Anda di halaman 1dari 1

Sumber : KTI keseimbangan cairan tubuh Oleh Arjuna Rahmat.

Cara menghitung balance cairan yakni dengan cairan yang masuk dikurangi dengan
cairan yang keluar.
Intake cairan : mulai dari cairan infus, minum, kandungan cairan dalam makanan
pasien, volume obat – obatan, termasuk obat suntik, obat yang drip, albumin, air
metabolisme (5cc x BB/hari)
Output cairan terdiri dari 24 jam, jika pasien dipasang kateter maka hitung dalam
ukuran di urobag, jika tidak terpasang maka pasien harus menampung urinenya
sendiri, biasanya dtampung di botol air mineral dengan ukuran 1,5 liter kemudian
feses, muntah,perdarahan, cairan NGT terbuka, IWL.(insensible water loss: jumlah
cairan keluarnya tidak disadari dan sulit dihitung yaitu jumlah keringat, uap hawa
nafas)
IWL = 15 x BB/24jam
Hubungan antara balance cairan dengan edema adalah jika cairan yang masuk lebih
banyak dari cairan yang keluar maka akan terjadi edema.

Piting edema pada pasien gagal jantung terjadi karena darah yang kaya akan karbondioksida
karena oksigen sudah terpakai oleh tubuh akan memasuki ruang kanan atas (atrium kanan)
kemudian turun keruang kanan bawah (ventrikel kanan) dan kemudian dipompa keparu paru.
Diparu-paru sel darah merah akan melepaskan karbondioksida akan menangkanoksigen.
Darah kaya oksigen dari paru-paru kemudian memasuki ruang atas kiri (atrium kiri) dan
kemudian memasuki ruang kiri bawah (ventrikel kiri). Darah kemudian dipompa keseluruh
tubuh oleh jantung dengan tekanan tertentu untuk disalurkan melalui arteri. Pada oarang
CHF, ventrikel kiri tidka kosong dengan benar, masih banyak darah yang tidak terpompa
keluar, sedangkan darah terus mengalir ke arah jantung. Hal ini menyebabkan peningkatan
tekanan di atrium (ruang atas) danpembuluh darah didekatnya. Darah yang menuju jantung
menuju menjadi tertahan dan memicu retensi atau penumpukan cairan (edema) diparu-paru,
organ perut dan kaki. Hal ini juga mempengaruhi ginjal, menganggu fungsi ginjal dan
mnyebabkan retensi garam dan air menyebabkan edema.