Anda di halaman 1dari 4

Belakangan ini publik di gegerkan oleh rencana pembahasan RUU Omnibus Law Cipta

Lapangan Kerja yang menuai pro dan kontra, pemerintah mengeklaim RUU ini bertujuan untuk
menciptakan ekosistem investasi serta kemudahan dan perlindungan Usaha Mikro Kecil dan
Menengah (UMKM) dengan 11 klaster yang akan diselesaikan, sedangkan menurut para buruh
RUU tersebut mengancam kesejahteraan buruh. Apakah RUU Omnibus Law Cipta Lapangan
Kerja merupakan solusi terbaik tumpang tindih hukum saat ini?.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, “Omnibus
ini akan membahas ekosistem penyederhanaan perizinan dan investasi. Di sini juga akan
dimasukan terkait dengan kemudahan berusaha terkait juga yang terkait dengan dorongan untuk
riset dan inovasi. Termasuk di dalamnya bagaimana membuat inovasi ini menjadi bagian dari
pada peningkatan daya saing,”. Namun RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja ini menua
kecaman keras dari pihak buruh, karena dalam draf RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja
ada beberapa poin yang dianggap merugikan dan mengancam kesejahteraan buruh. Serikat buruh
yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menilai RUU omnibus law
bukan cara terbaik untuk meningkatkan investasi dan menciptakan lapangan kerja. Sedikitnya
ada 6 poin dalam RUU Omnibus Law yang dianggap KSPI dapat mengancam kesejahteraan
para buruh yaitu: menghilangkan upah minimum, menghilangkan pesangon, fleksibilitas
penggunaan outsourcing dan buruh kontrak diperluas, kemudahan TKA untuk masuk di
Indonesia, jaminan sosial terancam hilang, menghilangkan sanksi pidana bagi pengusaha.
Definisi daripada Omnibus Law dimulai dari kata Omnibus. Kata Omnibus berasal dari
bahasa Latin dan berarti untuk semuanya, dimana artinya berkaitan dengan atau berurusan
dengan berbagai objek atau item sekaligus, termasuk banyak hal atau memiliki berbagai tujuan.
Bila digandeng dengan kata Law yang maka dapat didefinisikan sebagai hukum untuk semua.
Di dalam hierarki atau tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia
sebagaimana diatur di dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 15
Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, belum memasukkan konsep Omnibus Law
sebagai salah satu asas dalam sumber hukum. Sehingga penempatan Omnibus Law tersebut di
samakan dengan undang-undang sesuai dengan Pasal 7 Undang-undang no 12 Tahun 2011.
Tetapi harmonisasi peraturan perundang-undangan di Indonesia terus menerus dilakukan untuk
meminimalkan konflik peraturan perundang-undangan.
Dari permasalahan harmonisasi peraturan perundang-undangan di Indonesia, maka
pemerintah perlu mengambil suatu upaya terobosan hukum untuk membenahi konflik regulasi.
Tuntutan perbaikan dan pembenahan tumpang tindih peraturan perundang-undangan di
Indonesia sudah sangat mendesak untuk dilakukan. Salah satu gagasan Omnibus Law
berkemungkinan untuk diterapkan di Indonesia asalkan diberikan ruang dan fondasi hukum.
Omnibus Law bukanlah hal baru di dunia ilmu hukum secara global, hanya saja untuk di
Indonesia sudah sangat diperlukan untuk membenahi tumpang tindih peraturan perundang-
undangan. Proses harmonisasi peraturan perundang-undangan selain hambatan diatas juga
memakan waktu yang lama. Dengan konsep Omnibus Law maka peraturan yang dianggap tidak
relevan atau bermasalah dapat diselesaikan secara cepat.
Akan tetapi beberapa kalangan akademisi juga ada yang menilai bila konsep Omnibus
Law diberlakukan maka bertentangan dengan asas demokrasi, karena konsep Omnibus Law
sebagian kalangan menilainya anti demokratis. Pemerintah perlu melakukan terobosan hukum
agar mampu menyelesaikan permasalahan tumpang tindih beberapa peraturan perundang-
undangan tersebut.
Protes yang dilakukan oleh buruh berdasakan naskah rekomendasi yang berasal dari situs
resmi pemerintahan, karena naskah akademik maupun draft RUU belum diterma oleh DPR
untuk dibahas.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) yang beberapa kali mengatakan bahwa
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan saat ini tidak mendukung iklim
investasi dan sudah tidak relevan. APINDO menganggap bahwa undang-undang ini harus
direvisi, terutama aturan tentang upah pekerja, pesangon, dan tenaga kerja outsorcing yang ketat.
Menurut mereka, peraturan tersebut memberatkan pemberi kerja.
Menghilangkan upah minimum
Dampak terburuk yang secara langsung dirasakan buruh adalah hilangnya upah
minimum. Hal ini, terlihat dari keinginan pemerintah yang hendak menerapkan sistem upah per
jam. Dimana pekerja yang bekerja dibawah 40 jam dalam seminggu maka digaji dengan upah
perjam. Dengan kata lain, pekerja yang bekerja kurang dari 40 jam seminggu, maka upahnya
otomatis akan di bawah upah minimum. Hal tersebut akan membuka celah bagi pengusaha untuk
mempekerjakan pekerjanya dibawah 40 jam dalam seminggu untuk menggaji pekerjanya lebih
rendah, dan penerapan yang berbeda seperti ini adalah bentuk diskriminasi terhadap upah
minimum. Dalam Pasal 90 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
disebutkan, pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum. Dapat
dikatakan bahwa pemberian upah per jam adalah mekanisme untuk menghilangkan upah
minimum. Karena ke depan akan banyak perusahaan yang mempekerjakan buruhnya hanya
beberapa jam dalam sehari, untuk menghindari beban menggaji pekerjanya sesuai dengan upah
minimum.
Menghilangkan pesangon
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pernah menggunakan
istilah baru dalam omnibus law, yakni tunjangan PHK yang besarnya mencapai 6 bulan upah.
Sedangkan dalam Pasal 156 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan
sudah diatur secara jelas dan rinci mengenai masalah pesangon bagi buruh yang terkena PHK.
Besarnya pesangon adalah maksimal 9 bulan, dan bisa dikalikan 2 untuk jenis PHK tertentu,
sehingga bisa mendapatkan 18 bulan upah. Selain itu, mendapatkan penghargaan masa kerja
maksimal 10 bulan upah, dan penggantian hak minimal 15 persen dari total pesangon atau
penghargaan masa kerja. Dapat dikatakan bahwa wacana tunjangan PHK dapat mengakibatkan
pesangon yang sudah diatur dengan baik di dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003
tentang ketenagakerjaan justru akan dihilangkan dan digantikan dengan istilah baru, tunjangan
PHK yang hanya 6 bulan upah. Padahal sebelumnya, buruh berhak mendapatkan hingga 38
bulan upah lebih.
Fleksibilitas penggunaan outsourcing dan buruh kontrak diperluas
Dalam omnibus law, dikenalkan istilah fleksibilitas pasar kerja. istilah ini dapat diartikan
tidak adanya kepastian kerja dan pengangkatan karyawan tetap ( PKWTT). "Jika di UU 13/2003
outsourcing hanya dibatasi pada 5 jenis pekerjaan, nampaknya ke depan semua jenis pekerjaan
bisa di-outsoursing-kan. Jika ini terjadi, masa depan buruh tidak jelas. Sudahlah hubungan
kerjanya fleksibel yang artinya sangat mudah di PHK, tidak ada lagi upah minimum, dan
pesangon dihapuskan," sebut Iqbal.
4. Lapangan pekerjaan yang tersedia berpotensi diisi Tenaga Kerja Asing (TKA) Unskill
Terkait TKA, dalam UU 13/2003, penggunaan TKA harus memenuhi beberapa persyaratan.
Antara lain, TKA hanya boleh untuk pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tertentu. TKA
yang tidak memiliki keterampilan khusus (unskilled workers) tidak diperbolehkan bekerja di
Indonesia. Jenis pekerjaannya pun adalah pekerjaan tertentu yang membutuhkan keahlian khusus
yang belum banyak dimiliki pekerja lokal, seperti akuntansi internasional, maintenance untuk
mesin teknologi tinggi, dan ahli hukum internasional. Baca juga: Menko Airlangga: Omnibus
Law Permudah Perekrutan Tenaga Kerja Asing Selain itu, waktunya dibatasi. Dalam waktu
tertentu, misalnya 3 – 5 tahun, dia harus kembali ke negaranya. Hal yang lain, setiap TKA harus
didampingi oleh pekerja lokal. Tujuannya adalah, supaya terjadi transfer of job dan transfer of
knowledge, sehingga pada satu saat nanti pekerja Indonesia bisa mengerjakan pekerjaan sang
TKA . "Dalam omnibus law terdapat wacana, semua persyaratan yang sudah diatur akan
dihapus. Sehingga TKA bisa bebas sebebas-bebasnya bekerja di Indonesia. Hal ini, tentu saja
akan mengancam ketersediaan lapangan kerja untuk orang Indonesia. Karena pekerjaan yang
mestinya bisa diempati oleh orang lokal diisi oleh TKA," ujar Iqbal.
5. Jaminan sosial terancam hilang Menurutnya, jaminan sosial yang hilang diakibatkan
karena sistem kerja yang fleksibel. Sebagaimana diketahui, agar bisa mendapat jaminan pensiun
dan jaminan hari tua, maka harus ada kepastian pekerjaan. "Dengan skema sebagaimana tersebut
di atas, jaminan sosial pun terancam hilang. Khususnya jaminan hari tua dan jaminan pensiun,"
ungkap Iqbal. Baca juga: Poin-poin Omnibus Law Perpajakan Beres, Tapi Cipta Lapangan Kerja
Belum Rampung
6. Menghilangkan sanksi pidana bagi pengusaha Dalam omnibus law, juga ada wacana
untuk menghilangkan sanksi pidana bagi pengusaha. Dalam  UU 13/2003, disebutkan sanksi
pidana bagi pengusaha yang tidak membayar hak-hak buruh. Sebagai contoh, pengusaha yang
membayar upah di bawah upah minimum, bisa dipenjara selama 1 hingga 4 tahun. Jika sanksi
pidana ini dihilangkan, kata Iqbal, bisa jadi pengusaha akan seenaknya membayar upah buruh
lebih rendah dari upah minimum. “Dampaknya, akan banyak hak buruh yang tidak berikan
pengusaha. Karena tidak ada efek jera,” ujar dia.