Anda di halaman 1dari 11

JURNAL PENJAMINAN MUTU Volume 5 Nomor 2 Agustus 2019

LEMBAGA PENJAMINAN MUTU ISSN : 2407-912X (Cetak)


INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI ISSN : 2548-3110 (Online)
DENPASAR http://ejournal.ihdn.ac.id/index.php/JPM

GURU DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME,


AGEN PERUBAHAN DAN REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Oleh
I Made Sedana
STAHN Mpu Kuturan Singaraja
made_sedana23@yahoo.com

diterima 23 Mei 2019, direvisi 21 Agustus 2019, diterbitkan 31 Agustus 2019

Abstract

The progress of science and technology in the era of globalization which


has now led to the era of industrial revolution 4.0 brings the effect of
extraordinary changes to the pattern of life of humanity in this hemisphere.
Teachers as educators are implementers of the education profession, in
carrying out their professions there are several requirements that must be met
by a teacher in order to have qualifications and credibility in the field of
education. This is a condition for the realization of professional teachers,
namely having overall competency both in the field of education and learning
methodology as well as the substance of the scientific field. Teachers will
become a developing profession when constantly changing themselves, because
practical education will continue in different situations and times. Improving
the ability of teachers to carry out their profession should not be passive but
must be proactive, do not wait for opportunities but seek opportunities.

Keywords: revolution 4.0, education, teachers, profession

I. PENDAHULUAN (Koentjaraningrat, 1982; Sztompka. 2004).


Kemajuan ilmu pengetahuan dan Disamping itu era globalisasi yang ditandai
teknologi di era globalisasi yang kini telah dengan transformasi informasi-tehnologi (IT)
menuju era revolusi industri 4.0 (desrupsi) mengkondisi proses-proses kehidupan di
membawa pengaruh perubahan yang luar berbagai bidang berada pada arus high
biasa terhadap pola kehidupan umat manusia competition yang begitu cepat dan mendasar
di belahan bumi ini. Terjadi transformasi dengan membawa beragam resiko kehidupan
budaya pada seluruh sendi kehidupan (Giddens, Anthony 2001). Perubahan
masyarakat, sehingga perubahan demi fenomena kehidupan terkini tersebut,
perubahan terus terjadi baik pada ranah ditangkap oleh pemerintah Indonesia dengan
kompleks ide, kompleks kelakuan berpola, melakukan perubahan pada orientasi
dan kompleks sistem teknologi pembangunan nasional, yaitu dari lebih

Guru Dalam Peningkatan Profesionalisme, Agen Perubahan Dan Revolusi Industri 4.0
179
│ I Made Sedana
menekankan pada orientasi economic sertifikasi selalu berpacu dengan
recource development, bergeser untuk mulai meningkatnya kemampuan dan harapan
memperhatikan ke human resource masyarakat tersebut yang kadang-kadang
development. Khususnya dibidang lebih cepat dari kemampuan guru untuk
pendidikan pemerintah telah menyusun memenuhinya. Masalah terjadi apabila
Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang harapan atas peran guru bertambah,
SISDIKNAS, yang kemudian dijabarkan sementara kemampuan giru memenuhinya
dalam PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar terbatas. Bila dimasa lalu guru menjadi
Nasional Pendidikan (SNP). Dalam rangka sumber utama belajar siswa untuk menjawab
meningkatkan kualitas guru dan dosen, ketidaktahuan siswa, sekarang bukan lagi. Di
disusun pula Undang Undang No. 14 tahun rumah tersedia radio, televisi, surat kabar,
2005 tenang Guru dan Dosen, selanjutnya bahkan komputer dan internet. Tidak
dikeluarkan Permendiknas No. 16 tahun berlebihan bila dikatakan bahwa dengan
2007 tentang standar kualifikasi akademik pengecualian pedesaan barisan depan dalam
dan kompetensi guru, dan beberapa produk irama perubahan masyarakat sebagaimana
hukum lainnya. yang berkaitan dengan upaya dipercayai di masa lalu, melainkan pengikut
pemerintah dalam mereformasi perubahan masyarakat yang bergerak jauh di
pembangunan bidang pendidikan. Semua depan mereka. Dalam situasi demikian, tidak
produk hukum yang berkaitan dengan mudah menegakkan profesi keguruan dalam
pendidikan tersebut pada dasarnya tantangan sebagai penggerka perubahan,
merupakan realitas teoritik (das sebagaiman harapan masyarakat dan
sollen)tentang komitmen pemerintah untuk tantangan era disrupsi yang tidak terbendung
memajukan sistem pendidikan nasional. ini .Jadi, betapa peliknya problematik dan
Persoalannya adalah, apa yang tersaji betapa beratnya tantangan yang dihadapi
dalam realitas sehari-hari di lapangan (das profesi keguruan.
sain), khususnya tentang kemampuan
profesional guru masih belum terberdayakan II. PEMBAHASAN
secara maksimal, sehingga dari aspek 1) Konsepsi Profesionalisme Guru
pendidik banyak kendala yang muncul di Dalam dunia pendidikan tentu tidak
lapangan dalam mengimplementasikan lepas dari adanya pesan seorang guru yang
beragam peraturan tersebut. Semenjak dua menjadi inti penting dalam proses
belas tahun terakhir (sejak 2006) pemerintah pembelajaran. Guru adalah sosok pelaksana
telah memulai melakukan program sertifikasi dalam kegiatan pembelajaran yang akan
guru, dan salah satu tujuannya adalah untuk mengerahkan perkembangan peserta didik
meningkatkan kualitas profesional guru. dalam perubahan kearah positif. Guru harus
Uraian tersebut di atas menunjukkan bahwa melakukan tugasnya secara profesional
proses pembangunan pendidikan di artinya adalah guru harus memiliki gelar atau
Indonesia masih dihadapkan pada persoalan amanat sesuai kriteria guru. Sedangkan
yaitu, adanya kesenjangan antara realitas profesi guru adalah suatu jabatan atau
teoritik (das sollen) dengan realitas emipirik pekerjaan dibidang pendidikan, mengajar
(das sein) dalam proses kualitas layanan peserta didik, dalam UU No. 14 Tahun 2005,
pendidikan di setiap satuan pendidikan. dengan tugas utama mendidik, mengajar,
Di sisi lain, tuntutan dan harapan membimbing, mengarahkan, melatih,
masyarakat yang terus meningkat dan menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
berubah membuat guru makin ditantang. Menurut Muchtar Lutfi dalam Fahri
Perubahan yang terjadi dalam masyarakat (2013:2) menyebutkan kriteria seorang guru
melahirkan tuntutan-tuntutan baru terhadap yang disebut memiliki profesi yaitu:
peran (Role Expectation) yang seharusnya a. Profesi harus mengandung keahlian,
dimainkan oleh guru. Akibatnya, setiap ini artinya profesi harus diikuti
penambahan kemampuan guru seiring

180 JURNAL PENJAMINAN MUTU


dengan adanya sebuah keahlian penghargaan masyarakat luas akan
yang khusus untuk profesi tersebut. profesionalisme guru itu sendiri. Hal ini
b. Profesi dipilih karena panggilan terjadi jika setelah dikeluarkan sertifikat,
hidup dan dijalani dengan penuh bagi guru yang mendapatkan memang benar-
waktu benar menunjukkan kinerja profesional yang
c. Profesi memiliki teori-teori yang mampu mengubah kualitas pembelajaran dari
baku secara universal, artinya konvensional, rutin, mekanistis, menjadi
profesi tersebut harus dijalani sebuah proses yang dialogis, dinamik,
menurut aturan yang jelas, dikenal demokratik, dan memberdayakan peserta
umum,teorinya terbuka. didik. Rahdiyanta (2014:375).
d. Profesi adalah untuk masyarakat, Jika profesionalisme guru dilihat dari
bukan untuk diri sendiri, ini artinya kaca mata Undang-undang Guru dan Dosen
profesi tidak dapat lepas dari (UU No. 14 Tahun 2005), jelas undang-
pengabdian kepada sesama dan undang itu mensyaratkan guru untuk
masyarakat secara umum. memiliki kualifikasi, kompetensi, dan
e. Profesi harus dilengkapi dengan sertifikasi. Pasal 8 UU No. 14 Tahun 2005
kecakapan diagnosis dan menyebutkan : “Guru wajib memiliki
kompetensi aplikatif ini diperlukan kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikasi
untuk dapat meyakinkan peran pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta
profesi tersebut. memiliki kemampuan untuk mewujudkan
f. Pemegang profesi memiliki otonom tujuan pendidikan nasional”. Selanjutnya,
dalam melakukan profesinya, yaitu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang
profesinya dapat dinilai oleh rekan guru yang profesional, menurut Pasal 10 ayat
seprofesinya. (1) meliputi kompetensi pedagogik,
g. Profesi memiliki kode etik yang kompetensi kepribadian, kompetensi sosial,
disebut sebagai kode etik profesi dan kompetensi profesional yang diperoleh
h. Profesi harus memiliki klien yang melalui pendidikan profesi.
jelas yaitu orang yang membutuhkan Sementara itu Suparno (2004:47-50)
layanan atau jasa dari seorang menegaskan bahwa guru profesionalitu
profesi. adalah memiliki kepribadian yang utuh,yaitu
Dari ciri-ciri profesionalitas itu jelas : (1) guru harus bermoral dan beriman; hal
bahwa guru tidak bisa datang dari mana saja ini penting karena salah satu tugas guru
tanpa melalui sistem pendidikan profesi dan adalah membantu anak didik bertaqwa dan
seleksi yang baik. Dengan demikian, berimanserta menjadi anak yang baik, (2)
pekerjaan guru tidak bisa lagi dijadikan guru harus mempunyai aktualisasi diri yang
sebagai upaya sambilan, atau pekerjaan tinggi. Aktualisasi diri disini adalah sikap
sebagai moonlighter.Guru yang profesional bertanggungjawab, (3) guru mampu
harus memiliki integritas, ilmu pengetahuan berkomunikasi dengan baik. Komunikasi
yang memadai sesuai dengan bidangnya, yang baik akan membantu proses
watak yang terpuji, kompetensi, dan bahkan pembelajaran dan pendidikan terutama pada
harus mengikuti pendidikan yang baik, level dasar dan menengah. Banyak kasus,
bukan sekedar mengikuti pelatihan semata guru yang memiliki pengetahuan yang luas,
(educated, bukan hanya trained). Dari tetapi tidak mampu berkomunikasi dengan
karakteristik yang ia miliki itu akhirnya baru siswa (anak didik) dengan baik, (4) guru
ada pengakuan dan penghargaan dari harus disiplin. Setiap aktivitas hendaknya
masyarakat. menerapkan disiplin yang tinggi, karena
Oleh karena itu, sertifikasi guru di kunci sukses salah satunya adalah disiplin,
negeri ini, yang saat ini masih hangat dan kita sangat mudah diucapkan,
menjadi wacana dan diskusi publik, pada dilaksanakan sangat sulit, (5) guru dituntut
akhirnya harus berujung pada pengakuan dan untuk belajar terus agar pengetahuannya

Guru Dalam Peningkatan Profesionalisme, Agen Perubahan Dan Revolusi Industri 4.0 181
│ I Made Sedana
tetap segar. Guru tidak boleh berhenti pembelajaran dan terus mengikuti
belajar. perkembangan Iptek terkini masih relatif
Lebih lanjut, Dantes (2017: 201-202) rendah (Oemar, H., 2002; Tilaar, 2002;
menegaskan bahwa perilaku seorang guru Wahab, A.A., 2007). Beberapa langkah
sebagai pekerja profesional secara garis besar strategis yang dapat dilakukan dalam
semestinya mencerminkan tiga hal pokok meningkatkan peran guru sebagai agen
yakni: (1) thoughtfullness, (2) adaptability, perubahan (agent of change) pembelajaran
dan (3) cohesiveness. Pada dimensi pertama siswa di kelas antara lain: Pertama,
(thoughtfullness), perilaku seorang guru membangun kualitas mentalitas positif guru
semestinya mencerminkan kepemilikan melalui kegiatan pelatihan ‟motivasi
landasan keilmuan dan keterampilan yang berprestasi‟ dan sejenisnya secara periodik,
memadai yang dicapainya dalam suatu misalnya pembinaan dan pelatihan ESQ.
proses panjang baik selama berada di dalam Meskipun setiap guru secara teoritik
pendidikan prajabatan maupun berbagai telah mengetahui sebagian teori-teori
tambahan pengalaman yang didapatkannya psikologi pembelajaran, dia tetap
selama berada di dalam jabatan. Dalam memerlukan penyegaran orientasi dan
konteks ini seorang guru profesional harus wawasan hidup prospektif dari para pakar
senantiasa memutahirkan ilmunya melalui psikologi atau para motivator dalam
penambahan pengetahuan dan memperkaya menghadapi beragam persoalan pekerjaan
pengalamannya. Dimensi yang kedua sebagai pendidik. Dalam hal ini fokus
(adaptability) menyiratkan makna bahwa pelatihan lebih ditekankan pada upaya
guru profesioanl di dalam melaksanakan membangun konsistensi diri sebagai
tugasnya akan senantiasa melakukan pendidik sepanjang karir profesinya untuk
penyesuaian teknis situasional dan mengembangkan tentang: (a) prinsip selalu
kondisional sesuai tuntutan situasi dan belajar (learning principle); (b) prinsip
kondisi, dengan tetap berorientasi pada usaha kebutuhan untuk berprestasi (need
tercapainya “disired out-comes”. Atau achievement principle); (c) prinsip
paling tidak penyesuaian dapat dilakukan kepemimpinan (leadership principle);
dalam bingkai pemikiran, bahwa itu semua prinsip orientasi hidup ke depan (vision
dilakukan demi untuk lebih mendekatkan principle); dan (d) prinsip menjadi pencerah
antara “actual out-comes” dengan “disired dalam kehidupan kelompok (well organized
out-comes”. Dimensi ketiga (cohesiveness) principle) (Agustian, A.G. 2005; Seligman,
mengandung makna bahwa di dalam M. 2005). Ketika lima prinsip tersebut
melakukan pekerjaannya seorang guru terinternalisasi dengan baik pada diri setiap
profesional akan menyikapi pekerjaannya guru, maka guru tersebut akan mampu
dengan penuh dedikasi dengan senantiasa bertindak sebagai agent of change
berpedoman pada kaidah-kaidah teknis, pembelajaran peserta didik, baik pada aspek
prosedural, dan kaidah filosofi sehingga emosional, kepribadian dan pengetahuan-
menjadikan unjuk kerjanya taat azas dan ketrampilan peserta didik. Demikian juga
tepat makna yang ditujukan sebgai layanan sebaliknya, ketika kelima prinsip tersebut
yang arif bagi kemaslahatan orang lain. tidak menyatu dan tidak berkembang pada
diri setiap guru, maka kehadiran guru di
2) Peran Guru Sebagai Agent of Change kelas hakikatnya kurang berfungsi dalam
Sebagaimana yang telah disinggung di menyiapkan peserta didik untuk menghadapi
atas, bahwa kondisi kualitas guru di beragam tantangan hidup di era globalisasi.
Indonesia secara makro masih belum Kedua, menyikapi kondisi guru yang
terberdayakan secara maksimal, dan diantara masih belum memahami beragam inovasi
faktor kunci penyebabnya adalah kondisi pembelajaran dan arti pentingnya
mentalitas, motivasi atau dorongon internal pemanfaatan kemajuan teknologi
guru untuk terus belajar, berinovasi dalam pembelajaran, maka strategi yang dapat

182 JURNAL PENJAMINAN MUTU


dilakukan adalah setiap satuan pendidikan suatu team work untuk melaksanakan
harus mempunyai ‟tim ahli inovasi keenam konsep tersebut, kedudukan dan
pembelajaran‟. Beberapa aktivitas yang peran kepala sekolah adalah sangat sentral.
dapat dilakukan oleh tim ahli inovasi Kepala sekolah harus mampu memainkan
pembelajaran dalam meningkatkan kualitas peran baru (new rules), keterampilan baru
guru adalah: (a) melakukan diskusi kolegial (new skills), dan mampu mengaplikasikan
tentang pengembangan penguasaan konsep- sarana baru dari permasalahan yang timbul
konsep keilmuan dan perkembangan (new tools). Kepala sekolah harus: (a)
teknologi terkini; (b) melakukan penyusunan berperan sebagai perancang (designer)
soal-soal sesuai dengan standar kompetensi kebijakan strategis terhadap aplikasi keenam
kelulusan BSNP; (c) melakukan penyusunan konsep tersebut; (b) berfikir integral dalam
bahan ajar atau modul dan melakukan mencermati tantangan pendidikan ke depan
pelatihan penggunaan multi media berbasisi (visioner).; (c) mampu membangkitkan
IT; (d) melakukan kegiatan penelitian learning organization; (d) mendorong setiap
tindakan kelas; (e) melibatkan guru dalam guru untuk mengembangkan potensi
proses evaluasi diri sekolah (school self profesinya secara maksimal; dan (e) terbuka
evaluation); dan (f) memberikan masukan pada kritik dan saran yang konstruktif;
atau diskusi kolegial tentang penerapan transparan dan tanggungjawab dalam
metode pembelajaran yang menegakkan pengelolaan sumber daya sekolah (Arifin,
pilar-pilar pembelajaran, yaitu: learning to 2007). Ketika guru pada setiap satuan
know (belajar mengetahui), learning to do pendidikan mampu menjalin kerjasama
(belajar berbuat), learning to life together dalam mewujudkan keenam konsep tersebut,
(belajar hidup bersama), dan learning to be diasumsikan mereka akan mampu berperan
(belajar menjadi seseorang) (Djohar, 1999). sebagai agent of change pembelajaran siswa
Ketika “tim inovasi pembelajaran” di setiap di sekolah dengan baik. Pakar psikologi
satuan pendidikan mampu melaksanakan Seligman, M. (2005), mengatakan ‟ketika
keenam fungsi tersebut dengan baik dalam individu mampu membangun mentalitas
pemberdayaan kemampuan guru, maka positif, misalnya sanggup menjalin
setiap guru diasumsikan mampu berperan komunikasi humanis di setiap kehidupan
sebagai agent of change pembelajaran siswa kelompok, maka individu tersebut akan
di sekolah. mampu meraih kebahagiaan dan
Ketiga, membangun mentalitas keberhasilan puncak dalam hidupnya‟.
kerjasama sebagai team work yang kokoh. Keempat. Dinas Pendidikan
Semua guru pada satuan pendidikan dalam Kabupaten/Kota/Provinsi, melalui pengawas
proses layanan pendidikan harus menyatu sekolah terus melakukan pemantauan atau
bagaikan satu bangunan kokoh (kesatuan pembinaan terhadap kinerja guru dalam
sistem). Proses interaksi dissosiatif sesama mengimplementasikan empat kompetensi
pendidik dalam pemberian layanan dasar guru profesional. Ada beberapa
pendidikan harus diminimalisir (Usman, persyaratan yang harus dimiliki oleh
M.U., 2000; Sanjaya, W. 2007). Oleh karena pengawas dalam proses pembinaan kinerja
itu, dalam konteks pemberian layanan profesional guru agar mampu menjadi salah
pembelajaran di satuan pendidikan yang satu agent of change pembelajaran di
berkualitas, seharunya setiap guru senantiasa sekolah, yaitu sosok pribadi seorang
belajar untuk memajukan satuan pengawas sebagai pembina kinerja guru
pendidikannya melalui enam konsep yaitu: profesional harus betul-betul berkualitas,
(1) system thinking; (2) mental models; (3) antara lain: (a) seorang pengawas harus
personal mastery; (4) team learning and paham secara teoritis dan aplikatif tentang
teaching; (5) shared vision; dan (6) dialog beragam teori psikologi pembelajaran; (b)
(Peter dalam Soetrisno, 2002). Dalam seorang pengawas harus berwawasan
membangun kualitas mental guru sebagai integral, demokratik, visioner dan

Guru Dalam Peningkatan Profesionalisme, Agen Perubahan Dan Revolusi Industri 4.0 183
│ I Made Sedana
mempunyai keunggulan IESQ; (c) seorang kompetensi profesinya, maka pemerintah dan
pengawas harus punya kemampuan multi, warga masyarakat harus tetap punya
baik menyangkut disiplin keilmuan tertentu, komitmen dalam penyediaan sarana dan
managerial, komunikator/ motivator, dan prasarana pembelajaran dengan baik, karena
humanis; (d) seorang pengawas harus ketersediaan sarana dan prasarana
menguasai secara konseptual dan aplikatif pembelajaran secara baik akan mampu
tentang research pendidikan dengan beragam meningkatkan kualitas proses pembelajaran
strategi atau pendekatan research; dan siswa di sekolah (Atmadi, ed., 2000;
kemampuan lainnya sesuai dengan statusnya Supriadi, D. 2004). Disamping penyediaan
sebagai pengawas sekolah. Diantara langkah sarana dan prasarana pembelajaran di
yang dapat dilakukan pengawas dalam sekolah secara baik dan lengkap, pemerintah
proses pembinaan kualitas profesional guru harus tetap konsisten dalam mengupayakan
sebagai agen perubahan pembelajaran di peningkatan kualitas kesejahteraan guru.
kelas antara lain: (a) membuat instrumen Untuk merealisaikan dua hal tersebut
pemantauan kinerja guru profesional, yang pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan
memuat empat standar kompetensi Kebudayaan telah mengeluarkan: (a)
(pedagogik, kepribadian, sosial dan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007
profesional) dan masing-masing kompetensi tentang Standar Sarana dan Prasarana; (b)
tersebut dijabarkan secara rinci ke dalam Permendikbud Nomor 37 Tahun 2017
beberapa indikator yang terukur. Instrumen tentang Sertifikasi bagi guru dalam jabatan;
tersebut harus disosialisasikan sejak dini (b) Permendiknas Nomor 40 tahun 2007,
pada semua guru untuk dipahami dan tentang Sertifikasi guru dalam jabatan
dilaksanakan; (b) pelaksanaan pemantauan melalui jalur pendidikan. Ketika sarana dan
instrumen kinerja guru profesional tersebut prasarana pembelajaran tersedia dengan baik,
dilakukan secara „silang proporsional‟, yang kesejahteraan guru terjamin dan diikuti
melibatkan pengawas, kepala sekolah dan dengan tumbuhnya sikap mental positif pada
teman sejawat (guru) serta peserta didik diri setiap guru sebagaimana yang telah
(siswa); dan (c) pada akhir tahun pelajaran diuraikan di atas, maka diasumsikan guru
dilakukan evaluasi yang melibatkan akan mampu meningkatkan kualitas
pengawas, kepala sekolah dan guru yang profesionalnya (Soetjipto dan Kosasi, 1999;
bersangkutan secara „bijak‟, artinya baik Usman, M.U., 2000), sehingga guru akan
pengawas, kepala sekolah maupun guru mampu berperan sebagai agen perubahan
sama-sama melakukan refleksi atau (agent of change) pembelajaran siswa di
instropeksi tentang optimalisasi kinerja sekolah.Sebagaimana yang telah diurakan di
sesuai dengan instrumen standar kompetensi atas, pada hakikatnya potret seorang guru
yang telah disusun. Ketika proses pembinaan yang mampu berperan aktif sebagai agen
kualitas kinerja guru berjalan dengan baik, perubahan pembelajaran siswa di kelas,
kemudian diikuti dengan peningkatan antara lain: (a) mempunyai wawasan yang
kualitas kinerja guru berdasarkan instrumen- cukup luas tentang beragam teori psikologi
instrumen kompetensi profesional, maka perkembangan atau teori pembelajaran, dan
diasumsikan guru tersebut akan mampu mampu menerapkan secara „bijak‟ dalam
berperan dalam peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas; (b) mempunyai
pembelajaran siswa di kelas (Nasution, 2006; sikap mental positif terhadap perkembangan
Wahab, A.A., 2007; Hamzah.B.U., 2008), Iptek dan selalu berusaha mewujudkan
hal ini secara otomatis menunjukkan bahwa proses pembelajaran di kelas dengan nuansa
guru mampu berperan secara positif sebagai demokratik, humanis dan multikultural; (c)
salah satu agent of change pembelajaran di selalu menjadi contoh teladan terbaik bagi
sekolah. anak dalam segala pola aktivitas hidupnya,
Kelima, dalam rangka memudahkan baik menyangkut aspek mentalitas, aspek
aktivitas guru untuk mewujudkan beragam pola prilaku sehari-hari dan pola berpakaian;

184 JURNAL PENJAMINAN MUTU


(d) selalu melakukan pemantauan 2. Perdagangan bebas;
perkembangan hasil belajar siswa dengan 3. Fenomena kekuatan global (Speed,
menggunakan sistem evaluasi yang baik dan Connectivity, dan Intangible);
integral yang menyangkut tujuh aspek yaitu: 4. Demokratisasi;
penilaian unjuk kerja (performance), 5. HAM (Hak Asasi Manusia);
penilaian sikap (afektif), penilaian tertulis 6. Lingkungan hidup;
(paper and pencil test), penilaian proyek, 7. Kesetaraan gender; dan
penilaian produk, penilaian melalui 8. Multikulturalisme.
kumpulan hasil karya siswa (portofolio) dan Dalam praksis pembelajaran, fenomena
penilaian diri (self assessment); dan (e) global seperti tersebut di atas perlu
selalu berusaha meningkatkan kualitas diri diperhatikan oleh guru. Bahkan tema-tema
dalam membuat karya tulis ilmiah yang pembelajaran harus pula mengadopsi dan
berkaitan langsung dengan inovasi mengadaptasi secara terintegrasi arah dan
pembelajaran (Arifin, 2009). semangat fenomena global itu. Dari
fenomena global itu memang ada yang
3) Tantangan Guru di Era Revolusi menjadi prasyarat bagi proses pembelajaran
Industri 4.0 di kelas, tetapi ada pula yang menjadi
Fenomena global tidak bisa kita abaikan variabel yang harus direspon dalam kegiatan
begitu saja dalam mengembangkan pembelajaran agar materi ajar yang
profesionalisme para guru pada saat ini dan dikembangkan memiliki relevansi yang
di masa mendatang. Hal ini karena berbagai tinggi.
fenomena global berpengaruh secara Sebagai contoh, misalnya, persoalan
signifikan terhadap proses pembelajaran di demokratisasi yang saat ini menjadi
sekolah. Lebih jauh lagi fenomena global kecenderungan yang kuat secara global,
akan berpengaruh juga pada bagaimana perlu diperhatikan guru dalam setiap
masyarakat memiliki standar hidup, gaya pengambilan keputusan dalam mengelola
hidup, pola interaksi satu sama lain, dan pola kelas. Oleh karena itu, memiliki sikap
migrasi pekerjaan secara maya begitu demokratis adalah merupakan prasyarat yang
mudahnya dari satu negara ke negara lain penting bagi guru yang profesional di era
tanpa mengenal batas-batas negara secara global. Begitu juga ketergantungan pada
teritorial maupun politis. Ini semua pada Iptek, misalnya, jelas merupakan fenomena
akhirnya akan meminta para guru untuk global yang harus direspons guru dalam
mempersiapkan para peserta didiknya proses belajar-mengajar dalam arti luas agar
menjadi lebih memiliki daya nalar yang proses pembelajaran bisa berjalan efisien,
tinggi, kreativitas yang baik, dan juga relevan, dan selalu aktual. Tanpa merespons
kemampuan untuk melakukan jejaring sistem fenomena global itu, semua guru akan
kerja yang fleksibel terhadap berbagai tergelincir pada unjuk kerja yang tidak
perubahan global. Mengapa guru harus kontekstual, sehingga pembelajaran yang
mempersiapkan hal itu? Karena terjadi tidak akan mampu membekali para
penelitiannya Bank Dunia menunjukkan peserta didik untuk memiliki kompetensi
bahwa kekuatan suatu negara ditentukan oleh yang relevan dengan tuntutan era revolusi
faktor-faktor : (1) innovation and creativity industri 4.0.
(45%); (2) networking (25%); technology Begitu juga kita mengambil persoalan
(20%); dan natural resources (10%). multikulturalisme, yang saat ini dengan
Fenomena global saat ini ditandai oleh gencarnya telah menjadi gerakan dan
munculnya berbagai wacana kesadaran kekuatan global, maka guru harus
dalam berbagai aspek kehidupan bernegara memahaminya dan memiliki perspektif yang
dan berbangsa seperti: baik dan positif. Jika dalam proses
1. Ketergantungan pada Iptek (ICT, pembelajaran guru mau dan mampu
Bio-teknologi, Nano teknologi); menyerap substansi multikulturalisme, dan

Guru Dalam Peningkatan Profesionalisme, Agen Perubahan Dan Revolusi Industri 4.0 185
│ I Made Sedana
kemudian mampu mengintegrasikan ke masa di mana terjadi revolusi digital yang
dalam setiap pilihan metode dan pendekatan sangat cepat. Peralihan generasi pendidik
pembelajaran secara pedagogis, dapat yang dirasakan saat ini begitu terasa. Di satu
dipastikan guru yang bersangkutan akan sisi perubahan teknologi digital yang sangat
mampu menanamkan pemahaman dan arti cepat yang mempengaruhi sistem
penting pluralisme, toleransi, empati, dalam pendidikan, tidak berbanding lurus dengan
kehidupan global kepada para peserta didik perubahan kemampuan guru dalam
secara efektif. penguasaan teknologi dan multimedia dalam
Era global yang sering disebut sebagai pembelajaran. Hal ini berdampak kepada
“era disrupsi” seperti saat ini tentu memiliki lambannya alih teknologi pada proses
pengaruh yang signifikan terhadap pembelajaran. Pada sisi lain, siswa jauh lebih
bagaimana pola pembelajaran yang mampu menguasai teknologi digital.
memberdayakan para peserta didik. Hal ini Cara yang paling bijak yang perlu
terjadi akibat perkembangan ICT dilakukan guru adalah dengan berkolaborasi,
(information and communication technology) baik sesama kolega maupun bersama siswa
yang sangat pesat dari hari ke hari. Dengan dalam pemanfaatan teknologi dalam
perkembangan ICT yang pesat itu guru yang pembelajaran. Guru tidak boleh
profesional harus mampu menangkapnya menganggap, bahwa dirinyalah yang paling
sebagai peluang yang baik bagi pintar dan lebih. Guru tiidak boleh lagi
pengembangan proses belajar para siswa. Di sekedar memberi instruksi-instruksi. Tetapi
samping itu juga dapat dilihat bahwa pada guru harus mampu belajar dari siswanya,
era global ini ada pergeseran paradigma koleganya, dan belajar mandiri untuk
belajar secara signifikan. Guru perlu penguasaan teknologi digital.
memberikan pengalaman kepada siswa Pengintegrasian teknologi digital yang
sebanyak mungkin dengan memanfaatkan modern dalam dunia pembelajaran saat ini
berbagai lingkungan belajar yang bukan pilihan atau “barang mewah.” Tetapi
mendukungnya agar guru bisa bergeser dari sesuatu keharusan yang perlu dilakukan
model transmisi ke model pembelajaran yang guru. Jika tidak, maka bersiap-siaplah akan
konstruktivis. Hasil akhir yang diharapkan tertinggal oleh perubahan yang begitu cepat
dari model pembelajaran yang demikian terjadi. Bahkan sebuah pendapat
adalah terciptanya motivasi para siswa untuk menyatakan, “Jika ingin menguasai dunia,
mau dan mampu melakukan belajar maka kuasailah teknologi.”
sepanjang hayat. Inilah hasil belajar yang Tokoh pendidikan Prof. Arif Rahman,
amat penting pada diri siswa di era global. menyebutkan bahwa untuk menjadi guru
Mengapa begitu?. Karena perubahan yang yang profesional di Abad 21 (era
begitu cepat, sehingga siapapun di era global global/desrupsi) , selain harus menguasai
harus terus menerus belajar. Artinya, belajar teknologi digital, guru harus
sepanjang hayat memang menjadi tuntutan mengembangkan prinsip-prinsip: Disiplin:
hidup di era global. Untuk itu, guru harus Guru garus memiliki disiplin berupa
memiliki daya inovasi yang tinggi dalam tanggung jawab terhadap tugasnya, ketepatan
proses pembelajaran. Menjadi inovatif bekerja, keterikatan, keteraturan, dan
tidaklah mudah tanpa adanya upaya yang kemampuan; Kemartabatan: Guru harus
disengaja dan penuh kesadaran. memiliki kejujuran, semangat juang,
Menjadi pendidik (guru) di era desrupsi keberanian untuk benar-benar berlaku adil,
memiliki tantangan dan harapan besar dalam kemuliaan/kepatuhan/keunggulan,
membangun bangsa ini. Mengingat pada satu ketekunan, dan tahan terhadap cobaan.
abad Indonesia di tahun 2045, Indonesia Hal yang tak kalah penting dihadapi oleh
memiliki bonus demografi yang hampir 70% guru di era global sebagai tantangan dan
dari jumlah penduduknya merupakan usia harapan adalah soal kreativitas dan inovasi.
produktif. Mengajar di era global merupakan Chen dalam Sofyan (2017 : 3)

186 JURNAL PENJAMINAN MUTU


mendefinisikan, bahwa inovasi merupakan paedagogik, seorang guru harus mampu
suatu tradisi kita untuk terus membiasakan mengkonfirmasi dan mengklarifikasi sebuah
diri kita dan siswa untuk memiliki dorongan informasi yang benar, baik itu itu
dan tekad dalam membuat perbedaan dalam disampaikan kepada anak didik, juga
masyarakat atau komunitasnya. Chen memberikan penjelasan yang benar terhadap
menegaskan dengan kata “tradisi” tentang informasi yang diperoleh oleh anak didik
suatu inovasi. Jika dianalisis lebih dalam, dalam proses pembelajaran. Literasi
jika tidak dijadikan suatu budaya atau tradisi teknologi terkait dengan kemampuan
yang kuat, maka baik guru maupun siswa memahami cara kerja mesin. Aplikasi
tidak akan memiliki dorongan dan tekad teknologi dan bekerja berbasis produk
dalam membuat perbedaan-perbedaan dalam teknologi untuk mendapatkan hasil
masyarakatnya. Dalam konteks ini, maka maksimal. Penciri utama revolusi industri
inovasi sebagai suatu budaya untuk adalah pesatnya kemajuan teknologi yang
menumbuhkan perubahan dengan tekad dan mengarahkan kepada digantikannya tenaga
dorongan yang kuat harus menjadi budaya manusia dengan mesin ataupun robot dengan
dengan pondasi yang kokoh yaitu karakter mengandalkan kecerdasan buatan (Artificial
kerja keras, mandiri, bertanggung jawab, dan Intelligence). Literasi manusia terkait
berbudi pekerti. Guru harus bisa menjadikan dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi,
dirinya sebagai model “agent of change” berpikir kritis, kreatif dan inovatif (4C).
dalam membangun karakter dan menciptakan Stake holder pendidikan, dalam hal ini guru
kreativitas dan inovasi. sebagai garda terdepan dalam proses
pendidikan harus mampu mengembangkan
4) Peran Guru dan Literasi Baru dan kapasitas kognitif peserta didik, sehingga
Revolusi Industri 4.0 mampu memiliki kemampuan mental yang
Saat ini kita tengah memasuki era tinggi, berpikir kritis dan sistemik.
revolusi industri 4.0, yaitu era dimana dunia Disamping itu peserta didik bisa memiliki
industri digital telah menjadi suatu jiwa kemanusiaan (humanities) yang baik.
paradigma dan acuan dalam tatanan Mencermati beberapa literasi baru di
kehidupan saat ini. Era revolusi industri 4.0 atas, untuk itu tugas dunia pendidikan saat
hadir bersamaan dengan era disrupsi. Untuk ini melalui proses pembelajarannya bukan
menghadapi revolusi industri 4.0 atau era hanya menekankan pada penguatan
disrupsi diperlukan “literasi baru” selain kompetensi literasi lama, tetapi secara
literasi lama. Literasi lama yang ada saat ini simultan mengokohkan pada penguatan
digunakan sebagai modal untuk berkiprah di literasi baru yang menyatu dalam penguatan
kehidupan masyarakat. Literasi lama kompetensi bidang keilmuan dan keahlian
mencakup kompetensi baca, tulis dan hitung atau profesi. Dengan demikian perlu adanya
(calistung). Sedangkan literasi reorientasi baru dalam penyelenggaraan
baru mencakup literasi data, literasi pendidikan, baik pada pendidikan dasar,
teknologi dan literasi manusia. menengah dan tinggi. Agar dunia pendidikan
Literasi data terkait dengan kemampuan tetap memiliki daya relevansi yang tinggi
membaca, menganalisis dan membuat dalam era revolusi industri 4.0 atau era
konklusi berpikir berdasarkan data dan disrupsi, para pendidik (guru) dalam proses
informasi (big data) yang diperoleh di dunia pembelajaran perlu mengintegrasi capaian
digital. Dengan adanya kemajuan internet, pembelajaran dua bidang secara simultan dan
arus informasi dan data semakin hari terpadu, yaitu capaian bidang literasi lama
semakin jauh berkembang, banyak informasi dan literasi baru.
dan data yang ada di dunia digital belum
tentu sahih dan benar, tetapi juga banyak III. SIMPULAN
yang mengandung informasi bohong dan Disadari bahwa guru merupakan kunci
manipulatif (hoax). Dalam konteks utama keberhasilan proses pembelajaran di

Guru Dalam Peningkatan Profesionalisme, Agen Perubahan Dan Revolusi Industri 4.0 187
│ I Made Sedana
sekolah. Meskipun dalam era saat ini, guru DAFTAR PUSTAKA
bukanlah menjadi satu-satunya sumber Agustian, Ary G. 2005. Rahasia Sukses
belajar, tetapi peran guru sangat sentral dan Membangun Kecerdasan Emosional
strategis. Guru harus menjadi agen dan Spiritual (ESQ). Jakarta : ARGA
perubahan dalam pembelajaran siswa, Arifin. 2009. Meningkatkan Peran Guru
sehingga siswa mengalami sendiri proses sebagai Agen Of Change
belajaranya. Oleh karena itu, harapan Pembelajaran SiswaTersedia pada:
keberhasilan pendidikan sering dibebankan https://drarifin.wordpress.com/2009/0
pada guru 9/16/29/
Guru sebagai tenaga pendidik adalah Atmadi, (ed). 2000. Transformasi
pelaksana profesi kependidikan, dalam Pendidikan Memasuki Milenium.
melaksanakan profesinya tersebut diperlukan Yogyakarta : Kanisius dan Unversitas
beberapa persyaratan yang harus dipenuhi Sanata Dharma.
oleh seorang guru agar memiliki kualifikasi Bochari, M. 1994. Ilmu Pendidikan dan
dan kredabilitas di bidang pendidikan. Hal Praktek Pendidikan Dalam
ini menjadi syarat bagi terwujudnya guru Renungan. Jakarta: IKIP
yang profesional, yakni memiliki kompetensi Muhammadiyah Jakarta Press.
secara menyeluruh baik dibidang ilmu Dantes, Nyoman. 2017. Pedagogik dalam
kependidikan dan metedologi pembelajaran Perspektif. Singaraja: Undiksha
juga substansi bidang keilmuan. Suatu Press.
profesi yang dijalani akan semakin Djohar, 1999. Reformasi dan Masa Depan
ketinggalan dan terpuruk jika tidak Pendidikan di Indonesia. IKIP.
dilaksanakan secara profesional. Yogyakarta
Guru akan menjadi profesi yang Fahri, Ahmad dkk. 2013. Tantangan Guru
berkembang manakala terus menerus Masa Kini (Makalah). Jakarta : Tanpa
mengubah diri, karena praktis pendidikan penerbit
akan terus berlangsung dalam situasi dan Giddens, A.. 2001. Runway World. Jakarta:
waktu yang berbeda. Suatu profesi yang PT Gramedia Pustaka Utama.
berkembang adalah profesi yang terus Hamzah.B.U., 2008. Model Pembelajaran.
menerus mengubah diri. Oleh karenanya Menciptakan Proses Belajar
guru harus terus mengembangkan dan Mengajar Yang Kreatif dan Efektif.
meningkatkan kemampuannya bagi Jakarta : PT. Bumi Aksara.
terjadinya perubahan pada dirinya dan dapat Jailani, M. Syahran. 2014. Guru Profesional
melakukan perubahan pada pelaksanaan dan Tantangan Dunia Pendidikan
tugas dan kewajibannya dalam pembelajaran. (Artikel). Jambi : IAIN Sulthan
Kesempatan guru untuk mengembangkan Thaha Saifuddin
diri sangat terbuka lebar tergantung pada Koentjaraningrat, 1982. Kebudayaan,
kemauan dan kesiapan untuk melakukannya. Mentalitas dan Pembangunan.
Peningkatan kemampuan guru untuk Jakarta : PT. Gramedia.
menjalankan profesinya jangan bersikap Nasution, 2006. Berbagai Pendekatan dalam
pasif melainkan harus proaktif, jangan Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta
menunggu kesempatan melainkan mencari : PT. Bumi Aksara
kesempatan. Jika guru sudah memiliki sikap Oemar Hamalik. 2002. Pendidikan Guru
seperti itu, maka ia akan selalu berusaha Berdasarkan Pendekatan
mengembangkan diri secara mandiri dalam Kompetensi. Jakarta : Bumi Aksara.
kejamuan jaman selaras dengan era revolusi Prayitno. 2008. Dasar Teori dan Praksis
industri 4.0. Pendidikan. Padang. UNP Press.
Samba, S. 2007. Lebih Baik Tidak Sekolah.
Yogyakarta. LKIS.

188 JURNAL PENJAMINAN MUTU


Sanjaya, W. 2007. Strategi Pembelajaran, Rujukan bagi Penetapan Kebijakan
Berorientasi Standar Proses Pembiayaan Pendidikan pada Era
Pendidikan. Jakarta : Kencana Otonomi dan Manajemen Berbasis
Prenada Media Group. Sekolah. Bandung : PT. Remaja
Seligman, Marttin.E.P. 2005. Authentic Rosda Karya.
Happiness: Using the New Positive Surachmad, W. 2002. Implikasi Manajemen
Psychology to Realize Your Potential Pendidikan Nasional Dalam Konteks
For Lasting Fulfillment. Penerjemah. Otonomi Daerah (Makalah). Konaspi
Eva Yulis. Authentic Happiness, Jilid II. Jakarta : UNJ
Menciptakan Kebahagiaan dengan Sztompka. 2004. The Sociology of Social
Psikologi Positif.Bandung : PT. Change. Diterjemahkan Alimandan.
Mizan Pustaka. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta :
Soetjipto dan Kosasi R. 1999. Profesi Prenada Media.
Keguruan. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Tilaar, 2002. Membenahi Pendidikan
Sofyan. 2017. Menjadi Guru di Abad 21: Nasional. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
(Tantangan Dan Harapan)(Makalah) Tilaar. H.A.R. 2002. Perubahan Sosial dan
Tersedia pada: Pendidikan Pengantar Pedagogik
https://www.academia.edu/32799413/ Transformatif Untuk Indonesia.
MENJADI_GURU_DI_ABAD_21_T Jakarta : Grasindo.
antangan_and_Harapan.docx Usman, M.U., 2000. Menjadi Guru
Suparno, P. 2004. Guru Demokratis di Era Profesional.Bandung : PT. Remaja
Reformasi Pendidikan. Jakarta: Rosda Karya.
Grasindo. Wahab, A.A., 2007. Metode dan Model-
Supriadi, D. 2004. Satuan Biaya Model Mengajar Ilmu Pengetahuan
Pendididkan Dasar dan Menengah. Sosial. Bandung: Alfabeta.

Guru Dalam Peningkatan Profesionalisme, Agen Perubahan Dan Revolusi Industri 4.0 189
│ I Made Sedana