Anda di halaman 1dari 12

Joko Tri Haryanto

DINAMIKA KERUKUNAN INTERN UMAT ISLAM


DALAM RELASI ETNISITAS DAN AGAMA DI KALTENG

The Dynamics of Intra-Religious Harmony


Within Moslems in Relation Ethnic Religious Issue
In Central Kalimantan

JOKO TRI HARYANTO

Joko Tri Haryanto Abstrak


Balai Penelitian dan Pengembangan
Agama Islam dianut oleh sebagian besar penduduk Kalimantan Tengah yang terdiri
Agama Semarang
Jl. Untung Suropati Kav. 70 dari berbagai etnis seperti Dayak, Banjar, Jawa, Madura, dan lainnya. Penelitian
Bambankerep, Ngaliyan, Semarang ini mengkaji dinamika hubungan intern umat Islam dalam konteks relasi etnisitas
Telp. 024-7601327 Fax. 024- dan agama di Kalimantan Tengah. Permasalahannya adalah bagaimana dinamika
7611386 hubungan inten umat Islam, faktor pendukung kerukunan, dan strategi adaptasi
e-mail: jejakagama@yahoo.co.id
membangun harmoni di Kalimanta Tengah. Penelitian ini dilaksanakan dengan
Naskah diterima: 6 Februari 2013
Naskah direvisi: 22 Pebruari - pendekatan kualitatif dimana pengumpulan data dilakukan melalui wawancara,
3 Maret 2013 observasi, Focus Group Discussion (FGD), dan telaah dokumen. Hubungan intern
Naskah disetujui: 5 Maret 2013 umat Islam di Kalimantan Tengah diwarnai dengan tanggapan terhadap konflik etnis
tahun 2001 antara Etnis Dayak dan Madura. Faktor yang mendukung kerukunan
yang tercapai saat ini antara lain adanya daya tawar budaya, simbiosisme ekonomi,
peran tokoh masyarakat, dan peran pemerintah. Adapun strategi adaptasi yang
dilakukan untuk memelihara harmoni dilakukan secara kultural dengan revitalisasi
dan akulturasi budaya dan nilai-nilai lokal, serta secara struktural dengan politik
uniformitas baik yang dilakukan oleh pranata Adat Dayak maupun pemerintah
Kalimantan Tengah.
Kata kunci: Kerukunan, Budaya Dominan, Politik Uniformitas, Strategi Adaptasi

Abstract
Islam is professed by the majority of people in Central Kalimantan who consists of
various ethnic groups such as the Dayak, Banjar, Javanese, Madurese, and others.
This study discusses about the dynamics of internal relationship among Muslim in
the context of the relationship of ethnicity and religion in Central Kalimantan. The
problems are how the dynamics of the internal relationship amongst Muslims in Central
Kalimantan and what factors are supporting to the reconciliation and adaptation
strategies to build harmony amongst them. This research was carried out with the
qualitative approach in which data were collected through interviews, observation,
Focus Group Discussions (FGD), and document review. The results of the study show
that the internal relations among Muslims in Central Kalimantan was coloured by the
responses to the ethnic conflict in 2001 between Dayaknese and Madurese. The study
can also reveal that the factors which support to the achieved-harmony today are
include the bargaining power of the culture, economic simbiosism, the roles of both
community leaders and the local goventment. The adaptation strategies carried out
to maintain the harmony were conducted in two ways: culturally (revitalizing and
acculturating cultures and local values) and structurally (political uniformity which
is performed not only by the social institution of Dayaknese but also by the local
government of Central Kalimantan).
Keywords: Harmony, Dominant Culture, Politics Uniformity, Adaptation Strategies

Jurnal “Analisa” Volume 20 Nomor 01 Juni 2013 13


Dinamika Kerukunan Intern Umat Islam Dalam Relasi Etnisitas Dan Agama Di Kalteng

Pendahuluan aspek yang lain. Suatu ormas Islam bisa saja di-
ikuti oleh berbagai etnis, berbagai kelompok pro-
Latar Belakang
fesi, maupun memiliki beberapa aktifitas sosial,
Kebhinekaan yang menjadi ciri khas Bangsa ekonomi, atau politik. Demikian juga dimung-
Indonesia merupakan kekayaan sosial budaya kinkan ada ormas yang anggotanya merupakan
yang luar biasa. Kenyataannya Bangsa Indonesia bagian dari anggota ormas-ormas yang lain.
bukan saja Bhineka dalam suku, agama, dan ras, Konfigurasi lintas ini tentu dapat membangun di-
tetapi juga tingkat evolusi kebudayaannya, mulai namika yang positif dalam hubungan antarumat
dari masyarakat sangat sederhana sampai paling Islam sendiri. Dengan adanya keanggotaan silang
kompleks (Hikam, 2000:14). Kebinekaan ini di dalam kelompok-kelompok di masyarakat, maka
satu sisi menjadikan hubungan simbiosis mutu- interaksi antarkelompok bisa terjadi secara lebih
alisme antar segmen masyarakat dapat terjalin, intens dalam konfigurasi tersebut.
sebagai struktur fungsional dalam kehidupan
Namun demikian, konfigurasi umat Islam
sosial. Namun, kebinekaan juga disadari da-
tidak dipungkiri juga menjadi potensi pemilahan
pat menjadi sumber konflik yang akan merusak
sosial yang rawan konflik. Segregasi sosial akibat
sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bermasya-
pemilahan ini memungkinkan munculnya batas-
rakat, apabila tidak dikelola oleh anggota masya-
batas budaya (cultural boundaries). Perasaan
rakat dengan baik.
kelompok bisa terbangun dalam bentuk senti-
Individu-individu dalam masyarakat dengan men kelompok ormas, maupun kelompok etnis
konfigurasi pemilahan sosial yang terkonsolidasi yang semakin mempertegas batas-batas tersebut.
cenderung lebih mudah melakukan subyektivi- Batas-batas budaya ini apabila mengalami ke-
tas konflik. Mereka juga lebih mudah untuk me- tegangan maka dapat berpotensi menjadi konflik
nerjemahkan konflik yang menyangkut kondisi antarkelompok. Namun sebaliknya, batas-batas
obyektif (objective conflict) menjadi konflik yang budaya ini dapat menjadi cair dan lentur oleh
menyangkut pribadi (subjective conflict), misal- karena intensitas interaksi, penerimaan, dan tole-
nya konflik mengenai persoalan ekonomi atau ransi satu kelompok atas kelompok yang lain.
kriminal biasa berkembang menjadi konflik et-
Bercermin dari pengalaman di Kalimantan
nik atau konflik agama, baik konflik antar agama
Tengah yang pernah mengalami konflik sosial,
yang berbeda (inter-religious conflict) maupun
yakni antar suku Dayak dan Madura, ternyata
konflik antar umat satu agama (intra-religious
masyarakat memiliki strategi adaptasi yang baik
conflict) (Tumanggor et.al, 2009:11-12).
dalam rangka penyelesaian konflik. Masyarakat
Umat Islam juga mengalami pemilahan so- Kalimantan Tengah berhasil dengan cepat memu-
sial. Oleh karena pemahaman keagamaan, etnisi- lihkan situasi, bahkan merehabilitasi hubungan
tas pemeluknya, afiliasi organisasi kemasyarakat- lebih cepat dari wilayah lainnya, misalnya konflik
an, bahkan aspirasi politik. Suatu pemahaman di Kalimantan Barat yang juga melibatkan etnis
keagamaan dapat pula mendorong munculnya Madura (Cahyono, 2008). Hal ini diharapkan
gerakan keagamaan atau menjadi kelompok dapat menjadi model kerukunan di masyarakat,
keagamaan tertentu yang membedakan dirinya maupun penyelesaian konflik sosial, khususnya
dengan kelompok pemahaman yang lain. Ormas kerukunan intern umat Islam dalam berbagai
atau organisasi kemasyarakatan bisa muncul konfigurasi sosialnya.
membawa aspirasi pemahaman keagamaan, ak-
Rumusan Masalah
tivitas keagamaan, aktivitas sosial dan ekonomi,
maupun politik tertentu. Berangkat dari latar belakang tersebut, maka
permasalahan penelitian ini dirumuskan dalam
Konfigurasi umat Islam yang semacam ini
beberapa pertanyaan:
juga dapat saja saling kelindan satu aspek dengan

14 Jurnal “Analisa” Volume 20 Nomor 01 Juni 2013


Joko Tri Haryanto

1. Bagaimana dinamika hubungan intern umat terhadap persoalan yang melingkupi dirinya. In-
Islam di Kalimantan Tengah? ternumat Islam adalah bagian-bagian dari struk-
tur sosial masyarakat yang memeluk agama Is-
2. Apa faktor pendukung kerukunan di Kaliman-
lam, dan kaitannya dengan masyarakat muslim
tan Tengah?
atau umat Islam sebagai bagian dari identitas
3. Bagaimana strategi masyarakat dalam men- diri yang mencakup identitas etnis dan identitas
jaga harmoni di Kalimantan Tengah? organisasi sosial. Dengan demikian penelitian
Tujuan dan Kegunaan Penelitian ini tentang kondisi yang dinamis dari hubungan
antarelemen dalam masyarakat Islam atau inter-
Hasil penelitian ini bertujuan untuk
numat Islam, yakni yang berada di Kalimantan
mendeskripsikan dinamika hubungan intern
Tengah.
umat Islam, faktor pendukung kerukunan intern-
umat Islam, dan strategi adaptasi masyarakat Salah satu teori tentang masyarakat adalah
dalam menjaga harmoni di Kalimantan Tengah. teori fungsionalisme struktural. Teori ini meman-
Adapun manfaat penelitian ini secara teoretik dang bahwa masyarakat haruslah dilihat sebagai
diharapkan memberi informasi dan melengkapi suatu sistem yang tersusun dari bagian-bagian
hasil-hasil kajian tentang persoalan keruku- yang saling berhubungan satu sama lain, dan sa-
nan umat beragama di masyarakat, khususnya ling pengaruh mempengaruhi antarbagian terse-
kerukunan intern umat Islam di Kalimantan Te- but secara ganda dan timbal balik. Dalam sebuah
ngah. Adapun manfaat praktis dari hasil pene- masyarakat, integrasi sosial tidak pernah terca-
litian ini adalah 1) untuk bahan penyusunan pai dengan sempurna, tetapi secara fundamental
kebijakan dalam bidang kehidupan beragama bergerak ke arah equilibrium yang bersifat dina-
terutama masalah kerukunan intern umat ber- mis. Adapun ketegangan-ketegangan dan penyim-
agama, khususnya umat Islam oleh Kementerian pangan-penyimpangan akan senantiasa terjadi
Agama terutama Pusat Kerukunan Umat Beraga- juga, akan tetapi di dalam jangka panjang keada-
ma (PKUB), dan Direktorat Jenderal Bimas Is- an tersebut pada akhirnya akan teratasi dengan
lam; 2) bahan evaluasi terhadap rehabilitasi dan sendirinya melalui penyesuaian-penyesuaian dan
pemulihan kerukunan masyarakat di Kalimantan proses institusionalisasi. Dengan demikian peru-
Tengah pasca konflik 2001 bagi pemerintah khu- bahan dipandang sebagai proses adaptasi dan
susnya Kementerian Dalam Negeri, Kementerian penyesuaian, dan tumbuh bersama dengan diffe-
Sosial, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, rensiasi dan inovasi yang diintegrasikan melalui
dan pihak-pihak lain yang terkait dengan persoa- pemilikan nilai-nilai yang sama (Zamroni, 1992:
lan kerukunan di Kalimantan Tengah; dan 3) ba- 25; Nasikun, 1992: 11-12).
han penyusunan strategi resolusi konflik, rehabil- Konsep lain yang penting dalam penelitian
itasi dan pemulihan kerukunan pada kasus-kasus ini adalah identitas sosial dan strategi adaptasi.
konflik di masyarakat bagi pemerintah pusat dan Identitas sosial, menurut Jenkin (dalam Jamil.
daerah, lembaga-lembaga swadaya masyarakat 2012. 19), secara sederhana dapat dipahami se-
(LSM) yang bergerak dalam bidang kerukunan bagai konsep mengenai siapa seseorang atau
dan resolusi konflik. kelompok orang dikenali oleh orang/kelom-
Kerangka Teoretik pok lain, atau juga mengenai seseorang dikenali
dalam kelompoknya sendiri. Dengan demikian
Dinamika hubungan dalam penelitian ini
identitas sosial merupakan ciri-ciri kelompok
adalah kondisi relasi sosial yang dilakukan
yang membedakan dengan kelompok lain, dalam
antarelemen umat Islam dalam konteks waktu
hal ini dapat berbentuk identitas etnis (ethnicity)
dan tempat. Relasi sosial ini meniscayakan ke-
yang terbentuk karena perbedaan budaya, tradisi,
mungkinan terjadinya kohesi maupun segregasi
dan bahasa.
sosial sebagai akibat dari tanggapan masyarakat

Jurnal “Analisa” Volume 20 Nomor 01 Juni 2013 15


Dinamika Kerukunan Intern Umat Islam Dalam Relasi Etnisitas Dan Agama Di Kalteng

Masing-masing kelompok berupaya hidup Muhammadiyah. Wawancara ini ditujukan untuk


bersama dalam perbedaan-perbedaan identi- menggali pandangan mereka terhadap dinamika
tas tersebut dengan mengembangkan strategi hubungan internumat Islam, dan mendalami
adaptasi, yakni cara-cara yang dilakukan oleh aspek-aspek terkait dengan persoalan tersebut.
orang atau kelompok orang untuk menyesuaikan Tehnik observasi dilakukan untuk melihat secara
dirinya dengan perubahan dan situasi sosialnya. langsung perikehidupan dan interaksi sosial yang
Pengertian adaptasi dalam hal ini merujuk pada dilakukan oleh umat Islam lintas baik dalam ling-
mekanisme bagaimana manusia memperoleh ke- kup kelompok tertentu maupun lintas kelompok.
inginannya atau menyesuaikan hidupnya kepada Dalam beberapa kegiatan observasi, peneliti
lingkungan pergaulannya (Jamil. 2012. 30). De- melakukan observasi terlibat (participant obser-
ngan strategi atau cara-cara tertentu kelompok- vation) dengan mengikuti kegiatan yang dilaku-
kelompok sosial menjalani hubungan dengan kan oleh masyarakat, terutama dalam kegiatan
kelompok lainnya dalam masyarakat muslim keagamaan, seperti acara “yasin-tahlil”.
atau umat Islam guna memenuhi tujuan-tujuan
Telaah dokumen dilakukan untuk mendapat-
dirinya.
kan informasi-informasi terkait dengan perso-
alan penelitian yang berasal dari dokumen-doku-
Metode Penelitian
men tertulis, baik laporan-laporan dari lembaga
Penelitian tentang dinamika hubungan in- pemerintah maupun lainnya, dan perda (per-
ternumat Islam di Kalimantan Tengah ini meng- aturan daerah) yang diterbit oleh pemrintah da-
gunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini erah yang relevan dengan penelitian ini. Adapun
dilaksanakan bulan Pebruari-April 2012 di Kali- Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan
mantan Tengah, dengan mengambil lokus pene- dua kali, yaitu di KUA Kecamatan Pahandut dan
litian di Kota Palangkaraya dan Kota Sampit di Kantor Kemenag Kotawaringin Timur yang
(Kabupaten Kotawaringin Timur). Sebagaimana masing-masing diikuti 10 orang tokoh masya-
diketahui, Kalimantan Tengah pernah menga- rakat lintas etnis dan lintas ormas. FGD ini di-
lami konflik sosial antara etnis Dayak dengan Et- lakukan untuk mengkonfirmasi data-data yang
nis Madura. Kejadian tersebut mempengaruhi di- telah diperoleh, dan menggali informasi-infor-
namika hubungan internumat Islam di Kaliman- masi baru yang belum diperoleh dalam tehnik
tan Tengah. Kedua lokus ini dipandang sebagai lainnya.
representasi dari wilayah Kalimantan Tengah, di
Analisis terhadap data-data penelitian ini di-
mana Sampit merupakan wilayah awal dari pe-
lakukan dengan teknik deskriptif kualitatif, yang
ristiwa konflik tersebut, sementara Palangkaraya
merupakan suatu alur kegiatan yang meliputi :
merupakan daerah imbas akibat efek domino
reduksi data, penyajian data, dan penarikan ke-
konflik yang kemudian juga menyebar di hampir
simpulan (Moleong,1998: 190). Analisis terhadap
seluruh wilayah Kalimantan Tengah.
data ini menggunakan paradigma positivisme
Pengumpulan data-data lapangan dilakukan dengan pendekatan fungsionalisme struktural.
dengan metode wawancara, observasi, dokumen,
dan Focus Group Discussion (FGD). Wawancara Hasil Penelitian Dan Pembahasan
dilakukan secara tidak terstruktur kepada pihak-
Setting Sosio-Religius Masyarakat
pihak yang dipandang representatif terkait den-
Kalteng
gan persoalan penelitian, yaitu tokoh masyarakat,
tokoh adat dan tokoh agama; anggota masyara- Penduduk Kalimantan Tengah secara kom-
kat dari etnis Dayak, Madura, Banjar, Jawa dan posisi cukup heterogen dari sisi agama maupun
lainnya; warga masyarakat yang berafiliasi pada etnis. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun
oganisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) dan 2010, jumlah penduduk Kalimantan Tengah se-
banyak 2.202.599 jiwa (BPS, 2011). Komposisi

16 Jurnal “Analisa” Volume 20 Nomor 01 Juni 2013


Joko Tri Haryanto

penduduk berdasarkan agama menunjukkan Sampit 9,57%, Dayak Bakumpai 7,51%, Dayak
bahwa sebagian besar penduduk beragama Islam, Katingan 3,34% dan Dayak Ma’anyan 2,8%), di-
yakni 1.617.812 jiwa (71,99%), diikuti oleh umat lanjutkan Suku Banjar sebanyak 435.756 jiwa
Kristen 350.634 jiwa (16%), baru kemudian Ka- atau 24,2 % , lalu Jawa 325.160 jiwa atau 18,06%,
tolik 75.284 jiwa (3,35%), Hindu 191.682 jiwa kemudian Madura 62.228 jiwa atau 3,46%, Suku
(8,52%), Budha 3.993 jiwa ( 0,17%), Khonghucu Sunda 24.479 atau 1,36 %, dan sisanya suku-su-
406 jiwa (0,01%) dan lainnya 7.384 jiwa (0,32%) ku lain seperti Bugis, Betawi, Minangkabau, dan
(Kanwil Kemenag Kalteng, 2010). Banten.
Dari jumlah pemeluk agama seperti tersebut Proses migrasi telah menyebabkan peru-
dapat dipahami bahwa agama asli orang Dayak, bahan yang cukup signifikan dalam komposisi
yakni Kaharingan tidak berkembang. Hal ini di- penduduk berdasarkan kelompok etnik. Pada
sebabkan karena terjadinya gelombang masuk- tahun 1980 jumlah migran yang diorganisir oleh
nya agama-agama baru yang datang kemudian, pemerintah melalui program transmigrasi hanya
seperti Islam, Kristen, Katolik, dan Konghucu. mencapai 1 persen saja dari jumlah penduduk
“Umat Islam di sini sekitar 76%, Dayak Islam se- Kalimantan Tengah, dan pada tahun 2000 me-
benar-nya sedikit saja, karena di sini ada orang- ningkat hingga 21 persen. Keberadaan pendatang
orang Banjar, Jawa jadi muslimnya banyak.” ini sering disebut sebagai faktor di balik ber-
Demikian diungkapkan oleh H.Hamsan, mantan langsungnya proses marginalisasi penduduk asli
Petugas Pembantu Pencatat Nikah (P3N) Keca- Dayak, akibat ketidakmampuan mereka bersaing
matan Pahandut. dengan penduduk pendatang (Cahyono, 2008:
45).
Di Kalimantan Tengah, terdapat banyak ke-
lompok etnik, seperti misalnya Dayak, Banjar, Di Kalimantan Tengah, masyarakat Dayak
Jawa, dan Madura. Etnik Dayak merupakan et- lebih menerima identitas secara bersama se-
nik asli masyarakat Kalimantan Tengah dan um- bagai identitas Kalimantan secara keseluruhan,
umnya Kalimantan. (Riwut, 1993:229). Dengan sehingga dalam pergaulan sehari-hari antar-
adanya transformasi sosial berupa kedatangan etnis menggunakan bahasa Banjar. Meskipun
agama-agama baru tersebut memang menjadikan demikian, Etnis Dayak di Kalimantan Tengah
banyak pilihan bagi masyarakat Kalimantan Te- mengorientasikan identitas sosialnya kepada
ngah untuk memilih agama yang sesuai dengan sukunya masing-masing, seperti Dayak Ngaju,
hati nuraninya. Penduduk yang memeluk agama- Dayak Kapuas, dan sebagainya; dan bukan tidak
agama pendatang tersebut juga berasal dari ba- mengorientasikan identitasnya pada satu agama,
nyak etnis. Akan tetapi terdapat kecenderungan sebagaimana Dayak di Kalimantan Barat yang
utama, yakni bahwa orang Banjar, Madura, dan mengidentifikasikan diri sebagai Kristen yang
Bugis hampir dapat dipastikan memeluk Islam. dibedakan dengan Islam yang Melayu (Cahyono,
Hal tersebut berbeda dengan orang-orang Dayak, 2008: 46).
yang tidak seluruhnya memeluk Agama Hindu.
Hubungan intern umat Islam terjadi antara
Akan tetapi pemeluk Agama Hindu (Kahari-
kelompok-kelompok atau komunitas-komuni-
ngan) bisa dipastikan adalah orang Dayak (Ah-
tas dalam umat Islam, baik antaretnis maupun
mad Syafi’I dalam Azra ed., 1998: 39).
antar ormas keagamaan dalam Islam. Di Kali-
Adapun komposisi penduduk berdasarkan mantan Tengah ini terdapat berbagai organisasi
etnis, berdasarkan data Suryadinata , dkk. (dalam keagamaan, di mana yang paling banyak menjadi
Cahyono, 2008: 45) di tahun 2003 di Kaliman- afiliasi dan orientasi keagamaan adalah Nah-
tan Tengah sebagian besar adalah Suku Dayak dlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah lengkap
dari berbagai sub-suku adalah 742.729 jiwa atau dengan lembaga otonomnya. Masyarakat Ka-
41,24% (terdiri dari Dayak Ngaju 18,02%, Dayak limantan Tengah yang budaya Etnis Dayak be-

Jurnal “Analisa” Volume 20 Nomor 01 Juni 2013 17


Dinamika Kerukunan Intern Umat Islam Dalam Relasi Etnisitas Dan Agama Di Kalteng

gitu dominan, juga terdapat lembaga adat yang datangkan ratusan orang Madura orang untuk
dipandang memiliki otoritas dalam masyarakat diajak bekerja di lahannya. Hubungan Madura
yaitu Dewan Adat Dayak (DAD). dengan etnis lainnya terjalin biasa saja, terikat
atas dasar simbiosis mutualisme, di mana mere-
Lembaga adat tersebut berfungsi menjaga
ka saling bekerja sama yang saling menguntung-
keharmonisan tata kehidupan masyarakat adat
kan. Perkembangannya warga Madura kemudian
di Kalimantan Tengah, mencakup hukum adat,
mendominasi ekonomi, adanya sikap sebagian
norma-norma, pranata-pranata, dan nilai-nilai
warga Madura yang kurang baik, tidak adanya
budaya. Dengan demikian, peran utama lembaga
ketegasan hukum terhadap kekerasan yang
adat tersebut adalah mencakup pelestarian bu-
melibatkan orang Madura, menjadikan stereotip
daya Dayak dalam kehidupan sehari-hari masya-
Madura dipandang sebagai kelompok suka me-
rakat Dayak, dan sekaligus menjaga keseimba-
maksakan kehendak dan mau menang sendiri se-
ngan kehidupan masyarakat Dayak. Masyarakat
makin menguat. Sebenarnya banyak juga warga
Dayak lebih memilih menyandarkan segala uru-
Madura yang memiliki sikap yang baik, tetapi
sannya pada kebudayaan adat ketimbang dengan
kalah dengan citra negatif yang terbentuk dari
agama (wawancara dengan Sawerdi, Ketua De-
sikap buruk warga Madura lainnya (wawancara
wan Adat Dayak (DAD) Kec. Sabangau).
H. Hamsan, mantan P3N Kecamatan Pahandut).
Dinamika Hubungan Internumat Islam
Akhirnya, di penghujung Februari 2001 konf-
Kalimantan Tengah
lik etnis antara Dayak dan Madura di Kalimantan
Pandangan masyarakat terhadap situasi Tengah pecah. Tindak pembunuhan dan peru-
hubungan internumat Islam di Kalimantan Te- sakan nyaris berlangsung di semua wilayah. Se-
ngah seringkali dihubungkan dengan kejadian mula, kerusakan terjadi hampir sepekan di Kota
kerusuhan di tahun 2001, yakni konflik Suku Sampit, kemudian merembet ke Kuala Kapuas,
Dayak dengan Suku Madura. Berbagai kajian Pangkalan Bun, dan Palangkaraya. Kurang dari
menegaskan bahwa konflik tersebut adalah kon- dua pekan, 400 orang Madura terbunuh, dan
flik antaretnis, bukan konflik agama. Madura te- 80.000 sisanya dipaksa keluar dari bumi Kali-
lah dikenal sebagai warga yang memeluk agama mantan untuk kembali ke daerah asalnya, Madu-
Islam, tetapi warga Dayak pun tidak sedikit yang ra maupun tempat lainnya (Cahyono, ed., 2008:
juga memeluk agama Islam. Sekitar 70 persen 4-5).
dari orang Dayak di Kalimantan Tengah adalah
Tentu ada berbagai faktor lain dalam peristi-
Muslim. Oleh karena itu hubungan intern umat
wa kerusuhan tersebut, seperti tidak ditegakkan-
Islam, juga menyinggung hubungan antara etnis
nya hukum, situasi politik yang tidak menentu,
Madura dengan Dayak yang beragama Islam, dan
euphoria otonomi daerah, dan adanya perbedaan
dengan etnis-etnis lainnya yang anggotanya be-
kebudayaan antara warga asli dengan “penda-
ragama Islam.
tang”. Ketimpangan ekonomi juga menjadi fak-
Suku Dayak dan Suku Madura adalah dua tor paling signifikan, terutama kebijakan “kom-
suku yang sangat menonjol dan dominan di Ka- ersialisasi” hutan, di mana hutan merupakan
limantan Tengah sebelum terjadinya kerusuhan sumber penghidupan etnik Dayak. Lebih jauh
2001 tersebut. Relasi antara Dayak-Madura di- lagi, konflik tersebut muncul disebabkan karena
warnai pencitraan dan stereotipe tentang orang Etnik Dayak yang merupakan penduduk asli Ka-
Madura yang sudah ada sebelum mereka ber- limantan, mengalami pelemahan secara sistemik.
interaksi langsung dengan orang Madura. Pa- Berawal dari pembabatan hutan yang bagi warga
dahal keberadaan warga Madura di Kalimantan Dayak merupakan sumber ekonomi dan ekspresi
Tengah telah lama. Bahkan menurut penuturan kebudayaan mereka baik oleh pendatang trans-
Cimanur, tokoh Dayak di Sampit, bahwa kakek- migrasi maupun perusahaan Hak Penggunaan
nya dahulu, sekitar tahun 1930-an, pernah men-

18 Jurnal “Analisa” Volume 20 Nomor 01 Juni 2013


Joko Tri Haryanto

Hutan (HPH). Proses ini kemudian menjalar ke hammadiyah. Hubungan kedua ormas ini secara
bidang politik dan pemerintahan, sosial dan bu- organisatoris tidak ada persoalan. Namun, dalam
daya, yang menjadikan etnik Dayak semakin ter- dataran massa, perbedaan-perbedaan pandangan
pinggirkan. keagamaan menjadi penyekat hubungan antar
anggota/simpatisan ormas. Munculnya istilah
Peristiwa konflik tersebut menyebabkan
“kelompok tua” dan “kelompok muda”, menun-
terjadinya perubahan-perubahan aspek sosial,
jukkan adanya batas budaya antara kelompok
budaya, dan ekonomi di Provinsi Kalimantan
yang memegang tradisi dengan kelompok yang
Tengah. Etnik Dayak kemudian menjadi etnik
berpandangan purifikasi. Perbedaan pandangan
tunggal yang dominan di Kalimantan Tengah
ini tidak sampai menimbulkan konflik terbuka
baik secara kultural maupun struktural. Terjadi
antar kelompok, sehingga dapat terjaga keruku-
standarisasi kehidupan sosial budaya dan hukum
nan intern umat Islam. Hal ini peran para tokoh
dengan standar budaya Dayak, yang terlihat dari
agama yang mendorong toleransi dan penghar-
peran yang dominan dari Dewan Adat Dayak
gaan terhadap perbedaan pandangan keagamaan.
(DAD) terhadap kehidupan sosial, standar cara
Demikian pula pemerintah, yakni kebijakan Ke-
pandang dan nilai kebudayaan. Misalnya orang
menterian Agama seperti di Kota Palangkaraya
pendatang boleh datang kembali ke Kalimantan
dan Kota Sampit yang mengatur jadual khatib se-
Tengah dan menjadi saudara orang Dayak mela-
cara silang antara NU dan Muhammadiyah. Pro-
lui falsafah hidup Huma Betang dan Belum Ba-
gram ini setidak-tidaknya semakin mendekatkan
hadat.
jarak sosial komunitas NU dan Muhammadiyah.
Standar kebudayaan Dayak tersebut di
Faktor Pendukung Kerukunan
atas relatif cukup berhasil dalam upaya meng-
konstruksi sosial dan membangun kembali 1. Daya Tawar Budaya, antara Dominasi dan
kerukunan masyarakat pasca kerusuhan yang Akulturasi
melibatkan etnis Dayak dan Madura tersebut.
Pengalaman marginalisasi Dayak di masa
Masyarakat Dayak dan masyarakat etnis lainnya
lalu hingga sampai terjadi konflik telah mendoro-
telah menerima kembali warga Madura di Bumi
ng budaya Dayak menjadi budaya dominan, yak-
Tambun Bungai ini. Dua atau tiga tahun setelah
ni pemposisian status sosial tinggi dan sejumlah
peristiwa itu, orang Madura telah dapat kembali
keistimewaan dibandingkan budaya yang lain.
untuk bersama-sama bermasyarakat dan bekerja
Dayak saat sekarang ini telah mampu meng-
mencari nafkah, dan berangsur-angsur hingga
ambil peran sosial politik, baik dalam struktur so-
saat ini.
sial maupun gerakan sosial, seperti ditunjukkan
Sementara di sisi lain, etnis lainnya juga de-ngan menguatnya struktur adat Dayak, per-
turut memberikan sumbangsih bagi tercipta- angkat adat dan pemberlakukan wilayah hukum
nya situasi damai pasca konflik. Beberapa etnis dan budaya adat. Budaya Dayak sebagai satu-
seperti Banjar dan Jawa, telah lama dikenal se- satu-nya budaya dominan menjadikan tidak
bagai masyarakat yang terbuka dan ramah. Ban- adanya gesekan antar budaya yang memicu
jar juga dipandang sangat memegang teguh nilai- munculnya konflik.
nilai ajaran Islam. Sementara Madura yang ke-
Hal ini sebenarnya patut untuk diwas-
mbali, juga telah bersedia melakukan perubahan-
padai karena budaya dominan juga mendorong
perubahan sikap yang baik dalam berhubungan
munculnya seperangkat prasangka terhadap go-
kelompok masyarakat lainnya.
longan lain yang ada dalam masyarakatnya. Pra-
Dinamika inten umat Islam juga terkait de- sangka ini berkembang berdasarkan pada adanya
ngan ormas-ormas keagamaan yang memiliki perasaan superioritas pada mereka yang tergo-
perbedaan pemahaman keagamaan di masya- long dominan; menganggap kelompok lain se-
rakat, seperti ormas Nahdatul Ulama dan Mu- bagai orang asing; dan adanya klaim bahwa akses

Jurnal “Analisa” Volume 20 Nomor 01 Juni 2013 19


Dinamika Kerukunan Intern Umat Islam Dalam Relasi Etnisitas Dan Agama Di Kalteng

sumber daya yang ada adalah hak mereka, dan warga Dayak untuk bersama-sama bekerja dan
disertai kecurigaan kelompok lain akan meng- membangun Kalimantan Tengah. Sikap-sikap
ambil sumberdaya-sumberdaya tersebut (Supar- positif dari masing-masing etnis ini mendorong
lan, 2004). Dengan demikian, penerimaan ter- pembauran batas-batas kelompok yang semakin
hadap budaya dominan ini hanya strategi Coping menguatkan kohesi sosial.
berupa tindakan diam dan menghindari masalah
Terlebih dengan adanya penyatuan budaya
untuk memelihara eksistensinya dan menjaga
atau akulturasi yang menciptakan ikatan sosial
agar tetap survive dengan tidak memancing per-
baru atau memperkuat ikatan sosial yang telah
soalan dengan kelompok lain yang dapat men-
ada, dan semakin menuju pada keseimbangan,
imbulkan kesulitan bagi dirinya di lingkungan
sebagaimana ditunjukkan dalam fungsional-
budaya dominan (Farida, 2006: 25).
isme struktural (Zamroni, 1992: 25). Hal ini
Pergeseran lainnya dalam gerakan sosial, ditunjukkan dengan pergeseran tradisi guna
terlihat nyata dalam kasus penolakan terhadap menyesuaikan dengan budaya yang diterima se-
Front Pembela Islam (FPI) di Palangkaraya. bagai bagian dari dirinya, seperti penggunaan da-
Demonstrasi yang massif di Bandara Cilik Ri- rah yang diganti tepung tawar pada perkawinan
wut oleh unsur Dewan Adat Dayak (DAD) atau adat Dayak muslim.(Wawancara dengan Basel,
pemuda Dayak, dapat dilihat sebagai anomali Damang Adat Kecamatan Sabangau; Rina Mis-
dari sifat orang Dayak yang toleran dan mudah liya, Ketua Majelis Taklim Ibu-ibu Kel. Sabaru).
mengalah. Penolakan ini didasari, bahwa FPI di- Ditambah lagi dengan fenomena perkawinan
anggap sebagai organisasi sosial keagamaan yang lintas etnis (amalgamasi), baik antara Dayak
beraliran keras sehingga dikhawatirkan akan dengan Banjar atau Jawa, bahkan juga dengan
merusak hubungan baik yang sudah terbentuk, Madura.(wawancara dengan Syahriansah, tokoh
terutama pascakonflik etnik (wawancara dengan Madura di Sampit).
H. Abdul Hadi Ridwan, Ketua MUI Kab.Kotawa-
2. Simbiosisme Ekonomi
ringin Timur).
Keinginan manusia untuk memenuhi ke-
Walaupun budaya dominan Dayak ini me-
butuhan hidupnya mendorong interaksi dengan
nguat, tetapi faktor instrinsik budaya Dayak se-
orang lain. Hal ini karena manusia adalah ma-
jak awal juga sangat mendukung terciptanya
khluk sosial yang membutuhkan keberadaan
kerukunan di Kalimantan Tengah. Etnis Dayak
orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup
dikenal memiliki nilai-nilai budaya huma betang
yang tidak bisa dipenuhinya sendiri. Salah satu
yang sangat toleran terhadap keberadaan orang
perangkat pemenuhan kebutuhan adalah ekono-
lain, ketaatan pada aturan, dan juga kesetaraan.
mi, di mana interaksi yang berjalan secara positif
Hal ini menunjukkan kebersediaan untuk hidup
akan mendorong kerjasama, tetapi sebaliknya,
rukun, saling menghormati dalam satu kehidupan
interaksi yang terjadi secara assertif atau nega-
bersama.
tif maka malah akan menimbulkan pertentangan
Sementara etnis lainnya juga turut me- (Taneko, 1990: 116). Dalam konteks masyarakat
ndukung kerukunan bersama. Etnis Banjar dan Kalimantan Tengah, pada masa lalu terjadi mar-
etnis Jawa selama ini dikenal sebagai warga yang ginalisasi terhadap Dayak sehingga menghala-
mampu berbaur dan santun dalam pergaulan di ngi akses terhadap sumber daya ekonomi hutan
masyarakat. Terutama Jawa, dikenal sebagai menimbulkan konflik.
warga yang sangat mengedepankan kerukunan
Diakui sendiri oleh Cimannur, Tokoh Dayak
dan bersedia mengalah. Etnis Madurapun pada
di Sampit, ketergantungan Dayak dengan hutan
saat sekarang ini telah mengubah sikap dan
sangat besar. Dari hutan mereka bisa menghasil-
perilakunya yang negatif, sehingga masyarakat,
kan bahan-bahan produksi seperti kayu, rotan,
khususnya Dayak dapat menerima kembali
karet, dan sebagainya dengan hasil yang besar.

20 Jurnal “Analisa” Volume 20 Nomor 01 Juni 2013


Joko Tri Haryanto

Namun sebagian besar mereka tidak memiliki masyarakat, baik tokoh agama maupun tokoh
ketrampilan yang lebih baik untuk mengolah adat merupakan pihak yang dipandang memiliki
persawahan, membangun gedung, serta men- status sosial tertentu yang baik berupa Ascribed
jadi pedagang yang sukses. Akibatnya mereka Status (status yang tidak memperhatikan per-
memiliki ketegantungan dengan etnis lain untuk bedaan jasmani atau rohani karena status terse-
kepentingan tersebut. but diperoleh karena kelahiran atau hasil ketu-
runan), maupun Achieved Status (status yang
Warga etnis Madura selama ini telah dikenal
dicapai oleh seseorang melalui usaha-usaha yang
dengan etos kerjanya yang tinggi, bahkan mereka
disengaja, usaha dan kerja keras) yang dengan
bersedia melakukan pekerjaan kasar dan meneri-
status tersebut dirinya memerankan diri sebagai
ma upah rendah. Demikian juga suku Jawa dike-
tokoh (key person) (Patoni, 2007; 44). Mere-
nal ulet dalam bekerja, dan terutama berdagang
ka ini menjadi pemimpin-pemimpin informal
olah-olahan pangan seperti warung makan. Se-
yang suaranya didengar dengan kepatuhan oleh
mentara Banjar sejak dahulu dikenal pula sebagai
masyarakat. Pandangan masyarakat perhadap
pedagang yang ulet dan berhasil.
persoalan-persoalan di masyarakat, termasuk
Situasi sosial ekonomi termasuk yang men- konflik sosial, sangat tergantung pandangan dari
dorong kohesi sosial dan integrasi masyarakat tokoh-tokoh tersebut.
di Kalimantan Tengah. Bahkan diakui oleh Za-
Menurut Muhtadi dan Sudharto (dalam
enuddin, pejabat di Kemenag Kotim, bahwa se-
Pahrudin, 2003: 23-24) peran tokoh (informal
lama setahun pascakonflik 2001, masyarakat
leader) terutama tokoh agama (Islam) dalam
kesulitan untuk mendapatkan bahan makanan,
masyarakat sangat jelas dalam proses pembangu-
karena umumnya yang ekerja di sektor pertanian
nan di Indobesia, program-program pemerintah
adalah orang-orang Madura. Kepentingan untuk
dapat berhasil atau gagal juga tergantung peme-
memenuhi kebutuhan hidup inilah yang mem-
ransertaan pemuka masyarakat setempat. Hal ini
percepat pula pemulihan pasca konflik, karena
karena pemuka masyarakat tersebut telah diakui
terciptanya situasi yang kondusif juga akan men-
mampu memerankan diri menjadi pembimbing,
dukung terpenuhinya kebutuhan bersama.
motivator, sumber pengetahuan, teladan dan
3. Peran Para Tokoh Masyarakat dan Pemerin- mengawasi umatnya. Selain itu, budaya paternal-
tah istik pada masyarakat Indonesia memungkinkan
Proses rekonsiliasi masyarakat pascakon-flik adanya teladan dari agen perubahan sosial, yakni
2001 tidak bisa dilepaskan dari peran tokoh-tokoh para tokoh di masyarakat tersebut.
masyarakat. Mereka inilah yang berperan mere- Pemulihan situasi pascakonflik sangat diten-
dam amuk massa, dan menjadi penjamin bagi tukan oleh kebijakan pemerintah, berupa settle-
pengungsi yang hendak kembali ke Kalimantan ment yang koersif untuk menghentikan tindakan-
Tengah. (Wawancara Gusti Misruni tokoh Dayak tindakan kekerasan. Pemerintah provinsi Kali-
Pahandut, H.Abdul Hadi Ridwan Ketua MUI Ko- mantan Tengah dan kabupaten lainnya mengelu-
tim, H. Nasihin Tokoh NU Kotim ). Pascakonflik arkan perda-perda terkait pemulihan keagamaan
peran mereka juga sangat penting, karena um- dan resolusi konflik. Pemerintah mengembang-
umnya masyarakat Kalimantan Tengah sangat kan kebijakan untuk menguatkan budaya Dayak
mempercayai dan mengikuti pendapat tokoh- sebagai suatu uniformitas budaya di Kalimantan
tokohnya ini. Tengah. Kebijakan ini, dalam suasana pemulih-
Besarnya peran tokoh dan pengaruhnya pada an pasca konflik telah mampu mengembalikan
proses sosial di Indonesia antara lain karena kerukunan masyarakat. Namun, kebijakan ini
masyarakat masih menganut budaya patrilineal perlu ditinjau kembali, karena uniformitas yang
(patriachi) dan patron-client. Tokoh-tokoh di mendorong munculnya budaya dominan, dalam

Jurnal “Analisa” Volume 20 Nomor 01 Juni 2013 21


Dinamika Kerukunan Intern Umat Islam Dalam Relasi Etnisitas Dan Agama Di Kalteng

waktu lama akan menjadi bom waktu yang meru- utama adalah warga Madura untuk beradaptasi
sak kerukunan bersama dalam konteks masya- dengan kebiasaan dan kebudayaan lokal di Kali-
rakat yang plural. mantan Tengah.
Strategi Adaptasi Membangun Harmoni 2. Strategi Struktural
1. Strategi Kultural : Selain modal-modal kultural tersebut, relasi
damai juga terbangun melalui jalur struktural,
Masyarakat Kalimantan Tengah telah belajar
yakni politik uniformitas yang diberlakukan di
secara baik dengan peristiwa konflik yang me-
wilayah Kalimantan Tengah. Politik uniformitas
nimpanya. Masyarakat Dayak telah menemukan
tersebut didukung secara stuktural dalam bentuk
ikatan social baru, yakni perasaan bersama se-
penguatan adat Dayak. Ikatan sosial baru berupa
bagai warga Kalimantan Tengah melalui falsafah
uniformitas kebudayaan, atau standarisasi meng-
hidup Huma Betang. Oleh karena itu, di Kali-
gunakan satu kebudayaan yang dijadikan sebagai
mantan Tengah dilakukan revitalisasi terhadap
standar dan dianggap unggul atau dominan, yakni
nilai-nilai budaya lokal sebagai modal kultural
Dayak. penerapan standar kebudayaan ini misal-
yang mendorong relasi sosial yang akomodatif
nya dapat dilihat melalui penerapan Dewan Adat
menuju kerukunan masyarakat.
Dayak (DAD) yang peranan dan kewenangannya
Di antara modal kultural budaya tersebut sangat luas hingga mengurusi urusan-urusan
adalah falsafah budaya huma betang yang perdata, cara, dan pidana dalam kehidupan social
mencerminkan perilaku hidup yang menjunjung warga Kalimantan Tengah.
tinggi kejujuran, kesetaraan, kebersamaan dan
Politik uniformitas didukung dengan keter-
toleransi, serta taat pada hukum (hukum negara,
libatan pemerintah daerah dalam menguatkan
hukum adat, dan hukum alam). Ungkapan Bumi
struktur Dewan Adat Dayak (DAD) di dalam ke-
Dipijak Langit Dijunjung, dalam tradisi kebu-
hidupan social masyarakat. Peraturan pemerin-
dayaan masyarakat Kalimantan Tengah, teruta-
tah daerah ini menyebutkan kelembagaan DAD
ma Dayak, tidak hanya merupakan peribahasa,
sebagai salah satu lembaga yang diakui pemer-
melainkan sebuah pandangan hidup dan etika
intah, dan kewenangannya juga begitu kuat. Ke-
hubungan sosial di tengah heterogenitas etnis
bijakan pemerintah daerah dalam menerapkan
dan agama di wilayah tersebut. Belom Penyang
politik uniformitas juga menggunakan etika dan
Hinje Simpei, bahwa orang hidup haruslah penuh
sudut pandang satu kebudayaan standar yang di-
kerukunan dan menjaga persatuan dan kesatuan
anggap lebih unggul, yakni kebudayaan Dayak.
untuk kesejahteraan bersama.
Pemerintah daerah menghendaki bahwa warga
Akulturasi budaya, dimotori oleh misalnya Kalimantan Tengah hidup rukun dan damai
kesamaan agama (Islam), dimana banyak juga dalam ikatan social baru yang lebih mampu men-
warga Dayak yang memeluk Islam. Selain adanya jamin keberlangsungan antar etnis dan agama di
kesamaan agama, pola akulturasi yang terjadi Kalimantan Tengah.
juga melalui perkawinan antar etik. Kedua hal ini
Pengalaman konflik etnis tahun 2001 antara
menjadikan terjadinya perasaan bersama sebagai
etnis Dayak dan etnis Madura mendasari pola
warga Kalimantan Tengah dan terbentuklah ke-
hubungan antaretnis dewasa ini. Etnis Dayak
budayaan akulturasi. Modal yang dikembangkan
meneguhkan dominasi melalui jalur kultural
adalah kebersediaan menerima dan beradaptasi.
maupun struktural, di mana hal ini diterima oleh
Kebersediaan menerima dilakukan oleh warga
etnis lain untuk membangun ikatan sosial baru.
asli, yakni menerima budaya dari luar sebagai
Dinamika relasi sosial dewasa ini menunjukkan
bagian dari kebudayaan bersama Kalimantan
bahwa situasi kerukunan di Kalimantan Tengah
Tengah. sementara kebersediaan untuk ber-
telah dapat mencapai tingkat perdamaian, me-
adaptasi dilakukan oleh warga pendatang, ter-
skipun taraf perdamaian negatif. Perdamaian

22 Jurnal “Analisa” Volume 20 Nomor 01 Juni 2013


Joko Tri Haryanto

negatif ini menujukkan adanya pengakuan ter- nya konflik adalah menggunakan dua pendeka-
hadap perbedaan, tetapi secara struktural be- tan, yakni kultural dan struktural. Pendekatan
lum memberi akses yang berimbang pada semua kultural mencakup revitalisasi nilai-nilai kebu-
pihak.(Susan 2009. 132) Kebijakan uniformitas dayaan sebagai komitmen untuk hidup bersama
yang dikembangkan di Kalimantan Tengah men- dalam situasi yang damai. Pendekatan struktural
dorong –atau memaksa-- proses keseimbangan yang dimainkan adalah melalui politik uniformi-
dalam masyarakat sebagai kesatuan. Hal ini ter- tas atau penyeragaman menjadi satu identitas.
masuk proses institusionalisasi budaya untuk
Rekomendasi
menjamin keselarasan dan berjalannya fungsi-
fungsi sosial akibat adapun ketegangan-ketegang- Berangkat dari temuan-temuan penelitian ini
an dan penyimpangan-penyimpangan terjadi maka, beberapa hal yang dapat disarankan pada
(Zamroni, 1992: 25), berupa pertentangan atau pihak-pihak terkait adalah:
konflik sehingga struktur-struktur sosial dalam 1. Perlunya penguatan dan revitalisasi nilai-ni-
masyarakat dapat fungsional kembali. lai budaya yang mendorong pada kerukunan
umat beragama dan masyarakat pada umum-
Penutup nya.
Simpulan 2. Memperbesar ruang temu budaya untuk
Hubungan internumat beragama mengalami membuka dialog kebudayaan yang membuka
dinamika sesuai tanggapan atas persoalan yang sikap saling memahami antarbudaya
dihadapi. Di Kalimantan Tengah, dinamika ini 3. Meninjau kembali politik uniformitas kebu-
dapat dilihat dari proses relasi antar etnis dalam dayaan yang mendorong pandangan etnosen-
lingkungan umat Islam, baik sebelum terjadi- trisme dan budaya dominan dengan memper-
nya konflik besar tahun 2001 yang berawal dari timbangkan strategi multikulturalisme guna
Sampit, hingga saat sekarang ini. Dinamika re- mencairkan batas-batas budaya.
lasi sosial dewasa ini menunjukkan bahwa situ-
asi kerukunan di Kalimantan Tengah telah dapat 4. Membangun kerukunan harus pula menyele-
mencapai tingkat perdamaian, meskipun taraf saikan faktor-faktor yang menjadi permasala-
perdamaian negatif. Perdamaian negatif ini men- han hubungan sosial, terutama ketidakadilan
ujukkan adanya pengakuan terhadap perbedaan, secara politik dan ekonomi yang memargin-
tetapi secara stuktural belum memberi akses yang alkan sebagian kelompok masyarakat secara
berimbang pada semua pihak. Hal ini karena sistemik.
adanya kebijakan uniformitas yang dikembang- Semoga penelitian ini dapat bermanfaat dan
kan di Kalimantan Tengah. memberi kontribusi bagi pengembangan dunia
Namun demikian, suasana kondusif dan ilmu pengetahuan, terutama studi perdamaian
rukun di masyarakat dapat terwujud dengan (peace studies), khususnya membantu memeli-
menekan terjadinya konflik. Adapun faktor pen- hara situasi damai di Kalimantan Tengah.
dukung kerukunan dalam hubungan intern-
umat Islam terutama muncul dari modal-modal
kultural yang selama ini ada dalam kehidupan
Daftar Pustaka
masya-rakat sendiri, kepentingan kerjasama
ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan, peran Azra, Azyumardi (ed). 1998. Agama dalam Keag-
tokoh masyarakat, dan peran pemerintah setem- aman Etnik di Indonesia. Jakarta: Badan Lit-
pat. bang dan Diklat Agama Departemen Agama.

Strategi yang dipakai guna menciptakan ke- BPS. 2011. Kalimantan Tengah dalam Angka
hidupan yang harmonis, terutama pasca terjadi- 2010. Palangkaraya: BPS Provinsi Kaliman-

Jurnal “Analisa” Volume 20 Nomor 01 Juni 2013 23


Dinamika Kerukunan Intern Umat Islam Dalam Relasi Etnisitas Dan Agama Di Kalteng

tan Tengah idb2.wikispaces.com/file/view/ok2007.pdf


diunduh 11 Juni 2012.
Cahyono, Heru. Dkk. 2008. Konflik Kalbar dan
Kalteng Jalan Panjang Meretas Perdama- Patoni, Achmad. 2007. Peran Kyai Pesantren
ian. Yogyakarta: P2P-LIPI bekerjasama den- dalam Partai Politik. Yogyakarta: Pustaka
gan Pustaka Pelajar. Pelajar.
Farida, Anik. 2006. Survival Umat Khonghucu Riwut, Tjilik. 1993. Kalimantan Membangun
dalam Pemenuhan Hak-hak Sipil. Dalam Alam dan Kebudayaan. Yogyakarta : PT. Ti-
Alam, Rudy Harisyah (ed). Adaptasi dan Re- ara Wacana
sistensi Kelompok-kelompok Sosial Keaga-
Suparlan. 2004. Masyarakat Majemuk, Masyar-
maan. Jakarta : Penamadani bekerjasama
akat Multiultural, dan Minoritas: Memper-
dengan Balai Litbang Agama Jakarta. Hlm.
juangakan Hak-hak Minoritas. Makalah
19-50.
dalam Workshop Yayasan Interseksi, Hak-
Hikam, Muhammad A.S. 2000. Islam, Demok- hak Minoritas dalam Landscape Multikul-
ratisasi dan Pemberdayaan Civil Society. tural, Mungkinkah di Indonesia?, Wisma
Jakarta: Penerbit Airlangga. PKBI, 10 Agustus 2004. Dalam http://www.
interseksi.org/publications/essays/articles/
Jamil, M. Muhsin. 2012. “Dinamika Identitas
masyarakat_majemuk.html diunduh 6 juni
dan Strategi Adaptasi Minoritas Syi’ah di
2010
Jepara”. Ringkasan Disertasi Program Dok-
tor Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang Taneko, Soleman. B. 1990. Struktur dan Proses
Sosial; Suatu Pengantar Sosiologi Pemban-
Kanwil Kemenag Kalteng. 2010. Data-data Keag-
gunan. Edisi 1. Cetakan 2. Jakarta: CV Ra-
amaan tahun 2010.
jawali
Moleong, Lexy J. 1998. Metode Penelitian Kuali-
Tumanggor, Rusmin.(et.al). 2009. Buku Paket
tatif. Bandung: Penerbit Rosda karya.
Panduan Penyadaran Dan Pendampingan
Nasikun. 1992. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Penguatan Kedamaian (Peace Making). Ja-
Rajawalipress karta: Departemen Agama Republik Indo-
Pahrudin, Agus. 2003. Peran Mubaligh dalam nesia, Badan Litbang Dan Diklat, Puslitbang
Menunjang Program Pembangunan Masyar- Kehidupan Keagamaan.
akat (Studi Kasus pada Mubaligh Kader Pem- Zamroni. 1992. Pengantar Pengembangan Teori
bangunan di Desa Kerawangsari Kecamatan Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana
natar Lampung Selatan). Jurnal Analisis
Edisi Juli 2003 Vo.3 No.1. IAIN Raden Intan
Bandar Lampung. hlm.22-37. Dalam http://

24 Jurnal “Analisa” Volume 20 Nomor 01 Juni 2013