Anda di halaman 1dari 3

Sendi panggul merupakan sendi paling proksimal pada ekstremitas bawah

yang memiliki peran penting dalam menahan beban pada saat bergerak, terutama

berjalan. Sendi panggul merupakan sendi peluru (ball-and-socket joint) yang

dibentuk oleh artikulasi asetobulofemoral dengan kepala femur yang bundar

(cembung) dan asetabulum yang cekung. Kongruensi antara kepala femur dan

asetabulum membuat sendi panggul menjadi sangat stabil walaupun memiliki

mobilitas yang tinggi. Sejumlah otot besar dan kuat terlibat pada panggul untuk

mengontrol torsi yang dibutuhkan saat akselerasi upward dan forward, serta

deselerasi tubuh. Kelemahan pada otot panggul memberikan pengaruh pada

mobilitas dan stabilitas tubuh secara keseluruhan.

Gambar Anatomi Otot Panggul. A. Tampak Anterior. B Tampak Posterior


Dikutip dari Neumann
Otot-otot pada sendi panggul dikelompokkan berdasarkan lokasi dan

fungsinya, yaitu otot anterior sebagai fleksor, otot lateral sebagai abduktor, otot

posterior sebagai ekstensor dan otot medial sebagai adduktor. Terdapat sebagian

kecil otot yang berfungsi dalam pergerakan kombinasi.

Kelemahan anggota gerak bawah pada lansia dianggap sebagai faktor

penting yang mempengaruhi kejadian jatuh. Kemandirian dapat terjaga apabila

kekuatan otot dapat dipertahankan. Dewasa ini, hubungan antara kekuatan otot hip

dan resiko jatuh pada lansia telah menjadi hal yang menarik untuk diteliti.

Kelompok lansia cenderung menunjukan penekanan pada hip strategy, sementara

kelompok usia muda lebih cenderung menggunakan ankle strategy dalam

menjaga keseimbangan tubuh. Lansia memiliki penurunan stabilitas mediolateral

saat berdiri, dan peningkatan ayunan mediolateral selama pemulihan

keseimbangan dinamik ketika melangkah kedepan. Kontrol mediolateral terutama

dijamin oleh kekuatan otot proksimal panggul bidang frontal. Kelemahan otot hip

abduktor dapat berpengaruh tehadap ketidakmampuan mempertahankan gait dan

respon pemulihan tubuh pada kondisi postur tidak seimbang, terutama arah lateral.
Kehilangan stabilitas lateral memicu respon tubuh berupa protective steps dalam

mempertahankan base of support. Langkah tersebut berupa ayunan langkah yang

efektif, terarah, cepat, dan upaya memperbaiki posisi pusat masa tubuh. Oleh

karena itu, kekuatan otot panggul mungkin merupakan parameter penting dalam

penilaian resiko jatuh. Kekuatan otot panggul juga memiliki peran pencegahan

dan rehabilitasi resiko jatuh pada kelompok lansia.

Kekuatan otot panggul mudah diperiksa/dinilai, serta merupakan target

yang mudah untuk diberikan intervensi terapi fisik. Dibandingkan informasi

riwayat jatuh, kelemahan otot panggul memberikan informasi langsung sebagai

parameter reiko jatuh, sehingga berkontribusi dalam penyusunan target latihan.