Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA EDUKASI (SAE)

DIABETES MELITUS

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIKAL

Pada Tn. Mc dengan Diagnosa Medis Diabetesmelitus


Di Ruang Flamboyan Sakit Tentara Tingkat II dr. Soepraoen Malang

Disusun Oleh :

Chandra Maslikha
190070300011025

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2020
SATUAN ACARA PENYULUHAN
DIABETES MELITUS
 
Topik : Diabetes Melitus
Sub Topik : Pencegahan dan Penatalaksanaan Diabetes Melitus
Sasaran : Pasien dan keluarga pasien Tn. Mc
Hari/Tanggal : Kamis, 12 Maret 2020
Waktu / Jam : 08.00 WIB-Selesai
Tempat : Ruang Flamboyan
Peserta : Pasien dan Keluarga pasien
Penyuluh : Mahasiswa

I. LATAR BELAKANG
Kita kehilangan sekitar satu gram sel kulit setiap harinya karena gesekan
kulit pada baju dan aktivitas higiene yang dilakukan setiap hari seperti mandi.
Dekubitus dapat terjadi pada setiap tahap umur, tetapi hal ini merupakan
masalah yang khusus pada lansia. Khsusnya pada klien dengan imobilitas.
Seseorang yang tidak immobile yang tidak berbaring ditempat tidur sampai
berminggu-minggu tanpa terjadi dekubitus karena dapat berganti posisi
beberapa kali dalam sejam. Penggantian posisi ini, biarpun hanya bergeser,
sudah cukup untuk mengganti bagian tubuh yang kontak dengan alas tempat
tidur. Sedangkan immobilitas hampir menyebabkan dekubitus bila berlangsung
lama. Terjadinya ulkus disebabkan ganggual aliran darah setempat, dan juga
keadaan umum dari penderita.

II. TUJUAN UMUM


Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan keluarga mampu merawat
pasien diabetes melitus dengan baik dirumah sakit maupun dirumah, sehingga
glukosa dalam darah dapat terkontrol

III. TUJUAN KHUSUS


Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan keluarga pasien mampu:
a. Pengertian Diabetes Mellitus
b. Etiologi Diabetes Mellitus
c. Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus
d. Komplikasi Diabetes Mellitus
e. Perawatan dan Pencegahan Diabetes Mellitus

IV. MATERI (terlampir)


1. Pengertian Diabetes Mellitus
2. Etiologi Diabetes Mellitus
3. Tanda dan gejala Diabetes Mellitus
4. Komplikkasi Diabetes Mellitus
5. Perawatan dan Pencegahan Diabetes Mellitus

V. METODE PENYULUHAN
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

VI. MEDIA
1. Leaflet
2. Lembar Balik

VII. KEGIATAN PENYULUHAN


No Tahapan Kegiatan pembelajaran Kegiatan peserta
waktu
1 Pembukaan  Mengucapkan salam  Menjawab salam
( 10 menit )  Memperkenalkan diri  Mendengarkan dan
memperhatikan
 Kontrak waktu  Menyetujui
 Menjelaskan tujuan  Mendengarkan dan
pembelajaran memperhatikan

2 Kegiatan Inti  Menjelaskan pengertian  Mendengarkan dan


( 20 menit ) Diabetes Mellitus memperhatikan
 Menjelaskan etiologi Diabetes  Mendengarkan dan
Mellitus memperhatikan
 Menjelaskan tanda dan gejala  Mendengarkan dan
Diabetes Mellitus memperhatikan
 Menjelaskan komplikasi  Mendengarkan dan
Diabetes Mellitus memperhatikan
 Perawatan dan pencegahan  Mendengarkan dan
Diabetes Mellitus memperhatikan
 Mendengarkan

3 Penutup  Kesimpulan dari pembelajaran  Mendengarkan


(10 menit)  Salam penutup  Mendengarkan dan
menjawab salam
VIII. KRITERIA EVALUASI
Evaluasi dilakukan dengan memberikan pertanyaan secara lisan kepada
peserta
a. Peserta dapat menyebutkan pengertian Diabetes Mellitus
b. Peserta dapat menyebutkan etiologi Diabetes Mellitus
c. Peserta dapat menjelaskan tanda dan gejala Diabetes Mellitus
d. Peserta dapat menyebutkan komplikasi Diabetes Mellitus
e. Peserta dapat menyebutkan perawatan dan pencegahan Diabetes Mellitus
MATERI DIABETES MELLITUS

1. Definisi
Diabetes Mellitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter,
demham tanda – tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya
gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam
tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga
gangguan metabolisme lemak dan protein.
Diabetes Mellitus adalah merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai
oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Smeltzer & Bare, 2002).
2. Etiologi
DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat menyebabkan
insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada
mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu :
a. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai
kegagalan sel beta melepas insulin.
b. Faktor – faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen
yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang
diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan.
c. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas
yang disertai pembentukan sel – sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan
kerusakan sel - sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh
virus.
d. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan
terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel
yang responsir terhadap insulin.
3. Tipe DM
Klasifikasi DM yang utama adalah :
a. Tipe I : DM yang tergantung insulin (IDDM)
b. Tipe II : DM yang tidak tergantung insulin (IDDM)
c. DM yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
d. DM gestasional
4. Tanda dan gejala
Tanda – tanda dari DM adalah :
Tipe I :
a. Usia muda < 30 tahun
b. Tubuh kurus dengan penurunan berat badan
c. Etiologi : faktor genetik, imunologi lingkungan (virus)
d. Memerlikan insulin untuk kelangsungan hidup
Tipe II :
a. Gejala usia > 30 tahun
a. Tubuh gemuk (obesitas)
b. Etiologi faktor obesitas, herediter dan lingkungan
c. Perlu insulin dalam waktu pendek
Gejala dari DM adalah :
Gejala yang sering muncul pada DM, yaitu :
a. Poliuria (banyak dan sering kencing)
b. Polipagia (banyak makan)
c. Polidipsi (banyak minum)
Kemudian diringi dengan keluhan-keluhan :
a. Kelemahan tubuh, lesu, tidak bertenaga.
b. Berat badan menurun
c. Rasa kesemutan, karena iritasi (perangsangan) pada serabut-serabut
saraf
d. Kelainan kulit, gatal-gatal, bisul-bisul dan Infeksi saluran kencing
5. Evaluasi Diagnostik
a. Glukosa plasma sewaktu/random > 200 mg/dl (11,1 mmol/l)
b. Glukosa plasma puasa > 140 mg/dl (7,8 mmol/l)
c. Glukosa plasma 2 jam setelah lonsumsi 75 gram karbohidrat (2 jam pp) > 200
mg/dl (11,1 mmol/l)
6. Komplikasi
a. Akut : hipoglikemia & ketoasidosis
b. Kronik : makroangiophati (atherosklerosis), mikroangiophati
(retinophati, nephrophati), neurophati, mudah terinfeksi.
7. Penanganan DM
a. Pengaturan makan
b. Latihan
c. Oral anti hiperglikemia insulin
d. Pendidikan kesehatan
8. Perawatan dan Pencegahan di Rumah
            Perawatan DM dirumah saat ini sangat dianjurkan karena pengobatan dan
perawatan DM membutuhkan waktu yang lama.
 Cara Perawatan Pasien DM di Rumah adalah dengan jalan :
1. minum obat secara teratur sesuai program
2. Diet yang tepat
3. Olahraga yang teratur
4. Kontrol GD teratur
5. Pencegahan komplikasi
 Proporsi diet/ makanan harian yang benar bagi penderita DM :
Berdasarkan anjuran dari PERKENI ( perkumpulan Endokrinologi Indonesia ) diet harian
penderita DM disusun sebagai berikut :
a. Karbohidrat : 60-70 %
b. Protein         : 10-15%
c. Lemak          : 20-25%
 Jenis Makanan yang Harus diKonsumsi  yang dikonsumsi oleh penderita DM
diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Jenis Makanan yang tidak boleh dikonsumsi :
1. Manisan Buah
2. Gula pasir
3. Susu Kental Manis
4. Madu
5. Abon
6. Kecap
7. Sirup
8. Es Krim
b. Jenis makanan Yang boleh dimakan tetapi harus dibatasi ;
1. Nasi
2. Singkong
3. Roti
4. Telur
5. Tempe
6. Tahu
7. Kacang Hijau
8. Kacang Tanah
9. Ikan
c.  Jenis Makanan yang dianjurkan untuk dimakan :
1.      Kol
2.      Tomat
3.      Kangkung
4.      Kacang Panjang
5.      Pepaya
6.      Jeruk
7.     Pisang
8.  Labu Siam  
 Komplikasi :
Komplikasi yang dapat terjadi bila penderita DM tidak dirawat dengan baik sehingga gula
darah selalu tinggi adalah :
1.      Ginjal : Gagal Ginjal, Infeksi
2.      Jantung  : Hipertensi,Gagal Jantung
3.      Mata     : Glaukoma,Katarak,Retinopati
4.      Syaraf    : Neuropati,mati rasa
5.      Kulit      : Luka lama,gangren
6.      Hipoglikemi
7.      Ketoasidosis
Untuk mencegah komplikasi sebaiknya yang dilakukan adalah :
1.      Diet dengan benar
2.      Minum obat teratur
3.      Kontrol gula darah teratur
4.      Olahraga ( jalan kaki,senam,sepeda santai, dsb)
5.      Bila saat aktifitas kemudian PUSING,KERINGAT DINGIN maka cepat MINUM
TEH MANIS
6.      Mencegah kulit terluka : pakai alas kaki,lingkungan rumah tidak licin,tangga
( undak-undakan tidak tinggi)
7.      Cegah Kegemukan
 Cara mencegah atau menghindari agar tidak terjadi luka pada kaki pada penderita
DM
1. Hindari terlalu sering merendam kaki
2. Hindari penggunaan botol panas/penghangat kaki dari listrik
3. Hindari penggunaan pisau/silet untuk memotong kuku atau menghilangkan kalus
4. hindari kaos kaki / sepatu yang terlalu sempit
5. Hindari Rokok
 Mengapa pengidap DM beresiko terhadap Ulkus Diabetik
1. Sirkulasi darah kaki kurang baik
2. Indera rasa kedua kaki berkurang sehingga kaki mudah terluka
3. Daya Tahan tubuh terhadap infeksi menurun
 Tindakan yang bisa  dilakukan bila kaki terluka:
1. Bila luka kecil : bersihkan dengan antiseptik, tutup luka dengan kasa steril dan bila
dalam waktu dua hari tidak sembuh segera periksa ke dokter
2. Bila luka cukup besar / kaki mengalami kelainan segera pergi ke dokter.
 Perawatan kaki Diabetik :
1. Saat mandi bersihkan dengan sabun, bila perlu gunakan batu apung / sikat halus
2. Keringkan dengan handuk terutama sela-sela jari
3. Periksa kaki kemungkinan adanya perubahan warna ( pucat,kemerahan ),bentuk
(pecah-pecah,lepuh,kalus,luka),Suhu (dingin,lebih panas)
4. Bila kaki kering,olesi dengan lotion
5. Potong kuku / kikir tiap 2 hari,jangan terlalu pendek. Bila kuku terlalu keras kaki
direndam dahulu dalam air hangat ( 37,5’C ) selama 5 menit.
6. Gunakan kaos kaki yang terbuat dari katun / wol
7. Pakailah alas kaki, periksa alas kaki sebelum dipakai, mungkin ada sesuatu
didalamnya. Lepas alas kaki setiap 4-6 jam dan gerakkan pergelangan kaki dan jari-
jari kaki agar sirkulasi darah lancar
8. Lakukan senam kaki
9. Jangan biarkan luka sekcil apapun
 Cara Memilih Sepatu yang baik bagi penderita DM :
1. Ukuran : Jangan terlalu sempit/ longgar  kurang lebih ½ inchi  lebih panjang dari kaki
2. Bentuk : Ujung sepatu  jangan runcing,tinggi tumit < 2 inchi
3. Bahan sepatu terbuat dari bahan yang lembut
4. Insole terbuat dari bahan yang tidak licin
DAFTAR PUSTAKA

Soeparman, 1987. Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Kedua, Balai Penerbit FKUI, Jakarta
Smeltzer, Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.vol 2. Jakarta : EGC
Price, Sylvia. 1995. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit. Jakarta : EGC