Anda di halaman 1dari 3

Makam Ki Gede Ing

Keraton Kasepu

Masjid Shamakhi

Karya Sastra

Wayang Kulit
Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten adalah salah satu bukti peninggalan kerajaan Banten sebagai salah satu
kerajaan Islam di Indonesia. Masjid yang berada di desa Banten Lama, kecamatan Kasemen
ini masih berdiri kokoh sampai sekarang.

Masjid Agung Banten dibangun pada tahun 1652, tepat pada masa pemerintahan putra
pertama Sunan Gunung Jati yaitu Sultan Maulana Hasanudin. Selain itu, Masjid Agung
Banten juga merupakan salah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia yang masih berdiri
sampai sekarang.
Keunikan masjid ini yaitu bentuk menaranya yang mirip mercusuar dan atapnya mirip atap
pagoda khas China. Selain itu, dikiri kanannya bangunan masjid tersebut ada sebuah serambi
dan komplek pemakaman sultan Banten bersama keluarganya.

Kondisi Politik
Di masa Islam, kerajaan disebut dengan kesultanan, sehingga pemimpinnya disebut
dengan sultan (raja dalam Bahasa Arab). Ia merupakan pemipin tertinggi. Selain sultan,
sebutan lain untuk seorang pemimpin adalah maulana, susuhan, dan panembahan.Salah satu
kelompok ulama yang terkenal di Nusantara adalah Wali Songo (Wali Sanga atau Sembilan
Wali). Anggota Wali Songo banyak yang menjadi penasihat bagi Kerajaan Demak.

Dalam hal pengangkatan raja di masa Islam, terdapat kesamaan dengan pengangkatan raja di
dalam sistem pemerintahan agama Hindu Buddha. Sultan diangkat berdasarkan garis
keturunan. Jika dilihat mampu dan berwibawa untuk memimpin, maka anak sultan akan
mendapatkan takhta untuk memimpin kerajaan.

Kondisi Sosial
Islam saat itu mudah diterima oleh masyarakat nusantara karena Salah satu alasannya, dalam
Islam tidak ada sistem kasta. Hal ini menyebabkan aturan kasta sudah tidak berlaku di
kehidupan masyarakat di masa kerajaan Islam.

Alasan lain mengapa Islam mudah diterima adalah:

 ajarannya cenderung lebih sederhana.


 Syarat untuk masuk ke dalam Islam mudah.
 Tidak mengenal sistem kasta.
 Upacara-upacara keagamaan yang ada lebih sederhana.
 Disebarkan melalui jalan damai (berbeda dengan Katolik dan Kristen yang disebarkan
oleh bangsa asing yang menjajah).

Kondisi budaya
Ditemukannya naskah-naskah Islam ataupun sastra-sastra Islam yang bisa menjadi
salah satu sumber sejarah perkembangan Islam di Indonesia serta menambah khazanah
budaya Islam pada masa itu adalah fakta pendukungnya. Karya-karya sastra ini semakin
menyebar setelah masa Majapahit, karena pusat kebudayaan tersebar ke seluruh nusantara
yang merupakan perpaduan budaya Indonesia asli, Hindu-Buddha, dan Islam.

Selain itu, ada beberapa ajaran yang memengaruhi kehidupan masyarakat Nusantara,
khususnya Jawa adanya ajaran Tasawuf. Ajaran tasawuf ini salah satunya diajarkan oleh
Sunan Bonang, yang juga telah menulis ”Suluk”. Beliau menghasilkan buku karya Sunan
Bonang atau Hade Book van Bonang.

Selain itu, muncul banyak bangunan keraton/istana yang dijadikan sebagai tempat
tinggal bagi sultan bersama sanak keluarganya. Bangunan ini umumnya memadukan antara
kebudayaan lokal dengan kebudayaan Islam. Keraton-keraton ini masih banyak yang bisa
kamu lihat lho, Squad. Di antaranya adalah Keraton Kasunanan dan Hadiningrat di Surakarta
(Solo), Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan di Cirebon, Keraton Yogyakarta,
Istana Maimun di Medan, atau kompleks istana di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.