Anda di halaman 1dari 25

I.

MENGUKUR LUAS DAUN

Ada beberapa metode yang biasa digunakan untuk mengukur luas daun,
tetapi yang banyak diterapkan sekarang ini adalah alat elektronik dengan nama Leaf
Area Meter (LAM). Alat ini bekerja berdasarkan transmisi cahaya yang dimonitor
oleh suatu lensa yang hasilnya dikalibrasi secara otomatis kepada luas daun dan
dapat dilengkapi dengan suatu ban berjalan yang dibawahnya ditempatkan sumber
cahaya, sehingga pengukuran luas daun yang banyak dapat dilakukan secara terus-
menerus dan hasil pengukuran yang secara otomatis dikalibrasi dalam satuan luas
diakumulasi. Alat ini dalam ukuran kecil dan dapat mengukur luas daun tanpa
merusak tanaman (daun dari tanaman hidup) telah tersedia. Secara teratur, alat ini
perlu dikalibrasi dengan mengukur suatu luas lempengan yang telah diketahui.
Tetapi pada keadaan dimana alat ini tidak tersedia, beberapa metode lain tersedia
untuk mengukur luas daun dengan teknik sederhana yang tidak membutuhkan
banyak peralatan, metode tersebut antara lain metode kertas milimeter, metode
gravimetri, metode planimeter, metode faktor koreksi dan metode lubang. Pemilihan
metode ini tergantung pada alat yang tersedia dan tingkat ketelitian yang diinginkan.
Suatu prinsip yang perlu dipegang dalam hal ini adalah bahwa metode yang paling
mudah diterapkan dengan hasil pengamatan yang cukup dapat dipercaya adalah
yang paling baik.
Metode yang akan dilaksanakan dalam praktikum kali ini disesuaikan dengan
keadaan peralatan yang ada adalah : menggunakan Leaf Area Meter (LAM), metode
kertas milimeter, metode lubang, dan metode faktor koreksi (konstanta).

A. Menggunakan Leaf Area Meter

A.1. Pengantar
Penentuan luas daun dengan menggunakan Leaf Area Meter (LAM)
merupakan cara yang mudah, cepat dan teliti. Alat ini termasuk peralatan yang
modern, oleh karena itu perlu persyaratan yang tepat karena peka sekali apabila ada

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 1


lab.BDP Unpar---------------------
gangguan misalnya : ketidakstabilan voltage aliran listrik, kotornya plastik tembus
pandang, dll. Gangguan ini dapat mengakibatkan alat ini bekerjanya menjadi tidak
tidak teliti.
Saat ini sudah cukup banyak diproduksi jenis-jenis LAM elektronik dengan
model yang bermacam-macam sesuai dengan tingkat kemudahan dan kecanggihan
alat dengan harga yang relatif mahal. Misalnya Model LI-300 buatan Lambda USA
milik jurusan BDP UNIBRAW yang dapat digunakan untuk jumlah daun yang banyak
sekaligus akan tetapi tidak dapat dibawa ke lapangan karena menggunakan aliran
listrik langsung. Sedangkan model CI-202 buatan CID (USA) yang dimiliki jurusan
BDP UNPAR bersifat portable (dapat di bawa ke lapangan) karena menggunakan
battery yang dapat di Recharge (di isi), akan tetapi jumlah daun yang dapat diukur
relatif terbatas karena luasan alas untuk pengukuran sangat terbatas dan
pengukuran penggunakan scan infra merah.

A.2. Bahan dan Alat


Daun yang akan diukur, kertas tissue dan LAM Model CI-202.

A.3. Prosedur
1. Hidupkan LAM dengan menekan (mengklik) tombol power
2. Lihat LCD display apakah battery masih terisi, kalau isinya sudah lemah
maka layar akan menunjukkan battery BAT, maka LAM harus di recharge.
3. Ada tombol operasi utama yang ada, yaitu tombol FUNCTION dan tombol
EXUCUTE. Tombol FUNCTION berfungsi untuk memilih fungsi program
yang ada, dan tombol EXUCUTE berfungsi untuk melaksanakan fungsi
program yang dipilih.
4. Menu tombol FUNCTION yang dapat dipilih, yaitu :
SELECT (untuk pemilihan paramter pengukuran)
MEASURE (untuk perintah bentuk ukuran daun)
VIEW (untuk langkah melihat simpanan data)
CLEAR (untuk menghapus semua data yang tersimpan)
SEND (untuk memindah data ke komputer atau printer)
ADJUST (untuk calibrasi peralatan)
Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 2
lab.BDP Unpar---------------------
5. Mulailah pada pilihan SELECT, kemudian tekanlah EXUCUTE (secara
berulang-ulang) maka akan terlihat tipe-tipe pengukuran :
AREA (untuk pengukuran total daun sekali pengukuran dalam satuan cm2)
LENGTH (untuk pengukuran panjang maksimum daun dalam satuan cm)
WIDTH (untuk pengukuran lebar maksimum daun dalam satuan cm)
PERIMETER (jarang digunakan)
RATIO (jarang digunakan)
SHAPE FACTOR (jarang digunakan)
ACCUMULATED AREA (untuk pengukuran total luas daun untuk beberapa
kali pengukuran)
6. Setelah memilih AREA atau ACCUMULATED AREA, kemudian letakkan
daun yang akan diukur pada alas yang sudah ada, dan tutup dengan plastik
transparan yang sudah disediakan.
7. Scanlah daun dengan menggerakkan alat scanner dari atas ke bawah sambil
menekan tombol yang ada di atas scanner.
8. Lihatlah nilai pengukuran yang tertera pada LCD display.

B. Metode Kertas Milimeter

B.1. Pengantar
Metode kertas milimeter sangat sederhana dan hanya memerlukan kertas
milimeter dan peralatan untuk menggambarkan. Ini dapat diterapkan cukup efektif
pada daun dengan bentuk daun relatif sederhana dan teratur. Sekalipun metode ini
cukup sederhana waktu yang dibutuhkan untuk mengukur suatu luasan daun relatif
lama, sehingga ini tidak cukup praktis diterapkan apabila jumlah sampel banyak.

B.2. Bahan dan Alat


Kertas milimeter, alat tulis, dan daun yang akan diamati.

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 3


lab.BDP Unpar---------------------
B.3. Pelaksanaan
a. Gambarlah daun dengan mengikuti pola sisi daun pada kertas milimeter.
b. Luas daun ditaksir berdasarkan jumlah kotak yang terdapat dalam pola daun
yaitu :
LD = n x Lk
dimana : n = jumlah kotak
Lk = luas setiap kotak
Ukuran luas kotak (Lk) yang digunakan sebagai acuan tergantung pada
ketelitian yang diinginkan yang berkisar antara mm2 sampai cm2 atau lebih.
Kotak yang dipotong gambar dimasukkan dalam perhitungan apabila
mempunyai ukuran  0,5 ukuran acuan (mm2 atau cm2).

C. Metode Lubang (Punch Method)

C.1. Pengantar
Menaksir luas daun berdasarkan metode lubang sangat bermanfaat apabila
tidak tersedia “Leaf Area Meter”. Tetapi oven dan lat pelubang harus tersedia.
Metode ini dilakukan dengan cara destruktif.
Kelebihan metode ini menghemat waktu dan tenaga dibandingkan mengkur
luas setiap individu daun. Berdasarkan pengamatan pada daun kapas (johnson,
1967) dan ubi jalar varietas Mongkrong (Sinar Suryawa dan Liliek Agustina, 1987),
menaksir luas daun dengan metode ini mendekati luas daun sesungguhnya.

C.2. Bahan dan Alat


Oven, cork borrer atau alat pelubang gabus, timbangan analitik, kantong plastik,
dan daun yang akan diamati (daun cabe dan daun jagung).

C.3. Prosedur

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 4


lab.BDP Unpar---------------------
a. Ambillah daun cabe, daun jagung atau dau lainnya yang akan diamati dari
pertanaman dan masukkan dalam kantong kertas.
b. Daun-daun tersebut dikeluarkan dari kantong kertas, kemudian dilubangi
dengan cork borrer dan hitung jumlah bulatan yang diperoleh.
c. Bulatan daun dan daun terlubangi dikeringkan dalam oven 85 oC selama 48
jam sampai mencapai bobot konstan.
d. Penentuan luas daun (LD) berdasarkan persamaan :
a+b Keterangan :
LD = xcxd a = bobot kering bulatan daun
a b = bobot kering daun terlubangi
c = jumlah bulatan daun
d = luas satu bulatan daun

D. Metode Faktor Koreksi (Konstanta)

D.1. Pengantar
Menentukan faktor koreksi atau konstanta untuk menaksir luas daun
bermanfaat apabila pengamatan harus dilakukan secara tanpa merusak tanaman
(non destruktif). Cara penaksiran luas daun dengan memasukkan faktor koreksi
sesuai untuk daun-daun yang datar (tidak berlubang dalamnya) dan bentuknya
cenderung lurus seperti bawang putih, daun tanaman famili graminae, misalnya
jagung, sorghum, padi. Kelebihan cara ini mudah pelaksanaannya, tetapi apabila
jumlah daunnya banyak maka perlu waktu dan tenaga yang banyak. Ada dua cara
yang dapat digunakan untuk menentukan harga faktor koreksi atau konstanta, yaitu
ditentukan (1) berdasarkan perbandingan luas kertas folio/kuarto per berat guntingan
gambar daun dengan luas panjang kali lebar daun (Agustina, 1988) dan (2)
berdasarkan perbandingan luas daun sebenarnya (dapat menggunakan LAM atau
metode kertas milimeter) dengan luas panjang kali lebar daun (Sitompul dan
Guritno, 1995). Harga faktor koreksi atau konstanta ini bervariasi pada kisaran
0 < k < 1, dengan k mendekati 1 apabila daun mempunyai bentuk empat persegi
panjang.

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 5


lab.BDP Unpar---------------------
D.2. Bahan dan Alat
Timbangan analitik, daun yang akan ditentukan luasnya (misalnya jagung),
kertas ukuran folio atau kuarto, dan gunting.

D.3. Prosedur
Cara 1 :
a. Ambil secara acak daun tanaman dari spesies tertentu (yang akan diteliti)
minimum 30 helai.
b. Gambar bentuk daun yang berbeda pada kertas putih (ukuran folio/kuarto)
yang sudah diketahui luas (A) dan berat (B). Ukur panjang (P) dan lebar ( l )
maksimum dari setiap daun.
c. Gunting gambar daun tersebut dan timbang beratnya (C).
d. Hitung nilai faktor koreksi (k) dengan rumus sebagai berikut :

C/B x A
K =
P x l

e. Luas Daun taksiran : LD = P x L x K (cm2)

Cara 2 :
a. Ambil secara acak daun tanaman dari spesies tertentu (yang akan diteliti)
minimum 30 helai.
b. Buatlah konstan (k) dengan rumus sebagai berikut :
A Keterangan :
K= A = LD dihitung dengan LAM atau kertas mm
B B = LD dihitung dari panjang kali lebar daun

c. Luas Daun taksiran dihitung sama seperti cara 1, yaitu : LD = P x L x K (cm2)

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 6


lab.BDP Unpar---------------------
II. MENGUKUR TEBAL DAUN

3.1. Pengantar
Pada percobaan-percobaan tertentu, kita perlu mengetahui tebal daun,
misalnya : pengaruh intensitas cahaya, pemupukan nitrogen. Hal ini penting
diketahui, karena contoh pada perlakuan intensitas cahaya yang rendah seringkali
diperoleh luas daun yang besar tetapi bahan keringnya sedikit. Apabila kita hanya
berpedoman pada luas daun saja maka kesimpulan kita salah. Oleh karena itu perlu
diketahui tebal tipisnya daun. Karena daun yang luas dalam keadaan tersebut
ternyata sangat tipis, sehingga dapat terjadi jumlah klorofil persatuan luas daun
adalah rendah. Hal ini yang nantinya mungkin berpengaruh terhadap bobot kering
yang dihasilkan tanaman.

3.2. Bahan dan Alat


Daun dari berbagai spesies tanaman, pisau atau gunting, oven, timbangan
analitik, penggaris.

3.3. Prosedur
a. Ambil setiap individu daun dari masing-masing spesies tanaman
b. Gunting atau potong dalam luasan tertentu (a cm 2)
c. Potongan tersebut keringkan dalam oven 80 C selama 48 jam. Timbang bobot
kering (x gram)
d. Tebal daun = x/a = ……………. gram/cm2

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 7


lab.BDP Unpar---------------------
III. PERHITUNGAN INDEKS LUAS DAUN

3.1. Pengantar

Indeks Luas Daun (ILD) menunjukkan kerapatan daun per satuan ruang yang
dinaunginya.
LD (cm2)
ILD =
A (cm2)

LD = Luas Daun dan A = Luas tanah yang dinaungi. Luas tanah yang dinaungi
dapat dihitung dengan mengalikan jarak tanam. Asumsinya tanaman diberi peluang
untuk memanfaatkan ruang yang tersedia dalam jarak tanam tersebut. Sebagai
contoh, apabila luas daun yang terdapat di atas permukaan tanah dengan luas 2 m 2
adalah 3 m2, maka ILD = 1,5. Ini berarti bahwa daun di atas 1 m 2 permukaan tanah
seluas 1,5 m2.
Harga ILD > 1 menggambarkan adanya saling menaungi di antara daun yang
mengakibatkan daun yang ternaungi pada lapisan bawah tajuk mendapat cahaya
yang kurang dan karenanya dapat mempunyai laju fotosintesis yang lebih rendah
dari daun yang tidak ternaungi. Tetapi perlu diingat bahwa ILD  1 tidak berarti
tanpa naungan. Ini sangat tergantung pada morfologi daun ( bentuk dan posisi
daun).
Hubungan ILD dengan produksi biomassa tanaman terkait melalui proses
fotosintesis. Dengan pertambahan umur tanaman, laju fotosintesis akan menurun
dengan penurunan kuanta radiasi, yang sifatnya konstan akibat peningkatan ILD.

3.2. Bahan dan Alat


Tanaman bawang merah, jagung masing-masing dari luasan 30 m 2 (10 x 3
m), seperangkat alat penentuan luas daun, bingkai kayu.

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 8


lab.BDP Unpar---------------------
3.3. Prosedur
a. Untuk tanaman pendek seperti bawang merah, rumput pendek dan ditanam
di tanah datar (bukan guludan), caranya dengan melempar berukuran
1m x 1m (Gambar 1).

Bingkai LD (m 2)
ILD =
1 (m2)
semanggi

Gambar 1. Peletakan bingkai dalam per tanaman semanggi

b. Untuk tanaman yang mempunyai jarak tanam teratur, misalnya jagung :


- hitunglah total luas daun tanaman
- ukurlah jarak tanam dan hitunglah luasnya
- ILD dihitung dengan total luas daun dibagi luas jarak tanam.

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 9


lab.BDP Unpar---------------------
IV. PENENTUAN TRANSMISI CAHAYA (RTC) DAN
“EXTINCTION COEFECIENT” (KOEFISIEN PEMADAMAN)

4.1. Pengantar
Mengetahui besarnya cahaya yang dapat diterima oleh dedaunan yang ada
di dalam kanopi sangat bermanfaat dalam membantu menjelaskan perbedaan
potensi hasil suatu tanaman dalam luasan tertentu sehingga dapat dibuat usaha-
usaha peningkatan hasilnya, misalnya : dengan mengatur jarak tanam, tumpang
sari, dan lain-lain., disamping itu dapat menemukan varietas-varietas yang dapat
memanfaatkan cahaya yang datang semaksimal dan seefisien mungkin.

4.2. Bahan dan Alat


Pertanaman jagung dan kedelai, tube solarimeter atau lux meter.

4.3. Prosedur
a. Gunakan dua lux meter, letakkan satu light sensor di atas tajuk (canopi) dan
yang satunya di bawah tajuk. Bila hanya ada satu lux meter lakukan
pengukuran di atas dan di bawah tajuk secara bergantian.
b. Baca intensitas cahaya pada kedua alat tersebut, jaga agar light sensor
selalu horizontal selama pembacaan dilakukan.
c. Hitung RTC dengan rumus :
I1
RTC (%) = x 100 %
I0
Dimana :
I1 = intensitas cahaya di bawah atau lapisan tajuk
I0 = intensitas cahaya pada pemukaan diatas tajuk (cahaya langsung)
d. Lakukan tiga sampai lima kali pengukuran dalam satu tajuk dan rata-ratakan
hasil yang diperoleh sesuai ketinggian light sensor.
e. Tentukan nilai koefisien pemadaman.

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 10


lab.BDP Unpar---------------------
Contoh Perhitungan :
Diketahui :
Intensitas cahaya yang diterima jagung pada ketinggian 30 cm di atas tanah (I 30) =
20 W.m-2. Intensitas cahaya di atas kanopi (I0) = 100 W.m-2
LAI (ILD) = 3 = F

Ditanyakan :
Berapa nilai koefesien pemadaman (k) ?
Jawab :
Ii = I0 . e-kF

I30 = I0 . e-kF

20 = 100 x 2,17-3k

20
= 2,17-3k
100

0,2 = 2,17-3k

log 0,2 = log 2,17-3k

log 0,2 = -3k log 2,17

log 0,2
= -3k
log 2,17

- 0,698
= -3k
0,336

3k = 2,077

k = 0,692

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 11


lab.BDP Unpar---------------------
V. PERHITUNGAN KERAPATAN AKAR MENURUT
NEWMAN (1966) DAN BARLEY (1970)

5.1. Pengantar
Sekalipun akar jarang diamati pada kebanyakan penelitian pertumbuhan
tanaman, ini tidak adil jika bagian ini tidak diamati. Akar adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari tanaman dan mempunyai fungsi yang sama pentingnya dengan
bagian atas tanaman, kalau tajuk khususnya jaringan fotosintesis berfungsi
menyerap CO2, maka akar berfungsi menyerap air dan unsur hara. Potensi
pertumbuhan akar perlu dicapai sepenuhnya untuk mendapatkan potensi
pertumbuhan bagian atas tanaman. Dalam pengertian sederhana, semakin banyak
akar tanaman semakin tinggi potensi pertumbuhan dan hasil tanaman.
Parameter akar yang dapat diamati langsung adalah berat akar, jumlah akar
dan panjang akar. Sedang luas permukaan dan volume (kerapatan) akar biasanya
diperoleh dengan penaksiran.

5.2. Prosedur
a. Sampel tanah yang telah kering, dipisahkan dari akar. Caranya dengan
merendam tanah didalam larutan sodium hexametaphosphate kemudian
dikocok selama 15 menit. Setelah tanah terpisah dari akar maka akar dicuci
dengan air, setelah kering diukur panjang akarnya.
b. Penentuan panjang akar
 NA
L =
2

L = total panjang akar per sampel


N = jumlah intersep per unit panjang garis pemotong (cm-1)
A = Luas bidang dimana terdapat panjang akar yang dohitung dan
penyebaran bidang potongan

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 12


lab.BDP Unpar---------------------
Caranya : akar yang sudah diketahui panjangnya, misalnya 100 cm,
diletakkan di dalam petridish di alasi dengan kertas yang diberi garis
sepanjang 8 cm (seperti disajikan pada gambar 1).
Hitung akar yang memotong garis tersebut, ulang beberpa kali kemudian
hitung rata-ratanya.

Gambar 2. Peletakkan akar di dalam petridish

c. Penentuan kerapatan akar (D).


Berat total tanah
D = x panjang akar
Berat sampel tanah

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 13


lab.BDP Unpar---------------------
VI. MENGHITUNG RGR, CGR DAN NAR

Diketahui :
Tanaman jagung dan kedelai ditanam dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. Masing-
masing tanaman diamati secara destruktif. Peubah-peubah yang diamati adalah
luas daun, indeks luas daun dan total bobot kering tanaman. Data masing-masing
peubah untuk kedua jenis tanaman disajikan pada Tabel 1. Jumlah sampel untuk
setiap ulangan pada perlakuan tersebut adalah tanaman.

Ditanyakan :
1. Gambar peubah total bahan kering tanaman selama pertumbuhan. Contoh
pada Gambar 1.
2. Gambar perubahan LAI masing-masing jenis tanaman selama pertumbuhan
3. Apa kegunaan menggambar kedua peubah tersebut.
4. Hitung dan gambar nilai RGR, CGR, dan NAR untuk masing-masing jenis
tanaman selama pertumbuhannya.
5. Beri alasan mengapa ada perbedaan “trend” pada kedua jenis tanaman
tersebut.
6. Coba buat interelasi peubah-peubah yang sudah Anda gambarkan.

Luas daun (cm2)

7 14 21 28 35 42 49 Umur

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 14


lab.BDP Unpar---------------------
Gambar 1. Perkembangan luas daun jagung
Contoh Tabel 1. Luas Daun (LD), LAI, Total Bobot Kering Tanaman (TBKT)
tanaman jagung dan Kedelai selama pertumbuhannya pada jarak
tanam 25 cm x 25 cm.

Tanaman Jagung Tanaman Kedelai


Saat
Saat benih muncul 25-07-2002 Saat benih muncul 31-07-2002
Pengamatan
LD (cm2) LAI TBKT (g) LD (cm2) LAI TBKT (g)

03-08-2002 23.6 0.02 0.07 6.3 0.00 0.30


10-08-2002 78.0 0.06 0.28 253.9 0.19 1.55
17-08-2002 207.6 0.15 1.15 1190.3 0.88 5.57
24-08-2002 939.7 0.70 3.94 1899.7 1.41 10.59
31-08-2002 2225.1 1.65 9.98 2577.6 1.91 15.83
07-09-2002 3535.5 2.60 17.25 4143.1 3.07 21.61

Rumus NAR, RGR dan CGR :

 Laju Asimilasi Bersih / Net Assimilation Rate (NAR)

2 (W2 – W1)
NAR = ( g / cm2 / hari)
(LA2 – LA1) (t2 – t1)

 Laju Pertumbuhan Relatif / Relatif Growth Rate (RGR)

Ln W2 – Ln W1
RGR = ( g / g / hari)
t2 – t1

 Laju Pertumbuhan Tanaman / Crop Growth Rate (CGR)

W2 – W1
CGR = ( g / hari)
t2 – t1

Keterangan :
W1 = bobot bahan kering total pada saat t1
W2 = bobot bahan kering total pada saat t2
LA1 = luas daun total pada waktu t1
LA2 = luas daun total pada waktu t2
t1 = waktu (umur) pengamatan ke-1
t2 = waktu (umur) pengamatan ke-2
Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 15
lab.BDP Unpar---------------------
CONTOH PERHITUNGAN NAR, RGR, DAN CGR

Tabel 1. Hasil pengamatan Luas Daun (LD) dan Berat Kering (W) tanaman jagung
Perlakuan A Perlakuan B
Umur (HST) LD (cm2) W LD (cm2) W

14 490 5 520 10
21 897 10 1065 15
28 1560 25 1703 25

Perhitungan

1. Laju Asimilasi Bersih / Net Assimilation Rate (NAR)


2 (W2 – W1)
NAR = g / cm2 / hari
(LA2 – LA1) (t2 – t1)

a. Perlakuan A
- NAR 14-21 = 2 (10-5) / (897-490) (21-14) = 0,0035 g/cm2/hari
- NAR 21-28 = 2 (25-10) / (1560-897) (28-21) = 0,0065 g/cm2/hari

b. Perlakuan B
- NAR 14-21 = 2 (15-10) / (1065-520) (21-14) = 0,0026 g/cm2/hari
- NAR 21-28 = 2 (25-15) / (1703-1065) (28-21) = 0,0045 g/cm2/hari

2. Laju Pertumbuhan Relatif / Relatif Growth Rate (RGR)


Ln W2 – Ln W1
RGR = g / g / hari
t 2 – t1

a. Perlakuan A
- RGR 14-21 = Ln10- Ln5 / 14-7 = (2,3 – 1,6) / (7) = 0,10 g/g/hari
- RGR 21-28 = Ln25- Ln10 / 14-7 = (3,2 – 2,3) / (7) = 0,13 g/g/hari

b. Perlakuan B
- RGR 14-21 = Ln15- Ln10 / 14-7 = (2,7 – 2,3) / (7) = 0,06 g/g/hari
- RGR 21-28 = Ln25- Ln15 / 14-7 = (3,2 – 2,7) / (7) = 0,07 g/g/hari

3. Laju Pertumbuhan Tanaman / Crop Growth Rate (CGR)


W2 – W1
CGR = g / hari
t2 – t1

a. Perlakuan A
- CGR 14-21 = 10-15 / 14-7 = 5/7 = 0,7 g/hari
- CGR 21-28 = 25-10 / 14-7 = 15/7 = 2,1 g/hari
Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 16
lab.BDP Unpar---------------------
b. Perlakuan B
- CGR 14-21 = 15-10 / 14-7 = 5/7 = 0,7 g/hari
- CGR 21-28 = 25-15 / 14-7 = 10/7 = 1,4 g/hari
CARA PENGAMATAN DALAM ANALISA PERTUMBUHAN TANAMAN

Peubah tanaman yang akan dianalisis dapat diperoleh secara :


(1) pengamatan destruktif, dan (2) pengamatan tanpa destruktif.

1. Destruktif
Pengamatan tanaman secara destruktif dilakukan dengan cara membongkar
atau merusak sebagian atau seluruh organ tanaman. Teknis pelaksanaan
pengambilan contoh secara periodik selama pertumbuhan disajikan pada
Lampiran 1.
Kelemahan cara ini, antara lain : membutuhkan dana penyediaan fasilitas
penunjang yang relatif mahal, misalnya : oven, leaf area meter, desikator, cork
borrer, timbangan analitik, diperlukan pengukuran yang teliti terutama pada
pengamatan akar.
Kelebihan cara ini, antara lain : dapat mengikuti perkembangan tanaman
sesuai dengan kenyataan yang ada (bukan berdasarkan taksiran atau dugaan),
peubah-peubah analisis tumbuh tanaman yang dapat dihitung lebih banyak
dibandingkan tanpa desktruktif.

2. Tanpa Destruktif
Pengamatan tanaman dilakukan dengan cara tanpa merusak atau
membongkar tanaman. Pengamatan peubah tumbuh yang seringkali menggunakan
cara ini, misalnya : tinggi tanaman, panjang tanaman, panjang daun, lebar daun.
Kelemahan cara ini, antara lain : membutuhkan waktu dan tenaga di lapang
lebih banyak dibandingkan cara destruktif. Untuk menghitung analisis tumbuh
tanaman dengan cara tanpa destruktif dilakukan dengan pendugaan, padahal
metode pendugaan seringkali tidak sama dengan nilai sebenarnya. Hal ini dapat
berpengaruh terhadap kesimpulan yang kita buat, tidak dapat mengikuti

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 17


lab.BDP Unpar---------------------
perkembangan tanaman secara pasti sesuai dengan kenyataan yang ada, peubah-
peubah analisis tumbuh yang dihitung terbatas jumlahnya.
Kelebihannya, antara lain : tidak perlu dana membeli atau menyediakan
peralatan yang cukup mahal.
1. Destruktif
Pengamatan tanaman secara destruktif dilakukan dengan cara membongkar
atau merusak sebagian atau seluruh organ tanaman. Teknis pelaksanaan
pengambilan contoh secara periodik selama pertumbuhan disajikan pada Gambar A
dan B. Gambar A, dalam satu petak percobaan terdapat tujuh baris tanaman, setiap
baris yang tanamannya dibongkar diselingi dengan satu baris tanaman yang tidak
dibongkar. Pengambilan keempat lokasi pengambilan contoh sebaiknya diacak.
Disarankan panen terakhir semua tanaman dalam satu gulud, diamati hasil totalnya.
Cara seperti pada Gambar B, petak percobaan untuk pengamatan pertumbuhan
dipisahkan dengan petak percobaan untuk pengamatan hasil akhir.

Gambar A dan B : Contoh pengaturan tanaman contoh yang desktruktif sebanyak


lima kali.

= tanaman untuk pengamatan pertumbuhan

= tanaman untuk pengamatan hasil pada saat panen terakhir

I, II, III, IV, V = urut-urutan saat panen

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 18


lab.BDP Unpar---------------------
Kelemahan cara ini, antara lain : membutuhkan dana penyediaan fasilitas
penunjang yang relatif mahal, misalnya : oven, leaf area meter, desikator, cork
borrer, timbangan analitik, diperlukan pengukuran yang teliti terutama pada
pengamatan akar.
Kelebihan cara ini, antara lain : dapat mengikuti perkembangan tanaman
sesuai dengan kenyataan yang ada (bukan berdasarkan taksiran atau dugaan),
peubah-peubah analisis tumbuh tanaman yang dapat dihitung lebih banyak
dibandingkan tanpa desktruktif.

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 19


lab.BDP Unpar---------------------
DAFTAR ISI

Halaman
TATA TERTIB …………………………………………………………. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………. ii

I. MENGUKUR LUAS DAUN ……………..…………………………. 1

II. MENGUKUR TEBAL DAUN ………………………………………… 7

III. PERHITUNGAN INDEKS LUAS DAUN ………..………………… 8

IV. PERHITUNGAN TRANSMISI CAHAYA (RTC) DAN


EXTINCTION COEFECIENT (KOEFESIEN PEMADAMAN) ….... 10

V. PERHITUNGAN KERAPATAN AKAR MENURUT NEWMAN


(1966) DAN BARLEY (1970) ………………………………….….... 12

VI. MENGHITUNG RGR, CGR, DAN NAR ………..…………………… 14

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 20


lab.BDP Unpar---------------------
Lampiran 1. Bagan Petak Percobaan Beserta Petak-Petak Contohnya

X X X X X X X X

X X X X X X X X

X X X X X X X X

X X X X X X X X

X X X X X X X X

X X X X X X X X

X X X X X X X X

X X X X X X X X

X X X X X X X X

Keterangan :

X A X = Pengamatan destruktif

X X
B = Pengamatan non destruktif
X X

X X X
C
= Petak Panen/Ubinan
X X X

X X X

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 21


lab.BDP Unpar---------------------
Lampiran 1. Denah Satuan Percobaan Praktikum APT dan Petak-petak Contohnya

0,3 m
4m 4m 4m

1&3 5&7 9 & 11


3,5 m
J2 J1 J3

0,5m
m
2&4 6&8 12 & 14
3,5 m
K3 K1 K2

Keterangan :
J = Tanaman Jagung (J1 = pukan 10 ton/ha, J2 = pukan 20 ton/ha, J3 = pukan 30 ton/ha)
K = Tanaman Kedelai (K1 = pukan 10 ton/ha, K2 = pukan 20 ton/ha, K3 = pukan 30 ton/ha)

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 22


lab.BDP Unpar---------------------
MATERI PRAKTIKUM
ANALISIS PERTUMBUHAN TANAMAN (APT)
Waktu pelaksanaan : 28 Pebruari s/d 6 Maret 2008

Prosedur kegiatan pembuatan petak percobaan

± 18 m
4m

6m ±7m

I II III IV

Keterangan :
- Ada 4 buah bedengan/petak percobaan yang dibuat
- Masing-masing kelompok praktikum membuat 1 petak percobaan dengan
ukuran 4 m x 6 m (400 cm x 600 cm), dengan jarak antar bedengan dan
lebar parit ± 40 cm.
- Dari petak kiri ke kanan masing-masing untuk kelompok I, II, III dan IV
- Pembuatan petak percobaan meliputi : pengukuran lahan, pembersihan
lahan, pencangkulan/penggemburan tanah, pembuatan bedengan,
pembuatan parit, pembuatan jarak tanam dan lubang tanam, dan
pemberian pupuk kandang dengan dosis 1 gelas aqua per lubang tanam.
- Bentuk petak percobaan beserta petak-petak contohnya dapat dilihat pada
Gambar 1.

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 23


lab.BDP Unpar---------------------
4m

25 cm
v v v v v v v v v v v v v v
70 cm

v v v v v v v v v v v v v v
1 A 4
v v v v v v v v v v v v v v

v v v v v v v v v v v v v v
6m 2 5
v v v v v v v v v v v v v v

B
v v v v v v v v v v v v v v
3 6

v v v v v v v v v v v v v v

v v v v v v v v v v v v v v

v v v = petak contoh destruktif tanaman jagung

A = petak contoh pengamatan non destruktif

B = petak panen

Jarak tanam = 70 cm x 25 cm
Jumlah tanaman = 112 tanaman (lubang tanam)

Gambar 1. Petak percobaan beserta petak-petak contohnya

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 24


lab.BDP Unpar---------------------
Nisbah Pupus Akar (NPA), yaitu perbandingan antara bobot kering pupus dengan
bobot kering akar. Dihitung dengan rumus :

Bobot kering pupus


NPA =
Bobot kering akar

Bobot kering pupus = bobot kering oven daun pada suhu 80 oC selama 24 jam
Bobot kering akar = bobot kering oven akar pada suhu 80 oC selama 24 jam

Kandungan Air Relatif Daun (KARD), diperoleh dengan mengambil contoh daun
yang telah berkembang penuh pada umur tertentu, dihitung dengan rumus (Kramer,
1977) :
BS – BKO
KARD =
BT – BKO

Keterangan :
KARD = Kandungan Air Relatif Daun
BS = Bobot segar daun contoh yang sudah membuka penuh
BKO = Bobot kering oven daun pada suhu 80 oC selama 24 jam
BT = Bobot turgor diperoleh dengan merendam daun contoh dalam air.

Penuntun Praktikum “Analisa Pertumbuhan Tanaman” @ 25


lab.BDP Unpar---------------------