Anda di halaman 1dari 40

TUGAS TERSTRUKTUR

KESEHATAN REPRODUKSI DAN KELUARGA BERENCANA


KONSEP KB

DOSEN :

Rahayu Budi Utami, S.SiT, M.Kes

Jehani Fajar Pangestu, SST., M.Kes

Astrisaria, SST (Pj. Instruktur)

Disusun Oleh: Kelompok 7

Agustin Dwi Eriska ( 20185121001 )

Dini Nurkholidah ( 20185123015 )

Ega Saputri ( 20185123018 )

Nurul Atisya Wahyuningsih ( 20185123044 )

POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

JURUSAN KEBIDANAN

PRODI DIII KEBIDANAN

TINGKAT II SEMESTER III

TAHUN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji Syukur Alhamdullilah penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha


Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan
sehingga makalah ini bisa selesai pada waktunya.
Terima kasih juga penulis ucapkan kepada teman-teman yang telah
berkontribusi dengan memberikan ide-ide sehingga makalah ini bias disusun
dengan baik dan rapi.
Penulis berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para
pembaca. Namun terlepas dari itu, penulis memahami bahwa makalah ini masih
jauh dari kata sempurna, sehingga penulis sangat mengharapkan kritik serta saran
yang bersifat membangun demi tercapainya makalah selanjutnya yang lebih baik
lagi

Pontianak, September 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Pokok – Pokok Materi...................................................................................1
C. Tujuan Umum...............................................................................................2
D. Tujuan Khusus..............................................................................................2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian KB...............................................................................................4
B. Manfaat KB...................................................................................................4
C. Metode Keluarga Berencana Sederhana.......................................................5
D. Sejarah KB di Indonesia.............................................................................12
E. 5 Faktor - faktor yang Mempengaruhi Perkembangan KB di Indonesia....18
F. Organisasi – organisasi KB di Indonesia....................................................19
G. RENCANA STRATEGIS PKBI 2010-2020...........................................23
H. BKKBN.......................................................................................................25
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................35
B. Saran............................................................................................................35
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................36

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan
kesehatan preventif yang utama bagi wanita. Keluarga Berencana menurut
WHO ( World Health Organization) adalah tindakan yang membantu
pasangan suami istri untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mengatur jarak kelahiran, dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Tujuan program KB adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan
kekuatan sosial ekonomi.
Program keluarga berencana memberikan kesempatan untuk
mengatur jarak kelahiran atau mengurangi jumlah kelahiran dengan
menggunakan metode kontrasepsi hormonal atau non hormonal. Upaya ini
dapat bersifat sementara ataupun permanen, meskipun masing-masing
jenis kontrasepsi memiliki tingkat efektivitas yang berbeda dan hampir
sama.
Penggunaan kontrasepsi merupakan tanggung jawab Bersama
antara pria dan wanita sebagai pasangan, sehingga metode kontrasepsi
yang akan dipilih sesuai dengan kebutuhan serta keinginan Bersama.
Dalam hal ini bisa saja pria yang memakai kontrasepsi seperti kondom,
coitus interruptus (senggama terputus) dan vasektomi. Sementara itu
apabila istri yang menggunakan kontrasepsi suami mempunyai peranan
penting dalam mendukung istri dan menjamin efektivitas pemakaian
kontrasepsi.

B. Pokok – Pokok Materi


1. Konsep KB
a. Pengertian KB
b. Manfaat KB
c. Macam – Macam Metode KB

1
d. Sejarah KB

2. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan KB di


Indonesia
a. Sosial Ekonomi
b. Budaya
c. Pendidikan
d. Agama
e. Status Wanita

3. Organisasi – Organisasi KB di Indonesia


a. PKBI ( Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia )
1) Sejarah PKBI
2) Visi dan Misi PKBI
3) Strategi PKBI
4) Rencana Strategis PKBI
5) Struktur PKBI
b. BKKBN ( Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional )
1) Pengertian BKKBN
2) Sejarah BKKBN
3) Susunan Organisasi
4) Kepala BKKBN

C. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami konsep kependudukan dan keluarga
berencana.

D. Tujuan Khusus
Mahasiswa memahami konsep keluarga berencana serta organisasi –
organisasi yang KB di Indonesia, yaitu tentang :

2
1. Pengertian KB
2. Manfaat KB
3. Macam – macam metode KB
4. Sejarah KB di Indonesia
5. Faktor – factor yang mempengaruhi perkembangan KB di Indonesia
6. Organisasi – organisasi di Indonesia.

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian KB
Keluarga berencana adalah gerakan untuk membentuk keluarga
yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Itu bermakna
adalah perencanaan jumlah keluarga dengan pembatasan yang bisa
dilakukan dengan penggunaan alat -alat kontrasepsi atau penanggulangan
kelahiran seperti kondom, spiral, IUD dan sebagainya.
Pengertian Keluarga Berencana (KB) menurut UU No 10 tahun
1992 (tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga
sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta
masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan
kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan
keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.
Program keluarga berencana memberikan kesempatan untuk
mengatur jarak kelahiran atau mengurangi jumlah kelahiran dengan
menggunakan metode kontrasepsi hormonal atau non hormonal. Upaya ini
dapat bersifat sementara ataupun permanen, meskipun masing-masing
jenis kontrasepsi memiliki tingkat efektivitas yang berbeda dan hampir
sama.
B. Manfaat KB
Menjalani program KB sangat bermanfaat bagi pasangan suami
istri, selain membatasi kelahiran, juga bermanfaat mengurangi risiko
penyakit hingga gangguan mental. Berikut ini beberapa manfaat KB untuk
pasangan suami istri :
1. Menurunkan risiko kehamilan
Alat kontrasepsi berfungsi untuk mencegah kehamilan yang tidak
diinginkan. Alat kontrasepsi juga berfungsi untuk menurunkan risiko
melahirkan terlalu muda atau terlalu tua. Jika perempuan yang terlalu
tua dan belum menopause melakukan hubungan intim tanpa
menggunakan alat kontrasepsi, ada kemungkinan terjadi kehamilan.

4
Melahirkan di atas usia 35 tahun akan berisiko pada wanita dan dapat
menyebabkan kematian.
2. Menurunkan risiko kanker pada wanita
Kontrasepsi hormonal yang digunakan wanita, seperti jenis suntik,
pila tau IUD biasanya mengandung progesterone dan esterogen.
Hormon ini dapat membantu wanita mengendalikan kehamilan dan
menurunkan risiko kanker pada system reproduksi.
Kanker yang dapat diatasi dua hormone tersebut adlah kanker indung
telur (ovarium) dan kanker atau dinding Rahim (endometrium).
Program KB hormonal juga dapat menurunkan resiko tumbuhnya
mioma di Rahim.
3. Tidak mengganggu tumbuh kembang anak
Jika anak belum satu tahun sudah memiliki adik tumbuh kembang
anak akan terganggu. Normalnya jarak anak pertama dan kedua antara
3-5 tahun. Jika anak beluum berusia 2 tahun sudah mempunyai adik,
ASI untuk anak tidak bisa penuh 2 tahun sehingga kemungkinan
mengalami gangguan kesehatan.
4. Risiko radang panggul menurun
Hormon untuk KB adalah bermanfaat menurunkan radang panggul.
Radang pada panggul akan menyerang area rahim, ovarium, dan area
sekitar vagina lainnya. Risiko terkena radang panggul menurun jika
wanita menggunakan program KB jenis implant. Tubektomi juga
menurunkan risiko gangguan pada Metode KB terdapat berbagai
macam, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan indikasi pesien yang
ingin memilikinya.
C. Metode Keluarga Berencana Sederhana
Metode KB sederhana dapat dilakukan dengan kondom dan KB pria.
Metode KB pria ini meliputi penggunaan:
1. Metode Keluarga Berencana Sederhana
a) Spermisida

5
Tujuan penggunaan spermisida ini untuk membunuh sebagian
besar spermatozoa sebelum dapat masuk melalui mulut Rahim
sehingga tidak cukup jumlah dan kemampuan untuk dapat
melakukan pertemuan (konsepsi) dengan sel telur (ovume). Bentuk
spermisida berupa tablet vaginal, jeli, tisu dan sebagainya.
Pengunaan sekitar setengah jam sebelum melakukan hubungan seks
dan dipasang sedalam mungkin sekitar mulut rahim. Kebaikan
spermisida ini adalah pengunaanya hanya saat hubungan seks dan
tidak berbahaya kerna tidak menimbulkan efek samping apapun.
Kekurangnya mungkin dapat menurunka keinginan seks, pada
spermisida betuk jeli efek licin dan menilbulkan iritasi lansung liang
sengama bagi mereka yang alergi, dan kemampuanya sebagai alat
untuk menhingdari kehamilan hanya sekitar 20 – 25%. Metode ini
pernah populer di prancis sekitar abad ke 17. Metode ini sudah tidak
banyak dipakai lagi karena sebagian sperma telah keluar sebelum
mencapai puncak kepuasan sehingga mungkin dapat menimbulkan
kehamilan dan kepuasan pihak pria sangat terganggu.

Gambar 1.1 Spermisida

b) Pantang Berkala
Sampai saat ini masih dilaksanakan karena cukup berhasil
asalkan taan mepergunakan perhitungan masa subur wanita. Seorang
wanita, tidak selamanya subur, tetapi kesuburany terbatas sekitar 48
jam, sedangkan spermatozoa pria dapat hidup didalam kelamin
wanita sekitar 60 – 72 jam. Oleh karena kesuburan wanita yang tepat

6
sulit diketahui, maka diperhitungkan minggu subur yang dapat
diduga sebagai berikut. Hari pertama menstruasi ditambah 12 hari
sedangkan akhir minggu suburnya adalah hari pertama menstruasi
ditambah 19. Dan bagi mereka yang tidak mengkehendaki
keturunan, saat minggu subur menghindari melakukan hubungan
seksual Contoh : kalau menstruasi tanggal 15 maka masa suburnya
menjadi tanggal 27 – 4. Kekurangan dari pantang berkala adalah
angka kegagalanya sekitar 17 – 20 % dengan pola menstruasi wanita
teratur. Sedangkan kebaikanya adalah karena tidak memakai apapun
sehingga hubungan seksual alami tercapai dan memuaskan kedua
belah pihak.
2. Metode Keluarga Berencana Efektif
Metode keluarga berencana dengan hormonal berdasarkan
pemikiran bahwa ibu hamil tidak mengalami menstruasi karena terjadi
hormonal. Ternyata kehamalian menimbulkan oerubahan hormonal,
sehingga menekan pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang
selanjutnya tidak menimbulkan mentruasi. Penelitian untuk menemukan
metode kontrasepsi hormonal (KB) ini sangat panajang sampai
akhirnya Pincus dan garsia mecobanya untuk pertama kali pada wanita
tahun 1960. Sejak itu metode hormonal mejadi sangat populer yang
dapat digunkan dalam waktu relatif panjang tanpa mempunyai efek
samping yang berarti. Jenis hormonal, (Metode Keluarga Berencana
Hormonal) :
a) Pil
b) Susuk
c) Suntikan
Untuk menghindari kehamian adalah progesterone atau turunan
testoteron. Cara kerjanya menekan kelenjar hipofisis, mungkin secara
lansung atau melalui hipotalamus, denga tidak dikeluarkanya hormin
gonadotropik (lutheinizing hormone, LH) sehingga tidak
memungkinkan terjadi opulasi (pelepasan telur).

7
Denga menekan pengeluaran atau pelepasan telur (ovum) dijamin
tidak akan mungkin terjadi kehamilan. Pemakaina hormonal sebagai
metode KB menjamin tidak akan hamil tetapi harus taat denga aturan
yang disyaratkan. Kini metode hormonal telah berkembang dengan
pesat sehungga dijumpai dalam bentuk pil untuk ibu yang sedang
menyusui, bentuk kombinasi, bentuk sekuensial, after morning pil.
Bentuk KB susuk di tanam di atas lengan atas kiri untuk waktu 5 tahun.
Dan bentuk KB suntikan yang disuntikan setiap 10 – 12 minggu atau
setiap bulan. Keburukan metode hormonal : pil , harus diminum denga
taat setiap hari, bila lupa sehari ada kemungkinan terjadi pelepasan
telur dan dapat menjadi hamil. Bila lupa, begitu ingat harus segera
minum, sehingga dapat minum pil 2 kali hari itu. Denga suntikan KB,
sebaiknya mengikuti petunjuk dokter dan datan pada waktunya,
sengigga hormone dalam tubuh tetap terjamin untuk menekan
pelepasan telur. Oleh karena satu komponen turunan progesterone atau
testoteron makan sering terjadi perdarahan berkepanjangan, yang
merisaukan wanita dan merupakan salah satu penyebab dihetikanya
memakai metode hormonal. Pada wanita tertentu dapat terjadi efek
samping dalam bentuk mual dan muntah terutama pagi hari, berat
badan bertambah, rambut rontok, terjadi hiperpigentasi sekitar pipi.
Pemsangan dan mebuka kembali KB susuk memerlukan operasi kecil
pada lengan atas kiri. Keuntungan metode hormonal ini adalah
sebagian besar wanita dapat menerima hormone dalam sirkulasi
tubunya dan pemakaianya mudah diajarkan. KB hormonal menjamin
keberhasilanya 100% asalkan taat denga petunjuk. Control medis yang
diperlukan KB hormonal juga tidak sulit. Efek sampingnya tidak
terlalu berat dan dapat di atasi dengan pungobatan. Perkembangan pil
KB demikian pesatnya sehingga sampai telah ada dipasaran sekitar 150
macam dengan keuntungan dan kekuranganya.
1) Hal spesifik pada keluarga berencana hormonal:

8
1) Pil KB ekspluton, pil KB yang dapat dipergunakan ibu yang
sedang menyusui sampai sekitar 2 tahun. Keburukanya
mingkin terjadi perdarahan yang tidak teratur atau tidak
mentruasi.
2) Pil KB sekuensial, kenaikan hormonal, estrogen dan
progsteron dalam setiap pil KB, sesuai denga status hormonal
dalam tubuh wanita dapat diatasi baik oleh wanita, mempunyai
efek sampaing yang ringan, pola mentruasi tetap berjalan baik.
3) Pil KB konbinasi, sejak pil pertama sudah terdapat kombinasi
anatar derifat progesterone dan esterogen. Pemberian
komoonen estrogen agar wanita mendapat menstruasi oleh
sedangkan pelepasan telur tetap tidak terjadi. Efek samping
dalam bentuk mual sampai muntah, mumkin terjadi kenaikan
berat badan.

Gambar 1.2 KB Pil

2) Tiga bentuk suntikan KB :


1) Defoprovera. Normal mengandung progesterone sebanyak
150 mg dalam betuk partikel kecil peberian suntuk setiap 12
minggu. Keuntunganya : pemberian setiap 3 bulan.
Kerugianya: sering terjadi keterlambatan datang bulan
sekalipun telah menghentikan suntikan, dapat terjadi
pendarahan berkepanjangan diluar menstruasi, pendaraha
yang tidak teratur badan terasa panas dari liang sengama
kering.
2) Siklofem, mengandung progesterone sebanyak 50 mg dan
esterogen, disuntikan setiap bulan. Keuntungnya: menstruasi

9
setiap bulan karena komponen esterongenya. Kerugianya :
saling terjadi kegagalan menstruasi, setelah pemakaian
beberapa bulan efeknya hampir sama dengan defoprovera.
3) Norigest, turunan dari testoteron, disuntikan setiap 8 minggu.
Kerugianya hampir sama denga defoprovera.

Gambar 1.3 KB Suntik

3. Metode Keluarga Berencana Efektif Mekanis


Alat keluarga berenacana metode efektif mekanis adalah alat
kotra sepsi dalam raim (AKDR). Sejarah penemuan intra – uterin
kontra seption device (IUCD) dalam bahasa Indonesia alat kontra
sepsi dalam rahim (AKDR) cukup panjang. Mulai dengan imajinasi
kafila yang memasukan batu kedalam liang sanggama onta
sehingga selama perjalanya tidak akan hamil. Nama penemu
AKDR seperti grafenberg (jerman,) otta (jepang), dan litppes
patutu diingat sebagai perintis.
Beberapa bentuk AKDR yang pernah dicoba di Indonesia
diantaranya spiral ciptaan Margulis, delcon sild, liffes loop, M.
IUCD dari metal, cuper seven (betuknya seperti angka tujuh), Multi
load (MICU), medusa sama dengan Cuper 380 A yang menjadi
idola BKKBN. AKDR Cuper T 380 A bentuknya sepreti huruf T
pada tangan dan tangkainya mengandung tembaga sebanya 380
yang dilepaskan berbentuk ion dan selama 3 – 4 tahun. Bentuknya
kecil dan mudah dipasang dan dikeluarkan. Keefektifanya tinggi

10
denga efek samping dan komplikasi yang ringan denga
pemasangan yang baik tidak mungkin terjadi perporasi (alat
keluar). Kemudian bila terjadi perporasi karena bentuknya terbuka
tidak akan membahayakan. Dengan pemasanganya tidak banyak
menimbulkan rasa nyeri, kecuali pada perporasi. Cuper T 380 A
bahan dasarnya polietilen ditambahkan barium, sehingga daopat
dilihat kalau dilakukan poto abdomen atau ultrasonografi.
Menimbulkan reaksi benda asing dalam rahim sehingga terjadi
radang steril disertai pengeluaran prostaglandin yang menhalangi
terjadinya implamtasi hasil konsepsi. Pelepasan ion temabaga
mepunyai kemapuan melekat pada kepala spermatozoa sehingga
geraknya menjadi lamban dan segera mati, dengan demikian
menghindari dan mengurangi kemlauan melakukan konsepsi
dengan dua betuk kerja ini diharapkan cuper T, dapat bertindak
sebagai alat kontrasepsi yang andal cuper T menjadi idola BKKBN
dalam Gerakan KB nasional. Disimpulkan bahwa keuntungan
memakai cuper T 380 A lebih besar dari kerugianya, sehingga
dianjurkan untuk mecoba dan menjadi piliha utama sebagai alat
kontra sepsi untuk menjarangkan kahamilan dan meningkatkan
kehidupan yang harmonis.
a) Kemungkinan komplukasi cuper T 380
1) Dapat terjadi perporasi pada saat pemasanganya.
2) Menimbulkan kemluhan wanita (terdapat keputihan yang
berlebuhan, kadang kadang terjadi bercak berdarah)
3) Perdarahan yang tidak teratur
4) Perdaraha menstruasi lebih banyak
5) Rasa anyeri saat menstruasi
6) Badan kurus karena banyak mengeluarkan keputihan
b) Keuntungan memakai cuper T 380 A
1) Mempunyai toleransi tinggi, artinya hanya sedikit wanita
yang mengeluh dan mengalami komlikasi.

11
2) Kemampuan sebagai alat kontrasepsi tinggi artinya kirang
dari satu persen dapat menjadi hamil.
3) Control medis yang ringan.

Gambar 1.4 KB Spiral (IUD)

D. Sejarah KB di Indonesia
Keluarga berencana (KB) pertama kali ditetapkan sebagai program
pemerintah pada tanggal 29 juni 1970, bersamaan dengan dibentuknya
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Program KB di
Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1957, namun masih menjadi urusan
kesehatan dan belum menjadi urusan kependudukan. Namun sejalan
dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia serta tingginya
angka kematian ibu dan kebutuhan akan kesehatan reproduksi, program
KB selanjutnya digunakan sebagai salah satu cara untuk menekan
pertumbuhan jumlah penduduk serta meningkatkan kesehatan ibu dan
anak.
Sejarah KB di Indonesia dibagi menjadi 9 periode yaitu :
1. Periode Perintisan (1950 – 1966)
Sejalan dengan perkembangan KB di luar negeri, di Indonesia telah
banyak dilakukan usaha membatasi kelahiran secara tradisional dan
bersifat individual. Dalam kondisi angka kematian bayi dan ibu yang
melahirkan di Indonesia cukup tinggi, upaya mengatur kelahiran

12
tersebut makin meluas terutama di kalangan dokter. Sejak tahun
1950-an para ahli kandungan berusaha mencegah angka kematian
yang terlalu tinggi dengan merintis Bagian Kesehatan Ibu dan Anak
(BKIA). Diantara pelopor keluarga berencana tersebut Dr. Sulianti
Saroso. Pada tahun 1953, sekelompok kecil masyarakat yang terdiri
dari berbagai golongan, khususnya dari kalangan kesehatan, memulai
prakarsa kegiatan keluarga berencana. Kegiatan ini berkembang
hingga berdirilah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia
(PKBI) dalam tahun 1957. Mula-mula Departemen Kesehatan
merupakan penunjang bagi Kegiatan-kegiatan PKBI, dengan
menyediakan BKIA-BKIA serta tenaga kesehatan sebagai sarana
pelayanan keluarga berencana. Namun dalam kegiatan penerangan
dan pelayanan masih dilakukan terbatas mengingat PKBI, sebagai
salah satu kegiatan penerangan sebagai salah satunya organisasi
sosial yang bergerak dalam bidang KB masih mendapat kesulitan dan
hambatan, terutama KUHP nomor 283 yang melarang
penyebarluasan gagasan keluarga berencana. Pada tahun 1967 PKBI
diakui sebagai badan hukum oleh Departemen Kehakiman.
2. Periode Keterlibatan Pemerintah dalam Program KB nasional
Di dalam Kongres Nasional I PKBI di Jakarta diambil keputusan
diantaranya bahwa PKBI dalam usahanya mengembangkan dan
memperluas usaha keluarga berencana (KB) akan bekerjasama dengan
instansi pemerintah. Pada tahun 1967 Presiden Soeharto
menandatangani Deklarasi Kependudukan Dunia yang berisikan
kesadaran betapa pentingnya menentukan atau merencanakan jumlah
anak, dan menjarangkan kelahiran dalam keluarga sebagai hak asasi
manusia. Pada tanggal 16 Agustus 1967 di depan Sidang DPRGR,
Presiden Soeharto pada pidatonya “Oleh karena itu kita harus
menaruh perhatian secara serius mengenai usaha-usaha pembatasan
kelahiran, dengan konsepsi keluarga berencana yang dapat dibenarkan
oleh moral agama dan moral Pancasila”. Sebagai tindak lanjut dari

13
Pidato Presiden tersebut, Menkesra membentuk Panitia Ad Hoc yang
bertugas mempelajari kemungkinan program KB dijadikan Program
Nasional.
Selanjutnya pada tanggal 7 September 1968 Presiden
mengeluarkan Instruksi Presiden No. 26 tahun 1968 kepada Menteri
Kesejahteraan Rakyat, yang isinya antara lain:
a. Membimbing, mengkoordinir serta mengawasi segala aspirasi yang
ada di dalam masyarakat di bidang Keluarga Berencana.
b. Mengusahakan segala terbentuknya suatu Badan atau Lembaga
yang dapat menghimpun segala kegiatan di bidang Keluarga
Berencana, serta terdiri atas unsur Pemerintah dan masyarakat.
Berdasarkan Instruksi Presiden tersebut Menkesra pada tanggal 11
Oktober 1968 mengeluarkan Surat Keputusan No.
35/KPTS/Kesra/X/1968 tentang Pembentukan Tim yang akan
mengadakan persiapan bagi Pembentukan Lembaga Keluarga
Berencana. Setelah melalui pertemuan-pertemuan Menkesra dengan
beberapa menteri lainnya serta tokoh-tokoh masyarakat yang terlibat
dalam usaha KB, Maka pada tanggal 17 Oktober 1968 dibentuk
Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) dengan Surat
Keputusan No. 36/KPTS/Kesra/X/1968. Lembaga ini statusnya adalah
sebagai Lembaga Semi Pemerintah.
3. Periode Pelita I (1969-1974)
Periode ini mulai dibentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) berdasarkan Keppres No. 8 Tahun 1970 dan
sebagai Kepala BKKBN adalah dr. Suwardjo Suryaningrat. Dua tahun
kemudian, pada tahun 1972 keluar Keppres No. 33 Tahun 1972
sebagai penyempurnaan Organisasi dan tata kerja BKKBN yang ada.
Status badan ini berubah menjadi Lembaga Pemerintah Non
Departemen yang berkedudukan langsung dibawah Presiden. Untuk
melaksanakan program keluarga berencana di masyarakat
dikembangkan berbagai pendekatan yang disesuaikan dengan

14
kebutuhan program dan situasi serta kondisi masyarakat. Pada Periode
Pelita I dikembangkan periode Klinik (Clinical Approach) karena pada
awal program, tantangan terhadap ide keluarga berencana masih sangat
kuat untuk itu pendekatan kesehatan paling tepat.
4. Periode Pelita II (1974-1979)
Kedudukan BKKBN dalam Keppres No. 38 Tahun 1978 adalah
sebagai lembaga pemerintah non-departemen yang berada di bawah
dan bertanggung jawab kepada Presiden. Tugas pokoknya adalah
mempersiapkan kebijaksanaan umum dan mengkoordinasikan
pelaksanaan program KB nasional dan kependudukan yang
mendukungnya, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah serta
mengkoordinasikan penyelenggaraan pelaksanaan di lapangan. Periode
ini pembinaan dan pendekatan program yang semula berorientasi pada
kesehatan ini mulai dipadukan dengan sektor-sektor pembangunan
lainnya, yang dikenal dengan Pendekatan Integratif (Beyond Family
Planning). Dalam kaitan ini pada tahun 1973-1975 sudah mulai dirintis
Pendidikan Kependudukan sebagai pilot project.
5. Periode Pelita III (1979-1984)
Periode ini dilakukan pendekatan Kemasyarakatan (partisipatif)
yang didorong peranan dan tanggung jawab masyarakat melalui
organisasi/institusi masyarakat dan pemuka masyarakat, yang
bertujuan untuk membina dan mempertahankan peserta KB yang
sudah ada serta meningkatkan jumlah peserta KB baru. Pada masa
periode ini juga dikembangkan strategi operasional yang baru yang
disebut Panca Karya dan Catur Bhava Utama yang bertujuan
mempertajam segmentasi sehingga diharapkan dapat mempercepat
penurunan fertilitas. Pada periode ini muncul juga strategi baru yang
memadukan KIE dan pelayanan kontrasepsi yang merupakan bentuk
“Mass Campaign” yang dinamakan “Safari KB Senyum Terpadu”.
6. Periode Pelita IV (1983-1988)

15
Pada masa Kabinet Pembangunan IV ini dilantik Prof. Dr. Haryono
Suyono sebagai Kepala BKKBN menggantikan dr. Suwardjono
Suryaningrat yang dilantik sebagai Menteri Kesehatan. Pada masa ini
juga muncul pendekatan baru antara lain melalui Pendekatan
koordinasi aktif, penyelenggaraan KB oleh pemerintah dan masyarakat
lebih disinkronkan pelaksanaannya melalui koordinasi aktif tersebut
ditingkatkan menjadi koordinasi aktif dengan peran ganda, yaitu selain
sebagai dinamisator juga sebagai fasilitator. Disamping itu,
dikembangkan pula strategi pembagian wilayah guna mengimbangi
laju kecepatan program. Pada periode ini secara resmi KB Mandiri
mulai dicanangkan pada tanggal 28 Januari 1987 oleh Presiden
Soeharto dalam acara penerimaan peserta KB Lestari di Taman Mini
Indonesia Indah. Program KB Mandiri dipopulerkan dengan kampanye
LIngkaran Biru (LIBI) yang bertujuan memperkenalkan tempat-tempat
pelayanan dengan logo Lingkaran Biru KB.
7. Periode Pelita V (1988-1993)
Pada masa Pelita V, Kepala BKKBN masih dijabat oleh Prof. Dr.
Haryono Suyono. Pada periode ini gerakan KB terus berupaya
meningkatkan kualitas petugas dan sumberdaya manusia dan
pelayanan KB. Oleh karena itu, kemudian diluncurkan strategi baru
yaitu Kampanye Lingkaran Emas (LIMAS). Jenis kontrasepsi yang
ditawarkan pada LIBI masih sangat terbatas, maka untuk pelayanan
KB LIMAS ini ditawarkan lebih banyak lagi jenis kontrasepsi, yaitu
ada 16 jenis kontrasepsi. Pada periode ini juga ditetapkannya UU No.
10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga Sejahtera, dan GarisGaris Besar Haluan
Negara (GBHN) 1993 khususnya sub sector Keluarga Sejahtera dan
Kependudukan, maka kebijaksanaan dan strategi gerakan KB nasional
diadakan untuk mewujudkan keluarga Kecil yang sejahtera melalui
penundaan usia perkawinan, penjarangan kelahiran, pembinaan
ketahanan keluarga dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

16
8. Periode Pelita VI (1993-1998)
Dalam Kabinet Pembangunan VI sejak tanggal 19 Maret 1993
sampai dengan 19 Maret 1998, Prof. Dr. Haryono Suyono ditetapkan
sebagai Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN, sebagai awal
dibentuknya BKKBN setingkat Kementerian. Pada tangal 16 Maret
1998, Prof. Dr. Haryono Suyono diangkat menjadi Menteri
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan
Kemiskinan merangkap sebagai Kepala BKKBN. Dua bulan berselang
dengan terjadinya gerakan reformasi, maka Kabinet Pembangunan VI
mengalami perubahan menjadi Kabinet Reformasi Pembangunan Pada
tanggal 21 Mei 1998, Prof. Haryono Suyono menjadi Menteri
Koordinator Bidang Kesra dan Pengentasan Kemiskinan, sedangkan
Kepala BKKBN dijabat oleh Prof. Dr. Ida Bagus Oka sekaligus
menjadi Menteri Kependudukan. Pada pelita VI, fokus kegiatan
diarahkan pada pelayanan keluarga berencana dan pembangunan
keluarga sejahtera, yang dilaksanakan oleh pemerintah, masyarakat
dan keluarga untuk meningkatkan kualitas keluarga agar dapat
melaksanakan fungsinya secara optimal. Kegiatan yang dikembangkan
dalam pelaksanaan pembangunan keluarga sejahtera diarahkan pada
tiga gerakan, yaitu Gerakan Reproduksi Sejahtera (GRKS), Gerakan
Ketahanan Keluarga Sejahtera (GKSS), dan Gerakan Ekonomi
Keluarga Sejahtera (GEKS).
9. Periode Reformasi Pada Periode Kabinet Persatuan Indonesia
Kepala BKKBN dirangkap oleh Menteri Negara Pemberdayaan
Perempuan yang dijabat oleh Khofifah Indar Parawansa. Setelah itu
digantikan oleh Prof. Dr. Yaumil C. Agoes Achir pada tahun 2001 dan
meninggal dunia pada akhir 2003 akibat penyakit kanker dan yang
kemudian terjadi kekosongan. Pada tanggal 10 November 2003,
Kepala Litbangkes Departemen Kesehatan dr. Sumarjati Arjoso, SKM
dilantik menjadi Kepala BKKBN oleh Menteri Kesehatan Ahmad
Sujudi sampai beliau memasuki masa pensiun pada tahun 2006.

17
Setelah itu digantikan oleh Dr. Sugiri Syarief, MPA yang dilantik
sebagai Kepala BKKBN yang baru oleh Menteri Kesehatan DR.dr.
Siti-Fadilah Supari, SPJP (K), Menteri Kesehatan pada tanggal 24
Nopember 2006. Pada tahun 2009, diterbitkan Undang Undang No. 52
Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan
Keluarga, BKKBN berubah dari Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN). Sebagai tindak lanjut dari UU 52/2009
tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga
Sejahtera, di mana BKKBN kemudian direstrukturisasi menjadi badan
kependudukan, bukan lagi badan koordinasi, maka pada tanggal 27
September 2011 Kepala BKKBN, Dr. dr. Sugiri Syarief, MPA
akhirnya dilantik sebagai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana (BKKBN) oleh Menteri Kesehatan Endang Rahayu
Sedyaningsih. Setelah dr. Sugir Syarief memasuki masa pensiun,
terjadi kevakuman selama hampir sembilan bulan. Pada tanggal 13
Juni 2013 akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan
mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Fasli Jalal
sebagai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN). Pelantikan ini dilakukan Menteri Kesehatan
Nafsiah Mboi.
E. 5 Faktor - faktor yang Mempengaruhi Perkembangan KB di
Indonesia
1. Sosial Ekonomi
Tinggi rendahnya status sosial dan keadaan ekonomi penduduk di
Indonesia akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan program
KB di Indonesia. Kemajuan program KB tidak terlepas dari tingkat
ekonomi masyarakat karena berkaitan erat dengan kemampuan untuk
membeli alat kontrasepsi yang digunakan. Dengan suksesnya program
KB maka perekonomian suatu negara akan lebih baik karena dengan

18
anggota keluarga yang sedikit kebutuhan dapat lebih tercukupi dan
kesejahteraan dapat terjamin.
2. Budaya
Sejumlah faktor budaya dapat mempengaruhi klien dalam memilih
metode kontrasepsi. Faktor-faktor ini meliputi salah satu pengertian
dalam masyarakat mengenai berbagai metode, kepercayaan religius,
serta budaya, tingkat pendidikan persepsi mengenai resiko kehamilan
dan status wanita. Penyedia pelayanan harus menyadari bagaimana
faktor-faktor tersebut mempengaruhi pemilihan metode di daerah dan
harus memantau perubahan-perubahan yang mungkin mempengaruhi
pemilihan metode kontrasepsi.

3. Pendidikan
Tingkat pendidikan tidak saja mempengaruhi kerelaan
menggunakan KB tetapi juga pemilihan suatu metode. Beberapa studi
telah memperlihatkan bahwa metode kelender lebih banyak digunakan
oleh pasangan yang lebih berpendidikan. Dihipotesiskan bahwa
pasangan suami istri yang berpendidikan menginginkan KB yang
efektif dengan efek samping yang sedikit.
4. Agama
Di berbagai daerah kepercayaan religius dapat mempengaruhi klien
dalam memilih metode KB. Sebagai contoh penganut khatolik yang taat
membatasi pemilihan kontrasepsi mereka pada KB alamiah. Sebagai
pemimpin Islam mengklaim bahwa seterilisasi dilarang sedangkan
sebagian lain mengijinkan. Walaupun agama Islam tidak melarang
kontrasepsi secara umum, para akseptor KB mungkin berpendapat
bahwa pola pendarahan yang tidak teratur disebabkan sebagian metode
hormonal akan sangat menyulitkan mereka selama haid mereka dilarang
untuk beribadah.
5. Status wanita

19
Status wanita dalam masyarakat mempengaruhi kemampuan
mereka memperoleh dan menggunakan metode kontrasepsi. Di daerah -
daerah yang status wanitanya meningkat, sebagian wanita memiliki
pemasukan yang lebih besar untuk membayar metode-metode yang
lebih mahal serta memiliki lebih banyak suara dalam mengambil
keputusan. Juga daerah yang wanitanya lebih dihargai, mungkin hanya
dapat sedikit pembatasan dalam memperoleh berbagai metode,
misalnya peraturan yang mengharuskan persetujuan suami sebelum
layanan KB dapat diperoleh.
F. Organisasi – organisasi KB di Indonesia
a. PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia)
1. Sejarah PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia)
Berdiri sejak 23 Desember 1957, Perkumpulan Keluarga
Berencana Indonesia (PKBI) merupakan Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) yang mempelopori gerakan Keluarga
Berencana di Indonesia. Lahirnya PKBI dilatarbelakangi oleh
keprihatinan para pendiri PKBI, yang terdiri dari sekelompok
tokoh masyarakat dan ahli kesehatan terhadap berbagai masalah
kependudukan dan tingginya angka kematian ibu di Indonesia.
Pada era 1950-an gagasan tentang Keluarga Berencana (KB)
menghadapi tantangan berat. Sebagian besar masyarakat dan
akademisi cenderung melihat keluarga berencana sebagai upaya
pembatasan kehamilan semata, yang pada masa itu dinilai sebagai
suatu hal yang dianggap sebagai bentuk perampasan kemerdekaan
yang baru saja dinikmati oleh bangsa Indonesia.
Di sisi lain, pada periode tersebut pemerintah belum menyadari
manfaat keluarga berencana bagi peningkatan kualitas bangsa. Saat
itu, hamil dan melahirkan ditanamkan sebagai tugas mulia
perempuan untuk melahirkan jutaan generasi baru Indonesia yang
akan mengelola sumber daya alam yang melimpah dan
mengangkat citra Indonesia sebagai bangsa yang besar di mata

20
dunia. Banyaknya perempuan hamil dan melahirkan berdampak
pada kesehatan perempuan yaitu tingginya angka kematian ibu dan
bayi baru lahir. Hal ini semakin menguatkan para pendiri PKBI
untuk membentuk wadah gerakan keluarga berencana di Indonesia.
Pada awal 1950, dr. Soeharto – dokter pribadi Presiden
Soekarno – mulai memikirkan beberapa kemungkinan untuk
mendirikan sebuah organisasi keluarga berencana. Hal tersebut
semakin menguatkan setelah diskusi dengan anggota Field
Service IPPF (International Planned Parenthood Federation –
Federasi Keluarga Berencana Internasional) Mrs. Dorothy Brush.
Setelah itu, dr. Soeharto juga berdiskusi dengan perwakilan
Research Institute Newyork dr. Abraham Stone dan Margareth
Sanger.
PKBI percaya bahwa keluarga merupakan pilar utama untuk
mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Keluarga yang dimaksud
ialah keluarga yang bertanggung jawab, yaitu keluarga yang
menunaikan tanggung jawabnya dalam dimensi kelahiran,
pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan.
Menghadapi berbagai permasalahan kependudukan dan kesehatan
reproduksi dewasa ini, PKBI menyatakan bahwa pengembangan
berbagai programnya didasarkan pada pendekatan yang berbasis
hak sensitif gender dan peningkatan kualitas pelayanan serta
keberpihakan kepada masyarakat miskin dan marjinal melalui
semboyan “berjuang untuk pemenuhan hak-hak kesehatan seksual
dan reproduksi”.
Kepekaan dan kepedulian PKBI terhadap masalah kesehatan
perempuan pada gilirannya menyadarkan masyarakat untuk
menempatkan KB dalam perspektif yang lebih luas, yaitu
kesehatan reproduksi. Kerja keras yang terus menerus
membuahkan pengakuan dunia terhadap eksistensi PKBI. Pada
tahun 1969 PKBI mencatat sejarah baru sebagai anggota penuh

21
IPPF, sebuah lembaga federasi internasional beranggotakan 184
negara yang memperjuangkan pemenuhan hak dan kesehatan
seksual dan reproduksi bagi masyarakat di seluruh dunia.
Perjuangan PKBI dalam mewujudkan keluarga sejahtera melalui
program KB mulai direspon oleh Pemerintah. Pada bulan Oktober
1969, Pemerintah Indonesia mendirikan Lembaga Keluarga
Berencana Nasional (LKBN). Awal berdirinya, LKBN diberi tugas
memberi pelayanan KB di Jawa dan Bali. PKBI tetap menjalankan
peran utamanya yaitu menyelenggarakan pelatihan, riset,
sosialisasi dan pelayanan KB di beberapa wilayah lainnya. Pada
tahun 1970, Pemerintah merubah LKBN menjadi BKKBN (Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional), sekarang Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Sejak masa itu,
KB dipandang sebagai bagian integral dari pembangunan
Indonesia. Setelah melalui lima dasawarsa, PKBI kini berada di 26
Provinsi mencakup 249 Kabupaten/Kota di Indonesia. Tantangan
PKBI saat ini adalah terus konsisten dan berinovasi dalam
memperjuangkan hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi untuk
seluruh masyarakat khususnya untuk kelompok yang
terpinggirkan.
PKBI memiliki Visi dan Misi, dimana diantaranya:
1) Visi
Pusat Unggulan (Center of Excellence) Pengembangan
Program dan Advokasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi
yang Mandiri pada tahun 2020.
b. Misi
a) Mengembangkan pusat informasi, edukasi dan konseling
serta pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi
ditekankan pada pelayanan Keluarga Berencana yang
berkualitas, berbasis hak dan berperspektif jender, melalui

22
peningkatan peran PKBI yang profesional,
kredibel, mandiri dan berkelanjutan.
b) Memberdayakan masyarakat, agar mampu mengambil
keputusan terbaik bagi dirinya dan berperilaku
bertanggungjawab dalam hal Kesehatan Seksual dan
Reproduksi.
c) Mempengaruhi para pengambil kebijakan untuk
memberikan dukungan dan komitmen atas terjaminnya
pemenuhan hak-hak seksual dan reproduksi.

2. Strategi PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia)


a. Strategi I:  Mengembangkan model-model dan standar
pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi yang berkualitas
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
b. Strategi II:  Memberdayakan masyarakat untuk
memperjuangkan hak seksual dan reproduksi bagi dirinya dan
orang lain.
c. Strategi III:  Mengembangkan Upaya Pencegahan dan
Penanggulangan IMS, HIV dan AIDS.
d. Strategi IV:  Melakukan advokasi di semua tingkatan
organisasi kepada parapengambil kebijakan untuk menjamin
pemenuhan hak-hak dan kesehatan seksual dan reproduksi.
e. Strategi V:  Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan Sumber
Daya organisasi.

G. RENCANA STRATEGIS PKBI 2010-2020


Strategi I :
Mengembangkan model-model dan Standar Pelayanan
Kesehatan Seksual dan Reproduksi yang Berkualitas
untuk Memenuhi23Kebutuhan Masyarakat.
Tujuan : Mewujudkan model-model pelayanan kesehatan seksual
dan reproduksi yang berkualitas, komprehensif, dan
berorientasi pada hak klien, yang dapat diakses semua
orang termasuk kelompok marjinal.
Strategi II : Memberdayakan masyarakat untuk memperjuangkan
hak seksual dan reproduksi bagi dirinya dan orang lain

Tujuan : Mendorong gerakan


: masyarakat untuk memperjuangkan
pemenuhan hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi

Strategi III : Mengembangkan Upaya Pencegahan


dan Penanggulangan IMS dan HIV dan AIDS
Tujuan : 1. Memberikan kontribusi dalam upaya menurunkan
percepatan kasus baru HIV, memberikan
perlindungan serta mengurangi stigma dan
diskriminasi terhadap ODHA.
2. Memberikan pelayanan kesehatan seksual dan
reproduksi komprehensif yang terintegrasi dengan
pelayanan IMS dan HIV.
3. Memberikan kontribusi untuk peningkatan
kualitas hidup ODHA.

Strategi IV : Melakukan Advokasi di Semua Tingkatan Organisasi


Kepada Para Pengambil Kebijakan untuk Menjamin
Pemenuhan Hak - Hak dan Kesehatan Seksual dan
Reproduksi.

Tujuan : Mendorong pengambil keputusan untuk membuat


kebijakan publik yang menjamin terpenuhinya seluruh hak
kesehatan seksual dan reproduksi serta terciptanya jaringan
24
pelayanan yang terjangkau dan berkualitas
Strategi V : Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan dan Sumber Daya
Organisasi
Tujuan : 1. Mengembangkan sistem dan mekanisme organisasi,
keanggotaan dan tata kelola yang baik (good
governance) serta pengetahuan yang akurat.
2. Meningkatkan komitmen dan kapasitas, relawan dan
staff dalam menjalankan visi dan misi.
3. Meningkatkan Kemandirian Organisasi

Struktur PKBI

25
Salah satu kekuatan PKBI adalah bekerja atas dasar kerelawanan
(kesukarelaan) yang pada struktur terwakili melalui relawan pengurus
sebagai membuat kebijakan dan relawan pelaksana program di
lapangan. Profesionalisme dari staf dan pelibatan relawan muda di
lapangan pada setiap tingkat juga dapat menjamin keberhasilan
pelaksanaan nilai dan misi PKBI yang sensitif gender. Secara
keseluruhan staf PKBI hanya dapat menampung 812 orang yang
terdiri dari 109 staf PKBI Pusat dan 703 orang staf PKBI Daerah dan
Cabang.

H. BKKBN
a. Pengertian BKKBN
BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berecana Nasional)
adalah lembaga pemerintah nonkementrian yang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Kesehatan dengan
slogan “dua anak cukup”. Dengan dasar hukum Peraturan Presiden
Nomor 62 Tahun 2010 tentang ‘’Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa”.
BKKBN mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang
pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana.
Dalam melaksanakan tugas, BKKBN menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan kebijakan nasional di bidang pengendalian penduduk
dan penyelnggaraan keluarga berencana
2. Penetapan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang
pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana
3. Pelaksaan advokasi dan koordinasi di bidang pengendalian
penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana
4. Penyelenggaraan komunikasi, informasi dan edukasi di di bidang
penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana
5. Penyelenggaraan pemantauan dan evaluasi di bidang penduduk dan
penyelenggaraan keluarga berencana

26
6. Pembinaan, pembimbingan, dan fasilitasi di bidang penduduk dan
penyelenggaraan keluarga berencana
Selain fungsi di atas, BKKBN juga menyelenggarakan fungsi:
a. Penyelenggaraan pelatihan, penelitian dan pengembangan di
bidang penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana.
b. Pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas administrasi umum di
lingkungan BKKBN.
c. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung
jawab BKKBN
d. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BKKBN dan
e. Penyampaian laporan, saran dan pertimbangan di bidang penduduk
dan penyelenggaraan keluarga berencana.
b. Sejarah BKKBN
1. Periode Perintisan (1950-an – 1966)
Organisasi keluarga berencana dimulai dari pembentukan
Perkumpulan Keluarga Berencana pada tanggal 23 Desember 1957
di gedung Ikatan Dokter Indonesia. Namun perkumpulan itu sendiri
berkembang menjadi perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia
(PKBI) atau Indonesia Planned Parenthood Federation (IPPF). PKBI
memperjuangkan terwujudnya keluarga-keluarga yang sejahtera
melalui 3 macam usaha pelayanan yaitu mengatur kehamilan atau
menjarangkan kehamilan, mengobati kemandulan serta memberi
nasihat perkawinan.
Pada tahun 1967, PKBI diakui sebagai badan hukum oleh
Departemen Kehakiman. Kelahiran Orde Baru pada waktu itu
menyebabkan perkembangan pesat usaha penerangan dan pelayanan
KB di seluruh Indonesia. Dengan lahirnya Orde Baru pada bulan
maret 1966 masalah kependudukan menjadi fokus perhatian
pemerintah yang meninjaunya dari berbagai perspektif. Perubahan
politik berupa kelahiran Orde Baru tersebut berpengaruh pada
perkembangan keluarga berencana di Indonesia. Setelah simposium

27
Kontrasepsi di Bandung pada bulan Januari 1967 dan Kongres
Nasional I PKBI di Jakarta pada tanggal 25 Februari 1967.
2. Periode Keterlibatan Pemerinta dalam Program KB Nasional
Pada tanggal 16 Agustus 1967 di depan sidang DPRGR, Presiden
Soeharto pada pidatonya “Oleh karena itu kita harus menaruh
perhatian secara serius mengenai usaha-usaha pembatasan kelahiran
dengan kontrasepsi keluarga berencana yang dapat dibenarkan oleh
moral agama dan moral Pancasila”. Sebagai tindak lanjut dari Pidato
Presiden tersebut, Menkesra membentuk Panitia Ad Hoc yang
bertugas mempelajari kemungkinan program KB dijadikan Program
Nasional. Selanjtnya pada tanggal 7 September 1968 Presiden
mengeluarkan instruksi Presiden No.26 Tahun 1968 kepala Menteri
Kesejahteraan Rakyat yang isinya antara lain:
1. Membimbing mengkoordirnir serta mengawasi segala aspirasi
yang ada di dalam masyarakat di bidang Keluarga Berencana
2. Mengusahakan segala terbentuknya suatu badan atau lembaga
yang dapat menghimpun segala kegiatan di bidang Keluarga
Berencana serta terdiri atas unsur pemerintah dan masyarakat.
Berdasarkan instruksi Presiden tersebut Menkersa pada tanggal
11 Oktober 1968 mengeluargkan Surat Keputusan
No.35/KPTS/Kesra/X/1968 tentang Pembentukan Tim yang akan
mengadakan persiapan bagi Pembentukan Lembaga Keluarga
Berencana. Setelah melalui pertemuan-pertemuan Menkersa dengan
beberapa menteri lainnya serta tokoh-tokoh masyarakat yang terlibat
dalam usaha KB, maka pada tanggal 17 Oktober 1968 dibentuk
Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) dengan Surat
Keputusan No.36/kpts/Kesra/X/1968. Lembaga ini statusnya adalah
sebagai Lembaga Semi Pemerintah.
3. Periode Pelita I (1969-1974)
Periode ini mulai dibentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencan
Nasional (BKKBN) berdasarkan Keppres No. 8 Tahun 1970 dan

28
sebagai Kepala BKKBN adalah dr. Suwardjo Suryaningrat. Dua
tahun kemudian, pada tahun 1972 keluar Keppres No. 33 Tahun
1972 sebagai penyempurnaan Organisasi dan tata kerja BKKBN
yang ada. Status badan ini menjadi Lembaga Pemerintah Non
Departemen yang berkedudukan langsung dibawah Presiden.
Untuk melaksanakan program KB di masyarakat dikembangakn
berbagai pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan program
dan situasi serta kondisi masyarakat. Pada Periode Pelita I
dikembangakn Periode Klinik (Clinical Approach) kareena awal
proram, tantangan terhadap ide KB masih sangat kuat, untuk itu
pendekatkan melalui kesehatan yang paling tepat.
4. Periode Pelita II (1974-1979)
Kedudukan BKKBN dalam Keppres No. 38 Tahun 1978 adalah
sebagai lembaga pemerintahj non-departemen yang berada dan
bertanggng jawab kepala Presiden. Tugas pokoknya adalah
mempersiapkan kebijaksanaan umum dan mengkoordinasikan
penyelenggaraan pelaksanaan di lapangan.
Periode ini pembinaan dan pendekatan program yang semula
berorientasi pada kesehatan ini mulai dipadukan dengan sektor-
sektor pembangunan lainnya, yang dikenal dengan Pendekatan
Integratif (Beyond Family Planning). Dalam kaitan ini, pada tahun
1973-1975 sudah mulai dirintis Pendidikan Kependudukan sebagai
pilot project.
5. Periode Pelita III (1979-1984)
Periode ini dilakukan pendektan Kemasyaraktan (partisipasif)
yang didorong peranan dan tanggung jawab masyarakat melalui
organisasi/institusi masyarakat dan pemuka masyarakat, yang
bertujuan untuk membina dan mempertahanakn peserta KB yang
sudah ada serta meningkatkan jumlah peserta KB baru. Pada masa
periode ini juga dikembangkan strategi operasional yang baru yang
disebut Panca Karya dan Catur Bhava Utama yang bertujuan

29
mempertajam segementasi sehingga diharapkan dapat mempercepat
penurunan fertilitas. Pada periode ini muncul juga strategi baru yang
memadukan KIE dan pelayanan kontrasepsi yang merupaka bentuk
“Master Campaign” yang dinamakan “Safari KB Senyum Terpadu”
6. Periode Pelita IV (1983-1988)
Pada masa Kabinet Pembangunan IV dilantik Prof. Dr. Haryono
Suyono sebagai Kepala BKKBN menggantikan dr. Suwardjono
Suryaningrat yang dilantik sebagai Menteri kesehatan. Pada masa ini
juga mucul pendekatan baru antar lain melalui Pendekatan
Koordinasi Aktif, penyelenggaraan KB oleh pemerintah dan
masyarakat lebih disinronkan pelaksanaannya melaui koordinasi
aktif tyersebut ditingkatkan menjadi koordinasi aktif dengan peran
ganda, yaitu selain sebagai disnamisator juga sebagai fasilitator.
Disamping itu, dikembangan pula strategi pembagian wilayah guna
mengimbangi laju kecepatan program. Pada periode ini juag secara
resmi KB Mandiri mulai dicanangkan pada tanggal 28 Januari 1987
oleh Presiden Soeharto dalam acara penerimaan peserta KB Lestari
di Taman Mini Indonesia Indah. Program KB Mandiri
memperkenalkan tempat-tempat pelayanan dengan logo Lingkaran
Biru KB.
7. Periode Pelita V (1988-1993)
Pada masa Pelita V Kepala BKKBN masih dijabat ole Prof. Dr.
Haryono Ssuryono. Pada periode ini gerakan KB terus berupaya
meningkatkan kualitas petugas dan sumber daya manusia dan
pelayanan KB. Oleh karena itu, kemudian diluncurkan strategi baru
yaitu kampanye Lingkaran Emas (LIMAS). Jenis kontrasepsi yang
ditawarkan pada LIBI masih sanagt terbatas, maka untuk pelayanan
KB LIMAS ini ditawarkan lebih banyak lagi jenis kontrasepsi, yaitu
16 jenis kontrasepsi.
Pada periode ini ditetapkan UU No. 10 Tahun 1992 tentang
Pengembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga

30
Sejahtera, dan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993
khususnya sub sektor Keluarga Sejahtera dan Kependudukan, maka
kebijaksanaan dan strategi gerakan KB nasional diadakan untuk
mewujudkan keluarga kecil yang sejahtera melalui penundaan usia
perkawinan, penjarangan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga
dan peningkatan kesejahteraan keluarga.
8. Periode Pelita VI (1993-1998)
Pada Pelita VI dikenalkan pendekatan baru yaitu “Pendekatan
keluarga” yang bertujuan untuk menggalangkan partisipasi
masyarakat dalam gerakan KB nasional. Dalam Kabinet
Pembangunan VI sejak tanggal 19 Maret 1993 sampai dengan 19
Maret 1998, Prof. Dr. Haryono Suyono ditetapkan sebagai Menteri
Negara Kependudukan/Kepala BKKBN, sebagai awal dibentuknya
BKKBN setingkat kementerian.
Pada tanggal 16 Maret 1998, Prof. Dr. Haryono Suyono diangkat
menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan
Pengentasan Kemiskinan merangkap sebagai Kepala BKKBN. Dua
bulan berselang dengan terjadinya gerakan reformasi, maka Kabinet
Pembangunan VI mengalami perubahan menjadi Kabinet Reformasi
Pembangunan pada tanggal 21 Mei 1998, Prof. Haryono Suyono
menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesra dan Pengentasan
Kemiskinana, sedangkan Kepala BKKBN dijabat oleh Prof. Dr. Ida
Bagus Oka sekaligus menjadi Menteri Kependudukan.
9. Periode Pasca Reformasi
Dari butir-butir arahan GBHN tahun 1999 dan perundang-
undangan yang telah ada, Program Keluarga Berencana Nasional
merupakan salah satu program untuk meningkatkan kualitas
penduduk, mutu sumber daya manusia, kesehatan dan kesejahteraan
sosial yang selama ini dilaksanakan melalui pengaturan kelahiran,
pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan keluarga dan
kesejahteraan keluarga. Arahan GBHN ini kemudian dijabarkan

31
lebih lanjut dalam Program Pembangunan Nasional (PROPENAS)
yang telah ditetapkan sebagai UU No. 25 Tahun 2000.
Sejalan dengan era desentralisasi, eksistensi program dan
kelembagaan keluarga berencana nasional di daerah mengalami
masa-masa kritis. Sesuai dengan Keppres Nomor 103 Tahuhn 2001,
yang kemudian diubah menjadi Keppres No. 09 Tahun 2004 tentang
kedudukan, tugas, fungsi, kewenangan, susunan organisasi dan tata
kerja lembaga pemerintah non departemen menyatakan bahwa
sebagian urusan di bidang keluarga berenana diserahkan kepada
pemerintah kabupaten dan kota selambat-lambatnya Desember 2003.
Hal ini sejalan dengan esensi UU Nomor 22 Tahun 2004. Dengan
demikian tahun 2004 merupakan tahun pertama keluarga berencana
nasional dalam era desentralisasi.
UU No 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan
dan Pembangunan Keluarga, yang telah disahkan pada tanggal 29
Oktober 2009, berimplikasi terhadap perubahan kelembangaan, visi
dan misi BKKBN. UU tersebut mengamanatkan perubahan
kelembagaan BKKBN yang semula adalah bBadan Koordinasi
Keluarga Berencana menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional dengan visi “Penduduk Tumbuh Seimbang
2015” dengan misi “mewujudkan pembangunan yang berwawasan
kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera”.
Untuk mencapai visi dan misi tersebut, BKKBN mempunyai
tugas dan fungsi untuk melaksanakan pengendalian penduduk dan
penyelenggaraan keluarga berencana sebagaimana diamanatkan
dalam Pasal 56 UU tersebut diatas. Dalam rangka pengendalian
penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana di daerah,
pemerintah daerah membentuk Badan Kependudukan dan keluarga
Berencana Daerah yang selanjutnya disingkat BKKBD di tingkat
provinsi dan kabupaten dan kota yang dalam melaksanakan tugas

32
dan fungsinya memiliki hubungan fungsional dengan BKKBN (pasa
54 ayat 1 dan 2).
Peran dan fungsi baru BKKBN diperkuat dengan adanya
Peraturan Presiden No. 3 Tahun 2013 tentang Perubahan Ketujuh
Atas Keputusan Presiden No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungi, Kewenangan, Susunan Organisasi dna Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Kementerian; Peraturan Kepala BKKBN
No 82/PER/B5/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi
dan Peraturan Kepala BKKBN No 92/PER/B5/2011 tentang
Organisasi Tata Kerja Balai Pendidikan dan Pelatihan terhadap
renstra BKKBN tentang Pembangunan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional Tahun 2010-2014 meliputi penyesuaian untuk
beberapa kegiatan prioritas dan indikator kinerjanya.
Pasca Reformasi Kepala BKKBN telah mengalami beberapa
pergantian yaitu pada periode Kabinet Persatuan Indonesia, Kepala
BKKBN dirangkap oleh Menteri negara Pemberdayaan Perempuan
yang dijabat oleh Khofifah Indar Parawansa. Setelah itu digantikan
Prof. Dr. Yaumil C. Agoes Achir pada tahun 2001 dan meninggal
dunia pada akhir 2003 akibat penyakit kanker dan kemudian terjadi
kekosongan. Pada tanggal 10 November 2003, Kepala Litbangkes
Departemen Kesehatan dr. Sumarjati Arjoso, SKM dilantik menjadi
Kepala BKKBN oleh Menteri Kesehatan Ahmad Sujudi sampai
beliau memasuki masa pensiun pada tahun 2006. Setelah itu
digantikan oleh Dr. Sugiri Syarief, MPA yang dilantik sebagai
Kepala BKKBN pada tanggal 24 november 2006.
Sebagai tindak lanjut daroi UU 52/2009 tentang Perkembangan
Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera dimana
BKKBN kemudian direstrukturisasi menjadi badan kependudukan,
bukan lagi badan koordinasi maka pada tanggal 27 September 2011

33
Kepala BKKBN ,Dr. Dr. Sugiri Syarief, MPA akhirnya dilantik
sebagai Kepaala BKKBN.
Pada tanggal 13 Juni 2013 akhirnya Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono mwnwtapkan mantan Wakil Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Prof. Fasli Jalal sebagai Kepala BKKBN.
c. Susunan Organisasi

d. Kepala BKKBN
Berikut daftar kepala BKKBN dari masa ke masa:
1. Dr. Suwardjono Suryanigrat (1970-1983)
2. Prof. Dr. Haryono Suyono (1983-1998)
3. Prof. Dr. Ida Bagus Oka (1998-1999)
4. Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si (1999-2001)
5. Prof. Dr. Yaumil Agoes Achir (2001-2003)
6. Dr. Sumarjati Arjoso, SKM (2003-2006)

34
7. Dr. Sugiri Syarief, MPA (2006-2013)
8. Prof. dr. Fasli Jalal, Ph. D, Sp.Gk (2013-2015)
9. Dr. Surya Chandra Surapaty, MPH, Ph. D (2015-2017)
10. Dr. Sigit Priohutomo, MPH (2017-2019)
11. dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) (2019-sekarang)

35
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan
preventif yang utama bagi wanita. Keluarga Berencana menurut WHO
( World Health Organization) adalah tindakan yang membantu pasangan
suami istri untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur
jarak kelahiran, dan menentukan jumlah anak dalam keluarga. Tujuan
program KB adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial
ekonomi. Menjalani program KB sangat bermanfaat bagi pasangan suami
istri, selain membatasi kelahiran, juga bermanfaat mengurangi risiko penyakit
hingga gangguan mental, Keluarga berencana (KB) pertama kali ditetapkan
sebagai program pemerintah pada tanggal 29 juni 1970, bersamaan dengan
dibentuknya Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Program KB di
Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1957, namun masih menjadi urusan
kesehatan dan belum menjadi urusan kependudukan.
B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh
dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan
berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka
dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan
makalah dalam kesimpulan di atas.

36
DAFTAR PUSTAKA

Ayu, Ida Chandranita Manuaba. 2009. “Memahami Kesehatan Reproduksi


Wanita”. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

BKKBN, 2014. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Yogyakarta :


2014

Gustikawati, 2014. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta:


Fitramaya

Nur, Siti. 2014 Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta : EGC

Nurul, Vina. 2009. Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta : EGC

Purwandani, Septerina. 2017. Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi.


Yogyakarta : Trans Info Media

Rismawati, 2012. “Pelayanan Keluarga Berencana”. Jakarta : EGC

37