Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA

Ekstraksi Jahe dengan Metode Maserasi Menggunakan Pelarut Polar

Oleh :

Rinaldy Josua Fenro


18734025

TEKNOLOGI REKAYASA KIMIA INDUSTRI


JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2019
I. Judul Praktikum

Adapun judul praktikum kali ini yaitu “Ekstraksi Jahe dengan Metode
Maserasi”.

II. Tujuan
1. Untuk mengetahui metode yang tepat untuk ekstraksi tanaman akar
rimpang, khususnya jahe-jahean.
2. Untuk memisahkan suatu komponen dari campurannya dengan
menggunakan pelarut tertentu. 
3. Untuk mengetahui rendemen yang dihasilkan dengan metode tersebut.

III. Dasar Teori

3.1 Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dan
bagian tumbuhan obat, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota
laut. Zat-zat aktif tersebut terdapat di dalam sel, namun sel tumbuhan dan
hewan memiliki perbedaan begitu pula ketebalannya sehingga diperlukan
metode ekstraksi dan pelarut tertentu untuk mengekstraksinya ( Tobo F,
2001).

Ekstraksi adalah pemurnian suatu senyawa. Ekstraksi cairan-cairan


merupakan suatu teknik dalam suatu larutan (biasanya dalam air) dibuat
bersentuhan dengan suatu pelarut kedua (biasanya organik), yang pada
dasarnya tidak saling bercampur dan menimbulkan perpindahan satu atau
lebih zat terlarut (solut) ke dalam pelarut kedua itu. Pemisahan itu dapat
dilakukan dengan mengocok-ngocok larutan dalam sebuah corong
pemisah selama beberapa menit (Shevla, 1985).

Ada beberapa metode sederhana yang dapat dilakukan untuk mengambil


komponen berkhasiat ini; diantaranya dengan melakukan perendaman,
mengaliri simplisia dengan pelarut tertentu ataupun yang lebih umum
dengan melakukan perebusan dengan tidak melakukan proses pendidihan
(Makhmud, 2001).

Umumnya zat aktif yang terkandung dalam tumbuhan maupun hewan


lebih mudah tarut dalam petarut organik. Proses terekstraksinya zat aktif
dimulai ketika pelarut organik menembus dinding sel dan masuk ke
dalam rongga set yang mengandung zat aktif, zat aktif akan terlarut
sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam
sel dan pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi
ke luar sel, dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi
keseimbangan antara konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar sel (Tobo
F, 2001).

Pengeringan merupakan proses pengawetan simplisia sehingga simplisia


tahan lama dalam penyimpanan. Selain itu pengeringan akan
menghindari teruainya kandungan kimia karena pengaruh enzim.
Pengeringan yang cukup akan mencegah pertumbuhan mikroorganisme
dan kapang (jamur). Jamur Aspergilus flavus  akan menghasilkan
aflatoksin yang sangat beracun dan dapat menyebabkan kanker hati,
senyawa ini sangat ditakuti oleh konsumen dari Barat. Menurut
persyaratan obat tradisional tertera bahwa Angka khamir atau kapang
tidak Iebih dari 104. Mikroba patogen harus negatif dan kandungan
aflatoksin tidak lebih dari 30 bagian per juta (bpj). Tandanya simplisia
sudah kering adalah mudah meremah bila diremas atau mudah patah.
Menurut persyaratan obat tradisional pengeringan dilakukan sampai
kadar air tidak lebih dari 10%. Cara penetapan kadar air dilakukan
menurut yang tertera dalam Materia Medika Indonesia atau Farmakope
Indonesia. Pengeringan sebaiknya jangan di bawah sinar matahari
langsung, melainkan dengan almari pengering yang dilengkapi dengan
kipas penyedot udara sehingga terjadi sirkulasi yang baik. Bila terpaksa
dilakukan pengeringan di bawah sinar matahari maka perlu ditutup
dengan kain hitam untuk menghindari terurainya kandungan kimia dan
debu. Agar proses pengeringan berlangsung lebih singkat bahan harus
dibuat rata dan tidak bertumpuk. Ditekankan di sini bahwa cara
pengeringan diupayakan sedemikian rupa sehingga tidak merusak
kandungan aktifnya (Dijten POM, 1990).

Banyak simplisia yang memerlukan perajangan agar proses pengeringan


berlangsung lebih cepat. Perajangan dapat dilakukan “manual” atau
dengan mesin perajang singkong dengan ketebalan yang sesuai. Apabila
terlalu tebal maka proses pengeringan akan terlalu lama dan
kemungkinan dapat membusuk atau berjamur. Perajangan yang terlalu
tipis akan berakibat rusaknya kandungan kimia karena oksidasi atau
reduksi. Alat perajang atau pisau yang digunakan sebaiknya bukan dan
besi (misalnya “stainless steel” eteu baja nirkarat) (Ditjen POM, 1990).

Dalam memilih pelarut yang akan dipakai harus diperhatikan sifat


kandungan kimia (metabolit sekunder) yang akan diekstraksi. Sifat yang
penting adalah sifat kepolaran, dapat dilihat dari gugus polar senyawa
tersebut yaitu gugus OH, COOH. Senyawa polar lebih mudah larut dalam
pelarut polar, dan senyawa non polar akan lebih mudah larut dalam
pelarut non polar. Derajat kepolaran tergantung kepada ketetapan
dielektrik, makin besar tetapan dielektrik makin polar pelarut tersebut
(Ditjen POM, 1992).

Syarat-syarat pelarut adalah sebagai berikut (Ditjen POM, 1992):


1. Kapasitas besar
2. Selektif
3. Volabilitas cukup rendah (kemudahan menguap/titik didihnya cukup
rendah) Cara memperoleh penguapannya adalah dengan cara
penguapan diatas penangas air dengan wadah lebar pada temperature
60oC, destilasi, dan penyulingan vakum.
4. Harus dapat diregenerasi
5. Relative tidak mahal
6. Non toksik, non korosif, tidak memberikan kontaminasi serius dalam
keadaan uap
7. Viskositas cukup rendah
8. Pemilihan metode ekstraksi

Hal-hal yang dipertimbangkan dalam pemilihan metode ekstraksi


(Agoes, 2007):
1. Bentuk/tekstur bahan yang digunakan
2. Kandungan air dari bahan yang diekstrasi
3. Jenis senyawa yang akan diekstraksi
4. Sifat senyawa yang akan diekstraksi

3.2 Metode Maserasi


Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari
selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya
(Ditjen POM, 1986).

Metode ini digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung


komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak
mengandung zat yang mudah mengembang seperti benzoin, stiraks dan
lilin. Penggunaan metode ini misalnya pada sampel yang berupa daun,
contohnya pada penggunaan pelarut eter atau aseton untuk melarutkan
lemak/lipid (Ditjen POM, 1986).

Maserasi umumnya dilakukan dengan cara: memasukkan simplisia yang


sudah diserbukkan dengan derajat halus tertentu sebanyak 10 bagian
dalam bejana maserasi yang dilengkapi pengaduk mekanik, kemudian
ditambahkan 75 bagian cairan penyari ditutup dan dibiarkan selama 5
hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya sambil berulang-
ulang diaduk. Setelah 5 hari, cairan penyari disaring ke dalam wadah
penampung, kemudian ampasnya diperas dan ditambah cairan penyari
lagi secukupnya dan diaduk kemudian disaring lagi sehingga diperoleh
sari 100 bagian. Sari yang diperoleh ditutup dan disimpan pada tempat
yang terlindung dari cahaya selama 2 hari, endapan yang terbentuk
dipisahkan dan filtratnya dipekatkan (Ditjen POM, 1986).

Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan


peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Selain itu,
kerusakan pada komponen kimia sangat minimal. Adapun kerugian cara
maserasi ini adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang
sempurna (Ditjen POM, 1986).

3.3 Komponen Bioaktif pada Jahe


Jahe diketahui memiliki aktivitas analgesik, antiaggregan, antialkohol,
antiallergik, antimikroba, antikanker, antidepresan, antiedemik,
antiemetik,antiinflamasi, antimutagenik, antinarkotik, antioksidan,
antiserotonigenik,antipiretik, antitrombik, antitusif, immunostimulan
(Duke et al., 2002).

Jahe terdiri dari minyak esensial dan oleoresin, minyak jahe berperan
dalam aroma jahe dan oleoresin berperan sebagai timbulnya rasa pedas.
Minyak jahe memiliki kandungan antara 1,0 – 3,0 %, sedangkan
oleoresin pada jahe memiliki kandungan berkisar antara 4,0 – 7,5 %.
Minyak jahe umumnya digunakan sebagai perasa minuman, kosmetika,
manisan, parfum dan farmasetikal.Rasa pedas pada jahe segar disebabkan
golongan fenilalkil keton atau yang biasa disebut gingerol dan [6]-
gingerol merupakan komponen teraktif pada jahe. Senyawa [6]-
gingerol yang terpapar peningkatan suhu menyebabkan
perubahan bentuk menjadi zingeron, yang menghasilkan rasa pedas yang
sedang (Fennema,1996).

IV. Alat dan Bahan


IV.1 Alat
Adapun peralatan yang digunakan antara lain beakerglass 250 mL,
parutan kecil, batang pengaduk, baskom atau wadah kecil, corong kaca,
dan rotary evaporator.
IV.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan antara lain jahe segar, larutan
metanol, larutan etanol, kertas saring, dan aquades.

V. Prosedur Kerja
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Jahe dibersihkan dari kotoran dan tanah kemudian kulitnya dikupas.
3. Jahe yang sudah bersih lalu diparut kemudian ditimbang sebagai berat
awal.
4. Hasil parutan dimasukkan ke dalam beakerglass kemudian ditambahkan
pelarut Etanol dan Metanol sampai sampel terendam sepenuhnya
(setidaknya permukaan pelarut berada 2 cm di atas sampel).
5. Campuran dimaserasikan atau didiamkan selama 1 jam sampai berubah
warna menjadi coklat pekat dalam keaadaan tertutup.
6. Setelah 1 jam, campuran disaring untu dipisahkan dengan fase padatnya.
7. Filtat selanjutnya dimasukkan ke dalam rotary evaporator untuk
dipisahkan antara senyawa ekstrak dengan pelarutnya.

VI. Hasil dan Pembahasan


VI.1 Tabel Hasil Penimbangan

No Objek Massa (Gram)


.
1 Beakerglass kosong 131,1
2 Beakerglass + sampel jahe 251,4
3 Sampel jahe 120,3

Setelah dilakukan ekstrak dengan dipisahkan dngan pelarutnya diperoleh


ekstrak jahe sebanyak 31,2 mL.

VI.2 Pembahasan
Dari praktikum yang telah dilaksanakan, ada beberapa hal yang perlu
dibahas diantaranya :
Praktikum kali ini membahas mengenai ekstraksi yang dilakukan pada
komoditas jahe. Adapun metode ekstraksi pada jahe yang dilakukan yaitu
metode maserasi. Metode tersebut memiliki prinsip ekstraksi yaitu
memisahkan komponen yang ingin diambil dengan pelarut. Penggunaan
pelarut dapat mempengaruhi hasil ekstraksi, pada praktikum kali ini
menggunakan pelarut etanol dan metanol. Pada praktikum ini
menggunakan dua pelarut yang berbeda, yaitu etanol dan metanol.
Mengapa menggunakan kedua jenis pelarut? Sebab stok pelarut etanol
hanya ada sedikit sehingga digunakan pelarut metanol untuk mencukupkan
kebutuhan. Namun hal itu tidak apa-apa karena kedua jenis pelarut
tersebut sama-sama pelarut polar. Hasil dari ekstraksi berjumlah 31,2 mL
merupakan ekstrak jahe yang mengandung minyak atsiri, mikroba, bioaktif
dan lain-lain sehingga memiliki khasiat yang baik bila dikonsumsi.

VII.Kesimpulan dan Saran


VII.1 Simpulan
Berdasarkan hasil praktikum, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan
antara lain :
1. Pelarut untuk ekstraksi yang digunakan harus sesuai dengan
tingkatkepolaran suatu senyawa yang ingin diekstrak untuk mendapat
hasil yang maksimal.
2. Setelah dilakukan ekstrak dengan dipisahkan dngan pelarutnya
diperoleh ekstrak jahe sebanyak 31,2 mL.

VII.2 Saran
Selama melakukan pekerjaan apapun di laboratorium baik praktikan,
laboran, teknisi, dan pihak terlibat disarankan mengenakan alat pelindung
diri yang sesuai sebab kita semua mungkin tidak tahu ada saja sekian
ppm bahan kimia yang menguap di sekitar kita. Tak hanya itu, praktikan
diharapkan lebih teliti dan tekun dalam menganalisis suatu sampel.
DAFTAR PUSTAKA

Agoes. Goeswin, 2007, Teknologi Bahan Alam. Penerbit ITB: Bandung.

Ditjen POM, 1986. Sediaan Galenik. Departemen Kesehatan RI : Jakarta.

Ditjen POM, 1990, Cara Pembuatan Simplisia. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia: Jakarta.

Ditjen POM, 1992, Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik. Departemen


Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.

Duke, J.A., M.J. Bogenschutz-Godwin, J. duCellier dan P.A.K. Duke. 2002.


  Handbook of Medicinal Herbs Second Edition. CRC Press, Florida.

Makhmud, AI. 2001. Metode Pemisahan. Departemen Farmasi Fakultas Sains


Dan tekhnologi, Universitas Hasanuddin : Makassar.

Shevla. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro. Cetakan


Pertama. Penerbit PT Kalman Media Pustaka : Jakarta

Tobo, F. 2001. Buku Pengangan Laboratorium Fitokimia I. Universitas


Hasanuddin : Makassar.

https://liayesung.wordpress.com/2015/06/02/laporan-ekstraksi/. Diakses pada


tanggal 25 Juni 2019.

https://www.academia.edu/37530188/laprak_ekstraksi_jahe.docx. Diakses pada


tanggal 25 Juni 2019.
LAMPIRAN

Proses Filtrasi untuk memisahkan ampas dengan ekstrak

Proses agitasi untuk memaksimalkan proses ekstraksi


\
Proses maserasi selama 1 jam dalam keadaan tertutup