Anda di halaman 1dari 4

1.

Abomasum
Pada praktikum didapatkan hasil bahwa abomasum merupakan perut sejati yang

memiliki pH sebesar 3,9. Hal ini sesuai dengan pendaat Priyono (2009), bahwa

abomasum memiliki pH 2-4,1. Abomasum cenderung bersifat asam karena di

abomasum sama halnya dengan lambung manusia yaitu terjadi pencernaan secara

kimiawi dan menghasilkan asam klorida (HCl) didalamnya. Selain pH juga

didapatkan hasil bobot kosong dari abomasum sebesar 0,089 kg, ini setara dengan

14% dari total lambung. Hasil ini berbeda jauh dengan pendapat Phillipson (1997)

bahwa bobot abomasum terhadap lambung total sebesar 23% untuk domba dewasa.

Untuk digesta pada abomasum memiliki warna hijau kekuningan dan memiliki halus

seperti lumpur. Ini diduga karena digesta tersebut telah mengalami penyerapan

sehingga partikel-partikel digesta pun semakin halus. Setelah abomasum kosong dan

dibersihkan, abomasum diisi dengan air dan didapatkan volume dari abomasum yaitu

sebesar 310 mL. Ini berbeda jauh dengan penelitian yang dilakukan Suwarno (2008)

yang menyatakan bahwa rataan Volume abdomen sebesar 109,2 mL. Menurut

Hungate (1966) volume alat pencernaan dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi

oleh ternak dan dipengaruhi oleh bobot badan.

2. Omasum
Pada saat praktikum Tekstur digesta yang didapat pada saat praktikum meliputi

digesta rumen kasar retikulum agak halus omasum halus dan digesta abomasum lebih

halus perbedaan tekstur digesta ini terjadi karena permukaan dan bentuk dari rumen

abomasum retikulum dan omasum yang berbeda hal tersebut sesuai dengan

pernyataan ensminger (1993) yang menyatakan bahwa rumen memiliki filli, retikulum

berbentuk seperti sarang lebah dan omasum berbentuk seperti perut buku karena

didalamnya tersusun lembaran-lembaran jaringan.

Berdasarkan praktikum digesta yang didapat pada omasum padat dan di abomasum

lebih encer, ini disebabkan di omasum terjadi penyerapan air dan di abomasum terjadi
pencernaan kimiawi oleh asam lambung hal tersebut sesuai dengan pendapat Priyono

(2009) yang menyatakan omasum memiliki fungsi untuk penggilingan dan

penyaringan, lokasi fermentasi, absorbsi makanan, dan air, sehingga menjadi lebih

kering di omasum. Fungsi omasum juga adalah untuk digesti, menyaring partkel

pakan yang besar, absorpsi dan mengatur arus ingesta ke abomasum (Prihartini,

2013). Partikel yang masih terlalu besar akan dikembalikan ke retikulum dan akan

mengalami regurgitasi (dikeluarkan kembali ke mulut) untuk mengalami proses re-

mastikasi (pengunyahan kembali) (Rianto dan Purbowati, 2009).Hasil pH omasum

yaitu 6,2, hal ini sesuai dengan pendapat Tamminga dan Doreau (1991) pH omasum

berkisar antara 5,2 – 6,5.

3. Usus Halus
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bobot usus halus sebesar 609 gram, dan

usus besar 1141 gram. Pada usus halus terjadi penyerapan. Proses digesti dan absorpsi

hasil digesti terjadi pada intestinum tenue (Praseno, 2003). Nilai pH yang didapatkan

saat praktikum yaitu pH usus halus sebesar 6,7 yang artinya mendekati normal. Hal

ini sesuai menurut Frandson (1996), pH normal yang terdapat pada usus halus adalah

7. Menurut pernyataan Rianto dan Purbowati (2009), bahwa kelenjar duodenum

menghasilkan cairan yang bersifat alkali sebagai pelumas dan melindungi dinding

duodenum. Cairan inilah yang bercampur dengan digesta dari rumen yang bersifat

asam, sehingga pH dari digesta yang berada di usus halus mendekati netral.

berdasarkan hasil praktikum panjang usus halus domba 14,09 meter hal ini sesuai

pendapat constantinescu (2010) yang menyatakan bahwa rata-rata panjang usus halus

domba 12 - 20 m dan terdiri dari 3 segmen yaitu duodenum jejunum dan ileum.

didapat juga bobot usus halus domba sebesar 609 gram dan berat kosong 456 gram

hal ini berbeda dengan pendapat Herman (2003) bahwa bobot usus halus pada domba

sebesar 462 gram dan berat kosong 369 gram perbedaan bobot usus halus dan berat

kosong ini dipengaruhi oleh jumlah digesta dari jumlah pakan yang dikonsumsinya.

Warna dan tekstur yang didapat dari hasil praktikum usus halus berwarna hijau muda
dan berlendir hal ini sesuai dengan pendapat Lim (2004) bahwa warna hijau muda dan

berlendir dikarenakan pada usus halus dipengaruhi oleh sekresi yang terjadi di

duodenum itu sendiri dan hanya sari-sari makanan yang diserap.

Daftar pustaka
Constantinescu GM. 2007. Female genital organs. Di dalam: Schatten H, Constantinescu GM, editor.
Comparative Reproductive Biology. USA: Blackwell Publishing. hlm 13.

Ensminger, M. L. 1993. Feed and Nutrition. 2nd Edition. The Ensminger Publishing Company,
California.

Frandson. domba. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Diterjemahkan Oleh : B.
Srigandono dan Koen Praseno. Yogyakarta : UGM Press. Hal : 528, 542-552.
Priyono. 2009. Pencernaan Pakan pada Ternak Ruminansia. Ilmu Ternak Universitas
Diponegoro: Semarang
Hungate, R.E. 1996. The Rumen and its Microbes. Academic Press. New York
Herman, R. 2003. Budidaya Ternak Ruminansia Kecil. Fakultas Peternakan, Insitut Pertanian Bogor.
Bogor.

Phillipson, A. T. 1997. Ruminant Digestion In : M.J. Swenson, ed. Duke’s Physiology of


Domestic Animal. 9th Ed. Cornell University Press. Ithaca
Suwarno, J. 2008. Pengaruh Rasio Pemberian Pakan yang Berbeda terhadap Produksi VFA
dan NH3 Rumen serta Kapasitas Lambung Domba Jantan Lokal. Skripsi. Program Studi Ilmu
Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor : Bogor.
Praseno, K., Isroli., dan B. Sudarmoyo. 2003. Fisiologi Ternak. Semarang, Proyek Semique.
Prihartini. 2013. Pencernaan Pakan pada Ternak Ruminansia. Ilmu Ternak Universitas
Diponegoro: Semarang
Rianto, E dan E. Purbowati. 2009. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya: Jakarta
Tamminga S., Doreau M. (1991): Lipids and rumen digestion. In: Jouany J.P. (ed.): Rumen
Microbial Metabolism and Ruminant Digestion. INRA, Paris. 151–160.