Anda di halaman 1dari 20

EKONOMI KELEMBAGAAN

TUGAS MATA KULIAH

Perkembangan Teori Ekonomi

Dengan Dosen Pembimbing

Walipah, S.Pd., M.Pd

Oleh :

Kelompok 7

Heldya Noyulistiani 170404030011


Ilham Hendrianes 170404030024

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang
berjudul Ekonomi Kelembagaan ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari
penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas  semester 6 pada Mata
Kuliah Perkembangan Teori Ekonomi. Selain itu, makalah ini juga bertujuan
untuk menambah wawasan tentang pengertian Ekonomi kelembagaan  bagi
para pembaca dan juga bagi penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Walipah, S.Pd., M.Pd selaku


Dosen Pendidikan Ekonomi Mata Kuliah Mata Kuliah Perkembangan Teori
Ekonomi yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah
pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni. Saya juga
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian
pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Saya menyadari,
makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna.

Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan
demi kesempurnaan makalah ini.

Malang, 19 Februari 2020

Penulis

Ekonomi Kelembagaan | ii
DAFTAR ISI

Halaman Cover...................................................................................................i

Kata Pengantar...................................................................................................ii

Daftar Isi...........................................................................................................iii

Daftar Gambar..................................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................1

1.1 Latar Belakang.............................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah........................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan..........................................................................................1
1.4 Manfaat Penulisan........................................................................................2

BAB II PEMBEHASAN..................................................................................4

2.1 Pengertian Ekonomi Kelembagaan..............................................................4


2.2 Tokoh Ekonomi Kelebagaan........................................................................5
2.3 Pemikiran dan Paradigma Ekonomi Kelembagaan....................................10
2.4 Perkembangan Ekonomi Kelembagaan di Indonesia................................11

BAB III PENUTUP........................................................................................15

3.1 Kesimpulan................................................................................................15

3.2 Saran..........................................................................................................15

Daftar Pustaka..................................................................................................16

Ekonomi Kelembagaan | iii


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Thorstein Bunde Veblen...................................................................6

Gambar 2 Wesley Clair Mitchel........................................................................7

Gambar 3 Gunnar Karl Myrdal (1898)..............................................................8

Gambar 4 Joseph A. Schumpeter (1883-1950)..................................................8

Gambar 5 Douglas C. North (1993)...................................................................9

Ekonomi Kelembagaan | iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Harus diakui, saat ini aliran pemikiran ekonomi klasik/neoklasik menjadi
sandaran bagi sebagian besar pengambil kebijakan ekonomi dalam merancang
mekanisme dan kebijakan ekonomi. Lebih-lebih setelah era 1980-an, ketika
liberalisasi menjadi bahasa tunggal pergaulan ekonomi internasional,
pemikiran klasik/neoklasik mendapatkan tempat yang luas untuk
merentangkan sayapnya. Studi tentang Ekonomi kelembagaan saat ini begitu
memperoleh tempat dikalangan pemikir ekonomi dan sosiologi. Tidak saja di
Barat, Tetapi kajian yang sama tumbuh di dunia timur, termasuk di Indonesia.
Perkembangan studi ekonomi kelembagaan yang demikian dinamis
memunculkan pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep ekonomi kelembagaan
itu sendiri, kenapa banyak diminati akhir-akhir ini? Bagaimana falsafah
keilmuan? Di dunia Barat, sebenarnya kajian kelembagaan bukan sesuatu
yang baru. Di Masa lampau setelah Adam Smith memahatkan teori
ekonominya pada dinding-dinding sel otak setiap manusia, maka sejak itu pula
muncul perlawanan atau semacam counter atas gagasan yang disampaiakan
oleh smit. Dalam khazanah ilmu ekonomi kelompok penentang itu lazim
dikenal dengan Ekonomi Kelembagaan Lama (Old Institutional Economic).
Sebelum membahas ekonomi kelembagaan, maka perlu diketahui bahwa
dalam ilmu ekonomi kelembagaan dikenal juga institusi. Ada beberapa
pengertian institusi yang dikemukakan oleh para ekonom. Salah satunya
pengertian yang paling banyak dipakai adalah pengertian yang dikemukakan
oleh Douglas C. North. Ia mendefinisikan institusi sebagai aturan-aturan
(constraints) yang diciptakan oleh manusia untuk mengatur dan membentuk
interaksi politik, sosial, dan ekonomi. Aturan-aturan tersebut terdiri dari aturan
formal seperti undang-undang, konstiitusi dan aturan informal seperti norma
sosial, konvensi, adat istiadat. Indonesia harusnya banyak belajar dari apa
yang telah dialami seetelah krisi. Seertinya sangat sulis untuk Negara ini
bangkit dan kembali menata perekonomianyang nyaris ujung tanduk. Namun

Ekonomi Kelembagaan | 1
Indonesia terus berusaha dan menunjukkan usaha yang keras dalam menata
dan membawa perekonomian Negara ini ke arah yang lebih baik. Banyak
sistem-sistem baru yang diterapkan oleh Indonesia. Banyak pula teori-teori
barat yang diadopsi oleh Indonesia untuk diterapkan sebagai bentuk usaha
membawa perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik. Salah satu ilmu
atau teori ekonomi yang ada di Indonesia adalah mengenai ekonomi
kelembagaan. ekonomi kelembagaan membahas masalah ekonomi dalam
ranah hubungan ekonomi dan kehidupan sosial serta hubungannya dengan
kepemilikan seseorang atau property right. Ekonomi kelembagaan di
Indonesia berhubungan dengan pembangunan berkelanjutan. Namun
pengertian pembangunan di Indonesia berhubungan dengan pembangunan
berkelanjutan.. namun pengertian pembangunan di Indonesia dewasa ini telah
mengalami penyimpangan dari pengertian normative. Kini pembangunan
ekonomi berkelanjutan, tidak lagi mementingkan korelasi keharmonisan antar
aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Terutama faktor lingkungan.
Pembangunan ekonomi berkelanjutan kini hanya memperioritaskan kemajuan,
tidak lagi mempedulikan apa dampak yang ditimbulkan dari pembangunan
tersebut. Bahkan kerusakan yang disisakan oleh pembangunan yang
dilakukan. Menyisakan dampak buruk bagi generasi setelah kita. Apakah
dampak yang ditimbulkn oleh ekonomi berkelanjutan dan pembangunan yang
dilakukan di Indonesia sebagai usaha memajukan perekonomian Indonesia ?

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa itu Ekonomi Kelembagaan?
b. Siapa sajakah tokoh Ekonomi Kelembagaan?
c. Bagaimana Perkembangan Ekonomi Kelembagaan di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan


a. Menjelaskan Ekonomi Kelembagaan.
b. Tokoh Ekonomi Kelembagaan.
c. Perkembangan Ekonomi Kelembaagaan.

Ekonomi Kelembagaan | 2
1.4 Manfaat Penulisan
a. Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
Pengertian Ekonomi Kelembagaan. Tokoh Ekonomi Kelembagaan, dan
Perkembagan Ekonomi Kelembagaan.
b. Bisa menjadi sumber rujukan untuk masyarakat yang membutuhkan.

Ekonomi Kelembagaan | 3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ekonomi Kelembagaan

Ekonomi kelembagaan merupakan disiplin ilmu yang mempelajari tentang


Ekonomi dengan tidak mengabaikan peran aspek non Ekonomi seperti
kelembagaan dan lingkungan. Ekonomi Kelembagaan adalah paradigma baru
dalam ilmu ekonomi yang melihat kelembagaan (rule of the game) berperan
sentral dalam membentuk perekonomian yang efisien. Ekonomi kelembagaan
menekankan pada pentingnya aspek kelembagaan dalam menentukan bagaimana
sistem ekonomi dan sosial bekerja ( black, 2002). salah satu kunci dalam aspek
ekonomi kelembagaan adalah menyangkut property right atau hak pemilikan.
Property right ini melekat dalam bentuk aturan formal dan juga norma sosial dan
adat. Relefansi hak pemilikan ini tergantung dari seberapa besar ia bisa dijalankan
dan diakui dalam masyarakat. Barsel ( 1989) menulis dalam bukunya mengenai
economic of property rights, juga oleh cheung(1968) yang melaudy melakukan
studi mengenai share cropping di Taiwan. Kedua studi ini membuktikan bahwa
ketidakjelasan hak pemilikan dan enforced property rights terbuktti menjadi
handicap dalam menstransformasi pembangunan ekonomi yang berkaitan bagian
lain, yang juga penting dalam konteks ekonomi kelembagaan adalah menyangkut
biaya transaksi. Biaya transaksi adalah sisi lain atau pendekatan yang digunakan
Untuk menjelaskan aspek ekonomi dari kelembagaan (Black, 2002). Biaya
transaksi mempertimbangkan manfaat dalam melakukan transaksi di dalam
organisasasi dan antara actor (organisasi) yang berbeda dengan mengunakan
mekanisme pasar. Biaya transaksi mempertimbangkan beberapa aspek penting
dalam ekonomi yakni bounded rationality (rasionalitas terbatas), masalah
informasi, biaya negosiasi kontrak dan opportunisme. Schmid (1987) disisi lain
membedakan biaya transaksi atas tiga hal yakni 1) biaya informasi, 2) biaya
kontrak, dan 3) biaya pengawasan atau penegakan hukum. Dalam konteks inilah
sering terjadi pemahaman yang keliru mengenai apa yang dimaksud dengan
transaction cost bukanlah biaya pertukaran atau salah satu biaya dalam jual beli
barang dan jasa (termasuk lahan), namun transaction cost lebih diartiakan sebagai
“the cost of establishing and maintaining right” (allen, 1991). Kedua sapek diatas

Ekonomi Kelembagaan | 4
yakni property rights dan dan transaction cost adalah bagian penting yang
memerlukan pemahaman yang serius dalam kelembagaan pengelolahan lahan.

Jadi pada intinya, Ekonomi Kelembagaan adalah ekonomi yang


menekankan pada hak kepemilikan. Perekonomian dikembangkan oleh individu
atau kelompok yang memiliki sarana atau faktor produksi. Sehingga mereka
memiliki faktor keleluasaan atau wewenang untuk mengatur dan berperan dalam
sektor perekonomian serta pengembangannya. Dalam hal ini pemilik faktor
produksi menjadi pelaku pegembangan perekonomian. Ternyata dalam
prakteknya banyak faktor-faktor yang mempengaruhi individu dalam mengambil
keputusan seperti factor sosial, politik dan lainnya. Pada titik ini ekonomi
kelembagaan masuk untuk menawarkan bahwa kegiatan ekonomi sangat
dipengaruhi oleh tata antar pelaku ekonomi (teori ekonomi politik), desain aturan
main (teori ekonomi biaya transaksi), norma atau keyakinan suatu individu atau
komunitas (teori modal sosial), insentif untuk melakukan kolaborasi (teori
tindakan kolektif), model kesepakatan yang dibuat (teori kontrak), pilihan atas
kepemilikan asset fisik maupun non fisik (teori hak kepemilikan), dan lain-lain.
Intinya, selalu ada insentif bagi individu untuk berperilaku menyimpang sehingga
sistem ekonomi tidak bisa dibiarkan hanya dipandu oleh pasar. Dalam hal ini
diperlukan kelembagaan non pasar (non market institution) untuk melindungi agar
pasar tidak terjebak dalam kegagalan yang tidak berujung, yakni dengan jalan
mendesain aturan main atau kelembagaan (institutions).

2.2 Tokoh Ekonomi Kelembagaan

Para penganut Ekonomi Kelembagaan percaya bahwa pendekatan


multidisipliner sangat penting untuk memotret masalah-masalah ekonomi, seperti
aspek sosial, hukum, politik, budaya, dan yang lain sebagai satu kesatuan analisis.
Berikut merupakan pemikir madzab ekonomi kelembagaan yang dapat ditelusuri
antara lain.

Ekonomi Kelembagaan | 5
a. Thorstein Bunde Veblen (1857-1929)

Gambar 1. Thorstein Bunde Veblen (1857-1929)

Vablen menilai pengaruh keadaan dan lingkungan sangat besar


terhadap tingkah laku ekonomi masyarakat. Vablen pada intinya mengkritik
teori-teori yang digunakan kaum Klasik dan Neo-Klasik yang model-model
teoritis dan matematisnya dinilai biasa dan cenderung terlalu menyederhankan
fenomena-fenomena ekonomi. Pemikiran-pemikiran ekonomi klasik dan neo
klasik juga dikritiknya karena dianggap mengabaikan aspek-aspek non
ekonomi seperti kelembagaan dan lingkungan. Padahal Vablen menilai
pengaruh nilai dan lingkungan sangat besar terhadap tingkah laku ekonomi
masyarakat. Struktur politik dan sosial yang tidak mendukung dapat
memblokir dan menimbulkan distorsi proses ekonomi. Bagi Vablen keadaan
dan lingkungan inilah yang disebut institusi. Beberapa Asumsi yang dianggap
Vablen lemah antara lain :

1. Motif ekonomi melatarbelakangi setiap kegiatan. Setiap aktivitas manusia


didasarkan atas perhitungan rasional untung ruginya.
2. Mendahulukan kepentingan diri sendiri (self interest).
3. Persaingan akan meningkatkan effisiensi.
4. Private property right merupakan sebuah keharusan.
5. Teori ekonomi klasik mengabaikan faktor-faktor sejarah, sosial dan
kelembagaan dalam membangun struktur ekonomi.

Ekonomi Kelembagaan | 6
b. Wesley Clair Mitchel (1874-1948)

Gambar 2 Wesley Clair Mitchel (1874-1948)

Adalah murid, teman dan penggagum Veblen. Ia juga berjasa dalam


mengembangkan metode-metode kuantitatif dalam menjelaskan peristiwa-
peristiwa ekonomi. Salah satu karya Business Cycle and Their Causes (1913)
dengan menggunakan bermacam data statistic ia kemudian menjelaskan
masalah fluktuassi ekonomi. Selain ikut dalam mendukung dan
mengembangkan pemikiran-pemikiran gurunya, lebih lanjut ia juga berjasa
dalam mengembangkan metode-metode kuantitatif dalam menjelaskan
peristiwa-peristiwa ekonomi. Sesudah perang perang dunia kedua ia
mengorganisir sebuah badan penelitian “National Bureau Of Economic
Research” yang memungkinkan lebih dikembangkannya penelitian-penelitian
tentang pendapatan nasional, fluktuasi ekonomi atau business cycles,
perubahan produktifitas, analisis harga, dan sebagainya.

c. Gunnar Karl Myrdal (1898)

Ekonomi Kelembagaan | 7
Gambar 3 Gunnar Karl Myrdal (1898)

Berasal dari Swedia. Gunnar Karl Myrdal banyak menulis buku, antara
lain : An America Delima, Value In Social Theory, Challenge to Affluence,
dan Asian Drama : An Inqury Into The Poverty Of Nations. Salah satu pesan
Myrdal pada ahli-ahli ekonomi ialah agar ikut membuat value judgement. Jika
itu tidak dilakukan struktur-struktur teoritis ilmu ekonomi akan menjadi tidak
realisties. Myrdal percaya bahwa pemikiran institusional sangat diperlukan
dalam melaksanakan pembangunan di Negara berkembang. Myrdal meraih
nobel dibidang ekonomi pada tahun 1974 bersama FA Hayek atas jasa-jasanya
dalam menyumbang pemikiran ekonomi, terutama bagi pembangunan Negara
berkembang.

d. Joseph A. Schumpeter (1883-1950)

Gambar 4 Joseph A. Schumpeter (1883-1950)

Ekonomi Kelembagaan | 8
Ia mengatakan bahwa sumber utama kemakmuran bukan terletak dalam
domain ekonomi itu sendiri, melainkan berada diluarnya, yaitu dalam
lingkungan dan institusi masyarakat lebih jelas lagi, sumber kemakmuran
terletak dalam jiwa kewiraswataan (entrepreneurship) para pelaku ekonomi
yang mengarsiteki pembangunan.

e. Douglas C. North (1993)

Gambar 5 Douglas C. North (1993)

North mengatakan bahwa reformasi yang dilakukan tidak akan


memberikan hasil nyata hanya dengan memperbaiki kebijaksanaan ekonomi
makro belaka. Agar reformasi berhasil, dibutuhkan dukungan seperangkat
institusi yang mampu memberikan insentif yang tepat kepaa setiap pelaku
ekonomi. Beberapa contoh institusi yang mampu memberikan insentif tersebut
adalah hukum paten dan hak cipta, hukum kontrak dan pemilik tanah. Bagi
North Institusi adalah peraturan perundang-undangan berikut sifat-sifat
pemaksaan dari peraturan-peraturan tersebut serta norma-norma perilaku yang
membentuk interaksi antara manusia secara berulang-ulang. Nam terakhir
diatas, North adalah merupakan tokoh ekonomi kelembagaan baru (New
Institutional Economic) yang memperoleh nobel ekonomi pada tahun 1993,
demikian juga dengan Ronald H. Coase pada tahun 1991. Nobel yang
diperoleh kedua tokoh tersebut turut menjadi pemicu perkembangan keilmuan
ekonomi kelembgaan baru didunia ssaat ini. Pemikir Ekonomi Kelembagaan

Ekonomi Kelembagaan | 9
baru menolak sebagian asumsi ajaran ekonomi klasik atau neo klasik dan
menganggapnya tidak realita seperti tidak ada biaya transaksi (zero
transaction cost) dan rasionalitas instrument (instrumental rationality).
Ekonomi klasik yang mengasumsikan bahwa semua manusia adalah rasional
dan bekerja berdasarkan insentif ekonomi ternyata dalam prakteknya banyak
faktor-faktor sosial, ekonomi dan politik yang mempengaruhi individu dalam
keputusan ekonominya.

2.3 Pemikiran dan Paradigma Ekonomi Kelembagaan

Mahzab Ekonomi Kelembagaan lama ini menganggap bahwa semua asumsi


yang membangun oleh mazhab ekonomi klasik atau neoklasik merupakan cara
berfikir yang fatal. Itulah sebabnya, Ekonomi kelembagaan lama ini bekerja diluar
mekanisme dan cara pandang pemikiran ekonomi klasik atau neoklasik sejak ia
diplokamirkan. Pada titik ini Ekonomi Kelembagaan masuk untuk mewartakan
bahwa kegiatan ekonomi sangat dibpengaruhi oleh tata letak antar pelaku
ekonomi (teori ekonomi politik), desain aturan main (teori ekonomi biaya
transaksi), norma dan keyakinan suatu individu/komunitas (teori modal sosial),
insentif untuk melakukan kolaborsi (teori tindakan kolektif), model kesepakatan
yang dibikin (teori kontrak), pilihan atas kepemilikan aset fisik maupun non fisik
(teori hak kepemilikan), dan lain – lain. Intinya, selalu ada insentif bagi individu
untuk berperilaku menyimpang sehingga sistem ekonomi tidak bisa dibiarkan
hanya dipandu oleh pasar. Dalam hal ini diperlukan kelembagaan non pasar (non-
market institution) untuk melindungi agarpasar tidak terjebak dalam kegagalan
yang tidak berujung, yakni dengan jalan mendesain aturan main/kelembagaan
(institution). Ekonomi kelembagaan mempelajari dan berusaha memahami
peranan kelembagaan dalam sistem dan organsasi ekonomi atau sistem terkait,
yang lebih luas. Kelembagaan yang dipelajari biasanya bertumbuh spontan seiring
dengan perjalanan waktu atau kelembagaan yang sengaja dibuat oleh manusia.
Peranan kelembagaan bersifat penting dan strategis karena ternyata ada dan
berfungsi di segala bidang kehidupan. Dengan demikian, ilmu ekonomi
kelembagaan kemudian menjadi bagian dari ilmu ekonomi yang cukup penting
perannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan sosial humaniora, budaya dan
terutama ekonomi politik. Ilmu ekonomi kelembagaan terus berkembang semakin

Ekonomi Kelembagaan | 10
dalam karena ditekuni oleh banyak ahli ilmu ekonomi dan ilmu sosial lainnya,
termasuk beberapa diantaranya memenangkan hadiah nobel. Penghargaan tersebut
tidak hanya tertuju langsung kepada ahli dan orangya, tetapi juga pada bidang
keilmuannya, yakni ilmu ekonomi kelembagaan (Rachbini, 2002). Para penganut
ekonomi kelembagaan percaya bahwa pendekatan multidisipliner sangat penting
untuk memotret masalah – masalah ekonomi, seperti aspek sosial, hukum, politik,
budaya, dan yang lain sebagai satu kesatuan analisis (Yustika, 2008: 55). Oleh
karena itu, untuk mendekati gejala ekonomi maka, pendekatan ekonomi
kelembagaan menggunakan metode kualitatif yang dibangun dari tiga permis
penting yaitu: partikular, subyektif dan, nonprediktif.

1. Pertama, partikular dimaknai sebagai heterogenitas karakteristik dalam


masyarakat. Artinya setiap fenomena sosial selalu spesifik merujuk pada
kondisi sosial tertentu ( dan tidak berlaku untuk kondisi sosial yang lain).
Lewat premis partikularitas tersebut, sebetulnya penelitian kualitatif
langsung bebicara dua hal: (1) keyakinan bahwa fenomena sosial tidaklah
tunggal, dan (2) Penelitian kualitatif secara rendah hati telah
memproklamasikan keterbatasannya (yustika, 2008: 69).
2. Kedua, yang dimaksud dengan subyektif disini sesungguhnya bukan
berarti penelitian melakukan penelitian secara subyektif tetapi realitas
atau fenomena sosial. Karena itu lebih mendekatkan diri pada situasi dan
kondisi yang ada pada sumber data, dengan berusaha menempatkan diri
serta berfikir dari sudut pandang “orang dalam” dalam antropologi disebut
dengan emic.
3. Ketiga, nonprediktif ialah bahwa dalam paradigma penelitian kualitatif
sama sekali tidak masuk ke wilayah prediksi kedepan, tetapi yang
ditekankan disisni ialah bagaimana pemaknaan, konsep, definisi,
karakteristik, metafora, simbol, dan deskripsi atas sesuatu. Jadi titik
tekannya adalah menjelaskan secara utuh proses dibalik sebuah fenomena.
2.4 Perkembangan Ekonomi Kelembagaan Di Indonesia

Perkembangan pemikiran ekonomi di barat turut mempengaruhi studi –studi


Ekonomi di Indonesia beberapa sarjana – sarjana indonesia lulusan sekolah barat
yang menaruh perhatian terhadap gagasan ini dapat dilacak misalnya, Mubyarto,

Ekonomi Kelembagaan | 11
dengan pemikirannya tentang pengembangan ilmu dan pendidikan ekonomi
alternatif yang berpijak pada sistem nilai, sosial budaya, dan kehidupan ekonomi
riil (real-life economy) masyarakat Indonesia. A.R. Karseno (2004) dalam pidato
pengukuhannya sebagai guru besar di fakultas ekonomi UGM mengemukakan,
bahwa selama krisis kita pasar tidak bekerja dengan baik terdapat dimensi lain
yang menolong perekonomian dan krisis, faktor lain itu adalah adanya pranata
yang hidup di masyarakat. Pranata yang mengatur perilaku seseorang dalam
kehidupan sehari – hari. Saking kehidupan ekonomi masih berjalan, bahkan
menurut pendapatnya teori ekonomi Neo-klasik sudah terlalu jauh
mengabaikannya. Tetapi tetap saja masalah kita semakin menunjukkan bahwa
dalam memahami perekonomian Indonesia ada beberapa hubungan dan
penguasaan ekonomi yang harus menjadi perhatian kita. Ekonomi kebanyakan
warga negara Indonesia yang harus dipahami dalam kontek hubungan induvidu
dan masyarakat, hubungan antar- negara dan masyarakat, serta pihak lain realitas
pasar dalam kaitannya dengan peran negara dalam urusan fiskal-moneter-investasi
yang cenderung mendikte pasar. Derajat inilah yang perlu mendapatkan
pendalaman dalam memahami kelembagaan (institusi) dalam kontek mikro dan
makro ekonomi Indonesia. Masih dari UGM, Lincolin Arsyad (2005) dalam
penelitiannya Assessing the performance and Sustainability of Microfinance
institutio: The Case of Village Credit Institution of Bali menemukan kinerja
lembaga perkreditan desa (LPD) di Gianyar, Bali dipengaruhi oleh kelembagaan
yang meliputi lembaga formal dan informal. Ia mencatat bahwa kelembagaan adat
memberikan kontribusi dalam kinerja portofolio, leverge, rasio kecukupan
modal,produktivitas, efisiensi, profitabilitas, dan kelayakan keuangan LPD.

1. Ahmad Erani Yustika (2005) lulusan Georg-August-Universitat Gotten,


jerman dengan disertasi Transaktion Cost Economics of The Sugar
Industry in Indonesia dan juga buku teks “Ekonomi Kelembagaan:
Definisi, Teori, dan Strategi” sehingga tidaklah berlebihan jika Yustika
dikategorikan sebagai salah satu pemikir ekonomi kelembagaan di tanah
air. Perkembangan terkini yang perlu dicatat ialah dimasukkannya mata
kuliah ekonomi kelembagaan dalam kuriulum studi kelembgaan di
fakultas ekonomi. Karena itu studi ekonomi kelembagaan semakin

Ekonomi Kelembagaan | 12
popular. Demikian juga pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa
kelembagaan (institution) merupakan determinan utama kesejahteraan dan
pertumbuhan jangka panjang. Negara-negara ataupun kawasan yang lebih
makmur dewasa ini adalah yang memiliki kelembagaan politik dan
ekonomi lebih baik dimasa lalu (hall & jones, 1999, dan acemoglu, et. Al.,
2001). Kemajuan China dan India dewasa ini, dengan segala kekurangnya,
bisa dijelaskan dari aspek kelembagaan ini. Juga negara-negara di Asia
yang paling dinamis. Apalagi saat ini gelombang krisis keuangan yang
menerpa dunia saat ini dimana mainstream ekonomi yang berpijak pada
asumsi-asumsi ekonomi klasik membuat pendekatan ekonomi klasik
semakin dipertanyakan eksistensinya, karena itu studi ekonomi
kelembagaan semakin memperoleh tempat sebagai pendekatan alternatif
bagi ekonomi dunia saat ini

Ekonomi Kelembagaan | 13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Ekonomi klasik yang mengasumsikan bahwa semua manusia adalah


rasional dan bekerja berdasarkan insentif ekonomi ternyata dalam prrakteknya
banyak factor-faktor sosial, ekonomi dan politik yang mempengaruhi individu
dalam keputusan ekonominya. Pada titik ini ekonomi kelembagaan masuk untuk
mewartakan bahwa kegiatan ekonomi sangat dipengaruhi oleh tata letak antar
pelaku ekonomi (teori ekonomi politik), desain aturan main (teori ekonomi biaya
transaksi), norma dan keyakinan suatu individu/komunitas (teori modal sosial),
insentif untuk melakukan kolaborasi (teori tindakan kolektif), model kesepakatan
yang dibikin (teori kontrak), pilihan atas kepemilikan asset fisik maupun non fisik
(teori hak kepemilikan), dan lain-lain. Intinya, selalu ada insentif bagi individu
untuk berperilaku menyimpang sehingga sistem ekonomi tidak bisa dibiarkan
hanya dipandu oleh pasar.

Ekonomi kelembagaan mempelajari dan berusaha memahami peranan


kelembagaan dalam sistem dan organisasi ekonomi atau sistem terkait, yang lebih
luas. Kelembagaan yang dipelajari biasanya bertumbuh spontan seiring dengan
perjalanan waktu atau kelembagaan yang sengaja dibuat oleh manusia. Peranan
kelembagaan bersifat penting dan strategis karena ternyata ada dan berfungsi di
segala bidang kehidupan.

Gelombang krisis keuangan yang menerpa dunia saat ini, dimana mainstream
ekonomi yang berpijak pada asumsi-asumsi ekonomi klasik membuat pendekatan
ekonomi klasik semakin dipertanyakan eksistensinya, karena itu studi ekonomi
kelembagaan semakin memperoleh tempat sebagai pendekatan alternative bagi
ekonomi dunia saat ini.

Ekonomi Kelembagaan | 14
a. Saran

Demikianlah makalah dengan judul “Ekonomi Kelembagaan” ini kami buat


berdasarkan sumber-sumber yang ada kami juga menyadari masihh banyak
kekurangan pada penulisan makalah kami ini. Sehingga perlulah bagi kami dari
pembaca untuk memberikan saran yang membantu agar makalah ini menjadi lebih
baik. Atas perhatian anda semua, kami ucapkan terima kasih.

Ekonomi Kelembagaan | 15
DAFTAR PUSTAKA

http://punyauchti.blogspot.com/2013/06/makalah-ekonomi-kelembagaan.html?
m=1 diakses pada tanggal 19 Februari 2020.

Ekonomi Kelembagaan | 16