Anda di halaman 1dari 13

TUGAS GEOMORFOLOGI

Oleh :
DANIN CANDRAFATINIA
111.180.078

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

YOGYAKARTA

2019
TUGAS 1.
KAITAN ASPEK UTAMA GEOMORFOLOGI DAN GEOLOGI
NO ASPEK2 UTAMA LERENG BENTUK LITOLOGI STRATI- STRUKTUR
GEOMORFOLOGI LAHAN GRAFI GEOLOGI
1 Pola pengaliran dasar 1 2 3 4 5
2 Pola pengaliran
6 7 8 9 10
ubahan
3 Penyimpangan aliran 11 12 13 14
4 Tekstur pengaliran 15
5 Bentuk lembah &
16
lereng
6 Tempat mengalirnya 17
7 Tubuh sungai
8 Morfografi 18
9 Morfometri 19 20
10 Morfo struktur pasif 21
11 Morfo struktur aktif 22
12 Morfo dinamis 23
14 Morfo asosiasi 24

Penjelasan :

1. Pola pengaliran dasar dengan lereng


Suatu jaringan sungai akan membentuk pola pengaliran tertentu diantara
saluran utama dengan cabang-cabangnya dan pembentukan pola pengaliran ini
sangat ditentukan oleh faktor geologinya,jenis pola pengaliran sungai utama
dengan cabang-cabangnya disuatu satu wilayah dengan wilayah lainnya sangat
bervariasi,pola pengaliran salah satunya ditentukan oleh perbedaan
kemiringan, pola pengaliran dasar,pada umumnya dikenal sebagai Pola
Pengaliran Dendritk, Radial,Rectangular, Trelis, Anular, Paralelr, Multi
Basinal, Kontorted. Pola peng-aliran dasar dengan memiliki keterkaitan
dengan lereng contohnya terdapat pada Pola Pengaliran Paralel, Pola Aliran
Paralel (Pola Aliran Sejajar) Sistem pengaliran paralel merupakan suatu
sistem aliran yang terbentuk oleh lereng yang curam/terjal. Dikarenakan
morfologi lereng yang terjal maka bentuk aliran- aliran sungainya akan
berbentuk lurus-lurus mengikuti arah lereng dengan cabang-cabang sungainya
yang sangat sedikit. Pola aliran paralel terbentuk pada morfologi lereng
dengan kemiringan lereng yang seragam.
2. Pola pengaliran dasar dengan bentuk lahan
Terdapat pada pola pola pengaliran seperti Radial dan Sentripetal pola aliran
radial adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara radial
darisuatu titik ketinggian tertentu, seperti puncak gunungapi, Pola aliran radial
juga dijumpai pada bentuk-bentuk bentangalam kubah (domes) dan laccolith.
Pola aliran ini memiliki arahmengumpul/memusat ke satu titik pusat dengan
elevasi terendah,Dijumpai pada daerah berbentuk cekungan/basin atau pada
daerah bertopografi karst. Sedangkan pola aliran sentripetal merupakan pola
aliran yang berlawanan dengan pola radial, di mana aliransungainya mengalir
ke satu tempat yang berupa cekungan (depresi)
3. Pola pengaliran dasar dengan litologi
Litologi mempengaruhi bentuk pola pengaliran dilihat dari porositas dan
resistensinya, apakah dapat dilalui aliran atau tidak.
4. Pola pengaliran dasar dengan stratigrafi
Stratigrafi terdiri dari bermacam-macam litologi diamana litologi dapat
mempengaruhi suatu pola aliran sehingga pada setiap stratigrafi memiliki pola
pengaliran yang berbeda-beda.
5. Pola pengaliran dasar dengan struktur geologi
Pada pola annular, sungai sungai kecil yang terbentuk pada pola pengaliran
dipengaruhi oleh adanya kekar. Dan pola ini juga berkembang pada struktur
kubah.
6. Pola pengaliran ubahan dengan lereng
Setiap pola pengaliran ubahan terbentuk akibat kemiringan lereng yang
bermacam-macam, contohnya Pola pengaliran dasar SubDendritik yang
memiliki lereng miring sehingga pola alirannya berubah.
7. Pola pengaliran ubahan dengan bentuk lahan
Setiap pola pengaliran dasar terbentuk dibentuklahan yang bermacam-macam,
contohnya bentuklahan kaldera terdapat pola pengaliran centripetal dimana
alirannya menuju suatu titik.
8. Pola pengaliran ubahan dengan litologi
Litologi mempengaruhi bentuk pola pengaliran dilihat dari porositas dan
resistensinya, apakah dapat dilalui aliran atau tidak. Biasanya pada pola aliran
ubahan terdapat lebih dari satu litologi sehingga bentukya bervariasi.
9. Pola pengaliran ubahan dengan stratigrafi
Sama halnya seperti litologi, stratigrafi daerah sekitar aliran sungai juga
mempengaruhi pola pengaliran, biasanya stratigrafi dikaitkan dengan litologi
yang berkembang didaerah tersebut.
10. Pola pengaliran ubahan dengan struktur geologi
Kontrol struktur sangat berpengaruh pada pola pengaliran ubahan. Kontrol
struktur berupa terdapatnya kekar, sesar, dan lipatan. Contoh dari control
struktur mempengaruhi pola aliran yaitu Kelokan tajam dari sungai
kemungkinan akibat sesar dan kelurusan anak sungai diakibatkan kekar yang
menyebabkan berubahnya pola aliran ubahan.
11. Penyimpangan aliran dengan lereng
Kemiringan suatu lereng akan menyebabkan suatu penyimpangan aliran.
Namun kajian penyimpangan aliran sangat penting, terutama pada daerah
yang datar
12. Penyimpangan aliran dengan litologi
Bentuk melengkung, membalik atau pembelokan secara tiba-tiba pada daerah
datar, maka diinterpretasikan sebagai adanya batuan resisten dimana aliran
tidak dapat mangalir lurus karena terhalang batuan resisten sehingga
membelok kearah batuan yang dapat tererosi.
13. Penyimpangan aliran dengan stratigrafi
Sama halnya seperti litologi, stratigrafi daerah sekitar aliran sungai juga
mempengaruhi pola pengaliran, biasanya stratigrafi dikaitkan dengan litologi
yang berkembang didaerah tersebut karena dikatakan suatu stratigrafi karena
merupakan kumpulan dari macam-macam satuan litologi.
14. Penyimpangan aliran dengan struktur geologi
Bentuk melengkung, membalik atau pembelokan secara tiba-tiba pada daerah
datar, maka diinterpretasikan sebagai adanya kubah, sesar aktif, lipatan,
batuan resisten atau jurus lapisan. Contohnya ketika adanya sesar akan terjadi
gaya Tarik yang mengakibatkan turunnya daerah diantara tarikan itu sehingga
aliran dapat mengalir di daerah yang lebih rendah dari sekitarnya dan
membentuk pola aliran sendiri.
15. Tekstur pengaliran dengan litologi
Tekstur pengaliran dipengaruhi oleh litologi daerahnya. ketika litologi
daerahnya tersusun oleh material berbutir halus, maka batuan itu akan mudah
kompak dan tingkat resisten dari batuan tersebut tinggi sehingga membuat
aliran berbelok ke arah batuan yang lemah atau resisten rendah dan membuat
percabangan atau sungai baru, sehingga jarak antar sungai akan semakin dekat
dan halus. Semakin besar butir material batuannnya maka tekstur pengaliran
semakin kasar.
16. Bentuk lembah dan lereng dengan litologi
Bentuk lembah sempit berdinding terjal seperti huruf V, umumnya disusun
oleh batuan berbutir kasar, seperti breksi dan batupasir kasar. Bentuk lembah
agak sempit berdinding agak terjal-landai seperti huruf V landai sampai U
agak terjal. Ciri di atas umumnya disusun batuan berbutir sedang, seperti
batupasir. Bentuk lembah landai berdinding landai seperti huruf U landai,
umumnya disusun oleh batuan berbutir halus, seperti batulempung.
17. Tempat mengalirnya dengan litologi
Tempat mengalir suatu aliran dipengaruhi oleh litologi daerahnya. Ketila
litologinya terdiri dari batuan yang resisten, aliran sungai dapat mengalir di
atas endapan alluvial ( alluvial stream). Sednagkan ketika endapannya tidak
resisten, alirab sungai akan menggerus batuan endapannya dan mengalir diatas
batuan dasarnya (bedrock stream).
18. Morfografi dengan bentuk lahan
Morfografi merupakan aspek geomorfologi yang deskriptif pada suatu area
(dataran, perbukitan, pegunungan dan plateau) jadi bergantung pada keadaan
bentuk lahannya.
19. Morfometri dengan lereng
Morfometri merupakan aspek kuantitatif pada suatu area (kecuraman lereng,
ketinggian, pembukaan dan ketidakrataan dataran) jadi diperhitungkan dari
kemiriringan atau kelerengannya.
20. Morfometri dengan bentuk lahan
Morfometri mempelajari tingkat kecuraman lereng, lereng yang sangat curam
bisa menjadi bentuklahan structural seperti pegunungan, bukit, dll.
21. Morfo struktur pasif dengan litologi
Morfostruktur Pasif merupakan aspek yang dilihat dari Jenis Batuan dan
Struktur Batuan yang dihubungkan dengan proses denudasi (Cuesta,Hogback,
dan Dome)
22. Morfo struktur aktif dengan struktur geologi
Morfostruktur Aktif merupakan aspek yang dilihat dari Dinamika proses
endogen yang didalamnya termasuk proses vulkanisme, lipatan dan sesar
tektonik, seperti gunungapi, punggungan antiklin dan gawir sesar.
23. Morfi dinamis dengan bentuk lahan
Morfodinamik merupakan aspek yang dilihat dari Dinamika proses eksogen
yang dihubungkan dengan pengaruh angin, air dan es dan material sisa, seperti
gumuk, teras sungai, punggungan pantai.
24. Morfo asosiasi dengan bentuk lahan
Mendeskripsikan tentang pertautan antara bentuklahan yang satu dengan
bentuklahan yang lain secara kontekstual dalam suatu susunan keruangan dan
berkaitan dengan proses-proses geomorfikaspek morfo-asosiasi merupakan
kaitan antara bentuklahan satu dengan bentuklahan yang lain dalam susunan
keruangan atau sebarannya di permukaan bumi.
TUGAS 2.
PETA-PETA TEMATIK YANG BERPENGARUH TERHADAP BENCANA
BENCANA
NO PETA-PETA Gempa Tsu- Letusan Gerakan
Banjir Abrasi
Bumi Nami Gn.api Tanah
1 Peta pola pengaliran 1 2 3 4 5 6
2 Peta kelerengan 7 8 9 10 11 12
3 Peta bentuk lahan 13 14 15
4 Peta kekasaran pantai 16
5 Peta geomorfologi 17 18 19 20 21 22
6 Peta magnitude gempa 23
7 Peta kedalaman gempa 24 25
8 Peta struktur geologi 26 26 26
9 Peta curah hujan 27 27 27
10 Peta penggunaan lahan 28 28
11 Peta kepadatan penduduk 29

Penjelasan:
1. Peta pola pengaliran dengan Gempa bumi Secara langsung
Apabila ketika terjadinya gempa bumi akan mengakibatkan terjadinya
longsor-longsoran yang kemudian menutupi sungai,mempengaruhi
alirannyayang menjadikannya berubah ,sehingga mempengaruhi pola
pengaliran dari sungai yang tertutupi material material yang disebabkan
akibat gempa bumi,  mengetahui hubungan longsor yang disebabkan oleh
peristiwa gempabumi dengan diperoleh dari peta pola pengaliran sungai
2. Peta pola pengaliran dengan Tsunami Langsung
Ketika terjadinya tsunami maka daerah sungai yang berada di dekat laut
akan dihantam air tsunami yang mengakibatkan terjadinya perubahan
bentuk pola pengaliranya pada daerah tersebut.
3. Peta pola pengaliran dengan letusan gunung api secara langsung
Ketika gunung api meletus maka dapat menyebabkan perubahan morfologi
di daerah gunung termasuk aliran sungai,contohnya lahar dingin akibat
gempa bumi yang terendapkan pada suatu sungai dapat mempengaruhi
tempat mengalirnya air sehingga mencari celah yang berbeda dari tempat
biasanya,sehingga dapat menyebabkan perubahan pada pola pengaliran
4. Peta Pola Pengaliran dengan Banjir secara Langsung
Bencana banjir dapat dikategorikan sebagai fenomena alam, yang
disebabkan oleh beberapa faktor.salah satunya dapat dipengaruhi oleh pola
pegalirannya salah satu contohnya terdapat pada Batang Kuranji yang
merupakan satu dari enam sungai yang mengalir di Kota Padang. Batang
Kuranji ini sering mengalami banjir diantaranya banjir bandang tanggal 24
Juli 2012 dan tanggal 12 September 2012. terdapat beberapa parameter
karakteristik daerah aliran sungai dan pola aliran yang mempengaruhi
terjadinya banjir, maka diperkirakan ada suatu hubungan yang erat antara
karakteristik DAS dan pola aliran tersebut. Hubungan ini sangat penting
untuk diketahui sehingga bencana yang mungkin timbul pada suatu sungai
yang memiliki karakteristik tertentu dapat diantisipas
5. Peta Pola pengaliran dengan Gerakan Tanah secara tidak langsung
Gerakan tanah pada daerah yang aktif dapat di kontrol dengan morfometri
yang diperoleh melalu pota pengaliran
6. Peta Pola Pengaliran dengan Abrasi secara langsung
Fenomena abrasi menyebabkan perubahan bentang alam sehingga
terbentuknya Cliff  (tebing pantai), cave, arch, dan daratan
abrasi. Cliff adalah pantai yang memiliki batuan keras dan terjal yang
terjadi dari pengikisan di bagian bawah tebing. Cave merupakan sebutan
dari gua yang berada di tebing pantai, arch merupakan terobosan gua
hingga sampai kedua sisi tebing, sedangkan dataran abrasi adalah wilayah
daratan yang telah mengalami pengikisan sehingga terlihat jelas apabila air
surut. Apabila di pantai dapat terjadi pengikisan, maka di Daerah Aliran
Sungai (DAS) juga dapat terjadi pengikisan yang disebut ”ablasi”,
7. Peta kelerengan dengan gempa bumi secara langsung
Fenomena gempabumi  yang terjadi dapat mempengaruhi
stabilitas lereng yang kemudian dapat mengakibatkan terjadinya
longsorlahan akibat getaran-getaran yang disebabkan oleh gempa bumi
,hal tersebut dapat mempengaruhi bentuk dan daaerah lereng yang dapat
diperoleh dari peta kelerengan lansgung
8. Peta Kelerengan dengan Tsunami
Fenomena tsunami akan mempengaruhi Kelerengan suatu wilayah akibat
air dan material yang dibawa oleh tsunami hal ini mempengaruhi bentuk
dan keadaan lereng sehingga dapat dilihat melau peta kelerenga
9. Peta Kelerengan dengan Letusan Gunung api secara langsung
Letusan gunung api dapat memberi dampak yang spesifik
dalam peta topografi dalam, bentuk lereng tak teratur, serta erosi.
Sehingga sangat berdapak pada peta kelerengan
10. Peta kelerengan dengan Banjir
Kita dapat melihat suatu wilayah memiliki tingkat kerawanan banjir
melalui peta topografi seperti contoh tingkat kerawanan banjir.
Peta Topografi Sub DAS Karang Asam Kecil Kota Samarinda.
Peta kemiringan lereng Sub DAS.
11. Peta kelerengan dengan Gerakan Tanah
Upaya pengurangan dan mitigasi bencana gerakan tanah merupakan salah
satu mitigasi tanah longsor dalam dan dangkal berbasis
hidrologi lereng dan dapat diperoleh dengan mengamati daerah daerah
dengan kawasan aktif dan memperthitungkan suatu kelerengan melalui
peta kelerengan
12. Peta kelerengan dengan Abrasi
Abrasi merupakan fenomena yang diakibatkan pengkikisan air laut dimana
hal tersebulut memiliki Hubungan antara Kemiringan dan
Posisisi Lereng dengan Tekstur Tanah, Permeabilitas yang apabila ketika
terjadinya abrasi akan mempengaruhi dari bentuk dan kawasan lereng
tersebut yang berada di daerah dekat dengan laut dimana hal ini dapat
dilihat melalui peta kelerengan.
13. Peta bentuk lahan dengan letusan gunung api
Letusan gunung api akan mengakibatkan terbentuknya bentuklahan
vulkanik Contoh bentuklahan ini antara lain: kerucut gunungapi, madan
lava, kawah, dan kaldera.
14. Peta bentuk lahan dengan banjir
Banjir akan mengakibatkan terbentuknya bentuklahan asal fluvial (F),
yang merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat
aktivitas sungai. Dataran banjir, rawa belakang, teras sungai, dan tanggul
alam merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan ini.
15. Peta bentuk lahan dengan gerakan tanah
Pergerakan tanah yang terjadi secara terus menerus bisa menyebabkan
terjadinya erosi kemudian tanah longsor, akibatnya terbentuklah
bentuklahan asal proses denudasional (D), merupakan kelompok besar
satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses degradasi seperti bencana
tanah longsor dan erosi. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: bukit
sisa, lembah sungai, peneplain, dan lahan rusak.
16. Peta kekasaran pantai dengan tsunami
Tsunami adalah salah satu bencana alam yang senantiasa terdiri atas faktor
bahaya-bahaya, kerentanan, kelerengan pantai, kekasaran pantai (material
permukaan) hal ini akan mempengaruhi tingkatan tsunami
17. Peta geomorfologi dengan Gempa Bumi
Aspek-aspek geomorfologi yang dikaji dengan Analisa geomorfologi pada
suatu lokasi penelitian dapat diketahui bahwa daerah tersebut memiliki
daerah rawan gempa bumi melalui peta geomorfologi ,sepeerti contoh
pada daerah Leato (Kelurahan Leato utara dan Leato selatan) pada
Kecamatan Dumbo Raya Kotamadya Gorontalo,ditemukan Morfostruktur
aktif merupakan aktivitas tektonik yang berlangsung relatif menerus sejak
Eosen – Miosen Awal sampai Kuarter sehingga menjadikannya kawasan
rawan bencana gempa bumi tinggi yang dapat menjadi faktor pemicu
terjadinya longsor.
18. Peta geomorfologi dengan Tsunami
Fenomena tsunami meninggalkan pengaruh terhadapk kawasan kawasan
sekitar tejadinya tsunami hal ini meninggalkan perubahn perubahn yang
berdampak hal ini dapat diketahui melalupi peta geomorfologi
19. Peta geomorfologi dengan Letusan Gunung Api
Letusan Gunung api akan mempengaruhi baik bentuk lahan dan kawasan
sekitar gunung api akibat adanya proses-proses yang mempengaruhinya
serta material material yang berasal daru gunung api serta
menyelidiki hubungan timbal balik antara bentuklahan.hal ini dapat
diperoleh berdasarkan morfokonservasi dan peta geomorfologi
20. Peta gemorfologi dengan Banjir
Peta geomorfologi  merupakan memuat data tentang bentuklahan dan
proses geomorfologinya hal ini sebagai dasar untuk membuat
dataran banjir dan dengan peta geomorfologi dapat mengetahui kawasan
daerah rawan banjr yang dapat dikaitakan dengan jenis jenis pola
pengaliran pada daerah – daerah tersebut
21. Peta geomorfologi dengan Gerakan Tanah
Gerak massa tanah (mass movement) merupakan proses bergeraknya
puing-puing batuan, Pergerakan ini memicu banyaknya bencana alam dan
salah satunya adalah longsor,dengan peta geomorfologi dapat diperoleh
kawasan-kawasan yang rentan akan gerakan tanah
22. Peta geomorfologi dengan Abrasi
Pada peta satuan geomorfologi sungai (fluvial), proses-proses geologi
seperti erosi ataupun yang terdapat pada daerah pantai yakni akibat
fenomena abrasi pada. peta geomorfologi dapat menunjukkan
sejarah erosi dan abrasi yang ditinggalkan.
23. Peta magnitude gempa dengan gempa bumi
Peta magnitude gempa sangat dikaitkan dengan gempa bumi. Pengertian
magnitudo gempa adalah sebuah besaran yang menyatakan besarnya
energi seismik yang dipancarkan oleh sumber gempa. Dengan
menggunakan peta magnitude gempa bumi bisa untuk melakukan daerah
daerah yang berpotensi terjadi gempa lagi.
24. Peta kedalaman gempa dengan gempa bumi
Peta kedalaman gempa juga sangat dikaitkan dengan gempa bumi. Dengan
adanya peta kedalaman gempa bumi bisa mengetahui pusat/sumber gempa
bumi dan mengetahui daerah yang rawan gempabumi.
25. Peta kedalaman gempa dengan tsunami
Secara tidak langsung dengan peta kedalaman gempa bisa untuk
memprediksi terjadinya tsunami.
26. Peta stuktur geologi dengan gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor
Peta yang memberikan informasi geologi dimana data geologi diperoleh
dari peta topografi. Macam-macam struktur geologi yaitu kekar, sesar, dan
lipatan. Terjadinya sesar yang menyebabkan suatu pergerakan, maka dapat
juga berpotensi menghasilkan gempa bumi (26) dan akan dapat memicu
terjadinya tsunami (26) dan gerakan tanah (26)
27. Peta curah hujan dengan banjir, gerakan tanah, dan abrasi
Peta curah hujan menampilkan persebaran curah hujan suatu daerah. Bila
curah hujan memiliki tingkat yang tinggi, daerah tersebut rawan terjadi
banjir dan gerakan tanah. Jika terjadi disekirar daerah pantai, maka dapat
menyebabkan garis pantai maju kearah darat dan potensi abrasi lebih besar
28. Peta penggunaan lahan dengan gerakan tanah dan banjir
Peta yang memperlihatkan aktivitas manusia kaitannya dengan lahan.
Penggunaan lahan biasanya digunakan untuk pemanfaatan tertentu. Jika
tidak sesuai kaidah, penggunaan lahan justru dapat merusak lahan.
Menyebabkan penggundulan hutan sehingga terjadi gerakan tanah(tanah
longsor,erosi), lalu saat hujan deras mengguyur daerah tersebut maka
terjadilah banjir.
29. Peta kepadatan penduduk dengan banjir
Peta kepadatan penduduk dapat merepresentasikan daerah dengan
penduduk yang banyak, sehingga sedikit sekali lahan yang tersedia.
Akibatnya tidak terdapat daerah resapan air hujan yang cukup, maka akan
rawan terjadi banjir.
TUGAS 3.
Jadi harus Bagaimana ?
Sebagai seorang geologist kita harus mengetahui, menyadari, dan berpikir
kritis terhadap geomorfologi. Ilmu geomorfologi sangat bermanfaat bagi kita.
Untuk memahami geomorfologi kita harus melalui survey analitik dan sintetik.
Survey sintetik adalah melakukan pengamatan di lapangan terlebih dahulu
kemudian mengelompokkanya berdasarkan sifat-sifat tertentu. Jadi survey ini
memberi nama terlebih dahulu kemudian mengelompokannya. Sedangkan survey
analitik adalah kebalikan dari survey sintetik, adi survey analitik
mengelompokkan terlebih dahulu kemudian baru memberi nama. Kedua metode
harus dipahami karena sangat berguna untuk memahami geomorfologi.
Geomorfologi juga memiliki manfaat yang sangat besar dibidang kebencanaan,
jadi kita harus bisa menerapkan ilmu-ilmu geomorfologi yang berkembang di era
sekarang.
Setelah memahami tentang aspek-aspek geomorfologi kita bisa melakukan
pembangunan yang dapat mengurangi resiko dari bencana. Misalnya saja kita
harus mengurangi aktivitas penebangan pohon secara liar, terutama di bagian
lereng yang curam. Jika aktivitas tersebut masih dilakukan bukan tidak mungkin
bencana seperti banjir, erosi, dan tanah longsor akan terjadi. Jika bencana
tersebut sampai terjadi maka akan timbul kerugian baik itu secara fisik maupun
materil. Seharusnya kita menerapkan pemikiran logis, kritis, dan inovatif dalam
memahami peran geomorfologi melalui survey analisis (aspek-aspek
geomorfologi) dan didukung oleh survey sintetik seperti definsi yang telah kita
ketahui.
Sebagai seorang geologist kita harus mampu menerapkan konsep-konsep dan
aspek-aspek geomorfologi untuk tujuan kebencanaan sesuai yang telah dipelajari
di mata kuliah geomorfologi.