Anda di halaman 1dari 2

TUGAS BAHASA INDONESIA

oleh Nabila Puspita X-4 / 13


MOSI “PERILAKU MENYONTEK SAAT UJIAN NASIONAL DISEBABKAN KARENA
TAKUT TIDAK LULUS UJIAN”

Ujian Akhir Nasional, dalam beberapa tahun terakhir selalu menjadi topik menarik
menjelang pertengahan tahun / pergantian tahun ajaran. Setiap tahun selalu terjadi
perubahan kebijakan dan standar nilai yang menjadi patokan akan lulus atau tidaknya
seorang pelajar. Dan di setiap tahun pula peraturan-peraturan ini selalu menjadi
pertentangan yang tergolong kontradiktif.
Dalam Kamus Modern Bahasa Indonesia istilah menyontek memiliki pengertian yang hampir
sama yaitu “ Tiru hasil pekerjaan orang lain”. Maka dapat disimpulkan menyontek dalam
pelaksanaan ujian adalah mengambil jawaban soal – soal ujian dari cara – cara yang tidak
dibenarkan dalam tata tertib ujian. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan
berbagai argument yang dituliskan sebagai berikut.
1. Kurikulum dan kebijakan pendidikan akan mempengaruhi perilaku menyontek siswa yang
didukung oleh faktor individual maupun lingkungan
- Mereka dituntut oleh lingkungan, sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk
bisa lulus UN.
- Kurangnya kepercayaan diri dapat menyebabkan kecenderungan menyontek
semakin tinggi dan selanjutnya perilaku menyontek tersebut menjadi kebiasaan.
Siswa akan senang menggantungkan pencapaian hasil belajarnya pada orang lain
atau sarana tertentu dan bukan pada kemampuan dirinya sendiri.
- Soal ujian yang dihadapinya terlalu sulit bagi mereka, ditambah guru yang
mengajar tidak dapat menyampaikan materi dengan baik.
- Terjadi persaingan untuk mendapat nilai bagus dan hanya yang terbaik dalam
angka ulangan yang mendapat penghargaan dari kawan-kawannya.
2. Banyak orang yang menghargai hasil daripada proses.
- Adanya perasaan ingin menjadi lebih baik dari orang lain, sehingga ingin
mendapatkan hasil tanpa memerdulikan prosesnya terllebih dahulu.
- Orang-orang masih belum memahami arti pendidikan yang sesungguhnya. Siswa
mengikuti periode- periode perkembangan tertentu dan mempunyai pola
perkembangan serta tempo dan iramanya. Implimintasi terhadap pendidikan adalah
bagaimana menyesuaikan proses pendidikan itu dengan pola dan tempo, serta irama
dan perkembangan siswa itu sendiri. Siswa memiliki kebutuhan dan menuntut untuk
memenuhi kebutuhan itu semaksimal mungkin.
- Orang lebih mementingkan hasil akhir daripada proses.
- Anggapan bahwa nilai harus stabil dan baik, apabila niainya turun maka perlu
belajar lebih keras lagi. Padahal kemampuan seseorang tidak dapat dijabarkan hanya
dengan angka-angka dari beberapa mata pelajaran saja.
3. Ada keinginan untuk membanggakan orangtua
- Perasaan untuk takut gagal dan masuk dalam kelompok siswa yang tidak pintar,
dan juga tuntutan orang tua untuk menjadi murid terbaik, yang diikuti oleh rasa
tidak mau menjadi beban bagi orang tua.
- Ingin dipuji dan diberikan penghargaan atau hadiah dari orangtua yang telah
dijanjikan apabila nilai mencapai target yang diinginkan.
- Merasa rendah diri apabila tidak lulus UN karena UN adalah ujian terakhir dan
dijadikan sebagai pegangan untuk menilai ‘cerdas’ atau tidaknya seorang murid.
- Beberapa anak dituntut, bahkan diancam oleh orangtuanya agar mendapatkan nilai
yang bagus. Hal tersebut memberikan beban secara mental terhadap sang anak
sehingga ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai bagus.

Berdasarkan argumen diatas, dapat disimpulkan bahwa ada banyak faktor yang menjadi alas
an untuk menyonter, baik itu faktor individual, keluarga, serta lingkungan. Bahkan
pemerintah secara tidak langsung juga menjadi salah satu penyebab menyontek, karena
pemerintahlah yang menetapkan kebijakan pelajar dan pengajar di Indonesia.