Anda di halaman 1dari 34

MODUL IV

KALIMAT EFEKTIF

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu membuat isi atau maksud yang
disampaikan tergambar lengkap dalam pikiran si penerima (pembaca), melalui
pemakain kalimat efektif dalam surat menyurat maka pesan yang disampaikan
akan mudah dipahami dan tergambar jelas dalam pikiran pembaca. Selain
penggunaan kalimat efektif, pemakaian tanda baca juga dapat mempengaruhi
pemahaman yang diterima oleh pembaca dalam surat tersebut. Peran penggunaan
tanda baca dalam menulis surat, memiliki peran penting bergantung dari tanda
baca yang kita gunakan. Penggunaan tanda baca dalam sebuah kalimat dapat
memberikan arti yang berbeda.

B. Ruang Lingkup

1. Definisi kalimat, unsur-unsur kalimat yang terdiri dari : subyek, predikat,


objek, pelengkap, keterangan, konyugasi dan modalitas.
2. Pola kalimat, pengertian dan ciri-ciri kalimat efektif yang terdiri dari :
kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, dan kehematan.

C. Sasaran Pembelajaran

1. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang definisi kalimat, unsur-nsur kalimat,


pola kalimat, pengertian, dan ciri-ciri kalimat efektif.
2. Mahasiswa mampu membuat dan menyusun kalimat efektif
II. KULIAH
MATERI PERKULIAHAN
A. Definisi kalimat
Bahasa terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan bentuk dan lapisan makna yang
dinyatakan oleh lapisan bentuk tersebut. Bentuk bahasa terdiri atas satuan-satuan yang
dapat dibedakan menjadi dua satuan, yaitu satuan fonologi dan satuan gramatikal. Satuan
fonologi meliputi fonem dan suku, sedangkan satuan gramatikal meliputi wacana, kalimat,
klausa, frase, dan morfem.
Kalimat biasanya didefinisikan sebagai susunan kata-kata yang memiliki
pengertian yang lengkap. Artinya, di dalam kalimat itu ada unsur subjek (S), yakni unsur
yang dibicarakan. Ada unsur predikat (P), yakni unsur yang menyatakan apa yang
dilakukan oleh unsur S atau apa yang dialami oleh unsur S itu. Mungkin ada unsur objek
(O), yakni unsur sasaran dari tindakan yang dilakukan oleh unsur S. Lalu mungkin juga
ada unsur keterangan (K), yakni unsur yang menerangkan tentang waktu, tempat, cara,
dan sebagainya. Dalam bukunya yang lain Chaer menambahkan bahwa kalimat adalah
satuan sintaksis yang dibangun oleh konstituen dasar (biasanya berupa klausa), dilengkapi
dengan konjungsi (bila diperlukan), disertai dengan intonasi final (deklaratif, interogatif,
imperatif, atau interjektif).
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang
mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara
naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti
oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan ataupun asimilasi bunyi ataupun
proses fonologis lainnya. Dalam wujud tulisan berhuruf Latin, kalimat dimulai dengan
huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).
Sementara itu, di dalamnya disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma (,), titik dua
(:), tanda pisah (-), dan spasi. Tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru sepadan dengan
intonasi akhir, sedangkan tanda baca lain sepadan dengan jeda. Spasi yang mengikuti
tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru melambangkan kesenyapan. Sedangkan menurut
Putrayasa, kalimat adalah satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang
disertai nada akhir naik atau turun.
Dari beberapa pendapat pakar di atas, penulis mengacu pada pendapat Alwi dkk.,
dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia yang mengemukakan bahwa kalimat
adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan
pikiran yang utuh. Menurut penulis pendapat Alwi dkk. sangat lengkap dan jelas. Hal itu
karena Alwi dkk. memberikan batasan dari segi lisan dan tulisan serta mengungkapkan
cara penulisan sebuah kalimat.

B. Unsur-unsur Kalimat
Kalimat terdiri atas beberapa unsur yang membentuknya. Berikut akan dijelaskan
mengenai unsur-unsur kalimat.
1. Subjek
Subjek atau pokok kalimat merupakan unsur utama kalimat. Subjek menentukan
kejelasan makna kalimat. Penempatan subjek yang tidak tepat dapat mengaburkan
makna kalimat. Keberadaan subjek dalam kalimat berfungsi (1) membentuk kalimat
dasar, kalimat luas, kalimat tunggal, kalimat majemuk, (2) memperjelas makna, (3)
menjadi pokok pikiran, (4) menegaskan/memfokuskan makna, (5) memperjelas
pikiran ungkapan, dan (6) membentuk kesatuan pikiran.
Ciri-ciri subjek yaitu sebagai berikut.
a. jawaban atas pertanyaan apa atau siapa
Contoh:
- Pemimpin itu jujur sekali. Kalimat di atas merupakan jawaban atas pertanyaan
siapa, “Siapa yang jujur sekali?” Jawabannya adalah pemimpin itu.
- Menulis puisi itu mudah. Kalimat di atas merupakan jawaban atas pertanyaan
apa, “Apa yang mudah?” jawabannya adalah menulis puisi.
b. berupa kata atau frase benda (nomina),
subjek berupa kata, contohnya:
- Saya belajar Semantik dibangku kuliah.
- Kami akan wisuda bulan Desember tahun ini.
Subjek berupa frase, contohnya:
- Gadis cantik yang berbaju biru itu menyanyikan lagu Lampung.
- Ayah dan ibu pergi ke Bandung kemarin.
c. disertai kata tunjuk ini atau itu, Contoh:
- Kucing ini lucu sekali.
- Mobil itu menabrak pembatas jalan.
d. disertai pewatas yang, Contoh:
- Gadis yang memakai baju merah cantik sekali.
- Pemimpin yang jujur disenangi masyarakat.
e. tidak didahului preposisi: di, dalam, pada, kepada, bagi, untuk, dari, menurut,
berdasarkan, dan lain-lain, Contoh:
- Dalam rapat itu terjadi perdebatan sengit antaranggota.
- Menurut kami, merekalah penyebab terjadinya kerusuhan itu. (kata yang
dicetak miring bukan merupakan subjek karena didahului kata dalam dan
berdasarkan).
f. tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi dapat dengan kata bukan,
Contoh:
- Bukan Rita yang menanam bunga itu. (benar)
- Tidak Rita yang menanam bunga itu. (salah)
g. merupakan bagian kalimat yang diterangkan oleh predikat,
Contoh:
- Perempuan itu cantik sekali.
- Anggun menanam bunga di taman.
(kalimat pertama predikat cantik sekali menerangkan subjek perempuan itu,
sedangkan kalimat kedua predikat menanam menerangkan apa yang dilakukan
Anggun di taman).
h. diikuti salah satu kata kerja gabung ialah, adalah, merupakan, atau menjadi,
Contoh:
- Pantun ialah bentuk puisi yang berpola akhir a-b-a-b.
- Beliau menjadi presiden sejak tahun 2004.
i. berpartikel –nya.
Contoh:
- Membacanya cukup cepat.
- Dinginnya menusuk tulang.
2. Predikat
Seperti halnya dengan subjek, predikat kalimat kebanyakan muncul secara
eksplisit. Keberadaan predikat dalam kalimat berfungsi; membentuk kalimat dasar,
kalimat tunggal, kalimat luas, kalimat majemuk; menjadi unsur penjelas, yaitu
memperjelas pikiran atau gagasan yang diungkapkan dan menentukan kejelasan
makna kalimat; menegaskan makna; membentuk kesatuan pikiran, dan sebagai
sebutan.
Ciri-ciri predikat yaitu sebagai berikut.
1. Jawaban atas pertanyaan mengapa (melakukan apa), bagaimana, berapa, dan apa
sang subjek itu, Contoh:
- Burung itu berkicau indah sekali. (“Apa yang dilakukan burung itu?
Jawabannya berkicau indah sekali”)
- Peserta rapatnya 20 orang. (“Berapa jumlah peserta rapat? Jawabannya 20
orang”)
2. Dapat diingkarkan dengan tidak atau bukan,
Contoh:
- Aisyah bukan pramugari.
- Delia tidak menanam bunga.
3. Dapat didahului keterangan aspek: akan, sudah, sedang, selalu, hampir,
Contoh:
- Kami akan berangkat ke Bandung bulan depan.
- Paman sudah pulang dari Bali.
4. Dapat didahului keterangan modalitas: sebaiknya, seharusnya, seyogyanya,
mesti, selayaknya, dan lain-lain,
Contoh:
- Saya sebaiknya pulang lebih awal.
- Kamu seharusnya tidak bermalas-malasan.
5. Tidak didahului kata yang, jika didahului yang predikat berubah fungsi
menjadi perluasan subjek.
Contoh:
- Wanita yang memakai jilbab ungu itu cantik sekali.
- Laki-laki yang berjalan di atas trotoar itu tampan sekali.
(frase yang bergaris bawah merupakan perluasan subjek, bukan predikat, frase
yang dicetak miring merupakan predikat berupa kata sifat)
6. Didahului kata adalah, ialah, yaitu, yakni
Contoh:
- Saya adalah mahasiswa Unila.
- Peserta seminar yakni kalangan dosen.
7. Predikat dapat berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, atau bilangan.
Contoh:
- Saya mahasiswa. (predikat kata benda)
- Kami menanam seribu pohon di hutan. (predikat kata kerja)
3. Objek
Kehadiran objek dalam kalimat bergantung pada jenis predikat kalimat serta
ciri khas objek itu sendiri. Predikat kalimat yang berstatus transitif mempunyai objek.
Biasanya, predikat ini berupa kata kerja berkonfiks me-kan, atau me-i, misalnya
mengambilkan, mengumpulkan, mengambili, melempari, mendekati. Dalam kalimat,
objek berfungsi membentuk kalimat dasar pada kalimat berpredikat transitif,
memperjelas makna kalimat, dan membentuk kesatuan atau kelengkapan pikiran.
Ciri-ciri objek yaitu sebagai berikut.
a. Berupa kata benda.
Contoh:
- Nola menulis puisi.
- Bunda ke kampus mengendarai motor.

b. Tidak didahului kata depan.


Contoh:
- Ibu membeli di pasar buah mangga itu. (kata di pasar yang berada tepat di
belakang predikat transitif bukan merupakan objek, melainkan keterangan,
objeknya yaitu buah mangga itu).
- Paman membawa dari Palembang pempek yang lezat itu. (kata dari Palembang
yang berada tepat di belakang predikat transitif bukan merupakan objek,
melainkan keterangan, objeknya yaitu pempek yang lezat).
c. Mengikuti secara langsung di belakang predikat transitif.
Contoh:
- Anak-anak melempari orang gila dengan kerikil tajam.
- Sanny mengumpulkan perangko sejak sekolah dasar.
d. Jawaban apa atau siapa yang terletak di belakang predikat transitif.
Contoh:
- Ayah membeli mobil-mobilan di pasar. (“Apa yang dibeli ayah di pasar?
Jawabannya mobil-mobilan”)
- Ayah membelikan adik mobil-mobilan di pasar. (“Siapa yang dibelikan mobil-
mobilan oleh ayah? Jawabannya adik”)
e. Dapat menduduki fungsi subjek apabila kalimat dipasifkan.
Contoh:
- Pembantu membersihkan rumah saya. (aktif)
- Rumah saya dibersihkan oleh pembantu. (pasif)
(kalimat pertamana objeknya rumah saya, pada kalimat kedua rumah saya
menduduki fungsi subjek, dan yang menjadi objeknya adalah oleh pembantu)
4. Pelengkap
Pelengkap adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi informasi,
mengkhususkan objek, dan melengkapi struktur kalimat.
Ciri-ciri pelengkap menurut yaitu sebagai berikut.
a. Bukan unsur utama, tetapi tanpa pelengkap kalimat itu tidak jelas dan tidak
lengkap informasinya.
Contoh:
- Tabitha belajar.
- Tabitha belajar bahasa Indonesia.
(kalimat pertama terdiri atas subjek dan predikat, namun kalimat tersebut tidak
memberikan informasi yang jelas mengenai hal yang dipelajari Tabitha,
sedangkan kalimat kedua terdiri atas subjek-predikat-pelengkap sehingga
memberikan informasi yang lebih jelas tentang yang dipelajari Tabitha, yaitu
bahasa Indonesia)
b. Terletak di belakang predikat yang bukan kata kerja transitif.
Contoh:
- Negara ini berlandaskan hukum.
- Mereka bermain bola di lapangan.
Untuk memperjelas pemahaman tentang objek dan pelengkap, berikut akan
disajikan tabel yang menguraikan perbedaan antara objek dan pelengkap.
Tabel Perbedaan Objek dan Pelengkap
No. Objek Pelengkap
Berwujud frase Berwujud frase nominal, frase
1.
nominal atau klausa verbal, frase adjektif, frase
proposisional, atau klausa.
Berada langsung di Berada langsung dibelakan predikat
2. belakang predikat jika taka da objek dan dibelakan
objek kalua unsur ini hadir
Menjadi subjek akibat Tak dapat menjadi subjek akibat
3.
pemasifan kalimat pemasifan kalimat
Dapat diganti dengan Tidak dapat diganti dengan-nya
4. pronominal-nya kecuali kombinasi preposisi selain
di, ke, dari, dan akan

5. Keterangan
Keterangan kalimat berfungsi menjelaskan atau melengkapi informasi pesan
pesan kalimat. Tanpa keterangan, informasi menjadi tidak jelas. Hal ini dapat dirasakan
kehadirannya terutama dalam surat undangan, laporan penelitian, dan informasi yang
terkait dengan tempat, waktu, sebab, dan lain-lain.
Ciri-ciri keterangan yaitu sebagai berikut.
a. Bukan unsur utama kalimat, tetapi kalimat tanpa keterangan, pesan menjadi tidak
jelas, dan tidak lengkap, misalnya surat undangan, tanpa keterangan tidak
komunikatif.
Contoh:
- Kakek datang bersama nenek. (tanpa keterangan)
- Kakek datang dari Yogyakarta bersama nenek. (ada keterangan asal)
kalimat pertama tidak memberikan informasi dengan jelas tanpa memberikan
keterangan, sedangkan kalimat kedua menjadi jelas dengan adanya keterangan
asal
b. Tempat tidak terikat posisi, pada awal, tengah, atau akhir kalimat.
Contoh:
- Kemarin saya mengerjakan skripsi di kampus.
- Saya kemarin mengerjakan skripsi di kampus.
- Saya mengerjakan skripsi di kampus kemarin.
c. Dapat berupa: keterangan waktu, tujuan, tempat, sebab, akibat, syarat, cara, posesif
(posesif ditandai kata meskipun, walaupun, atau biarpun, misalnya: Saya berupaya
meningkatkan kualitas kerja meskipun sulit diwujudkan, dan pengganti nomina
menggunakan kata bahwa, misalnya: Mahasiswa berpendapat bahwa sekarang ini
sulit mencari pekerjaan).
Contoh:
- Darius membeli toyota avanza kemarin. (keterangan waktu)
- Dona tampil cantik untuk acara AMI awards. (keterangan tujuan)
d. Dapat berupa keterangan tambahan dapat berupa aposisi, misalnya keterangan tambahan
subjek, tidak dapat menggantikan subjek, sedangkan aposisi dapat menggantikan subjek.
Contoh:
- Megawati, yang menjabat Presiden RI 2001-2004, adalah putra Bung Karno.
(keterangan tambahan) (kata “yang menjabat‟ memberi keterangan status subjek
pada kalimat tersebut)
- Megawati, Presiden RI 2001-2004, adalah putra Bung Karno. (aposisi) (kata
Megawati dan Presiden RI 2001-2004 dapat saling menggantikan sebagai subjek,
misalnya Megawati adalah putra Bung Karno atau Presiden RI 2001-2004 adalah
putra Bung Karno).
6. Konyugasi
Menurut Widjono, konjungsi adalah bagian kalimat yang berfungsi menghubungkan
(merangkai) unsur-unsur kalimat dalam sebuah kalimat (yaitu subjek, predikat, objek,
pelengkap, dan keterangan), sebuah kalimat dengan kalimat lain, dan sebuah paragraf
dengan paragraf lain.
Konjungsi dibagi menjadi dua, yakni perangkai intrakalimat dan perangkai
antarkalimat. Perangkai intrakalimat berfungsi menghubungkan unsur atau bagian dengan
unsur atau bagian kalimat yang lain di dalam sebuah kalimat. Adapun perangkai
antarkalimat berfungsi menghubungkan kalimat atau paragraf yang satu engan kalimat atau
paragraf yang lain. Bagian perangkai antarkalimat sering juga disebut dengan istilah transisi.
Kata-kata transisi sangat membantu dalam menghubungkan gagasan sebelum dan
sesudahnya baik antarkalimat maupun antarparagraf.
Contoh bentuk perangkai yang sering ditemukan dalam karangan antara lain: adalah,
andaikata, apabila, atau, bahwa, bilamana, daripada, di samping itu, sehingga, ialah, jika,
kalau, kemudian, melainkan, meskipun, misalnya, padahal, seandainya, sedangkan, seolah-
olah, supaya, umpamanya, bahkan, tetapi, karena itu, oleh sebab itu, jadi, maka, lagipula,
sebaliknya, sementara itu, selanjutnya, dan tambah pula.
Contoh:
- Saya membaca novel, sedangkan Aisyah menulis cerpen.
- Semua persiapan seminar sudah beres. Dengan demikian, harapan seminar akan berjalan
lancar semakin besar.
7. Modalitas
Modalitas dalam sebuah kalimat sering disebut keterangan predikat. Modalitas dapat
mengubah keseluruhan makna sebuah kalimat. Dengan modalitas tertentu makna kalimat
dapat berubah menjadi sebuah pernyataan yang tegas, ragu, lembut, pasti, dan sebagainya.
Fungsi modalitas dalam kalimat:
a. mengubah nada: dari nada tegas menjadi ragu-ragu atau sebaliknya, dari nada keras
menjadi lembut atau sebaliknya. Ungkapan yang dapat digunakan antara lain:
barangkali, tentu, mungkin, sering, sungguh.
Contoh:
- Teman saya mungkin seorang politikus.
- Saya sungguh beruntung bisa kuliah di Unila.
b. Menyatakan sikap, misal jika ingin mengungkapkan kalimat dengan nada kepastian
dapat digunakan ungkapan: pasti, pernah, tentu, sering, jarang, kerapkali.
Contoh:
- Dia pasti datang ke acara ini.
- Saya jarang datang terlambat.
3. Pola Kalimat
Kalimat yang jumlah dan ragamnya begitu banyak, pada hakikatnya disusun
berdasarkan pola-pola tertentu yang amat sedikit jumlahnya. Penguasaan pola kalimat akan
memudahkan pemakai bahasa dalam membuat kalimat yang benar secara gramatikal. Selain
itu, pola kalimat dapat menyederhanakan kalimat sehingga mudah dipahami oleh orang lain.
Kemudahan itu dapat dirasakan pemakai bahasa dalam mengekspresikan ide-idenya
dan dalam memahami informasi yang diungkapkan oleh orang lain sehingga dapat
memperkecil kesalahpahaman dalam berkomunikasi.
a. Pola Dasar Kalimat
Kalimat dasar adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa, unsur-unsurnya lengkap,
susunan unsur-unsurnya menurut urutan yang paling umum, dan tidak mengandung
pertanyaan atau pengingkaran. Pola kalimat dasar memiliki ciri-ciri:
1) Berupa kalimat tunggal (satu S, satu P, satu O, satu Pel, dan satu Ket).
Contoh:
- Keluar!
- Hari ini.
(kalimat yang terdiri atas satu unsur tersebut biasa disebut kalimat minor)
2) Sekurang-kurangnya terdiri atas satu subjek dan satu predikat.
Contoh:
- Saya cantik. (S-P)
- Ayah sedang membaca. (S-P)
(kalimat di atas terdiri atas satu subjek dan satu predikat)
3) Selalu di awali dengan subjek.
Contoh:
- Raminra membersihkan rumah. (tepat)
- Membersihkan rumah Raminra. (tidak tepat)
4) Berbentuk kalimat aktif.
Contoh:
- Kami membeli buku kumpulan puisi. (aktif)
- Kakak membelikan ibu jilbab biru. (aktif)
5) unsur tersebut ada yang berupa kata dan ada yang berupa frase.
Contoh:
- Ayah berangkat ke Bandung tadi pagi. (subjeknya berupa kata)
- Ayah dan ibu berangkat ke Bandung tadi pagi. (subjeknya berupa frase)
6) Dapat dikembangkan menjadi kalimat luas dengan memperluas subjek, predikat,
objek, dan keterangan.
Contoh:
- Reni belajar. (kalimat dasar)
- Reni yang berparas cantik belajar di rumah yang baru direnovasi. (perluasan
subjek dan keterangan)
Untuk lebih memahami tentang unsur-unsur kalimat dalam pola kalimat dasar,
berikut ini akan disajikan tabel pola kalimat dasar beserta contoh dan fungsi unsur-
unsur tersebut.
Pola kalimat dasar
No. Fungsi Contoh kalimat
Mahasiswa sedang belajar
S P
1. S-P
Saya mahasiswa
S P
Dia mengerjakan tugas kuliah
S P O
2. S-P-O
Ana mendapat IPK tertinggi
S P O
Beliau menjadi kepala sekolah
S P Pel
3. S-P-Pel
Pancasila merupakan dasar negara kita
S P Pel
Saya tinggal di Makassar
S P Ket
4. S-P-Ket
Kami berangkat besok pagi
S P Ket
Dia mengirimi saya surat cinta
S P O Pel
5. S-P-O-Pel Rangga mengambilkan adiknya air
minum
S P O Pel
Mereka makan soto di kantin
S P O Ket
6. S-P-O-Ket Bu Tetty mendidik mahasiswa dengan
baik
S P O Ket

Pola kalimat dasar tersebut tidak mutlak, artinya kalimat bisa disusun sedemikian rupa
untuk mengurangi kejenuhan membaca, terutama untuk teks-teks panjang seperti dalam
surat kabar.
4. Pengertian dan Ciri-ciri Kalimat Efekti
Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu mengungkapkan pikiran pendengar atau pembaca
seperti apa yang terdapat pada pikiran penulis atau pembicara. Agar kalimat yang ditulis dapat
memberi informasi kepada pembaca secara tepat seperti yang diharapkan oleh penulis, perlu
diperhatikan beberapa hal yang merupakan ciri-ciri kalimat efektif yaitu:
a. kesepadanan struktur
b. keparalelan bentuk
c. ketegasan makna
d. kehematan dalam mempergunakan kata
e. kevariasian dalam struktur kalimat.
1) Kesepadanan Struktur
Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang
dipakai. Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti tercantum di bawah ini.
a. Fungsi unsur subjek dan predikat kalimat jelas. Ketidakjelasan subjek atau predikat
menyebabkan kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat
dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada,
sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek. Contoh:
1) Bagi semua mahasiswa UIN Alaiddin harus membayar uang kuliah.
2) Untuk mendapatkan data yang valid, peneliti harus ke lapangan.
Kedua kalimat di atas tidak efektif karena kalimat pertama tidak memiliki kesepadanan
karena fungsi subjek tidak jelas. Kalimat di atas tidak menampilkan apa atau siapa yang
harus membayar uang kuliah. Ketidakjelasan subjek disebabkan penggunaan kata depan
bagi. Selanjutnya, kalimat kedua tidak berpredikat. Kalimat di atas seharusnya ditulis
seperti kalimat berikut (kalimat efektif).
1a. Semua mahasiswa UIN Alauddin harus membayar uang kuliah.
2a. Untuk mendapatkan data yang valid, peneliti harus pergi ke lapangan.
b. Tidak terdapat subjek ganda
Contoh:
1) Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen.
2) Saat itu saya kurang jelas.
Kalimat-kalimat di atas dapat diperbaiki dengan cara berikut.
1a. Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
2a. Saat itu bagi saya kurang jelas.
c. Kata penghubung digunakan secara tepat
Contoh:
1. Kami datang terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti perkuliahan
Perbaikan kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, mengubah kalimat
menjadi kalimat majemuk dengan menggunakan penghubung (konjungtor) sehingga dan
kedua mengganti ungkapan penghubung intrakalimat (sehingga) menjadi ungkapan
penghubung antar kalimat(oleh karena itu), seperti pada kalimat berikut.
- Kami datang terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti perkuliahan.
- Kami datang terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti perkuliahan.
d. Kata pewatas yang, kata keterangan aspekdan modalitasdigunakan secara tepat.
Contoh1:
1) Mahasiswa UIN Alauddin yang berasal dari Pulau Sumba
2) Kandang ternak unggas yang terletak di dekat kampus.
Kedua kalimat di atas dapat diperbaiki dengan menghilangkan pewatas yang karena antara
subjek dan predikat tidak boleh disisipi dengan kata lain. Perbaikannya adalah sebagai
berikut.
1a) Mahasiswa UIN Alauddin berasal dari Pulau Sumba.
2a) Kandang ternak unggas terletak di dekat kampus
Contoh 2:
1) Laporan ini saya harus perbaiki secepatnya.
2) Kita telah bahas masalah tersebut dalam diskusi kita bulan lalu.
Seperti halnya kalimat pada contoh 1, kedua kalimat pada contoh 2 adalah kalimat pasif
dengan penanggalan awalan me(N): perbaiki dan bahas. Dalam kedua kalimat pasif
tersebut, antara pelaku (subjek) dan kata kerjanya tidak boleh disisipkan unsur lain. Jadi,
untuk menjaga kepaduan, keterangan modalitas harus dan keterangan aspek telah pada
kalimat pertama dan kedua harus dipindahkan ke depan pelaku. Kedua kalimat di atas
dapat diperbaiki menjadi seperti kalimat 1a) dan 1b) berikut.
1a) Laporan ini harussaya perbaiki secepatnya.
2a) Telah kita bahas masalah tersebut dalam diskusi kita bulan lalu.
2. Keparalelan bentuk
Kesejajaran bentuk berarti pengungkapan pikiran/gagasan yang sama fungsinya ke
dalam suatu bentuk atau struktur yang sama pula. Bila salah satu gagasan dinyatakan dalam
bentuk kata benda, gagasan lain memiliki fungsi yang sama dinyatakan dalam bentuk kata
benda pula.
Bentik-bentuk kata yang sejajar dalam sebuah kalimat memperlihatkan gagasan yang
sejajar pula. Kesejajaran antara gagasan dan bentuk Bahasa yang dipakai dapat mempermudah
pembaca untuk memahami makna kalimat.
Contoh:
1. Kegiatan yang kami lakukan adalah mengumpulkan informasi, pencarian bahan bacaan,
dan menyusun rancangan.
2. Tahap akhir penelitian ini adalah penyusunan laporan dan menyerahkan hasil penelitian
Pada kalimat 1) terdapat tiga unsur yang sama fungsinya, yaitu mengumpulkan
informasi, pencarian bahan bacaan, dan meyusun rancangan. Akan tetapi ketiga unsur
tersebut tidak dinyatakan melalui bentuk-bentuk yang sejajar. Pada kalimat 2), unsur
penyusunan laporan dan menyerahkan hasil penelitian juga tidak memperlihatkan kesejajaran
bentuk. Dengan demikian, kalimat 1 dan 2 diatas tidak memiliki kesejajaran atau keparalelan.
Supaya memperlihatkan kesejajaran, kedua kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi seperti
kalimat berikut.
- Kegiatan yang telah kami lakukan adalah mengumpulkan informasi, mencari bahan
bacaan, dan menyusun rancangan. Atau
- Kegiatan yang telah kami lakukan adalah pengumpulan informasi, pencarianbahan
bacaan, dan penyusunan rancangan.
- Tahap akhir penelitian ini adalah menyusun laporan dan menyerahkan hasilpenelitian
- Tahap akhir penelitian ini adalah penyusunan laporan dan penyerahan hasilpenelitian
3. Ketegasan makna
Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan
pada ide pokok kalimat. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu.
Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.
a. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
1. Para dosen mengharapkan agar mahasiswa rajin belajar.
2. Harapan para dosen ialah agar mahasiswa rajin belajar.
Kalimat 1) penekanannya adalah para dosen mengharapkan, sedangkan kalimat 2)
penekananya padaharapan para dosen. Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan
mengubah posisi kalimat.
b. Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah dihabiskan untuk biaya
kuliah anaknya.
Seharusnya:
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah dihabiskan untuk biaya
kuliah anaknya
c. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
e. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang bertanggung jawab
4. Kehematan
Kehematan yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat
mempergunakan kata, frase, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak
berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Peghematan
di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh
tidak menyalahi kaidah tata bahasa. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk
mempertahankan kehematan.
a. Tidak mengulang subjek yang sama dalam kalimat
Contoh:
1. Setelah makalah ini diperbaiki, makalah ini akan segera dipresentasikan.
2. Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke pesta itu.
Subjek induk kalimat dan subjek anak kalimat pada kalimat 1sama, yaitu makalah
ini. Demikian juga halnya dengan kalimat 2, induk kalimat dan anak kalimatnya memiliki
subjek yang sama, yaitu ia atau Dia. Untuk menjaga kehematan, subjek yang sama tersebut
cukup disebutkan satu kali. Perlu diperhatikan bahwa subjek yang harus dihilangkan
adalah subjek yang terdapat pada anak kalimat. Perhatikan kalimat perbaikan berikut ini.
- Setelah diperbaiki, makalah ini akan segera dipresentasikan.
- Karena tidak diundang, dia tidak datang ke pesta itu
b. Tidak menjamakkan kata yang bermakna jamak
Contoh:
1. Banyak kata-kata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa asing.
2. Seluruh surat-surat yang dikumpulkannya dapat dijadikan bukti bahwa dia tidak
bersalah.
Kata banyak dan seluruh sudah bermakna jamak. Oleh karena itu, kata benda yang
mengikutinya tidak perlu diulang atau dijamakkan lagi. Pengulangan kata benda dapat
dilakukan jika kata yang bermakna jamak yang mendahuluinya tidak dipakai. Perhatikan
kalimat perbaikan berikut ini.
- Banyak kata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa asing.
- Seluruh surat yang dikumpulkannya dapat dijadikan bukti bahwa dia tidak bersalah.
- Surat-surat yang dikumpulkannya dapat dijadikan bukti bahwa dia tidak brsalah.
c. Menghilangkan bentuk yang bersinonim
Contoh:
1. Tulisannya sangat rapi sekali.
2. Dia bekerja keras demi untuk menghidupi anak dan istrinya.
Untuk menjaga kehematan, sebaiknya kita memilih salah satu dari kata-kata yang
dicetak miring tersebut seperti kalimat seperti yaitu:
- Tulisannya sangat rapi.
- Tulisannya rapi sekali.
- Dia bekerja keras demi menghidupi anak dan istrinya.
- Dia bekerja kerasuntuk menghidupi anak dan istrinya.
d. Menghilangkan kata superordinat pada kata yang merupakan hiponiminya Contoh:
1. Kami berlangganan surat kabar Kompas.
2. Dimana engkau menangkap burung puyuh itu?
Surat kabar dan burung masing-masing merupakan superordinat dari Kompas dan
burung. Jadi, kedua kata tersebut, yaitu surat kabar dan burung tidak perlu disebutkan.
- Kami berlangganan Kompas.
- Dimana engkau menangkap puyuh itu?
e. Menghilangkan kata saling pada kata kerja resiprokal
Kata kerja resiprokal adalah kata kerja yang dilakukan oleh dua orang atau dua puhak
secara berbalasan. Karena dilakukan oleh dua pihak secara berbalasan, pada kata kerja
tersebut sudah terkandung makna saling.
Contoh:
- Kedua pemuda yang sedang berkelahi itu saling pukul-memukul.
Pukul-memukul sama artinya dengan saling memukul. Dengan demikian, jika kita
memakai kata kerja resiprokal pukul-memukul, kata saling tidak perlu dipakai. Akan
tetapi, jika kita akan memakai kata saling, kata pukul-memukul kita ubah menjadi
memukul. Perhatikan kalimat perbaikan berikut ini.
- Kedua pemuda yang sedang berkelahi itu pukul-memukul.
- Kedua pemuda yang sedang berkelahi itu saling memukul.
Berkaitan dengan kehematan ini, unsur-unsur tertentu yang merupakan bagian dari
ungkapan idiomatik sebaiknya tidak dihilangkan. Ungkapan idiomatik yang unsur-
unsurnya tidak boleh dihilangkan itu antara lain bergantung pada, terdiri atas, sesuai
dengan, sejalan dengan, berkaitan dengan, dibandingkan dengan, serta sehubungan
dengan.
f. Susunan Kalimat dengan Ketunggalan Arti (Tidak Ambigu)
Bahasa formal dan ilmiah mensyaratkan ketunggalan arti. Dengan demikian, kita harus
secara saksama mempertimbangkan setiap kata, kelompok kata, atau kalimat yang akan
kita pakai agar pembaca memahami hal yang kita ungkapkan persis seperti yang kita
maksudkan.
Contoh:
1. Mereka mengeluarkan botol bir dari dapur yang menurut hasil penelitian berisi cairan
racun.
2. Pria dan wanita yang memakai pita akan mengikuti lomba balap karung.
Pada kalimat 1, apa yang berisi cairan racun itu, botol bir atau dapur? Demikian juga
kalimat 2, siapa yang memakai pita itu, wanita saja atau wanita dan pria? Jika yang berisi
cairan racun itu botol bir dan yang memakai pita itu hanya wanita, maka kedua kalimat
diatas perlu diubah menjadi seperti berikut.
- Dari dapur, mereka mengeluarkan botol bir yang menurut hasil penelitian berisi cairan
racun.
- Wanita yang memakai pita dan pria akan mengikuti lomba balap karung.
g. Susunan Kalimat harus Logis
Kalimat efektif harus gramatikal atau sesuai dengan kaidah tata bahasa. Disamping
harus gramatikal, kalimat juga harus logis, dalam arti, harus mengandung penalaran atau
logika yang baik atau dapat diterima oleh akal sehat.
Contoh:
1. Pembangunan gedung kantor pusat yang diperkirakan menghabiskan dana sekitar enam
miliar itu akan dibangun tahun 2010.
2. Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, makalah ini selesai
penulis susun.
Pada contoh 1, subjek kalimatnya adalah pembangunan gedung kantor pusat yang
diperkirakan menghabiskan dana sekitar enam miliar itu dan predikatnya adalah akan
dibangun. Pertanyaan yang segera muncul adalah mungkinkah pembangunan itu dibangun?
Jawabannya tentu saja tidak karena pembangunan itu lazimnya dilaksanakan, dilakukan, atau
dimulai, bukan dibangun. Dengan demikian dari segi penalaran ada kejanggalan dalam
kalimat tersebut. Kalimat 2 dikatakan tidak logis karena tidak mungkin dengan mengucapkan
puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, suatu pekerjaan, termasuk menyusun makalah,
dapat diselesaikan. Segala sesuatu yang ada di dunia ini dapat terjadi atau tidak terjadi apabil
dikehendaki oleh Tuhan. Segala sesuatu ada atau tidak ada karena kehendak-Nya.
Dengan demikian, supaya kalimat 1 dan 2 di atas menjadi logis, yang dapat diterima
oleh akal sehat, kedua kalimat tersebut dapat diubah menjadi seperti berikut.
1. Pembangunan jembatan yang diperkirakan menghabiskan dana sekitar dua miliar itu akan
dilaksanakan/dilakukan/dimulai tahun depan.
2. Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas kehendak-
Nya makalah ini dapat diselesaikan.
Contoh kalimat lain yang memperlihatkan ketidaklogisan penalaran adalah sebagai
berikut.
3. Kontraktor tidak jadi memilih lokasi tersebut karena sering kebanjiran.
4. Hadiah itu dititipkannya kepada petugas tata usaha karena tidak bertemu dengan kepala
sekolah.
Kalimat 3 dan 4 di atas merupakan kalimat majemuk bertingkat. Pada kedua kalimat
tersebut, anak kalimatnya tidak memiliki subjek: karena sering kebanjiran (kalimat 3) dan
karena tidak bertemu dengan kepala sekolah (kalimat 4) Pada pembahasan di muka dijelaskan
bahwa jika subjek induk kalimat sama dengan subjek anak kalimat, subjek anak kalimat tidak
perlu disebutkan, demi kehematan. Jadi, jika subjek anak kalimat tidak disebutkan berarti
subjek anak kalimat tersebut sama dengan subjek induk kalimat. Berdasarkan pertimbangan
tersebut, jika subjek anak kalimat pada kedua contoh di atas dimunculkan, akan terdapat
struktur sebagai berikut:
- Kontraktor tidak jadi memilih lokasi tersebut karena (kontraktor) sering kebanjiran
- Hadiah itu dititipkannya kepada petugas tata usaha karena (hadiah itu) tidak bertemu
dengan kepala sekolah.
Pertanyaan yang segera muncul adalah mungkinkah kontraktor sering kebanjiran, dan
mungkinkah hadiah itu tidak bertemu dengan kepala sekolah? Ketidak logisan penalaran pada
kedua contoh tersebut terjadi karena pembuat kalimat salah menghilangkan unsur kalimat.
Penghilangan unsur kalimat dapat dilakukan apabila unsur-unsur kalimat tersebut memiliki
fungsi yang sama, dalam hal ini sama-sama berfungsi sebagai subjek. Akan tetapi, jika unsur-
unsur kalimat yang sama tersebut memiliki fungsi yang berbeda, atau jika subjek diisi oleh
unsur bahasa yang berbeda, penghilangan salah satu unsur tidak dapat dilakukan. Jadi, kedua
kalimat diatas dapat diperbaiki menjadi seperti berikut.
- Kontraktor tidak jadi memilih lokasi tersebut karena lokasi tersebut sering kebanjiran.
- Lokasi tersebut tidak jadi dipilih oleh kontraktor karena sering kebanjiran.
- Hadiah itu dititipkannya kepada petugas tata usaha karena dia tidak bertemu dengan
kepala sekolah.
- Dia menitipkan hadiah itu kepada petugas tata usaha karena tidak bertemu Dengan kepala
sekolah.
Contoh lain:
- Waktu dan tempatkami persilakan.
- Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini.
- Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.
Perbaikannya:
- Bapak rektor kami persilahkan
- Untuk menghematwaktu, kami teruskan acara ini.
- Atas perhatian Saudara,kami ucapkanterima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
1. Arifin, E. Zaenal dan S Amran Tasai.2006. Cermat Berbahasa Indonesia: untuk Perguruan
Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo.
2. Kosasih, H.E., 2003. Ketatabahasaan dan Kesusteraan: Cermat Berbahasa Indonesia.
Yrama Widya, Bandung.
3. Putrayasa, I B., 2008. Analisis Kalimat (Fungsi, Kategori dan Peran). P.T. Refika
Aditama, Bandung.
4. P3B Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992.Tata Bahasa Basku Bahasa
Indonesia, Perum Balai Pustaka, Jakarta.
5. P3B Depdiknas. 2007. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
Indonesiatera, Yogyakarta.
6. Sofyan, A.N., Eni, K., Wahya, K. Yudaatmadja, dan R. Y. Permadi, 2007. Bahasa
Indonesia dalam Penulisan Karya Ilmiah. Universitas Wydyatama, Bandung.

III. PRAKTIKUM

KUIS 1

Ubahlah kalimat berikut menjadi kalimat efektif !

1. Surabaya adalah merupakan salah satu kota besar di Indonesia


2. Demi untuk anaknya, Bu Susi rela bekerja seharian
3. Ada banyak macam-macam makanan yang dijual di restoran itu.
4. Saran yang dikemukakakan olehnya akan dipertimbangkan oleh kami
5. Budi adalah anak paling terpintar di kelasnya
6. Suasana di pasar sangat ramai sekali
7. Hari ini para siswa-siswa sekolah SMA 1 diliburkan
8. Riana rajin belajar agar supaya menjadi pintar
9. Meski cantik, namun Vina tidak sombong
10. Setelah bekerja seharian, kemudian Putri beristirahat
11. Baik mahasiswa baru atau mahasiswa lama dikenakan peraturan yang sama
12. Taufik adalah merupakan salah satu atlet berprestasi
13. Walau masih pagi, tapi Pak Joko sudah beraktivitas
14. Minggu kemarin banyak para pegawai yang melakukan demonstrasi
15. Anggi pergi ke pasar dan Anggi membeli sayur
16. Karena sudah malam, maka Aldi pulang ke rumah
17. Semua orang-orang di desa itu banyak berprofesi sebagai petani
18. Karena harga terus melambung tinggi maka rakyat menderita kelaparan
19. Mengetahui nilainya bagus Intan dibuat senang
20. Bagus ke pasar untuk membeli buah jeruk
21. Para wanita perlu hati-hati jika melewati lorong
22. Dengan penelitian ini akan memberikan banyak manfaat bagi warga
23. Adalah merupakan tugas peneliti untuk menganalisis dan menyajikan hasil analisis data
24. Pada siang hari ini, cuacanya sangat panas
25. Karena nilainya bagus, maka Elsa mendapat hadiah dari Ibunya
26. Film itu Febri sudah tonton sampai selesai
27. Pertanyaan ini harus bisa dijawab oleh Ratna
28. Kepada pembicara waktu dan tempat dipersilakan
29. Berbagai kendala penelitian harus dapat diselesaikan oleh kita
30. Banyak berbagai bunga di taman itu yang layu
31. Agar supaya menang, ia berlatih keras setiap hari
32. Perabot-perabot rumah ini banyak yang sudah rusak
33. Elsa tidak tahu Ibunya sudah pulang atau Ibunya belum pulang
34. Kalimat tidak efektif : Setiap kali bertemu mereka saling pandang memandang
35. Ketika saat bosan, Rudi akan tertidur
36. Ketika bosan, Rudi akan tertidur
37. Yang menjadi sebab banjir adalah pembuangan sampah di hilir sungai
38. Tidak ada kata lagi yang bisa ia ucapkan
39. Negara Indonesia dan negara Malaysia bertemu di final Piala AFF
40. Pertama kalinya Laura memakan makanan tempe
41. Dinda menjinjing adiknya yang masih kecil
42. Dia bukan nelayan, melainkan pelayan
43. Vina adalah siswa paling tercantik di sekolah itu
44. Keluarga Roni akan menonton pertandingan olahraga sepak bola
45. Mari kita berdoa untuk pahlawan yang telah mati mendahului kita
46. Farah makan nasi goreng karena Farah lapar
47. Walau capek, namun Cindy tetap ikut kerja bakti
48. Kalimat tidak efektif : Gunung Everest adalah gunung tertinggi di Asia dan tertinggi di
dunia
49. Gunung Everest adalah gunung tertinggi di Asia dan di dunia
50. Demi agar menjadi kaya, ia menghalalkan segala cara
51. Agar menjadi kaya, ia menghalalkan segala cara
52. Buku itu sudah dibaca oleh Galin
53. Hanya 2 butir telur saja yang dibeli Ibu di pasar
54. Karena lapar, maka Devinta membeli makanan
55. Kalimat tidak efektif : Kerajaan Majapahit memiliki pasukan yang sangat kuat sekali
56. Tak ada yang menduga-duga kalau dia pelakunya
57. Mereka menyetujui daripada keputusan itu
58. Para siswa-siswi sedang mengerjakan soal masuk perguruan tinggi
59. Bapak itu adalah orang yang bertanggungjawab pada masalah dirinya sendiri
60. Matahari terbit dari sebelah timur
61. Sangat banyak sekali orang yang bekerja sebagai petani
62. Dwi berencana jalan-jalan ke negara Inggris
63. Setelah bangun tidur, kemudian Riana langsung berangkat kerja
64. Di zaman dulu sekali harga beras masih murah
65. Wiwit bekerja agar untuk mencukup kebutuhannya
66. Bill Gates adalah orang paling terkaya di dunia
67. Nadia tidak tahu siapa orang yang membuat dirinya terluka
68. Banyak aneka tarian ditampilkan di pertunjukan itu
69. Verliana tidak suka kalau ada orang yang membohongi dirinya
70. Putri tidak mau memberikan maaf pada orang itu
71. Kota Surabaya menjadi salah satu kota terbersih di Indonesia
72. Ronaldo bercerita tentang impian masa depannya
73. Hari ini nilai tukar rupiah kembali turun lagi
74. Jangan pernah membuat sakit perasaan wanita
75. Rapat itu dihadiri para pejabat-pejabat
76. Barang itu dibeli oleh Vidha dengan harga mahal
77. Joko menjabat sebagai pimpinan ketua organisasi
78. Presiden memiliki tugas untuk memimpin pemerintahan
KUIS 2
PENENTUAN KADAR FLAVONOID DAN KAPASITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK
ETANOL KULIT BATANG KELOR (Moringa oleifera L) DENGAN METODE DPPH,
CUPRAC DAN FRAP

Haeria, Nurshalati Tahar, Munadiah


Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar, JL. H.M
Yasin Limpo, No.36 Samata Gowa, Indonesia
Email : nurshalati.tahar@uin-alauddin.ac.id

ABSTRAK

Tumbuhan kelor (Moringa oleifera L.) sering disebut “miracle tree” dikarenakan semua
bagian tumbuhan kelor sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. mulai dari daun, kulit
batang, biji hingga akarnya, tumbuhan ini sudah dikenal luas sebagai tumbuhan obat. Kulit
batang kelor (Moringa oleifera L.) mengandung senyawa steroid, flavonoid, alkaloid, fenolat,
dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid dan kapasitas antioksidan
dari kulit batang kelor (Moringa oleifera). Pengukuran kapasitas antioksidan dilakukan
menggunakan 3 metode yaitu CUPRAC (cupric ion reducing antioxidant capacity), DPPH (1,1-
difenil-1-pikrilhidrazil), dan FRAP (ferric reducing antioxidant power). Hasil penelitian
membuktikan bahwa ekstrak etanol kulit batang kelor (Moringa oleifera) mengandung kadar
flavonoid sebesar 20,17 mg QE/g Ekstrak dan untuk kapasitas antioksidan dengan metode
DPPH yaitu 20,97 mg Tr/g Ekstrak, metode CUPRAC didapatkan hasil 4,82 mg Tr/g Ekstrak
dan metode FRAP yaitu 2,49 mg Tr/g Ekstrak.

Kata kunci : Moringa oleifera L. , Antioksidan, flavonoid, CUPRAC, DPPH, FRAP


PENDAHULUAN
Didalam tubuh kita setiap saat terjadi reaksi oksidasi sehingga memicu terbentuknya
radikal bebas yang sangat aktif yang dapat merusak struktur dan fungsi sel. Tetapi reakstivitas
radikal bebas tersebut dapat dihambat oleh sistem antioksidan yang melengkapi sistem
kekebalan tubuh. Oksidasi merupakan proses alami yang dapat terjadi ketika suatu zat berikatan
dengan oksigen (Wijayanti, 2011)
Antioksidan adalah senyawa yang melindungi sel melawan kerusakan akibat oksigen
reaktif. Ketidakseimbangan antara antioksidan dan oksigenreaktif mengakibatkan stree
oksidatif yang menimbulkan kerusakan sel (Haris, 2011).
Salah satu tanaman yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan adalah pohon kelor
(Moringa oleifera L). Tumbuhan kelor sering disebut “miracle tree” dikarenakan semua bagian
tumbuhan kelor sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Mulai dari daun, kulit batang,
biji hingga akarnya, tumbuhan ini sudah dikenal luas sebagai tumbuhan obat (Jonni, 2008).
Metode yang digunakan untuk mengukur kapasitas antioksidan yaitu DPPH (1,1-difenil-
1- pikrilhidrazil), FRAP (ferric reducing antioxidant power) dan CUPRAC (cupric ion
reducing antioxidant capacity). Tujuan metode ini adalah untuk mengetahui tingakt besarnya
kapasitas antioksidan dari masing-masing metode (Apak, 2007)

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini akan dilakukan penentuan kadar
flavonoid dan aktivitas antioksidan dari ekstrak kulit batang kelor (Moringa oleifera L) dengan
metode CUPRAC, DPPH dan FRAP.

METODE PENELITIAN
1. Alat Dan Bahan
Alat-Alat Yang Digunakan Dalam Penelitian Ini Adalah Corong, Desikator, Erlenmayer
(Pyrex), Gelas Kimia (Pyrex), Gelas Ukur (Pyrex), Gelas Arloji, Kuvet, Labu Tentu Ukur
(Pyrex), Neraca Analitik (Kern), Ph, Pipet Tetes, Pipet Mikro (Dragonlab), Pipet Volume
(Pyrex), Rotavapor (Ika Rv 10), Sendok Tanduk, Sonikator (Krisbow), Spektrofotometri Uv-
Vis (Apel), Toples, Vial.
Bahan-Bahan Yang Digunakan Yaitu Aluminium (Iii) Klorida 2%, Aquadest, Buffer
Asetat pH 3,6, Buffer Amonium Asetat pH 7, CuCl 2.2H2O DPPH (1,1-Difenil-1-
Pikrilhidrazil), Etanol 96%, Ethanol P.A, FeCl 3.6H2O, HCl, Kalium Asetat 120 mM, Kertas
Saring, Kertas Perkamen, Neokuproin Etanolik, Quersetin, Simplisia Kulit Batang Kelor,
TPTZ (2,4,6-Tripyridyl-S-Triazine), Troloks.

2. Ekstraksi Sampel
Kulit batang kelor yang telah dikeringkan, dimaserasi dengan menggunakan etanol 96
%, dimasukkan ke dalam wadah, ditutup dan didiamkan selama 3 x 24 jam, tanpa terkena
cahaya, setelah didiamkan selama 3 x 24 jam, kemudian disaring menggunakan kertas saring
sehingga didapat maserat. Maserat kemudian dievaporasi dengan menggunakan rotary
evaporator pada suhu 45-50 ºC sampai diperoleh ekstrak kental.
3. Penentuan Kadar
Flavanoid dalam ekstrak dengan Metode AlCl3 Penentuan Panjang Gelombang
Maksimum (ƛ Maks) Kuersetin Penentuan panjang gelombang maksimum kuersetin dilakukan
melalui running larutan kuersetin pada range panjang gelombang UV-Vis 400-450 nm. Dari
hasil running kuersetin yang dilakukan didapatkan nilai panjang gelombang maksimum yaitu
435 nm dan data tersebut digunakan untuk mengukur serapan dari sampel ekstrak etanol kulit
batang kelor (Moringa oleifera).
Pembuatan Kurva Standar Kuarsetin Standar kuersetin ditimbang sebanyak 12,5 mg dan
d i l a r u t k a n d a l a m 25 mL etanol (500 ppm). Dari larutan standar kuersetin 500 ppm,
kemudian dibuat beberapa konsentrasi yaitu 10 ppm dipipet 0,1 mL, 15 ppm dipipet 0,15
mL, 20 ppm dipipet 0,2 mL, 25 ppm dipipet 0,25 mL, 30 ppm dipipet 0,3 mL, dan 35 ppm
dipipet 0,35 mL. Dari masing-masing konsentrasi larutan standar kuersetin dipipet 1 mL dan
ditambahkan 1 mL AlCl3 2% dan 1 mL kalium asetat 120 mM. Sampel diinkubasi selama 30
menit pada suhu kamar. Absorbansi ditentukan menggunakan metode spektrofotometri UV-
Vis pada panjang gelombang maksimum yaitu 435 nm. Penetapan Kadar Flavonoid Total
Ekstrak Etanol Kulit Batang Kelor (Moringa Oleifera L.)
Ekstrak sampel ditimbang sebanyak 10 mg, dilarutkan dalam 10 mL etanol p.a. Dari
larutan tersebut dipipet 1 mL dan ditambahkan 1 mL larutan AlCl 3 2 % dan 1 mL kalium
asetat 120 mM. Sampel diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar. Absorbansi ditentukan
menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 435 nm. Sampel
dibuat dalam tiga replikasi untuk setiap analisis dan diperoleh nilai rata- rata absorbansi.
Berdasarkan pengukuran absorbansi, konsentrasi flavonoid dibaca dalam (𝜇g/mL) garis
kalibrasi, kemudian kandungan flavonoid dalam ekstrak dinyatakan dalam ekuivalen
kuersetin (mgQE/g ekstrak).
4. Kapasitas Antioksidan Metode DPPH Pembuatan larutan DPPH 0,343 mM
Ditimbang DPPH sebanyak 13,52 mg kemudian dilarutkan dalam etanol p.a dengan
menggunakan labu ukur 100 mL sehingga kadarnya 0,343 mM. Penentuan Panjang
Gelombang Maksimum (ƛ Maks) Pengujian dilakukan dengan mencampur 2,5 mL DPPH
0,343 mM dengan 1 mL etanol p.a dalam vial, selanjutnya diukur serapannya pada panjang
gelombang 400-600 nm menggunakan spektrofotometri UV-Vis Dari hasil running yang
dilakukan didapatkan nilai panjang gelombang maksimum yaitu 517 nm.
Pembuatan Kurva Baku Trolox®
Trolox® ditimbang sebanyak 2,5 mg dan dilarutkan dalam 50 mL etanol p.a (50

ppm). Dari larutan Trolox® 50 ppm, kemudian dibuat beberapa konsentrasi yaitu 5 ppm
dipipet 0,5 mL, 7 ppm dipipet 0,7 mL, 9 ppm dipipet 0,9 mL, 11 ppm dipipet 1,1 mL

dan 13 ppm dipipet 1,3 mL.. Dari masing-masing konsentrasi larutan Trolox® dipipet 2,5
mL dan ditambahkan 1 mL DPPH. Diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar. Absorbansi
ditentukan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang
maksimum yaitu 517 nm. Pengukuran Kapasitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Batang
Kelor (Moringa oleifera L)
Ekstrak sampel ditimbang sebanyak 10 mg, dilarutkan dalam 10 mL etanol p.a (1000
ppm). Dari larutan tersebut dibuat pengenceran dengan konsentrasi 500 ppm dipipet 2,5 mL
dalam labu tentuukur 5 mL. Dari larutan (500 ppm) dipipet 2,5mL, ditambakan 1 mL
DPPH. Sampel diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar. Absorbansi ditentukan
menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Sampel
dibuat dalam tiga replikasi.
Ekstrak sampel ditimbang sebanyak 50 mg, dilarutkan dalam 50 mL etanol p.a (1000
ppm). Dari larutan tersebut dibuat pengenceran dengan konsentrasi 500 ppm dipipet 2,5 mL

dalam labu tentuukur 5 mL., dibuat larutan yaitu 1mL CuCl .2H O 0,01 M, 1 mL
Neokuproin M, kemudian ditambahkan 1 mL etanol p.a dan ditambahkan 0,1 mL aquadest
dalam vial, selanjutnya diukur serapannya pada panjang gelombang 400-600 nm
menggunakan spektrofotometri UV-Vis Dari hasil running yang dilakukan didapatkan nilai
panjang gelombang maksimum yaitu 448 nm.
Pembuatan Kurva Baku Trolox®
Trolox® ditimbang sebanyak 2,5 mg dan dilarutkan dalam 50 mL etanol p.a (50 ppm).

Dari larutan Trolox® 50 ppm, kemudian dibuat beberapa konsentrasi yaitu 10 ppm dipipet 1
mL, 20 ppm dipipet 2 mL, 30 ppm dipipet 3 mL, 40 ppm dipipet 4 mL dan 50 ppm dipipet 5

mL. Dibuat larutan dalam vial yaitu dipipet 1 mL CuCl .2H O 0,01 M, 1mL Neokuproin
Etanolik 0,0075 M, 1 mL Buffer amonium asetat 1 M kemudian ditambahkan 1 mL dari

masing-masing konsentrasi trolox® dan 0,1 mL aquadest. Diinkubasi selama 30 menit


pada suhu kamar. Absorbansi. Etanolik 0,0075 M, 1 mL Buffer amonium asetat 1 M,
ditambahkan 1mL sampel (500 ppm) dan 0,1 mL aquadest. Sampel diinkubasi selama 30
menit pada suhu 37ºC. Absorbansi ditentukan menggunakan metode spektrofotometri UV-
Vis pada panjang gelombang 448 nm. Sampel dibuat dalam tiga replikasi.
5. Kapasitas Antioksidan Metode FRAP Penentuan Panjang Gelombang Maksimum (ƛMaks)
Pengujian dilakukan dengan mencampur 3 mL reagen FRAP dan 1 mL aquadest dalam
vial, selanjutnya diukur serapannya pada panjang gelombang 400-600 nm menggunakan
spektrofotometri UV-Vis. Dari hasil running yang dilakukan didapatkan nilai panjang

gelombang maksimum yaitu 590 nm. Pembuatan Kurva Baku Trolox®

Trolox® ditimbang sebanyak 2,5 mg dan dilarutkan dalam 50 mL etanol p.a (50 ppm).

Dari larutan Trolox® 50 ppm, kemudian dibuat beberapa konsentrasi yaitu 12 ppm dipipet
1,2 mL, 14 ppm dipipet 1,4 mL, 16 ppm dipipet 1,6 mL, 18 ppm dipipet 1,8 mL dan 20
ppm dipipet 2 mL. Dipipet 3 mL dari reagen FRAP ke dalam vial kemudian ditambahkan 1
mL trolox dari masing-masing Diinkubasi selama 30 menit pada suhu 37ºC. Absorbansi
ditentukan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang
maksimum 590 nm. Pengukuran Kapasitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Batang Kelor
(Moringa oleifera L)
Ekstrak sampel ditimbang sebanyak 50 mg, dilarutkan dalam 50 mL etanol p.a (1000
ppm). Dari larutan tersebut dibuat pengenceran dengan konsentrasi 500 ppm dipipet 2,5 mL
dalam labu tentuukur 5 mL., dibuat larutan dalam vial dengan memipet 3 mL reagen FRAP
ditambahkan 1 mL sampel (500 ppm). Sampel diinkubasi selama 30 menit pada suhu 37ºC.
Absorbansi ditentukan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang
gelombang 590 nm. Sampel dibuat dalam tiga replikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Ekstraksi Kulit Batang Kelor (Moringa oleifera L) dapat dilihat pada tabel 1
dibawah ini

Tabel 1. Hasil Ekstraksi Kulit Batang Kelor (Moringa oleifera L)


Volum
Berat e Berat Persen
sampel pelaru Ekstrak Rendamen
Sampel (g) (g)
t (%)
(L)
Kulit
Batang
650 8 7,3689 1,1
Kelor
Berdasarkan skrining fitokimia, ekstrak etanol kulit batang kelor mengandung senyawa
steroid, flavonoid, alkaloid, fenolat, dan tanin. Kandungan kimia flavonoid, Steroid, alkaloid
dan fenolik memiliki fungsi sebagai antidiabetik, antioksidan, antikanker, antiseptik dan
antiinflamasi (Ikalinus, 2015). Adapun hasil rendamen dari ekstrak etanol kulit batang kelor
yaitu 7,3689 gram dengan % rendamen sebanyak 1,1 %.
Tabel 2. Penetapan Kadar Flavonoid
Kadar
Berat Flavonoid
Replikasi Sampel Absorbansi (mgQE/g
(Gram) ekstrak)
I 0,01004 0,482 21,73
II 0,01001 0,431 19,48
III 0,01005 0,429 19,31
Rata-
20,17
Rata

Selanjutnya dilakukan uji kuantitatif untuk menentukan kadar flavonoid total pada
sampel digunakan kuarsetin sebagai larutan standar. Langkah awal yang perlu dilakukan
adalah menentukan panjang gelombang maksimum dengan pengukuran larutan standar
kuersetin 20 ppm pada panjang gelombang 400-450 nm dan pada penelitian ini diperoleh
panjang gelombang maksimum 435 nm.
Absorbansi

430 435 440 445

Grafik 1. Panjang gelombang maksimum kuersetin 435 nm

Pada pengukuran kadar flavonoid total diperoleh nilai absorbansi larutan standar

kuarsetin yaitu y = 0,022x + 0,0026 dengan koefisien determinasi (R 2) yang diperoleh


sebesar 0,994 dan koefisien korelasi (r) adalah 0,997.

KURVA BAKU KUERSETIN


y = 0.022x +
0.0026
ABSORBANSI

0 20 40 Linear

Grafik 2. Kurva Baku Kuersetin


Hal yang sama juga dilakukan untuk pengukuran absorbansi sampel ekstrak etanol
kulit batang kelor (Moringa oleifera L) yang dibuat sebanyak 3 replikasi untuk keperluan
akurasi data. Dimana larutan sampel ditambahkan 1 mL aluminium klorida (AlCl 3) yang
dapat membentuk kompleks, sehingga terjadi pergeseran panjang gelombang ke arah
visible (tampak) yang ditandai dengan larutan menghasilkan warna yang lebih kuning.
Kemudian ditambahkan 1 mL kalium asetat untuk mempertahankan panjang gelombang
pada daerah visible (tampak). Sehingga dari hasil penelitian ini diperoleh kadar flavonoid
total ekstrak etanol kulit batang kelor (Moringa oleifera L) sebesar 20,17 mg QE/g
Ekstrak.(Lihat tabel 2)
Ekstrak etanol yang diperoleh dilakukan pengukuran kapsitas antioksidan dengan
metode DPPH, CUPRAC dan FRAP yang diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis
pada panjang gelombang maksimum dari masing-masing metode.
Pada penelitian ini digunakan antioksidan sintetik sebagai kontrol positif yaitu troloks.
Secara stuktur troloks serupa dengan α-tokoferol kecuali penggantian rantai samping
hidrokarbon dengan gugus COOH. Troloks berupa bubuk berwarna putih sampai kuning
dan memiliki titik leleh 189-195 °C. Senyawa ini stabil selama 2 bulan pada suhu 2-8°C
dan mempunyai aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan α- tokoferol, BHA,
serta BHT (Belitz 1999). Troloks sering dipergunakan sebagai standar dalam pengukuran
antioksidan. Tabel 3. Kapasitas Antioksidan Metode DPPH
Kapasitas
Berat Antioksida
Replikas Sampel Absorbans n (mgTr/g
i (Gram) i ekstrak)
I 0,0106 0,542 19,41
II 0,0102 0,599 22,50
III 0,0107 0,588 21,02
Rata-
20,97
Rata
Pada pengujian kapasitas antioksidan dengan metode DPPH merupakan metode
serapan 1,1-difenil-1- pikrihidrazil, yang sederhana, cepat, mudah dan menggunakan
sampel dalam jumlah yang sedikit dengan waktu yang singkat. Selain itu, metode ini akurat
dan praktis.
Metode DPPH ini memberikan serapan kuat pada panjang gelombang maksimum 517
nm dengan warna violet gelap. Penangkap radikal bebas menyebabkan elektron menjadi
berpasangan yang kemudian menyebabkan penghilangan warna yang sebanding dengan
jumlah elektron yang diambil. Radikal bebas DPPH dapat menangkap atom hidrogen dari
komponen aktif ekstrak yang dicampur kemudian bereaksi menjadi bentuk tereduksinya
yaitu yang terlihat pada gambar berikut:
Gambar 1. Mekanisme penghambatan radikal DPPH
Pengukuran kapsitas antioksidan dengan metode DPPH ditandai dengan perubahan
warna setelah inkubasi. Proses inkubasi pada penelitian ini dilakukan selama 30 menit,
tujuannya untuk mempercepat reaksi antara radikal DPPH dengan sampel yang bertindak
sebagai antioksidan. Perubahan warna ini terjadi pada ekstrak kulit batang kelor (Moringa
oleifera) dan trolox sebagai pembanding dimana ekstrak kulit batang kelor (Moringa
oleifera) mengalami perubahan warna yang tidak signifikan setelah diinkubasi. Perubahan
tersebut mengindikasikan bahwa ekstrak kulit batang kelor (Moringa oleifera) hanya
mendonorkan atom H-nya dalam jumlah yang sedikit. Pengurangan intensitas warna
mengindikasikan kemampuan antioksidan untuk menangkal radikal bebas.
Hasil uji kapasitas antioksidan dengan metode DPPH yaitu untuk replikasi 1 hasil
Yang didapatkan yaitu 19,41 mg Tr/g Ekstrak, replikasi 2 sebesar 22,504 mg Tr/g Ekstrak
dan untuk replikasi 3 yaitu 21,02 mg Tr/g Ekstrak sehingga hasil rata-rata untuk kapasitas
antioksidan metode DPPH yaitu 20,978 mg Tr/g Ekstrak (Tabel 3). Hasil menunjukkan
bahwa semakin besar kapasitas maka semakin besar pula kemampuan sampel sebagai
antioksidan.
Tabel 4. Kapasitas Antioksidan Metode CUPRAC
Kapasitas
Berat Antioksidan
Replika Sampel
Absorbansi (mgTr/g
si (Gram) ekstrak)
I 0,05002 0,380 5,01

II 0,05001 0,324 4,26

III 0,05006 0,395 5,20


Rata- 4,82
Rata

Pada pengujian antioksidan metode CUPRAC (Cupric Ion Reducing Antioxidant


Capacity) kompleks bisneokuproin- tembaga(II) akan mengoksidasi senyawaan antioksidan
dalam ekstrak tanaman dan mengalami reduksi membentuk kompleks bis- neokuproin-
tembaga(I). Secara visual hal ini dapat dilihat dari perubahan warna kompleks larutan dari
biru menjadi kuning.
Gambar 2. Reaksi Metode CUPRAC
Reagen kromogenik redoks yang digunakan dalan uji CUPRAC ini adalah
bis(neokuoproin) tembaga(II) khelat. Reagen ini bekerja pada pH 7, dan absorbansi
pembentukan Cu(I)-khelat sebagai hasil reaksi redoks dengan mereduksi polifenol diukur
pada 450 nm. Warna berasal dari terbentuknya khelat Cu(I)-Nc (Apak, 2007). Pada
metode CUPRAC nilai kapasitas antioksidan dari ekstrak etanol Kulit batang kelor
(Moringa oleifera L) untuk, replikasi 1, replikasi 2 dan replikasi 3 masing-masing hasilnya
yaitu 5,01 mg Tr/g Ekstrak, 4,26 mg Tr/g Ekstrak, 5,206 mg Tr/g Ekstrak dan hasil kapasitas
antioksidan untuk metode CUPRAC yaitu 4,82 mg Tr/g Ekstrak.
Tabel 5. Kapasitas Antioksidan Metode FRAP

Kapasitas
Replikas Berat Antioksidan
i Sampel Absorbansi (mgTr/g
(Gram) ekstrak)

I 0,05002 0,632 2,45


II 0,05001 0,627 2,43
III 0,05006 0,686 2,60
Rata-
2,49
Rata

Pada pengujian metode ketiga yaitu metode FRAP (ferric reducing antioxidant power)
didasarkan atas kemampuan senyawa antioksidan dalam mereduksi senyawa besi(III)-
tripiridil-triazin menjadi besi(II)-tripiridil triazin pada pH 3,6. Pada pengujian antioksidan

metode ini, menggunakan Fe(TPTZ) 3+ kompleks besi ligan 2,4,6-tripiridil-triazin sebagai

pereaksi. Kompleks biru Fe(TPTZ) 3+ akan berfungsi sebagai zat pengoksidasi dan akan

mengalami reduksi menjadi Fe(TPTZ) 2+ yang berwarna kuning dengan reaksi sebagi
berikut:

2
Gambar 3. Reaksi metode FRAP

Pada metode ini didapat nilai kapasitas antioksidan yaitu 2,494 mgTr/g Ekstrak. Yang
mana diperoleh dari replikasi 1 sebesar 2,45 mg Tr/g Ekstrak, replikasi 2 sebesar 2,43 mg
Tr/g Ekstrak dan replikasi 3 yaitu 2,602 mg Tr/g Ekstrak. Dari hasil penelitian dari ketiga
metode ini, pada metode FRAP ini menunjukkan nilai kapasitas antioksidan yang kecil
dibandingkan dengan metode CUPRAC dan DPPH. Hal ini diduga karena larutan FRAP
bersifat kurang stabil, Menurut Ou et al. (2002), pengukuran antioksidan dengan metode
FRAP dapat berjalan akurat apabila dilakukan pada senyawaan antioksidan yang bisa
mereduksi Fe(III)TPTZ pada kondisi reaksi secara termodinamika dan memiliki laju reaksi
yang cukup cepat. Selain itu, antioksidan yang teroksidasi dan semua produk reaksi
sekundernya harus tidak memiliki serapan maksimum pada absorbansi 598 nm atau serapan
Fe(II)TPTZ. Pada kenyataannya kondisi ini sulit ditemui dan tidak realistis (Apak et al.
2007), Menurut Ou et al. (2002), hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu karena nilai
potensial reduksi standar dari Fe (III)/Fe(II) adalah 0.77 V sehingga senyawa apapun dengan
nilai potensial reduksi dibawah 0.77 V dapat mereduksi Fe(III) menjadi Fe(II) dan
memberikan kontribusi pada pengukuran antioksidan dengan metode FRAP. Selain itu, tidak
semua antioksidan dapat mereduksi Fe(III) dengan waktu yang sesuai dengan waktu
inkubasi. Penyebab lainnya, senyawaan pengganggu dapat memiliki serapan absorbans
maksimum pada daerah pengukuran FRAP.

KESIMPULAN
1. Kadar flavonoid total dari ekstrak etanol 96% kulit batang kelor (Moringa oleifera L)
sebesar 20,17 mg QE/gEkstrak.
2. Ekstrak etanol 96% kulit batang kelor (kelor (Moringa oleifera L) pada metode DPPH
memiliki kapasitas antioksidan sebesar 20,978 mg Tr/gEkstrak, pada metode CUPRAC
sebesar 4,82 mg Tr/gEkstrak dan untuk metode FRAP besarnya kapasitas antioksidan
yang didapatkan yaitu 2,49 mg Tr/gEkstrak.

KEPUSTAKAAN
Apak, R, Guchu, Demirata B. (2007). Comparative Evaluation OF Various Total Antioxidant
Capacity Assays Applied To Phenolic Compounds With The CUPRAC Assays.
Molecules.
Direktorat Obat Asli Indonesia. (2008). Taksonomiti“Koleksi Tanama Obat Kebun
Tanaman Citereup. Jakarta: BPOM RI.

Haris,M. (2011). Penetapan Kadar Flavonoid Total Dan Aktivitas Antioksidan Dari Daun
Dewa (Gynura Pseudochina [Lour] CD) dengan Spektrofotometri UV- Visible. Skripsi.
Padang :Universitas Andalas.
Ikalinus, Robertino, Sri Kayati, Ni Luh Setiasih. (2015). Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol
Kulit Batang Kelor (Moringa oleifera L). Bali: Indonesia Medicinus Veterinus Fakultas
Kedokteran Hewan, Universitas Udayana.
Widyastuti, Niken. (2010). Pengukuran Aktivitas Antioksidan dengan Metode CUPRAC,
DPPH and FRAP serta Korelasinya Dengan Fenol dan Flavonoid pada Enam
Tanaman. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB.
Wijayanti, Margareta Novi. (2016). Uji Aktivitas Antioksida dan Penetapan kadar Fenolik
Total Ekstrak Etanol Buah Buni (Antidesma Buntus L) denganMetod DPPH dan
Metode Folin- Ciocalteu.Yogyakarta: Fakultas Farmasi Universitas Sanata Darma.

TAHAPAN PEMBELAJARAN
1. Berdoa
2. Dosen memberikan soal kuis dan memberi penjelasan kepada mahasiswa tentang kuis
yang diberikan. Waktu 30 menit
3. Dosen dan mahasiswa membahas tentang kuis pertama. Waktu 90 menit
4. Dosen memberikan jurnal dan cara merevisi jurnal. Waktu 20 menit
5. Mahasiswa mengerjakan tugas yang diberikan. Waktu 100 menit
6. Dosen dan mahasiswa membahas tugas yang telah dikerjakan. Waktu 60 menit
LEMBAR PENILAIAN DISKUSI
Nama Mahasiswa :
Nim :
Blok :
Mata kuliah :

KRITERIA KURANG MEMUASKAN 60- SANGAT NILAI


MEMUASKAN 85 MEMUASKAN
< 60 > 85
AKTIVITAS MAHASISWA DALAM BEKERJA
1. Persiapan prior knowledge tidak prior knowledge prior knowledge
ada sama sekali ada tapi belum ada sudah betul
Hasil belajar mandiri betul, perlu dan tidak perlu
tidak ada klarifikasi klarifikasi lebih
Hasil belajar lanjur
mandiri ada, jelas Hasil belajar
tapi belum mandiri sempurna
sempurna merupakan konsep
sebab akibat
2. Kelengkapan Tidak melaksanakan Melaksanakan Melaksanakan
dalam tugas dengan baik tugas dengan baik tugas dengan baik
pengumpulan (pengumpulan jurnal (pengumpulan dan sempurna
tugas tidak sesuai kriteria) jurnal, relavan dan (pengumulan
valid) jurnal, relavan,
valid dan terbaru)
3. Tugas dalam Analisa sebab Analisa sebab Analisa sebab
menyusun akibat/criteria akibat/criteria akibat/criteria
hipotesa reasoning/penalaran reasoning/penaaran reasoning/penaaran
tidak betul betul sebagian betul semua
4. Partisipasi aktif Blocking/minimal/ata Ikut aktif dalam Selalu aktif dalam
dalam kelompok u tidak aktif dalam sebagian diskusi seluruh proses
diskusi dan baik diskusi dan baik
penyampaian dan penyampaian dan
betulsubstansinya betul substansinya
5. Pelaporan Respon/tanggapan Respon/tanggapan Respon/tanggapan
kembali salah, laporan hasil salah, laporan hasil salah, laporan hasil
belajar mandiri salah belajar mandiri belajar mandiri
betul sebagian betul semua
AKTIVITAS MAHASISWA DALAM KEOMPOK
6. Kerjasama Kerjasama tidak Kerjasama bagus, Kerjasama amat
dalam tim bagus, tidak memperthatikan, bagus, selalu
memperthatikan, tidak saling merespon memperthatikan,
saling merespon atau atau menanggapi saling merespon
menanggapi atau menanggapi
7. Kemampuan Tidak mendengarkan, Mendengarkan Selalu
mendengarkan berbicara sendiri/sub pendapat orang lain mendengarkan,
orang lain diskusi dan respon memperhaikan
pendapat rang lain
dan selalu
respon/menanggpi
8. Kemampuan Tidak mempunyai Kemampuan dalam Kemampuan dalam
dalam kemampuan memimpin diskusi memimpin diskusi
memimpin memimpin diskusi cukup (dalam hal bagus (dalam hal
diskusi (dalam hal pemerataan, pemerataan,
pemerataan, menegur menegur bila ada menegur bila ada
bila ada yang yang mengganggu, yang mengganggu,
mengganggu, mengarahkan pada mengarahkan pada
mengarahkan pada tujuan belajar) tujuan belajar)
tujuan belajar)
9. Kemampuan Tidak mampu Merangkum hasil Merangkum hasil
merangkum merangkum diskusi diskusi (tujuan diskusi (tujuan
diskusi (tujuan belajar) dan belajar) dan belajar) dan
membuat skema hasil membuat skema membuat skema
diskusi sudah betul tapi sudah betul dan
belum sitematis sitematis
AKTIVITAS MAHASISWA SECARA INDIVIDU
10. Respon Respon negatif Respon positif Respon positif
terhadap terhadap feedback, terhadap feedback, terhadap feedback,
feedback tidak ada peningkatan ada peningkatan ada peningkatan
pada pertemuan pada pertemuan bermakna pada
berikutnya berikutnya pertemuan
berikutnya
11. Memberikan Tidak memberi Memberi masukan Memberi masukan
feedback masukan pada pada pada
teman/pimpinan teman/pimpinan teman/pimpinan
diskusi/tutor diskusi/tutor diskusi/tutor
(sebagian) (semua)

12. Kemampuan Tidak menyadari Menyadari Menyadari


dalam kekurangan, tidak kekurangan, mau kekurangan,
menyadari berusaha dan tidak berusaha dan ada berusaha keras dan
kekurangan diri ada perubahan perubahan ada perubahan
dan melakukan perbaikan perbaikan perbaikan yang
perbaikan bermakna
13. Komitmen Tidak menepati janji Menepati janji pada Menepati janji pada
terhadap hasil pada hasil belajar hasil belajar nampak hasil belajar nampak
belajar tidak ada perubahan ada perubahan ada perubahan
perbaikan perbaikan perbaikan bermakna

14. Ketepatan Terlambat lebih dari Terlambat Tepat waktu


waktu 10 menit kurangdari atau
sama dengan 10
menit
LEMBAR PENILAIAN PRESENTASI

KRITERIA KURANG MEMUASKAN SANGAT NILA


MEMUASKAN 60-85 MEMUASKAN I
< 60 > 85
1. Sistematika Materi presentasi Materi presentasi Materi presentasi
presentasi disajikan secara disajikan secara runtut disajikan secara
kurang runtut dan tetapi kurang runtut dan sistematis
tidak sistematis sistematis
2. Penggunaan Bahasa yang Bahasa yang Bahasa yang
bahasa digunakan agak digunakan cukup digunakan sangat
sulit dipahami mudah dipahami mudah dipahami
3. Penguasaan Menunjukkan Menunjukkan Menunjukkan
materi penguasaan materi penguasaan materi penguasaan materi
yang kurang bagus yang cukup bagus yang sangat bagus
4. Kemampuan Kurang mampu Mampu Mampu
mempertahank mempertahankan mempertahankan dan mempertahankan dan
an dan dan menanggapi menanggapi menanggapi
menanggapi pertanyaan atau pertanyaan/sanggahan pertanyaan/sanggaha
pertanyaan sanggahan dengan dengan cukup baik n
atau baik dengan arif dan
sanggahan bijaksana
5. Kerjasama Hanya beberapa Semua anggota Semua anggota
anggota kelompok kelompok telah kelompok telah
yang aktif mendapatkan melaksanakan
peran/tugas masing- peran/tugas masing-
masing masing
6. Waktu Kurang bisa Cukup bisa Dapat
memaksimalkan memaksimalkan memaksimalkan
waktu antara waktu antara waktu antara
presentasi dan presentasi dan tanya presentasi dan tanya
tanya jawab jawab jawab
7. Kemampuan Media yang Media yang Media yang
memanfaatkan dimanfaatkan dimanfaatkan jelas dimanfaatkan sangat
media presenta si kurang jelas dan tetapi kurang menarik jelas, menarik, dan
tidak menarik menunjang seluruh
sajian
8. Kesempatan Kurang Cukup memberikan Memberikan
pada audien memberikan kesempatan audien kesempatan audien
kesempatan audien menanggapi jawaban, menanggapi jawaban,
menanggapi memberi masukan memberi masukan.
jawaban, memberi
masukan
9. Penutup Kurang bisa Memberi kesimpulan Memberi kesimpulan
memberi dan menutup dengan baik dan
kesimpulan dan presentasi dengan baik menutup presentasi
menutup dengan baik
presentasi dengan
baik