mengenai perbuatan menimbun. )‫وصححه الحافظ واأللباني‬
Jika yang ditimbun itu adalah makanan
maka digunakan dengan kata ihtikar, “Tidaklah halal harta seorang muslim
selain itu diistilahkan dengan kanzun. kecuali dengan dasar kerelaan darinya".
254 ║ Jurnal Ilmiah Syari‘ah, Volume 17, Nomor 2, Juli-Desember 2018

(Riwayat Ahmad, Ad Daraquthny, tidak boleh terdhalimi oleh pembeli


Al Baihaqy dan dinyatakan sebagai dengan menunda pembayaran bagi
hadits shahih oleh Al Hafizh Ibnu pembeli yang mampu atau
Hajar dan Al Albany). mengurangi harga barang.
Selain masalah keridhaan juga Ibnu Khaldun (Ibnu Khaldun,
berkaitan dengan prilaku zalim 2006: 741) mengatakan” Ketahuilah
terhadap orang lain, ketika hak-hak bahwasanya kedhaliman terhadap
mereka dikhianati dan ditahan, tentu harta manusia akan menghilangkan
akan mendatangkan kezaliman. Prinsip harapan mereka dalam mencari dan
ekonomi Islam juga sangat melarang memperolehnya. Karena mereka
prilaku tersebut, sesuai dengan kaidah: memandang bahwa akhir dan ujung
Prinsip latazlimuna wala tuzlamun dari usaha mereka akan hilang dari
merupakan juga bahagian dari prinsip- tangan mereka. Jika harapan mereka
prinsip yang dilarang dalam dalam mencari dan memperoleh harta
perdagangan. Prinsip ini selain telah hilang, maka mereka akan
mendatangkan kerugian bagi yang lain berhenti dari bekerja. Bila kedhaliman
juga bagi sendiri pelaku. Kalimat tersebut telah banyak dan menyentuh
latazlimuna wala tuzlamun dapat semua pintu mata pencaharian, maka
ditemukan pada surah al-Baqarah ayat akan terjadi mogok kerja diseluruh lini
279: usaha, karena harapan untuk
ُ‫ّللا‬
ِ َُ‫ح ْربُ ُِمن‬ َُ ‫…فَإِن لَّ ُْم ت َ ْف َعلُوُاْ فَأْذَنُوُاْ ِب‬ memperoleh harta telah hilang (dari
masyarakat) secara keseluruhan.
َُ ‫س ُأ َ ْم َوا ِل ُك ُْم‬
‫ل‬ ُُ ‫سو ِل ُِه َو ِإن ت ُ ْبت ُ ُْم فَلَ ُك ُْم ُر ُؤو‬
ُ ‫َو َر‬ Dalam sebuah hadits qudsi Allah
َُ‫ظلَ ُمون‬ ْ ُ ‫ظ ِل ُمونَُ َولَُ ت‬
ْ َ‫ت‬ berfirman yang berkenaan dengan
keharaman berbuat zalim:
“… Jika kamu tidak mengerjakan ‫عن أبى ذر الغفري رضى هللا عنه عن‬
(meninggalkan sisa riba), maka
ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya
‫النبى صلى هللا عليه وسلم فيما يرويه عن‬
akan memerangimu. Jika kamu bertobat ‫ربه أنه قال ياعبادي إني حرمت الظلم على‬
(dari pengambilan riba), maka bagimu ‫نفسى وجعلته بينكم محرما فل تظا لموا‬
pokok hartamu. Kamu tidak menganiaya (‫(رواه المسلم‬
dan tidak (pula) dianiaya.” (Q.S. Al-
Baqarah [2]: 279).
“Dari Abi Dzar al-Ghifari r.a. dari Nabi
Ayat tersebut berhubungan
saw. menyampaikan apa yang
dengan orang-orang makan riba diterimanya dari Rabbnya, bersabda,
sebagaimana ayat sebelumnya. Dalam “Wahai hamba-hamba-Ku,
kitab Fathul Bayan Fi Maqashid al-Qur’an sesungguhnya Aku telah mengharamkan
(Shadiq Hasan Khan, n.d:) dijelaskan kezaliman atas diri-Ku dan Aku
bahwa kata latazlimuna bermakna menjadikannya haram di antara kalian,
jangan mendhalimi orang yang sudah maka janganlah kalian saling
penuh hutang dengan mengambil menzalimi.” (Muslim, n.d: 123)
tambahan (riba nasi’ah). Sedangkan
makna wala tuzlamun bahwa penjual
Memakan Harta Secara Bati (Persepektif Surat An- Nisa: 29 dan At-Taubah: 34) ║255

Dalam hadits itu Allah SWT “Wahai orang-orang yang beriman,


menegaskan bahwa Allah hendaklah kamu jadi orang-orang yang
mengharamkan diriNya berbuat zalim, selalu menegakkan (kebenaran) karena
mustahil diriNya berbuat zalim kepada Allah, menjadi saksi dengan adil.
makhlukNya. Padahal Allah Maha Janganlah sekali-kali kebencianmu
Kuasa melakukan apapun yang terhadap sesuatu kaum, mendorong
dikehendaki. Semestinya manusia kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
sebagai hamba Allah juga tidak adillah, karena adil itu lebih dekat
mengerjakan sesuatu yang kepada takwa. Dan bertakwalah kepada
mendatangkan kedhaliman bagi orang Allah, sesungguhnya Allah Maha:
lain dan juga dirinya. Mengetahui segala sesuatu yang kamu
Jadi jelaslah, kezaliman terlarang kerjakan.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 8).
dalam semua keadaan, dan keadilan Kezaliman merupakan sumber
adalah wajib dalam semua keadaan, kerusakan dan keadilan adalah menjadi
sehingga dilarang berbuat zalim sumber bagi terwujudnya
kepada orang lain, tidak mesti hanya kemaslahatan dalam setiap aktivitas
sesama muslim tapi juga dengan non manusia, dan juga pangkal bagi
muslim. kesuksesan di dunia dan akhirat.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah Ketika perniagaan atau muamalah
menyatakan, “Semua kebaikan masuk adalah pintu yang besar bagi kezaliman
dalam keadilan dan semua kejelekan manusia dan pintu untuk memakan
masuk dalam kezaliman. Oleh karena harta orang lain dengan batil, maka
itu, keadilan adalah perkara wajib larangan zalim dan pengharamannya
dalam setiap sesuatu dan atas setiap termasuk maqashid syariah terpenting
orang, dan kezaliman dilarang pada dalam bermuamalah. Kewajiban
setiap sesuatu dan atas setiap orang, berbuat adil dan larangan berbuat
sehingga dilarang menzalimi seorang zalim menjadi kaidah terpenting dalam
pun–baik muslim, kafir, atau zalim-, muamalah.
bahkan boleh atau wajib berbuat adil Banyak bentuk-bentuk kezaliman
terhadap kezaliman juga.” Beliau pun yang jika dilihat dalam realitas
menyatakan, “Semua yang Allah larang kehidupan, namun secara garis besar,
kembali kepada kezaliman dan semua kezaliman dapat dibagi pada dua
yang diperintahkan kembali kepada kategori, yakni:
keadilan”. 1. Pertama: ‫( ظلم ُعلى ُنفسه‬kezaliman
Allah swt. berfirman: terhadap diri sendiri). Puncak
kezaliman terhadap diri sendiri
adalah al-isyraku billah
‫ش َهدَاء‬ ُ ‫ِل‬ ُِ ِ َُ‫َيا أَيُّ َها الَّذِينَُ آ َمنُوُاْ ُكونُوُاْ قَُ َّوا ِمين‬ (menyekutukan Allah). Karena
ُ َ‫علَى ُأ‬
َّ‫ل‬ َُ ُ‫َآن قَ ُْوم‬ ُُ ‫شن‬ َ ‫لَ َي ْج ِر َمنَّ ُك ُْم‬ ُ ‫ْط َو‬ ُِ ‫ِب ْال ِقس‬ orang yang menyekutukan Allah
َُ‫ب ِللُت َّ ْق َُوى َُوات َُّقُوُاْ ّللا‬ ُُ ‫ت َ ْع ِدلُوُاْ ا ْع ِدلُوُاْ ُه َُو أ َ ْق َر‬ telah menempatkan makhluk pada
َُ‫ّللاَ َخ ِبيرُ ِب َما تَ ْع َملُون‬
ُ ‫ن‬ َُّ ‫ِإ‬ posisi Al-Khaliq seraya memuja,
menyembah, dan mengabdi
256 ║ Jurnal Ilmiah Syari‘ah, Volume 17, Nomor 2, Juli-Desember 2018

kepadanya. Dan itulah perilaku Nya dengan membawa kitab-kitab suci


menempatkan sesuatu bukan pada dan neraca keadilan, agar manusia
tempatnya yang paling buruk dan menegakkan keadilan pada hak-hak
paling dahsyat. Dan kebanyakan Allah dan makhluk-Nya, sebagaimana
julukan zhalimin (orang-orang yang firman Allah swt. Dalam surah al-
zalim) dalam Al Quran ditujukan Hadid ayat 25:
kepada orang-orang musyrik.
2. Kedua: ُ ‫( ظلم عبد لغيره‬kezaliman ُ‫ت َُوأَنزَ ْلنَا َم َع ُه ُم‬ ُِ ‫س َلنَا ِب ْال َب ِيَُنا‬
ُ ‫س ْلنَا ُر‬ َ ‫َل َق ُْد أ َ ْر‬
seorang hamba terhadap orang lain). ُِ ‫س ُِب ْالُِقس‬
‫ْط‬ ُُ ‫وم النَّا‬ َُ ُ‫اب َو ْال ِميزَ انَُ ِليَق‬
َُ َ ‫ْال ِكت‬
Kezaliman banyak macamnya, jika
dikaitkan dengan adil maka “Sesungguhnya Kami telah mengutus
kezaliman disini adalah jika rasul-rasul Kami dengan membawa
seseorang tidak berbuat adil baik itu bukti-bukti yang nyata, serta telah Kami
terhadap dirinya, orang tua, kerabat turunkan bersama mereka al-Kitab dan
ataupun kaum tertentu. neraca (keadilan) supaya manusia dapat
melaksanakan keadilan.” (Q.S. Al-
Prinsip latazlimuna wala tuzlamun Hadid [57]: 25).
juga sejalan dengan kaidah fiqhiyah
yaitu: Di antara pelanggaran atau unsur
‫لضرر ولضرار‬ dari prinsip latazlimuna wala tuzlamun
“Tidak mudharat dan tidak adalah atazlimuna wala tuzlamun
memudharatkan. sebagaimana disebutkan oleh
Adiwarman (Adiwarman A Karim,
Begitu juga disebutkan dalam 2010: 33) adalah gharar, riba dan ihtikar.
kaidah mu’amalah bahwa: Ketiga unsur tersebut sangat
memungkinkan terjadi dalam praktek
ُ‫ت َو‬ ُ ‫ل ْال ُُم َعا َم‬
ُِ َ‫ل‬ ُِ ‫ي ُك‬ ُْ ‫ل ِف‬ُُ ‫ل ُه َُو ْال َع ْد‬ ُُ ‫ص‬ ْ ََ َ ‫األ‬ perdagangan atau bermuamalah. Dan
‫ْن َُو َر ْف ُُع‬
ُِ ‫لط َرفَُي‬َُّ ‫صلَ َح ُِة ا‬ ْ ‫عا ُة ُ َم‬ َ ‫الظ ْل ُِم َو ُم َرا‬
ُّ ‫َم ْن ُُع‬ ketiganya bukan hanya mendatangkan
kerugian bagi pembeli namun juga
‫ع ْن ُه َما‬
َ ‫الض ََّر ُِر‬ bagi pedagang sendiri. Baik itu dari
“Asal setiap muamalah adalah adil dan segi kualitas, kuantitas, harga maupun
larangan berbuat zalim serta waktu.
memperhatikan kemaslahatan kedua
belah pihak dan menghilangkan
kemudharatan”. PENUTUP
Ada dua makna mengenai memakan
Pada asalnya, dalam seluruh akad harta secara batil yang disebutkan dalam
transaksi harus adil, dan demikianlah Surat an-Nisa ayat 29 dan at-Taubah ayat
yang diajarkan syariat Islam. Dan 34. Pada surat an-Nisa ayat 29
sudah menjadi kesepakatan semua menyebutkan larangan memakan yang
syariat Allah untuk mewajibkan menurut mufassir bahwa makna larangan
keadilan dan mengharamkan memakan adalah setiap usaha baik cara
kezaliman. Allah mengutus para Rasul-
Memakan Harta Secara Bati (Persepektif Surat An- Nisa: 29 dan At-Taubah: 34) ║257

memperoleh maupun memanfaatkan Jakarta: Kalam Mulia.


harta. Abi al-Qasim al-Husain bin Muhammad
Sedangkan surat at-Taubah ayat 34 ar-Raghib Al-Asfahani. (1961).
menegaskan larangan melakukan Mufradat fiGharib al- qur ’an,. Mesir:
penimbunan harta berupa emas dan Maktabah wa Matba’ah Musthafa.
perak. Ayat ini berkenaan dengan
perilaku pendeta dan rahib yang suka Adiwarman A Karim. (2010). Bank Islam
memakan harta umatnya secara batil. Analisis Fiqih dan Keuangan (Cet. VII).
Meskipun terletak pada surat yang Jakarta: Rawali Pers.
berbeda, kedua ayat tersebut (an-Nisa: 29 Ahmad Azhar Basyir. (2009). Asas- Asas
dan at-Taubah: 34) mnegaskan tujuan Hukum Muamalat (Hukum Perdata
yang sama yaitu larangan memakan baik Islam),. Yogyakarta: UII Press.
cara memperoleh maupun memanfaatkan.
Ahmad Warson Munawwir. (1997). al-
Surat an-Nisa ayat 29 menegaskan tentang
Munawwir. Surabaya: Pustaka
urgensi keridhaan dalam memakan harta
Progressif.
yang sifatnya barang konsumtif, maka
pada surat at-Taubah ayat 34 menegaskan Asy-Sya’rawi. (1999). Tafsir Asy-Sya’rawi
tentang larangan memanfaatkan harta (Jilid. VII). al-Qahirah: Akhbar al-
dengan jalan menimbun (kanz) yaitu pada Yaum.
barang-barang bersifat produktif (emas At-Thabari. (2001). Jami al-Bayan an Ta’wil
dan perak). Karena kedua perilaku batil al-Quran (Cet.I,). Kairo: Dar Hijr.
tersebut dapat memicu kesenjangan (gap)
pasar secara global. Azhari Akmal Tarigan. (2012). Tafsir Ayat-
ayat Ekonomi: Sebuah Eksplorasi Melalui
Kata-kata dalam Al-Quran. Bandung:
DAFTAR KEPUSTAKAAN Cita Pustaka Media Perintis.
Az-Zuhaili Wahbah. (1997). Tafsir al Wajiz
A Djazuli. (2006). Kaidah-kaidah Fikih: wa Mu’jam Ma’aniy al Qur’an al ‘Aziz.
Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Damsyik: Dal al Fikr.
Menyelesaikan Masalah-masalah yang
Praktis. Jakarta: Pranata Media. Burhan al-Din Abi al-Hasan Ibraim ibn
Umar Al-Biqa’iy. (2006). Nazhm al-
Abdul Karim Al-Khatib. (1976). As-Siyasah Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar
al-Maliyah fi al-Islam ea Shilatuhu bi al- (Jilid I). Beirut: Dar al-Kutb al-
Mu’amalah al-Mu’ashirah. Kairo: Dar Ilmiyyah.
al-Fikr al-‘Arabi.
Fakhr al-Din Muhammad ibn Umar ibn al-
Abdullah bin Umar bin Muhammad al- Husayn al-Tamimiy Al-Razi. (1990).
Asy Syirazi Baidhawi. (n.d.). Anwar Mafatih al-Gaib (Jilid V, J). Beirut: Dar
al-Tanzil wa as-Rarut Ta’wil. Beirut: al-Kutb al-‘Ilmiyyah.
Dar Ihya Turatd al-Arabi.
Ibnu Katsir. (2004). Tafsir, al-Quran al-
Abdullah Fatah Idris. (1989). Kedudukan Azim, Jilid II. Mesir: Dar al-Kutub al-
Harta Menurut Pandangan Islam. Ilmiyah.
258 ║ Jurnal Ilmiah Syari‘ah, Volume 17, Nomor 2, Juli-Desember 2018

Ibnu Khaldun. (2006). Muqaddimah (Juz. Sayyid Qutb. (2004). Tafsir fidhilalil quran
II). Mesir: Dar Nahdhah Mishr. (Juz II). Beirut: Dar Asy-Syuruk.
Izuddin Ibnu Abdul As-Salam. (1996). Shadiq Hasan Khan. (n.d.). Fathul Bayan fi
Tafsir al-Quran: Ikhtisar an-Nukat lil Maqashid al-Qur’an (Juz.I). t.t: Darul
Mawardi. Beirut: Dar Ibnu Hazmen. Fikri al- ‘Arabi.
M. Quraish Shihab. (2002). Tafsir Al- Syekh. H. Abdul Halim Hasan Binjai.
Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian (2006). Tafsir Al-Ahkam (Cet. I).
Al-Quran. Jakarta: Lentera Hati. Jakarta: Kencana.
Muhammad Fuad Abdul Baqi. (1981). Syihabuddin Sayyid Mahmud Al-Lusi.
Mu’jam Mufahrasy li Alfadz Al-Quran. (n.d.). Ruh al-Ma’aani fi Tafsir al-Quran
t.p.t. Adhim wa as-Sabil Matsani. Beirut: Dar
Muslim. (n.d.). Shahih Muslim bi Syarhi An- Ihya at-Turats al-A’rabi.
Nawawi (Juz. XVI). Kairo: Dar Yusuf Al-Qardhawi. (2014). 7 Kaidah
Dakwah al-Islamiyah. Utama Fikih Muamalah, Terj. Fedrian
Mustafa Al-Maraghi. (2004). Tafsir Al- Hasmand. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Maraghi. Beirut: Dar al-Kutub al-
‘Ilmiyah.
Rahmat Syafi’i. (2004). Fiqh Muamalah.
Bandung: Pustaka Setia.