Anda di halaman 1dari 13

RESUME

(Buku Ulum Al-Qur’an Oleh Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag.)

Disusun Sebagai Salah Satu Tugas UAS Mata Kuliah

Esensi Al-Qur’an

Dosen Pengampu: H. Arif Rahman, S.Ag., M.Pd

Di susun Oleh:

Nama : Fajar Kurnia


NIM : 1184010055
Kelas : BKI III B

PRORAM STUDI BIMBINGAN KONSELING ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNAN GUNUNG JATI


BANDUNG
2019

Ulum Al-Qur’an adalah sejumlah pembahasan yang berkaitan dengan Al-


Qur’an. Adapun sejarah kemunculan istilah Ulum Al-Quran ialah diantaranya :
Ungkapan ‘Ulum Al- Quran berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua
kata, yaitu “’ulum” (ilmu) dan “Al- Quran” (kalam Allah yang diturunkan kepada
Nabi-Nya, Muhammad. Yang lafazh-lafazhnya mengandung mukjizat,
membacanya bernilai ibadah, diturunkan secara mutawatir, yang ditulis pada
mushaf, mulai dari surah Al-Fatihah sampai An-Nas).
Menurut Bahasa ‘Ulum Al- Quran adalah sejumlah pembahasan yang
berkaitan dengan Al-Quran. Adapun ‘Ulum Al- Quran secara istilah, para ulama
memberikan redaksi berbeda,
1. Pendapat Asy-Suyuthi dalam pengantar kitab Al-Itqan, Ulum Al-Qur’an
muncul pada abad ke-6 H oleh Abu Al-Farj bin Al-Jauzi.
2. Pendapat Az-Zarqani, Ulum Al-Qur’an muncul pada awal abad ke-5 H,
melalui tangan Al-Hufi dalam karyanya yang berjudul Al-Burhan fi Ulum
Al-Qur’an.
3. Pendapat Abu Syahbah, istilah Ulum Al-Qur’an muncul dengan ditulisnya
kitab Al-Mabani fi Nazhm Al-Ma’ani yang ditulis tahun 425 H.
4. Pendapat Subhi Ash-Shalih, istilah Ulum Al-Qur’an sudah muncul
semenjak abad ke-3 H, yaitu ketika Ibn Al-Marzuban menulis kitab yang
berjudul Al-Hawi fi Ulum Al-Qur’an.
Ruang lingkup pembahasan Ulum Al-Qur’an diantaranya ialah :
1. Persoalan turunnya Al-Qur’an (nuzul Al-Qur’an) :
a. Waktu dan tempat turunnya Al-Qur’an (auqat nuzul wa Vawathin An-
Nuzul).
b. Sebab-sebab turunnya Al-Q|ur’an (asbab An-Nuzul).
c. Sejarah turunnya Al-Qur’an (tarikh An-Nuzul).
2. Persoalan sanad (rangkaian para periwayat) :
a. Riwayat mutawatir.
b. Riwayat ahad.
c. Riwayat syadz.
d. Macam-macam qira’at Nabi.
e. Para perawi dan penghafal Al-Qur’an.
f. Cara-cara penyebaran riwayat (tahammul).
3. Persoalan qira’at (cara pembacaan Al-Qur’an) :
a. Cara berhenti (waqaf).
b. Cara memulai (ibtida).
c. Imalah.
d. Bacaan yang dipanjangkan (madd).
e. Meringankan bacaan hamzah.
f. Memasukkan bunyi huruf yang sukun kepada bunyi sesudahnya
(idgham).
4. Persoalan kata-kata Al-Qur’an :
a. Kata-kata Al-Qur’an yang asing (gharib).
b. Kata-kata Al-Qur’an yang berubah-ubah harakat akhirnya (mu’rab).
c. Kata-kata Al-ur’an yang mempunyai makna serupa (homonym).
d. Padanan kata-kata Al-Qur’an (sinonim).
e. Isti’arah
f. Penyerupaan (tasybih).
5. Persoalan makna-makna Al-Qur’an yang berkaitan dengan hukum :
a. Makna umum (‘am) yang tetap dalam keumumannya.
b. Makna umum (‘am) yang dimaksudkan makna khusus.
c. Makna umum (‘am) yang maknanya dikhususkan sunnah.
d. Nash.
e. Makna lahir.
f. Makna global (mujmal).
g. Makna yang diperinci (mufashshal).
h. Makna yang ditunjukkan oleh konteks pembicaraan (manthuq).
i. Makna yang dapat dipahami dari konteks pembicaraan (mafhum).
j. Nash yang petunjuknya tidak melahirkan keraguan (muhkam).
k. Nash yang muskil ditafsirkan karena terdapat kesamaran didalamnya
(mutasyabihi).
l. Nash yang maknanya tersembunyi karena suatu sebab yang terdapat
pada kata itu sendiri (musykil).
m. Ayat yang menghapus dan yang dihapus (nasikh-mansukh).
n. Yang didahulukan (muqaddam).
o. Yang diakhirkan (mu’akharah)
6. Persoalan makna-makna Al-Qur’an yang berpautan dengan kata-kata Al-
Qur’an :
a. Berpisah (fashl).
b. Bersambung (washl).
c. Uraian singkat (I’jaz).
d. Uraian panjang (ithnab).
e. Uraian seimbang (musawah).
f. Pendek (qashr).
Cabang-cabang (pokok bahasan) Ulum Al-Qur’an :
1. Ilmu adab tilawat Al-Qur’an.
2. Ilmu tajwid.
3. Ilmu mawathin An-Nuzul.
4. Ilmu tawarikh An-Nuzul.
5. Ilmu asbab An-Nuzul.
6. Ilmu qira’at.
7. Ilmu gharib Al-Qur’an.
8. Ilmu I’rab Al-Qur’an.
9. Ilmu wujuh wa Al-Nazhair.
10. Ilmu ma’rifat al-muhkam wa al-mutasyabih.
11. Ilmu nasikh wa al-mansukh.
12. Ilmu badai’u Al-Qur’an.
13. Ilmu I’jaz Al-Qur’an.
14. Ilmu tanasub ayat Al-Qur’an.
15. Ilmu aqsam Al-Qur’an.
16. Ilmu amtsal Al-Qur’an.
17. Ilmu jadal Al-Qur’an.
` Adapun perkembangan Ulum Al-Qur’an yaitu terbagi menjadi dua fase,
ialah fase sebelum kodifikasi (qabl ‘ashr at-tadwin) dan fase kodifikasi.
Pengertian Al-Qur’an menurut beberapa ulama diantaranya ialah :
1. Menurut Manna’ Al-Qaththan, kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW dan membacanya memperoleh pahala.
2. Menurut Al-Jurjani, yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang ditulis
di dalam mushaf dan yang diriwayatkan secara mutawatir tanpa keraguan.
3. Menurut Abu Syahbah, kitab Allah yang diturunkan baik lafadz maupun
maknanya kepada nabi terakhir, Muhammad SAW, yang diriwayatkan
secara mutawatir, yakni dengan penuh kepastian dan keyakinan (akan
kesesuaiannya dengan apa yang diturunkannya kepada Muhammad), yang
ditulis pada mushaf mulai surat Al-Fatihah sampai akhir surat An-Nas.
4. Menurut kalangan pakar ushul fiqh, fiqh, dan bahasa Arab, kalam Allah
yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad, yang lafadz-lafadznya
mengandung mukjizat, membaca mempunyai nilai ibadah, diturunkan
secara mutawatir, dan ditulis pada mushaf, mulai dari awal surat Al-
Fatihah sampai akhir surat An-Nas.
Proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, adalah melalui
tiga hal :
1. Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh al-mahfudz, yaitu
suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan
kepastian Allah.
2. Tahap kedua, Al-Qur’an diturunkan dari lauh al-mahfudz itu ke bait al-
izzah (tempat yang berada di langit dunia).
3. Tahap ketiga, Al-Qur’an diturunkan dari Bait Al-Izzah ke dalam hati Nabi
dengan jalan berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakalnya, satu
ayat, dua ayat dan bahkan kadang-kadang satu surat.
Hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur ialah
memantapkan hati Nabi, menentang dan melemahkan para penentang Al-Qur’an,
memudahkan untuk dihadapi dan dipahami, mengikuti setiap kejadian (yang
karenanya ayat-ayat Al-Qur’an turun) dan melakukan pentahapan dalam
penetapan syari’at, dan juga membuktikan dengan pasti bahwa Al-Qur’an turun
dari Allah Yang Maha Bijaksana.
Rasm Al-Qur’an adalah tata cara menuliskan Al-Qur’an yang ditetapkan
pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Istilah yang terakhir lahir bersamaan
dengan lahirnya mushaf Ustman, yaitu mushaf yang ditulis panitia evpat yang
terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al-‘Ash, dan
Abdurrahman binAl-Harits. Mushaf Utsman ditulis dengan kaidah-kaidah
tertentu. Para ulama meringkas kaidah-kaidah itu menjadi enam istilah, yaitu Al-
Hadzf (membuang, menghilangkan, atau meniadakan huruf), Al-Jiyadah
(penambahan), Al-Hamzah, Badal (penggantian), Washal dan Fashl
(penyambungan dan pemisahan), dan kata yang dapat dibaca dua bunyi.
Adapun pengertian asbabun nuzul menurut para ulama diantaranya ialah :
1. Menurut Az-Zarqani, asbabun nuzul adalah khusus atau sesuatu yang
terjadi serta ada hubungannya dengan turunnya ayat Al-Qur’an sebagai
penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi.
2. Menurut Ash-Shabuni, asbabun nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang
menyebabkan turunya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan
dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang
diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.
3. Menurut Shubhi Shalih, asbabun nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab
turunnya satu atau beberapa ayat Al-Qur’an (ayat-ayat) terkadang
menyiratkan peristiwa itu, sebagai respons atasnya. Atau sebagai penjelas
terhadap hukum-hukum disaat peristiwa itu terjadi.
4. Manurut Mana’ As-Qtathan, asbabun nuzul adalah peristiwa-peristiwa
yang menyebabkan turunnya Al-Qur’an berkenaan dengannya waktu
peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan
yang diajukan kepada Nabi.
Urgensi dan kegunaan asbabun nuzul diantaranya ialah membantu dalam
memahami sekaligus mengatasi ketidakpastian dalam menangkap pesan ayat-ayat
Al-Qur’an, mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum,
mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an,
mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan ayat Al-Qur’an turun, dan
memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat, serta untuk memantapkan
wahyu ke dalam hati orang yang mendengarnya.
Asbabun nuzul adalah peristiwa yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW.
Oleh karena itu, tidak boleh ada jalan lain untuk mengetahuinya selain
berdasarkan periwayatan (pentransmisian) yang benar (naql Ash-Shalih) dari
orang-orang yang melihat dan mendengar langsung tentang turunnya ayat Al-
Qur’an. Mayoritas ulama berpendapat bahwa pertimbangan untuk satu lafadz Al-
Qur’an adalah keumuman lafadz dan bukannya kekhususan sebab (al-ibrah bi
umum al-lafdzi la bi khusus as-sabab). Disisi lain, ada juga ulama yang
berpendapat bahwa ungkapan satu lafadz Al-Qur’an harus dipandang dari segi
kekhususan sebab bukan dari segi keumuman lafadz (al-ibrah bi khusus as-sabab
la bi bi’umum al-lafadz).
Munasabah secara etimologi ialah Al-musyakalah (keserupaan) dan Al-
muqarabah (kedekatan). Sedangkan secara terminologi ialah :
1. Menurut Az-Zarkasyi, munasabah adalah suatu hal yang dapat dipahami.
Tatkala dihadapkan pada akal, pasti akal itu akan menerimanya.
2. Menurut Manna’ Al-Qaththan, munasabah adalah sisi keterkaitan antara
beberapa ungkapan didalam satu ayat atau antarayat pada beberapa ayat,
atau antarsurat (di dalam Al-Qur’an).
3. Menurut Ibn Al-‘Arabi, munasabah adalah keterkaitan ayat-ayat Al-
Qur’an sehingga seolah-olah merupakan satu ungkapan yang mempunyai
kesatuan makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupakan ilmu yang
sangat agung.
4. Menurut Al-Biqa’i, munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba
mengetahui alasan-alasan dibalik susunan atau urutan bagian-bagian Al-
Qur’an, baik ayat dengan ayat atau surat dengan surat.
Adapun urgensi dan kegunaan mempelajari munasabah ialah :
1. Dapat mengembangkan sementara anggapan orang yang menganggap
bahwa tema-tema Al-Qur’an kehilangan relevansi antara sau bagian
dengan bagian yang lainnya.
2. Mengetahui persambungan atau hubungan antara bagian Al-Qur’an, baik
antara kalimat-kalimat atau ayat-ayat maupun surat-suratnya yang satu
dengan yang lain, sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan
pengenalan terhadap kitab Al-Qur’an dan memperkuat keyakian terhadap
kewahyuan dan kemukjizatannya.
3. Dapat diketahui mutu dan tingkat kebalaghahan bahasa Al-Qur’an dan
konteks kalimat-kalimatnya yang satu dengan yang lainnya, serta
persesuaian ayat/surat yang satu dari yang lain.
4. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah diketahui
hubungan suatu kalimat atau ayat dengan kalimat atau ayat yang lain.
Pengertian makkiyah dan madaniyyah diantaranya ialah sebagai berikut :
1. Dari perspektif masa turun, makkiyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum
Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Mekkah.
Adapun madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun sesudah Rasulullah
hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang
turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di
Mekkah atau Arafah.
2. Dari perspektif tempat turun, makkiyah ialah ayat-ayat yang turun di
Mekkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyyah. Adapun
madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya seperti
Uhud, Quba’ dan Sul’a.
3. Dari perspektif objek pembicaraan, makkiyah adalah ayat-ayat yang
menjadi khitab bagi orang-orang Mekkah, sedangkan madaniyyah adalah
ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang Madinah.
Cara-cara mengetahui makkiyah dan madaniyyah adalah dengan dua
pendekatan, yaitu pendekatan transmisi (periwayatan) dan pendekatan analogi
(qiyas). Adapun ciri-ciri spesifik antara ayat makkiyah dan madaniyyah adalah :
1. Makkiyah :
a. Didalamnya terdapat ayat sajdah.
b. Ayat-ayatnya dimulai dengan kata “kalla”.
c. Dimulai dengan ungkapan “ya ayyuhan an-nas”.
d. Ayat-ayatnya mengandung tema kisah para nabi dan umat-umat
terdahulu.
e. Ayat-ayatnya berbicara tentang kisah Nabi Adam dan Iblis, kecuali
surat Al-Baqarah.
f. Ayat-ayatnya dimulai dengan huruf-huruf terpotong (huruf At-Tahajji)
seperti “alif lam mim” dan sebagainya, kecuali surat Al-Baqarah dan
Ali Imran.
2. Madaniyyah :
a. Mengandung ketentuan-ketentuan fara’id dan had.
b. Mengandung sindiran-sindiran terhadap kaum munafik kecuali surat
Al-Ankabut.
c. Mengandung uraian tentang perdebatan dengan Ahli Kitabin
Urgensi dari pengetahuan tentang makkiyah dan madaniyyah diantaranya
ialah membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, pedoman bagi langkah-langkah
dakwah, dan memberi informasi tentang sirah kenabian.
Pengertian muhkam dan mutasyabih ialah sebagai berikut :
1. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan
gambling, baik melalui takwil (metafora) ataupun tidak. Adapun ayat-ayat
mutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui Allah.
2. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya jelas, sedangkan ayat
mutasyabh sebaliknya.
3. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan
sisi arti lain, sedangkan ayat-ayat mutasyabih mempunyai kemungkinan
sisi arti banyak. Definisi ini dikemukakan Ibn ‘Abbas.
4. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya dapat dipahami akal,
seperti bilangan rakaat shalat, kekhususan bulan Ramadhan untuk
pelaksanaan pasa wajib, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya.
Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Mawardi.
5. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang dapat berdiri sendiri (dalam
pemaknaannya), sedangkan ayat-ayat mutasyabih bergantung pada ayat
lain.
6. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya segera dapat diketahui
tanpa penakwilan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih memerlukan
penakwilan untuk mengetahui maksudnya.
7. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang lafadz-lafadznya tidak berulang-
ulang, sedangkan ayat mutasyabih sebaliknya.
8. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang berbicara tentang kefardhuan,
ancaman, dan janji, sedangkan ayat-ayat mutasyabih berbicara tentang
kisah-kisah dan perumpamaan-perumpamaan.
9. Ibn Al-Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Ali bin Abi Thalib dari
Ibn Abbas yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang
menghapus (nasikh), berbicara tentang halal-haram, ketentuan-ketentuan
(hudud), kefarduan, serta yang harus diimani dan diamalkan. Adapun ayat-
ayat mutasyabih adalah ayat yang dihapus (mansukh), yang berbicara
tentang perumpamaan-perumpamaan (amtsal), sumpah (aqsam), dan yang
harus diimani, tetapi tidak harus diamalkan.
Sikap para ulama terhadap ayat-ayat muhkam dan mutasyabih terbagi
menjadi dua, yaitu madzhab salaf yaitu para ulama yang memercayai dan
mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah
sendiri (tafwidh ilallah) dan madzhab khalaf yaitu para ulama yang berpendapat
perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah
sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah.
Hikmah adanya ayat mutasyabih dalam Al-Qur’an ialah memperlihatkan
kelemahan akal manusia, teguran bagi orang-orang yang mengotak-atik ayat
mutasyabih, dan memberikan pemahaman abstark-ilahiah kepada manusia melalui
pengalaman indrawi yang biasa disaksikannya.
Pengertian Qira’at menurut para ulama diantaranya ialah sebagai berikut :
1. Menurut Az-Zarqani, suatu madzhab yang dianut seorang imam qira’at
yang berbeda dengan lainnya dalam pengucapan Al-Qur’an serta sepakat
riwayat-riwayat dan jalur-jalunya, baik perbedaan itu dalam pengucapan
huruf-huruf ataupun dalam pengucapan bentuk-bentuknya.
2. Menurut Ibn Al-Jazari, ilmu yang menyangkut cara-cara mengucapkan
kata-kata Al-Qur’an dan perbedaan-perbedaannya dengan cara
menisbatkan kepada penukilnya.
3. Menurut Al-Qasthalani, suatu ilmu yang mempelajari hal-hal yang
disepakati atau diperselisihkan ulama yang menyangkut persoalan lughat,
hadzaf, I’rab, itsbat, fashi, dan washl yang kesemuanya diperoleh secara
periwayatan.
4. Menurut Az-Zarkasyi, qira’at adalah perbedaan (cara mengucapkan)
lafadz-lafadz Al-Qur’an, baik menyangkut huruf-hururfnya atau cara
pengucapan huruf-huruf tersebut, seperti takhfif (merigankan), tatsqil
(memberatkan), dan atau yang lainnya.
5. Meurut Ash-Shabuni, qira’at adalah suatu madzhab cara pelafalan Al-
Qur’an yang dianut salah seorang imam berdasarkan sanad-sanad yang
bersambung kepada Rasulullah SAW.
Latar belakang timbulnya perbedaan qira’at ialah :
1. Latar belakang historis.
2. Latar belakang cara penyampaian (kaifiyat Al’Ada’) :
a. Perbedaan dalam I’rab atau harakat kalimat tanpa perubahan makna
dan bentuk kalimat.
b. Perbedaan pada I’rab dan harakat (baris) kalimat sehingga mengubah
maknanya.
c. Perbedaan pada perubahan huruf tanpa perubahan I’rab dan bentuk
tulisannya, sementara maknanya berubah.
d. Perubahan pada kalimat dengan perubahan pada bentuk tulisannya,
tetapi maknanya tdak berubah.
e. Perbedaan pada kalimat dimana bentuk dan maknanya berubah pula.
f. Perbedaan dengan mendahulukan dan mengakhirkannya.
g. Perbedaan dengan menambah dan mengurangi huruf.
Adapun dijelaskan disini sebab-sebab perbedaan Qira’at :
1. Perbedaan qira’at Nabi.
2. Pengakuan dari Nabi terhadap berbagai qira’at yang berlaku dikalangan
kaum muslimin pada waktu itu.
3. Adanya riwayat dari para sahabat Nabi menyangkut berbagai versi qira’at
yang ada.
4. Adanya lahjah atau dialek kebahasaan dikalangan Bangsa Arab pada masa
turunnya Al-Qur’an.
Macam-macam qira’at terbagi menjadi dua yaitu :
1. Dari segi kuantitas :
a. Qira’ah Sab’ah (Qira’ah tujuh).
b. Qira’at Asyrah (Qira’at sepuluh).
c. Qira’at Arba’at Asyrah (Qira’at empat belas).
2. Dari segi kualitas :
a. Qira’ah mutawatir.
b. Qira’ah masyhur.
c. Qira’ah ahad.
d. Qira’ah syadz (menyimpang).
e. Qira’ah maudhu (palsu), seperti qira’at Al-Khazzani.
f. Qira’at yang mempunyai hadis mudraj (sisipan).
Adapun urgensi mempelajari qira’at dan pengaruhnya dalam Istinbath
(penetapan) hukum ialah :
1. Dapat menguatkan ketentuan-ketentuan hukum yang telah disepakati para
ulama.
2. Dapat men-tarjih hukum yang diperselisihkan para ulama.
3. Dapat menggabungkan dua ketentuan hukum yang berbeda.
4. Dapat menunjukan dua ketentuan hukum yang berbeda dalam kondisi
berbeda pula.
5. Dapat memberika penjelasan terhadap suatu kata di dalam Al-Qur’an yang
mungkin sulit dipahami maknanya.
Naskh secara etimologi atau bahasa ialah penghilangan (izalah),
penggantian (tabdil), pengubahan (tahwil) dan pemindahan (naql). Sedangkan
secara terminologi atau istilah, naskh adalah “raf’u Al-hukm Al-Syar’i bi Al-
khitab Al-Syar’i” (menghapuskan hukum syara’ dengan khitab syara’ pula) atau
“raf’u Al-hukm bil Al-dalil Al-Syar’i” (menghapuskan hukum syara’ dengan dalil
syara’ yang lain).
Rukun naskh ada empat, yaitu :
1. Adat naskh.
2. Nasikh.
3. Mansukh.
4. Mansukh ‘anh.
Syarat naskh terbagi menjadi empat, yaitu yang dibatalkan adalah hukum
syara’, pembatalan itu datangnya dari tuntutan syara’, pembatalan hukum tidak
disebabkan oleh berakhirnya waktu pemberlakuan hukum, dan tuntutan yang
mengandung naskh harus datang kemudian. Cara mengetahui nasikh dan mansukh
ada tiga cara, yaiu penjelasan langsung dari Rasulullah, dalam suatu naskh
terkadang terdapat keterangan yang menyatakan bahwa salah satu nash diturunkan
terlebih dahulu, dan berdasarkan keterangan dari periwayat hadis yang
menyatakan satu hadist dikeluarkan tahun sekian dan hadist lain dikeluarkan
tahun sekian.
Dasar-dasar penetapan nasikh dan mansukh ada tiga yaitu :
1. Melalui pentransmisian yang jelas (an-naql Al-sharih) dari Nabi atau para
sahabatnya.
2. Melalui kesepakatan umat bahwa ayat ini nasikh dan ayati itu mansukh.
3. Melalui studi sejarah, mana ayat yang lebih belakang turun, karenanya
disebut nasikh, dan mana yang duluan turun, karenanya disebut mansukh.
Bentuk-bentuk dan macam-macam naskh dalam Al-Qur’an ada empat,
yaitu nashk sharih, naskh dhimmy, naskh kully, dan naskh juz;iy. Adapun hikmah
keberadaan naskh diantaranya ialah menjaga kemaslahatan hamba, pengembangan
pensyariatan hukum sampai pada tingkat kesempurnaan seiring dengan
perkembangan dakwah dan kondisi manusia itu sendiri, menguji kualitas
keimanan mukallaf dengan cara adanya suruhan yang kemudian dihapus, dan
merupakan kebaikan dan kemudahan bagi umat.
Pengertian mukjizat yaitu sebagai berikut :
1. Suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melauli seorang yang
mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang
ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, tetapi mereka tidak
mampu melayani tantangan itu.
2. Suatu kejadian yang keluar dari kebiasaan, disertai dengan unsur
tantangan, dan tidak akan dapat ditandingi.
Terdapat beberapa unsur dalam mukjizat, diantaranya ialah :
1. Hal atau peristiwa yang luar biasa.
2. Terjadi atau dipaparkan oleh seorang yang mengaku nabi.
3. Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian.
4. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani.
Adapun macam-macam mukjizat ialah gaya bahasa, susunan kalimat,
hukum Ilahi yang sempurna, ketelitian redaksinya, berita tentang hal-hal yang
ghaib, dan isyarat-isyarat ilmiah.
Pengertian tafsir adalah sebagai berikut :
1. Secara bahasa : Al-Idhah (menjelaskan), Al-Bayan menerangkan), Al-
kasyf (mengungkap), Al-Izhar (menamakkan), dan Al-Ibanah
(menjelaskan).
2. Istilah :
a. Menurut Al-Kilabi, tafsir adalah menjelaskan Al-Qur’an, menerangkan
maknanya, dan menjelaskan apa yang dikehendaki dengan nashnya
atau dengan isyaratnya atau tujuannya.
b. Menurut Syeikh Al-Jazairi dalam Syahbi At-Taujih, tafsir pada
hakikatnya adalah menjelaskan lafadz yang sukar dipahami oleh
pendengar dengan mengemukakan lafadz sinonimnya atau makna yang
mendekatinya, atau dengan jalan mengemukakan salah satu dilalah
lafadz tersebut.
c. Menurut Abu Hayyan, tafsir adalah ilmu mengenai cara pengucapan
lafadz-lafadz Al-Qur’an serta cara mengungkapkan petunjuk,
kandungan-kandungan hukum, dan makna-makna yang terkandung
didalamnya.
d. Menurut Az-Zarkasyi, tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk
memahami dan menjelaskan makna-makna kitab Allah yang
diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad SAW, serta menyimpulkan
kandungan-kandungan hukum dan hikmahnya.
Pengertian takwil adalah sebagai berikut :
1. Bahasa : Ar-Ruju’ ila Al-Ashl (berarti kembali pada pokoknya).
2. Istilah :
a. Menurut Al-Jurzani, memalingkan suatu lafadz dari makna dzhirnya
terhadap makna yang dikandungnya, apabila makna alternative yang
dipandangnya sesuai dengan ketentuan Al-Kitab dan As-Sunnah.
b. Menurut define lain, takwil ialah mengembalikan sesuatu pada
ghayahnya (tujuannya), yakni menerangkan apa yang dimaksud.
c. Menurut ulama salaf, menafsirkan dan menjelaskan makna suatu
ungkapan, baik bersesuai dengan makna lahirnya ataupun
bertentangan. Hakikat sebenarnya yang dikehendaki suatu ungkapan.
d. Menurut ulama khalaf, mengalihkan suatu lafadz dari maknanya yang
rajah kepada vakna yang marjuh karena ada indikasi untuk itu.
Pengertian terjemah adalah sebagai berikut :
1. Bahasa : salinan dari sesuatu bahasa ke bahasa lain.
2. Istilah : memindahkan Al-Qur’an kepada bahasa lain yang bukan bahasa
Arab dan mencetak terjemahan ini ke dalam beberapa naskah agar dibaca
orang yang tidak mengerti bahasa Arab sehingga ia dapat memahami kitab
Allah SWT dengan perantaraan terjemahan ini.
3. Macam terjemah :
a. Terjemah maknawiyyah tafsiriyyah.
b. Terjemah harfiyyah bi Al-mitsli.
c. Terjemah harfiyyah bi dzuni Al-mistil.
Adapun klasifikasi tafsir yaitu ada dua macam, ialah :
1. Tafsir bi Al-matsur.
2. Tafsir bi Ar-Ra’yi.