Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

Aliran-Aliran dalam Ilmu Tasawuf, Maqamat dan Hal

Makalah ini untuk memenuhi tugas diskusi ilmiah pada mata kuliah akhlak
tasawuf

Disusun oleh:
Amourta Bela Anjani
Desti Afani
Tika Ayu Septiani
Dosen pengampu: Linda Trisdayana, M.Pd.I

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

TAHUN AKADEMIK 2017/2018


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian & Aliran Ilmu Tasawuf


B. Pengertian & Macam-Macam Maqamat
C. Pengertian Hal & Macam-Macam Hal

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah atas segala limpahan dan karunia Allah SWT yang telah
memberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga kita masih bisa menikmati
indahnya alam ciptaan-Nya. Tidak lupa kami kirimkan shalawat dan salam kepada
junjungan Nabi Besar Muhammad SAW,beserta keluarganya, para sahabatnya dan
seluruh umatnya yang senantiasa istiqomah hingga akhir zaman.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah
Akhlak Tasawuf yang berjudul Aliran-aliran dalam Ilmu Tasawuf Maqamat dan Ahwal.
Di samping itu, kami sebagai penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu hingga terselesaikannya makalah ini.

Akhirulkalam, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Karena itu kami mengharapkan saran dan kritik guna memperbaiki makalah di masa
yang akan datang. Harapan kami semoga makalah ini bermafaat dan memenuhi harapan
berbagai pihak.

Bandar Lampung, 20 November 2017

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Tasawuf merupakan salah satu fenomena dalam Islam yang memusatkan perhatian
pada pembersihah aspek rohani manusia, yang selanjutnya menimbulkan akhlak mulia.
Melalui tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan
pembersihan diri serta mengamalkan secara benar. Banyak pengertian tasawuf yang
dirumuskan oleh ulama tasawuf, tetapi tidak mencakup pengertian tasawuf secara
menyeluruh. Definisi tasawuf yang dirumuskan oleh para ulama tasawuf, tetapi tidak
mencakup pengertian tasawuf secara menyeluruh.
Tinjauan analitis terhadap tasawuf menunjukan bahwa para sufi dengan berbagai
aliran yang dianutnya memiliki suatu konsepsi tentang jalan (thariqat) menuju Allah.
Jalan ini dimulai dengan latihan-latihan rohaniah (riyadah) lalu secara bertahap
menempuh berbagai fase, yang dikenal dengan maqam (tingkatan) dan hal (keadaan),
dan berakhir dengan mengenal (ma’rifat) kepada Allah. Tingkat pengenalan (ma’rifat)
menjadi jargon yang umumnya banyak dikejar oleh para sufi. Kerangka sikap dan
perilaku sufi diwujudkan melalui amalan dan metode tertentu yang disebut thariqat,
atau jalan menemukan pengenalan (ma’rifat) Allah. Lingkup perjalanan menuju Allah
untuk memperoleh pengenalan (ma’rifat) yang berlaku dikalangan sufi sering disebut
sebagai sebuah kerangka ‘Ifrani.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Ilmu Tasawuf dan alirannya?
2. Apa yang dimaksud dengan maqamat dan macam macam maqamat?
3. Apa yang dimaksud dengan hal dan macam-macam hal?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian Ilmu Tasawuf dan alirannya.
2. Untuk mengetahui dengan maqamat dan macam macam maqamat.
3. Untuk mengetahui pengertian hal dan macam-macam hal.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Tasawuf Dan Alirannya

Ilmu Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari usaha-usaha membersihkan diri,


berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan makrifat menuju ke
abadian, saling mengingatkan antar manusia, serta berpegang teguh pada janji Allah dan
mengikuti syariat Rasulullah dalam mendekatkan diri dan mencapai keridaan-Nya.
Ilmu tasawuf yang merupakan salah satu cabang ilmu yang sangat kontroversi
dikalangan para ahli sufi, dikarenakan di dalamnya mengandung berbagai permasalahan
yang menyangkut dengan aqidah dan keimanan seseorang.
Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi dua, yaitu
tasawuf yang mengarah pada teori-teori perilaku dan tasawuf yang mengarah pada teori-
teori yang rumit dan memerlukan pemahaman mendalam.
Pada perkembangannya, tasawuf yang berorientasi ke arah pertama sering
disebut sebagai tasawuf akhlaqi. Ada yang menyebutnya sebagai tasawuf yang banyak
dikembangkan oleh kaum salaf. Adapun tasawuf yang berorientasi ke arah kedua
disebut sebagai tasawuf falsafi. Tasawuf ini banyak dikembangkan para sufi yang
berlatar belakang sebagai filosof di samping sebagai sufi.

1. Aliran Tasawuf Sunni (Tasawuf Akhlaki)


Tasawuf akhlaki adalah membersihkan tingkah laku atau saling membersihkan
tingkah laku. Tasawuf akhlaki gabungan antara ilmu tasawuf dan ilmu akhlak, akhlak
hubungnnya sangat erat dengan tingkah laku dan perbuatan manusia sdalam interaksi
sosial pada lingkungan tempat tinggalnya.
Tasawuf akhlaki biasa disebut dengan istilah tasawuf sunni. Tasawuf model ini
berusaha untuk mewujudkan akhlak mulia dalam diri si sufi, sekaligus menghindarkan
diri dari akhlak mazmumah (tercela). Dan tasawuf sunni juga memiliki pengertian yaitu
bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan al-Qur’an dan al-hadits secara ketat,
serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan Maqomat (tingkatan rohaniah) mereka kepada
kedua sumber tersebut. Dalam ilmu tasawuf dikenal dengan sebutan takhali
(pengosongan diri dari sifat-sifat tercela), tahali (menghiasi diri dengan sifat-siat
terpuji), dan tajalli (terungkapnya nur Ghaib bagi hati yang telah bersih sehingga
mampu melihat cahaya ketuhanan).1

Tasawuf Akhlaki ini dikembangkan oleh ‘Ulama Salaf As-Salih. Adapun


tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang untuk mendekatkan kepada Tuhannya,
Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Imam Al-Ghazali membagi maqamat dalam
beberapa tahap, yaitu:

a. Tobat (At-Taubah)

Tobat berasal dari bahasa Arab tâba- yatûbu- taubatan, yang mempunyai arti
menyesal atas perbuatan dosa.2 Menurut imam Al-Ghazali tobat berarti penyesalan,
sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud:

‫الندم توبة‬

“Artinya: Tobat adalah penyesalan”3

b. Sabar (Al-Shabr)

Al-Ghazali membagi sabar menjadi dua yaitu sabar yang berkaitan dengan fisik
dan sabar yang terpuji dan sempurna. Menurutnya yang dimaksud sabar yang berkaitan
dengan fisik adalah ketabahan dan ketegaran memikul beban dengan badan. Contoh
kesabaran yang seperti ini adalah melakukan pekerjaan yang berat berupa ibadah,
menahan penyakit, atau ketabahan menahan pukulan. Sedang sabar yang terpuji dan
sempurna ialah kemampuan jiwa untuk menahan diri dalam berbagai keinginan tabiat
atau hawa nafsu.

1 IAIN Sumatera, Pengantar Ilmu Tasawuf , 1982, hal.94


2 Akhmad Sya’bi, Kamus Al-Qolam,(Surabaya: Halim, 1997), hlm. 26.
3 Abdul Karim Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah,(Mesir: Darul Khair, T.th.), hlm. 91.
c. Kefakiran (Al-Faqr)

Al-Ghazali mengartikan kefakiran sebagai ketidakmampuan seseorang atau


sesuatu mendapatkan apa yang dibutuhkan. Maka dalam arti ini, seluruh wujud selain
Allah adalah fakir. Karena sejatinya segala sesuatu yang jauh dari kata sempurna
(Makhluk-Nya) itu membutuhkan yang lain yang Maha Sempurna (Allah).

d. Zuhud (Az-Zuhd)

Zuhud menurut Al-Ghazali adalah suatu sikap atau keadaan jiwa yang tidak
adanya perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan. Al-Ghazali menyebut tiga tanda
seseorang memiliki sifat zuhud yaitu:

1) Tidak bergembira dengan yang ada dan tidak bersedih dengan sesuatu yang tidak ada.

2) Sama saja baginya orang yang mencela dan memujinya. Hal itu tidak akan
mempengaruhi dalam beribadah.

3) Hendaknya ia bersama Allah dan hatinya lebih didominasi oleh lezatnya ketaatan dan
cinta Allah.

e. Tawakal (Al-Tawakkal)

Tawakal dalam hal ini adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT.
Al-Ghazali membagi tawakal kedalam tiga tingkatan sebagaimana dikutip Mulyadhi
Kartanegara dalam bukunya “Menyelami Lubuk Tasawuf”:

“…(1) Keadaan menyangkut hak Allah dan keyakinannya kepada jaminan dan
perhatian-Nya adalah seperti keyakinannya kepada wakil. (2) yang lebih kuat, yaitu
keadaannya bersama Allah adalah seperti keadaan anak kecil bersama ibunya, di mana
ia tidak mengenal yang lainnya, dan tidak bersandar kecuali kepadanya. (3) keadaan
tawakal yang paling tinggi, yaitu hendaknya ia berada di hadapan Allah dalam semua
gerak dan diamnya, seperti mayat yang ada di tangan orang yang memandikannya.”
f. Cinta Ilahi (Mahabbah)

Dalam maqamat ini, Al-Ghazali mengatakan bahwa seorang yang mencintai


sesuatu tanpa didasari cinta kepada Allah adalah kebodohan dan kurangnya mengenal
Allah. Dalam Al-Quran surat Al-Anfal ayat 2, Allah berfirman: “Artinya: Katakanlah:
"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-
Anfal/8:2)4

g. Rida (ar-Ridha)

Al-Ghazali menyebut sifat rida maqam terakhir. Rida menurutnya sangat erat
hubungannya dengan cinta. Kalau cinta kepada Allah sudah tertanam pada diri
seseorang, maka cinta tersebut akan menimbulkan sifat rida atau senang atas semua
perbuatan Tuhan. Tentang rida, terdapat dalam Al-Quran salah satunya surah Al-
Maidah ayat 119. Artinya: Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling
besar.(Q.S. Al-Maidah/5:119)

2.  Aliran Tasawuf Falsafi

Tasawuf Falsafi adalah aliran yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi


mistik (ghaib) dan visi rasional (akal). Terminology filosofis yang berasal dari macam-
macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya, namun orisinalitasnya
sebagai tasawuf tetap tidak hilang. Walaupun demikian tasawuf filosofis tidak bisa
dipandang sebagai filsafat, karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa dan tidak
pula bisa dikatagorikan pada tasawuf (yang murni) karena sering diungkapkan dengan
bahasa filsafat.5
Selain itu tasawuf falsafi memiliki pengertian sebagai berikut tasawuf yang
menggunakan pendekatan rasio atau akal pikiran. Tasawuf model ini menggunakan
4 Bachtiar Surin, Terjemah dan Tafsir Al-quran,(Bandung: Fa. Sumatra, 1978), hlm. 107.
5 Abu al  Wafa al Ganimi at Taftazani, Madikhal ilat Tashawwuf al Islami,(Kairo:Daruts
Tsaqofah, 1979), hlm. 187-188
bahan-bahan kajian atau pikiran dari para filsof,baik menyangkut tentang tuhan,
manusia, dan sebaginya.

3.  Aliran Tasawuf Amali

Tasawuf amali adalah aliran tasawuf ini lebih  menekankan pembinaan moral
dalam upaya mendekatan diri kepada tuhan untuk mencapai hubungan yang dekat
dengan tuhan, seseorang harus mentaati dan melaksanakan sya’riat atau ketentuan
agama.
Tasawuf amali berkonotasikan tarekat. Tarekat disini dibedakan antara
kemampuan sufi yang satu dari pada yang lain, ada orang yang dianggap mampu dan
tahu cara mendekatkan diri kepada allah, orang yang memerlukan bantuan orang lain
dianggap memiliki otoritas dalam masalah itu. Dalam tasawuf amali yang
berkonotasikan tarekat ini mempunyai aturan, prinsip dan sistem khusus. Menurut
J.Spencer Trimingham, tarekat adalah suatu metode praktis untuk menuntun seorang
sufi secara berencana dengan jalan pikiran, perasaan, dan tindakan, terkendali terus-
menerus kepada suatu rangkaian maqam untuk dapat  merasakan  hakekat sebenarnya.
Istilah tarekat diambil dari bahasa Arab thariqah yang berarti jalan atau metode. Dalam
terminologi sufistik, tarekat adalah jalan atau metode khusus untuk mencapai tujuan
spiritual.6

Adapun “tarekat” menurut istilah ulama Tasawuf:

1.“Jalan kepada Allah dengan mengamalkan ilmu Tauhid, Fikih dan Tasawuf.”

2. “Cara atau kaifiat mengerjakan sesuatu amalan untuk mencapai suatu tujuan.”

Berdasarkan beberapa definisi yang tersebut di atas, jelaslah bahwa tarekat adalah suatu
jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengamalkan ilmu
Tauhid, Fikih dan Tasawuf.

6 Ajid Thohir, Gerakan Politik Kaum Tarekat: Telaah Historis Gerakan Politik
Antikolonialisme Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah di Pulau Jawa, (Bandung: Hilmi Inti Pradana,
2015),hlm. 47.
Tarekat juga berarti organisasi yang tumbuh seputar metode sufi yang khas.
Pada masa permulaan, setiap guru sufi dikelilingi oleh lingkaran murid mereka dan
beberapa murid ini kelak akan menjadi guru pula. Boleh dikatakan bahwa tarekat itu
mensistematiskan ajaran dan metode-metode tasawuf. Guru tarekat yang sama
mengajarkan metode yang sama, zikir yang sama, muraqabah yang sama. Seorang
pengikut tarekat akan memperoleh kemajuan melalui sederet amalan-amalan
berdasarkan tingkat yang dilalui oleh semua pengikut tarekat yang sama. Dari pengikut
biasa (mansub) menjadi murid selanjutnya pembantu Syaikh (khalifah-nya) dan
akhirnya menjadi guru yang mandiri (mursyid).7

Aneka Aliran Tarekat


1. Tarekat Qadiriyah
Qadiriyah adalah nama tarekat yang diambil dari nama pendirinya, yaitu ‘Abd
al-Qadir Jilani, yang terkenal dengan sebutan Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani al-ghawsts
atau quthb al-awliya. Tarekat ini menempati posisi yang amat penting dalam sejarah
spiritualitas Islam karena tidak saja sebagai pelopor lahirnya organisasi tarekat, tetapi
juga cikal bakal munculnya berbagai cabang tarekat di dunia Islam.

Menurut Syaikh ‘Ali ibn al-Hayti menilai bahwa tarekat Syaikh ‘Abd al-Qadir
Jilani adalah pemurnian akidah dengan meletakkan diri pada sikap beribadah,
sedangkan ‘Ady ibn Musafir mengatakan bahwa karakter Tarekat Qadiriyah adalah
tunduk di bawah garis keturunan takdir dengan kesesuaian hati dan roh serta kesatuan
lahir dan batin. Memisahkan diri dari kecenderungan nafsu, serta mengabaikan
keinginan melihat manfaat, mudarat, kedekatan maupun perasaan jauh.

2. Tarekat Syadziliyah
Tarekat ini berkembang pesat antara lain di Tunisia, Mesir, Aljazair, Sudan, Suriah
dan Semenanjung Arabia, juga di Indonesia (khususnya) di wilayah Jawa Tengah dan
Jawa Timur.

7 Sri Mulyati, dkk, Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jkarta:
Kencana,2011),hlm. 8.
Tarekat Syadziliyah tidak meletakkan syarat-syarat yang berat kepada Syeikh
tarekat, kecuali mereka harus meninggalkan semua perbuatan maksiat, memelihara
segala ibadat yang diwajibkan, melakukan ibadat-ibadat sunnat sekuasanya, zikir
kepada Tuhan sebanyak mungkin, sekurang-kurangnya, seribu kali sehari semalam,
istighfar seratus kali, shalawat kepada Nabi sekurang-kurangnya seratus kali sehari
semalam, serta beberapa zikir lain. Kitab Syadziliyah meringkaskan sebanyak dua puluh
adab, lima sebelum mengucapkan zikir, dua belas dalam mengucapkan zikir, dan tiga
sesudah mengucapkan zikir.8

3. Tarekat Rifa’yah
Ciri khas Tarekat Rifaiyah ini adalah pelaksanaan zikirnya yang dilakukan
bersama-sama diiringi oleh suara gendang yang bertalu-talu. Zikir tersebut
dilakukannya sampai mencapai suatu keadaan dimana mereka dapat melakukan
perbuatan-perbuatan yang menakjubkan, antara lain berguling-guling dalam bara api,
namun tidak terbakar sedikit pun dan tidak mempan oleh senjata tajam.

4. Tarekat Naqsyabandiyah
Ada enam dasar yang dipakai peganggan untuk mencapai tujuan dalam tarekat ini,
yaitu:

a. Tobat.

b. Uzla (mangasingkan diri dari masyarakat ramai yang dianggapnya telah


mengingakari ajaran-ajaran allah dan beragam kemaksiyatan, sebab ia tidak mampu
meperbaikinya).

c. Juhud (mempaatkan dunia untuk keperlu hidup seperlunya saja)

d. Takwa

e. Qanaah (menerima dengan senang hati segala sesuatu yang dianugrahkan oleh allah
SWT)

f. Taslim (kepatuhan batiniyah akan keyakinan qalbu hanya pada allah).

H. A. Fuad Said, Hakikat Tarekat Naqsabandiyah, Jakarta: Al-Husna Zikra, 1996, h. 23.

8 Aboebakar Atjeh, Pengantar Sejarah Sufi Dan Tasawuf ,(Solo,1984)., hlm. 308.
Hukum yang dijadikan pegangan dalam terekat naqsabandiyah ini juga ada enam, yaitu:

a. Zikir.

b. Meninggalkan hawa nafsu.

c. Meninggalkan kesenangan duniawi.

d. Melaksanakan segenap ajaran agama dengan sunguh-sunguh.

e. Senintiasa berbuat baik (lisan) kepada makhlik allah SWT.

f. Mengerjakan amal kebaikan.

Tarekat sufi juga menjadi sarana penting bagi perluasan Islam dalam masyarakat
Barat Modern, karena keinklusifan yang terbuka dan dimensi-dimensi aksetis dalam
filosofi sufi memiliki daya tarik yang amat besar. Pada abad kedua puluh tulisan-tulisan
Idries Syah menjadi amat terkenal dan dapat ditemukan di tokoh-tokoh buku hingga
menraik cita rasa masyarakat awam dan kaum intelektual.

B. Pengertian & Macam-Macam Maqamat

Secara harfiah maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang
berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan
panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah.
Dalam bahasa Inggris maqamat dikenal dengan istilah stages yang berarti tangga.9
Dalam pembicaraan tentang tarekat sebagai perjalanan spiritual, kita tidak bisa
mengabaikan dua istilah teknis yang sangat penting “maqamat” dan “ahwal”.
Maqamat jamak dari “maqam,” yang berarti tahap-tahap perjalanan atau secara lebih
populer diterjemahkan sebagai “stasiun,” tidak ubahnya seperti stasiun kereta api yang
harus kita lalui sepanjang perjalanan, dari “titik start” kita sampai pada “final” sebagai
tujuan akhir perjalanan.10

Macam-macam Maqamat

9Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia,( Jakarta: Rajawali, 2014), hal 167
10 Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, (Jakarta: Erlangga, 2006), hal 179
Tentang berapa jumlah tangga atau maqamat yang harus ditempuh oleh seorang
sufi untuk menuju Tuhan, di kalangan para sufi tidak sama pendapatnya.
Apabila diartikan sebagai upaya agar berada dekat dengan Tuhan maka tasawuf
dapat dibedakan berdasarkan “kedekatan” atau “jarak” antara manusia dengan Tuhan.
Berdasarkan hampiran ini, maka muncullah apa yang disebut tasawuf transendentalisme
dan tasawuf union mistisisme.
Aliran pertama masih memberikan garis pemisah atau pembeda antara manusia
dan Tuhan, sedangkan aliran kedua berpendapat bahwa garis pemisah itu dapat
dihilangkan sehingga manusia dapat manunggal dengan Tuhan karena ada kesamaan
esensi antara keduanya. Tipe ini kemudian disebut tasawuf Syi’i dan tipe pertama
disebut tasawuf sunni. Penggolongan ini didasarkan kepada sumber atau landasan ajaran
tasawuf itu. Tasawuf sunni berpendapat, bahwa antara makhluk dengan khalik tetap ada
jarak yang tak terjembatani sehingga tidak mungkin jumbuh karena keduanya tidak
seesensi. Lain halnya dengan tasawuf falsafi , dengan tegas mengatakan manusia
seesensi dengan Tuhan karena manusia berasal dan tercipta dari esensi-Nya.
Apabila dilihat dari aspek materi kajian dan proses pencapaian sasaran antara,
tasawuf sunni dapat dibedakan kepada tasawuf akhlaki dan tasawuf amali. Berbeda
dengan tasawuf falsafi , kelompok ini justru sangat gemar terhadap ide-ide spekulatif
karena kebanyakan sufi aliran ini memiliki pengetahuan yang cukup dalam tentang
lapangan filsafat. Dengan kegemaran berfilsafat itu, mereka mampu menampilkan
argumen-argumen yang kaya dan luas tentang ide-ide ke-Tuhan-an dan alam metafisis
yang menurut keyakinan mereka masih relevan dengan nilai-nilai Al-Quran dan
sunnah.11

11 Rivay Siregar, Tasawuf Dari Sufisme Klasik Ke Neo Sufisme, (Jakarta: PT RajaGrafindo
Pers,2002), hlm.52-56
Muhammad al-Kalabazy dalam kitabnya al-Ta’aruf li mdzab ahl al-Tasawuf,
sebagai dikutib Harun Nasution misalnya mengatakan maqamat itu jumlahnya ada
sepuluh, yaitu al-taubah, al-zuhud, al-shabr, al-tawadlu’, al-taqwa, al-ridla, al-ma-
habbah, dan al-ma’rifah.

Sementara itu, Abu Nasr al-sarraj al-Tusi dalam kitab al-luma’ menyebutkan
jumlah maqamat hanya ada enam, yaitu al-taubah, al-wara’, al-zuhud, al-faqr, al-
tawakkal, la-mahabbah, al-ma’rifah, dan al-ridla.

Dalam pada itu Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-Din mengatakan
bahwa maqamat itu ada tujuh, yaitu al-taubah, al-shabr, al-zuhud, al-tawakkal, al-
mahabbah,al-ma’rifah, dan al-ridla. Kutipan tersebut memperlihatkan keadaan variasi
penyebutan maqamat berbeda-beda, namun ada maqamat yang oleh mereka disepakati,
yaitu al-taubah, al-zuhud, al-wara’, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal dan al-ridla.
Sedangkan al-tawadlu, al-mahabbah, dan al-ma’rifah oleh meraka tidak disepakati
sebagai maqamat. Terhadap tiga istilah yang disebut terakhir itu(al-tawadlu, al-
mahabbah, dan al-ma’rifah) terkadang para ahli tasawuf menyebutnya , dan terkadang
menyebutnya sebagai hal dan ijtihad (tercapainya suatu wujud kerohanian dengan
Tuhan). Untuk itu dalam uraian ini, maqamat yang akan dijelaskan lebih lanjut adalah
maqamat yang disepakati oleh mereka, yaitu al-taubah, al-zuhud, al-wara’, al-faqr, al-
shabr, al-tawakkal dan al-ridla. Penjelasan atas masing-masing istilah tersebut dapat
dikemukakan sebagai berikut.
1. Al-Zuhud
Secara harfiah al-zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat
keduniawian. Zuhud termasuk salah satu ajaran agama yang sangat penting
dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan duniawi. Orang yang
zuhud lebih mengutamakan atau mengejar kebahagiaan hidup di akhirat yang
kekal dan abadi, daripada menggejar kehidupan dunia yang fana dan sepintas
lalu. Hal ini dapat dipahami dari sepintas ayat yang berbunyi,
Katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik
bagi orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun (QS
Al-Nisa’ [4]:77)
Ayat diatas memberi petunjuk bahwa kehidupan dunia yang sekejap ini
dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi, sungguh tidak
sebanding. Kehidupan akhirat lebih baik dari kehidupan dunia.
2. Al-Taubah
Al-Taubah berasal dari bahasa Arab taba, yatubu, taubatan yang artinya
kembali. Sedangkan taubat yang dimaksud oleh kalangan sufi adalah memohon
ampunan atas segala dosa dan kesalahan disertai janji yang sungguh-sungguh
tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut, yang disertai dengan melakukan
amal kebajikan. Didalam Al-Quran banyak dijumpai ayat-ayat yang
menganjurkan manusia agar bertaubat. Diantaranya ayat yang berbunyi:

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau


menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka. (QS Ali ‘Imran [3]: 135)
3. Al-Wara’
Secara harfiah al-wara artinya saleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Kata
ini selanjutnya mengandung arti menjauhi hal-hal yang tidak baik.
4. Kefakiran
Secara harfiah fakir biasanya diartikan sebagai orang yang berhajat, butuh atau
miskin. Sedangkan dalam pandangan sufi fakir adalah tidak meminta lebih dari
apa yang telah ada pada diri kita. Tidak meminta rezeki kecuali hanya untuk
dapat menjalankan kewajiban-kewajiban.
5. Sabar
Secara harfiah, sabar berarti tabah hati. Menurut Zun al-Nun al-Mishry, sabar
artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah,
tetapi tenang ketika mendapat cobaan, dan mentampakkan sikap cukup
walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi.
Dikalangan para sufi sabar diartikan sabar dalam menjalankan perintah-perintah
Allah, dalam menjauhi segala larangan-Nya dan dalam menerima segala
percobaan-percobaan yang ditimpakan-Nya pada diri kita. Sabar dalam
menunggu datangnya pertolongan Tuhan. Sikap sabar sangat dianjurkan dalam
ajaran al-Qur’an. Allah berfirman,

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati


dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.
(QS Al-Ahqaf [46]: 35)
6. Tawakkal
Secara harfiah tawakkal berarti menyerahkan diri. Hamdun al-Qashshar
mengatakan tawakkal adalah berpegang teguh pada Allah. Bertawakkal
termasuk perbuatan yang diperintahkan oleh Allah. Dalam firman-Nya Allah
mengatakan,

...dan hanyalah kepada Allah orang-orang beriman bertawakkal. (QS At-


Taubah [9]:51)
7. Kerelaan
Secara harfiah ridha artinya rela, suka, senang. Harun Nasution mengatakan
ridla berarti tidak berusaha, tidak menentang qada dan qadar Tuhan. Menerima
qada dan qadar dengan hati senang. Mengeluarkan perasaan benci dari hati
sehingga yang tinggal di dalamnya hanya perasaan senang dan gembira.

Beberapa sikap yang termasuk dalam maqamat itu sebenarnya merupakan akhlak yang
mulia. Semua itu dilakukan oleh seorang sufi setelah lebih dahulu membersihkan
dirinya dengan bertaubat dan menghiasinya dengan akhlak mulia.
C. Pengertian Hal & Macam-macam Hal
Menurut Harun Nasution, hal merupakan mental, seperti perasaan senang,
perasaan sedih, perasaan takut dan sebagainya. Hal yang biasa disebut sebagai adalah
takut (al-Khauf), rendah hati (al-tawadlu), patuh (al-Taqwa), ikhlas (al-ikhlas), rasa
berteman (al-uns), gembira hati (al-Wajd), berterima kasih (al-syukr). 12
Dalam pembicaraan tentang tarekat sebagai perjalanan spiritual Ahwal adalah
jamak dari “hal” biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang
dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritual.13
Secara bahasa, hal berarti keadaan sesuatu (keadaan rohani). Menurut syeikh
Abu Nashr as-Sarraj, hal adalah sesuatu yang terjadi secara mendadak yang bertempat
pada hati nurani dan tidak mampu bertahan lama. Sedangkan menurut al-Ghazali, hal
adalah kedudukan atau situasi kejiwaan yang dianugerahkan Allah kepada seorang
hamba pada suatu waktu, baik sebagai buah dari amal saleh yang mensucikan jiwa atau
sebagai pemberian semata.

Macam-macam Hal
Adapun macam-macam hal adalah sebagai berikut:
1. Muraqabah
Makna dari Muraqabah adalah meletakan sesuatu dibawah perhatian, penantian,
pengawasan dan hidup dibawah perasaan sedang diawasi. Bagi para sufi,
muraqabah adalah ber-tawajuh kepada Allah dengan sepenuh hati, melalui
pemutusan hubungan dengan segala yang selain Allah SWT; menjalani hidup
dengan mengekang nafsu dari hal-hal terlarang; dan mengatur kehidupan di
bawah cahaya perintah Allah dengan penuh keimanan bahwa pengetahuan Allah
selalu meliputi segala sesuatu.
2. Qurbah (kedekatan)
Dalam pandangan kaum sufi, yang dimaksud dengan ‘al-Qurb’ (kedekatan)
adalah pendekatan yang dilakukan manusia kepada Allah SWT, dengan
melepaskan ikatan-ikatan jasmani demi menggapai yang ada di akhirat.

12 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: Rajawali, 2014), hlm 177
13 Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, (Jakarta: Erlangga, 2006), hlm.179
3. Khauf
Secara terminologis, yang dimaksud dengan al-khauf (takut) adalah menghindari
perbuatan terlarang yang tidak haram, dan menjauhi sama sekali perbuatan
haram. Dalam perspektif Imam al-Qusyairi, khauf adalah perasaan di kedalaman
hati yang menghindarkan seorang salik dari segala yang tidak disukai dan tidak
diridhai Allah.
4. Raja’ (Harapan)
Raja’ atau harapan adalah memerhatikan kebaikan dan berharap dapat
mencapainya melihat berbagai bentuk kelembutan dan nikmat Allah SWT, dan
memenuhi dirinya dengan harapan demi masa depan serta hidup demi meraih
harapan tersebut.
5. Thuma’ninah (ketenangan)
Thuma’ninah seringkali didefinisikan sebagai ketenangan sempurna yang
terwujud ketika kehidupan hati tidak lagi guncang, kacau, dan gelisah.
6. Musyahadah
Amr bin Utsam al-Makki menyetakan bahwa musyahadah merupakan
kesinambungan antara penglihatan hati dengan penglihatan mata, karena
penglihatan hati adalah ketika tersingkapnya keyakinan dalam bertambahnya
dugaan.
7. Yakin
Bagi para sufi, yang dimaksud dengan ‘yakin’ adalah pengetahuan mengenai
dasar-dasar keimanan, khususnya tauhid yang menjadi titik sentralnya, dengan
tingkat pengetahuan yang sama sekali tidak terkontaminasi oleh lawan dari
keimanan tersebut.14

14 Zaprulkhan, , Ilmu Tasawuf Sebuah Kajian Tematik, hal. 59-69


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pengertian Ilmu Tasawuf dan Alirannya.


Ilmu Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari usaha-usaha membersihkan diri,
berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan makrifat menuju ke
abadian, saling mengingatkan antar manusia, serta berpegang teguh pada janji Allah dan
mengikuti syariat Rasulullah dalam mendekatkan diri dan mencapai keridaan-Nya.
Aliran tasawuf terbagi menjadi 3 yaitu:
1. Tasawuf akhlaki gabungan antara ilmu tasawuf dan ilmu akhlak, akhlak
hubungnnya sangat erat dengan tingkah laku dan perbuatan manusia sdalam
interaksi sosial pada lingkungan tempat tinggalnya.

2. Tasawuf Falsafi adalah aliran yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi


mistik (ghaib) dan visi rasional (akal).
3. Tasawuf amali adalah aliran tasawuf ini lebih  menekankan pembinaan moral
dalam upaya mendekatan diri kepada tuhan untuk mencapai hubungan yang
dekat dengan tuhan, seseorang harus mentaati dan melaksanakan sya’riat atau
ketentuan agama.

2. Pengertian Maqamat Dan Macam Macam Maqamat.


Maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau
pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang
harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Macam-macam
maqamat yaitu al-taubah, al-zuhud, al-wara’, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal dan al-
ridla.
3. Pengertian Hal Dan Macam-Macam Hal.

Menurut al-Ghazali, hal adalah kedudukan atau situasi kejiwaan yang


dianugerahkan Allah kepada seorang hamba pada suatu waktu, baik sebagai buah dari
amal saleh yang mensucikan jiwa atau sebagai pemberian semata. Macam macam hal
iyalah : muraqabah, qurbah (kedekatan), khauf, raja’ (harapan), thuma’ninah
(ketenangan), musyahadah, & yakin.