Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MAKALAH

PENGANTAR SOSIOLOGI HUKUM


KELAS F
“HUKUM DAN PERUBAHAN PERILAKU SOSIAL MASYARAKAT
DITINJAU DARI ASPEK SOSIOLOGI HUKUM”

PENYUSUN :

SALSABILA AURIEL ATALLAH

175010100111145

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2019
A. LATAR BELAKANG
Kehidupan manusia di dalam pergaulan masyarakat diikuti oleh norma-norma.
Norma yaitu peraturan hidup yang mempengaruhi tingkah laku manusia di dalam
masyarakat. Sejak masa kecilnya manusia merasakan adanya peraturan-peraturan hidup
yang membatasi perilaku atau tingkah lakunya. Pada mulanya yang dialami adalah
peraturan-peraturan hidup yang berlaku dalam lingkungan keluarga yang dikenalnya.
Selanjutnya baru yang berlaku di masyarakat. Yang dirasakan paling nyata adalah
peraturan-peraturan hidup yang berlaku di dalam suatu Negara. Peraturan-peraturan yang
ada di suatu Negara dibuat oleh para penguasa Negara. Isinya mengikat setiap orang dan
pelaksanaannya dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh alat-alat Negara.
Peraturan-peraturan tersebut dapat juga kita sebut dengan Norma Hukum.
Norma hukum juga merupakan sarana yang dipakai oleh masyarakat untuk
mengarahkan tingkah laku anggota masyarakat pada saat mereka berhubungan satu sama
lain. Pada masyarakat modern, hukum tidak hanya dipakai untuk mengukuhkan pola-pola
kebiasaan dan tingkah laku yang terdapat dalam masyarakat, melainkan juga untuk
mengarahkannya kepada tujuan-tujuan yang dikehendaki, menghapuskan kebiasaan yang
dipandang tidak sesuai lagi, menciptakan pola-pola kelakuan baru dan sebagainya.
Makalah ini akan mengupas mengenai hukum dan perubahan perilaku sosial masyarakat
ditinjau dari aspek sosiologi hukum.
B. HASIL ANALISIS
Pembahasan Menurut kodrat alam, manusia di mana-mana dan pada zaman
apapun juga selalu hidup bersama, hidup berkelompok-kelompok. Dalam sejarah
perkembangan manusia tak terdapat seorangpun yang hidup menyendiri atau terpisah dari
kelompok manusia lainnya, kecuali dalam keadaan terpaksa dan itu pun hanyalah untuk
sementara waktu. Manusia sebagai individu (perseorangan) mempunyai kehidupan jiwa
yang menyendiri, namun manusia sebagai mahluk sosial tidak dapat dipisahkan dari
masyarakat. Manusia lahir, hidup berkembang dan meninggal dunia di dalam
masyarakat. Hasrat untuk hidup bersama memang telah menjadi pembawaan manusia,
merupakan suatu keharusan badaniah untuk melangsungkan hidupnya. Persatuan manusia
yang timbul dari kodrat yang sama itu lazim disebut dengan masyarakat. Jadi masyarakat
itu terbentuk apabila ada dua orang atau lebih hidup bersama, sehingga dalam pergaulan
hidup itu timbul berbagai hubungan atau pertalian yang mengakibatkan bahwa yang
seorang dan yang lain saling kenal mengenal dan pengaruh mempengaruhi. Di dalam
kehidupan masyarakat terdapat berbagai golongan dan aliran. Walaupun golongan dan
aliran itu beraneka ragam dan masing-masing mempunyai kepentingan sendiri-sendiri,
tetapi ada kepentingan bersama yang mengharuskan ketertiban dalam kehidupan
bermasyarakat. Agar memenuhi kebutuhannya dengan aman dan tentram tanpa
gangguan, tiap manusia memerlukan adanya suatu tata (orde). Tata itu berwujud aturan-
aturan yang menjadi pedoman bagi segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup,
sehingga kepentingan masing-masing dapat terpelihara dan terjamin, selain itu anggota
masyarakat juga mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing. Tata itu lazim
disebut dengan kaidah atau norma.
Norma itu sendiri mempunyai dua macam isi, yaitu : 1. Perintah, yang merupakan
keharusan bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang
baik. 2. Larangan, yang merupakan keharusan bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu
oleh karena akibat-akibatnya dipandang baik. kegunaan norma itu sendiri adalah untuk
memberi petunjuk kepada manusia bagaimana seseorang harus bertindak dalam dalam
masyarakat serta perbuatan-perbuatan mana yang harus dipenuhi. Di dalam kehidupan
bermasyarakat terdapat beberapa norma yang berlaku, salah satu diantaranya adalah
norma hukum. Isi dari norma hukum adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh
penguasa negara dan bersifat mengikat bagi setiap orang. Dalam pelaksanaannya norma
hukum dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh alat-alat negara, misalnya
Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan
kepercayaannya (Pasal 2 ayat (1) UU No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan). Menurut
Leon Duguit, Hukum ialah aturan tingkah laku para anggota masyarakat, aturan yang
daya penggunaannya pada saat tertentu diindahkan oleh suatu masyarakat sebagai
jaminan dari kepentingan bersama dan yang jika dilanggar menimbulkan reaksi bersama
terhadap orang yang melakukan pelanggaran itu. Salah satu karakteristik hukum yang
membedakanya dari aturan-aturan yang bersifat normatif adanya mekanisme kontrol
yaitu yang disebut sebagai sanksi. Sanksi digunakan sebagai alat untuk mengontrol
mereka yang menyimpang dan juga untuk menjaga agar orang tetap patuh kepada aturan-
aturan yang telah ditentukan. Secara sosiologis hukum berfungsi untuk membimbing
manusia, khususnya mengenai perilakunya yang nyata. Di dalam hal ini, hukum dapat
dipergunakan sebagai sarana pengendalian, maupun untuk merubah ataupun
menciptakan yang baru. Hukum adalah sarana yang dipakai oleh masyarakat untuk
mengarahkan tingkah laku anggota masyarakat pada saat mereka berhubungan satu sama
lain. Kemana hukum itu mengarahkan tingkah laku manusia merupakan prioritas yang
ada pada masyarakat itu sendiri. Masyarakatlah yang menentukan arah-arah tersebut dan
oleh karena itu kita bisa melihat hukum itu sebagai pencerminan dari kehendak
masyarakat. Kehendak masyarakat untuk mengarahkan tingkah laku anggota-anggota
masyarakat itu dilakukan dengan membuat pilihan antara tingkah laku yang disetujui dan
yang ditolak. Salah satu ciri yang menonjol dari hukum pada masyarakat modern adalah
penggunaanya secara sadar oleh masyarakatnya. Di sini hukum tidak hanya dipakai untuk
mengukuhkan pola-pola kebiasaan dan tingkah laku yang terdapat dalam masyarakat,
melainkan juga untuk mengarahkannya kepada tujuan-tujuan yang dikehendaki,
menghapuskan kebiasaan yang dipandang tidak sesuai lagi, menciptakan pola-pola
kelakuan baru dan sebagainya. Inilah yang disebut sebagai pandangan modern tentang
hukum itu yang menjurus kepada penggunaan hukum sebagai suatu instrument. Sorokin
telah menggambarkan pandangan dari masyarakat modern tentang hukum itu dengan
cukup tajam, yaitu sebagai : hukum buatan manusia, yang sering hanya merupakan
sebuah instrumen untuk menundukkan dan mengeksploitasi suatu golongan oleh
golongan lain. Tujuannya adalah sepenuhnya utilitarian: keselamatan hidup manusia,
keamanan harta benda dan pemilikan, keamanan dan ketertiban, kebahagiaan dan
kesejahteraan atau dari masyarakat keseluruhannya, atau dari golongan yang berkuasa
dalam masyarakat.. norma-normanya bersifat relative, bisa dirubah dan tergantung pada
keadaan. Dalam sistem hukum yang
demikian itu tidak ada yang dianggap abadi atau suci….”
Adanya hubungan fungsional antara sistem hukum yang dipakai dan (struktur)
masyarakatnya sebetulnya sudah diuraikan oleh Emile Durkheim, pada waktu itu ia
membicarakan tentang hubungan antara kualitas solidaritas antara anggota-anggota

masyarakat dengan sistem hukum yang dipakainya. Durkheim membedakan antara


“masyarakat dengan solidaritas mekanik” dengan “masyarakat dengan solidaritas
organik”.
Masyarakat dengan solidaritas yang disebut pertama adalah yang mendasarkan pada sifat
kebersamaan dari para anggotanya . sedangkan yang kedua , mendasarkan pada
individualitas dan kebebasan dari para anggotanya. Masyarakat solidaritas mekanik
dipertahankan oleh sistem hukum represif, sedangkan masyarakat solidaritas organik oleh
sistem hukum restitutif. Sistem hukum represif fungsional untuk masyarakat dengan
solidaritas mekanik, oleh karena ia mampu mempertahankan kebersamaan itu. Sistem
hukum restitutif juga sesuai untuk menjaga kelangsungan masyarakat dengan solidaritas
organik, oleh karena sistem ini memberikan kebebasan kepada masing-masing individu
untuk berhubungan satu sama lain menurut pilihannya sendiri, sedangkan hukumnya
hanya mengusahakan supaya tercapai keseimbangan di antara kepentingan-kepentingan
dari para pihak yang mengadakan hubungan tersebut. Sekalipun Durkheim tidak
membicarakan masalah penggunaan hukum secara sadar untuk merubah masyarakat,
namun efek yang diberikan oleh uraiannya itu mendukung ke arah penggunaan yang
demikian itu. Teori Durkheim memberikan dasar bagi kemungkinan penggunaan suatu
sistem hukum untuk menciptakan atau mempertahankan masyarakat yangdiinginkannya.
Penggunaan hukum secara sadar untuk mengubah masyarakat itu disebut sebagai Social
Engineering atau lengkapnya Social Engineering by law. Langkah yang diambil dalam
Social Engineering bersifat sistematis, dimulai dari identifikasi problem samapai kepada
jalan pemecahannya, yaitu: 1. Mengenai problem yang dihadapai sebaik-baiknya
termasuk di dalamnya mengenali dengan seksama masyarakat yang hendak menjadi
sasaran dari penggarapan tersebut. 2. Memahami nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.
Hal ini penting dalam hal Social Engineering itu hendak diterapkan pada masyarakat
dengan sektor-sektor kehidupan majemuk, seperti : tradisional, modern dan perencanaan.
Pada tahap ini ditentukan nilai-nilai dari sektor mana yang dipilih. 3. Membuat hipotesa-
hipotesa dan memilih mana yang paling layak untuk bisa dilaksanakan. 4. Mengikuti
jalannya penerapan hukum dan mengukur efek-efeknya. Sekalipun orang pada zaman
modern sekarang ini mempunyai kesadaran tentang penggunaan hukum untuk menyusun
dan mengubah masyarakat yang demikian itu, namun masih harus dipertanyakan
seberapa jauh hukum itu mampu dipakai sebagai instrumen yang dapat mengubah
masyarakat. Kalau hukum itu memang mampu menimbulkan pengaruh dan efek yang
dikehendaki, seberapa jauhkah, seberapa besarkah?. Keadaan memang tidak mudah untuk
memastikan apakah hukum itu memang telah berhasil untuk menimbulkan perubahan
seperti yang dikehendaki. Hubungan antara hukum dengan masalah yang dijadikan
sasarannya tidaklah berupa hubungan sebab-akibat seperti pada ilmu-ilmu alam. Oleh
karena itu masih ada pendapat yang meragukan, bahwa hukum mampu untuk melakukan
perubahan yang dinginkannya. Terdapat kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa turut
menyebabkan timbulnya sesuatu perubahan dalam masyarakat. Factor-faktor ini di
antaranya adalah ekonomi dan penggunaan teknologi. Sampai di sini sebetulnya kita telah
memasuki suatu persoalan yang memang cukup rumit, yaitu masalah penyebab sosial.
Untuk menentukan sebab-sebab tertentu yang diperkirakan menimbulkan suatu keadaan
dalam kehidupan sosial adalah tidak mudah dan oleh karena itu orang sering lebih suka
memilih untuk menggunakan kata-kata yang lebih ringan, seperti kecenderungan,
korelasi dan sebagainya. Hukum tetap bisa dipakai sebagai instrumen yang dipakai secara
sadar untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Hanya dalam menilai proses pencapaian
tujuan itu kita tidak boleh berpikir seperti dalam ilmu-ilmu alam. Yang jelas, prosesnya
akan berlangsung cukup
panjang dan efek yang ditimbulkannya bisa merupakan efek yang sifatnya berantai.
Dalam keadaan yang demikian ini, maka hukum bisa digolongkan ke dalam factor
penggerak mula, yaitu yang memberikan dorongan pertama secara sistematis. Suatu
contoh yang baik sekali mengenai proses yang demikian itu adalah suatu keputusan yang
dibuat oleh supreme Court Amerika Serikat pada tahun 1954 yang menyatakan, bahwa
pemisahan rasial pada sekolah-sekolah pemerintah adalah tidak konstitusional.
Keputusan ini bisa dimasukkan ke dalam golongan social engineering oleh karena
bertujuan untuk menciptakan perubahan pada masyarakat, yaitu untuk merubah moralitas
orang Amerika Serikat yang tidak menyukai adanya pembaruan antara orang-orang kulit
putih dan kulit hitam dalam satu sekolah. Memang dalam waktu yang singkat, keputusan
tersebut tidak dapat diharapkan untuk menghapus sama sekali prasangka orang kulit putih
terhadap kulit hitam. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Edwin M. Schur, orang perlu
membedakan antara prasangka dan diskriminasi. Prasangka menyangkut soal sikap yang
memihak, yaitu kecenderungan kearah memberikan penilaian terlebih dahulu disebut
Diskriminasi, dalam pada itu menyangkut tindakan yang merugikan secara tidak adil
terhadap golongan minoritas dalam masyarakat dengan cara menolak untuk
memperlakukannya secara sama, menolak diterapkannya sistem peradilan yang
semestinya dan sebagainya. Orang tidak harus mengurangi prasangka secara efektif untuk
bisa melakukan pengendalian terhadap tindakan diskriminatif secara terbuka itu.
Biasanya rakyat mematuhi hukum, sekalipun isinya tidak mereka sukai. Dalam hubungan
dengan perundang-undangan atau keputusan hakim yang memberikan perlindungan
terhadap orang-orang negro ini, sekalipun ia gagal untuk mengurangi prasangka tersebut.
Namun pengaruhnya terhadap perlakuan hukum selanjutnya bagi orang-orang negro itu
harus diakui efektifitasnya. Keputusan serta perundang-undangan yang demikian itu akan
mendorong penerapan hak-hak individual yang makin meluas, seperti hak untuk
memberikan suara, untuk memperoleh pekerjaan, menggunakan fasilitas umum,
memperoleh pendidikan yang cukup, perumahan yang layak dan seterusnya. Dalam
kenyataannya memang keputusan-keputusan pengadilan federal dan negara bagian di
Amerika Serikat memberikan pengakuan yang makin luas terhadap hak-hak seperti
tersebut di atas. Bahkan pada hari selasa 4 November 2008 Barack Obama calon presiden
kulit hitam pertama yang berasal dari Partai Demokrat berhasil mencetak sejarah menjadi
presiden kulit hitam pertama di negara Amerika Serikat. Jika melihat komposisi
penduduk AS pada tahun 2008, sekitar 52% adalah kulit putih, 24% Afrika-Amerika,
14% Hispanics (keturunan Mexico dan Amerika Latin), 7% Asia (terutama Asia Tengah,
Timur, dan Selatan), dan sisanya Arab, Timur Tengah, dan lain-lain. Maka dengan
kemenangan Barack Obama yang meyakinkan dapat kita ambil kesimpulan bahwa rakyat
Amerika Serikat perlahan-lahan sudah meninggalkan perilaku Rasisme. Namun
demikian dalam kenyataannya seringkali kita temukan hukum tidak selalu berpengaruh
secara positif terhadap masyarakat. Hukum dapat juga mengakibatkan terjadinya
perilaku yang menyimpang, oleh karena warga masyarakat sengaja berbuat melawan
hukum atau mungkin dia sama sekali tidak mengacuhkan hukum yang berlaku. Misalnya,
perilaku para pejalan kaki apabila ada jembatan penyeberangan mereka tetap memilih
untuk tidak memakai jembatan penyeberangan tersebut. Apabila ada kecenderungan
bahwa hukum tertentu tidak diacuhkan atau dilawan, maka dapatlah dikatakan bahwa
hukum tersebut mempunyai pengaruh yang negatif terhadap warga masyarakat. Maka
dalam hal tersebut dapat dikatakan hukum kurang berhasil di dalam fungsinya sebagai
sarana untuk merubah perilaku masyarakat. Kalau diperhatikan, maka penggunaan
hukum untuk melakukan perubahan-perubahan dalam masyarakat berhubungan erat
dengan konsep penyelenggaraan kehidupan sosial-ekonomi dalam masyarakat. Apabila
orang berpendapat, bahwa proses-proses sosial ekonomi itu

hendaknya dibiarkan berjalan menurut hukum-hukum kemasyarakatan sendiri, maka


hukum tidak akan digunakan sebagai instrument perubahan yang demikian itu.
Sebaliknya, apabila konsepnya justru merupakan kebalikan dari yang disebut di muka,
maka peranan hukum menjadi penting untuk membangun masyarakat. Oleh karena itu
peranan hukum yang demikian itu berkaitan erat dengan konsep perkembangan
masyarakat yang didasarkan pada perencanaan. Perencanaan membuat pilihan-pilihan
yang dilakukan secara sadar tentang jalan yang mana dan cara yang bagaimana yang akan
ditempuh oleh masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuannya
C. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Di dalam kehidupan bermasyarakat terdapat beberapa norma yang berlaku, salah satu
diantaranya adalah norma hukum. Isi dari norma hukum adalah peraturan-peraturan
yang dibuat oleh penguasa negara dan bersifat mengikat bagi setiap orang. Dalam
pelaksanaannya norma hukum dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh alat-
alat negara. Secara sosiologis hukum berfungsi untuk membimbing manusia,
khususnya mengenai perilakunya yang nyata. Dalam hal ini, hukum dapat
dipergunakan sebagai sarana pengendalian, maupun untuk merubah ataupun
menciptakan yang baru. Hukum juga merupakan sarana yang dipakai oleh masyarakat
untuk mengarahkan tingkah laku anggota masyarakat pada saat mereka berhubungan
satu sama lain. Pada masyarakat modern hukum tidak hanya dipakai untuk
mengukuhkan pola-pola kebiasaan dan tingkah laku yang terdapat dalam masyarakat,
melainkan juga untuk mengarahkannya kepada tujuan-tujuan yang dikehendaki,
menghapuskan kebiasaan yang dipandang tidak sesuai lagi, menciptakan pola-pola
kelakuan baru dan sebagainya. Inilah yang disebut sebagai pandangan modern
tentang hukum itu yang menjurus kepada penggunaan hukum sebagai suatu
instrument.
2. Saran
Keputusan yang dibuat oleh supreme Court Amerika Serikat pada tahun 1954
mengenai diskriminasi etnis membuat bangsa Amerika Serikat secara perlahan-lahan
melepaskan diri dari hal-hal yang menyangkut diskriminasi etnis. Hal tersebut patut
kita contoh dengan cara masing-masing warga negara harus memberikan dukungan
terhadap segala peraturan perundang-undangan yang bertujuan untuk mengahapus
hal-hal bertentangan dengan semangat pancasila, aliran kepercayaan dan hak asasi
manusia.