Anda di halaman 1dari 36

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam adalah agama yang sempurna yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Dengan berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, segala sesuatu

yang berkaitan dengan urusan duniawi maupun urusan akhirat diatur oleh Allah SWT.

Segala aturan dan hukum Allah di sebut syariah. Syariah adalah aturan-aturan pokok

yang berasal dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui

malaikat Jibril untuk menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Syariah

bersifat tekstual dan statis, tidak dapat diubah, ditambah ataupun dikurangi. Untuk

mencapai kemenangan di dunia maupun di akhirat, mematuhi syariah Islam adalah

pilihan yang paling tepat. Melalui makalah ini penulis ingin menambah wawasan

pembaca tentang betapa pentingnya mematuhi syariah Islam. Selain untuk memenuhi

tugas pertama yang diberikan oleh dosen mata kuliah Hadis Hukum.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang digunakan penulis dalam menyusun makalah ini

adalah:

1. Apa cabang ilmu yang mempelajari tentang tindak pidana dalam Islam?

2. Bagaimana hukum-hukum Allah mengatur tentang tindak pidana?

3. Apa saja tindak pidana yang mendapatkan hukuman had?

4. Bagaimana tindak pidana tersebut di atur di Indonesia?

5. Bagaimanakah hukuman di akhirat bagi orang yang telah dihukum di dunia?


2

C. Tujuan

Tujuan yang hendak di capai oleh penulis dari makalah ini adalah pembaca

dapat memahami lebih dalam tentang hukum-hukum Allah SWT, serta dapat

mengetahui hukuman di akhirat yang didapatkan oleh orang-orang yang telah

dihukum di dunia.
3

BAB II

PEMBAHASAN

A. Hukuman dalam Islam

Fikih Jinayah adalah ilmu tentang hukum syara’ yang berkaitan dengan

masalah perbuatan yang dilarang (jarimah) dan hukumannya (uqubah), yang diambil

dari dalil-dalil yang terperinci. Defenisi tersebut merupakan gabungan antara

pengertian “Fikih” dan “Jinayah”.

Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa objek pembahasan Fikih

Jinayah itu secara garis besar ada dua, yaitu jarimah atau tindak pidana dan uqubah

atau hukumannya.

Pengertian jarimah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mawardi adalah

sebagai berikut. Jarimah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara’ yang

diancam oleh Allah dengan hukuman had atau ta’zir.

Dalam istilah lain jarimah disebut juga dengan jinayah. Menurut Abdul Qadir Audah

pengertian jinayah sebagai berikut. Jinayah adalah suatu istilah untuk perbuatan

yang dilarang oleh syara’, baik perbuatan tersebut mengenai jiwa, harta, atau

lainnya.

Adapun pengertian hukuman yang dikemukakan oleh Abdul Qadir Audah

adalah hukuman adalah pembalasan yang ditetapkan untuk kemaslahtan masyarakat,

karena adanya pelanggaran atas ketentuan-ketentuan syara’.

Pembagian jarimah ditinjau dari segi hukumannya terbagi kepada tiga bagian, yaitu

jarimah hudud, jarimah qishash dan diat, dan jarimah ta’zir.

1. Jarimah Hudud

Jarimah hudud adalah jarimah yang diancam dengan hukuman had.

Pengertian hukuman had, sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Qadir Audah


4

adalah hukuman had adalah hukuman yang telah ditentukan oleh syara’ dan

merupakan hak Allah. Oleh karena hukuman had itu merupakan hak Allah

maka hukuman tersebut tidak bisa digugurkan oleh perseorangan (orang yang

menjadi korban atau keluarganya) atau oleh masyarakat yang diwakili oleh

negara. Jarimah hudud ini ada tujuh macam, yaitu

a) Jarimah zina,

b) Jarimah qadzaf,

c) Jarimah syurb al-khamr,

d) Jarimah pencurian,

e) Jarimah hirabah,

f) Jarimah riddah, dan

g) Jarimah pemberontakan (Baghyu)

2. Jarimah Qishash dan Diat

Jarimah qishash dan diat adalah jarimah yang diancam dengan hukuman

qishash atau diat. Baik qishash atau diat kedua-duanya adalah hukuman yang

sudah di tentukan oleh syara’. Perbedaannya dengan hukuman had adalah

bahwa hukuman had merupakan hak Allah (hak masyarakat), sedangkan

qishash dan diat merupakan hak manusia (hak individu).

Disamping itu, perbedaan yang lain adalah karena hukuman qishash dan diat

merupakan hak manusia maka hukuman tersebut bisa dimaafkan atau

digugurkan oleh korban atau keluarganya, sedangkan hukuman had tidak bisa

dimaafkan atau digugurkan.

Pengertian qishash, sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Abu

Zahrah adalah persamaan dan keseimbangan antara jarimah dan hukuman.


5

Jarimah qishash dan diat ini hanya ada dua macam, yaitu pembunuhan dan

penganiayaan. Namun apabila diperluas, jumlahnya ada lima macam, yaitu

a) Pembunuhan sengaja

b) Pembunuhan menyerupai sengaja

c) Pembunuhan karena kesalahan

d) Penganiayaan sengaja

e) Penganiayaan tidak sengaja

3. Jarimah Ta’zir

Jarimah ta’zir adalah jarimah yang diancam dengan hukuman ta’zir.

Pengertian ta’zir menurut bahasa adalah ta’dib, artinya memberi pelajaran.

Ta’zir juga diartikan dengan Ar-Raddu wal Man’u, yang artinya menolak dan

mencegah. Sedangkan pengertian ta’zir menurut isilah, sebagaimana

dikemukakan oleh Al-Mawardi adalah ta’zir adalah hukuman pendidikan atas

dosa (tindak pidana) yang belum ditentukan hukumannya oleh syara’.

Dari defenisi tersebut, dapat diketahui bahwa hukuman ta’zir adalah

hukuman yang belum ditetapkan oleh syara’ dan wewenang untuk

menetapkannya di serahkan

kepada ulil amri.1

B. Macam-macam Jarimah

1. Jarimah Zina

a) Pengertian

Para ulama memberikan defenisi zina ini berbeda redaksinya, namun

dalam substansinya hampir sama. Di bawah ini akan dikemukakan empat

defenisi menurut mazhab yang empat.


1
H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), h. ix
6

1) Pendapat Malikiyah

Malikiyah sebagaimana dikutip Abdul Qadir Audah, memberikan defenisi

sebagai berikut. Zina adalah persetubuhan yang dilakukan oleh orang

mukalaf terhadap farji manusia (wanita) yang bukan miliknya secara di

sepakati dengan kesengajaan.

2) Pendapat Hanafiyah

Zina adalah nama bagi persetubuhan yang haram dalam qubul (kemaluan)

seorang (perempuan) yang masih hidup dalam keadaan ikhtiar (tanpa

paksaan) di dalam negeri yang adil dilakukan oleh orang-orang kepadanya

berlaku hukum Islam, dan wanita tersebut bukan miliknya dan tidak ada

syubhat dalam miliknya.

3) Pendapat Syafi’iyah

Syafi’iyah, sebagaimana dikutip Abdul Qadir Audah, memberikan defenisi

sebagi berikut. Zina adalah memasukkan zakar ke dalam farji yang

diharamkan karena zatnya tanpa ada syubhat dan menurut tabiatnya

menimbulkan syahwat.

4) Pendapat Hanabilah

Zina adalah melakukan perbuatan keji (persetubuhan), baik terhadap qubul

(farji) maupun dubur.

Apabila kita perhatikan maka keempat defenisi tersebut berbeda dalam

redaksi dan susunan kalimatnya, namun dalam intinya sama, yaitu bahwa

zina adalah hubungan kelamin antara seorang laki-laki dan perempuan di

luar nikah.2

b) Unsur-unsur Jarimah Zina


2
H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, h. 7
7

1) Persetubuhan yang diharamkan, dan

2) Adanya kesengajaan atau niat yang melawan hukum3

c) Dasar Hukum Jarimah Zina

         


Terjemahannya:
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’ 17:32)

Sedangkan diharamkannya berkumpul di tempat sunyi dengan wanita

asing (bukan muhrim) dinyatakan dengan tegas dalam sebuah hadits yang

diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Rasulullah bersabda yang

terjemahannya:

“Tidaklah diperkenanankan salah seorang di antara kamu untuk bersunyi-

sunyi dengan wanita yang bukan muhrim, karena orang ketiga di antara

keduanya adalah setan”4

d) Zina dalam Pandangan Islam dan Hukum Positif

Hukum Islam dan hukum positif berbeda pandangannya dalam

masalah zina. Hukum Islam memandang setiap hubungan kelamin diluar

nikah sebagai zina dan mengancamnya dengan hukuman, baik pelaku sudah

kawin atau belum, dilakukan dengan suka sama suka atau tidak. Sebaliknya,

hukum positif tidak memandang semua hubungan kelamin di luar

perkawinan sebagai zina. Pada umumnya, yang dianggap sebagai zina

menurut hukum positif itu hanyalah hubungan kelamin di luar perkawinan,

yang dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam status bersuami atau
3
H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, h. 8
4
H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, h. 9
8

beristri saja. Selain dari itu tidak dianggap sebagai zina, kecuali terjadi

perkosaan atau pelanggaran kehormatan. Dalam Pasal 284 Kitab Undang-

undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia disebutkan:

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan:

Ke-1. a) Laki-laki yang beristri yang berzina sedang diketahuinya,

bahwa Pasal 27 Kitab Undang-undang Hukum Perdata berlaku

baginya;

b) Perempuan yang bersuami yang berzina5

Pasal 27 Kitab Undang-Un dan Hukum Perdata (BW) berbunyi:

“Pada waktu yang sama, seseorang lelaki hanya boleh terikat perkawinan

dengan satu orang perempuan saja dan seorang perempuan hanya dengan

satu orang lelaki saja”6

Hukum Islam melarang zina dan mengancamnya dengan hukuman

karena zina akan merusak sistem keemasyarakatan dan mengancam

keselamatannya. Zina merupakan pelanggaran atas sistem kekeluargaan,

sedangkan keluarga merupakan dasar untuk berdirinya masyarakat.

Membolehkan zina berarti membiarkan kekejian, dan hal ini dapat

meruntuhkan masyarakat. Sedangkan syariat Islam menghendaki

langgengnya masyarakat yang kukuh dan kuat.

Hukum positif menganggap perbuatan zina sebagai urusan pribadi

yang hanya menyinggung hubungan individu dan tidak menyinggung

hubungan masyarakat. Oleh karenanya dalam pandangan hukum positif,

5
H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, h. 3
6
Soedharyo Soimin, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), h. 8
9

apabila zina itu dilakukan dengan sukarela (suka sama suka) maka pelaku

tidak perlu dikenakan hukuman, karena dianggap tidak ada pihak yang

dirugikan, kecuali apabila salah satu atau keduanya dalam keadaan sudah

kawin. Dalam hal ini perbuatan tersebut baru dianggap sebagai tindak

pidana dan pelakunya dikenai hukuman, karena hal itu melanggar

perkawinan.7

e) Hukuman (uqubah) Jarimah Zina

Zina ghair muhshan adalah zina yang dilakukan oleh laki-laki dan

perempuan yang belum berkeluarga. Hukuman untuk zina ghair muhshan

ini ada dua macam, yaitu

1) Dera seratus kali

2) Pengasingan selama satu tahun8

Zina muhshan dalah zina yang dilakukan oleh laki-laki dan

perempuan yang sudah berkeluaga (bersuami/beristri). Hukuman untuk

pelaku zina ini ada dua macam, yaitu

1) Dera seratus kali

2) Rajam9

Berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

Abu Hurairah r.a dan Zaid ibn Khalid r.a menerangkan, yang

terjemahannya:

“Seorang lelaki Arab padang pasir menemui Rasulullah SAW, dan


berkata: Ya Rasulullah, aku bermohon kepada Anda dengan nama Allah,
7
H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, h. 4
8
H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, h. 29
9
H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, h. 33
10

agar Anda memutuskan hukum terhadaplu berdasarkan ketetapan Allah.


Seorang lawannya yang lebih lancar bicaranya, berkata: Benar,
putuskanlah perkara di antara kami dengan ketetapan Allah, dan
izinkanlah saya berbicara. Maka Rasulullah berkata: Bicaralah. Dia
berkata: Sesungguhnya anakku bekerja sebagai orang upahan pada orang
ini. Dia berzina dengan isteri orang ini dan mengabarkan bahwa anakku
harus dirajam, namun aku tebus hukuman itu dengan seratus ekor biri-biri
dan membebaskan seorang budak. Saya menanyakan kepada orang alim,
dan mereka mengatakan bahwa hukuman terhadap anakku adalah 100 kali
cambukan dan mengusirnya dari kampung selama satu tahun, dan
terhadap isteri orang ini, hukuman rajam. Rasulullah bersabda: Demi
Allah, yang diriku ditangan-Nya, aku akan memutuskan perkara ini dengan
ketetapan Allah. Budak dan kambing dikembalikan kepada engkau dan
anakmu dicambuk 100 kali dan diusir dari kampung selama satu tahun.
Pergilah hai Unais (seorang lelaki dari bani Aslam) kepada isteri orang
ini. Jika dia mengaku, rajamkanlah dia. Unais menjumpai perempuan itu,
dan dia mengaku. Rasulullah memerintahkan agar perempuan itu dirajam,
dan dilaksanakanlah perintah itu” (H.R. Al-Jamaah; Al-Muntaqa II: 705)

Dari Abu Hurairah r.a menerangkan, yang terjemahannya:

“Bahwasanya Rasulullah menetapkan bahwa terhadap seorang pezina


yang belum muhshan, agar dia diusir dari kampung selama setahun dan
dikenakan hukuman had atasnya”. (H.R. Ahmad dan Al-Bukhary; Al-
Muntaqa II: 705)10
Hadits di atas menyatakan bahwa pezina yang belum muhshan,

dicambuk 100 kali dan diusir selama setahun dari kampungnya, sedangkan

pezina muhshan dirajam. Kemudian, di hadits selanjutnya menyatakan pula

bahwasanya pengakuan cukup sekali di ikrarkan, tak perlu diulang empat

kali.11

10
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Koleksi Hadis-Hadis Hukum (Semarang: Yayasan Teungku
Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, 2001), h. 101-103
11
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Koleksi Hadis-Hadis Hukum, h. 104
11

Para ulama berpendapat bahwa Nabi mengutus orang untuk menemui

seseorang perempuan, bukan untuk memeriksanya apakah dia berzina atau

tidak, namun utnuk membuktikan apakah tuduhan terhadap perempuan itu

benar atau tidak (tidak sekadar fitnah).

Al-Hafidh berkata: menurut lahir hadits, Unaiz memberitahukan

kepada Nabi tentang pengakuan si perempuan, bahwa memang benar dia

berzina, walaupun Nabi telah memberikan wewenang kepada Unaiz untuk

melaksanakan hukuman, jika perempuan itu mengaku. Dapat dipahamkan

bahwa Unaiz, menyampaikan pengakuan perempuan itu kepada Nabi

dengan membawa seorang saksi yang turut mendengar pengakuan tersebut.

Asy-Syafi’y dalam salah satu pendapat dan Abu Tsaur membolehkan hakim

memutuskan perkara hudud dengan pengakuan si pezina, tanpa ada saksi

yang mendengar pengakuan itu. Namun, jumhur ulama tidak

membolehkannya.

Muhammad ibn Nashar mengatakan, bahwa seluruh ulama

sependapat untuk mengusir perempuan perawan selama satu tahun dari

kampungnya. Hanya ulama Kufah saja yang tidak berpendapat demikian.

Diterangkan oleh Ibnul Mundzir, bahwa Umar mengumumkan hukuman

rajam ini diatas mimbar dan hal ini dilaksanakan oleh seluruh Khulafa

Rasyidin, Zaid ibn Ali, Ash Shadiq, Ibnu Abi Laila, Ats-Tsaury, Malik,

Asy-Syafi’y, Ahmad dan Ishaq.

Abu Hanifah dan Hammad berpendapat, bahwa pengusiran selama

satu tahun lamanya dan memenjarakannya, tidak wajib. Karena ketentuan

ini tidak tercantum dalam Al-Qur’an.12

12
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Koleksi Hadis-Hadis Hukum, h. 106
12

        


          
       


Terjemahannya:
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, deralah masing-
masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan
kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum)
Allah jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah
(pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang
yang beriman.”(Q.S An-Nuur 24:2)13

Hadits-hadits yang mewajibkan mengusir (mengucilkan) si pezina

perawan selama satu tahun dari kampungnya, adalah hadits-hadits masyhur.

Dhahir hadits yang menyuruh kita mengucilkan si pezina selama satu tahun,

mencakup lelaki dan perempuan. Demikianlah pendapat Asy-Syafi’y.

Menurut Malik dan Al-Auza-y, hukuman ini tidak dikenakan terhadap

perempuan. Dan dhahir hadits ini, tidak membedakan antara orang merdeka

dengan budak.

Demikianlah pendapat Ats-Tsaury, Daud, Ath Thabary dan Asy-

Syafi’y. Menurut sebagian ulama, hukuman terhadap budak harus lebih

ringan separuhnya, dikiaskan kepada hukuman cambuk.14

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

        


         
        
      
        
13
Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur’an, Al-Qur’an dan terjemahnya Al-Mufid (Solo: Tiga
Serangkai, 2013), h. 350
14
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Koleksi Hadis-Hadis Hukum, h. 107
13

          
          

Terjemahannya:

“Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak


mempunyai biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang beriman
maka (dihalalkan menikahi permpuan) yang beriman dari hamba sahaya
yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu. Sebagian kamu adalah
dari sebagian yang lain (sama-sama keturunan Adam dan Hawa) karena
itu nikahilah mereka dengan izin tuannya, dan berilah mereka maskawin
yang pantas karena mereka adalah perempuan-perempuan yang
memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) perempuan yang
mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya. Apabila mereka telah
berumah tangga (bersuami), tetapu mereka melakukan perbuatan yang
keji (zina) maka (hukuman) bagi merekasetengah dari apa (hukuman)
perempuan-perempuan merdeka (yang tidak bersuami). (Kebolehan
menikahi hamba sahaya) itu adalah bagi orang-orang yang takut kepada
kesulitan dalam menjaga diri (dari perbuatan zina). Tetapi jika kamu
bersabar itu lebih baik bagimu. dan Allah Maha Pengampun, Maha
Penyayang.” (Q.S An-Nisa 4:25)15

Malik, Ahmad, Ishaq, Asy-Syafi’y dan Al-Hasan, tidak mengenakan

hukuman pengusiran terhadap budak.

Menurut Malik, Asy-Syafi’y dan yang lain, taghrib yang tercantum

dalam hadits, adalah mengeluarkan si pezina dari kampungnya ketempat

lain yang paling dekat (semasafah qashar). Namun, menurut Zaid ibn Ali,

Ash Shadiq dan An Nashir, arti taghrib, adalah memenjarakannya selama

satu tahun.

15
Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur’an, Al-Qur’an dan terjemahnya Al-Mufid, h. 82
14

Umar pernah mengucilkan seorang pezina dari Madinah ke Syam.

Utsman pernah mentaghribkan pezina ke Mesir, Ibnu Unmar pernah

mengucilkan budaknya ke Fadak.

Menurut hadits Jabir, hukuman cambuk digabungkan dengan

hukuman rajam.

Mengenai rajam, seluruh ulama sepakat, kecuali ulama Khawarij dan

sebagian ulama Mu’tazilah, seperti An Nadham yang menolak hukuman

rajam ini, karena tidak tercantum di dalam Al-Qur’an.

Ahmad, Ishaq, Daud, dan Ibnul Mundzir, berpendapat bahwa

terhadap pezina muhshan mewajibkan cambuk dan rajam.

Malik, Hanafiah, Syafi’iah dan jumhur ulama tidak mencambuk

pezina muhshan, mereka merajamnya.16

2. Jarimah Perampokan (Hirabah)

a) Pengertian

Hirabah atau perampokan dapat digolongkan kepada tindak pidana

pencurian, tetapi bukan dalam arti hakiki, melainkan dalam arti majazi.

Secara hakiki pencurian adalah pengambilan harta milik orang lain secara

diam-diam, sedang perampokan adalah pengambilan secara terang-terangan

dan kekerasan. Hanya saja dalam perampokan juga terdapat unsur diam-

diam atau sembunyi-sembunyi jika dinisbahkan kepada penguasa atau

petugas keamanan. Itulah sebabnya hirabah (perampokan) diistilahkan

dengan sirqah kubra atau pencurian berat, untuk membedakan dengan

sirqah sughra atau pencurian. Istilah lain yang digunakan untuk jarimah ini
16
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Koleksi Hadis-Hadis Hukum, h. 107
15

addalah qath’u ath-thariq, seperti yang digunakan oleh Hanafiyah. Hal ini

karena tindak pidana perampokan selalu diawali dengan memotong jalan

orang lewat.

1) Menurut Hanafiyah, sebagaimana dikutip Abdul Qadir Audah, defenisi

hirabah adalah keluar untuk mengambil harta dengan jalan kekerasan yang

realisasinya menakut-nakuti orang lewat di jalan, atau mengambil harta,

atau membunuh orang.

2) Menurut Syafi’iyah, hirabah adalah ke luar untuk mengambil harta, atau

membunuh, atau menakut-nakuti, dengan cara kekerasan, dengan

berpegang kepada kekuatan dan jauh dari pertolongan (bantuan).

3) Menurut Imam Malik, hirabah adalah mengambil harta dengan tipuan

(taktik), baik menggunakan kekuatan atau tidak.

4) Golongan Zhahiriyah memberikan defenisi yang lebih umum, dengan

menyebut pelaku perampokan sebagai berikut. Perampok adalah orang yang

melakukan tindak kekerasan dan mengintimidasi orang yang lewat, serta

melakukan perusakan di muka bumi.

Imam Ahmad dan Syi’ah Zaidiyah memberikan defenisi yang sama dengan

defenisi yang dikemukakan oleh Hanafiyah, sebagaimana telah disebutkan

di atas.

b) Rukun dan Bentuk Hirabah

Bentuk-bentuk tindak pidan perampokan itu ada empat macam, yaitu

sebagai berikut.

1) Keluar untuk mengambil harta secara kekerasan, kemudian pelaku hanya

melakukan intimidasi, tanpa mengambil harta dan tanpa membunuh.


16

2) Keluar untuk mengambil harta secara kekerasan, kemudian ia

mengambil harta tanpa membunuh.

3) Keluar untuk mengambil harta secara kekerasan, kemudian ia melakukan

pembunuhan tanpa mengambil harta.

4) Keluar untuk mengambil harta secara kekerasan, kemudian ia

mengambil harta dan melakukan pembunuhan.

Apabila seseorang melakukan salah satu dari keempat bentuk tindak

pidana perampokan tersebut maka ia dianggap sebagai perampok selagi ia

keluar dengan tujuan mengambil harta dan kekerasan. Akan tetapi, apabila

seseorang keluar dengan tujuan mengambil harta, namun ia tidak

melakukan intimidasi, dan tidak mengambil harta, serta tidak melakukan

pembunuhan maka ia tidak dianggap sebagai perampok, walaupun

perbuatannya itu tetap tidak dibenarkan, dan termasuk maksiat yang

dikenakan hukuman ta’zir.17

c) Pelaku Hirabah dan Syarat-syaratnya

Al-Hirabah atau perampokan di jalan raya menurut Al-Qur’an

merupakan suatu kejahatan yang gawat. Ia dilakukan oleh satu kelompok

atau seorang yang bersenjata yang mungkin akan menyerang musafir atau

orang yang berjalan di jalan raya atau di tempat dimanapun mereka

merampas harta korbannya dengan menggunakan kekerasan bila korbannya

lari mencari pertolongan. Al-Qur’an menyebutkan “musuh Allah dan Rasul-

Nya” dan merupakan usaha menyebarluaskan kerusuhan di dunia.18

17
H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, h. 93-96
18
A. Rahman I Doi, Hudud dan Kewarisan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 64
17

Hirabah atau perampokan dapat dilakukan baik oleh kelompok

maupun perorangan (individu) yang mempunyai kemampuan untuk

melakukannya. Untuk menunjukkan kemampuan ini, Imam Abu Hanifah

dan Imam Ahmad mensyaratkan bahwa pelaku tersebut harus memiliki dan

menggunakan senjata atau alat lain yang disamakan dengan senjata, seperti

tongkat, kayu, atau batu. Akan tetapi, Imam Malik, Imam Syafi’y, dan

Zhahiriyah serta Syiah Zaidiyah tidak mensyaratkan adanya senjata

melainkan cukup berpegang pada kekuatan dan kemampuan fisik. Bahkan

Imam Malik mencukupkan dengan digunakannya tipu daya, taktik atau

strategi, tanpa penggunaan kekuatan, atau dalam keadaan tertentu dengan

menggunakan anggota badan, seperti tangan dan kaki.

Para ulama berbeda pendapat mengenai pelaku jarimah hirabah ini.

Menurut Hanafiyah, pelaku hirabah adalah setaiap orang yang melakukan

secara langsung atau tidak langsung perbuatan tersebut. Dengan demikian,

menurut mereka (Hanafiyah) orang yang ikut terjun secara langsung dalam

mengambil harta, membunuh, atau mengintimidasi termasuk pelaku

perampokan. Demikian pula orang yang ikut memberikan bantuan, baik

dengan cara permufakatan, suruhan, maupun pertolongan, juga termasuk

pelaku perampokan. Pendapat Hanafiyah ini disepakati oleh Imam Malik,

Imam Ahmad dan Zhahiriyah. Akan tetapi, Imam Syafi’i berpendapat

bahwa yang dianggap sebagai pelaku perampokan adalah orang yang secara

langsung melakukan perampokan. Sedangkan orang yang tidak ikut terjun

melakukan perbuatan, walaupun ia hadir di tempat kejadian, tidak dianggap

sebagai pelaku perampokan, melainkan hanya sebagai pembantu yang

diancam dengan hukuman ta’zir.


18

Untuk dapat dikenakan hukuman had, pelaku hirabah disyaratkan

harus mukalaf, yaitu balig dan berakal. Di samping itu, Imam Abu Hanifah

juga mensyaratkan pelaku hirabah harus laki-laki dan tidak boleh

perempuan. Dengan demikian, apabila di antara peserta pelaku hirabah

terdapat seorang perempuan maka ia tidak dikenakan hukuman had. Akan

tetapi, Imam Ath-Thahawi menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki

dalam tindak pidana ini sama statusnya. Begitupun dengan Imam Malik,

Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Zhahiriyah, dan Syi’ah Zaidiyah, mereka tidak

membedakan antara pelaku laki-laki dan perempuan, seperti halnya dalam

jarimah hudud yang lain.

Persyaratan lain menyangkut jarimah hirabah ini adalah persyaratan

tentang harta yang diambil. Secara global, syarat tersebut adalah barang

yang diambil harus tersimpan (muhraz), mutaqawwim, milik orang lain,

tidak ada syubhat, dan memenuhi nishab. Imam Malik berpendapat, dalam

jarimah hirabah tidak disyaratkan nishab untuk barang yang diambil.

Pendapat ini diikuti oleh sebagian fuqaha Syafi’iyah. Imam Ahmad dan

Syi’ah Zaidiyah berpendapat bahwa dalam jarimah hirabah juga berlaku

nishab dalam harta yang diambil oleh semua pelaku secara keseluruhan, dan

tidak memperhitungkan perolehan perorangan. Imam Abu Hanifah dan

sebagian Syafi’iyah berpendapat bahwa perhitungan nishab bukan secara

keseluruhan pelaku, melainkan secara perorangan.19

d) Hukuman (uqubah) Jarimah Hirabah

Al-Qur’an menjelaskan bahwa perampokan itu adalah kejahatan

besar, dan hukumannya ditetapkan dalam berikut ini:


19
H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, h. 96-97
19

        


        
            
     

Terjemahannya:
“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi
Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi hanyalah
dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan
bersilang, atau dibuang dari negeri (kediamannya). Yang sedemikian itu
(sebagai) suatu penghinaan bagi mereka di dunia, sedangkan di akhirat
(kelak) mereka peroleh siksaan yang besar.” (Q.S Al-Maidah (5):33)

Sebab-sebab turunnnya ayat ini, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa

beberapa orang dari suku Ukul datang menghadap Nabi SAW di Madinah

pura-pura bahwa mereka akan memeluk Islam. Mereka mengeluh kepada

Nabi SAW bahwa cuaca di Madinah tidak cocok bagi mereka sehingga

mereka mengalami gangguan kesehatan. Karena itu Nabi SAW

memerintahkan agar mereka dibawa keluar Madinah untuk tinggal di

tempat yang lebih baik bagi mereka dan minum susu dari sapi milik negara.

Mereka membunuh piaraannya dan melarikan diri dengan membawa sapi

tersebut. Ketika hal itu dilaporkan kepada Nabi SAW, beliau

memerintahkan agar mereka ditangkap dan dibawa kembali. Wahyu ini

kemudian turun pada saat ini (ketika Nabi SAW memberi perintah).

Hirabah atau perampokan bukan hanya suatu pelanggaran terhadap

manusia dan masyarakat, melainkan berdasarkan ayat Al-Qur’an diatas,

seakan-akan merupakan suatu pernyataan perang terhadap Allah dan Rasul-

Nya dengan menggunakan kekerasan. Perang kepaa masyarakat dapat

mengakibatkan kekacauan, kekalutan, dan hilangnya rasa aman. Maka


20

perang terhadap Allah dan Rasul-Nya jauh lebih gawat dan termasuk

pemberontakan nyata terhadap prinsip-prinsip keseimbangan dan keadilan

yang mapan serta rasa penghormatan bagi semua. Setiap orang yang

mengganggu atau mengacau tatanan hidup itu adalah pelanggar hukum dan

patut menerima hukuman yang berat.20

1) Menakut-nakuti orang di jalan tanpa mengambil harta atau

membunuh orang. Jika perampok hanya menakut-nakuti orang di jalan

dan tidak membunuh, atau mengambil harta, hukumannya adalah

pengasingan, yaitu dalam konsep Al-Qur’an. Ulama berbeda pendapat

tentang pengasingan, menurut sebagian ulama, pengasingan yang

dimaksudkan oleh firman Allah tersebut adalah dihilangkan dari muka bumi

dengan dibunuh atau disalib. Sebagian yang lain, mengatakan diusir dari

negara Islam. Menurut ulama Malikiyah, mengasingkan berarti

memenjarakan pelaku. Pendapat ini diperpegangi oleh ulama Hanafiyah dan

juga Syafi’iyah sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal mengasingkan adalah

mengusir dari kota, ia tidak diperkenankan kembali sampai ia jelas-jelas

bertaubat. Perbedaan ulama tentang hukuman pengasingan itu berkaitan

dengan lama dan bentuknya bukan pada eksistensinya. Sehingga ada yang

berpendapat pengasingan itu dibuang di luar daerah, sebagian mengatakan

di penjara, karena kedua-duanya (penjara dan dibuang keluar daerah)

hakikatnya adalah pengasingan. Mengenai jangka waktunya tidak

dijelaskan secara jelas dalam ayat itu (Al-Maidah/5: 33), sehingga sebagian

besar berpendapat disesuaikan dengan lamanya hukuman pembuangan bagi

tindak pidana zina. Dihukum seberat itu, karena pelaku telah membuat

20
A. Rahman I Doi, Hudud dan Kewarisan, h. 64-66
21

kekacauan dalam masyarakat, menteror, memprovokasi, membuat

instabilitas dalam masyarakat.

2) Mengambil harta. Menurut Imam Abu Hanifah, Asy-Syafi’iyah,

Ahmad bin Hanbal dan ulama Syi’ah Zaidiyah, jika merampok hanya

mengambil harta tidak membunuh, maka pelaku dihukum dengan hukuman

potong tangan dan kaki secara bersilang. Untuk tercapainya potongan

secara bersilang, pemotongan tangan dan kaki dilakukan secara bersamaan.

Tidak perlu menunggu sembuh dulu tangan baru kaki, karena hukuman itu

merupakan satu kesatuan.

Perbuatan pelaku berdampak psikologis yang sangat luar biasa berubah

menjadi trauma seumur hidup, dan perbuatan pelaku sangat mengganggu

ketentraman masyarakat sehingga berdampak pada masyarakat tidak

melakukan aktivitas di luar rumah. Pemberian hukuman yang berlipat

ganda itu tidak hanya ada dalam hukum pidana Islam, tetapi juga bisa

ditemukan dalam hukum pidana nasional, dapat dilihat pada pasal 362 KUH

Pidana sebagai berikut;

“Barang siapa yang mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau

sebagian kepunyaan orang dengan maksud untuk dimiliki secara melawan

hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana pen1ara paling lama 5

tahun atau denda paling banyak Rp. 65.000,00.”

Penjara 5 tahun bagi kejahatan pencurian itu bisa dilipatgandakan menjadi

15 tahun penjara apabila perbuatan tersebut mengakibatkan kematian atu

mengakibatkan luka berat (Pasal 365 (3), bahkan hukuman penjara itu dapat

ditambah menjadi lebih lama sehingga mencapai 20 tahun apabila

perbuatan tersebut secara kelompok, seperti pasal 365 ayat (4))


22

3) Hanya membunuh. Jika pemberontak tidak membunuh tidak

mengambil harta, maka pemberontak akan dijatuhi hukuman mati tanpa ada

salib. Hukuman mati ini bagi pelaku hirabah yang membunuh tidak

mengambil harta merupakan hukuman hudud bukan hukuman qisas. Pelaku

hirabah dalam hal ini tidak dapat di maafkan, karena kejahatan pembunuhan

itu dilakukan di jalan umum dan berkaitan dengan kejahatan gangguan

keamanan. Meskipun pembunuhan itu sendiri masuk ke dalam kategori

hukum qisas dapat saja terjadi di luar rumah, tetapi pembunuhan pada

jarimah qisas itu tidak berkaitan dengan gangguan keamanan. Pembunuhan

itu terjadi berkaitan dengan hirabah, hanya mungkin tidak mengambil harta

karena belum sempat mengambilnya berbagai kemungkinan lain, situasi

terdesak dan seterusnya.

4) Membunuh dan mengambil harta. Pelaku hirabah yang membunuh

dan mengambil harta, maka ia dijatuhkan hukuman mati dan disalib dan

tanpa disertai hukuman potong organ tubuh. Ulama berbeda pendapat

dalam pelaksanaan hukuman mati dan sekaligus hukuman salib, sebagian

mengatakan hukuman salib didahulukan, kemudian hukuman mati. Imam

Abu Hanifah lebih condong pada pendapat pertama ini. Sebagian lagi

mengatakan bahwa sebaiknya hukuman mati didahulukan kemudian

hukuman salib. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat

sebaliknya yaitu pendapat kedua. Mereka beralasan pada ayat Al-Qur’an

yang mendahulukan hukuman mati baru disalib. Dalam pasal 365 (4)

menjelaskan diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup

atau selama waktu tertentu pakling lama 20 tahun, jika perbuatan


23

mengakibatkan luka berat atau kematian, oleh dua orang atau lebih dengan

bersekutu meskipun tanpa menyebut disalib.21

3. Jarimah Murtad (Riddah)

a) Pengertian

Riddah artinya kembali, kembali dari agama Islam kepada kekafiran,

baik dengan niat, ucapan, maupun tindakan, baik dimaksudkan dengan

senda gurau atau dengan sikap permusuhan maupun karena suatu

keyakinan. Orang murtad berarti orang yang keluar dari agama Islam

kepada kekafiran. Yang dimaksud keluar dari agama Islam menurut para

ulama, bisa dilakukan dengan perbuatan yaitu perbuatan yang haram atau

meninggalkan perbuatan yang wajib dengan mengganggapnya perbuatan

yang tidak wajib, misalnya sujud kepada matahari atau melakukan

perbuatan zina engan mengganggap zina bukan perbuatan yang haram.

Murtad dengan ucapan adalah ucapan yang menunjukkan kekafiran, seperti

menyatakan bahwa Allah punya anak dengan anggapan bahwa ucapan

tersebut tidak dilarang. Sedangkan murtad dengan itikad adalah itikad yang

tidak sesuai dengan itikad (akidah) Islam, seperti beritikad Allah sama

dengan makhluk. Tetapi itikad semata-mata tidak menyebabkan seseorang

menjadi kufur sebelum dibuktikan dalam bentuk ucapan atau perbuatan.

Nas Al-Qur’an berkaitan dengan murtad itu adalah QS Al-Baqarah/2: 217;

           
        
           
        

21
Hamzah Hasan, Hukum Pidana Islam I, (Makassar: Alauddin University Press, 2014), h. 98-101
24

         
         
  

Terjemahannya:

“Mereka bertanya padamu tentang berperang pada bulan Haram.


Katakanlah: “Berperang alam bulan itu adalah dosa besar, tetapi
menghalangi manusia dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi
masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih
besar dosanya di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya)
daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu
sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada
kekafiran) seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di
antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka
itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah
penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

b) Unsur-unsur Riddah

1) Keluar dari agama Islam, indikator keluar dari agama Islam di antaranya

menganggap halal yng diharamkan oleh Allah SWT.

2) Ada itikad baik (melawan hukum), artinya seluruh sikap, perbuatan,

perkataan, dan keyakinan yang membawa seseorang dari Islam itu,

diketahuinya secara pasti oleh bersangkutan bahwa yang diingkarinya itu

adalah benar.

c) Hukuman (uqubah) Jarimah Hirabah

Islam memberikan hukuman yang sangat berat bagi pelaku murtad,

sebab perbuatannya dapat memporakporandakan dan mengakibatkan


25

perpecahan dalam masyarakat, demi ketenteraman dan kelestarian

kehidupan mayarakat, pelakunya harus dihukum berat.22

Hukuman bagi orang murtad disebut dalam hadits Nabi SAW, yang

terjemahannya:

Diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah SAW telah bersabda,

yang terjemahannya: “Barangsiapa yang menukar agama (dari Islam

kepada agama lain) maka bunuhlah dia.” (H.R Bukhari).

Hukuman mati dalam kasus orang murtad telah disepakati tanpa

keraguan lagi oleh empat mazhab hukum Islam. Namun kalau seseorang

dipaksa mengucapkan sesuatu yang murtad, maka dalam keadaan demikian

dia tidak dihukumi murtad. Al-Qur’an mengatakan:

          
         
   

Terjemahannya:

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia


mendapat kemurkaan (Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal
hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi
orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan
Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”23

Eksekusi hukuman bagi orang murtad, terlebih dahulu harus diberi

kesempatan untuk bertobat. Waktu yang disediakan baginya untuk bertobat

itu adalah 3 (tiga) hari 3 (tiga) malam menurut Imam Malik. Tetapi menurut

Imam Abu Hanifah ketentuan waktu untuk bertobat diserakhkan kepada ulil

amri, dan batas itu paling lambat 3 (tiga) 3 (tiga) malam. Ketentuan

tobatnya orang murtad sudah cukup dengan mengucapkan dua kalimat


22
Hamzah Hasan, Hukum Pidana Islam I, h. 101-103
23
A. Rahman I Doi, Hudud dan Kewarisan, h. 92-93
26

syahadat, selain itu iapun harus mengakui bahwa apa yang dilakukannya

ketika murtad bertentangan dengan agama Islam.24

Dikisahkan oleh Ibn Abbas bahwa orang-orang musyrik menangkap

Ammar bin Yasir, ayahnya, ibunya yang bernama Sumayyah, Shuhayb,

Bilal dan Khabbab untuk disiksa. Sumayyah diikat diantara dua unta yang

di depannya telah disiapkan tombak. Kepadanya dikatakan, “Engkau masuk

Islam karena lelaki itu (Muhammad).” Lalu dia dibunuh, dan demikian juga

suaminya, adapun Ammar ternyata mengikuti paksaan mereka untuk

menyatakan kekafirannya. Dia kemudian menyampaikan hal itu kepada

Nabi SAW. Lalu Nabi Muhammad SAW bertanya kepadanya, “Bagaimana

keadaan hatimu?”, Ammar menjawab, “Hatiku tetap teguh pada keimanan

agama Islam.” Nabi SAW bersabda, “Apabila mereka mendatangi kembali,

maka katakanlah seperti itu lagi.”25

Pada masa kekhalifahan Abu Bakr tersebut predikat sebagai golongan

riddah ditujukan pula kepada orang-orang yang status keislamannya masih

diperselisihkan. Waktu itu, golongan riddah mencakup orang-orang yang

enggan membayar zakat atau mereka yang nyata-nyata telah keluar dari

Islam, serta mereka yang sebenarnya belum menyatakan masuk Islam

sepenuhnya.26

Hukuman pengganti, jika hukuman pokok tidak dapat dilaksanakan,

hukuman pengganti itu berupa hukuman takzir. Dan hukuman tambahannya

adalah dirampas hartanya seta hilang haknya yntyl (bertasharuf) mengelola


24
Hamzah Hasan, Hukum Pidana Islam I, h. 103-104
25
Ahmad Choirul Rofiq, Benarkah Islam Menghukum Orang Murtad? (Kajian Historis tentang Perang
Riddah dan Hubungannya dengan Kebebasan Beragama) (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2010), h. 23
26
Ahmad Choirul Rofiq, Benarkah Islam Menghukum Orang Murtad? (Kajian Historis tentang Perang
Riddah dan Hubungannya dengan Kebebasan Beragama), h. 24
27

hartanya. Ulama berbeda pendapat tentang harta orang murtad yang

meninggal dunia, menurut Imam Malik, Syafi’i dan Imam Ahmad, harta

orang murtad menjadi harta musyi yaitu tidak dapat diwariskan baik kepada

muslim maupun kepada non muslim. Menurut ulama lain harta itu menjadi

milik pemerintah dan menjadi harta fay’. Menurut mazhab Hanafi, jika

harta itu didapat pada saat dia muslim maka diwariskan kepada ahli

warisnya yang muslim, dan kalau harta itu didapatkan pada saat ia murtad,

maka hartanya menjadi milik pemerintah. Meskipun mayoritas ulama

sepakat tentang hukuman bagi pelaku murtad adalah dibunuh, tentu saja

setelah terlebih dahulu dilakukan upaya menyadarkan agar kembali

bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar. Tetapi ada juga

ulama seperti Mahmud Syaltut bahwa sanksinya diserahkan kepada Allah,

tidak ada sanksi duniawi atasnya. Alasan bagi ulama ini adalah Al-Qur’an

hanya menyebut kesia-siaan amal kebaikan orang murtad dan sanksi akhirat

adalah kekal dalam neraka. Alasan lainnya kekafuran sendiri tidak

menyebabkan bolehnya orang dihukum mati, sebab yang membolehkan

hukuman mati bagi orang kafir itu adalah karena memerangi dan memusuhi

orang Islam.

Di Indonesia, kebebasan memeluk agama di atur dalam UUD 1945

BAB XA tentang Hak Asasi Manusia Pasal 28E ayat (1) dan (2).

(1) Setiap orang berhak memeluk agama dan beribadat menurut agamanya,

memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih

kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan

meninggalkannya, serta berhak kembali.


28

(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan,

menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.27

Hal ini diatur pula dalam UUD 1945 BAB XI tentang Agama Pasal

29 ayat (1) dan (2).

(1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk

agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan

kepercayaannya itu.28

C. Hukuman di Akhirat bagi yang telah di Hukum di Dunia

1) Pengertian pertanggungjawaban pindana

Pertanggungjawaban pidana hukum pidana Islam ialah pembebanan

seseorang dengan akibat perbuatan atau tidak adanya perbuatan yang

dikerjakannya dengan kemauan sendiri, dimana orang tersebut mengetahui

maksud dan akibat dari perbuatannya itu. Pertanggungjawaban pidana ditegakkan

atas tiga hal, yaitu:

a) Adanya perbuatan yang dilarang

b) Dikerjakan dengan kemauan sendiri

c) Pelakunya mengetahui akibat perbuatan tersebut.

Apabila terdapat tiga keadaan tersebut maka terdapat pula

pertanggungjawaban pidana, apabila tidak terdapat, maka tidak ada pula

pertanggungjawaban pidana. Karena itu orang gila, anak dibawah umur atau orang

27
Redaksi Sinar Grafika, UUD 1945 Hasil Amandemen dan Proses Amandemen UUD 1945 Secara
Lengkap, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), h. 21-22
28
Redaksi Sinar Grafika, UUD 1945 Hasil Amandemen dan Proses Amandemen UUD 1945 Secara
Lengkap, h. 24
29

yang dipaksa dan terpaksa di bebani pertanggungjawaban pidana, sebab dasar

pertanggungjawaban pada kelompok tersebut itu tidak ada. Pembebasan

pertanggungjawaban terhadap mereka ini didasarkan kepada hadis Nabi dan Al-

Qur’an. Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu

Daud disebutkan,

“Dari Aisyah ra. Ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw, yang terjemahannya:

dihapuskam ketetentuan dari tiga hal, dari orang yang tidur sampai ia bangun,

dari orang gila sampai ia sembuh, dari anak kecil dampai ia dewasa.”

Berbeda dengan hukum positif pada masa-masa sebelum revolusi

Perancis, setiap orag bagaimnapun keadaannya bisa dibebani pertanggungjawaban

pidana, tanpa membedakan apakah orang tersebut mempunyai kemauan sendiri

atau tidak, sudah dewasa atau belum. Bahkan binatang dan benda mati bisa

dibebani pertanggungjawaban pidana, apabila menimbulkan kerugian pada pihak

lain. Kematian juga tidak bisa menghindarkan seseorang dari pemeriksaan

pengadilan dan hukuman. Demikian juga seseorang harus

mempertanggungjawabkan perbuatan orang lain, meskipun orang tersebut tidak

tahu menahu dan tidak ikut serta mengerjakannya. Baru setelah revolusi Perancis

itu setelah didahului oleh timbulnya aliran tradisionalisme dan aliran-aliran

lainnya, pertanggungjawaban pidana itu hanya dibebankan kepada seseorang yang

masih hidup yang memiliki pengetahuan dan pilihan.

2) Pembebanan Pertanggungjawaban Pidana

Orang yang bertanggung jawab atas suatu kejahatan adalah orang yang

melakukan kejahatan itu sendiri dan bukan orang lain. Berdasarkan ketentuan ayat

Al-Qur’an. Antara lain:


30

             
           
          
 

Terjemahannya:

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika
seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya
itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya
itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri perungatan hanya
orang-orang yang takut pada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-
Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang menyucikan
dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan
kepada Allahlah tempat kembali (mu).” (QS Al-Fathir/35:18)29

Kemudian QS An-Najm/53:39-42;

             
       

Terjemahannya:

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain dari apa yang
telah diusahakannya. Dan bahwa usahanya kelak akan dilihat. Kemudian akan
diberi balasannya dengan balasan yang sempurna dan bahwa kepada
Tuhanmulah kesudahan”.

Dan disamping seseorang tidak akan memikul dosa dan mudharat yang

dipikul oleh orang lain, ia pun tidak akan meraih manfaat dari amalan baiknya,

karena itu di sana juga ada keterangan bahwa seorang manusia tiada memiliki

selain dari apa yang telah diusahakannya. Dan bahwa usahanya yang baik ayau

yang buruk tidak akan dilenyapkan Allah, tetapi kelak akan dilihat dan

diperlihatkan kepadanya, sehingga ia akan berbangga dengan amal baiknya dan

29
Hamzah Hasan, Hukum Pidana Islam I, h. 171-173
31

ingin menjauh dari amal buruknya. Kemudian akan diberi balasannya yakni amal

itu dengan balsan yang sempurna. Kalau baik akan dilipatgandakan Allah, dan

kalau buruk tidak dimaafkan Allah maka dibalas sempurna kesetimpalannya, dan

di samping itu termaktub juga di sana bahwa kepada Tuhanmulah saja, tidak

kepada selain-Nya kesudahan dan awal segala sesuatu.30

Perolehan syafaat, atau doa dan istighfar yang diperoleh seseorang dari
pihak lain, merupakan bagian dari buah amalnya, yakni keimanan kepada Allah
swt., karena tanpa keimanan itu maka ia tidak akan memperoleh syafaat, tidak
juga akan di doakan atau diterima dia yang dipanjatkan kepada Allah untuknya.
Dalam konteks upaya itulah Rasulullah SAW bersabda, yang terjemahannya:
“Apabila mati salah seorang putra Adam, maka terputuslah amalnya kecuali
dari tiga sumber, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat serta anak saleh yang
mendoakannya” (HR. Muslim melalui Abu Hurairah r.a)31

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi, yang terjemahannya:

“Tidak pernah Aku murka kepada seseorang seperti murka-Ku kepada hamba
yang telah melakukan ma’siat yang dipandang oleh dirinya sendiri sebagai dosa
besar, dan berputus asa dari ampunan-Ku. Sekiranya Aku menyegerakan
hukuman atau sifat-Ku suka tergopoh-gopoh, pasti Kusegerakan hukuman itu
terhadap orang-orang yang berputus asa dari rahmat-Ku. Dan sekiranya Aku
belum memberi rahmat kepada hamba-hambaKu, melainkan karena takutnya
mereka berdiri di hadapan-Ku, sudah barang tentu Aku mengucapkan terima
kasih kepada mereka dan Aku jadikan pahala mereka itu di antaranya ialah rasa
aman di kala semestinya mereka merasa ketakutan.” (HQR Rafi’i fari Najih bin
Muhammad bin Muntaji’ dari datuknya)

Dalam Hadits di atas dapat kita ambil beberapa kesimpulan.

30
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati,
2007), h. 433
31
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, h. 434
32

1. Allah swt. memang betul-betul luas rahmat dan kasih sayang-Nya. Dia tidak

mudah menjatuhkan hukuman dan siksaan kepada hamba-Nya. Dia

membukakan pintu taubat selebar-lebarnya. Barangsiapa yang merasa

melakukan kesalahan kepada Allah swt., segeralah rujuk kepada-Nya dan

taubat dengan penuh keyakinan, pasti diterima Allah taubatnya.

2. Sifat terburu-buru dan tergesa-gesa bukan sifat Allah swt. Sifat-sifat itu

adalah sifat iblis dan syaitan. Karena itu kita manusia tidak boleh bersifat

terburu-buru dan tergesa-gesa, agar kita tidak termasuk golongan syaitan.

Segala tindakan yang dilakukan perlu dipertimbangkan semasak-masaknya

diselidiki sedalam-dalamnya, sehingga keputusan atau hukuman yang akan

diambil telah diperhitungkan akibatnya.

3. Uqubah atau hukuman Allah pada pokoknya ada dua: yaitu hukuman yang

dilaksanakan dalam dunia ini atau ditangguhkan ke alam akhirat kelak.

Hukuman yang dilaksanakan di dalam dunia, mungkin langsung

ditangguhkan beberapa hari, minggu, bulan, atau tahun. Hukuman atau

siksaan yang ditangguhkan mungkin dimaksudkan, untuk memberi tempo

kepada yang bersangkutan untuk bertaubat. Apabila sudah tepat waktunya,

baru hukuman itu dijatuhkan dan hukuman itu akan binasa.

Adapun hukuman Allah di dunia berbentuk: (a) penyakit, mulai yang sekecil-

kecilnya seperti tertusuk duri atau jarum, sampai yang sebesar-besarnya

seperti lepra, TBC, jantung, penyakit jiwa dan sebagainya (b) duka cita,

kesulitan dan kesukaran, banyak hutang, dan sebagainya.

4. Sifat putus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar (al-kabair) yang pantas

dengan segera mendapat hukuman dan siksaan Allah. Meskipun demikian,

Allah tidak segera menjatuhkan hukuman dan siksaan terhadapnya, karena


33

sifat tergesa-gesa bukanlah sifat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang.32

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Thabathaba’i menulis bahwa: “Tidak ada sesuatu pun yang maujud dalam

wujud ini, kecuali berakhir wujud dan dampak-dampak wujudnya pada Allah, baik

tanpa maupun melalui perantara. Tidak ada juga suatu pengaturan, atau sistem yang

berlaku secara juz’i (rinci) atau kulli (global), kecuali berakhir pula kepada Allah swt.,

karena sesungguhnya pengaturan yang terjadi antara semua hal lain, kecuali akibat

keterikatan satu dengan yang lain, sedang Pencipta segala sesuatu itu adalah Dia yang

juga mengatur keterikatannya satu sama lain. Dengan demikian, awal dan kesudahan

segala sesuatu adalah Allah swt. Allah berfirman:

          

Terjemahannya:

“Ingatlah, hanya milik-Nya wewenang mencipta dan memerintah. Maha Suci Allah ,
Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf/7: 54)33

32
K.H.M Ali Usman, H.A.A Dahlan, H.M.D Dahlan, Hadits Qudsi (Bandung: Diponegoro, 2008), h. 363-36

33
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati,
2007), h. 434-435
34

Pada dasarnya, segala sesuatu yang terjadi di dunia maupun di akhirat adalah

merupakan kehendak Allah SWT. Sesuatu itu dapat berupa kebaikan, maupun

keburukan. Keburukan itu semata-mata atas perbuatan tangan kita sendiri seperti

yang banyak dijelaskan-Nya dalam Al-Qur’an. Sebaliknya, kebaikan pasti bersumber

dari dzat yang Maha Baik, Allah. Dan jika kita bersungguh-sungguh melakukan

kebaikan atau keburukan, Insya Allah kita akan mendapatkan balasan atasnya baik di

dunia maupun di akhirat. Balasan itu dapat meliputi hukuman, peringatan, maupun

musibah. Dari kesemuanya itu sebenarnya kita kembali diyakinkan bahwa Allah

adalah pemegang kehendak tertinggi atas miliknya dan ciptaannya yakni langit, bumi,

dunia serta akhirat.

B. Saran

Sepenuhnya penulis sadari makalah ini masih sangat jauh dari kesempuranaan.

Oleh karenanya, saran dan kritik sangat diharapkan kedatangannya dari para pembaca

untuk perbaikan dalam tulisan-tulisan selanjutnya.


35

DAFTAR PUSTAKA

Choirul Rofiq, Ahmad. 2010. Benarkah Islam Menghukum Orang Murtad? (Kajian
Historis tentang Perang Riddah dan Hubungannya dengan Kebebasan
Beragama). Ponorogo: STAIN Ponorogo Press

Hasan, Hamzah. 2014. Hukum Pidana Islam I, Makassar: Alauddin University Press

I Doi, A. Rahman. 1996. Hudud dan Kewarisan, Jakarta: Raja Grafindo Persada

K.H.M Ali Usman, H.A.A Dahlan, dan H.M.D Dahlan. 2008. Hadits Qudsi, Bandung:
Diponegoro

Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Teungku. 2001. Koleksi Hadis-Hadis Hukum,


Semarang: Yayasan Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy

Quraish Shihab, M. 2007. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an,
Jakarta: Lentera Hati

Redaksi Sinar Grafika. 2013. UUD 1945 Hasil Amandemen dan Proses Amandemen UUD
1945 Secara Lengkap, Jakarta: Sinar Grafika

Soimin, Soedharyo. 2014. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta: Sinar Grafika
36

Wardi Muslich, H. Ahmad. 2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta: Sinar Grafika

Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur’an. 2013. Al-Qur’an dan terjemahnya Al-


Mufid, Solo: Tiga Serangkai