Anda di halaman 1dari 5

Tugas individu

Review Permenkes No. 148 tahun 2010

Di susun Oleh

Nama : Andi Vivi Sry Andriani

Nim : A1C219062

Kelas : D (Prog B)

Peraturan Menteri Kesehatan republic Indonesia Nomor. HK.02.02/MENKES/148/I/2010 tentang izin


dan penyelenggaraan praktik perawat. Permenkes ini dikeluarkan menimbang dari pasal 23 ayat (50
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Dalam peraturan menteri yang dimaksud
perawat dan bagaimana ketentuan umum praktik perawat terdapat pada BAB I Ketentuan Umum Pasal
1 sebagai berikut (beberapa poin penting saja saya kutip):

- Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun luar negeri
sesuai dengan peraturan perundang-undangan”

- Surat Izin Praktik Perawat yang selanjutnya disingkat SIPP adalah bukti tertulis yang diberikan kepada
perawat untuk melakukan praktik keperawatan secara perorangan dan atau berkelompok”

- Standar adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi yang
meliputi standar pelayanan, standar profesi dan satndar prosedur operasional”

- Obat bebas adalah obat yang berlogo bulatan berwarna hijau yang dapat diperoleh tanpa resep
dokter”

- Obat bebas terbatas adalah obat yang berlogo bulatan berwarna biru yang dapat diperoleh tanpa
resep dokter”

Sesuai ketentuan peraturan tersebut. Kita perawat dapat mendirikan praktik mandiri perawat dan
memberikan pelayanan sesuai standard dan ketentuan yang berlaku. Dalam pasal ini juga mengatur
bahwa perawat dapat memberikan obat bebas (bulatan hijau) dan bebas terbatas (bulatan biru). Tapi di
praktik keperawatan kami, pemberian terapi berupa obat yang dikonsumsi per oral (melalui mulut) tidak
kami berikan, kami hanya memberikan balutan-balutan luka atau topikal terapi yang sudah sesuai
dengan kompetensi yang kita miliki sebagai perawat spesialis luka sesuai standar di Indonesia dan World
Council Enterostomal Therapy Nursing (WCETN). Jika kami memerlukan terapi atau obat-obatan per oral
maka kami bekerjasama dengan dokter umum maupun dokter spesialis sesuai dengan kewenangan dan
kebutuhan pasien. Bagaiamana menurut Anda, pasti indah jika kita bisa bekerjasama untuk kesembuhan
pasien yang kita rawat.

Pada BAB II Perizinan pasal 2 menyatakan bahwa;

“Perawat dapat menjalankan praktik keperawatan pada fasilitas pelayanan kesehatan meliputi fasilitas
pelayanan kesehatan di luar praktik mandiri dan atau praktik mandiri.

Perawat yang menjalankan praktik mandiri minimal berpendidikan Diploma III (D III) Keperawatan”.

Pasal ini, memberikan informasi pada kita dapat menjalankan praktik di fasilitas pelayanan kesehatan
dan minimal syarat pendidikan perawat menjalankan praktik mandi perawat adalah D III Keperawatan.
Pada pasal 3, 4 dan 5 akan dibahas kewajiban perawat memiliki SIPP dan persyaratannya untuk
menjalankan praktik mandiri perawat. Syarat SIPP yang diwajibkan perawat yang akan menjalankan
praktik mandiri perawat, sebagai berikut;

“Pasal 5; untuk memperoleh SIPP, perawat harus mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah
Kabupaten/Kota dengan melampirkan;

a. Fotokopi Surat Tanda registrasi (STR) yang masih berlaku dan dilegalisir

b. Surat keterangan sehat fisik dari dokter yang memiliki Surat Izin Praktik

c. Surat pernyataan memiliki tempat praktik

d. Pas foto berwarna terbaru ukuran 4×6 cm sebanyak 3 (tiga) lembar

e. Rekomendasi dari organisasi profesi (PPNI daerah)

Pengajuan ini hanya pada satu tempat praktik”

Praktik mandiri perawat saat ini juga diperbolehkan memasang papan praktek yang sebelumnya tidak
ada pada Permenkes 1239 Tahun 2001 tentang registrasi dan praktik perawat. Pada pasal 6
menyebutkan bahwa “Dalam menjalankan praktik mandiri, perawat wajib memasang papan nama
praktik keperawatan”. Adapun petunjuk teknik dan pelaksanaan pembuatan papan nama praktik
sebagai berikut;

•Bertuliskan “Praktik Perawat”

•Ukuran 80cm x 60cm


•Dituliskan nama yang berpraktek dan gelar

•Nomor ijin praktek (SIPP)

•Memasang logo PPNI

Hal yang palig krusial dalam pengaturan penyelenggaraan praktik mandiri perawat ada pada bab III
tentang penyelenggaraan praktik. Berikut saya kutip dari aslinya terkait dengan penyelenggaraan pratik
perawat pada Bab III pasal 8;

(1) Praktik keperawatan dilaksanakan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, tingkat kedua
dan tingkat ketiga

(2) Praktik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (10 ditujukan kepada individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat

(3) Praktik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui kegiatan

a. pelaksanaan asuhan keperawatan

b. pelaksaanaan upaya promotif, preventif, pemulihan dan pemberdayaan masyarakat, dan;

c. pelaksanaan tindakan keperawatan komplementer

(4) Asuhan keperawatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) huruf a meliputi pengkajian,
penetapan diagnose keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi keperawatan

(5) Implementasi keperawatan sebagaimana maksud ayat (4) meliputi penerapan perencanaan dan
pelaksanaan tindakan keperawatan

(6) Tindakan keperawatan sebagaimana maksud pada ayat (5) meliputi pelaksanaan prosedur
keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan dan konseling kesehatan

(7) Perawat dalam menjalankan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat
memberikan obat bebas dan atau obat bebas terbatas”.

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada pasal tersebut, perawatan luka yang kami lakukan adalah
salah satu prosedur keperawatan atau intervensi keperawatan mandiri yang dapat dilakukan oleh
perawat. Dalam standar spesialis perawatan luka kami diperkenankan memberikan balutan-balutan luka
dan dapat digunakan bersama tindakan keperawatan komplemeter (penggunaan herbal ataupun terapi
yang terkait untuk membantu dalam proses kesembuhan pasien). Setiap tindakan yang dilakukan sudah
tentu harus diperdalam mengikuti pelatihan khusus yang diakui oleh Departemen Kesehatan RI
khususnya sehingga sertifikat kompetensi yang dimiliki diakui negara.
Pada Bab III pasal 9 mengingatkan kita sebagai perawat untuk tetap melakukan praktik sesui dengan
kewenangan yang kita miliki. Seperti yang disampaikan sebelumnya, menjalankan praktik sesuai
kompetensi yang kita miliki. Dalam situasi kegawatdaruratan maka perawat dapat melakukan tindakan
diluar kewenangannya yang diatur dalam pasal 10 dengan mempertimbangkan kompetensi, tingkat
kedaruratan dan kemungkinan untuk dirujuk. Hak dan Kewajiban perawat juga diatur dalam Permenkes
No. 148 tahun 2010, sebagai berikut;

“Pasal 11; dalam melaksanakan praktik, perawat mempunyai hak

a. Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan praktik keperawatan sesuai standar

b. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari klien dan atau keluarganya

c. Melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi

d. Menerima imbalan jasa profesi dan

e.Memperoleh jaminan perlindungan terhadap risiko kerja yang berkaitan dengan tugas

“Pasal 12; dalam melaksanakan praktik, perawat wajib untuk;

a. Menghormati hak pasien

b. Melakukan rujukan

c. Menyimpan rahasia dengan peraturan perundang-undangan

d. Memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien/klien dan pelayanan yang dibutuhkan

e. Meminta persetujuan tindakan keperawatan yang akan dilakukan

f. Melakukan pencatatan asuhan keperawatan secara sistematik dan mematuhi standar”.

Berdasarkan pasal yang diuraikan diatas menjadi dasar kita dalam menjalankan praktik mandiri perawat
yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pada pasal 12 ayat (3)
menyebutkan bahwa “Perawat dalam menjalankan praktik wajib membantu program pemerintah dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat”. Walaupun sudah dikeluarkan Permenkes no. 148 tahun
2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik perawat, Undang-undang keperawatan tetap diperlukan
untuk memberikan kepastian perlindungan hukum bagi perawat yang menjalankan praktik
keperawatan. Semoga undang-undang tersebut bisa memberikan gambaran yang lebih baik dan
memberikan perlindungan hukum bagi perawat.

Demikian uraian tentang landasan kami menjalankan praktik mandiri perawat yang selaian
berlandasakan filosofi kebudayaan dimana kami berada juga tetap berdasarkan landasan hukum
Permenkes No. 148 tahun 2010. Selain bekerjasama dengan rekan-rekan perawat yang menjalankan
praktik mandiri perawat di seluruh Indonesia, kami juga rutin mengadakan diskusi dan berbagai bersama
dengan beberapa rekan-rekan perawat, fisioterapi dan dokter dari Australia yang telah bekerjasama
dengan kami dalam memberikan donasi bagi pasien-pasien yang membutuhkan bantuan khususnya
dalam perawatan luka, stoma dan inkontinensia. Kembali lagi semuanya hanya untuk dapat membantu
memenuhi kebutuhan masyarakat akan kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan masyrakat.
Tidak ada lagi kata-kata untuk saling menjatuhkan dan saling menyalahkan dalam hal ini, sebagai profesi
kesehatan sebaiknya kita saling bahu membahu dalam membantu meningkatan derajat kesehatan
masyarakat. Semoga generasi penerus perawat berikutnya memiliki kemampuan lebih baik dalam
meningkatkan profesi keperawatan ini.