Anda di halaman 1dari 75

KATA PENGANTAR

‫س ِم‬
ْ ِ‫ال َّر ِح ْيم ال َّر ْحمٰ ِن الل ِهاب‬

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Syukur Alhamdulillah senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT,


RESUME AI-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN

Al-Islam Kemuhammadiyahan semester I


Semester I

A. MAKHLUK-MAKHLUK ALLAH
1. Manusia dan Hajat Hidupnya
Manusia sejak terlahir, ia adalah mahluk sosial, dan memiliki
hajat atau kepentingan dalam kehidupan ini, dan merupakan suatu fitrah
buat manusia. Kepentingan atau hajat hidup manusia ini dapat berupa :
1.Hajat Manusia Terhadap Sesama
Manusia memerlukan keperluan atau hajat terhadap sesama dan
ini sesuatu yang fitrah. manusia yang terlahir ke dunia dengan
kesempurnaannya memerlukan bantuan orang lain dalam rangka untuk
memenuhi hajat hidupnya. Hajat hidup sesama manusia ini diantaranya
adalah:

a.Membina Ukhuwah Terhadap Sesama.

Dalam Islam hubungan dengan terhadap sesama manusia, apalagi


terhadap sesama muslim wajib dibina, hal ini karena terhadap sesama
muslim diikat oleh aqidah yang sama, sehingga Allah SWT. menyatakan
bahwa terhadap sesama muslim adalah bersaudara. Sebagaimana Firman
Allah SWT:
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu
damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah
supaya kamu mendapat rahmat”. (Al-Hujrat:10).
b.Pemenuhan Kebutuhan Hidup
Dalam memenuhi kebutuhan hidup, kita membutuhkan orang
lain, hal ini karena apa yang kita butuhkan ada pada orang lain.
Kebutuhan hidup berupa materi adalah sandang, papan dan pangan
sedangkan kebutuhan hidup non materi berupa cinta kasih, sayang dan
kebutuhan syahwat. Dalam pemenuhan kebutuhan ini haruslah diatur oleh
syariat agama kita, agar di dalam pemenuhan kebutuhan ini tidak
melanggar.
2.Tujuan Manusia Di ciptakan
Untuk apakah manusia diciptakan Tuhan di dunia ini?
Allah SWT berfirman:
Adz-Dzaariyaat (51 ayat 56) : “dan tidak aku jadikan jin dan manusia
kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.”
Perintah ataupun tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia
dalam beribu-ribu macam bentuk dimulai dari hal yang paling kecil
menuju kepada hal yang paling besar dengan berdasarkan dan berpegang
kepada Al-Qur’an dan hadist didalam menjalankannya. Begitupun
sebaliknya dengan larangan-larangannya yang seakan terimajinasi sangat
indah dalam pikiran manusia namun sebenarnya balasan dari itu adalah
neraka yang sangat menyeramkan, sangat disayangkan bagi mereka yang
terjerumus kedalamnya.
a.Manusia Sebagai Hamba dan Khalifah di Bumi
Dalam Surah Al-Isra’ ayat 70.
Artinya: “dan sungguh, kami telah memuliakan anak cucu adam,
dan kami amgkut mereka di darat dan di laut, dan kami beri mereka rezeki
dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka di atas banyak mahluk yang
kami Ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”
b.Untuk Siapa Manusia Hidup?
Ada caranya untuk mengabdi dan beribadah kepada tuhan yang
benar, beribadah kepada tuhan dapat dibagi dalam tiga tahap:
Tahap I. Bekerjalah untukku.

Engkau harus mengerti bahwa pekerjaan apapun yang kau lakukan


di dunia.Ini hal itu telah terkait dengan tuhan (Allah) karena Dia adalah
penguasa tertinggi di Dunia. Al-Insaan (76 Ayat 30 ): “Dan kamu tidak
mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Tahap II. Semata-mata demi aku.

Apapun yang kau kerjakan tidak kau lakukan untuk kebaikan untuk
dirimu sendiri. Siapakah engkau sebenarnya? Tuhan berkata : “Akulah
yang bersinar dalam dirimu” kata Aku ini timbul dari yang Esa, dari roh
itu sendiri. “Apapun yang kau lakukan, lakukanlah bagi kepuasan-Ku,
demi Aku. Kerjakanlah semua atas nama-Ku. Bertindaklah sebagai alat-
Ku, sadarlah bahwa semua yang kau lakukan
hanyalah demi Aku. Disini kata “Milik-Ku atau “Aku” menunjukan.
Tahap III. Berbaktilah Hanya Kepada-Ku
Engkau harus mengerti petunjuk ini. Bakti adalah pernyataan
taqwa. Emosi yang dinamakan taqwa memancar dari roh. Taqwa yang
sebenarnya berarti bakti, adalah sebutan untuk roh. Prinsip taqwa yang
memancar dari lubuk hati ini harus menjiwai setiap perbuatan, perkataan
dan pikiran.
Hal ini akan terjadi bila engkau beranggapan bahwa segala sesuatu
yang kau lakukan, kata dan pikirkan, hanya kau perbuat untuk
menyenangkan Tuhan saja. Tidur, makan dan berbagai kegiatan dalam
kehidupan sahari-hari kau lakukan karena cinta kepada Aku dan Aku
timbul dari roh. Al-An’aam (6 ayat 162) Katakanlah, “Sesungguhnya
Shalatku, ibadahku, hidup dan matiku (hanyalah) untuk Allah, Tuhan
semesta alam”. Jadi, seluruh kehidupan kita ini sebenarnya hanyalah untuk
Allah. Ibadah, kerja, belajar, shalat, mati, dan semuanya hanyalah untuk
Allah. Dan semua itu memang milik Allah semata.
c.Fungsi dan Peranan Manusia
Berpedoman kepada QS Al-Baqarah 30-36, maka peran yang
dilakukan adalah sebagai pelaku ajaran Allah dan sekaligus pelopor dalam
membudayakan ajaran Allah SWT.
B.DIN(Agama)
1.Pengertian DIN (Agama)
Agama berasal dari bahasa Sansekerta yaitu a = tidak dan gama =
kacau, berarti agama = tidak kacau.
Manusia secara umum cara beragamanya dalam sejarah ada 4, yaitu :
1.Dengan cara mistik (batin) : selalu berdzikir kepada Allah SWT.
2.Dengan cara penalaran : tidak menerima jika tidak sama rasionya atau
pikiran.
3.Dengan cara amal saleh : dalam aktifitasnya selalu dibarengi dengan
kebajikan.
4.Dengan cara singkritisme : belajar dengan baik, mengerjakan,
mengamalkan dan mengajarkan ke sesama.
Secara etimologi menurut prof. Dr. Harun Nasution, masyarakat
indonesia mengenai kata agam yaitu din dari bahasa arab, religi bahasa
eropa, atau agama berasal dari kata sangsekerta.
1)CIRI-CIRI AGAMA :
•Mempunyai kitab suci
•Mempunyai doktrin tentang tuhan
•Mempunyai tata cara peribadatan
2)AGAMA ADA DUA KELOMPOK :
•Agama wahyu (dari Tuhan) seperti Islam, Nasrani, Yahudi
•Agama wadh’i (budaya) ciptaan manusia sendiri seperti Hindu, Budha,
Majusi, Komputsu, Sinto, Tao dll
a.CIRI-CIRI AGAMA WAHYU :
•Sejarahnya jelas.
•Disampaikan oleh Nabi atau Rasul.
•Konsep ketuhanannya monotisme mutlak.
•Memiliki kitab suci dan tidak mengalami perubahan.
•Ajarannya tidak berubah, walaupun masyarakat penganutnya berubah.
•Ajarannya tentang alam nyata sesuai dengan perkembangan IPTEK.
•Prinsip-prinsip ajarannya tahan dengan kritikan akal.
b.CIRI-CIRI AGAMA WAD’I
•Tumbuhnya secara evolusioner sejarahnya tidak jelas
•Tidak disampaikan oleh rasul/ nabi
•Tidak memiliki kitab suci yang permanen
•Konsep ketuhanannya, animisme politeisme, materialisme
•Ajarannya bisa berubah sesuai perkembangan zaman, akal dan iptek atau
kehendak manusia (penganutnya)
•Kebenaran prinsip-prinsip ajarannya tak tahan terhadap kritik akal.

C.SUMBER-SUMBER AJARAN ISLAM


A.Al-Qur’an
Secara etimologi , Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab qara’a, yang
berarti bacaan. Adapun defenisi Al-Qur’an ialah kalam Allah yang
merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Melalui perantara Malaikat Jibril, dituliskan di dalam mushaf, dan
diriwayatkan secara mutawatir (berkesinambungan), yang dinilai ibadah
karena membacanya. Diawali dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan
surat An-Nas.
Dengan defenisi ini, kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-
Nabi selain Nabi Muhammad SAW. Tidak dinamakan Al-Qur’an. Seperti
Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa A.S, Taurat kepada Nabi Musa A.S,
serta Zabur kepada Nabi Dawud A.S. Selain itu, kalam Allah yang berupa
Hadits qusdi, juga tidak dinamakan Al-Qur’an, dan membacanya pun tidak
dinilai ibadah.
Defenisi tersebut yang disepakati oleh jumhur ulama’. Allah
menurunkan Al-Qur’an adalah sebagai tata kehidupan umat dan petunjuk
bagi makhluk. Sekaligus sebagai tanda kebenaran Rasulullah SAW. Atas
kenabian dan kerasulannya. Al-Qur’an merupakan hujjah yang akan tetap
tegak sampai hari kiamat.
Jadi, pengertian Al-Qur’an adalah firman atau wahyu yang berasal
dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara melalui
malaikat jibril sebagai pedoman serta petunjuk seluruh umat manusia
semua masa, bangsa dan lokasi. Al-Qur’an adalah kitab Allah SWT yang
terakhir setelah kitab taurat, zabur dan injil yang diturunkan melalui para
rasul.

B.Sejarah Turunnya Al-Quran


Allah SWT menurunkan Al-Qur'an dengan perantaraan malaikat jibril sebagai
pengentar wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di gua hira
pada tanggal 17 ramadhan ketika Nabi Muhammad berusia / berumur 41 tahun
yaitu surat al alaq ayat 1 sampai ayat 5. Sedangkan terakhir alqur'an turun yakni
pada tanggal 9 zulhijjah tahun 10 hijriah yakni surah almaidah ayat 3.
Al-quran turun tidak secara sekaligus, namun sedikit demi sedikit baik
beberapa ayat, langsung satu surat, potongan ayat, dan sebagainya. Turunnya ayat
dan surat disesuaikan dengan kejadian yang ada atau sesuai dengan keperluan.
Selain itu dengan turun sedikit demi sedikit, Nabi Muhammad SAW akan lebih
mudah menghafal serta meneguhkan hati orang yang menerimanya. Lama al-
quran diturunkan ke bumi adalah kurang lebih sekitar 22 tahun 2 bulan dan 22
hari.
C.Pembukuan Al-Qur’an
Istilah pengumpulan kadang-kadang dimaksudkan dengan penghafalan dalam
hati, dan kadang-kadang pula dimaksudkan dengan penulisan dan pencatatan
dalam lembaran-lembaran.Pengumpulan Al-qur’an dimasa Nabi ada dua ketegori
yaitu :
1) Pengumpulan dalam dada berupa peghafalan dan penghayatan.
Al–Qur’an karim turun kepada Nabi yang umumnya (tidak bisabacatulis)
karena itu perhatian Nabi hanya dituangkan untuk sekedar menghafal dan
menghayatinya, agar iya dapat menguasai Al-Qur’anpersissebagaimana Al-Qur’an
di turunkan. Setelah itu iya membacakannya kepada orang-orang dengan begitu
terang agar merekapundapat menghafal dan memantapkanya. Yang jelas adalah
bahwa nabi seorang yang umumnya diutus Allah SWT di kalang orang-orang
yang umumnya pula.Allah berfirman ;

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara
mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka
dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya
mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.(Al-Jumu’ah : 2).
Begitulah Al-Qur’an datang kepada mereka dengan jelas,tegas
ketentuannya,dan kekuasaanya yang luhur,mereka merasa kagum,akar pikiran
mereka tertimpa dengan Al-Qur’an.mereka menghafalnya ayat demi ayat dan
surat demi surat. Mereka tingalkan syair-syair karena mereka memperoleh
ruh/jiwa dari Al-Qur’an.
2) Pengumpulan dalam dokumen atau catatan berupa penulisan padakitab-
kitab berupa ukiran.
Keistimewaan yang kedua dari Al-Qur’an karim adalah pengumpulan dan
penulisannya dalam lembaran. Adapun penulis-penulis tersebut adalah sahabat
pilihan yang di pilih dari kalangan orang yang terbaik dan terindah tulisanya agar
mereka dapat mengemban tugas yang mulia ini.di antara mereka adalah Zaid
bintsabit, Ubay bin ka’ba,Muadz bin jabal, Mu’awiyah bin abi sufyan, khulafau
rasyidin dan sahabat-sahabatnya yang lain.
3) Pembukuan Al-Qur’an dimasa khalifa Usman itu memberikan beberapa
kebaikan seperti:
a) menyatukan kaum muslim pada sutu bentuk mush-haf dan seragam ejaan
tulisannya,
b) menyatukan bacaan walaupun masi ada kelainan bacaan, tetapi bacaan itu tidak
berlawanan dengan ejaan mushhaf-mushhaf ustaz man. Sedangkan bacaan-
bacaan yang tidak bersesuaiaan dengan meshhaf-mushhaf ustaz man tidak di
benarkan lagi. Karena mush-haf ustaz mani disusun berdasarkan riwayat-
riwayat mitawatir.artinya, ayat-ayat Al-Qur’an dan kiroat yang terkandung
dalam mush-haf ustaz mani ayat-ayat Al-Qur’an seperti yang di hafal oleh
mayoritas sahabatyang menerimanya langsung dari Rasulullah.
c) menyatukan tertib susunan surah-surah sesuai yang diajarkan
rasulullah.susunan surat seperti sekarang ini adalah susunan surat yang di
gunakan oleh Rasulullah ketika beliau mengulangi bacaan Al-Qur’an di
hadapan jibril setiap bulan ramadhan.

Dalam penulisan dan pengumpulan Al-Qur’an bukanlah hal yang mudah


untuk dilakukan, hanya orang-orang terpilihlah yang bisa melakukanya seperti
para sahabat, tabi’in, dan ulama sesudahnya. Al- Qur’an atau tulisan AL-Qur’an
ketika itu tidak memiliki titik, Al-Qur’an yang ada pada kita sekarang ini dengan
huruf-huruf yang sudah ada titik ataupun sudah diberi harakat tentulah sudah
memiliki beberepa fase. Dan tentunya juhud ( kesungguhan) para sahabat, tabi’in,
dan ulama sesudahnya patut di acungungi jempol. Karena dari merekalah warisan
Al-QUR’AN tetap terjaga, mereka memegang amanah dan bahkan sangat
memudahkan kita saat ini untuk membaca dan memper olehnya dimana saja.
1. Pokok Ajaran Dalam Isi Kandungan Al-Quran
a) Tauhid - Keimanan terhadap Allah SWT
b) Ibadah - Pengabdian terhadap Allah SWT
c) Akhlak- Sikap & perilaku terhadap Allah SWT, sesama manusia dan
makhluk lain
d) Hukum - Mengatur manusia
e) Hubungan Masyarakat - Mengatur tata cara kehidupan manusia
f) Janji Dan Ancaman - Reward dan punishment bagi manusia
g) Sejarah - Teledan dari kejadian di masa lampau
B.Al hadits
Al hadits secara etimologi, adalah bahasa arab dari kata ‘ hadiitsun’ berarti
ucapan. Hadits basa juga di sebut sunnah= jalan/acuan, atsar= bekas/ peninggalan,
jaded= baru, qarib= dekat, khabar= berita/ warta. Secara terminology menurut ahli
hadits adalah:“ perkataan nabi SAW, perbuatan dan keadaan’.
a)Unsur- unsur yang harus ada dalam menerima hadits yaitu:
•Rawy = orang yang menyampaikan/ meneruskan hadits yang diterima
dari seorang guru.
•Matan = materi hadits yang disampaikan oleh snad terkahir.
•Sanad = jalan yang menghubungkan materi hadits kepada nabi SAW
seperti contoh hadits.
b)Macam- macam hadits yaitu :
Dari segi sumber, yakni :
•Hadits marfu’ hadits yang disandarkan kepada nabi SAW.
•Hadits mauquf, hadits yang di sandarkan kepada sahabat.
•Hadits maqthu’, hadits yang disandarkan kepada tabi’in
Dari segi tingkatan dan nilainya, yakni :
•Hadits mutawatir, hadits yang periwatannya oleh banyak orang dan
berkesinambungan.
•Hadits Masyur, hadits yang periwatannya oleh tiga orang atau lebih.
•Hadits ahad, hadits yang diriwayatkan oleh hanya satu orang.
Dari segi kwalitas pearawy, yakni :
•Hadits Sahih, hadits yang diriwayatkan oleh Rawy, yang adil, sempurna
ingatan, sanadnya bersambung, tidak cacat, tidak janggal.
•Hadits Hasan, Hadits yang ada kecuali ingatannya yang kurang sempurna.
•Hadits dhaif, hadits yang tidak memenuhi persyaratan hadits sahih/ hasan
satu atau dua syarat.
c)Fungsi hadits,yaitu :
•sebagai sumber hukum islam yang kedua sesudah al qur’an.
•sebagai tafsir terhadap al qur’an
•sebagai tafsil(pemerinci)
•sebagai tanyin(penjelas)
•sebagai takhshis(pengkhusus)
D.KETENTUAN ISLAM TENTANG MAKANAN DAN MINUMAN
Di dalam islam dalam hal makanan dan minuman ada dikatakan halal dan
haram yaitu sbb :

1. Makanan dan minuman halal


Makanan yang halal ialah makanan yang dibolehkan untuk dimakan
menurut ketentuan syari’at Islam. segala sesuatu baik berupa tumbuhan, buah-
buahan ataupun binatang pada dasarnya adalah hahal dimakan, kecuali apabila
ada nash Al-Quran atau Al-Hadits yang mengkhatamkannya. Ada
kemungkinan sesuatu itu menjadi haram karena memberi mengandung
mudharat atau bahaya bagi kehidupan manusia.
Makanan seorang Muslim hendaknya memenuhi 2 syarat, yaitu:

a. Halal, artinya diperbolehkan untuk dimakan dan tidak dilarang oleh


hukum syara’
b. Baik, artinya makanan itu bergizi dan bermanfaat untuk kesehatan.

jenis-jenis makanan yang halal ialah:

1. Semua makanan yang baik, tidak kotor dan tidak menjijikan.


2. Semuamakanan yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
3. Semua makanan yang tidak memberi mudharat, tidak membahayakan
kesehatan jasmani dan tidak merusak akal, moral, dan aqidah.

Minuman yang halal ialah minuman yang boleh diminum menurut syari’at
Islam. Adapun minuman yang halal pada harus besarnya dapat dibagi menjadi 4
bagian, yaitu:

1. Semua jenis air atau cairan yang tidak membahayakan bagi kehidupan
manusia baik membahayakan dari segi jasmani, akal, jiwa maupun
aqidah.
2. Air atau cairan yang tidak memabukkan walaupun sebelumnya telah
memabukkan seperti arak yang telah berubah menjadi cuka.
3. Air atau cairan itu bukan berupa benda najis atau benda suci yang
terkena najis (mutanajis).
4. Air atau cairan yang suci itu didapatkan dengan cara-cara yang halal
yang tidak bertentangan dengan ajaran Agama Islam.

2. Makanan dan minuman haram

Makanan yang haram adalah makanan yang dilarang oleh syara’ untuk
dimakan. Setiap makanan yang dilarang oleh syara’ pasti ada bahayanya dan
meninggalkan yang dilarang syara’ pasti ada faidahnya dan mendapat pahala.

Minuman yang aram adalah mnuman yang tidak boleh diminum karena
dilarang oleh syariat Ilsam.
Dalam ayat lain Allah berfirman:

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi,
(berkorbanuntuk) berhala, mengundinasib dengan panah, adalah perbuatan keji
termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu
mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah[5] : 90)

E. MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan, 8 zulhijjah 1330 H/ 18
November 1912 M di kampung kauman yokyakarta.
A.Pengertian Muhammadiyah
Secara etimologi adalah bahasa arab dari kata “Muhammad” yaitu nama
Nabi Muhammad SAW. Kemudian ditambah “yanisbah” yang berarti meniru-
niru atau mengikuti. Maka jadilah kata “Muhammadiyah” yang berarti
pengikut-pengikut Muhammad yakni Nabi Muhammad SAW.
Secara terminologi, Muhammadiyah adalah persyerikatan yang
merupakan gerakan islam, di perkasai oleh K.H Ahmad Dahlan memakai nama
Muhammadiyah, karena sesuai dengan sifatnya, yakni menghimpun pengikut-
pengikut Nabi Muhammad SAW. Dan bertujuan untuk mengikuti ajarannya
(mengikuti dan memperjuangkannya).
Visi Muhammadiyah, yaitu sebagai gerakan islam yang berlandaskan Al
Qur’an dan As Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya senantiasa
Istiqamah dan aktif dalam melaksanakan dakwah islam amar ma’ruf nahi
munkar di segala bidang, sehingga menjadi rahmatan lil-‘alamin bagi umat,
bangsa dan dunia kemanusiaan menuju terciptanya masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya yang diridhai Allah SWT dalam kehidupan di dunia ini.
Adapunmisi Muhammadiyah adalah:
 Menegakkan keyakinan Tauhid yang murni sesuai dengan ajaran
Allah SWT yang di bawa oleh Rasulullah SAW yang disyariatkan
sejak Nabi Muhammad SAW.
 Memahami agama dengan menggunakan akal pikiran sesuai
dengan jiwa ajaran islam untuk menjawab dan menyelesaikan
persoalan-persoalan kehidupan yang bersifat duniawi.
 Menyebutkan ajaran islam yang bersumber pada Al Qur’an
sebagai kitab Allah yang terakhir untuk umat manusia sebagai
penjelasannya.
 Mewujudkan amalan-amalan islam dalam kehidupan pribadi,
keluarga dan masyarakat. ( Lihat Tanfidz Keputusan Musyawarah
Wilayah ke-39 Muhammadiyah Sumatra Barat tahun 2005 di Kota
Sawahlunto ).
B.Faktor-faktor yang melatarbelakangi Berdirinya Muhammadiyah
Muhammadiyah secara etimologis berarti pengikut nabi Muhammad,
karena berasal dari kata Muhammad, kemudian mendapatkan ya nisbiyah,
sedangkan secara terminologi berarti gerakan islam, da’wah amar ma’ruf nahi
munkar dan tajdid, bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah. Berkaitan dengan
latar belakang berdirinya Muhammadiyah secara garis besar faktor
penyebabnya, yaitu :
1. Faktor subyektif yang merupakan hasil pendalaman KH. Ahmad
Dahlan terhadap Al Qur’an dalam menelaah, membahas, dan
mengkaji kandungan isinya.
2. Faktor obyektif yang dapat dilihat secara internal dan eksternal.
Secara internal ketidakmurnian amalan islam akibat tidak
dijadikannya Al Qur’an dan As Sunnah sebagai satu-satunya
rujukan oleh sebagian besar umat islam Indonesia.
Adapunfaktor internal dan eksternalnyaadalahsebagaiberikut :
1. Faktor Internal
Faktor Internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri umat
ialam sendiri yang tercermin dalam dua hal, yaitu sikap beragama
dan sistem pendidikan islam.
2. Faktor Eksternal
Faktor lain yang melatarbelakangi lahirnya pemikiran
Muhammadiyah adalah faktor yang bersifat eksternal yang
disebabkan oleh politik penjajahan kolonial Belanda. Faktor tersebut
antara lain tampak dalam sistem pendidikan kolonial usaha ke arah
westernisasi dan kristenisasi.
C.TujuanDidirikannya Muhammadiyah
Tujuan Muhammadiyah adalah untuk mengembalikan ajaran islam sesuai
dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan fokus bergerak di bidang
kemasyarakatan seperti sosial, ekonomi, budaya, lembaga dakwah dan terutama
dalam masalah pendidikan.
Muhammadiyah SebagaiGerakan Islam
Gerakan Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan dakwah Islamiyah. Ciri
ini muncul sejak dari kelahirannya dan tetap melekat tidak terpisahkan dalam jati
diri Muhammadiyah. Sebagaimana telah diuraikan dalam bab terdahulu bahwa
factor utama yang mendorong berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah berasal
dari pendalaman KH. Ahmad Dahlan terdapatayat-ayat Al Qur’an Alkarim,
terutama sekali surat Ali Imran, Ayat: 104. Berdasarkan surat Ali Imran, ayat:104
inilah Muhammadiyah meletakkan khittah atau strategi dasar perjuangannya, yaitu
dakwah (menyeru, mengajak) Islam, amar ma’ruf nahimunkar dengan masyarakat
sebagai medan juangnya.
Gerakan Muhammadiyah berkiprah di tengah-tengah masyarakat bangsa
Indonesia dengan membangun berbagai ragam amal usaha yang benar-benar
dapat menyentuh hajat orang banyak seperti berbagai ragam lembaga pendidikan
sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, membangun sekian banyak
rumah sakit, panti-panti asuhan dan sebagainya. Semua amal usaha
Muhammadiyah seperti itu tidak lain merupakan suatu menifestasi dakwah
islamiyah. Semua amal usaha diadakan dengan niat dan tujuan tunggal, yaitu
untuk dijadikan sarana dan wahana dakwah islamiyah.
Al-Islam kemuhammadiyahan II
Semester II

A.KeutamaanMembaca Al-Qur’an
Allah SWT Berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-
Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami
anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu
mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah Menyempurnakan
pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh , Allah Maha
Pengampun ,Maha Mensyukuri. (Q.S. Fathir : 29-30).
Diantara keutamaan membaca Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
1.Al-Qur’an akan menjadi syafaat bagi orang yang membacanya.
Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu hadistnya:
“Bacalah Al-Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat untuk
memberi syafaat kepada orang yang telah membaca dan mengamalkan isinya”.
2.Al-Qur’an adalah cahaya ditengah kegelapan
Sabda Rasulullah saw,”Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa
kepada Allah dan Al-Qur’an sesungguhnya ia adalah cahaya kegelapan, petunjuk
di siang hari maka bacalah dengan sungguh-sungguh.” (HR. Baihaqi).
3.Satu huruf dalam Al-Qur’an sama dengan satu kebaikan, dan satu kebaikan itu
berpahala 10 kali lipat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan dan
kebaikan itu mendapat pahala sepuluh kali lipat. Aku (Muhammad) tidak
mengatakan “alif laammiim” itu satu huruf. Tetapi alif satu huruf, laam satu
huruf, miim satu huruf.”
4.Sebaik-baik manusia yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an
Sabda Rasulullah SAW:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al quran dan
mengajarkannya.”
5.Ahlul Qur’an adalahkeluarga Allah SWT
SabdaRasulullah saw,
”Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.’
Beliau saw ditanya,’Siapa mereka wahai Rasulullah.’ Beliau saw
menjawab,’mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan
orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan IbnuMajah).
6.Yang mahir membaca dia akan bersama malaikat, dan yang terbata-bata
mendapat dua pahala.
Sabda Rasulullah SAW:
“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an kelak (mendapat tempat
disurga) bersama para utusan yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang
membaca Al-Qur’an dan masih terbata-bata, dan merasa berat dan susah, maka
dia mendapatkan dua pahala.”Dua pahala ini, salah satunya merupakan balasan
dari membaca Al-Qur’an itu sendiri, sedangkan yang kedua adalah atas
kesusahan dan keberatan yang dirasakan oleh pembacanya.
B.Membaca Al-Qur’an SecaraTartil
Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Muzzammil ayat 4 kita
diwajibkan membaca Al-Qur’an secara tartil.
Artinya : “dan Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”
Tartil : Membaguskan bacaan huruf-huruf Al-Qur’an dengan terang, teratur, dan
tidak terburu-buru serta mengenal tempat-tempat waqof sesuaia turan-aturan
tajwid.
Oleh karena itu :
a.Fardhu kifayah hukumnya belajar ilmu tajwid (mengetahui istilah-istilah dan
hukum-hukumnya).
b.Fardhu ‘Ain hukumnya membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar (praktek,
sesuai dengan aturan-aturan ilmu tajwid).
 Mengenal Huruf Hijaiyah
•Alif, bila berharokat adalah hamzah. Dan huruf Alif yang sebenarnya, hanya
sebagai huruf mad (pemanjang fathah).
•Huruf yang hamper sama bunyinya.
Contoh : Sa = ‫س‬
َ dengan Sha = ‫ص‬
َ
 Huruf yang hampir sama bentuknya.
Contoh :Qo = ‫ق‬
َ dengan Fa = َ‫ف‬
 Harakat Huruf Al-Qur’an :
1. Fathah dengan tanda : ‫( ا‬alif), berukuran kecil yang ditulis berbaring di
atas huruf yang diberi tanda baca tersebut.
2. Sukun dengan tanda : ‫( و‬wau), berukuran kecil yang diletakkan di atas
huruf yang di beri tanda baca tersebut.

B.Hukum Bacaan
a) Idgham
Idgham (‫ )اضغام‬menurut bahasa artinya memasukkan atau melebur huruf.
Menurut istilah idgham berarti pengucapan dua huruf seperti dua huruf yang
ditasydid kan.
.‫االضغام هو عبارة عن خلط الحرفين و ادخال احدهما في االخر‬
Menurut defenisi diatas dapat di simpulkan bahwa Idgham adalah berpadu
atau bercampur antara dua huruf atau memasukkan satu huruf kedalam huruf
yang lain. Maka dari itu, bacaan idgham harus dilafazkan dengan cara meleburkan
suatu huruf kepada huruf setelahnya.Adapun Pembagian Idhagam yaitu :
Berdasarkan makhroj al-huruf  (tempat-tempat keluarnya huruf) dan sifat-
sifat yang dimilikinya, idgham dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
1. Idgham Mutamaatsilain (‫)االضغام المتماثلين‬
Yaitu pertemuan dua huruf yang sama Makhraj dan Sifatnya
(‫(ان يتفق الحرفان صفة و مخرجا‬.
Dan hukumnya wajib di Idgham-kan. Contoh :
 ‫ك‬ َ ‫وَإِ ِذ ا ْستَ ْسقَى ُمو َسى لِقَوْ ِم ِه فَقُ ْلنَا اضْ ِربْ بِ َع‬
َ ‫صا‬
Yaitu huruf ‫ب‬
ِ bertemu dengan‫ب‬
ِ , wajib dibaca dengan idgham. Namun dalam
kata ‫ك‬ َ ‫اضْ ِربْ بِ َع‬  tak perlu melafalkankannya dengan Qolqolah.
َ ‫صا‬
َ‫َو بَلْ اَل اَل يَ َخافُوْ ن‬
Yaitu huruf ْ‫ل‬bertemu dengan‫ل‬, maka wajib dibaca dengan Idgham. Namun
dalam kata ‫ بَلْ اَل‬tidak perlu ditahan, seakan terdengar Ghunnah.
2.      Idgham Mutaqorribain (‫)ادغام المتقربين‬
Yaitu pertemuan dua huruf yang makhroj dan sifatnya berdekatan (hamper
sama). (‫)ما تقارب مخراجا و صفة‬. Huruf-hurufnya yaitu‫ ر‬--- ‫ل‬, ‫ ق‬---‫ك‬
َ .
3.      Idgham Mutajaanisain (‫)إدغام المتجانسين‬
Yaitu pertemuan dua huruf yang sama makroj, namun sifatnya berlainan.
Didalam Al-Quran pertemuan huruf-huruf yang sama makhroj dan berlainan
sifatnya terjadi pada huruf berikut ini :
a.       ‫ ط‬--- ‫ د‬--- ‫ت‬
b.      ‫ ظ‬--- ‫ ذ‬--- ‫ث‬
c.       ‫ ب‬--- ‫م‬
Contoh :
َ‫قَ ْد تَّبَيَّن‬                (dibaca langsung masuk ke huruf taa‫)ت‬
‫ت َّد َع َواهللا‬ ْ َ‫اَ ْثقَل‬         (dibaca langsung masuk ke huruf da ‫) د‬
‫اِ ْذ ظَّلَ ْمتُ ْم‬              (dibaca langsung masuk ke huruf dzo‫) ظ‬
ُ‫طائِفَة‬ َ ‫ت‬ ْ ‫هَ َّم‬          (dibaca langsung masuk ke huruf tho‫) ط‬
‫ك‬ ْ َ‫يَ ْله‬            
َ ِ‫ث َّذل‬ (dibaca langsung masuk ke huruf dza‫) ذ‬
‫اِرْ كَبْ َّم َعنَا‬           (dibaca langsung masuk ke huruf mim  ‫ م‬,
Disertai dengan mghunnah atau dengung )
‫ت‬ ْ ‫بَ َس‬               
َّ ‫ط‬ (dibaca langsung masuk ke huruf tha’‫ت‬  ,
Dengan menampakkan sifat isti’la )
Pengecualian :
Apabila awal huruf yang pertama itu wau (‫ )و‬mad dan huruf yang kedua wau (‫)و‬
yang berharkat, contoh:
َ ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا اصْ بِرُوا َو‬
)٢٠٠( َ‫صابِرُوا َو َرابِطُوا َواتَّقُوا هَّللا َ لَ َعلَّ ُك ْم تُ ْفلِحُون‬
Ataupun yaa’ (‫ )ي‬mad dan huruf yang kedua yaa’ (‫ )ي‬berharkat, contoh :
ِ َّ‫ُور الن‬
)٥( ‫اس‬ ِ ‫صد‬ُ ‫الَّ ِذي يُ َوس ِْوسُ فِي‬
Maka tidaklah keduanya tersebut dikatakan idgham.
b. Iqlab
Hukum Iqlab pula bermaksud   menukarkan bunyi Nun Mati dan Tanwim
kepada bunyi huruf Mim dan diikhfa’kan (disembunyikan) ke dalam huruf
Ba’ yang berbaris serta dikekalkan sifat dengung. Hurufnya cuma satu iaitu
huruf ‫ب‬.
contoh iqlab pula ialah:-
ٌ ۢ ‫ ُغ ْل‬.
‫فَقَا َل أَ ۢنبِـُٔونِى‬,‫ف ۚ بَل‬
Cara mudahhendak mengenali Iqlab ialah dengn merujuk kepada
huruf nun mati terdapat huruf mim kecil di atasnya serta bagi tanwin pula
ialah terdapat mim kecil yang menggantikan baris tanwin yang lagi satu.
c.Izhar
Hukum Izhar ialah bermaksud terang,jelas dan nyata.Ini bermaksud
apabila nun mati atau tanwin yang bertemu dengan huruf izhar dikehendaki
membaca dengan jelas tanpa dengung.Huruf Izhar ada enam huruf iaitu.
‫ه‬,‫غ‬,‫ع‬,‫خ‬,‫ح‬,‫أ‬                                                            
Di bawah,saya akan menunjukkan antara kalimah ayat al quran yang
terdapat hukum izhar halki ini.  َ‫ أَ ْن َع ْمت‬di kalimat ini terdapatnya nun mati
berjumpa dengan salah satu huruf izhar halki iaitu huruf  ‫ع‬. Cara bacaannya
ialah dengan bacaan terang,jelas dan nyata iaitu nun mati tidak dibaca dengan
memasukkan huruf nun ke dalam ain,tetapi dibaca dengan jelas dengan bacaan
'an. Selepas itu,untuk membeakan tanwin bagi hukum izhar dalam Rasm
Uthmani ialah boleh didapati tanwin di atas dan tanwin di bawah ialah selari
dan tanwin hadapan pula berbentuk 69.Selain itu,bagi hukum Izhar ada
diletakkan tanda mati atau sukun di atas huruf nun mati tetapi bagi hukum lain
seperti idgham,ikhfa' dan iqlab tidak diletakkan tanda mati. ‫ َس َوآ ٌء َعلَ ْي ِه ْم‬dan ,‫َش ْى ٍء‬
‫قَـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــوْ اًل َغي‬,‫َعلِي ۭ ٌم‬
‫ْـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــر‬
َ
Contoh di atas menunukkan tanwin bagi hukum izhar halki
d.Ikhfa
Ikhfa' pula  bermaksud Tersembunyi. Membaca huruf yang sifatnya antara
Izhar dan Idgham tanpa sabdu serta mengekalkan sifat dengung pada huruf
yang pertama. Huruf izhar ada 15 yaitu :
                   ‫ج‬,‫ذ‬,‫ظ‬,‫ز‬,‫ش‬,‫س‬,,‫ت‬,‫ك‬,‫ط‬,‫ض‬,‫ص‬,‫ث‬,‫ق‬,‫ف‬,‫د‬
Contoh ikhfa' ialah:
  ‫ت فَأَتَ َّمه َُّن‬
ٍ ۢ ‫بِ َكلِ َم ٰـ‬, ُ‫ُكن فَيَ ُكون‬
Cara bacaanya ialah dengung apabila bertemu salah satu huruf ikhfa'

AL – Islam Kemuhammadiyahan III


Semester III

A.Aqidah

Secara etimologi aqidah dari kata aqadah artinya simpul, ikatan perjanjian
yang kokoh, berarti pula dengan ikrar, sumpah dan keyakinan. Jadi aqidah artinya
keyakinan yang tersimpul dengan kokoh dalam hati yang bersifat mengikat dan
mengandung perjanjian. Sedangkan secara terminologi terdapat beberapa defenisi
yang di kemukakan oleh para ulama dan cendikiawan tentang aqidah yakni
menurut Hasan al banna mengemukakan al kait merupakan bentuk jamak dari
aqidah, jadi aqidah adalah beberapa perkara yang harus diyakini keberadaanya
oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa menjadi keyakinan yang tidak
bercampur sedikit pun dengan keragu-raguan.
Adapun unsur Penting dalam Aqidahadalah aqidah islam tersimpul pada 6
unsur utama yang masyur di sebut dengan rukun iman yang secara sistematis
sebagai berikut:
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada Malakait
3. Iman kepada Kitab
4. Iman kepada Rasul
5. Iman kepada Hari akhirat
6. Iman kepada Qada dan Qadar
Untuk memudahkan untuk memahami Makna masing-masing rukun kita
hanya berpedoman pada pengertian iman itu sendiri, yaitu:

Mengakuinya dengan lisan, Membenarkannya dengan hati dan kemudian


Mengamalkannya dengan anggota tubuh.

1. Makna iman kepada Allah


Iman kepada Allah bermakna bahwa kita meyakini tentang penjelasan
Allah dan Rasulnya mengenai keberadaan Tuhan. Untuk lebih terperinci lagi,
makna iman kepada Allah dapat kita jabarkan dalam empat poin.
Pertama, meyakini bahwa penciptaan manusia adalah kehendak Allah dan tidak
mahkluk lain yang terdapat di semesta alam tanpa pengetahuan Allah swt, kedua
ialah meyakini bahwa Allah lah yang menciptakan bumi dan alam semesta dan
Allah pulalah yang memberikan reski kepada manusia dan mahkluk lainnya.
Ketiga, yaitu meyakini bahwa Allahlah yang patut disembah dan hanya
kepadaNyalah segala ibadah ditujukan, misalnya berzikir, sujud, berdoa, dan
meminta. Semuanya hanya kepada Allah semata. Keempat yaitu meyakini sifat-
sifat Allah yang tercantum dalam alquran (Asmaul Husna).
2. Makna Beriman kepada Malaikat Allah
Malaikat ialah mahkuluk gaib yang diciptakan Allah dari cahaya, dengan
ketaatan selalu menjalankan perintah Allah dan kesanggupannya untuk beribadah
kepada Allah. Malaikat diciptakan tidak memiliki sikap ketuhanan dan hanya
Allahlah Tuhan semesta alam. Jumlah malaikat sangat banyak dan semuanya
tunduk dan menjalankan perintah Alla swt.
Makna beriman kepada malaikat dapat dijabarkan kedalam empat poin:
pertama, mengimani wujud mereka.
Kedua, mengimani nama-nama malaikat yang telah kita ketahui namanya,
sedangkan yang kita tidak ketahui namanya kita mengimaninya secara Ijmal (garis
besar).
Ketiga, mengimani sifat malaikat yang terdapat dalam hadis, misalnya
Rasullullah saw, pernah bertemu langsung dengan malaikat jibril yang memiliki
600 sayap (Bukhari) di hadis lain dikatakan setiap sayap malaikat jibril menutupi
setiap ufuk (Ahmad).
Dan Keempat, yaitu mengimani tugas malaikat seperti yang telah
diberitahukan kepada kita. Malaikat senantiasa beribada kepada Allah; bertasbih
siang dan malam dan berthawaf di Baitul Ma'mur dan lain sebagainya.
3. Makna beriman kepada Kitab-kitab Allah
Pertama, mengimani bahwa kitab itu datangnya dari Allah swt.
Kedua, mengimani kitab tersebut baik secara rinci (tafshil) maupun secara garis
besar (ijmal), tafshil artinya mengimani bahwa kitab yang diturunkan kepada Nabi
ini adalah kitab ini, sedangkan secara garis besar kita meyaini bahwa kitab
diturunkan kepada  Nabi dan Rasul meskipun tidak diketahui namanya.
Ketiga, yaitu membenarkan perkataan yang tertulis dalam kitab-kitab
tersebut yang masih murni (Belum dirubah).
Keempat, mengamalkan hukum yang tertulis dalam kitab tersebut selama
kitab tersebut belum "dihapus", yang dimaksud dengan kata dihapus disini ialah,
kita hanya mengimani satu kitab saja yaitu Al quran, karena kehadiran Al quran
mengakibatkan kitab-kitab sebelumnya menjadi mansukh (dihapus). Al quran
ialah kitab yang mewakili setiap ummat sampai akhir masa.
4. Makna beriman kepada Nabi dan Rasul
Beriman kepada Nabi dan Rasul, bermakna bahwa kita meyakini Nabi dan
Rasul ialah manusia utusan Allah yang diutus di muka bumi untuk menyampaikan
kabar gembira dan ancaman. Meyakini bahwa Nabi dan Rasul adalah mahkluk
yang diutus Allah ke Bumi untuk memberi petunjuk ke umat manusia hingga
kembali ke jalan lurus. Beriman kepada Nabi dan Rasul artinya ialah memercayai
segala ajarannya baik dari lisan maupun sebagai sauri teladan. Dengan
mengetahui maka beriman kepada Nabi dan Rasul, Manusia sebagai hamba yang
mulia sudah sepantasnya meyakininya dan mengikuti jejak suri teladan Nabi dan
Rasul.
5. Makna beriman kepada hari akhir
Beriman kepada hari akhir artinya kita meyakini tanda-tanda akan
datangnya hari kiamat, seperti lahirnya dajjal turunnya Isa as. Datangnya Ya'juj
dan Ma'juj, terbitnya matahari dari  barat. Kemudiaan diangkatnya ilmu dari muka
bumi yang ditandai dengan wafatnya para ulama, semakin banyak terjadi
perzinaan, amanah tidak lagi dijalankan, urusan diserahkan kepada yang bukan
ahlihnya, jumlah perempuan jauh melebihi jumlah lak-laki dan terjadi kekacauan
dan pembunuhan dimana-mana.
Selain itu Pula, makna beriman kepada hari akhir yaitu kita mengimani
kejadian gaib lainnya seperti dibangkitkannya manusia dari kubur,
dikumpulkannya manusia di padang mashar, adanya hari pembalasan, adanya
siksa kubur dan nikmat kubur, dan meyakini adanya surga dan neraka. Semua
dilakukan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah.

6. Makna beriman kepada qada dan qadar


Makna beriman kepada qada dan qadar artinya ialah kita mengimani
bahwa apapun yang terjadi di muka bumi bahkan kepada diri kita sendiri sebagai
manusia baik maupun buruk merupakan kehendak dari Allah swt.
Namun keburukan tersebut tidak dinisbahkan kepada Allah, melainkan
kepada manusia sebagai mahkluk ciptaanNya, sedangkan jika keburukan tersebut
dikaiitkan dengan Allah, maka keburukan tersebut merupakan suatu bentuk
keadilan terhadap sesuatu pihak yang tidak dapat terduga oleh pengetahuan
manusia. Allah menciptakan mudharat pastilah ada maslahat. Di setiap keburukan
terdapat makna yang mendalam, baik itu diketahui oleh manusia, maupun tidak
diketahui oleh manusia.
1. Syahadat
Keimanan tersimpul pada sebuah pernyataan keyakinan yang berwujud
syahadat yaitu asyhadullah ilaha illalla wa asyhaduallah Muhammad darasulullah
(aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain allah dan aku bersaksi
bahwa Muhammad itu rasul allah).Kedua kalimat syahadat tersebut membawa
konsekuensi, bahwa tuhan satu- satunya yang wajib di sembah, wajib di taati
perintah dan larangannya adalah Allah.Ada beberapa penyakit aqidah yang
terkadang tidak di sadari seseorang lalu terkena virus,virus tersebut adalah syirik,
tahayul, dan kurarat.

B.PengertianAkhlak
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau
kelakuan. Dalam Bahasa Arab kata akhlak (akhlaq) di artikan sebagai tabiat,
perangai, kebiasaan, bahkan agama. Akhlak adalah tabiat atau sifat seseorang,
yakni keadaan jiwa yang terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah
melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan
spontan tanpa dipikirkan dan diangan-angankan lagi.Islam adalah agama yang
sangat mementingkan Akhlak dari pada masalah-masalah lain.

Akhlak terbagi menjadi dua yaitu:

 Akhlaaqul mahmudah (akhlak yang terpuji )


Yang termasuk Akhlaaqul mahmudah : ikhlas, sabar, syukur, khauf
(takut kemurkaan Allah),Roja ( mengharapkan keridhaan Allah), jujur
adil, amanah, tawadhu (merendahkan diri sesama muslim), bersyukur.
 Akhlaaqul madzmuumah (akhlak tercela )
Yang termasuk Akhlaaqul madzmuumah adalah : tergesa-gesa, riya
(melakukan sesuatu dengan tujuan ingin menunjukkan kepada orang
lain), dengki (hasad), takabbur (membesarkan diri), ujub (kagum
dengan diri sendiri), bakhil, buruk sangka, tamak dan pemarah.
1. Akhlak terhadap Diri Sendiri
Pengertian Akhlak terhadap Diri Sendiri
Macam-Macam Akhlak terhadap Diri Sendiri
a. Berakhlak terhadap Jasmani
- Menjaga kebersihan dirinya .
- Menjaga makanan dan minuman.
- Tidak mengabaikan latihan jasmaninya.
- Merokok merusak kesehatan (Yadhurru Linafsih).
- Merokok mendzolimi orang lain (Dzalim).
- Merokok memiliki unsur menghambur-hamburkan harta.
1. Bersih fisik dan pakaian
- Bersih mulut dan gigi.
- Bersih rambut.
- Bersih badan.
- Bersih pakaian.
- Berpenampilan rapi
- Berakhlak terhadap jiwa
- Bertaubat.
- Bermukharabah.
- Bermuhasabah.
- Bermujahada.
- Memperbanyak ibadah.
- Menghadiri majelis iman
Cara Untuk Memelihara Akhlak Terhadap Diri Sendiri
1. Ikhlas
Ikhlas itu inti dari setiap ibadah dan perbuatan seorang muslim.
Keikhlasan sesorang akan menghasilkan kemenangan dan kejayaan .
2. Amanah
Amanah adalah asas ketahanan ummat, kestabilan negara, kekuasan,
kehormatan, dan roh kepada keadilan. Singkatnya, amanah adalah
sesuatu yang dipercayakan sehingga kita harus harus menjaga
amanah tersebut.
3. Adil
Bersifat adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Adil juga
tidak lain berupa perbuatan yang tidak berat sebelah.
4. Bersyukur
Pada tataran menjadi pribadi unggulo ini bersyukur berlaku pada dua
keadaan. (1). Sebagai tanda kerendahan hati terhadap segala nikmat
yang diberikan oleh sang pencipta adalah sama, baik sedikit atau
banyak. (2). Bersyukur sesama mahkluk sebagai ketetaan pada Allah
supaya kebajikan selalu dibalas dengan kebajikan.
5. Tekun
Ketekunan ini tidak lain adalah usaha dengan rajin, ,keras hati dan
bersungguh-sungguh.
6. Disiplin
Perilaku ketaatan pada aturan dan tata tertib.
7. Sabar
Yaitu sifat tahan menderita sesuatu (tidak lekas marah; tidak lekas
patah hati; tidak lekas putus asa, dan sebagainya).
AL Islam Kemuhammadiyahan IV

Semester IV

A. IBADAH
Secara bahasa, kata ibadah adalah bentuk dasar (mashdar) dari fi’il (kata
kerja) yang berarti : taat, tunduk, hina dan pengabdian.
Berangkat dari arti ibadah secara bahasa, Ibn Taymiyah mengartikan
ibadah sebagai puncak ketaatan dan ketundukan yang didalamnya terdapat unsur
cinta (al-hubb). Seseorang belum dikatakan beribadah kepada Allah kecuali bila
ia mencintai Allah lebih dari cintanya kepada apapun dan siapapun juga.
Ketaatan tanpa unsur cinta maka tidak bisa diartikan sebagai ibadah dalam arti
yang sebenarnya. Dari sini pula dapat dikatakan bahwa akhir dari perasaan cinta
yang sangat tinggi adalah penghambaan diri, sedangkan awalnya adalah
ketergantungan.
Adapun defenisi ibadah menurut Muhammadiyah adalah mendekatkan diri
kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi
segala larangan-Nya serta mengamalkan apa saja yang diperkenankan oleh-Nya.
(Himpunan Putusan Tarjih, hlm.276).

 Pembagian Ibadah
Ditinjau dari segi ruang lingkupnya, ibadah dibagi menjadi dua
bagian yaitu:
1. Ibadah Khashshah (Ibadah Khusus), yaitu ibadah yang
ketentuannya telah ditetapkan oleh nash, seperti : thaharah,
shalat, zakat, dan semacamnya.
2. Ibadah Ammah (Ibadah Umum), yaitu semua perbuatan baik
yang dilakukan dengan niat karena Allah SWT. Semata,
misalnya: berdakwah, melakukan amar ma’ruf nahi munkar di
berbagai bidang, menuntut ilmu, bekerja, rekreasi, dan lain-
lain yang semuanya itu diniatkan semata-mata karena Allah
SWT dan ingin mendekatkan diri kepada-Nya.
 Prinsip-prinsip Ibadah
Untuk memberikan pedoman ibadah yang bersifat final, Islam
memberikan prinsip-prinsip ibadah sebagai berikut:
1. Prinsip Utama dalam ibadah adalah hanya menyembah
kepada Allah semata sebagai wujud hanya mengesakan Allah
SWT (al-tawhid bi-llah).
2. Ibadah tanpa perantara. Hal ini didasarkan pada firman Allah
SWT yang terdapat pada Qs. Al-Baqarah / 2 : 186.
3. Ibadah harus dilakukan secara ikhlas yakni dengan niat yang
murni semata hanya mengharap keridhaan Allah SWT.
Keikhlasan harus ada dalam seluruh ibadah, karena
keikhlasan, maka tidak mungkin ada ibadah yang
sesungguhnya.
4. Ibadah harus sesuai dengan tuntunan.
5. Seimbang antara unsur jasmani dengan rohani.
6. Mudah dan meringankan.
B. THAHARAH
Secara bahasa thaharah berasal dari bahasa Arab : ‫ ﻂﻬﺮ‬yang berarti suci
dan bersih, baik itu suci dari kotoran lahir maupun kotoran batin berupa sifat dan
perbuatan tercela. Cara menyucikan batin yakni dengan bertaubat dari segala
noda dosa dan penyakit hati yang menjauhkan manusia dari Tuhannya, seperti :
syirik, su’udzan (buruk sangka), dengki, kikir, dzalim dan segala perbuatan
maksiat lainnya. Sedangkan cara menyucikan lahir yakni dengan membersihkan
diri, pakaian, dan tempat dari segala kotoran (najis) dan hadats. Makna kedua
inilah yang dimaksudkan dengan thaharah dalam istilah fiqh yakni: mensucikan
diri dari najis dan hadats yang menghalangi shalat dan ibadah-ibadah
sejenisnya dengan air atau tanah, atau batu. Penyucian diri di sini tidak terbatas
pada badan saja tetapi juga termasuk pakaian dan tempat.
Hukum thaharah (bersuci) ini adalah wajib, khususnya bagi orang yang
akan melaksanakan shalat.

 Alat Bersuci
Alat untuk bersuci terdiri dari air, debu, dan batu atau benda
padat lainnya.
1. Air sebagai alat bersuci yang paling besar perananya dalam
kegiatan bersuci. Air yang dapat digunakan untuk bersuci
adalah : a) air muthlaq yaitu air suci lagi mensucikan, seperti:
air mata air, air sungai, zamzam, air hujan, salju, embun dan
air laut. b) air musta’mal yaitu air yang telah digunakan untuk
wudlu dan mandi. Hukumnya sama dengan air mutlak yaitu
sah untuk bersuci.
2. Debu yang digunakan untuk bersuci atau bertayammum
adalah debu yang suci dan kering. Debu ini bisa terletak di
tanah, pasir, tembok, atau dinding.
3. Batu atau benda padat lainnya selain tahi dan tulang. Debu,
batu, daun dan tisu itu digunakan khususnya ketika tidak ada
air.
 Najis dan Hadats
Najis adalah segala kotoran seperti tinja, kencing, darah
(termasuk nanah, karena ia merupakan darah yang membusuk), daging
babi, bangkai, liur anjing, madzi (air berwarna putih cair yang keluar dari
kemaluan laki-laki yang biasanya karena syahwat seks, tetapi bukan air
mani), wadi dan semacamnya.
Hadats adalah sesuatu yang diperbuat oleh anggota badan yang
menyebabkan ia terhalang untuk melakukan shalat. Hadats ada dua
macam yaitu hadats kecil seperti buang air besar dan air kecil, kentut,
menyentuh kemaluan tampa pembatas, dan tidur nyenyak dalam posisi
berbaring sedangkan hadats besar seperti junub dan haid yang harus
disucikan dengan mandi besar, atau bila tidak memungkinkan untuk
mandi maka cukup berwudlu atau tayyammum.

 Wudlu’
Tata cara berwudlu secara lengkap berdasarkan sunnah
Rasulullah saw adalah sebagai berikut:
1. Niat berwudlu karena Allah semata adalah awal yang sangat
menentukan dalam melakukan setiap perbuatan. Niat
dilakukan dalam hati dan tidak perlu dilafalkan.
2. Membasuh tangan tiga kali sambil menyela-nyelai jari
jemarinya.
3. Berkumur-kumur secara sempurna sambil memasukkan air ke
hidung dan kemudian menyemburkannya sebanyak tiga kali.
4. Membasuh wajah tiga kali secara merata sambil mengucek
ujung bagian dalam kedua mata.
5. Membasuh tangan kanan sampai siku tiga kali, kemudian
tangan kiri dengan cara yang sama.
6. Mengusap kepala sekaligus dengan telinga, cukup satu kali.
7. Membasuh kaki kanan sampai dua mata kaki sambil menyela-
nyelai jemari sebanyak tiga kali, kemudian kaki kiri dengan
gerakan yang sama.
8. Tertib
9. Berdoa setelah wudlu dengan menghadap qiblat.

 Mandi
Mandi atau biasa disebut dengan mandi besar atau mandi junub
adalah membasahi seluruh badan dengan air suci. Tata cara mandi secara
runtut menurut Rasulullah saw adalah:
1. Niat mandi karena Allah semata dengan tampa dilisankan dan
cukup membaca basmalah.
2. Mencuci kedua tangan
3. Mencuci kemaluan dengan tangan kiri. Setelah itu dituntutkan
pula mencuci tangan kiri dengan tanah atau cukup digantikan
dengan sabun mandi.
4. Berwudlu seperti wudlu untuk shalat.
5. Menyiramkan air kepala secara merata (keramas) sambil
menguceknya sampai ke dasar kulit kepala.
6. Menyiramkan air ke seluruh badan (mandi) sampai rata yang
dimulai dari kanan kemudian ke kiri.
 Tayammum
Tayammum dilakukan sebagai pengganti wudlu, dan mandi besar
bila ada halangan, seperti sakit atau ketiadaan air untuk bersuci, misalnya
karena musafir. Cara bertayammum adalah sebagai berikut:
1. Mengucap basmalah sambil meletakkan kedua telapak tangan
di tanah (boleh di dinding) kemudian meniup debu yang
menempel dikedua telapak tangan tersebut.
2. Mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah satu kali,
kemudian langsung mengusap tangan kanan hingga
pergelangan lalu kiri dengan cara yang sama, masing-masing
satu kali.

C. SHALAT

Menurut bahasa, shalat berarti do’a atau rahmat. Sedangkan menurut


istilah shalat adalah suatu ibadah yang terdiri dari ucapan dan perbuatan tertentu
yang dibuka dengan takbir dan ditutup dengan salam.

Di dalam islam, shalat mempunyai arti penting dan kedudukan yang sangat
istimewa, antara lain:
1. Shalat merupakan ibadah yang pertama kali diwajibkan oleh Allah
SWT yang perintahnya langsung diterima Rasulullah saw pada
malam Isra-Mi’raj.
2. Shalat merupakan tiang agama.
3. Shalat merupakan amalan yang pertama kali dihisab pada hari
kiamat.
 Hukum Meninggalkan Shalat
Bagi muslim yang sudah terkena kewajiban shalat karena sudah
baligh dan berakal, kemudian meninggalkan shalat dengan sengaja,
dihukumi syirik dan kufur.

D. ZAKAT
 Pengertian Zakat
1. Etimologi (lubat) : subur, bertambah
2. Terminologi (istilah) : jumlah harta yang dibayarkan kepada
golongan yang telah ditetapkan Allah

 Dasar Hukum
Surah Al Muzammil : 73 : 20
‫ك يَ ْعلَ ُم َربَّكَ ِإ َّن‬ َ َّ‫ك الَّ ِذينَ ِمنَ َوطَائِفَةٌ َوثُلُثَهُ َونِصْ فَهُ للَّ ْي ِل ثُلُثَ ِي ِم ْن أَ ْدن َٰى تَقُو ُم أَن‬ َ ‫َم َع‬
ُ ‫َاب تُحْ صُوهُ لَ ْن أَ ْن َعلِ َم َوالنَّهَار اللَّ ْي َل يُقَ ِّد ُر َوهَّللا‬ َ ‫ْالقُرْ آ ِن ِمنَ تَيَسَّ َما فَا ْق َر ُءوا َعلَ ْي ُك ْم فَت‬
‫ضى ِم ْن ُك ْم َسيَ ُكونُ أَ ْن َعلِ َم‬
َ ْ‫ض فِي نَ ضْ ِربُو َوآ َخرُونَ َمر‬ ِ ْ‫َوآ َخرُونَ هَّلل َ فَضْ ِل ِم ْن يَ ْبتَ ُغونَ اأْل َر‬
َ‫صاَل ةَ َوأَقِي ُموا ِم ْنهُ تَيَسَّ َما ا ْق َر ُءوا هَّلل ِ َسبِي ِل فِي يُقَاتِلُون‬
َّ ‫هَّللا َ َوأَ ْق ِرضُوا ال َّز َكاةَ َوآتُوا ال‬

‫َخ ْيرًا هُ َو هَّللا ِ ِع ْن َد اتَ ِجدُوهُ خَ ْي ِم ْن أِل َ ْنفُ ِس ُك ْم تُقَ ِّد ُموا َو َما َح َسنًاقَرْ ضًا هَّللا َ َوأَ ْق ِرضُوا‬

‫َر ِحي ٌم َغفُو ٌر هَّللا َ اإِ َّن ا هَّللا َ َوا ْستَ ْغفِرُوا أَجْ رًا َوأَ ْعظَ َم‬

Artinya :

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri


(sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau
sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang
bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah
mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas
waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu
bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa
akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang
berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang
yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah
(bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat
dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan
apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh
(balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang
paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

E. PUASA

Puasa (Shiyam) : etimologi (lugat) : menahan diri. Terminology (istilah) :


menahan diri dari makan/minum, jima’ dan lain - lain disiang hari dengan cara
yang dituntunagama. Karena mengharap pahala dari Allah SWT.

 Dasar Hukum
Surah Al Baqarah, 2 : 183

‫صيَا ُم َعلَ ْي ُك ُم ُكتِ َب آ َمنُوا الَّ ِذينَ أَيُّ َها يَا‬


ِّ ‫قَ ْبلِ ُك ْم ِمنْ الَّ ِذينَ تَتَّقُونَ َعلَى ُكتِ َب َك َما ال‬
‫م‬kْ ‫تَتَّقُونَ لَ َعلَّ ُك‬
Artinya :
Hai orang – orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa
 Rahasia Puasa
1. Membiasakan bersabar dari penderitaan
2. Memperingatkan diri dengan kehinaan dan kemiskinan
3. Memelihara dari perbuatan dosa
4. Menggerakkan orang kaya agar membantu orang miskin
5. Memperoleh manfaat dari kelaparan.
F. HAJI
 Pengertian Haji
Etimologi (Lugat) : Mengeja sesuatu. Terminologi (istilah) :
Dengan sengaja mengunjungi Ka’bah (Baitullah) untuk melakukan
beberapa amal ibadah dengan syarat – syarattertentu yang telah
ditetapkan syara’.
 Rahasia Haji
1. Mewujudkan pikiran/ketenangan akan pertemuan dipadang mahsyar
2. Membktikan sebab – sebab memperoleh rahmat dari Allah
3. Menyelami keutamaan menjauhkan diri dari syahwat
G. PENYELENGGARAAN JENAZAH MENURUT PUTUSAN MAJELIS
TARDJIH
Cara Memandikan Mayat
Kalau kamu hendak memandikan mayat, maka mulai anggota
kanannya serta anggoa wudhu dan mandikanlah gasal (ganjil) :tiga atau
lima kali atau lebih dari itu, dengan air dan daun bidara, serta pada
pemandian yang terakhir taruhlah kapur barus, meskipun sedikit dan
jalinlah rambut mayat perempuan tiga pintal, lalu keringkanlah dengan
semacam handuk. Mandikanlah mayat pria oleh orang pria dan dari
salah seorang dari suami-istri, boleh memandikan lainnya. Dan
sembunyikanlah cacatnya.

Cara Mengafan Mayat


Kafan (bungkus)-lah mayat itu dengan kafan yang baik dalam
kain putih yang menutup seluruh tubuhnya.Kafanilah mayat pria dalam
tiga helai kain dan mayat wanita dengan kain basahan, baju kurung,
kudung selubung lalu kain. Janganlah berlebih – lebihan dalam hal
kafan.
Cara Menshalatkan Mayat
Sesudah sempurna dimandikan dan dikafani, maka
sembahyangkanlah mayat itu dengan syarat – syarat shalat, dengan niat
yang ikhlas karena Allah dan takbir-lah, lal bacalah Fatihah dan
shalawat atas Nabi s.a.w lalu takbir, lal berdo’alah dengan mengangkut
tangan pada tiap takbir.
Cara Mengubur Mayat
Sesudah dishalatkan bawalah jenazah itu kepekubran dengan
cepat-cepat dan iringilah ia dengan berjalan disekelilingnya, dekat
padanya, dengan diam. Dan janganlah orang wanita pergi
mengiringnya. Begitu juga janganlah kamu duduk hingga jenazah itu
diletakkan.
H. TIGA IDENTITAS MUHAMMADIYAH
Adapun ciri – ciri dari perjuangan Muhammadiyah itu adalah :
1. Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam
2. Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Islam
3. Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajdid (Reformasi)

AL-Islam Kemuhammadiyahan V
Semester V

A.  NIKAH
Nikah secara bahasa artinya menggabungkan atau mengumpulkan
dua hal menjadi satu. Sedangkan menurut istilah nikah adalah akad
perkawinan yang shahih. Atau akad yang mengakibatkan halalnya
hubungan suami istri. Dasar hukum nikah adalah Al-Qur'an dan As-
Sunnah dan Ijma'. Allah berfirman.
"Maka nikahilah wanita-wanita yang baik bagi kamu dua, tiga, atau
empat." (An-Nisaa': 3)
1.Hukum Nikah
Hukum nikah berbeda-beda sesuai keaadan manusianya. Bisa jadi
nikah itu wajib bagi seseorang, dan bisa jadi sunnah bagi yang lain.
sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, beliau
berkata, "Dalam masalah nikah, manusia dibagi menjadi tiga golongan.
Pertama orang yang khawatir jatuh dalam perbuatan yang dilarang
apabila dia tidak menikah, maka wajib baginya menikah sebagaimana
pendapat kebanyakan ulama fikih, karena wajib baginya untuk menjaga
kehormatran dirinya dan melindungi dirinya dari keharaman dan jalannya
adalah dengan menikah.
Kedua adalah orang yang disunnahkan baginya menikah, yaitu
orang yang mempunyai syahwat kepada lawan jenis tetapi dia bisa
menjaga diri dari jatuh kedalah hal yang dilarang. Maka menikah lebih
utama baginya daripada melakukan ibadah-ibadah sunnah.
Ketiga orang yang tidak mempunyai syahwat, baik karena memang
dia tercipta tanpa memili syahwat, seperti orang impoten, lemah syahwat,
atau orang yang dulunya mempunyai syahwat, tetapi hilang karena sudah
tua atau sakit atau yang lain. Dalam hal ini ada dua sisi, dianjurkan
baginya menikah dan apabila dia tidak menikah itu lebih utama.

e.        Rukun Nikah
a.       Calon suami dan istri yang tidak terhalang untuk menikah.
b.      Ijab, yaitu lafad menikahkan yang diucapkan oleh wali atau
yang  mewakilinya.
c.       Qobul, yaitu lafad menerima yang diucapkan oleh suami atau yang
mewakilinya

f.       Syarat Nikah
a.       ridho kedua mempelai
b.      Kepastian siapa istri atau suami.
c.       Adanya wali bagi mempelai wanita Tidak sah pernikahan tanpa
adanya wali dari mempelai wanita.
d.      Adanya saksi.

g.       Hukum Pernikahan
a.       Kewajiban memberi mahar oleh suami kepada istri
b.      Kewajiban nafkah atas suami kepada istri
c.       Hubungan antara suami dan istri dan keluarganya
d.      Timbulnya kemahraman
e.       Adanya hukum waris

B.  ISLAM DALAM KELUARGA SAKINAH


Pernikahan berasal dari kata dasar nikah. Kata nikah memiliki
persamaan dengan kata kawin. Menurut bahasa Indonesia, kata nikah
berarti berkumpul atau bersatu. Menurut istilah syarak, nikah itu berarti
melakukan suatu akad atau perjanjian untuk mengikatkan diri antara
seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bertujuan untuk
menghalalkan hubungan kelamin antara keduanya dengan dasar suka rela
demi terwujudnya keluarga bahagia yang diridhoi oleh Allh SWT
1. Tujuan Pernikahan
a. Menperoleh kebahagiaan dan ketentraman hidup.
b. Menperoleh keturunan yang sah.
c.  Menjaga kehormatan dan harkat manusia.
d.  Mengikuti sunnah rasul.
2.  Hikmah pernikahan itu adalah sebagai berikut:
a.  Menciptakan struktur sosial yang jelas dan adil.
b.  Dengan nikah, akan terangkat status dan derajat kaum wanita.
c.   Dengan nikah akan tercipta regenerasi secara sah dan terhormat.
d.   Dengan nikah agama akan terpelihara.
e.    Dengan pernikahan terjadilah keturunan yang mampu memakmuram
bumi.

1.    Talaq (perceraian)
Talak secara bahasa : ( ‫ )التخلية‬Melepaskan.
Secara syar’i : ( ‫ )حــل قيــد النكــاح أو بعضه‬Melepaskan ikatan pernikahan 
menyeluruh atau sebagiannya
ِ ‫ُوف أَوْ تَس‬
ٍ ‫ْري ٌح بِإِحْ َس‬
‫ان‬ ٍ ‫ك بِ َم ْعر‬ ُ ‫الطَّال‬
ٌ ‫ق َم َّرتَا ِن فَإ ْم َسا‬
“Thalak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi
dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (Al
Baqarah : 229)
1.      Hukum Thala
a.       Makruh yaitu ketika suami menjatuhkan thalaq tanpa ada hajat
(alasan) yang menuntut terjadinya perceraian. Padahal keadaan rumah
tangganya berjalan dengan baik.
b.      Haram yaitu ketika di jatuhkan tidak sesuai petunjuk syar’i. Yaitu
suami menjatuhkan thalaq dalam keadaan yang dilarang dalam agama kita.
dan terjadi pada dua keadaan: Suami menjatuhkan thalaq ketika istri
sedang dalam keadaan haid. Suami menjatuhkan thalaq kepada istri pada
saat suci setelah digauli tanpa diketahui hamil/tidak.
c.       Mubah (boleh) yaitu ketika suami (berhajat) atau mempunyai alasan
untuk menalak istrinya. Seperti karena suami tidak mencintai istrinya, atau
karena perangai dan kelakuan yang buruk yang ada pada istri sementara
suami tidak sanggup bershabar kemudian menceraikannya. Namun
bershabar lebih baik.
d.      Sunnah yaitu ketika di jatuhkan oleh suami demi kemaslahatan
istrinya serta mencegah kemudharatan jika tetap bersama dengan dirinya,
meskipun sesungguhnya suaminya masih mencintainya. Seperti sang istri
tidak mencintai suaminya, tidak bisa hidup dengannya dan merasa
khawatir tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
e.         Wajib yaitu bagi suami yang meng-ila’ istrinya (bersumpah tidak
akan menggauli istrinya lebih dari 4 bulan) setelah masa penangguhannya
selama empat bulan telah habis, bilamana ia enggan kembali kepada
istrinya.

2.    Iddah
Iddah berarti masa menunggu bagi istri yang sudah dicerainya,
baik cerai mati maupun cerai hidup.Masa iddah bagi istri ayng dicerai
dalam keadaan hamil ialah sampai melahirkan anaknya. Jika seorang istri
dicerai oelh suami, sedangkan ia tidak hamil,maka iddahnay adalah:
a.       Istri yang belum pernah haid atau tidak haid karena pengaruh usia,
masa iddahnya tiga bulan.
b.      .Istri yang masih dalam keadaan haid secara teratur,masa iddahnya
tiga kali suci.
c.       Jika seorang isrti cerai mati (ditinggal mat suaminya) dalam keadaan
sedang hamil, masa iddahnya sampai melahirkan anaknya,dan jika tidak
hamil iddahnya selama 4 bulan 10 hari.

3.    Rujuk
Rujuk adalah mengembalikan istrinya yang tertalak yang bukan
pada talak bain kepada keadaan sebelum terjadinya talak tanpa adanya
akad. Rujuk yaitu kembali kepada ikatan nikah dari suami kepada
istrinya , selama istrinya masih berada dalam masa iddah talak raji’ah.
Apabila suami akan rujuk kepada istrinya, ada beberapa persyaratan yang
harus dipenuhi, yaitu :
a.       Istri sudah bercampuru dengan suami dan berada dalam masa talak
raji’ah.
b.      Keinginan rujuk itu dari suami sendiri.
c.       Waktu rujuk harus ada duua orang saksi yang adil.
d.       Waktu rujuk harus ada akad atau ucapan rujuk.

4.    Hak Dan Kewajiban Suami Istri


Sebagimana kita ketahui, pernikahan adalah perjanjian bersama
antara dua jenis kelamin yang berlainan untuk menempuh suatu kehidupan
rumah tangga. Semenjak terucap kata zawad keduanya telah mengikat diri
dan semenjak itu juga mereka mempunyai kewajiban dan hak-hak yang
tidak mereka miliki sebelumnya.
1. Hak dan kewajiban yang bukan bersifat kebendaan
a.    Suami istri wajib bergaul dengan baik (Mu'asyaroh bil ma'ruf) yaitu
saling menghormati, saling menghargai, saling kasih sayang, saling
memaafkan, hidup harmonis, jujur, berterus terang dan bermusyawarah
(QS. An Nisa' : 19). 
b.    Menjaga rahasia rumah tangga, ulamanya rahasia pribadi masing-
masing (QS. An Nisa' : 34) dan Rosulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya diantara yang paling dimurkai Allah di hari kiamat ialah
seorang suami yang diberitahu oleh istrinya tentang rahasia sedangkan
oleh suami rahasia tadi disiarkannya (HR. Muslim).
c.    Berakhlaq baik terhadap keluarganya, sebagaimana sabda Rosulullah
SAW yang artinya "Orang yang baik diantara kamu sekalian adalah orang
yang paling baik terhadap keluarganya. Saya (Nabi), tidaka ada orang
yang mulia, kecuali dia memuliakan wanita (istri) dan tidak ada orang
yang menghina wanita (istri) kecuali dia sendiri orang yang hina". (HR.
Ibnu Asakir).
d.   Istri wajib taat kepada suami, sebagaimana sabda Rosulullah SAW,
yang artinya : "Apabila istri itu menjaga Sholat lima waktu, puasa
romadhan, menjaga kehormatannya dan taat kepada suami, maka dia akan
masuk surga." (HR. Al Bazzar).
2.  Hak dan kewajiban bersifat kebendaan
a.       Suami wajib memberi nafkah, sebagaimana firman Allah SWT yang
artinya" Suami adalah kepala keluarga, karena Allah telah melebihkan
sebagian mereka (suami) dari sebagian yang lain (istri) dan karenanya
suami berkewajiban memberi nafkah kehidupan keluarganya." (QS. An
Nisa' : 34).
b.    Suami wajib menyediakan tempat tinggal sesuai kemampuannya.
(QS.Ath Thalaq : 6).
c.    Istri wajib mengatur rumah tangga dengan baik, sebagaimana firman
Allah SWT yang artinya "....wanita yang baik adalah yang taat kepada
suami dan menjaga rumah tangganya, serta memelihara rahasia dan harta
bendanya, " (QS. An Nisa' : 34). Rosulullah SAW bersabda :"Istri adalah
penanggung jawab rumah tangga suaminya. " (HR. Al Bukhori dan
Muslim).  
C.  Ketentuan Islam Tentang Makan dan Minum
1.    Makanan dan minuman halal
Makanan yang halal ialah makanan yang dibolehkan untuk
dimakan menurut ketentuan syari’at Islam. segala sesuatu baik berupa
tumbuhan, buah-buahan ataupun binatang pada dasarnya adalah hahal
dimakan, kecuali apabila ada nash Al-Quran atau Al-Hadits yang
menghatamkannya. Ada kemungkinan sesuatu itu menjadi haram karena
memberi mengandung mudharat atau bahaya bagi kehidupan manusia.
Makanan  seorang Muslim hendaknya memenuhi 2 syarat, yaitu:
a.    Halal, artinya diperbolehkan untk dimakan dan tidak dilarang
oleh   hukum syara’
b.    Baik, artinya makanan itu bergizi dan bermanfaat untuk kesehatan.
jenis-jenis makanan yang halal ialah:
a.    Semua makanan yang baik, tidak kotor dan tidak menjijikan.
b.    Semua makanan yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
semua makanan yang tidak memberi mudharat, tidak
membahayakan kesehatan jasmani dan tidak merusak akal, moral, dan
aqidah. Minuman yang halal ialah minuman yang boleh diminum
menuerut syari’at Islam. Adapun minuman yang halal pada haris besarnya
dapat dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
Semua jenis air atau cairan yang tidak membahayakan bagi kehidupan
manusia baik membahayakan dari segi jasmani, akal, jiwa maupun aqidah.
Air atau cairan yang tidak memabukkan walaupun sebelumnya telah
memabukkan seperti arak yang telah berubah menjadi cuka.
Air atau ciran itu bukan berupa benda najis atau benda suci yang terkena
najis (mutanajis).
Air atau cairan yang suci itu didaatkan dengan cara-cara yang halal yang
tidak bertentangan dengan ajaran Agama Islam.
2.    Makanan dan minuman haram
makanan yang haram adalah makanan yang dilarang oleh syara’
untuk dimakan. Setiap makanan yang dilarang oleh syara’ pasti ada
bahayanya dan meninggalkan yang dilarang syara’ pasti ada faidahnya dan
mendapat pahala.
Minuman yang aram adalah mnuman yang tidak boleh diminum karena
dilarang oleh syariat Ilsam.
Dalam ayat lain Allah berfirman:

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar,
berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah,
adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah
perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-
Maidah[5] : 90)
D.  Ketentuan Islam Tentang Berpakaian
Pakaian adalah salah satu alat pelindung fisik manusia. Tentunya
pakaian tak lepas dari kehidupan manusia. Semua kehidupan manusia
haruslah sesuai syari’at Islam, yang mana telah diatur oleh Al – Qur’an.
Maka dari itu, manusia haruslah berpakaian sesuai dengan yang telah
diatur oleh Allah SWT.
Berpakaian sesuai dengan syari’at Islam, akan membuat kita merasa itu
adalah sebuah kewajiban untuk menjaganya agar tetap dengan aturan yang
ada.
Dalam ilmu fiqih, ketentuan berpakaian atau menutup aurat merupakan
syarat bagi sahnya ibadah seperti salat, dan secara umum ditetapkan
ketentuan larangan melihat aurat orang lain.
Berbusana muslimah merupakan pengamalan akhlak terhadap dirinya
sendiri, menghargai dan menghormati harkat dan martabat dirinya sendiri
sebagai manusia yang berbudaya. Di dalam Islam, perihal berpakaian telah
dijelaskan Allah SWT. Dalam surat Al-A'rãf: 2
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu
pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan
pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah
sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT., mudah-mudahan
mereka selalu ingat."
Beberapa fungsi pakaian yang dijelaskan dalam Alquran antara lain:

a. Menutup aurat,
b. Sebagai perhiasan,
c. Sebagai pelindung,
d. Sebagai identitas diri.
a.      MAWARIS
Pengertian Waris dan Dasar Hukum Waris
Kata waris berasal dari bahasa Arab yaitu isim masdar dari fi’il madhi
yaitu: berpindahnya harta seseorang setelah wafat
Hukum kewarisan Islam mengatur peralihan harta dari seseorang yang
telah meninggal kepada yang masih hidup.

Ketentuan Rukun dan Syarat Waris


Pembagian harta waris terjadi dikarenakan tiga rukun (unsur).
1. Al-waris atau ahli waris yaitu orang yang dihubungkan atau mempunyai
hubungan dengan si mati dengan salah satu sebab pewarisan.
2. Al-muwarris (orang yang mewariskan harta).
3. Al-maurus atau disebut juga dengan warisan yaitu harta peninggalan
atau hak yang berpindah dari si pewaris kepada ahli waris, setelah
dikurangi biaya perawatan jenazah, pelunasan hutang dan pelaksanaan
wasiat.
Ketentuan  Sebab  Mendapat Harta Waris         
1.      Karena hubungan perkawinan atau al-musah arah : seseorang
dapatmemperoleh harta warisan disebabkan adanya hubungan perkawinan
yang dilakukan secara sah.
2.      Karena hubungan kekerabatan atau al-qarabah: seseorang dapat
memperoleh harta warisan disebabkan adanya hubungan silaturrahmi atau
hubungan kerabat dengan yang meninggal dunia.
3.      Karena sebab-sebab al-wala>>’ atau kerabat ukmiyah (ditetapkan
kerabat oleh hukum Islam).
4.      Karena sesama Islam : seorang muslim yang meninggal dunia dan
tidak mempunyai keturunan atau ahli waris sama sekali, maka harta
warisannya diserahkan kepada Baitul Mal, dan lebih lanjut akan
dipergunakan untuk kepentingan kaum muslimin.
Penghalang Kewarisan
1. Perbudakan,
2. Pembunuhan,
3. Terhijab atau terhalang oleh kerabat yang lebih dekat,
4. Berlainan agama,
5. Serta berlainan negara, jika terjadi peperangan antara negara yang satu
dengan Negara yang lain apalagi mempunyai agama yang berbeda.
Pembagian Harta Menurut Surat An – Nisaa
Untuk Anak Perempuan
·             = Jika yang meninggal mempunyai anak yang semuanya
perempuan lebih dari 2 orang maka anak perempuan tersebut ( mereka )
mendapatkan harta sebesar  dari jumlah harta orang yang meninggal.
·             = Jika yang meninggal mempunyai anak 1 orang  perempuan saja
maka anak perempuan tersebut mendapatkan harta sebesar  dari jumlah
harta orang yang meninggal.
Untuk Ibu Dan Bapak ( Orang Tua )
·             = Jika yang meninggal mempunyai anak, maka baik ibu maupun
bapak dari orang yang meninggal mendapatkan harta sebesar  dari jumlah
harta orang yang meninggal.
·             = Jika yang meninggal tidak mempunyai anak dan saudara maka
ibu dari orang yang meninggal mendapatkan harta sebesar  dari jumlah
harta orang yang meninggal.
·            = Jika yang meninggal mempunyai beberapa saudara maka ibu
dari orang yang meninggal mendapatkan harta sebesar  dari jumlah harta
orang yang meninggal.
b.      WASIAT
1)      DEFINISI WASIAT
Wasiat (jamak, wasaaya ‫ )الوصـــايا‬secara etimologis bermakna
menyambung sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam terminologi
syariah ia memiliki beberapa arti sbb:
(a) Pemberian seorang manusia pada yang lain dalam bentuk benda, atau
hutang, atau manfaat untuk dimiliki oleh penerima wasiat (al-musho lahu)
atas hibah itu setelah kematian pewasiat.
(b) Amal kebaikan dengan harta setelah matinya pewasiat.
(c) Kepemilikan yang disandarkan pada sesuatu setelah kematian dengan
cara syar'i.

Istilah-istilah wasiat dalam bahasa Arab


- Al-washi (‫ )الواصي‬atau al-mushi (‫ = )الموصي‬pemberi wasiat/pewasiat
- Al-Musho bihi (‫ = )الموصــى به‬perkara/benda yang dijadikan wasiat.
- Al-Musho lahu (‫ = )الموصــى له‬penerima wasiat (orang atau sesuatu)
-  Al-mushu ilaih (‫ = )الموصـــى إليه‬orang yang menerima amanah
menyampaikan wasiat.
- Wasiat (‫ = )الوصية‬perilaku/transaksi wasiat

2. SYARAT-SYARAT WASIAT
Perkara yang menjadi syarat boleh dan sahnya wasiat secara
syariah Islam adalah sbb:
I. Syarat benda yang diwasiatkan
(a) Wasiat tidak boleh lebih dari 1/3 (sepertiga). Apabila lebih, maka
untuk kelebihan dari 1/3 harus atas seijin ahli waris.
(b) Wasiat tidak boleh diberikan pada salah satu ahli waris kecuali atas
seijin ahli waris lain.
(c) Boleh berupa benda yang sudah ada atau yang belum ada seperi wasiat
buah dari pohon yang belum berbuah.
(d) Boleh berupa benda yang sudah diketahui atau tidak diketahui seperti
susu dalam perut sapi.
(e) Harta benda yang diwasiatkan harus merupakan hak dari pewasiat.
II. Syarat Pewasiat / Pemberi Wasiat (Al-Washi)
(a) Akil baligh,
(b) Berakal sehat
(c) Atas kemauan sendiri.
(d) Boleh orang kafir asal yang diwasiatkan perkara halal.
III. Syarat Penerima Wasiat (Al-Musho Lah ‫)الموصى له‬
Penerima wasiat ada dua macam. (i) Wasiat umum seperti wasiat
pembangunan masjid; (ii) wasiat khusus yaitu wasiat kepada orang/benda
tertentu. Kalau wasiat bersifat umum, maka tidak boleh untuk hal yang
mengandung dosa (maksiat). Contoh, wasiat harta untuk pembangunan
masjid boleh tetapi wasiat untuk membangun klab malam tidak
boleh.Untuk wasiat khusus maka syaratnya adalah sbb:
(a) Penerima wasiat hidup (orang mati tidak bisa menerima wasiat)
(b) Penerima wasiat diketahui (jelas identitas oragnya).
(c) Dapat memiliki.
(d) Penerima wasiat tidak membunuh pewasiat.
(e) Penerima wasiat menerima (qabul) pemberian wasiat dari pewasiat.
Kalau
menolak, maka wasiat batal.

3. HUKUM WASIAT
Melaksanakan wasiat itu wajib dan berdosa bagi al-musho ilaih
kalau tidak menyampaikan wasiat.Sedangkan hukum wasiat bagi pewasiat
(al-washi/al-mushi) ada 4 (empat) yaitu wajib, sunnah, makruh dan haram.
1. WASIAT WAJIB
Wajib apabila (i) manusia mempunyai kewajiban syara’ yang
dikhawatirkan akan disia-siakan bila dia tidak berwasiat, seperti adanya
titipan, hutang kepada Allah dan hutang kepada manusia. Misalnya dia
mempunyai kewajiban zakat yang belum ditunaikan, atau haji yang belum
dilaksanakan, atau amanat yang harus disampaikan, atau dia mempunyai
hutang yang tidak diketahui sselain dirinya, atau dia mempunyai titipan
yang tidak dipersaksikan.
2. WASIAT SUNNAH
Wasiat adalah Sunnah mu'akkad menurut ijmak (kesepakatan) ulama.
Walaupun bersedekah pada waktu hidup itu lebih utama. Dan apabila
diperuntukkan bagi kebajikan, karib kerabat, orang-orang fakir dan orang-
orang saleh.
Pendapat ini dikemukakan oleh Imam yang empat, yaitu Imam Malik,
Imam Hanafi, Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal

3. WASIAT MAKRUH
Makruh apabila (i) orang yang berwasiat sedikit harta, sedang dia
mempunyai seorang atau banyak ahli waris yang membutuhkan hartanya.
Dan (ii) wasiat kepada orang yang fasik jika diketahui atau diduga keras
bahwa mereka akan menggunakan
harta itu di dalam kefasikan dan kerusakan.
4. WASIAT HARAM
(a) Wasiat yang lebih dari 1/3 (sepertiga)
(b) Wasiat kepada ahli waris.
(c) Haram jika ia merugikan ahli waris. Wasiat yang maksudnya
merugikan ahli waris seperti ini adalah batil, sekalipun wasiat itu mencapai
sepertiga harta. Diharamkan juga mewasiatkan khamar, membangun
gereja, atau tempat hiburan.

5. WASIAT MUBAH (BOLEH)


Wasiat hukumnya mubah apabila ia ditujukan kepada orang yang
kaya, baik orang yang diwasiati itu kerabat ataupun orang jauh (bukan
kerabat). Menurut Imam Rafi'i mubahnya wasiat karena bukan transaksi
ibadah.
c.       WAKAF DAN HIBAH
1.      Pengertian Wakaf
Wakaf, dalam bahasa arab berarti habs (menahan) artinya menahan
harta yang memberikan manfaatnya dijalan Allah. Dari pengertian itu
kemudian dibuatlah rumusan pengertian wakaf menurut istilah, yaitu
“perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum
yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya
untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadat atau kerpeluan umum
lainnya sesuai dengan ajaran Islam” (Kompilasi Hukum Islam, Buku III,
Bab I, Pasal 215).
Adapun dalil-dalil sebagai anjuran melakukan wakaf antara lain adalah:
Firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 92:

Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang


sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu
cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah
mengetahuinya.” [QS. Ali Imran (3): 92]

Hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra:

َّ‫ قَا َل « إِ َذا َمـات ا ِإل ْن َسـانُ ا ْنقَطَـ َع َع ْنـهُ َع َملُـهُ ِإال‬-‫صلى هللا عليه وسلم‬- ِ‫ع َْن أَبِى هُ َر ْي َرةَ أَ َّن َرسُو َل هللا‬
]‫ [رواه مسلم‬.» ُ‫ح يَ ْدعُو لَه‬ ٍ ِ‫صال‬ َ ‫اريَ ٍة أَوْ ِع ْل ٍم يُ ْنتَفَ ُع بِ ِه أَوْ َولَ ٍد‬ َ ‫ِم ْن ثَالَثَ ٍة إِالَّ ِم ْن‬
ِ ‫ص َدقَ ٍة َج‬

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah


saw bersabda: Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah
semua amalannya kecuali tiga, yaitu: Sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang
bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akan kepadanya.” [HR.
Muslim, Shahih Muslim, II: 14]
2.      Pengertian Hibah
Hibah berasal dari bahasa Arab yang
berarti melewatkan atau menyalurkan, dengan demikian berarti telah
disalurkan dari tangan orang yang memberi kepada tangan orang yang
diberi. Sayyid Sabiq mendefinisikan hibah adalah akad yang pokok
persoalannya pemberian harta milik seseorang kepada orang lain di waktu
dia hidup, tanpa adanya imbalan. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa hibah adalah merupakan suatu pemberian yang bersifat sukarela
(tidak ada sebab dan musababnya) tanpa ada kontra prestasi dari pihak
penerima pemberian, dan pemberian itu dilangsungkan pada saat si
pemberi masih hidup. Di dalam Kompilasi Hukum Islam Buku II Bab I
Pasal 171 butir g disebutkan Hibah adalah pemberian suatu benda secara
sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih
hidup untuk dimiliki.
Hibah dituntunkan oleh Allah swt, karena hibah dapat menciptakan
kerukunan dan mempererat rasa kasih sayang antar umat manusia. Anjuran
untuk melakukannya antara lain: Hadis riwayat al-Baihaqi dari Abu
Hurairah:

َ ِ ‫ قَا َل َرسُو ُل هَّللا‬: ‫ قَا َل‬، َ‫ع َْن أَبِي هُ َري َْرة‬
]‫ [رواه البيهقي‬.‫ " تَهَادَوْ ا ت ََحابُّوا‬: ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم‬
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw
bersabda: Saling memberi hadiahlah di antara kalian, niscaya kalian
akan saling mencintai.” (HR. al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi VI:
169, Shahihul Jami’us Shaghir, hadis no: 3004 dan Irwaul Ghalil, 1601,
hadis ini hasan).

3.      Persamaan dan Perbedaan antara Wakaf dan Hibah


Beberapa persamaan dan perbedaan antara wakaf dan hibah antara lain
adalah:
1.   Dalam wakaf dan hibah terdapat orang yang memberikan hartanya
(yang disebut Wakif dan Wahib), barang yang diberikan, dan orang yang
menerimanya.
2.  Apabila seseorang yang berwakaf telah mengatakan dengan tegas atau
berbuat sesuatu yang menunjukkan kepada adanya kehendak untuk
mewakafkan hartanya atau mengucapkan kata-kata, maka telah terjadi
wakaf itu tanpa diperlukan penerimaan (qabul) dari pihak lain. Sedangkan
Hibah, selain adanya perkataan dan perbuatan yang tegas dari wahib untuk
menyerahkan barangnya (ijab) perlu ada pula penerimaan dari penerima
harta yang dihibahkan (qabul).
3. Benda wakaf adalah segala benda baik benda bergerak atau tidak
bergerak yang memiliki daya tahan yang tidak hanya sekali pakai dan
bernilai menurut ajaran Islam, sedangkan benda atau harta hibah dapat
berupa barang apa saja, baik yang hanya sekali pakai maupun tahan lama.
Tidak diperbolehkan mewakafkan ataupun menghibahkan barang yang
terlarang untuk diperjual belikan, seperti barang tanggungan (borg),
barang haram dan yang sejenisnya.
4.  Benda wakaf hanya boleh diberikan kepada sekelompok orang yang
bisa dimanfa’atkan untuk kepentingan orang banyak sedangkan hibah bisa
diberikan kepada perorangan ataupun kelompok baik untuk kepentingan
orang banyak maupun kepentingan individu.
5. Barang wakaf tidak bisa menjadi hak milik seseorang sedangkan barang
yang dihibahkan bisa menjadi hak milik seseorang.

E. Khittah Perjuangan Muhammadiyah


Khittah artinya garis besar perjuangan. khittah itu mengandung
konsepsi (pemikiran) perjuangan yang merupakan tuntunan, pedoman, dan
arah perjuangan. hal tersebut mempunyai arti penting karena menjadi
landasan berpikir dan amal usaha bagi semua pimpinan dan anggota
muhammadiyah. garis-garis besar perjuangan muhammadiyah tersebut
tidak boleh bertentangan dengan asas dan tujuan serta program yang telah
disusun.
Isi khittah harus sesuai dengan tujuan muhammadiyah, khittah itu disusun
sesuai dengan perkembangan zaman.
F .  Strategi Perjuangan Muhammadiyah
Dengan melihat sejarah pertumbuhan dan perkembangan
persyarikatan Muhammadiyah sejak kelahirannya, memperhatikan faktor-
faktor yang melatarbelakangi berdirinya, aspirasi, motif, dan cita-citanya
serta amal usaha dan gerakannya, nyata sekali bahwa didalammya terdapat
ciri-ciri khusus yang menjadi identitas dari hakikat atau jati diri
Persyarikatan Muhammadiyah. Secara jelas dapat diamati dengan mudah
oleh siapapun yang secara sepintas mau memperhatikan ciri-ciri
perjuangan Muhammdiyah itu adalah sebagai berikut.
1.    Muhammadiyah adalah gerakan Islam
Dari latar belakang berdirinya Muhammadiyah seperti di atas jelaslah
bahwa sesungguhnya kelahiran Muhammadiyah itu tidak lain karena
diilhami, dimotivasi, dan disemangati oleh ajaran-ajaran Al-Qur’an karena
itupula seluruh gerakannya tidak ada motif lain kecuali semata-mata untuk
merealisasikan prinsip-prinsip ajaran Islam. Segala yang dilakukan
Muhammadiyah, baik dalam bidang pendidikan dan pengajaran,
kemasyarakatan, kerumahtanggaan, perekonomian, dan sebagainya tidak
dapat dilepaskan dari usaha untuk mewujudkan dan melaksankan ajaran
Islam. Tegasnya gerakan Muhammadiyah hendak berusaha untuk
menampilkan wajah Islam dalam wujud yang riil, kongkret, dan nyata,
yang dapat dihayati, dirasakan, dan dinikmati oleh umat sebagai rahmatan
lil’alamin.

2.    Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi


munkar
Faktor utama yang mendorong berdirinya Persyarikatan
Muhammadiyah berasal dari pendalaman KHA Dahlan terdapat ayat-ayat
Alquran Alkarim, terutama sekali surat Ali Imran, Ayat:104. Berdasarkan
Surat Ali Imran, ayat : 104 inilah Muhammadiyah meletakkan khittah atau
strategi dasar perjuangannya, yaitu dakwah (menyeru, mengajak) Islam,
amar ma’ruf nahi munkar dengan masyarakat sebagai medan juangnya.
Gerakan Muhammadiyah berkiprah di tengah-tengah masyarakat bangsa
Indonesia dengan membangun berbagai ragam amal usaha yang benar-
benar dapat menyentuh hajat orang banyak seperti berbagai ragam
lembaga pendidikan sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi,
membangun sekian banyak rumah sakit, panti-panti asuhan dan
sebagainya. Semua amal usaha Muhammadiyah seperti itu tidak lain
merupakan suatu manifestasi dakwah islamiyah. Semua amal usaha
diadakan dengan niat dan tujuan tunggal, yaitu untuk dijadikan sarana dan
wahana dakwah Islamiyah.
3. Muhammadiyah adalah gerakan tajdid
Muhammadiyah sejak semula menempatkan diri sebagai salah satu
organisasi yang berkhidmat menyebarluaskan ajaran Agama Islam
sebagaimana yang tercantum dalam Alquran dan Assunah, sekaligus
memebersihkan berbagai amalan umat yang terang-trangan menyimpang
dari ajaran Islam, baik berupa khurafat, syirik, maupun bid’ah lewat
gerakan dakwah. Muhammadiyah sebagai salah satu mata rantai dari
gerakan tajdid yang diawali oleh ulama besar Ibnu Taimiyah sudah barang
tentu ada kesamaaan nafas, yaitu memerangi secara total berbagai
penyimpangan ajaran Islam seperti syirik, khurafat, bid’ah dan tajdid, sbab
semua itu merupakan benalu yang dapat merusak akidah dan ibadah
seseorang.
Sifat Tajdid yang dikenakan pada gerakan Muhammadiyah
sebenarnya tidak hanya sebatas pengertian upaya memurnikan ajaran
Islam dari berbagai kotoran yang menempel pada tubuhnya, melainkan
juga termasuk upaya Muhammadiyah melakukan berbagai pembaharuan
cara-cara pelaksanaan Islam dalam kehidupan bermasyarakat, semacam
memperbaharui cara penyelenggaraan pendidikan, cara penyantunan
terhadap fakir miskin dan anak yatim, cara pengelolaan zakat fitrah dan
zakat harta benda, cara pengelolaan rumah sakit, pelaksanaan sholat Id dan
pelaksanaan kurba dan sebagainya.
Untuk membedakan antara keduanya maka tajdid dalam pengertian
pemurnian dapat disebut purifikasi (purification) dan tajdid dalam
pembaharuan dapat disebut reformasi (reformation). Dalam hubungan
dengan salah satu ciri Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid, maka
Muhammadiyah dapat dinyatakan sebagai Gerakan Purifikasi dan Gerakan
Reformasi.

G.  Manusia Sebagai Mahluk Mulia


Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia
dibandingkan  dengan makhluk lainnya seperti Malaikat, Iblis, Hewan,
dsb. Adapun kemuliaan manusia bermula ketika Allah berkehendak
menjadikan Nabi Adam sebagai Khalifah-Nya di atas muka bumi dengan
misi ibadah kepada-Nya. Kehendak Allah menjadikan manusia sebagai
Khalifah-Nya  di bumi itu tentunya berdasarkan ilmu dan perencanaan-
Nya yang sangat matang. Sebab itu, ketika para malaikat mempertanyakan
rencana Allah tersebut, Allah menjawabnya:
“Sungguh Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui.” (QS. Al-
Baqarah : 30).
Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia selama mereka
dapat memanfaatkan secara optimal tiga anugerah keistimewaan /
kelebihan yang mereka miliki yakni, Spiritual, Emotional, dan Intellectual
dalam diri mereka sesuai misi dan visi penciptaan meraka. Namun apabila
terjadi penyimpangan misi dan visi hidup, mereka akan menjadi makhluk
paling hina, bahkan lebih hina dari binatang dan Iblis bilamana mereka
kehilangan control atas ketiga keistimewaan yang mereka miliki.
Penyimpangan misi dan visi hidup akan menyebabkan derajat manusia
jatuh di Mata Tuhan Pencipta dan di dunia
AL-Islam Kemuhammadiyahan  VI
Semester VI

A.  Peran Islam Dalam Perkembangan Iptek


Perkembangan islam dalam perkembangan iptek pada dasarnya ada
2 (dua)Pertama, menjadikan aqidah islam sebagai paradigma ilmu
pengetahuan.Paradigma inilah yang seharusnya dimiliki umat islam, bukan
paradigma sekuler seperti yang ada sekarang.
       Paradigma islam ini menyatakan bahwa akidah islam wajib dijadiakan
landasan pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi seluruh bangunan ilmu
pengetahuan.Ini bukan berarti menjadi aqidah islam sebagai sumber segala
macam ilmu pengetahuan , melainkan sebagai standar bagi semua ilmu
pengetahuan. Maka ilmu pengetahuan yang sesuai dengan aqidah islam
dapat diterima dan diamalkan, sedang yang bertentangh islam
dengannya,wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan.
       Kedua, menjadikan syariat islam (yang lahir dari aqidah islam)
sebagai standar bagi pemanfaatan iptek dalam kehidupan sehari-hari.
Standar atau kriteria inilah yang seharusnya yang digunakan umat islam,
bukan standar manfaat (pragmantisme/utilitarianisme) seperti yang ada
sekarang. Standar syariah ini mengatur , bahwa boleh tidaknya
pemanfaatan iptek, didasarkan pada ketentuan halal – haram (hukum-
hukum syariat islam). Umat islam boleh memanfaatkan iptek, jika
dihalalkan oleh syariah islam. Sebaliknya jika suatu aspek iptek telah
diharamkan syariah, maka tidak boleh umat islam memanfaatkannya,
walaupun ia menghasilaka manfaat sesat untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di satu
sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup
manusia.
B.  Paradigma Hubungan Agama – Iptek
Memperjelas, akan disebutkan dulu beberapa pengertian dasar.
Ilmu pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang
diperoleh melalui proses yang disebut metode ilmiah (scientific method)
(Jujun S. Suriasumantri, 1992). Sedang teknologi adalah pengetahuan dan
keterampilan yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam
kehidupan manusia sehari-hari (Jujun S. Suriasumantri, 1986).
Perkembangan iptek adalah hasil dari segala langkah pemikiran untuk
memperluas, memperdalam dan mengembangkan iptek (Agus, 1999).
Agama yang dimaksud di sini adalah agama islam yaitu agama
yang di turunkan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW untuk
mengantar hubungan manusia dengan penciptanya (aqidah dan aturan
ibadah), hubungan manusia dengan dirinya sendiri (dengan aturan akhlak,
makanan, dan pakaian), hubungan manusia dengan lainnya (denag atura
muamalah dan uqubat atau sistem pidana) (An- Nabahni, 2001). Secara
garis besar, berdasarkan tinjauan ideologi yang mendasari hubungan
keduanya, terdapat 3 jenis paradigma (Lihat Yahya Farghal, 1990) : 99-
119.
Pertama, paradigma sekuler yaitu paradigma yang memandang agama dan
iptek adalah terpisah satu sama lain. Sebab dalam ideologi sekularisme
agama barat, agama telah dipisahkan dari kehidupan (Fash al-din an al
hayah).
Kedua, paradigma sosialis yaitu paradigma dari ideologi sosialisme
menafikkan eksistensi agama sama sekali. Agama itu tidak ada, hubungan
dan kaitan apapun dengan iptek. Iptek bisa saja berjalan independen dan
lepas secara total dari agama. Paradigama ini mirip dengan paradigma
sekulaer di atas, tapi lebih dinafikkan keberadaannya, hanya dibatasi
perannya dalam hubungan vertikal manusia dalam paradigma sosialis,
agama dipandang secara ateistik, yaitu dianggap tidak ada(in-exist) dan
dibuang sama sekali dari kehidupan.
Ketiga, paradigma islam yaitu paradigma yang memandang bahwa
agama adalah dasar dan pengatur kehidupan. Aqidah islam menjadi basis
dari segala ilmu pengetahuan. Aqidah islam yang terwujud dalam Al-
Qur’an dan Al hadist menjadi kaedah, fikriyah pemikiran, yaitu satu asas
yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu
pengetahuan manusia.

I. Pengertian Ilmu Falak


Istilah Ilmu Falak berasal dari Bahasa Arab ‘Ilmu l-Falaki  
Al-Falak berarti madāru n-Nujum atau lintasan beredarnya bintang-bintang
(dalam pengertian mencakup keseluruhan benda-benda langit) atau orbit benda-
benda langit.
 
Istilah Ilmu Falak kemudian dipergunakan dalam 2 pengertian sesuai konteks
penggunaannya:

1. Ilmu Falak dalam konteks keilmuan secara umum adalah ilmu yang
mempelajari benda-benda langit dari segi peredarannya, kuantitasnya,
kualitasnya, materi penyusunnya dan sifat-sifatnya, dan sebagainya. Ilmu
Falak dalam pengertian ini semakna dengan istilah astronomi.
2. Ilmu Falak dalam konteks keilmuan syar‘i adalah ilmu yang mempelajari
pergerakan benda-benda langit untuk tujuan mempermudah terlaksananya
suatu rukun atau syarat dari suatu ‘ibādah dalam Islām. Ilmu Falak dalam
pengertian kedua juga disebut Ilmu Falak Syar‘i (‘Ilmu l-Falaki sy-
Syar‘iy).

Materi yang dikaji dalam Ilmu Falak Syar‘i berkisar pada 4 bidang kajian:

1. Arah Kiblat (Simtu l-Qiblati)


2. Waktu Shalat (Auqātu sh-Shalāti)
3. Awal Bulan Hijri (Awāilu sy-Syuhūri l-Hijriyyati)
4. Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari (Khusūfu l-Qamar wa Kusūfu sy-
Syams)
 Keempat bidang kajian tersebut dapat pula dikategorikan menjadi 4 jenis kajian:

1. Kajian dari segi ru’yah (observasi): mencakup antara lain


teknik ru’yah (observasi), pemilihan tempat ru’yah (observasi), macam-
macam alat bantu ru’yah (observasi), teknik penggunaan alat
bantu ru’yah (observasi), pengembangan alat bantu ru’yah (observasi),
dan sebagainya.
2. Kajian dari segi ḥisāb (perhitungan): mencakup macam-macam metode
perhitungan (anwā‘u manāhiji l-ḥisāb), teknik perhitungan (kaifiyyātu l-
ḥisāb), macam-macam alat bantu perhitungan dan teknik penggunaannya
(anwā‘u adawāti l-ḥisābi wa kaifiyyātu (i)stikhdāmihā), pengembangan
alat bantu perhitungan (tathwīru adawāti l-ḥisābi), penyusunan program
aplikasi perhitungan falakiyyah (tashmīmu al-barāmiji al-ḥisābiyyati l-
falakiyyati), dan sebagainya.
3. Kajian dari segi tārīkh (sejarah): mencakup kajian tentang perkembangan
Ilmu Falak, biografi tokoh-tokoh dalam bidang Ilmu Falak, perkembangan
alat bantu perhitungan falakiyyah, dan sebagainya.
4. Kajian dari segi fiqh (hukum Islām): mencakup kajian tentang dasar-dasar
hukum (adillatu l-aḥkām) menghadap ke arah kiblah ketika shalat, awal
waktu shalat, awal bulan hijri, shalat gerhana matahari dan gerhana bulan
(shalātu l-kusūfi wa l-khusūfi), dan sebagainya. Tentu saja kajian Ilmu
Falak dari segi fiqh (hukum Islām) mencakup juga kajian tentang
perbedaan pendapat dalam penyimpulan hukum dari dasar-dasar hukum
yang ada (al-ikhtilāf fī (i)stitsmāri l-aḥkāmi min adillatihā at-tafshīliyyah)
dan perbandingan antara pendapat-pendapat tersebut (al-muqāranah baina
l-ārā’i l-mukhtalifah). Sehingga sulit dipungkiri kajian Ilmu Falak dari
segi fiqh berpotensi menimbulkan hal-hal yang negatif seperti: perdebatan
yang sulit diselesaikan, mengklaim paling benar (claim of truth), saling
memojokkan antar individu atau kelompok yang saling berbeda pendapat,
dan sebagainya. Hal-hal negatif tersebut selayaknya dihindari dalam
forum-forum yang bersifat sangat umum yang memungkinkan orang-
orang yang belum menguasai Ilmu Falak dari berbagai seginya dan juga
etika-etika dalam berdiskusi dan berdebat (ādābu l-munāzharah wa l-
mujādalah) ikut terlibat di dalamnya. Kajian Ilmu Falak dari segi fiqh
yang berkaitan dengan penguatan salah satu pendapat seharusnya hanya
melibatkan individu-individu yang menguasai Ilmu Falak dari berbagai
seginya, ilmu-ilmu alat penemuan hukum Islām (terutama Ushūlu l-Fiqh,
‘Ulūmu l-Ḥadīts, dan sebagainya), dan etika-etika dalam berdiskusi dan
berdebat (ādābu l-munāzharah wa l-mujādalah) agar tidak menimbulkan
akibat-akibat negatif.

II. Pengertian dan Materi Ilmu Hisab


Istilah Ilmu Hisab berasal dari Bahasa Arab ‘Ilmu l-Ḥisābi.
Al-Ḥisāb berarti al-‘add (perhitungan).
Istilah Ilmu Hisab juga memiliki 2 pengertian tergantung konteks penggunaannya:

1. Ilmu Hisab dalam pengertian luas yaitu ilmu yang membahas sifat-sifat
bilangan, operasi-operasi perhitunga pada bilangan dan sifat-sifat dari
operasi-operasi tersebut. Ilmu Hisab dalam pengertian luas ini semakna
dengan istilah arithmetic (aritmatika/ilmu hitung) yang merupakan salah
satu cabang Matematika (Riyādliyyah).

Ilmu Hisab dalam pengertian sempit menjadi nama lain dari Ilmu Falak.
Hal tersebut karena Ilmu Falak pada masa-masa lampau lebih banyak
dikaji dari segi ḥisāb-(perhitungan)nya di samping segi ru’yah (observasi).

HIDUP ISLAMI
A. KEHIDUPAN PRIBADI
2. Dalam Aqidah
1.1.Setiap warga Muhammadiyah harus memiliki prinsip hidup dan
kesadaran imani berupa tauhid kepada Allah Subhanahu Wata'ala23 yang
benar, ikhlas, dan penuh ketundukkan sehingga terpancar sebagai lbad ar-
rahman24 yang menjalani kehidupan dengan benar-benar menjadi
mukmin, muslim, muttaqin, dan muhsin yang paripurna.
1.2.Setiap warga Muhammadiyah wajib menjadikan iman25 dan tauhid26
sebagai sumber seluruh kegiatan hidup, tidak boleh mengingkari keimanan
berdasarkan tauhid itu, dan tetap menjauhi serta menolak syirk, takhayul,
bid'ah, dan khurafat yang menodai iman dan tauhid kepada Allah
Subhanahu Wata'ala27.
2. Dalam Akhlaq
2.1.Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk meneladani perilaku Nabi
dalam mempraktikkan akhlaq mulia28, sehingga menjadi uswah
hasanah29 yang diteladani oleh sesama berupa sifat sidiq, amanah,
tabligh, dan fathanah.
2.2.Setiap warga Muhammadiyah dalam melakukan amal dan kegiatan
hidup harus senantiasa didasarkan kepada niat yang ikhlas30 dalam wujud
amalamal shalih dan ihsan, serta menjauhkan diri dari perilaku riya’,
sombong, ishraf, fasad, fahsya, dan kemunkaran.
2.3.Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk menunjukkan akhlaq
yang mulia (akhlaq al-karimah) sehingga disukai/diteladani dan
menjauhkan diri dari akhlaq yang tercela (akhlaq al-madzmumah) yang
membuat dibenci dan dijauhi sesama.

2.4.Setiap warga Muhammadiyah di mana pun bekerja dan menunaikan


tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari harus benar-benar menjauhkan
diri dari perbuatan korupsi dan kolusi serta praktik-praktik buruk lainnya
yang merugikan hak-hak publik dan membawa kehancuran dalam
kehidupan di dunia ini.
23 Q.S. Al-Ikhlash/112: 1 s/d 4
24 Q.S. Al-Furqan/25: 63-77
25 Q.S. An-Nisa/4: 136
26 Q.S. Al-Ikhlash/112: 1 s/d 4
27 Q.S. Al-Baqarah/2: 105, 221; An-Nisa/4: 48; Al-Maidah/5: 72; Al-
`An'am/6: 14, 22 s/d
23, 101, 121; At-Taubah/9: 6, 28, 33; Al-Haj/22: 31; Luqman/31: 13 s/d 15
28 Q.S. Al-Qalam/68 : 4
29 Q.S. Al Ahzab/33: 21
30 Q.S. Al-Bayinah/98: 5, Hadist Nabi riwayat Bukhari-Muslim dari Umar
bin Khattab

3. Dalam Ibadah
3.1.Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk senantiasa membersihkan
jiwa/hati ke arah terbentuknya pribadi yang mutaqqin dengan beribadah
yang tekun dan menjauhkan diri dari jiwa/nafsu yang buruk31, sehingga
terpancar kepribadian yang shalih32 yang menghadirkan kedamaian dan
kemanfaatan bagi diri dan sesamanya.
3.2.Setiap warga Muhammadiyah melaksanakan ibadah mahdhah dengan
sebaik-baiknya dan menghidup suburkan amal nawafil (ibadah sunnah)
sesuai dengan tuntunan Rasulullah serta menghiasi diri dengan iman yang
kokoh, ilmu yang luas, dan amal shalih yang tulus sehingga tercermin
dalam kepribadian dan tingkah laku yang terpuji.

B. KEHIDUPAN DALAM KELUARGA


1. Kedudukan Keluarga
1.1.Keluarga merupakan tiang utama kehidupan umat dan bangsa sebagai
tempat sosialisasi nilai-nilai yang paling intensif dan menentukan,
karenanya menjadi kewajiban setiap anggota Muhammadiyah untuk
mewujudkan kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah
warahmah40 yang dikenal dengan Keluarga Sakinah.
1.2.Keluarga-keluarga di lingkungan Muhammadiyah dituntut untuk
benar-benar dapat mewujudkan Keluarga Sakinah yang terkait dengan
pembentukan Gerakan Jama’ah dan da'wah Jama’ah menuju
terwujudnya Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
2. Fungsi Keluarga
2.1.Keluarga-keluarga di lingkungan Muhammadiyah perlu difungsikan
selain dalam mensosialisasikan nilai-nilai ajaran Islam juga
melaksanakan fungsi kaderisasi sehingga anak-anak tumbuh menjadi
generasi muslim Muhammadiyah yang dapat menjadi pelangsung dan
penyempuma gerakan da'wah di kemudian hari.
2.2.Keluarga-keluarga di lingkungan Muhammadiyah dituntut keteladanan
(uswah hasanah) dalam mempraktikkan kehidupan yang Islami yakni
tertanamnya ihsan/kebaikan dan bergaul dengan ma’ruf41, saling
menyayangi dan mengasihi42, menghormati hak hidup anak43, saling
menghargai dan menghormati antar anggota keluarga, memberikan
pendidikan akhlaq yang mulia secara paripuma44, menjauhkan segenap
anggota keluarga dari bencana siksa neraka45, membiasakan
bermusyawarah dalam menyelasaikan urusan46, berbuat adil dan
ihsan47, memelihara persamaan hak dan kewajiban48, dan menyantuni
anggota keluarga yang tidak mampu49.
C. KEHIDUPAN BERMASYARAKAT
1. Islam mengajarkan agar setiap muslim menjalin persaudaraan dan kebaikan
dengan sesama seperti dengan tetangga maupun anggota masyarakat lainnya
masing-masing dengan memelihara hak dan kehormatan baik dengan sesama
muslim maupun dengan non-muslim, dalam hubungan ketetanggaan bahkan Islam
memberikan perhatian sampai ke area 40 rumah yang dikategorikan sebagai
tetangga yang harus dipelihara hak-haknya.
2. Setiap keluarga dan anggota keluarga Muhammadiyah harus menunjukkan
keteladanan dalam bersikap baik kepada tetangga50, memelihara kemuliaan dan
memuliakan tetangga51, bermurah-hati kepada tetangga yang ingin menitipkan
barang atau hartanya52, menjenguk bila tetangga sakit53, mengasihi tetangga
sebagaimana mengasihi keluarga/diri sendiri54, menyatakan ikut
bergembira/senang hati bila tetangga memperoleh kesuksesan, menghibur dan
memberikan perhatian yang simpatik bila tetangga mengalami musibah atau
kesusahan, menjenguk/melayat bila ada tetangga meninggal dan ikut mengurusi
sebagaimana hak-hak tetangga yang diperlukan, bersikap pemaaf dan lemah
lembut bila tetangga salah, jangan selidik-menyelidiki keburukan-keburukan
tetangga, membiasakan memberikan sesuatu seperti makanan dan oleh-oleh
kepada tetangga, jangan menyakiti tetangga, bersikap kasih sayang dan lapang
dada, menjauhkan diri dari segala sengketa dan sifat tercela, berkunjung dan
saling tolong menolong, dan melakukan amar ma'ruf nahi munkar dengan cara
yang tepat dan bijaksana.
3. Dalam bertetangga dengan yang berlainan agama juga diajarkan untuk bersikap
baik dan adil55, mereka berhak memperoleh hak-hak dan kehormatan sebagai
tetangga56, memberi makanan yang halal dan boleh pula menerima makanan dari
AL – Islam Kemuhammadiyahan VII

Semester VII

A. KEPEMIMPINAN ISLAM

Khalifah adalah bentuk tunggal dari khulafa yang berarti menggantikan


orang lain disebabkan ghaibnya (tidak ada di tempat) orang yang akan digantikan
atau karena meninggal atau karena tidak mampu atau sebagai penghormatan
terhadap apa yang menggantikannya. Ar Roghib Al Asfahani dalam mufradat
mengatakan makna kholafah fulanan berarti bertanggung jawab terhadap
urusannya secara bersama-sama dengan dia atau setelah dia. Dalam konteks
firman Allah SWT dalam surat Al Baqoroh, ayat 20:

“sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah dimuka bumi,”

Para mufasir menjelaskan bahwa khalifa Allah adalah para nabi dan orang-
orang yang menggantikan kedudukan mereka dalam menjalankan ketaatan kepada
Allah, mengatur urusan manusia dan menegakkan hukum secara adil. Menurut
Roghib Asfahani, penisbatan itu sendiri adalah bentuk penghormatan yang
diberikan Allah SWT kepada mereka.

Khilafah (kepemimpinan) menjadi isu krusial dan tema sentral dalam


sistem politik Islam. Sedemikian krusialnya isu itu membuat para sahabat
menunda pemakaman Nabi untuk berkumpul di Bani Tsaqifah. Mereka
bermusyawarah untuk mengangkat pemimpin (Kholifah) pengganti Nabi. Allah
SWT berfirman:

“ Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di


antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh-
sungguh akan menjadikan mereka berkuasa (khalifah) dimuka bumi,
sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan agama yang telah diridhai-
Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,
sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap
menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan
Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka
itulah orang-orang yang fasik” (Qs. 24:55)

Terminologi Khilafah sendiri dipakai untuk menjelaskan tugas yang


diemban para pemimpin pasca kenabian. Istilah itu digunakan untuk membedakan
sistem kerajaan dan kepemimpinan diktator. Hal ini menyiratkan bahwa sistem
khalifah yang dimaksud dalam berbagai hadist di atas adalah bahwa sistem
khalifah ini sejalan dengan prinsip-prinsip kenabian (nubuwwah). Sistem
kepemimpinan ini dibangun dari antitesis sistem kerajaan dimana kekuasaan
berdasarkan pewarisan keluarga (dinasti) ataupun sistem diktator yang cenderung
berbuat zalim dan tidak disukai rakyat.

Ibnu Taimiyah dalam Minhajus Sunnah menjelaskan bahwa “Khulafaur


Rasyidin yang berlangsung tiga puluh tahun adalah kepemimpinan kenabian dan
kemudian urusan itu pemerintah beralih ke Muawiyyah, seorang raja pertama. Al
Mulk (raja-raja) adalah orang yang memerintah yang tidak menyempurnakan
syarat-syarat kepemimpinan dalam islam (khilafah).”

Kepemimpinan dalam perspektif khilafah lebih merefleksikan pemahaman


terhadap nilai dan prinsip kepemimpinan yang benar menurut islam ketimbang
sebagai sebuah eksistensi maupun bentuk pemerintahan. Khilafah lebih
merupakan subtansi nilai yang bersifat dinamis. Kekhilafahan sebagai prinsip nilai
dan idealitas yang diembannya, yakni penegakan syariah bukan sebagai lembaga
pemerintahan. Kekhilafahan sebagai sebuah nilai setidaknya mengacu kepada dua
hal pokok, yakni pertama, kepemimpinan (khilafah) itu harus merefleksikan
kewajiban meneruskan tugas-tugas pasca kenabian untuk meminjam istilah Ibnu
Hayyan mengatur urusan umat, menjalankan hukum secara adil dan
mensejahterahkan umat manusia serta melestarikan bumi. Kedua, kepemimpinan
harus dibangun berdasarkan prinsip kerelaan dan dukungan mayoritas umat,
bukan pendelegasian kekuasaan berdasarkan keturunan (muluk) dan kediktatoran
(jabariyah). Islam tidak menetapkan khilafah seperti institusi politik dengan
hirarki dan pola kelembagaan baku yang rigid dan memiliki otoritas politik tanpa
batas seperti layaknya raja. Ini berarti Islam memberikan keluasan kepada kaum
muslimin untuk merumuskan aplikasi kekuasaan dan bentuk pemerintahan beserta
perangkat-perangkat yang dibutuhkan dengan memperhatikan faktor kemaslahan
dan kepentingan perubahan zaman. Keluasan tersebut adalah hikmah bagi kaum
Muslimin, dimanapun mereka menemukan maka berhak memungutnya.

B. TUGAS PEMIMPIN

Secara garis besar menurut Al Mawardi ada 10 tugas pemimpin dalam


Islam, yakni :

1. Menjaga kemurnian agama.


2. Membuat keputusan hukum di antara pihak-pihak yang bersengketa.
3. Menjaga kemurnian nasab.
4. Menerapkan hukum pidana Islam.
5. Menjaga keamanan wilayah dengan kekuatan Militer.
6. Mengorganisir jihad dalam menghadapi pihak-pihak yang menentang
dakwah Islam.
7. Mengumpulkan dan mendistribusikan harta pampasan perang dan
zakat
8. Membuat anggaran belanja negara.
9. Melimpahkan kewenangan kepada orang-orang yang amanah.
10. Melakukan pengawasan melekat kepada hirarki dibawahnya, tidak
semat
11. Mengandalkan laporan bawahannya, sekalipun dengan alasan
kesibukan beribadah.
C. KARAKTER KEPEMIMPINAN ISLAM
Karakter kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan sipil. Mandat
kepemimpinan dalam Islam tidak ditentukan oleh Tuhan namun dipilih oleh umat.
Kedaulatan milik Tuhan namun sumber otoritas kekuasaan adalah umat Islam.
Pemimpin tidak memiliki kekebalan dosa (ma’shum) sehingga memungkinkan
yang bersangkutan menggabungkan semua kemuasaan baik eksekutif, legislatif,
maupun yudikatif dalam genggamannya. Islam tidak mengenal jenis pemerintahan
seperti yang dilakukan Eropa di abad pertengahan sebab khalifah dipilih dan dapat
diberhentikan oleh rakyat. Ibnu Hazam menyatakan bahwa para ulama bersepakat
(ijma’) perihal wajibnya khilfah atau imarah (kepemimpinan) dan bahwa
penentuan khalifah atau pemimpin menjadi kewajiban kaum Muslimin dalam
rangka melindungi dan mengurus kepentingan mereka.

Oleh karena itu, Abu Bakar Ra menolak mendapatkan panggilan khalifah


Allah dan memilih sebutan khalifah Rasul karena dia mewakili Nabi dalam
menjalankan tugas kepemimpinan dan sebagai khalifah, beliau juga memahami
kekuasaannya bersifat temporal, yang dipilih dan diawasi rakyat. Dengan
demikian, pemimpin bukan wakil Tuhan dimuka bumi. Dalam kepemimpinan
sipil, umat mengontrol dan memberhentikannya. Semua mazhab Ahli Sunnah Wal
Jamaah menyakini bahwa Rasulullah SAW tidak mencalonkan seorangpun untuk
memegang kendali kepemimpinan sepeninggal beliau. Abu Bakar menjadi
khalifah karena dipilih kaum Muslimin bukan karena menggantikan Nabi SAW
menjadi iman shalat. Demikian pula Umar diangkat sebagai khalifah bukan
semata karena diusulkan Abu Bakar namun karena beliau dipilih para sahabat dan
dibaiat mayoritas kaum muslimin.

Adapun berkaitan dengan pembagian wewenang kekuasaan Eksekutif,


legislatif, dan yudikatif dalam pandangan Ali Bahnasawi lebih merefleksikan
kebutuhan yang tidak terelakkan baik dalam perspektif strategis maupun teknis.
Nabi SAW sendiri telah mendelegasikan beberapa aspek legislatif kepada para
sahabat dan sepeninggal beliau, wewenang legislatif dan yudikatif dipisahkan dari
tugas kekhalifahan. Kondisi ini pula yang secara alamiah menjadi titik pijak
transformasi sistem peradilan sepanjang pemerintahan Islam pasca Nabi SAW,
seperti adanya lembaga qadhi dan hisbah, mahkamah mazhalim dan lain-lain.
Dalam konteks strategis, pembagian kekuasaan adalah sebagai upaya untuk
mengurangi kemungkinan adanya pelanggaran kekuasaan (abuse of power)
sebagai akibat terkonsentrasinya kekuasaan. Mengutip Lord acton, “power tends
to corupt, absolute power tends to absolute corrupt”. Tabiat kekuasaan tanpa
kendali moral akan cenderung korup dan menindas maka selain integritas moral
dibutuhkan sistem yang dapat menggaransi tabiat jahat kekuasaan tersebut
muncul.

D. SYARAT-SYARAT KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

Secara umum, Al Qur’an mensyaratkan seorang pemimpin diangkat karena


faktor keluasan pengetahuan (ilmi) dan fisik (jism) seperti dijelaskan dalam :

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka : “sesungguhnya Allah telah


mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab : “Bagaimana Thalut
memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan dari
padanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi
(mereka) berkata : “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan
menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan
pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas
pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Baqarah : 247)

Syarat kepemimpinan menurut Ibnu Taimiyyah mencakup dua aspek, yaitu


Qawiy kekuatan (fisik dan intelektual) dan Amin (dapat dipercaya). Sedangkan Al
Mawardi menetapkan tujuh syarat kepemimpinan yang mencakup adil, memiliki
kemampuan berijtihaj, sehat jasmani, tidak memiliki cacat fisik yang menghalangi
menjalankan tugas, memiliki visi yang kuat, pemberani dalam mengambil
keputusan, memiliki nasab Quraisy.

Berpijak dari pemahaman umum nash dari Al qur’an dan sunnah, serta
pandangan ulama, setidaknya ada tiga syarat utama kepemimpinan dalam Islam,
yakni integrasi aspek keluasan Ilmu, integrasi moral (kesalihan individual) dan
kemampuan profesional. Yang dimaksudkan keluasan ilmu, seorang pemimpin
tidak hanya mampu menegakkan keadilan berdasarkan prinsip-prinsip dan kaidah
syariah, namun juga mampu berijtihaj dalam merespon dinamika sosial politik
yang terjadi ditengah masyarakat. Sementara kesalihan adalah kepemilikan sifat
amanah, kesucian dan kerendahan hati dan istiqomah dengan kebenaran. Adapun
profesional adalah kecakapan praktis yang dibutuhkan pemimpin dalam
mengelola urusan politik dan administrasi kenegaraan.

Jika tidak dipenuhi keseluruhan syarat-syarat tersebut maka diperintahkan


mengambil yang ashlah (lebih utama). Misalnya, jika kaum muslimin dihadapkan
kepada situasi untuk memilih salah satu dari dua pilihan yang buruk, yakni antara
seorang pemimpin yang cakap namun kurang shalih maka menurut Ibnu
Taimiyyah hendaknya didahulukan memilih pemimpin yang cakap sekalipun
kurang salih. Karena seorang pemimpin yang salih namun tidak cakap maka
kesalihan tersebut hanya bermamfaat bagi dirinya namun ketidakcakapannya
merugikan masyarakat sebaliknya pemimpin yang cakap namun kurang shalih
maka kecakapannya membawa kemaslahatan bagi masyarakat sementara ketidak
shalihannya merugikan dirinya sendiri.

E. HAK DAN KEWAJIBAN PEMIMPIN MUSLIM


1. Niat Yang Lurus

Hendaklah saat menerima suatu tanggung jawab, dilandasi dengan niat sesuai
dengan apa yang telah Allah perintahkan. Lalu iringi hal itu dengan
mengharapkan keridhaan-Nya saja. Kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung
jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.

2. Laki- Laki

Wanita sebaiknya tidak memegang tampuk kepemimpinan. Rasulullah


Shalallahu’ alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan beruntung kaum yang
dipimpin oleh seorang wanita” (Riwayat Bukhari dari Abu Bakarah
Radhiyallahu’anhu).
3. Tidak Meminta Jabatan

Rasulullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,


“Wahai Abdul Rahman bin Samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi
pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena
permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.”(Riwayat Bukhari
dan Muslimin)

4. Berpegang pada Hukum Allah

Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin, Allah berfirman, “Dan
hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang
diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al
Maaidah : 49). Jika ia meninggalkan hukum Allah, maka seharusnya dicopot dari
jabatannya.

5. Memutuskan Perkara Dengan Adil

Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara


kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah
ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerumuskan oleh
Kezhalimannya,” (Riwayat Baihaqidari Abu Hurairah dalam kitab Al- Kabir).

6. Tidak Menutup Diri

Hendaklah selalu membuka pintu untuk setiap pengaduan dan permasalahan


rakyat. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang
menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan
menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.”
(Riwayat Imam Ahmad dan At Tirmidzi).

7. Menasehati Rakyat
Rasulullah bersabda, “Tidaklah Seorang pemimpin yang memegang urusan
kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka,
kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”

8. Mencari Pemimpin Yang Baik

Rasulullah bersabda. “ Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi atau


menjadikan seorang Khalifah kecuali ada bersama mereka itu golongan pejabat
(pembantu). Yaitu pejabat yang menyuruh kepada kebaikan dan mendorongnya
kesana, dan pejabat yang menyuruh kepada kemungkaran dan mendorongnya ke
sana. Maka orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah.”

9. Lemah Lembut

Do’a Rasulullah, “ Ya Allah barang siapa mengurus satu perkara umatku lalu
ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu
perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah
lembutlah kepadanya.

10. Tidak Meragukan dan Memata-matai Rakyat

Rasulullah bersabda, “ jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam


masyarakat, ia akan merusak mereka.”

F. KEPEMIMPINAN KOLEGIAL DALAM MUHAMMADIYAH

Kepemimpinan yang di kehendaki dalam Muhammadiyah termasuk ortom-


ortom adalah kepemimpinan yang kolegial. Sehingga dituntut sangat perlunya
dipenuhi persyaratan kepemimpinan yang telah disiapkan didalam Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Mohammad Djasman mengatakan bahwa, kepemimpinan yang efektif
dalam Muhammadiyah dapat di identifikasi sebagai berikut :

1. Mampu memahami diri sendiri. Kemampuan ini diperlukan karena seseorang


yang mampu memahami kekurangan dan kelebihannya akan dapat
mengambil keputusan sendiri, sektor kepemimpinan amal usaha mana yang
paling tepat baginya.
2. Mampu melakukan komunikasi.
3. Mempunyai kesadaran tentang perlunya untuk menambah ilmu.
4. Mempunyai kesadaran untuk menghayati nilai-nilai persyarikatan.
5. Mampu mengembangkan sikap sosialnya.

G. KEPEMIMPINAN RASULULLAH SAW DALAM KONTEKS MODERN

Dilihat dari kacamata kepemimpinan, tidak diragukan lagi bahwa Nabi


Muhammad SAW adalah seorang pemimpin yang sangat berhasil, yang sukses
dengan gilang gemilang. Untuk dapat menjadi pedoman dan teladan bagi kita
sekarang ini, marilah kita pelajari Sirah Rasulullah SAW, kenapa beliau berhasil
memimpin, apa rahasianya dapat kita lihat antara lain :

1. Selalu dibimbing Wahyu, ini adalah inti atau kunci dari semuanya, di dalam
memimpin Nabi Muhammad SAW selalu dibimbing wahyu. Berbeda dengan
pemimpin-pemimpin dunia yang lain, yang belajar sendiri dari pengalaman
dan buku-buku, maka Nabi Muhammad SAW langsung dibimbing oleh Allah
SWT Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana dan Maha Memimpin. Nabi
selalu dibimbing oleh wahyu baik secara langsung, maupun tidak langsung.
2. Menghidupkan Syura, rahasia kedua keberhasilan kepemimpinan Rasullah
SAW adalah syura atau musyawarah. Supaya seorang pemimpin dapat
berhasil dengan baik, setidaknya dia harus membuka diri untuk menerima
masukan dari berbagai pihak, baik yang disampaikan langsung secara pribadi
atau melalui forum-forum pertemuan yang memang sengaja diadakan untuk
mendiskusikan suatu persoalan. Musyawarah sangat diperlukan untuk dapat
mengambil keputusan yang paling baik, disamping untuk memperkokoh
persatuan dan menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama.
3. Keteladanan, adalah cara yang paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai
yang positif. Jika pemimpin memberikan contoh yang baik tentang kejujuran,
disiplin, kerja keras, tepat waktu, kebersihan dan nilai-nilai baik yang sudah
dicontohkan itu, maka pemimpin punya hak moral untuk menegur dan
meluruskannya.
4. Egaliter, rahasia keempat, Nabi adalah seorang yang egaliter, bukan feodalis.
Nabi tidak ingin diperlakukan berlebihan seperti orang-orang Persia
memperlakukan Kisra atau Kaisarnya. Egaliternya Nabi dapat dilihat dari
panggilan yang digunakan oleh Nabi kepada umatnya, yaitu Sahabat. Istilah
sahabat menunjukkan kesetaraan.
5. Mementingkan Kaderisasi, dalam memimpin Rasulullah SAW mementingkan
kaderisasi. Seorang pemimpin tidak boleh mematikan kader yang tumbuh.
Misalnya, kalau ada seseorang yang menonjol, sebagai pemimpin dia merasa
khawatir lalu mematikan, menutup langkahnya. Dia tidak ingin ada matahari-
matahari lain selain dirinya, dia ingin bersinar sendirian, yang lain redup. Itu
bukan seorang pemimpin yang punya visi kaderisasi kedepan.

Integrasi Pribadi, rahasia terakhir atau rahasia keenam keberhasilan


kepemimpinan Rasulullah SAW adalah karena beliau memiliki al-akhlaq al
karimah, sampai dipuji oleh Al-Qur’an. Beliau adalah seorang pemimpin yang
sangat mencintai umatnya. Beliau hidup dan bergaul serta dapat merasakan denyut
nadi mereka. Beliau sangat menyayangi Umatnya