Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN

Tujuan ditetapkannya otonomi daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan


rakyat, pemerataan dan keadilan sosial. Menurut Zhouhaier (2011), adanya pemberian
otonomi daerah kepada pemerintah daerah akan memberikan iklim yang baik terhadap
pertumbuhan ekonomi di setiap daerah. Salah satu perbedaan mendasar terkait
pelaksanaan otonomi daerah adalah kewenangan keuangannya sendiri. Kondisi ini didasari
asumsi bahwa pemerintah daerah adalah insitusi yang paling mengerti dan memahami
kondisi daerahnya sendiri. Otonomi daerah mulai diberlakukan sejak tahun 2004,
konsekuensinya masing-masing daerah dituntut untuk berupaya dalam meningkatkan
sumber PAD agar mampu membiayai penyelenggaraan pemerintah dan untuk lebih
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat (Rinaldi,2012).

Salah satu ciri utama daerah mampu melaksanakan otonomi daerah menurut Yuliati
(2001), adalah terletak pada kemampuan keuangan daerah untuk membiayai
penyelenggaraan pemerintah daerahnya dengan tingkat ketegantungan kepada
pemerintah pusat mempunyai proporsi yang semakin mengecil dan diharapkan bahwa
pendapatan asli daerah (PAD) harus menjadi bagian terbesar dalam mobilisasi dana
penyelenggaraan pemerintah daerah. Pendapatan asli daerah merupakan salah satu faktor
penting dalam pelaksanaan roda pemerintahan suatu daerah berdasarkan prinsip otonomi
daerah yang nyata, luas dan bertanggungjawab. Peranan PAD dalam keuangan daerah
menjadi salah satu tolak ukur penting dalam pelaksanaan otonomi daerah, dalam arti
semakin besar suatu daerah menghasilkan PAD maka semakin besar pula tersedianya
jumlah keungan daerah yang dapat digunakan untuk membiayai penyelenggaraan otonomi
daerah.

KAJIAN PUSTAKA

Otonomi Daerah

Menurut Nataludin (2001), ciri utama yang menunjukkan suatu daerah mampu
melaksanakan otonomi daerah adalah kemampuan keuangan daerah, artinya daerah harus
memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan,
mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai
penyelenggaraan pemerintahannya. Ketergantungan kepada bantuan pusat harus
seminimal mungkin agar PAD menjadi bagian sumber keuangan terbesar yang didukung
oleh kebijakan perimbangan keuangan pusat dan daerah, sehingga peranan pemerintah
daerah menjadi lebih besar.

Menurut Nataluddin (2001), ada beberapa pola hubungan pemerintah pusat dan daerah
sesuai dengan kemampuan keuangan daerah dalam membiayai penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunannya, antara lain:

1. Pola Hubungan Instruktif, peranan pemerintah pusat lebih dominan dari pada
kemandirian pemerintah daerah (daerah yang tidak mampu melaksanakan otonomi
daerah)

2. Pola Hubungan Konsultif, campur tangan pemerintah pusat sudah mulai berkurang,
karena daerah dianggap sedikit lebih mampu melaksanakan otonomi

3. Pola Hubungan partisipatif, peranan pemerintah pusat semakin berkurang,


mengingat daerah yang bersangkutan tingakt kemandiriannya mendekati mampu
melaksanakan urusan otonomi
4. Pola Hubungan Delegatif, campur tangan pemerintah pusatsudah tidak ada karena
kaerah telah benar benar mampu dan mandiri dalam melaksanakan urusan otonomi
daerah.

Berdasarkan teori tersebut, adanya perbedaan sumber daya alam dan sumber daya
manusia pada masing masing daerah, maka akan terjadi perbedaan pola hubungan dan
tingkat kemandirian antar daerah. Sebagai pedoman dalam melihat pola hubungan dengan
kemampuan keuangan daerah dapat diperlihatkan pada tabel berikut

Tabel 1
Pola Hubungan Tingkat Kemampuan Daerah
Kemampuan
Kemandirian (%) Pola Hubungan
Keuangan
Rendah sekali 0%-25% Instruktif
Rendah 25%-50% Konsultif
Sedang 50%-75% Partisipatif
Tinggi 75%- 100% Delegatif
Sumber : Abdul Halim (2002)

Pengelolaan Penerimaan Daerah

Sumber sumber penerimaan pemerintah daerah dapat dirinci sebagai berikut:

Pendapatan daerah

Menurut UU nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara dan Peraturan Pemerintah
nomor 58 tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan daerah, Pendapatan daerah adalah
hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah kekayaan bersih. Pendapatan
daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang
menambah ekuitas dana lancar yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran
yang tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Pendapatan daerah terdiri dari:

1) Pendapatan Asli Daerah (PAD)

2) Dana Perimbangan

3) Lain-lain pendapatan daerah yang sah

Pendapatan asli daerah terdiri dari:

a) Pajak daerah

b) Retribusi daerah

c) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan

d) Lain-lain PAD yang sah

Lain-lain PAD yang sah terdiri dari:

a) Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan

b) Hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan

c) Jasa giro

d) pendapatan bunga
e) tuntutan ganti rugi

f) keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing

g) komisi potongan apapun bentuknya sebagai akibat dari penjualan dan/atau


pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah.

Dana Perimbangan

Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari penerimaan APBD yang
dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi.

Dana perimbangan terdiri dari :

a) Dana Bagi Hasil

b) Dana Alokasi Umum (DAU)

c) Dana Alokasi Khusus (DAK)

Lain-lain pendapatan daerah yang sah merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD
dan dana perimbangan, yang meliputi hibah, dana darurat, dan lain-lain pendapatan yang
ditetapkan pemerintah

Pengelolaan Pengeluaran Daerah

Dalam Peraturan Pemerintah No. 58 tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan daerah,
disebutkan bahwa Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah. Belanja
daerah meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi
ekuitas dana lancar, yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang
tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. yang meliputi belanja rutin
(operasional), belanja pembangunan (belanja modal) serta pengeluaran tidak terduga.

Belanja rutin adalah pengeluaran yang manfaatnya hanya untuk satu tahun anggaran dan
tidak menambah aset/kekayaan bagi daerah. Belanja rutin terdiri dari : (a). Belanja
administrasi dan umum (belanja pegawai, belanja barang, beanja perjalanan dinas dan
belanja pemeliharaan); (b) Belanja operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana.

Belanja modal /Pembangunan adalah pengeluaran yang manfaatnya cenderung melebihi


satu tahun anggaran dan akan menambah aset/kekayaan daerah dan selanjutnya akan
menambah anggaran rutin untuk biaya operasional dan pemeliharaannya.

Pengeluaran tidak terduga adalah pengeluaran yang disediakan untuk pembiayaan : (a)
Kejadian-kejadian luar biasa seperti bencana alam, kejadian yang dapat membahayakan
daerah; (b) Tagihan tahun lalu yang belum diselesaikan dan atau tidak tersedia
anggarannya pada tahun yang bersangkutan.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

APBD adalah suatu rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh
DPRD (UU No.17 Tahun 2003). APBD merupakan salah satu alat yang mempunyai peranan
penting dalam meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat sesuai
dengan tujuan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab. APBD harus
mencerminkan kebutuhan masyarakat dengan memperhatikan potensi dan
keanekaragaman daerah. Menurut Nirzwan (2001), penyusunan APBD harus mengacu
pada norma-norma dan prinsip anggaran yang terdiri dari : transparansi dan akuntabilitas,
disiplin anggaran, keadilan anggaran serta efisiensi dan efektifitas anggaran.

Analisis Rasio Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

Analisis keuangan adalah usaha mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan


keuangan yang tersedia. Dalam mengadakan analisis keuangan memerlukan ukuran
tertentu. Ukuran yang sering digunakan adalah rasio. Erich Helfert (2000,49) mengartikan
rasio adalah suatu angka yang menunjukkan hubungan suatu unsur dengan unsur lainnya
dalam laporan keuangan, sedangkan Munawir (1995:64) menjelaskan rasio sebagai
hubungan atau perimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain.

Analisis rasio pada APBD dilakukan dengan membandingkan hasil yang dicapai pada suatu
periode dengan sebelumnya, sehingga dapat diketahui bagaiman kecenderungan yang
terjadi. Selain itu dapat pula dilakukan dengan cara membandingkan dengan rasio
keuangan yang dimiliki suatu pemerintah tertentu dengan rasio keuangan daerah lainnya
yang potensi daerahnya relatif sama .

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif. Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data
keuangan APBD Kota Payakumbuh tahun anggaran 2013-2017.

Data keuangan dianalisis dengan menggunakan rasio keuangan daerah yang diukur
menggunakan rumus sebagai berikut:

1. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Rasio kemandirian keuangan daerah menunjukkan tingkat kemampuan suatu daerah


dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan
kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber
pendapatan yang diperlukan daerah. Rasio kemadirian ditunjukkan oleh besarnya
pendapatan asli daerah dibandingkan dengan pendapatan yang berasal dari sumber
lain (pihak ekstern) antara lain (bagi hasil pajak, bagi hasil bukan pajak, DAU, DAK
dana perimbangan dari provinsi dan dana darurat (Widodo.2001:262). Rasio
kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber dana ekstern.
Semakin tinggi rasio kemandirian, berarti tingkat ketergantungan daerah terhadap
bantuan pihak ekstern semakin rendah dan demikian pula sebaliknya. Rasio
kemandirian juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam
pembangunan daerah. Semakin tinggi rasio kemandirian, semakin tinggi partisipasi
masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen
utama PAD. Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan
retribusi daerah menunjukkan semakin tinggi tingkat kesejahteraan masyarakat.

2. Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal

Rasio derajat desentralisasi fiskal atau otonomi fiskal daerah adalah kemampuan
pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan PAD guna membiayai pembangunan.
Rasio Derajat Desentralisai Fiskal diperoleh dengan membandingkan PAD dengan
Total Pendapatan Daerah (TPD). Derajat Desentralisasi Fiskal diukur dengan
menggunakan skala interval yang merupakan hasil penelitian Tim Fisipol UGM
sebagaimana terlihat dalam tabel berikut (Adhidian Fajar Sakti, 2001) :
Tabel 2

Interval Derajat Desentralisasi Fiskal

Persentase Kemampuan Keuangan Daerah

0,00-10,00 Sangat kurang

10,01-20,00 Kurang

20,01-30,00 Cukup

30,01-40,00 Sedang

40,01-50,00 Baik

>50,00 Sangat baik

Sumber : Adhidian Fajar Sakti (2001:22)

Derajat desentralisasi fiskal dihitung dengan membandingkan total PAD tahun tertentu
dengan total pendapatan tahun yang sama dikali 100%.

3. Rasio Indeks Kemampuan Rutin (IKR)

Indeks kemampuan rutin adalah proporsi antara PAD dengan pengeluaran rutin tanpa
transfer dari pemerintah pusat (Kuncoro, 1997). Indeks IKR dinilai dengan
menggunakan skala menurut Tumilar (1997) sebagaimana terlihat pada tabel dibawah
ini:

Tabel 3

Skala Interval Indeks Kemampuan Rutin

Persentase Kemampuan Keuangan Daerah

0,00-20,00 Sangat kurang

20,01-40,00 Kurang

40,01-60,00 Cukup

60,01-80,00 Baik

80,01-100 Sangat baik

Sumber : widodo (2001:22)

Indeks Kemampuan rutin dihitung dengan membandingkan total PAD dengan Total
Pengeluaran Rutin dikali 100%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pendapatan Asli Daerah Kota Payakumbuh


Penerimaan dari sumber PAD Kota Payakumbuh selama kurun waktu lima tahun yaitu
tahun anggaran 2013-2017 seperti terlihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5

Realisasi PAD Kota Payakumbuh TA 2013-2017

Pendapatan
Hasil
Tahun Lain-lain
Pajak Retribusi Pengelolaan Pendapatan Perkemban
Anggar PAD yang
Daerah Daerah Kekayaan Asli Daerah gan (%)
an Sah
Daerah yang
dipisahkan

7.110.931. 8.417.027. 9.028.866. 29.621.124. 54.177.950


2013 -
746 491 865 738 .840
10.591.499. 7.010.407. 7.984.857. 40.313.861. 65.900.626
2014 22%
818 507 567 324 .216
10.765.420. 5.470.554. 8.337.948. 76.072.635. 100.646.557
2015 53%
224 518 032 147 .921
11.033.692. 6.244.517. 9.532.797. 60.634.108. 87.445.115
2016 -13%
749 288 149 716 .902
14.047.192. 6.726.253. 8.828.124. 69.512.869. 99.114.439
2017 13%
754 027 902 154 .837
Sumber : APBD Kota Payakumbuh TA 2013-2017 diolah

Pendapatan Asli Daerah Kota Payakumbuh selama kurun waktu lima tahun cukup
fluktuatif. Dibandingkan TA 2013, PAD TA 2014 mengalami kenaikan sebesar 22%, pada
TA 2015 mengalami kenaikan yang sangat signifikan, yaitu sebesar 53%. Pada TA 2016
PAD mengalami penurunan sebesar 13% dan kembali mengalami kenaikan sebesar 13%
pada TA 2017.

Pendapatan dari pihak Ekstern Kota Payakumbuh

Pendapatan Kota Payakumbuh yang bersumber dari pihak ekstern terlihat pada tabel di
bawah ini.

Tabel 7
Realisasi Pendapatan Kota Payakumbuh dari Pihak Ekstern
Tahun Anggaran 2013-2017

  PENDAPATAN TRANSFER LAIN-LAIN


Transfer Transfer Perkemb
Tahun Transfer PENDAPAT
Pemerintah Daerah Bantuan Total angan
Anggar Pemerintah AN YANG
Pusat-Dana Pusat- Keuangan (%)
an Provinsi SAH
perimbangan Lainnya
2013 420.505.625. 54.351.328. 12.567.996. 902.631.60 488.327.581.
706 000 000   0 306 -

2014 458.987.086. 60.016.744. 17.601.171. 1.136.534. 537.741.535.


435 000 530   000 965 10%

2015 508.627.289. 69.381.707. 21.655.487. 2.615.000. 996.000.00 603.275.484.


659 000 422 000 0 081 12%

2016 601.830.078. 22.787.409. 1.970.032. 626.587.520.


683 910 000   593 4%

2017 596.081.338. 25.516.483. 621.597.821.


107   482     589 -1%

Pendapatan Kota Payakumbuh yang bersumber dari pihak eksternal selama kurun waktu
lima tahun cukup fluktuatif. Dibandingkan TA 2013, Pendapatan Kota Payakumbuh yang
bersumber dari pihak eksternal TA 2014 mengalami kenaikan sebesar 10%, pada TA 2015
mengalami kenaikan lagi sebesar 12%. Pada TA 2016 mengalami kenaikan sebesar 4%
tetapi mengalami penurunan sebesar 1% pada TA 2017.

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Rasio kemandirian keuangan daerah diperoleh dengan membandingkan pendapatan asli


daerah Kota Payakumbuh dan pendapatan yang bersumber dari pihak eksternal Kota
Payakumbuh. Pada tabel berikut dapat dilihat perhitungan rasio kemandirian Kota
Paykumbuh TA 2013-2017

Tabel 5
Perhitungan Rasio Kemandirian Daerah
Kota Payakumbuh TA 2013-2017

Sumber Pendapatan dari


Pendapatan Asli Daerah
Pihak ekstern Rasio
Tahun Total Keterang
No % % Keman
Anggaran Pendapatan Perke Perke an
dirian
Rp mban Rp mban
gan gan
542.505.532.16
1 2013 5 54.177.950.840 - 10% 488.327.581.306 - 90% 11.09% Instruktif

603.642.162.20
2 2014 0 65.900.626.216 22% 11% 537.741.535.965 10% 89% 12.26% Instruktif

703.922.042.00
3 2015 2 100.646.557.921 53% 14% 603.275.484.081 12% 86% 16.68% Instruktif

714.032.636.49
4 2016 5 87.445.115.902 -13% 12% 626.587.520.593 4% 88% 13.96% Instruktif

720.712.261.42
5 2017 6 99.114.439.837 13% 14% 621.597.821.589 -1% 86% 15.95% Instruktif

Rata-rata         13.99% Instruktif

Berdasarkan Tabel di atas dapat dijelaskan bahwa rasio kemandirian Kota Payakumbuh
selama lima tahun yakni tahun 2013-2017 cenderung berubah-ubah. Pada tahun 2013
rasio kemandirian Kota Payakumbuh adalah 11.09% kemudian naik menjadi 12.26% pada
tahun 2014, pada tahun 2015 terjadi kenaikan lagi sebesar 16.68%, tetapi pada tahun 2016
mengalami penurunan sebesar 13.96% dan kembali mengalami kenaikan pada tahun 2017
sebesar 15.95%. Jadi rata-rata rasio kemandirian Kota Payakumbuh selama kurun waktu
lima tahun terakhir adalah sebesar 13.99% yang berarti tingkat kemandirian Kota
Payakumbuh sangat rendah dengan pola hubungan bersifat instruktif, hal ini berarti bahwa
ketergantungan Pemerintah Kota Payakumbuh pada pendapatan yang bersumber dari
pihak ekstern masih sangat tinggi.

Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal

Untuk melihat kemampuan pemerintah Kota Payakumbuh dalam rangka meningkatkan


pendapatan asli daerah guna membiayai pembangunannya, maka perlu dihitung derajat
desentralisasi fiskalnya. Hasil perhitungan rasio derajat desentralisasi fiskal Kota
Payakumbuh dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5
Kontribusi PAD terhadap TPD
Kota Payakumbuh TA 2013-2017

Tahun Kemampuan
PAD (Rp) TPD (Rp) %
Anggaran Keuangan

54.177.950. 542.505.532.16 Sangat


2013 9,99%
840 5 kurang
65.900.626. 603.642.162.20
2014 10,92% Kurang
216 0
100.646.557. 703.922.042.00
2015 14,30% Kurang
921 2
87.445.115. 714.032.636.49
2016 12,25% Kurang
902 5
99.114.439. 720.712.261.42
2017 13,75% Kurang
837 6

Rata-rata 12,24% Kurang

Berdasarkan Tabel di atas dapat dijelaskan bahwa rasio pendapatan asli daerah terhadap
total pendapatan daerah Kota Payakumbuh selama lima tahun yakni tahun 2013-2017
cenderung berubah-ubah. Pada tahun 2013 derajat desentralisasi fiskal Kota Payakumbuh
adalah 9.99% kemudian naik menjadi 10.92% pada tahun 2014, pada tahun 2015 terjadi
kenaikan lagi sebesar 14.30%, tetapi pada tahun 2016 mengalami penurunan sebesar
12.25% dan kembali mengalami kenaikan pada tahun 2017 sebesar 13,75%. Jadi rata-rata
derajat desentralisasi fiskal Kota Payakumbuh selama kurun waktu lima tahun terakhir
adalah sebesar 12.24% dan berada pada interval antara 10.01-20.00. Ini menunjukkan
bahwa PAD Kota Payakumbuh mempunyai keamampuan yang “kurang” dalam membiayai
pembangunan daerahnya.

Rasio Indeks Kemampuan Rutin

Hasil perhitungan rasio indeks kemampuan rutin pemerintah Kota Payakumbuh dapat
dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 7
Kontribusi PAD Terhadap Pengeluaran Rutin
Kota Payakumbuh tahun 2013-2017

Tahun Pengeluaran Kemampuan


PAD (Rp) %
Anggaran Rutin Keuangan
Sangat
2013 54.177.950.840 434.852.733.654 12,46%
kurang
Sangat
2014 65.900.626.216 488.396.498.897 13,49%
kurang
Sangat
2015 100.646.557.921 528.170.607.924 19,06%
kurang
Sangat
2016 87.445.115.902 579.013.003.860 15,10%
kurang
Sangat
2017 99.114.439.837 503.008.117.237 19,70%
kurang
Sangat
Rata-rata 15,96%
kurang

Berdasarkan Tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kemampuan pendapatan asli daerah
dalam membiayai pengeluaran rutin Kota Payakumbuh selama lima tahun yakni tahun
2013-2017 cenderung berubah-ubah. Pada tahun 2013 indeks kemampuan rutin Kota
Payakumbuh adalah 12.46% kemudian naik menjadi 13.49% pada tahun 2014, pada tahun
2015 terjadi kenaikan lagi sebesar 19.06%, tetapi pada tahun 2016 mengalami penurunan
sebesar 15.01% dan kembali mengalami kenaikan pada tahun 2017 sebesar 19,70%. Jadi
rata-rata indeks kemampuan rutin Kota Payakumbuh selama kurun waktu lima tahun
terakhir adalah sebesar 15.96% dan berada pada interval antara 10.01-20.00. Ini
menunjukkan bahwa PAD Kota Payakumbuh mempunyai keamampuan yang “sangat
kurang” dalam membiayai belanja rutin daerahnya.

KESIMPULAN

Dari hasil analisis data data keuangan Kota Payakumbuh dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:

Rasio kemandirian keuangan daerah Kota Payakumbuh menunjukkan rasio rata-rata


sebesar 13.99%, dengan pola hubungan instruktif, yang berarti kemampuan Pemerintah
Kota Payakumbuh dalam memenuhi kebutuhan dana untuk penyelenggaraan tugas-tugas
pemerintahan, pembangunan dan pelayanan sosial masyarakat masih relatif rendah.

Rasio derajat desentralisasi fiskal Pemerintah Kota Payakumbuh selama kurun waktu lima
tahun terakhir adalah kurang, dengan rata-rata rasio sebesar 12.24%. Yang berarti bahwa
tingkat kemandirian atau tingkat kemampuan Kota Payakumbuh masih rendah dalam
melaksanakan otonominya.

Rata-rata indeks kemampuan rutin Kota Payakumbuh adalah sebesar 15.96%, yang berarti
kemampuan Kota Payakumbuh dalam membiayai pengeluaran rutinnya sangat kurang
karena masih berada dalam skala interval antara 0.00-20.00. Hal ini bearti PAD Kota
Payakumbuh memiliki kemampuan sangat kurang untuk membiayai pengeluaran rutinnya,
dan pemerintah Kota Payakumbuh masih tergantung pada sumber penerimaan keuangan
dari pihak ekstern.

REFERENSI

Abe, Alexander, 2005. Perencanaan Daerah Partisipatif. Yogyakarta: Pembaruan.


Agustino,E, Kinerja Keuangan dan Strategi Pembangunan Kota di Era Otonomi Daerah:
Journal : CURES Working Paper No 05/01 January 2005, Fakultas Ekonomi Universitas
Airlangga, Surabaya

Ahmad, Jamaluddin, 1990, Hubungan Keuangan Antara Pusat dan Daerah, Studi Kasus DI
Aceh, Jawa timur dan DKI Jakarta, Desertasi Doktor UGM, Yogyakarta (Tidak Dipublikasikan)

Aliman,2000, Modul Ekonometrika terapan, PAU Studi ekonomi UGM,Yogyakarta


Anonymus, 1999, Undang-Undang Republik Indonesia No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah, Penerbit BP Panca Usaha, Jakarta

Arsyad, Nurjaman, 2004, Hubungan Fiskal Antar Pemerintahan di Indonesia, Peranan dan
Masalahnya, Journal : Analisis CSIS, Jakarta

Badan Penelitian dan Pengembangan Depdagri dan Fisipol UGM,1991, Pengukuran


Kemampuan Keu-angan Daerah Tingkat II dalam Rangka Otonomi Daerah yang Nyata dan
Bertanggung Jawab, Jakarta

Bawazier, Fuad, 1996. “Pungutan Pada Dunia Usaha”. Seri Kajian Fiskal dan Moneter, No.19,
hal. 5-14.

David, FR,1997.Strategic Management 6th Edt. New Jersey: Prentice Hall.


Deny, Junanto, (2002) Penerapan Desentralisasi Fiskal Untuk Meningkatkan Sektor Pariwisata,
Journal Bunga Rampai LAN, Jakarta

Departemen Keuangan Republik Indonesia, 2008, Pelengkap Buku Pegangan Departemen


keungan tentang Pelaksanaan Desentrali-sasi Fiskal di Indonesia, Buku Penyelenggaraan
Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Tahun 2009,

Depkeu RI, Jakarta Departemen Keuangan Republik Indonesia, 2009, Pelengkap Buku
Pegangan Departemen keungan tentang Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal di Indonesia, Buku
Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Tahun 2009, Depkeu RI, Jakarta.

Hinderink, J., dan Titus, MJ., 1989. “Paradigms of Regional Development and Take Role Of
Small Centers Development and Change”. Ekonomi dan Keuangan IndonesiaI, Vol. 19, hal 17-
31.

Halim, Abdul, 2004. Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta: UPP AMP- YKPN.

Ichsan,dkk,1997, Administrasi Keu-angan Daerah: Pengelolaan dan Penyusunan Anggaran


Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), cetakan pertama, PT Danar Wijaya, Brawijaya
University Press, Malang

Ismail, Tjip, 2003. “Peran Pendapatan Asli Daerah Sebagai Pendamping Dana Perim-bangan
Dalam Pembiayaan Pembangunan Guna Mewu-judkan Kemandirian Daerah”. Bunga Rampai
Desentralisasi Fiskal. Jakarta: Departemen Keuangan

Peraturan Pemerintah nomor 58 tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan daerah

Rinaldi, Udin. 2012. Kemandirian Keuangan dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah. Jurnal
EKSOS, 8(2):105-113

Zouhaier, Hadhek. 2011. Institutions, Investment and Economic Growth. International Journal
of Economics and Finance, 4( 2):152-162.

Undang-undang UU nomor 17 tahun 2003 Tentang Keuangan Negara.