Anda di halaman 1dari 10

STEP 1

Posyandu

Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat


(UKBM) yang dikelola dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, guna memberdayakan
masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan
kesehatan dasar (Kemenkes RI, 2017).

Bullneck

Bullneck adalah pembengakan jaringan lunak leher (Kemenkes RI, 2017).

Dokter keluarga

Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, tidak hanya memandang
penderita sebagai individu yang sakit tetapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak
hanya pasif tetapi juga aktif mengunjungi penderita atau keluarganya (PDKI, 2012)

Haram

Haram adalah tindakan yang dilarang dan masyarakat diminta untuk menghindarinya dan
apabila melakukanya dapat menyebabkan hukuman (Kongres Internasional Syaikih
Anshari, 2010).

Opname

Opname adalah proses perangkapan pasien oleh tenaga kesehatan profesional akibat
penyakit tertentu, di mana pasien diinapkan di suatu ruangan di rumah sakit (BPJS, 2014).

STEP 3

1. Apa yang terjadi pada pasien


Aku jawab yang jadwal imunisasi
Di injeksi secara IM di deltoid (IDAI, 2013).

2. Mengapa pasien datang ke dokter keluarga ?


a. Nilai utama kedokteran keluarga
1) Berpusat pada pasien
2) Pendekatan secara holistik
3) Kedokteran pencegahan → kendali mutu dan kendali biaya
4) Semua usia
5) Bersedia memberikan pelayanan dimana saja
b. Tujuan dokter keluarga
1) Tujuan umum
Sehat setiap anggota keluarga
1) Tujuan khusus
Pelayanan kedokteran efektif, Pelayanan kedokteran eferen
c. Manfaat kedokteran keluarga
Melihat manusia secara utuh, Pelayanan yang berkesinambungan, Pelayanan
kesehatan terpadu, Mempermudah masalah keluarga, Tatacara penanganan lebih
sederhana.
d. Prinsip dokter keluarga
Komprehensif dan Holistik, Kontinue, Mengutamakan pencegahan, Koordinatif dan
Kolaboratif, Personal sebagai bagian Integral dari keluarganya, Mempertimbangkan
keluarga, lingkungan kerja dan lingkungan sekitar, Menjunjung tinggi etika moral dan
hukum, Sadar beaya dan sadar mutu, Dapat di audit dan dipertanggung jawabkan.
e. Konsep dokter keluarga
Pelayanan yang menyeluruh yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga
sebagai suatu unit (pelayanan pari purna), Pelayanan tanpa memandang jenis penyakit,
organ, golongan usia dan jenis kalamin, Pelayanan kontak pertama pasien untuk
menyelesaikan semua masalah kesehatan yang di hadapi, Pelayanan yang di selenggarakan
oleh dokter keluarga bersama tim di suatu sarana pelayanan kesehatan strata pertama
(layanan primer) (PDKI,2012).

3. Apa hubungan keluhan dengan riwayat imunisasi?


Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2010) terdapat teori yang mengungkapkan
determinan perilaku berdasarkan analisis dari faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
khususnya perilaku kesehatan, yaitu:
a. Faktor Pemudah (Presdiposing Factors)
Faktor-faktor ini mencakup tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu, pekerjaan ibu,
pendapatan keluarga, jumlah anak, dan dukungan dari pihak keluarga.
1) Tingkat Pendidikan Ibu Bayi

Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan


bentuk-bentuk tingkah laku manusia di dalam masyarakat tempat ia hidup, proses sosial,
yakni orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya
yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan
kemampuan sosial, dan kemampuan individu yang optimal (Munib et al., 2006).

Wanita sangat berperan dalam pendidikan di dalam rumah tangga. Mereka


menanamkan kebiasaan dan menjadi panutan bagi generasi yang akan datang tentang
perlakuan terhadap lingkungannya. Dengan demikian, wanita ikut menentukan kualitas
lingkungan hidup ini. Untuk dapat melaksanakan pendidikan ini dengan baik, para wanita
juga perlu berpendidikan baik formal maupun tidak formal. Akan tetapi pada kenyataan
taraf, pendidikan wanita masih jauh lebih rendah daripada kaum pria. Seseorang ibu dapat
memelihara dan mendidik anaknya dengan baik apabila ia sendiri berpendidikan (Slamet,
2000).

2) Tingkat Pengetahuan Ibu Bayi

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan itu terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra
manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over
behavior). Sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang
tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : awareness (kesadaran), interest (tertarik),
evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Trial
(orang telah mulai mencoba prilaku baru), adoption (subyek telah berperilaku baru sesuai
dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus) (Notoatmodjo, 2003).

Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.


Seseorang ibu akan mengimunisasikan anaknya setelah melihat anak tetangganya kena
penyakit polio sehingga cacat karena anak tersebut belum pernah memperoleh imunisasi
polio.

3) Status Pekerjaan Ibu Bayi


Pekerjaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah mata pencaharian, apa
yang dijadikan pokok kehidupan, sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah
(Anoraga, 2005).

Ibu yang bekerja mempunyai waktu kerja sama seperti dengan pekerja lainnya.
Adapun waktu kerja bagi pekerja yang dikerjakan yaitu waktu siang 7 jam satu hari dan 40
jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam satu minggu, atau dengan 8 jam satu hari dan 40
jam satu minggu untuk 5 hari kerja dalam satu minggu. Sedangkan waktu malam hari yaitu
6 jam satu hari dan 35 jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu (Anoraga,
2005).

Bertambah luasnya lapangan kerja, semakin mendorong banyaknya kaum wanita


yang bekerja, terutama di sektor swasta. Di satu sisi berdampak positif bagi pertambahan
pendapatan, namun di sisi lain berdampak negatif terhadap pembinaan dan pemeliharaan
anak. Hubungan antara pekerjaan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar bayi adalah jika
ibu bekerja untuk mencari nafkah maka akan berkurang kesempatan waktu dan perhatian
untuk membawa bayinya ke tempat pelayanan imunisasi, sehingga akan mengakibatkan
bayinya tidak mendapatkan pelayanan imunisasi (Anoraga, 2005).

4) Pendapatan Keluarga
Menurut Mulyanto Sumardi dan Hans Dieter Evers (1982), pendapatan yaitu
keseluruhan penerimaan baik berupa uang maupun barang baik dari pihak lain maupun dari
hasil sendiri. Jadi yang dimaksud pendapatan dalam penelitian ini adalah suatu tingkat
penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan pokok dan pekerjaan sampingan dari orang tua
dan anggota keluarga lainya. Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh
kembang anak, karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang
primer maupun yang sekunder (Soetjiningsih, 1995).
5) Jumlah Anak
Berdasarkan penelitian Suparmanto (1990) dalam Nuri Handayani (2008), jumlah
anak sebagai salah satu aspek demografi yang akan berpengaruh pada partisipasi
masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena jika seorang ibu mempunyai anak lebih dari satu
biasanya ibu semakin berpengalaman dan sering memperoleh informasi tentang imunisasi,
sehingga anaknya akan di imunisasi.
6) Dukungan Keluarga
Dukungan sosial secara psikologis dipandang sebagai hal yang kompleks. Beberapa
jenis dukungan yang meliputi ekspresi perasaan positif, termasuk menunjukkan bahwa
seseorang diperlukan dengan rasa penghargaan yang tinggi, ekspresi persetujuan dengan
atau pemberitahuan tentang ketepatan keyakinan dan perasaan seseorang. Ajakan untuk
membuka diri dan mendiskusikan keyakinan dan sumbersumber juga merupakan bentuk
dukungan sosial (Abraham, 1997).

Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Sikap ibu
yang positif terhadap imunisasi harus mendapat konfirmasi dari suaminya dan ada fasilitas
imunisasi yang mudah dicapai, agar ibu tersebut mengimunisasi anaknya. Disamping
faktor fasilitas, juga diperlukan dukungan/support dari pihak lain, misalnya
suami/istri/orang tua/mertua.

b. Faktor Pendukung (Enabling Factors)


Faktor pemungkin atau pendukung (enabling) perilaku adalah fasilitas, sarana dan
prasarana atau sumber daya atau fasilitas kesehatan yang memfasilitasi terjadinya perilaku
seseorang atau masyarakat, termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti pukesmas,
posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau bidan swasta, dan sebagainya, serta
kelengkapan alat imunisasi, uang, waktu, tenaga, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2005).
1) Ketersedian Sarana dan Prasarana
Ketersedian sarana dan prasarana atau fasilitas bagi masyarakat, termasuk juga
fasilitas pelayanan kesehatan seperti pukesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu,
polindes, pos obat desa, dokter, atau bidan praktek desa. Fasilitas ini pada hakikatnya
mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan, maka faktor-faktor ini
disebut faktor pendukung atau faktor pemungkinan.
2) Peralatan Imunisasi
Setiap obat yang berasal dari bahan biologik harus dilindungi terhadap sinar
matahari, panas, suhu beku, termasuk juga vaksin. Untuk sarana rantai vaksin dibuat secara
khusus untuk menjaga potensi vaksin. Di bawah ini merupakan kebutuhan dan peralatan
yang digunakan sebagai sarana penyimpanan dan pembawa vaksin.
3) Keterjangkauan Tempat Pelayanan Imunisasi
Salah satu faktor yang mempengaruhi pencapaian derajat kesehatan, termasuk status
kelengkapan imunisasi dasar adalah adanya keterjangkauan tempat pelayanan kesehatan
oleh masyarakat. Kemudahan untuk mencapai pelayanan kesehatan ini antara lain
ditentukan oleh adanya transportasi yang tersedia sehingga dapat memperkecil jarak
tempuh, hal ini akan menimbulkan motivasi ibu untuk datang ketempat pelayanan
imunisasi.
Menurut Lawrence W. Green (1980), Ketersediaan dan keterjangkauan sumber daya
kesehatan termasuk tenaga kesehatan yang ada dan mudah dijangkau merupakan salah satu
faktor yang member kontribusi terhadap perilaku dalam mendapatkan pelayanan
kesehatan. Faktor pendukung lain menurut Djoko Wiyono (1997) adalah akses terhadap
pelayanan kesehatan yang berarti bahwa pelayanan kesehatan tidak terhalang oleh keadaan
geografis, keadaan geografis ini dapat diukur dengan jenis transportasi, jarak, waktu
perjalanan dan hambatan fisik lain yang dapat menghalangi seseorang mendapat pelayanan
kesehatan. Semakin kecil jarak jangkauan masyarakat terhadap suatu tempat pelayanan
kesehatan, maka akan semakin sedikit pula waktu yang diperlukan sehingga tingkat
pemanfaatan pelayanan kesehatan meningkat.
c. Faktor Penguat (Reinforcing Factors)
Faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas
kesehatan (Notoatmodjo, 2003). Menurut Lawrence W. Green, ketersediaan dan
keterjangkauan sumber daya kesehatan termasuk tenaga kesehatan yang ada dan mudah
dijangkau merupakan salah satu faktor yang member kontribusi terhadap perilaku sehat
dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

STEP 7
1. Antropologi kesehatan penolakan imunisasi
Antropologi Kesehatan merupakan ilmu yang mempelajari gejala-gejala sosiobudaya,
biobudaya, dan ekologi budaya dari “kesehatan” dan kesakitan yang dilihat dari segi-segi
fisik, jiwa, dan sosial serta perawatannya masing-masing dan interaksi antara ketiga segi
ini dalam kehidupan masyarakat, baik pada tingkat individual maupun tingkat kelompok
sosial keseluruhannya. Antropologi Kesehatan menjelaskan secara komprehensif dan
interpretasi berbagai macam masalah tentang hubungan timbal-balik biobudaya, antara
tingkah laku manusia dimasa lalu dan masa kini dengan derajat “kesehatan” dan penyakit,
tanpa mengutamakan perhatian pada penggunaan praktis dari pengetahuan tersebut

Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho socio somatic health well being
, merupakan resultante dari 4 faktor, yaitu :
1. Environment atau lingkungan
2. Behaviour atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan
ecological balance
3. Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan
sebagainya
4. Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif,
dan rehabilitative

Secara umum, antropologi kesehatan senantiasa memberikan sumbangan pada ilmu


kesehatan lain sebagai berikut:
1. Memberikan suatu cara untuk memandang masyarakatsecara keseluruhan termasuk
individunya. Dimana cara pandang yang tepat akan mampu untuk memberikan kontribusi
yang tepat dalam meningkatkan kesejahteraan suatu masyarakat dengan tetap bertumpu
pada akar kepribadian masyarakat yang membangun.Contoh pendekatan sistem, holistik,
emik, relativisme yang menjadi dasar pemikiran antropologi dapat digunakan untuk
membantu menyelesaikan masalah dan mengembangkan situasi masyarakat menjadi lebih
baik.
2. Memberikan suatu model yang secara operasional berguna untuk menguraikan proses
sosial budaya bidang kesehatan.
3. Sumbangan terhadap metode penelitian dan hasil penelitian. Baik dalam merumuskan
suatu pendekatan yang tepat maupun membantu analisis dan interpretasi hasil tentang suatu
kondisi yang ada di masyarakat.
Ada beberapa ilmu yang memberikan sumbangan terhadap antropologi kesehatan, antara
lain:
1. Antropologi fisik/biologi/ragawi. Contoh: nutrisi mempengaruhi pertumbuhan, bentuk
tubuh, variasi penyakit. Selain itu juga mempelajari evolusi penyakit sebagai akibat faktor
budaya, migrasi dan urbanisasi.
2. Etnomedisin, awalnya mempelajari tentang pengobatan pada masyarakat primitif atau
yang masih dianggap tradisional, meski dalam perkembangan lebih lanjut stereotipe ini
harus dihindari karena pengobatan tradisional tidak selamanya terbelakang atau salah.
3. Kepribadian dan budaya, adalah observasi terhadap tingkah laku manusia di berbagai
belahan dunia. Misalnya: perawatan schizophrenia di suatu daerah untuk mencari
penyembuhan yang tepat dapat digunakan untuk mengevaluasi pola perawatan penyakit
yang sama.
4. Kesehatan Masyarakat, dimana beberapa program kesehatan bekerjasama dengan
antropologi untuk menjelaskan hubungan antara kepercayaan dan praktek kesehatan.

Secara umum, antropologi kesehatan senantiasa memberikan sumbangan pada ilmu


kesehatan lain sebagai berikut :
1. Memberikan suatu cara untuk memandang masyarakat secara keseluruhan termasuk
individunya. Dimana cara pandang yang tepat akan mampu untuk memberikan kontribusi
yang tepat dalam meningkatkan kesejahteraan suatu masyarakat dengan tetap bertumpu
pada akar kepribadian masyarakat yang membangun.
2. Memberikan suatu model yang secara operasional berguna untuk menguraikan proses
sosial budaya bidang kesehatan. Memang tidak secara tepat meramalkan perilaku individu
dan masyarakatnya, tetapi secara tepat bisa memberikan kemungkinan luasnya pilihan
yang akan dilakukan bila masyarakat berada pada situasi yang baru.
3. Sumbangan terhadap metode penelitian dan hasil penelitian. Baik dalam merumuskan
suatu pendekatan yang tepat maupun membantu analisis dan iterpretasi hasil tentang suatu
kondisi yang ada di masyarakat (Anderson, Foster. 2006).

Abraham, Charles. 1997. Psikologi Untuk Perawat. Jakarta : EGC.


Anderson, Foster. 2006. Antropologi Kesehatan. Jakarta : UI Press

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). 2014. Petunjuk Teknis Verifikasi. Klaim
Direktorat Pelayanan. Jakarta: BPJS

Green, Lawrence. 1980. Health Education Planning A Diagnostik Approach, Terjemahan


oleh Mandy Zulasmy dkk. Jakarta : Depdikbud RI.
Handayani, Nuri. 2008. Karakteristik Ibu dan Keterjangkauan Imunisasi sebagai Faktor
Risiko Ketidaklengkapan Imunisasi Dasar. Skripsi : Universitas Diponegoro Semarang.

IDAI. 2013. Air Susu Ibu dan Tumbuh Kembang Anak. Indonesia Pediatric.
Society.http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/air-susu-ibu-dan-tumbuh-.

Kementrian RI Departemen Kesehatan RI. 2017. Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu


Jakarta : Departemen Kesehatan RI
Kongres Internasional Syaikih Anshari. 2010. Ilmu Fiqih 1415 H Fatwa Majelis Ulama
Indonesia. HR. Albuhkori dan Imam syafingi.
Munib, Achmad, et al. 2006. Pengantar Ilmu Pendidikan, Semarang : UPT MKK
Universitas Negeri Semarang

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta


Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI)., 2012. Profil Kesehatan.
Provinsi DKI Jakarta.

Slamet, Juli Soemirat. 2000. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta : Gadjah Mada


University Press.
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.
Suparmanto, 1990. Hubungan Pengetahuan Kesehatan dengan Perilaku Sehat oleh Ibu-ibu
Rumah tangga Di Kabupaten Malang dan Pamekasan Jakarta.
Wiyono, Djoko. 2001, Manajemen Mutu Pelayanan Keehatan Teori Strategi dan Aplikasi,
Surabaya : Penerbit Airlangga University Press.