Anda di halaman 1dari 15

1.

Jenis tanah yang ada di Indonesia

Klasifikasi tanah di Indonesia mulai diperkenalkan oleh Dudal &


Soepraptohardjo (1957). Kemudian direvisi oleh Soepraptohardjo (1961), dan terakhir
oleh Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981) untuk keperluan survei tanah mendukung
Proyek Transmigrasi di luar Jawa. Yang terbaru dalam Kongres Nasional Himpunan
Ilmu Tanah 2011 di Surakarta, para pakar telah sepakat untuk menggunakan kembali
Sistem Klasifikasi Tanah Nasional. Berikut adalah jenis tanah di Indonesia menurut
Sistem Klasifikasi Tanah Nasional.

Tabel 1. Ringkasan Kunci Penetapan Jenis Tanah

Susunan Sifat Penciri Lainnya Jenis Tanah


Horison
A. TANAH ORGANIK
H Tanah organosol terbentuk dari pelapukan benda organik Organosol
seperti tumbuhan, gambut dan rawa. Biasanya terdapat di
daerah yang memiliki iklim basah dan memiliki curah
hujan tinggi. Tanah ini biasanya ditemukan di daerah
pantai dan hampir tersebar di seluruh pulau di Indonesia
seperti sumatera, papua, Kalimantan, jawa, Sulawesi dan
nusa tenggara.
Bahan organik,
ketebalan > 50
cm, kadar C
organik > 12%
B. TANAH MINERAL
I. Tanpa Perkembangan
AR Merupakan tanah yang baru mengalami perkembangan Litosol
dan merupakan tanah yang masih muda. Terbentuk dari
adanya perubahan iklim, topografi dan adanya
vulkanisme. Tanah sangat dangkal (< 25 cm) di atas
batuan kukuh.
Biasanya terdapat
pada daerah yang
memiliki tingkat
kecuraman tinggi
seperti di bukit
tinggi, nusa tenggara
barat, Jawa tengah,
Jawa Barat dan
Sulawesi.
AC Tanah mempunyai horison A umbrik, ketebalan ≤ 25 cm Umbrisol
AC Proses terbentuknya dari Renzina
pelapukan batuan kapur di
daerah yang memiliki
curah hujan tinggi.
Berwarna putih sampai
hitam, miskin unsur hara.
Pemanfaatannya untuk
palawija, hutan jati.
Persebarannya di Gunung
kidul , Yogyakarta. Tanah mempunyai horison A molik,
dan di bawahnya langsung batukapur.
AC Tanah terbentuk dari bahan endapan muda (aluvium), Aluvial
mempunyai horison penciri A okrik, umbrik, histik,
tekstur lebih halus dari pasir berlempung pada
kedalaman 25-100 cm, berlapis-lapis. Tanah ini
biasanya bewarna coklat hingga kelabu. Cocok untuk
pertanian baik pertanian padi maupun palawija seperti
jagung, tembakau
dan jenis tanaman
lainnya. Tanah ini
banyak tersebar di
Indonesia dari
sumatera,
Kalimantan,
Sulawesi, papua
dan jawa.
AC Tanah bertekstur kasar (pasir, pasir berlempung), Regosol
mempunyai horison A okrik, umbrik atau histik,
ketebalan > 25 cm.
AC Terbentuk dari pelapukan batuan kapur dan tuffa Grumusol
vulkanik. Kandungan organic di dalamnya rendah
karena dari batuan kapur jadi dapat disimpulkan tanah
ini tidak subur dan tidak cocok untuk ditanami
tanaman.Tanah mempunyai kadar liat > 30% setebal 50
cm dari permukaan
tanah, terdapat
rekahan (crack)
selebar > 1 cm
sampai kedalaman 50
cm dari permukaan
tanah.
Persebarannya di
Indonesia seperti di Jawa Tengah (Demak, Jepara, Pati,
Rembang), Jawa Timur (Ngawi, Madiun) dan Nusa
Tenggara Timur. Karena teksturnya yang kering maka
akan bagus jika ditanami vegetasi kuat seperti kayu jati.
II. Dengan Perkembangan
A(B)C Tanah bertekstur kasar (pasir, pasir berlempung) Arenosol
sedalam 50 cm dari permukaan, memiliki horison
penciri A okrik, dan horison bawah mirip B argilik,
kambik atau oksik, tetapi tidak memenuhi syarat
karena faktor tekstur.
ABwC Jenis tanah vulkanik dimana terbentuk karena adanya Andosol
proses vulkanisme pada gunung berapi. Tanah ini sangat
subur dan baik untuk tanaman.Mempunyai horison A
molik atau umbrik di atas horison B kambik, pada
kedalaman ≥ 35 cm mempunyai satu atau keduanya: (a)
bulk density < 0,90 g/cm3 dan didominasi oleh bahan
amorf, (b) >60%
abu volkan atau
bahan piroklastik.
Warna dari tanah
andosol coklat
keabu-an. Di
Indonesia sendiri
yang merupakan
daerah cincin api
banyak terdapat tanah andosol seperti di daerah jawa, bali,
sumatera dan nusa tenggara.
ABwC Berkembang dari bahan volkan, terbentuk dari Latosol
pelapukan batuan sedimen dan metamorf, kandungan liat
≥ 40%, remah,
gembur dan warna
homogen,
penampang tanah
dalam, KB< 50%
pada beberapa
bagian horison B,
mempunyai horison
penciri A okrik, umbrik, atau B kambik, tidak
mempunyai plintit dan sifat vertik. Persebaran tanah
litosol ini berada di daerah yang memiliki curah hujan
tinggi dan kelembapan yang tinggi pula serta pada
ketinggian berkisar pada 300-1000 meter dari permukaan
laut. Tanah latosol tidak terlalu subur karena mengandung
zat besi dan alumunium. Persebaran tanah latosol di daerah
Sulawesi, lampung, Kalimantan timur dan barat, Bali dan
Papua.
ABwC Memiliki horison penciri A molik dan KB ≥ 50% Molisol
di seluruh penampang.
ABwC Mempunyai horison B kambik tanpa atau dengan horison Kambisol
A okrik, umbrik atau molik, tanpa gejala hidromorfik
sampai kedalaman 50 cm dari permukaan.
ABgC Mempunyai ciri hidromorfik sampai kedalaman 50 Gleisol
cm dari permukaan; mempunyai horison A okrik,
umbrik, histik, dan B kambik, sulfurik, kalsik atau
gipsik.
Susunan Sifat Penciri Lainnya Jenis
Horison Tanah
ABtC Biasa disebut tanah liat. Mempunyai horison B argilik Nitosol
dengan kadar liat tinggi dan terdapat penurunan kadar
liat < 20% terhadap liat maksimum di dalam penampang
150 cm dari permukaan, kandungan mineral mudah
lapuk < 10% di dalam 50 cm dari permukaan, tidak
mempunyai plintit, sifat vertik dan ortoksik.
ABtC Tanah ini sangat mudah ditemukan di seluruh wilayah Podsolik
Indonesia karena persebarannya yang hampir rata.
Mempunyai horison B argilik, KB < 50% pada beberapa
bagian horison B di dalam kedalaman 125 cm dari
permukaan dan tidak mempunyai horison albik yang
berbatasan langsung dengan horison argilik atau fragipan.
Tanah ini dapat digunakan untuk perkebunan dan
persawahan serta dapat ditemukan di Sumatera, Sulawesi,
Papua, Kalimantan dan Jawa terutama jawa bagian barat.
ABtC Mempunyai horison B argilik, KB ≥ 50% pada beberapa Mediteran
bagian horison B di dalam kedalaman 125 cm dari
permukaan dan tidak mempunyai horison albik yang
berbatasan langsung dengan horison argilik atau fragipan.
AEBtgC Mempunyai horison E albik di atas horison B argilik atau Planosol
natrik dengan permeabilitas lambat (perubahan tekstur
nyata, liat berat, fragipan) di dalam kedalaman 125 cm
dari permukaan, ciri hidromorfik sedikitnya di lapisan
horison E albik.
ABhsC Tanah podsol memiliki berbagai campuran tekstur mulai Podsol
pasir hingga bebatuan kecil. Mempunyai horison B spodik
(padas keras:
Fe/Al+humus).
Persebaran tanah ini
antara lain meliputi
Kalimantan utara,
Sulawesi utara dan
papua serta daerah
lainnya yang tidak
pernah kering alias
selalu basah.
ABoC Tanah yang kaya akan zat besi dan alumunium oksida. Oksisol
memiliki solum yang dangkal dan ketebalannya hanya
kurang dari 1 meter saja.
warnanya merah hingga kuning dan
memiliki tekstur halus seperti
tanah liat.Mempunyai horison B
oksik (KTK liat<16 cmol(+)/kg).
Biasanya terdapat di daerah
beriklim tropis basah dan cocok
untuk perkebunan subsisten seperti
tebu, nanas, pisang dan tumbuhan
lainnya.
ABcC  Warna merah bata karena mengandung banyak zat besi Lateritik
dan alumunium. Di indonesia sendiri tanah ini sepertinya
cukup fimiliar di berbagai daerah, terutama di daerah desa
dan perkampungan. Mempunyai horison B yang
mengandung kadar
plintik atau kongkresi
besi > 30% (berdasarkan
volume) di dalam
kedalaman 125 cm dari
permukaan tanah.
Persebarannya sendiri di
Indonesia meliputi
Kalimantan, Lampung,
Jawa Barat, dan Jawa Timur.
2. Jenis tanah yang baik untuk jalan
Untuk tanah berjenis lahan gambut, bekas rawa, tanah berpasir, dan area
pesawahan, sebenarnya kurang cocok dijadikan sebagai lahan untuk mendirikan
konstruksi bangunan. Ini dikarenakan jenis-jenis tanah tersebut mempunyai
karakteristik atau struktur yang lembek, mengandung air, dan tidak mudah
menggumpal. Sehingga apabila didirikan sebuah bangunan di atasnya, dalam
kurun waktu setahun tanah akan mengalami penurunan, dan bangunan di atasnya
bisa mengalami keretakan—baik pada lantai, dinding, maupun beberapa bagian
penting lainnya.

a. Tanah Merah
Tanah merah (laterit) adalah tanah yang mempunyai warna coklat
kemerah-merahan. Tanah ini biasanya terbentuk di lingkungan yang dingin,
lembab, dan tergenangi air. Karakteristik tanah ini yaitu gampang menyerap
air, memiliki profil tanah yang dalam, mengandung bahan organik yang
sedang, mempunyai pH netral sampai asam, serta memiliki kandungan
alumunium dan zat besi.
Tanah merah memiliki tekstur yang cukup padat dan kokoh. Tanah jenis
ini banyak ditemukan di daerah
pantai hingga pegunungan
yang tinggi, serta menyebar di
sebagian besar lahan di
Indonesia. Selain dipakai untuk
urugan tanah pada proyek
pembangunan, tanah merah
juga biasa digunakan untuk
membentuk lahan perkebunan.

b. Tanah Atras/Padas
Tanah Atras adalah tanah yang memiliki tingkat kepadatan yang sangat
tinggi. Strukturnya terdiri dari lapukan batuan induk dengan kandungan
organik tanah yang rendah bahkan hampir tidak ada. Hal ini dikarenakan
mineral yang terkandung di dalam tanah ini telah dikeluarkan oleh air yang
berada di lapisan atasnya.
Tanah Atras mempunyai karakteristik teksturnya sangat kokoh tetapi
sulit menyerap air. Oleh karena itu,
jarang sekali orang yang mau
memanfaatkan tanah ini untuk sektor
pertanian. Kebanyakan tanah padas
dipakai untuk pondasi infrastruktur
bangunan berukuran besar seperti
gedung-gedung bertingkat. Tanah
padas bisa ditemukan di hampir
seluruh daerah di Indonesia.

c. Tanah Semi Atras/Padas (Boncos)


Tanah semi Atras, atau biasa dikenal tanah liat (Boncos) adalah tanah
yang terbentuk dari perpaduan antara batuan kapur dan pasir. Faktor utama
yang mempengaruhi pembentukan tanah ini yaitu hujan yang terjadi secara
tidak merata sepanjang tahun. Bisa dibilang tanah semi Atras ibarat
campuran tanah merah dan tanah atras sehingga sifat dan karakteristiknya
pun seperti gabungan dari keduanya.
Tanah semi atras memiliki tingkat kesuburan yang cukup baik sehingga
layak dipergunakan untuk keperluan
bercocok tanam. Selain itu, tanah liat
juga biasa dimanfaat sebagai bahan
baku kerajinan tangan serta material
bangunan seperti genteng dan batubata.
Tanah semi padas umumnya banyak
ditemukan di dataran rendah dan
lereng pegunungan.

d. Limestone
Limestone atau batu gamping adalah batuan sedimen karbonat yang
terbentuk dari sedimentasi hewan dan tumbuhan karang. Kenampakan
struktur luar batuan ini berwarna putih kotor, putih keabu-abuan, sampai
kuning keabu-abuan.
Untuk limestone yang masih muda sering dijumpai struktur fosil hewan
atau tumbuhan karang (coral) karena proses litifikasi (pembatuan) yang
belum sempurna. Meski secara genesa terbentuk dari laut, namun karena
proses pergerakan kulit bumi, sering dijumpai endapan limestone yang sudah
berjarak puluhan kilometer dari pantai.
Berat jenis limestone insitu (bank) berkisar antara 2.2 – 2.4 ton/bcm,
sedangkan berat jenis loose berkisar antara 1.5 – 1.8 ton/lcm. Rumus kimia
limestone adalah CaCO3. Untuk
usaha pertambangan, limestone
merupakan salah satu bahan galian
industri yang mempunyai potensi
yang sangat besar di Indonesia.
Cadangan total limestone di seluruh
Indonesia diperkirakan lebih dari 28
milyar ton yang penyebarannya
hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Persyaratan Tanah Urugan dan


Timbunan
a. Tanah Urugan Biasa

 Bahan yang dipilih tidak termasuk tanah yang plastisitasnya tinggi, yang
diklasifikasi sebagai A-7-6 dari persyaratan AASHTO M 145 atau sebagai CH
dalam sistim
 klasifikasi “Unified atau Casagrande”. Sebagai tambahan, urugan ini harus
memiliki CBR yang tak kurang dari 6 %, bila diuji dengan AASHTO T 193.
 Tanah yang pengembangannya tinggi yang memiliki nilai aktif lebih besar
dari 1,25 bila diuji dengan AASHTO T 258, tidak boleh digunakan sebagai
bahan urugan. Nilai aktif diukur sebagai perbandingan antara Indeks
Plastisitas (PI) – (AASHTO T 90) dan presentase ukuran lempung (AASHTO
T 88).

b. Urugan Pilihan
 Urugan yang diklasifikasikan sebagai urugan pilihan harus terdiri dari bahan
tanah berpasir (sandy clay) atau padas yang memenuhi persyaratan dan
sebagai tambahan harus memiliki sifat tertentu tergantung dari maksud
penggunaannya. Dalam segala hal, seluruh urugan pilihan harus memiliki
CBR paling sedikit 10 %, bila diuji sesuai dengan AASHTO T 193.

c. Timbunan Biasa
s/d 30 cm di bawah > 30 cm di bawah
Sifat-sifat subgrade subgrade

Klasifikasi Tanah Bukan A-7-6 atau CH -


CBR (SNI 03-1744-1989) pada kepadatan ringan > 6% -
100% (SNI 03-1742-1989)
Nilai Keaktifan = < 1,25 < 1,25
Indeks Plastisitas / % lolos No.200
Kepadatan (SNI 03-2828-1992) > 100% > 95%

d. Timbunan Pilihan
Sifat-sifat bukan rawa daerah rawa
CBR (SNI 03-1744-1989) pada kepadatan ringan > 10% -
100% (SNI 03-1742-1989)
Indeks Plastisitas = Batas Cair – Batas Plastis (SNI - < 6%
03-1966-1990 & SNI 03-1967-1990)

Koreksi kepadatan (SNI 03-1976-1990) dilakukan jika material tertahan ayakan ¾” >
10%. Sampai dengan 15 cm di bawah Subgrade, material bekas galian batu tidak
boleh digunakan dan ukuran butir maksimum untuk 15 cm di bawah subgrade adalah
< 10 cm.
3. Pedoman terbaru tentang pekerjaan tanah dasar untuk jalan

1. GALIAN TANAH
Pekerjaan tanah adalah pembentukan badan jalan dan saluran samping sesuai
dengan ketinggian (elevasi) tiap bagian jalan yang direncanakan. Untuk mencapai
permukaan tanah dasar badan jalan sesuai rencana ,perlu pekerjaan galian dan
timbunan.
Di samping untuk menyiapkan permukaan tanah dasar badan jalan, galian
diperlukan juga untuk membentuk saluran samping dan penempatan gorong-
gorong. Masalah utama yang sering dihadapi di daerah pemotongan bukit, adalah
kemiringan lereng. Di lapangan kadang-kadang dijumpai keadaan khusus,seperti
jenis tanah lunak, keluarnya air tanah sepanjang lereng dan potongan lereng yang
sangat panjang dan terjal. Dengan demikian diperlukan pengetahuan praktis untuk
mengatasi masalah tersebut. Apabila tidak memungkinkan melakukan penyelidikan
tanah yang lengkap, cara berikut ini dapat dilaksanakan:

a. Tinggi Potongan kurang dari 5,0 Meter


Kemiringan lereng yang dapat diterima untuk semua keadaan
normal,adalah 2 (tegak ): 1 (mendatar). Bila terdapat hal khusus seperti di atas,
maka pemilihan kemiringan lereng lebih landai perlu dipertimbangkan.

b. Tinggi Potongan lebih dari 5,0 Meter


Pada setiap ketiggian 5,0 meter perlu dibuat bagian yang datar selebar
I,0 meter. Pada bagian yang datar itu harus dibentuk sedemikian rupa, sehingga
miring ke bagian dalam, agar dapat menampung air dan mengalirkannya
sepanjang bagian datar searah dengan jalan tersebut.

Gambar 2.3.: Potongan Melintang Yang Tipikal


Saluran air perlu dibuat untuk mengalirkan air dari talud atau “bench” ke
air hujan
Berasal dari

saluran tepi, di tempat-tempat tertentu, agar kestabilan lereng terjaga.


TIMBUNAN
Pada pekerjaan timbunan badan jalan, harus diperhatikan beberapa faktor yang sangat
mempengaruhi pekerjaan, yaitu:
1. Kondisi Tanah Asli yang akan ditimbun
 Tanah asli jenis tufa atau jenis lain yang kurang baik mutunya, yang akan
ditimbun untuk badan jalan,digali sampai kedalaman tertentu.
 Sebelum pekerjaan timbunan itu dimulai,pada tempat yang selesai
dibersihkan, lubang-lubang yang ada akibat akar-akar pohon, atau alur bekas
saluran dan sebagainya, harus diisi dengan bahan tanah pilihan.
 Kemudian lakukanlah upaya perataan pada permukaan tanah tersebut.
 Padatkan tanah permukaan yang telah dibersihkan sesuai dengan ketentuan.
2. Bahan Urugan dan Jenis Tanah Timbunan
Jenis tanah timbunan merupakan bahan urugan yang memerlukan persetujuan dari
Direksi Teknik.
3. Tinggi Timbunan Talud
Pekerjaan penimbunan dikerjakan setelah jalur patok-patok dipasang. Patok
dipasang di lereng , di tikungan, juga pada penampang, pada pekerjaan jembatan,
patok gorong-gorong, dsb. Patok-patok tersebut dikerjakan / dipasang oleh tim
pengukuran.

2. BUANG TANAH ((Ditjen Bina Marga, 2014, Spesifikasi Umum 2010)


a. Penggunaan Dan Pembuangan Bahan-Bahan Galian
 Semua bahan-bahan yang layak yang digali, sejauh dimungkinkan
digunakan untuk pembentukan timbunan atau urugan kembali.
 Bahan-bahan galian yang banyak mengandung tanah organik, tanah
gambut, akar-akar, tanah kompresibel, digolongkan sebagai tidak
memenuhi syarat digunakan untuk timbunan, sehingga harus dibuang.
 Setiap bahan-bahan galian yang melebihi kebutuhan timbunan harus
dibuang keluar dari daerah pekerjaan.
 Kontraktor harus bertanggung-jawab untuk semua pengaturan dan biaya
untuk pembuangan bahan-bahan kelebihan atau yang tidak memenuhi
syarat, termasuk pengangkutan dan perolehan ijin dari pemilik atau
penghuni tanah dimana pembuangan itu dilaksanakan.
 Kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan, semua struktur
sementara seperti cofferdam atau penyokong (shoring) dan pengaku
(bracing) harus dibongkar oleh Penyedia Jasa setelah struktur permanen
atau pekerjaan lainnya selesai. Pembongkaran harus dilakukan
sedemikian sehingga tidak mengganggu atau merusak struktur atau
formasi yang telah selesai.
 Bahan bekas yang diperoleh dari pekerjaan sementara tetap menjadi milik
Penyedia Jasa atau bila memenuhi syarat dan disetujui oleh Direksi
Pekerjaan, dapat dipergunakan untuk pekerjaan permanen dan dibayar
menurut Mata Pembayaran yang relevan sesuai dengan yang terdapat
dalam Daftar Penawaran.
 Setiap bahan galian yang sementara waktu diijinkan untuk ditempatkan
dalam saluran air harus dibuang seluruhnya setelah pekerjaan berakhir
sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu saluran air.
 Seluruh tempat bekas galian bahan atau sumber bahan yang digunakan
oleh Penyedia Jasa harus ditinggalkan dalam suatu kondisi yang rata dan
rapi dengan tepi dan lereng yang stabil dan saluran drainase yang
memadai.

b. Pemulihan Lokasi Dan Pembongkaran Pekerjaan Sementara


 Semua struktur sementara harus dibongkar kembali oleh kontraktor
setelah selesainya struktur permanen.
 Bahan-bahan galian tidak boleh ditempatkan dalam saluran air, harus
segera disisihkan dan dibuang.
 Semua lubang sumber bahan galian tambahan, quarry atau tempat
pembuangan yang digunakan oleh kontraktor harus ditinggalkan dalam
keadaan rapi dan teratur.

c. Prosedur Pelaksanaan
 Penggalian harus dilaksanakan hingga garis ketinggian dan elevasi yang
ditentukan dalam gambar atau ditunjukkan oleh Pengawas dan harus
mencakup pembuangan seluruh material dalam bentuk apapun yang
dijumpai termasuk tanah, padas, batu, beton, tembok dan perkerasan yang
lama.
 Pekerjaan galian harus dilakukan dengan gangguan seminimal mungkin
terhadap material dibawah dan diluar batas galian.
 Peledakan sebagai cara pembongkaran padas hanya boleh digunakan jika,
menurut pendapat Pengawas, tidak praktis menggunakan alat bertekanan
udara atau penggaru hidraulis dan tidak membahayakan manusia atau
struktur konstruksi.
 Penggalian batuan/padas harus dilaksanakan sedemikian sehingga tepi
dan galian harus dibiarkan pada kondisi yang aman dan serata rnungkin.
Batuan/padas yang lepas yang dapat menjadi tidak stabil atau
menimbulkan bahaya terhadap pekerjaan atau orang harus dibuang.

PEMADATAN TANAH (Ditjen Bina Marga, 2014, Spesifikasi Umum 2010 ( Revisi 3 ))
Subgrade atau lapisan tanah dasar merupakan bagian dari konstruksi jalan yang
berfungsi untuk mendukung konstruksi perkerasan jalan di atasnya. Untuk menunjukkan
besarnya daya dukung subgrade tersebut dipakai CBR (‘California Bearing Ratio’).
Nilai CBR adalah perbandingan antara beban dibutuhkan untuk penetrasi 0,1“ dan 0,2”
dari contoh tanah, dengan beban yang dibutuhkan untuk penetrasi 0,1“ dan 0,2” dari
batu pecah standar.
Ketentuan Kepadatan Untuk Timbunan Tanah
a. Lapisan tanah yang lebih dalam dari 30 cm di bawah elevasi tanah dasar harus dipadatkan
sampai 95 % dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuai SNI 03-1742-1989.
Untuk tanah yang mengandung lebih dari 10 % bahan yang tertahan pada ayakan ¾”, kepadatan
kering maksimum yang diperoleh harus dikoreksi terhadap bahan yang berukuran lebih
(oversize) tersebut sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
b. Lapisan tanah pada kedalaman 30 cm atau kurang dari elevasi tanah dasar harus dipadatkan
sampai dengan 100 % dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuai dengan SNI 03-
1742-1989.
c. Pengujian kepadatan harus dilakukan pada setiap lapis timbunan yang dipadatkan sesuai
dengan SNI 03-2828-1992 dan bila hasil setiap pengujian menunjukkan kepadatan kurang dari
yang disyaratkan maka Penyedia Jasa harus memperbaiki pekerjaan sesuai dengan Spesifikasi
ini. Pengujian harus dilakukan sampai kedalaman penuh pada lokasi yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan, tetapi harus tidak boleh berselang lebih dari 200 m. Untuk penimbunan
kembali di sekitar struktur atau pada galian parit untuk gorong- gorong, paling sedikit harus
dilaksanakan satu pengujian untuk satu lapis penimbunan kembali yang telah selesai dikerjakan.
Untuk timbunan, paling sedikit satu rangkaian pengujian bahan yang lengkap harus dilakukan
untuk setiap 1000 meter kubik bahan timbunan yang dihampar.Pada dasarnya daya dukung
tanah dapat diperbaiki dengan 2 (dua) cara, yaitu:

 Dengan Pemadatan
 Dengan membuat Drainase yang baik

Yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan pemadatan, ialah:


1. Tebal Lapis yang dipadatkan
Makin tebal suatu lapisan, maka untuk mendapatkan suatu kepadatan tertentu, diperlukan alat
pemadat yang semakin berat. Untuk tanah lempung, tebal lapisan 15 cm, sedang untuk pasir
dapat mencapai 40 cm
2. Kadar Air Tanah
Bila kadar air tanah rendah, tanah tersebut sukar dipadatkan. Jika kadar air dinaikkan dengan
menambah air , air tersebut seolah-olah sebagai pelumas antara butiran tanah sehingga mudah
dipadatkan , tetapi bila kadar air terlalu tinggi, kepadatannya akan menurun.
Jadi kadar air tersebut perlu ditetapkan yang dikenal dengan kadar air optimum.
Berat isi kering maximum
21

Bera t Maximum
Jenis
20
Berat isi kering g/cm 3

PASIR Kurv a kep


19
LAN AU ham
18 K adar optim m
air u
17
16 510152025303540 adatan pori-pori pa udara
15
GAMBAR 2.4.: LENGKUNG KEPADATAN LABORATORIUM UNTUK LANAU
DAN PASIR
Dan untuk mengetahui kadar air optimum dan kepadatan kering maksimum itu, diadakan
percobaan pemadatan di laboratorium yang dikenal dengan:

 ‘Standard Proctor Compaction Test’ untuk tanah pada umumnya


 ‘Modified Proctor Test' untuk tanah yang mengandung bahan granular

3. Alat Pemadat
Pemilihan alat disesuaikan dengan kepadatan yang akan dicapai. Untuk kepadatan yang tinggi,
diperlukan tenaga alat pemadat yang lebih besar. Pada pelaksanaan di lapangan, tenaga
pemadatan tersebut diukur dalam jumlah lintasan alat pemadat dan berat alat pemadat sendiri.

PEMELIHARAAN JALAN (PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM


NOMOR : 13 /PRT/M/2011)
Tujuan pemeliharaan jalan adalah agar jalan yang sudah dibangun selalu dapat
berfungsi dengan baik sehingga dapat dioperasikan secara optimal dan terjaga kelestariannya
serta dapat dipakai sepanjang waktu. Prasarana jalan perlu diperiksa secara rutin serta dilakukan
pendataan terhadap kekurangan-kekurangan yang ada dan kemudian diperbaiki.
LANGKAH-LANGKAH PEMELIHARAAN
o Penentuan bagian yang harus dipelihara (karena timbul masalah drainase, tanah, atau
konstruksi yang terganggu)
o Tim pemelihara harus memilih waktu yang paling tepat untuk mengidentifikasikan
(mengelompokkan) masalah, yaitu pada saat sehabis hujan besar (atau lebih baik lagi
pada waktu hujan deras masih berlangsung).
o Berdasarkan inventarisasi masalah ditentukan hal mana yang dapat diperbaiki dengan
sumber daya alam dan manusia yang ada di desa.
o Prioritas penanganan tidak dapat dilepaskan dari penentuan waktu yang paling tepat
untuk pemeliharaan yaitu :
-       Keadaan yang berbahaya harus segera ditangani dan penggunaan jalan dibatasi
atau dihentikan sama sekali sampai keadaan diperbaiki.
-       Masalah yang akan mengakibatkan kerusakan besar terhadap pemilikan pribadi
masyarakat desa (rumah, lahan, kendaraan), harus segera ditangani, seperti
meluapnya air yang mungkin akan merusak tanaman di ladang sebelah jalan atau
longsor yang mengancam rumah penduduk.
-       Masalah yang akan menyebabkan kerusakan yang lebih luas dan lebih besar harus
segera ditangani seperti masalah drainase yang tidak berfungsi
-       Adapun masalah yang sebaiknya menunggu cuaca yang baik demi kualitas
perbaikan, asal tidak merugikan masyarakat kalau menunggu (hal-hal yang perlu
menunggu tanah kering, misalnya pemasangan gorong-gorong baru, atau
pembuatan sub teras).
o    Yang di luar kemampuan masyarakat harus dilaporkan kepada Dinas Pekerjaan Umum
(misalnya jika terjadi kerusakan jembatan atau longsornya tanah yang besar) untuk
pertimbangannya dan nasihatnya.
o    Melaksanakan kegiatan pemeliharan yang bersifat rutin, mendesak, dan berkala, yaitu :
-       Rutin : kegiatan yang perlu dilaksanakan paling sedikit sekali setahun pada
bagian jalan tertentu (saluran pembuang air, badan jalan, bahu jalan,
lereng/tebing, dan bangunan pelengkap)
-       Mendesak : kejadian yang tidak disangka-sangka memerlukan kegiatan
perbaikan yang perlu dilakukan segera seperti kerusakan oleh banjir, tanah
longsor, dsb.
-       Periodik : kegiatan yang kadang-kadang dibutuhkan untuk memperbaiki bagian
jalan tertentu setelah periode beberapa tahun.  Kegiatan tersebut memerlukan
bantuan dan sarana untuk melaksanakannya dan biasanya mengharuskan
penggunaan dana sarana cadangan pada bagian jalan.  Kegiatan ini perlu
diidentifikasi (atau dikelompokkan) sesuai tingkatannya dan direncanakan
pelaksanaannya secara spesifik.
Alat pemadat maupun tanah yang akan dipadatkan bermacam-macam jenisnya. Untuk itu,
pemilihan alat pemadat harus disesuaikan dengan jenis tanah yang akan dipadatkan, agar
tujuan pemadatan dapat tercapai.
Macam alat pemadat untuk pekerjaan ‘sub grade’, antara lain adalah sebagai berikut:
a. ‘Sheep Foot Roller’ (Penggilas Jenis Kaki Kambing)
Prinsip Sheep Foot Roller ini, adalah sebuah silinder yang di bagian luarnya
dipasang kaki-kaki. Pada kaki-kaki ini terjadi tekanan yang tinggi, sehingga kaki-
kaki ini masuk ke dalam tanah dan memberikan pemadatan dari bawah. ‘Sheep Foot
Roller’ ini baik digunakan untuk tanah berpasir yang sedikit mengandung lempung
dan juga untuk tanah yang plastis dan kohesif. Untuk tebal lapisan antara 15 – 25
cm, ‘roller ‘ ini masih berhasil guna.
b. Penggilas dengan Getaran (‘Vibration Roller’)
Alat pemadat ini mempunyai efesiensi pemadatan yang sangat baik. Alat ini
memungkinkan digunakan secara luas dalam tiap jenis pekerjaan pemadatan. Efek
yang diakibatkan ‘vibration roller’, adalah gaya dinamis terhadap tanah.
Butir-butir tanah cenderung mengisi bagian-bagian kosong yang terdapat di antara
butir-butirnya, sehingga akibat getaran ini tanah menjadi padat dan dengan susunan
yang lebih kompak.
 Pemadatan

 Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan setiap lapisan harus


dipadatkan.
 Pemadatan urugan tanah harus dilaksanakan hanya bila kadar air dari material
berada dalam rentang kurang dari 3 % sampai lebih dari 1 % dari kadar air
optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai kadar air pada
kepadatan kering maksimum yang diperoleh bila tanah dipadatkan sesuai
dengan AASHTO T 99.
 Masing-masing lapis dari urugan yang dipasang harus dipadatkan seperti yang
ditentukan, diuji untuk kepadatan dan diterima oleh Pengawas sebelum lapis
berikutnya dipasang.
 Timbunan harus dipadatkan mulai pada tepi luar dan berlanjut kearah sumbu
jalan sedemikian sehingga masing-masing bagian menerima jumlah usaha
pemadatan yang sama. Bilamana mungkin, lalu-lintas alat konstruksi harus
dilewatkan diatas urugan dan arahnya terus berubah-ubah untuk menyebarkan
usaha pemadatan dari lalu-lintas tersebut.
 Timbunan pada lokasi yang tidak dicapai/dimasuki oleh alat pemadat yang
biasa, harus dipadatkan, dapat menggunakan alat pemadat tangan mekanis
(mechanical tamper) atau alat pemadat lain yang disetujui.