Anda di halaman 1dari 12

Tugas Sejarah / Raphaella Melody

 Perisitiwa Merah Putih Di Manado

Tokoh Yang Terlibat :


-GSSJ Ratulangi
-Arie Frederik Lasut
-Jahja Daniel Dharma
-Maria Walanda Maramis
-Pierre Tendean,
-Robert Wolter Monginsidi
-Alex Mendur Frans Mendur
-Bernard Wilhelm Lapia
Proses Terjadinya :
Dalam Peristiwa Merah Putih di Manado, para pemuda yang tergabung dalam pasukan KNIL
kompi VII di bawah pimpinan Ch. Ch. Taulu bersama dengan rakyat melakukan perebutan
kekuasaan di Manado, Tomohon, dan Minahasa pada tanggal 14 Februari 1946. Sekitar 600
orang pasukan dan pejabat Belanda berhasil ditawan. Pada tanggal 16 Februari 1946, dike-
luarkan selebaran yang menyatakan bahwa kekuasaan di seluruh Manado telah berada di tangan
bangsa Indonesia.
Untuk memperkuat kedudukan Republik Indonesia, para pemimpin dan pemuda menyusun
pasukan keamanan dengan nama Pasukan Pemuda Indonesia yang dipimpin oleh Mayor Wuisan.
Bendera Merah Putih dikibarkan di seluruh pelosok Minahasa hampir selama satu bulan, yaitu
sejak tanggal 14 Februari 1946. Di pihak lain, Dr. Sam Ratulangi diangkat sebagai Gubemur
Sulawesi dan mempunyai tugas untuk memperjuangkan keamanan dan kedaulatan rakyat
Sulawesi.
Ia memerintahkan pembentukan Badan Perjuangan Pusat Keselamatan Rakyat. Dr. Sam
Ratulangi membuat petisi yang ditandatangani oleh 540 pemuka masyarakat Sulawesi. Dalam
petisi itu dinyatakan bahwa seluruh rakyat Sulawesi tidak dapat dipisahkan dari Republik
Indonesia. Dengan adanya petisi tersebut, pada tahun 1946 Sam Ratulangi ditangkap dan
dibuang ke Serui (Irian Barat). Peristiwa ini hingga saat ini dikenang dalam sejarang bangsa
Indonesia peristiwa merah putih di Manado.

Pemuda Sulawesi Utara membentuk Barisan Pemuda Nasional Indonesia (BPNI) sementara
NICA-Belanda di bawah perlindungan Sekutu menduduki kembali Indonesia Timur, khususnya
Sulawesi Utara, dan segera berusaha memulihkan kekuasaannya dari masa Hindia-Belanda tetapi
terlibat clash dengan pasukan pemuda BPNI.
NICA telah membentuk kembali LOI (organisasi pusat ketentaraan) sebesar 8 kompi yang terdiri
dari tentara KNIL bekas pasukan Sekutu dengan menerima juga bekas Heiho-Jepang dan
pensiunan militer (reserve corps).

Sesuai misi dari Ratulangi pasukan NICA ini harus disusupi oleh para pemuda pejuang militer
untuk kemudian dibantu oleh pemuda (BPNI) mewujudkan Proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus 1945. Hal ini terlaksana sehingga di asrama militer di Teling-Manado dibentuk suatu
organisasi gelap yang sangat rahasia oleh Freddy Lumanauw dan Wangko Sumanti yang
dinamakan mereka: ‘’Pasukan Tubruk’’.

Akhir Desember 1945, seluruh pasukan Sekutu (Australia) meninggalkan Manado dan tugas
Sekutu diserahkan kepada NICA-KNIL di bawah pimpinan Tentara Inggris yang berpusat di
Makassar. BPNI melihat kesempatan ini dan pemimpinnya, John Rahasia dan Wim Pangalila,
merancangkan suatu pemberontakan pemuda yang akan dibantu oleh Freddy Lumanauw dari
Pasukan Tubruk di Teling.
Bagian NEFIS-Belanda mulai mencurigai Lumanauw dan Pakasi yang kedapatan telah
disusupkan oleh Dr Ratulangi dari Jakarta ke dalam KNIL. Mereka berdua dimasukkan dalam
penjara di Manado oleh oditur militer Schravendijk dan akan diproses untuk diadili.
Rencana John Rahasia dan Wim Pangalila untuk merebut kekuasaan pada upacara NICA 10
Januari, juga diketahui NEFIS dan semua tokoh pemuda BPNI di Manado dan Tondano telah
ditangkap pada hari sebelumnya. Dua minggu kemudian mereka dilepaskan karena belum ada
bukti hukum untuk dapat dituntut di mahkamah militer.

Pada 28 Januari 1946, Freddy Lumanauw dan Mantik Pakasi dipanggil Komandan Garnisun,
Kapten Blom, dan langsung dibawa ke penjara karena ada laporan bahwa mereka sedang
mengatur komplot untuk menggulingkan kekuasaan KNIL di tangan Belanda. Pada 31 Januari
Lumanauw dan Mantik dibawa di bawah pengawalan MP ke Tomohon dan langsung diperiksa
oleh Oditur Militer Mr OE Schravendijck. Pada hari itu mereka dikembalikan ke penjara Manado
karena mereka tidak bersedia mengungkapkan sebab dan latarbelakang sehingga mereka mulai
berkomplot. Selama dalam tahanan ini mereka diberitahu oleh Frans Korah tentang
perkembangan rencana persiapan kup yang diatur oleh Taulu, Wuisan dan Sumanti.

Pada 6 Februari 1946 mereka kembali diperiksa di Tomohon, dimana kepada mereka dinyatakan
oleh Oditur Militer bahwa sudah diperoleh bukti yang jelas menunjukkan, bahwa mereka pada
1944 telah dikirim ke Sulut dengan tugas khusus dari Dr Ratulangi yang kini berada di Makassar
untuk melaksanakan revolusi kemerdekaan Indonesia. Lumanauw yakin bahwa mata-mata
Belanda telah mengikuti pembicaraan dalam perundingan-perundingan rahasia dari pasukan
Tubruk dan Schravendijck telah mengadakan pengecekan dengan atasannya di Jakarta. Proses
pengusutan ini akan membawa mereka ke sidang mahkamah militer, namun mereka tidak
bersedia menuturkan mission yang diberikan oleh Ratulangi pada waktu mereka diberangkatkan
dari Jakarta itu.

NICA menjadi gelisah karena setelah gerakan-gerakan pemuda berhasil ditekannya, malah
tumbuh dan aparatnya sendiri, yakni KNIL. Kemudian pribadi-pribadi Taulu dan Wuisan
semakin besar mendapat perhatian dan sorotan dari pimpinan KNIL.
Opsir-opsir Belanda telah beberapa kali mengadakan pertemuan antara mereka sendiri, yakni
Blom, Verwaayen, De Leeuw, Molenburgh, Brouwers dan lain-lain untuk menemukan jalan,
cara bagaimana mereka dapat menumpas gerakan-gerakan bawah tanah dalam tubuh KNIL,
supaya tidak menjalar ke seluruh jajaran KNIL. Mereka semakin bingung, karena setelah
penangkapan pemuda-pemuda pada 9 Januari lalu dan kemudian pada 28 Januari Lumanauw dan
Pakasi diamankan di penjara, sebenarnya sudah tidak ada lagi anasir-anasir Republik yang
mereka harus takuti.

Pada 9 Februari pimpinan KNIL mengambil tindakan pengamanan di kompleks tentara Teling
dengan menangkap anggota komplotan Wangko Sumanti, Frans Lantu, Yan Sambuaga dan Wim
Tamburian. Mereka ini dikunci dalam sel Tangsi Putih. Bukti kegiatan mereka, termasuk
menghubungi pemuda-pemuda ekstremis dan pejabat-pejabat tertentu yang dicurigai, sudah
cukup jelas bagi NICA setelah dicek dengan laporan-laporan yang masuk.

Namun, keadaan menjadi makin tegang. Pada 13 Februari, jam 9 pagi, Furir Taulu dipanggil
komandan Kapten Blom dan setelah senjatanya dilucuti oleh sersan-mayor Brouwers, maka ia
dimasukkan dalam sel tahanan. Tidak berapa lama Sersan Bisman dipanggil oleh Kapten Blom,
tetapi ia tidak ditahan, mungkin karena ia memiliki tanda jasa dari Tentara Sekutu. Bisman
dalam Perang Dunia ke-2 mendapat latihan intelejen di Australia dan sering turut dalam kapal
selam Sekutu untuk dilepaskan di perairan daerah musuh untuk mencari tahu kekuatan tentara
Jepang, seperti yang dilakukannya di Tarakan dan di Manado pada 1944.

Selanjutnya Komandan Kompi VII, Carlier, dipanggil oleh Komandan Korps, Kapten Blom,
yang menanyakan kepadanya bagaimana dengan keadaan Kompi VII. Dijawab oleh Letnan
Carlier bahwa Kompi VII dapat mengamankan seluruh Sulut, karena prajurit-prajuritnya banyak
berpengalaman dalam perang yang baru lampau, lagipula kompi ini adalah pemberani, namun
patuh dan setia pada atasannya.

Di penjara Manado para tahanan nasionalis pada tengah malam itu dengan hati berdebar-debar
menunggu saat dimulaikan aksi di Teling. Karena mereka juga telah diberitahu tentang saat dan
awal aksi ini sebelumnya melalui titipan surat yang disembunyikan dalam makanan. Mereka
amat cemas dan hampir saja putus asa ketika mendengar bahwa unsur-unsur pimpinan
pemberontakan sudah tertangkap.

Ketegangan memuncak ketika pintu besi dari penjara berbunyi gemerincing: Apakah aksi telah
gagal dan Belanda akan memperkeras tindakan-tindakan penekanan? Demikianlah Lumanauw
dan Pakasi bertanya-tanya. Melalui trali-trali sel tampaklah pada mereka bukanlah Polisi Militer
(PM) yang muncul melainkan kawan-kawan Frans Lantu dan Yus Kotambunan. Mereka
memasuki halaman penjara dengan menyandang beberapa perlengkapan senjata serta didampingi
oleh sipir yang membawa kunci-kunci. Semuanya lalu bersorak-sorak gembira. Lumanauw dan
Pakasi diberikan masing-masing senapan dan pistol, karena mereka harus melanjutkan tugas
untuk menyelesaikan aksi kup itu yang tengah berjalan dan masih berbentuk tanda tanya.

Kaum nasionalis yang selama ini meringkuk dalam tahanan semuanya dibebaskan. Tampak di
antara mereka tokoh-tokoh perintis nasional seperti GE Dauhan, A Manoppo, OH Pantouw, Max
Tumbel, Dr Sabu, FH Kumontoy, CP Harmanses, HC Mantiri, NP Somba dan juga pemimpin-
pemimpin pemuda BPNI, John Rahasia dan Mat Canon.

Komandan Garnisun Manado, Kapten Blom, yang berdiam di Sario dibangunkan oleh ajudannya
dengan kata-kata: ‘’Kapten diminta datang segera ke Teling karena keadaan agak berbahaya.
Letnan Verwaayen mendesak agar segera datang!’’ Juga ditegaskan oleh ajudannya, bahwa para
pengawal sudah siap menunggu di luar dengan sebuah jeep, bahwa perjalanan aman dan
penjagaan cukup kuat.

Pada subuh hari semua tentara Belanda dimasukkan dalam tahanan di Teling dan selebihnya
dibawa ke penjara untuk menggantikan para tahanan nasionalis yang telah dibebaskan.

Pada jam 03.00 di markas tentara di bukit Teling, sewaktu aksi penangkapan sedang berjalan,
maka Wangko Sumanti yang memberikan perintah, mengambil bendera Belanda (merah-putih-
biru) yang disimpan di rumah jaga, merobek helai birunya dan menyerahkan bagian dwi-warna
kepada Mambi Runtukahu yang sudah siap sebagai inspektur upacara menunggu dekat tiang
bendera. Secara hikmat bendera Merah Putih digerek oleh Kotambunan dan Sitam untuk
kemudian berkibar pada saat fajar menyingsing di bumi Sulut.

Ternyata pasukan-pasukan KNIL yang ada di Tomohon dan Girian masih dikuasai oleh perwira-
perwira Belanda dan perlu mendapat penyelesaian dari Manado. Perintah dan persiapan
dilakukan oleh Wangko Sumanti untuk meneruskan aksi kup ini di Tomohon dan Girian.

Segera Frans Bisman dan Freddy Lumanauw ditugaskan dengan dua peleton siap tempur untuk
menuju Tomohon. Pada jam 04.30 14 Februari mereka berangkat dengan empat kendaraan, yaitu
2 jeep dan 2 truck/power. Jeep depan berbendera Merah-Putih dikendarai oleh Frans Bisman
dengan beberapa pengawal penembak bren, menyusul jeep kedua dengan perlengkapan dan
pengawalan yang sama; yang ditempati oleh Freddy Lumanauw. Di luar Kota Manado konvoi ini
sedikit mengalami hambatan karena jeep terdepan terjerumus dalam selokan, sehingga agak
memakan waktu untuk menariknya, namun tak ada kerusakan apa-apa.

Gelaerts, demikian nama sersan Belanda itu, berada di Manado waktu terjadi kup tengah malam
dan ia langsung mengendarai motornya ke Tomohon untuk memberitahukan kejadian ini kepada
Komandan De Vries setelah hubungan telepon terputus. Sewaktu mau kembali ke Manado pagi
itu dan berada di pompa bensin untuk mengisi minyak ia berpapasan dengan pasukan penyerbu
dari Bisman.

Komandan Polisi Samsuri yang menjadi penghubung antara Pasukan Bisman dan Komandan
KNIL De Vries, membawa ultimatum dari Bisman agar De Vries dengan seluruh pasukan-
pasukannya di Tomohon ialah Kompi-142 dan satu kompi stafnya menyerahkan diri. Dengan
dua tangannya diangkat ke atas, Samsuri menempuh jarak duaratus meter lebih menuju ke
Markas De Vries, di mana komandan ini sudah siap dengan stellingnya.

Samsuri menjelaskan kepada De Vries bahwa pasukan dari Manado telah tiba di persimpangan
jalan di depan kantor polisi Tomohon dan meminta Overste De Vries bersama pasukannya di
Tomohon menyerahkan diri.
Samsuri kembali untuk menyampaikan jawaban ini dan untuk kedua kalinya Bisman
memerintahkan Samsuri untuk memberitahukan De Vries bahwa pasukan dari Manado akan
segera mengadakan serangan. Mendengar akan ultimatum terakhir ini maka De Vries
memutuskan dan menyampaikan kepada Samsuri bahwa ia akan menyerahkan diri bersama
pasukan-pasukan di Tomohon, termasuk para penguasa sipil NICA kepada pasukan Bisman.

Upacara penyerahan berlangsung dengan pelbagai campuran perasaan bagi kedua pihak masing-
masing. Komandan KNIL itu terharu dan bercucuran air mata ketika bendera merah-putih-biru
disobek helai birunya dan dwi-warna Merah-Putih dinaikkan pada tiangnya. Atas permintaan
Bisman maka De Vries menuju ke kendaraan yang tersedia dan bersama-sama mereka menuju ke
kantor polisi untuk meneruskan perjalanan ke Manado.

Residen Coomans de Ruyter, Komandan NICA, diambil dari tempat kediamannya di rumah sakit
RK Gunung Maria, begitu anggota-anggota Staf NICA lainnya yang berada di Kaaten-Tomohon
dikumpulkan di kantor polisi dan dengan sebuah truk mereka langsung dibawa ke tempat
penampungan di Manado.

Pemimpin perjuangan selanjutnya mengeluarkan Maklumat Nomor 2 berisi : “Dimaklumkan


bahwa pada tanggal 16 Februari sudah diadakan rapat umum di gedung Minahasa Raad (DPR)
yang dipimpin pucuk pimpinan Ketentaraan Indonesia di Sulawesi Utara dihadiri oleh Kepala-
Kepala Distrik dan onderdistrik di Minahasa, Raja dari Bolaang Mongondow, Kepala daerah
Gorontalo, Pemimpin-pemimpin dan Pemuka-Pemuka Indonesia”. Rapat ini telah menetapkan
BW Lapian menjadi Kepala Pemerintahan Sipil Sulawesi Utara. Maklumat itu ditandatangani
Letkol Ch Taulu, SD Wuisan, J Kaseger, AF Nelwan dan F Bisman.

Untuk melaksanakan pemerintahan sipil, BW Lapan dibantu oleh DA Th Gerungan


(keprintahan), AIA Ratulangi (keuangan), Drh Ratulangi (perekonomian), Dr Ch Singal
(kesehatan), E Katoppo (PPK), Hidayat (kehakiman), SD Wuisan (kepolisian), Wolter Saerang
(penerangan), Max Tumbel (pelabuhan/pelayaran.

Suatu pasukan kecil di bawah pimpinan Freddy Lumanauw masih harus meneruskan tugas
operasi ke pedalaman Minahasa. Pengemudinya Oscar Pandeiroth menggantikan Alo Porayouw
yang telah gugur sebagai seorang pahlawan kemerdekaan dan menjadi pahlawan 14 Februari
1946 yang pertama.

Suatu peristiwa yang menegangkan yang diceritakan Freddy Lumanauw kemudian, ialah ketika
dalam persiapan untuk menyerbu markas De Vries, kedapatan olehnya bahwa peluru-peluru yang
dibawa pasukan tidak cocok dengan senjata Lee Enfield, karena buatan Jepang. Wangko Sumanti
di Teling Manado segera dihubungi melalui telepon dan ternyata memang ada kekeliruan dan
diakui Sumanti sebagai keteledoran akibat kesibukan pada waktu pasukan disiapkan di malam
buta untuk dikirim ke Tomohon. Seandainya ada terjadi penyerbuan dan pertempuran maka
senapan-senapan yang dibawa akan tidak berdaya dan tidak ada gunanya.

Pengamanan di kota-kota kecamatan di Minahasa disertai dengan penurunan bendera Belanda


dan diganti dengan penaikan bendera Merah-Putih, berlangsung di instansi-instansi pemerintah
dan polisi setempat di bawah pimpinan Freddy Lumanauw. Berturut-turut di Tondano,
Remboken, Kakas, Langowan dan Kawangkoan, selesai upacara bendera dilakukan penertiban
seperlunya di kalangan pamong-praja dengan mendapat bantuan penuh dari pasukan-pasukan
pemuda.

Pada subuh 14 Februari 1945, juga suatu pasukan dari Manado di bawah pimpinan Maurits
Rotinsulu yang ditugaskan ke Girian untuk menguasai kamp tawanan Jepang, berhasil
menangkap anggota-anggota tentara Belanda di asrama Girian dengan bantuan Samel
Kumaunang dan Hans Lengkoan, namun komandan kampemen tawanan yang bermarkas di
Wangurer, Letnan Van Emden, bertahan dan tetap menguasai seluruh kamp tawanan itu. Perwira
ini tidak mengakui penyerahan pimpinan KNIL kepada pihak pemberontak, sedangkan ia adalah
komandan dari Sekutu. Malah ia sempat menahan seorang anggota pasukan Rotinsulu yang
bernama Makalew.

Setelah kegagalan ini dilaporkan kepada Taulu, maka Taulu bersama Sumanti pergi ke Sario
untuk meminta perintah tertulis dari Kapten Blom buat Van Emden, agar ia segera menyerahkan
diri kepada pasukan Sumanti yang akan dikirim ke Girian.

Bert Sigarlaki yang adalah ordonans tetap untuk Van Emden diterima untuk masuk ke dalam
kampemen dan menemui Van Emden. Setelah surat dari Blom dibacanya, maka surat itu
diludahinya dengan melemparkan kata-kata kotor kepada alamat Blom seraya menyentak bahwa
semua mereka sebangsa di Manado adalah pengecut dan bukan militer.

Kumaunang dan Lengkoan yang menguasai asrama tentara di Girian memikirkan suatu siasat
lain untuk menangkap Van Emden, yaitu menunggu saatnya mereka berdua memegang pos di
kamp tawanan di lokasi Wangurer.

Begitulah pada 17 Februari 1946 pada jam 06.00 pagi kedua pejuang ini masuk dalam kelompok
jaga, seluruhnya terdiri dari 8 orang. Mereka ini sepakat untuk menunjuk Samel Kumaunang
yang akan menangkap Van Emden, mengingat tubuhnya yang besar dan kekar akan dapat
menguasai perwira Belanda itu, bila terpaksa harus adu kekuatan.

Tidak lama kemudian muncul komandan itu dengan jeepnya, lengkap dengan senjata dua pistos
pada masing-masing pinggangnya dan satu stegun yang disandang. Waktu ia turun dari
kendaraannya menuju ke pos, Kumauang berseru: ‘‘Komandan, Green bizonderheden!’’ (tidak
kurang apa-apa dalam penjagaan), namun disambungnya lagi: ‘’Letnan, kenapa kami tidak dapat
jatah rokok dari Manado, apakah saya boleh merokok?’’ ‘’Oh, tentu saja’’, jawab Van Emden,
dan tangannya sibuk memeriksa dan mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Ketika ia
menyampaikan sebatang rokok sambil menyiapkan apinya kepada Kumaunang, maka secepat
kilat tangan letnan yang diulurkan itu ditarik dengan sekuat-kuatnya, badannya condong jatuh ke
depan dan setelah tangannya itu diputar, stegun jatuh ke tanah dan kedua pistolnya dapat dilucut
oleh Kumaunang. Pada saat itu kawan-kawan lain menyergap perwira itu, mengikat kedua
tangan kakinya dan menyeretnya ke dalam jeep. Ia dibiarkan dalam keadaan terikat dan di bawah
pengawasan, sampai seluruh kampemen tawanan dan penjagaan telah ditertibkan dan dapat
berjalan normal kembali, kini di bawah kekuasaan Tentara Nasional Indonesia.
Para anggota tentara Belanda lainnya sudah lebih dahulu diangkut secara terpisah dari komandan
kampemen dengan adanya berita: ‘’Perintah dari korps komandan supaya para perwira dan
perwira bawahan harus segera berkumpul di Manado tanpa membawa senjata’’.

Kemudian rombongan yang dipimpin oleh Kumaunang mengantar Van Emden ke Manado,
disusuli rombongan dari Sumanti yang ditugaskan oleh Taulu dengan maksud yang sama.

Di sepanjang jalan rakyat menyambut kemenangan ini dengan sorak-sorakan ‘’Hidup Merah
Putih’’. Dalam kup selama beberapa hari ini semua warga Belanda dari KNIL maupun dari
NICA berhasil ditawan. Seorang pengusaha perkebunan Belanda, Van Loon, yang coba
melarikan diri dengan perahu kecil ke Ternate, terpaksa harus kembali di pantai Likupang dan ia
langsung menyerahkan diri.

Akhir Pertempuran :

pemimpin perjuangan Ch Taulu kemudian pada tanggal 15 Februari 1946 mengeluarkan


Maklumat Nomor 1 yang berisi:

1. Kemarin malam jam 01.00 tanggal 14 Februari 1946, oleh pejuang-pejuang KNIL
dibantu para pemuda telah merebut kekuasaan dari pemerintahan Belanda (NICA)
Sulawesi Utara dalam rangka mempertahankan Kemerdekaan RI yang diproklamirkan Ir
Soekarno dan Mohammad Hatta;
2. Rakyat Diminta membantu sepenuhnya perjuangan itu;
3. Kepada pejuang untuk mengambil alih pemerintahan Belanda;
4. Keamanan di seluruh Sulut dijamin Tentara RI Sulawesi Utara;
5. Kantor-kantor pemerintaha harus bekerja seperti biasa;
6. Kegiatan ekonomi harus tetap jalan seperti biasa (pasar-pasar, toko-toko, sekolah-
sekolah). Bila ada pasar atau toko tidak buka akan disita;
7. Barangsiapa yang berani melakukan pengacauan berupa penganiayaaan, penculikan,
perampokan, pembunuhan dan sebagai akan segera dihukum mati di muka umum.

Padahal Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 sama dengan perjuangan yang dilakukan di
seluruh Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan
oleh Ir Soekarno dan Drs Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945.

Karena itu Soekarno menilai peristiwa ini sangat besar arti. Tak heran ketika memperingati
Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 yang dilaksanakan di istana negara pada 10 Maret 1965,
Presiden Soekarno bahkan memaklumkan peristiwa ini sebagai Hari Sulawesi Utara.

Sebab peristiwa ini telah menghebohkan dunia, karena telah disiarkan radio-radio Australia, San
Franscisco dan BBC London. Bahkan Harian Merdeka di Jakarta menulis berita tentang
‘’Pemberontakan Besar di Minahasa’’. Peristiwa ini juga menjadi pukulan bagi tentara Sekutu
(AS-Inggris-Belanda), karena berdampak pada 8.000 tawanan tentara Jepang di Girian yang
harus dideportasikan ke Jepang.
Tak heran jika Peristiwa Merah Putih ini menjadi perhatian khusus Sekutu yang bermarkas di
Makassar dengan mengirimkan Letkol Purcell yang didampingi pimpinan NICA-Belanda dan
Panglima KNIL Kol Giebel untuk berunding dengan BW Lapian yang ditetapkan sebagai Kepala
Pemerintahan Sipil dan Letkol Ch Ch Taulu yang menjadi Komandan Militer yang membawahi
Tentara Republik Indonesia Sulawesi Utara (TRISU) di atas Kapal El Libertador.

Tapi karena tidak terjadi kata sepakat, sebab permintaan Sekutu agar BW Lapian dan Ch Taulu
mengembalikan kekuasaan kepada NICA ditolak. Akhirnya pada 24 Februari 1946 di Teling-
Manado Kolonel Purcell menyatakan tentara Sekutu berperang dengan kekuasaan Sulawesi
Utara (Lapian-Taulu).  Karena semua daerah telah diblokade, dan sejumlah tentara KNIL asal
Sulut berbalik memihak Belanda akhirnya pada 11 Maret 1946 Pemerintahan Sulawesi Utara
(Lapian-Taulu) menyerah kepada Sekutu.

Dampak Bagi Indonesia :

Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 telah mampu membuktikan bahwa Sulut tetap berada
dalam Negara Indonesia, sekaligus mematahkan propaganda Belanda yang menyatakan
Proklamasi kemerdekaan hanya untuk Jawa dan Sumatera, karena memang Belanda menguasai
Indonesia Timur. 

 Pertempuran Di Bandung

Tokoh Yang Terlibat :

- Kolonel Abdul Hariss Nasution

- Muhammad Toha

- Mayor Rukana

- Sutan Sjahrir

- Atjie Bastaman
Proses Terjadinya :

Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung


pada Oktober 1945. Para pejuang Bandung saat itu tengah gencar-gencarnya merebut senjata
serta kekuasaan dari tangan Jepang.

Hubungan pemerintah RI dengan sekutu juga sedang tegang. Di saat seperti itu, pihak sekutu
menuntut agar seluruh senjata api yang ada di tangan masyarakat, kecuali TKR serta polisi,
diserahkan pada pihak sekutu.
Tetapi, sekutu yang baru tiba ini meminta pihak Indonesia untuk menyerahkan seluruh senjata
hasil pelucutan Jepang ini. Hal ini ditegaskan lewat ultimatum yang dikeluarkan pihak Sekutu.
Isi ultimatum itu yaitu agar senjata hasil pelucutan Jepang segera diserahkan pada Sekutu serta
masyarakat Indonesia segara mengosongkan kota Bandung paling lambat tanggal 29 November
1945 dengan alasan untuk keamanan rakyat.

Ditambah lagi, orang- orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan juga mulai
melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu keamanan rakyat. Hal semacam ini juga
semakin mendorong adanya bentrokan bersenjata pada Inggris serta TKR (Tentara Keamanan
Rakyat) jadi tidak dapat dijauhi.

Saat malam tanggal 21 November 1945, TKR serta sebagian badan perjuangan Indonesia
melancarkan serangan pada kedudukan-kedudukan Inggris di wilayah Bandung bagian utara.
Hotel Homann serta Hotel Preanger yang dipakai musuh sebagai markas juga tidak luput dari
serangan.

Menanggapi serangan ini, tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum pada
Gubernur Jawa Barat. Ultimatum ini berisi agar Bandung Utara dikosongkan oleh masyarakat
Indonesia, termasuk juga dari pasukan bersenjata.

Masyarakat Indonesia yang mendengar ultimatum ini tak menghiraukannya. Karena itu, pecahlah
pertempuran pada sekutu serta pejuang Bandung di tanggal 6 Desember 1945.

Lalu, di tanggal 23 Maret 1946, sekutu kembali mengulang ultimatumnya. Sekutu


memerintahkan agar TRI (Tentara Republik Indonesia) segera meninggalkan kota Bandung.
Mendengar ultimatum itu, pemerintah Indonesia di Jakarta kemudian menginstrusikan agar TRI
mengosongkan kota Bandung untuk keamanan rakyat.

Walau demikian, perintah ini berbeda dengan yang diberikan dari markas TRI di Yogyakarta.
Dari Yogyakarta, keluar instruksi agar terus bertahan di Bandung. Dalam masa ini, sekutu juga
membagi Bandung dalam dua sektor, yaitu Bandung Utara serta Bandung Selatan. Lalu, sekutu
meminta masyarakat Indonesia untuk meninggalkan Bandung Utara.
Kondisi di kota Bandung jadi semakin genting. Situasi kota ini jadi mencekam serta dipenuhi
orang -orang yang panik. Para pejuang juga bingung dalam mengikuti instruksi yang berbeda
dari pusat Jakarta serta Yogyakarta. Pada akhirnya, para pejuang Indonesia memutuskan untuk
melancarkan serangan besar-besaran pada sekutu di tanggal 24 Maret 1946.

Para pejuang Indonesia menyerang pos-pos sekutu. Mereka juga membakar semua isi kota
Bandung Utara. Setelah berhasil membumihanguskan kota Bandung Utara, barulah mereka pergi
mengundurkan diri dari Bandung Utara. Aksi ini dilakukan oleh 200.000 orang selama 7 jam.

Keadaan Bandung yang dipenuhi dengan kobaran api laksana lautan inilah yang membuat
peristiwa tersebut dijuluki dengan sebutan Bandung Lautan Api.

Tujuan Membakar Bandung

Para pejuang Bandung memilih membakar Bandung dan lalu meninggalkannya dengan alasan
tertentu. Maksudnya yaitu untuk mencegah tentara Sekutu serta tentara NICA Belanda dalam
memakai kota Bandung sebagai markas strategis militer mereka dalam Perang Kemerdekaan
Indonesia. gambar via: Wisata Bandung
Para pejuang Bandung memilih membakar Bandung dan lalu meninggalkannya dengan alasan
tertentu. Maksudnya yaitu untuk mencegah tentara Sekutu serta tentara NICA Belanda dalam
memakai kota Bandung sebagai markas strategis militer mereka dalam Perang Kemerdekaan
Indonesia.

Operasi pembakaran Bandung ini dikatakan sebagai operasi “bumihangus”. Keputusan untuk
membumihanguskan kota Bandung diambil lewat musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan
Priangan (MP3), yang dilakukan di depan seluruh kekuatan perjuangan pihak Republik
Indonesia, tanggal 23 Maret 1946.

Hasil musyawarah itu lalu diumumkan oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion sebagai Komandan
Divisi III TRI. Ia juga memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Lalu, hari itu juga, rombongan
besar masyarakat Bandung mengalir. Pembakaran kota berlangsung malam hari sambil para
penduduknya pergi meninggalkan Bandung.
Dengan terbakarnya kota Bandung, maka sekutu tidak bisa memakai Bandung sebagai markas
strategis militer. Operasi bumi hangus ini membuat asap hitam mengepul tinggi menyelimuti
kota Bandung. Semua listrik turut padam.

Di dalam kondisi genting ini, tentara Inggris juga menyerang sehingga pertempuran sengit tidak
terhindarkan. Pertempuran terbesar berlangsung di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung.
Di tempat inilah adanya gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu.

Rupanya, pejuang Indonesia Muhammad Toha serta Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan
Rakjat Indonesia) memperoleh misi penghancurkan gudang amunisi itu. Muhammad Toha
berhasil meledakkan gudang senjata itu dengan dinamit. Walau demikian, kedua milisi itu turut
terbakar di dalam gudang besar yang diledakkannya itu.

Awalnya, staf pemerintahan kota Bandung merencanakan untuk tetap berada di dalam kota.
Akan tetapi, untuk keselamatan mereka, maka pukul 21.00 itu, mereka juga turut dalam
rombongan yang dievakuasi dari Bandung.

Akhir Pertempuran :

Mulai sejak saat itu, sekitar pukul 24.00, Bandung kosong dari masyarakat serta TRI. Sementara,
api masihlah membubung membakar kota, hingga Bandung menjadi lautan api.

Strategi operasi bumihangus ini merupakan strategi yang tepat karena kekuatan TRI serta milisi
rakyat memanglah tak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu serta NICA yang besar. Sesudah
peristiwa Bandung Lautan Api tersebut, lalu TRI bersama dengan milisi rakyat melakukan
perlawanan dari luar Bandung lewat cara bergerilya.

Dampak Bagi Indonesia :

1. Sekutu tidak bisa memanfaatkan Bandung

Sekutu akhirnya gagal memiliki Bandung. Bandung memang tempat yang cukup strategis untuk
militer. Semua tempat munisi, bangunan, taman, rumah dan tempat-tempat lain dibakar oleh para
pejuang. Sehingga ketika apinya padam, sekutu hanya mendapati bangunan-bangunan yang
hancur. Bandung Lautan Api merupakan strategi bumi hangus. Bumi hangus adalah strategi yang
bertujuan untuk menghancurkan semua sumber daya yang berpotensi untuk dimanfaatkan tentara
musuh. Sekutu memang berhasil menguasai Bandung pada Oktober 1945. Tapi karena strategi
bumi hangus ini sekutu nyaris tidak mendapatkan apapun.
2. Sekutu gagal menambah senjata baru

Di antara bangunan-bangunan yang hancur itu tentu ada gudang senjata. Sekutu jelas
menginginkan senjata melalui ultimatum pertama dan keduanya. Sebelum membakar habis Kota
Bandung, para pejuang tentu sudah mengemas persediaan senjata untuk dibawa pergi.
3. Banyak prajurit sekutu yang tewas

Mungkin kita sering mendengar berita tentang kebakaran yang memakan beberapa korban jiwa.
Tapi yang terjadi di Bandung ini bukan kebakaran biasa. Melainkan kebakaran hebat dengan api
yang mampu menghanguskan sebagian besar. Api yang besar seperti ini tentu banyak membunuh
tentara sekutu. Tentang kejadian ini, akhir pertempuran bandung lautan api lebih menusuk
sekutu.