Anda di halaman 1dari 15

Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

KESIAPAN DESA MENGHADAPI IMPLEMENTASI


UNDANG-UNDANG DESA
(Tinjauan Desentralisasi Fiskal dan Peningkatan Potensi Desa)

Oleh
Antono Herry P.A

ABSTRAK

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memunculkan


implikasi operasional yang harus dilaksanakan oleh desa. Sebagai daerah administrasi,
desa harus mampu mengelola desentralisasi fiskal dengan cara mengembangkan
potensi desa, meningkatkan kerjasama antar desa, meningkatkan kemitraan untuk
pengembangan potensi desa, dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam
pembangunan desa. Pemerintah desa harus mampu menggerakkan perekonomian desa
dengan melakukan upaya-upaya efektif penggerakan aktivitas-aktivitas ekonomi
masyarakat desa. Kesiapan pemerintah desa dalam otonomi desa tidak hanya
menghasilkan penerimaan besar dalam keuangan desa, melainkan juga harus
memberdayakan aktivitas ekonomi masyarakat desa.

Kata kunci : desentralisasi fiskal, potensi desa, ekonomi masyarakat, pemberdayaan

A. PENDAHULUAN
Secara politis undang-undang ini
Undang-Undang Republik memberikan pelimpahan kewenangan
Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang pemerintahan oleh pemerintah pusat
Desa yang merupakan produk dari era kepada pemerintahan desa. Selanjutnya
reformasi telah menandai dimulainya pemerintah desa mempunyai wewenang
suatu era menuju kemandirian desa, dalam penyelenggaraan administrasi
baik dalam penyelenggaraan
pemerintahan maupun dalam dan operasional pemerintahan
pengelolaan keuangan desa. Tujuan desa, dalam rangka peningkatan
pembangunan desa sesuai pasal 78 efektivitas pelayanan kepada
adalah meningkatkan masyarakat. Sedangkan secara ekonomi
kesejahteraanmasyarakat Desa dan undang-undang ini memberikan
kualitas hidup manusia serta kewenangan bagi pemerintah desa
penanggulangan kemiskinan melalui untuk mengelola keuangan daerah dan
pemenuhan kebutuhan dasar, mencari sumber-sumber pendapatan
pembangunan sarana dan prasarana desa yang sah. Hal ini memberikan dua
Desa, pengembangan potensi ekonomi dampak sekaligus, yaitu pemerintah
lokal, serta pemanfaatan sumber daya desa harus melakukan efisiensi
alam dan lingkungan secara anggaran dan harus aktif mencari
berkelanjutan. sumber-sumber pendapatan alternatif.

Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal


dan Peningkatan Potensi Desa)

737
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

Sebagai daerah administratif, desa struktur keuangan kabupaten atau kota,


memiliki kewenangan dalam propinsi, dan pusat. Sumber pendapatan
penyelenggaraan administrasi utama terbesar bagi desa masih
pemerintahan desa dan pengelolaan merupakan alokasi kabupaten atau pusat
keuangan desa. Hal ini tentu saja dan hasil tanah kas desa. Kedua sumber
berimplikasi pada kemampuan pendapatan ini merupakan sumber
pemerintah desa sebagai pelaksana pendapatan utama bagi desa dalam
kewenangan otonom dan sumber rangka otonomi desa. Dengan sumber
keuangan potensial yang harus utama pendapatan desa yang demikian,
ditemukan. Penyelenggaraan tidaklah cukup bagi desa untuk
pemerintahan memerlukan sumberdaya menjalankan administrasi pemerintahan.
manusia yang cukup antisipatif dan Pemerintah desa harus mempunyai
inisiatif. Pemerintah desa harus inisiatif dalam mencari sumber-sumber
antisipatif terhadap segala masalah, baik pendapatan potensial sesuai dengan
yang sudah eksis maupun secara karakteristik wilayah dan potensi
potensial akan membebani desa. sumberdaya manusia.
Masalah-masalah ini muncul sebagai Desentralisasi fiskal yang terjadi
akibat dari kekurangmampuan di Indonesia, tidaklah cukup hanya
perangkat desa untuk melakukan sampai pada pemerintahan daerah.
identifikasi masalah-masalah yang Desentralisasi fiskal sudah semestinya
dihadapi. Hal ini berhubungan dengan sampai pada pemerintahan desa, sebab
pemerintahan yang inisiatif. seperti yang telah ditegaskan dalam UU
Struktur kewenangan terpusat No. 32 tahun 2004, desa merupakan
masih melekat dalam pelaksanaan daerah otonom. Berbeda dengan
kewenangan desa. Pemerintahan desa kelurahan yang masih merupakan
dikhawatirkan masih mempunyai pola kepanjangan tangan dari kecamatan,
lama, yaitu menunggu perintah dari desa mempunyai kewenangan otonom
hirarki pemerintahan di atasnya. dalam pelaksanaan pemerintahannya.
Akibatnya, kemampuan perangkat desa Permasalahannya, desentralisasi fiskal
dalam meningkatkan pelayanan publik, dalam otonomi desa belum mendapat
perencanaan desa, dan pengelolaan perhatian besar bagi pemerintah daerah
keuangan desa menjadi bergantung pada dan desa. Desentralisasi fiskal dalam
hirarki pemerintahan di atasnya. otonomi desa merupakan masalah vital
Paradigma seperti ini haruslah dihapus, yang harus diperjuangkan oleh desa
digantikan dengan paradigma dalam pelaksanaan otonomi
partisipatif, antisipatif, dan inisiatif. kewenangannya. Tulisan ini mencoba
mengangkat beberapa pemikiran yang
Struktur kewenangan yang
berkenaan dengan desentralisasi fiskal
dimiliki oleh desa tersebut berhubungan
dalam kemadirian desa dan kesiapan
erat dengan struktur keuangan desa.
desa dalam menghadapi otonomi desa.
Struktur keuangan desa merupakan
hirarki struktur keuangan sentral dari
Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal
dan Peningkatan Potensi Desa)

738
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

B. PEMBAHASAN Ketiga, akuntabilitas finansial,


1. Desentralisasi Fiskal di Indonesia pelaporan yang akurat dan tepat waktu
: Perimbangan Keuangan tentang penggunaan dana publik, yang
Pemerintah Pusat dan biasanya dilakukan melalui laporan
Pemerintah Daerah yang telah diaudit secara profesional.
Pada dasarnya desentralisasi Desentralisasi fiskal di beberapa
merupakan penyerahan kekuasaan pada negara didemonstrasikan dalam tiga
daerah administratif untuk mengelola kategori, yaitu (Bird & Vaillancourt,
sumberdaya lokal sesuai dengan 2000):
kebutuhan daerah masing-masing. a) Dekonsentrasi berarti pelepasan
Penyerahan wewenang ini mempunyai tanggung jawab yang berada dalam
tujuan memberdayakan daerah agar lingkungan pemerintah pusat ke
mandiri dalam penyelenggaraan instansi vertikal di daerah atau ke
pemerintahan, baik secara politik pemerintah daerah.
maupun ekonomi. Secara politik, daerah
mempunyai kekuasaan untuk b) Delegasi berhubungan dengan suatu
menyelenggarakan pemerintahan tanpa situasi, yaitu daerah bertindak
terpengaruh oleh campur tangan sebagai perwakilan pemerintah
pemerintah pusat, tetapi masih berada untuk melaksanakan fungsi-fungsi
dalam satu negara kesatuan. Secara tertentu atas nama pemerintah.
ekonomi, daerah mempunyai c) Devolusi (pelimpahan) berhubungan
kewenangan untuk mengelola keuangan dengan suatu situasi yang bukan
daerahnya sesuai dengan anggaran yang saja implementasi tetapi juga
telah ditentukan. kewenangan untuk memutuskan apa
Desentralisasi memunculkan yang perlu dikerjakan, berada di
implikasi bahwa daerah dituntut untuk daerah.
meningkatkan akuntabilitas kewajiban Sejalan dengan pemikiran Bird
untuk menjelaskan bagaimana realisasi dan Vaillancourt, Rezk (2000)
otoritas yang diperoleh. Suryanto mencoba menguraikan sebagai
(2010) menyebut 3 jenis akuntabilitas, berikut:
yaitu pertama, akuntabilitas politik,
a) Dekonsentrasi, suatu situasi dimana
dihubungkan dengan proses dan mandat
desentralisasi berlangsung dalam
pemilu, yaitu mandat yang diberikan
tingkat nasional dan hanya terbatas
masyarakat kepada para politisi yang
pada penyebaran tanggung jawab
menduduki posisi legislatif dan
fiskal di antara instansi-instansi
eksekutif dalam suatu pemerintahan.
vertikal pusat yang ada di daerah-
Kedua, akuntabilitas administratif,
daerah ;
merujuk pada kewajiban untuk
menjalankan tugas yang telah diberikan b) Delegasi, suatu situasi yang secara
dan diterima dalam kerangka kerja lebih persis diwakili oleh model
otoritas dan sumber daya yang tersedia. hubungan bohir-rekanan (principal-

Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal


dan Peningkatan Potensi Desa)

739
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

agent), yang pada prinsipnya


berisikan pemikiran bahwa jenjang 2. Pemberian sumber keuangan Negara
pemerintah yang lebih tinggi kepada Pemerintahan Daerah dalam
memilih untuk mencapai tujuan- rangka pelaksanaan Desentralisasi
tujuan alokatifnya dengan lebih didasarkan atas penyerahan tugas
efisien melalui penyerahan fungsi- oleh Pemerintah kepada Pemerintah
fungsi pengeluaran dan pembiayaan Daerah dengan memperhatikan
ke pemerintah-pemerintah stabilitas dan keseimbangan fiskal.
subnasional dan lokal, dengan
meyakini bahwa pihak yang terakhir 3. Perimbangan Keuangan antara
akan melaksanakan komitmen- Pemerintah dan Pemerintahan
komitmen pengeluaran mereka, Daerah merupakan suatu sistem
dalam rambu-rambu kebijakan yang menyeluruh dalam rangka
pemerintah pusat ; pendanaan penyelenggaraan asas
Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan
c) Devolusi, merupakan desentralisasi
fiskal yang tidak hanya menurunkan Tugas Pembantuan.
jenjang kewenangan untuk
4. PAD bertujuan memberikan
melaksanakan penugasan-penugasan
kewenangan kepada Pemerintah
pengeluaran (yang mereka miliki
Daerah untuk mendanai pelaksanaan
juga dalam pola delegasi), tetapi
otonomi daerah sesuai dengan
juga, yang jauh lebih penting,
potensi Daerah sebagai perwujudan
kontrol mereka atas keputusan-
Desentralisasi.
keputusan yang terkait dengan
fungsi-fungsi pengeluaran mereka.
5. Dana Perimbangan bertujuan
Desentralisasi fiskal di mengurangi kesenjangan fiskal
Indonesia diawali dengan antara Pemerintah dan Pemerintahan
diterbitkannya UU No. 25 Tahun Daerah dan antar-Pemerintah
1999 yang kemudian diganti dengan Daerah.
UU No. 33 Tahun 2004 tentang
perimbangan keuangan pemerintah 6. Pinjaman Daerah bertujuan
pusat dan pemerintah daerah. Prinsip memperoleh sumber pembiayaan
kebijakan perimbangan keuangan dalam rangka penyelenggaraan
yang tertuang dalam pasal 2 dan 3 urusan Pemerintahan Daerah.
UU No 33 Tahun 2004, sebagai
berikut : 7. Lain-lain Pendapatan bertujuan
1. Perimbangan Keuangan antara memberi peluang kepada Daerah
Pemerintah dan Pemerintahan untuk memperoleh pendapatan
Daerah merupakan subsistem lainnya.
Keuangan Negara sebagai
konsekuensi pembagian tugas antara Beberapa unsur yang wajib
Pemerintah dan Pemerintah Daerah. diperhatikan terhadap desentralisasi
Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal
dan Peningkatan Potensi Desa)

740
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

fiskal ada menurut Mulyana, et.al. daerah mempunyai jalan dalam


dalam Radjimin sebagai berikut : mendukung pembangunan
melalui peminjaman.
a. Pendelegasian atau
pendistribusian tanggung jawab
pengeluaran (the assignment of
2. Struktur Pendapatan Desa
expenditure responsibility).
Pemerintah daerah mempunyai Seperti yang telah dikemukakan
hak dan tangggung jawab sebelumnya, keuangan desa merupakan
terhadap pendapatan dan hierarki struktur keuangan sentral dari
pengeluaran yang di inginkan, pemerintahan di atasnya. Kabupaten,
tanpa harus di setor ke propinsi, dan pemerintah pusat
pemerintah pusat. mempunyai andil besar dalam
b. Pendistribusian sumber pengalokasian sumber keuangan desa.
pendapatan/perpajakan Dalam UU No. 6 tahun 2014
(assignment of tax resources). dikemukakan struktur pendapatan desa
Peran pemerintah daerah dalam yang terdiri atas pendapatan asli desa,
mengelola perpajakan ataupun bantuan dari pemerintah kabupaten,
pendapatan pendapatan lainnya bantuan dari pemerintah pusat dan
dapat dikelola sendiri sesuai pemerintah propinsi, sumbangan dari
dengan dengan undang-undang pihak ketiga, dan pinjaman desa.
berlaku. Selengkapnya struktur keuangan desa
c. Transfer antar tingkat tersebut disajikan dalam tabel 1.
pemerintahan (inter-
governmental fiscal transfer). Tabel 1. Struktur Pendapatan Desa
Transfer antar tingkat 1. Pendapatan Asli Desa
pemerintahan ini merupakan
kebijakan pemerintah pusat a.Hasil usaha Desa
dalam mendukung percepatan b.Hasil kekayaan Desa
pertumbuhan daerah, sehingga c.Hasil swadaya dan Partisipasi
daerah tiap tahun mendapat d.Hasil gotong-royong
suntikan dana dari pusat dalam e.Lain-lain pendapatan asli Desa
berbagai hal, dan dana tersebut yang sah
dapat dikelola dengan baik. 2. Bantuan dari Pemerintah Kabupaten
d. Mekanisme pinjaman dan utang
a. Bagian dari hasil pajak daerah dan
(subnational deficit, borrowing,
retribusi daerah Kabupaten/Kota
and debt). Mekanisme pinjam
b. Alokasi dana Desa yang
dan utang ini merupakan proses
merupakan bagian dari dana
yang dilakukan oleh pemerintah
perimbangan yang diterima
daerah, ketika proses
Kabupaten/Kota
pembangunan dilakukan
c. Bantuan keuangan dari Anggaran
memiliki kendala defisit
Pendapatan dan Belanja Daerah
anggaran sehingga pemerintah
Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal
dan Peningkatan Potensi Desa)

741
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

Kabupaten/Kota pedesaaan, sebelum ditambahkan


3. Bantuan keuangan dari Anggaran dengan dana perimbangan dan bantuan
Pendapatan dan Belanja Daerah dari pemerintah pusat. Oleh karena itu,
Provinsi sangatlah wajar apabila terdapat
paradigma baru dalam desentralisasi
4. Alokasi Anggaran Pendapatan dan fiskal dalam otonomi desa, bahwa dana
Belanja Negara perimbangan antara daerah dan desa
5. Hibah dan sumbangan yang tidak perlu diperjuangkan.
mengikat dari pihak ketiga

6. Lain-lain pendapatan Desa yang sah 3. Perimbangan Keuangan bagi


Desa
Sumber : Undang-Undang Republik Indonesia
Dalam struktur keuangan daerah,
Nomor 6 tahun 2014
daerah mendapatkan dana perimbangan
dari pusat berupa penerimaan pajak
Dari tabel di atas, terlihat bahwa bumi dan bangunan, bea perolehan hak
struktur keuangan desa lebih banyak atas tanah dan bangunan, dan
didominasi oleh sumber pendapatan penerimaan dari sumber daya alam,
ekstern desa. Artinya, struktur keuangan dana alokasi umum, dan dana alokasi
desa yang disusun tersebut masih khusus. Sesuai dengan UU No 33 tahun
menganut asumsi bahwa pemerintah 2004 tentang Perimbangan Keuangan
desa pasif dalam mendapatkan sumber antara Pemerintahan Pusat dan
pendapatan desa. Dampak dari struktur Pemerintahan Daerah, bahwa
keuangan desa yang sedemikian rupa penerimaan Kehutanan yang berasal
adalah kurang mandirinya pemerintah dari penerimaan Iuran Hak Pengusahaan
desa dalam pembiayaan Hutan (IHPH) dan Provisi Sumber Daya
kewenangannya. Intinya, pemerintah Hutan (PSDH) yang dihasilkan dari
desa harus lebih inisiatif dalam wilayah Daerah yang bersangkutan
penggalian sumber-sumber dibagi dengan imbangan 20% (dua
keuangannya dan lebih antisipatif puluh persen) untuk Pemerintah dan
terhadap pengelolaan keuangan 80% (delapan puluh persen) untuk
desanya. Daerah, penerimaan Kehutanan yang
Dalam tabel tersebut juga terlihat berasal dari Dana Reboisasi dibagi
bahwa desentralisasi fiskal dalam dengan imbangan sebesar 60% (enam
otonomi desa belum menjadi unsur puluh persen) untuk Pemerintah dan
utama. Struktur keuangan desa tidak 40% (empat puluh persen) untuk
menganut adanya perimbangan Daerah, penerimaan Pertambangan
keuangan antara daerah dan desa. Pada Umum yang dihasilkan dari wilayah
prinsipnya, struktur penerimaan daerah Daerah yang bersangkutan, dibagi
merupakan agregasi dari pendapatan dengan imbangan 20% (dua puluh
semua dinas yang berada di wilayah persen) untuk Pemerintah dan 80%
(delapan puluh persen) untuk Daerah,
Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal
dan Peningkatan Potensi Desa)

742
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

penerimaan Perikanan yang diterima a. Total DAU keseluruhan adalah 26


secara nasional dibagi dengan imbangan persen dari penerimaan bersih
20% (dua puluh persen) untuk nasional.
Pemerintah dan 80% (delapan puluh b. Alokasi dasar penyaluran DAU
persen) untuk seluruh kabupaten/kota, adalah meliputi total gaji di setiap
penerimaan Pertambangan Minyak pemerintah daerah.
Bumi yang dihasilkan dari wilayah c. Komponen kapasitas fiskal—
Daerah yang bersangkutansetelah pendapatan asli daerah (PAD), bagi
dikurangi komponen pajak dan hasil pendapatan pajak, bagi hasil
pungutan lainnya sesuai dengan pendapatan sumber daya alam—
peraturan perundangundangan, dibagi yang kini diberi tambahan secara
dengan imbangan 84,5% (delapan puluh penuh.
empat setengah persen) untuk d. Indikator kesenjangan kemiskinan
Pemerintah dan 15,5% (lima belas (poverty gap) dalam formula
setengah persen) untuk Daerah, kebutuhan pengeluaran diganti
penerimaan Pertambangan Gas Bumi dengan kebalikan dari Indikator
yang dihasilkan dari wilayah Daerah Pembangunan Manusia (IPM) dan
yang bersangkutan setelah dikurangi Produk Domestik Regional Bruto
komponen pajak dan pungutan lainnya (PDRB) per kapita,
sesuai dengan peraturan e. Kebijakan ‘hold harmless’ akan
perundangundangan dibagi dengan dihapuskan mulai tahun anggaran
imbangan 69,5% (enam puluh sembilan 2008.
setengah persen) untuk Pemerintah dan Komponen terbesar dari dana
30,5% (tiga puluh setengah persen) perimbangan adalah DAU, yang
untuk Daerah. Dana alokasi adalah dana merupakan sekitar 50 persen dari
yang berasal dari APBN, yang pendapatan daerah (The World Bank,
dialokasikan dengan tujuan pemerataan 2007). Perhitungan DAU didasarkan
kemampuan keuangan antar-daerah pada 26% pendapatan besrsih nasional
untuk membiayai kebutuhan setelah dikurangi bagi hasil. Komponen
pengeluarannya dalam rangka dasar DAU berasal dari komponen
pelaksanaan desentralisasi. alokasi dasar dan komponen celah
fiskal. Alokasi dasar merupakan total
Dana Alokasi Umum (DAU) jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil di
merupakan dana dari APBN yang Daerah. Sejak 2006, DAU mencakup
dialokasikan dengan tujuan pemerataan anggaran untuk pembayaran gaji setiap
kemampuan keuangan antar-Daerah pemerintah daerah secara penuh (The
unuk mendanai kebutuhan Daerah World Bank, 2007). Celah fiskal
dalam rangka pelaksanaan merupakan formulasi kebutuhan fiskal
Desentralisasi. Inovasi DAU pada UU dikurangi dengan kapasitas fiskal
No 33 Tahun 2004 telah dilakukan Daerah. Dana ini merupakan pendorong
dengan beberapa perubahan, sebagai utama untuk menuju pemerataan dan
berikut (The World Bank, 2007) : perimbangan fiskal daerah, walaupun
Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal
dan Peningkatan Potensi Desa)

743
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

proporsi kesenjangan fiskal telah desa dan kemudahan desa untuk


mengalami peningkatan, pentingnya mengelola keuangan desa masing-
formula kesenjangan fiskal dalam masing. Desentralisasi fiskal di desa
mekanisme distribusi hanya bersifat dapat memperbaiki aksesibilitas,
parsial karena hanya 50 persen total tanggung jawab lokal, efektivitas
DAU yang didistribusikan pemerintah, dan merangsang partisipasi
menggunakan formula kesenjangan demokrasi yang lebih besar (Bird &
fiskal (The World Bank, 2007). Vaillancourt, 2000). Desentralisasi
fiskal di desa akan meningkatkan
Alokasi fiskal pada tingkat desa kemudahan pemerintah desa untuk
merupakan dana perimbangan yang melaksanakan kewenangannya,
berasal dari pemerintah daerah, provinsi melakukan kontrol dan meningkatkan
dan pusat yang disebut Alokasi Dana kemampuan pengelolaan keuangan
Desa (ADD). Secara prinsipial, tujuan desanya. Selain itu, desentralisasi fiskal
dan fungsi ADD sama dengan DAU akan merangsang pertanggungjawaban
yaitu dalam upaya mengurangi tingkat publik dalam pemerintahan desa,
kesenjangan pembangunan antar desa kinerja pelayanan dan pelaksanaan
dalam konteks desentralisasi dan dalam aspirasi rakyat akan meningkat.
rangka percepatan penanggulangan
kemiskinan; Sumber ADD telah Dana Alokasi Desa yang
ditetapkan berasal dari APBD yang diserahkan haruslah sesuai dengan
bersumber dari dana perimbangan yang karakteristik desa yang bersangkutan.
diperoleh kab/kota paling sedikit 10%. Desa yang mempunyai wilayah luas
Dana perimbangan dimaksud terdiri dari dengan struktur perangkat desa yang
dana bagi hasil pajak dan SDA banyak harus mendapatkan porsi dana
ditambah DAU setelah dikurang belanja alokasi lebih besar dari desa yang
pegawai. mempunyai karakteristik wilayah
sempit dengan struktur perangkat desa
ADD bisa disebut sebagai dana yang sedikit. Oleh karena itu, perlu
alokasi desa (DADes) yang merupakan adanya identifikasi karakteristik
dana pembangunan yang wilayah desa sebelum menggunakan
didesentralisasikan bagi desa sebagai konsep dana alokasi desa, agar tidak
proporsi tertentu dari APBD dan APBN terjadi kesa-lahan besaran proporsi dana
yang ditujukan untuk pemerataan alokasi desa.
keuangan desa. Dana alokasi desa
sangatlah berguna bagi pelaksanaan 4. Potensi Keuangan Desa
kewenangan desa, sebab sumber utama Sesuai dengan pengertiannya,
keuangan desa adalah dana potensi desa merupakan kemampuan
perimbangan. Untuk implementasi desa yang masih terpendam atau yang
perimbangan keuangan daerah dan desa perlu dikembangkan dalam rangka
ditetapkan dengan Peraturan Daerah. penguatan ekonomi masyarakat desa.
Dari pengertian ini potensi desa bisa
Pertimbangan diterapkannya dipilah menjadi dua, yaitu potensi fisik
DADes adalah desentralisasi fiskal di
Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal
dan Peningkatan Potensi Desa)

744
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

dan potensi non-fisik. Potensi fisik disesuaikan dengan karateristik


mencakup seluruh kekayaan desa yang tipologi Desa/Kelurahan.
secara kasat mata terlihat dan f. Mendorong terwujudnya
mempunyai harapan besar akan keterpaduan peran dan kemitraan
meningkatkan ekonomi masyarakat antar Dinas/ Instansi Provinsi dan
desa apabila menjadi prioritas untuk Kabupaten/Kota maupun
dikembangkan, sedangkan potensi non- stakeholders lainnya sebagai pelaku
fisik adalah seluruh aktivitas dan fasilitator program
masyarakat yang secara ekonomi bisa
Potensi desa teridentifikasi
menguntungkan desa.
melalui karakteristik fisik dan nonfisik
Menurut Abdurokhman (2004), yang secara eksisting dimiliki oleh desa.
pengembangan potensi desa bertujuan Secara spesifik, potensi fisik dan non
untuk mendorong kemandirian fisik desa bisa dijelaskan sebagai
masyarakat desa/kelurahan melalui berikut (Abdurokhman, 2014) :
pengembangan potensi unggulan dan
1. Potensi Fisik
penguatan kelembagaan serta
1. Tanah mencakup berbagai
pemberdayaan masyarakat. Secara
macam kandungan kekayaan
khusus, tujuan pengembangan potensi
yang terdapat di dalamnya.
desa adalah (Abdurokhman, 2014) :
misalnya kesuburan tanah, bahan
a. Meningkatkan peran aktif tambang, dan mineral.
masyarakat dalam pengambilan 2. Air meliputi sumber air dan
keputusan pembangunan secara fungsinya sebagai pendukung
terbuka, demokratis dan kehidupan manusia. Air sangat
bertanggung jawab; dibutuhkan oleh setiap mahkluk
b. Mengembangkan kemampuan usaha hidup untuk bertahan hidup dan
dan peluang berusaha demi juga aktivitas sehari-hari.
peningkatan pendapatan dan 3. Iklim sangat erat kaitannya
kesejahteraan Rumah Tangga dengan temperatur dan curah
Miskin. hujan yang sangat
c. Membentuk dan mengoptimalkan mempengaruhi setiap daerah,
fungsi dan peran Unit Pengelola sehingga corak iklim sangat
Keuangan dan Usaha (UPKu) mempengaruhi kehidupan
sebagai Lembaga Pemberdayaan masyarakat desa agraris.
Ekonomi Masyarakat. 4. Lingkungan geografis, seperti
d. Membentuk, memfasilitasi dan letak desa secara geografis, luas
memberikan pembinaan Pokmas wilayah, jenis tanah, tingkat
UEP terutama pada aspek kesuburan, sumber daya alam,
kelembagaan dan pengembangan dan penggunaan lahan sangat
usaha. mempengaruhi pengembangan
e. Mengembangkan potensi ekonomi suatu desa.
unggulan Desa/Kelurahan yang
Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal
dan Peningkatan Potensi Desa)

745
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

5. Ternak berfungsi sebagai e. Lembaga Ekonomi, seperti


sumber tenaga dan sumber gizi Koperasi Unit Desa (KUD),
bagi masyarakat pedesaan. pada Badan Usaha Milik Desa
desa agraris ternak juga dapat (BUMDes), Pasar Desa, dan
menjadi investasi dan sumber lumbung desa.
pupuk. f. Aparatur dan pamong desa
6. Manusia merupakan sumber merupakan sarana pendukung
tenaga dalam proses pengolahan kelancaran dan ketertiban
lahan petani, sehingga manusia pemerintahan desa. perannannya
sebagai potensi yang sangat sangat penting bagi perubahan
berharga bagi suatu wilayah dan tingkat perkembangan desa.
untuk mengelolah sumber daya Dilihat dari karakteristiknya, desa
alam yang ada. Tingkat mempunyai potensi fisik yang cukup
pendidikan, ketrampilan dan besar. Sumber air, tanah pertanian,
semangat hidup masyarakat lahan perkebunan, karakteristik
menjadi faktor yang sangat ketenagakerjaan yang beragam, dan
menentukan dalam sumber-sumber lain yang masih
pembangunan desa.
berhubungan dengan alam sekitar
merupakan aset terbesar bagi desa.
2. Potensi Nonfisik Kabupaten lebih banyak berhadapan
a. Masyarakat desa cirinya dengan potensi yang telah berkembang,
memiliki semangat sedangkan desa memang lebih banyak
kegotongroyongan yang tinggi dihadapkan pada pengolahan potensi
dalam ikatan kekeluargaan yang yang masih terpendam. Inilah tantangan
erat (gemeinschaft) merupakan sekaligus kesempatan potensial bagi
landasan yang kokoh bagi desa untuk mencari sumber-sumber
kelangsungan program pendapatan desa.
pembangunan.
b. Lembaga desa, seperti Badan Dengan kondisi yang demikian
Perwakilan Desa (BPD), desa memerlukan suatu badan yang
Lembaga Pemberdayaan berfungsi mengelola sumberdaya fisik
Masyarakat Desa (LPMD), Tim yang dimiliki desa. Badan usaha milik
Penggerak PKK, Rukun Warga desa bisa jadi merupakan salah satu
(RW), Rukun Tetangga (RT), badan yang mampu mengelola
Karang Taruna dan lain-lain sumberdaya fisik yang dimiliki desa.
c. Lembaga pendidikan, seperti Sebagai ilustrasi, kepemilikan
sekolah, perpustakaan desa, sumberdaya air yang dimiliki oleh suatu
kelompencapir, penyuluhan, desa tertentu, bisa mendatangkan
simulasi,dan lain-lain. pendapatan tersendiri bagi desa yang
bersangkutan. Desa bisa mendirikan
d. Lembaga Kesehatan, seperti
suatu badan usaha milik desa yang
puskesmas, posyandu, dan
BKIA. berfungsi sebagai pengelola distribusi
Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal
dan Peningkatan Potensi Desa)

746
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

air keluar desa dan pendapatan dari fungsional adalah adanya aktivitas
pendistribusian air. Dalam hal ini, desa penduduk daerah, dan dari konsep
perlu melakukan sosialisasi dengan desa daerah administratif adalah adanya
lain yang merupakan konsumen dari interaksi antar unit-unit ekonomi
pendistribusian air. tertentu.
Dengan demikian, badan usaha Apabila konsep ini diturunkan
milik desa merupakan suatu badan yang pada tingkat desa, maka dapat
mampu menggerakkan perekonomian dirumuskan bahwa desa merupakan
desa, serta mampu meningkatkan suatu daerah formal. Desa dikatakan
pendapatan asli desa. Tetapi yang harus sebagai daerah administrasi karena
menjadi pijakan utama, pembentukan pertimbangan kemudahan dalam
badan usaha milik desa bertujuan untuk koordinasi. Tetapi secara formal, desa
menggerakkan aktivitas masyarakat mempunyai sifat homogen, karena asal-
sehingga menekan angka pengangguran usul maupun adat istiadat. Secara
desa, meningkatkan pendapatan desa fungsional, desa mempunyai hubungan
dengan melakukan bagi hasil yang horisontal dengan desa lain.
penggunaan seum-berdaya fisik, dan Hubungan horisontal bisa berupa
pelestarian sumberdaya fisik desa. hubungan ekonomi, hubungan politis,
dan hubungan sosial.
Sebagai suatu ilustrasi,
5. Kerjasama antar Desa
pendistribusian air yang dimiliki oleh
Dalam ekonomi regional konsep suatu desa merupakan hubungan
mengenai daerah bisa dibagi menjadi ekonomi. Harus ada kesesuaian antara
tiga, yaitu daerah formal, daerah jumlah air yang diminta oleh desa
fungsional, dan daerah administratif. tetangga dengan jumlah yang
Daerah formal adalah daerah yang disediakan oleh desa dalam
mempunyai struktur homogen. Daerah pendistribusian air. Apabila tidak terjadi
fungsional adalah daerah yang kesesuaian dalam pendistribusian air,
memperlihatkan hubungan fungsional maka dikhawatirkan terjadi kericuhan
antar daerah bagian, sedangkan daerah antar desa. Desa yang mempunyai
perencanaan adalah daerah yang sumberdaya fisik yang lebih unggul
dibatasi oleh keputusan unit-unit dibandingkan desa lain tidak bisa
ekonomi tertentu. Konsep-konsep bersikap egois, tidak mau tahu
mengenai daerah ini mempunyai hirarki permasalahan desa lain, dan sebaliknya
tersendiri. Daerah formal merupakan harus saling melengkapi kekurangan
bagian dari daerah fungsional, dan masing-masing.
daerah fungsional merupakan bagian
Demikian juga dengan aktivitas
dari daerah administratif. Pertimbangan-
ekonomi masyarakat di suatu desa,
pertimbangan yang ditarik dari konsep
aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh
daerah formal adalah adanya kesamaan
masyarakat tersebut mampu
karakteristik daerah, dari konsep daerah
meningkatkan pendapatan masyarakat
Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal
dan Peningkatan Potensi Desa)

747
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

apabila dikoordinasi oleh pemerintah geografis dan topografi desa,


desa. Pelaku utama adalah masyarakat informasi tentang aktivitas
dan pemerintah desa hanya sebagai ekonomi, pasar, dan unit usaha
mediator. Peran sebagai mediator masyarakat, serta keterkaitan
berarti hanya berfungsi sebagai interregional.
perantara saja. Pemerintah desa Sumber-sumber keuangan
mempunyai fungsi membuka pemasaran potensial bisa berasal dari aktivitas
lintas desa. Aktivitas ekonomi lintas masyarakat desa. Aktivitas-aktivitas
desa memerlukan kerjasama antar desa. ekonomis masyarakat desa yang belum
efisien bisa dikembangkan dengan
mengacu pada peraturan desa yang
6. Kesiapan Pemerintah Desa
berlaku. Dalam melakukan upaya ini,
Dalam desentralisasi fiskal, pemerintah desa melakukan dua hal
kesiapan pemerintah desa tergantung penting, yaitu mendapatkan sumber
pada kemampuan perangkat desa dalam keuangan baru dan meningkatkan
mempersiapkan kemampuan personal pendapatan masyarakat desa.
dan mencari sumber-sumber keuangan
Pemerintah desa bisa
potensial. Persiapan personal dalam
mengakomodir partisipasi masyarakat
pemerintahan desa antara lain meliputi :
dalam pengembangan potensi desa.
1. Penataan struktur pemerintahan Pengembangan potensi desa yang
desa sesuai karakteristik partisipasif dapat ditempuh dengan
masing-masing desa; langkah-langkah sebagai berikut
2. Kemampuan akunting (Abdurokhman, 2014):
(accounting) perangkat desa; 1. Sosialisasi pengembangan potensi
3. Akuntabilitas pelaporan melalui musyawarah desa yang
keuangan; dihadiri perangkat desa, Badan
Permusyawaratan Desa, Lembaga
4. Meningkatkan kematangan
Pemberdayaan Masyarakat Desa,
dalam melaksanakan peraturan
Pimpinan Rukun Warga (RW),
yang terkait dengan
Pimpinan Rukun Tetangga (RT),
pemerintahan desa;
lembaga-lembaga desa dan tokoh
5. Mempersiapkan pembangunan masyarakat. Dalam sosialisasi ini
desa yang cermat, termasuk di perlu disampaikan maksud
dalamnya keseluruhan tahap pengembangan potensi desa,
perencanaan, pelaksanaan, dan langkah-langkah yang perlu
pengawasan. ditempuh, dan tugas serta peran
6. Menyusun dan membenahi masing-masing.
Sistem Informasi Desa yang 2. Pendataan potensi desa dan
meliputi informasi kebutuhan masyarakat oleh masing-
kependudukan dan sosial, masing RT, selanjutnya dihimpun
neraca sumberdaya, kondisi
Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal
dan Peningkatan Potensi Desa)

748
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

dalam rapat RW untuk dikirim ke bisa berpengaruh positif pada


pemerintah desa. penerimaan keuangan desa dan
3. Pemerintah desa menghimpun dan peningkatan pendapatan masyarakat.
mendata potensi desa dan kebutuhan Penciptaan aktivitas-aktivitas ekonomi
masyarakat dari setiap RT/RW serta baru akan menghasilkan keuntungan
masukan dari lembaga. bagi desa berupa cascade effect
4. Musyawarah desa untuk (Rondinelli, 1985). Cascade effect bisa
merumuskan potensi desa yang akan berupa rangsangan penciptaan aktivitas
dikembangkan berdasarkan lain yang mendukung aktivitas-aktivitas
kebutuhan, biaya dan manfaat dari ekonomi masyarakat, seperti
hasil pengembangan. Dalam peningkatan jalan desa, penciptaan
musyawarah ini juga dibentuk Tim- sektor informal lain yang mendukung
tim pengembang sesuai kebutuhan aktivitas ekonomi masyarakat desa,
dan keahliannya. yang secara tidak langsung akan
5. Masing-masing tim pengembang berpengaruh pada peningkatan
melakukan survey lapangan serta pendapatan asli desa, yaitu dari retribusi
pengkajian untuk merumuskan skala desa.
prioritas pengembangan agar benar- Peningkatan PADes menjadi
banar bisa dilaksanakan secara tanggung jawab pemerintah desa
efektif dan efisien. sebagai unsur penyelenggara
6. Hasil survei dan pengkajian pemerintahan desa. Peran kepala desa
disampaikan dalam musyawarah dan perangkat desa sangat besar bagi
desa, untuk disepakati sebagai terciptanya peningkatan kesejahteraan
program pembangunan desa dan masyarakat desa melalui pemberian
dimasukkan dalam dokumen motivasi kewirausahaan, fasilitator
Rencana Pembangunan Jangka gerakan ekonomi mandiri, dan
Menengah dan Program Tahunan. pendampingan program usaha keluarga.
7. Implementasi pengembangan Pemerintah desa bisa mempromosikan
potensi desa dilaksanakan oleh tim setiap hasil kegiatan ekonomi
yang dibentuk dalam musyawarah masyarakat melalui expo kewirausahaan
desa dengan melibatkan masyarakat. masyarakat.
Hal penting yang harus menjadi
D. KESIMPULAN dasar bagi pemerintah desa adalah
Bagi desa yang mempunyai bahwa pemerintah desa harus mampu
keterbatasan sumberdaya alam dan menggerakkan perekonomian desa
sumberdaya manusia, pemerintah desa dengan melakukan upaya-upaya efektif
mempunyai tugas berat. Pemerintah penggerakan aktivitas-aktivitas ekonomi
desa harus mempunyai inisiatif dalam masyarakat desa. Kesiapan pemerintah
menemukan aktivitas efektif bagi desa dalam otonomi desa tidak hanya
masyarakat. Aktivitas-aktivitas ekonomi menghasilkan penerimaan besar dalam
yang dibangun oleh pemerintah desa keuangan desa, melainkan juga harus
Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal
dan Peningkatan Potensi Desa)

749
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

memberdayakan aktivitas ekonomi Mulyana, Budi., Subkhan., Slamet,


masyarakat desa. Kuwat, 2006, Keuangan
Daerah-Perspektif
Desentralisasi Fiskal dan
Pengelolaan APBD di
DAFTAR PUSTAKA Indonesia, Jakarta : LPKPAP
Mumbunan, Sonny, 2010, Dana untuk
Abdurokhman, Drs., M.Pd., 2014, Desa – Sebuah Catatan Fiskal,
Pengembangan Potensi Desa, https://sonnyarchive.wordpress.c
http://eoffice.banyumaskab.go.id om/
/
Radjimin, Eko Santoso, 2013,
Aini, Reni Nur., 2014, Desentralisasi Desentralisasi Fiskal,
Fiskal pada Otonomi Desa, http://esradjimin.blogspot.com/
http://www.academia.edu/
Rezk, Ernesto, 1999. Argentina :
Bapemas Provinsi Jawa Timur, UU Federalisme Fiskal dan
Desa dan Kemandirian Desentralisasi dalam
Pemerintahan Desa, Desentralisasi Fiskal di Negara-
http://bapemas.jatimprov.go.id/ negara Berkembang
Bird, Richard M. & Francois (terjemahan), Jakarta: Gramedia
Vaillancourt, 1999. Desentrali- Pustaka Utama
sasi Fiskal di Negara-negara Undang-Undang Republik Indonesia
Berkembang : Tinjauan Umum Nomor 6 Tahun 2014 tentang
dalam Desentralisasi Fiskal di Desa
Negara-negara Berkembang
(terjemahan), Jakarta: Gramedia Undang-Undang Republik Indonesia
Pustaka Utama Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah
Glasson, John, 1977. Pengantar
Perencanaan Regional Undang-Undang Republik Indonesia
(terjemahan), Jakarta: Lembaga Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Penerbit Fakultas Ekonomi Perimbangan Keuangan antara
Universitas Indonesia Pusat dan Pemerintahan Daerah

Hidayatullah, Syarif, 2014, Capres, UU Rondinelli, Dennis A., 1985. Applied


Desa, dan Desentralisasi Fiskal, Methods of Regional Analysis :
https://msyarifh88.wordpress.co The Spatial Dimensions of
m/ Development Policy, Colorado:
Westview Press, Inc.
Mardiasmo, 2002. Otonomi dan
Manajemen Keuangan Daerah, Sikumbang, Zul, 2013, UU Desa
Yogyakarta: Andi Offset Disahkan, Kades Harus Belajar
Pembukuan, http://www.
antaranews.com/
Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal
dan Peningkatan Potensi Desa)

750
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume V, No 1, Januari 2015

Sucipto, Yenny, 2014, Desentralisasi


Fiskal Desa : Budget Analysis,
http://www.kpa.or.id/
Sukasmanto, 2014, Potensi
Penyalahgunaan Dana Desa
dan Rekomendasi, 4thIndonesia
Anti-Corruption Forum,
http://acch.kpk.go.id/
Suryanto, 2010, Menyoal Desentralisasi
Fiskal: Mempertanyakan
Akuntabilitas Keuangan
Pemerintahan Daerah,
http://www.stialan.ac.id/
Suwignjo,1985. Administrasi
Pembangunan Desa dan
Sumber-sumber Pendapatan
Desa, Jakarta: Ghalia Indonesia
Suyatno, 2015, Menyoal
Kesiapan Pemerintahan Desa,
http://news.metrotvnews.com/
Tampubolon, Jongkers.,
Pasaribu, Amudi., Laoly,
Yasona H., Silaban, Pasaman.,
2002., Desentralisasi Fiskal di
Indonesia: Studi Kasus –
Potensi Peningkatan PAD
Kabupaten Tapanuli Utara,
Lembaga Penelitian Universitas
HKBP Nommensen,
http://pdf.usaid.gov/

*) Antono Herry P.A, M.Si. Dosen FPIPSKR


Universitas PGRI Semarang

Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal


dan Peningkatan Potensi Desa)

751