Anda di halaman 1dari 7

TUGAS BESAR BAHASA INDONESIA

ANALISIS KAIDAH PENULISAN JURNAL KARYA ILMIAH


ARSITEKTUR

“TRADISIONALITAS DAN MODERNITAS TIPOLOGI ARSITEKTUR


MASJID”
Oleh:
M. Syaom Barliana
Univesitas Pendidikan Indonesia

Dianalisa oleh:
Annisa Shela Aulia 052.18.013
Assafa Afrida Nur 052.18.020
Aulia Rahma Arthur 052.18.021
Bella Darameswari 052.18.023
NO BAGIAN SUMBER ASLI HASIL ANALISIS
1. Pendahuluan 1. “Hal ini bisa dipahami, karena 1. Kalimat “..tampak lebih
memang faktor-faktor itu tampak langsung dan kasat mata..”
lebih langsung dan kasat mata serta tidak efektif dan salah
bersifat umum berlaku pula bagi satunya harus dihilangkan,
pembentukan fungsifungsi menjadi: “Hal ini bisa
arsitektur yang lain.” dipahami, karena memang
2. “Masjid adalah representasi dari faktor-faktor itu tampak
komunitas ummat Islam yang kasat mata serta..”
melahirkan dan 2. Kata “ummat” tidak baku.
memakmurkannya.” Harus diganti dengan kata
3. “...yaitu gerakan Islam tradisionalis “umat”
yang diwakili oleh Nahdlatul Ulama 3. Kalimat terlalu panjang dan
(NU) dan gerakan Islam modernis tidak efektif. Diganti dengan
yang diwakili antara lain oleh “…diwakili oleh
Muhammadiyah.” Muhammadiyah.”
4. “Oleh sebab itu, merujuk kepada 4. Kata “laterbelakang” tidak
latarbelakang masalah..” baku. Diganti menjadi “latar
5. “Perlu ditegaskan pula, bahwa belakang”
penelitian tentang tradisionalitas 5. Kata “samasekali” tidak
dan modernitas arsitektur masjid ini baku. Diganti menjadi “sama
samasekali tidak berhubungan..” sekali"
6. “…baik pada masjid yang beraffiliasi6. Kata “affiliasi” tidak baku.
dengan Muhammadiyah maupun Diganti menjadi “berafiliasi”
Nahdlatul Ulama. 7. Catatan kaki tersebut
7. merupakan keterangan
sumber yang dikutip
langsung dari buku
‘Introduction of
Architecture’ dan seharusnya
diberi tanda kutip.
8. “Lihat kembali penjelasan tentang 8. Kalimat arketipe, prototype,
arketipe, prototype, dan stereotipe dan stereotip tidak baku dan
yang relevan..” tidak sesuai kaidah PUEBI.
9. Berdasarkan latar belakang dan Seharusnya menjadi
fokus masalah tersebut, “arketip”, prototip”, dan
dirumuskan masalah pokok “stereotip”
penelitian sebagai berikut:
Bagaimanakah tipologi arsitektur 9.   Rumusan masalah dalam
yang terbentuk pada masjid bentuk pertanyaan harus
berbasis masyarakat Islam dipaparkan dalam
tradisionalis (Nahdlatul Ulama)?; penomoran jika itu lebih dari
Bagaimana pula tipologi arsitektur satu.
masjid berbasis masyarakat Islam 1. Bagaimanakah tipologi..
modernis (Muhammadiyah)?; 2. Apakah tipologi..
Apakah tipologi masjid Nahdlatul 3. Jika kedua hal itu terjadi,
Ulama mencerminkan apakah..
tradisionalitas arsitektur masjid?;
Sebaliknya apakah tipologi masjid
Muhammadiyah mencerminkan
modernitas arsitektur 4 masjid? ;
Jika kedua hal itu terjadi, apakah
fenomena tersebut bisa dirujuk
pada sebab-sebab perbedaan
doktrin/faham keagamaan Islam
tradisionalis dn Islam modernis?
2. Tinjauan 1. “Tipe berasal dari kata Typos 1. kata “(imej)” tidak baku
Pustaka atau (Bahasa Yunani), yang harus di ganti dengan
Landasan Teori bermakna impresi, gambaran “(image)”
(imej),…”
2. format penulisan tidak
2. “…yaitu site (tampak) konsisten dan harus di
bangunan, form (bentuk) samakan menjadi “…
bangunan, dan…” yaitu tampak (site)
bangunan, bentuk
(form) bangunan, dan…”
3. “Unsur geometri utama ini
sering disebut geometri abstrak 3. kalimat “atau disebut
atau disebut juga deeper juga” tidak efektif dan
geometry.” terlalu panjang jadi
dihilangkan menjadi
4. “sering dilihat dalam dua kaca “Unsur geometri utama
mata pandangan yang ini sering disebut
berbeda.” geometri abstrak
5. “Berdasarkan kepada seluruh (deeper geometry).”
paparan di muka, maka dapat
disimpulkan bahwa tipologi 4. Kata “kaca mata”
adalah suatu konsep…” seharusnya di gabung
“kacamata”
6. “jika tipologi merupakan suatu
klasifikasi untuk 5. Penulisan “di muka”
pengelompokan bangunan seharusnya di gabung
(berarti lebih dari satu menjadi “dimuka”
bangunan) berdasarkan tipe-
tipe tertentu,…” 6. Kalimat “(berarti lebih
dari satu bangunan)”
terlalu panjang dan tidak
7. “substansi tipologi yang efektif diubah menjadi
dimaksud adalah meliputi “(lebih dari satu
kajian tipologi dan morfologi.” bangunan)”

“Bentuk kubah selanjutnya menjadi 7. Kalimat terlalu panjang


symbol utama bahkan “merk” (setara dan tidak efektif jadi
dengan corporate brand) kata “adalah” di
tradisionalitas masjid,…” hilangkan menjadi
“substansi tipologi yang
dimaksud meliputi kajian
tipologi dan morfologi.”

8. Kalimat tidak efektif dan


diubah menjadi “Bentuk
kubah selanjutnya
menjadi symbol utama
bahkan “merk”
(corporate brand)
tradisionalitas masjid,…”

3. Metodologi 1. Observasi memang 1. Kalimat “..observasi


Penelitian seharusnya meliputi bukan saja skala memang seharusnya
bangunan (objek masjid itu sendiri), meliputi bukan saja
tapi juga konteks hubungan masjid skala bangunnan tapi
dengan lingkungan sosial, kawasan, juga konteks hubungan
dan kota. masjid dengan
2. Namun demikian, karena lingkungan
keterbatasan penelitian sosial,kawasan,dan
ini,maka fokus kajian hanyan kota..” tidak efektif dan
menyangkut objek masjid salah satunya harus
belaka. dihilangkan, menjadi:
3. Dalam hal ini, dilakukan
“Observasi seharusnya
pendekatan generic,tipologik
bukan hanya meliputi
4. serta perubahannya sampai
saat sekarang, sehingga bersifat skala bangunan ..”
historik. 2. Kata “Namun demikian”
tidak efektif, dan salah
satunya harus
dihilangkan,menjadi: “
Namun, karena
keterbatasan penelitian
ini…”
3. Kata tiplogik tidak baku
dan tidak sesuai KBBI.
Seharusnya diganti
dengan “ tipologi.”
4. Kalimat “serta
perubahannya sampai
saat sekarang, sehingga
bersifat historic…” tidak
efektif dan salah satunya
harus dihilangkan
menjadi: serta
perubahannya sampai
saat ini, sehingga
bersifat historik.
4. Hasil Penelitian 1. bentuk bersifat ahistoris, 1. Kata “ nonekletik” tidak
noneklektik, dan non sinkretik; baku, dapat diganti
2. Akhirnya, secara umum dapat dengan “ non ekletik”
disimpulkan, bahwa, 2. Kalimat “Akhirnya,
kecenderungan sikap tajdid dan secara umum dapat
rasionalis dari kalangan disimpulkan, bahwa,
modernis terhadap ketentuan kecenderungan sikap
agama, dan sebaliknya tajdid dan rasionalis
dari,,,” tidak efektif dan
salah satunya harus
dihilangkan, menjadi:
“Dapat disimpulkan
bahwa, kecenderungan
sikap tajdid dan
rasionalis dari
kalangan...”
5. Daftar Pustaka 1. -Altman, Irwin. 1980. 1. Sumber referensi karya
Environmental and Culture. New ilmiah minimal 80% berupa
York: Plenum Press pustaka terbitan 10 tahun
-Antoniades, Anthony C., 1990. terakhir. Sedangkan jurnal
Poetics of Architecture, Theory of tersebut ditulis pada tahun
Design. New York: Van Nostrand 2004. Disini terdapat 4
Reinhold daftar pustaka dari total 20
-Lesnikowski, Wojciech G., 1982. daftar pustaka sedangkan
Rationalism and Romanticism in yang diperbolehkan hanya 3.
Architecture. New York: McGraw-
Hill Book Co.
-Mangunwijaya, YB. 1987: Wastu
Citra. Jakarta: Gramedia

6. Penutup/Simpul 1. ”Pengolahan denah masjid yang 1. Kalimat “tetapi lebih


an tidak berdasar perhitungan rasional berdasarkan…” tidak efektif
modular tetapi lebih berdasarkan dan salah satunya harus
intuisi (metode blackbox) dan dihilangkan, menjadi:
pengalaman imitatif tukang” “Pengolahan denah masjid
2. “Pengolahan denah dan tapak yang tidak berdasar
masjid memiliki kesetiaan kepada perhitungan rasional modular
order berdasarkan grid rasional dan tetapi berdasarkan intuisi
modul struktur tertentu” (metode blackbox) dan
3.” Penggunaan material pengalaman imitatif tukang”
alam/tradisional diolah secara 2. Kata “kesetiaan” dapat di
modern baik segi segi teknik maupun ganti dengan kata “pendirian”
estetik, dan demikian pula 3.Kalimat “..secara modern
penggunaan material buatan sehingga baik segi segi..” menjadi:
memberi ekspresi modernitas.” “Penggunaan material
alam/tradisional diolah secara
modern berdasarkan teknik
maupun estetik, dan demikian
pula penggunaan material
buatan sehingga memberi
ekspresi modernitas.”