Anda di halaman 1dari 15

RESPONSI PSIKIATRI

SKIZOFRENIA PARANOID

Oleh :
Kienan Agni Dewanty
170070201011150

Pembimbing :
dr. Ratri Istiqomah, Sp.KJ

LABORATORIUM/SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA


RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2020
LAPORAN PSIKIATRI

I. Identitas
Nama : Tn. A
Umur : 29 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Bunga Vinolia, Malang
Pekerjaan : Tidak bekerja
Pendidikan : SMP
Status pernikahan : Belum menikah
Suku bangsa : Jawa
Agama : Islam
No. RM : 1064xxxx
Tanggal periksa : 4 Maret 2020

II. Keluhan Utama


Pasien gelisah karena melihat serta mendengar suara-suara yang tidak dapat didengar
orang lain.

III. Riwayat Penyakit Sekarang


A. Autoanamnesa
Autoanamnesa dilakukan di IGD RSSA pada tanggal 4 Maret pukul 21.00 WIB.
T: Selamat malam, mas. Perkenalkan saya dokter muda Kienan dari bagian Jiwa di
Rumah Sakit dr. Saiful Anwar.
J : Iya ?
T : Mas permisi saya akan bertanya beberapa hal ya mas, harap jawab sejujurnya dan
tidak perlu khawatir karena apa yang mas ceritakan akan saya jaga kerahasiaannya.
Apakah mas bersedia?
J: iya mbak.
T: Siapa nama mas?
J: Andy Fangga. (benar)
T: Usianya berapa mas?
J: 29 tahun mbak. (benar)
T: Perkerjaannya apa mas?
J: tidak bekerja mba
T: Gimana perasaannya hari ini mas?
J: Saya senang (muka senyum-senyum, kepala menunduk malu)
T: Mas senang kenapa ?
J: Saya melihat roh wanita cantik.
T: wanita cantic bagaimana ?
J: Wanita cantik yang saya idam-idamkan, tapi saya takut untuk bilang. Dia (roh yang di
lihatnya) selalu mengejar-ngejar saya.
T: Terus ada yang mas lihat lagi ga ?
J : Hiposoni
T : Itu siapa mas?
J : (raut muka berubah, menjadi sedih takut) tetangga saya, dia mau jahatin saya. Dia
sama sepupu saya.
T: Awalnya gimana mas kok tau Hiposoni mau jahatin mas?
J: Jadi ada suara yang bilang ke saya.
T: Mas cuma denger suaranya aja apa bisa ngelihat orang yang ngomongnya?
J: Suaranya aja mbak.
T: Suaranya laki-laki atau perempuan?
J: perempuan
T: Sudah dari kapan mas denger suara-suaranya?
J: Sudah lama mbak, lupa
T: Biasanya suaranya muncul kalo lagi apa mas?
J: Kalo lagi sendirian
T: Oh begitu ya mas. Kalau melihat sosok yang orang lain ga bisa lihat, pernah ga mas?
J: Ga pernah (sambal tersenyum)
T: Mas coba hitung ada berapa bolpoint yang saya pegang?
J: (terlihat berfikir) Ada 3 (benar)
T: Mas selama sakit ini pernah jadi malas mandi, malas makan, malas ngapa-ngapain
gitu?
J: iya
T: Mas, sekarang saya mau tanya beberapa hal semacam test gitu mas, boleh ya?
J: Oh iya mbak
T: Sekarang hari apa mas?
J: (sambal berfikir) Rabu
T: ini siapa mas? (menunjuk kakek pasien)
J: Kakek. (benar)
T: Mas tanggal lahirnya tanggal berapa ?
J: (terlihat bepikir) 27 oktober mbak tahun 1990 (Benar)
T: Oh gitu. Tadi pagi sarapan apa mas?
J: Nasi tahu (benar)
T: Sekarang dirumah tinggal sama siapa aja mas?
J: sama bapak, ibu, kakek (tersenyum)
T: Kalo 100-7-7-7 berapa mas?
J: 79 mbak. (benar)
T: Kalo presiden sekarang siapa mas?
J: Jokowi mbak. (benar)
T: Kalo nemu dompet di jalan, masmau ngapain?
J: Dikembaliin mbak.
T: Kalau persamaan apel sama jeruk apa mas?
J: buah (benar)
T: Coba sebutkan benda yang bermula dari huruf P.
J: Pensil mbak.
T: Nah sekarang mas ulangi 3 kata benda yang saya ucapkan ya. Meja, Buku, Bolpoin.
J: Meja, Buku, Bolpoin (benar).
T: Oke mas. Kalau semisal kata DUNIA dibalik, jadi apa ya mas?
J: (Terlihat berpikir keras) AINUD (benar)
T: Mas, coba tulis nama lengkapnya mas.
J: (menuliskan dan membaca dengan benar)
T: Lalu coba dibaca mas
J: Suhendarno (Membaca dengan benar)
T: Sekarang coba mas gambarkan jam dinding bulat yang nunjukkan jam 8.
J: (menggambar dengan benar)
T: Mas coba sebutkan lagi 3 kata benda yang saya sebutkan tadi
J: Meja, Buku, Bolpoin (benar).
T: Mas biasanya minum obat apa mas?
J: hmmm (berfikir)
T: Mas rutin ga minum obatnya?
J: kadang (tersenyum)
T: menurut orang lain, mas seperti apasih ?
J: pemalu
T: Oh begitu, kalo menurut mas sendiri, mas orang yang seperti apa?
J: ya pemalu
T: Menurut mas, mas ini sakit atau tidak ?
J: iya sakit
T: Mas ada hobi ngga dulu?
J: Iya mbak, main game
T: Sekarang masih suka main game?
J: iya
T: Nanti kalau sudah sembuh, harapan mas seperti apa?
J: nyenengin bapak (tersenyum)
T: mas ini saya tanya-tanyanya sudah cukup. Terimakasih atas waktu dan
kerjasamanya. Selamat beristirahat ya
J: Iya mbak, sama-sama. (tersenyum)

B. Heteroanamnesa
Heteroanamnesa dilakukan pada Kakek pasien yang mengetahui riwayat pasien
di rumah pada saat di IGD pada tanggal 4 Maret 2020 pukul 21.00 WIB.
Pada tahun 2010, pertama kali keluhan muncul sesaat setelah pasien pingsan
saat upacara bendera di sekolah. Pasien saat itu masih duduk di bangku SMA kelas 2.
Sebelumnya pasien diketahui mengidolakan teman wanitanya namun cintanya ditolak,
sehingga membuat dia kecewa dan mendapat ejekan dari teman-temannya. Pasien
kemudian di bawa pulang. Pasien akhirnya dibawa ke RS, namun kakek pasien tidak
terlalu detail mengetahui awal perjalanan penyakit. Kakek pasien mengatakan pasien
dinyatakan terdiagnosa Skizofrenia dan pernah dirawat 2 kali di RSJ Lawang, dan saat
ini sudah ke-4 kalinya pasien di rawat di RSSA karena penyakitnya ini. Kakek pasien
juga mengatakan pasien rutin kontrol, hanya saja untuk minum obat harus di bawah
kontrol karena pasien masih sering malas untuk meminumnya sendiri. Dari keterangan
kakek pasien, pasien sering melihat sesosok roh wanita cantik yang sering
mengejarnya, selain itu ada suara bisikan-bisikan yang sering menganggu dia sehingga
membuat pasien ketakutan. Dari riwayat kelahiran pasien lahir normal, dan tidak ada
sakit bermakna saat masih kecil.
Sebelum sakit pasien merupakan pribadi yang penyendiri dan tertutup. Pasien
juga merupakan anak yang cerdas dimana sering mendapat nilai sempurna disetiap
mata pelajaran dan aktif dalam kegiatan bela diri. Pasien seorang yang tidak terlalu
memiliki banyak teman.
Menurut kakeknya, sebelum sakit pasien berhubungan baik dengan semua
orang, tidak pernah murung. Sebelumnya pasien diketahui menyukai seseorang wanita
yang merupakan temannya sendiri, namun pasien ditolak cintanya sehingga membuat
pasien sangat sedih. Kakeknya juga mengatakan bahwa dia mempunya seorang teman
yang merupakan tetangganya, tetapi setelah tetangganya mengetahui pasien sakit
tetangga tersebut menutup diri sehingga membuat pasien semakin bersedih.
Pasien sering dirawat inap di ruang 23 Empati semenjak didiagnosa pada tahun
2010, terakhir pada 2 bulan lalu karena mendengar suara-suara yang menganggunya.
Beberapa hari sebelum MRS pasien gelisah dan sempat marah-marah sampai
menendang ayahnya, keluhan membaik setelah mengkonsumsi obat. Riwayat kejang
(-), trauma (-), demam (-). Tidak ada anggota keluarga dengan keluhan serupa. Pasien
sudah mendapat terapi berobat dan sudah rutin kontrol untuk keluhannya. Pasien
mengatakan ingin dirawat inap karena takut membuat keributan disekitarnya.

IV. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Organik : Pasien tidak memiliki riwayat trauma kepala dan tidak ada
kelainan organik
Non-Organik : Pasien pernah dirawat selama 5 bulan di RSJ Lawang, setelah itu
kembali di rawat di RSJ selama 3 bulan. Terakhir pasien dirawat
inap di Ruang 23 Empati RS Saiful Anwar Malang pada 2 bulan
yang lalu selama 14 hari dikarenakan pasien marah-marah, gelisah
dan berusaha menyakiti orang sekitarnya.

V. RIWAYAT PREMORBID
A. Riwayat Pribadi
Riwayat Kehamilan Tidak ditanyakan
Riwayat Kelahiran Pasien lahir di bidan, cukup bulan, lahir
langsung menangis.
Riwayat Tumbuh Kembang Pasien tidak didapatkan keterlambatan dan
gangguan pada proses tumbuh kembang.
Riwayat Pendidikan Pasien merupakan anak yang cerdas dan aktif
dalam kegiatan bela diri. Namun pada saat
SMA pasien putus sekolah karena sakit yang
diderita sampai saat ini.
Riwayat Pekerjaan Pasien tidak bekerja
Riwayat Keagamaan Pasien beragama Islam namun masih sering
melewatkan sholat bersama tergantung mood
pasien.

B. Riwayat Psikososial
Pasien merupakan anak kedua dari 3 bersaudara. Pasien tinggal serumah
dengan ayah, ibu, kakek dan saudara kembarnya. Pasien belum menikah karena
merasa tidak percaya diri karena sebelumnya cintanya ditolak. Menurut kakeknya,
pasien merupakan pribadi yang suka menyendiri dan menutup sehingga sering
menghabiskan waktu sendiri dan jarang bercerita tentang masalahnya. Kakeknya
mengatakan, sebelum sakit pasien berhubungan baik dengan semua orang, tidak
pernah murung. Pasien saat ini tidak bekerja. Sebelumnya pasien merupakan siswa
berprestasi di salah satu SMA favorit di Malang. Pasien diketahui sebelumnya
mengalami penolakan dalam hal percintaan. Pasien sempat merasa kecewa dan
merasa orang-orang sekitarnya mengolok-olok dan menganggap dia tidak berguna.
C. Riwayat Keluarga yang Tinggal Serumah

Usia
No Keluarga Nama Pekerjaan
(tahun)

1. Pasien Tn. A 29 Tidak bekerja

2. Ayah Tn. S 62 Guru

3. Ibu Ny. S 60 Guru

4. Kakek Tn. S 73 Serabutan

D. Riwayat Keturunan
Tidak ada anggota keluarga pasien yang memiliki gangguan jiwa atau
keluhan seperti pasien.
E. Faktor Premorbid
Pasien adalah orang yang penyendiri dan tertutup. Pasien dikatakan jarang
bercerita dan terbuka, bila ada masalah pasien memilih menyimpan sendiri dan
tidak menceritakan kepada siapapun. Pasien agak sulit menerima penolakan cinta
dan olokan dari teman-temannya.
F. Faktor Pencetus
Sebelumnya pasien diketahui ditolak wanita yang diidam-idamkan berulang
kali. Pasien sempat merasa kecewa dan merasa kehilangan kepercayaan diri.
Pasien juga sering mendapat olokan dari teman-teman sekolahnya. Pasien tidak
mau membuka diri dan bercerita tentang masalahnya.

VI. TIMELINE PERJALANAN PENYAKIT PASIEN

A B C D E F
A : Pasien dilahirkan pada tahun 1990
B : Pada akhir tahun 2009, pasien bercerita kepada saudara kembarnya jika
dirinya menyukai seorang perempuan yang satu sekolah dengan dia.
Perempuan ini merupakan idola di sekolahnya. Pasien sempat mengutarakan
perasaan ke perempuan itu, namun ditolak. Pasien merasa orang-orang
sekitarnya mengolok-olok dan menganggap dirinya tidak berguna.
C : Pada awal tahun 2010, pasien jatuh pingsan saat upacara bendera. Saat itu
guru disekolah menyuruh pasien untuk pulang dan beristirahat. Pasien jadi
sering mengatakan ada wanita cantik yang mengejar-ngejar dia. Keadaan
memburuk ketika tetangga dekatnya juga ikut menjauh. Hal itu membuat dia
semakin sedih dan kesepian. Pasien juga mengatakan bahwa pasien sering
mendengar bisikan-bisikan wanita yang tidak didengar orang lain, bisikan-
bisikan tersebut mengatakan bahwa hiposoni akan menganggu dia.
D : Semenjak 2010 pasien didiagnosa skizofrenia oleh dokter dan rutin untuk
kontrol di RSJ Lawang. Pasien sempat MRS di RSJ Lawang pertama kali
selama 5 bulan, dan yang kedua selama 3 bulan. Pasien masih mengeluhkan
melihat roh wanita cantik dan mendengar bisikan-bisikan yang menakuti
dirinya. Pasien juga sudah sering dirawat di RSSA ruang 23 Empathy karena
keluhannya.
E : Pada pertengahan Februari pasien sempat kambuh dan hilang kontrol hingga
menendang ayahnya. Namun pasien membaik saat diberikan obat.
F : 4 Maret 2020, MRS  mulai gelisah dan muncul keluhan seperti sebelumnya.

VII. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Interna (4 Maret 2020)
 Keadaan umum : Baik
 Gizi : Cukup
 Higiene : Baik
 Tinggi badan : 167 cm
 Berat badan : 63 kg
 Tekanan darah : 169/104 mmHg
 Nadi : 136x/menit
 Pernapasan : 20x/menit
 Suhu aksiler : 36,8oC
 Kepala : anemia -/-, ikterus -/-, sianosis -/-, edema -/-
 Leher : kaku kuduk (-), pembesaran KGB leher (-)
 Thorax :
o Cor
 Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
 Palpasi : ictus cordis teraba di ICS V MCL Sinistra
 Perkusi : LHM: ICS V MCL sinistra
RHM: SL dextra
 Auskultasi: S1 S2 tunggal, murmur (-)
o Pulmo
 Inspeksi : simetris
 Palpasi : chest expansion D=S
 Perkusi : sonor di semua lapangan paru D dan S
 Auskultasi : vesikuler di semua lapangan paru
rhonki (-), wheezing (-)
 Abdomen : inspeksi : flat
auskultasi : BU (+) normal
perkusi : distribusi timpani normal
hepar dan lien tidak membesar
Palpasi : soefl, meteorismus (-)
 Extremitas : akral hangat, edema -/-, CRT<2’
B. Status Neurologis (4 Maret 2020)
 Keadaan umum: baik, compos mentis (GCS 456)
 Meningeal sign: (-)
 Kaku kuduk: (-)
 Reflek pupil/cahaya: PBI Ø3mm/3 mm, reflek cahaya +/+
 Nervus kranialis: dalam batas normal
 Reflek fisiologis:
Reflek biseps : +2|+2
Reflek triseps : +2|+2
Reflek knee (patella) : +2|+2
Reflek achilles : +2|+2
 Reflek patologis:
Reflek Hoffman/Tromner : -|-
Reflek Babinski : -|-
Reflek Chaddock : -|-
Reflek Oppenheim : -|-
Reflek Gonda : -|-
 Pemeriksaan motorik:
Kekuatan :+5/+5
+5/+5
Tonus : Normal/Normal
Normal/Normal
 Pemeriksaan sensorik : dalam batas normal
 Pemeriksaan fungsi otonom : inkontinensia urin (-)
C. Status Psikiatrik (4 Maret 2020)
• Kesan umum : Laki-laki, 29 tahun, wajah tampak sesuai usia,
berpakaian rapi, terawat, higienitas baik, kooperatif,
bicara lancar
• Kontak : Verbal (+) relevan, non verbal (+).
• Kesadaran : Kuantitif : GCS 456
Kualitas: normal
• Persepsi : Halusinasi auditorik (+) visual (+)
• Proses berpikir:
• Isi : Waham paranoid (+)
• Arus : Koheren
• Bentuk : Non realistik
• Mood : senang
• Afek : normal
• Orientasi:
• Tempat : Baik
• Waktu : Baik
• Orang : Baik
• Daya ingat:
• Pendek : Baik
• Panjang : Baik
• Intelegensi : Baik
• Psikomotor : meningkat
• Tilikan (insight) : Derajat 4
• Kemauan : Activity daily living : terganggu
Relasi : Menurun
Pekerjaan : Menurun
Hobi : Ada
Cita-cita : tidak ada
 Pengendalian impulse : Baik
 Tilikan : Derajat 6
 Psikomotor : Baik
 Konsentrasi : Baik
 Perhatian : Baik
 Baca tulis : Baik
 Visuospasial : terganggu
 Pikiran abstrak : Baik
VIII. RESUME
Tn. A/ 29 tahun/autonamnesis dan pemeriksaan dilakukan pada tanggal 4
Maret 2020
Keluhan utama: Pasien gelisah karena melihat dan mendengar suara-suara
yang tidak dapat didengar orang lain
Pasien mengatakan bahwa dia melihat sesosok wanita cantik didepan
matanya. Sesosok wanita tersebut sering mengejar-ngejar dia. Pasien juga
mengatakan ada bisikan-bisikan dari Hipotoni yang merupakan tetangga dekatnya
dulu yang ingin melukai dia. Pasien sudah 2 kali dirawat di RSJ Lawang, dan 4 kali
di rawat inap di ruang 23 Empati karena keluhannya ini. Terakhir pasien dirawat
inap pada 2 bulan yang lalu karena adanya halusinasi suara dan melihat sesosok
roh. Sebelum dirawat pada bulan Maret ini, pasien sempat kumat dan emosi
sehingga pasien sempat menendang ayahnya sendiri, namun membaik setelah
konsumsi obat. Semenjak didiagnosa pasien rutin untuk kontrol, hanya saja pasien
masih sering malas untuk konsumsi obat jika sendiri.
Sebelum sakit pasien merupakan pribadi yang penyendiri dan tertutup.
Pasien juga merupakan anak yang cerdas dimana sering mendapat nilai sempurna
disetiap mata pelajaran dan aktif dalam kegiatan bela diri. Pasien seorang yang
tidak terlalu memiliki banyak teman. Menurut kakeknya, sebelum sakit pasien
berhubungan baik dengan semua orang, tidak pernah murung. Sebelumnya pasien
diketahui menyukai seseorang wanita yang merupakan temannya sendiri, namun
pasien ditolak cintanya sehingga membuat pasien sangat sedih. Kakeknya juga
mengatakan bahwa dia mempunya seorang teman yang merupakan tetangganya,
tetapi setelah tetangganya mengetahui pasien sakit tetangga tersebut menutup diri
sehingga membuat pasien semakin bersedih.
Riwayat kejang (-), trauma (-), demam (-). Tidak ada anggota keluarga
dengan keluhan serupa. Pasien sudah mendapat terapi berobat dan sudah rutin
kontrol untuk keluhannya. Pasien mengatakan ingin dirawat inap karena takut
membuat keributan disekitarnya.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Organik : Pasien tidak memiliki riwayat trauma kepala dan tidak ada kelainan
organik
Non-Organik : Pasien pernah dirawat selama 5 bulan di RSJ Lawang, setelah itu
kembali di rawat di RSJ selama 3 bulan. Terakhir pasien dirawat
inap di Ruang 23 Empati RS Saiful Anwar Malang pada 2 bulan
yang lalu selama 14 hari dikarenakan pasien marah-marah, gelisah
dan berusaha menyakiti orang sekitarnya.
RIWAYAT PREMORBID
1. Riwayat Psikososial
Pasien merupakan anak kedua dari 3 bersaudara. Pasien tinggal serumah
dengan ayah, ibu, kakek dan saudara kembarnya. Pasien belum menikah karena
merasa tidak percaya diri karena sebelumnya cintanya ditolak. Menurut kakeknya,
pasien merupakan pribadi yang suka menyendiri dan menutup sehingga sering
menghabiskan waktu sendiri dan jarang bercerita tentang masalahnya. Kakeknya
mengatakan, sebelum sakit pasien berhubungan baik dengan semua orang, tidak
pernah murung. Pasien saat ini tidak bekerja. Sebelumnya pasien merupakan siswa
berprestasi di salah satu SMA favorit di Malang. Pasien diketahui sebelumnya
mengalami penolakan dalam hal percintaan. Pasien sempat merasa kecewa dan
merasa orang-orang sekitarnya mengolok-olok dan menganggap dia tidak berguna.
2. Kepribadian Premorbid
Pasien adalah orang yang penyendiri dan tertutup. Pasien dikatakan jarang
bercerita dan terbuka, bila ada masalah pasien memilih menyimpan sendiri dan tidak
menceritakan kepada siapapun. Pasien agak sulit menerima penolakan cinta dan
olokan dari teman-temannya.
3. Faktor Pencetus
Sebelumnya pasien diketahui ditolak wanita yang diidam-idamkan berulang kali.
Pasien sempat merasa kecewa dan merasa kehilangan kepercayaan diri. Pasien
juga sering mendapat olokan dari teman-teman sekolahnya. Pasien tidak mau
membuka diri dan bercerita tentang masalahnya.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Interna: Dalam batas normal
Status Neurologis: Dalam batas normal
• Kesan umum : Laki-laki, 29 tahun, wajah tampak sesuai usia,
berpakaian rapi, terawat, higienitas baik, kooperatif,
bicara lancar
• Kontak : Verbal (+) relevan, non verbal (+).
• Kesadaran : Kuantitif : GCS 456
Kualitas: normal
• Persepsi : Halusinasi auditorik (+) visual (+)
• Proses berpikir:
• Isi : Waham paranoid (+)
• Arus : Koheren
• Bentuk : Non realistik
• Mood : senang
• Afek : normal
• Orientasi:
• Tempat : Baik
• Waktu : Baik
• Orang : Baik
• Daya ingat:
• Pendek : Baik
• Panjang : Baik
• Intelegensi : Baik
• Psikomotor : meningkat
• Tilikan (insight) : Derajat 4
• Kemauan : Activity daily living : terganggu
Relasi : Menurun
Pekerjaan : Menurun
Hobi : Ada
Cita-cita : tidak ada
 Pengendalian impulse : Baik
 Tilikan : Derajat 6
 Psikomotor : Baik
 Konsentrasi : Baik
 Perhatian : Baik
 Baca tulis : Baik
 Visuospasial : terganggu
 Pikiran abstrak : Baik

IX. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL


Aksis I : Skizofrenia paranoid (F20.0)
Aksis II : Ciri kepribadian cemas menghindar
Aksis III :-
Aksis IV : Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial
Aksis V :GAF Scale 60-51
X. TERAPI
 Farmakoterapi dengan pemberian antipsikosis yaitu:
Haloperidol 2x5mg tab peroral
Trifluoperazine 2x5mg tab peroral
Clozapine 2x25mg tab peroral
Trihexylphenidil 2x2mg tab peroral
 Psikoterapi dan rehabilitasi, berupa:
- Psikoterapi suportif individual atau kelompok, serta bimbingan yang praktis
dengan maksud mengembalikan pasien ke masyarakat.
- Memberikan pengarahan dan pengertian kepada pasien bahwa suara-suara
yang didengar oleh pasien sebenarnya tidak nyata. Sehingga pasien tidak
perlu mendengarkan bahkan menuruti suara-suara yang didengarkan.
Memberikan pengertian untuk melakukan kegiatan lain misalnya
mendengarkan lagu dan ayat-ayat quran melalui headset sebagai upaya untuk
mengalihkan suara-suara tersebut.
- Menganjurkan pasien untuk memiliki hobi, agar pasien bisa tetap beraktivitas
dengan menyalurkan hobinya.
- Terapi perilaku agar pasien meningkatkan kemampuan sosial dan komunikasi
interpersonal pasien.
- Terapi perilaku kognitif (cognitive behavior therapy).
- Terapi kerja untuk mendorong pasien bergaul lagi dengan orang lain.
 Manipulasi lingkungan:
- Pengaturan lingkungan agar pasien tidak mengalami stres terlalu banyak.
- Terapi keluarga, antara lain dengan membantu keluarga dan pasien untuk
memahami dan mempelajari skizofrenia serta sebaiknya dianjurkan untuk
diadakan diskusi mengenai episode psikotik serta peristiwa yang mengarah ke
sana. Anggota keluarga sebaiknya diberi pemahaman mengenai kondisi pasien
sehingga turut menjaga kondisi lingkungan di sekitar pasien agar tetap
kondusif dan tidak memberikan stressor yang terlalu banyak.
- KIE mengenai pentingnya kepatuhan minum obat dengan aturan dan dosis
yang dianjurkan

XI. PROGNOSIS
Berdasarkan:
 Diagnosa : Skizofrenia buruk
 Onset usia : 29 tahun buruk
 Pengobatan : Teratur  baik
 Faktor keturunan : Tidak ada  baik
 Faktor pencetus : Diketahui  baik
 Kepribadian premorbid : Cemas Menghindar  buruk
 Sosial ekonomi : Menengah ke bawah  buruk
 Status menikah : Belum menikah  buruk
 Dukungan keluarga : Ada  baik
Prognosis: dubia ad bonam

Foto 1: Bersama pasien dan kakaknya di ruang makan