Anda di halaman 1dari 9

BAB 11

GEOSTRATEGI DAN KETAHANAN NASIONAL

A. GEOSTRATEGI
Geostrategi diartikan sebagai metode atau aturan-aturan untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan
melalui proses pembangunan yang memberikan arahan tentang bagaimana membuat strategi
pembangunan dan keputusasn yang terukur dan terimajinasi guna mewujudkan masa depan yang
lebih baik, lebih aman, dan bermatabat. Maka dari itu, pemanfaatan kondisi lingkungan dalam
upaya mewujudkan tujuan nasional dan politk akan terwujud sebagai program-program di dalam
pembangunan nasional.
Geostrategi adalah metode mewujudkan cita-cita proklamasi melalui proses pembangunan
nasional. Maka geostrategi dijadikan pegangan atau doktrin pembangunan dan lazim disebut
sebagai suatu ketahanan nasional. Pernyataan dalam Pembukaan UUD1945 Alinea III adalah
landasan fudamental geostrategi Indonesia. Karena kemajaemukan bangsa Indonesia serta sifat
khas wilayah tumpah darah negara Indonesia, maka geostrategi Indonesia dirumuskan dalam
bentuk ketahanan nasional.

B. KETAHANAN NASIONAL
Ketahanan nasional adalah kondisi kehidupan nasional yang harus diwujudkan. Menurut
Suradinata (2005:47) Ketahanan nasional (Tannas) Indonesia adalah kondisi dinamisan suatu
bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan, yang mengandung kemampuan mengembangkan
kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, gangguan, hambatan dan
tantangan, baik yang datang dari luar maupun dalam negri, yang langsung maupun tidak
langsung membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara, sert
aperjuangan dalam mengejar tujuan nasional Indonesia.
Proses untuk melanjutkan kondisi tersebut dilakukan berdasarkan pemmikiran geostrategis
berupa konsepsi yanng dinamakan Konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia. Konsepsi ketahanan
nasional adalah konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan
penyelenggaraan kesejahteraan dan keamana yang seimbang, serasi, dan selaras dalam seluruh
aspek kehidupan secara utuh berdasarkan Pancasila dan UUD1945, dan Wawasan Nusantara.
Kesejahteraan digambarkan melalui kemampuan bangsa dalam menumbuhkan dan
mengembangkan nilai-nilai nasional demi membesarkannya kemakmuran rakyat secara adil dan
merata. Sedangkan keamanan dilihat dari kemampuan bangsa unutk melindungi nilai-nilai
nasional dari segala ancaman. Pada hakikatnya ketahanan nasional adalah keuletan dan
ketangguhan yang menggambarkan kekuatan nasional untuk tujuan nasional.
1.ASAS- ASAS KETAHANAN NASIONAL
Asas ketahanan nasional adalah tata laku yang didasari nilai-nilai yang tersusun
berlandaskan Pancasila, UUD1945, dan wawasan nusantara. Sebagai prasyaratan utama bagi
negara berkembang yang memfokuskan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan
mengembangkan kehidupan negaranya.
Asas- asas tersebut adalah sebagai berikut :
a. Asas Kesejahteraan dan Keamanan
Kesejahteraan dan keamanan merupakan asas dalam sistem kehidupan nasional dan merupakan
nilai instrinsik yang ada. Dapat dicapai dengan menitik beratkan pada kesejahteraan, namun
tidak mengabaikan kemanan yang ada.
b. Asas Komprehensif Integral atau Menyeluruh Terpadu
Ketahanan nasional mecakup ketahanan sebagai aspek kehidupan suatu bangsa secara utuh,
menyeluruh, dan terpadu. Dan tersusun dalam bertuk perwujudan persatuan dan perpaduan yang
seimbang, serasi, dan selaras dari seluruh aspek kehidupan bermasyarakat.
c. Asas Mawas ke Dalam dan Mawas ke Luar
• Mawas ke dalam bertujuan untuk menumbuhkan hakikat, sifat-sifat dan kondisi
kehidupan nasional itu sendiri berdasarkan suatu nilai-nilai kemandirian yang proposional untuk
meningkatkan kualitas derajat kemandirian bangsa yang ulet dan tangguh.
• Mawas ke luar bertujuan untuk dapat mengantisipasi dan ikut berperan sera menghadapi
dan mengatasi dampak lingkungan yang strategis luar negri, dan dapat menerima kenyataan
adanya saling interaksi dan ketergantungan dengan dunia globalisasi atau dunia internasional.
d. Asas Kekeluargaan
Mengandung nilai keadilan, kearifan, kebersamaan, gotong royong, tegang rasa, dan tanggung
jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam penyelenggaran asas
kekeluargaan menggunakan prinsip berikut :
• Bangsa Indonesia berhak dan wajib membela
• Diwujudkan dengan keikutsertaan dalam uoaya pertahanan negara
• Cinta perdamaian, tapi lebih mencintai kemerdekaan dan kedaulatannya
• Menentang segala bentuk penjajahan dan menganut politik bebas aktif
• Bentuk pertahanan negara bersifat semesta dan serta seluruh wilayah negara sabagai satu
kesatuan pertahanan.
• Pertahanan disusun berdasarkan prnsip demokrasi, hak asasi manusia, kesejahteraan
umum, lingkungan hidup, ketentuan hukum nasional dan internasional, kebiasaan internasional,
serta prinsip hidup berdampingan.
2. SIFAT KETAHANAN NASIONAL
• Mandiri. Berarti mempunyai kemampuan dalam tindakan dan berpikir yang lebuh dewasa
dan dapat bertanggung jawawb
• Dinamis. Ketahanan nasional tak bersifat tetap tapi melainkan dapat meningkat atau pun
menurun tergantung situasi dan kondisi negara.
• Wibawa. Makin tinggi dan kuatnya ketahanan nasional maka makin tinggi pula
kewibawaan nasional semakin tinggi pula pandangan mengenai bangsa Indonesia.
• Konsuktasi dan Kerja Sama.mementingkan sikap konsultatif dan kerjasama serta saling
menghargai, menghormati dan mengandalkan kekuatan moral dan kepribadian bangsa.
3. PENGARUH ASPEK KETAHANAN NASIONAL TERHADAP KEHIDUPAN
BERBANGSA DAN BERNEGARA
Memiliki dua aspek yaitu :
• Aspek yang berkaitan dengan alamiah bersifat statis meliputi aspek geografi,
kependudukan, dan sumber daya alam.
• Aspek yang berkaitan dengan sosial bersifat dinamis meliputi aspek ideologi, politi,
ekonomi, sosial budaya, pertahanan, dan keamanan.
a. Ketahanan Sosial-Budaya
Dalam bermasyarakat harus memperhatikan nilai kebersamaan yaitu struktur sosial, pengawasan
sosial, media sosial, standar sosial.
Apabila integritas, identitas, dan kepribadian bangsa benar-benar mantap dan tangguh, hal ini
akan menjadi perisai ampuh demi terjaminnya kelangsungan kehidupan sosial. Beberapa faktor
yang mempengaruhi ketahanan sosial budaya :
• Agama dan kehidupan beragama,
• Tradisi.
• Pendidikan.
b. Ketahanan Ideologi
Pancasila adalah ideologi negara Indonesia. Dan sudah disepakati Pancasila merupakan ideologi
terbuka. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila tidak dapat membuahkan hasil yang
diharapkan. Karena kurangnya dar pribadi masing-masing hingga moralitas kepemimpinan.
Maka, pembudayaan Pancasila tetap menjadi suatu kebutuhan sejalan dengan implementasi dan
implikasi dari tata nilai yang terkandung dari ke lima sila.
c. Ketahanan Politik
Politik senantiasa dikaitkan dengan kekuatan dna kekuasaan. Betapa pentingnya ketahanan
politik karena menunjukkan keuletan dan ketangguhan dalam membendung segala sesuatu yang
dapat membahayakan negara. Pada tahun 1965 dan 1998 terjadinya ketidak seimbangan yang
mengakibatkannya perubahan melalui pemaksaan. Maka, perlu diupayakan titik temu yangbaik
agar memiliki kualitas dan ketahanan pribadi yang memungkinkannya tercapainya persamaan
presepsi.
d. Ketahanan Ekonomi
Di Indonesia pernah terjadi krisis moneter. Khusus dalam bidang ekonomi, sebaiknya kita
menggunakan teori universal sebagai acuan dalam pengelolaan. Untuk memperoleh atau
memajukann perekonomian yang diharapkan, para pelaku ekonomi perlu memiliki
profesionalisme, karakter, dan integritas tinggi.
e. Ketahanan Pertahanan dan Keamanan
Sangat berkaitan erat dengan upaya melindungi kepentingan berbangsa dan bernegara, demi
terwujudnya kondisi kelangsungan hidup seta perkembangan kehidupan. Ketahanan dan
kemanan merupakan hak dan kewajiban warga negara dalam pencapaian tujuan nasional. Maka,
sistem bela negara dan keikutsertaan seluruh potensi masyarakat perlu ditingkatkan, menurut
ketentuan dan undang-undang yang berlaku.
BAB 12
OTONOMI DAERAH

A. PENGERTIAN OTONOMI DAERAH


Otonomi daerah adalah kewenangan untuk mengatur sendiri atau kewenangan untuk membuat
aturan guna mengurus rumah tangga sendiri. Pengertian otonomi daerah berdasarkan UU No.23
Tahun 2014 Jo UU No.9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah adalah hak, wewenang dan
kewajiban daerah otonom untuk mengatur serta mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

B. KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH


Kebijakan tentang otonomi daerah diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004, kemudian diganti oleh
UU No.23 Tahun 2014 Jo UU No.9 Tahun 2015. Merujuk dari diberlakukannya UU No.22
Tahun 1999, kemudian diganti dengan UU No.32 Tahun 2004, dan diganti lagi dengan UU
No.23 Tahun 2014 Jo UU No.9 Tahun 2015 mengandung makna pemerintahan pusat tidak lagi
mengurus kepentingan rumah tangga daerah-daerah. Kewenangan mengatur dan mengurus
rumah tangga daerah diserahkan kepada pemerintah dan masyarakat di daerah.

C. URGENSI OTONOMI DAERAH


Otonomi daerah urgen dilaksanakan dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut :
• Merujuk dari sudut politik sebagai permainan kekuasaan.
• Penyelenggara desentralisasi dianggap sebagai tindakan pendemokrasian.
• Merujuk dari sudut teknik organisatoris pemerintahan, alasan mengapa mengadakan
pemerintahan daerah adalah semata-mata untuk mencapai suatu pemerintahan yang efisien.
• Sudut kultural, desentralisasi perlu dilakukan supaya perhatian dapat sepenuhnya
ditumpuhkan pada kekhususan suatu daerah.
• Sudut kepentingan ekonomi, pemerintah daerah dapat lebih banyak dan secara langsung
membantu pembangunan ekonomi tersebut.

D. TUJUAN DAN MANFAAT OTONOMI DAERAH


Secara konseptual Indonesia didasarkan pada tiga tujuan utama berikut ini :
• Tujuan politik, dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah upaya untuk mewujudkan
demokratisasi politik melalui partai politik dan DPD.
• Tujuan administratif, pembagian urusan antara pemerintahan pusat dan daerah, termasuk
sumber daya keuangan, serta pembaharuan manajemen birokrasi di pemerintahan pusat.
• Tujuan ekonomi, realisasi dari peningkatan indeks pembangunan manusia sebagai
indikator peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
1. TUJUAN OTONOMI DAERAH
• Peningkatan pelayanan publik yang semakin baik.
• Pengembangan kehidupan demokrasi.
• Peradilan nasional.
• Wilayah regional adil.
• Pemelihara hubungan harmonis antara pusat dan daerah, serta antar daerah di integritas
urutan republik.
• Mendorong pemberdayaan masyarakat.
• Foster inisiatif dan kreativitas, peningkatan partisipasi masyarakat, mengembangkan
peran dan fungsi DPD.
2. MANFAAT OTONOMI DAERAH
• Pelaksanaan otonomi daerah dapat dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.
• Potong birokrasi yang sedikit prosedur yang rumit dan sangat terstruktur dari
pemerintahan pusat.
• Untuk meningkatkan efisiensi pemerintahan pusat, pemerintahan pusat tidak lagi
melakukan tugas-tugas rutin ke daerah-daerah karena bisa diserahkan penjabat daerah otonom.
E. BENTUK-BENTUK OTONOMI DAERAH
• Dekonsentrasi, pembagian wewenang dan tanggung jawab administrasi antara
departemen pusat dengan pejabat pusat dilapangan tanpa adanya penyerahan kewenangan untuk
mengambil keputusan secara leluasa.
• Delegasi, pelimpahan pengambilan keputusan dan kewenangan pengelolaan untuk
kmelakukantugas tugas yang tidak secara langsung dalam pengawasanpemerintahan pusat.
• Devolusi, pelimpahan wewenang untuk pengambilan keputusan, keuangan, dan
manajemen kepada unit otonom pemerintahan daerah.
• Privatisasi, tindakan kewenangan dari pemerintah kepada badan-badan sukarela, swasta,
dan swadaya masyarakat.
F. LANDASAN HUKUM PERKEMBANGAN OTONOMI DAERAH
1. Warisan Kolonial, pemerintah kerajaan satu persatu diikat oleh pemerintahan koloniah
dengan sejumlah kontrak politik.
2. Masa Pendudukan Jepang, pada masa kependudukan Jepang, pemerintah daerah hampir
tidak memiliki kewenangan. Penyebutan daerah otonom bagi pemerintahan didaerah pada masa
tersebut bersifat menyesatkan.
3. Masa Kemerdekaan
• Periode Undang-Undang No. 1 Tahun 1945
Menitik beratkan pada asas dekonsentrasi, mengatur pembentukan KND di karesidenan,
kabupaten, kota berotonomi, dan daerah daerah yang dianggap perlu oleh Mendagri. UU No.1
Tahun 1945 hanya mengatur hal-hal yang bersifat darurat dan segera saja. Dan dalam batang
tubuhnya pun hanya terdiri atas 6 pasal dan tidak memiliki penjelasan.
• Periode Undang-Undang No. 22 Tahun 1948
Daerah negara RI tersusun dalam tiga tingkat, yakni propinsi, kabupaten/kota, desa/kota kecil,
dan yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri.
• Periode Undang-Undang No. 1 Tahun 1957
Daerah otonom diganti menjadi daerah Swantantra. Wilayah RI dibagi menjadi daerah besar dan
daerah kecil yang erhak mengurus rumah tangga sendiri.
• Periode Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959
Menitik beratkan pada kestabilan dan efisiensi pemerinthhan daerah, dengan memasukkan
elemen-elemen baru.
• Periode Undang-Undang N0. 18 Tahun 1965
Wilayah negara dibagi-bagi dalam tiga tingkatan, yakni Provinsi, Kabupaten, dan Kecamatan.
Kepala derah mempunyai tugas memimpin pelaksanaan kekuasaan eksekutif pemerintahan
daerah.
• Periode Undang-Undang No.5 Tahun 1974
Menyebutkan bahwa daerah berhak mengatur, dan mengatur rumah tanggnya berdasar asas
desentralisasi.
• Periode Undang-Undang No.22 Tahun 1999
Pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan pemerintah daerah yang lebih mengutamakan
desentralisasi. Dan banyak membawa kemajuan bagi daerah dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Tapi belum juga merasakan memenuhi rasa keadilan dan kesejahteraan bagi
masyarakat.
• Periode Undang-Undang No.32 Tahun 2004
Pemerintahan daerah dinyatakan tidak berlaku lagi. UU baru ini memperjelas dan mempertegas
hubungan hierarki antara antara kabupaten dan provinsi, antara provinsi dan pemerintah pusat
berdasarkan asas kesatuan administrasi dan kesatuan wilayah.
• Periode Undang-Undang No.23 Tahun 2014
UU ini ditetapkan sebagai pengganti UU No.32 Tahun 2004 yang tidak sesuai lagi dengan
perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyeelenggaraan. UU ini membahas
tentang pemerintahan daerah tersebut sekaligu konsekuensi logis dari ketentuan Pasal 18 ayat (1)
UUD1945.
• Periode Undang-Undang No.9 Tahun 2015
Tentang pemerintahan daerah telah ditetapkan sebagai hasil perubahan kedua atas UU NO.23
Tahun 2014 setelah menimbang beberapa hal yaitu :
1. Bahwa untuk kesinambungan kepemimpinan provinsi, kabupaten/kota diperlukan
mekanisme peralihan kepemimpinan daerah dimasa jabatannya yang demokratis untuk dapat
menjamin pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.
2. Bahwaa ketentuan tugas dan wewenang DPRD provinsi, kabupaten/kota perlu dilakukan
penyesuaian dengan undang-undang yang mengatur pemilihan gubemur, bupati, dan walikota.
3. Bahwa mengatasi masalah sebagaimana dimaksud pada poin ke dua, ketentuan tugas dan
wewenang DPRD sebagaimana diatur dalam UU No.23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah perlu dilakukan perubahan.
4. Perlu membetuk UU tentang Perubahan Kedua atas UU No.23 Tahun 2014 tetang
Pemerintahan Daerah.