Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA ANAK DENGAN NEFROTIK SYNDROM ( SN )

1. PENGERTIAN
Nefrotik Syndrome atau Sindrom Nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema,
proteinuria, hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat hematuria,
hipertensi dan penurunan fungsi ginjal ( Ngastiyah, 1997).
Sindrom Nefrotik merupakan suatu sindroma yang ditandai dengan proteinuriaq,
hipoalbuminemia, hyperlipidemia, dan edema. Sindroma ini dapat terjadi karena adanya
factor yang menyebabkan permeabilitas glomerulus.
Sindrom Nefrotik (NS, sindrom nefrotik) adalah entitasklinis yang terjadi akibat
kehilangan massif protein melalui urine (terutama albuminuria) yang menyebabkan
hipoproteinemia (kebanyakan hipoalbuminuria) dan karenanya edema. Biasanya terjadi
hiperlipidemia, hiperkolestrolemia, dan peningkatan lipiduria yang menyertai. NS biasanya
terjadi karena penyebab glomerular dan saat ini digolongkan ke dalam bentuk primer serta
sekunder. Istilah "NS primer” telah menggantikan istilah yang lebih tua (idiopatik), tetapi
masih tetap mengandung kesamaran faktor penyebabnya. Termasuk ke dalam kelainan ini
adalah saatu variasi status klinis serta patologi yang lua, yang kini beberapa diantaranya
dikenal dengan nama berikut : sindrom nefrotik dengan lesi-minimal, atau perubahan
minimal,, sklerosis segmental fokal, glomerulonefritis membranoproliferatif,
glomerulonefritis membranosa, nefritis proliferative mesangiu, dan nefrotis kongenital.
Istilah NS sekunder berhubungan dengan penyakit yang telah terdefinisikan dengan lebih
jelas seperti :purpura anafilaktid, diabetes militus, penyakit sel sabit, sifilis dan lainnya.
(Luther B. Travis, 2004)
Menurut kepustakaan sindrom nefrotik paling banyak terdapat pada anak umur 3-4
tahun dengan perbandingan pasien wanita dan pria 1:2. Tetapi atas dasar penelitian di
RSCM Jakarta (I.G.N. Wila Wirya 1970 – 1979) dikemukakan pada tahun 1992 dalam
dalam Desertasi gelar DR) pada umumnya mengenai anak umur 6-7 tahun dan
perbandingan antara wanita dan pria 1:1,6. Penyakit sindrom nefrotik dijumpai pada anak
mulai umur kurang dari 1 tahun (3 bulan) sampai umur 14 tahun.
2. ETIOLOGI
Penyebab Sindrom Nefrotik yang pasti belum diketahui, akhir – akhir ini dianggap
sebagai suatu penyakit autoimun, yaitu suatu reaksi antigen-antibodi. Umumnya
etioloogi dibagi menjadi :
1. Sindrom nefrotik bawaan
Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal. Resisten
terhadap semua pengobatan. Gejala : edema pada masa neonatus. Pernah dicoba
pencangkokan ginjal pada neonatus tetapi tidak berhasil. Prognosis buruk dan
biasanya pasien meninggal dalam bulan – bulan pertama kehidupannya.
2. Sindrom nefrotik sekunder
Disebebkan oleh :
a. Malaria kuartana atau parasite lainnya
b. Penyakit kolagen seperti lupus eritematosus diseminata, purpura
anafilaktoid
c. Glomerulonefritis akut atau glomerulonefritis kronik, thrombosis vena
renalis
d. Bahan kimia seperti trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas,
sengatan lebah, racun oak, air raksa.
e. Amiloidosis, penyakit sel sabit, hiperprolinemia, nefritis
membranoproliferatif hipokomplementemik.
3. Sindrom nefrotik idiopatik
(tidak diketahui sebabnya atau juga disebut SN primer). Berdasarkan
histopatologis yang tampak pada biopsi ginjal dengan pemeriksaan mikroskop
biasa dan mikroskop elektron, Churg dkk. membagi dalam 4 golongan yaitu :
a. Kelainan minimal
Dengan mikroskop biasa glomerulus tampak normal, sedangkan dengan
glomerulus elektron tampak foot prosessus sel epitel berpadu. Dengan cara
imunofluoresensi ternyata tidak terdapat IgG atau imunoglobin beta-IC pada
dinding kapiler glomerulus. Golongan ini lebih banyak terdapat pada anak
daripada orang dewasa, prognosis lebih baik dibandingkandengan golongan
lain.
b. Neropati membranosa
Semua glomerulus menunjukkan penebalan dinding kapiler yang tersebar tanpa
proliferasi sel. Tidak sering ditemukan pada anak. Prognosis kurang baik
c. Glomerulonefritis proliferative
1. Glomerulonephritis proliferatif eksudatif difus. Terdapat proliferasi sel
mesengial dan infiltrasi sel polimorfonukleus. Pembengkakan sitoplasma
endotel yang menyebabkan kapiler tersumbat. Kelainan ini sering
ditemukan pada nefritis yang timbul setelah infeksi dengan Streptococcus
yang berjalan progresif dan pada sindrom nefrotik. Prognosis, jarang baik,
tetapi kadang-kadang terdapat penyembuhan setelah pengobatan yang lama.
2. Dengan penebalan batang lobular (lobular stalk thickening)
Terdapat poliferasi sel mesengial yang tersebar dan penebalan batang
lobular.
3. Dengan bulan sabit (crescent)
Didapatkan poliferasi sel mesangial dan poliferasi sel epitel sampai
(kapsular) dan viseral. Prognosis buruk
4. Glomerulonefritis membranoproliferatif
Poliferasi sel mesangial dan penempatan fibrin yang menyerupai membrane
basalis di mesangium. Titer globulin beta-IC atau beta –IA rendah.
Prognosis tidak baik
5. Lain-lain perubahan proliferasi yang tidak khas
4. Glomerulosklerosis fokal segmental
Pada kelainan ini yang mencolok sclerosis glomerulus. Sering disertai atrofi
tubulus. Prognosis buruk

3. PATOFISIOLOGI

Sindrom nefrotik adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh kerusakn glomerulus.
Peningkatan permeabilitas glomerulus terhadap protein plasma menimbulkan (1)
proteinuria, (2) hipoalbuminemia, (3) hiperlipidemia, dan (4) edema. Hilangnya protein
dari rongga vaskuler menyebabkan penurunan tekanan osmotic plasma dan peningkatan
tekanan hidrostatik, yang menyebabkan terjadinya akumulasi cairan dalam rongga
interstisial dan rongga abdomen. Penurunan volume cairan vaskuler menstimulasi sistem
rennin-angiotensin yang mengakibatkan disekresikannya hormone antidiuretik dan
aldosteron. Reabsorpsi tubular terhadap natrium (Na+) dan air mengalami peningkatan
dan akhirnya menambah volume intravascular. Retensi cairan ini mengarah pada
peningkatan edema. Koagulasi dan thrombosis vena dapat terjadi karena penurunan
volume vaskuler yang mengakibatkan hemokonsentrasi dan kehilangan urine dari
koagulasi protein. Kehilangan imunoglobin pada urine dapat mengarah pada peningkatan
kerentanan terhadap infeksi.
Sindrom nefrotik adalah hasil patologis dari berbagai faktor yang mengubah
permeabilitas glomerulus. Sindrom nefrotik ini dapat digolongkan menjadi jenis primer
dan sekunder. Sindrom nefrotik digolongkan berdasarkan temuan – temuan klinis dan
hasil pemeriksaan mikroskopik jaringan ginjal. Berdasarkan klasifikasi klinis, jenis
sindrom ini dibedakan berdasarkan jalannya penyakit, pengobatan, dan prognosisnya.

4. TANDA GEJALA

Walaupun gejala pada anak akan bervariasi seiring dengan perbedaan proses
penyakit, gejala yang paling sering berkaitan dengan nefrotik sindrom adalah : (Linda A.
Sowden, Cecily Lynn Betz)

1. Penurunan haluaran urine dengan urine berwarna gelap, berbusa


2. Retensi cairan dengan edema berat (edema fasial, abdomen, area genital, dan
ekstremitas)
3. Distensi abdomen karena edema dan edema usus yang mengakibatkan kesulitan
bernafas
4. Nyeri abdomen,
5. Anoreksia,
6. Diare
7. Hematuria
8. Pucat
9. Keletihan dan intoleren aktivitas
10. Nilai uji laboratorium abnormal
5. PATHWAY
a. Pathway terjadinya Sindrom Nefrotik

NEFROTIK
SYNDROME
b. Pathway proses munculnya masalah keperawatan pada Sindrom Nefrotik

6. KOMPLIKASI
(Cecily L.B, Linda A. Sowden,2009)
1. Penurunan volume intravascular (syok hipovolemik)
2. Kemampuan koagulasi yang berlebihan (trombosis vena)
3. Gangguan pernapasan (yang berhubungan dengan retensi cairan dan distensi
abdomen)
4. Kerusakan kulit (dari edema berat, penyembuhan buruk)
5. Infeksi (khususnya selulitis, peritonitis, pneumonia, dan septicemia)
6. Efek samping terapi steroid yang tidak diinginkan
7. Gagal tumbuh dan keletuhan otot (jangka panjang)
8. Infeksi sekunder, terutama infeksi kulit yang disebabkan oleh Streptoccus,
Staphylococcus, bronkopneumonia dan tuberkolosis (Ngastiyah, 1997).

7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Uji Laboratorium dan Diagnostik :
Uji urine :
1. Urinalisis
a. Proteinuria (dapat mencapai lebih dari 2g/m²/hari)
b. Bentuk hialin dan granular
c. Hematuria
2. Uji dipstick urine – hasil positif untuk protein dan darah
3. Berat jenis urine – meningkat palsu karena proteinuria
4. Osmolalitas urine – meningkat

Uji Darah

1. Kadar albumin serum – menurun (kurag dari 2g/dl)


2. Kadar kolestrol serum – meningkat (dapat mencapi 450 – 1000 mg/dl)
3. Kadar trigiserid serum – meningkat
4. Kadar hemoglobin dan hematokrit – meningkat (hemokonsentrasi)
5. Hitung trombosit – meningkat (mencapai 500.000 – 1.000.000/ uL)
6. Kadar elektrolit serum – bervariasi sesuai dengan keadaan penyakit perorangan

Uji Diagnostik

Biopsi ginjal (tidak dilakukan secara rutin) mengindikasikan status glomerular,


jenis sindrom nefrotik, respons terhadapt penatalaksanaan medis, dan perjalanan
penyakit. Evaluasi mikroskopik menunjukan tampilan membrane basalis yang
abonormal.
8. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan medis untuk nefrotik sindrom mencakup :
1. Pemberian kortikosteroid (prednison atau prednisolon) untuk menginduksi remisi.
Dosis akan turun setelah 4-8 minggu terapi. Kekambuhan diatasi dengan
kortikosteroid dosis tinggi untuk beberapa hari.
2. Penggantian protein (albumin dari makanan atau intravena) atau diet protein
sebayak 2-3 g/kg/bb dengan garam minimal bila ada edema masih berat. Bila
edema berkurang dapat diberi garam sedikit (Buku Kuliah IKA jilid II)
3. Pengurangan edema
a. Terapi diuretic (diuretic hendaknya digunakan secara cermat untuk mencegah
terjadinya penurunan volume intravascular, pembentukan thrombus, dan/atau
ketidakseimbangan elektrolit)
b. Pembebasan natrium (mengurangi edema)
4. Mempertahankan keseimbangan elektrolit
5. Pengobatan nyeri (untuk mengatasi ketidaknyamanan yang berhubungan dengan
edema dan terapi invasif)
6. Pemberian antibiotic (penisilin oral profilaktik atau agen lain)
7. Terapi imunosupresif (siklofosfamid, klorambusil, atau siklosporin) – untuk anak
yang gagal berespons terhadap steroid

9. ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN

Hal yang harus difokuskan dan ada pada saat mengkaji pasien dengan nefrotik
sindrom yaitu :

1. Biodata pasien dan penanggung jawab pasien


2. Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat, terutama yang berhubungan dengan
penambahan berat badan saat ini, disfungsi ginjal
3. Kaji kebutuhan sosio, psiko, sosial sesuai dengan 11 pola kebutuhan Gordon
4. Kaji tanda – tanda dan gejala kelebihan volume cairan
a. Edema local (periorbital, fasial, genetalia eksternal, abdominal)
b. Asites dengan ketegangan dan mengilatnya kulit di atas abdomen (kaji ligkar
abdomen)
c. Penambahan berat badan
d. Penurunan haluaran urine
e. Urine gelap, berbusa
f. Anasarka (edema berat, merata)
g. Kongesti paru, peningkatan usaha bernapas, efusi pleura, edema paru

5. Kaji adanya tanda – tanda ketidakseimbangan elektrolit


a. Kaji tanda tanda hipokalemia
- Kardiovaskular : aritmia, pendataran gelombang T, penurunan segmen ST,
pelebaran QRS, peningkatan interval PR, irama gallop, peningkatan atau
penurunan denyut janutung, hipotensi.
- Sistem saraf pusat (SSP) dan musculoskeletal : apati, mengantuk, kelemahan
otot, kram otot, hiporeleksia
b. Kaji tanda tanda hiponatremia akibat penggunaan diuretik
- SSP : apati, kelemahan, pusing, letargi, ensefalopati, kejang
- Kardiovaskular : hipotensi
- Gastrointestinal (GI) : mual, kram abdomen
c. Kaji tanda tanda hipernatreimia akibat hemokonsentrasi
- SSP : disorientasi, kedutan otot, letargi, iritabilitas
- GI : sangat haus, membrane kering, mual, dan muntah
- Lain lain : kulit kering dan kemerahan, peningkatan suhu, oliguria
6. Kaji adanya kehilangan protein dan status nutrisi
a. Pantau protein serum dan ekskresi protein urine
b. Kaji nafsu makan dan asupan nutrisi
c. Kaji tanda tanda memanjangnya hipoalbuminemia : garis – garis putih
(Muehreka) parallel pada lunula
d. kaji adanya kepucatan
e. kaji iritabilitas nonspesifik, kelemahan, keletihan
7. Kaji efek samping dari pemberian obat
a. Steroid (gambaran cushing, hiperglikemiainfeksi, hipertensi, obesitas,
pendarahan GI, reterdasi pertumbuhan, demineralisasi tulang, katarak)
b. Agens pengalkilasi (leucopenia, disfungsi gonad, sterilitas)
c. Diuretik (penurunan volume intravascular, pembentukan trombus,
ketidakseimbangan elektrolit)
8. Kaji tanda – tanda penurunan fungsi kardiovakular (hipotensi, hipertensi, syok,
gagal jantung kongestif, disritmia jantung, deficit volume cairan)
a. Tekanan darah
b. Danyut dan irama jantung (takikardi, aritmia)
c. Perfungsi distal (nadi, pengisian kembai kapiler, suhu, warna)
d. Hipertrofi ventrikal kiri (aritmia, peningkatan ukukran jantung, penurunan
curah jantung)
9. Kaji tanda tanda ketidakefektifan pola nafas dan infeksi paru
a. Frekuensi dan pola pernapasan (takipnea, pola tidak teratur)
b. Penggunaan otot – otot tambahan (retraksi, mengangkat bahu)
c. Perlunya duduk tegak atau peninggian kepala tempat tidur
d. Bunyi napas abnormal (bising, ronki, penurunan bunyi napas pada lobus bawah)
e. Radiografi dada abnormal
f. Sianosis, penurunan saturasi oksigen
g. Asidosis respiratorik
10. Kaji tanda – tanda infeksi
a. Demam
b. Peningkatan hitung sel darah putih
c. Hasil kultur positif (sekresi paru, urine, darah, atau cairan tubuh lain)
d. Tanda – tanda selulitis : pembengkakan lokal, kemerahan, nyeri tekan
e. Tanda – tanda pneumonia
f. Tanda – tanda perioritis : merah, nyeri tekan abdomen
g. Septicemia/syok septik
11. Kaji tingkat kenyamanan dan kemampuan anak untuk mentoleransi aktivitas. Atasi
kekhawatiran dan ketakutan anak serta keluarga yang berkaitan dengan penyakit
dan perubahan citra tubuh.
12. Kaji respons koping anak dan keluarga terhadap penyakit.
a. Kaji fungsi keluarga yang berkaitan dengan iritabilitas anak dan perubahan
alam perasaan
b. Kaji koping yang berkaitan dengan perubahan citra tubuh dari edema berat dan
pucat
c. Kaji respons anak dan keluarga terhadap tirah baring dan pembatasan aktivitas
B. DIAGNOSA
Masalah keperawatan atau diagnosa yang sering muncul pada Nefrotik Sindrom
yaitu : (Cecily L, Linda A.S., Carpenito Lynda Juall)
1. Gangguan eliminasi urine
2. Kelebihan volume cairan
3. Risiko defisiensi volume cairan
4. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
5. Penurunan curah jantung
6. Ketidakefektifan pola nafas
7. Risiko infeksi
8. Risiko kerusakan integritas kulit
9. Nyeri akut
10. Gangguan rasa nyaman
11. Defisiensi aktivitas
12. Ketidakefektifan koping
13. Gangguan proses keluarga
14. Keletihan
15. Risiko ketidakefektifan penatalaksanaan kesehatan anak

Fokus Diagnosa :
1. Kelebihan Volume Cairan
2. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
3. Risiko kerusakan integritas kulit
4. Risiko Infeksi

a. Analisa Data
Beberapa batasan karakteristik dari masalah keperawatan yang paling sering mucul
pada Nefrotik syndrome yaitu : (Lynda Juall, 2013)
1. Risiko Infeksi
Berhubungan dengan :
a. Peningkatan kerentanan selama fase edema
b. Penurunan pertahanan tubuh sekunder akibat terapi kortikosteroid

2. Resiko kerusakan integritas kulit


Berhubungan dengan :
a. Imobilitas
b. Penurunan resistansi
c. Edema
d. Seringnya dilakukan pemasangan kantong penampung

3. Ketidakseimbangan Nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh


Batasan karakteristik :
Data Mayor : (Data yang harus ada, satu atau lebih)
Klien yang tidak puasa mengeluhkan atau mendapat :
a. Asupan makanan yang tidak adekuat,
b. Kurang dari angka kecukupan gizi (recommended daily allowance, RDA)
c. Dengan atau tanpa disertai penurunan berat badan
d. Kebutuhan metabolic aktual atau potensial dalam asupan yang berlebih

Data Minor : (Data yang kemungkinan ada)

a. Berat Badan 10% sampai 20% lebih dibawah BB ideal berdasarkan tinggi
kerangka tubuh
b. Lipatan kulit triseps, lingkar lengan, dan lingkar otot lengan kurang dari 60%
ukuran standar
c. Kelemahan otot dan nyeri tekan
d. Konfusi atau iritabilits mental
e. Penurunan albumin serum
f. Penurunan transferin serum atau penurunan ikatan – besi
g. Fontanel Bayi cekung

4. Kelebihan volume cairan


Batasan karakteristik :
Data Mayor : (Data yang harus ada, satu atau lebih)
a. Edema (perifer, sakral)
b. Kulit menegang, mengilat

Data Minor : (Data yang kemungkinan ada)

a. Asupan lebih banyak dari haluaran


b. Sesak nafas
c. Kenaikan Berat badan

C. Analisa Masalah
1. Resiko infeksi
P : Resiko infeksi

E : Peningkatan kerentanan selama fase edema, Penurunan pertahanan tubuh,


Sekunder akibat terapi kortikosteroid

2. Resiko kerusakan integritas kulit


P : Resiko kerusakan integritas kulit
E : Imobilitas , Penurunan resistansi, Edema , Seringnya dilakukan pemasangan
kantong penampung
3. Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh
P : Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh
E : Pembatasan diet, anoreksia, sekunder akibat keletihan, malaise dan tekanan
struktur abodomen (edema)
S:
Data Mayor : (Data yang harus ada, satu atau lebih)
Klien yang tidak puasa mengeluhkan atau mendapat :
1. Asupan makanan yang tidak adekuat,
2. Kurang dari angka kecukupan gizi (recommended daily allowance, RDA)
3. Dengan atau tanpa disertai penurunan berat badan
4. Kebutuhan metabolic aktual atau potensial dalam asupan yang berlebih

Data Minor : (Data yang kemungkinan ada)

1. Berat Badan 10% sampai 20% lebih dibawah BB ideal berdasarkan tinggi
kerangka tubuh
2. Lipatan kulit triseps, lingkar lengan, dan lingkar otot lengan kurang dari 60%
ukuran standar
3. Kelemahan otot dan nyeri tekan
4. Konfusi atau iritabilits mental
5. Penurunan albumin serum
6. Penurunan transferin serum atau penurunan ikatan – besi
7. Fontanel Bayi cekung
4. Kelebihan volume cairan
P : Kelebihan volume cairan
E : gangguan mekanisme regulator sekunder akibat gagal ginjal, tekanan osmotik
koloid plasma rendah, retensi natrium, sirosis, asites
S:
Data Mayor : (Data yang harus ada, satu atau lebih)
1. Edema (perifer, sakral)
2. Kulit menegang, mengilat

Data Minor : (Data yang kemungkinan ada)

1. Asupan lebih banyak dari haluaran


2. Sesak nafas
3. Kenaikan Berat badan

D. Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulator
akibat gagal ginjal ditandai dengan edema dan kulit menegang atau mengilat
2. Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, malaise dan tekanan struktur abodomen (edema) ditandai dengan
asupan makanan yang tidak adekuat
3. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilitas, penurunan
resistansi, dan Edema
4. Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan selama fase edema,
penurunan pertahanan tubuh akibat terapi kortikosteroid

E. Intervensi

Diagnosa Tujuan dan Kriteria


No Intervensi (NIC) Rasional
Keperawatan Hasil (NOC)
1. Kelebihan Volume Setelah diberikan NIC label : Manajemen
Cairan berhubungan asuhan keperawatan Cairan
dengan gangguan selama … x 24 jam 1. Monitor intake dan 1. Pemantauan
mekanisme diharapkan masalah output cairan membantu
regulator akibat keperawatan bisa menentukan status
gagal ginjal ditandai teratasi dengan kriteria cairan pasien
dengan edema dan hasil : 2. Timbang berat badan 2. Penimbangan berat
kulit menegang atau NOC label : setiap hari dengan badan arian adalah
mengilat Keseimbangan Cairan waktu yang sama pengawasan status
1. Penurunan edema, (setelah buang air kecil, cairan terbaik
ascites sebelum sarapan)
2. Kadar protein dalam 3. Batasi asupan natrium 3. Suatu diet rendah
darah meningkat sesuai indikasi natrium dapat
3. Output urine adekuat mencagah retensi
600-700 ml/hari cairan
4. Tekanan darah dalam 4. Monitor tanda tanda 4. Mengetahui tanda
batas normal vital tanda vital pasien
5. Nadi dalam batas 5. Kaji kulit wajah, area 5. Edema terjadi
normal tergantung untuk terutama pada
6. Berat badan dalam edema jaringan yang
batas normal tergantung pada
tubuh
6. Berikan obat sesuai 6. Meningkatkan
indikasi Diuretik haluaran urine atau
(furosemide(Lasix), meningkatkan
mannitol (Os-mitol)) volume urine yang
adekuat
2. Ketidakseimbangan Setelah diberikan NIC label : Manajemen
Nutrisi : Kurang asuhan keperawatan Nutrisi
dari kebutuhan selama … x 24 jam 1. Atur diet yang 1. Mengatur
tubuh berhubungan diharapkan masalah diperlukan kebutuhan diet
dengan anoreksia, keperawatan bisa (menyediakan makanan yang dibutuhkan
malaise dan tekanan teratasi dengan kriteria tinggi protein, oleh pasien
struktur abodomen hasil : mengganti garam
(edema) ditandai NOC label : Status dengan rempah-rempah
dengan asupan Nutrisi dll)
makanan yang tidak 1. Pasien mendapatkan 2. Identifikasi adanya 2. Mengetahui
adekuat nutrisi yang optimal alergi makanan yang makanan yang
2. Nafsu makan pasien dimiliki pasien tidak boleh
bertambah dikonsumsi pasien
3. Intake nutrisi melalui 3. Menyajikan makanan 3. Penampilan
oral dengan menarik dan makanan yang
4. Berat badan ideal dalam kondisi suhu menarik
sesuai dengan tinggi yang cocok untuk menyebabkan
badan dikonsumsi secara nafsu makan
5. Tidak terjadi optimal (hangat) pasien bertambah
penurunan berat 4. Tawarkan makanan 4. Menambah
badan yang berarti ringan yang padat gizi kebutuhan gizi
yang diperlukan
dengan makanan
ringan
5. Monitor kecendrungan 5. Mencegah
terjadinya penurunan terjadinya
dan peningkatan berat penurunan berat
badan badan
3. Resiko kerusakan Setelah diberikan NIC label : Pengecekan
integritas kulit asuhan keperawatan Kulit
berhubungan selama … x 24 jam 1. Periksa kulit terkait 1. Mengetahui
dengan imobilitas, diharapkan masalah adanya kemerahan, adanya tanda
penurunan keperawatan bisa kehangatan ekstrim, kerusakan pada
resistansi, dan teratasi dengan kriteria edema, atau drainase integritas kulit
Edema hasil : 2. Amati warna, 2. Mengetahui
NOC label : Integritas kehangatan, bengkak, adanya kerusakan
Jaringan Kulit & pulsasi, tekstur, edema, pada ekstremitas
Membran Mukosa ulserasi pada
1. Kulit tidak ekstremitas
menunjukkan 3. Motitor adanya ruam 3. Mengetahui
kerusakan integritas atau lecet pada kulit adanya ruam atau
seperti lesi, lecet pada kulit
kemerahan, atau 4. Monitor adanya 4. Mengetahui
iritasi kekeringan yang adanya
2. Kulit tidak berlebihan dan kelembaban dan
menunjukkan adanya kelembaban yang kekeringan yang
penebalan berlebihan berlebih
3. Tekstur kulit kembali 5. Monitor sumber 5. Jika ada
normal tekanan dan gesekan kemerahan atau
4. Elastisitas kulit lesi pada kuliit
kembali normal terutama pada
daerah lipatan bisa
segera ditangani
6. Monitor infeksi 6. Mencegah infeksi
terutama pada edema pada edema
7. Periksa pakaian yang 7. Pakaian ketat dapat
terlalu ketat menyebabkan
kemerahan dan
lecet yang bisa
menyebabkan
infeksi
4. Resiko infeksi Setelah diberikan NOC label :
berhubungan asuhan keperawatan Perlindungan Infeksi
dengan peningkatan selama … x 24 jam 1. Monitor adanya tanda 1. Mengetahui
kerentanan selama diharapkan masalah dan gejala infeksi adanya tanda dan
fase edema, keperawatan bisa sistemik dan lokal gejala infeksi
penurunan teratasi dengan kriteria sistemik dan local
pertahanan tubuh hasil : 2. Monitor kerentanan 2. Mencegah
akibat terapi NOC label : Kontrol terhadap infeksi terjadinya infeksi
kortikosteroid Resiko:Proses Infeksi pada area yang
1. Tidak adanya tanda- rentan terhadap
tanda infeksi infeksi
2. Pasien bebas dari 3. Skrining semua 3. Mencegah pasien
tanda dan gejala pengunjung pasien tertular penyakit
Infeksi terkait penyakit yang dibawa oleh
3. Ada perubahan menular pengunjung
prilaku keluarga 4. Berikan perawatan 4. Kulit yang
dalam melakukan kulit yang tepat untuk mengalami edema
perawatan terhadap area edema sangat beresiko
pasien terhadap infeksi,
maka dari itu perlu
perawatan yang
tepat pada area
edema
5. Periksa kulit untuk 5. Kulit kemerahan
adanya kemerahan biasanya tanda
awal infeksi

F. Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai Intervensi
G. Evaluasi
a. Evaluasi Formatif (Merefleksikan observasi perawat dan analisis terhadap klien
terhadap respon lansung pada intervensi keperawatan)

b. Evaluasi Sumatif ( Merefleksikan rekapitulasi dan sinopsi observasi dan analisi


mengenai status kesehatan klien terhadap waktu) (Poer, 2102)
DAFTAR PUSTAKA