Anda di halaman 1dari 7

MOBILITAS PEKERJA PEMBANTU RUMAH TANGGA DARI DAERAH

PINGGIRAN KE KOTA MEDAN (Studi Kasus di Kecamatan Percut Sei Tuan


Kabupaten Deli Serdang)

Abstrak
Kota Medan sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, menjadi daya tarik bagi
para pekerja untuk mengais rezeki yang datang dari berbagai daerah. Bagi pekerja yang
datang dari daerah pinggiran kota Medan, sebagian diantaranya datang pagi hari dan pulang
sore hari, sedangkan sebagian lagi ada yang menginap di Kota Medan hingga dalam hitungan
minggu maupun bulanan. Faktor yang mendorong mobilitas ke kota Medan adalah untuk
menambah pendapatan atau pemasukan keuangan keluarga. Dengan terjadinya mobilitas
penduduk tidak berpengaruh besar terhadap ketersediaan tenaga kerja di desa yang
bersangkutan. Pada dasarnya tidak ada langkah yang khusus yang dilakukan pemerintah
Kecamatan Percut Sei Tuan untuk mengurangi laju mobilitas penduduk ke kota Medan,.
Untuk penguatan ekonomi desa, permodalan pelaku ekonomi perlu dijembatani pemerintah
kecamatan dengan bank-bank tertentu dalam rangka pemberdayaannya. Pemerintah
kecamatan melalui para Kepala desa sebaiknya melakukan pendataan terhadap penduduknya
yang melakukan mobilitas, kemudian menghubungi pengguna jasa mereka di Kota Medan
agar pelaku mobilitas tersebut tidak mendapat perlakuan sewenangwenang dari sang majikan.

Mobilitas penduduk didefenisikan sebagai perpindahan penduduk yang melewati


batas administrasi, namun tidak berniat menetap di daerah yang baru. Sedangkan, migrasi
didefenisikan sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas administrative dan berniat
menetap di daerah yang baru tersebut. Sebagian masyarakat yang melakukan mobilitas ke
Kota Medan untuk mencari pekerjaan adalah orang-orang keturunan China yang memiliki
kehidupan ekonomi yang relatif lebih baik dibandingkan dengan kaum pribumi.
Apabila kita lihat fenomena migran antar propinsi di Indonesia dapat dibedakan atas
empat kategori. Menurut Tjondronegoro (1987 : 92) fenomena migrant tersebut terdiri dari :
1. Non migrant
2. Migran yang kembali (provinsi tempat kelahiran = provinsi tempat tinggal sekarang =
provinsi bertempat tinggal sebelumnya berlainan)
3. Migran satu tahap (provinsi tempat lahir = provinsi tempat tinggal sebelumnya = provinsi
tempat tinggal sekarang berlainan )
4. Migran beberapa tahap/ tak kembali (provinsi tempat lahir, provinsi tempat tinggal
sebelumnya dan propinsi tempat tinggal sekarang berlainan semuanya.)
Perjalanan meninggalkan desa atau tempat tinggal pelaku mobilitas ke Kota atau daerah
tujuan yang diinginkannya sangat variatif sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukannya,
diantaranya adalah :
1. Berangkat pagi pulang pada siang hari atau malam hari.
2. Pulang ke tempat asalnya dalam jangka waktu 3-7 hari satu kali.
3. Pulang ke tempat asal dalam jangka waktu 1 kali satu bulan.
4. Pulang ke tempat asal 1 kali dalam satu tahun.
5. Tidak pulang atau tinggal tetap.

Mobilitas penduduk dari Kecamatan Percut Sei Tuan ke Kota Medan biasanya dapat
kita saksikan pada pagi hari, sekelompok wanita mengendarai sepeda dari berbagi jenis yang
datang dari arah Jalan Batang Kuis menuju Kota Medan, kemudian sebagian diantaranya
akan pulang pada siang hari atau pada sore hari juga dengan mengendarai kendaraan yang
sama. Apabila dilihat dari segi usia pelaku mobilitas pada umumnya masih di bawah 50
tahun. Dengan usia ini mereka umumnya masih kuat untuk mengendarai sepeda dengan jarak
tempuh sekali perjalanan lebih kurang 6-10 km.
Dari 20 orang informan dalam penelitian ini maka 25 % diantaranya berusia 14-25
tahun, 30 % berusia 26-35 orang, dan 45 orang berusia 36-50 orang. Dilihat dari segi tingkat
pendidikannya, mayoritas informan sebagai pelaku mobilitas adalah berpendidikan tamatan
SLTP dan tidak tamat SLTP. Namun demikian, beberapa orang diantaranya ada yang sedang
duduk di bangku kuliah. Apabila dilihat dari segi tingkat pendidikan, 6 orang (30,00 %)
informan sebagai pelaku mobilitas memiliki tingkat pendidikan tamat/tidak tamat Sekolah
Dasar, 9 orang (45,00 %) memiliki tingkat pendidikan tamat/tidak tamat Sekolah Lanjutan
Pertama, 3 orang (15,00 %) memiliki tingkat pendidikan Tamat/Tidak Tamat Sekolah
Lanjutan Atas, dan terdapat orang (10, 00 %) diantara pelaku mobilitas yang sedang duduk
di bangku kuliah.
Para informan pelaku mobilitas meninggalkan tempat asalnya setiap hari, alasan
mobilitas umumnya karena gaji yang mereka peroleh lebih kecil dibandingkan dengan
bekerja di Kota Medan. Tempat pelaku mobilitas di Kota Medan sebagai pembantu rumah
tangga pada umumnya adalah di rumah-rumah keturunan Cina, baik sebagai cleaning service,
tukang masak maupun sebagai tukang cuci.
Pengaruh Mobilitas Terhadap Ketersediaan Tenaga Kerja di Daerah Asal
Penduduk yang melakukan mobilitas dari Kecamatan Percut Sei Tuan ke Kota Medan
umumnya berasal dari beberapa desa yaitu, Desa Tembung, Desa Laut Dendang, Desa
Bandar Khalifah, Desa Bandar Klippa, Desa Kolam. Dengan aktivitas Ibu-ibu rumah tangga
atau kaum wanita yang melakukan mobilitas ke Kota Medan setiap harinya, berpengaruh
terhadap ketersediaan tenaga kerja di tempat asal mereka. Hal ini dapat dilihat, apabila ada
kegiatan PKK, Posyandu dan acara hajatan, acap kali tidak dihadiri kaum wanita penduduk
desa secara maksimal sesuai dengan data jumlah penduduk yang ada pada masing-masing
desa dan tidak bisa membantu dalam acara hajatan.

Pengaruh dalam Aspek Lainnya :


Apabila ditinjau dari aspek kesehatan, seseorang yang melakukan perjalanan pulang
pergi setiap hari dari tempat tinggalnya ke tempat bekerja terutama apabila dengan jarak
tempuh yang cukup lama tentu akan dapat mengganggu kesehatan. Terpaan angin yang
dihadapi pelaku mobilitas setiap hari memiliki efek buruk terhadap paruparu, rentan masuk
angin, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya. Pertambahan jumlah kendaraan yang tidak
sebanding dengan luas badan jalan telah mengakibatkan kepadatan lalu lintas yang semakin
memuncak. Hal ini menyebabkan tingkat kecelakaan juga semakin sering terjadi.

Tindakan Pemerintah
Selama ini tidak ada upaya yang maksimal dilakukan Pemerintah Kecamatan Percut Sei
Tuan, hanya sekedar menyampaikan himbauan agar lebih memilih pekerjaan yang lebih dekat
dengan tempat tinggal mereka masing-masing.

Kesimpulan :
Berdasarkan hasil penelitian lapangan dan analisis data, maka kesimpulan dapat
dikemukakan sebagai berikut:
1. Terjadinya mobilitas penduduk dari Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
ke kota Medan disebabkan beberapa faktor yaitu, faktor ekonomi keluarga, ketersediaan
lapangan pekerjaan di desa asal terbatas dan apabila tersedia lapangan pekerjaan maka
gajinya lebih kecil dibandingkan dengan bekerja di Kota Medan.
2. Penduduk yang melakukan mobilitas dari Kecamatan Percut Sei Tuan ke Kota Medan
umumnya berasal dari beberapa desa yaitu, Desa Tembung, Desa Laut Dendang, Desa
Bandar Khalifah, Desa Bandar Klippa, Desa Kolam. Dengan aktivitas Ibu-ibu rumah
tangga atau kaum wanita yang melakukan mobilitas ke Kota Medan setiap harinya,
berpengaruh terhadap ketersediaan tenaga kerja di tempat asal mereka, walaupun
pengaruhnya tidak signifikan.
3. Langkah pemerintah Kecamatan Percut Sei Tuan untuk menahan laju mobilitas penduduk
tidak ada dilakukan secara khusus, hanya saja dipesankan agar pelaku mobilitas lebih hati-
hati di perjalanan agar tidak mendapat kecelakaan lalu lintas.

The Impact of Labor Mobility on Unemployment: A Comparison Between Jordan And


Tunisia

Abstrak
Jordan dan Tunisia adalah dua negara MENA( Middle East and North Africa)
pengekspor non-minyak yang ditandai dengan tingkat pengangguran yang tinggi dan populasi
migran yang signifikan. Analisis komparatif dampak mobilitas internasional di kedua negara
memungkinkan untuk menjelaskan mekanisme di mana emigrasi memengaruhi hasil pasar
kerja dan secara timbal balik.
Peningkatan upah asing memiliki manfaat lebih tinggi di Yordania meskipun ada
peningkatan migrasi yang lebih tinggi di Tunisia. Ketika kenaikan terbatas pada upah pekerja
migran berketerampilan tinggi, pekerja berketerampilan rendah dan menengah secara positif
mungkin terpengaruh di Tunisia dan secara negatif di Jordan. Akhirnya, upah tinggi bagi
pekerja yang terlatih dapat berdampak negatif terhadap pendidikan transisi yang memperbaiki
pendidikan, sementara akibat lainnya memiliki efek variabel, tergantung pada parameter
struktural pasar tenaga kerja di kedua Negara.
Jurnal ini membahas masalah ekonomi yang terlibat dengan mobilitas tenaga kerja
yang lebih besar di Yordania dan Tunisia dengan fokus pada dampak pada pekerjaan dan
pendidikan. Analisis yang diusulkan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Bagaimana
variasi upah migran memengaruhi pengangguran, upah, dan partisipasi di negara pengirim?
bagaimana ketimpangan pekerjaan rumah tangga memengaruhi perilaku migrasi? Akhirnya,
apa dampak dari kebijakan migrasi selektif yang didorong untuk lingkungan di negara
tujuan?

Pembahasan :
Mobilitas tenaga kerja yang meningkat dapat menghasilkan dua hasil: memerangi
pengangguran dan meningkatkan pertumbuhan melalui penggunaan sumber daya yang
tersedia secara lebih efisien, terutama sumber daya manusia. Sebagai negara tertentu yang
bekerja berdasarkan kerja keras dan pekerja impor lainnya, kerja sama yang disetujui untuk
pergerakan kerja yang rumit dapat bermanfaat bagi semua (Hoekman dan Sekkat, 2009).
Namun, penerimaan pemerintah untuk memfasilitasi mobilitas tenaga kerja biasanya lebih
rendah daripada mobilitas modal, sebagaimana disaksikan oleh jumlah yang jauh lebih besar
dari perjanjian investasi bilateral dan oleh keengganan negara-negara untuk memasukkan
pertambahan kesepakatan kemampuan mobilitas dalam perjanjian kemitraan
(StephensonandHufbauer, 2010). Ini merugikan tenaga kerja negara-negara berkembang yang
berlimpah.
Jordan dan Tunisia adalah salah satu dari banyak negara yang bermigrasi (negara
pendatang ). Mereka mengikuti hampir semua jalur liberalisasi ekonomi yang sama dalam
dua dekade terakhir dan menderita tingkat pengangguran yang tinggi meskipun jalur
pertumbuhan yang relatif tinggi dan berkelanjutan. Tunisia dicirikan oleh persediaan migran
yang lebih tinggi, sementara Jordan dicirikan oleh aliran yang lebih tinggi dan bagian yang
lebih tinggi dari remitansi ke PDB. Warga Tunisia beremigrasi terutama ke Eropa sementara
warga Jordania mencari pekerjaan terutama di Teluk.
Setiap tenaga kerja memutuskan untuk tinggal di rumah atau bermigrasi tergantung
pada upah relatif, mengikuti elastisitas fungsi transformasi yang konstan. Terlebih lagi, dalam
kasus Tunisia, selama Musim Semi Arab dan kekacauan yang terjadi kemudian, kontrol
perbatasan praktis ditangguhkan, mengakibatkan arus migran besar-besaran masuk dan keluar
dari Tunisia.
a. Jordania
Tingkat pertumbuhan populasi yang tinggi dan imigrasi besar-besaran membuat
kasus Jordania sangat menarik dalam hal perilaku pasar tenaga kerja. Proyeksi menunjukkan
peningkatan populasi yang cepat, tetapi stagnasi tingkat partisipasi angkatan kerja (rata-rata
yang stabil 38,9% antara tahun 2000 dan 2020 menurut proyeksi DoS). Faktanya, tingkat
partisipasi angkatan kerja Jordania adalah salah satu yang terendah di dunia (Bank Dunia,
2008). Dalam hal migrasi, fakta yang paling mencolok adalah arus tenaga kerja terampil yang
tinggi ke negara-negara anggota GCC dan imigrasi pekerja asing berketerampilan rendah
(Corm, 2009). Tujuan utama bagi para migran Jordania adalah negara GCC (The Gulf
Cooperation Council) , dengan perkiraan stok 141.202 pekerja Yordania pada tahun 2008
(Kementerian Tenaga Kerja).
Menggunakan Jordan Labor Market PanelSurevy (JLMPS), dia menganalisis
karakteristik utama dari migrasi Jordania dan keterkaitannya dengan pasar tenaga kerja lokal.
Studi ini menunjukkan intensitas keterampilan tinggi dari migrasi keluar, dengan 62%
emigran memegang gelar sarjana, dan menemukan bukti peningkatan upah lokal karena
emigrasi. Bank Dunia memeringkat Jordania10 dari negara yang menerima dana pensiun
secara proporsional terhadap PDB. Pangsa pengiriman uang dari PDB naik dari 16 persen
pada 2008 menjadi 23 persen pada 2009.

b. Tunisia
Populasi usia kerja mewakili 75% dari populasi di Tunisia dan tingkat
pertumbuhannya adalah dua kali lipat dari total tingkat pertumbuhan populasi (Mahjoub,
2010). Tingkat partisipasi tenaga kerja diperkirakan 47% pada tahun 2010, tetapi perbedaan
penting dapat ditemukan mengenai perempuan (yang berpartisipasi 25%) dan kaum muda.
Selain itu, tampaknya ada korelasi antara usia dan pengangguran, dengan tingkat
pengangguran yang tinggi untuk kaum muda (28,7% untuk mereka yang berusia antara 15-19
tahun dan 29,7% untuk mereka yang berusia 20 hingga 24 tahun) yang menurun seiring
bertambahnya usia, mencapai 3 % untuk mereka yang berusia 45 tahun
Sejalan dengan itu, survei gabungan ETF (Yayasan Pelatihan Eropa) dan Bank
Dunia menunjukkan bahwa warga Tunisia memiliki harapan tinggi untuk bermigrasi, lebih
tinggi daripada calon migran di negara-negara yang disurvei lainnya (Albania, Mesir, dan
Moldova). Selain itu, niat untuk bermigrasi tinggi tidak hanya untuk para penganggur (81%)
dan pekerja lepas (75%), tetapi juga bagi mereka yang memiliki pekerjaan yang stabil (56%)
(Sabadie et al., 2010). Meskipun niat ini tidak mencerminkan realitas arus migrasi, mereka
menyoroti masalah dan frustrasi yang dihadapi oleh pemuda Tunisia. Dalam hal persediaan,
jumlah warga Tunisia yang tinggal di luar negara asalnya sedikit lebih dari 1 juta, dengan
mayoritas (hampir83%) tinggal di Eropa. Tujuan paling populer adalah Prancis, menerima
sekitar 40% dari semua migran Tunisia, diikuti oleh Italia dengan 25%.

Bagian terpenting dari migran Tunisia (48,1%) memiliki pendidikan menengah,


sedangkan lulusan universitas mewakili 14,1% dari migran. Akhirnya, pengiriman uang
memainkan peran penting dalam perekonomian Tunisia. Pada 2010, mereka berjumlah 1,970
juta US $, mewakili 4,4% dari PDB dan 30 hingga 40% dari defisit perdagangan.
IntermsofmigrasikeEurope, Tunisiahastwomainmigrationagreements, selain Perancis dan satu
dengan Italia. Keduanya memungkinkan migrasi pekerja terkait Tunisia dalam kuota 9.000
pekerja per tahun untuk Perancis dan 4000 untuk Italia. Namun demikian, hanya daftar
pekerjaan terbatas yang diperhatikan (untuk Italia, terutama insinyur, dokter dan staf
paramedis diizinkan) dan persyaratan dalam hal kualifikasi cukup tinggi, sehingga
menghasilkan kuota tanpa pengawasan di kedua negara.

Kesimpulan
Simulasi peningkatan ekspor jasa berpotensi melibatkan mobilitas profesional
memiliki dampak positif pada hasil ekonomi dan tenaga kerja di kedua negara. Seperti yang
disarankan dalam literatur, bukti-bukti tentang substitusi dari perusahaan-perusahaan jasa
migrasi, khususnya untuk pekerja-pekerja terampil yang tinggi. Namun, dapat dilihat
substitusi tenaga kerja dengan modal di kedua negara, yang memberikan komplementaritas
keterampilan-modal menginduksi ketimpangan upah yang lebih tinggi di antara keterampilan.
Lebih jauh, skenario ini lebih menguntungkan kaum muda di Tunisia, yang berpotensi lebih
inklusif terhadap kaum muda daripada di Jordania.
Peningkatan upah asing memiliki manfaat yang lebih tinggi di Jordania meskipun
terjadi kenaikan migrasi yang lebih tinggi di Afrika. Imulasi ini menghasilkan dampak yang
lebih rendah pada hasil pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tinggi, karena pola
struktural pasar tenaga kerja. Ketika kenaikan upah asing hanya menyangkut emigran
berketerampilan tinggi, efeknya positif pada pekerja lokal yang berpendidikan tinggi,
khususnya di Jordania. Namun, dampaknya terhadap pekerja lokal yang berketerampilan
rendah dan menengah, pandangan yang ambigu di masa depan, tergantung pada ketinggian
para migran yang mengalir ke dalam populasi yang bekerja. Di Jordania di mana arus
pendatang mewakili bagian yang lebih tinggi, dampaknya terhadap pekerja berketerampilan
rendah dan menengah adalah negatif, sementara dampaknya positif di Tunisia pada kategori
yang sama.